• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI 2.1 TINJAUAN MUTAKHIR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II DASAR TEORI 2.1 TINJAUAN MUTAKHIR"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

DASAR TEORI

2.1 TINJAUAN MUTAKHIR

Pada tugas akhir ini, penulis mengacu terhadap referensi yang berkaitan dengan tugas akhir yang telah ada sebelumnya yaitu tugas akhir dengan judul penelitian “Analisis Interferensi Pada Optimasi Jaringan GSM di Area Purbalingga” oleh Khoirun Ni’amah, 2014. Pada penelitian tersebut, penulis melakukan optimalisasi terhadap site yang mengalami interferensi adjacent channel jaringan GSM dari operator Telkomsel pada site padamara dan selabaya. Parameter yang diamati pada penelitian ini diantaranya adalah Rx Level, RxQual, SQI, C/I, SDCCH Success Rate (SDSR), Handover Success Rate (HOSR) dan TCH Drop Rate (TDR). Metode optimalisasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah melakukan retune frequency (pergantian BCCH) dari masing – masing sektor dalam satu site yang memiliki nilai BCCH yang berdekatan untuk menghindari adanya interferensi antar sektor. Pada tugas akhir ini dijelaskan bahwa setelah dilakukannya pergantian BCCH parameter dari performansi jaringan mengalami peningkatan menjadi lebih baik. [1]

Pengembangan penelitian yang dilakukan pada tugas akhir ini adalah dengan melakukan analisis terhadap performansi jaringan LTE pada frekuensi 1800 MHz pada daerah Cianjur, Jawa Barat dengan metode pengambilan data melalui drive test pada

cluster warudoyong dan melakukan optimalisasi pada parameter RSRP, SINR dan

Throughput berdasarkan nilai KPI yang telah ditentukan oleh provider, dalam tugas

akhir ini penulis menggunakan provider XL. Untuk metode optimalisasi yang dilakukan pada tugas akhir ini adalah dengan melakukan physical tuning pada tilting dari antena yang digunakan.

(2)

2.2 PENGENALAN TEKNOLOGI LONG TERM EVOLUTION (LTE)

LTE adalah kelanjutan atas kesuksesan teknologi dari generasi ketiga yang lebih popular dengan nama 3G. LTE menyediakan kecepatan puncak download sebesar 100 Mbps pada downlink dan 50 Mbps pada upload. Release 10 dari LTE sudah dapat menggunakan IMT advanced yang menyediakan 300 Mbps untuk download tetapi masih jauh dari harapan, Standart dari IMT advanced dapat mencapai 1 Gbps untuk download dan 500 Mbps untuk uplink. Interface pada LTE mempunyai dua tipe yaitu LTE-FDD (Frequency Divison Duplex) dan LTE-TDD (Time Division Duplex) untuk mencapai kecepatan data yang tinggi dengan teknologi 4G. LTE-FDD lebih banyak digunakan dikarenakan LTE-FDD menyediakan kompabilitas yang lebih besar dengan assignment spektrum existing dan calon spektrum. [2]

Beberapa keunggulan dan keuntungan yang didapatkan oleh pelanggan dan operator apabila menggunakan LTE, diantaranya adalah : [3]

1. Efesiensi spectrum dan throughput yang tinggi. LTE menggunakan teknik OFDM pada arah downlink, dimana secara teori teknik ini tahan terhadap interferensi yang diakibatkan oleh lintasan jamak dan menggunakan teknik SC-FDMA pada arah uplink yang memiliki peak average power ratio (PAPR) yang rendah. Dan LTE yang mendukung antenna MIMO yang dapat meningkatkan BER dan bit rate.

2. Latency yang rendah, dikarenankan jaringan LTE memiliki setup time dan transfer delay yang sangat rendah serta waktu handover yang rendah,

3. Mendukung bandwidth yang bervariasi yaitu 1.4, 3, 5, 10,15 dan 20 MHz. 4. Memiliki arsitektur jaringan yang sederhana

5. Kompatibel dengan teknologi 3GPP 6. Mendukung system FDD dan TDD

(3)

2.2.1 Arsitektur Jaringan LTE [8]

a. Evolved Packet System (EPS)

Arsitektur jaringan selular semakin hari semakin berkembang. Sasaran dari evolusi tersebut adalah akhirnya semua sistem berbasus IP. Ringkasan Evolusi dari arsitektur jaringan LTE pada jaringan 3GPP dapat dilihat pada gambar 2.1

Gambar 2.1 Ringkasan Evolusi Arsitektur Jaringan LTE

Pada jaringan 3G sebelumnya dikenalkan sistem dari HSPA, arsitektur dari jaringan dibagi ke dalam domain CS dan PS. Tergantung layanan dari yang ditawarkan ke pengguna. Domain berinteraksi dengan perangakat Core Network yang sesuai. Bagian dari CS diantaranya adalah Mobile Service Center (MSC),

visitor location register (VLR) dan Gateway MSC. Sedangkan bagian dari PS

adalah serving GPRS support node (SGSN) dan gateway GPRS support node (GGSN).

Selanjutnya, data control plane dan data user plane diteruskan diantara jaringan core dan jaringan akses. RAT dalam sistem 3G menggunakan WCDMA. Jaringan akses mencakup semua peralatan radio yang diperlukan untuk mengakses jaringan atau disebut dengan universal terrestrial radio access

(4)

network (UTRAN). UTRAN terdiri dari 1 atau lebih radio network subsystem (RNSs). Masing-masing RNSs terdiri dari RNC dan 1 atau lebih NodeBs. Masing -masing NodeB mengontrol 1 atau lebih sel dan disediakan link radio WCDMA menuju UE

Jaringan LTE telah dikenalkan sebagai arsitektur yang datar dengan user yang langsung terhubung antara jaringan core dan jaringan akses. Sistem EPS serupa dengan pilihan arsitektur yang datar pada HSPA+. Serupa dengan sistem 3G, LTE terdiri dari jaringan core dan jaringan akses tetapi dengan elemen dan cara pengoperasian yang berbeda.

EPS terdiri atas jaringan akses E-UTRAN dan EPC Core Network. EPS dapat juga dihubungkan dengan RAN yang lain. Meskipun CS bukanlah bagian dari arsitektur EPS, 3GPP telah mendefine fitur CSFB yang memungkinkan EPS dan CS dapat terhubung. Pada gambar 2.2 dapat dilihat interface dasar dari EPS.

Gambar 2.2 Interface Perangkat LTE

b. Evolved Packet Core (EPC)

Evolved Packet Core (EPC) terdiri dari perangkat mobility management entity

(5)

tersebut bertanggungjawab untuk fungsi yang berbeda-beda selama proses panggilan atau proses registrasi.EPC dan E-UTRAN terhubung dengan interface S1. Interface S1 mendukung hubungan banyak ke banyak MMEs, SGWs dan eNBs.

MME terhubung dengan E-UTRAN oleh S1 Interface. Interface ini akan dirujuk ke S1-C atau S1-MME. Ketika UE terhubung dengan jaringan LTE,

UE-spesific logical S1-MME connections menjadi ada. Bearer ini dikenal dengan

nama EPS bearer yang digunakan untuk bertukar pesan sinyal UE yang dibutuhkan antara UE dan EPC.

c. Evolved Universal Terrestial Radio Access Network (E-UTRAN)

E-UTRAN terdiri dari eNB. Secara umum eNB terdiri dari 3 sektor. eNB secara opsi dapat saling terhubung dengan yang lainnya menggunakan interface X2.

Interface menggunakan fungsi untuk mobilitas dan informasi pertukaran beban.

eNB terhubung dengan UE menggunakan Uu Interface.

E-UTRAN menyediakan UE dengan control plane dan user plane. Masing -masing bertanggungjawab untuk fungsi yang berkaitan dengan terjadinya panggilan dan pengiriman data. Pertukaran dari masing – masing informasi terjadi menggunakan protocol stack yang di defenisikan pada UE dan eNB.

2.2.2 Alokasi Spektrum Pada Jaringan LTE [8]

Salah satu faktor utama pada sistem selular adalah pengembangan spektrum frekuensi pada sistem 2G,3G dan 4G menawarkan berbagai pilihan band. Hal ini tergantung pada regulator dari masing-masing negara dan ketersediaan dari spektrum yang dibagikan pada beberapa operator jaringan pada negara yang sama.

Kanal bandwidth yang digunakan oleh jaringan LTE adalah 1.4, 3, 5, 10, 15 atau 20 MHz. Kebanyakan dari operator berbagai negara mengembangkan kanal bandwidth

(6)

5 atau 10 MHz. sedangkan LTE pada bandwith 20 Mhz sedang ditingkatkan pengembangannya, terutama pada band seperti 2.6 GHz sebaik 1.9 GHz setelah dilakukannya frequency re-farming.

LTE-FDD membutuhkan 2 buah frekuensi tengah, 1 frekuensi digunakan sebagai downlink dan 1 frekuensi lagi digunakan untuk uplink. Frekuensi carrier ini masing-masing diberikan sebuah EARFCN ( E-UTRA absolute radio frequency channel number). Sedangkan pada LTE-TDD hanya menggunakn 1 EARFCN. Untuk melihat daftar dari frekuensi LTE-FDD yang ditetapkan oleh 3GPP dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Daftar Frekuensi LTE-FDD

2.2.3 Sistem Akses Pada LTE [9]

Terapat 2 jenis sistem akses pada jaringan LTE yaitu sistem orthogonal frequency

division modulation access (OFDMA) dan sistem single carrier frequency division

multiple access (SC-FDMA). Sistem OFDMA digunakan pada arah downlink yaitu arah

(7)

arah uplink yaitu arah komunikasi dari UE menuju ke eNodeB. Gambar dari sistem akses yang digunakan pada LTE dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Sistem Akses LTE

Teknik akses dari OFDMA adalah variasi dari orthogonal frequency division

modulation (OFDM). Pada teknik OFDMA, setiap subcarrier merupakan orthogonal

sehingga akan menghemat spektrum frekuensi dan setiap subcarrier tidak akan saling mempengaruhi. Gambar dari spektrum frekuensi dari setiap subcarrier yang saling

orthogonal dapat dilihat pada gambar 2.5.

(8)

2.2.4 Mode Radio Akses [8]

3GPP telah mendesain 2 model utama radio akses yang digunakan pada sistem UMTS dan sistem LTE, yaitu FDD dan TDD. FDD adalah mode radio akses yang paling umum digunakan oleh seluruh dunia untuk sistem UMTS dan sistem LTE dikarenakan teknik FDD lebih banyak menggunakan alokasi spektrum frekuensi yang tersedia . perbedaan teknik FDD dan TDD dapat dilihat pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Perbedaan Teknik FDD dan TDD pada LTE

1. Frequency Division Duplex (FDD)

Pada model FDD, kanal yang digunakan untuk uplink dan downlink berbeda, kondisi ini memungkinkan perangkat dapat menerima dan mengirim data secara bersamaan pada waktu yang sama. Jarak antara kanal uplink dan kanal downlink dinamakan dengan jarak duplex.

Kanal uplink beroperasi pada frekuensi yang rendah dikarenakan frekuensi tinggi lebih memiliki redaman yang lebih besar daripada frekuensi yang rendah, oleh karena itu memungkinkan UE yang digunakan memiliki level pengiriman yang rendah.

(9)

2. Time Division Duplex (TDD)

TDD adalah model yang memungkinkan operasi dengan menggunakan full duplex. TDD menggunakan satu band frekuensi dan menggunakan TDM pada sinyal uplink dan

downlink. 1 keuntungan dari TDD adalah kemampuan untuk menyediakan alokasi

uplink dan downlink yang asimetris. Keuntungan lainnya adalah alokasi frekuensi yang

dinamis, efesiensi dari spektrum yang digunakan dan peningkatan dari penggunaan teknik beamforming. Ini dikarenakan karakteristik dari frekuensi uplink dan downlink adalah sama.

2.2.5 Teknologi Carrier Aggregation Pada Jaringan LTE [11]

Satu dari banyaknya teknik paling penting yang merupakan turunan LTE-advanced dari sebelumnya adalah carrier aggregation (CA). Teknik ini memungkinkan penggunaan lebih dari 1 carrier secara bersamaan untuk mengakomodir kecepatan data yang tinggi. Metode CA dapat digunakan untuk teknologi Frequency Division Duplexing (FDD) dan

Time Division Duplexing (TDD). Carrier Aggregation merupakan teknik pengumpulan

beberapa Component Carrier (CC). terdapat beberapa tipe dari CC, diantaranya adalah 1,4 MHz, 3 MHz, 5 MHz, 10 MHz dan 20 MHz seperti yang ditunjukan pada gambar 2.1. pada pengembangan sebelumnya jumlah maksimum CC yang dapat digabungkan adalah 5, jadi maksimum bandwidth adalah 100 MHz. pada prinsipnya jumlah dari CC pada downlink selalu lebih besar daripada uplink. Terdapat 3 tipe dari carrier

aggregation yang telah dikembangkan pada LTE Advanced, yaitu : Intra-band

contagious, Intra-band non contagious, inter-band non-contagious

Terdapat dua sel yang melayani pada teknik CA yaitu Primary serving cell (PCell) dan Secondary serving cell (Scell). Pcell dan Scell masing-masing membawa sekurangnya 1 CC. PCell bertanggunjawab untuk membawa primary component

carrier (PCC) dan juga bertanggungjawab dalam menangani radio resource control

(RRC) sementara Scell bertanggungjawab untuk membawa secondary component

carrier (SCC). Pada konfigurasinya, carrier aggregation hanya memiliki 1 Pcell dan

memungkinkan memiliki lebih dari 1 Scell. Tipe dari Component Carrier dapat dilihat pada gambar 2.7.

(10)

Gambar 2.7 Tipe dari Component Carrier (CC)

2.2.6 Teknik Multiple Input Multiple Output (MIMO) [8]

Teknik MIMO adalah teknik yang menggunakan beberapa antena pengirim (input) dan beberapa antenna penerima (output). Pada sistem MIMO terdapat jalur sinyal NxM dari antena pengirim dan antena penerima dan sinyal tersebut tidak memiliki jalur yang identik. Pada pengirim, sinyal data dibangun sedemikian rupa dimana perbedaan antena pembawa dibedakan atas variasi dari sinyal, seperti perbedaan phasa, amplitude dan bentuk gelombang. Pada penerima, masing – masing variasi dari sinyal data dibedakan penerimanya pada antena dikarenakan channel fading. Secara konsep, sistem MIMO menggunakan sistem space diversity dan time diversity dan dibuat dengan menggunakan beberapa jalur transmisi data yang parallel untuk membawa data. Pada gambar 2.8, dapat dilihat sistem dari MIMO, pada sistem tersebut menggunakan 2 jalur data yang dibuat.

Gambar 2.8 Mekanisme MIMO 2x2

2.3 PARAMETER TEKNOLOGI LTE

RSRP dan SINR adalah parameter yang sangat penting untuk coverage jaringan wireless. RSRP adalah indikator untuk mengukur luasnya coverage yang dapat

(11)

digunakan oleh user, indikasi intensitas power dari acuan sinyal yang diterima dan juga sebagai pembuktian apakah user mendapatkan akses jaringan secara normal. [4]

KPI seperti RSRP, RSRQ, dan RSSI memberikan informasi yang berhubungan dengan kualitas kanal jaringan LTE. Pengukuran dilakukan dengan menggunkan

resources element (RE) yang berisi reference sysmbol (RS). RSRP adalah ukuran kuat

sinnyal yang diterima oleh spesifik sel yang digunakan oleh UE untuk melakukan cell-

reselection dan handover. Klasifikasi baik buruknya kondisi RF secara umum dapat

dilihat pada gambar 2.9.

RSSI merupakan jumlah total power yang diterima oleh satu RE didalam sebuah RB. RE yang merupakan data unit terkecil pada standar LT yang mewakili 15khz pada domain frekuensi dan 1 simbol OFDM pada domain waktu. Setiap RB mempunyai 12 RE yang sama dengan (12*15) 180khz pada domain frekuensi dan 0.5ms pada domain waktu. RSRP merupakan power yang dihitung pada single RE. hal ini merupakan representasi dari power dari single RE yang berisikan refrence signal. RSRP tidak berisikan noise atau inteferensi dari serving cell atau neigbor cell, satunnya adalah dBm. Nilai dari RSRP merupak energy per resources element (EPRE) pada setiap eNodeB. Satuan dari EPRE adalah dBm/15 KHz, yang merupakan power dari setiap 15Khz atau per RE. RSRQ merupakan kualitas dari power yang diterima oleh RE yang berisikan RS. Hal ini merupakn KPI penting yang digunakan untuk menganalisan kualitas dari sinyal yang diterima. RSSQ merupakan :RSSQ = n (RSRP/RSSI)

(12)

RSSQ digunakan sebagai referensi sinyal oleh jaringan LTE untuk melakukan keputusan handover. N merupakan jumlah dari RB, yang nilainya berubah ubah tergantung dari penggunaknya. CQI merupakan kiriman uplink yang ditransmisikan oleh UE ke jaringan. CQI yang diterima jaringan dari UE merupakan informasi penting yang berhubungan dengan scheduling. Semakin baik kanal wireless semakin tinggi nilai CQI dari UE. Hal ini digunakan untuk menentukan modulasi, packet types, pr-coding

matrix yang berpengaruh ke nilai throughput yang diberikan ke banyak user. [2]

2.4 PERMASALAHAN JARINGAN LTE

Terdapat beberapa permasalahan yang dapat mengakibatkan suatu area cakupan mendapatkan kualitas sinyal yang buruk, permasalahan ini biasanya terjadi pada saat membangun jaringan baru atau pada saat jumlah pelanggan meningkat seiring dengan berjalannya waktu sehingga mengakibatkan over capacity. Beberapa permasalahan yang sering terjadi sehingga mengakibatkan daya pancar sinya menjadi rendah diantaranya adalah : [5]

2.4.1 Daya sinyal yang rendah (weak coverage)

Suatu wilayah seperti perbukitan yang mempunyai struktur daerah yang dapat mempengaruhi Line of Sight (LOS) dari sinyal yang dipancarkan,maka akan mengurangi daya pancar sinyal atau tidak adanya sinyal pada suatu area cakupan daerah tersebut, penyebab dari permasalahan ini diantaranya adalah :

Shadowed antenna • Arah antena • Tinggi antena • Daya pancar • Missing neighbor • Lokasi site

• Kesalahan perangkat keras • Sel tidak berfungsi

(13)

2.4.2 Tidak adanya server yang dominan ( lack of dominant cell)

Pada suatu titik tertentu, terdapat beberapa sel yang melayani user, apabila pada titik tersebut sinyal dari semua sel yang melayani memiliki daya pancar yang rendah sehingga mengakibatkan terjadinya ping pong handover. Permasalahan dari tidak adanya server yang dominan ini biasanya terjadi pada daerah perbatasan antar sel.

2.4.3 Overshoot

Overshoot adalah suatu kondisi dimana antenna dari suatu site dipasang terlalu tinggi

sehingga mengakibatkan daya pancar yang terlalu lebar, daya pancar yang melebar ini dapat mempengaruhi user yang dicoverage oleh site yang lain. Permasalahan ini dapat diatasi dengan menambah tilting dari antena ataupun mengurangi power antena tersebut.

2.4.4 Pilot Pollution

Pilot pollution adalah kondisi dimana adanya 3 atau lebih sinyal dengan kuat daya yang

hampir sama pada suatu area sehingga meningkatkan interferensi pada sinyal yang dipancarkan pada user.

2.4.5 Cross Coverage

Cross Coverage kondisi dimana ruang lingkup cakupan dari eNodeB melebihi yang

direncanakan dan menghasilkan daerah dominan yang terputus dalam lingkup cakupan eNodeB lainnya. Sebagai contoh, jika ketinggian site jauh lebih tinggi dari rata-rata tinggi bangunan sekitarnya, sinyal transmisi yang merambat jauh sepanjang bukit atau jalan dan membentuk cakupan dominan dalam lingkup cakupan eNodeB lainnya. Oleh karena itu, eNodeB pada dua sisi coverage harus dirancang secara khusus.

(14)

2.4.6 Cross Feeders

Cross Feeders terjadi dikarenakan arah cakupan yang direncakan berbeda dengan arah

antena sektoral sel. Kondisi ini terjadi karena koneksi feeder tidak sesuai dengan sel yang seharusnya.

2.4.7 Perbedaan Upload dan Download Throughput

Ketika daya pancar UE kurang dari daya pancar eNodeB, UE dalam modus siaga dapat menerima sinyal eNodeB dan berhasil mendaftar di sel. Namun, eNodeB tidak dapat menerima sinyal uplink karena kekuatan terbatas, ketika UE melakukan akses random atau meng-upload data. Dalam situasi ini, jarak cakupan uplink kurang dari jarak cakupan downlink.

2.5 INTERFERENSI PADA JARINGAN MOBILE

Interferensi merupakan faktor yang mempengaruhi sinyal, penghambat coverage dan kapasitas serta membatasi efesiensi dari transmisi sehingga menyebabkan distorsi pada sinyal yang diinginkkan. Jenis-jenis dari interferensi diantaranya adalah inter-symbol

interference (ISI) , co-channel interference (CCI), adjacent channel interference (ACI)

dan inter-cell interference (ICI). [6]

2.5.1 Inter-symbol interference (ISI)

ISI adalah tipe interferensi yang terjadi dikarenakan user menerima beberapa symbol yang berbeda pada saaat waktu yang bersamaan.

2.5.2 Co-channel interference (CCI)

CCI adalah interferensi yang disebabkan oleh penggunaan kanal yang sama pada cell, seperti pada ganbar 2.10.

(15)

Gambar 2.10 Co-Channel Interference

2.5.3 Adjacent channel interference (ACI)

ACI adalah interferensi yang disebabkan oleh penggunaan kanal frequency yang berdekatan sehingga menyebabkan kanal frequency tersebut saling menginterferensi. Kondisi sinyal yang diakibatkan ACI dapat dilihat pada gambar 2.11.

(16)

2.5.4 Inter-cell interference (ICI)

ICI adalah interefrensi yang disebabkan oleh cell tetangga, itu terjadi antara cell dari tipe yang sama atau tipe yang berbeda. Seperti yang terjadi pada gambar 2.12.

Gambar 2.12 Inter-Cell Interference

2.6 DRIVE TEST

Drive test adalah suatu proses pengumpulan data informasi secara manual dari

performansi radio pada daerah yang diinginkan. Data yang dikumpulkan berupa level dari kuat sinyal, interferensi, throuput yang tersedia untuk user, jumlah dari drop call dan block call, dan yang lainnya. [7] Tujuan dilakukannya drive test ini adalah untuk mengumpulkan informasi jaringan radio frekuensi secara real dilapangan.

Perangkat – perangkat yang biasanya digunakan dalam melakukan drive test diantaranya adalah :

• Laptop

Software untuk melakukan drive test (NEMO, TEMS, Genex)

• GPS

• Peta Mapinfo

(17)

2.7 SOFTWARE PENDUKUNG DRIVE TEST

Dalam melakukan pengumpulan data melalui drive test yang selanjutnya data tersebut akan dianalisa, maka dibutuhkan beberapa software pendukung. Software tersebut diantaranya adalah Genex Probe yang digunakan untuk pengumpulan data, Genex

Assistant yang digunakan untuk Analisa dari logfile yang didapatkan pada saat

melakukan drive test, Map Info dan Google Earth.

2.7.1 Genex Probe

Genex Probe adalah software pengetesan air interface yang digunakan untuk

mengumpulkan data test dari air interface GSM/GPSR/EDGE, WCDMA/HSPA/HSPA+, CDMA2000 1x/EV-DO, WiMAX dan jaringan LTE. Melalui probe, performansi dari jaringan dapat di evaluasi, optimalisasi jaringan dapat dilakukan dan kesalahan dapat diperbaiki. Data yang dikumpulkan dari jaringan radio akan disave dalam bentuk logfile. Selanjutnya logfile akan diimport melalui software lainnya seperti Genex Assistant untuk dilakukan analisis data. Genex Probe mendukung beberapa sistem jaringan, tipe perangkat, fitur fungsi layanan test yang sangat kuat dan fungsi manajemen data. Selain itu probe sangat mudah untuk digunakan.

Terdapat beberapa fitur yang dimiliki oleh genex probe, diantaranya adalah : • Mendukung sistem jaringan GSM, WCDMA, CDMA, WiMAX dan LTE • Mendukung beberapa tipe peralatan, termasuk

- Beberapa tipe dari test terminal - Beberapa tipe dari scanner - Beberapa tipe dari GPS

• Mendukung beberapa test dari layanan suara dan layanan data, termasuk test layanan suara, test scanner, test layanan data dan pengetesan layanan suara dan layanan data secara bersamaan.

• Mendukung beberapa test evaluasi kualitas suara • Mendukung test fungsi forcing

(18)

• Mendukung perekaman dan penyimpanan logfile pada saat real time dan mengulang kembali prosedur pengetesan melalui fungsi replay,

• Mendukung menampilkan event kunci pada saat real time seperti Handover dan call drops selama pengetesan

• Mendukung data sinkronisasi dari tampilan pesan, tampillan map dan tampilan event lokal yang bermasalah dan Analisa.

Gambar 2.13 Tampilan Utama Genex Probe

Tampilan utama dari genex probe terdiri dari menu bar, toolbar, panel penunjuk, operation interface, status bar dan catatan untuk melakukan operasi terkait dengan penggunaan probe. Gambar tampilan utama dari probe dapat dilihat pada gambar 2.13 Sedangkan penjelasan dari Interface utama pada Genex Probe dapat dilihat pada tabel 2.1

Tabel 2.1 Interface Utama dari Probe

No Nama Penjelasan

1 Menu Bar Menampilkan menu utama dari sistem

2 Toolbar menyediakan ikon cepat untuk perintah pengoperasian 3 Navigation Pane menyediakan ikon cepat untuk operasi utama dari sistem 4 Operation Interface menampilkan perbedaan pandangan antarmuka jendela dan antarmuka konfigurasi 5 operation interface menampikan lembar kerja yang ditambahkan oleh pengguna Status bar of the 6 System status bar menampilkan status informasi tentang sistem, termasuk status sistem dan peralan saat ini

(19)

2.7.2 MapInfo [10]

MapInfo adalah perangkat lunak yang berfungsi sebagai pengolah data berbasis

Geographic Innformation System (GIS) yang telah terintegrasi dengan data berupa

tabel. Secara umum, MapInfo berfungsi untuk mengolah data-data tabel seperti database, perencanaan/perancangan, pengecekan dan analisis, pemetaan, pemilihan data berdasarkan dari hasil pemetaan, dan yang lainnya. Oleh karena itu, kegunaan dari

MapInfo mencakup pada berbagai bidang, baik itu yang bersifat teknis maupun

non-teknis. Tampilan muka dari MapInfo dapat dilihat pada gambar 2.14.

Gambar 2.14 Tampilan Muka MapInfo

Pada bidang telekomunikasi terutama wireless, MapInfo sering digunakan untuk perencanaan jaringan dan juga optimalisasi jaringan untuk berbagai keperluan, diantaranya :

Mengolah Logfile dari hasil Drive Test Menjalankan fungsi mapping

• Membuat peta jalan maupun kontur

Pembentukan peta dari hasil pencuplikan peta online • Membuat Pemetaan Site

Pengecekan Neighbor list

(20)

2.8 PROSES OPTIMASI JARINGAN

Secara umum, proses optimasi pada suatu jaringan dilakukan dengan beberapa tahapan diantaranya adalah menganalisa permasalahan awal, persiapan, pengumpulan data, Analisa terhadap data yang didapat dan pembuatan laporan. [5]

Rincian dari tahapan proses optimasi yang dilakukan diantaranya adalah:

1. Analisa permasalahan awal : Sebelum dilakukan optimalisasi, harus ditentukan terlebih dahulu tujuan dan alasan dilakukannya optimasi.

2. Persiapan

• Menyiapkan rute yang akan dilalui pada saat drive test, • Pengecekan peralatan drive test,

• Mendapatkan file input 3. Pengumpulan data

• Menyimpan logfile • Membuat catatan

4. Analisa terhadap data yang didapat

• Menentukan area atau titik yang bermasalah dan akan dioptimalisasi • Mencari solusi atas permasalahan tersebut

5. Laporan

2.9 METODE OPTIMASI

Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan ketika melakukan optimasi jaringan, diantaranya adalah metode optimasi electrical tilt dan metode optimasi mechanical tilt [5]

2.9.1 Metode electrical tilt

Metode electrical tilt adalah metode yang dilakukan dengan cara memiringkan antenna dengan mengubah sinyal pertahapan. Dengan adanya metode ini, diharapkan data tidak mengalami distorsi. Perubahan area cakupan pancaran antena ketika dilakukan perubahan Electrical Tilt dapat dilihat pada gambar 2.15.

(21)

Gambar 2.15. Pola Pancar Dari Electrical Tilt

2.9.2 Metode Mechanical Tilt

Metode mechanical tilt adalah metode yang dilakukan dengan cara memiringkan antenna secara kasar beberapa derajat ke arah vertikal dalam memodifikasi suatu layanan area. Perubahan area cakupan pancaran antenna ketika dilakukan perubahan

mechanical tilt dapat dilihat pada gambar 2.16

(22)

2.9.3 Penambahan Site Baru

Penambahan site baru dilakukan untuk menambah cakupan coverage pada suatu jaringan operator selular dan juga untuk mengurangi adanya blankspot yang mempengaruhi kualitas sinyal di suatu jaringan. Solusi penambahan site baru ini sangat disarankan pada daerah-daerah urban supaya mendapatkan kualitas dan level sinyal yang baik. Hal ini disebabkkan Karena area optimasi adalah urban area yang memiliki kerapatan bangunan dan ketinggian antenna yang tinggi sehingga adanya obstacle yang sangat mempengaruhi kualitas RSRP. Maka solusi yang dapat dilakukan adalah penambahan site baru.

Gambar

Gambar  2.1 Ringkasan  Evolusi  Arsitektur  Jaringan  LTE
Gambar  2.2 Interface  Perangkat  LTE
Gambar  2.3 Daftar Frekuensi  LTE-FDD
Gambar  2.4 Sistem  Akses LTE
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser pelekatan resin komposit packable dengan intermediate layer resin komposit flowable menggunakan

Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian adalah penggunaan aplikasi dan Network Operating System yang dapat digunakan dalam hal tunnelling untuk koneksitas jaringan

Verifikasi dilakukan dengan memasukan data eksperimen ke dalam model Renko sehingga diperoleh nilai parameter model baru untuk memprediksi pola pengendapan yang terbbentuk..

Hasil akhir dari penelitian ini adalah sebuah sistem pendukung keputusan yang dapat menentukan produk olahan kayu jati yang akan diolah sebagai bahan baku

Hasil tersebut membuktikan bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan negatif antara school well-being dengan agresivitas pada siswa SMK Negeri 4 Kota Semarang

Beberapa penelitian terkait termoelektrik telah banyak dilakukan, beberapa di antaranya dilakukan oleh gardara AD (2012), dan susanto TA (2012). Penelitian yang dilakukan

Semua kelas ini dirancang untuk memberikan penjelasan lebih mendalam tentang hal-hal penting yang perlu anda pelajari dalam Kekristenan: siapa itu Tuhan Yesus, bagaimana

Berdasarkan hasil observasi dan penelitian yang penulis lakukan dapat simpulkan bahwa pelayanan prima di UPTD Puskesmas Loa Janan telah melaksanakan fungsinya dengan baik