BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Narkotika adalah masalah yang dianggap serius oleh masyarakat internasional pada era ini. UN (United Nations) khususnya UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) sendiri memasukkan narkotika kedalam salah satu program kerja mereka melalui satu agenda kerangka kerja mereka yang disebut sebagai Organized Crime and Trafficking. Melalui agenda ini UNODC membantu pemerintah-negara untuk menstabilkan kegiatan-kegiatan penyelundupan narkotika, senjata, sumber daya alam serta beberapa jenis kejahatan yang lainnya (UNODC, 2011).
Sampai saat ini masalah narkotika di dunia belum dapat dihentikan sepenuhnya oleh masyarakat internasional. Faktor utama yang menyebabkan sulitnya menyelesaikan masalah narkotika secara global adalah karena terdapatnya organisasi kriminal internasional yang dilengkapi dengan peralatan modern serta modus para kelompok kriminal yang sulit ditebak oleh para pihak yang berwenang dalam suatu negara, kemudian yang kedua menjadi penyebab masih eksisnya kejahatan ini adalah terdapatnya mekanisme pasar dalam penyelundupan narkotika, sehingga tingkat perdagangan dan peredaran narkotika sangat erat kaitannya dengan penawaran (supply) dan permintaan (demand) (Hatta, 2010). data yang dikeluarkan oleh UNODC pada tahun 2015 kemudian membuktikan bahwa masalah perdagangan gelap narkotika masih sangat sulit untuk dihentikan. Dalam data tersebut tingkat pengguna narkoba dari tahun 2006-2013 terus meningkat. Berikut adalah data resmi yang dikeluarkan oleh UNODC:
Tabel 1: Tingkat Penggunaan Narkotika Global
Sumber : UNODC World Drug Report 2015 hal iix
Dampak yang ditimbulkan bagi tubuh manusia kemudian menjadi alasan utama penggunaan narkotika secara ilegal mendapat larangan di banyak negara. Dalam laporan UNODC tahun 2016 mencatakan terdapat 11,7 juta atau 0,25% dari populasi manusia yang berada pada umur 15-64 tahun mengalami kasus kematian akibat penggunaan narkotika secara illegal (UNODC,2016). Di Indonesia permasalahan narkotika juga menjadi salah satu topik yang sedang hangat dibahas oleh pemerintah dan masyarakat secara luas. Hal ini dipegaruhi besarnya potensi penyelundupan narkotika ke wilayah Indonesia. Dilasir dari metrotvnews.com, pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Wiranto (Menkopolhukam), menyebutkan bahwa penyelundupan narkotika di Indonesia sulit ditangani akibat dari banyak faktor, salah satunya adalah faktor geografis. Indonesia adalah negara kedua dengan wilayah perbatasan terbesar di dnia. Wilayah perbatasan Indonesia sangat panjang, yakni 99 ribu kilometer dengan letak geografis pulau terpencil dan terluar belum memiliki penjagaan ketat, karena hal inilah yang kemudian membuat penyelundupan narkotika ke wilayah Indonesia masih belum dapat diselesaikan secara maksimal (metrotvnews.com, 2017).
Berikut adalah data statistik perkembangan kasus yang telah diungkap BNN sepanjang tahun 2014-2017:
Gambar 3: data statistik Kasus Narkotika di Indonesia tahun 2014-2017
Sumber: diolah melalui Laporan akhir Tahunan BNN tahun 2014-2017
Indonesia adalah salah satu negara yang dilalui oleh garis perdagangan narkotika secara global. Badan Narkotika Nasional (BNN) mengidentifikasikan bahwa ada perubahan jalur penyelundupan narkoba yang terjadi saat ini. Jika dahulu penyelundupan dilakukan melalui jalur darat, namun saat ini sebagian besar narkotika diselundupkan melalui jalur laut. Selanjutnya BNN juga mengungkapkan bahwa sebagian besar narkotika diselundupkan melewati Malaysia. Terdapat tiga jenis narkoba yang beredar di Indonesia diantaranya adalah ganja, sabu-sabu dan ekstasi. Dalam laporannya BNN mengungkapkan sebagian besar ganja yang beredar di Indonesia berasal dari Aceh, dan sebagian kecil dari Papua. Adapun sabu-sabu umumnya berasal dari Cina dan Iran sedangkan Ekstasi berasal dari Eropa ( liputan6.com, 2015).
Selain daripada itu penyelundupan narkoba di Indonesia sangat wajib untuk diwaspadai karena Indonesia merupakan negara transit dan lokasi perdagangan gelap narkoba. Hal ini dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia yang berada disekitar kawasan golden triangle1 dan
1 Gloden Triangle adalah nama pemberian terhadap area produksi opium di Asia Tenggara sejak tahun 1950-an,
wilayah ini adalah penghasil opium terbesar kedua setelah Afganistan. Lokasi ini kemudian berada di wilayah tiga negara sekaligus, yakni Myanmar, Laos dan Thailand.
397 90 807 46.537 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000
Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017
Perkembangan Kasus Narkotika
Perkembangan Kasus Narkotika
golden crescent2 dengan sasaran untuk diselundupkan ke Australia, Amerika, Hawai dan Hongkong. Hal yang menjadi kesulitan utama bagi pemerintah untuk mencegah penyelundupan narkoba ke wilayah Indonesia karena terlibatnya organisasi kriminal internasional yang mapan dengan peralatan yang canggih, serta didukung oleh luas wilayah laut Indonesia (Hatta, 2010).
Gambar 2 : Peta Jalur Perdagangan Narkotika Global
Sumber : UNODC Word Drug Report 2010
Penyelundupan narkotika dimotori oleh pihak-pihak non negara seperti organisasi kejahatan internasional (international criminal organization). Namun dalam pergerakan organisasi kriminal, menjadi sangat sulit untuk diketahui, hal ini dipengaruhi oleh jaringan-jaringan yang dimiliki kelompok tersebut tersebar di seluruh dunia bahkan samapai kedalam struktur pemerintahan. Organisasi kriminal tidak hanya berkonsentrasi pada penyelundupan narkotika melainkan cara kerja organisasi kriminal ini bersifat multi dimensi, artinya penyeledupan yang dilakukan oleh organisasi kriminal tak hanya berkonsentrasi pada satu isu
2 golden crescent nama pemberian kepada wilayah produksi opium yang berlokasi di sekitar Asia tengah, selatan dan
tetapi terdapat juga mekanisme yang lain seperti, penyelundupanse senjata, money laundering, penyelundupan manusia serata masih banyak lainnya. Hal ini yang kemudian membuat kejahatan penyelundupan narkotika sering sekali dikaitkan dengan masalah kedaulatan negara seperti separatisme (Hatta 2010).
Melihat potensi penyelundupan dan persebaran narkotika, presiden Joko Widodo kemudian secara tegas mengungkapkan kepeduliannya terhadap peredaraan narkotika, menurut presiden Jokowi perdagangan narkoba adalah kejahatan lintas batas yang mengancam keamanan dalam negeri sehingga dia menyatakan sikap tegas untuk perang melawan narkotika di wilayah Indonesia (Kemendag 2017). Pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Joko Widodo mengambil langkah-langkah atau kebijakan untuk perang melawan narkotika atau sering dikenal dengan istilah war on drugs. Kebijakan ini dari sudut pandang pemerintah dan masyarakat pada umumnya harus diambil oleh pemerintah sebagai tindakan tindakan preventive penyebaran obat-obat terlarang secara berkelanjutan di Indonesia.
Langkah perang terhadap narkotika telah diambil oleh presiden Joko Widodo pada sekitar tahun 2017. Hal ini dikemukakan secara resmi pada saat memberikan sambutannya pada saat peringatan 50 tahun ASEAN di tahun 2017 (Kemendagri 2017). Untuk meningkatkan efisiensi kebijakan war on drugs yang digalangkan oleh pemerintah, hukuman mati masih menjadi solusi akhir sebagai langkah yang dirasa mampu untuk menekan pertumbuhan narkotika di Indonesia. Hal ini terlihat dari pernyataan Mendagri Tjahjo Kumolo yang menyatakan hukuman mati bagi para pengedar narkotika masih dibutuhkan (Liputan6.com 2017). Pada dasarnya jika melihat rekam jejak efek yang dihasilkan oleh hukuman mati, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya langkah tersebut tidaklah produktif dalam penyelesaian narkotika. Saat ini tercatat hukuman mati yang telah dilakukan oleh pemerintah dimasa kepemimpinan presiden Joko Widodo selama tiga tahun belakangan ini (2014-2017) telah melakukan hukuman mati kepada delapan belas orang tersangkah penyelundupan narkotika. Angka ini kemudian lebih besar dari masa pemerintahan presiden SBY yang semasa kepemimpinannya selama sepuluh tahun hanya mengeksekusi mati sebanyak enam belas tersangkah pengedar narkotika (Kompas, 2017).
Jika memperhatikan data yang telah disajikan, sejatinya hukuman mati sebagai langkah pemberantasan narkotika di Indonesia belum mencapai tujuannya untuk menimbulkan efek jera bagi para penyeludup narkotika. Akan tetapi sampai pada saat ini pemerintah masih belum
menemukan solusi baru sebagai bentuk langka yang pasti sebagai bentuk representatif hukum yang tegas bagi para pengedar narkotika. Narkotika adalah kejahatan transnasional yang menimbulkan ancaman bagi masyarakat Indonesia itu sendiri, maka negara sebagai organisasi tertinggi dalam suatu wilayah memiliki tanggung jawab untuk memberikan jaminan keselamatan bagi para penduduk di wilayahnya tersebut. Akan tetapi melihat data yang dipublikasikan oleh BNN menimbulkan ambiguitas di mana angka narkotika di Indonesia tidak menurun setelah pemerintah melakukan tindakan hukuman mati kepada para terpidana penyelundupan narkotika, hal inilah kemudian menimbulkan kontradiksi pada level kebijakan terhadap hasil dari kebijakan tersebut, yang dibuktikan melalui data BNN pada masa pemerintahan Joko Widodo dan pemrintah masih tetap berkomitmen untuk menggunakan hukuman mati sebagai instrumen hukum pada kasus penyelundupan narkotika yang terlihat dari wacana revisi UU Nomor 35 tahun 2009 yang mana pembahasan revisi ini mengenai percepatan hukuman mati (Kompas.com, 2018).
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaima efektifitas war on drugs pada tahun 2014-2017?”
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mendeskripsikan dan menganalisis mengenai efektifitas war on drugs selama tahun 2014-2017 ditinjau dari berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemerintah
1.1. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini, yaitu : 1.1.1. Praktis dan Teoris
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis mengenai persoalan narkotika di Indonesia yang saat ini telah menjadi ancaman serius. Selain itu penelitian diharapkan memberikan informasi-informasi terbaru mengenai upaya pemerintah dalam menangani kasus narkotika
Dalam ranah akademik penelitian ini dapat dijadikan sumber referensi untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai kejahatan penyelundupan narkoba yang terjadi di wilayah Indonesia dan strategi pemerintah Joko Widodo menghadapinya.
1.2. Batasan Penelitian
Adapun penelitian ini berfokus pada efektifitas war on drugs pada tahun 2014-2017 yang dilihat berdasarkan tantangan-tantangan yang tengah dihadapi oleh pemerintah