HARGA DIRI DAN KECENDERUNGAN NARSISME
PADA PENGGUNA FRIENDSTER
Pradana Saktya Adi
1
M. Erna Agustina Yudiati
2
1,2
Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata
Jl. Pawiyatan Luhur IV/1 Bendan Dhuwur Semarang
1
[email protected]
Abstrak
Fenomena jejaring sosial seperti Friendster kian marak dijumpai sebagai sarana
berinteraksi dalam dunia maya belakangan ini. Pengguna friendster sendiri adalah
kelompok yang unik dengan karakteristik yang unik. Beberapa karakteristik psikologis yang
ditengarai menjadi ciri kas kelompok ini adalah kecenderungan narsisme dan harga diri.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara kecenderungan
narsisme dan harga diri pada pengguna Friendster. Hipotesis yang diajukan adalah ada
hubungan negatif antara harga diri terhadap kecenderungan narsisme pada pengguna
Friendster. Semakin rendah harga diri, maka semakin tinggi pula kecenderungan narsisme
pada pengguna Friendster, sebaliknya semakin tinggi harga diri, maka semakin rendah pula
kecenderungan narsisme pada pengguna Friendster. Subjek penelitian memiliki
karakteristik, yakni aktif menggunakan Friendster selama minimal enam bulan. Penelitian
ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat ukur Skala Kecenderungan Narsisme dan
Skala Harga Diri. Kedua skala tersebut disebar di Kota Yogyakarta dengan menggunakan
sampling kebetulan dan jumlah subjek didapat sebanyak 70 orang. Berdasarkan hasil
analisis didapatkan rxy = -0.346 dengan p<0.01 yang menunjukkan bahwa ada hubungan
negatif yang sangat signifikan antara harga diri dengan kecenderungan narsisme pada
pengguna Friendster. Dengan demikian, hasil analisis data ini mendasari bahwa hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini diterima.
Kata Kunci: kecenderungan narsisme, harga diri, pengguna Friendster
SELF-ESTEEM AND THE TENDENCY OF NARCISSISTIC
ON FRIENDSTER USERS
Abstract
The social phenomenon of social network such as Friendster can be easily found recently.
The Friendster users is a group with unique characteristics such as has the tendency of
narcissistic and has unique self-esteem also. The aim of this research is to test empirically
the connection of the tendency to be narcissistic on Friendster users, based on self-esteem
point of view. Proposed hypothesis such as there is a negative connection between
self-esteem and the tendency to be narcissistic on Friendster users. For them, who have lower
self-esteem, the higher tendency to be narcissistic and vice-versa. For hypothesis test
purpose, subjects were chosen with characteristics such as active in using Friendster during
six months minimum. The research is quantitative in nature with Narcissistic Tendency Scale
and Self-esteem Scale as variables. Both scales were distributed in Yogyakarta to research
subjects with incidental sampling method. The total of respondents who were succeeded to be
gathered were 70 people. Based on data analysis, it is shown that rxy = -0.346 with p<0.01. It
narcissistic on Friendster users. Thus, the analysis result provided the basis for the accepted
hypothesis.
Key Words: the tendency of narcissistic, self-esteem, Friendster users
PENDAHULUAN
Kemajuan teknologi yang pesat
dalam beberapa dasawarsa terakhir ini,
sekaligus menggiring manusia memasuki
era globalisasi di penghujung abad ke-21,
agaknya memiliki kontribusi yang tidak
kecil dalam perubahan peradaban
manu-sia. Aktivitas sehari-hari sedemikian rupa
dimudahkan oleh hadirnya beberapa
fasi-litas, sarana, dan prasarana dengan
kecanggihan yang nyaris sempurna, baik
yang berhubungan dengan transportasi,
telekomunikasi dan informasi melalui
media elektronik.
Pesatnya kemajuan ilmu telah
membawa umat manusia pada
kemu-dahan dan kepraktisan hidup yang tidak
terbayangkan pada sekian ribu tahun yang
lalu. Hidup manusia menjadi lebih ringan.
Kecanggihan teknologi yang menyertai
kehidupan manusia ini membanggakan
sekaligus perlu diwaspadai. Kartono
(1992) mengatakan bahwa masyarakat
modern yang serba kompleks sebagai
produk dengan kemajuan teknologi,
mekanisme, industrialisasi dan urbanisasi
memunculkan banyak masalah sosial.
Salah satu “alat” yang saat ini membantu
manusia modern dalam beraktivitas
sehari-hari adalah internet.
Pada masa awal internet digunakan
oleh masyarakat modern, fitur newsgroup
mungkin tergolong paling populer
seba-gai ruang untuk bergaul dan memperluas
jaringan persahabatan. Kemudian ruang
mengobrol melewati popularitas
news-groups. Orang lebih suka bergaul dalam
ruang mengobrol di server IRC maupun
di ruang mengobrol berbasiskan web,
misal Yahoo Messenger. Banyak orang
akan menemukan sahabat atau kolega
baru di ruang mengobrol. Hal ini cukup
masuk akal, karena banyak orang
meng-anggap newsgroup terlalu serius untuk
bergaul, sebab sebetulnya newsgroup
dirancang untuk berdiskusi mengenai
topik-topik tertentu. Padahal bergaul
kadangkala tidak hanya dengan sapaan,
“Hi”; tanpa diskusi yang mengerutkan
dahi (Setiawan dan Sopyan, 2007). Ruang
mengobrol memungkinkan pengguna
in-ternet mengobrol dengan topik yang biasa
saja dan itu berarti pengguna internet
punya peluang untuk bertemu dengan
bermacam-macam tipe karakter teman
yang baru. Selain itu di dalam ruang
mengobrol, pengguna internet dapat
mengobrol secara langsung seketika yang
tidak mungkin dilakukan di dalam
newsgroup.
Salah satu masalah bergaul di
internet adalah komunikasi secara tidak
langsung. Jika lawan obrolan adalah
kenalan baru, maka pengguna internet
tidak tahu secara persis tentang
karak-ternya, wajahnya, pria atau wanita,
bahkan kejujurannya. Pengguna internet
baru bisa yakin bahwa kenalan barunya
itu benar-benar ada dan mempunyai
identitas jika ada orang lain yang
mem-buktikannya. Tentu saja yang dapat
membuktikannya adalah teman pengguna
itu sendiri. Pengguna tidak akan pernah
ragu lagi berkenalan dengan orang yang
telah dikenal oleh temannya pengguna.
Inilah gebrakan yang membuat
situs Friendster (dapat diakses melalui
www.friendster.com) cepat sekali populer
sebagai perangkat lunak jaringan sosial
(social networking). Friendster adalah
sebuah situs jaringan yang bisa membuat
orang menampilkan profil beserta fotonya
dan melakukan hubungan dengan teman,
temannya teman atau temannya temannya
teman. Pengguna Friendster bisa
menam-bah daftar teman dengan mengirim
semacam surat elektronik undangan