PERAN TAN MALAKA DI SEKOLAH SAREKAT ISLAM SEMARANG TAHUN 1921-1924
JURNAL
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Sastra
Oleh:
SHELA RAHMAWATI 12407141001
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2016
1
PERAN TAN MALAKA DI SEKOLAH SAREKAT ISLAM SEMARANG TAHUN 1921-1924
Oleh: ShelaRahmawati
(12407141001) Abstrak
Tan Malaka bukan saja tokoh politik yang terkenal dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tetapi beliau adalah seorang tokoh pendidikan yang dikenal dengan sistem pendidikan kerakyatan. Tan Malaka menerapkan sistem pendidikan tersebut pada Sekolah Sarekat Islam di Semarang pada tahun 1921 hingga 1924. Tujuan pendirian sekolah tersebut adalah untuk memberikan pendidikan yang layak untuk penduduk Hindia-Belanda. Disamping kerja keras Tan Malaka, peran organisasi Sarekat Islam (SI) menjadi pendukung utama dalam penyelenggaraan sekolah tersebut. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui perkembangan SI cabang Semarang dan peran Tan Malaka di Sekolah SI Semarang dengan menerapkan konsep pendidikan kerakyatannya. Sistem tersebut sesuai dengan keadaan Hindia-Belanda yang harus melakukan perubahan dalam hal peningkatan pendidikan untuk menandingi pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pendidikan kerakyatan yang diterapkan Tan Malaka meliputi: Rasa Kemanusian, Rasa Kemerdekaan, dan Rasa Cinta Tanah Air. Konsep pendidikan tersebut untuk mengubah pola pikir penduduk Hindia-Belanda untuk tidak selamanya bergantung kepada pemerintah kolonial. Dengan diterapkannya sistem kerakyatan, Sekolah SI mampu memberikan pendidikan bagi penduduk Hindia-Belanda baik dari penduduk yang berada di kelas bawah, menengah, dan atas. Maksud dari pendidikan kerakyatan adalah untuk memberikan bekal bahwa rakyat miskin patut mempunyai pendidikan setingkat tuannya. Serta untuk menghilangkan sistem penghisapan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia-Belanda terhadap rakyat kecil ataupun kaum buruh. Kerja keras Tan Malaka sangat didukung oleh SI sebagai organisasi yang bertanggungjawab atas penyelenggaran pendidikan tersebut. Setelah Sekolah SI diselenggarakan di Semarang, SI berekspansi untuk meningkatkan pendidikan pribumi dengan membangun cabang Sekolah SI dimana pun organisasi SI berada.
2
THE ROLE OF TAN MALAKA IN SCHOOL OF SAREKAT ISLAM SEMARANG YEAR 1921-1924
By:
Shela Rahmawati (12407141001)
Abstract
Tan Malaka was not only a political figure that famous in fought Indonesia’s freedom, but also be an education figure which is known as populist educational system. He applied that system in School of Sarekat Islam in Semarang at 1921 until 1924. The purpose of establishment that school was for giving properly education for Hindia-Dutch’s people. Besides of Tan Malaka’s hard work, the role of Sarekat Islam organization became prominent supporter on school’s implementation. Research shows that for knowing development of SI branch Semarang and the role of Tan Malaka in SI’s school produces a concept of populist educational and became basis from educational system which is used by indigene school in 20th century. That system appropriate with Hindia-Dutch which is must to make changes for increasing education so it could be comparable with education which is held by government. The populist educational has been applied by Tan Malaka is humanity, have a sense of freedom, and have a sense of nationalism. The educational concept have purposed, it is been changed mindset of the Hindia-Dutch people to not depend with colonial governement. By applied populist system, SI school could give education for Hindia-Dutch people from lower, middle, and upper class. Intent of populist education is to gave provisions that destitute people are proper to have education in highest possible like their master. Tan Malaka’s hard work was very supported by Sarekat Islam as organization that responsible of populist education implementation. After SI school has been organized in Semarang, SI expanded to upgrade indigene education by built branch of SI school wherever it takes place.
Keyword : Tan Malaka, Sarekat Islam, Sarekat Islam’s School.
A. Pendahuluan
Sekolah SI sendiri berada di bawah naungan organisasi Sarekat Islam. Organisasi SI merupakan organisasi yang dibentuk pada akhir 1911 sebagai Sarekat
3
dagang Islam (SDI) di Surakarta (Solo).1 Perubahan nama dari SDI menjadi SI dikarenakan partisipasi masyarakat pribumi sangat antusias terhadap organisasi SDI. Masyarakat pribumi yang berpartisipasi tidak hanya dari kalangan para pedagang, melainkan dari kalangan petani dan pegawai rendahan lainnya. Oleh karena itu, untuk menampung aspirasi rakyat pribumi, SDI berganti nama menjadi SI atas permintaan dari H. O. S. Tjokroaminoto. Perubahan orientasi SI pun berubah, dari orientasi komersil ke orientasi politik. Kemudian organisasi ini menjadi populer dan lebih dari sekedar kelompok dagang. Pada 1912, di bawah kepemimpinan H. O. S Tjokroaminoto, organisasi ini diganti menjadi Sarekat Islam yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan perekonomian orang Indonesia secara umum. Setelah surut di Solo, organisasi tersebut memindahkan pusat kegiatannya ke Surabaya, ibukota Jawa Timur. Dengan cepat SI memperoleh banyak pendukung dari seluruh Jawa.2
Awal mula pendirian Sekolah SI, berkaitan dengan kedatangan Tan Malaka ke Pulau Jawa untuk mencari pekerjaan tetap supaya dapat melunasi hutang atas biaya pendidikannya. Tahun 1921, ia pergi ke Yogyakarta dan menginap beberapa hari di hotel. Kemudian ia tinggal di rumah Sutopo, mantan redaktur kepala pada surat kabar Budi Utomo. Ia mendapatkan alamat rumah Sutopo dari temannya yang menjadi ketua Budi Utomo di Medan. Sutopo menganjurkan Tan Malaka untuk memimpin sebuah sekolah yang akan didirikan di Yogyakarta.3 Bersamaan dengan itu diadakan Kongres SI di Yogyakarta. Sutopo memperkenalkan Tan Malaka kepada Tjokroaminoto, Semaoen, dan Darsono. Rupanya, ia begitu berkesan pada mereka sehingga ia mendapat berbagai tawaran untuk bekerja di surat kabar, partai, dan
1
Ruth T. Mcvey, Kemunculan Komunisme Indonesia, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hlm. 12.
2 Ibid., hlm. 13.
3
Harry. A. Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1988), hlm. 170.
4
pergerakan buruh. Hal ini membuktikan bahwa pergerakan Indonesia secara kronis kekurangan tenaga yang berpendidikan.4
Politik Etis yang diterapkan oleh pemerintah Hindia-Belanda ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat pribumi. Lahirnya pendidikan untuk pribumi ketika diterapkannya Politik Etis, hanya bisa dinikmati oleh sebagian masyarakat pribumi yang mempunyai modal untuk mendapatkan pendidikan.5 Tokoh-tokoh yang mempunyai cita-cita etis tersebut adalah van Deventer dan van Kol. Tak dapat disangkal bahwa mereka didorong oleh maksud-maksud yang mulia serta rasa cinta terhadap Hindia-Belanda dan bangsanya. Namun, apa yang mereka capai tak lain daripada sesuatu yang sejalan dengan kepentingan bank dan Politik Etis sebagai alat dalam perusahaan raksasa milik pemerintah kolonial. Politik Etis menyajikan slogan yang indah untuk menutupi metode-metode eksploitasi modal raksasa.6 Lewat pendidikan yang dilaksanakan di Sekolah SI, Tan Malaka ingin menyatukan seluruh kekuatan rakyat untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Hindia Belanda. Dengan persatuan inilah, Tan Malaka tidak ragu-ragu untuk terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam (Sarekat Islam). Dalam hal merintis pendidikan kerakyatan tersebut, tujuan utamanya adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka.7
4Ibid., hlm. 171
. 5
Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), hlm. 18.
6
Ibid.
7
Furqon Ulya Himawan, “Konsep Pendidikan kerakyatan Tan Malaka dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam”, skripsi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2009, hlm. 107.
5 B. Sarekat Islam Cabang Semarang
Salah satu organisasi pada masa pergerakan nasional adalah Sarekat Islam (SI) yang berdiri pada tahun 1912 di Solo yang diketuai oleh H. O. S Tjokroaminoto. Pergantian nama dari Sarekat Dagang Islam (SDI) menjadi SI tidak mengehentikan laju perkembangan organisasi. Hal itu menunjukkan bahwa SI adalah suatu organisasi yang telah lama dinanti-nantikan oleh rakyat umum. Namun, SI menjadi organisasi merakyat yang dapat langsung menampung keluh kesah rakyat.8 Pada bulan September 1912, SI mendirikan cabang di Madiun, Ngawi, dan Ponorogo. Awal tahun 1913, SI cabang Semarang berdiri dan diketuai oleh Raden Muhammad Joesoef dan mempunyai wakil Raden Soedjono. Menurut Residen Semarang De Vogel, gerakan SI di Jawa Tengah yang terbesar terdapat di Semarang.9
Posisi dari Raden Muhammad Joesoef di dalam SI cabang Semarang hanya berlangsung satu tahun, kemudian digantikan oleh wakilnya Raden Soedjono pada tahun 1914. Akan tetapi, perannya di dalam SI cabang Semarang tidaklah seradikal penggantinya yaitu Semaoen. Raden Soedjono digantikan oleh Semaoen pada tahun 1917. Pada masa kepemimpinan Semaoen, para pendukung SI berasal dari kalangan buruh dan rakyat kecil. Dari awalnya kaum menengah menjadi gerakan kaum buruh dan tani.10 Dengan adanya perubahan dalam sisi anggota itu, SI Semarang menjadi organisasi yang memiliki anggota yang cukup besar. Dalam waktu setahun, 1916-1917, jumlah anggota bergerak cepat, dari 1.700 menjadi 20.000 orang.11 Sebelum SI cabang Semarang dipimpin oleh Semaoen, SI membentuk sebuah organisasi pusat
8
Ibid., hlm. 56.
9 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Kebangkitan Nasional
Jawa Tengah, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/1978), hlm. 47.
10 Soe Hok Gie, Dibawah Lentera Merah, (Yogyakarta: Yayasan Betang
Budaya, 1999), hlm. 12.
11
Budi Setyarso, Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011), hlm. 26.
6
untuk mengkoordinasi hubungan antara cabang SI di tiap daerah. Tjokroaminoto membentuk organisasi pusat SI yang bernama Central Sarekat Islam (CSI) pada tahun 1916. Peran CSI adalah sebagai badan pimpinan pusat yang tidak langsung membina anggota-anggota dan bergerak lebih banyak ditujukan kepada pemerintah kolonial secara parlemen.12
Pada tanggal 20-27 Oktober 1917, diadakan Kongres CSI ke-2 di Batavia. Dibandingkan dengan Kongres CSI ke-1, Kongres CSI ke-2 ini lebih banyak berbicara tentang masalah pemerintahan dan badan-badannya, termasuk Volksraad (Dewan Rakyat) dan Indie Werbaar Actie (Aksi Ketahanan India).13 Pada kongres ini, CSI menunjukkan dukungannya dengan program-program yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial. Sedangkan di pihak Semaoen menolak program tersebut. Karena ia menilai bahwa para pemimpin CSI telah dipergunakan sebagai alat propaganda untuk pertahanan militer yang merugikan rakyat sendiri.14
Aksi penolakan Semaoen tidak hanya disitu saja, puncak dari konflik yang terjadi di dalam tubuh SI terjadi pada tahun 1920. Tahun tersebut merupakan tahun dimana, Partai Komunis Indonesia (PKI) lahir, dan Semaoen menjadi ketua bersama Darsono sebagai wakil. Dengan lahirnya PKI dari kandungan SI-ISDV, CSI mengusulkan agar dilaksanakan disiplin partai. Usul tersebut resmi dikemukakan dalam rapat pimpinan CSI di Yogyakarta pada tanggal 30 September 1920. Rapat tersebut diprakarsai oleh wakil ketua, Soerjopranoto, dan komisaris, Agoes Salim.15
12Nasihin, Sarekat Islam mencari Ideologi 1924-1945, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2012), hlm. 51.
13 Endang Muryanti, “Sarekat Islam Semarang Tahun 1913-1920”, Skripsi,
Semarang: UNNES, 2006, hlm. 54.
14Utomo, op.cit., hlm. 66. 15Gie, op.cit., hlm. 48.
7
Tujuan diselenggarakan disiplin partai adalah untuk menghilangkan unsur komunisme di tubuh SI. Akan tetapi, pihak Semaoen tidak menginginkan untuk meninggalkan SI dan juga melepaskan PKI. Adanya disiplin partai mengakibatkan perdebatan mengenai ideologi pada masing-masing kubu. Tan Malaka menganggap pertikaian yang terjadi di dalam tubuh SI apabila disiplin partai diterapkan, maka SI bukan lagi sebuah organisasi yang mampu menampung aspirasi rakyat kecil lagi. Tan Malaka datang ke Pulau Jawa, tepatnya di Batavia pada bulan Februari 1921 bersama Soetopo mantan redaktur Budi Utomo. Sutopo memperkenalkan Tan Malaka kepada Tjokroaminoto, Semaoen, dan Darsono yang pada saat itu sedang dilaksanakan Kongres SI di Yogyakarta.16
Dalam kongres itu, Tan Malaka juga berbicara dengan beberapa anggota SI yang mengikuti kongres dan banyak yang menawarkan pekerjaan kepadanya, seperti menjadi guru, mengelola penerbitan, dan lain sebagainya. Tan Malaka menjelaskan tujuan kedatangannya di Pulau Jawa, yaitu untuk menjadi seorang tenaga pengajar untuk sekolah pribumi. Sebelum ia datang ke Pulau Jawa, tahun 1919 Tan Malaka mengajar pelajaran tulis-menulis dan bahasa Melayu di Deli. Selama menjadi tenaga pengajar, Tan Malaka menyaksikan dan merasakan realitas sosial yang tragis dan memilukan. Hal ini menggugah simpati dan empati Tan Malaka serta menumbuhkan semangat perlawananya atas praktik kolonialisme, kapitalisme, dan eksploitasi yang dilakukan oleh pihak Belanda kepada masyarakat pribumi.17
Setelah mengetahui tujuan Tan Malaka, Semaoen mengajak Tan Malaka untuk ikut ke Semarang dan disana Tan Malaka akan menjadi guru pada kursus untuk anak-anak PKI. Kursus tersebut diselenggarakan pada bulan April 1921 di Semarang dan mendapat sambutan positif dari masyarakat pribumi. Pelajaran tersebut dimulai pada 25 Mei, antara lain tentang pelajaran-pelajaran komunis, jalannya dan aksi
16Poeze, op.cit., hlm. 171.
17
Syaifudin, Tan Malaka: Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis, (Yogyakarta: Ar-ruz Media, 2012), hlm. 59.
8
komunis, keahlian berbicara, jurnalistik, dan keahlian memimpin rakyat langsung oleh Tan Malaka. Setelah itu yang sudah mendapat didikan tersebut, akan membentuk suatu perkumpulan sendiri di tempat tinggalnya. Setelah kursus berjalan, Semaoen dipanggil untuk menghadap residen serta diberi peringatan bahwa pemerintah akan melarang didirikannya kursus-kursus itu dan akan mengambil tindakan terhadap para pesertanya. Tan Malaka menganggap larangan itu sebagai suatu usaha untuk menyumbat PKI. Akan tetapi, melihat akibat-akibatnya maka kursus itu dihentikan sebelum mendapatkan peringatan yang lebih besar.18
Tidak lama setelah kongres SI di Yogyakarta, Semaoen mengajukan usul di dewan gemeente19 untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak anggota SI. Karena dengan terhentinya kursus, bukan berarti menghentikan rencana semula SI Semarang untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan.20 Atas usul Semaoen, pada tanggal 21 Juni 1921 berdirilah Sekolah SI di Semarang dan Tan Malaka menjadi kepala sekolah sekaligus tenaga pengajar. Sekolah tersebut bertempat di gedung rapat SI di desa Gendong, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Semarang Timur.21
C. Arti Penting Pendidikan Bagi Tan Malaka
Tan Malaka lahir pada tahun 1897 di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya bernama H. M. Rasad, seorang pegawai pertanian, dan ibunya bernama Rangkayo Sinah, putri orang yang disegani di desanya. Oleh karena itu, Tan Malaka termasuk keturunan keluarga terpandang.22
18
Poeze, op.cit., hlm. 174.
19 Satuan wilayah yang dikepalai oleh walikota.
20 Togi Effendi, “Sarekat Islam dan Pendidikan (Sekolah Sarekat Islam
Semarang 1921-1924),” Skripsi, Universitas Indonesia, 1990, hlm. 44.
21Poeze, op.cit., hlm. 172.
22
9
Pendidikan Tan Malaka dimulai di Sekolah Rendah, kemudian melanjutkan di Sekolah Guru (Kweeckschool) Bukittinggi. Ketika Tan Malaka mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang guru, maka G. H. Horensma selaku guru Tan Malaka di Kweeckshool merekomendasikan untuk menlanjutkan sekolah guru di Belanda.
Di Teluk Bayur pada Oktober 1913, di usia 17 tahun Tan Malaka pergi meninggalkan alam Minangkabau untuk merantau ke negeri Belanda. Pondokan di Jacobijnestraat adalah tempat berseminya pemahaman politik Tan Malaka. Dia kerap terlibat diskusi dengan teman satu kosnys yaitu Herman Wouters pengungsi Belgia yang melarikan diri dari serbuan Jerman, dan Van der Mij. Dari diskusi itu, Tan Malaka tersadar bahwa dunia tengah bergolak. Sebuah kata baru mulai jadi subyek misterius bagi Tan Malaka, yaitu revolusi.23
Pada tahun 1919, Tan Malaka kembali ke Indonesia sebagai guru di perkebunan Sanembah, Deli. Kepulangannya dari Belanda juga sebagai faktor semakin banyaknya hutang yang ia dapatkan untuk biaya sekolahnya. Sebagai jalan keluar, ia menawarkan diri berangkat ke Sumatera Timur untuk menjadi tenaga pengajar di Maskapai Sanembah. Di tengah kehidupan perkebunan yang benar-benar kapitalistis dan rasistis, kedudukan Tan Malaka menjadi sulit. Ia dibayar atas dasar norma-norma Eropa, tapi rekan-rekan Belandanya melihat dirinya dengan sebelah mata. Kedudukannya semakin sulit, sehingga ia mengundurkan diri dan berangkat ke Jawa bulan Februari 1921.24
Kedatangan Tan Malaka ke Pulau Jawa berhasil untuk mewujudkan cita-citanya tersebut untuk memimpin sebuah sekolah. Atas pertemuannya dengan tokoh-tokoh SI ternama, Tan Malaka disetujui untuk menyelenggarakan pendidikan untuk masyarakat pribumi. Tanggal 21 Juni 1921, sekolah Sarekat Islam pertama kali diselenggarakan dan bertempat di Semarang. Karena SI cabang Semarang sangat
23
Ibid., hlm. 106.
24 Harry. A. Poeze, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid
10
terkenal dengan paham komunis, pemerintah menganggap sekolah yang didirikan oleh Tan Malaka merupakan sekolah komunis. Bahkan setelah pendirian Sekolah SI di Semarang, Tan Malaka mendirikan pula di beberapa tempat yang memang merupakan basis organisasi SI lokal, seperti: Kaliwungu, Nganjuk, Salatiga, dan Bandung.25 Bertepatan dengan berdirinya Sekolah SI, Tan Malaka membuat artikel yang berjudul SI Semarang dan Onderwijs pada surat kabar Soeara Ra’jat dan dimuat kembali di surat kabar Masa-Baroe. Di dalam artikel tersebut dijelaskan tujuan pendirian Sekolah SI adalah sebagai sekolah yang diperuntukkan untuk kaum kromo ataupun rakyat miskin yang tidak bisa menikmati pendidikan di sekolah yang selenggarakan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Tujuan yang disebutkan di dalam artikel tersebut adalah: Pertama, Memberi bekal yang cukup agar anak-anak didik dapat mencari penghidupannya dalam dunia kapitalis (dengan memberikan pelajaran berhitung, menulis, sejarah, ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu, Belanda, dan sebagainya. Kedua, Memberikan hak kepada murid-murid untuk bersukaria melalui kehidupan perkumpulan-perkumpulan. Ketiga, Menunjukkan kewajibannya terhadap berjuta-berjuta kaum kromo.26
Menurut Tan Malaka, pendidikan untuk rakyat Hindia-Belanda harus berakar kepada budaya aslinya yang terus digali dan disampaikan bukan dengan budaya yang dibawa oleh pemerintah kolonial. Landasan filosofis yang digunakan oleh Tan Malaka adalah prinsip kerakyatan yang diterapkan dalam praksis pendidikan sesuai dengan jati diri bangsa Hindia-Belanda. Pentingnya hal tersebut disebabkan program pendidikan sekolah didasarkan atas fakta dan realita, bukan atas keinginan menjadi kaum pemodal dengan proses pendidikan yang didasarkan kemodalan.27
25 Koloniaal Verslag, Bijlagen van het Verslag der Handelingen van de
Tweede Kamer der Staten-Generaal 1922-1923.
26Tan Malaka, “SI Semarang dan Onderwijs”, Masa Baroe, 11 Oktober 1921.
27
Afandi dan Mifta Rahman, “Ideologi Pendidikan Tan Malaka: Rekonstruksi Konsep MADILOG”, dalam Profesi Pendidik, (Vol. II, No. 2, 2015), hlm. 12.
11
Bagi Tan Malaka dalam artikelnya SI Semarang dan Onderwijs, pendidikan merupakan proses usaha memaksimalkan segala potensi manusia sebagai modal kehidupannya. Dengan adanya pendidikan, manusia dapat memperoleh kemerdekaannya melalui rekonstruksi pikiran yang rasional. Kaitan kemerdekaan dalam konteks kontemporer adalah bagaimana manusia mendapatkan keadilan dan haknya sebagai warga negara. Melalui pendidikan, manusia dapat meningkatkan kualitas dan harga dirinya.28 Sekolah SI menjadi sekolah yang menerapkan konsep pendidikan kerakyatan yang dicetuskan oleh Tan Malaka. Dengan konsep pendidikan kerakyatan yang tidak membedakan kelas dan golongan, maka semua pribumi mempunyai cita-cita sama yakni meraih kemerdekaan, dan mereka berhak untuk masuk sekolah rakyat yang didirikan oleh Tan Malaka.29
D. Tan Malaka dan Konsep Pendidikan Kerakyatan
Pendidikan kerakyatan bertujuan untuk mengubur kapitalisme yang telah lama tumbuh di tanah Hindia-Belanda. Konsep pendidikan kerakyatan yang diterapkan Tan Malaka ditulis pada surat kabar Sinar Hindia tanggal 17 Agustus 1922 dan terdapat tiga poin, yaitu Rasa Kemanusiaan, Maksudnya adalah mencintai kepada sesama manusia, baik itu kaya maupun miskin. Pendidikan yang terdapat di Hindia-Belanda sebagian besar dikuasai oleh kaum kapitalis atau penjajah. Untuk mewujudkan rasa kemanusiaan di Sekolah SI yaitu dengan tidak melihat stratifikasi sosial terhadap anak-anak pribumi yang ingin belajar di Sekolah SI. Kedua adalah Rasa Kemerdekaan, Dengan adanya rasa kemerdekaan, maka hilanglah rasa tertindas. Setiap orang tidak akan rela untuk seumur hidupnya menjadi budak oleh tuannya. Tan Malaka menyusupkan rasa kemerdekaan di Sekolah SI bertujuan agar makna dari
28Ibid., hlm. 202.
29
Badruddin, Kisah Tan Malaka dari Balik Penjara dan Pengasingan: Menelusuri Biografi dan Jejak Sang Revolusioner Sejati, (Yogyakarta: Araska, 2014), hlm. 84.
12
merdeka itu bisa dipahami sedini mungkin. Serta untuk memupuk semangat perjuangan untuk merebut Hindia-Belanda dari tangan penjajah. Dan ketiga Rasa Cinta Tanah Air diterapkan Tan Malaka di Sekolah SI dengan menerapkan mata pelajaran kesenian tradisional dari Hindia-Belanda. Tujuannya adalah untuk memberitahu kepada murid-murid Sekolah SI bahwa Hindia-Belanda mempunyai warisan budaya yang harus dilestarikan. Mata pelajaran yang dimaksud adalah kesenian membatik, wayang, dan tembang jawa.30
Menurut Tan Malaka, mempunyai keyakinan kuat bahwa kemerdekaan rakyat hanya bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan dalam menghadapi kekuasaan kaum modal yang berdiri atas didikan yang berdasarkan modal.31 Jadi, apa yang diusahakan oleh Tan Malaka terkait dengan perintisan sekolah kerakyatan adalah untuk memberdayakan orang-orang miskin. Orang-orang yang hidupnya selalu tertindas baik secara ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Pendidikan adalah solusi jangka panjang. Sebab, perlawanan terhadap penjajahan tidak bisa hanya diatasi melalui cara-cara yang reaktif dan jangka pendek. Penjajahan yang telah berurat dan berakar lama sudah seharusnya segera diatasi dengan pola-pola yang strategis dan jangka panjang. Pendidikan adalah salah satu langkah strategis untuk melawan penjajah.32
Cita-cita Tan Malaka untuk mendirikan sekolah kaum proletar akhirnya terwujud di Semarang. Untuk mensosialisasikan idenya soal pembangunan sekolah rakyat itu, Tan Malaka menulis artikel yang disebarkan ke masyarakat.33 Artikel tersebut diterbitkan melalui surat kabar Soeara Ra’jat pada akhir tahun 1921 dan Masa-Baroe pada bulan Oktober 1921. Pada bulan Desember 1921 artikel itu
30“Onderwijs Politiek Tjara Kera’jatan”,Sinar Hindia, 17 Agustus 1922. 31Badruddin, op.cit., hlm. 82.
32
Ibid., hlm. 83.
13
dikeluarkan sebagai brosur. Kemudian brosur tersebut dibukukan dan dijual dengan harga 80 sen.34
Di dalam brosur tersebut berisi tentang sistem pendidikan yang diterapkan Tan Malaka di SI School atau Sekolah SI Semarang. Kemudian kegiatan-kegiatan yang dilakukan murid-murid SI School Semarang dengan mendirikan perkumpulan-perkumpulan. Sekolah SI terdiri dari Sekolah Rendah dan Sekolah Tengah. Masing-masing mempunyai mata pelajaran yang berbeda-beda. Sekolah Rendah merupakan sekolah dengan mata pelajaran dasar seperti: berhitung, membaca, dan menulis. Sedangkan Sekolah Tengah merupakan sekolah lanjutan dari Sekolah Rendah. Di Sekolah Tengah, murid-murid SI School diberikan mata pelajaran Ilmu Pendidikan yang bertujuan agar murid-murid Sekolah Tengah bisa mengajar di Sekolah Rendah. Mata pelajaran tersebut diberikan, karena pada saat itu, SI School kekurangan tenaga pengajar sedangkan banyak anak-anak pribumi yang mendaftar di sekolah tersebut. Maka dari itu, Tan Malaka menerapkan mata pelajaran tersebut di Sekolah Tengah, akan tetapi murid-murid yang ikut mengajar di Sekolah Rendah hanya sebagai guru bantu saja.35
Tahun 1921-1924 merupakan masa-masa yang menegangkan dalam organisasi SI. Hal tersebut berdampak terhadap perkembangan Sekolah SI di Semarang. Akibat dari persoalan disiplin partai, pemerintah Hindia-Belanda memperketat pengawasannya terhadap SI Merah. Tahun 1922, Tan Malaka diasingkan perihal aksi pemogokan yang dilakukan di Yogyakarta. Akibat tindakannya tersebut, Tan Malaka ditangkap oleh pemerintah Hindia-Belanda dan diasingkan di Belanda. Setelah pengasingan Tan Malaka, perkembangan Sekolah SI malah semakin pesat. Sebelum Tan Malaka diasingkan ke Belanda, telah dibentuk organisasi untuk meminta dukungan bagi Sekolah SI yang disebut Fonds Oentoek
34
Poeze, (1988), op. cit., hlm. 180.
35 Tan Malaka, SI Semarang dan Onderwijs (1921), (Semarang: Yayasan
14
Sarekat Islam Onderwijs (FOSIO). FOSIO merupakan organisasi keuangan yang mencakup semua masalah keuangan Sekolah SI. Dengan dibentuknya organisasi tersebut, Sekolah SI telah diperluas dengan baik.36
Puncak dari masa menegangkan di dalam SI terjadi pada tahun 1924, dimana hasil dari disiplin partai adalah pecahnya SI yang mempertahankan Islam sebagai ideologi dan SI yang mempertahankan komunisme sebagai Ideologi. Pihak Tjokroaminoto yang dikenal dengan “SI Putih” mendirikan Partai Sarekat Islam (PSI) untuk menandingi PKI. Sarekat Islam cabang Semarang bereformasi menjadi Sarekat Rakyat yang langsung di bawah naungan PKI pada bulan 22 Juni 1924.
Begitupun dengan nasib Sekolah SI yang berada di bawah naungan SI cabang Semarang, berubahnya nama menjadi Sekolah Rakyat (SR) akibat dari perubahan nama Sarekat Islam menjadi Sarekat Rakyat. Tidak hanya berganti nama, sekolah yang selama berdiri selalu dalam pengawasan pemerintah kolonial ini pun banyak yang ditutup dan diserahkan kepada badan lain untuk mengurusnya, seperti SR yang berada di Bandung diserahkan kepada Ir. Soekarno, yang kemudian diserahkan kepada Taman Siswa. Kendati sekolah rakyat banyak yang ditutup, sekolah-sekolah tersebut muncul kembali dengan berdasarkan pada model sekolah-sekolah Tan Malaka. Dengan kata lain, cikal bakal lahirnya sekolah-sekolah rakyat di Hindia-Belanda tidak lepas dari kontribusi pemikiran pendidikan Tan Malaka.37
E. Kesimpulan
Awal abad ke-20, Sarekat Islam (SI) muncul sebagai organisasi rakyat yang menjanjikan. SI dibawah pimpinan Tjokroaminoto mampu menggugah dan menumbuhkan kembali asa kaum pribumi. Tujuan SI adalah bergaul dalam
36Poeze, (1988), hlm. 188.
37
Syaifudin, Tan Malaka: Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis, (Yogyakarta: Ar-ruz Media, 2012), hlm. 192.
15
persaudaraan dan saling membantu tanpa membedakan asal bangsa. SI mendirikan cabang-cabang di seluruh wilayah Hindia-Belanda. Cabang SI yang paling menonjol adalah SI cabang Semarang. Diketuai oleh Semaoen pada tahun 1917, SI semakin pesat perkembangannya dengan bekerjasam dengan organisasi buruh yang ada di Semarang. Di tahun 1920, Pertumbuhan SI cabang Semarang menjadi radikal dalam menentang politik kolonial Belanda. Karena tindakan radikal yang dilakukan oleh Semaoen, SI cabang Semarang diawasi oleh pemerintah Belanda.
Kedatangan Tan Malaka sudah membawa arah yang baru bagi perkembangan SI cabang Semarang, yaitu keinginannya untuk mendirikan sekolah bagi kaum pribumi yang tidak bisa mendapatkan pendidikan di sekolah pemerintah. Oleh Semaoen, keinginan Tan Malaka disetujui, tahun 1921 Sekolah SI pertama diselenggarakan di Semarang yang bertempat di gedung SI cabang Semarang. Pesatnya perkembangan Sekolah SI merupakan kerja keras Tan Malaka dalam membangun pendidikan yang layak bagi kaum pribumi khususnya kaum kromo. Tujuan dari sekolah tersebut adalah memberikan pendidikan kerakyatan sebagai bekal untuk memperjuangkan nasib kaum kelas bawah, bukan untuk menjadi kesombongan tersendiri.
Berdirinya Sekolah SI merupakan sebuah kesempatan besar bagi masyarakat pribumi yang tidak bisa mendapatkan pendidikan di sekolah pemerintah. Seperti tujuan utama dari pendirian Sekolah SI yang sudah ditulis oleh Tan Malaka dalam SI Semarang dan Onderwijs, bahwa pendidikan tidak hanya diperuntukan untuk masyarakat kelas atas hingga menengah, akan tetapi untuk semua lapisan masyarakat. Bagi siapa saja yang telah mendapatkan pendidikan baik di sekolah pemerintah ataupun Sekolah SI, janganlah sekali-kali untuk melupakan kaum kromo. Bahkan murid-murid Sekolah SI harus memperjuangkan nasib kaum kromo dengan modal pendidikannya. Mereka harus bisa membantu kaum kromo yang selalu ditindas oleh pemerintah kolonial. Itulah tujuan dari sekolah Tan Malaka yang berdasarkan kerakyatan, karena pendidikan haruslah menjadi bekal murid-murid Sekolah SI untuk masa depan.
16 DAFTAR PUSTAKA
Arsip:
Koloniaal Verslag, Bijlagen van het Verslag der Handelingen van de Tweede Kamer der Staten-Generaal 1922-1923.
Buku, Jurnal, dan Artikel:
A.Poeze, Harry, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1988.
, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid I: Agustus 1945-Maret 1946, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), Afandi dan Mifta Rahman, “Ideologi Pendidikan Tan Malaka: Rekonstruksi Konsep
MADILOG”, Profesi Pendidik, Vol. II, No. 2, 2015.
Badruddin, Kisah Tan Malaka dari Balik Penjara dan Pengasingan: Menelusuri Biografi dan Jejak Sang Revolusioner Sejati, Yogyakarta: Araska, 2014.
Budi Setyarso, Tjokroaminoto: Guru Para Pendiri Bangsa, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Kebangkitan Nasional Jawa Tengah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977/1978
Nasihin, Sarekat Islam mencari Ideologi 1924-1945, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Nasution, Sejarah Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), Soe Hok Gie, Dibawah Lentera Merah, Yogyakarta: Yayasan Betang Budaya,
1999.
Syaifudin, Tan Malaka: Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis, Yogyakarta: Ar-ruz Media, 2012.