BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Konsep Strategi Learning Cycle
a. Pengertian Strategi Learning Cycle
Istilah learning cycle, secara bahasa berasal dari dua kata yaitu learning dan cycle. Dalam kamus Bahasa Inggris, learning diartikan sebagai belajar dan Cycle diartikan sebagai putaran, peredaran atau siklus (Echols dan Shadily, (1996:162). Dengan demikian, learning cycle secara simantik dapat dimaknai sebagai siklus belajar.
Adapun secara istilah, learning cycle merupakan strategi pembelajaran yang di dalamnya mencerminkan adanya tahapan-tahapan kegiatan atau rangkaian berupa siklus, sehingga peserta didik memperoleh kesempatan untuk aktif dan dapat menemukan pengetahuan dengan sendirinya.Dalam hal ini, learning cycle merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered).
Pengembangan strategi ini pertama kali dilakukan oleh Robert Karplus dalam Science Curriculum Improvement Study (SCIS) pada tahun 1970-1974 (Sukarni, 2014:2) .Strategi ini dilandasi oleh pandangan kontruktivisme dari Piaget yang beranggapan bahwa dalam belajar pengetahuan itu dibangun sendiri oleh anak dalam struktur kognitif melalui interaksi dengan lingkungannya.Siklus belajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensi-kompetensi, yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif.
Menurut Wena (2011: 170-171), strategi Learning Cycle pada mulanya terdiri atas tiga tahap, yaitu: Eksplorasi (eksploration), Pengenalan konsep (concept introduction), dan Penerapan konsep (concept application). Kemudian pada proses selanjutnya strategi Learning Cycle ini dikembangkan dan dirinci lagi oleh Prof. Roger Bybee menjadi lima tahap , yang dikenal dengan sebutan “5E”yang terdiri atas tahap: (1) Pembangkitan minat (engagement), (2)
Eksplorasi (exploration), (3) Penjelasan (explanation), (4) Elaborasi (elaboration/extention), dan (5) Evaluasi (evaluation).Setiap tahap dalam Strategi Learning Cycle ini memiliki fungsi khusus yang dimaksudkan untuk menyumbang proses belajar dikaitkan dengan asumsi tentang aktivitas mental dan fisik siswa serta strategi yang digunakan guru.
b. Macam-macamStrategi Learning Cycle
Sebagaimana keterangan di atas, bahwa Learning cycle merupakan strategi pengajaran yang secara formal diterapkan pertama kali di program sains sekolah dasar yaitu Science Curriculum Improvement Study (SCIS). Namun beberapa study menunjukkan bahwa penerapan teknik pengajaran ini telah menyebar luas di berbagai tingkat kelas, termasuk di universitas. Learning cycle dikembangkan lebih dari 32 tahun yang lalu, pada awalnya oleh Robert Karplus dan Their(Lawson, 1994: 136) dalam Science Curriculum Improvement Study (SCIS).
Untuk memperjelas tentang learning cycle yang dikaji dalam penelitian ini, sehingga dapat memberi acuan bagi pengembangan learning cycle pada tataran praktis di lapangan, maka secara rinci akan dielaborasikan macam-macamnya sebagaimana berikut.
1. StrategiPembelajaran Learning Cycle 3E
Karplus dan Their dalam Science Curriculum Improvement Study (SCIS) mengemukakan bahwa terdapat tiga tahapan dalam siklus belajar yaitu exploration, invention dan discovery. Ketiga tahapan tersebut terus mengalami perkembangan hingga Lawson (1994: 136) mengemukakan bahwa ada tahapan dalam siklus belajar yaitu eksplorasi (exploration), menjelaskan (explanation), dan memperluas (elaboration/extention), yang dikenal dengan learning cycle 3E. Ketiga tahapan dalam learning cycle tersebut adalah sebagai berikut :
a. Eksplorasi (exploration). Pada tahap eksplorasi pembelajar diberi kesempatan untukmemanfaatkan panca inderanya semaksimal mungkin dalamberinteraksi dengan lingkungan. Dari kegiatan ini diharapkan muncul ketidakseimbangan dalam struktur mentalnya yang ditandai dengan munculnya pertanyaan-pertanyaanyang mengarah berkembangnya
daya nalar tingkat tinggiyang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana (Dasna, 2005: 64). Munculnya pertanyaan tersebut sekaligus menjadiindikator kesiapan siswa menuju fase berikutnya.
b. Menjelaskan (explanation). Pada fase ini diharapkan terjadi proses menuju keseimbangan antarakonsep-konsep yang telah dimiliki pembelajar dengan konsep-konsepbaru yang dipelajari melalui kegiatan yang membutuhkandaya nalar seperti menelaah sumber pustaka dan berdiskusi. Padatahap ini pembelajar mengenal istilah-istilah yang berkaitan dengan konsep-konsep baru yang sedang dipelajari.
c. Memperluas (elaboration/extention). Pembelajar diajak menerapkan pemahaman konsepnya melaluikegiatan seperti problem solving. Penerapan konsep dapat meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi belajar.
2. StrategiPembelajaran Learning Cycle 5E
Learning cycle tiga fase kini sudah dikembangkan menjadi limafase (learning cycle 5E). Menurut Lorsbach dalam The Learning Cycle as a Tool for Planning Science Instruction, Learning Cycle terdiri dari limafase yaitu: (1) fase to engage (fase mengundang), (2) fase to explore (fasemenggali), (3) fase to explain (fase menjelaskan), (4) fase to extend (fasepenerapan konsep), dan (5) fase to evaluate (fase evaluasi). Kelima fasetersebut dapat dijabarkan sebagai berikut (Dasna, 2006: 79).
a. Engagement. Kegiatan pada fase ini bertujuan untuk mendapatkan perhatian siswa,mendorong kemampuan berpikirnya, dan membantu merekamengakses pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Hal pentingyang perlu dicapai oleh pengajar pada fase ini adalah timbulnya rasaingin tahu siswa tentang tema atau topik yang akan dipelajari. Keadaan tersebut dapat dicapai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaankepada siswa tentang fakta atau fenomena yangberhubungan dengan materi yang akan dipelajari. Jawaban siswadigunakan untuk mengetahui hal-hal apa saja yang telah diketahuioleh mereka. Pada fase ini
pula siswa diajak membuat prediksi-prediksitentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikandalam fase eksplorasi.
b. Exploration.Fase eksplorasi siswa diberi kesempatan untuk bekerja baik secaramandiri maupun secara berkelompok tanpa instruksi atau pengarahansecara langsung dari guru.Siswa bekerja memanipulasi suatu obyek,melakukan percobaan (secara ilmiah), melakukan pengamatan,mengumpulkan data, sampai pada membuat kesimpulan daripercobaan yang dilakukan. Dalam kegiatan ini guru sebaiknyaberperan sebagai fasilitator membantu siswa agar bekerja padalingkup permasalahan (hipotesis yang dibuat sebelumnya). Kegiataneksplorasi memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengujidugaan dan hipotesis yang telah mereka tetapkan. Mereka dapatmencoba beberapa alternatif pemecahan, mendiskusikannya denganteman sekelompoknya, mencatat hasil pengamatan, mengemukakan ide dan mengambil keputusan memecahkannya (Dasna, 2006: 81).Kegiatan pada fase ini sampai pada tahappresentasi atau komunikasi hasil yang diperoleh dari percobaan ataumenelaah bacaan. Dari komunikasi tersebut diharapkan diketahuiseberapa tingkat pemahaman siswa terhadap masalah yang dipecahkan.
c. Explaination.Kegiatan belajar pada fase penjelasan ini bertujuan untukmelengkapi, menyempurnakan, dan mengembangkan konsep yang diperoleh siswa. Guru mendorong siswa untuk menjelaskan konsep yang dipahaminya dengan kata-katanya sendiri, menunjukkancontoh-contoh yang berhubungan dengan konsep untuk melengkapipenjelasannya. Pada kegiatan ini sangat penting adanya diskusi antaranggota kelompok untuk mengkritisi penjelasan konsep dari siswa yang satu dengan yang lainnya. Pada kegiatan yang berhubungan dengan percobaan, guru dapat memperdalam hubungan antarvariabel atau kesimpulan yang diperoleh siswa. Hal ini diperlukanagar siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep yang barudiperolehnya.
d. Extend.Kegiatan belajar pada fase ini mengarahkan siswa menerapkankonsep-konsep yang telah dipahami dan keterampilan yang dimilikipada situasi baru. Guru dapat mengarahkan siswa untuk memperolehpenjelasan alternatif dengan menggunakan data atau fakta yangmereka eksplorasi dalam situasi yang baru. Guru dapat memulaidengan mengajukan masalah baru yang memerlukan pengujian lewatekplorasi dengan melakukan percobaan, pengamatan, pengumpulandata, analisis data sampai membuat kesimpulan.
e. Evaluation.Kegiatan belajar pada fase evaluasi, guru mengamati perubahan padasiswa sebagai akibat dari proses belajar pada fase ini guru dapatmengajukan pertanyaan terbuka yang dapat dijawab denganmenggunakan lembar observasi, fakta atau data dari penjelasan darisebelumnya yang dapat diterima. Kegiatan pada fase evaluasiberhubungan dengan penilaian kelas yang dilakukan guru meliputipenilaian proses dan evaluasi penguasaan konsep yang diperolehsiswa.
3. Strategi Learning Cycle 7E
Model pembelajaran learning cycle ini terus mengalami perkembangan hingga Eisenkraft mengembangkan learning cycle menjadi 7 tahapan(Ahmad, 2000:17). Perubahan yang terjadi pada tahapan learning cycle 5E menjadilearning cycle 7E terjadi pada fase Engage menjadi 2 tahapan yaitu Elicitdan Engage, sedangkan pada tahapan Elaborate dan Evaluate menjadi 3tahapan yaitu menjadi Elaborate, Evaluate dan Extend.Menurut Eisenkraft dalam Rizaldi (2012: 26) tahapan-tahapan model pembelajaranLearning Cycle 7E dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Elicit. Guru berusaha menimbulkan atau mendatangkan pengetahuan awalsiswa. Pada fase ini guru dapat mengetahui sampai dimanapengetahuan awal siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajaridengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang merangsangpengetahuan awal siswa agar timbul respon dari pemikiran siswaserta menimbulkan kepenasaran tentang jawaban dari
pertanyaan-pertanyaanyang diajukan oleh guru. Fase ini dimulai denganpertanyaan mendasar yang berhubungan dengan pelajaran yang akan dipelajari dengan mengambil contoh yang mudah yang diketahuisiswa seperti kejadian dalam kehidupan sehari-hari.
b. Engagment. Fase ini digunakan untuk memfokuskan perhatian siswa, merangsang kemampuan berfikir siswa serta membangkitkan minat dan motivasisiswa terhadap konsep yang akan diajarkan. Fase ini dapat dilakukandengan demonstrasi, diskusi, membaca, atau aktivitas lainyang digunakan untuk membuka pengetahuan siswa dan mengembangkan rasa keigintahuan siswa.
c. Exploration.Fase ini siswa memperoleh pengetahuan dengan pengalaman langsung yang berhubungan dengan konsep yang akan dipelajari. Siswa diberi kesempatan untuk bekerja dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru. Pada fase ini siswa diberi kesempatan untuk mengamati data, merekam data, mengisolasivariabel, merancang dan merencanakan eksperimen, membuatgrafik, menafsirkan hasil, mengembangkan hipotesis serta mengatur temuan mereka. Guru merangkai pertanyaan, memberi masukan, dan menilai pemahaman. d. Explaination.Fase ini siswa diperkenalkan pada konsep, hukum dan teori
baru, siswa menyimpulkan dan mengemukakan hasil dari temuannya padafase explore. Guru mengenalkan siswa pada beberapa kosa kata ilmiah, dan memberikan pertanyaan untuk merangsang siswa agar menggunakan istilah ilmiah untuk menjelaskan hasil eksplorasi.
e. Elaboration.Fase yang bertujuan untuk membawa siswa menerapkan symbol-simbol, definisi-defiisi, konsep-konsep, dan keterampilan-keterampilan pada permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan contoh dari pelajaran yang dipelajari.
f. Evaluation.Fase evaluasi model pembelajaran Learning Cycle 7E terdiri dari evaluasi Formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif tidak boleh dibatasi pada siklus-siklus tertentu saja, sebaiknya guru selalu menilai semua kegiatan siswa.
g. Extend.Pada tahap ini bertujuan untuk berfikir, mencari menemukan danmenjelaskan contoh penerapan konsep yang telah dipelajari bahkan kegiatan ini dapat merangsang siswa untuk mencari hubungankonsep yang mereka pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari.
Strategi Learning Cycle patut dikedepankan, karena sesuai dengan teori belajar Piaget (Renner et al, 1988), teori belajar yang berbasis konstruktivisme. Piaget menyatakan bahwa belajar merupakan pengembangan aspek kognitif yang meliputi: struktur, isi, dan fungsi. Struktur intelektual adalah organisasi-organisasi mental tingkat tinggi yang dimiliki individu untuk memecahkan masalah-masalah. Isi adalah perilaku khas individu dalam merespon masalah yang dihadapi. Sedangkan fungsi merupakan proses perkembangan intelektual yang mencakup adaptasi dan organisasi. Adaptasi terdiri atas asimilasi dan akomodasi. Pada proses asimilasi individu menggunakan struktur kognitif yang sudah ada untuk memberikan respon terhadap rangsangan yang diterimanya. Dalam asimilasi individu berinteraksi dengan data yang ada di lingkungan untuk diproses dalam struktur mentalnya. Dalam proses ini struktur mental individu dapat berubah, sehingga terjadi akomodasi. Pada kondisi ini individu melakukan modifikasi dari struktur yang ada, sehingga terjadi pengembangan struktur mental.
Pemerolehan konsep baru akan berdampak pada konsep yang telah dimiliki individu. Individu harus dapat menghubungkan konsep yang baru dipelajari dengan konsep-konsep lain dalam suatu hubungan antar konsep. Konsep yang baru harus diorganisasikan dengan konsep-konsep lain yang telah dimiliki. Organisasi yang baik dari intelektual seseorang akan tercermin dari respon yang diberikan dalam menghadapi masalah.
Karplus dan Their(2001:21) mengembangkan strategi pembelajaransesuai dengan ide Piaget di atas. Dalam hal ini pebelajar diberi kesempatan untuk mengasimilasi informasi dengan cara mengeksplorasi lingkungan, mengakomodasi informasi dengan cara mengembangkan konsep, mengorganisasikan informasi dan menghubungkan konsep-konsep baru dengan
menggunakan atau memperluas konsep yang dimiliki untuk menjelaskan suatu fenomena yang berbeda.
c. Manfaat Strategi Learning Cycle
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa.Strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajaran.
Secara praktis, strategi pembelajaranbegitu banyak sebetulnya memberi manfaat terhadap keberlangsungan dan kelancaran setiap kegiatan pembelajaran. Manfaat itu tercermin setidaknya pada bagaimana kegiatan pembelajaran didisainsedemikian rupa sehingga kemudian dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Para siswa didorong untuk mampu menjadi pemeran utama dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu pula, dalam proses pembelajaran diciptakan interaksi dan komunikasi yang multi arah antara siswa dan guru serta siswa dengan siswa.
Terkait dengan manfaat strategi pembelajaran tersebut, terutamapada strategi Learning Cyclemisalnya, bila dilihat berdasarkan manfaatnya sebagaimana pendapat Supriyono (2008:23)antara lain:
1. Strategi Learning Cyclememberikan suatu format untuk perencanaan pembelajaran yang dimulai dengan pengalaman langsung yang diakhiri dengan penguasaan konsep ilmiah dan diakhiri dengan pengayaan konsep. 2. Strategi Learning Cyclemenggunakan tipe empirik-induktif dalam
pengajaran yang menggambarkan sebuah strategi yang dapat memberi siswa kesinambungan terhadap konsep-konsep yang sudah dimiliki.
3. Strategi Learning Cyclememberikan pengalaman konkrit pada siswa yang diperlukan untuk mengembangkan penguasaan konsep.
4. Strategi Learning Cyclememberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan teman-temannya.
5. Strategi Learning Cyclememberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan konsep atau gagasan yang telah mereka miliki dan menguji serta mendiskusikan gagasan tersebut secara terbuka.
6. Strategi Learning Cyclememudahkan siswa memahami konsep yang diajarkan. Mereka memperoleh pengalaman nyata yang diperlukan untuk mengembangkan konsep tersebut lebih lanjut.
Pada uraian di atas terlihat bahwa strategi learning cycle memberi manfaat baik secara teoritis maupun praktis dalam proses pembelajaran. Dengan penerapan strategi tersebut dimungkinkan dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa. Penerapan strategi Learning Cycle, tercermin dengan adanya siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar, yang dapat diwujudkan dalam bentuk aktivitas yang beragam seperti mendengar, melihat, mencium, meraba, merasakan dan mengolah ide serta kegiatan lainnya. Semua aktivitas tersebut dapat dikembangkan melalui penggunaan lembar kerja siswa (LKS). Penggunaan LKS sebagai alat bantu pengajaran diharapkan dapat mengaktifkan siswa.
Selanjutnya, strategi Learning Cycle juga memberi manfaat tidak hanya terbatas pada segi aktifitas belajar siswa, tetapi juga pengalaman belajar siswa dan kinerja guru yang secara rinci meliputi:
a. Bagi Siswa, dengan penerapan Learning Cycle dimungkinkan: -Siswa terbiasa belajar dengan perencanaan yang disesuaikan dengan
kemampuan diri sendiri
Siswa memiliki pengalaman yang berbeda beda dengan temannya, meski ada juga pengalaman belajar yang sama.
- Siswa dapat memacu prestasi belajar berdasarkan kecepatan belajarnya sendiri secara optimal.
- Terjadi persaingan yang sehat dalam mencapai hasil belajar yang efektif dan efisien.
- Siswa dapat mencapai kepuasan jika dapat mencapai hasil belajar sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
- Siswa dapat mengulang uji kompetensi ( remidi ) jika terjadi kegagalan dalam Uji kompetensi.
- Siswa dapat berkolaborasi dalam proses pembelajaran, sehingga menumbuhkan tanggung jawab bersama dan tanggung jawab diri sendiri.
b. Bagi Guru, dimungikinkan dapat;
- Guru dapat mengelola proses pembelajaran untuk mencapai hasil yang efektif dan efisien.
- Guru dapat mengontrol kemampuan siswa secara teratur.
- Guru dapat mengetahui bobot soal yang dipelajari siswa pada saat proses belajar mengajar dimulai.
- Guru dapat memberikan bimbingan kepada siswa, ketika siswa mengalami kesulitan, misalnya dengan memberikan teknik pengorganisasian materi yang dipelajari sisiwa, atau teknik belajar yang lain.
- Guru dapat membuat peta kemampuan siswa, sehingga dapat dipakai sebagai bahan analisis.
- Guru dapat melaksanakan program belajar akseleratif bagi siswa yang mampu.(Rusman, 2002:29)
d. Kelebihan dan Kelemahan Strategi Learning Cycle
Sebagai pendukung keberhasilan proses pembelajaran, strategi learning cycle dalam aplikasinya sudah barang tentu tidak terlepas dari sisi kelebihan dan kelemahan. Beberapa kelebihan dan kelemahan tersebut, paling tidak dapat dipaparkan sebagaimana berikut ini.
d.1. Kelebihan Strategi Learning Cycle (Lorbach, 2008: 24) antara lain: 1. Pembelajaran berpusat pada siswa.
2. Merangsang siswa untuk mengingat materi pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya.
3. Memberikan motivasi kepada siswa untuk menjadi lebih aktif dan menambah rasa keingintahuan siswa.
4. Melatih siswa untuk menyampaikan secara lisan konsep yang telah mereka pelajari.
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir, mencari, menemukan, dan menjelaskan contoh penerapan konsep yang telah mereka pelajari.
6. Guru dan siswa menjalankan tahapan-tahapan pembelajaran yang saling mengisi satu sama lain.
7. Pembelajaran menjadi lebih bermakna serta membentuk siswa yang aktif, kritis, dan kreatif.
9. Dilihat dari dimensi guru penerapan strategi ini memperluas wawasan dan meningkatkan kreatifitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran.
d.2. Kelemahan Strategi Learning Cycle
Dibalik kelebihan-kelebihan di atas, Strategi Learning Cyclejuga memiliki beberapa kelemahan (Fajaroh dalam Herdiansya, 2010: 25) sebagai berikut:
1. Efektifitas pembelajaran rendah jika guru tidak menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
2. Menuntut kesungguhan dan kreatifitas guru dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran.
3. Memerlukan waktu dan tenaga yang lebih banyak untuk menyusun rencana dan pelaksanaan pembelajaran.
4. Memerlukan pengelolaan kelas yang lebih terencana dan terorganisasi.
Memperhatikan kelebihan dan kelemahan tersebut di atas, secara deskriptif kiranya dapat dipahami bahwa strategilearning cyclememberi dampak positif terhadap keberhasilan proses pembelajaran jika diterapkan dengan tepat dan benar. Meskipun demikian, untuk mendukung keberhasilan itu membutuhkan kesiapan para guru yang prima, selain pula waktu, tenaga dan aspek-aspek pendukung lainnya yang memadai.
Berdasarkan proses pembelajaran IPS, diketahui bahwa guru sudah melaksanakan tahapan-tahapan sesuai prosedur dalam penerapan strategi learning cycle, sehingga diperoleh banyak kelebihan dibandingkan kelemahannya. Hal tersebut sesuai dengan respon siswa yang menilai bahwa penerapan strategi learning cycledinilai menyenangkan karena dapat mendorong siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
e. Tahapan Strategi Learning Cycle 5E
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang bagaimana implementasi strategi Learning Cycledalam proses pembelajaran, di bawah ini akan diterangkan tahapan learning sycle yang terdiri dari lima fase (5E) yang saling berhubungan satu sama lainnya, yaitu:
1. Fase Engagement (pembangkitan minat). Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan (curiousty) siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Dengan demikian, siswa akan memberikan respon/jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan. Kemudian guru perlu melakukan identifikasi ada/tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Dalam hal ini guru harus membangun keterkaitan/perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.
2. Fase Exploration (Eksplorasi). Eksplorasi merupakan tahap kedua dalam model siklus belajar. Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahanya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah, sebagian benar.
3. Fase Explanation (penjelasan). Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.
4. Fase Elaboration (elaborasi). Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian , siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan atau mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa. 5. Fase Evaluation (evaluasi). Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus
belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang proses penerapan model siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.(Wena, 2011: 171-172)
f. Langkah-langkah Penerapan Strategi Learning Cycledi Kelas
Berdasarkan uraian langkah-langkah learning sycle tersebut di atas, dalam implementasi proses pembelajaran terutama di kelas. Tahapan-tahapan tersebut tergambar sebagaimana berikut ini.
No Tahapan Strategi Learning Cycle
Kegiatan guru Kegiatan siswa
1 Tahap pembangkitan minat. (Engagement) Membangkitkan minat dan keingintahuan (curiosity) siswa. Mengembangakan minat dan rasa ingin tahu terhadap topik bahasan.
Mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan).
Memberikan respon terhadap pertanyaan guru.
Mengkaitkan topik yang dibahas dengan
pengalaman siswa. Mendorong siswa untuk mengingat pengalaman sehari-harinya dan menunjukkan
keterkaitannya dengan topik pembelajaran yang sedang dibahas.
Berusaha mengingat pengalaman sehari-hari dan menghubungkan dengan topik pembelajaran yang akan dibahas. 2 Tahap eksplorasi (Exploration) Membentuk kelompok, memberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil secara mandiri.
Membentuk kelompok dan berusaha bekerja dalam kelompok.
Guru berperan sebagai fasilitator
Membuat prediksi baru
Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri. Mencoba alternatif pemecahan dengan teman sekelompok, mencatat pengamatan, serta mengembangkan ide-ide baru.
klarifikasi penjelasan siswa, mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa.
dan memberi klarifikasi terhadap ide-ide baru.
Memberi definisi dan penjelasan dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi. Mencermati dan berusaha memahami penjelasan guru. 3 Tahap penjelasan (Explanation)
Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri.
Mencoba memberi penjelasan terhadap
konsep yang
ditemukan
Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa. Menggunakan pengamatan dan catatan dalam memberi penjelasan.
Mendengar secara kritis penjelasan antar siswa.
Melakukan
pembuktian terhadap konsep yang diajukan
Memandu diskusi Mendiskusikan
4 Tahap elaborasi (Elaboration) Mengingatkan siswa pada penjelasan alternatif dan mempertimbangkan data atau bukti saat mereka mengeksplorasi situasi baru.
Menerapkan konsep dan ketrampilan dalam situasi baru dan menggunakan label dan definisi formal.
memfasilitasi siswa mengaplikasi konsep atau ketrampilan dalam setting yang baru.
mengusulkan pemecahan, membuat keputusan, melakukan percobaan dan pengamatan. 5 Tahap evaluasi (Evaluation) Mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam hal penerapan konsep baru.
Mengevaluasi belajarnya sendiri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya.
Mendorong siswa melakukan evaluasi diri
Mengambil kesimpulan lanjut atas situasi belajar yang dilakukannya. Mendorong siswa memahami kekurangan atau kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran. Melihat dan menganalisis kekurangan atau kelebihannya dalam kegiatan pembelajaran. Sumber: Wena (2011: 173-175)
Beberapa tahapan tersebut di atas, secara praktis akan mudah diaplikasikan melalui rancangan pembelajaran yang disusun dan diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran. Dengan tahapan-tahapan tersebut, jika dilaksanakan secara
konsisten maka dimungkinkan akan dapat mendorong siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, demikian sebaliknya.
2. Konsep Prestasi Belajar siswa a. Pengertian Prestasi Belajar
Istilah prestasi belajar pada dasarnya terdiri dari dua kata yang berbeda, yaitu prestasi dan belajar. Dua kata tersebut mempunyai arti dan tujuan masing-masing. Itu sebabnya, sebelum mengartikan prestasi belajar sebagai suatu istilah maka ada baiknya bila terlebih dahulu di sini dipaparkan tentang pengertian dari kedua kata dasar tersebut.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:787), prestasi dimaknai sebagai hasil yang telah dicapai, dilakukan, dikerjakan dan sebagainya”. Sedangkan menurut Masidjo (1995 : 40) prestasi dipandang sebagai hasil proses belajar yang khas yang dilakukan secara sengaja sebagai hasil suatu pengukuran. Pernyataan tersebut kiranya menunjukkan bahwa prestasi marupakan suatu capaian yang diperoleh seorang siswa setelah melalui proses belajar. Yaitu, proses setelah siswa mendalami dan mempelajari suatu bahan pelajaran.
Prestasi senantiasa berorientasi pada hasil yang dicapai seseorang karena perbuatan, kemampuan, tindakan dan kepandaiannya, sebagaimana ditegaskan pula oleh Tu’u (2004:75) bahwa prestasi merupakan hasil yang dicapai seseorang ketika mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Dalam dunia pemdidikan dan pembelajaran, tidak ada namanya prestasi sebelum seseorang berproses sehingga kemudian dituntut menyelesaikan tugas-tugas berdasarkan ukuran-ukuran tertentu.
Adapun pengertian belajar sebagaimana penuturan Muhibin (2004 : 92) bahwa “Secara umum, belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif”. Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dimaksud tentunya mencakup semua ranah pendidikan, terutama aspek-aspek yang menjadi tujuan dan target dalam pembelajaran. Hal senada sebagaimana pendapat Sardiman A.M (2010 : 20-21) bahwa yang
dimaksudkan sebagai bentuk belajar ialah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya pribadi seutuhnya.
Berdasarkan uraian pengertian prestasi dan belajar di atas, kiranya dapat dimengerti bahwa prestasi belajar adalah suatu hasil karya seseorang setelah mengalami proses belajar mengajar, baik prestasi itu dilihat dari nilai yang diperoleh dari hasil tes yang diujikan kepadanya atau berupa kecakapan-kecakapan khusus yang diperoleh siswa sebagai manifestasi dari perbuatan belajarnya yang direalisasikan dalam bentuk data kuantitatif maupun kualitatif. Prestasi belajar merupakan gambaran keberhasilan siswa dalam upaya mengoptimalisasikan kemampuan yang dimiliki melalui suatu kegiatan pembelajaran yang diikutinya.
Sementara dalam catatan para ahli, prestasi belajar diberi batasan sebagaimana paparan berikut ini.
1. Winkel (1987: 34) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah keberhasilan usaha yang dicapai seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu.
2. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2003:275), prestasi belajar merupakan penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
3. Menurut Djalal (1986: 4) “prestasi belajar siswa adalah gambaran kemampuan siswa yang diperoleh dari hasil penilaian proses belajar siswa dalam mencapai tujuan pengajaran”.
4. Hamalik (1994: 45) berpendapat bahwa prestasi belajar adalah perubahan sikap dan tingkah laku setelah menerima pelajaran atau setelah mempelajari sesuatu.
5. Saifudin Azwar (1996 :44) memandang prestasi belajar sebagai suatu hal yang dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai raport, indeks prestasi studi, angka kelulusan dan predikat keberhasilan.
Berdasarkan pernyataan para ahli di atas, terkait dengan prestasi belajar siswa kiranya dapat ditarik benang merahnya sebagai berikut :
1. Prestasi belajar siswa adalah hasil belajar yang dicapai siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran disekolah. 2. Prestasi belajar tersebut terutama dinilai oleh aspek kognitifnya karena
bersangkutan dengan kemampuan siswa dalam pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesa dan evaluasi.
3. Prestasi belajar siswa dibuktikan dan ditunjukan melalui nilai atau angka nilai dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh guru terhadap tugas siswa dan ulangan-ulangan atau ujian yang ditempuhnya.
Sesuai paparan di atas, maka prestasi belajar berfokus pada nilai atau angka yang dicapai dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut dinilai dari segi kognitif karena guru sering memakainya untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai pencapaian hasil belajar siswa.Meskipun demikian, dalam hasil belajar secara keseluruhan selain aspek kognitif juga mencakup aspek afektif dan psikomotor.
Dalam konteks pendidikan, kehadiran prestasi belajar dalam proses pembelajaran merupakan suatu kenicayaan. Sebab dengan demikian, prestasi belajar dapat memberikan kepuasan tertentu berdasarkan tingkat dan jenisnya. Seseorang dengan segenap kemampuannya akan selalu berusaha menggapai hasil yang terbaik menurut bidang dan kemampuannya masing-masing. Prestasi belajar siswa adalah hasil maksimal atau hasil terbaik yang didapat oleh siswa dari hasil peoses belajar mengajar. Baik atau buruknya tingkatan prestasi siswa tersebut sangat bergantung pada berbagai hal yang mempengaruhinya dari mulai peserta didik itu sendiri, kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran atau bisa juga dari metode pengajaran yang salah yang mengakibatkan kesulitan para siswa untuk menangkap isi pelajaran itu, sehingga ketika dilakukan tes atau ujian para siswa tidak bisa mengerjakannya sebagai akibat dari kurangnya pemahaman terhadap materi pelajaran tersebut.
b. Fungsi Prestasi Belajar
Prestasi belajar,secara umum sudah barang tentu memiliki peran yang begitu besar bagi upaya pengukuran pendidikan dan proses pembelajaran. Zaenal Arifin (2001: 3) dalam tulisannya menuturkan bahwa prestasi belajar dilihat berdasarkan fungsinya adalah sebagaimana berikut.
1. Prestasi belajar berfungsi sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasi oleh anak didik.
2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai tendensi keingintahuan dan merupakan kebutuhan umum pada manusia termasuk kebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan. 3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan,
asumsinya adalah bahwa prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah bahwa kurikulum yang digunakan releven dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik.
5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik. Dalam proses belajar dan pembelajaran anak didik merupakan masalah yang utama dan pertama karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang diprogramkan dalam kurikulum.
Sesuai pernyataan di atas, kiranya dapat dipahami bahwa dengan adanya prestasi belajar dimungkinkan dapat diketahui seberapa jauh suatu materi telah dikuasai oleh siswa.Demikian pula, prestasi belajar dapat menjadi factor pendorong atau motivasi bagi siswa untuk melakukan belajar dengan lebih baik.Prestasi belajar yang diperoleh melalui proses pengukuran dan penilaian yang baikdan benar dimungkinkan dapat menjadi informasi akurat baik bagi pihak guru, sekolah, orang tua maupun siswa itu sendiri.
Sejalan dengan pengertian tersebut, Sudjana (2001:3) memaparkan fungsi prestasi belajar antara lain:
(a) Untuk mengetahui tingkat kemajuan belajar siswa
(b) Untuk mengatahui tercapai atau tidaknya tujuan instruksional (c) Sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar, dan (d) Menjadi dasar bagi laporan siswa
Sekolah sebagai salah satu tempat belajar memberikan bermacam-macam pelajaran yang harus ditempuh oleh para siswa untuk mewujudkan suatu tujuan yang ingin dicapai.Pencapaian tujuan itu diukur dengan mengadakan suatu penilaian untuk mengukur hasil belajar tersebut yang dapat digunakan dengan tes maupun non tes. Menurut Nurkencana (2002:34); “Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kemajuan yang dicapai oleh murid-murid dalam proses belajar mengajar yang mereka lakukan, yaitu metode tes dan non tes”. Dengan melalui pengukuran hasil belajar inilah prestasi belajar siswa dapat diketahui.
Dengan pengukuran hasil belajar siswa itu akan diperoleh tingkat prestasi yang dicapai oleh siswa. Seperti juga dalam bidang studi lain setelah dilaksanakan pengukuran hasil belajar maka hasil tes dapat diketahui.Dengan demikian, prestasi belajar siswa dapat dilihat dalam bentuk nilai raport maupun hasil tes lain, sehingga kemudian dapat diinformasikan pada pihak-pihak yang berkepentingan.
c. Macam-macam Prestasi Belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa. Yang dapat dilakukan guru dalam hal ini adalah mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap penting yang dapat mencerminkan perubahan yang terjadi sebagai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun karsa. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi belajar) dikaitkan dengan jenis-jenis prestasi yang hendak diukur. (Syah, 2002:150).
Dalam sebuah situs yang membahas Taksonomi Bloom (2002), dikemukakan mengenai teori Bloom yang menyatakan bahwa, tujuan belajar siswa diarahkan untuk mencapai ketiga ranah. Ketiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam proses kegiatan belajar mengajar, maka melalui ketiga ranah ini pula akan terlihat tingkat keberhasilan siswa dalam menerima hasil pembelajaran atau ketercapaian siswa dalam penerimaan pembelajaran. Dengan kata lain, prestasi belajar akan terukur
melalui ketercapaian siswa dalam penguasaan ketiga ranah tersebut. Maka untuk lebih spesifiknya, penulisakan menguraikan ketiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai yang terdapat dalam teori Bloom (http://id.wikipedia.org/wiki) berikut:
1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan. Domain ini terdiri dari dua bagian: Bagian pertama adalah berupa Pengetahuan (kategori 1) dan bagian kedua berupa Kemampuan dan Keterampilan Intelektual (kategori 2-6).
a. Pengetahuan (Knowledge). Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar dan sebagainya. Pengetahuan juga diartikan sebagai kemampuan mengingat akan hal-hal yang pernah dipelajaridan disimpan dalam ingatan.
b. Pemahaman (Comprehension). Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menangkap makna dan arti yang dari bahan yang dipelajari.45 Pemahaman juga dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya.
c. Aplikasi (Application). Aplikasi atau penerapan diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus atau problem yang konkret dan baru. Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dan sebagainya di dalam kondisi kerja.
d. Analisis (Analysis). Analisis didefinisikan sebagai kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu
mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit.
e. Sintesis (Synthesis). Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Sintesis satu tingkat di atas analisa. Seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan.
f. Evaluasi (Evaluation). Evaluasi diartikan sebagai kemampuan untik membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan criteria tertentu.Evaluasi dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yang ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya.(Winkel, 1987:247)
2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.Tujuan pendidikan ranah afektif adalah hasil belajar atau kemampuan yang berhubungan dengan sikap atau afektif. Taksonomi tujuan pendidikan ranah afektif terdiri dari aspek:
a. Penerimaan (Receiving/Attending). Penerimaan mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleg guru.
b. Tanggapan (Responding). Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
c. Penghargaan (Valuing). Penghargaan atau penilaian mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu mulai dibentuk suatu sikap
menerima, menolak atau mengabaikan, sikap itu dinyatakan dalam tingkah laku yang sesuai dengan konsisten dengan sikap batin.
d. Pengorganisasian (Organization). Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.Pengorganisasian juga mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai- nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana yang tidak begitu penting.
e. Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex). Memiliki sistem nilai yang mengendalikan
tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik
gaya-hidupnya.Karakterisasinya mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikin rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. (Winkel, 1987:248)
3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.Sabri (1996:99-100)dalam buku Psikologi Pendidikan menjelaskan, bahwa: Keterampilan ini disebut motorik karena keterampilan ini melibatkan secara langsung otot, urat dan persendian, sehingga keterampilan benar-benar berakar pada kejasmanian. Orang yang memiliki keterampilan motorik mampu melakukan serangkaian gerakan tubuh dalam urutan tertentu dengan mengadakan koordinasi gerakan-gerakan anggota tubuh secara terpadu. Ciri khas dari keterampilan motorik ini ialah adanya kemampuan automatisme, yaitu gerak-gerik yang terjadi berlangsung secara teratur dan berjalan dengan enak, lancar dan luwes tanpa harus disertai pikiran tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa hal itu dilakukan. Keterampilan motorik lainnya yang kaitannya dengan pendidikan agama ialah keterampilan membaca dan menulis huruf Arab, keterampilan membaca dan melagukan ayat-ayat
Al-Qur.an, keterampilan melaksanakan gerakan-gerakan shalat. Semua jenis keterampilan tersebut diperoleh melalui proses belajar dengan prosedur latihan.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar dilihat berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya, sebagaimana penuturan Slameto (2003:55-57), antara lain:
1. Faktor dari dalam diri siswa (intern) a. Faktor Jasmani.
Dalam faktor jasmaniah ini dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh. Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya. Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan. Cacat ini berupa buta, setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain. b. Faktor psikologis.
Dilihat berdasarkan aspek psikologis, factor-fakor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa dapat berupa intelegensi, perhatian, bakat, minat, motivasi, kematangan, dan kesiapan. Secara rinci faktor-faktor tersebut dapat diuraikan berikut ini.
i) Intelegensi. Intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dan cepat efektif mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
ii) Perhatian. Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan obyek. Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan
pelajaran tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar. Agar siswa belajar dengan baik, usahakan buku pelajaran itu sesuai dengan hobi dan bakatnya.
iii) Bakat. Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih. Menurut Syah (2002 : 136) bahwa bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki oleh seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.
iv) Minat. Menurut Jersild dan Taisch dalam Nurkencana (2002 : 214) bahwa minat adalah menyangkut aktivitas-aktivitas yang dipilih secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan teknologi. Wawasan akan bertambah luas sehingga akan sangat mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan mempelajari dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya.
v) Motivasi. Motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak atau pendorongnya.
vi) Kematangan. Kematangan adalah sesuatu tingkah atau fase dalam pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan kecakapan baru. Berdasarkan pendapat di atas, maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan sudah matang apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya dengan sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu sudah siap atau matang untuk mengikuti proses belajar mengajar.
vii) Kesiapan. Kesiapan artinya kesediaan untuk memberikan respon atau reaksi. Jadi, dari pendapat di atas dapat diasumsikan bahwa kesiapan siswa dalam proses belajar mengajar, sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi belajar siswa dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai kesiapan dalam menerima suatu mata pelajaran dengan baik.
c. Faktor kelelahan.
Ada beberapa faktor kelelahan yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa antara lain dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Sebagaimana dikemukakan oleh Slameto (2003:59) sebagai berikut: “Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena ada substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian tertentu.Sedangkan kelelahan rohani dapat terus menerus karena memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu karena terpaksa, tidak sesuai dengan minat dan perhatian”.
2. Faktor yang berasal dari luar (faktor ekstern)
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.
a. Faktor keluarga, meliputi Cara orang tua mendidik, keadaan ekonomi dan kebudayaan keluarga dan suasana rumah.Cara orang tua mendidik besar sekali pengaruhnya terhadap prestasi belajar anak, hal ini dipertegas oleh Wirowidjojo dalam Slameto(2003 : 60) mengemukakan bahwa keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga yang sehat besar artinya untuk mendidik dalam ukuran kecil, tetapi bersifat menentukan mutu pendidikan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa dan negara. Selain itu juga relasi anak dengan saudaranya atau dengan keluarga yang lain turut mempengaruhi belajar anak. Wujud dari relasi
adalah apakah ada kasih sayang atau kebencian, sikap terlalu keras atau sikap acuh tak acuh, dan sebagainya.
b. Faktor sekolah. Faktor sekolah dapat berupa cara guru mengajar, ala-alat pelajaran, kurikulum, waktu sekolah, interaksi guru dan murid, disiplin sekolah, dan media pendidikan.
c. Faktor Lingkungan Masyarakat. Faktor yang mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa antara lain teman bergaul, kegiatan lain di luar sekolah dan cara hidup di lingkungan masyarakat.
3. Hubungan Strategi Learning Cycle dengan Prestasi Belajar
Strategi Learning Cycle 5E merupakan suatu strategi pembelajaran yang baik, di mana dalam kegiatan dan penyajiannya, siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa itu sendiri. Yaitu dengan berpedoman pada 5E, antara lain melalui tahapan;Engagement (pembangkitan minat), Exploration (eksplorasi), Explanation (penjelasan), Elaboration (elaborasi), dan Evaluation (evaluasi).
Sementara prestasi belajar, dimaknai sebagai suatu hasil karya seseorang setelah mengalami proses belajar mengajar, baik prestasi itu dilihat dari nilai yang diperoleh dari hasil tes yang diujikan kepadanya atau berupa kecakapan-kecakapan khusus yang diperoleh siswa sebagai manifestasi dari perbuatan belajarnya yang direalisasikan dalam bentuk data kuantitatif maupun kualitatif. Prestasi belajar merupakan gambaran keberhasilan siswa dalam upaya mengoptimalisasikan
kemampuan yang dimiliki melalui suatu kegiatan pembelajaran yang
diikutinya.Secara ringkas pengertian prestasi belajar siswa adalah bukti keberhasilan usaha dari belajar yang dicapai individu yang belajar.
Learning cycle 5Esebagai suatu strategi sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dengan prestasi belajar siswa. Bagaimana strategi learning cycle yang dikembangkan secara langsung atau tidak pada dasarnya memberi dampak terhadap prestasi belajar siswa. Menurut Djamarah dan Aswin (2002:119) bahwa:
Strategi mengajar dengan prestasi belajar sangatlah mempunyai hubungan yang sangat erat, bagaikan setali mata uang di mana antra sisi yang satunya dengan sisi yang lainnya, tidak bisa di pisahkan begitu saja, namun keduanya
saling bergandengan dan saling melengkapi tiada yang satu akan mengakibatkan fenomena pada sisi yang lain.Sehingga keduanya antara strategi dan prestasi belajar adalah merupakan suatu sistem yang tidak bisa dipisahkan. Dengan kata lain jika strategi pembelajaran yang digunakan oleh si-pendidik itu, asal-asalan tentunya akan mengakibatkan pada hasil pendidikan yang asal-asalan juga, namun sebaliknya jika pendidik menggunakan strategi yang baik dalam mendidik tentunya akan menghasilkan buah yang baik.
Melalui strategi Learning Cycle 5E ini, siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pemahaman konsep mereka sendiri, bekerja sama dengan siswa lain untuk memahami konsep, menjelaskan dengan kata-kata mereka sendiri, serta mengaplikasikan konsep yang telah mereka peroleh untuk memecahkan masalah, sehingga pembelajaran lebih bermakna, dimana dalam pembelajaran IPS yang menerapkan strategi Learning cycle 5E ini, siswa memiliki keyakinan terhadap kemampuan pada dirinya sendiri dengan menerima apa adanya baik positif maupun negatif yang dibentuk dan dipelajari dalam proses belajar yaitu memahami, menjelaskan konsep yang diperoleh dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari kemampuan siswa tersebut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Menurut Gropper dalam Ely (1999:17)bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan mengajar yang efektif dan efisien. Strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Semakin baik strategi learning cycle diterapkan dalam proses pembelajaran, maka dampaknya positif terhadap perkembangan prestasi belajar siswa, demikian sebaliknya.
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Guna mendukung penelitian yang dilakukan, dalam penelitian ini akan dikaji tentang bahasan penelitian yang relevan, terutama hasil-hasil penelitian berdasarkan hasil penelusuran.Pertama, hasil penelitian Zain (2005) tentang
pengaruh penerapan strategi pembelajaran Learning Cycle Melalui “5E” dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas X SMU Negeri 11 Ambon, yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif siswa pada pretest dan posttest di kelas eksperimen.Pengujian hipotesis kedua menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif siswa pada pretest dan posttest di kelas kontrol.Hasil penelitian ketiga menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan berpikir kreatif siswa antara kelas eksperimen dengan perlakuan strategi learning cycle dengan kelas kontrol.Rekomendasi penelitian ini lebih menitikberatkan kepada pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam mata pelajaran ekonomi, sehingga guru perlu menggunakan strategi pembelajaran yang bervariasi untuk lebih meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kenyataan akanrendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran ekonomi yang ditunjukkan dalam aktivitas belajar siswa di kelas selama ini yang lebih menekankan pada mentransfer pengetahuan sehingga pelajaran ekonomi masih banyak berada pada tataran teori dan belum mengarah kepada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu kemampuan berpikir kreatif. Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain non-equivalen pretest posttest group design.Sumber data utama adalah tes uraian melalui tes pengukuran awal (pretest) dan tes pengukuran akhir (posttest).Sedangkan data penunjang diperoleh melalui observasi serta wawancara. Subjek penelitian yang diambil adalah kelas X12 sebagai kelas control dan X13 sebagai kelas eksperimen. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji non parametrik.
Berdasarkan penelitian diatas, maka dapat diketahui perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang penulis lakukan, yakni pada penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan judul Pengaruh Penerapan Strategi Learning Cycle Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa apa yang dilakukan di SMP Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon, dikatahui bahwa guru mata pelajaran IPS telah menggunakan berbagai strategi dalam mengajar. Salahsatu strategi pembelajaran dimaksud diantaranya ialah learning cycle. Dengan strategi pembelajaran yang diterapkan tersebut diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih termotivasi dalam belajar, sehingga kemudian berdampak positif terhadap prestasi belajar.
Namun demikian, seiring dengan penerapan strategi pembelajaran yang telah dilakukan, dalam realitas disinyalir bahwa minat belajar siswa terutama pada mata pelajaran IPS masih belum tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebagian siswa cenderung masih belum dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara optimal. Bahkan dilihat berdasarkan prestasi belajar siswa yang dicapai, sebagian besar siswa cenderung masih menunjukan prestasi belajar di bawah rata-rata ketuntasan minimum sebesar 70,00. Padahal dengan penerapan strategi pembelajaran learning cycle semestinya dimungkinkan dapat meingkatkan minat belajar siswa sehingga kemudian memberi dampak positif terhadap prestasi belajar siswa.
Kedua, hasil penelitian Jaenudin (2007) tentang penerapan strategi pembelajaran Learning Cycle (Siklus Belajar) untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar mata pelajaran IPS-Ekonomi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 18 Malang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam proses belajar mengajar yang diharapkan, upaya atau usaha yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan cara memperhatikan siswa, menguasai materi pelajaran dan memilih metode pembelajaran yang tepat, dengan adanya penggunaan metode yang tepat proses belajar mengajar dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran, selain itu baik murid maupun guru harus memiliki sikap kemampuan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase keterlaksanaan pembelajaran model Learning Cycle yang dilakukan oleh guru pada siklus I sebesar 83,33% dan pada siklus II sebesar 100%. Dengan demikian terjadi peningkatan
keterlaksanaan pembelajaran dari siklus I ke siklus II sebesar 16,67%. Untuk vari-abel aktivitas belajar siswa diketahui terjadi peningkatan aktivitas dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I keaktifan siswa bertanya sebesar 46,67% dan meningkat pada siklus II sebesar 70%. Pada siklus I diperoleh nilai rata-rata sebesar 73 dan pada siklus II terjadi peningkatan sebesar 7,19% sehingga nilai rata-rata hasil belajar paad siklus II sebesar 78,25. Selain itu, berdasarkan angket yang telah dijawab siswa dapat diketahui bahwa respon siswa terhadap penerapan model Learning Cycle adalah positif, ini ditunjukkan dari skor perhitungan angket respon siswa yang diperoleh sebesar 82,5%. Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi kelas VIII A SMP Negeri 18 Malang. Siswa kelas VIII A memberikan respon yang positif terhadap penerapan model Learning Cycle pada mata pelajaran ekonomi.
Berdasarkan penelitian diatas, maka dapat diketahui perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang penulis lakukan, yakni pada penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan judul Pengaruh Penerapan Strategi Learning Cycle Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon. Penelitian ini dilatarbelakangi olehstudi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon, dikatahui bahwa guru mata pelajaran IPS telah menggunakan berbagai strategi dalam mengajar.Salahsatu strategi pembelajaran dimaksud diantaranya ialah learning cycle.Dengan strategi pembelajaran yang diterapkan tersebut diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih termotivasi dalam belajar, sehingga kemudian berdampak positif terhadap prestasi belajar.
Namun demikian, seiring dengan penerapan strategi pembelajaan yang telah dilakukan, dalam realitas disinyalir bahwa minat belajar siswa terutama pada mata pelajaran IPS masih belum tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebagian siswa cenderung masih belum dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara optimal. Bahkan dilihat berdasarkan prestasi
belajar siswa yang dicapai, sebagian besar siswa cenderung masih menunjukan prestasi belajar di bawah rata-rata ketuntasan minimum sebesar 70,00. Padahal dengan penerapan strategi pembelajaran learning cycle semestinya dimungkinkan dapat meingkatkan minat belajar siswa sehingga kemudian memberi dampak positif terhadap prestasi belajar siswa.
Ketiga, hasil penelitian Sucipto (2002) tentang penerapan Learning Cycle sebagai upaya meningkatkan keterampilan generik sains inferensia logika mahasiswa melalui Perkuliahan Praktikum Kimia Dasar.Hasil penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa pengembangan model pembelajaran praktikum kimia dasar dengan strategi learning cycle mampu meningkatkan penguasaan konsep-konsep kimia dasar dan keterampilan generic sains inferensia logika bagi calon guru kimia. Hal ini berarti pembelajaran praktikum kimia dasar dengan strategi learning cycle telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran Praktikum Kimia Dasar dan keterampilan generik sains inferensi logika bagi mahasiswa calon guru kimia.
Berdasarkan penelitian diatas, maka dapat diketahui perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian yang penulis lakukan, yakni pada penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan judul Pengaruh Penerapan Strategi Learning Cycle Terhadap Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon. Penelitian ini dilatarbelakangi olehstudi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Losari Kabupaten Cirebon, dikatahui bahwa guru mata pelajaran IPS telah menggunakan berbagai strategi dalam mengajar.Salahsatu strategi pembelajaran dimaksud diantaranya ialah learning cycle.Dengan strategi pembelajaran yang diterapkan tersebut diharapkan dapat mendorong siswa untuk lebih termotivasi dalam belajar, sehingga kemudian berdampak positif terhadap prestasi belajar.
Namun demikian, seiring dengan penerapan strategi pembelajaan yang telah dilakukan, dalam realitas disinyalir bahwa minat belajar siswa terutama pada mata pelajaran IPS masih belum tumbuh dan berkembang
dengan baik. Sebagian siswa cenderung masih belum dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara optimal. Bahkan dilihat berdasarkan prestasi belajar siswa yang dicapai, sebagian besar siswa cenderung masih menunjukan prestasi belajar di bawah rata-rata ketuntasan minimum sebesar 70,00. Padahal dengan penerapan strategi pembelajaran learning cycle semestinya dimungkinkan dapat meingkatkan minat belajar siswa sehingga kemudian memberi dampak positif terhadap prestasi belajar siswa.
C. Kerangka Pikir
Dalam dunia pendidikan, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.Sebagaimana penuturan Sanjaya (2008:126) bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi.Menurut Wena (2011: 172) Strategi Learning Cycle (Siklus Belajar) merupakan strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered). Strategi ini dilandasi oleh pandangan kontruktivisme dari Piaget yang berangapan bahwa dalam belajar pengetahuan itu dibangun sendiri oleh anak dalam struktur kognitif melalui interaksi dengan lingkungannya.Siklus belajar merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat menguasai kompetensi-kompetensi, yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif.
Pada mulanya strategi ini terdiri atas tiga tahap, yaitu: (1) Eksplorasi, (2) Pengenalan konsep, (3) Penerapan konsep. Pada proses selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut mengalami pengembangan. Tiga siklus tersebut saat ini dikembangkan menjadi lima tahap yang dikenal sebagai strategi Learning
Cycle 5Eyang terdiri atas tahap: (1) Pembangkitan minat (engagement), (2) Eksplorasi (exploration), (3) Penjelasan (explanation), (4) Elaborasi (elaboration/extention), dan (5) Evaluasi (evaluation).
Berdasarkan tahapan dalam Strategi Learning Cycle, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru, tetapi dapat berperan aktif untuk menggali, menganalisis, mengevaluasi pemahamannya terhadap konsep yang dipelajari. Perbedaan mendasar antara Strategi Learning Cycle dengan pembelajaran konvensional adalah guru lebih banyak bertanya daripada memberi tahu.
Melalui strategi Learning Cycle 5E ini, siswa diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pemahaman konsep mereka sendiri, bekerja sama dengan siswa lain untuk memahami konsep, menjelaskan dengan kata-kata mereka sendiri, serta mengaplikasikan konsep yang telah mereka peroleh untuk memecahkan masalah, sehingga pembelajaran lebih bermakna, dimana dalam pembelajaran IPS yang menerapkan strategi Learning cycle 5E ini, siswa memiliki keyakinan terhadap kemampuan pada dirinya sendiri dengan menerima apa adanya baik positif maupun negatif yang dibentuk dan dipelajari dalam proses belajar yaitu memahami, menjelaskan konsep yang diperoleh dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dari kemampuan siswa tersebut akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Sementara prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Sebagaimana penuturan Tu’u (2004:75) bahwa prestasi belajar berfokus pada nilai atau angka yang dicapai dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut dinilai dari segi kognitif karena guru sering memakainya untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai pencapaian hasil belajar siswa.
Sedangkan menurut Nurkencana (2002 : 62) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil