30
Pada sub-bab ini akan dijelaskan secara rinci mengenai setting dimana penelitian ini dilakukan serta penjabaran karakteristik mengenai subjek penelitian yang diangkat penulis.
3.1.1 Setting Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis mengambil setting penelitian di SD Negeri Tlogo yang terletak di Desa Tlogo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. SD Negeri Tlogo merupakan SD pinggiran yang memiliki 15 guru pengajar dengan 1 kepala sekolah dan 1 penjaga sekolah. SD Negeri Tlogo dilengkapi dengan fasilitas 3 kamar kecil, 9 ruang belajar, 1 ruang guru, 1 perpustakaan, 1 ruang UKS, dan memiliki 1 lapangan dengan luas 288 m2. Ditinjau dari fasilitas dan letak SD Negeri Tlogo yang strategis di daerah Tlogo maka SD Negeri Tlogo termasuk dalam SD favorit, hal tersebut terbukti dengan adanya kelas pararel dan banyaknya guru pengajar.
Dahulu SD Negeri Tlogo merupakan SD pinggiran yang berada di desa kecil yang mempunyai sedikit murid dan hanya memunyai 6 kelas dengan 8 guru. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, SD Negeri Tlogo mulai merintis karirnya sehingga sampai seperti sekarang ini yang memiliki sekitar 250 siswa. SD Negeri Tlogo juga pernah menjuarai cabang olah raga di bidang voli tingkat nasional di Palembang. Selain itu, SD Negeri Tlogo juga pernah juara 1 lomba mapel akademik tingkat kecamatan dan kabupaten. Dan masih banyak lagi juara-juara yang diraih SD Negeri Tlogo dalam bidang akademik dan non-akademik seperti lomba pramuka dan Lomba Cerdas Cermat (LCC). Sekarang SD Negeri Tlogo mulai merintis untuk mempersiapkan siswa-siswi teladan untuk dapat bersaing dalam bidang akademik maupun non-akademik seperti dahulu.
3.1.2 Karakteristik Subjek Penelitian
Subjek penelitian penulis adalah siswa kelas 5 yang mana terdapat 35 siswa dengan rincian, 21 putra dan 14 putri. Siswa kelas 5 SD Negeri Tlogo mempunyai kemampuan rata-rata, terbukti hanya 18 siswa dari 35 siswa yang lulus ulangan
IPA pada semester 2. Ditinjau dari tingkat pendidikan orang tua murid umumnya adalah tamatan SD, SMP, dan SMA. Ditinjau dari faktor psikologis karakteristik anak kelas 5 SD Negeri Tlogo sangat bervariasi, yaitu ada yang malas belajar, ada yang rajin belajar, ada yang sangat cepat menangkap pelajaran, ada yang kurang cepat menangkap pelajaran, serta ada juga yang suka berbicara dengan teman. Hal inilah yang memicu adanya perbedaan nilai ulangan IPA.
Pada saat proses belajar mengajar dimulai, siswa kelas 5 cenderung ramai dan ditunjang dengan anak laki-laki yang duduk bergerombol di belakang, hal tersebut membuat kelas menjadi tidak kondusif dan membuat konsentrasi teman yang lain menjadi terganggu. Siswa kelas 5 SD Negeri Tlogo memiliki kemampuan yang relatif berbeda, beberapa dari mereka memiliki kemampuan di atas rata akan tetapi sebagian besar dari mereka memiliki kemampuan rata-rata bahkan banyak yang dibawah rata-rata-rata-rata. Hal ini terbukti dari rentang nilai tertinggi yaitu 88 dan nilai terendah 45 serta rata-rata kelas yang hanya 65,2.
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.2.1 Variabel Penelitian
Menurut Kidder (Darmadi, 2011: 20), variabel penelitian adalah “suatu kualitas (qualities) dimana penelitian ingin mempelajari dan menarik kesimpulan dari penelitian yang dilakukan”. Pernyataan diatas juga didukung oleh pendapat Slameto (2015: 195), variabel penelitian adalah “faktor yang apabila diukur memberikan nilai yang bervariasi”. Variabel merupakan faktor penting yang akan menentukan hipotesa, data penelitian, desain penelitian pengembangan instrumen dan pemantapan uji statistik. Jadi dapat dikatakan bahwa variabel penelitian adalah suatu objek yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan diukur serta diambil kesimpulannya. Dalam penelitian ini mengandung 2 variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat atau tergantung.
a) Menurut Slameto (2015:198), “variabel bebas atau independent variable adalah variabel yang diduga sebagai penyebab timbulnya variabel lain.” Jadi dapat dikatakan bahwa variabel bebas (X) atau Independence Variable adalah sebuah variabel yang memberikan pengaruh bagi variabel yang lain. Variabel bebas biasanya diterapkan untuk diamati dan diukur agar dapat mengetahui
pengaruhnya terhadap variabel lain. Pada penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah metode inkuiri.
X: Metode Inkuiri
b) Menurut Slameto (2015:198), “variabel tergantung atau Dependent Variable adalah variabel yang timbul sebagai akibat langsung dari manipulasi dan pengaruh variabel bebas.” Variabel terikat diamati dan diukur untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari variabel bebas. Jadi dapat dikatakan variabel tergantung atau sering disebut variabel terikat (Y) atau Dependent Variable adalah sebuah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Pada penelitian ini, yang menjadi variabel terikat adalah hasil belajar IPA siswa kelas 5 SD Negeri Tlogo.
Y: Hasil Belajar IPA
3.2.2 Definisi Operasional
a) Metode Inkuiri
Metode inkuiri adalah sebuah metode pembelajaran yang mempunyai ciri bahwa siswa dituntut untuk aktif menemukan jawaban dari suatu masalah melalui eksperimen dan observasi dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran seperti menyajikan pertanyaan atau masalah, membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan percobaan untuk memperoleh informasi, mengumpulkan dan menganalisis data serta membuat kesimpulan.
b) Hasil belajar IPA
Hasil belajar IPA adalah perolehan skor atau nilai yang didapatkan setelah siswa mengikuti tes.
3.3 Rencana Tindakan
Dalam rencana tindakan penulis menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dengan melakukan tindakan-tindakan untuk memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi di mana praktek pembelajaran tersebut dilakukan. PTK dilaksanakan dengan proses pengkajian berdaur
(cyclical) yang terdiri dari 3 tahap. Berikut adalah gambar spiral siklus PTK yang dikemukakan oleh Hopkins:
Plan Reflective Action/Observation Revise Plan Reflective Action/Observation Revise Plan Reflective Action/Observation
Gambar 2: Spiral Penelitian Tindakan Kelas Hopkins
Bagan di atas tergambar dengan jelas bahwa PTK memiliki 3 tahap berdaur yaitu: (1) perencanaan, melakukan perencanaan untuk melakukan sebuah tindakan; (2) tindakan dan observasi, dari sebuah perencanaan yang telah dibuat akan dilakukan tindakan serta tindakan tersebut akan diamati atau diobservasi apakah tinakan tersebut telah sesuai dengan perencanaan; (3) refleksi, refleksi dilakukan dari observasi yang telah dilakukan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat pada saat melakukan tindakan serta menemukan cara kembali untuk selanjutnya akan diadakan tindakan lagi. Siklus berdaur pada PTK dilakukan minimal dengan 2 kali siklus pembelajaran. Siklus ini akan terus berulang hingga suatu permasalahan dianggap telah teratasi.
3.3.1 Tahap Penelitian
3.3.1.1 Perencanaan Tindakan
Penulis merencanakan perencanaan tindakan untuk penelitian yaitu persiapan dan langkah-langkah kegiatan yang tertuang pada siklus 1 dan siklus 2. Pada tahap perencanaan penulis melakukan kegiatan:
a) Menyusun rencana pembelajaran (RPP) dengan menekankan langkah-langkah metode pembelajaran inkuiri.
b) Menyusun lembar observasi aktifitas guru dan respon siswa terhadap metode pembelajaran inkuiri, sebagai panduan penulis dalam mengamati pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung.
c) Menyusun lembar kerja siswa (kelompok diskusi).
d) Merancang alat evaluasi yang berupa soal pilihan ganda, kunci jawaban, dan pedoman penilaian.
3.3.1.2 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan, penulis membuat 2 siklus pembelajaran dengan 3 kali pertemuan setiap siklus. Pada setiap pertemuan pembelajaran diadakan penilaian observasi (pengamatan) untuk mengevaluasi tahapan pembelajaran berbasis inkuiri. Untuk pembuatan skenario pembelajaran penulis menerapkan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada pertemuan terakhir setiap siklus akan diadakan tes formatif. Berikut adalah uraian kegiatan pembelajaran:
Siklus 1
a. Pertemuan 1
Pada pertemuan pertama materi yang diajarkan yaitu mendeskripsikan sifat-sifat cahaya dengan indikator: mampu menjelaskan pengertian tentang cahaya, mampu menerapkan bahwa cahaya dapat merambat lurus, mampu mengemukakan sifat cahaya yang mengenai benda (bening, berwarna dan gelap) dan mampu menerapkan bahwa cahaya dapat dipantulkan.
a. Kegiatan awal
1. Menyiapkan kondisi kelas dan peralatan mengajar. 2. Memberi motivasi.
3. Melakukan apersepsi.
5. Meminta siswa untuk memperhatikan penjelasan serta arahan yang diberikan oleh guru.
b. Kegiatan inti
Fase Aktivitas
1. Menyajikan pertanyaan atau masalah.
1.1 Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
1.2 Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah.
1.3 Guru menuliskan masalah dipapan tulis.
2. Membuat hipotesis. 2.1 Siswa merumuskan jawaban sementara dari pertanyaan yang diajukan guru.
3. Merancang percobaan. 3.1 Guru membagi siswa dalam kelompok.
3.2 Guru memberi arahan untuk melakukan percobaan. 3.3 Guru membagi kertas panduan dalam percobaan. 4. Melakukan percobaan
untuk memperoleh informasi.
4.1 Guru membimbing siswa untuk melakukan percobaan secara kelompok.
4.2 Guru mengarahkan siswa untuk berdiskusi tentang hasil percobaan yang telah dilakukan.
5. Mengumpulkan dan menganalisis data.
5.1 Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan data dari hasil percobaan.
5.2 Guru membimbing siswa untuk menganalisis data yang telah didapatkan.
5.3 Guru secara acak meminta salah satu kelompok untuk presentasi tentang apa yang telah didapatkan dan meminta kelompok lain untuk menanggapi.
6. Membuat kesimpulan. 6.1 Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. c. Kegiatan penutup
1. Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. 2. Guru dan siswa sama-sama melakukan evaluasi. 3. Guru menganalisa hasil evaluasi.
4. Pesan dan motivasi untuk siswa. b. Pertemuan 2
Pada pertemuan kedua materi yang diajarkan adalah mendiskripsikan sifat-sifat cahaya dengan indikator: mampu mengidentifikasi pemantulan cahaya pada bidang licin dan kasar, mampu mendeskripsikan sifat-sifat cermin datar, cekung, dan cembung, dan mampu menjelaskan tentang pembiasan cahaya pada kehidupan sehari-hari.
a. Kegiatan awal
2. Memberi motivasi. 3. Melakukan apersepsi.
4. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran.
5. Meminta siswa untuk memperhatikan penjelasan serta arahan yang diberikan oleh guru.
b. Kegiatan inti
Fase Aktivitas
1. Menyajikan pertanyaan atau masalah.
1.1 Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
1.2 Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah.
1.3 Guru menuliskan masalah dipapan tulis.
2. Membuat hipotesis. 2.1 Siswa merumuskan jawaban sementara dari pertanyaan yang diajukan guru.
3. Merancang percobaan. 3.1 Guru membagi siswa dalam kelompok.
3.2 Guru memberi arahan untuk melakukan percobaan. 3.3 Guru membagi kertas panduan dalam percobaan. 4. Melakukan percobaan
untuk memperoleh informasi.
4.1 Guru membimbing siswa untuk melakukan percobaan secara kelompok.
4.2 Guru mengarahkan siswa untuk berdiskusi tentang hasil percobaan yang telah dilakukan.
5. Mengumpulkan dan menganalisis data.
5.1 Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan data dari hasil percobaan.
5.2 Guru membimbing siswa untuk menganalisis data yang telah didapatkan.
5.3 Guru secara acak meminta salah satu kelompok untuk presentasi tentang apa yang telah didapatkan dan meminta kelompok lain untuk menanggapi.
6. Membuat kesimpulan. 6.1 Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. c. Kegiatan penutup
1. Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. 2. Guru dan siswa sama-sama melakukan evaluasi. 3. Guru menganalisa hasil evaluasi.
4. Pesan dan motivasi untuk siswa. c. Pertemuan 3
Pada pertemuan ketiga guru mengawali pelajaran dengan melakukan apersepsi kemudian guru akan mengevaluasi semua materi yang diajarkan pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua. Cara evaluasi ini adalah dengan mengulang kembali pelajaran yang telah dipelajari dan memberi kesempatan
kepada siswa untuk menanyakan materi yang kurang paham. Setelah selesai mengevaluasi, guru memberi aturan kepada siswa untuk mengerjakan tes secara mandiri.
Pada kegiatan inti akan diadakan tes siklus 1 dengan jumlah soal pilihan ganda 20 dan waktu 45 menit. Untuk kegiatan penutup guru dan peserta didik akan bersama-sama merefleksi kegiatan dari pertemuan 1, 2, dan 3 agar dapat menjadi acuan yang lebih baik pada siklus ke-2.
Siklus 2
a. Pertemuan 1
Pada pertemuan pertama siklus kedua materi yang diajarkan adalah mendeskripsikan sifat-sifat cahaya dengan indikator yaitu mampu menyebutkan tentang dispersi cahaya pada kehidupan sehari-hari, mampu menerapkan cara menjaga mata, dan mampu menjelaskan cacat mata seperti rabun jauh, rabun dekat, cacat mata, dan mata tua.
a. Kegiatan awal
1. Menyiapkan kondisi kelas dan peralatan mengajar. 2. Memberi motivasi.
3. Melakukan apersepsi.
4. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran
5. Meminta siswa untuk memperhatikan penjelasan serta arahan yang diberikan oleh guru.
b. Kegiatan inti
Fase Aktivitas
1. Menyajikan pertanyaan atau masalah.
1.1 Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
1.2 Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah.
1.3 Guru menuliskan masalah dipapan tulis.
2. Membuat hipotesis. 2.1 Siswa merumuskan jawaban sementara dari pertanyaan yang diajukan guru.
3. Merancang percobaan. 3.1 Guru membagi siswa dalam kelompok.
3.2 Guru memberi arahan untuk melakukan percobaan. 3.3 Guru membagi kertas panduan dalam percobaan. 4. Melakukan percobaan
untuk memperoleh
4.1 Guru membimbing siswa untuk melakukan percobaan secara kelompok
informasi. hasil percobaan yang telah dilakukan 5. Mengumpulkan dan
menganalisa data.
5.1 Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan data dari hasil percobaan
5.2 Guru membimbing siswa untuk menganalisis data yang telah didapatkan
5.3 Guru secara acak meminta salah satu kelompok untuk presentasi tentang apa yang telah didapatkan dan meminta kelompok lain untuk menanggapi
6. Membuat kesimpulan. 6.1 Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. c. Kegiatan penutup
1. Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. 2. Guru dan siswa sama-sama melakukan evaluasi. . 3. Guru menganalisa hasil evaluasi.
4. Pesan dan motivasi untuk siswa. b. Pertemuan 2
Pada pertemuan kedua materi yang diajarkan adalah menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model, dengan indikator yaitu mampu menyebutkan beberapa alat obtik beserta fungsinya dan mampu memanfaatkan sifat-sifat cahaya dalam pembuatan karya sederhana.
a. Kegiatan awal
1. Menyiapkan kondisi kelas dan peralatan mengajar. 2. Memberi motivasi dan melakukan apersepsi. 3. Menyampaikan tujuan dan kegiatan pembelajaran.
4. Meminta siswa untuk memperhatikan penjelasan yang diberikan guru. b. Kegiatan inti
Fase Aktivitas
1. Menyajikan pertanyaan atau masalah.
1.1 Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
1.2 Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah.
1.3 Guru menuliskan masalah dipapan tulis.
2. Membuat hipotesis. 2.1 Siswa merumuskan jawaban sementara dari pertanyaan yang diajukan guru.
3. Merancang percobaan. 3.1 Guru membagi siswa dalam kelompok
3.2 Guru memberi arahan untuk melakukan percobaan. 3.3 Guru membagi kertas panduan dalam percobaan. 4. Melakukan percobaan
untuk memperoleh
4.1 Guru membimbing siswa untuk melakukan percobaan secara kelompok
informasi. 4.2 Guru mengarahkan siswa untuk berdiskusi tentang hasil percobaan yang telah dilakukan
5. Mengumpulkan dan menganalisa data.
5.1 Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan data dari hasil percobaan
5.2 Guru membimbing siswa untuk menganalisis data yang telah didapatkan
5.3 Guru secara acak meminta salah satu kelompok untuk presentasi tentang apa yang telah didapatkan dan meminta kelompok lain untuk menanggapi
6. Membuat kesimpulan. 6.1 Guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. c. Kegiatan penutup
1. Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran. 2. Guru dan siswa sama-sama melakukan evaluasi. 3. Guru menganalisa hasil evaluasi.
4. Pesan dan motivasi untuk siswa. d. Pertemuan 3
Pada pertemuan ketiga guru mengawali pelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, memberi motivasi, melakukan apersepsi kemudian guru akan mengevaluasi semua materi yang diajarkan pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua pada siklus kedua. Cara evaluasi ini adalah dengan mengulang kembali pelajaran yang telah dipelajari dan memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan materi yang kurang paham. Setelah selesai mengevaluasi, guru memberi aturan kepada siswa untuk mengerjakan tes secara mandiri.
Pada kegiatan inti akan diadakan tes siklus 2 dengan jumlah soal pilihan ganda 15 dan waktu 45 menit. Untuk kegiatan penutup guru dan peserta didik akan bersama-sama merefleksi kegiatan dari pertemuan 1, 2, dan 3 pada siklus kedua serta menanyakan, bagaimana setelah mengikuti metode pembelajaran inkuiri selama 3 minggu ini. Apakah peserta didik ada perubahan dalam menyikapi pelajaran IPA.
Observasi
Pada kegiatan pelaksanaan pembelajaran, akan diadakan observasi guna untuk mengetahui langkah-langkah saat guru melakukan proses pembelajaran dengan metode pembelajaran inkuiri pada setiap pertemuan. Penulis juga bertugas
untuk mencatat semua hasil pembelajaran yang dilakukan. Berikut adalah aspek yang diamati:
a) Mengamati Tahapan aktifitas guru pada saat proses pembelajaran berlangsung. b) Mengamati respon siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
c) Mencatat masalah-masalah yang ditemukan pada saat proses pembelajaran berlangsung.
d) Mencatat penemuan-penemuan baru pada saat pembelajaran berlangsung. 3.3.1.4 Refleksi
Refleksi merupakan langkah yang digunakan untuk menganalisis kekurangan dan kelebihan serta penemuan baru pada saat observasi dilakukan untuk diadakan tindak lanjut pada siklus berikutnya, yaitu pada siklus ke-2. Refleksi dilakukan bersama-sama antara guru PTK, observer, dan guru kelas. 3.4 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.4.1 Teknik Pengumpulan Data
Untuk dapat membuat kesimpulan dari sebuah penelitian, maka diperlukan serangkaian data yang mendukung. Menurut Slameto (2015: 227), “langkah utama dalam proses pengumpulan data adalah menyiapkan alat yang tepat yang memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas”. Dalam pengumpulan data diperlukan kualitas instrumen penelitian yang berkenaan dengan validitas dan reliabilitas instrumen serta kualitas pengumpulan data dengan cara yang tepat agar data yang diperolah sesuai dengan yang diinginkan. Jadi dapat dikatakan bahwa teknik pengumpulan data yang tepat juga akan didapatkan suatu data yang bermutu pula. Dalam penelitian ini akan digunakan 2 jenis data serta teknik pengumpulan data, yaitu:
a. Menurut Slameto (2015:277), “data kuantitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk angka”. Data kuantitatif yang dimaksudkan adalah data yang diperoleh dari perbandingan hasil tes tertulis siswa kelas 5 SD Negeri Tlogo dari pra-siklus, siklus 1, dan siklus 2.
b. Menurut Slameto (2015:277), “data kualitatif adalah data yang digunakan untuk bahan analisis dinyatakan tidak dalam bentuk angka.” Jadi data kualitatif
yang dimaksudkan adalah data yang diperoleh dari hasil observasi dan refleksi respon siswa dan aktifitas guru dalam penerapan metode pembelajaran inkuiri. Berikut adalah teknik yang digunakan dalam pengumpulan data:
a. Teknik Tes
Teknik ini akan dilakukan dengan memberi soal tes yang telah di uji validitas, reliabilitas dan tingkat kesukarannya. Tes ini akan diberikan kepada siswa yaitu pada saat pertemuan ketiga siklus 1 dan siklus 2. Soal yang diberikan mengenai materi sifat-sifat cahaya yang terdiri dari soal pilihan ganda yang telah disusun tingkat kesulitannya.
b. Teknik Non-Tes
Teknik ini akan dilakukan dengan cara observasi pada setiap pertemuan berlangsung untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan metode pembelajaran inkuiri dan seberapa jauh pemahaman guru terhadap penggunaan metode pembelajaran inkuiri. Teknik non-tes yang digunakan adalah observasi.
Observasi dilakukan oleh penulis pada aktifitas guru saat menggunakan metode pembelajaran inkuiri dan respon siswa kelas 5 SD Negeri Tlogo terhadap menggunakan metode pembelajaran inkuiri pada setiap pertemuan. Peneliti juga bertugas untuk mencatat semua hasil dan temuan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Dari semua observasi yang dilakukan pada pertemuan pertama dan kedua pada pertemuan ketiga setelah ulangan akan dilakukakan refleksi. Penulis, observer, dan guru kelas berunding mengenai tentang penemuan-penemuan baru, kelemahan, serta kelebihan pada saat proses belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri secara global. Hasil dari refleksi ini akan menjadi acuan pada saat melakukan siklus ke-2.
3.4.2. Instrumen Pengumpulan Data
Menurut Darmadi (2011: 85), instrumen adalah “alat untuk mengukur informasi atau melakukan pengukuran”. Jadi instrumen pengumpulan data adalah alat yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data untuk mempermudah melakukan pengukuran.
3.4.2.1. Soal tes
Instrumen tes adalah alat pengumpulan data yang berupa tes kemampuan siswa dalam mengerjakan soal tes tentang materi “menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model”. Tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif siswa terhadap materi melalui penerapan metode pembelajaran inkuiri. Berikut adalah instrumen kisi-kisi soal tes pada pembelajaran siklus 1 berdasarkan indikator pada SK :menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model dan KD :mendiskripsikan sifat-sifat cahaya.
Tabel 6
Kisi-Kisi Soal Tes Siklus 1 No Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Item Soal Jumlah Soal 1. Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model. Mendiskripsi-kan sifat-sifat cahaya Mampu menjelaskan pengertian tentang cahaya. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 11 2. Mampu menerapkan bahwa cahaya merambat lurus. 12, 13 2 3. Mampu mengemukakan sifat cahaya yang mengenai berbagai benda (bening, berwarna, dan gelap). 14, 15, 16, 17, 18, 19 7 4. Mampu menerapkan
bahwa cahaya dapat dipantulkan. 20, 21, 22, 23 4 5. Mampu mendeskripsikan sifat-sifat cermin datar, cekung, dan cembung. 24, 25, 27 3 6. Mampu menjelaskan tentang pembiasan 26, 28, 29, 30 4
cahaya pada kehidupan sehari-hari.
Berikut adalah instrumen kisi-kisi soal tes pada pembelajaran siklus 2 yang berdasarkan indikator pada SK :menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model dan KD :mendiskripsikan sifat-sifat cahaya dan membuat suatu karya/ model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan sifat-sifat cahaya.
Tabel 7
Kisi-Kisi Soal Tes Siklus 2 No Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Item Soal Jumlah Soal 1. Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model. Mendiskripsikan sifat-sifat cahaya Mampu menyebutkan tentang dispersi cahaya pada kehidupan sehari-hari. 3, 5, 6, 8 4 2. Mampu menunjukkan bahwa cahaya putih terdiri dari berbagai warna.
1, 2, 4, 7
4
3. Mampu menerapkan
cara menjaga mata.
9, 10 11
3
4. Mampu menjelaskan
cacat mata seerti rabun jauh, rabun dekaT, cacat mata, dan mata tua.
12, 13, 14, 15, 16, 17 6 5. Mampu menyebutkan
beberapa alat obtik beserta fungsinya. 18, 19, 20, 21, 22, 24 6 6. Membuat suatu karya/ model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana
Mampu
memanfaatkan sifat-sifat cahaya dalam pembuatan karya sederhana.
dengan menerapkan sifat-sifat cahaya. 3.4.2.2. Instrumen Observasi
Instrumen observasi adalah alat pengumpulan data yang digunakan untuk menilai langkah kerja guru dan respon siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri terhadap mata pelajaran IPA. Lembar observasi ini akan digunakan oleh penulis untuk menilai dan mencatat kelemahan serta penemuan baru pada setiap pembelajaran berlangsung, sehingga dalam pembelajaran selanjutnya akan menjadi lebih baik.
Tabel 8
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru
No Langkah Kegiatan Aspek-Aspek yang diobservasi
2. Kegiatan Inti:
Menyajikan
pertanyaan/ masalah
a. Mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi.
b. Menggiring siswa untuk mengidentifikasi masalah 3. Membuat hipotesis. c. Memancing siswa untuk merumuskan jawaban sementara 4. Merancang
percobaan.
d. Membagi kelompok
e. Merancang percobaan untuk membuktikan hipotesis yang dibuat
5. Melakukan
percobaan untuk memperoleh
informasi
f. Membimbing siswa untuk melakukan percobaan
g. Mengarahkan siswa untuk mengamati dan mendiskusikan percobaan
h. Meminta siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi 6. Mengumpulkan
dan menganalisa data
i. Membimbing siswa untuk mengumpulkan data dari percobaan maupun dari diskusi
j. Menggiring siswa untuk menganalisa data yang telah terkumpul
7. Membuat kesimpulan
k. Menggiring siswa untuk membuat kesimpulan dari Kegiatan
l. Memberikan informasi tambahan 8. Kegiatan Penutup m. Menegaskan hasil pembelajaran
n. Memberikan evaluasi o. Melakukan tindak lanjut
Instrumen respon siswa dibuat untuk mengetahui respon siswa yang seharusnya muncul pada aktifitas yang dilakukan oleh guru. Berikut adalah lembar observasi respon siswa terkait dengan praktek mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri:
Tabel 9
Kisi-kisi Lembar Observasi Respon Siswa
No Langkah Kegiatan Aspek-Aspek yang diobservasi
1. Kegiatan Awal a. Memperhatikan penjelasan guru saat proses pembelajaran. 2. Kegiatan Inti:
Menyajikan
pertanyaan atau masalah
b. Berperan aktif dalam menjawab pertanyaan dan ikut serta dalam mengidentifikasi masalah
3. Membuat hipotesis. c. Siswa aktif menjawab untuk merumuskan jawaban sementara
4. Merancang percobaan.
d. Siswa menaati peraturan yang dibuat oleh guru saat melakukan percobaan
5. Melakukan
percobaan untuk memperoleh
informasi
e. Siswa dapat bekerjasama saat melakukan percobaan f. Siswa aktif dalam diskusi kelompok
g. Siswa aktif menyimak ketika kelompok lain sedang presentasi
6. Mengumpulkan dan menganalisa data
h. Siswa aktif untuk mengumpulkan data dari percobaan maupun dari diskusi
i. Siswa aktif untuk menganalisa data yang telah terkumpul
7. Membuat kesimpulan
j. Siswa aktif dalam pembuatan kesimpulan k. Siswa memperhatikan penjelasan guru
8. Kegiatan Penutup l. Siswa menyimak enjelasan yang diberikan oleh guru
3.4.5 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Menurut Slameto (2015:58), agar instrumen dapat dipercaya maka harus diuji validitas dan reliabilitasnya. Jika sebuah instrumen telah diuji validitas dan reliabilitasnya, maka dapat digunakan untuk mengukur variabel yang telah itetapkan an kemudian untuk diteliti. Penulis menggunakan uji validitas dan reliabilitas dengan menggunakan SPSS.
a. Validitas
Uji validitas disini dimaksudkan untuk menguji kelayakan butir soal tes, sehingga dapat digunakan dalam instrumen soal tes. Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur. Menurut Slameto (2015:58), viliditas berasal dari kata validity yang artinya suatu standar ukuran yang menunjukkan ketepatan dan kesahihan suatu instrumen. Menurut Surapranata (2004: 60), validitas soal adalah “indeks diskriminasi soal-soal yang ditetapkan dari selisih proporsi yang menjawab dari masing-masing kelompok”. Tujuan dari validitas soal adalah untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal tersebut digunakan untuk mengukur kelompok yang akan diteliti di dalam sebuah penelitian. Berikut adalah tabel validitas soal siklus 1 dan siklus 2, dengan SK: menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model dan KD: mendiskripsikan sifat-sifat cahaya dan membuat suatu karya/ model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan sifat-sifat cahaya, yang dilakukan di SD lain dengan menggunakan subyek validitas kelas diatasnya yaitu kelas 6 dengan jumlah siswa 32. Jadi r tabel yang digunakan adalah sebesar 0,349, apabila hasil dari r hitung atau corrected item-total correlation lebih dari atau sama dengan 0,349 maka soal dinyatakan valid. Tabel 10 Validitas Soal No Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Item Soal Soal Valid Jumlah Soal Valid Siklus 1 1. Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model Mendeskripsi kan sifat-sifat cahaya sifat-sifat cahaya Mampu menjelaskan pengertian tentang cahaya. 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11 2, 3, 4, 6, 8, 9, 11 7 2. Mampu menerapkan bahwa 12, 13 13 1
cahaya merambat lurus. 3. Mampu mengemukak an sifat cahaya yang mengenai berbagai benda (bening, berwarna, dan gelap). 14, 15, 16, 17, 18, 19 14, 15, 16, 17, 18, 19 6 4. Mampu menerapkan bahwa cahaya dapat dipantulkan. 20, 21, 22, 23 21, 22, 23 3 5. Mampu mendeskripsi kan sifat-sifat cermin datar, cekung, dan cembung. 24, 25, 27 27 1 6. Mampu menjelaskan tentang pembiasan cahaya pada kehidupan sehari-hari. 26, 28, 29, 30 28, 29, 30 3 Siklus 2 1. Mampu menyebutkan tentang dispersi cahaya pada kehidupan sehari-hari. 3, 5, 6, 8 3, 5 2 2. Mampu menunjukkan bahwa cahaya putih terdiri dari berbagai warna. 1, 2, 4, 7 2, 7 2
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa pada siklus 1 dari jumlah soal yaitu 30 terdapat 20 soal yang valid dan pada siklus 2 dari jumlah soal 25 terdapat 15 soal yang valid.
b. Reliabilitas
Reliabilitas disini dimaksudkan untuk menguji kelayakan butir soal tes, sehingga dapat digunakan dalam instrumen soal tes. Reliabilitas yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah soal-soal tes yang telah memenuhi syarat validitas dan diuji reliabilitasnya. Menurut Slameto (2015:58), reliabilitas adalah suatu keajegan suatu tes untuk mengukur atau mengamatri sesuatu yang menjadi objek ukur. Menurut Allen dan Yen (Surapranata 2004: 89) reliabilitas adalah “kestabilan skor yang diperoleh orang yang sama ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari satu pengukuran ke pengukuran
3. Mampu menerapkan cara menjaga mata. 9, 10 11 10, 11 2 4. Mampu menjelaskan cacat mata seerti rabun jauh, rabun dekaT, cacat mata, dan mata tua. 12, 13, 14, 15, 16, 17 12, 13, 15, 16 4 5. Mampu menyebutkan beberapa alat obtik beserta fungsinya. 18, 19, 20, 21, 22, 24 18, 19, 21 3 6. Membuat suatu karya/model, misalnya periskop atau lensa dari bahan sederhana dengan menerapkan Mampu memanfaat-kan sifat-sifat cahaya dalam pembuatan karya 23, 25 23, 25 2
lainnya”. Reliabilitas memiliki 2 keajegan yaitu keajegan internal, tingkat sejauhmana butir soal itu homogen baik dari segi tingkat kesukaran maupun bentuk soalnya dan keajegan eksternal, tingkat sejauhmana skor dihasilkan tetap sama sepanjang kemampuan orang yang diukur belum berubah.
Instrumen soal yang dibuat oleh peneliti dinyatakan reliabel karena reliability statistics yang diperoleh pada saat dilakukan uji SPSS lebih dari 0,6. Pada siklus 1 cronbach’s alpha yang diperoleh adalah 0,884 dari 20 soal, dan pada siklus 2 cronbach’s alpha yang diperoleh adalah 0,886 dari 15 soal.
c. Tingkat Kesukaran Soal
Tingkat kesukaran soal digunakan penulis untuk mengukur agar soal pada tes siklus 1 dan tes siklus 2 berada dalam tingkat kesetaraan yang sama. Jadi soal tidak terlalu sulit dan soal tidak terlalu mudah. Secara umum, menurut teori klasik tingkat kesukaran soal dapat dinyatakan melalui beberapa cara yaitu proporsi menjawab dengan benar, skala kesukaran linier, indeks Davis, dan skala bivariat. Proporsi jawaban benar dinyatakan dalam bentuk (p), yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar dibandingkan dengan jumlah peserta tes seluruhnya. Tingkat kesukaran soal biasanya dibedakan menjadi 3 kategori yaitu mudah, sedang, dan sulit. Berikut adalah tabel tingkat kesukaran soal menurut Surapranata (2004: 43),:
Tabel 11
Kategori Tingkat Kesukaran
Nilai P Kategori
P < 0.3 Sukar
0.3 ≤ p ≤ 0.7 Sedang
P > 0.7 Mudah
Berikut adalah rumus persamaan yang digunakan dalam menentukan tingkat kesukaran soal dengan proporsi menjawab benar:
p= £ 𝑥 𝑁
p= proporsi menjawab benar atau tingkat kesukaran £x= banyaknya peserta tes yang menjawab benar N= jumlah peserta tes
Berikut adalah tabel hasil tingkat kesukaran soal yang dilakukan oleh penulis pada soal-soal yang telah telah diuji validitasnya. Soal yang valid akan diuji apakah soal tersebut berada dalam tingkat kesukaran soal yang sama.
Tabel 12
Tingkat Kesukaran Soal
Tingkat kesukaran soal No.soal Jumlah
Siklus 1 Mudah 4, 14, 15, 16, 4 Sedang 2, 3, 6, 8, 9, 11, 13, 17, 18, 19, 21, 22, 23, 27, 28, 29, 30 15 Sulit Siklus 2 Mudah 5, 7, 13 3 Sedang 3, 5, 2, 7, 10, 11, 12, 13, 15, 16 18, 19, 23, 21, 25 12 Sulit
Dari tabel di atas terlihat bahwa pada siklus 1 dari 20 soal terdapat 15 butir soal yang berada pada tingkat kesukaran soal yang sedang dan terdapat 5 butir soal yang berada pada tingkat kesukaran soal yang mudah. Hal tersebut setara dengan hasil tingkat kesukaran soal pada siklus kedua yaitu dari 15 soal terdapat 12 butir soal yang berada pada tingkat kesukaran soal yang sedang dan terdapat 3 butir soal yang berada pada tingkat kesukaran soal yang mudah.
3.5 Indikator Kinerja
Hasil belajar siswa dikatakan berhasil apabila ketuntasan klasikal mencapai ≥80% dari 35 siswa yang berhasil mencapai nilai dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dengan rata-rata kelas mencapai ≥ 75. KKM pada mata pelajaran IPA yang telah ditentukan dari sekolah adalah 62.
3.6 Analisis Data
Analisis data penelitian diperoleh dari data kuantitatif dan kualitatif yang sesuai dengan pembelajaran berbasis inkuiri. Menurut Slameto (2015:276), analisis data adalah:
Proses mencari dan menyusun secara sistematis data (yang telah dikumulkan dengan berbagai cara seperti: wawancara, angket, tes, dst) dengan cara mengorganisasikan data kedalam suatu kategori, menjabarkan kedalam bab-bab, melakukan sintesis, menyusun kedalam pola, memilih
mana yang penting dan yang akan dipelajari lebih lanjut dan membuat kesimpulan seingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Sehingga dalam analisis data, data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan analisis komperatif yaitu membandingkan nilai sebelum pra siklus dan nilai sesudah pelaksanaan siklus pertama dan siklus kedua. Dalam analisis ini, akan dijabarkan perolehan data deskripsi kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi dan refleksi tiap-tiap siklus dalam pembelajaran berbasis inkuiri. Data kuantitatif diperoleh dari hasil persentase ketuntasan individu dan ketuntasan klasikal dengan rumus sebagai berikut: