• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

i

JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN

Volume 2 Nomor 1 tahun 2016 ISSN : 2477-3476

JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN

Jaringan Informasi Diklat dan Kebijakan Perdagangan Diterbitkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan,

Kementerian Perdagangan RI dua kali setahun. Penanggung Jawab :

R. Sapuratwi, S.Sos, M.Si Pemimpin Redaksi : Drs. M.Hadi Adji Susanto, MM

Editor :

Sunang Kori, SE, MM Mitra Bestari :

Dr. Parluhutan Tado Sianturi, SE Dr. Teja Primawati Utami, S.TP, MM

Dr. Miftah Farid, S.Tp, MSE Dr. Azis Muslim, ST, MSE Dudi Adi Firmansyah, Ph.d

Dr. Sukoco, S.Tp, MSE Design Grafis : Nasrudin Fotografer : Suaip Rizal, ST Penerbit :

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan Alamat :

Gedung Pusdiklat Perdagangan, Jalan Abdul Wahab No. 8, Cinangka, Sawangan, Depok, Jawa Barat

Telp/fax : 021-7422570, e-mail : [email protected] REDAKSI

(2)

ii

JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN

Volume 2 Nomor 1 tahun 2016 ISSN : 2477-3476

Jurnal Pusdiklat Perdagangan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perdagangan, Kementerian Perdagangan. Maksud dan tujuan diterbitkannya Jurnal Pusdiklat Perdagangan adalah sebagai sarana pertukaran ilmu pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan aparatur dan non aparatur, keilmuan di bidang perdagangan dan kebijakan di sektor perdagangan. Jurnal ini diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas dan pertukaran gagasan para widyaiswara, peneliti, akademisi dan pemangku kebijakan sektor perdagangan. Jurnal Pusdiklat Perdagangan berisi pokok-pokok permasalahan baik dalam pengembangan kerangka teoritis, implementasi maupun pengembangan sistem pendidikan dan pelatihan perdagangan serta pengkajian kebijakan di sektor perdagangan secara keseluruhan. Dalam Vol. 2 No.1, Juli 2016 Jurnal Pusdiklat Perdagangan memuat 14 tulisan ilmiah. Diharapkan setiap naskah yang diterbitkan didalam jurnal ini memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan sumberdaya penelitian didalam bidang ilmu pendidikan dan perdagangan.

Tim redaksi membuka pintu lebih lanjut untuk masukan baik kritik, saran dan pembahasan. Semoga jurnal Pusdiklat Perdagangan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Selamat menyimak dan semoga bermanfaat.

Salam redaksi

(3)

iii

JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN

Volume 2 Nomor 1 tahun 2016 ISSN : 2477-3476

PENGANTAR REDAKSI

ANALISIS KELEMBAGAAN PRIOR OPTIONS REVIEW (POR) DALAM PELIMPAHAN WEWENANG UNTUK URUSAN KEMETROLOGIAN BERKAITAN DENGAN UU No.23 TAHUN 2014 DAN OIML D-1 EDITION 2012

Noprizal Achmad

PENERAPAN MODEL PERHITUNGAN MANFAAT FINANSIAL SISTEM RESI GUDANG UNTUK KOMODITAS BAWANG MERAH

Rahayu Widyantini

DAMPAK TARIF DAN KUOTA IMPOR GULA TERHADAP PENAWARAN GULA DAN PENDAPATAN PETANI TEBU DI INDONESIA

Vera Lisna dan Munawar Asikin

MARKET INFORMATION SYSTEM UNTUK MENDUKUNG ORGANIZED PHYSICAL MARKET: TEROBOSAN UNTUK PASAR YANG EFISIEN

Nurlisa Arfani

STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS SWOT (Studi Kasus di Kabupaten Cianjur)

Dwi Putri Destiani

ESTIMASI KETERSEDIAAN DAN FLUKTUASI HARGA BERAS DAN JAGUNG

Kumara Jati

ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH (UKM) DAN KOMODITI UNGGULAN DAERAH DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

Gusnida dan Rahmedi Yonis

DINAMIKA PASAR PRODUK PANGAN SEGAR ANALISIS SKENARIO PERUBAHAN POLA KONSUMSI MASYARAKAT URBAN DI INDONESIA Ratnaningsih Hidayati

PERAN KAPAL TERNAK DALAM MEMPERLANCAR DISTRIBUSI DAN MENEKAN BIAYA LOGISTIK DAGING SAPI DARI SENTRA PRODUSEN KE SENTRA KONSUMEN DI INDONESIA

Avif Haryana danYati Nuryati

1-9 10-21 22-30 31-38 39-47 48-56 57-66 67-77 78-85 DAFTAR ISI

(4)

iv

JURNAL PUSDIKLAT PERDAGANGAN

Volume 2 Nomor 1 tahun 2016 ISSN : 2477-3476

REKAYASA ULANG MANAJEMEN PELAYANAN KEPADA ORIENTASI PELANGGAN SEBAGAI BAGIAN REVOLUSI MENTAL DALAM

RANGKA MENDUKUNG MODERNISASI INFRASTRUKTUR

PERDAGANGAN MENUJU PENINGKATAN DAYA SAING Rizal Himawan

PELAKSANAAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PRAJABATAN DALAM MENDUKUNG REVOLUSI MENTAL CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL (STUDI KASUS: PRAJABATAN GOLONGAN III KABUPATEN MAMUJU TENGAH)

Anita

MEKANISME PENGAWASAN PERDAGANGAN MINYAK GORENG DENGAN TEKNIK TECHNIQUE FOR OTHERS REFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (TOPSIS)

Yusup Akbar HIkmatuloh

MEKANISME PRODUKSI MINYAK GORENG KEMASAN DENGAN MULTI CRITERIA DECISION MAKING (MCDM) DAN MULTI EXPERT MULTI CRITERIA DECISION MAKING (ME-MCDM)

Wahyu Widji Pamungkas

HAK KONSUMEN UNTUK MENDAPATKAN INFORMASI YANG

BENAR, JELAS, DAN JUJUR SEBAGAI DASAR

PRINSIP-PRINSIPHUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN Adi Wicaksono 86-95 96 -104 105 - 116 117 - 130 131-137 DAFTAR ISI

(5)

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 48 - 56

48

ESTIMASI KETERSEDIAAN DAN FLUKTUASI HARGA BERAS DAN JAGUNG

Estimation of Availability and Price Fluctuation of Rice and Corn

Kumara Jati

Kementerian Perdagangan Jl. M.I.Ridwan Rais No.5, Jakarta 10110

[email protected]

ABSTRACT: This research estimate the availability and price fluctuation of rice and corn in

Indonesia by the method of Staple Food Balance Sheets (NPP) and the Structural Time Series (STS). The policy of staple food should consider the condition of production and consumption of staple food for 33 provinces. Based on this analysis, the condition of staple food in Indonesia is varied depend on the characteristic of provinces and commodities. The calculation of staple food balance sheet shows that there are 18 provinces that surplus of rice and 12 provinces that surplus of corn. In national level, rice and corn already self-sufficient but government should consistent using food policy to increase production so that the target to maintain self-sufficient of rice and corn in 2019 can be achieved. Rice and corn price fluctuations are mostly caused by short-run component is seasonal due to the presence of different supply amount in each month. The Structural Time-Series Decomposition Model predicted that rice and corn price in the next 10 months up to December 2016 will be relatively stable with a tendency to increase.

Keywords: Staple Food,Price Policy, Structural Time-Series Decomposition, Indonesia

PENDAHULUAN

Berdasarkan data BPS (2013), penduduk Indonesia tahun 2015 diperkirakan berjumlah 255 juta orang, sebanyak 17,92 juta jiwa tinggal desa dan 28,55 juta orang hidup dibawah garis kemiskinan. Penghitungan ini berdasarkan asumsi bahwa garis kemiskinan di kota yaitu Rp308.826; dan di desa yaitu Rp275.779; per kapita per bulan. Menurut Wood, et. al. (2012), peningkatan jumlah keluarga miskin di negara berkembang salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga pangan. Kenaikan harga pangan paling mempengaruhi kehidupan rakyat miskin karena proporsi pengeluaran untuk konsumsi pangan di kelompok ini paling besar (Monteiro, et.al., 2012; Naranpanawa dan Bandara, 2012).

Permasalahan terjadi apabila penduduk miskin ini tidak bisa membeli dan mengakses pangan pokok. Pangan merupakan industri yang sangat strategis dan penting bagi perekonomian Indonesia karena sumber pendapatan utama bagi petani. Berdasarkan penelitian FAO (2001), pangan pokok harus memenuhi

kebutuhan energi manusia untuk menjaga kesehatan. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945.

UU No.18 Tahun 2012 tentang Pangan menyatakan bahwa definisi ketahanan pangan yaitu kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Berdasarkan dua definisi diatas terlihat bahwa isu pangan bukan hanya masalah ketersediaan, tetapi harga juga harus terjangkau oleh masyarakat. Permasalahan terjadi apabila penduduk miskin ini tidak bisa membeli dan mengakses pangan pokok karena langkanya (tidak tersedia) atau harga yang naik.

Dari penjelasan diatas, maka analisis ini bertujuan untuk melihat

(6)

Estimasi Ketersediaan dan Fluktuasi Harga beras dan Jagung, Kumara Jati

49 bagaimana estimasi ketersediaan dan fluktuasi harga beras dan jagung di Indonesia agar bisa dijangkau oleh rakyat miskin. Metode yang digunakan untuk mengukur dalam penelitian ini yaitu Neraca Pangan Pokok (NPP) dan

Struktural Time Series (STS). METODOLOGI

Metode penghitungan Neraca Pangan Pokok (NPP)

Neraca Pangan Pokok (NPP) berdasarkan definisi dari FAO (2002) yaitu gambaran secara komprehensif tentang pola pasokan pangan di suatu negara dalam kurun waktu tertentu termasuk produksi, impor, ekspor, stok dan konsumsi. Jadi dalam penelitian ini kami menggunakan istilah neraca pangan pokok sebagai penghitungan produksi dan konsumsi dari pangan pokok dalam periode tertentu di Indonesia dengan beberapa asumsi tertentu. Neraca pangan pokok ini juga diharapkan dapat memprediksi berapa kira-kira produksi dan konsumsi pangan di tiap-tiap provinsi di masa yang akan datang.

Penghitungan Neraca Pangan Pokok (NPP) ini fokus pada 33 provinsi di Indonesia dan hanya melihat produksi serta konsumsi di tiap provinsi. NPP ini tidak memasukkan impor, ekspor serta stok dalam penghitungannya dan lebih sederhana dibandingkan penghitungan FAO. Kelemahan dari penghitungan ini yaitu kurang detail dalam menggambarkan keadaan sebenarnya dari neraca beras dan jagung di suatu provinsi di Indonesia. Namun ada juga kekuatan dari penghitungan ini yaitu lebih cepat dilakukan supaya bisa memberikan gambaran umum ketersediaan pangan suatu provinsi. Neraca Pangan Pokok Beras

NPP beras menunjukkan estimasi produksi dan konsumsi beras di Indonesia. Data mentah diambil dari Kementerian Pertanian untuk padi dan data populasi di Indonesia.

Penghitungan produksi beras berdasarkan asumsi: (i) konversi Gabah Kering Giling (GKG) menjadi beras yaitu 57% dari penelitian Arifin (2010); (ii) pendekatan konsumsi dihitung berdasarkan asumsi konsumsi per kapita beras di Indonesia sebesar 139 kg/kapita. Ada beberapa asumsi pendapatan per kapita yang lain dari BPS yaitu: 124 kg/kapita dan 114 kg/kapita, tetapi dalam penelitian ini dipilih asumsi yang terbesar untuk mengimbangi adanya estimasi yang berlebih dari data produksi. Data produksi beras tahun 2015 (BPS, 2015) berdasarkan Aram II dan data produksi beras 2016 berdasarkan prognosa produksi beras dari Kementerian Pertanian (Kementan, 2015)

Total konsumsi per provinsi dihitung dari konsumsi per kapita per tahun dikalikan dengan populasi per provinsi. Tanda positif (+) dan negatif (-) merupakan selisih antara produksi dan konsumsi beras. Apabila hasilnya positif (+) maka mengindikasikan provinsi tersebut sudah swasembada beras dan bisa membantu provinsi lain yang defisit beras.

Neraca Pangan Pokok Jagung

Penghitungan produksi jagung didapat berdasarkan asumsi konversi tongkol jagung ke pipilan jagung yaitu 70% (Aqil, 2010). Dalam hal penghitungan konsumsi, penelitian ini menggunakan asumsi konsumsi jagung per kapita per tahun yaitu 50 kg (Awika, 2011). Penghitungan surplus dan minus jagung sama dengan cara penghitungan neraca pangan pokok beras. Penelitian ini juga memprediksi konsumsi beras dan jagung pada tahun 2035 yang mengacu pada jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 berdasarkan perkiraan BPS yaitu sebesar 305.652.000 jiwa.

Metode Prediksi Harga Pangan

Harga beras dan jagung merupakan dua komoditas yang

(7)

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 48 - 56

50 tergolong dalam Volatile Food (VF) atau

komoditas sumber utama

ketidakakuratan inflasi total yang sulit dimodelkan. Oleh karena itu diperlukan model sederhana yang dapat menjelaskan dinamika VF. Salah satu cara untuk dapat melakukan penilaian dan prediksi jangka pendek VF lebih terstruktur dan akurat adalah dengan melakukan dekomposisi dan proyeksi dalam sebuah model yang komprehensif yaitu Structural Time-Series (STS) Decomposition(Harvey dan Shephard,

1993).

Kelebihan dari pendekatan STS ini dibandingkan rata-rata historis harga yaitu lebih terstruktur, dapat memodelkan pola musiman dan ketidakteraturan harga komoditas (irregularity) serta membuat modelnya lebih robust (kuat). STS Decomposition (Harvey dan Peters, 1990; Durbin dan Koopman, 2001) ini terdiri dari 3 komponen yaitu:

(1) Komponen Trend yang mengikuti proses random walk.

)

,

0

(

~

,

2 1

t

t

t

n

t

n

t

N

(1)

)

,

0

(

~

2 1

t

t

t

N

(2)

Dimana ԏt adalah komponen trend,

μtadalah slope yang dapat bersifat

stochastic, dan nt adalah error dari ԏt,

serta Ʋt adalah error dari μt.

(2) Komponen Musiman yang spesifikasi (yt) mengikuti model

trigonometri.

  * * 1 , 1 , * , ,

cos

sin

sin

cos

t t t j t j j j j j t j t j

(3) untuk j = 1,...,[s/2]; t = 1,...,T. Dimana γt

adalah komponen musiman, ωt adalah

error dari γt.

(3) Komponen Siklus yang modelnya menyerupai Komponen Musiman.

  * * 1 , 1 , * , ,

cos

sin

sin

cos

t t t j t j c c c c t j t j

K

K



(4)

untuk t = 1,...,T. Dimana ψt adalah

komponen siklus, ρψ dan λc adalah

faktor damping dan frekuensi dengan nilai 0< ρψ<1 dan0< λc<π sementara Kt

dan Kt* tidak terkorelasi secara mutual

N(0,σk2). Jika ketiga komponen tersebut

dijumlahkan maka menjadi:

t t t t t

y

(5)

Jadi yt adalah harga pangan yang

diprediksi oleh komponen trend (ԏt),

musiman (γt) dan siklus (ψt).Model ini

diestimasi dengan metode MLE (Maximum Likelihood Estimation) dan 3 komponen yang sulit untuk diestimasi yang dihasilkan dari Kalman filter (Harvey dan Shephard, 1993). Pengambilan data untuk model ini didapat dari BPS untuk harga beras umum dan dari Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan untuk harga jagung. Periode data yang digunakan yaitu data bulanan Januari 2009 – Februari 2016. Software yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Stamp OxMetrics 7. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penghitungan Neraca Pangan Pokok

Penghitungan NPP beras (Tabel 1) menunjukkan ada 18 provinsi di Indonesia yang surplus beras 2015 dan 2016, yaitu: Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Barat, Aceh, Kalimantan Selatan, NTB, Sulawesi Tengah, Sumatera Utara Sulawesi Barat, Kalimantan Tengah, Bengkulu, Gorontalo, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara (berdasarkan urutan paling tinggi ke paling rendah surplus beras).

(8)

Estimasi Ketersediaan dan Fluktuasi Harga beras dan Jagung, Kumara Jati

51 Urutan 3 (tiga) besar provinsi yang surplus beras yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan surplus secara berurutan sebesar 1.812 ribu ton, 1.580 ribu ton dan 1.326 ribu ton di tahun 2015, serta 2.012 ribu ton, 2.025 ribu ton dan 1.609 ribu ton. Hal yang menarik adalah di tahun 2016 posisi nomor satu provinsi surplus beras diambil alih oleh Jawa Timur dari Sulawesi Selatan. Hal ini terjadi karena peningkatan produksi Jawa Timur yaitu sebesar 444 ribu ton lebih besar daripada peningkatan produksi beras di Sulawesi Selatan sebesar 200 ribu ton. Penghitungan NPP beras juga menghasilkan 15 provinsi yang defisit beras yaitu: Bali, Papua Barat, Yogyakarta, Maluku Utara, Maluku, Bangka Belitung, Jambi, Kepulauan Riau, NTT, Papua, Kalimantan Timur, Banten, Jawa Barat, Riau dan Jakarta. 3 (tiga)provinsi yang disebutkan terakhir merupakan 3 (tiga) besar provinsi yang

defisit beras terbesar di tahun 2015 dengan defisit secara berurutan sebesar 523 ribu ton, 681 ribu ton dan 1.411 ribu ton. Sedangkan urutan 3 (tiga) besar defisit di tahun 2016 yaitu Banten, Riau dan Jakarta dengan defisit secara berurutan sebesar 484 ribu ton, 647 ribu ton dan 1.410 ribu ton. Provinsi Jawa Barat diperkirakan hanya akan defisit sebesar 84 ribu ton di tahun 2016 karena Kementerian Pertanian memprediksi akan ada peningkatan jumlah produksi beras sebesar 439 ribu ton dalam waktu setahun. Peningkatan produksi di Jawa Barat juga diperkirakan terjadi karena akan ada peningkatan luas panen sebesar 24.351 hektar dari tahun 2015 ke 2016. NPP beras juga memprediksi kira-kira jumlah konsumsi beras di tahun 2035 yaitu sebesar 42.486.000 ton atau akan ada kenaikan sebesar 7 juta ton atau sekitar 20%

dalam waktu 19 tahun.

Tabel 1. Penghitungan Neraca Pangan Pokok Beras (Ribu Ton) No Provinsi

2015 2016* 2035*

Prod. Kons. +/- Prod. Kons. +/- Kons. 1 Sulsel 2.996 1.184 1.812 3.196 1.184 2.012 1.348 2 Jatim 6.980 5.400 1.580 7.424 5.400 2.025 5.717 3 Jateng 6.020 4.695 1.326 6.303 4.695 1.609 5.173 R R R R R R R R R 31 Jabar 5.970 6.493 (523) 6.409 6.493 (84) 7.942 32 Riau 201 882 (681) 235 882 (647) 1.301 33 Jakarta 4 1.415 (1.411) 5 1.415 (1.410) 1.593 Indonesia 39.964 35.509 4.455 42.687 35.509 7.177 42.486

Sumber=BPS, 2015: Kementan, 2015 (diolah), Prod.=Produksi, Kons.=Konsumsi, +/- = surplus / defisit, *=prediksi, R=Rangkum (Provinsi urutan ke 6 – 28 tidak dimasukkan ke tabel).

Penghitungan NPP Jagung (Tabel 2) menunjukkan ada 12 provinsi di Indonesia yang surplus jagung di tahun 2015 dan 2016, yaitu: Jawa Timur, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, NTB, Gorontalo, Sumatera

Utara, NTT, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Yogyakarta, dan Sulawesi Barat (berdasarkan urutan paling tinggi ke paling rendah surplus jagung).

Urutan 3 (tiga) besar provinsi yang surplus jagung yaitu: Jawa Timur,

(9)

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 48 - 56

52 Lampung dan Sulawesi Selatan dengan surplus secara berurutan sebesar 2.349ribu ton, 646 ribu ton, dan 644 ribu ton di tahun 2015, serta 3.063 ribu ton, 1.178 ribu ton dan 905 ribu ton di tahun 2016. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (2015), diperkirakan produksi jagung di 3 provinsi ini naik karena adanya peningkatan luas panen yaitu di Jawa Timur sebesar 173.407 hektar (naik 14,3%), di Lampung sebesar 95.679 hektar (naik 29,7%) dan di Sulawesi Selatan sebesar 74.710 hektar (naik 25%).

Penghitungan NPP jagung (Tabel 2) juga menghasilkan 21 provinsi yang defisit jagung yaitu: Papua Barat, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Bengkulu, Bangka Belitung, Maluku, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Riau, Aceh, Kalimantan Selatan, Kalimantan

Tengah, Jambi, Papua, Kalimantan Barat, Bali, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Tiga provinsi yang disebutkan terakhir merupakan 3 provinsi yang defisit jagung terbesar dengan defisit secara berurutan sebesar 509 ribu ton, 589 ribu ton dan 1.664 ribu ton di tahun 2015, serta 509 ribu ton, 587 ribu ton dan 1.429 ribu ton di tahun 2016. Berdasarkan data Kementan (2015), penurunan produksi jagung di Jawa Barat diduga terjadi karena penurunan produktivitas dari 75,7 kuintal / hektar di tahun 2015 menjadi 72,74 kuintal / hektar di tahun 2016. NPP jagung juga memprediksi kira-kira jumlah konsumsi jagung di tahun 2035 yaitu sebesar 2.510 ribu ton atau sekitar 20% dalam waktu 19 tahun (persentase kenaikan ini relatif sama dengan beras).

Tabel2. Penghitungan Neraca Pangan Pokok Jagung (Ribuan Ton)

No Provinsi 2015 2016* 2035*

Prod. Kons. +/- Prod. Kons. +/- Kons. 1 Jatim 4.292 1.942 2.349 5.006 1.942 3.063 2.056 2 Lampung 1.052 406 646 1.584 406 1.178 457 3 Sulsel 1.070 426 644 1.331 426 905 485 R R R R R R R R R 31 Jakarta - 509 (509) - 509 (509) 573 32 Banten 8 598 (589) 11 598 (587) 802 33 Jabar 672 2.335 (1.664) 906 2.335 (1.429) 2.857 Indonesia 13.728 12.773 955 16.800 12.773 4.027 15.283

Sumber=BPS, 2015; Kementan, 2015 (diolah), Prod.=Produksi, Kons.=Konsumsi, +/- = surplus / defisit, *=prediksi, R=Rangkum (Provinsi urutan ke 6 – 28 tidak dimasukkan ke tabel).

Prediksi Harga Pangan Pokok Beras Pendekatan STS Decomposition terhadap harga beras menunjukkan bahwa : (1) dinamika harga beras bersumber dari tingginya komponen musiman, (2) komponen musiman beras cenderung stabil dengan kecenderungan sedikit menurun, (3) tidak adanya irregularity di harga beras

(Gambar 1). Irregularities pada beras tidak terjadi karena diperkirakan adanya intervensi pemerintah melalui Bulog pada saat terjadi musim paceklik atau hari raya besar keagamaan.

Prediksi harga beras dari bulan Maret sampai dengan Desember 2016 akan meningkat sebesar 4,73% (Tabel 3). Fluktuasi harga beras sebagian

(10)

Estimasi Ketersediaan dan Fluktuasi Harga beras dan Jagung, Kumara Jati

53 besar disebabkan oleh komponen jangka pendek yaitu musiman yang bisa terjadi karena adanya masalah jumlah pasokan beras yang relatif berbeda tiap bulannya. Pola kondisi surplus beras di Indonesia biasanya terjadi antara bulan Maret-September, sedangkan kondisi defisit beras biasanya terjadi Oktober-Februari (Kementan, 2014). Komponen musiman tinggi di awal tahun karena musim paceklik beras, tinggi di pertengahan tahun karena musim panen beras, kemudian turun lagi di akhir tahun karena panen semakin sedikit.

Kenaikan harga beras ini masih dibawah toleransi Koefisien Keragaman (KK) yang berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan sebesar 9%. Jadi dampak kenaikan harga beras terhadap rakyat miskin tidak terlalu besar. Meskipun demikian, apabila terjadi kenaikan beras sebesar 4,73% maka ada kemungkinan selisih harga beras domestik dan paritas Thailand atau Vietnam dapat semakin membesar. Apabila disparitas harga ini terlalu tinggi maka dapat terjadi peningkatan

penyelundupan beras yang harus

diantisipasi.

Sumber: hasil penghitungan software Stamp OxMetrics 7, diolah

Gambar 1. Perkembangan Harga Beras dan Pengaruh Komponen Trend dan Musiman Tabel 3. Tabel Estimasi Harga Pangan Pokok Beras dan Jagung (Rp/kg)

Periode Harga Beras % Perubahan Harga Jagung % Perubahan

Jan-16 13.319 6.759 Feb-16 13.376 7.237 Mar-16 13.442 0,50 7.309 0,99 Apr-16 13.151 -2,17 7.323 0,19 Mei-16 13.138 -0,10 7.386 0,87 Jun-16 13.230 0,69 7.366 -0,28 Jul-16 13.385 1,17 7.383 0,23 Agust-16 13.512 0,95 7.438 0,74 Sep-16 13.621 0,81 7.497 0,80 Okt-16 13.674 0,38 7.512 0,20 Nop-16 13.771 0,71 7.465 -0,63 Des-16 14.015 1,78 7.546 1,09 Perubahan Maret-Desember 2016 4,73 4,20

Koefisien Keragaman 2 (stabil) 2,8 (stabil)

Sumber: BPS untuk harga beras umum dan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan untuk harga jagung, 2016 (diolah), harga Jan-Feb 2016 data riil, harga Mar-Des 2016 hasil prediksi.Koefisien Keragaman = standar deviasi dibagi rata-rata, jika dibawah 9 maka stabil.

Beras Level 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 8000 10000 12000 Beras Level Beras-Seasonal 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 -200 0 200 Beras-Seasonal Trend Musiman

(11)

Jurnal Pusdiklat Perdagangan, VOL 2 No.1, JULI 2016 : 48 - 56

54 Prediksi Harga Pangan Pokok Jagung

Pendekatan STS Decomposition terhadap harga jagung menunjukkan bahwa : (1) dinamika harga jagung bersumber dari tingginya komponen musiman dan irregularity yang terkait dengan pasokan jagung dari dalam dan luar negeri serta produksi jagung yang bersifat musiman, (2) komponen musiman jagung cenderung stabil, (3) adanya irregularity harga jagung yang terjadi pada tahun 2010 dan awal tahun 2016 (Gambar 2).

Fluktuasi harga jagung menyerupai fluktuasi harga beras dimana sebagian besar disebabkan oleh komponen jangka pendek musiman. Perbedaan fluktuasi harga beras dan jagung yaitu adanya irregularity di jagung yang disebabkan oleh penurunan produksi jagung akibat La

Nina di tahun 2010 (USDA, 2010) dan

terhambatnya pasokan jagung dari luar negeri di awal tahun 2016 (Detik, 2016). Kebijakan impor jagung sudah tidak

diatur di kebijakan Kementerian Perdagangan tetapi Kementerian Pertanian mengeluarkan Permentan No.57/Permentan/PK.110/11/ 2015 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Bahan Pakan Asal Tumbuhan ke dan dari Wilayah Negara Republik Indonesia. Peraturan Kementerian Pertanian ini dianggap menghambat impor jagung sehingga terjadi kelangkaan pasokan jagung yang menyebabkan harga jagung naik sebesar Rp.721 (11%) di bulan Februari 2016 jika dibandingkan dengan bulan Desember 2015.

Prediksi harga jagung dari bulan Maret sampai dengan Desember 2016 akan meningkat sebesar 4,2% (Tabel 3). Kenaikan harga jagung ini masih dibawah toleransi Koefisien Keragaman (KK) yang berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan sebesar 9%. Jadi dampak kenaikan harga jagung terhadap rakyat miskin

tidak terlalu besar.

Sumber: hasil penghitungan software Stamp OxMetrics 7, diolah

Gambar 2. Perkembangan Harga Jagung dan

Pengaruh Komponen Trend, Musiman serta Irregularities

Jagung Level 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 5000 7000 Jagung Level Jagung-Seasonal 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 -50 0 50 Jagung-Seasonal Jagung-Irregular 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 -10 0 10 Jagung-Irregular Trend Musiman Irregularities

(12)

Estimasi Ketersediaan dan Fluktuasi Harga beras dan Jagung, Kumara Jati

55 SIMPULAN

Pada tingkat nasional, komoditi beras dan jagung sudah swasembada. Namun berdasarkan penghitungan NPP, hanya ada 18 provinsi yang surplus beras dan 12 provinsi yang surplus jagung. Perlu adanya koordinasi antar pemangku kepentingan sehingga distribusi beras dari provinsi yang surplus bisa didistribusikan ke provinsi yang defisit. Pemerintah juga harus menjaga konsistensi kebijakan pangan untuk peningkatan produksi sehingga target mempertahankan swasembada pangan beras dan jagung tahun 2019 dapat tercapai.

Prediksi harga beras dan jagung domestik memiliki tren meningkat dengan persentase sebesar 4,73% dan 4,2% dalam 10 bulan sampai dengan Desember 2016. Maka ada kemungkinan selisih harga beras domestik dan paritas Thailand atau Vietnam dapat semakin membesar. Apabila disparitas harga ini terlalu tinggi maka dapat terjadi peningkatan penyelundupan beras yang harus diantisipasi.

Prediksi kenaikan harga beras dan jagung ini masih dibawah batas toleransi Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Perdagangan dengan batas 9%. Jadi apabila kenaikan harga pangan ini tidak terlalu tinggi maka penduduk miskin tidak terlalu merasakan dampaknya. Meskipun demikian kebijakan penyaluran rastra (beras sejahtera)/raskin tetap harus dapat terlaksana secara rutin untuk masyarakat yang membutuhkan. Selain itu operasi pasar dan pasar murah dapat terus dilakukan pada saat terjadi kelangkaan atau kenaikan harga beras dan jagung terutama pada saat puasa dan hari besar keagamaan.

Dalam penelitian selanjutnya ada kesempatan untuk membuat Neraca Pangan Pokok dengan memperhitungkan ekspor dan impor, karena berdasarkan data impor beras dan jagung ternyata Indonesia masih sangat tergantung dari produksi negara lain. Rata-rata impor beras dalam 3

tahun terakhir sebesar 726 ribu ton dan rata-rata impor jagung dalam tiga tahun terakhir sebesar 3,2 juta ton. Salah satu penyebab relatif tingginya impor beras dan jagung karena tingginya permintaan jagung dari 15 provinsi yang defisit beras dan 21 provinsi defisit jagung. Impor juga bisa menyebabkan ketidakstabilan harga pengaruh dari pasar internasional (Byerlee et al., 2005). Hal ini terkait dengan variabilitas dari harga paritas impor sehingga ketidakstabilan harga dapat terjadi di pasar domestik atau disebut sebagai (imported instability). DAFTAR PUSTAKA

Arifin, B. 2010. Analisis Ekonomi:

Disasosiasi Produksi, Stok, dan Harga. Nasional.kompas.com. Senin, 29 November 2010.

Aqil, M. 2010. Pengembangan Metodologi untuk Penekanan Susut Hasil pada Proses Pemipilan Jagung. Prosiding

Pekan Serealia Nasional 2010.

Badan Penelitian Tanaman Serealia, Sulawesi Selatan, 2010.

Awika, J.M. 2011. Major Cereal Grains Production and Use Around the World. American Chemical Society

Symposium Series, Soil and Crop

Science Department, Nutrition and Food Science Department, USA. Byerlee, D., Jayne, T. S. and Myers, R.

2005. Managing Food Price Risks

and Instability in an Environment of Market Liberalization. World Bank,

Washington, DC.

BPS. 2013. Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Katalog BPS: 2101018,

Bappenas, BPS, dan UNFPA,

Jakarta.

BPS. 2015. Produksi Padi Menurut Provinsi

(ton), 1993-2015. Laporan dari

Badan Pusat Statistik.

https://www.bps.go.id/linkTableDina mis/view/id/865(diakses 9 Februari 2016).

Detik. 2016. Kementan Sebut Ada Jagung

Impor Ilegal, Ini Respons Pengusaha

Pakan Ternak. 29 Januari.

http://finance.detik.com/read/2016/01 /29/115502/3130316/4/kementan-

(13)

sebut-ada-jagung-impor-ilegal-ini-Estimasi Ketersediaan dan Fluktuasi Harga beras dan Jagung, Kumara Jati

vi espons-pengusaha-pakan-ternak (diakses

23 Juni 2016).

Durbin, J dan Koopman, S.J. 2001. Time Series Analysis by State Space

Methods. Oxford University Press.

FAO. 2001. Human Energy Requirements.

Report of a Joint FAO/WHO/UNU Expert Consultation, Rome, Food and

Agriculture Organization, 17-24

October 2001.

FAO. 2002. Training in the Preparation of

Food Balance Sheets. Paper

No.5Food Balance Sheets History, Sources, Concepts and Definitions,

Food and Agriculture Organization.

Harvey, A.C. dan Peters, S. 1990.

Estimating Procedurs for Structural Time Series Models. Journal of

Forecasting, Vol.9, 89-108.

Harvey, A.C. dan Shephard, N. 1993.

Structural Time Series Models.

Handbook of Statistics, Vol.11, Elsevier Science.

Kementan. 2014. Kementerian Pertanian Prediksi Tahun Ini Surplus Beras 4,2 Juta Ton. Laporan dari Kementerian Pertanian.

Kementan. 2015. Pronosa Produksi Padi dan Jagung Tahun 2016. Laporan dari Direktorat Budidaya Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian.

Naranpanawa, A. & Bandara, J.S. (2012). “Poverty and Growth Impacts of High Oil Prices: Evidence From Sri Lanka”.

Energy Policy xx (2012) xx-xx

.

USDA. 2010. MY2010/2011 Rice and Corn Main-Crops Back on Track. Report of

Global Agricultural Information

Network, USDA.

Wood, B.D.K., Nelson, C.H., & Nogueira, L. 2012. Poverty Effects of Food Price

Escalation: The Importance of

Substitution Effects in Mexican

Households. Food Policy 37 (2012) 77-85.

Gambar

Tabel 1. Penghitungan Neraca Pangan Pokok Beras (Ribu Ton)
Gambar 1. Perkembangan Harga Beras dan Pengaruh Komponen Trend dan Musiman  Tabel 3. Tabel Estimasi Harga Pangan Pokok Beras dan Jagung (Rp/kg)
Gambar 2. Perkembangan Harga Jagung dan   Pengaruh Komponen Trend, Musiman serta Irregularities

Referensi

Dokumen terkait

(menggantikan) bahan pangan karbohidrat lain yang berasal dari beras, jagung dan gandum. Kentang termasuk kelompok lima besar makanan pokok dunia, selain gandum, jagung, beras,

Peneliti hanya berdasarkan nilai total ekspor dan impor Indonesia terhadap komoditi unggulan, sehingga diharapkan untuk penelitian selanjutnya untuk melihat lebih

dampak impor beras terhadap ketahanan pangan bagi masyarakat Indonesia berdasarkan Agreement on Agriculture (AoA) dalam pencapaian liberalisasi. perdagangan, sepengetahuan

Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat dari neraca perdagangan luar negeri (ekspor dikurangi impor) komoditas pertanian yang meliputi sub

Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat dari neraca perdagangan luar negeri (ekspor dikurangi impor) komoditas pertanian yang meliputi

Neraca kegiatan ekspor dan impor kitchen set Perancis yang defisit menunjukkan bahwa Perancis lebih banyak membeli daripada menjual kitchen set. Negara pemasok

Dan yang akan diuraikan dalam penelitian ini adalah teori dan studi empiris mengenai total nilai ekspor, impor, neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia mulai tahun

Neraca kegiatan ekspor dan impor lantai kayu Perancis yang defisit menunjukkan bahwa Perancis lebih banyak membeli daripada menjual produk lantai kayu. Negara