• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. Menurut Nana Syaodih (2012: 53) Pendekatan yang digunakan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. Menurut Nana Syaodih (2012: 53) Pendekatan yang digunakan"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan

Menurut Nana Syaodih (2012: 53) Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Pendekatan kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi objektivitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statisik, struktur dan percobaan terkontrol.

B. Jenis dan Desain Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 3) Penelitian yang dilakukan ini merupakan jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dimaksud untuk menyelidiki keadaan, kondisi atau hal-hal lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya dipaparkan dalam dalam bentuk laporan penelitian. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang paling sederhana, dibandinngkan dengan penelitian-penelitian yang lain, karena dalam penelitian ini tidak melakukan apa-apa terhadap obejak atau wilayah yyang diteliti.

C. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul yang terletak di Senggotan, Tirtonirmolo, Kasihan Bantul.

(2)

D. Populasi Dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan subjek peneitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Studi atau peelitiannya juga disebut studi populasi atau studi sensus (Arikunto, 2010: 173). Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa siswi yang kedua orang tuanya telah bercerai. Sedangkan sampelnya peneliti memilih siswa siswi yang menjadi korban perceraian orang tuanya yang berjumlah sebanyak 40 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan sampel jenuh. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 85) sampel jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.

E. Metode Pengumpulan Data 1. Tes Tertulis

Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilain. (Sudijono, 2001: 66) Penggolongan Tes yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan Tes Formatif. Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

Tes formatif ini biasa dilaksanakan di tengah-tengah perjalanan program pengajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan

(3)

pelajaran atau sub pokok bahasan berakhir atau dapat diselesaikan. Tes formatif biasa disebut dengan istilah “Ulangan Harian (Sudijono, 2001: 71) Tes formatif dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur prestasi belajar ISMUBA. Tes prestasi Belajar ISMUBA dalam penelitian ini merupakan bentuk pilihan ganda dengan 4 alternatif jawaban. Tes pengetahuan keagamaan dibuat sendiri dengan mengacu pada indikator pada teori.

2. Angket/ Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bial peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. (Sugiyono, 2012: 142)

Tabel 3.1

Kisi-Kisi Motivasi Belajar

No Variabel Indikator Pertanyaan No. Jumlah

+ _ 1. Motivasi Belajar Hasrat dan keinginan untuk berhasil 1,2,4 3,5 5 2. Ulet dalam menghadapi kesulitan 6,8,9,1 1 7,10 6 3. Dorongan kebutuhan belajar 12 13,14,15, 1 6 5

(4)

Pada kuisioner motivasi belajar, pernyataan dan penskorannya adalah sebagai berikut:

a. Untuk pernyataan positif yang menjawab sangat setuju diberi selalu diberi skor 4, yang menjawab sering diberi skor 3, yang menjawab kadang-kadang diberi skor 2, dan yang menjawab tidak pernah diberi skor 1.

b. Untuk pernyataan negatif yang menjawab sangat setuju diberi selalu diberi skor 1, yang menjawab sering diberi skor 2, yang menjawab kadang-kadang diberi skor 3, dan yang menjawab tidak pernah diberi skor 4.

3. Observasi

Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.

Teknik pengumpulan data dengan obeservasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja gejala-gejala alam bila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2012: 145) 4. Lebih senang bekerja mandiri 17,18,1 9 20,21 5 5. Ketekunan dalam belajar 22,25 23,24 4 Total 25

(5)

Observasi ini dilakukan untuk mengamati dan membuat catatan deskrispsi terhadap latar belakang dan semua kegiatan yang terkait dengan pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar ISMUBA pada anak yang orang tuanya bercerai di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul, untuk memperoleh data yang akurat.

Teknik observasi dalam penelitian ini dilakukan pengamatan secara langsung di lapangan, dengan mencari informasi dari informan yaitu siswa siswa di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul yang orang tuanya mengalami perceraian, teman satu kelas siswa tersebut , dan guru atau wali kelas. Adapun yang diobservasi yaitu perilaku siswa yang merupakan anak korban perceraian selama di sekolah dan interaksi dengan teman sebayanya maupun dengan guru atau wali

kelasnya. Untuk melengkapi hasil observasi, peneliti juga

menggunakan data penelitian dengan tidak mengabaikan kemungkinan penggunaan sumber non manusia seperti dokumen dan catatan-catatan dengan tujuan untuk melengkapi data hasil wawancara.

4. Wawancara

Untuk melengkapi pengumpulan data yang tidak dapat tercover melalui angket dilakukan wawancara sebagai pendalaman datam terutama pengolahan data dengan guru BP, wali kelas kepala sekolah dan tenaga pendidik lainya.

Interviuw yang sering juga disebut dengan wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memeperoleh

(6)

informasi dari terwawancara wawancara digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang.(Arikunto, 2010: 198)

Dalam mewawancarai ini teknik digunakan adalah pembicaraan informal, yang mana mempunyai arti bahwa antara pewawancara dengan yang diwawancara terjalin hubungan yang sewajar-wajarnya saja, dengan melihat kondisi yang sesuai.Jadi susunanya kelihatan lebih santai dan berjalan seperti pembicaraan sehari-hari. Dan pertanyaan yang diajukan sesuai dengan melihat hal yang pokok saja untuk dipertanyakan.

Wawancara ini tukukan pada siswa yang merupakan korban perceraian dari orangtuanya ,guru pembimbing dan guru ISMUBA. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara yang terstruktur dan wawancara tidak struktur. Wawancara terstruktur mempunyai tujuan untuk mengetahui segala bentuk yang sifatnya mendalam, sebagaimana yang telah dirumuskan sebelumnya sesuai dengan permasalahan yang diterapkan. Sedangkan wawancara yang tidak terstruktur merupakan suatu yang mempunyai sifat bebas (santai) dan dapat memberikan kesempatan seluas-luasnyaa kepada informan untuk memberikan keterangan yang diperlukan.

(7)

F. Definisi Konsep dan Variabel

Variabel penelitian adalah “segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya” (Sugiyono, 2012: 60). Jadi yang dimaksud variabel penelitian dalam penelitian ini adalah segala sesuatu sebagai objek penelitian yang ditetapkan dan dipelajari sehingga memperoleh informasi untuk menarik kesimpulan.

Terdapat dua variabel yang diuji dalam penelitian ini yaitu Motivasi Belajar dan Prestasi Belajar.

1. Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2004) Seseorang yang memiliki motivasi belajar tinggi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).

b. Ulet menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).

c. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah. d. Lebih senang bekerja mandiri.

e. Cepat bosan pada tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang efektif.

f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).

(8)

g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini itu. h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal. 2. Prestasi Belajar

Menurut Tohirin 2011 ada beberapa aspek yang harus dipenuhi apabila seseorang mempunyai pretasi belajar yang tinggi diantaranya yaitu:

a. Prestasi Belajar Kognitif

Tipe prestasi belajar pengetahuan merupakan tingkatan tipe prestasi belajar yang paling rendah. Namun demikian tipe prestasi belajar ini penting sebagai prasyarat untuk menguasai dan mempelajari tipe prestasi belajar yang lebih tinggi.

b. Prestasi Belajar Afektif

Bidang afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Namun para guru cenderung lebih memperhatikan atau tekanan pada bidang kognitif semata.

c. Prestasi Belajar Bidang Psikomotor

Dalam praktik belajar mengajar di sekolah-sekolah termasuk madrasah dewasa ini, tipe-tipe prestasi belajar kognitif cenderung lebih dominan dari tipe-tipe afektif dan psikomotor

(9)

G. Validitas dan Reliabilitas

1. Analisis Butir Soal (Item Analysis)

Analisis item dalam penelitian dilakukan untuk menganalisis butir soal tes prestasi belajar Ismuba. Analsis item dalam penelitian ini meliputi

a. Taraf Kesukaran

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya.

Keterangan :

P : Indeks Kesukaran

Np : Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan benar

JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes

Menurut ketentuan yang sering diikuti, indeks kesukaran sering di klasifikasikan sebagai berikut :

Soal dengan P 0,00 – 0,30 adalah soal sukar Soal dengan P 0,31 – 0,70 adalah soal sedang Soal dengan P 0,71 – 1,00 adalah soal mudah.

(10)

Tabel 3.2

Tingkat Kesukaran Item Soal Kelas 7 No

item Banyaknya siswa yang menjawab (N) Banyaknya siswa yang menjawab benar (B) Indeks Kategori 1 10 5 0,50 Sedang 2 10 6 0,60 Sedang 3 10 2 0,20 Sukar 4 10 1 0,10 Sukar 5 10 5 0,50 Sedang 6 10 3 0,30 Sukar 7 10 6 0,60 Sedang 8 10 7 0,70 Sedang 9 10 2 0,20 Sukar 10 10 8 0,80 Mudah 11 10 7 0,70 Sedang 12 10 8 0,80 Mudah 13 10 5 0,50 Sedang 14 10 4 0,40 Sedang 15 10 4 0,40 Sedang 16 10 7 0,70 Sedang 17 10 6 0,60 Sedang 18 10 4 0,40 Sedang 19 10 2 0,20 Sukar 20 10 6 0,60 Sedang 21 10 5 0,50 Sedang 22 10 6 0,60 Sedang 23 10 4 0,40 Sedang 24 10 2 0,20 Sukar 25 10 5 0,50 Sedang 26 10 4 0,40 Sedang 27 10 7 0,70 Sedang 28 10 7 0,70 Sedang 29 10 2 0,20 Sukar 30 10 8 0,80 Mudah 31 10 6 0,60 Sedang 32 10 7 0,70 Sedang

(11)

33 10 5 0,50 Sedang

34 10 5 0,50 Sedang

35 10 5 0,50 Sedang

Berdasarkan table di atas dapat dijelaskan bahwa hasil yang ditunjukkan nomor 10, 12 dan 30 menunjukkan butir soal yang dikategorikan yang termasuk kategori mudah

Tabel 3.3

Tingkat Kesukaran Item Soal Kelas 8 No

item Banyaknya siswa yang menjawab (N) Banyaknya siswa yang menjawab benar (B) Indeks Kategori 1 15 6 0,40 Sedang 2 15 12 0,80 Mudah 3 15 8 0,53 Sedang 4 15 11 0,73 Sedang 5 15 9 0,60 Sedang 6 15 12 0,80 Sedang 7 15 8 0,53 Sedang 8 15 11 0,73 Sedang 9 15 10 0,66 Sedang 10 15 6 0,40 Sedang 11 15 4 0,26 Sukar 12 15 11 0,73 Sedang 13 15 3 0,20 Sukar 14 15 5 0,33 Sedang 15 15 10 0,66 Sedang 16 15 12 0,80 Sedang 17 15 6 0,40 Sedang 18 15 8 0,53 Sedang 19 15 7 0,46 Sedang 20 15 3 0,20 Sukar 21 15 7 0,46 Sedang 22 15 5 0,33 Sedang 23 15 14 0,93 Mudah 24 15 4 0,26 Sukar 25 15 12 0,80 Mudah 26 15 10 0,66 Sedang 27 15 8 0,53 Sedang

(12)

28 15 8 0,53 Sedang 29 15 12 0,80 Mudah 30 15 10 0,66 Sedang 31 15 6 0,40 Sedang 32 15 11 0,73 Mudah 33 15 9 0,60 Sedang 34 15 4 0,26 Sukar 35 15 8 0,53 Sedang

Berdasarkan table di atas dapat dijelaskan bahwa hasil yang ditunjukkan nomor 2,23,25,29 dan 32 menunjukkan butir soal yang dikategorikan yang termasuk kategori mudah

Tabel 3.4

Tingkat Kesukaran Item Soal Kelas 9 No item Banyaknya siswa yang menjawab (N) Banyaknya siswa yang menjawab benar (B) Indeks Kategori 1. 15 12 0,80 Mudah 2. 15 10 0,66 Sedang 3. 15 4 0,26 Sukar 4. 15 10 0,66 Sedang 5. 15 11 0,73 Mudah 6. 15 7 0,46 Sedang 7. 15 10 0,73 Mudah 8. 15 11 0,73 Mudah 9. 15 6 0,40 Sedang 10. 15 6 0,40 Sedang 11. 15 11 0,73 Mudah 12. 15 8 0,53 Sedang 13. 15 9 0,60 Sedang 14. 15 6 0,40 Sedang 15. 15 10 0,66 Sedang 16. 15 12 0,80 Mudah 17. 15 11 0,73 Mudah 18. 15 9 0,60 Sedang 19. 15 8 0,53 Sedang 20. 15 10 0,66 Sedang 21. 15 8 0,53 Sedang 22. 15 12 0,80 Mudah 23. 15 6 0,40 Sedang 24. 15 9 0,60 Sedang

(13)

25. 15 10 0,66 Sedang 26. 15 8 0,53 Sedang 27. 15 11 0,73 Mudah 28. 15 10 0,66 Sedang 29. 15 8 0,53 Sedang 30. 15 12 0,80 Mudah 31. 15 11 073 Mudah 32. 15 11 0,73 Mudah 33. 15 8 0,53 Sedang 34. 15 7 0,46 Sedang 35. 15 9 0,60 Sedang

Berdasarkan table di atas dapat dijelaskan bahwa hasil yang ditunjukkan nomor 5,8,10,11,16,17,22,27,30,31, dan 32 menunjukkan butir soal yang dikategorikan 0,71 – 1,00 yang termasuk kategori mudah. b. Indeks Daya Beda

Daya pembeda soal, adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah Di mana :

J = Jumlah peserta tes

JA = Banyaknya peserta kelompok atas

JB = Banyaknya peserta kelompok bawah

BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar

(14)

PA = Proporsi peserta kelompok atas menjawab soal dengan benar

PB = Proporsi peserta kelompok bawah menjawab soal dengan benar

Klasifikasi Daya Pembeda

0,40 – atau lebih : Soal Baik

0,30 – 0,39 : Soal diterima

0,20 – 0,29 : Soal Diperbaiki

0,00 – 0,19 : Soal ditolak

Tabel 3.5

Indek Daya Beda Item Soal Kelas 7 No Item Uji Item Soal Kategori Soal No Item Uji Item Soal Kategori Soal

1. 0,778 Soal baik 21 0,778 Soal baik

2. 0,739 Soal baik 22 0,739 Soal baik

3. 0,599 Soal baik 23 0,927 Soal baik

4. 0,463 Soal baik 24 0,663 Soal baik

5. 0,778 Soal baik 25 0,778 Soal baik

6. 0,799 Soal baik 26 0,927 Soal baik

7. 0,479 Soal baik 27 0,704 Soal baik

8. 0,019 Soal ditolak 28 0,019 Soal ditolak

9. 0,567 Soal baik 29 0,599 Soal baik

10. 0,644 Soal baik 30 0,644 Soal baik

11. 0,064 Soal ditolak 31 0,224 Soal diperbaiki

12. 0,064 Soal ditolak 32 0,131 Soal ditolak

13. 0,727 Soal baik 33 0,727 Soal baik

14. 0,328 Soal diterima 34 0,497 Soal baik

15. 0,120 Soal ditolak 35 0,370 Soal diterima

16. 0,231 Soal diperbaiki

17. 0,687 Soal baik

18. 0,016 Soal ditolak

19. 0,599 Soal baik

(15)

Berdasarkan tabel diatas terdapat item soal nomor 8,11,12,15,18,28 dan 32 merupakan item soal dalam kategori ditolak, oleh karena itu maka butir item soal noor tersebut harus dikeluarkan atau dibuang.

Tabel 3.6

Indek Daya Beda Item Soal Kelas 8 No Item Uji Item Soal Kategori Soal No Item Uji Item Soal Kategori Soal

1. 0,787 Soal baik 19 0,721 Soal baik

2. 0,165 Soal ditola 20 0,028 Soal ditolak

3. 0,236 Soal diperbaiki 21 0,766 Soal baik

4. 0,681 Soal baik 22 0,569 Soal baik

5. 0,202 Soal diperbaiki 23 0,280 Soal diperbaiki

6. 0,330 Soal diterima 24 0,390 Soal diperbaiki

7. 0,869 Soal baik 25 0,248 Soal diperbaiki

8. 0,241 Soal diperbaiki 26 0,016 Soal ditolak

9. 0,623 Soal baik 27 0,736 Soal baik

10. 0,765 Soal baik 28 0,493 Soal baik

11. 0,291 Soal diterima 29 0,138 Soal ditolak

12. 0,382 Soal diterima 30 0,647 Soal baik

13. 0,587 Soal baik 31 0,022 Soal ditolak

14. 0,779 Soal baik 32 0,133 Soal ditolak

15. 0,506 Soal baik 33 0,652 Soal baik

16. 0,165 Soal ditolak 34 0,689 Soal baik

17. 0,472 Soal baik 35 0,515 Soal baik

18. 0,869 Soal baik

Berdasarkan tabel diatas terdapat item soal nomor 2,16,20,26,29,31 dan 32 merupakan item soal dalam kategori ditolak, oleh karena itu maka butir item soal noor tersebut harus dikeluarkan atau dibuang.

(16)

Tabel 3.7

Indek Daya Beda Item Soal Kelas 9 No Item Uji Item Soal Kategori Soal No Item Uji Item Soal Kategori Soal

1. 0,578 Soal baik 19 0,353 Soal diterima

2. 0,755 Soal baik 20 0,432 Soal baik

3. 0,072 Soal ditolak 21 0,637 Soal baik

4. 0,501 Soal baik 22 0,687 Soal baik

5. 0,245 Soal diperbaiki 23 0,481 Soal baik

6. 0,369 Soal diterima 24 0,409 Soal baik

7. 0,015 Soal ditolak 25 0,224 Soal diperbaiki

8. 0,343 Soal diterima 26 0,462 Soal baik

9. 0,592 Soal baik 27 0,467 Soal baik

10. 0,220 Soal diperbaiki 28 0,224 Soal diterima

11. 0,125 Soal ditolak 29 0,527 Soal baik

12. 0,287 Soal diperbaiki 30 0,387 Soal terima

13. 0,676 Soal baik 31 0,051 Soal ditolak

14. 0,258 Soal diperbaiki 32 0,076 Soal ditolak

15. 0,478 Soal baik 33 0,637 Soal baik

16. 0,496 Soal baik 34 0,347 Soal diterima

17. 0,639 Soal baik 35 0,587 Soal baik

18. 0,076 Soal ditolak

Berdasarkan tabel diatas terdapat item soal nomor 3,7,11,18,31 dan 32 merupakan item soal dalam kategori ditolak, oleh karena itu maka butir item soal nomor tersebut harus dikeluarkan atau dibuang.

2. Validitas Instrumen

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalitan atau kesahihan suatu instrument. Alat ukur di katakan valid jika alat ukur itu dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur.Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi.

(17)

Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Dalam penelitian ini dilakukan uji validitas internal, yang nantinya akan tercapai apabila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen secara keseluruhan, sehingga menghasilkan sebuah instrumen yang tidak menyimpang dari fungsi instrumen.

Pengujian validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara analisis butir. Untuk menguji validitas setiap butir maka skor-skor yang ada pada butir yang dimaksud dikorelasikan dengan skor total, menggunakan teknik korelasi produk moment (Arikunto, 2010: 211). Rumus korelasi yang digunakan adalah sebagai berikut:

ri =

( ̅ ) ̅ √∑ ̅ ∑ ̅

Keterangan:

Xij = Skor responden ke j pada butir pertanyaan i

̅ = Rata-rata skor butir pertanyaan i

tj = Total skor seluruh pertanyaan untuk responden ke-j

̅ = Rata-rata total skor

ri = Korelasi antara butir pertanyaan ke-i dengan total skor Apabila koefisien korelasi item-total tersebut dihitung dari data suatu instrumen yang berisi sedikit item maka sangat besar kemungkinannya akan didapat koefisien korelasi yang lebih tinggi daripada yang sebenarnya (overestimated) dikarenakan

(18)

adanya overlap antara skor item dengan skor instrumen. Overestimasi ini terjadi dikarenakan pengaruh kontribusi skor masing-masing item dalam ikut menentukan besarnya skor instrumen (Azwar, 2012: 83). Untuk itu, agar diperoleh informasi yang lebih akurat mengenai korelasi antara item dengan instrumen, diperlukan suatu rumusan terhadap efek spurious

overlap.

Untuk koefisien korelasi item-total yang dihitung dengan formula product moment, formula koreksi terhadap efek spurious

overlap adalah : ri(x-i) = x i ix 2 i 2 x i x ix s s r 2 s s s s r    Keterangan :

ri(x-i) = Koefisien korelasi item-total setelah dikoreksi rix = Koefisien korelasi skor item-total sebelum dikoreksi

si = Deviasi standar skor suatu item

sx = Deviasi standar skor total

Batas kritis dari koefisien validitas adalah 0,3. Apabila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besar 0,3 ke atas, maka faktor tersebut merupakan konstruk yang kuat (Sugiyono, 2012: 142)

Uji validitas instrument penelitian yang berupa angket dilakukan di SMP Muhammadiyah Kasihan dengan jumlah responden 40 orang.

(19)

a. Validitas Variabel Motvasi Belajar

Uji valditas variable akan dilakukan pada 30 item pertanyaan. Dengan nilai r tabel = 0,320. Item pertanyaan dinyatakan valid jika r hitung

> r tabel

Tabel 3.8

Hasil Validitas Variabel Motivasi Belajar Uji Coba

Item r hitung r tabel Keterangan

P1 0,594 0,320 Valid P2 0,653 0,320 Valid P3 0,410 0,320 Valid P4 0,410 0,320 Valid P5 0,508 0,320 Valid P6 0,309 0,320 Tidak Valid P7 0,482 0,320 Valid P8 0,425 0,320 Valid P9 0,503 0,320 Valid P10 0,468 0,320 Valid P11 0,632 0,320 Valid P12 0,573 0,320 Valid P13 0,239 0,320 Tidak Valid P14 0,362 0,320 Valid P15 0,590 0,320 Valid P16 0,318 0,320 Tidak Valid P17 0,344 0,320 Valid P18 0,353 0,320 Valid P19 0,554 0,320 Valid P20 0,435 0,320 Valid P21 0,284 0,320 Tidak Valid P22 0,442 0,320 Valid P23 0,722 0,320 Valid P24 0,534 0,320 Valid P25 0,397 0,320 Valid P26 0,161 0,320 Tidak Valid P27 0,386 0,320 Valid P28 0,583 0,320 Valid

(20)

P29 0,380 0,320 Valid

P30 0,616 0,320 Valid

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa perbandingan r hitung dengan r tabel pada variable perceraian orangtua menunjukkan bahwa 5 buah instrument yang tidak valid yaitu item 6,13,16,21,26 karena r hitung < r tabel. Oleh karena nilai hitung yang bernilai negative otomatis tidak valid. Jika masih ada butir yang tidak valid maka dikeluarkan.

b. Hasil Validitas Variabel Motivasi Belajar Tabel 3.9

Uji validitas variable motivasi belajar

Item r hitung R tabel Keterangan

P1 0,594 0,320 Valid P2 0,653 0,320 Valid P3 0,410 0,320 Valid P4 0,410 0,320 Valid P5 0,508 0,320 Valid P6 0,482 0,320 Valid P7 0,425 0,320 Valid P8 0,503 0,320 Valid P9 0,468 0,320 Valid P10 0,632 0,320 Valid P11 0,573 0,320 Valid P12 0,362 0,320 Valid P13 0,590 0,320 Valid P14 0,344 0,320 Valid P15 0,353 0,320 Valid P16 0,554 0,320 Valid P17 0,435 0,320 Valid P18 0,442 0,320 Valid P19 0,722 0,320 Valid P20 0,534 0,320 Valid P21 0,397 0,320 Valid

(21)

P22 0,386 0,320 Valid

P23 0,583 0,320 Valid

P24 0,380 0,320 Valid

P25 0,616 0,320 Valid

3. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrument cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena intrumen tersebut sudah baik.instrumen yang baik tidak akan bersifat tendesius mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu.instrumen yang sudah dipercaya, yang variabel reliabel akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga. Apabila datanya memang benar sesuai dengan kenyataannya, maka beberapa kali pun di ambil, tetap akan sama (Arikunto, 2010: 221)

Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha sebagai berikut :

α = (

) ( ∑

)

Keterangan :

α = Koefisien reliabilitas Cronbach’s Alpha

n = Banyaknya butir pertanyaan

= Varians skor tiap-tiap item = Varians skor total

(22)

Batas kritis untuk tingkat reliabilitas instrumen adalah apabila nilai Cronbach's Alpha lebih dari 0,7 In general,

reliabilities less than 0,60 are considered to be poor, those in the 0,70 range, acceptable, and those over 0,80 good Apabila

didapatkan nilai Cronbach’s Alpha kurang dari 0,60 berarti buruk, sekitar 0,70 diterima dan lebih dari atau sama dengan 0,80 adalah baik. (Umma, 2010: 311)

a. Uji Reliabilitas Variabel Motivasi Belajar

Setelah dinyatakan valid, maka 25 item soal tersebut diuji keandalannya atau reliabilitas.

Tabel 3.10

Hasil Uji Reliabilitas Variabel Motivasi Belajar

Hasil pengujian reliabilitas pada tabel diatas menunjukkan bahwa variable motivasi belajar memiliki nilai cronbach alpha > 0,70 yaitu sebesar 0, 836. Maka dapat disimpulkan bahwa hasil pengkuran data akan diperoleh nilai yang konsisten apabila dilakukan pengukuran dalam waktu dan tempat yang berbeda.

(23)

H. Analisis Data

1. Analisis Deskriptif

Analisis data merupakan kelanjutan dari pengolahan data. Analisis data dilakukan dengan SPSS 16 for windows. Guna membantu pengolahan data agar menghasilkan hitungan yang akurat dan dapat dipercaya untuk mengetahui ada atu tidaknya pengaruh perceraian orang tua dan motivasi belajar terhadap prestasi belajar ISMUBA di SMP Muhammadiyah Kasihan Bantul. Statistic deskriptif untuk menganalisis rumusan masalah nomor 1, dan 2

Dengan rumus sebagai berikut: P = x 100% Keterangan: P = Presentase F = Frekuensi N = Jumlah

100% = Bilangan konstanta (Sudijono, 2015: 43)

Ukuran pemusatan data meliputi nilai rata-rata (median), modus dan median. Sedangkan ukuran penyebaran data meliputi ragam (variance) dan simpangan baku (standar deviasi) ukuran pemusatan data adalah suatu ukutan yang menggambarkan pusat dari kumpulan data yang bisa mewakilinya.

(24)

1. Mean

Mean dari sekelompok (sederetan) angka (bilangan) adalah jumlah dari keseluruhan angka (bilangan) adalah jumlah dari kesluruhan angka (bilangan) yang ada, dibagi dengan banyaknya angka (bilangan) tersebut. Rumusnya adalah sebgaai berikut:

Mx = ∑

Dimana:

Mx = mean yang kita cari

∑X = jumlah dari skor-skor (nilai-nilai) yang ada

N = banykaknya skor-skor itu sendiri

2. Median

Yang dimaksud dengan nilai rata-rata pertengahan atau median ialah suatu nilai atau suatu angka yang membagi suatu distribusi data ke dalam dua bagian yang sama besar. Dengan kata lain, Nilai Rata-rata Pertengahan atau Median adalah nilai atau angka yang di atas nilai atau angka tersebut terdapat 1/2N dan di bawahnya juga terdapat 1/2N . Itulah sebabnya Nilai Posisi Tengah, yaitu nilai yang menunjukkan pertengahan dari suatu distribusi data.

Mdn = ℓ + (

atauMdn = u - (

Dimana:

(25)

Mdn = median

ℓ = batas bawah nyata dari skor yang mengandung median

fkb = frekuensi kumulatif yang terletak di bawah skor yang mengandung median

fi = frekuensi asli

N = number of class

u = batas atas nyata dari skor yang mengandung median

fka = frekuensi kumulatif yang terletak di atas skor yang mengandung media

3. Modus

Modus adalah ukuran rata-rata ketiga yang umumnya dilambangkan dengan Mo.

Modus tidak lain adalah suatu skor atau nilai yang mempunyaifrekuensi aling banyak dengan kata lain, skor atau nilai yang memiliki frekuensi maksimal dalam distribusi data.

Mo = ℓ + ) X i atau Mo = u - ) X i Kerenagan: Mo = modus

= lower limit (batas bawah nyata dari interval yang

mengandung modus)

fa = frekuensi yang terletak di atas interval yang mengandung

(26)

fb = frekuensi yang terletak di bawah interval yang mengandung modus

u = upper limit (batas atas nyata dari interval yang

mengandung modus)

i = interval class (kelas interval)

4. Standar deviasi

Deviasi standar karena deviasi rat-rata yang tadinya memiliki kelemahan, telah dibakukan atau distandarisasikan sehingga memiliki kadar kepercayaan atau reliabilitas yang lebih mantap, oleh karena itu, dalam dunia statsistik deviasi standar mempunyai kedudukan yang sangat penting. Maka rumus umum deviasi standar atau SD ialah sebagai berikut:

SD= ∑

Keterangan :

SD = Deviasi Standar

∑x2

=Jumlah semua deviari, setelah mengalami proses penguadratan terlebih dahulu

N = Number of cases

2. Uji Asumsi Prasyarat

Pengujian asumsi prasyarat dilakukan agar hasil analisis telah memenuhi persyaratan analisis. Pada penelitian ini, analisis data dilakukan dengan regresi ganda dengan dua prediktor, sehingga

(27)

mempersyaratkan data penelitian yang berdistribusi normal, hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yang linier, dan tidak terjadi multikolinieritas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas data dimaksudkan untuk menguji normal tidaknya data sampel (Zuriah, 2001: 201). Data populasi selalu berdistribusi normal karena setiap populasi mempunyai sifat normal. Data sampel hanya dapat digeneralisasikan pada populasi apabila mempunyai sifat normal sebagaimana populasinya. Bila data sampel berdistribusi normal maka pengolahan datanya dapat menggunakan statistik parametrik dan hasil pengolahan data atas sampel dapat digeneralisasikan kepada populasi

Uji normalitas data dilakukan menggunakan Kolmogorov-Smirnov Test, dengan rumus sebagai berikut :

Dhitung = maksimum [Fa (X) – SN (X)] Keterangan :

Fa (X) = Distribusi frekuensi kumulatif teoritis SN (X) = Distribusi frekuensi kumulatif skor

Apabila nilai Kolmogorov-Smirnov-Z lebih besar dari nilai kritis atau nilai p < 0,05, maka dapat diduga bahwa distribusi data adalah tidak normal.

b. Uji Linieritas

Menurut Uji linieritas dimaksdukan untuk menguji apakah model linier yang telah diambil itu betul-betul cocok dengan

(28)

keadaanya ataukah tidak. Jika hasil pengujian mengatakan model linier kurang cocok maka selayaknya harus diambil model lain yang non linier (Sudjana, 2005: 331)

c. Uji Multikolinieritas

Pada dasarnya multikolinieritas adalah adanya suatu hubungan linier yang sempurna (mendekati sempurna) antara beberapa atau semua variabel bebas (Mudrajad, 2007: 98)Pada model regresi ganda, maka tidak boleh terjadi multikoliniritas.

Pengujian multikolinieritas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai VIF (Variance Inflation Factor). Jika nilai VIF membesar maka diduga ada multikolinieritas. Sebagai aturan main (rule of thumb) jika nilai VIF melebihi angka 10 maka dikatakan ada multikolinieritas (Widarjono, 2007: 118)

d. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya. Artinya, setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model Analisis regresi mengasumsikan varians residual yang

homogen (homoskedastisitas), atau tidak boleh terjadi

(29)

e. Uji Autokorelasi

Autokorelasi adalah korelasi (hubungan) yang terjadi di antara anggota-anggota dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkaian waktu (seperti dalam runtun waktu atau time series data) atau yang tersusun dalam rangkaian ruang (seperti data cross sectional). (Sumodiingrat, 2002: 231)

Dalam penelitian ini, pengujian autokorelasi dilakukan dengan statistik d dari Durbin-Watson. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

d =

      N t 1 t 2 t N t 2 t 2 1 t t e ) e e ( Keterangan :

d = Harga statistik Durbin-Watson et = Residual

Hipotesis nihil (Ho) yang diuji dalam penelitian ini

adalah tidak ada autokorelasi atau autokorelasi

positif/negatif (Ho*) dalam model penelitian. 3. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik regresi sederhana dengan dua prediktor. Adapun persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut. Pada tahap uji hipotesis, maka menarik kesimpulan dengan memperhatikan signifikan dan aturan peyimpulannya sebagai berikut. Jika Sig < 0,01, ada

(30)

pengaruh positif dan dinyatakan sangat signifikan. Jika sig < 0,01 Sig <0,05, ada pengaruh positif dan dinyatakan signifikan. Jika Sig > 0,05 tidak ada pengaruh dan dinyatakan tidak signifikan. Rumus sederhana adalah sebagai berikut:

Y = a + bx

Dimana Y adalah variabel dependen, X adalah variabel Independen, a adalah konstanta, dan b adalah koefisien dari X.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk melakukan analisis regresi sederhana, yaiut : Pertama, ANOVA untuk melihat signifikamsi dari regresi. Kedua, Coefficient untuk melihat konstanta (a) dan Koefisien (b). ketiga, Model Summary untuk melihat R dan R Suare (R Kuadrat).

Referensi

Dokumen terkait

1. Menelaah seluruh data yang tersedia dari jejaring Facebook. Mereduksi data yang dilakukan dengan memilih tuturan-tuturan yang diprediksi memiliki implikatur dan

pertama yang dimbil adalah mengubah data kualitatif menjadi kuantitatif. Pada tahapan ini data yang terkumpul kemudian dimasukkan dalam tabel distribusi frekuensi

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang bekerja dengan angka, yang datanya berwujud bilangan (skor atau nilai, peringkat, atau frekuensi) yang dianalisis

(Wiyono, 2011:149) mengungkapkan bahwa model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pengujian normalitas menggunakan grafik P-P

Uji distribusi normal adalah uji untuk mengukur apakah data memiliki distribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (Sujianto, 2009). Salah

Uji Normalitas data digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel terikat dan variabel bebas memiliki distribusi normal dan tidak, dapat

Selain itu instrumen yang baik adalah instrumen yang cukup dapat dipercaya atau reliabel .” Untuk mengetahui validitas dan reabilitas instrumen dalam penelitian

Modus data tidak berkelompok Modus Mod : Nilai yang mempunyai frekuensi tertinggi, atau nilai yang paling sering muncul dalam sekelompok data.. Unimodus , jika suatu distribusi data