HUBUNGAN ANTARA TINGGI PUNDAK DAN PANJANG BADAN
TERHADAP KECEPATAN LARI KUDA PACU INDONESIA (KPI)
PADA KUDA KELAS DERBY
THE RELATIONSHIP THE HEIGHT AND THE LENGHT OF ITS BODY
AGAINST RUNNING SPEED RACE KUDA PACU INDONESIA (KPI)
IN A CLASS OF DERBY HORSE
Malda Ashril*, Sri Bandiati**, Dwi Cipto Budinuryanto**
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
*Alumni Fakultas Peternakan Unpad Tahun 2015 **Staf Pengajar Fakultas Peternakan Unpad
e-mail: [email protected]
Abstrak
Kecepatan lari kuda sangat bergantung pada berbagai faktor. Faktor yang sangat menentukan adalah tinggi pundak dan panjang badan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tinggi pundak dan panjang badan terhadap kecepatan lari Kuda Pacu Indonesia (KPI) kelas Derby. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data secara purposive sampling. Data yang diperoleh melalui pengamatan selanjutnya dicatat ke dalam lembar isian data ukuran-ukuran tubuh dan dianalisis. Gambaran ukuran tubuh tinggi pundak, panjang badan dan kecepatan lari Kuda Pacu Indonesia (KPI) kelas Derby pada Pertiwi Cup berturut-turut adalah sebesar 152,36 ± 0,31 cm,152 ± 0,33 cm dan 10,89 ± 0,03 m/detik.
Model persamaan untuk kecepatan lari dengan tinggi pundak dan panjang badan adalah 𝑌 = 7,47 – 0,51 x1 + 0,53 x2 dimana 𝑌 adalah kecepatan lari, x1 adalah tinggi pundak dan x2
adalah panjang badan. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,74. Kata Kunci: Tinggi Pundak, Panjang Badan, Kecepatan Lari.
Abstract
Speed race of horse was very dependent on various factors. Very important factor was the height of shoulders and the body length. The research aims to take out the relationship between the height of shoulders and the body length run against the speed race of Kuda Pacu Indonesia (KPI) class Derby. This research method was used descriptive. Data collection techniques purposively of sampling. Data analysed using descriptive statistic observation next noted into sheets of stuffing data body measurements and analyzed. The height of shoulders, body length and speed race of a Kuda Pacu Indonesia (KPI) class derby on successive Pertiwi Cup was worth 152,36 ± 0,31 cm , 152 ± 0,33 cm and 10,89 ± 0,03 m/second. A model of for speed race was 𝑌 = 7,47 – 0,51 x1 + 0,53 x2 where 𝑌 is the speed race, x1 is the height of shoulders and x2 is the body length. The value of the coefficients determined (R2) was 0,74. Keywords: The Height of Shoulders, Body Length, Speed Race.
Pendahuluan
Pengembangan kuda pacu di Indonesia secara intensif baru dimulai pada tahun 1966 oleh asosiasi perkudaan. Pengembangan tersebut hanya terbatas pada kuda pacu dan olahraga. Pordasi sebagai perkumpulan olahraga berkuda di Indonesia, telah banyak melakukan upaya meningkatkan kualitas kuda pacu yang baik, tetapi usaha pembibitan menggunakan kuda lokal saja tidak cukup. Pada tahun 1968 dilakukan impor kuda pejantan Thoroughbred untuk
disilangkan dengan kuda betina (poni) asal Sumba, guna mendapatkan “Kuda Pacu Indonesia” yang mempunyai ciri Indonesia dan berprestasi Internasional dengan proporsi darah 87,5 % Thoroughbred 2,5 % lokal. Sejak Musyawarah Nasional Pordasi 1976, telah diputuskan bahwa untuk meningkatkan tinggi pundak menjadi diatas 150 cm dan memperbaiki sifat pacu lainnya, dilakukan persilangan antara kuda lokal Sumba dengan kuda Thoroughbred, dengan metode persilangan Grading Up. Diputuskan bahwa Kuda Pacu Indonesia (KPI) adalah kuda hasil generasi 3 dan generasi 4 atau hasil perkawinan antar generasi 3 dan generasi 4. Perkawinan silang ini telah banyak dilakukan dengan harapan kuda hasil perkawinan tersebut dapat meningkat kualitas genetiknya sehingga dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Tahun 1996 merupakan puncak keberhasilan dari pembentukan Kuda Pacu Indonesia dengan diterbitkannya Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Kuda Pacu Indonesia dengan nomor registrasi SNI 01-4226-1996. Pemilihan kuda Thoroughbred sebagai pejantan dilakukan karena bangsa Thoroughbred merupakan bangsa kuda pacu yang mempunyai kemampuan tinggi dalam kecepatan berlari (Blakely dan Bade, 1991). Kuda Thorougbred merupakan kuda yang terkenal sebagai kuda pacu tercepat di dunia, sehingga hampir di semua arena pacuan kuda, kuda
Thorougbred menjadi juara (Kidd, 1995). Adapun kuda lokal yang paling banyak disilangkan
dengan kuda Thorougbred adalah kuda Sandel yang memiliki daya tahan terhadap iklim tropis, kaki yang cukup kuat, intelegensia yang tinggi, dan kecepatan lari yang baik (Soehardjono, 1990).
Pada pacuan kuda di Indonesia pembagian kelas menurut peraturan pacuan dan petunjuk pelaksanaan kejuaraan nasional pacuan kuda terbagi berdasarkan umur dan berdasarkan tinggi pundak (PORDASI, 2011). Kuda Pacu Indonesia memiliki banyak kelas, antara lain: Pemula, Perdana, Remaja, Maeden Class, Handicap dan Derby. Kelas Derby merupakan kelas pacuan kuda yang berumur 4 tahun. Kelas ini merupakan kelas bergengsi karena merupakan ajang sebelum kuda menginjak usia dewasa dan masuk dalam kategori kuda pacu berdasarkan umur.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan lari yaitu tinggi pundak dan panjang badan. Keduanya dapat digunakan sebagai variabel yang paling menentukan kecepatan lari dari kuda yang akan diteliti. Tinggi pundak adalah tinggi pundak tertinggi tegak lurus sampai tanah. Tinggi pundak pada kuda pacu memiliki hubungan dengan kecepatan lari karena tinggi pundak akan menentukan besarnya langkah kaki pada kuda. Semakin tinggi pundak kuda pacu akan semakin cepat pula kecepatan larinya jika didukung oleh latihan yang baik. Panjang badan merupakan faktor penunjang kecepatan kuda, karena kuda yang baik memiliki ukuran panjang
badan sama dengan tinggi pundak. Cara mengukur panjang badan yaitu dengan mengukur bagian depan dibawah leher sampai bagian belakang kuda.
Kondisi tersebut yang mendasari penelitian hubungan kecepatan lari dengan panjang badan dan tinggi pundak. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tentang hubungan antara tinggi pundak dan panjang badan terhadap kecepatan lari Kuda Pacu Indonesia (KPI) pada kuda kelas
Derby.
Bahan danMetode
Objek Penelitian
Objek penelitian adalah Kuda Pacu Indonesia (KPI) yang diamati dan diukur tinggi pundak, panjang badan dan kecepatan lari. Kuda yang digunakan adalah 25 ekor sampel kuda kelas Derby berumur 4 tahun yang mengikuti kejuaraan Pertiwi Cup, di Pacuan Kuda Pulomas, Jakarta.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Teknik pengumpulan data secara purposive sampling. Data yang diperoleh melalui pengamatan selanjutnya dicatat ke dalam lembar isian data ukuran-ukuran tubuh dan dianalisis.
1. Prosedur Penelitian
Data yang diambil adalah data yang memiliki catatan yang lengkap. Data tersebut selanjutnya dikumpulkan, disusun dan diolah.
(1) Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada seluruh kuda peserta Pertiwi Cup kelas Derby (umur sekitar 4 tahun) yang dilombakan di lapangan pacuan kuda Pulomas, Jakarta. Pengambilan data telah dilakukan pada saat latihan serta pada saat kejuaraan dilaksanakan. Untuk pengukuran tinggi pundak dan panjang badan dilakukan 1 minggu sebelum kejuaraan. Untuk pengukuran kecepatan lari dilakukan pada saat kuda sedang melakukan sprint pada jarak 1600 m, dengan jarak (meter) dibagi dengan waktu (detik) yang dibutuhkan kuda sejak dilepaskan dari kandang pacu (gate) sampai garis finish.
(2) Penyusunan Data
Data ditabulasikan menggunakan software microsoft office excel yang dimulai dari nomor, nama kuda, tinggi pundak, panjang badan, jarak, waktu, dan kecepatan lari.
(3) Pengolahan Data
Data yang diperoleh melalui pengamatan selanjutnya dicatat ke dalam lembar isian data ukuran-ukuran tubuh dan dianalisis. Data ditabulasikan ke dalam program untuk menghitung analisis korelasi, analisis regresi linier berganda untuk menduga bentuk hubungan tinggi pundak dan panjang badan terhadap kecepatan lari.
2. Peubah Yang Diukur
Peubah yang diukur dalam penelitian adalah : (1) Tinggi Pundak (cm)
Merupakan puncak tertinggi pundak sampai ke tanah yang diukur menggunakan tongkat ukur.
(2) Panjang Badan (cm)
Merupakan jarak garis lurus dari Point of Shoulder (titik bahu) sampai Point of Buttock (pangkal ekor) diukur dengan pita ukur.
(3) Kecepatan (m/detik)
Merupakan jarak (meter) dibagi dengan waktu (detik) yang dibutuhkan kuda sejak dilepaskan dari kandang pacu (gate) sampai garis finish.
3. Analisis Statistik
Data kuda, tinggi pundak, panjang badan dan kecepatan lari kuda yang telah didapat kemudian dikumpulkan dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi dan analisis regresi serta metode-metode statistika.
Analisis yang digunakan meliputi : - Rata-rata
𝑥 = 𝑥𝑖𝑛
Keterangan : 𝑥𝑖 = Jumlah dari semua harga x
n = Banyaknya sampel
𝑖 = 1,2,..,25
𝑥
= Rata-rata sampel
- Nilai maksimum merupakan data yang mempunyai nilai paling besar - Nilai minimum merupakan data yang mempunyai nilai paling kecil - Simpangan Baku (𝑠)
𝑠= 𝑥𝑖−𝑥 2 𝑛−1
Keterangan : 𝑠 = Simpangan Baku
𝑥
= Rata-rata sampel - Standar Eror (SE)
SE = 𝑆 𝑛
Keterangan : SE = Standar Eror 𝑠 = Simpangan Baku n = Sampel
- Koefisien variasi (KV) adalah suatu gambaran keragaman suatu sifat yang diukur. KV = 𝑥 𝑠 x 100%
Keterangan : 𝑠 = Simpangan baku kecepatan lari 𝑥
= Rata-rata kecepatan lari (1) Analisis Korelasi
Analisis korelasi menggambarkan besarnya hubungan antar variabel digunakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi adalah bentuk akar dari koefisien determinasi. Koefisien korelasi antar variabel dapat dihitung dengan rumus :
𝑟𝑥𝑦 =
𝑛 𝑥𝑖 𝑦𝑖 − ( 𝑥𝑖 )( 𝑦𝑖) 𝑛 𝑥𝑖2 − ( 𝑥𝑖 )2 𝑛 𝑦𝑖2 − ( 𝑦𝑖 )
2
Keterangan : x1,2 = Tinggi pundak dan Panjang badan
y = Kecepatan lari
rxy = Koefisien Korelasi
Keputusan: Nilai koefisien korelasi yang paling besar (dari dua variabel bebas) menunjukan adanya hubungan yang paling tinggi antara salah satu variabel bebas dengan variabel terikat.
Semua perhitungan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi akan menggunakan program Excel.
Pengelompokan keeratan hubungan menurut Warwick, dkk (1995) dikatagorikan sebagai berikut :
0,01 - < 0,25 = Korelasi yang kecil 0,25 - < 0,5 = Korelasi yang sedang 0,5 - < 1 = Korelasi yang besar (2) Analisis Regresi
Digunakan untuk menduga bentuk hubungan antara kecepatan lari dengan tinggi pundak dan panjang badan Kuda Pacu Indonesia (KPI). Analisis regresi linier berganda dengan dua peubah (Steel dkk., 1993).
𝑦𝑖 = 𝑏0+ 𝑏1𝑥1+ 𝑏2𝑥2+ 𝜀𝑖 Bentuk dugaan :
Keterangan :
y = Peubah tak bebas (kecepatan lari)
β0 = Intersep
β1, β2 = Koefisien regresi
𝑥1 = Peubah bebas (tinggi pundak) 𝑥2 = Peubah bebas (panjang badan) - Koefisien determinasi :
𝑅2= 𝐽𝐾 𝑅𝑒𝑔𝑟𝑒𝑠𝑖 𝐽𝐾 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙
Keputusan R2 ≥ 80% Regresi menggambarkan bentuk hubungan antar variabel. Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur tingkat ketepatan yang paling baik dari analisi regresi.
Hasil danPembahasan
Keadaan Umum Daerah Penelitian
Lapangan pacuan kuda Pulomas terletak di Jalan Pulomas Raya Nomor 1, Jakarta Timur. Panjang trek pacuan sepanjang 2400 m dengan lebar trek ± 20 m, merupakan lapangan yang ideal bagi kegiatan pacuan kuda. Pulomas ini juga memiliki kandang kuda (stable) yang digunakan sebagai tempat kuda peserta kejuaraan untuk istirahat, karena banyak kuda peserta berasal dari luar Jakarta maupun luar Pulau Jawa. Selain itu terdapat pula kantor PORDASI, ruang untuk menimbang beban joki, serta lapangan kecil untuk kuda melakukan latihan sebelum kejuaraan.
Kelas Pacuan kuda
Pada pacuan kuda di Indonesia pembagian kelas menurut peraturan pacuan dan petunjuk pelaksanaan kejuaraan nasional pacuan kuda terbagi berdasarkan umur dan berdasarkan tinggi pundak (PORDASI, 2011).
Berikut adalah pembagian kelas pacuan kuda yang dikategorikan berdasarkan umur. Tabel Pembagian Kelas Pacuan Kuda Berdasarkan Umur
Sumber : (PORDASI, 2011)
Kelas Umur (tahun) Panjang lintasan (m)
Perdana ± 2 800
Pemula ± 2 1000
cRemaja ± 3 1200
Dalam kelas ini tidak memperhatikan tinggi pundak dari kuda tersebut, yang diperhatikan adalah umur kuda saat akan mengikuti pertandingan. Dalam kelas ini dijadikan juga sebagai arena untuk latihan bagi kuda-kuda muda.
Tabel Pembagian Kelas Pacuan Kuda Berdasarkan Tinggi Pundak
Kelas Tinggi Pundak (cm) Panjang lintasan (cm)
A 158-162 keatas 2000 B 153-157,9 1850 C 148-152,9 1600 D 143-147,9 1400 E 142 kebawah 1200 Sumber : (PORDASI, 2011)
Pembagian kelas berdasarkan tinggi pundak ini dilakukan pada kuda-kuda dewasa yang sudah berumur lebih dari 4 tahun. Pada kelas ini umur kuda tidak diperhatikan, akan tetapi dikategorikan menurut tinggi pundak.
Peserta kuda pada pacuan Pertiwi Cup di Pulomas kali ini berjumlah 80 ekor, lebih jelas dapat dilihat tabel ini :
Tabel Jumlah Peserta Kuda pada Pertiwi Cup
No Kelas Kuda Jumlah
1 Perdana 15 ekor
2 Pemula 15 ekor
3 Remaja 25 ekor
4 Derby 25 ekor
Kecepatan Lari
Kecepatan lari merupakan jarak (meter) dibagi dengan waktu (detik) yang dibutuhkan kuda sejak dilepaskan dari kandang pacu (gate) sampai garis finish. Data mengenai kecepatan diambil pada saat kuda sedang melakukan sprint dengan jarak 1600 m. Kecepatan lari ini merupakan hal terpenting dalam pacuan kuda, karena kecepatan lari merupakan tolak ukur prestasi dari setiap kuda pacu.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan lari yaitu tinggi pundak dan panjang badan. Keduanya merupakan variabel yang paling menentukan kecepatan lari dari kuda yang diteliti. Tinggi pundak adalah tinggi pundak tertinggi tegak lurus sampai tanah. Tinggi pundak pada kuda pacu memiliki hubungan dengan kecepatan lari karena tinggi pundak akan menentukan besarnya langkah kaki pada kuda. Semakin tinggi pundak kuda pacu akan semakin cepat pula kecepatan larinya jika didukung oleh latihan yang baik. Panjang badan merupakan faktor penunjang kecepatan kuda, karena kuda yang baik memiliki ukuran panjang badan sama
dengan tinggi pundak.
Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Nilai koefisien korelasi adalah sebesar 0,86 berarti memiliki keeratan atau derajat hubungan yang besar antara tinggi pundak dan panjang badan terhadap kecepatan lari Kuda Pacu Indonesia (KPI) kelas Derby.
2. Bentuk hubungan untuk kecepatan lari dengan tinggi pundak dan panjang badan adalah 𝑌 = 7,47 – 0,51 x1 + 0,53 x2 dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,74 yang berarti 74% nilai kecepatan lari dapat dijelaskan oleh tinggi pundak dan panjang badan, sedangkan sisanya 26% dijelaskan oleh sebab-sebab lain diluar model.
Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan yang telah diuraikan maka dapat diberikan saran-saran
yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan, yaitu :
1. Pihak panitia penyelenggara khususnya pencatat waktu sebaiknya mencatat hasil waktu pada kuda peserta yang telah finish pada peringkat empat ke bawah, tidak hanya pada peringkat satu sampai tiga saja. Agar menjadi bahan evaluasi untuk pemilik kuda peserta untuk lebih memperbaiki kinerja dari kuda pacu yang mereka miliki.
2. Variabel yang terdapat pada penelitian ini masih sedikit, masih ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kecepatan lari. Oleh karena itu perlu penelitian lebih lanjut mengenai faktor lain seperti pelatihan pada kuda pacu, tatalaksana pemeliharaan, temperatur lokasi pacuan kuda serta ukuran-ukuran tubuh lainnya yang bisa menjadi faktor lain pada kinerja kuda pacu dan lainnya yang mempengaruhi kecepatan lari kuda pacu.
UcapanTerimakasih
Penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Dr. Hj. Sri Bandiati K.P. dan pembimbing anggota drh. Dwi Cipto Budinuryanto, MS., yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis.
DaftarPustaka
Bandiati, Sri, K.P. 1990. Hubungan antara Ukuran-ukuran Tubuh dengan Kecepatan Lari pada
Kuda. Universitas Padjadjaran.Sumedang.
Blakely, J., And Bade, D. H. 1991. Ilmu Peternakan edisi ke-4. Terjemahkan oleh Bambang Srigandono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
_______________________. 1998. Ilmu Peternakan edisi ke-4. Terjemahkan oleh Bambang Srigandono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Bogart, R. and R. E. Taylor. 1983. Scientific Farm Animal Production. Second Edition. Machillan Publishing Company, New York.
Bowling, A.T., and A. Ruvinsky. 2000. The Genetics of the Horse. CABI Publishing. London.
Edwards, E, H. 1991. The Ultimate Horse Book. Darling Kindersley. London.
____________. 1994. The Encyclopedia of Horse. First Published in Great Britain. London. Ensminger, M. E. 1962. Animal Science. Animal Agriculture Series. 5th Ed. Printers &
Publisher, Inc. Danville, Illinois. USA.
_______________. 1977. Horse and Horsemanship. The interstate Printers publishing, Inc. Danville, Illinois. USA.
Frape, D. L. 1986. Equine Nutrition and Feeding. Churchill Livingstone, Inc. New York. USA. 19-32; 101-115; 169-178; 185-187
Gasperz, Vincent. 1995. Teknik Analisis dalam Penelitian Percobaan. Jilid 2. Tarsito. Bandung. Gay, C.W. 1964. Productive Horse Husbandry. Philadelphia and London. J.p. Lippincott
Company.
Ghozali, Imam. 2006. Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT.Gramedia Widya Sarana Indonesia. Jakarta. 1-28
Hickman, J. 1987. Horse Management. Emeritus Reader in Animal Surgery. University of Cambridge. UK.
Hodges, J. dan S. Pilliner. 1991. The Equine Athlete. Blackwell Science Ltd, London. Kidd, J. 1995. Horses and Ponies of the World. Ward Lock Publishing. London.
Lind, D.A., William G. Marchal, Samuel A. Wathen. 2008. Teknik-Teknik Statistika dalam
Bisnis dan Ekonomi Menggunakan Kelompok Data Global. Salemba Empat. Jakarta.
61-63
Nugroho, B. A. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Andi Offset. Yogyakarta
Pilliner, S. 1991. Getting Horses Fit. Second Edition. Blackwell Science Ltd. London. PORDASI. 2011. Interaksi Aktif. Jakarta.
Roberts, P. 1994. The Complete Horse. Multimedia Books Publishing, ltd. London.
Sasimowski, E. N. Moore. 1987. Animal Breeding and Production an Outline. Elrevier Science Publishing co, Inc. USA.
Sastrosupadi, A. 2003. Penggunaan Regresi, Korelasi, Koefisien Lintas, dan Analisa Lintas
Untuk Bidang Pertanian. Bayumedia Publishing. Malang
Soehardjono, Oetari. 1990. Kuda. Yayasan Pamulang Equstrian Centre. Jakarta.
Steel, R. G. D dan J. H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika. Edisi Kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sunjoyo, Rony, Verani, Nonie, Albert. 2013. Aplikasi SPSS Untuk Smart Riset. Program Ibm SPSS 21. Bandung: PT. Alfabeta. 41;59;65;69;160
Sugiono. 2008. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung. 260-296
Warwick, J. M., Astuti dan Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.