Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
33 BAB III
METODE PENELITIAN
Pada bab ini penulis mendeskripsikan mengenai langkah, prosedur, atau
metodologi penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan fakta yang berkaitan
dengan judul skripsi “Perkembangan Kesenian Bangkong Reang di Kampung
Cijawura Desa Lebak Muncang Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung Pada
Tahun 1967-2014 (Suatu Tinjauan Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Lokal)”.
Penulis menjelaskan berbagai langkah yang digunakan dalam mencari dan
menemukan sumber, teknik mengolahan sumber, analisis, serta teknik penelitian.
Pada bagian pertama, penulis menjelaskan tentang metode dan teknik
penelitian secara teoritis sebagai landasan dalam pelaksanaan penelitian yang
penulis akan lakukan. Pada bagian kedua, penulis menjelaskan mengenai
tahapan-tahapan persiapan dalam membuat skripsi ini, yaitu penentuan dan pengajuan
tema, penyusunan rancangan penelitian, serta proses bimbingan dengan dosen
yang bersangkutan.
Pada bagian ketiga, berisikan tentang pelaksanaan penelitian yang dimulai
dengan mencari dan menemukan sumber sebagai tahapan pengumpulan data
(heuristik), baik sumber tertulis maupun lisan, dan kritik sumber, pada bagian
terakhir penulis menjelaskan tentang proses penulisan skripsi (historiografi)
sebagai bentuk laporan tertulis dari penelitian sejarah yang telah dilakukan.
Dengan demikian, penulis berharap hasilnya dapat memberikan pemahaman baru
yang bermakna kepada pembaca.
3.1. Metode Penelitian
Penelitian merupakan proses pengkajian secara mendalam yang dilakukan
terhadap suatu objek atau permasalahan dengan menggunakan metode ilmiah.
Dalam melaksanakan sebuah penelitian sangat diperlukan sebuah metode yang
merupakan prosedur, teknik atau cara-cara yang sistematis untuk suatu
penyelidikan. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode historis
yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis atas permasalahan yang akan
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
ialah suatu kegiatan mengumpulkan, menguji dan menganalisis data yang
diperoleh dari peninggalan-peninggalan masa lampau kemudian direkonstruksikan
berdasarkan data yang diperoleh sehingga menghasilkan kisah sejarah”.
Demikian pula dengan apa yang diungkapkan oleh Sjamsuddin (2007,
hlm. 17) menjelaskan bahwa “metode sejarah yaitu suatu proses pengkajian,
penjelasan dan penganalisaan secara kritis terhadap rekaman serta peninggalan
masa lampau”. Tugas penulis dalam penelitian historis yaitu:
mengadakan rekonstruksi mengenai masa lampau, tidak semua peristiwa masa lalu dapat diulang kembali, sehingga penelitian ini haruslah berdasarkan fakta sejarah dan membangun pemecahan persoalan berdasarkan fakta tersebut, menurut, dalam kaitannya dengan ilmu sejarah,
dengan sendririnya metode sejarah adalah “bagaimana mengetahui sejarah” sedangkan metodologi adalah “mengetahui bagaimana
mengetahui sejarah” (Sjamsuddin, 2007, hlm. 14).
Metode ilmiah di dalam penelitian sejarah bertujuan untuk memastikan
dan memafarkan kembali fakta masa lampau berdasarkan bukti dan data yang
diperoleh sebagai peninggalan masa lampau dengan kata lain metode sejarah
adalah proses penguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan
masa lampau (Ismaun, 2005, hlm. 35). Tahapan yang harus ditempuh dalam
penelitian sejarah menurut Wood Gray (dalam Sjamsuddin, 2007, hlm. 89) antara
lain sebagai berikut.
1) Memilih suatu topik yang sesuai
2) Mengusut semua evidensi (bukti) yang relevan dengan topik
3) Membuat catatan yang dianggap penting dan relevan dengan topik yang ditemukan ketika penelitian sedang berlangsung
4) Mengevaluasi secara kritis semua evidensi yang telah dikumpulkan (kritik sumber)
5) Menyusun hasil-hasil penelitian kedalam suatu pola yang benar dan berarti 6) Menyajikan dalam suatu cara yang menarik perhatian dan mengkomunikasikannya kepada para pembaca sehingga dapat dimengerti sejelas mungkin.
Adapun beberapa langkah-langkah dalam metode penelitian sejarah menurut
Sjamsudin Helius dalam bukunya yang berjudul Metodologi Sejarah, yang
diantaranya sebagai berikut.
1) Heuristik
Heuristik merupakan kegiatan mencari dan menemukan sumber-sumber
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
penelitian yaitu “Perkembangan Kesenian Bangkong Reang Di Kampung
Cijawura Desa Lebak Muncang Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung Pada
Tahun 1967-2014 (Suatu Tinjauan Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Lokal)”. Pada
tahapan ini, penulis mengumpulkan sumber tertulis maupun lisan. Berkaitan
dengan sumber lisan, penulis memperoleh informasi melalui teknik wawancara,
dengan berbaur bersama kelompok narasumber, seperti seniman dari lingkung
seni Bangkong Reang, tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
Pada tahapan ini pula, penulis menggunakan sumber studi kepustakaan
dengan mengumpulkan data-data dari buku dan jurnal, serta skripsi. Dalam proses
mencari sumber tertulis, penulis mendatangi berbagai perpustakaan, seperti
perpustakaan UPI, BPNB, STSI, UNPAD, dan lain-lain. Tidak lupa juga, sebagai
sumber penunjang lainnya penulis melakukan browsing dengan tujuan
memperoleh informasi untuk pembahasan melalui media internet.
2) Kritik
Setelah beberapa sumber sejarah yang relevan dengan pembahasan
berhasil dikumpulkan. Tahapan berikutnya adalah melakukan kritik terhadap
sumber yang telah diperoleh pada tahapan heuristik, apakah benar sumber yang
terkumpul sesuai dengan masalah yang akan dikaji dalam skripsi ini. Kritik
terhadap sumber, dalam hal ini dibagi menjadi dua yaitu kritik eksternal dan
internal. Pertama, kritik eksternal mempersoalkan identitas sumber seperti bahan
dan bentuk sumber, usia dan asal dokumen, kapan dibuat dan siapa yang
membuat, atau instansi apa dan atas nama siapa. Kedua, kritik internal pada tahap
ini, peneliti melakukan kritik atas sumber pustaka yaitu dengan melakukan
pengkajian terhadap isi dari buku seorang penulis dengan isi buku penulis lainnya.
Selain itu, terdapat kritik internal terhadap sumber lisan yang lebih ditujukan
kepada isi dari apa yang telah diungkapkan oleh pelaku atau saksi peristiwa
terhadap permasalahan, hal tersebut dimaksudkan agar fakta yang diperoleh lebih
valid dan mendukung terhadap pembahasan yang akan disampaikan dalam skripsi
ini.
3) Penulisan Sejarah (Historiografi)
Historiografi merupakan tahapan yang terakhir dalam metode penelitian
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kritik, selanjutnya penulis menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Tentunya
penulisan tersebut, harus sesuai dengan pedoman penulisan karya ilmiah
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Historiografi adalah rangkaian dari fakta beserta maknanya secara
kronologis dan sistematis, menjadi tulisan sejarah sebagai kisah. Penulis mencoba
menuliskan kembali semua informasi dan fakta sejarah yang telah diperoleh,
masalah penelitian yang penulis rumuskan harus dapat dijawab berdasarkan
informasi atau fakta sejarah yang telah penulis kumpulkan, kemudian penulis
kritik sesuai dengan prosedur penelitian sejarah. Cara penulis menjawab
pertanyaan tersebut, dapat dilakukan dengan teknik deskriptif-naratif atau analisis,
yang disebut sebagai hasil historiografi.
3.2. Persiapan Penelitian
3.2.1. Penentuan dan Pengajuan Tema Penelitian
Langkah pertama dalam penelitian sejarah ialah menentukan topik
penelitian, sebelum diserahkan kepada Tim Pertimbangan Penulisan Skripsi
(TPPS). Topik tersebut, penulis dapatkan pada saat mengontrak mata kuliah
seminar penulisan karya ilmiah. Adapun pengambilan topik lebih disebabkan oleh
ketertarikan penulis terhadap kesenian tradisional maupun keaslian topik yang
dikaji, apakah topik tersebut sudah dibahas oleh orang lain atau sebaliknya, akan
memberikan kontribusi terhadap apa yang telah ditulis orang lain.
Setelah itu, topik tersebut dijabarkan terlebih dahulu dalam bentuk judul,
pada saat itu penulis mengajukan judul yaitu “Perkembangan Kesenian Bangkong
Reang Di Kampung Cijawura Desa Lebak Muncang Kecamatan Ciwidey
Kabupaten Bandung Pada Tahun 1967-2014 (Suatu Tinjauan Pelestarian
Nilai-Nilai Budaya Lokal)”. Kemudian, judul yang diajukan disetujui oleh TPPS
Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI, tahapan berikutnya penulis menyusun
suatu rancangan penelitian dalam bentuk Proposal.
3.2.2. Penyusunan Rencana Penelitian
Menyusun rancangan penelitian merupakan tahapan awal yang harus
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
acuan dalam penyusunan skripsi ini. Pada tahapan ini penulis mencari dan
mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan permasalahan yang dikaji.
Penulis mulai mengumpulkan data-data dan melakukan wawanacara kepada
orang-orang yang mengerti tentang kesenian tradisional, khususnya Bangkong
Reang. Wawancara untuk pertama kali dilakukan kepada Bapak Meman (68) yang
merupakan Ketua dari Lingkung Seni Bangkong Reang Gema Panglipur.
Pada tahap berikutnya, penulis menjabarkannya dalam sebuah proposal
penelitian untuk diajukan kepada TPPS Jurusan Pendidikan Sejarah. Setelah itu,
proposal penulis, selanjutnya diseminarkan dan disetujui pada tanggal 31 Agustus
2015. Proposal penelitian yang telah disetujui, kemudian ditetapkan dengan surat
keputusan yang ditandatangani oleh Ketua TPPS dan Ketua jurusan Pendidikan
Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia.
3.2.3. Perlengkapan dan Izin Penelitian
Pada tahapan ini, penulis mempersiapkan perlengkapan dan surat izin
penelitian dalam rangka mempermudah penulis untuk melaksanakan proses
penulisan skripsi ini. Adapun perlengkapan yang diperlukan antara lain sebagai
berikut.
1. Surat perizinan penelitian,
2. Pedoman dan instrumen wawancara,
3. Alat perekam, dan
4. Kamera.
Tahapan ini merupakan aspek yang dianggap sangat penting pada
pelaksanaan penelitian, karena dalam melakukan penelitian diharuskan adanya
surat perizinan, agar penelitian bersifat lebih resmi. Adapun untuk surat perizinan
yang penulis buat ditunjukan kepada beberapa instansi di antaranya, Kepala
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bandung, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Bandung, Paguyuban Seniman dan Budayawan
Kabupaten Bandung, Kepala Desa Lebak Muncang, serta Lingkung Seni
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3.2.4 Proses Bimbingan
Pada tahapan ini penulis melakukan proses bimbingan dengan
pembimbing I Bapak Drs. H. Ayi Budi Santoso, M.Pd. dan pembimbing II Bapak
Drs. Syarif Moeis. Proses bimbingan merupakan proses yang sangat penting,
karena dalam proses ini penulis dapat berdiskusi tentang permasalahan yang
dihadapi dalam tahapan penyususunan skripsi ini. Dengan begitu, penulis akan
mendapatkan pengarahan, komentar dan perbaikan dari kedua pembimbing.
Proses bimbingan dengan pembimbing I dan pembimbing II dilakukan sesuai
kesepakatan sebelumnya.
3.3. Pelaksanaan Penelitian
3.3.1 Heuristik
Heuristik adalah proses mencari dan menemukan, serta mengumpulkan
sumber, sehingga diperoleh data yang dianggap relevan dengan topik yang dipilih,
sebagai langkah awal yang harus dilakukan oleh penulis dalam menyusun skripsi
ini. Sumber sejarah merupakan segala sesuatu yang secara langsung menceritakan
tentang sesuatu kenyataan atau kegiatan manusia pada masa lampau. Pada tahapan
ini, penulis melakukan teknik penelitian, baik itu studi kepustakaan maupun
wawancara, serta studi dokumentasi.
Studi kepustakaan dilakukan oleh penulis dengan membaca dan mengkaji
beberapa buku, penelitian terdahulu mengenai kesenian Bangkong Reang dan
konsep-konsep yang mendukung terhadap pemecahan permasalahan yang dikaji
dalam skripsi. Data-data dalam melakukan studi kepustakaan ini penulis peroleh
dari beberapa perpustakaan antara lain, STSI, UPI, UNPAD, BPNB, dan
Perpustakaan Daerah Jawa Barat, serta sumber yang merupakan koleksi pribadi
dari penulis. Setelah beberapa literatur terkumpul dan cukup relevan dijadikan
sebagai acuan penulisan, berikutnya penulis mempelajari, mengkaji, dan
mengidentifikasi, serta melakukan penyeleksian sumber yang dianggap sesuai
atau dapat dipergunakan dalam penulisan skipsi ini.
Teknik berikutnya, yang dipergunakan penulis dalam penelitian ini adalah
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
khusus membahas tentang kesenian Bangkong Reang, sehingga teknik wawancara
sangat penting bagi penulis, karena sebagian besar informasi diperoleh melalui
wawancara. Teknik wawancara ini sebagai metode untuk menggali sejarah lisan
(oral history). Sejarah lisan ialah ingatan tangan pertama yang dituturkan secara
lisan oleh orang-orang yang diwawancarai oleh sejarawan (Sjamsuddin, 2007,
hlm. 78).
3.3.1.1Pengumpulan Sumber Tertulis
1) Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung
Dalam kunjungan ke perpustakaan UPI Bandung, penulis menemukan
beberapa sumber tertulis yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan, serta
kesenian, baik berupa buku, skripsi, maupun jurnal. Pertama, penulis memperoleh
sumber tertulis berupa buku dengan judul Melestarikan Seni Budaya Tradisional
yang Nyaris Punah karya Oka A.Yoeti, Seni Pertunjukan Indonesia di Era
Globalisasi, yang ditulis oleh Soedarsono, Pengantar Antropologi II karya dari
Koentjaraningrat, Pertumbuhan Seni Pertunjukan dan Budaya Indonesia: Kajian
Arkeologi, Seni dan Sejarah karya Sedyawati, Filsafat Seni karya Sumardjo, serta
buku yang berjudul Angklung di Jawa Barat: Sebuah Perbandingan karya Juju
Masunah dkk.
Berikutnya, penulis menemukan beberapa sumber berupa buku yang
berkaitan dengan ilmu sejarah tentang metode dan teknik yang digunakan dalam
penelitian sejarah. Di antaranya, Mengerti Sejarah karya Louis Gottschalk,
Sosiologi Suatu Pengantar karya Soerjono Soekanto, dan Pengantar Ilmu
Antropologi karya Koentjaraningrat. Kedua, penulis menemukan sumber tertulis
berupa skripsi dengan judul Unsur Semiotik Dina Kasenian Bangkong Reang Di
Kampung Cijawura Desa Lebakmuncang Kecamatan Ciwidey Kabupaten
Bandung, yang ditulis oleh Nadia Fitri Wulansari. Terakhir, penulis menemukan
sumber tertulis dalam bentuk jurnal yaitu jurnal FACTUM Antologi Jurnal
Sejarah dan Pendidikan Sejarah, Vol.3, No.1, April 2013, dengan judul
Perkembangan Kesenian Ogel di Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2) Perpustakaan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung
Selanjutnya, penulis melakukan kunjungan ke perpustakaan STSI
Bandung, sumber yang didapatkan oleh penulis yaitu sumber tertulis baik yang
berkaitan dengan permasalahan yang dikaji oleh peneliti dalam skripsi ini maupun
buku-buku yang berhubungan dengan ruang lingkup budaya dan seni tradisional,
serta tradisi. Adapun sumber tertulis berupa buku yang diperoleh dari
perpustakaan STSI Bandung, yaitu buku karya Rohidi dengan judul Kesenian
Dalam Pendekatan Kebudayaan, buku dengan judul Aspek Manusia Dalam Seni
Pertunjukan karya dari Arthur S. N, buku yang berjudul Seni, Tradisi,
Masyarakat karya Umar Kayam, dan buku yang berjudul Sistem Sosial Budaya
Indonesia karya Jacob Ranjabar, serta Khazanah Musik Bambu, yang ditulis oleh
Abun Somawijaya.
Selain, memperoleh sumber tertulis dalam bentuk buku, penulis juga
menemukan sumber tertulis berupa skripsi dan penelitian. Sumber tertulis berupa
skripsi berjudul Kesenian Bangkong Ciseke : Suatu Tinjauan Deskriftif, karya dari
Ruswandi. Sedangkan untuk sumber tertulis berupa penelitian yaitu karya
Wiradiredja dengan judul Tinjauan Terhadap Seni Bangkong Reang Dari
Kabupaten Cianjur.
3) Perpustakaan BPNB
Penulis berkunjungan ke perpustakaan BPNB Bandung, memperoleh
sumber tertulis berupa buku dengan judul Peta Kebudayaan Indonesia:
Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat, karya dari Lasmiyati dkk.
4) Perpustakaan PUSDA Jawa Barat
Penulis melakukan pencarian ke perpustakaan daerah Jawa Barat,
menemukan sebuah buku yang berjudul Strategi Kebudayaan karya Van Peursen.
5) Perpustakaan Universitas Padjajaran
Kemudian, penulis melakukan kunjungan ke perpustakaan UNPAD,
sumber tertulis yang diperoleh yaitu Sejarah Kebudayaan Sunda, karya Nina
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6) Koleksi Pribadi Penulis
Di samping sumber-sumber yang diperolah dari hasil kunjungan ke
berbagai perpustakaan, penulis juga mendapatkan sumber tertulis berupa buku
yang merupakan koleksi pribadi penulis di antaranya, Pengantar Ilmu Sosial :
Sebuah Pendekatan Struktural karya Dadang Supardan, Pengantar Antropologi
dan Manusia dan Kebudayaan di Indonesia karya dari Koentjaranigrat,
Metodologi Sejarah karya dari Helius Sjamsuddin. Selain, sumber-sumber tertulis
di atas, penulis juga melakukan penelusuran sumber tertulis lainnya dengan cara
browsing di internet, yang berhubungan dengan masalah yang penulis kaji. Hal ini
dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan tambahan informasi, sehingga dapat
mengisi kekurangan dari sumber lainnya.
3.3.1.2 Sumber Lisan
Sumber lisan didapatkan dengan cara teknik wawancara merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti terhadap responden, untuk
memperoleh keterangan yang lebih jauh dari sekedar hanya observasi. Teknik ini
dilakukan dengan mengajukan berbagai pertanyaan langsung terhadap responden
secara verbal, baik formal maupun informal (Supardan, 2011, hlm. 253). Menurut
Lincoln dan Guba (dalam Supardan, 2011, hlm. 253) menjelaskan bahwa maksud
dari wawancara adalah untuk mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan
organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain.
Menurut Sjamsuddin (2007, hlm. 102-103) mengungkapkan bahwa ada
dua kategori sumber lisan antara lain sebagai berikut.
1) Sejarah lisan (oral history), yaitu ingatan tangan pertama yang dituturkan secara lisan oleh orang-orang yang diwanwancara oleh sejarawan.
2) Tradisi lisan (oral tradition), yaitu narasi dan deskripsi dari orang-orang dan peristiwa-peristiwa pada masa lalu yang disampaikan dari mulut ke mulut selama beberapa generasi.
Narasumber dapat dikategorikan menjadi dua yaitu pelaku dan saksi.
Pelaku ialah orang yang benar-benar mengalami atau terlibat dalam kejadian yang
menjadi bahan kajian seperti seniman yang mengikuti perkembangan kesenian
Bangkong Reang dari waktu ke waktu. Sedangkan, saksi adalah mereka yang
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sekitar maupun instansi pemerintah terkait. Hal penting yang harus diperhatikan
bahwa narasumber yang diwawancara yaitu mereka yang benar-benar melihat dan
mengalami peristiwa tersebut.
Dalam menentukan narasumber , penulis memiliki beberapa kriteria untuk
dijadikan sebagai bahan pertimbangan seperti faktor fisik, mental, dan usia, serta
kejujuran dalam mengemukakan hal-hal yang narasumber ketahui, sehingga
informasi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain,
berdasarkan pada ketentuan yang telah disebutkan tadi, penulis juga melihat dari
segi pengetahuan maupun keterlibatan para seniman dalam kesenian Bangkong
Reang.
Menurut Koentjaraningrat (1994, hlm. 138-139) menjelaskan bahwa
teknik wawancara dibagi menjadi dua bagian yaitu.
a) Wawancara terstruktur atau berencana yang terdiri dari suatu daftar pertanyaan yang telah direncanakan dan disusun sebelumnya. Semua responden yang diselidiki untuk diwawancara diajukan pertanyaan yang sama dengan kata-kata dan urutan seragam.
b) Wawancara tidak terstruktur atau tidak terencana adalah wawancara yang tidak mempunyai suatu persiapan sebelumnya dari suatu daftar pertanyaan dengan susunan kata-kata dan tata urut yang harus dipatuhi oleh peneliti.
Penulis dalam melakukan wawancara di lapangan menggunakan kedua
teknik wawancara tersebut, sehingga diharapkan informasi yang diperoleh lebih
lengkap. Sebelum melakukan wawancara, penulis terlebih dahulu mempersiapkan
daftar pertanyaan yang dijabarkan secara garis besar dan pada pelaksanaannya
pertanyaan tersebut diatur serta diarahkan, sehingga pembicaraan sesuai dengan
permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini. Jika informasi yang diberikan oleh
narasumber dianggap kurang jelas, maka peneliti bertanya kembali agar informasi
diperoleh lebih lengkap.
Penulis melakukan wawancara dengan beberapa pihak terkait, hal ini
sangat penting dilakukan agar memperoleh informasi tambahan untuk dapat
mengisi kekurangan dari sumber tertulis. Teknik wawancara sangat membantu
penulis dalam menjawab pertanyaan penelitian atau permasalahan yang penulis
kaji. Narasumber yang diwawancarai adalah mereka yang mengetahui keadaan
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sejarah yang terjadi. Adapun narasumber yang penulis wawancarai antara lain
sebagai berikut.
1) Bapak Meman (68) sebagai ketua Lingkung Seni Bangkong Reang Gema
Panglipur
2) Bapak Uep (45) sebagai anggota Lingkung Seni Bangkong Reang Gema
Panglipur
3) Ibu Hj. Dini Hayati (46) selaku Kasi Pengembangan Seni dan Nilai
Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Bandung.
4) Bapak Dede (62) sebagai tokoh masyarakat setempat dan anggota
PASEBAN Kecamatan Ciwidey
5) Bapak Aep (64) selaku wakil ketua PASEBAN Kabupaten Bandung,
Bidang Pendidikan dan Pengembangan Nilai Budaya
3.3.2. Kritik Sumber
Setelah melakukan pencarian dan pengumpulan sumber, baik sumber
tertulis maupun lisan. Tahapan berikutnya, penulis melakukan penyaringan secara
kritis terhadap sumber-sumber tersebut. Tahapan ini disebut dengan kritik sumber
yang merupakan proses pengkajian terhadap berbagai sumber yang telah diperoleh
penulis. Sumber tertulis dan sumber lisan disaring, dipilih, serta dinilai sebagai
langkah dalam mengantisipasi bentuk pemalsuan data atau sumber yang bersifat
subjektif, bahkan tidak relevan dengan fakta yang ada.
Menurut Sjamsuddin (2007, hlm. 133) dijelaskan bahwa terdapat lima
pertanyaan yang harus digunakan untuk mendapatkan kejelasan keamanan
sumber-sumber yang diperoleh yaitu:
1) Siapa yang mengatakan itu?
2) Apakah dengan satu atau cara lain kesenian itu diubah?
3) Apakah sebenarnya yang dimaksud oleh orang itu dengan kesaksiannya? 4) Apakah orang yang memberikan kesaksian itu seorang saksi mata yang
kompeten, apakah ia mengetahui fakta?
5) Apakah saksi itu mengatakan yang sebenarnya dan memberikan kepada kita fakta yang diketahui itu?
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa fungsi kritik sumber serta kaitannya
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dihadapkan dengan kebutuhan untuk mengadakan apa yang benar, apa yang tidak
benar (palsu), apa yang mungkin dan apa yang meragukan atau mustahil.
3.3.2.1 Kritik Eksternal
Kritik eksternal adalah cara pengujian sumber terhadap aspek-aspek luar
dari sumber sejarah secara terinci. Kritik eksternal merupakan suatu penelitian
atas asal-usul dari sumber, suatu pemeriksaan atas catatan atau peninggalan itu
sendiri untuk mendapatkan semua informasi yang mungkin dan untuk mengetahui
apakah pada suatu waktu sejak asal mulanya sumber ini telah diubah oleh
orang-orang tertentu atau tidak (Sjamsuddin, 2007, hlm.104-105). Dengan demikian,
bahwa sumber kritik eksternal harus menerangkan fakta dan kesaksian antara lain
sebagai berikut.
a) Kesaksian itu benar-benar diberikan oleh orang itu atau pada waktu itu
authenticity atau otentisitas.
b) Kesaksian yang telah diberikan itu telah bertahan tanpa ada perubahan,
atau penambahan dan penghilangan fakta-fakta yang substansial, karena
memori manusia dalam menjelaskan peristiwa terkadang berbeda setiap
individu, malah ada yang ditambah ceritanya atau dikurangi tergantung
pada sejauh mana narasumber mengingat peristiwa sejarah yang sedang
dikaji.
Otentisitas suatu sumber mengacu pada masalah sumber sekunder dan
primer, sehingga konsep otentisitas (keaslian) suatu sumber yaitu asli, sebagian
asli, dan tidak asli. Penulis melakukan kritik eksternal, baik terhadap sumber
tertulis maupun sumber lisan. Adapun mengenai kritik eksternal terhadap sumber
tertulis, dilakukan dengan cara memilih buku yang berkaitan dengan
permasalahan yang dikaji oleh penulis. Sedangkan, untuk kritik eksternal terhadap
sumber lisan dilakukan dengan cara mengidentifikasi narasumber yang telah
ditentukan sebelumnya oleh penulis.
Kritik eksternal terhadap sumber tertulis dalam bentuk buku tidak terlalu
mendalam dengan pertimbangan bahwa berbagai buku yang penulis gunakan
merupakan buku hasil terbitan yang di dalamnya memuat nama penulis, penerbit
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dianggap sebagai bentuk pertanggungjawaban oleh penulis, sehingga peneliti
menyimpulkan bahwa sumber literatur tersebut merupakan sumber tertulis yang
relevan dengan permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini.
Penulis melakukan kritik eksternal terhadap buku berjudul Seni Pertunjukan
Indonesia di Era Globalisasi. Buku ini ditulis oleh R. M. Soedarsono merupakan
seorang lulusan dari Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada,
kemudian mengikuti pendidikan di bidang Etnomusikologi di University of
Hawaii dan tari di University California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat.
Setelah itu, R. M. Soedarsono menyelesaikan program doktornya di University of
Michigan, Amerika Serikat dan menjadi salah satu guru besar bidang Seni dan
Sejarah Budaya, di Fakultas Ilmu Budaya dan Program Pascasarjana Universitas
Gajah Mada (UGM). Selain itu juga, Soedarsono bersama C. Hardjosubroto
mendirikan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI), kemudian setelah diresmikan R.
M. Soedarsono menjadi pemimpinnya. Dengan demikian, apabila melihat latar
belakang akademis dari R. M. Soedarsono, maka penulis menyimpulkan bahwa
buku tersebut memang layak dijadikan salah satu sumber pustaka dalam skripsi
ini.
Selain, buku karya R. M. Soedarsono penulis juga, melakukan kritik
terhadap buku yang berjudul Pertumbuhan Seni Pertunjukan dan Budaya
Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni dan Sejarah karya dari Edi Sedyawati
merupakan seorang lulusan Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas
Indonesia, sampai meraih gelar doktor. Edi Sedyawati mendapatkan pendidikan
tambahan kursus Ethnomusikologi dari East-West Centre, Honolulu, Hawaii,
Amerika Serikat. Kemudian, Edi Sedyawati juga atas prestasinya memperoleh
penghargaan dari luar yaitu bintang "Chevalier des Arts et Letters" yang diberikan
oleh Perancis. Dengan demikian, buku karya dari Edi Sedyawati menurut penulis
merupakan sumber yang memiliki kredibilitas.
Kritik terhadap keabsahan (keakuratan) dan keaslian sumber yang
diverifikasi tidak hanya sebatas pada sumber tertulis saja, melainkan juga terhadap
sumber lisan yaitu penjelasan pelaku atau saksi sejarah. Kritik eksternal terhadap
sumber lisan dilakukan dengan cara mengidentifikasi para narasumber apakah
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
samping itu juga, penulis melakukan kritik eksternal terhadap sumber lisan
dengan cara melihat usia dan kedudukan narasumber di dalam lingkung seni
Bangkong Reang.
Kritik eksternal terhadap sumber lisan dilakukan kepada Bapak Meman
(68 tahun) merupakan seorang pemimpin atau ketua dari lingkung seni Bangkong
Reang Gema Panglipur dan Bapak Uep (45 tahun) merupakan salah seorang
seniman yang tergabung dalam lingkung seni Bangkong Reang Gema Panglipur.
Mereka merupakan orang yang terlibat aktif dalam setiap pertunjukan kesenian
Bangkong Reang dan secara fisik mereka masih sehat, serta daya ingatannya pun
masih kuat dalam menjelaskan segala peristiwa yang berkaitan dengan kesenian
Bangkong Reang yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat di
Desa Lebak Muncang. Melihat dari sudut pandang aspek eksternal tersebut,
penulis beranggapan bahwa informasi yang diperoleh dari mereka layak dijadikan
sebagai sumber dalam penulisan skripsi ini.
Selain itu juga, penulis melakukan kritik eksternal terhadap salah satu
tokoh masyarakat di Desa Lebak Muncang, yaitu Bapak Dede (62 tahun) yang
merupakan seorang anggota PASEBAN Kecamatan Ciwidey. Beliau mempunyai
perhatian khusus terhadap kebudayaan, termasuk kesenian Bangkong Reang dan
beliau juga banyak memberikan informasi mengenai tanggapan masyarakat
terhadap keberadaan dan perkembangan kesenian Bangkong Reang, sehingga
pernyataannya dapat dipertanggungjawabankan.
Narasumber lain yang peniliti lakukan pada kritik eksternal adalah Bapak
Aep (64 tahun) merupakan seorang dosen tetap bidang studi Pendidikan Bahasa
dan Sastra Indonesia STKIP Siliwangi. Beliau juga aktif dalam organisasi yang
bergerak di bidang seni dan budaya yaitu Paguyuban Seniman dan Budayawan
(PASEBAN) Kabupaten Bandung, menjabat sebagai wakil ketua PASEBAN,
Bidang Pendidikan dan Pengembangan Nilai Budaya. Beliau banyak memberikan
informasi mengenai kesenian Bangkong Reang, karena terlibat secara langsung
dalam beberapa kegiatan festival seni dan budaya helaran. Dengan demikian,
apabila melihat pada latar belakang akademis dan organisasi, penulis mengambil
sebuah kesimpulan bahwa apa yang disampaikan beliau dapat
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Sedangkan, untuk Ibu Hj. Dini Hayati (46 tahun) adalah seorang PNS di
lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Bandung, menjabat
sebagai Kasi Pengembangan Seni dan Nilai Budaya. Melihat latar belakang
profesi beliau, peneliti beranggapan bahwa penjelasan yang diberikan atau
disampaikan Ibu Dini dapat mewakili informasi yang peneliti harapkan dari
kalangan aparat pemerintahan setempat berkenaan dengan pertunjukan kesenian
Bangkong Reang.
3.3.2.2 Kritik Internal
Kritik internal adalah sebagaimana yang disarankan oleh istilahnya
menekankan aspek “dalam” yaitu isi dari sumber (Sjamsuddin, 2007, hlm. 143). Kritik ini bertujuan untuk melihat kredibilitas dan reabilitas isi dari sumber
tertulis maupun sumber lisan. Pada umumnya kritik internal berkaitan dengan
keabsahan (veliditas) dan makna data, dalam hal ini seorang peneliti harus
bersikap objektif dan netral dalam menggunakan data yang telah diperoleh,
sehingga peristiwa sejarah itu terjamin kebenarannya.
Penulis melakukan kritik terhadap beberapa sumber tertulis yang
dipergunakan dalam skripsi ini, buku yang penulis kritik dalam tahapan kritik
internal yaitu buku yang berjudul Taksonomi Seni karya Saini yang mengkaji
tentang seni dengan melakukan pengelompokan terlebih dahulu dan seni dapat
dipahami ketika kita terlebih dahulu mengkaitkannya dengan aspek-aspek luar
yang mengintarinya seperti penciptanya, penikmatnya dan kritikus dari seni. Saini
menyajikan pembahasan tentang seni secara utuh ditinjau sebagai seni. Rohidi
dalam bukunya yang berjudul Kesenian Dalam Pendekatan Kebudayaan, yang
membahas kesenian dari sudut pandang atau pendekatan kebudayaan.
Rohidi menekankan asal mula terbentuknya kesenian yaitu sebagai
serangkaian tata kebiasaan masyarakat yang berkembang dari masa ke masa, serta
menilai bahwa seni merupakan bagian dari unsur kebudayaan manusia.
Selanjutnya, Edi Sedyawati (1991) dalam buku yang berjudul Pertumbuhan Seni
Pertunjukan dipaparkan sebuah kajian tentang kesenian dipandang dari sudut
antropologis dan sosiologi. Secara umum buku ini merupakan kumpulan artikel
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
yang mendalam tentang konsep-konsep seni, sejarah seni pertunjukan Indonesia,
perkembangan seni pertunjukan tradisional, yang berakhir pada pelestarian
budaya dibahas dalam buku ini.
Buku yang berjudul Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi karya
Soedarsono, berbeda dengan literatur lainnya Soedarsono mengkaji tentang seni
pertunjukan Indonesia dari sudut pandang sejarah. Soedarsono menjelaskan
perkembangan seni pertunjukan dimulai dari masa prasejarah, perkembangan
selanjutnya adalah masa pengaruh Hindu terhadap seni tradisional, perkembangan
seni pertunjukan pada zaman Islam, kemudian perkembangan seni pertunjukan
pada masa pengaruh Barat, seni pertunjukan pada masa kemerdekaan, dan seni
pertunjukan di era globalisasi.
Selain itu, penulis melakukan kritik internal terhadap sumber tertulis
dalam bentuk skripsi yang ditulis oleh Wulansari (2014) dengan judul Unsur
Semiotik Dina Kasenian Bangkong Reang di Kampung Cijawura, Desa Lebak
Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Pikeun Bahan Pangajaran
Maca Artikel di SMA. Meskipun skripsi tersebut sama membahas tentang
kesenian Bangkong Reang di Kampung Cijawura, Desa Lebak Muncang, namun
secara khusus skripsi tersebut menjelaskan simbol-simbol dari unsur pementasan
kesenian Bangkong Reang, yang kemudian diterjemaahkan untuk dijadikan
alternatif bahan pembelajaran membaca tek artikel budaya di SMA. Penulis
melakukan kritik internal terhadap sumber lisan dengan cara membandingkan
hasil wawancara antara narasumber yang satu dengan narasumber yang lainnya,
sehingga diperoleh informasi dan fakta tentang perkembangan kesenian Bangkong
Reang secara lengkap. Misalnya, apa yang diungkapkan oleh narasumber pertama
Bapak Meman (68) dengan narasumber kedua Bapak Uep (45) dalam wawancara
mengenai latar belakang lahirnya kesenian Bangkong Reang memiliki kesamaan
dalam segi jawaban yang disampaikan.
Kedua narasumber ini menjelaskan bahwa kemunculan kesenian tersebut
tidak terlepas dari kebutuhan masyarakat di Desa Lebak Muncang, baik sebagai
sarana hiburan anak-anak sebagai penggembala dalam mengisi waktu yang
kosong supaya tidak jenuh dengan aktivitas menggembala ternak maupun pelepas
Sopian, 2016
PERKEMBANGAN KESENIAN BANGKONG REANG DI DESA LEBAK MUNCANG KECAMATAN CIWIDEY KABUPATEN BANDUNG PADA TAHUN 1967-2014
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
sebagian besar bermata pencaharian dalam bidang pertanian. Berdasarkan hasil
wawancara di lapangan dengan narasumber, penulis melakukan kaji banding
apakah terdapat perbedaan jawaban yang disampaikan oleh informan. Apabila
kebanyakan isinya seragam, maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apa
yang dikatakan oleh narasumber adalah benar, tujuannya untuk meminimalisir
tingkat ke subjektivitasan dari narasumber.
3.3.2.3 Historiografi
Tahapan ini adalah tahap terakhir dari keseluruhan penulisan laporan
penelitian, prosedur penelitian merupakan kegiatan intelektual dan cara utama
dalam memahami sejarah (Sjamsuddin, 2007, hlm 153). Historiografi merupakan
usaha untuk mensintesiskan data-data dan fakta-fakta sejarah menjadi suatu kisah
yang jelas dalam bentuk lisan maupun tulisan (Ismaun, 2005, hlm. 28). Dalam
tahapan historiografi fakta-fakta yang telah dikumpulkan dan dikritik, kemudian
disajikan dalam bentuk tulisan yang logis, sitematis dan bermakna.
Historiografi yang baik pada umumnya menyajikan latar belakang atau
konteks peristiwa, kronologis peristiwa, analisis sebab akibat, dan uraian
mendalam mengenai hasil penelitian, yang diharapkan dapat memberikan
pemahaman baru yang bermakna kepada pembaca. Penulisan skripsi ini disajikan
ke dalam karya tulis ilmiah yang disebut dengan skripsi. Skripsi ini disusun
dengan gaya bahasa yang sederhana dan menggunakan cara penulisan yang sesuai
dengan ejaan yang telah disempurnakan (EYD). Sedangkan, sistematika penulisan
yang digunakan mengacu kepada buku podoman karya tulis ilmiah yang
dikeluarkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dalam aturan
pengutipan juga, menggunakan sistem Harvard sesuai dengan buku pedoman