• Tidak ada hasil yang ditemukan

Furunkulosis.docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Furunkulosis.docx"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FURUNKULOSIS FURUNKULOSIS

I.

I. DEFINISIDEFINISI

Furunkel merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan pada folikel Furunkel merupakan penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan pada folikel rambut dan jaringan subkutan sekitarnya.

rambut dan jaringan subkutan sekitarnya.1,21,2 Ciri furunkel yaitu bulat, nyeri, berbatas tegas Ciri furunkel yaitu bulat, nyeri, berbatas tegas yang berakhir dengan supurasi di tengah. Jika lebih dari satu disebut furunkulosis. yang berakhir dengan supurasi di tengah. Jika lebih dari satu disebut furunkulosis.33 Furunkel merupakan proses lanjutan dari folikulitis yang tidak membaik. Beberapa Furunkel merupakan proses lanjutan dari folikulitis yang tidak membaik. Beberapa furunkel y

furunkel yang bergabung ang bergabung menjadi satu menjadi satu akan membentuk akan membentuk karbunkel. Pada karbunkel. Pada karbunkel,karbunkel, furunkel tersebut hanya dibatasi oleh trabekula fibrosa yang berasal dari jaringan furunkel tersebut hanya dibatasi oleh trabekula fibrosa yang berasal dari jaringan subkutan yang padat.

subkutan yang padat.22

Furunkel muncul di tempat tumbuhnya rambut, biasanya pada daerah yang sering Furunkel muncul di tempat tumbuhnya rambut, biasanya pada daerah yang sering mengalami pergesekan, penyumbatan, dan daerah lembab seperti pada leher, wajah, mengalami pergesekan, penyumbatan, dan daerah lembab seperti pada leher, wajah, aksila, dan bokong.

aksila, dan bokong.44

Gambar 1.

Gambar 1. Klasifikasi infeksi bakteri pada folikel rambutKlasifikasi infeksi bakteri pada folikel rambut

Pada awal furunkel muncul yaitu berupa nodul berbatas tegas, keras, eritem, edema Pada awal furunkel muncul yaitu berupa nodul berbatas tegas, keras, eritem, edema kemudian meluas dan menjadi nyeri dan berfluktuasi setelah beberapa hari. Apabila kemudian meluas dan menjadi nyeri dan berfluktuasi setelah beberapa hari. Apabila nodul tersebut pecah maka akan menghasilkan pus dan terkadang disertai jaringan nodul tersebut pecah maka akan menghasilkan pus dan terkadang disertai jaringan nekrotik. Selanjutnya, nyeri disekitar lesi berkurang dan eritem serta edema juga akan nekrotik. Selanjutnya, nyeri disekitar lesi berkurang dan eritem serta edema juga akan  berkurang setelah beberapa hari hingga beberapa minggu.

(2)

II. ETIOPATOGENESIS

Furunkulosis adalah salah satu bentuk pioderma, yaitu penyakit infeksi yang terutama disebabkan oleh bakteri gram positif. Bakteri penyebab furunkulosis yang tersering adalah Staphylococcus aureus.1,2,3,5  Sedikitnya 10% dari orang normal adalah sabagai pembawa tetap stafilokokus patogen pada hidung dan perineum, dan sejumlah 70-90% merupakan pembawa sementara bakteri tersebut.5  Sebagian pasien yang tidak memiliki faktor risiko MRSA ( Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) terjangkit furunkel karena infeksi bakteri S. aureus  dengan tipe bakteri  Methicillin-susceptible Staphylococcus aureus.6

Gambar 2. Bentuk mikroskopis Staphylococcus aureus7

Lesi mula-mula berupa infiltrat kecil, dalam waktu singkat membesar membentuk nodula eritematosa berbentuk kerucut. Kemudian pada tempat rambut keluar tampak  bintik-bintik putih sebagai mata bisul. Nodus tersebut akan melunak menjadi abses yang akan memecah melalui lokus minoris resistensie yaitu muara folikel. Hal ini akan menyebabkan rambut menjadi rontok / terlepas. Jaringan nekrotik akan keluar sebagai  pus dan terbentuk fistel.1-2

Infeksi diawali ketika virulensi stafilokokus melekat pada sel-sel dari folikel rambut, kemudian berkembangbiak dan menyebar turun ke dalam folikel dan kelenjar sebasea. Infeksi tersebut menimbulkan terjadinya respon inflamasi yaitu bengkak dan memerah, kemudian diikuti bertambahnya jumlah PMN. Apabila infeksi berlanjut maka akan terjadi sumbatan folikel dan terbentuk jaringan nekrosis yang akan menjadi abses kecil. Proses infeksi menyebar lebih dalam lagi hingga ke lapisan subkutis dimana pada

(3)

lokasi ini abses yang lebih besar akan terbentuk. Abses pada subkutis inilah yang menyebabkan timbunya nyeri pada furunkel.8

Gambar 3.Patogenesis Furunkel8

Faktor risiko yang mempengaruhi timbulnya furunkulosis yaitu sebagai berikut:

 Faktor kebersihan

Bisul muncul karena adanya kuman. Kebersihan lingkungan juga sangat mempengaruhi, karena lingkungan yang tidak terjaga kebersihannya kuman akan mudah berkembang biak.

(4)

Udara panas salah satu penyebab terjadinya bisul, terutama bisul yang terjadi pada kelenjar /keringat. Bayi sangat mudah berkeringat terutama pada daerah yang panas, sangat dianjurkan untuk selalu mengelap keringat juga keringat bayi berlebihan.

 Menurunnya daya tahan tubuh

Menurunnya daya tahan tubuh juga mempengaruhi masuknya kuman ke dalam tubuh. Bayi dengan ASI eksklusif lebih terjaga dari serangan kuman dari pada bayi dengan susu formula.

 Lain-lain

Seperti penyakit diabetes, obesitas atau malnutrisi, hiperhidrosis, anemia, dan stres emosional akan mempengaruhi angka kejadian.2,9,10

III. EPIDEMIOLOGI

Berdasarkan penelitian, furunkel lebih sering didapatkan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.10  Namun, hampir setiap orang terpapar oleh bakteri Staphylococcus aureus  dimana bakteri tersebut banyak ditemukan pada cuping hidung dengan jumlah sekitar 108 bakteri. Sekitar 20% orang dewasa yang sehat memiliki hasil  positif dari pemeriksaan kultur dalam jangka waktu setahun atau lebih, dan sementara itu

lebih dari 60% bakteri tersebut telah mengalami kolonisasi. Bakteri menyebar ke organ tubuh lain dan juga ke lingkungan lewat perantara tangan. Meskipun cuping hidung merupakan habitat utama dari Staphylococcus aureus, namun kulit yang lembab juga dapat menjadi tempat untuk kolonisasi bakteri. Orang yang sedang sakit bisul maupun yang sedang terinfeksi Staphylococcus aureus  tidak diperkenankan bekerja pada  pekerjaan yang berkaitan dengan bahan pangan, atau berdekatan dengan pasien yang

memiliki luka pascabedah maupun dengan pasien sakit kronis. Stafilokokus dapat  bertahan dengan baik pada lingkungan dan dapat menular ke orang lain. SejakS. aureus dapat menetap di tempat-tempat umum dan ada banyak perbedaan strain pada populasi, maka epidemi penyakit stafilokokus dapat dicari asalnya hanya boleh dengan cara identifikasi yang tepat. Cara untuk membagi strain tersebut termasuk dalam menentukan  pola kepekaan terhadap multipel antibiotik, tipe bakteriofag, dan plasmid. Keseluruhan

(5)

membandingkan pola-pola elektroforesis fragmen DNA dengan pemanfaatan enzim restriksi.8

IV. GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN

A. BENTUK KLINIS

Mula-mula berupa makula eritematosa lentikularnumular setempat, kemudian menjadi nodula lentikularnumular berbentuk kerucut, ditengahnya terdapat pustul. Selanjutnya melunak menjadi abses berisi pus dan jaringan nekrotik dan memecah.2-3

B. HISTOPATOLOGI

Berupa abses yang dibentuk oleh limfosit dan leukosit PMN, mula-mula pada folikel rambut. Pada bagian bawah folikel rambut (dalam jaringan sub kutis), abses dapat pula mengandung stafilokok.2 Pada kasus yang sudah lama terdapat sel plasma dan sel datia  benda asing ( giant cell ).3

Gambar 4. Furunkel Gambar 5. Furunkel pada kulit abdomen

(6)

C. MIKROBIOLOGI

Pemeriksaan bakteriologi dari sekret dengan pewarnaan gram akan didapatkan bakteri gram positif.1

V. KOMPLIKASI

Komplikasi dapat terjadi apabila bakteri masuk ke pembuluh darah, dan akan menginvasi organ tubuh lain seperti jantung, tulang, maupun otak.8 Infeksi dapat menyebar ke bagian tubuh lain melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah, sehingga terjadi peradangan pada vena, trombosis, bahkan bakterimia. Bakterimia dapat menyebabkan terjadinya endokarditis, osteomielitis akut hematogen, meningitis atau infeksi paru-paru.7

VI. DIAGNOSIS BANDING2,4,10  Acne kistik 

 Kerion

 Hidradenitis suppurativa

  Ruptured epidermal inclusion cyst   Myiasis furunkular 

  Apical dental abcscess  Osteomielitis  Sporotrikosis  Blastomikosis  Skrofuloderma VII. PENATALAKSANAAN1,10 Non medikamentosa:

 Higiene kulit harus ditingkatkan. Hindari menggunakan pakaian maupun handuk yang sama.

(7)

 Mengatasi faktor predisposisi dan keadaan komorbid, misalnya infeksi parasit atau dermatitis atopik.

Medikamentosa:

1. Topikal:

Bila banyak pus atau krusta: kompres terbuka dengan permanganas kalikulus 1/5000, rivanol 1%, larutan povidon dilarutkan 10 kali, dilakukan 3 kali sehari masing-masing 1 jam selama keadaan akut.

Bila tidak tertutup pus atau krusta: salep/krim asam fusidat 2%, mupirosin 2%, neomisin atau basitrasin. Dioleskan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.

Bila terdapat krusta: dilepaskan. 2. Sistemik: minimal selama 7 hari.

First line:

 Kloksasiklin: dewasa 4 x 250-500 mg/hari per oral, anak-anak 50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis, selama 5-7 hari.

Pada S. aureus resisten eritromisin:

 Amoksisilin dan asam klavulanat: dewasa 3 x 250-500 mg/hari; anak-anak 25 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, selama 5-7 hari.

 Sefaleksin: 40-50 mg/kgBB/hari terbagi dalam 4 dosis, selama 5 -7 hari.  Sefaklor: 20 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis.

Second line:

 Azitromisin 1 x 500 mg/hari (hari I), dilanjutkan 1 x 250 mg (hari II-V).  Klindamisin 15 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis, selama 10 hari.

 Eritromisin: dewasa 4 x 250-500 mg/hari; anak-anak 20-50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis, selama 5-7 hari.

3. Pada kasus yang berat atau infeksi di daerah berbahaya seperti maksila, antibiotic diberikan secara parenteral.

4. Apabila terdapat MRSA pada infeksi berat: vankomisin 1-2 gram/hari dalam dosis terbagi, intravena, selama 7 hari.

5. Apabila lesi besar, nyeri, disertai fluktuasi, dilakukan insisi dan drainase. 6. Kasus rekuren, diberikan antibiotik berdasarkan hasil kultur dan resistensi.

(8)

XI. EVALUASI DAN PROGNOSIS

Prognosis baik selama faktor penyebab teratasi, dan prognosis menjado kurang baik jika terjadi rekurensi.2

(9)

DAFTAR PUSTAKA

1. Perdoski. Panduan pelayanan medis dokter spesialis kulit dan kelamin. Jakarta: FK UI;

2011. p:83-4.

2. Siregar RS. Pioderma. Atlas berwarna saripati penyakit kulit. Ed 2. Jakarta: EGC; 2005. p: 52-4.

3. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan A, Wicaksono A, Hamsah A, Rukmawati A, et al. Furunkel dan karbunkel. Kapita selekta kedokteran. Ed 3. Jakarta: Media Aesculapius FK UI, 2000. P: 79-80.

4. Craft N, Lee PK, Zipoli MT, Weinberg AN, Swartz MN, Johnson RA. Superficial Cutaneous Infections and Pyodermas. In Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ (2008). Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 7th Ed. The McGraw-Hill Companies, Inc. USA. 2008. p: 1699.

5.  Nayak C, Singh V, Singh K, Singh H, Chakravorty PS, Kaushik S, Roja V, et al. A Prospective Multicenter Observational Study to evolve the usefulness of the nine predefined homoeopathic medicines in Furunculosis. Indian Journal of Research in Homoeopathy, 2010. 4(1): 31.

6. Anderson DJ, Kaye KS. Skin and soft tissue infections in older adults. Clin Geriatr Med (23):599.

7. Kusuma SAF. Staphylococcus aureus. [Makalah] bandung: Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran; 2009. p: 1-2.

8.  Nester EW, Anderson DG, Roberts CE, Pearsall NN, Nester MT. Bacterial skin disease.

Microbiology: A human perspective. 4th Ed. Washington; 2004. p: 536-8.

9. Purwati. Asuhan kebidanan neonatus, bayi, dan balita. [Diktat Ajar] Purwokerto: FIK Universitas Muhammadiyah Purwokerto; 2012. p: 99.

10. Hagewoning, Arjan. Furuncle. Skin diseases among schoolchildren in Africa. Africa: Leiden University; 2012. p: 120-1.

Gambar

Gambar 2. Bentuk mikroskopis Staphylococcus aureus 7
Gambar 3. Patogenesis Furunkel 8
Gambar 6 . Furunkel pada nasolabial Gambar 7. Folikulitis dan furunkulosis

Referensi

Dokumen terkait

Pembuluh darah yang terluka atau rusak, infeksi yang disebabkan oleh bakteri pada pembuluh darah dan katup jantung, peradangan dan infeksi-infeksi lain pada jaringan- jaringan

Banyak obat kemoterapi yang mempengaruhi folikel rambut dan dapat menyebabkan rambut rontok dalam beberapa minggu perawatan pertama. Rambut rontok dapat terjadi pada kepala, alis,

Pada penyakit TB, glossitis disebabkan oleh infeksi bakteri TB yang banyak pada saliva di rongga mulut terutama pada sputum sehingga menyebabkan suatu peradangan yang sering

Kuman lepra yang menyerang kulit akan menyebabkan kulit menjadi atrofi dan folikel rambut rusak, akan terjadi kerontokan rambut pada alis mata dan bulu

Daerah ini disebut daerah berbahaya karena furunkel, infeksi hidung dan trauma sekitar hidung yang terinfeksi dapat menyebar ke sinus kavernosus dan menyebabkan Furunkel

hepatitis adalah suatu penyakit peradangan pada jaringan hati yang disebabkan oleh infeksi. virus yang menyebabkan sel sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak

Proses peradangan dan infeksi dapat terjadi pada lapisan peritonium Proses peradangan dan infeksi dapat terjadi pada lapisan peritonium yang dapat menyebabkan kondisi kekritisan

Akne vulgaris atau lebih dikenal dengan jerawat adalah penyakit peradangan menahun folikel polisebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja. Banyak hal yang