BAB I PENDAHULUAN. Produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjual belikan dalam. menurut Philip kotler adalah apapun yang bisa

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjual belikan dalam marketing. Produk menurut Philip kotler adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan. dalam tingkat pengecer, produk sering dapat disebut sebagai merchandise. dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk bahan mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang dalam bentuk bahan mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas. Kata produk berasal dari bahasa inggris product yang berarti sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya. Bentuk kerja dari kata product yaitu produce yang berarti memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata produk merujuk kepada apapun yang diproduksi. Namun sejak 1695, definisi kata produk lebih merujuk kepada sesuatu yang diproduksi.1

Assosiation for Electronic Commerce secara sederhana mendefinisikan e-commerce sebagai mekanisme bisnis secara elektrinis. CommerceNet, sebuah konsorsium industri memberikan definisi lengkap yaitu penggunaan jaringan komputer sebagai sarana penciptaan relasi

1

(2)

2

bisnis. Tidak puas dengan definisi tersebut CommerceNet menambahkan bahwa di dalam e-commerce terjadi proses pembelian dan penjualan jasa atau produk antara dua belah pihak melalui internet atau pertukaran dan distribusi informasi antar dua pihak dalam satu perusahaan dengan menggunakan internet. Sementara itu Amir Hatman dalam bukunya Net Ready : Strategies for Success in the e-Conomy secara lebih terperinci lagi mendefinisikan e- commerce sebagai suatu mekanisme bisnis secara elektronis yang memfokuskan diri pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai medium pertukaran barang atau jasa baik antara dua institusi (Business to business) maupun antar institusi dan konsumen langsung (Business to Consumer).2

Transaksi online dalam e-commerce menurut Cavanilas dan Nadal dalam Research Paper on Contract Law, memiliki banyak tipe dan variasi, yaitu :3

1. Transaksi melalui chatting dan video conference; 2. Transaksi melalui email;

3. Transaksi melalui web atau situs.

Transaksi melalui chatting atau video conference adalah seseorang dalam menawarkan sesuatu dengan model dialog interakstif melalui

2 Richardus Eko Indrajit, 2001, E-Commerce: Kiat dan Strategi Bisnis Di Dunia Maya, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, hlm. 3

3 M.Sanusi Arsyad, 2000,”Transaksi Bisnis dalam Electronic Commerce

(e-Commerce):Studi Tentang Permasalahan – Permasalahan Hukum dan Solusinya”,Tesis Magister, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, hlm. 53

(3)

3

internet, seperti melalui telepon, chatting dilakukan melalui tulisan sedang video converence dilakukan melalui media elektronik, dimana orang dapat melihat langsung gambar dan mendengar suara pihak lain yang melakukan penawaran dengan mengunakan alat ini.

Transaksi dengan menggunakan email dapat dilakukan dengan mudah. Dalam hal ini kedua belah pihak harus sudah memiliki email addres. Selanjutnya, sebelum melakukan transaksi, customer sudah mengetahui e-mail yang akan dituju dan jenis barang serta jumlah yang akan dibeli. Kemudian customer menulis nama produk dan jumlah produk, alamat pengiriman dan metode pembayaran yang digunakan. Customer selanjutnya akan menerima konfirmasi dari merchant mengenai order barang yang dipesan.4

Model transaksi melalui web atau situs yaitu dengan cara ini merchant menyediakan daftar atau katalog barang yang dijual yang disertai dengan deskripsi produk yang telah dibuat oleh penjual. Pada model transaksi ini dikenal istilah order form dan shopping cart. Untuk lebih jelas dipaparkan kedua model tersebut sebagai berikut :

1. Order Form.

Berbelanja dengan mengunakan order form merupakan salah satu cara berbelanja yang paling sering digunakan dalam e-commerce. Dengan cara ini merchant menyediakan daftar atau

4 Tim Litbang Wahana Komputer, 2001, Apa dan Bagaimana e-Commerce, Cetakan Pertama,Yogyakarta, hlm. 63

(4)

4

katalog barang (product table) yang dijual. Saat tahap order dilaksanakan, biasanya produk yang dijual tidak divisualisasikan dalam bentuk gambar, akan tetapi dalam bentuk deskripsi produk. Dalam sebuah halaman order form, sesi penawaran produk terbagi menjadi empat bagian, yaitu :

a. Check box yang dibuat untuk memberi kesempatan kepada customer untuk memiliki produk yang ditawarkan dengan mengklik kotak tersebut sehingga bertanda check; b. Penjelasan produk yang ditawarkan;

c. Kuantitas barang yang dipesan; d. Harga untuk tiap – tiap produk.

Selain tabel produk ditawarkan juga jenis pembayaran. Jenis– jenis pembayaran yang ditawarkan berbeda–beda sesuai dengan layanan yang disediakan oleh merchant, seperti dengan credit card, transfer lewat bank, check dan lain–lain. Pada saat pengisian form, customer diminta untuk mengisi formulir yang berisi informasi kontak untuk customer (sering disebut Contact Information Table). Bila pembayaran menggunakan credit card maka form akan diisi dengan mengisi jenis atau tipe credit card, nomor credit card, tanggal kadaluarsa (expired date) serta informasi pemegang kartu (card holder).

(5)

5

Setelah pengisian order form dilakukan selanjutnya disediakan tombol untuk konfirmasi order, biasanya digunakan tombol submit dan tombol reset. Jika diklik tombol reset, proses akan mereset semua pilihan dan informasi yang telah dimasukkan oleh customer dan dapat diulang dari awal. Akan tetapi jika yang ditekan adalah tombol submit maka proses akan dilanjutkan ke tahap pengesahan dan pengecekan order. Pada bagian ini dipasang sistem keamanan, misalnya SSL (Secure Sockets Layer) untuk melindungi dari tindakan penipuan.

Selanjutnya, jika informasi yang dikirimkan oleh customer telah memenuhi persyaratan atau dinyatakan valid maka merchant akan mengirimkan berita konfirmasi kepada customer dalam bentuk e-mail.5

2. Shopping Cart

Jika seseorang berbelanja di salah satu pasar swalayan tentunya membutuhkan kereta belanja untuk meletakkan kereta belanja yang akan dibeli. Selama belum membayar dikasir, ia bisa membatalkan pembelian barang tersebut atau menukarnya dengan yang lain. Demikian pula halnya dengan berbelanja melalui e-commerce. Dalam e-commerce untuk memilih barang yang akan dibeli, ada semacam formulir yang dinamakan shopping cart yang

5

(6)

6

berfungsi seperti kereta belanja.6 shopping cart merupakan sebuah software di dalam web yang mengijinkan seorang customer untuk melihat toko yang dibuka dan kemudian memilih items untuk “diletakkan dalam kereta belanja” yang kemudian membelinya saat melakukan check out. Software ini akan melakukan penjumlahan terhadap biaya transportasi pengiriman barang (jika ada), kuantitas barang dan harga total barang yang dibutuhkan untuk dimasukkan ke dalam shopping cart dan masih bisa membatalkan sebelum mengadakan transaksi.7 Setelah semua barang yang dibeli dimasukkan ke dalam shopping cart, kemudian dilakukan check out. Selanjutnya adalah mengisi formulir transaksi yang berupa data identitas pembeli dan jenis pembayaran yang digunakan. Setelah semua ketentuan terpenuhi, merchant segera mengirimkan barang yang dipesan kepada customer.

Transaksi jual beli melalui e-commerce, biasanya akan didahului oleh penawaran jual, penawaran beli dan penerimaan jual atau penerimaan beli. Sebelum itu mungkin terjadi penawaran secara online, misalnya melalui website situs di internet atau melalui posting di mailing list dan news group atau melalui undangan untuk para customer melalui model business to business.8

6

Rijanto Tosin, 2000, Cara Mudah Belajar e-Commerce di Internet, Dinastindo, Jakarta, hal.15

7 Tim Litbang Wahana,Op.Cit, hlm. 61-63

8 Nindyo Pramono,”Revolusi Dunia Bisnis Indonesia Melalui e-commerce dan e-

(7)

7

Pasal 1313 KUH Perdata menyebutkan bahwa “suatu perjanjian adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Sudikno Mertokusumo mendefinisikan perjanjian adalah hubungan hukum antar dua belah pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Dua pihak itu sepakat untuk menentukan peraturan atau kaedah hukum atau hak dan kewajiban yang mengikat mereka untuk ditaati dan dijalankan. Kesepakatan itu menimbulkan akibat hukum dan bila kesepakatan dilanggar maka akibat hukumnya si pelanggar dapat dikenakan akibat hukum atau sanksi.9 Subekti mendefiniskan perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal.10

Menurut pasal 1 angka 1 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 yang dimaksud dengan hukum perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. Kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen itu antara lain adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat konsumen serta membuka akses informasi tentang

9 Sudikno Mertokusumo, 1990,

Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta, hal.97 10

(8)

8

barang dan/atau jasa baginya, dan menumbuhkan sikap pelaku usaha yag jujur dan bertanggung jawab.11

Tujuan yang ingin dicapai dalam perlindungan konsumen umumnya dapat dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu :12

1. Memberdayakan konsumen dalam memilih, menentukan barang dan/atau jasa kebutuhannya, dan menuntut hak-haknya (Pasal 3 huruf c);

2. Menciptakan sistem perlindungan konsumenyang memuat unsur- unsur kepastian hukum, keterbukaan informasi, dan akses untuk mendapatkan informasi itu (Pasal 3 huruf d); 3. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai

perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap jujur dan bertanggung jawab (Pasal 3 huruf e).

E-commerce dalam pelaksanaannya juga menimbulkan beberapa permasalahan yang umumnya terjadi dan merupakan masalah klasik yang sering di bicarakan,yaitu :13

1. Hukum yang kurang berkembang dalam bidang e-commerce Hukum yang kurang berkembang dalam bidang e-commerce

11 Adrian Sutedi, 2008, Tanggung Jawab Produk Dalam Perlindungan Konsumen, Ghalia Indonesia,Bogor hlm. 9 12 Ibid 13 http://blog.pasca.gunadarma.ac.id/2012/05/30/e-commerce-dan-permasalahannya/ di akses pada 5 juli 2014

(9)

9

juga merupakan salah satu penyebab konsumen merasa ragu-ragu untuk melakukan transaksi pembelian hal ini di karenakan pihak penjual atau Perusahaan tidak memberikan perlindungan/jaminan terhadap konsumen yang melakukan transaksi. Hal ini juga ditunjang dengan belum adanya regulasi yang tepat sasaran yang menjamin system transaksi dalam e-commerce. Dalam hal ini pemerintah sekarang diharapkan lebih proaktif untuk melihat persoalan ini dengan mengembangakan regulasi yang sudah ada agar perlindungan hak – hak konsumen dalam e-commerce dapat terjamin. 2. Keamanan dan kepercayaan Dalam e-commerce modal awal

yang dimilikki oleh pihak penjual dan pembeli adalah kepercayaan dari masing – masing pihak hal ini dikarenakan dalam proses e-commerce umumya kedua belah pihak tidak saling mengenal secara pribadi. Kepercayaan merupakan fondasi yang kuat untuk menentukan sukses atau tidaknya e-commerce kedepan. Sebagai gambaran, suatu survei yang dilakukan di Amerika pada tahun 1999 melaporkan bahwa sekitar 60% pengguna pelayanan online akan keluar dari situs yang dikunjungi (log off) atau berbohong jika ditanya informasi pribadi. Dari kenyataan diatas dapat dilihat bahwa kepercayaan sangat erat hubungannya dengan keamanan konsumen. Dalam kegiatan transaksi e-commerce

(10)

10

konsumen yang diminta untuk memberikan data atau informasi pribadi akan merasa takut untuk melakukannya karena adanya rasa ketidakpercayaan kepada pihak penjual, apakah pihak penjual dapat dipercaya untuk melindungi datanya dan dapat menjaga kerahasiaannya. Selainnya itu apakah kedua belah pihak bisa menentukan keabsahan data dan informasi yang diberika masing – masing.

Di lain pihak meskipun Undang-Undang perlindungan konsumen telah ada, pelaksanaannya belum berjalan dengan mulus, karena adanya pandangan pemerintah bahwa apabila perlindungan konsumen diterapkan, maka banyak pengusaha yang tidak akan mampu melaksanakan kegiatan usahanya, sementara pengusaha menggantungkan hal itu pada kebijakan yang dibuat pemerintah. disatu sisi, keberpihakan pemerintah kepada pengusaha lebih mengedepankan pada upaya pemulihan dan penyehatan ekonomi Indonesia yang sedang tidak sehat. Di sisi lain, pelaku usaha nampaknya tidak peduli dengan konsumen, meskipun konsumen mengalami kerugian sebagai akibat dari cacat produk barang, yang mengakibatkan kerugian materiil, cacat tubuh, bahkan kematian. selain itu, kondisi ekonomi Indonesia semakin terpuruk yang mengakibatkan ketergantungan kepada investor dari Negara lain juga menjadi faktor penyebab tidak berjalannya upaya perlindungan konsumen.

(11)

11

Berdasarkan latar belakang tesebut, maka penulis terdorong untuk mengadakan penulisan hukum yang berkaitan dengan hal ini dengan

mengangkat judul “TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA

TRANSAKSI JUAL BELI SECARA ONLINE (E-COMMERCE) BERDASARKAN HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN

(STUDI KASUS UD. ANDALUCIA CREATIVE

PRODUCTION)”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana tanggung jawab pelaku usaha terhadap produk ditinjau dari segi hukumnya ?

2. Bagaimana tanggung jawab pelaku usaha (UD. Andalucia Creative Production) kepada konsumen dalam menyelesaikan masalah yang timbul ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini mempunyai 2 (dua) tujuan yaitu :

1. Tujuan Obyektif

a. Untuk mengetahui tanggung jawab pelaku usaha terhadap produk ditinjau dari segi hukumnya.

b. Untuk mengetahui tanggung jawab pelaku usaha (UD. Andalucia Creative Production) kepada konsumen dalam menyelesaikan masalah yang timbul.

(12)

12

Penelitian ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Serjana Hukum (S.H) pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

D. Keaslian Penelitian

Penulisan hukum ini adalah karya asli dari penulis dan sepengetahuan penulis, penulisan hukum tentang tanggung jawab transaksi produk secara online dalam hukum perlindungan konsumen studi kasus (UD. Andalucia Creative Production Travel and Tour) belum pernah dilakukan oleh penulis sebelumnya. Namun terdapat beberapa penulisan hukum yang mirip dengan yang dilakukan penulis. Penulisan hukum sebelumnya dan perbedaannya dengan penulisan hukum yang dilakukan penulis ialah :

1. Abdy Nulhuda, NIM : 03/16756/HK/16346 melakukan penelitian dengan judul “Tinjauan Yuridis Ketentuan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Terhadap Perlindungan Konsumen di Dunia Maya”. Pada penulisan tersebut penulis lebih menitikberatkan pada perlindungan konsumen yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

2. Triana Raisa Pahotna Simanjuntak, NIM : 06/194134/HK/17257 melakukan penelitian dengan judul “Perlindungan Hukum terhadap Konsumen Online Shopping di Indonesia”. Pada

(13)

13

penelitian tersebut penulis lebih menitik beratkan pada penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen. Pelaku tidak membandingkan perlindungan konsumen di dalam KUH Pidana dan KUH Perdata.

3. Nurulfahmi Eka Rizki, NIM : 11/321665/HK/18967 melakukan penelitian dengan judul “Peran Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia Dalam Pelaksanaan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Terhadap Penipuan Online Shop Di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Pada penelitian tersebut penulis lebih menitikberatkan kepada penanganan yang dilakukan oleh kepolisian dalam melindungi konsumen menurut Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

E. Manfaat Penilitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat Akademis

Secara Akademis, hasil penulisan hukum ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pengembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pengembangan ilmu hukum dagang, khususnya mengenai pengaturan hukum perlindungan konsumen terhadap kendala–kendala yang dialami konsumen terhadap transaksi produk secara online dan bagaimana UD Andalucia Creative Production menanggulangi Kendala – kendala tersebut.

(14)

14

2. Manfaat Praktis

Secara Praktis, hasil penulisan hukum ini secara praktis diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya dan mahasiwa fakultas hukum lainnya tentang Tanggungjawab Pelaku Usaha Transaksi Jual Beli Secara Online (E-Commerce) Berdasarkan Hukum Perlindungan Konsumen (Studi kasus UD. Andalucia Creative Production).

Figur

Memperbarui...

Related subjects :