II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Hutan Rakyat
Pada mulanya hutan rakyat dikenal melalui program karangkitri yang dibangun dengan tujuan untuk menghijaukan pekarangan, talun dan lahan-lahan rakyat yang gundul untuk konservasi tanah dan air serta perbaikan lingkungan (Indrawati 2001). Hutan rakyat pada umumnya dikembangkan pada lahan kritis, lahan kering baik berupa tegalan maupun kebun atau lahan-lahan kurang produktif pada daerah bergelombang atau dengan kelerengan rata-rata di atas 45 %. Namun dalam perkembangannya hutan rakyat tidak hanya dikembangkan di daerah kritis tetapi juga diarahkan untuk mencapai sasaran peningkatan sosial ekonomi atau kesejahteraan masyarakat di pedesaan dan pemenuhan kebutuhan bahan baku industri.
Hutan rakyat sering disebut dengan istilah hutan milik, karena hutan rakyat merupakan hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang dinyatakan kepemilikan lahannya. Menurut peraturan perundang-undangan (UU no 5 tahun 1967 dan penggantinya UU no 41 tahun 1999) pengertian hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik. Definisi ini untuk membedakan dengan hutan negara, yaitu hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik atau tanah negara. Berdasarkan pengertian tersebut perbedaan hutan rakyat dengan hutan negara dilihat berdasarkan status pemilikan tanah atau sifat dari obyek (tanah dan hutan), bukan berdasarkan pelaku atau subyek yang mengelola hutan. Dengan demikian jika rakyat secara perorangan atau kelompok memperoleh hak guna usaha (misal HPH) hutannya tidak disebut sebagai hutan rakyat (Suharjito 2000). Lebih lanjut dijelaskan, pengertian hutan rakyat sebagaimana tersebut menimbulkan konsekuensi-konsekuensi. (1) hutan yang tumbuh di atas tanah adat dan dikelola oleh keluarga petani sebagai suatu anggota kelompok masyarakat dan diklaim sebagai hutan negara tidak termasuk hutan rakyat. (2) Hutan yang tumbuh di atas tanah milik dan diusahakan oleh orang kota yang menyewa atau membeli tanah masyarakat lokal masih dapat dikategorikan sebagai hutan rakyat.
Batasan hutan rakyat lebih rinci lagi diberikan oleh Menteri Kehutanan sebagaimana tercantum pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 49/Kpts-II/1997, pengertian hutan rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat dengan ketentuan luas minimum 0,25 ha dan penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan lebih dari 50% dan atau pada tanaman tahun I sebanyak minimal 500 tanaman tiap hektar. Menurut Simon (1999) hutan rakyat adalah hutan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat, ditujukan untuk menghasilkan kayu atau komoditas ikutannya secara ekonomi untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Hutan rakyat dibangun di atas lahan milik atau di atas lahan bukan kawasan negara dikenal dengan istilah private forest, tree farming atau wood lots.
Menurut Hardjanto dalam Suharjito (2000), hutan rakyat yang juga disebut sebagai hutan milik merupakan hutan yang dimiliki oleh masyarakat yang dinyatakan dengan kepemilikan lahan. Berkaitan dengan luas minimal hutan rakyat harus 0,25 Ha, maka keberadaan hutan rakyat di Jawa hanya sedikit yang bisa memenuhi kriteria sesuai dengan definisi hutan rakyat. Sedangkan Alrasyid (1979) mendefinisikan hutan rakyat sebagai hutan yang dibangun pada lahan milik atau gabungan dari lahan milik yang ditanami pohon, yang pembinaan dan pengelolaannya dilakukan oleh pemiliknya atau oleh suatu badan usaha seperti koperasi dengan berpedoman kepada ketentuan yang sudah digariskan oleh pemerintah.
2.2. Pembangunan Hutan Rakyat Pola Kemitraan
Secara resmi definisi kemitraan telah diatur dalam Undang-Undang Usaha Kecil (UUUK) no 9 tahun 1995 yaitu kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Kemitraan merupakan salah satu cara dalam hubungan produksi yang hanya bisa dipraktekkan apabila paling tidak ada dua pihak yang melakukan kerjasama dalam satu satuan waktu tertentu yang diatur dalam satu kesepakatan tertulis maupun lisan, dalam hubungan kemitraan masing-masing pihak menggunakan sumberdaya yang mereka kuasai.
Menurut Puspitawati (2004) konsep kemitraan idealnya kedua belah pihak yang bermitra harus saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Kerjasama kemitraan ada yang berjalan spontan berdasarkan saling membutuhkan, yang dilakukan secara insidentil dan untuk jangka waktu tertentu dan ada juga yang memang direkayasa oleh pemerintah berdasarkan kebijakan tertentu. Himbauan pemerintah yang cukup gencar bahkan disertai dengan fasilitas fisik maupun kemudahan yang disediakan oleh pemerintah seperti kemudahan dalam mendapatkan kredit bank, telah mendorong pihak swasta untuk mengembangkan usahanya melalui hubungan kemitraan. Hal lain yang mendorong pihak swasta melaksanakan kemitraan adalah sulitnya memperoleh lahan untuk berproduksi, sehingga secara perhitungan lebih efisien dengan mengontrak lahan petani daripada harus menginvestasikan dana yang cukup besar untuk penyediaan tanah
Dalam pembangunan hutan rakyat yang lestari, untuk menunjang keberhasilannya ditawarkan berbagai alternatif model, diantaranya adalah pembangunan hutan rakyat dengan pola kemitraan, yaitu dengan cara membentuk kemitraan antara petani pemilik lahan dan pihak swasta sebagai perusahaan mitra. Tujuannya antara lain adalah memberdayakan masyarakat sekitar hutan sebagai kekuatan ekonomi, meningkatkan kemampuan perekonomian masyarakat melalui kemandirian dalam mengelola usaha serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Hutan rakyat pola kemitraan dibangun oleh perusahaan di lahan milik masyarakat dan dikelola berdasarkan prinsip -prinsip kemitraan yang berazaskan kelestarian, sosial, ekonomi dan ekologi. Dasar pertimbangan kerjasama ini adalah adanya saling membutuhkan dan saling menguntungkan antara kedua belah pihak (Triyono 2004). Perusahaan memerlukan bahan baku kayu untuk industri secara berkesinambungan dan rakyat pemilik lahan memerlukan bantuan modal, pengetahuan teknis dan kepastian pemasaran. Selain itu, munculnya pemikiran untuk mengembangkan pola kemitraan dalam pembangunan hutan rakyat juga didasari keinginan untuk meningkatkan peran serta pihak -pihak yang terkait langsung dengan pembangunan hutan rakyat yaitu petani, pengusaha/industri pengolahan kayu dan pemerintah (Dishut Jateng 2004).
Meskipun demikian pemikiran untuk mengembangkan hutan rakyat dengan pola kemitraan juga tidak terlepas untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah dalam bentuk pemberian insentif permodalan kredit dengan bunga ringan. Pemanfaatan kredit usaha hutan rakyat (KUHR) dari Departemen Kehutanan yang berasal dari Dana Reboisasi (DR) untuk pembangunan hutan rakyat mengharuskan dibentuknya kemitraan antara kelompok tani dengan perusahaan mitra. Dengan demikian baik perusahaan mitra maupun petani hutan rakyat diharapkan tidak menghadapi kesulitan dalam memasarkan kayu untuk pengembalian kredit usaha hutan rakyat tersebut.
Permodalan berupa KUHR disalurkan kepada petani dengan status pinjaman lunak dengan bunga 6 % selama 11 tahun dengan lingkup kegiatan perencanaan, persiapan lahan, pembuatan persemaian/pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengadaan sarana prasarana hutan rakyat, perlindungan dan pengamanan hutan rakyat dan pemungutan hasil/pemanenan (Dephut 1997).
Melalui pembangunan hutan rakyat dengan pola kemitraan ini diharapkan pihak-pihak yang terkait langsung dalam pembangunan hutan rakyat dapat memperoleh manfaat yang diperoleh sekaligus (Dishut Jateng 2004), yaitu : (1) Petani : - Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani
- Memperoleh bantuan modal melalui pinjaman dari pemerintah
- Memperoleh bimbingan teknologi dari mitra usaha dan pemerintah
(2) Mitra Usaha : - Mempunyai cadangan bahan baku kayu
- Memperoleh bantuan modal melalui pinjaman dari pemerintah
(3) Pemerintah : - Salah satu program pemerintah dalam membangun hutan lestari dapat terealisasi
Menurut Irawanti et al. (2000), dalam penggunaan KUHR ada dua bentuk pengelolaan skim kredit untuk keperluan pembangunan hutan rakyat yang dipandang aman dari segi keuangan atau efisien dalam penggunaannya, yaitu (1)Perusahaan mitra menjadi penanggung jawab dalam hal pengembalian kredit
sehingga semua kegiatan fisik lapangan dari penanaman sampai pemanenan dilaksanakan oleh mitra sendiri. Hal ini dikarenakan pemahaman atau penguasaan petani terhadap teknik penyediaan dan pembuatan bibit, penanaman, pemeliharaan sampai dengan pemanenan sangat terbatas, di samping petani juga memiliki keterbatasan dalam permodalan. (2) Petani diberi kebebasan untuk memilih jenis tanaman yang biasa dibudidayakan oleh mereka secara turun temurun atau secar a tradisional. Apabila petani telah menguasai teknis dan ekonomis budidaya tanaman tersebut maka peluang untuk gagal dapat diminimalkan. Dalam kedua model tersebut terdapat unsur niat baik perusahaan mitra untuk menolong petani dimana mitra tidak membuka peluang untuk memotong kredit yang menjadi hak petani. Lebih lanjut dijelaskan, apabila seluruh kredit secara tunai diberikan kepada petani maka peluang gagal dalam membangun hutan rakyat sangat besar sebab hasil dari hutan rakyat diperoleh dalam jangka waktu yang lama (sesuai keketentuan KUHR adalah 11 tahun).
Pembangunan hutan rakyat pola kemitraan ditempuh dengan beberapa pola pemanfaatan lahan, yaitu (1) tanaman kayu dikembangkan di sekeliling lahan sebagai tanaman pagar / batas dan di tengahnya diusahakan tanaman semusim, (2) tanaman kayu dikembangkan di seluruh hamparan lahan tetapi menggunakan jarak tanam relatif lebar agar dapat dikombinasikan dengan tanaman semusim, (3) tanaman kayu dikembangkan di seluruh hamparan lahan, pada tahun pertama dan kedua ditanam dengan sistem tumpangsari kemudian pada tahun-tahun berikutnya dilakukan penjarangan dimana hasil kayunya sudah dapat dijual. (Irawanti et al. 2000). Untuk tanaman yang dikembangkan sebagai tanaman pagar/batas, kontrak kerjasama antara perusahaan mitra dengan petani dihitung berdasarkan jumlah pohon, tetapi dalam mendapatkan kredit KUHR yang berdasarkan perhitungan persatuan luas (hektar), maka dalam perhitungannya jumlah pohon dikonversikan ke satuan luas dengan jumlah pohon 1.650 setiap ha atau jarak tanam 2 x 3 m.
Berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan sebagaimana dalam Surat Keputusan nomor 02/Kpts/V/1997 jenis tanaman yang dikembangkan untuk kegiatan usaha hutan rakyat adalah jenis tanaman yang berdaur pendek dan cepat pertumbuhannya antara lain adalah Sengon
(Paraserianthes falcataria), Acacia mangium, Acacia auriculiformis, Gmelina arborea, Pulai (Alstonia sp), Jabon (Anthocerphalus cadamba), Suren, Rotan, bambu, Kayu bawang, Karet dan sebaginya. Menurut Widiarti (2002), jenis komoditas dalam pembangunan hutan rakyat pola kemitraan di Jawa Barat antara lain adalah bambu dan sengon. Pemilihan jenis komoditas ini disesuaikan dengan keinginan masyarakat dan pertimbangan keadaan tempat tumbuh serta perkiraan pasar yang akan menampung. Hal nampak bahwa di daerah setempat sudah banyak yang mengusahakan jenis tanaman tersebut. Di Jawa Tengah jenis yang banyak dikembangkan adalah Sengon, Gmelina, Mahoni, Jati. Hal ini disebabkan di Jawa Tengah banyak terdapat industri pengolahan kayu sengon sehingga mudah dalam hal pemasaran (Dishut Jateng 2004).. Di Kabupaten Wonogiri yang dikembangkan adalah jenis Jati dan Mahoni, karena jenis tersebut yang dapat tumbuh bagus di lahan yang berbatu sebagaimana kondisi Kabupaten Wonogiri. Di Sumatera Selatan jenis tanaman yang dikembangkan dalam kegiatan pembangunan hutan rakyat pola kemitraan adalah jenis Sengon, Acacia dan Pulai (Irawanti et al. 2000)
Keberhasilan pembangunan hutan rakyat tidak hanya diukur oleh keberhasilan tanaman tetapi juga diukur dalam pemanfaatan hasilnya yaitu oleh adanya kepastian pasar bagi hasil hutan rakyat. Dalam kemitraan di Jawa Barat, mitra usaha hutan rakyat umumnya baru bersifat menjanjikan pemasarannya, tidak menjamin akan menampung seluruh hasil produksi. Bahkan petani dibebaskan bila ada yang ingin menjual kepada pihak luar (Widiarti 2002). Hal ini mengandung sisi positif dan negatif, yaitu apabila pemasaran dengan pihak luar lancar dan harga bagus, maka petani akan diuntungkan, sebaliknya apabila belum ada industri yang menampung maka petani akan mengalami kerugian. Berbeda dengan di Jawa Tengah dan Sumatera Selatan, pengembangan hutan rakyat diprakarsai oleh perusahaan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri yang telah memiliki pembeli tetap. Hal ini menjamin adanya kepastian dalam pemasaran hasil hutan rakyat.
2.3. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu pandangan, pengertian dan interpretasi seseorang mengenai sesuatu yang diinformasikan kepadanya (Dyah 1983). Vredentbergt (1974) dalam Sattar (1985) mengemukakan bahwa persepsi berhubungan dengan keadaan jiwa seseorang, dimana persepsi adalah cara seseorang mengalami obyek dan gejala -gejala melalui proses yang selektif. Selanjutnya dikatakan dengan melalui proses yang selektif terhadap rangsangan dari suatu obyek atau gejala tertentu, seseorang akan mempunyai suatu tanggapan terhadap obyek atau gejala yang dialaminya. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan dan membuat penilaian. Berkaitan dengan itu, menurut Biran dalam Sudrajat (2003) persepsi merupakan proses psikologi yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Sudrajat (2003) persepsi merupakan produk atau hasil proses psikologi yang dialami seseorang setelah menerima stimuli, yang mendorong tumbuhnya motivasi untuk memberikan respon atau melakukan/tidak melakukan sesuatu kegiatan. Persepsi dapat berupa kesan, penafsiran atau penilaian berdasarkan pengalaman yang diperoleh. Dalam hubungan ini, persepsi merupakan hasil dari suatu proses pengambilan keputusan tentang pemahaman seseorang kaitannya dengan suatu obyek, stimuli atau individu yang lain. Kesan tentang stimuli tersebut dapat dipandang sebagai pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Rakhmat 1985).
Sattar (1985) menjelaskan pengertian dari persepsi adalah penilaian, pengelihatan atau pandangan seseorang melalui proses psikologi yang selektif terhadap suatu obyek atau segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya. Sebagai suatu kesatuan psikologi, persepsi dapat mempengaruhi konsepsi individu dan berpengaruh langsung terhadap perubahan perilakunya. Perilaku seseorang tidak dapat dilepaskan dari persepsi orang tersebut terhadap tindakan yang dilakukannya. Persepsi seseorang terhadap suatu obyek akan positif apabila obyek tersebut sesuai dengan kebutuhannya, sebaliknya akan negatif apabila bertentangan dengan kebutuhan orang tersebut. (Sugiyanto 1996).
Menurut Muchtar (1998), persepsi adalah proses penginderaan dan penafsiran rangsangan suatu obyek atau peristiwa yang diinformasikan, sehingga seseorang dapat memandang, mengartikan dan menginterpretasikan rangsangan yang diterimanya sesuai dengan keadaan dirinya dan lingkungan dimana ia berada, sehingga ia dapat menentukan tindakannya.
Menurut Kayam (1985) dalam Sugiyanto (1996), persepsi adalah pandangan seseorang terhadap suatu obyek sehingga individu tersebut memberikan reaksi tertentu yang dihasilkan dari kemampuan mengorganisasikan pengamatan dan berhubungan dengan penerimaan atau penolakan. Kunci pemahaman terhadap persepsi masyarakat pada suatu obyek, terletak pada pengenalan dan penafsiran unik terhadap obyek pada suatu situasi tertentu dan bukan sebagai suatu pencatatan terhadap situasi tertentu tersebut (Sugiyanto 1996).
2.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Menurut Sadli (1976) ada empat faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu :
(1) Faktor obyek rangsangan
Ciri khas dari faktor ini terdiri dari :
(a) Nilai, yaitu ciri-ciri dari rangsangan seperti nilai bagi subyek yang mempengaruhi cara rangsangan tersebut di persepsi.
(b) Arti emosional, yaitu sampai seberapa jauh rangsangan tertentu merupakan sesuatu yang mempengaruhi persepsi individu yang bersangkutan.
(c) Familiaritas, yaitu pengenalan yang berkali-kali dari suatu rangsangan yang mengakibatkan rangsangan tersebut di persepsi lebih akurat. (d) Intensitas, yaitu ciri-ciri yang berhubungan dengan derajat kesadaran
seseorang mengenaii rangsangan tersebut. (2) Faktor Pribadi
Faktor pribadi yang dapat memberikan persepsi yang berbeda seperti tingkat kecerdasan, minat, emosional dan lain-lainnya.
(3) Faktor Pengaruh Kelompok
Dalam suatu kelompok manusia, respon orang lain akan memberikan arah terhadap tingkah laku seseorang.
(4) Faktor latar belakang kultural
Orang dapat memberikan suatu persepsi yang berbeda terhadap obyek karena latar belakang kultural yang berbeda.
Menurut Sattar (1985) faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kegiatan reboisasi dan penghijauan adalah (1) Pendidikan, (2) Sosial Ekonomi, (3) Sosial Budaya dan (4) Penyuluhan. Sedangkan Mar’at (1984) menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah (1) pengalaman, (2) proses belajar, (3) cakrawala, dan (4) pengetahuan. Manusia mengamati obyek psikologik dengan kacamatanya sendiri yang diwarnai oleh nilai kepribadiannya. Obyek psikologik ini dapat berupa kejadian, ide atau situasi tertentu. Faktor pengalaman dan proses belajar memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, sementara faktor pengetahuan dan cakrawala memberikan arti terhadap obyek psikologik tersebut.
Sarwono (1992) mengemukakan bahwa persepsi seseorang terhadap sesuatu obyek dipengaruhi oleh kebudayaan (termasuk di dalam adat istiadat) dan umur. Persepsi terhadap informasi yang disampaikan tergantung pada individu yang menerimanya. Bagaimana individu menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikirnya.
2.5. Pengertian Partisipasi
Partisipasi sering disinonimkan dengan peran serta atau keikutsertaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, partisipasi adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan.
Menurut Davis dalam Sastropoetro (1988) mendefinisikan partisipasi sebagai keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam situasi kelompok yang mendorong untuk bersedia memberikan sumbangan bagi tercapainya tujuan atau cita-c ita kelompok dan turut bertanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukan bagi kelompoknya. Dalam pengertian partisipasi tersebut terdapat 3 gagasan pokok yang penting dan harus ada yaitu :
(a) Bahwa partisipasi itu sesungguhnya merupakan suatu keterlibatan mental dan emosional, lebih dari semata-mata atau hanya keterlibatan jasmaniah atau fisik.
(b) Kesediaan memberikan sumbangan kepada usaha untuk mencapai tujuan kelompok, ini berarti bahwa terdapat rasa senang dan sukarela untuk membantu kegiatan kelompok.
(c) Tanggung jawab yang merupakan segi yang menonjol dari anggota karena semua orang yang terlibat dalam suatu organisasi mengharapkan agar kelompok itu tujuannya tercapai dengan baik.
Dengan demikian maka partisipasi tidak hanya melibatkan unsur fisik saja tetapi lebih dari itu adalah keterlibatan psikis. Untuk dapat berpartisipasi diperlukan keterlibatan total, karena partisipasi yang diperlukan tidak hanya berorientasi vertikal atau hanya mau melakukan sesuatu kalau ada perintah dari atasan, tetapi partisipasi yang bersifat aktif. Partisipasi aktif memerlukan kesadaran mental masyarakat tentang sesuatu hal yang memerlukan keterlibatannya.
Soekanto (1982) mendefinisikan partisipasi sebagai suatu proses identifikasi diri seseorang untuk menjadi peserta dalam suatu proses kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu. Sedangkan menurut Cohen dan Uphoff (1977), partisipasi adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara kerjanya; keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program dan keputusan yang telah ditetapkan melalui sumbangan sumberdaya atau bekerja sama dalam suatu organisasi; keterlibatan masyarakat menikmati manfaat dari pembangunan serta dalam evaluas pelaksanaan program.
Raharjo (1983) memberikan pendapatnya bahwa berpartisipasi adalah keikutsertaan suatu kelompok masyarakat dalam program-program pemerintah. Program pemerintah merupakan program yang ditujukan kepada masyarakat desa. Dalam kaitan ini maka masyarakat tidak hanya menerima saja tetapi dapat membantu proses pelaksanaannya. Dalam berpartisipasi mengandung makna untuk memberi kesempatan berperan serta memanfaatkan sumberdaya manusia dalam usaha peningkatan pembangunan
Sejalan dengan keikutsertaan seluruh anggota masyarakat sebagai partisipan aktif, Sihombing (1980) mengemukakan bahwa dalam konteks pembangunan, partisipasi bukan semata-mata “kebaikan hati” para elit pengambil keputusan, akan tetapi partisipasi adalah hak dasar yang sah dari umat manusia untuk turut serta merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan yang menjanjikan harapannya.
Partisipasi erat hubungannya dengan kegiatan pembangunan, namun tidak berarti bahwa partisipasi hanya sebatas keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. Hal ini sejalan dengan pendapat Swasono (1995) bahwa partisipasi tidaklah hanya tahap pelaksanaan pembangunan saja, tetapi meliputi seluruh spektrum pembangunan tersebut yang dimulai dari tahap menggagas rencana kegiatan hingga memberikan umpan balik terhadap gagasan rencana yang telah dilaksanakan.
Pengertian partisipasi oleh banyak ahli diartikan sebagai peranserta masyarakat dalam suatu kegiatan, yang bila dikaitkan dengan pembangunan, maka akan merupakan upaya peran serta dalam pembangunan. Slamet (1990) dalam Winarto (2003) mengatakan bahwa partisipasi masyarakat sangatlah mutlak demi berhasilnya suatu program pembangunan. Dapat dikatakan bahwa tanpa adanya partisipasi masyarakat maka setiap pembangunan akan kurang berhasil. Lebih lanjut dijelaskan bahwa masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan akan melalui suatu proses belajar. Oleh karena itu, masyarakat perlu mengalami proses belajar untuk mengetahui kesempatan-kesempatan berpartisipasi dalam proses pembangunan, dan seringkali kemampuan dan ketrampilan mereka masih perlu ditingkatkan agar dapat memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Menurut Laode (1981) dalam Winarto (2003) menyatakan bahwa kesempatan, kemampuan dan kemauan mutlak harus ada dalam keseimbangan. Apabila salah satu faktor tersebut tidak tercakup maka partisipasi tidak akan sempurna.
Menurut Goldsmith dan Blustain dalam Winarto (2003) masyarakat tergerak untuk berpartisipasi jika (1) partisipasi dilakukan melalui organisasi yang sudah dikenal atau yang sudah ada di tengah -tengah masyarakat yang bersangkutan. (2) partisipasi itu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat yang
bersangkutan, (3) manfaat yang diperoleh melalui partisipasi itu dapat memenuhi kepentingan masyarakat setempat, dan (4) dalam proses partisipasi itu dijamin adanya kontrol yang dilakukan oleh masyarakat.
2.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi
Sastropoetro (1988) berpendapat bahwa secara umum faktor yang dapat mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan adalah (1) keadaan sosial masyarakat, (2) kegiatan program pembangunan, (3) keadaan alam sekitar. Lebih lanjut dijelaskan bahwa keadaan sosial masyarakat berupa pendidikan, pendapatan, kebiasaan, kepemimpinan, keadaan keluarga, kemiskinan, kedudukan sosial dan sebagainya. Bentuk program pembangunan merupakan kegiatan yang dirumuskan serta dikendalikan oleh pemerintah yang dapat berupa organisasi kemasyarakatan dan tindakan-tindakan kebijaksanaan. Sedangkan keadaan alam sekitar adalah faktor fisik daerah yang ada pada lingkungan tempa hidup masyarakat.
Menurut Tarigan (1993 ) partisipasi masyarakat dalam penghijauan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (1) penyuluhan, (2) keterlibatan dalam organisasi formal, (3) keterlibatan tokoh masyarakat, dan (4) perilaku tradisional.
Berdasarkan penelitian Sunartana (2003) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi anggota dalam kelompok pengelola dan pelestari hutan antara lain adalah (1) Status sosial, (2) Kekosmopolitan, (3) Pengalaman berorganisasi, dan (4) Kejelasan hak dan kewajiban.
Suyatna (1982) menyebutkan bahwa faktor yang berpengaruh dalam partisipasi adalah faktor individu sebagai sasaran pembaharuan dan faktor sistem penyuluhan pembinaan. Menurut Hubeis (1989) aktif atau tidaknya masyarakat berperan serta dalam pembangunan akan sangat dip engaruhi oleh beragam faktor yang bervariasi antara satu tempat dengan tempat lainnnya. Keragaman ini dipengaruhi oleh faktor geografi, ekologi, ekonomi, sosial budaya dan faktor kedisiplinan partisipan.
Menurut Hasnawati (1987), partisipasi petani dipengaruhi oleh faktor intern (tingkat pendidikan, status sosial, jumlah tanggungan keluarga) dan faktor ekstern (pengaruh penguasa setempat dan insentif -insentif dari lembaga luar desa)