• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter (ujicoba terbatas pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon tahun ajaran 2016/2017)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter (ujicoba terbatas pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon tahun ajaran 2016/2017)"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENGEMBANGAN PROTOTIPE SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER DEMOKRATIS DAN KARAKTER KEPEMIMPINAN DIRI BERBASIS FILM KARAKTER (Ujicoba Terbatas pada Siswa Kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon Tahun Ajaran 2016/2017). SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Oleh: Guslita Seventina 141114012. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018.

(2) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. PENGEMBANGAN PROTOTIPE SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER DEMOKRATIS DAN KARAKTER KEPEMIMPINAN DIRI BERBASIS FILM KARAKTER (Ujicoba Terbatas pada Siswa Kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon Tahun Ajaran 2016/2017). SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling. Oleh: Guslita Seventina 141114012. PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018. i.

(3) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(4) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(5) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN MOTTO. “Sukses berjalan dari kegagalan satu menuju kegagalan lainnya tanpa kehilangan semangat dan antusiasme”.. “Fighting”. Rasakanlah ketakutan itu, tetaplah melakukannya. -Tamara Mellon-. iv. dan.

(6) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Skripsi ini saya persembahkan kepada: Tuhan Yesus Kristus Bunda Maria yang Kudus Keluarga terkasih Universitas Sanata Dharma-Yogyakarta Program Studi Bimbingan dan Konseling. v.

(7) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(8) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(9) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRAK PENGEMBANGAN PROTOTIPE SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER DEMOKRATIS DAN KARAKTER KEPEMIMPINAN DIRI BERBASIS FILM KARAKTER (Ujicoba Terbatas pada Siswa Kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon Tahun Ajaran 2016/2017) Guslita Seventina Universitas Sanata Dharma 2018 Penelitian ini bertujuan: 1) mengembangkan prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon; 2) menguji kualitas soal tes karakter demokratis dan kepemimpinan diri meliputi reliabilitas, validitas, daya beda, dan tingkat kesukaran; 3) memeroleh gambaran capaian hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berdasarkan hasil uji coba soal tes pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon; 4) menganalisis efektivitas penggunaan prototipe soal tes pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berdasarkan penilaian siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian dan Pengembangan (Research and Development) model Borg dan Gall. Subjek penelitian ini melibatkan 74 siswa dari kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. Pengumpulan data penelitian ini berupa soal tes berbasis film karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbentuk pilihan ganda dengan respon bergradasi berjumlah 20 soal untuk masing-masing karakter, dan kuesioner penilaian efektivitas model oleh siswa. Teknik analisis uji kualitas butir soal menggunakan pendekatan teori respon butir atau IRT Rasch model. Capaian hasil karakter siswa dianalisis dengan teknik deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan: 1) telah tersusun instrumen penilaian hasil pendidikan karakter berupa 20 butir prototipe soal tes asesmen pendidikan karakter demokratis dan 20 butir karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter, 2) hasil uji kualitas kedua soal tes karakter tersebut valid dan reliabel dengan indeks reliabilitas karakter demokratis (0,92), dan karakter kepemimpinan diri (0,88), 3) melalui penggunaan tes ini , 4) sebagian besar siswa menilai penggunaan prototipe soal tes. karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri memiliki kualitas efektivitas yang tinggi. Kata kunci: prototipe, penilaian karakter, karakter demokratis, karakter kepemimpinan diri, dan film karakter.. viii.

(10) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. ABSTRACT THE DEVELOPMENT OF ASSESSMENT TEST PROTOTYPE OF DEMOCRATIC AND SELF-LEADERSHIP CHARACTER EDUCATION RESULT BASED ON CHARACTER MOVIE (Limited Trial on Class VII A and VIII A Students of SMP Negeri 7 Cirebon Year 2016/2017) Guslita Seventina Sanata Dharma University 2018 This research was aimed to 1) develop the assessment test prototype of democratic and self-leadership character education based on character movie on class VII-A and VIII-A students of SMP Negeri 7 Cirebon; 2) check the quality of democratic and self-leadership character that include the reliability, validity, appropriateness and difficulty level; 3) gain the picture of democratic and self-leadership character education result based on the test trial on class VII-A and VIII-A students of SMP Negeri 7 Cirebon; 4) analyze the effectivity of democratic and self-leadership test prototype use based on students judgement. This research was a Research and Development using Borg and Gall model. The research subject was 74 students from class VII-A and VIII-A of SMP Negeri 7 Cirebon. The research data collections were formed as a test based on democratic and selfleadership character movie which was 20 items multiple choice question with grading respond for each character, and the model effectiveness questionnaire for students. The analysis of the test items was using Items Response theory or IRT Rasch model. The students' character educations result was analyzed using descriptive percentage technique. The research result shows 1) it had been arranged scoring instrument of character education result that formed as 20 items of democratic character education assessment test and 20 items of self-leadership character education assessment test both based on character movie, 2) the test result of both character tests were valid and reliable with reliability of democratic reliability was (0,92), and self-leadership character reliability was (0,88), 3) using the test, 4) most students think that the use of the democratic and self-leadership character test prototype had high effectiveness quality. Keywords: prototype, character scoring, democratic character, self-leadership character, and character movie.. ix.

(11) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, perlindungan, serta penyertaan-Nya. dalam. proses. penyelesaian. skripsi. ini. dengan. judul. “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Demokratis dan Karakter Kepemimpinan Diri Berbasis Film Karakter” dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Peneliti menyadari bahwa selama proses menulis skripsi ini banyak pihak yang berperan dalam membimbing, mendampingi, mengingatkan, mendukung, dan mendoakan setiap proses yang dijalani. Oleh sebab itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1.. Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.. 2.. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling, sekaligus dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh kesabaran membantu memberikan arahan dan masukan kepada penulis menyelesaikan skripsi.. 3.. Juster Donal Sinaga, M. Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling.. 4.. Bapak dan Ibu dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling: Bapak Budi, Bapak Sinurat, Bapak Agus, Ibu Retha, Ibu Hayu, Ibu Retno, dan Ibu Indah atas bimbingan dan pendampingan selama peneliti menempuh studi.. 5.. Stefanus Priyatmoko selaku petugas sekretariat Program Studi Bimbingan dan Konseling yang membantu dan melayani administrasi selama peneliti menempuh studi.. x.

(12) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI. 6.. Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 7 Cirebon yang telah memberikan ijin dan kesempatan untuk melaksanakan penelitian.. 7.. Siswa-siswi kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon atas kesediaannya mengisi kuesioner.. 8.. Orangtuaku, Papa Sumuang Hutapea dan Mama Rianny Harianja yang selalu memberikan doa, dukungan, perhatian, kasih sayang, nasihat serta penguatan yang diberikan kepada penulis.. 9.. Keluargaku, Hetty Sumiaty, Ratno Frayitno, Novena Carolina, Irmalinda, dan Gusli Seventinus atas nasihat, kasih sayang, dan dukungan yang diberikan kepada penulis.. 10. Teman, sahabat, dan keluargaku angkatan 2014 Program Studi Bimbingan dan Konseling atas kebersamaan selama studi hingga penulisan skripsi. 11. Tim penelitian PSHP angkatan 2014: Bambang, Dias, Govan, Brigita, Cristian, Titin, Eko, Inggried, Yustinus, Vincen, dan Bili yang telah berjuang bersama menyelesaikan penelitian. 12. Temanku Fuad, Rahmi, Mega, Veronika, dan Junan yang bersedia membantu dan mendukung penulis. 13. Kakak angkatan 2013 dan adik angkatan 2015 yang senantiasa memberikan motivasi, dukungan dan semangat kepada peneliti selama penulisan skripsi. 14. Semua pihak yang telah mendoakan, mendukung, dan membantu dalam proses pembuatan hingga penyelesaian skripsi ini.. xi.

(13) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI.

(14) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 1. BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, spesifikasi produk yang dikembangkan, manfaat penelitian, asumsi dan keterbatasan pengembangan, dan definisi istilah. A. Latar Belakang Masalah Bangsa yang maju merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Salah satu faktor yang mendukung bagi kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga suatu bangsa dapat diukur apakah bangsa itu maju oleh pendidikan, sebab pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa. Untuk itu, pentingnya pendidikan karakter perlu ditanamkan. Pendidikan karakter menjadi dasar dalam pembentukan karakter yang akan melahirkan pribadi unggul, yang tidak hanya memilki kemampuan kognitif namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan. Oleh sebab itu, pendidikan karakter menjadi sorotan utama pemerintah. Pembentukan karakter menjadi salah satu tujuan pendidikan nasional, seperti yang tercantum pada Pasal 3 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, yang menyatakan bahwa: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.. 1.

(15) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 2. Pendidikan. karakter. sudah. digulirkan. dan. bahkan. sudah. disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Implementasi pendidikan karakter pada peserta didik masih memerlukan seperangkat pembelajaran pendukung dan memadai yang meliputi silabus, rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang inovatif, media pembelajaran, dan instrumen penilaian. Selama ini, guru baru mengembangkan unsur–unsur pembelajaran secara umum, sedangkan pengembangan instrumen penilaian masih sebatas kawasan kognitif. Hal ini disebabkan oleh praktik pendidikan di Indonesia yang cenderung. lebih. berorentasi. pada. pendidikan. berbasis. hard. skill. (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), dan kurang mengembangkan kemampuan soft skill yang tertuang dalam emotional quotient (EQ), dan spiritual quotient (SQ). Grand design pendidikan karakter (Depdikbud, 2010) menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan, pelaksanaan, dan penilaian pendidikan karakter pada setiap jalur dan jenjang pendidikan. Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design, yang selama ini telah diimplementasikan melalui materi pelajaran agama, budi pekerti, kewarganegaraan, pendidikan jasmani, dan pelajaran lainnya yang berkaitan erat dengan pendidikan karakter. Namun realitanya dalam dunia pendidikan di Indonesia terutama di jenjang SMP, pendidikan karakter selama ini baru menyentuh pada tingkat pengenalan norma/nilai-nilai atau baru menyentuh pada ranah kognitif dari para peserta didik, dan belum sampai pada tingkat internalisasi dan tindakan nyata dalam.

(16) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 3. kehidupan sehari-hari. Maka tidak heran masih terjadi penyimpangan perilaku di kalangan remaja. Penguatan karakter (Kemdikbud, 2017) menjadi salah satu program prioritas Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Dalam nawa cita disebutkan bahwa pemerintah akan melakukan revolusi karakter. bangsa.. Kementerian. Pendidikan. dan. Kebudayaan. mengimplementasikan penguatan karakter penerus bangsa melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang digulirkan sejak tahun 2016. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Untuk sekolah dasar sebesar 70 persen, sedangkan untuk sekolah menengah pertama sebesar 60 persen. (www.kemdikbud.go.id). Program pendidikan karakter tidak hanya olah pikir (literasi), namun program ini mendorong agar pendidikan nasional kembali memperhatikan olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), dan juga olah raga (kinestetik). Keempat dimensi pendidikan ini hendaknya dapat dilakukan secara utuh-menyeluruh dan serentak. Integrasi proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler di sekolah dapat dilaksanakan dengan berbasis pada pengembangan budaya sekolah maupun melalui kolaborasi dengan komunitas-komunitas di luar lingkungan pendidikan. Menurut Widianto (Tribunnews.com) menyatakan bahwa sampai akhir tahun 2016, program pendidikan karakter telah diimplementasikan di.

(17) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 4. 542 sekolah di 34 provinsi. Ditargetkan sampai dengan 2020 seluruh sekolah di Indonesia telah menerapkan pendidikan karakter. Di tahun 2017 Kemendikbud akan melatih 1500 guru dan kepala Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) agar lebih memahami program pendidikan karakter. Program pendidikan karakter ini perlu evaluasi, agar dapat berlangsung sesuai harapan guna mendukung terwujudnya tujuan pendidikan nasional. Dalam hal penilaian pendidikan karakter, pemerintah belum mengembangkan suatu sistem penilaian, pengukuran, maupun evaluasi pendidikan karakter yang terstandar untuk mengevaluasi proses dan hasil pendidikan karakter yang terintegerasi di SMP. Menurut Johnson dan Johnson (2002: 117) menjelaskan bahwa penilaian pendidikan karakter siswa dilakukan berdasarkan pengamatan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisidefinisi operasional dan indikator-indikator. Guru mengatakan bahwa yang dinilai adalah keterlibatan di kelas, kepedulian kepada teman, tetapi belum sampai pada indikatornya. Dalam bahasa sehari-hari, apa yang dilakukan guru adalah “nilai kira-kira” sesuai dengan apa yang dilihat ketika di dalam kelas. Besar kemungkinan guru salah menilai atau menilai dengan subjektivitas yang sangat tinggi berdasarkan suka dan tidak suka. Hal itu sangat merugikan siswa. Dalam pelajaran Character Building, hal terpenting untuk dilakukan adalah observasi. Namun, observasi memiliki masalah, yaitu subjektivitas yang tinggi dan ketiadaan objektivitas oleh pengamatnya..

(18) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 5. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, peneliti mengetahui bahwa pelaksanaan pendidikan karakter di SMP Negeri 7 Cirebon masih terabaikan. Melihat situasi siswa cenderung kurang memiliki karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri. Hal ini dapat dilihat saat guru mengumumkan siswa berkumpul di kelas untuk mengisi kuesioner peneliti, namun siswa masih sibuk sendiri. Disitu terlihat siswa kurang bisa mengarahkan diri untuk bertindak sesuai pengarahan guru. Tidak hanya itu, siswa juga kurang menghargai pendapat temannya ketika guru memberikan kebebasan pendapat. Saat salah satu siswa ingin berpendapat tetapi siswa lain justru meremehkan pendapat siswa tersebut, akibatnya siswa yang ingin berpendapat menjadi takut untuk bertanya kepada guru. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP Negeri 7 Cirebon perlu segera dikaji, dan dicari altenatif-alternatif solusinya. Perlu juga dikembangkan suatu model pelaksanaan dan evaluasinya secara lebih operasional dan efektif sehingga mudah diimplementasikan di sekolah. Cara-cara umum yang banyak dilakukan guru untuk penilaian pendidikan karakter siswa di sekolah lebih menekankan pada penggunaan teknik observasi, skala sikap, dan penerapan sistem poin. Cara-cara penilaian tersebut mengandung banyak kelemahan seperti subjektif, sporadik, persepsional, inkonsistensi, kurang sistematik, dan mengundang banyak perdebatan. Perbaikan proses dan hasil pendidikan karakter di SMP bisa dimulai dari dukungan data hasil evaluasi yang dilaksanakan secara terencana,.

(19) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 6. sistematis, objektif berdasarkan sistem asesmen yang valid dan efektif. Untuk itu, perlu dikembangkan soal-soal tes yang dapat digunakan untuk melakukan asesmen hasil pendidikan karakter, khususnya karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri pada siswa SMP. Dilihat dari hal tersebut, penelitian ini mengembangkan prototipe soal-soal tes sebagai salah satu produk penelitian “Model Asesmen Pendidikan Karakter di SMP Berbasis Media. Film. Karakter”. (Barus,. dkk.:. Program. PSHP,. DRPM,. Kemenristekdikti, 2017) yang dapat dimanfaatkan dan diinternalisasikan untuk mengukur hasil pendidikan karakter dan memetakan upaya perbaikan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP. Penelitian ini menggunakan media film sebagai basis asesmen. Media film dipilih karena film sangat efektif dalam menggambarkan aspek sikap, afeksi, akomodasi, dan perilaku berkarakter lebih menginternalisasi dibanding cara-cara/media asesmen lain. Asesmen pendidikan karakter dirancang dengan memvisualisasikan kasus yang memuat karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri melalui potongan film karakter dengan durasi tayang 1-2 menit. Selanjutnya, siswa diminta menjawab soal-soal yang menyertai film karakter. Penggunaan evaluasi berbasis film dirasa efektif karena langsung menyentuh pada dilema-dilema moral siswa. Film-film yang akan tampilkan disesuaikan dengan nilai-nilai karakter siswa, yang diharapkan dapat menghantar para siswa di SMP untuk lebih secara nyata merasakan dan memahami dilema moral yang terjadi..

(20) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 7. Berdasarkan hal pengembangan. di. (research. atas peneliti and. melakukan penelitian dan. development). yang. bertujuan. untuk. menghasilkan prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter berbasis media film karakter yang diujicobakan pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon dengan mengangkat judul “Pengembangan Prototipe Soal Tes Asesmen Hasil Pendidikan Karakter Demokratis dan Karakter Kepemimpinan Diri Berbasis Film Karakter pada Siswa Kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon Tahun Ajaran 2016/2017”. B. Identifikasi Masalah Berangkat dari latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut: 1.. Pemerintah belum mengembangkan suatu sistem penilaian, pengukuran, maupun. evaluasi. pendidikan. karakter. yang. terstandar. untuk. mengevaluasi proses dan hasil pendidikan karakter yang terintegerasi di SMP. 2.. Penilaian pendidikan karakter siswa dilakukan berdasarkan pengamatan pada prinsip-prinsip yang masih abstrak dan belum diuraikan dalam definisi-definisi operasional dan indikator-indikator.. 3.. Beberapa siswa SMP Negeri 7 Cirebon cenderung kurang memiliki karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri.. 4.. Belum ada dukungan data hasil evaluasi yang dilaksanakan secara terencana, sistematis, objektif berdasarkan sistem asesmen yang valid dan efektif..

(21) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 8. 5.. Belum dikembangkan model asesmen yang dapat digunakan untuk memotret persoalan-persoalan proses dan hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri.. 6.. Belum ditemukan soal-soal tes pendidikan karakter yang efektif digunakan untuk melakukan asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri.. 7.. Perlu pengembangan prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter.. C. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan untuk menjawab permasalahan yang teridentifikasi diatas, khususnya terkait butiran masalah nomor 5, 6, dan 7 dengan mengkaji capaian karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri siswa SMP Negeri 7 Cirebon melalui pengembangan prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter. D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian ini, dirumuskan permasalahan yang. menjadi. fokus. penelitian. dan. pengembangan. (research. and. development) ini sebagai berikut: 1. Seperti apakah prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon..

(22) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 9. 2. Seberapa baik kualitas soal tes hasil pendidikan karakter demokratis dan pendidikan karakter kepemimpinan diri yang diujicobakan dalam penelitian ini ditinjau dari nilai reliabilitas, validitas, tingkat kesukaran, daya beda, dan fit model pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. 3. Seperti apa gambaran capaian hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berdasarkan penggunaan prototipe soal tes yang diujicobakan pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. 4. Seberapa efektif penggunaan prototipe soal tes hasil pendidikan karakter demokratis dan pendidikan karakter kepemimpinan diri menurut penilaian siswa. E. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah: 1. Menghasilkan prototipe soal tes hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. 2. Menguji kualitas soal tes hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri yang diujicobakan pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. 3. Mengukur capaian hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berdasarkan hasil ujicoba penggunaan model prototipe.

(23) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 10. soal tes yang dikembangkan pada siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. 4. Menganalisis efektivitas penggunaan prototipe soal tes hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berdasarkan penilaian siswa kelas VII A dan VIII A SMP Negeri 7 Cirebon. F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan Produk yang dikembangkan adalah prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter..

(24) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 11. Tabel 1.1 Spesifikasi Produk yang Dikembangkan 1.. Nama Produk. 2.. Bentuk Produk. 3.. Fungsi Produk. 4.. Kriteria efektivitas model. 5.. Komponen model. 6.. Pengguna produk/model. Prototipe soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film karakter. Soal-soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film yang menggambarkan dilema moral. Alat tes untuk melakukan asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri di SMP. Aplikatif, fisibel, realistik, akurat, komprehensif, praktis, ekonomis, dan mudah digunakan konselor/guru BK berkolaborasi dengan guru mata pelajaran di SMP. 1. Identifikasi nilai dalam program pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri. 2. Identifikasi dan pemilihan film yang bermuatan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri. 3. Perancangan (designing) pemotongan film bermuatan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri, dan soal tes relevan. 4. Prototipe soal tes asesmen pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri berbasis film di SMP. 5. Penentuan kriteria, norma scoring, dan penyusunan rubrik penilaian. 6. Uji coba penggunaan soal tes asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri di SMP. Pembuat kebijakan, pengembang, dan pelaksana pendidikan karakter di SMP (pemerintah, kepala sekolah, konselor/guru BK, dan guru mata pelajaran di SMP)..

(25) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 12. G. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat berbagai pihak, baik secara teoritis maupun secara praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dan pengetahun mengenai asesmen hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri, khususnya pada ranah pendidikan karakter. 2. Manfaat Praktis a. Bagi Pemerintah Penelitian ini memberikan sumbangan alternatif model dalam mengukur hasil pendidikan karakter dan memetakan upaya perbaikan atau optimalisasi pelaksanaan penilaian pendidikan karakter di SMP Negeri 7 Cirebon. b. Bagi Kepala Sekolah dan Guru Hasil penelitian ini diharapkan menjadi tolak ukur pihak sekolah untuk mengetahui, memahami hasil pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri siswa, dan melaksanakan perbaikan pendidikan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri melalui soal tes asesmen berbasis media film karakter..

(26) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 13. c. Bagi Siswa Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemahaman karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri siswa, sehingga siswa mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. d. Bagi Peneliti Peneliti dapat mengetahui efektivitas pengembangan prototipe soal tes asesmen. hasil. pendidikan. karakter. demokratis. dan. karakter. kepemimpinan diri berbasis film karakter di SMP Negeri 7 Cirebon. Selain itu, peneliti juga dapat berlatih mengaplikasikan prosedur penelitian pengembangan (research and development) di sekolah sebagai bekal peneliti di kemudian hari. e. Bagi Peneliti Lain Manfaat penelitian ini bagi peneliti lain adalah untuk pengetahuan tambahan dan acuan untuk peneliti selanjutnya yang berminat meneliti pengembangan prototipe asesmen soal tes untuk mengukur pendidikan karakter demokratis dan pendidikan karakter kepemimpinan diri pada siswa SMP. Selain itu juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam mengembangkan penelitian dengan topik pendidikan karakter di sekolah. H. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan Penelitian ini memiliki asumsi dan keterbatasan pengembangan sebagai berikut:.

(27) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 14. 1. Asumsi-asumsi pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Sekolah yang dipakai untuk ujicoba model telah melaksanakan pendidikan. karakter. terintegrasi,. namun. bisa. jadi. belum. menyelenggarakan asesmen hasil pendidikan karakter dengan cara tes. b. Subjek ujicoba produk penelitian ini diasumsikan dapat dengan cermat menonton tayangan film dan membaca soal dari LCD. c. Subjek uji coba model memiliki fungsi penglihatan dan pendengaran baik untuk menonton tayangan film dan membaca soal. d. Penayangan film dan soal tes ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat terlihat dengan jelas (tidak silau) oleh testi. e. Tersedianya film yang mencerminkan karakter yang cocok dengan soal yang ingin disajikan. f. Pemilihan film, rumusan penyusunan soal, dan distraktor (opsi jawaban). diformulasikan. sedemikian. rupa. sehingga. memuat. pertimbangan moral dan dilema moral sejauh mungkin pada level moral action. 2. Keterbatasan yang timbul dalam penelitian dan pengembangan (Research and Development) yaitu: a. Tidak mudah menemukan film yang tepat menggambarkan karakter demokratis dan karakter kepemimpinan diri. b. Keterbatasan fasilitas yang dimiliki sekolah seperti speaker, LCD, dan proyektor..

(28) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 15. c. Keterbatasan waktu siswa saat membaca pertanyaan yang ditampilkan setelah penayangan film. d. Pantulan cahaya dari jendela membuat tayangan film tidak terlihat jelas oleh siswa. e. Siswa tidak mau membaca pertanyaan yang kalimatnya panjang. f. Siswa yang kurang konsentrasi menyebabkan pertanyaan tidak dijawab dengan tepat. g. Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti apakah benar-benar memuat upaya peningkatan suatu dilema moral. h. Pemeran film yang disajikan tidak sesuai dengan usia SMP. Hal ini peneliti menyiasati dengan mengimajinasikan dan menghadirkan seasana film itu dekat dengan dirinya supaya tergambarkan persoalan dilema moral pada dirinya. I.. Definisi Istilah 1. Pengembangan prototipe adalah proses mengembangkan suatu produk baru untuk menghasilkan soal tes asesmen pendidikan karakter yang lebih baik. 2. Prototipe soal dalam penelitian ini adalah bentuk fisik pertama dari suatu objek yang direncanakan, dibuat dalam suatu proses produksi, mewakili bentuk dan dimensi dari objek yang asli dan digunakan untuk objek penelitian pengembangan lebih lanjut..

(29) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 16. 3. Soal tes merupakan pertanyaan yang disajikan untuk dijawab siswa sehingga memperoleh informasi/mengetahui dan mengukur sesuatu dalam suasana tertentu dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. 4. Asesmen. merupakan. proses. mengumpulkan,. menganalisis,. dan. menginterprestasikan data atau informasi tentang siswa. 5. Pendidikan karakter adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk menanamkan nilai-nilai perilaku siswa yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. 6. Karakter demokratis adalah sebagai suatu kesiapan atau kecendrungan siswa untuk berperilaku mengutamakan kepentingan bersama, menghargai pendapat orang lain secara wajar, jujur, dan terbuka, dan ikut berpartisipasi dalam pengambilan suatu keputusan yang melibatkan dirinya. 7. Karakter kepemimpinan diri adalah kemampuan dari dalam diri individu untuk mempengaruhi, mengarahkan, mengawasi, dan memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 8. Film karakter adalah gambar atau frame yang diproyeksikan kedalam audio visual yang dapat digunakan untuk materi pembelajaran dan dapat mendokumentasikan kejadian-kejadian yang ada di sekitar..

(30) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 17. BAB II KAJIAN PUSTAKA Bab ini berisi landasan teori yang dijadikan dasar untuk membangun kerangka konsepsual. Berdasarkan judul penelitian, maka dalam bab ini peneliti akan mengemukakan beberapa konsep yang berkaitan dengan variabel penelitian, yaitu hakikat evaluasi, asesmen, dan tes, hakikat pendidikan karakter, hakikat karakter demokratis, hakikat karakter kepemimpinan diri, hakikat asesmen pendidikan karakter, hakikat media film dalam pendidikan karakter, kajian penelitian relevan, dan kerangka pikir. A. Hakikat Evaluasi, Asesmen, dan Tes 1.. Pengertian Evaluasi, Asesmen, dan Tes a. Pengertian Evaluasi Departement. Pendidikan. Nasional. (2003). mengartikan. evaluasi sebagai kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai. Tyler (Arikunto, 2013) menyebutkan evaluasi sebagai sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejuah mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan tercapai. Proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar. Jadi, evaluasi sebagai proses menilai sesuatu yang didasarkan pada kriteria atau tujuan yang telah ditetapkan, yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputuasan atas objek yang dievaluasi.. 17.

(31) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 18. Menurut Mahrens & Lehmann (Priwojuwantato, 2016) evaluasi sebagai proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Dari definisi para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah suatu tindakan proses penilaian untuk mengetahui mutu atau hasil dari suatu objek. b. Pengertian Asesmen Secara khusus dalam dunia pendidikan Gronlund & Linn (Suprananto, 2012: 7) mendefinisikan asesmen sebagai “suatu proses yang sistemis dan mencakup kegiatan mengumpulkan, menganalisis, serta menginterpretasikan informasi untuk menentukan seberapa jauh seorang siswa atau sekelompok siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, baik aspek pengetahuan, sikap, maupun keretampilan”. Menurut Nitko (1996) asesmen merupakan sebuah proses yang ditempuh untuk mendapatkan informasi yang digunakan dalam rangka membuat keputusan-keputusan mengenai para siswa, kurikulum, program-program, dan kebijakan pendidikan, metode dan atau instrumen pendidikan lainnya oleh suatu badan, lembaga yang menyelenggarakan suatu aktivitas tertentu. Menurut Suwandi (2010: 7) asesmen adalah “suatu proses untuk mengatahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan”..

(32) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 19. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan suatu proses yang sistematis dan mencakup kegiatan. mengumpulkan,. menganalisis,. serta. menginterpretasi. informasi untuk mengatahui apakah proses dan hasil dari suatu program kegiatan telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditetapkan. Dimana penilaian (asesmen) tidak terpisah dari proses pengukuran. c. Pengertian Tes Departemen Pendidikan Nasional (2003) mengemukakan tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Agar memberikan hasil yang dapat menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya, maka tes perlu dilakukan berulang-ulang, instrumen tes yang digunakan harus valid dan reliabel. Menurut Buchori (Arikunto, 2012) tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasilhasil pelajaran tertentu pada seorang murid atau kelompok murid. Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan..

(33) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 20. 2.. Tujuan dan Fungsi Asesmen a. Tujuan Asesmen Adapun tujuan asesmen adalah untuk melihat kondisi anak saat itu. Dalam rangka menyusun suatu program pembalajaran yang tepat sehingga dapat melakukan layanan pembelajaran sacara tepat. Menurut Depdikbud (Jihad & Haris, 2013: 63) tujuan asesmen adalah untuk mengetahui kemajuan belajar siswa, untuk perbaikan, dan peningkatan kegiatan belajar siswa serta sekaligus memberi umpan balik bagi perbaikan pelaksanaan kegiatan belajar. Menurut Didith (Sunardi & Sunaryo, 2006) menyebutkan beberapa tujuan asesmen, yaitu: 1). Memeroleh data yang relevan, objektif, akurat, dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini.. 2). Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan. belajar. yang dihadapi,. potensi. yang. dimiliki,. kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak. 3). Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya.. b. Fungsi Asesmen Sudjana (Jihad & Haris, 2013: 56) mengemukakan bahwa asesmen memiliki fungsi sebagai berikut:.

(34) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 21. 1) Alat untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu kepada tujuantujuan instruksional. 2) Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan dapat dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar siswa, dan strategi mengajar guru. 3). Dasar dalam menyusun kemajuan siswa kepada orangtuanya. Dalam laporan tersebut dikemukakan kecakapan belajar siswa dalam bentuk nilai-nilai prestasi belajar mengajar.. 3.. Ruang Lingkup Asesmen Uno, Hamzah, dan Koni (2012: 17) menjelaskan bahwa isi model penilaian ini meliputi konsep dasar penilaian kelas, teknik penilaian, langkah-langkah pelaksanaan penilaian, pengelolahan hasil penilaian serta pemanfaatan, dan pelaporan hasil penilaian. Dalam konsep penilaian, dijelaskan penilaian, manfaat penilaian, fungsi penilaian, dan rambu-rambu penilaian. Teknik-teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian. Teknik-teknik penilaian akan menjelaskan berbagai cara dan alat penilaian. Langkah-langkah penilaian memberikan arahan penetapan indikator, penetapan kriteria ketuntasan setiap indikator, pemetaan kompetensi, dan teknik penilaian yang sesuai serta contoh penilaiannya. Pengelolaan hasil penilaian memberikan arahan dalam menganalisis, menginterpretasi, dan menentukan nilai pada setiap proses, dan hasil pembelajaran. Pemanfaatan dan pelaporan hasil.

(35) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 22. penilaian mencakup pemanfaatan hasil, bentuk laporan hasil penilaian, dan penentuan kenaikan kelas. 4.. Prinsip-prinsip Asesmen Menurut Depdiknas (Suwandi, 2010: 21-22) prinsip-prinsip asesmen berbasis kelas yang perlu diperhatikan oleh penilai meliputi: a.. Valid adalah penilaian berbasis kelas untuk mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan alat yang dapat dipercaya dan sah.. b.. Mendidik adalah penilaian yang harus memberikan sumbangan positif terhadap hasil pencapaian belajar siswa: dirasakan sebagai penghargaan yang memotivasi bagi siswa yang berhasil dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil.. c.. Berorientasi pada kompetisi mampu menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.. d.. Adil dan objektif adalah penilaian yang harus adil terhadap semua siswa dan tidak membeda-bedakan latar belakang siswa.. e.. Terbuka merupakan kriteria penilaian yang bebas bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa menjadi jelas.. f.. Berkesinambungan. adalah. penilaian. yang. dilakukan. secara. terencana, bertahap, teratur-terus menerus, dan berkesinambungan.

(36) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 23. untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan kemajuan belajar siswa. g.. Menyeluruh adalah penilaian terhadap hasil belajar siswa yang dilaksanakan secara menyeluruh, utuh, dan tuntas mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan berbagai teknik dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa.. h.. Bermakna adalah penilaian yang mudah dipahami dan mudah ditindak lanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan.. 5.. Jenis-jenis Asesmen Menurut Blaustein (Sudjana: 2008) asesmen dikategorikan menjadi dua, yaitu: a.. Asesmen Konvensional Biasanya menggunakan paper and pencil test atau disebut dengan asesmen formal atau asesmen konvensional. Disebut demikian karena metode inilah yang biasa digunakan oleh guru. Metode paper and pencil test hanya dapat mengukur kemampuan kognitif siswa namun belum dapat mengukur hasil belajar siswa secara holistik. Soal-soal tes tradisional dibagi menjadi 2 tipe yaitu selected response items (soal pilihan ganda dan benar-salah, memungkinkan siswa memilih jawaban di antara alternatif yang tersedia) dan constructed-response item (esai atau jawaban pendek mengisi titik-titik, mengharuskan siswa memberikan jawabannya sendiri)..

(37) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 24. b.. Asesmen Berbasis Kinerja Asesmen ini menginginkan siswa dapat mengerjakan tugas tertentu. seperti. menulis. esai,. melakukan. eksperimen,. menginterpretasi solusi untuk masalah atau menggambarkan sesuatu. Siswa mengerjakan beragam tugas selama beberapa hari, bukan tugas yang dapat diakses beberapa menit. Hal ini merupakan upaya mengukur berbagai macam keterampilan dan proses intelektual yang kompleks. Asesmen kinerja bisa dalam bentuk portofolio siswa atau penilaian dalam proses belajar mengajar misalkan dalam kerja kelompok, eksperimen, atau diskusi kelompok. Menurut Uno & Koni (2012) menjelaskan jenis-jenis asesmen dilaksanakan dalam berbagai teknik, seperti: penilaian kinerja (performance), penilaian sikap, penilaian tertulis (paper and pencil test), penilaian proyek, dan penilaian diri (self assessment). 6.. Teknik-teknik Asesmen Menurut Poerwanti (2001: 34) dilihat dari tekniknya, asesmen dibedakan menjadi dua macam yaitu: a.. Teknik tes adalah seperangkat tugas yang harus dikerjakan oleh orang yang di beri tes, dan berdasarkan hasil menunaikan tugastugas tersebut, akan dapat ditarik kesimpulan tentang aspek tertentu pada orang tersebut.. b.. Teknik non tes dapat dilakukan dengan observasi baik secara langsung ataupun tak langsung, angket ataupun wawancara, dan.

(38) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 25. dapat pula dilakukan dengan sosiometri. Teknik non tes digunakan sebagai pelengkap dan pertimbangan tambahan dalam pengambilan keputusan penentuan kualitas hasil belajar. Teknik ini bersifat lebih menyeluruh pada semua aspek kehidupan individu. 7.. Tes sebagai Teknik Asesmen Uno & Koni (2012) menyatakan tes adalah alat ukur yang sangat berharga dalam penelitian ini. Tes merupakan seperangkat rangsangan (stimuli) yang diberikan kepada seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang menjadi dasar bagi penetapan skor angka. Skor yang yang didasarkan pada sampel yang representatif dari tingkah di tes itu memiliki karakteristik yang sedang diukur. Ada dua persyaratan pokok dari tes yang digunakan untuk pengumpulan data penelitian, yakni reliabilitas dan validitas. Tes sebagai teknik asesmen dapat menyediakan informasiinformasi objektif yang dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam penentuan keputusan yang harus diambil pendidik terhadap proses dan hasil belajar. Tes ini dilakukan sebelum, saat, dan akhir pembelajaran, sehingga bergulir tanpa henti (dynamic assesment).. B. Hakikat Pendidikan Karakter 1.. Pengertian Pendidikan Karakter Lickona (Wibowo, 2013: 38) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai segala usaha yang disengaja untuk mengembangkan karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai inti yang baik untuk individu dan.

(39) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 26. masyarakat. Menurut Ryan dan Bohlin (Fathurrohman, 2013: 17) menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah “upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan nilai-nilai etis”. Kemendiknas (2010: 8) mengungkapkan pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan, dan mengambangkan karakterkarakter luhur kepada siswa, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan, dan mempraktikkannya dalam kehidupan, baik dalam keluarga sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Menurut Elkind & Sweet (Gunawan 2014: 23) pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter siswa. Guru membantu membentuk watak siswa. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Berdasarkan beberapa pendapat sebagaimana diuraikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya untuk membantu individu agar dapat memahami, peduli, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai karakter dalam kehidupan..

(40) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 27. 2.. Tujuan, Fungsi, dan Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter a.. Tujuan Pendidikan Karakter Menurut. Kementrian. Pendidikan. Nasional. (2011:. 7). pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: 1) Mengembangkan potensi siswa agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik. 2) Membangun bangsa yang berkarakter Pancasila. 3) Mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. Menurut Sjarkawi (2011: 6-7) menyatakan bahwa pendidikan karakter bagi anak bertujuan agar secara sedini mungkin dapat: 1) Mengetahui berbagai karakter baik manusia. 2) Mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter. 3) Menunjukkan contoh perilaku berkarakter dikehidupan seharihari. 4) Memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter. 5) Memahami dampak buruk karena tidak menjalankan karakter baik. 6) Melaksanakan perilaku berkarakter dalam kehidupan seharihari..

(41) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 28. Lebih lanjut Sjarkawi (2011: 29) menjelaskan tujuan pendidikan karakter adalah mendorong lahirnya anak-anak yang baik. Begitu tumbuh dalam karakter yang baik mereka akan tumbuh dengan kapasitas dan komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya dengan benar dan cenderung memiliki tujuan hidup. Untuk itu karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sedini mungkin, sebab jika gagal dalam menanamkan karakter anak maka akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan untuk membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, berjiwa patriotik, berkembang, dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. b. Fungsi Pendidikan Karakter Sesuai dengan Fungsi Pendidikan Nasional yang tertuang dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa pendidikan nasilonal berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Kemendiknas (2011: 7) bahwa pendidikan karakter memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1) Membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural..

(42) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 29. 2) Membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik. 3) Membangun sikap warga negara yang cinta damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni. Menurut Zubaedi (2012) pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama, yaitu: 1) Pendidikan karakter berfungsi membentuk dan mengembangkan potensi siswa agar berpikir baik, berhati baik, dan berperilaku baik sesuai dengan falsafah hidup Pancasila. 2) Pendidikan karakter berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk. ikut. berpartisipasi. dan. bertanggungjawab. dalam. pengembangan potensi warga negara dan pembangunan bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera. 3) Pendidikan karakter berfungsi memilah budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. c.. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter Pendidikan karakter di sekolah akan terlaksana dengan lancar jika dalam pelaksanaannya guru memerhatikan beberapa prinsip.

(43) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 30. pendidikan karakter. Direktorat pembinaan SMP (Fathurrohman, 2013: 145-146) mengemumkakan bahwa karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: 1) Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. 2) Mengidentifikasi. karakter. secara. komperhensif. supaya. mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku. 3) Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif untuk membangun karakter. 4) Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. 5) Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik. 6) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. 7) Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada siswa. 8) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. 9) Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. 10) Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter..

(44) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 31. 11) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan siswa. C. Hakikat Karakter Demokratis 1.. Pengertian Karakter Demokratis Herdiawanto dan Hamdayama (2010: 80) menjelaskan demokrasi berasal dari kata Yunani, yaitu demos dan kratos. Demos artinya rakyat dan kratos artinya pemerintahan. Jadi, demokrasi artinya pemerintahan rakyat, yaitu pemerintahan yang rakyatnya memegang peranan yang sangat menentukan. Hal tersebut didukung oleh pendapat Nasution (2010: 23) yang mengatakan bahwa demokrasi bukan hanya cara, alat atau proses, tetapi nilai-nilai atau norma-norma yang harus menjiwai, dan mencerminkan keseluruhan proses kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Jadi, menurut pendapat diatas demokratis mengutamakan kerakyatan, yaitu sikap tiap individu yang bermasyarakat berdasarkan nilai-nilai yang baik dan tentunya sebagai warga negara yang akan membangun negaranya. Koesoema (2012: 189) mengemukakan bahwa demokratis adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Menurut Majid dan Andayani (2013: 47) demokratis digambarkan sebagai perilaku yang suka bekerjasama dalam belajar dan atau bekerja, mendengar nasihat orang lain, dan bisa mengikuti aturan. Jadi, dalam dunia pendidikan, demokratis berarti sikap.

(45) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 32. bersedia menerima pendapat atau gagasan orang lain, serta berani mengeluarkan pendapat. Elvani (2010: 56) menyebutkan bahwa demokratis dapat diartikan sebagai sikap saling menghargai kendati pendapat satu sama lain berbeda, bahkan bertentangan pendapat tidak hanya sekedar berbeda lalu berhenti, namun diajak untuk membuat kesepakatan bersama secara terbuka dan saling menghormati. Siswa diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan, pendapat, dan penilaian terhadap nilai-nilai yang ditemukan. Demokratis ini digunakan untuk menanamkan nilai-nilai diantaranya keterbukaan, kejujuran, penghargaan pendapat orang lain, sportifitas, kerendahan hati, dan toleransi melalui demokratis siswa diajak berani mengungkapkan gagasan, pendapat, maupun perasaan. Menurut Djahiri (2007) menyatakan bahwa sikap demokratis siswa akan nampak dari bersahabat, toleransi, bersikap kritis dan kreatif, sensitif terhadap hal-hal yang ada disekitarnya, dapat melihat cara-cara yang tepat dalam memecahkan persoalan yang timbul dalam dirinya maupun lingkungannya, mampu mengemukakan pendapatnya secara jelas dan sistematis, dan berkeinginan untuk maju. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa demokratis adalah sebagai suatu kesiapan atau kecendrungan siswa untuk berperilaku mengutamakan kepentingan bersama, menghargai pendapat orang lain secara wajar, jujur, terbuka, dan ikut berpartisipasi dalam pengambilan suatu keputusan yang melibatkan dirinya..

(46) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 33. 2.. Nilai-nilai Karakter Demokratis Menurut Winarno (2010: 97) menyatakan bahwa perkembangan baru menunjukkan bahwa demokrasi tidak hanya dipahami sebagai bentuk pemerintahan dan sistem politik, tetapi demokrasi dipahami sebagai sikap hidup atau pandangan demokratis. Oleh karena itu, Winarno (2010: 111) juga mengatakan masyarakat yang demokratis adalah. masyarakat. yang. perilaku. hidup. baik. keseharian. dan. kenegaraannya dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi. Jadi, dapat dipahami bahwa pemahaman tentang demokratis dimaknai dengan memiliki sikap demokratis. Menurut Mayo (Herdiawanto dan Hamdayama, 2010: 86) nilainilai tersebut antara lain: a.. Menyelesaikan perselisihan dengan damai dan secara melembaga.. b.. Menjamin terselenggaranya perubahan secara damai dan dalam suatu masyarakat yang sedang berubah.. c.. Menyelenggarakan pergantian pemimpin secara teratur.. d.. Membatasi pemakaian kekerasan seminimal mungkin.. e.. Mengakui dan menganggap wajar adanya keanekaragaman.. f.. Menjamin tegaknya keadilan. Menurut Zamroni (Winarno, 2006: 69) dalam sikap demokratis. terdapat 12 nilai yang terkandung didalamnya. Nilai demokratis tersebut adalah sebagai berikut: a.. Toleransi.

(47) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 34. 3.. b.. Kebebasan mengemukakan pendapat. c.. Menghargai perbedaan pendapat. d.. Memahami keanekaragaman dalam masyarakat. e.. Terbuka dan komunikasi. f.. Menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan. g.. Percaya diri. h.. Tidak menggantungkan diri pada orang lain. i.. Saling menghargai. j.. Mampu mengekang diri. k.. Kebersamaan. l.. Keseimbangan. Karakteristik Individu Berkarakter Demokratis Menurut Dewey (Zamroni, 2007: 50) menyatakan bahwa nilainilai demokrasi adalah: toleransi, menghormati perbedaan pendapat, memahami, dan menyadari keanekaragaman masyarakat, terbuka dalam menjunjung. tinggi. nilai-nilai. dan. martabat. manusia,. mampu. mengendalikan diri sehingga tidak mengganggu orang lain, kebersamaan dan kemanusiaan, percaya diri tidak menggantungkan diri pada orang lain, dan taat pada peraturan yang berlaku. a.. Toleransi Toleransi merupakan suatu sikap yang menghargai dan menjunjung tinggi hak-hak setiap individu, baik hak beribadat sesuai agama dan kepercayaannya. masing-masing,. hak. untuk. mengemukakan.

(48) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 35. pendapat, hak menjalin hubungan sosial dimasyarakat maupun hakhak yang lain. b.. Menghargai perbedaan pendapat Ciri dari kehidupan berdemokrasi adalah adanya kebebasan untuk berpendapat. Oleh karena itu dalam kehidupan berdemokrasi harus mampu menjunjung tinggi adanya keragaman pendapat dari masingmasing individu. Sikap menjunjung tinggi adanya perbedaan pendapat dalam kehidupan berdemokrasi ini ditunjukkan dari adanya nilai untuk menghargai setiap pendapat yang dikemukakan orang lain.. c.. Memahami dan menyadari keanekaragaman masyarakat Nilai yang perlu dijunjung tinggi dalam kehidupan berdemokrasi adalah adanya keanekaragaman yang ada pada masyarakat, baik keanekaragaman ras, suku, maupun agama. Tanpa adanya kesadaran, adanya keanekaragaman yang ada pada masyarakat maka tidak mungkin nilai demokrasi dapat dijunjung setinggi-tingginya, dan bahkan apabila adanya keragaman tersebut tidak diakui oleh anggota masyarakat maka yang timbul dimasyarakat adalah perpecahan.. d.. Terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat manusia Sikap terbuka dan kemauan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat manusia merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam kehidupan berdemokrasi. Tanpa adanya kemauan untuk terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat manusia maka yang ada.

(49) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 36. dalam. kehidupan. bermasyarakat. adalah. saling. menghina,. merendahkan, dan menjatuhkan satu dengan yang lain. e.. Pengendalian diri Nilai pengendalian diri dalam kehidupan berdemokrasi mutlak diperlukan agar setiap perbuatan yang dilakukan tidak merugikan orang lain.. f.. Kemanusiaan dan kebersamaan Sikap kemanusiaan dan kebersamaan adalah sudah menjadi salah satu nilai yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan berdemokrasi sebab sudah menjadi kodratnya manusia diciptakan sebagai mahluk individu dan sekaligus mahluk sosial. Dalam kehidupan sosial tanpa adanya kebersamaan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang timbul maka segala sesuatunya akan terasa sangat berat untuk diselesaikan.. g.. Kepercayaan diri Sikap percaya diri dalam kehidupan bermasyarakat sangat penting dimiliki oleh setiap anggota masyarakat guna mengurangi adanya sikap selalu menggantungkan diri kepada orang lain. Dengan adanya kepercayaan diri yang mantap dalam diri setiap individu pada mereka cenderung akan terlebih dahulu berusaha menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi sebelum pada akhirnya meminta pertolongan orang lain..

(50) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 37. h.. Ketaatan pada peraturan yang berlaku Taat dan patuh memiliki arti selalu melaksanakan segala peraturan yang ditetapkan. Ketaatan dan kepatuhan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh akan mewujudkan ketertiban dan ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat. Peraturan yang dibuat harus dilaksanakan. secara. bersama-sama. sebab. peraturan. tersebut. merupakan hasil kesepakatan bersama. Ketaatan dan kepatuhan juga merupakan modal yang utama bagi setiap orang untuk mewujudkan keadilan masyarakat secara keseluruhan. Menurut Koesuma (2009: 200) ada beberapa karakteristk individu menumbuhkan kultur demokratis, yaitu: a.. Setiap individu di sekolah memiliki tanggungjawab dalam menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik, sehingga individu mampu bertumbuh dan berkembang dalam kebersamaan tesebut.. b.. Rasa hormat terhadap individu dan kesediaan untuk secara bersama terlibat secara aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan bersama yang lebih baik merupakan tanda bahwa nilai-nilai demokratis itu dihargai.. c.. Dialog, komunikasi, kesediaan untuk saling mendengarkan, dan meghargai demokratis.. perbedaan. adalah. ciri. dasar. sebuah. masyarakat.

(51) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 38. d.. Setiap individu dilibatkan secara aktif dalam pengambilan keputusan sehingga mereka dapat berpartisipasi dengan lebih aktif dalam membangun dan mengkontruksi sekolah mereka.. D. Hakikat Karakter Kepemimpinan Diri 1.. Pengertian Karakter Kepemimpinan Diri Pengertian kepemimpinan sangat beragam ditemukan, masingmasing berbeda penekanan artinya. Di dalam buku, “Leadership in Organizations”, Yukl (2006) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses mempengaruhi orang lain untuk mengerti dan menyetujui mengenai apa yang perlu dilakukan dan bagaimana caranya, dan proses memfasilitasi usaha individu dan kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Neck & Houghton (2006) mengungkapkan bahwa self leadership merupakan. suatu. kemampuan. yang. dimiliki. individu. untuk. mempengaruhi, mengarahkan, mengawasi, dan memotivasi dirinya (pola pikir dan perilakunya) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepemimpinan diri adalah gabungan dari aspek kognitif yang meliputi proses yang dilakukan untuk mempengaruhi dan memotivasi diri, dan aspek perilaku. yang merupakan proses yang dilakukan untuk. mengarahkan dan mengelola perilaku untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Robbins (2006) berpendapat bahwa self leadership merupakan serangkaian proses yang digunakan untuk mengendalikan perilakunya.

(52) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 39. sendiri. Asumsi dasar dibalik self leadership adalah individu dikatakan bertanggungjawab, dapat dan mampu membangun dan mengembangkan inisiatif, bila tanpa ada tekanan dari atas dan pihak eksternal, tetap terbangun kesadaran untuk melakukannya. Mereka dapat memantau dan mengendalikan perilakunya sendiri. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa self leadership adalah kemampuan dari dalam diri individu untuk mempengaruhi, mengarahkan, mengawasi, dan memotivasi diri sendiri untuk mencapai tujuan yang diharapkan. 2.. Aspek-aspek Karakter Kepemimpinan Diri Connor (Musaheri, 2014) mengungkapkan aspek-aspek self leadership meliputi: a.. Kesadaran Diri (Self Awaeness) Pemahaman diri dapat dijadikan dasar untuk memperbaiki kinerja maupun untuk meningkatkan kepercayaan diri, dan pemahaman terhadap orang lain. Pemahaman diri mencakup evaluasi atau penilaian tentang nilai-nilai yang dianutnya, kelemahan dan kelebihannya, minat, dan tujuan hidupnya. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan melakukan umpan balik dari orang lain seperti bawahan, atasan, rekan sejawat, ataupun teman dan sahabat. Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan pengamatan terhadap reaksi orang-orang di sekitarnya yaitu dari sikap, ucapan, tindakan dalam berinteraksi dengan orang lain..

(53) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 40. b.. Pengarahan Diri (Self Direct) Mengarahkan. diri. menjadi. salah. satu. modal. membangun. kepemimpinan diri. Mengarahkan diri ditujukkan dengan jelasnya tujuan individu, sehingga bisa memimpin diri menuju tujuan. Semakin jelas tujuan yang ingin diraih akan menjadi mudah untuk memimpin diri khususnya dalam mengarahkan dirinya sendiri ke arah tujuan yang ingin dicapai. c.. Pengelolaan Diri (Self Manage) Mengelola diri sendiri dengan baik mempermudah untuk mencapai tujuan. Bentuk pengelolaan diri adalah berupa menyusun tindakantindakan yang akan dilakukan dalam skala perioritas beserta jangka waktu penyelesaiannya.. d.. Penyelesaian Diri (Self Accomplishment) Bentuk dari penyelesaian diri sendiri berupa pelaksanaan dari perencanaan. yang. telah. ditentukan. sebelumnya.. Individu. mengidentifikasi sarana dan prasarana yang sudah ada atau keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan rencana, dan hal ini menjadi bermakna dalam membangun kepemimpinan diri sendiri. 3.. Karakteristik Individu yang Memiliki Karakter Kepemimpinan Diri Menurut Rosiman (Musaheri, 2014) karakteristik individu yang memiliki self leadership adalah:.

(54) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 41. a.. Individu dapat memahami diri secara terus menerus, melakukan penilaian diri/self assesment (memahami kekurangan dan kelebihan yang ada dalam diri sendiri); mengenal diri dari orang lain dengan cara melakukan feedback (umpan balik), meminta masukan dan saran dari orang-orang yang sering berinteraksi.. b.. Invidu mampu mengelola diri dengan menyusun tindakan-tindakan yang dilakukan dalam skala prioritas; membangun keyakinan dan komitmen tinggi.. c.. Individu. melakukan. pengembangan. diri. sebagai. upaya. pengembangan diri secara berkelanjutan, sangant penting maknanya bagi keberhasilan memimpin diri sendiri. E. Asesmen Pendidikan Karakter 1.. Pengertian Asesmen Pendidikan Karakter Albertus (2015) menegaskan penilaian pendidikan karakter pada hakikatnya adalah evaluasi atas proses pembelajaran secara terus menerus dari individu untuk menghayati peran dan dan kebebasannya bersama orang lain dalam sebuah lingkungan sekolah demi pertumbuhan integritas moralnya sebagai manusia. Hanya individu yang terbuka pada pengalaman diri dengan yang lain mampu menentukan apakah dirinya telah menjadi manusia berkarakter atau bukan.. 2.. Manfaat Asesmen Pendidikan Karakter Djemari (2012) menjelaskan penilaian merupakan kegiatan untuk menentukan pencapaian hasil pembelajaran yang dapat dikategorikan.

(55) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 42. menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif. Setiap siswa memiliki tiga ranah tersebut., hanya kedalamannya tidak sama. Karakter yang baik melibatkan pemahaman, perhatian, dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai etika. Pendekatan yang holistik terhadap siswa mengambangkan kognitif, emosi, dan aspek perilaku dari kehidupan moral. Siswa berkembang untuk memahami nilai-nilai karkter dengan mempelajari, mendiskusikan, mengamati model perilaku, dan memecahkan masalah yang mencakup nilai-nilai tersebut. Asesmen pendidikan karakter bermanfaat untuk pendidikan karakter yang seharusnya membawa siswa ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara efektif, dan akhirnya pada pengalaman nilai secara nyata. 3.. Teknik-teknik Asesmen Pendidikan Karakter Airasian (2000) mengatakan metode asesmen dibedakan menjadi tiga yaitu teknik tertulis (paper-pencil techniques), teknik observasi (observation techniques), dan teknik pertanyaan lisan (oral questioning techniques). Teknik tertulis (paper-pencil techniques) mengacu kepada metode asesmen dimana siswa menuliskan responnya terhadap pertanyaan-pertanyaan atau masalah-masalah. Oberavasi adalah suatu proses. melihat atau mendengar individu melakukan suatu aktivitas. (observasi proses) atau untuk menilai suatu produk (observasi produk). Sedangkan teknik pertanyaan lisan adalah metode asesmen dengan mengajukan pertanyaan secara lisan kepada individu..

(56) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 43. Menurut Strange (2004) metode asesmen pendidikan karakter dapat dibedakan atas aesemen kuantitatif (quantitative assessment) dan asesmen kualitatif (qualitative assessment). Asesmen kuantitatif dapat berbentuk: rubrik asesmen diri sendiri (self assessment rubric), tes tertulis (paper and pencil test), skala bertingkat asesmen karakter (character assessment rating scale). Sementara itu, asesmen kualitatif dapat berupa: jurnal siswa, paper, dan unjuk kerja. 4.. Kekuatan dan Kelemahan Tes Arikunto (2003: 164) menegaskan tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif terdapat kelemahan dan kelebihan, sebagai berikut: a.. Kelebihan tes objektif, yaitu: 1) Lebih respektif mewakili isi dan luas bahan, lebih objektif, dapat di hindari campur tangan unsur-unsur subjektif, baik dari segi peserta didik maupun segi guru yang memeriksa. 2) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat memnggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. 3) Pemeriksaan dapat diserahkan orang lain. 4) Dalam. pemeriksaan. tidak. ada. unsur. subjektif. mempengaruhi. 5) Untuk menjawab tes objektif tidak banyak memakai waktu.. yang.

(57) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 44. 6) Reliabilitinya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tes essay, karena penilainya bersifat objektif. 7) Validitas tes objektif lebih tinggi dari tes essay, karena samplingnya lebih luas. 8) Pemberian nilai dan cara menilai tes objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus. 9) Tes objektif tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan. b.. Kelemahan tes objektif, yaitu: 1) Persiapan untuk menyusun jauh lebih sulit dari pada tes essay karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahan-kelemahan yang lain. 2) Soal-soal cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. 3) Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. 4) Kerjasama antar peserta didik pada waktu mengerjakan sol tes lebih terbuka. 5) Peserta didik sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena belum menguasai bahan pelajaran tersebut. 6) Tes sampling yang diajukan kepada peserta didik cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat untuk menjawabnya..

(58) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 45. 7) Tidak biasa megajak peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi. 8) Banyak memakan biaya, karena lembaran item-item tes harus sebanyak jumlah pengikut tes. Beberapa bentuk tes objektif yaitu salah-benar (true-false), pilihan ganda (multiple choise). Masing-masing bentuk tes objektif mempunyai kelebihan dan kelemahan. a.. Salah- benar (true- false) Kelebihan tes, yaitu: 1) Soal ini baik untuk hasil- hasil, dimana hanya ada dua pilihan jawaban. 2) Tuntutan kurang ditekankan pada kemampuan baca. 3) Sejumlah soal relatif dapat dijawab dalam tipe test secara berkala. 4) Penilaian mudah, objektif, dan dapat dipercaya. Kelemahan tes, yaitu: 1) Sulit menuliskan soal diluar tingkat pengetahuan yang bebas dari maksud ganda. 2) Jawaban soal tidak memberikan bukti bahwa peserta didik mengetahui dengan baik. 3) Tidak ada informasi diagnostik dari jawaban yang salah. 4) Memungkinkan dan mendorong peserta didik untuk menerkanerka..

(59) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 46. b.. Pilihan berganda (multiple choise) Kelebihan tes, yaitu: 1) Hasil belajar yang sederhana sampai yang komplek dapat diukur. 2) Terstruktur dan petunjuknya jelas. 3) Alternatif jawaban yang salah dapat memberikan informasi diagnostik. 4) Tidak dimungkinkan untuk menerka jawaban. 5) Penilaian mudah, objektif dan dapat dipercaya. Kelemahan tes, yaitu: 1) Menyusunnya membutuhkan waktu yang lama. 2) Sulit menemukan pengacau. 3) Kurang efektif mengukur beberapa tipe pemecahan masalah, kemampuan untuk mengorganisir, dan mengekspresikan ide. 4) Nilai dapat dipengaruhi dengan kemampuan baca.. 5.. Prinsip-prinsip Pengembangan dan Penggunaan Tes dalam Pendidikan Karakter Guna mengetahui keberhasilan dalam pembelajaran penanaman nilai-nilai karakter diperlukan instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuannya, dengan cara membandingkan perilaku anak dengan standar (indikator) karakter yang ditetapkan. Sebelum itu, perlu diketahui langkah pengembangan instrumen penilaian tersebut. Menurut Gronlund.

(60) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 47. (Suwandi, 2010) menjelaskan ada enam langkah pengembangan instrumen tes, sebagai berikut: a.. Menentukan tujuan tes. b.. Mengidentifikasi hasil belajar yang dimaksudkan. c.. Merumuskan hasil belajar yang umum dengan istilah yang khusus. d.. Menetapkan garis-garis besar isi mata pelajaran. e.. Mempersiapkan tabel spesifikasi. f.. Menggunakan tabel spesifikasi dalam mempersiapkan tes Soeharto (Suwandi, 2010) menyebutkan bahwa ada sembilan. langkah dalam pengembangan instrumen, yaitu: a.. Membuat spesifikasi tujuan (penjelasan tentang pengetahuan, keterampilan, atau tingkah laku yang akan dideteksi).. b.. Menerjemahkan tujuan-tujuan tes dalam istilah-istilah yang operasional.. c.. Merumuskan tujuan dalam kata-kata yang menggambarkan tingkah laku.. d.. Merencanakan tes (berapa jumlah butir tes, bagaimana bentuk tes).. e.. Menulis butir-butir tes dengan format yang dikehendaki.. f.. Melakukan ujicoba butir-butir tesdan menganalisisnya.. g.. Menyetel tes yang sudah final.. h.. Standarisasi (proses pengembangan alat kontrol: petunjuk pengerjaan, waktu pengerjaan, prosedur, dan standar penilaian)..

(61) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 48. i.. Memberi atribut pada skor-skor tes (menjelaskan indeks reliabilitas dan validitas). Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa. prinsip-prinsip pengembangan dan penggunaan tes harus memiliki langkah-langkah, seperti menentukan tujuan dari alat tes yang akan dibuat, merancang tes (membuat kisi-kisi, merancang butir-butir tes, format tes, menulis soal tes), me-review dan merevisi soal tes yang akan digunakan, setelah itu melakukan uji coba dan analisis, soal tes hasil analisis selanjutnya dirakit menjadi soal-soal tes yang memiliki kriteria baik, dan diberikan kepada peserta didik. Setelah itu dilakukan penskoran dari hasil jawaban peserta didik, hasil penskoran lalu diberikan kepada peserta didik dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dan menentukan kebijakan. F. Media Film dalam Pendidikan Karakter 1.. Pengertian Film Arsyard (2003: 48) mengatakan film merupakan gambar-gambar dalam frame. Frame-frame tersebut diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar tersebut hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontiniu. Menurut Sudjana (1995: 102) film adalah serangkaian gambar yang diproyeksikan ke layar pada kecepatan tertentu sehingga. menjadikan. urutan. tingkatan. yang. mengambarkan pergerakan yang tampak normal.. berjalan. sehingga.

(62) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 49. Usman (2002: 95) mengatakan film sebagai alat audio visual untuk pelajaran, penerangan, atau penyuluhan. Banyak hal-hal yang dapat dijelaskan melalui film antara lain tentang proses terjadi di dalam tubuh kita, proses yang terjadi dalam suatu industri, kejadian yang terjadi di alam, tata cara kehidupan di negara asing, berbagai industri dan pertambangan, mengajarkan suatu ketrampilan, sejarah kehidupan orangorang besar dan sebagainya. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa film adalah gambar atau frame yang diproyeksikan kedalam audio visual yang dapat menimbulkan kesan hidup dan bergerak untuk digunakan materi pembelajaran dan dapat mendokumentasikan kejadian-kejadian yang ada di sekitar. Film merupakan media visual yang dapat digunakan untuk media pembelajaran dalam dunia pendidikan. Terutama pendidikan karakter yang saat ini sedang gencar-gencarnya disosialisasikan pemerintah untuk semua lapisan masyarakat. Film yang membawa makna khusus untuk menanamkan nilai-nilai yang bermoral dapat membentuk suatu kepribadian seseorang pada era yang sangat modern saat ini sangat rentan terhadap tindakan yang negatif akibat arus globalisasi. Oleh sebab itu film yang bertemakan pendidikan berkarakter haruslah diperhatikan penggunaannya sebagai media pembelajaran yang nantinya menjadi suatu sarana serta prasana pembentuk kepribadian bangsa. Dengan daya tariknya sendiri film memiliki sebuah sihir tertentu yang digunakan untuk.

(63) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 50. membuat penonton menangis, tersenyum, ataupun terharu dalam hitungan detik saja. Dalam hal tersebut ternyata film memiliki hal-hal yang ajaib untuk mempengaruhi para penonton. Dengan kata lain pemanfaatan dari film tersebut juga bisa dilakukan oleh para pendidik kita. Melalui film kita mampu membaca tampilan apa saja yang dihadirkan dalam film tersebut. Melalui film kita mampu membaca karakter bangsa kita, melalui film kita mampu mendeteksi sejauh mana kemampuan kita menanggapi isi film tersebut. Mengingat bahwa film merupakan media pembelajaran yang ampuh dalam menghasilkan serta menghadirkan film yang berkualitas harus mengutamakan isi pesan moral dari film tersebut. Pendidikan karakter di Indonesia dapat dilakukan dengan dibuatnya berbagai unsur film mengenai perjuangan Indonesia, mempertahankan idealisme dan keyakinan rasa cinta pada Indonesia, atau bahkan. berbau. pendidikan. karakter. demokratis. dan. karakter. kepemimpinan diri siswa. 2.. Karakteristik Media Film Karakter Di Indonesia sudah banyak bermunculan film-film yang bertemakan pendidikan karakter. Dalam film tersebut digambarkan bahwa kondisi pendidikan semakin rentan terhadap arus globalisasi namun masih banyak diantara mereka memiliki motivasi besar akan dirinya yang mampu menjadi karakter berkualitas. Menghadirkan sebuah.

(64) PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 51. film haruslah kompleks karena ia merupakan identitas yang ”hadir” dengan beragam latar belakang. Ia merupakan sebentuk seni sekaligus praktik sosial. Dalam dunia perfilman tentu saja antara satu film dengan film. yang. lainnya. memiliki. karakteristik. yang. berbeda-beda. (www.tesispendidikan.com). Ada beberapa karakteristik film pendidikan yang meliputi:. 3.. a.. Menyiratkan suatu pesan moral yang boleh ditiru serta tidak ditiru. b.. Mengikuti norma serta adat istiadat. c.. Membentuk karakter disemua lapisan masyarakat. d.. Memiliki tujuan yang jelas. e.. Merupakan perantara untuk mendapatkan ilmu. f.. Memiliki durasi yang terbatas. g.. Konflik yang ditampilkan relatif datar. h.. Membentuk mental bangsa yang berkualitas. i.. Memiliki unsur-unsur yang dapat dicontoh, misalnya kedisiplinan. j.. Sasarannya tepat sesuai dengan kemasan pesan. Kekuatan-kekuatan Media Film dalam Pendidikan Karakter Kesan-kesan yang ditayangkan oleh suatu film lebih mudah dipahami, lama diingat, lebih menarik perhatian dan minat, serta lebih memudahkan penonton untuk memberi respon positif atau negatif dari tayangan tersebut. Menurut Kustandi & Sutjipto (2016: 64-65) keuntungan menggunakan media film sebagai berikut:.

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pikir  1.  Penilaian  pendidikan karakter masih abstrak. 2.  Guru menilai dengan subjektivitas.
Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan Penelitian  1.  Potensi dan Masalah
Gambar 3.2 Langkah-langkah Pengembangan Penelitian
Grafik 3.1 Contoh Nilai Threshold
+2

Referensi

Dokumen terkait

FAKTOR – FAKTOR DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI KINERJA MENGAJAR GURU BAHASA. ARAB MADRASAH IBTIDAIYAH DI

tahun 1998 tentang perbankan yang mengatur bank syariah secara cukup jelas dan. kuat dari segi kelembagaan dan operasionalnya, yang kemudian

FAKTOR – FAKTOR DETERMINAN YANG MEMPENGARUHI KINERJA MENGAJAR GURU BAHASA.. ARAB MADRASAH IBTIDAIYAH DI

Sebagai contoh, dalam belajar bernyanyi sambil memperagakan gerakan biasanya melihat dari pengajarnya tapi sekarang dengan adanya komputer maka dapat menggunakannya sebagai salah

Untuk penyetingan relay di gardu hubung Kantor, perhitungan untuk nilai setting yang dimasukan dalam data setting pada relay harus di koordinasikan dengan data

M EMENUHI Berdasarkan hasil pemeriksaan antara data penerimaan bahan baku, hasil produksi, penjualan dan dokumen ekspor dalam periode bulan Agustus 2015

Pendirian rumah sakit gigi mulut pendidikan harus memperhatikan semua aspek yang dibutuhkan seperti lahan, ruang, peralatan medis/non medis, SDM dan organisasi kerja

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tipe deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui latarbelakang pengiklan dan perusahaan iklan menggunakan