Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kehamilan

17  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Status kesehatan ibu hamil sangat berpengaruh terhadap masa depan kesejahteraan janin dan merupakan suatu cerminan dari keadaan janin yang aktual. Status kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak semua ibu mengetahuinya. Bukan hanya faktor fisik ibu yang dapat dinilai dengan status kesehatan, melainkan juga sehat dalam arti ibu tidak merasa terpaksa mempersiapkan segala sesuatu untuk kehamilannya (faktor sosial budaya dan ekonomi). Dengan begitu sangat perlu bagi para tenaga kesehatan untuk memahami seluruh kebutuhan ibu dalam masa antenatal, intranatal dan postnatal yang akan sangat menunjang proses persalinan nanti. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Faktor fisik apa saja yang memengaruhi masa kehamilan?

2. Seberapa besar pengaruh faktor fisik dalam menjaga kehamilan? 3. Apa saja yang memengaruhi status kesehatan ibu hamil? 4. Bagaimana faktor fisik memengaruhi kesehatan ibu hamil? Tujuan

Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui faktor-faktor fisik apa saja yang memengaruhi kehamilan

2. Mengetahui seberapa besar pengaruh faktor-faktor fisik dalam menjaga kehamilan 3. Mengetahui apa saja yang memengaruhi status kesehatan ibu hamil

4. Mengetahui pengaruh faktor fisik terhadap kesehatan ibu hamil

BAB II PEMBAHASAN

(2)

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kehamilan 1 Faktor fisik

Ada tiga faktor yang mempengaruhi kehamilan, yaitu faktor fisik, faktor psikologis dan factor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi.

Faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan, status gizi, gaya hidup ibu tersebut.

1.1 Status kesehatan

Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah bersalin, atau poliklinik kebidanan. Adapun tujuan dari pemeriksaan kehamilan yang disebut dengan Ante Natal Care (ANC) tersebut adalah: § Memantau kemajuan kehamilan. Dengan demikian kesehatan ibu dan janin pun dapat dipastikan keadaannya.

§ Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, karena dalam melakukan pemeriksaan kehamilan, petugas kesehatan (bidan atau dokter) akan selalu memberikan saran dan informasi yang sangat berguna bagi ibu dan janinnya.

§ Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan dengan melakukan pemeriksaan pada ibu hamil dan janinnya.

§ Mempersiapkan ibu agar dapat melahirkan dengan selamat. Dengan mengenali kelainan secara dini, memberikan informasi yang tepat tentang kehamilan dan persalinan pada ibu hamil, maka persalinan diharapkan dapat berjalan dengan lancar, seperti yang diharapkan semua pihak

§ Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal. Jika kehamilan dan persalinan dapat berjalan dengan lancar, maka diharapkan masa nifas pun dapar berjalan dengan lancar.

§ Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima bayi. Bahwa salah satu faktor kesiapan dalam menerima bayi adalah jika ibu dalam keadaan sehat setelah melahirkan tanpa kekurangan suatu apa pun.

Karena manfaat memeriksakan kehamilan sangat besar, maka dianjurkan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat.

(3)

1. Kehamilan pada usia tua

a. Segi negatif kehamilan di usia tua

 Kondisi fisik ibu hamil dengan usia lebih dari 35 tahun akan sangat menentukan proses kelahirannya. Hal ini pun turut mempengaruhi kondisi janin.

 Pada proses pembuahan kualitas sel telur wanita usia ini sudah menurun, jika dibandingkan dengan sel telur pada wanita dengan usia reproduksi sehat ( 25 – 30 tahun ). Jika pada proses pembuahan, ibu mengalami gangguan sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan buah kehamilan, maka kemungkinan akan menyebabkan terjadinya Intra Uterine Growth Retardation ( IUGR ) yang berakibat Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ).

 Kontraksi uterus juga sangat dipengaruhi oleh kondisi fisik ibu. Jika ibu mengalami penurunan kondisi, terlebih pada primitua ( hamil pertama dengan usia ibu lebih dari 40 tahun ) maka keadaan ini harus benar – benar diwaspadai.

b. Segi positif hamil di usia tua  Kepuasan peran sebagai ibu.  Merasa lebih siap.

 Pengetahuan mengenai perawatan kehamilan dan bayi lebih baik.  Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.

 Mampu mengambil keputusan.

 Karier baik, status ekonomi lebih baik.  Perkembangan intelektual anak lebih tinggi.  Periode menyusui lebih lama.

 Toleransi pada kelahiran lebih besar. 2. Kehamilan multipel

Pada kasus kehamilan multipel ( kelahiran lebih dari satu janin ) biasanya kondisi ibu lemah. Ini disebabkan oleh adanya beban ganda yang harus ditangguang, baik dari pemenuhan nutrisi, oksigen dan lain – lain. Biasanya kehamilan multipel mengindikasikan adanya beberapa penyulit pada proses persalinannya. Sehingga persalinan operatif ( section caesaria - SC ) lebih dipertimbangkan. Selain itu resiko adanya kematian dan cacat harus juga dipertimbangkan. Ketika bayi sudah lahir kemungkinan ketegangan dalam merawat bayi akan terjadi, karena ibu harus berkonsentrasi dua kali lipat dari pada bayi tunggal. Namun adanya keunikan – keunikan akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga.

(4)

3. Kehamilan dengan HIV

Pada kehamilan dengan ibu yang mengidap HIV, janin akan menjadi sangat rentan terhadap penularan selama proses kehamilannya. Virus HIV kemungkinan besar akan ditransfer melalui plasenta ke dalam tubuh bayi.

Para penderita HIV dalam proses perjalanan penyakitnya akan mengalami penurunan kondisi tubuh jika tidak mendapatkan penanganan dan pemantauan yang adekuat dari tenaga kesehatan. Terlebih pada penderita HIV yang sedang menjalani proses kehamilan, karena pada kondisi tersebut banyak terjadi perubahan pada system tubuhnya.

Selain adanya pengaruh fisik terhadap ibu dn bayi, hal lain yang tak kalah pentingnya dan harus dipertimbangkan oleh tenaga kesehatan ketika memberikan asuhan adalah kondisi psikologis ibu. Pada ibu hamil dengan HIV akan mengalami kehilangan, cemas dan dipresi, dilemma serta khawatir dengan kesehatan bayinya.

1.2 Status gizi

Status gizi ibu hamil adalah masa dimana seseorang wanita memerlukan berbagai unsur gizi yang jauh lebih banyak daripada yang diperlukan dalam keadaan tidak hamil. Diketahui bahwa janin membutuhkan zat-zat gizi dan hanya ibu yang dapat memberikannya. Dengan demikian makanan ibu hamil harus cukup bergizi agar janin yang dikandungnya memperoleh makanan bergizi cukup. Selain itu status gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buruk bagi si ibu dan janinnya. Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat, sehingga janin akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata dapat berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan tumbuh besar melebihi berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat proses persalinan.

Yang harus diperhatikan adalah ibu hamil harus banyak mengkonsumsi makanan kaya serat, protein (tidak harus selalu protein hewani seperti daging atau ikan, protein nabati seperti tahu, tempe sangat baik untuk dikonsumsi) banyak minum air putih dan mengurangi garam atau makanan yang terlalu asin.

(5)

1) Asam folat

Asam folat adalah bagian dari vitamin B kompleks yang dapat diisolasi dari daun hijau (seperti bayam), buah segar, kulit, hati, ginjal, dan jamur. Asam folat disebut juga dengan folacin/liver lactobacillus cosil faktor/faktor U dan faktor R atau vitamin B11. Kebutuhan akan folic acid sampai 50-100 mg/hari pada wanita normal dan 300-400 mg/hari pada wanita hamil sedangkan hamil kembar lebih besar lagi..

Kekurangan asam folat menyebabkan gangguan plasenta, abortus habitualis, solusio plasenta, dan kelainan kongenital pada janin.

Pemberian asam folat diberikan pada masa perikontrasepsi, satu bulan sebelum konsepsi dan 1 bulan post konsepsi, karena neural tube manusia menutup pada minggu ketiga post konsepsi. Minimal pemberian suplemen asam folat yang dimulai 2 bulan sebelum konsepsi dan belanjut hingga 3 bulan pertama kehamilan. Dosis pemberian asam folat untuk preventif adalah 500 mikrogram, sedangkan untuk kelompok dengan faktor resiko adalah 4 mg/hari.

2) Energi

Diet pada ibu hamil tidak hanya difokuskan pada tinggi protein saja tetapi pada susunan gizi seimbang energi dan juga protein.Hal ini juga efektif unutk menurunkan kejadian BBLR dan kematian perinatal. Kebutuhan energi ibu hamil adalah 285 kalori untuk proses tumbuh kembang janin dan perubahan pada tubuh ibu.

3) Pembentukan jaringan dari janin dan tubuh ibu dibutuhkan protein sebesar 910 gran dalam 6 bulan terakhir kehamilan dibutuhkan tambahan 12 gram protein sehari untuk ibu hamil

4) Zat besi (FE)

Pemberian suplemen tablet tambah darah atau zat besi secara rutin adalah untuk membangun cadangan besi, sintesa sel darah merah, dan sintesa darah otot. Setiap tablet besi mengandung FeSO4 320 mg ( zat besi 30 mg ), minimal 90 tablet perhari.

5) Kalsium

Untuk pembentukan dan tulang gigi bayi, kebutuhan kalsium ibu hamil adalah sebesar 500 mg perhari.

6) Pemberian suplemen vitamin D terutama pada kelompok berisiko penyakit menular seksual dan di negara dengan musim dingin yang panjang.

(6)

8) Tidak ada rekomendasi rutin untuk pemberian Zinc, Magnesium, dan minyak ikan selama hamil.

Perbandingan kebutuhan gizi wanita normal dan hamil

Makanan Ibu Normal Ibu Hamil

Kalori (kal) 2.500 2.780 Protein (gram) 60 72 Kalsium (gram) 0,8 1,5 Feerum (Fe) (mg) 12 15 Vitamin A (IU) 5.000 5.200 Vitamin B (mg) 1,5 1,7 Vitamin C (mg) 70 80 Vitamin D (SI) 2,2 2,5 Riboflavin 15 18 Asam Nikotin 600

Kenaikan berat badan selama hamil adalah 10-20 kg atau 20% dari berat badan ideal \ sebelum hamil. Proporsi kenaikan berat badan selama hamil adalah sebagai berikut:

Usia Kehamilan Kenaikan Berat Badan Faktor Kenaikan Berat Badan

Trimester I ± 1 kg Hampir seluruhnya merupakan

kenaikan berat badan ibu. Trimester II ± 3 kg atau 0.3 kg/

minggu

60% dikarenaka pertumbuhan jaringan pada ibu.

Trimester III ± 6 kg atau 0,3-0,5 kg/ minggu

60% dikarenakan pertumbuhan jaringan janin. Timbunan lemak pada ibu ± 3 kg.

Penilaian Status Gizi:

1) Berat badan dilihat dari Quetelet atau body mass index.

Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal sering dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat badan lahir rendah.Indikator untuk penilaian indexs masa tubuh adalah:

Nilai IMT Kategori

Kurang dari 20 Underweight/ dibawah normal

20-24,9 kg Desirable/ normal

25-29,9 Moderate obesity/ gemuk/ lebih dari normal

(7)

2) Ukuran lingkar lengan atas ( LILA)

Standar minimal untuk lengan atas pada wanita dewasa adalah atau usia reproduksi adalah 23,5 cm. Jika ukuran LILA kurang dari 23,5 maka interprestasinya adalah kurang energi kronis. 3) Kadar hemoglobin

Kurang gizi pada ibu hamil

Bila ibu mengetahui kurang gizi pada kehamilannya maka akan menimbulkan masalah baik pada ibu hamil atau pada janin:

1) Terhadap ibu

Kekuurangan gizi pada ibu hamil dapat menyebabkan resiko dan komplikasi antara lain: perdarahan, anemia dan lain-lain

2) Terhadap persalinan

Pengaruh kekurangan gizi terhadap proses persalinan dapat mengakibatkan persalinan sulit dan lama, persalinan sebelum waktunya ( premature), perdarahan setelah persalinan serta persalinan dengan operasi cenderung meningkat.

3) Tehadap janin

Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin dan dapt menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal.

1.3 Gaya Hidup

Saat kehamilan menuntut ibu untuk mengurangi semua kegiatan yang emlelahkan. Ibu hamil harus mempertimbangkan gaya hidup yang mempengaruhi kesehatannya sendiri maupun kesehatan bayinya, seperti kebiasaan tidur malam, kegiatan sosial yang menyibukan, kegiatan menghadiri pesta dalam ruangan yang penuh asap rokok, kebiasaan minum-minuman keras dan lain-lain.

Kebiasaan/gaya hidup yang harus dikurangi/dihilangkan, antara lain :  Obat-obatan dan medikasi

(8)

o Pemakaian sebelum kehamilan atas petunjuk dokter/bidan dapat diteruskan

apabila dokter/bidan mengetahui jenis obat yang diminum

o Kepada ibu hamil harus memakai obat atas resep atau petunjuk dokter

o Sebagian besar obat akan melintasi sawar plasenta yang dapat membahayakan

janin (stadium perkembangan dini)

o Perokok

Ibu hamil yang merokok lebih dari 10 batang/hari memiliki insidensi abortus, kematian perinatal dan retardasi pertumbuhan intra uterine yang lebih tinggi. Dimana nikotin yang terkandung dalam rokok dapat mengakibatkan efek vasokontriksi kuat dan meningkatkan tekanan darah, frekuensi jantung, peningkatan epinefrin dan CO2 (meningkatkan resiko kasus terjadinya abortus spontan, plasenta abnormal, pre eklampsia, eklampsia, BBLR)

 Kafein

Menyebabkan peningkatan frekuensi dan ritme jantung, sulit tidur, iritabilitas, gugup dan ansietas (kecemasan). Pada janin dapat menyebabkan takikardi (denyut jantung janin melebihi batas normal/terlalu cepat)

 Minum alkohol : menekan sistem syaraf pusat, abortus spontan, kekurangan nutrisi dan terjadinya fetal alkohol syndrome

 Menggunakan obat bius hipotensi, efek hampir sama dengan alkohol  Pantangan makan sesuatu (adat kebiasaan)

 Pakaian : nyaman, menyerap keringat, longgar, sepatu berhak rendah dan nyaman  Hamil diluar nikah

Kehamilan diluar nikah dapat menyebabkan terjadinya perubahan prilaku (tindakan aborsi) sehingga harus segera dinikahkan

(9)

o Remaja wanita merupakan populasi resiko tinggi terhadap komplikasi dalam

kehamilan

o Penyulit terjadi karena inadekuatnya nutrisi, perawatan antenatal yang minimal,

terlambatnya penanganan oleh tenaga medis

o Meningkatnya mortalitas perinatal dan morbiditas maternal pada kehamilan

remaja

o Remaja telah matang seksual tetapi tidak matang secara emoisional dan sosial o Perawatan bayi diserahkan kepada orang lain

1.4 Stressor internal dan eksternal Stressor internal

 Penerimaan terhadap kehamilannya  Kesiapan menghadapi kehamilan  Body image

Stressor eksternal  Dukungan suami  Dukungan keluarga

 Dukungan tenaga kesehatan 1.5 Kebiasaan adat istiadat

Persepsi tentang kehamilan berbeda-beda menurut adat-istiadat daerah masing-masing. Kebiasaan/mitos tersebut dapat mempengaruhi psikologi ibu (cemas dan khawatir), misalnya bumil dilarang makan strawberry karena tubuh bayi akan berbintik, menggeliat karena bayi akan terlilit tali pusat dan lain-lain.

(10)

Fasilitas kesehatan berkaitan dengan sistem penggunaan pelayanan kesehatan. Tipe-tipe penggunaan pelayanan kesehatan dibawah ini terdiri dari :

 Model demografi (kependudukan)

Indikator psikologis yang berbeda umur, seks, status perkawinan dan besar keluarga  Model struktur sosial

Adalah pendidikan, pekerjaan dan suku bangsa. Suku bangsa, pekerjaan, pendidikan, yang berbeda-beda mempunyai kecenderungan yang tidak sama terhadap kesehatan mereka

 Model sosio psikologis

Yang dipakai sebagai ukuran adalah sikap dan keyakinan individu, misalnya : ditandai kegagalan seseorang atau masyarakat untuk menerima usaha-usaha pencegahan dan penyembuhan penyakit yang dilakukan oleh provider

 Model sumber keluarga

Ukuran yang dipakai adalah pendapatan keluarga, cakupan asuransi keluarga sebagai anggota kesehatan dan pihak yang membiayai pelayanan kesehatan keluarga

 Model sumber daya masyarakat

Ukuran yang digunakan adalah penyediaan pelayanan kesehatan dan sumber-sumber didalam masyarakat, dan keterapaian dari pelayanan kesehatan yang tersedia dan sumber-sumber didalam masyarakat

 Model-model organisme

(11)

 Gaya (style) praktek pengobatan (sendiri atau kelompok)  Sifat dari pelayanan tersebut (membayar langsung atau tidak)  Letak dari pelayanan kesehatan (tempat pribadi, RS, klinik)

 Petugas kesehatan yang pertama kali kontak dengan pasien (dokter, perawat, bidan dan lain-lain.

2. Faktor psikologis

2.1 Stresor internal dan stersor eksternal

Stressor adalah stress yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stress pada ibu tidak tertangani dengan baik.

Stresor internal

Meliputi faktor – faktor pemicu stres ibu hamil yang berasal dari diri ibu sendiri. Adanya beban psikologis yang ditanggung oleh ibu dapat menyebabkan gangguan perkembangan bayi yang nantinya akan terlihat ketika bayi lahir. Anak akan tumbuh menjadi seseorang dengan kepribadian tidak baik, bergantung pada kondisi stres yang dialami oleh ibunya, seperti anak yang menjadi seorang dengan kepribadian temperamental, autis, orang yang terlalu rendah diri ( minder ). Ini tentu saja tidak kita harapkan. Oleh karena, itu pemantauan kesehatan psikologis pasien sangat perlu dilakukan.

Penerimaan terhadap kehamilannya Kesiapan menghadapi kehamilan Body image

Stresor eksternal

Pemicu stress yang bersala dari luar, bentuknya sangat bervariasi. Misalnya masalah ekonomi, konflik keluarga, pertengkaran dengan suami, tekanan dari lingkungan ( respon negative dari lingkungan pada kehamilan lebih dari 5 kali ), dan masih banyak kasus lainnya. 1. Dukungan suami

(12)

2. Dukungan keluarga

3. Dukungan tenaga kesehatan 2.2 Suport keluarga

Setiap tahap usia kehamilan, ibu akan mengalami perubahan baik yang bersifat fisikmaupun psikologis. Ibu harus melakukan adaptasi pada setiap perubahan yang terjadi, dimana sumber stress terbesar terjadi karena dalam rangka melakukan adaptasi terhadap kondisi tertentu.

Peran keluarga bagi ibu hamil sangatlah penting, psikologis ibu hamil yang cenderung lebih labil dari pada wanita yang tidak hamil memerlukan banyak dukungan dari keluarga terutama suami. Misalnya pada kasus penentuan jenis kelamin dimana keluarga menginginkan jenis kelamin tertentu ibu hamil tersebut akan merasa cemas jika nantinya anaknya lahir dengan jenis kelamin yang tidak sesuai dengan harapan atau mengalami kecacatan fisik dan mental. Keluarga juga harus membantu dan mendampingi ibu dalam mengahdapi keluhan yang muncuk selama kehamilan agar ibu tidak merasa sendirian. Kecemasan ibu yang berlanjut akan mempengaruhi ibu dalam hal nafsu makan yang menurun, kelemahan fisik, mual muntah yang berlebihan.

Dalam menjalani proses itu, ibu hamil sangat membutuhkan dukungan yang intensif dari keluarga dengan cara menunjukan perhatian dan kasih sayang.

2.3 Subtance abuse

Kekerasan yang dialami oleh ibu hamil di masa kecil akan sangat membekas dan mempengaruhi kepribadian. Ini perlu kita berikan perhatian karena pada pasien yang mengalami riwayat ini, tenaga kesehatan harus lebih maksimal dalam menempatkan dirinya sebagai teman atau pendamping yang dapat yang dijadikan tempat bersandar bagi pasien dalam masalah kesehatan. Pasien dengan riwayat ini biasanya tumbuh dengan kepribadian yang tertutup.

Wanita yang memakai obat – obatan tetap memprioritaskan lagar dunia mereka tetap aman. Mereka merahasiakannya, mengurangi jumlah pemakaiannya, dan mengambil sikap agresif terutama bila mereka memandang tenaga kesehatan sebagai penghambat. Jika ibu tetap menggunakan obat – obatan setelah bayi lahir, resiko pada bayi akan berlanjut. Bukan saja bayi lahir rentan secara biologis, tetapi mereka juga harus menghadapi ibu yang memeiliki masalah kesehatan dan emosional. Wanita ini dicurigai tidak mampu memelihara hubungan dan mungkin

(13)

tidak mampu merespons terhadap kebutuhan bayi, terutama jika mereka menerima bayi yang secara medis rapuh setelah dirawat dirumah sakit dalam jangka waktu lama.

Banyak wanita, yang secara kimiawi kecanduan merasa bersalah karena menggunakan obat-obatan dan takut kalau bayi mereka akan diambil. Dengan persepsi yang mereka miliki bahwa dengan pemakaian obat dan alkohol pada wanita hamil dapat mengubah kehidupan mereka. Hal ini berarti memberi suatu kehidupan yang utuh kepada ibu dan bayinya dan mencegah bayi mengalami keterlambatan perkembangan, retardasi, atau bahkan kematian.

2.4 Partner abuse

Hasil penelitian menunjukan bahawa korban kekerasan terhadap perempuan adalah wanita yang telah bersuami. Setiap bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan harus selalu diwaspadai oleh tenaga kesehatan jangan sampai kekerasan yang terjadi akan membahayakan ibu dan bayinya. Efek psikologis yang muncul adalah gangguan rasa aman dan nyaman pada pasien. Sewaktu – waktu pasien akan mengalami perasaan terancam yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan janinnya.

Kekerasan dapat terjadi baik secara fisik, psikis, ataupun sexual sehingga dapat terjadi rasa nyeri dan trauma. Di USG kekerasan yang terjadi sekitar 7 – 11 % dari wanita yang hamil. Efek kekerasan pada ibu hamil bisa dalam bentuk langsung maupun tidak langsung, yang langsung antara lain: trauma dan kerusakan fisik pada ibu dan bayinya misalnya solutio plasenta, fraktur tulang, ruptur uteri dan perdarahan. Sedangkan efek yang tidak langsung adalah reaksi emosional, peningkatan kecemasan, depresi, rentan terhadap penyakit. Trauma pada kehamilan juga dapat menyebabkan nafsu makan yang menurun dan peningkatan frekuensi merokok serta meminum alkohol.

Bullock & Mc. Failane (1989), menemukan privalensi yang meningkat bayi dengan BBLR pada ibu yang mengalami kekerasan selama hamil. Kebanyakan wanita hamil yang mengalami kekerasan adalah karena pendidikan yang rendah, umur yang terhitung masih muda dan hamil diluar nikah.

3 Faktor lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi 3.1 Kebiasaan adat istiadat

(14)

Ada beberapa kebiasaan adat istiadat yang merugikan kesehatan ibu hamil. Tenaga kesehatan harus dapat menyikapi hal ini dengan bijaksana, jangan sampai menyinggung “kearifan lokal” yang sudah berlaku di daerah tersebut.

Persepsi tentang kehamilan berbeda-beda menurut adat-istiadat daerah masing-masing. Kebiasaan/mitos tersebut dapat mempengaruhi psikologi ibu (cemas dan khawatir), misalnya bumil dilarang makan strawberry karena tubuh bayi akan berbintik, menggeliat karena bayi akan terlilit tali pusat dan lain-lain.

Terbentuknya janin dan kelahiran bayi merupakan suatu fenomena yang wajar dalam kelangsungan kehidupan manusia, namun berbagai kelompok masyarakat dengan kebudayaannya diseluruh dunia memiliki aneka persepsi, interpretasi, dan respon dalam mengahadapinya. Proses pembentukan janin hingga kelahiran bayi serta pengaruhnya terhadap kondisi kesehatan ibunya perlu dilihat dalam aspek biopsikokulturalnya sebagai suatu kesatuan bukan hanya dilihat semata dari aspek biologis dan fisiologisnya.

Tiap perpindahan dari satu tahapan kehidupan kepada tahapan kehidupan yang lainnya merupakan suatu masa krisis yang gawat atau membahayakan baik bersifat nyata ataupun tidak nyata sehingga diadakan serangkaian upacara bagi wanita hamil untuk mencari keselamatan bagi diri wanita serta bayinya. Contoh di Jawa : ada mitoni, procotan dan brokohan, sepasaran, selapanan.

Berbagai kebudayaan percaya akan hubungan asosiatif antara suatu bahan makanan menurut bentuk atas sifatnya dengan akibat buruk yang ditimbulkannya sehingga menimbulkan kepercayaan untuk memantang jenis makanan yang dianggap dapat membahayakan kondisi ibu atau janin yang dikandungnya.

Penyampaian mengenai pengaruh adat daapat melalui berbagai teknik, misalnya melalui media massa, pendekatan tokoh masyarakat, dan penyuluhan yang menggunakan media efektif. Namun, tenga kesehatan juga tidak boleh mengesampingkan adanya kebiasaan yang sebenarnya menguntungkan bagi kesehatan. Jika kita menemukan adanya adat yang sama sekali tidak berpengaruh buruk terhadap kesehatan, tidak ada salahnya jika memberikan respons yang positif dalam rangka menjalin hubungan yang sinergis dengan masyarakat.

(15)

Adanya falitas kesehatan yang memadai akan sangat menentukan kualitas pelayanan kepada ibu hamil. Deteksi dini terhadap kemungkinan adanya penyulit akan lebih tepat, sehingga langkah antisipatif akan lebih cepat diambil. Fasilias kesehatan ini sangat menentukan atau berpengaruh terhadap upaya penurunan angka kematian ibu ( AKI ).

Untuk mencapai suatu kondisi yang sehat diperlukan adanya sarana dan prasarana (fasilitas kesehatan) yang memadai. Masalah yang timbul karena faktor 3 keterlambatan, yaitu:

1. Keterlambatan dalam pengambilan keputusan dalam mencari pelayanan kesehatan. Hal ini dipengaruhi oleh status ekonomi, status pendidikan, status wanita, karakteristik penyakit.

2. Keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatn itu sendiri. Hal ini disebabkan

oleh jarak, transportasi, jalan dan biaya.

3. Keterlambatan dalam menerina penanganan yang tepat dipengaruhi oleh kualitas

tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan yang tersedia. 3.3 Ekonomi

Aspek finansial ini dapat menjadi masalah jika misalnya ibu hamil yang suaminya belum bekerja, berhenti bekerja atau dengan penghasilan kurang mungkin juga ibu harus tinggal dirumah kontrakan yang murah dan kumuh sehingga membuat ibu rentan terhadap penyakit.

Untuk menghemat pengeluaran terkadang wanita tersebut tidak dapat mengkonsumsi makanan yang lebih bergizi yaitu kaya akan protein, kalsium atau mineral yang lain yang dibutuhkannya dan ibu juga harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sehingga menyebabkan waktu istirahatnya berkurang, tidak ada waktu dan biaya untuk memeriksakan kehamilannya

Tingkat sosial ekonomi terbukti sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikologis ibu hamil. Pada ibu hamil dengan tingkat social ekonomi yang baik, otomatis akan mendapatkan kesejahteraan fisik dan psikologis yang baik pula. Status gizipun akan meningkat karena nutisi yang didapatkan berkualitas, selain itu ibu tidak akan terbebani secra psikologis mengenai biaya persalinan dan pemenuhan kebutuhan sehari – hari setelah bayinya lahir.

Ibu akan lebih fokus untuk mempersiapkan fisik dan mentalnya sebagai seorang ibu. Sementara pada ibu hamil dengan kondisi ekonomi yang lemah maka ia akan mendapatkan banyak kesulitan terutama masalah peneuhan kebutuhan primer.

(16)

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN

Dalam kehamilan ada beberapa faktor yang memengaruhi kehamilan yaitu faktor fisik, psikologis dan faktor lingkungan, sosial, budaya serta ekonomi

(17)

Wanita hamil mengalami beberapa perubahan fisik selama kehamilan pada sistem tubuhnya. Perubahan ini terjadi karena adanya adaptasi terhadap pertumbuhan janin dan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang berhubungan dengan fisik pada ibu hamil, diantaranya:

· Status kesehatan · Status gizi · Gaya hidup

b. Faktor Psikologi

Perubahan- perubahan psikis pada wanita selama kehamilan, diantaranya : · Stressor

· Support keluarga · Substance abuse · Partner abuse

c. Faktor Lingkungan

Faktor ini memengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup, adat istiadat, fasilitas kesehatan dan tentu saja ekonomi yang akan memengaruhi keadaan wanita hamil.

SARAN

Dalam memenuhi kebutuhan masa kehamilan seorang ibu harus memiliki kesiapan pemenuhan kandungan secara cukup, baik pemenuhan fisik ibu, pemenuhan psikolog ibu, maupun faktor social budaya dan ekonomi ibu. Dengan pemenuhan ketiga faktor tersebut ibu dapat dengan seimbang pula mengatur kesehatan bayi serta persiapan persalinan dengan kesiapan penuh. DAFTAR PUSTAKA http://fielutfihandayani.blogspot.com http://lenteraimpian.wordpress.com http://midcare.blogspot.com http://acehmidwife.blogspot.com

Figur

Memperbarui...

Referensi

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di