BAB I BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang
Fenomena penduduk dewasa ini memang sangat mengkhawatirkan. Terjadinya ledakan Fenomena penduduk dewasa ini memang sangat mengkhawatirkan. Terjadinya ledakan penduduk mengakibatkan jumlah populasi semakin bertambah namun tidak diimbangi penduduk mengakibatkan jumlah populasi semakin bertambah namun tidak diimbangi
dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kondisi perekonomian Indonesia dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kondisi perekonomian Indonesia yang semakin tidak menentu menyebabkan banyak permasalahan yang timbul dalam yang semakin tidak menentu menyebabkan banyak permasalahan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satunya adalah semakin tingginya tingkat kemiskinan kehidupan bermasyarakat. Salah satunya adalah semakin tingginya tingkat kemiskinan penduduk baik di pedesaan maupun di perkotaan,yang mengakibatkan semakin
penduduk baik di pedesaan maupun di perkotaan,yang mengakibatkan semakin
berkurangnya kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan berkurangnya kemampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhannya yaitu kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Maka dari itu jelas,Indonesia tidak mungkin dapat primer, sekunder, maupun tersier. Maka dari itu jelas,Indonesia tidak mungkin dapat
memenuhi kebutuhannya sendiri untuk kesejahteraan rakyat. Dengan begitu sebagai suatu memenuhi kebutuhannya sendiri untuk kesejahteraan rakyat. Dengan begitu sebagai suatu Negara, Indonesia perlu melakukan perdangan internasional.
Negara, Indonesia perlu melakukan perdangan internasional.
Sebagai negara yang secara geografis terletak di Asia Tenggara bersama dengan sembilan Sebagai negara yang secara geografis terletak di Asia Tenggara bersama dengan sembilan negara lainnya dan atas dasar kesamaan letak geografis itu maka dibentuklah suatu
negara lainnya dan atas dasar kesamaan letak geografis itu maka dibentuklah suatu organisasi bernama ASEAN (Asosiation South East Asia Nation). Pembentukan organisasi bernama ASEAN (Asosiation South East Asia Nation). Pembentukan organisasi tersebut tidaklah semata – mata karena
organisasi tersebut tidaklah semata – mata karena kesamaan letak geografis saja, namunkesamaan letak geografis saja, namun secara ranah sejarahnya seluruh anggotaASEAN adalah bekas jajahan negara kolonial. secara ranah sejarahnya seluruh anggotaASEAN adalah bekas jajahan negara kolonial. Dalam organisasi tersebut terjalinlah suatu kerjasama dagang dalam
Dalam organisasi tersebut terjalinlah suatu kerjasama dagang dalam wadah AFTA.wadah AFTA.
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka
ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka
meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan
ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500pasar regional bagi 500 juta penduduknya.
juta penduduknya.
AFTA dibentuk pada waktu Ko
AFTA dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV dinferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya
Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan ASEAN FreeTrade Area (AFTA)AFTA ditargetkan ASEAN FreeTrade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan
dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002.
terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002.
Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area ( CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk 1
AFTA) merupakan suatu skema untuk 1 mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kwantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya.
tarif lainnya.
Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.
Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.
Maka dalam AFTA menimbulkan perdaganagn luar negeri (freign trade) akan Maka dalam AFTA menimbulkan perdaganagn luar negeri (freign trade) akan mengembangkan kemungkinan konsumsi suatu bangsa. Perdagangan luar negeri mengembangkan kemungkinan konsumsi suatu bangsa. Perdagangan luar negeri memungkinkan suatu negara mengkonsumsi lebih banyak barang disbandingyang memungkinkan suatu negara mengkonsumsi lebih banyak barang disbandingyang tersedia menurut garis perbatasan kemungkinan produksi pada keadaan swasembada tersedia menurut garis perbatasan kemungkinan produksi pada keadaan swasembada tanpa perdagangan luar negeri.
tanpa perdagangan luar negeri.
Selanjutnya, bagaimana penerapan perdagangan bebas (Free Trade) dalam perspektif Selanjutnya, bagaimana penerapan perdagangan bebas (Free Trade) dalam perspektif
AFTA? Jawabannya tidak lain adalah terwujudnya teori keuntungan komparatif. Serta AFTA? Jawabannya tidak lain adalah terwujudnya teori keuntungan komparatif. Serta mengutip dari John Suart Mill “Keuntungan dari perdagangan luar negeri adalah mengutip dari John Suart Mill “Keuntungan dari perdagangan luar negeri adalah pemanfaatan kekuatan – kekutan produktif dunia secara lebih efisien. Oleh karena itu, pemanfaatan kekuatan – kekutan produktif dunia secara lebih efisien. Oleh karena itu, dengan argumentasi latar belakang inilah kami mengambil judul “PERDAGANGAN dengan argumentasi latar belakang inilah kami mengambil judul “PERDAGANGAN BEBAS DALAM PERSPEKTIFAFTA SERTA IMPLEMENTASINYA”
BEBAS DALAM PERSPEKTIFAFTA SERTA IMPLEMENTASINYA” 1.2 Permasalahan
1.2 Permasalahan
Dalam penulisan ini yang menjadi permasalahan adalah: Dalam penulisan ini yang menjadi permasalahan adalah: a. Apa yang dimaksud dengan AFTA.
a. Apa yang dimaksud dengan AFTA. b. Apa tujuan pembentukan AFTA. b. Apa tujuan pembentukan AFTA.
c. Kapan AFTA diberlakukan secara penuh. c. Kapan AFTA diberlakukan secara penuh. 1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
a. Mengetahui apa yng dimaksud dengan AFTA. a. Mengetahui apa yng dimaksud dengan AFTA. b. Mengetahui tujuan pembentukan AFTA. b. Mengetahui tujuan pembentukan AFTA.
c. Mengetahui kapan AFTA diberlakukan secara penuh. c. Mengetahui kapan AFTA diberlakukan secara penuh. tBAB II
tBAB II
PENGERTIAN AFTA PENGERTIAN AFTA 2.1 Asean Free Trade Areas 2.1 Asean Free Trade Areas
Istilah perdagangan bebas identik dengan adanya hubungan dagang antar negara anggota Istilah perdagangan bebas identik dengan adanya hubungan dagang antar negara anggota maupun negara non-anggota. Dalam implementasinya perdagangan bebas harus
maupun negara non-anggota. Dalam implementasinya perdagangan bebas harus memperhatikan beberapa aspekyang mempengaruhi yaitu mulai dengan meneliti memperhatikan beberapa aspekyang mempengaruhi yaitu mulai dengan meneliti mekanisme perdagangan, prinsip sentral dari keuntungan komparatif (comparative mekanisme perdagangan, prinsip sentral dari keuntungan komparatif (comparative advantage),serta pro dan kontra di bidang tarif dan kuota, serta melihat bagaimana advantage),serta pro dan kontra di bidang tarif dan kuota, serta melihat bagaimana berbagai jenis mata uang (atau valuta asing) diperdagangkan berdasarkan kurs tukar berbagai jenis mata uang (atau valuta asing) diperdagangkan berdasarkan kurs tukar valuta asing. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah kawasan perdagangan bebas valuta asing. ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah kawasan perdagangan bebas ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non tarif ASEAN dimana tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non tarif bagi negara-negara anggota ASEAN, melalui skema CEPT-AFTA.
bagi negara-negara anggota ASEAN, melalui skema CEPT-AFTA.
Sebagai contoh dari keanggotaan AFTA adalah sebagai berikut, Vietnam menjual sepatu Sebagai contoh dari keanggotaan AFTA adalah sebagai berikut, Vietnam menjual sepatu ke Thailand, Thailand menjual radio ke Indonesia, dan Indonesia melengkapi lingkaran ke Thailand, Thailand menjual radio ke Indonesia, dan Indonesia melengkapi lingkaran tersebut dengan menjual kulit ke
tersebut dengan menjual kulit ke Vietnam. Melalui spesialisasi bidang usaha, tiap bangsaVietnam. Melalui spesialisasi bidang usaha, tiap bangsa akan mengkonsumsi lebih banyak dibandingyang dapat diproduksinya sendiri. Namun akan mengkonsumsi lebih banyak dibandingyang dapat diproduksinya sendiri. Namun dalam konsep perdagang tersebut tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun dalam konsep perdagang tersebut tidak ada hambatan tarif (bea masuk 0-5%) maupun hambatan non-tarif bagi negara – negaraASEAN melalui skema CEPT-AFTA.
hambatan non-tarif bagi negara – negaraASEAN melalui skema CEPT-AFTA.
Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara tarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN. Maka dalam melakukan pedagangan sesama anggota biaya operasional mampu ASEAN. Maka dalam melakukan pedagangan sesama anggota biaya operasional mampu ditekan sehingga akan menguntungkan.
ditekan sehingga akan menguntungkan. 2.2 Skema CEPT-AFTA
2.2 Skema CEPT-AFTA
Pada pelaksanaan perdagangan bebas khususnya di Asia Tenggara yang tergabung dalam Pada pelaksanaan perdagangan bebas khususnya di Asia Tenggara yang tergabung dalam AFTA proses perdagangan tersebut tersistem pada skema CEPT-AFTA. Common
AFTA proses perdagangan tersebut tersistem pada skema CEPT-AFTA. Common Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan
Effective Preferential Tarif Scheme (CEPT) adalah program tahapan penurunan tarif dantarif dan penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN. penghapusan hambatan non-tarif yang disepakati bersama oleh negara-negara ASEAN.
Dalam skema CEPT-AFTA barang – barang
semua produk manufaktur, termasuk barang modal dan produk pertanian olahan, serta semua produk manufaktur, termasuk barang modal dan produk pertanian olahan, serta produk-produk yang tidak termasuk dalam definisi produk pertanian. (Produk-produk produk-produk yang tidak termasuk dalam definisi produk pertanian. (Produk-produk pertanian sensitive dan highly sensitive dikecualikan dari
pertanian sensitive dan highly sensitive dikecualikan dari skema CEPT).skema CEPT). Dalam skema CEPT, pembatasan kwantitatif dihapuskan
Dalam skema CEPT, pembatasan kwantitatif dihapuskan segera setelah suatu produk segera setelah suatu produk menikmati konsesi CEPT, sedangkan hambatan non-tarif dihapuskan dalam jangka waktu menikmati konsesi CEPT, sedangkan hambatan non-tarif dihapuskan dalam jangka waktu 5 tahun setelah suatu produk
5 tahun setelah suatu produk menikmati konsensi CEPT.menikmati konsensi CEPT. 2.3 Klasifikasi Produk dalam Skema CEPT
2.3 Klasifikasi Produk dalam Skema CEPT
ADA.Produk CEPT diklasifikasikan kedalam 4 daftar, yaitu : ADA.Produk CEPT diklasifikasikan kedalam 4 daftar, yaitu :
Inclusion List (IL), yaitu daftar yang berisi produk-produk yang memenuhi kriteria sbb : Inclusion List (IL), yaitu daftar yang berisi produk-produk yang memenuhi kriteria sbb : 1) jadwal penurunan tarif
1) jadwal penurunan tarif
2) Tidak ada pembatasan kwantitatif 2) Tidak ada pembatasan kwantitatif
3) Hambatan non-tarifnya harus dihapuskan dalam waktu 5 tahun. 3) Hambatan non-tarifnya harus dihapuskan dalam waktu 5 tahun. General Exception List (GEL), yaitu daftar produk yang
General Exception List (GEL), yaitu daftar produk yang dikecualikan dari skema CEPTdikecualikan dari skema CEPT oleh suatu negara karena dianggap penting untuk alasan perlindungan keamanan
oleh suatu negara karena dianggap penting untuk alasan perlindungan keamanan nasional, moral masyarakat, kehidupandan kesehatan dari manusia, binatang atau nasional, moral masyarakat, kehidupandan kesehatan dari manusia, binatang atau tumbuhan, nilai barang-barang seni, bersejarah atau arkeologis. Ketentuan mengenai tumbuhan, nilai barang-barang seni, bersejarah atau arkeologis. Ketentuan mengenai General Exceptions dalam perjanjian CEPT ko
General Exceptions dalam perjanjian CEPT konsisten dengan Artikel X dari Generalnsisten dengan Artikel X dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Contoh
Agreement on Tariffs and Trade (GATT). Contoh : senjatadan amunisi, narkotik, dsb.: senjatadan amunisi, narkotik, dsb. Temporary Exclusions List (TEL). Yaitu dartar yang berisi produk-produk yang
Temporary Exclusions List (TEL). Yaitu dartar yang berisi produk-produk yang
dikecucalikan sementara untuk dimasukkan dalam skema CEPT. Produk-produk TEL dikecucalikan sementara untuk dimasukkan dalam skema CEPT. Produk-produk TEL barang manufaktur harus dimasukkan kedalam IL paling lambat 1 Januari 2002. barang manufaktur harus dimasukkan kedalam IL paling lambat 1 Januari 2002. Produk- produk dalam TEL tidak dapat menikmati konsensi tarif CEPT dari negara
produk dalam TEL tidak dapat menikmati konsensi tarif CEPT dari negara
anggaotaASEAN lainnya. Produk dalam TEL tidak ada hubungannya sama sekali dengan anggaotaASEAN lainnya. Produk dalam TEL tidak ada hubungannya sama sekali dengan produk-prodiuk yang tercakup dalam ketentuan General Exceptions.
produk-prodiuk yang tercakup dalam ketentuan General Exceptions. Sensitive List, yaitu daftar yang berisi produk-produk pertanian bukan
Sensitive List, yaitu daftar yang berisi produk-produk pertanian bukan olahanolahan (Unprocessed Agricultural Products = UAP ).
(Unprocessed Agricultural Products = UAP ).
1) Produk-produk pertanian bukan olahan adalah bahan baku pertanian dan 1) Produk-produk pertanian bukan olahan adalah bahan baku pertanian dan produk- produk bukan olahan yang tercakup dalam pos tarif 1-24 dari Harmonized System Code produk bukan olahan yang tercakup dalam pos tarif 1-24 dari Harmonized System Code
(HS), dan bahan baku pertanian yang sejenis serta produk-produk bukan olahan yang (HS), dan bahan baku pertanian yang sejenis serta produk-produk bukan olahan yang tercakup dalam pos-pos tarif HS;
tercakup dalam pos-pos tarif HS;
2) Produk-produk yang telah mengalami perubahan bentuk sedikit dibanding bentuk 2) Produk-produk yang telah mengalami perubahan bentuk sedikit dibanding bentuk asalnya.
asalnya.
Produk dalam SL harus dimasukkan kedalam CEPT dengan jangka waktu untuk Produk dalam SL harus dimasukkan kedalam CEPT dengan jangka waktu untuk masing-masing negara sbb: Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand tahun masing negara sbb: Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand tahun 2003; Vietnam tahun 2013; Laos dan Myanmar tahun 2015; Camodia tahun 2017.
2003; Vietnam tahun 2013; Laos dan Myanmar tahun 2015; Camodia tahun 2017. Contoh : beras, gula, produk daging, gandum, bawang putih, cengkeh
Contoh : beras, gula, produk daging, gandum, bawang putih, cengkeh
Dalam CEPT dimungkinkan suatu negara menunda pemasukan produk Temporary Dalam CEPT dimungkinkan suatu negara menunda pemasukan produk Temporary Exclusion List (TEL) kedalam Inclusion List (IL). Hal ini apabila suatu negara belum Exclusion List (TEL) kedalam Inclusion List (IL). Hal ini apabila suatu negara belum siap untuk menurunkan tarif produk manufaktur, namun penundaan tersebut bersifat siap untuk menurunkan tarif produk manufaktur, namun penundaan tersebut bersifat sementara. Keterangan mengenai hal ini diatur dengan Protocol Regarding The sementara. Keterangan mengenai hal ini diatur dengan Protocol Regarding The Implementation Of CEPT Scheme Temporary Exclusion List. Suatu produk didalam Implementation Of CEPT Scheme Temporary Exclusion List. Suatu produk didalam Inclusion List tidak dapat dipindahkan ke Temporary Exclusion List atau Sensitive List , Inclusion List tidak dapat dipindahkan ke Temporary Exclusion List atau Sensitive List , namun demikian, pasal 6
namun demikian, pasal 6 mengenai “Emergency Measures” dari perjanjian CEPT,mengenai “Emergency Measures” dari perjanjian CEPT, mengatur bahwa negara-negara anggota dapat menunda sementara preferensi yang mengatur bahwa negara-negara anggota dapat menunda sementara preferensi yang
diberikan tanpa diskriminasi, apabila suatu sektor menderita kerugian atau menghadapi diberikan tanpa diskriminasi, apabila suatu sektor menderita kerugian atau menghadapi ancaman kerugian. ancaman kerugian. BAB III BAB III IMPLEMENTASI AFTA IMPLEMENTASI AFTA
3.1 Tujuan Pembentukan AFTA 3.1 Tujuan Pembentukan AFTA
Tujuan AFTA adalah meningkatkan daya saing ekonomi negara-negara ASEAN dengan Tujuan AFTA adalah meningkatkan daya saing ekonomi negara-negara ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi pasar dun
menjadikan ASEAN sebagai basis produksi pasar dun ia, untuk menarik investasi dania, untuk menarik investasi dan meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN. Ole karena itu, penerapan AFTA meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN. Ole karena itu, penerapan AFTA guna meningkatkan perdagangan antar anggota juga memiliki beberapa persyaratan guna meningkatkan perdagangan antar anggota juga memiliki beberapa persyaratan produk yang harus dipenuhi yaitu,
produk yang harus dipenuhi yaitu,
a) Produk yang bersangkutan harus suda
a) Produk yang bersangkutan harus sudah masuk dalam Inclusion List (IL) dari negarah masuk dalam Inclusion List (IL) dari negara eksportir maupun importir.
eksportir maupun importir.
b) Produk tersebut harus mempunyai program penurunan tarif yang disetujui oleh Dewan b) Produk tersebut harus mempunyai program penurunan tarif yang disetujui oleh Dewan
AFTA (AFTA Council); AFTA (AFTA Council);
c) Produk tersebut harus memenuhi persyaratan kandungan lokal 40%. c) Produk tersebut harus memenuhi persyaratan kandungan lokal 40%.
Suatu produk dianggap berasal dari negara anggota ASEAN apabila paling sedikit 40% Suatu produk dianggap berasal dari negara anggota ASEAN apabila paling sedikit 40% dari kandungan bahan didalamnya berasal dari negara anggota ASEAN. Berikut rumus dari kandungan bahan didalamnya berasal dari negara anggota ASEAN. Berikut rumus perhitungan kandungan lokal ASEAN 40%
perhitungan kandungan lokal ASEAN 40% Valune of Imported + Valune of
Valune of Imported + Valune of Parts or produce Produce
Parts or produce Produce
Non-ASEAN Materials Undetermined x100% is less Non-ASEAN Materials Undetermined x100% is less
FOB price or equal than 60% FOB price or equal than 60%
Yang dimaksud dengan ketentuan asal barang (Rules of Origin) adalah Rules of Origin Yang dimaksud dengan ketentuan asal barang (Rules of Origin) adalah Rules of Origin didefinisikan sebagai sejumlah kriteria yang digunakan untuk menentukan negara atau didefinisikan sebagai sejumlah kriteria yang digunakan untuk menentukan negara atau wilayah pabean asal dari suatu barang atau jasa dalam perdagangan internasional. wilayah pabean asal dari suatu barang atau jasa dalam perdagangan internasional. 3.2 Penerapan AFTA Secara Penuh
3.2 Penerapan AFTA Secara Penuh
AFTA diberlakukan secara penuh untuk negara ASEAN-6 sejak 1 Januari 2002 dengan AFTA diberlakukan secara penuh untuk negara ASEAN-6 sejak 1 Januari 2002 dengan fleksibilitas (terhadap produk-produk tertentu tarifnya masih diperkenankan lebih dari fleksibilitas (terhadap produk-produk tertentu tarifnya masih diperkenankan lebih dari 0-5%). Target tersebut diterapkan untuk negara ASEAN-6 sedangkan untuk negara baru 5%). Target tersebut diterapkan untuk negara ASEAN-6 sedangkan untuk negara baru sbb : Vietnam (2006); Laos dan Myanmar (2008); dan Cambodia (2010). AFTA 2002 sbb : Vietnam (2006); Laos dan Myanmar (2008); dan Cambodia (2010). AFTA 2002 tidak mencakup pula adanya kebebasan keluar masuk sektor jasa (misalnya arus
tidak mencakup pula adanya kebebasan keluar masuk sektor jasa (misalnya arus perpindahan tenaga) di negara-negara ASEAN. CEPT-AFTA hanya mencakup perpindahan tenaga) di negara-negara ASEAN. CEPT-AFTA hanya mencakup
pembebasan arus perdagangan barang. Sedangkan liberalisasi sektor jasa di atur sendiri pembebasan arus perdagangan barang. Sedangkan liberalisasi sektor jasa di atur sendiri
dengan kesepakatan yang
dengan kesepakatan yang di sebut ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS),di sebut ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS), dimana liberalisasinya ditargetkan tercapai pada tahun 2020. Perkembangan terakhir dimana liberalisasinya ditargetkan tercapai pada tahun 2020. Perkembangan terakhir AFTA Dalam KTT Informal ASEAN III para kepala negara menyetujui usulan dari AFTA Dalam KTT Informal ASEAN III para kepala negara menyetujui usulan dari Singapura untuk menghapuskan semua bea masuk pada tahun 2010 untuk negara-negara Singapura untuk menghapuskan semua bea masuk pada tahun 2010 untuk negara-negara ASEAN-6 dan tahun 2015 untuk negara-negara baru ASEAN. Selanjutnya dalam KTT ASEAN-6 dan tahun 2015 untuk negara-negara baru ASEAN. Selanjutnya dalam KTT ASEAN-Cina tahun 2001, telah di
ASEAN-Cina tahun 2001, telah di sepakati pembentukan ASEAN-Cina Free Trade Areasepakati pembentukan ASEAN-Cina Free Trade Area dalam waktu 10 tahun.
dalam waktu 10 tahun. BAB IV
BAB IV Kesimpulan Kesimpulan
I. AFTA dilakukan secara bertahap I. AFTA dilakukan secara bertahap
1. Perdagangan bebas ASEAN (AFTA =
1. Perdagangan bebas ASEAN (AFTA = ASEAN Free Trade Area) disetujui pada KTT-ASEAN Free Trade Area) disetujui pada KTT-ASEAN di Singapura tahun 1992, dengan tujuan untuk meningkatkan perdagangan ASEAN di Singapura tahun 1992, dengan tujuan untuk meningkatkan perdagangan intra-ASEAN dan pendayagunaan bersama semua sumber daya dari dan oleh negara-negara ASEAN dan pendayagunaan bersama semua sumber daya dari dan oleh negara-negara ASEAN. Pada waktu disetujuinya AFTA tersebut, target implementasi penuhnya adalah ASEAN. Pada waktu disetujuinya AFTA tersebut, target implementasi penuhnya adalah pada 1 Januari 2008, dengan cakupannya adalah produk industri.
pada 1 Januari 2008, dengan cakupannya adalah produk industri.
2. Sejak tahun 1993, dimulailah program penurunan tarif masing-masing negara 2. Sejak tahun 1993, dimulailah program penurunan tarif masing-masing negara ASEAN-6, melalui penyampaian Legal Enactment yang dikeluarkan setiap tanggal 1 Januari. Di 6, melalui penyampaian Legal Enactment yang dikeluarkan setiap tanggal 1 Januari. Di Indonesia Legal Enactment tersebut berbentuk SK Menteri Keuangan tentang Indonesia Legal Enactment tersebut berbentuk SK Menteri Keuangan tentang CEPT-AFTA (Common Effective Preferential Tariff for
AFTA (Common Effective Preferential Tariff for AFTA).AFTA).
3. Pada tahun 1994, sidang Menteri Ekonomi ASEAN memutuskan untuk mempercepat 3. Pada tahun 1994, sidang Menteri Ekonomi ASEAN memutuskan untuk mempercepat implementasi penuh AFTA menjadi 1 Januari 2003, dengan cakupannya termasuk produk implementasi penuh AFTA menjadi 1 Januari 2003, dengan cakupannya termasuk produk hasil pertanian.
hasil pertanian.
4. Pada tahun 1998, KTT-ASEAN di Hanoi mempercepat implementasi penuh AFTA 4. Pada tahun 1998, KTT-ASEAN di Hanoi mempercepat implementasi penuh AFTA menjadi 1 Januari 2002, dengan fleksibilitas. Fleksibilitas disini berarti bahwa beberapa menjadi 1 Januari 2002, dengan fleksibilitas. Fleksibilitas disini berarti bahwa beberapa produk yang dirasakan masih belum siap, dapat ditunda pelaksanaannya sampai 1 Januari produk yang dirasakan masih belum siap, dapat ditunda pelaksanaannya sampai 1 Januari
2003. 2003.
5. KTT-ASEAN tahun 1998 tersebut juga
5. KTT-ASEAN tahun 1998 tersebut juga menyepakati target-target penurunan tariff menyepakati target-target penurunan tariff sebagai berikut :
sebagai berikut :
a. Tahun 2000 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 85% dari seluruh a. Tahun 2000 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 85% dari seluruh jumlah pos tarif yang dimasukkan dalam Inclusion List (IL).
jumlah pos tarif yang dimasukkan dalam Inclusion List (IL).
b. Tahun 2001 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 90% dari seluruh b. Tahun 2001 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 90% dari seluruh pos tarif yang dimasukkan dalam IL.
pos tarif yang dimasukkan dalam IL.
c. Tahun 2002 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 100% dari seluruh c. Tahun 2002 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 100% dari seluruh pos tarif yang dimasukkan dalam IL, dengan fleksibilitas.
pos tarif yang dimasukkan dalam IL, dengan fleksibilitas.
d. Tahun 2003 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 100% dari seluruh d. Tahun 2003 : menurunkan tarif bea masuk menjadi 0-5% sebanyak 100% dari seluruh pos tarif yang dimasukkan dalam IL, tanpa fleksibilitas.
pos tarif yang dimasukkan dalam IL, tanpa fleksibilitas.
Negara-negara ASEAN telah memasukkan semua produknya kedalam Inclusion List, Negara-negara ASEAN telah memasukkan semua produknya kedalam Inclusion List,
kecuali produk-produk yang dikatagorikan sebagai General Exception (GE), Highly kecuali produk-produk yang dikatagorikan sebagai General Exception (GE), Highly Sensitive List (HSL) dan Sensitive List (SL).
Sensitive List (HSL) dan Sensitive List (SL).
Produk yang dikatagorikan dalam General Exception adalah produk-produk yang secara Produk yang dikatagorikan dalam General Exception adalah produk-produk yang secara permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPT-AFTA, karena alasan keamanan permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPT-AFTA, karena alasan keamanan
nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Indonesia mengkatagorikan melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Indonesia mengkatagorikan produk- produk dalam kelompok senjata dan amunisi, minuman beralkohol, dan sebagainya produk dalam kelompok senjata dan amunisi, minuman beralkohol, dan sebagainya
sebanyak 68 pos tarif sebagai General Exception. sebanyak 68 pos tarif sebagai General Exception.
Sedangkan produk-produk beras dan gula Indonesia yang dikatagorikan dalam Highly Sedangkan produk-produk beras dan gula Indonesia yang dikatagorikan dalam Highly Sensitive List, masih dapat menerapkan tarif MFN sampai tahun 2
Sensitive List, masih dapat menerapkan tarif MFN sampai tahun 2 010, kemudian mulai010, kemudian mulai dari tahun 2010 sampai waktu yang tidak terbatas dapat menerapkan tarif maksimum dari tahun 2010 sampai waktu yang tidak terbatas dapat menerapkan tarif maksimum 20%. Jumlah pos tarif masing-masing negara dalam
20%. Jumlah pos tarif masing-masing negara dalam paket CEPT-AFTA tercantum padapaket CEPT-AFTA tercantum pada lampiran 1 dan 2.
lampiran 1 dan 2.
II. Posisi Perdagangan Indonesia dengan ASEAN 1996-2001 II. Posisi Perdagangan Indonesia dengan ASEAN 1996-2001 1. Selama periode tahun 1
1. Selama periode tahun 1996-2001, rata-rata impor Indonesia dari Dunia sebesar USD996-2001, rata-rata impor Indonesia dari Dunia sebesar USD 34,0 milyar, dan impor dari ASEAN sebesar USD 5,3
34,0 milyar, dan impor dari ASEAN sebesar USD 5,3 milyar atau sebesar 15,8% darimilyar atau sebesar 15,8% dari total impor.
2. Selama periode tahun 1996-2001, rata-rata ekspor Indonesia ke Dunia sebesar USD 2. Selama periode tahun 1996-2001, rata-rata ekspor Indonesia ke Dunia sebesar USD 53,5 milyar, dan ekspor ke
53,5 milyar, dan ekspor ke ASEAN sebesar USD 9,2 milyar atau sebesar 17,2% dari totalASEAN sebesar USD 9,2 milyar atau sebesar 17,2% dari total ekspor.
ekspor.
3. Selama tahun 1996-2001, ekspor Indonesia ke ASEAN meningkat rata-rata 2,73% per 3. Selama tahun 1996-2001, ekspor Indonesia ke ASEAN meningkat rata-rata 2,73% per tahun, sedangkan impor Indonesia dari ASEAN menurun rata-rata -0,32% per tahun. tahun, sedangkan impor Indonesia dari ASEAN menurun rata-rata -0,32% per tahun. Secara umum data diatas menunjukkan bahwa posisi perdagangan Indonesia di ASEAN Secara umum data diatas menunjukkan bahwa posisi perdagangan Indonesia di ASEAN adalah mantap. Tabel perdagangan ekspor dan impor Indonesia ke/dari negara-negara adalah mantap. Tabel perdagangan ekspor dan impor Indonesia ke/dari negara-negara ASEAN dapat dilihat pada lampiran 3 dan 4.
ASEAN dapat dilihat pada lampiran 3 dan 4.
III. Kriteria produk untuk dapat menikmati konsesi CEPT-AFTA III. Kriteria produk untuk dapat menikmati konsesi CEPT-AFTA
Tidak semua produk yang beredar dalam pasar regional ASEAN dapat menikmati Tidak semua produk yang beredar dalam pasar regional ASEAN dapat menikmati konsesi CEPT-AFTA, yaitu tarif 0-5%.
konsesi CEPT-AFTA, yaitu tarif 0-5%.
Produk yang dapat menikmati konsesi CEPT-AFTA haruslah memenuhi persyaratan Produk yang dapat menikmati konsesi CEPT-AFTA haruslah memenuhi persyaratan berikut :
berikut :
a. Tercantum dalam Inclusion List (dalam bentuk Legal Enactment) di negara tujuan a. Tercantum dalam Inclusion List (dalam bentuk Legal Enactment) di negara tujuan maupun negara asal, sebagai
maupun negara asal, sebagai pelaksanaan prinsip Reciprocity (timbal-balik).pelaksanaan prinsip Reciprocity (timbal-balik). b. Memenuhi kandungan ASEAN content minimum 40%.
b. Memenuhi kandungan ASEAN content minimum 40%. c. Menggunakan Surat Keterangan Asal - Form D.
c. Menggunakan Surat Keterangan Asal - Form D.
Di Indonesia, penerbitan Form D bagi produk-produk ekspor ke ASEAN yang akan Di Indonesia, penerbitan Form D bagi produk-produk ekspor ke ASEAN yang akan memanfaatkan konsesi CEPT-AFTA dilaksanakan oleh instansi yang telah diberi memanfaatkan konsesi CEPT-AFTA dilaksanakan oleh instansi yang telah diberi
wewenang di daerah, yaitu Dinas Industri dan Perdagangan yang berada dibawah Pemda wewenang di daerah, yaitu Dinas Industri dan Perdagangan yang berada dibawah Pemda Propinsi, Kabupaten, maupun Kota, dengan tidak dikenakan biaya.
Propinsi, Kabupaten, maupun Kota, dengan tidak dikenakan biaya. IV. Opsi untuk mengamankan produk Indonesia dari lonjakan impor IV. Opsi untuk mengamankan produk Indonesia dari lonjakan impor
Persyaratan kandungan ASEAN 40% yang harus dipenuhi bagi produk-produk untuk Persyaratan kandungan ASEAN 40% yang harus dipenuhi bagi produk-produk untuk mendapatkan konsesi CEPT-AFTA, akan secara otomatis membatasi produk-produk dari mendapatkan konsesi CEPT-AFTA, akan secara otomatis membatasi produk-produk dari luar ASEAN untuk turut menikmati konsesi CEPT-AFTA ini.
luar ASEAN untuk turut menikmati konsesi CEPT-AFTA ini.
Selain itu, opsi-opsi berikut ini dapat dipakai bila produksi dalam negeri Indonesia Selain itu, opsi-opsi berikut ini dapat dipakai bila produksi dalam negeri Indonesia mengalami tekanan yang berat dari produk-produk impor ASEAN :
mengalami tekanan yang berat dari produk-produk impor ASEAN :
a. Protocol regarding the implementation of the CEPT Scheme Temporary Exclusion List a. Protocol regarding the implementation of the CEPT Scheme Temporary Exclusion List Protocol ini menjadi dasar bagi suatu negara untuk dapat menunda keikutsertaannya Protocol ini menjadi dasar bagi suatu negara untuk dapat menunda keikutsertaannya dalam AFTA bagi produk-produknya yang
dalam AFTA bagi produk-produknya yang termasuk dalam grup terakhir yangtermasuk dalam grup terakhir yang dimasukkan dalam IL di tahun 2000 (Last Tranche). Namun penundaan ini haruslah dimasukkan dalam IL di tahun 2000 (Last Tranche). Namun penundaan ini haruslah disertai dengan pemberian kompensasi kepada negara-negara ASEAN yang merasa disertai dengan pemberian kompensasi kepada negara-negara ASEAN yang merasa dirugikan.
dirugikan.
b. Article 6 dalam CEPT Agreement (Emergency
b. Article 6 dalam CEPT Agreement (Emergency Measures)Measures)
Article 6 ini dapat dipakai sebagai dasar untuk menerapkan emergency measures berupa Article 6 ini dapat dipakai sebagai dasar untuk menerapkan emergency measures berupa hambatan tarif atau non-tarif bagi produk-produk dalam negeri yang "menderita" (injury), hambatan tarif atau non-tarif bagi produk-produk dalam negeri yang "menderita" (injury), sebagai akibat melonjaknya laju impor produk-produk dari negara ASEAN.
sebagai akibat melonjaknya laju impor produk-produk dari negara ASEAN. V. Mekanisme Sengketa dalam AFTA
V. Mekanisme Sengketa dalam AFTA
Dalam perjanjian CEPT-AFTA, perselisihan atau sengketa dapat diproses Dalam perjanjian CEPT-AFTA, perselisihan atau sengketa dapat diproses
penyelesaiannya secara formal melalui Dispute Settlement Mechanism. Namun dalam penyelesaiannya secara formal melalui Dispute Settlement Mechanism. Namun dalam prakteknya tidak ada sengketa
prakteknya tidak ada sengketa yang diproses secara formal melalui mekanisme ini.yang diproses secara formal melalui mekanisme ini. Sengketa yang terjadi diselesaikan melalui semangat ASEAN dan
melalui pertemuan yang bertingkat-tingkat dalam Working Group,
melalui pertemuan yang bertingkat-tingkat dalam Working Group, Senior EconomicSenior Economic Official Meeting (SEOM), AFTA Council dan Menteri-menteri Ekonomi ASEAN Official Meeting (SEOM), AFTA Council dan Menteri-menteri Ekonomi ASEAN (AEM).