Badon Pembinaan Hukum Nasional 2009- him.
93PRINSIP HUKUM UMUM DALAM STATUTA ROMA 1998'
Oleh : Trihoni Nalesti DewP
Seperti kita ketahui bahwasanya Undang-Undang Pengadilan HAM dalam beberapa aturannya secara eksplisit mengadopsi ketentuan Statuta Roma 1998. Adopsi yang dilakukan bersifat parsial tennasuk dalam kaitannya dengan prinsip-prinsip hukum pidana umum yang diberlakukan. Tidak dimasukkannya seluruh ketentuan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip hukum pidana umum yang berlaku dalam hukum internasional ini dalam praktiknya dapat menimbulkan permasalahan dalam penerapan Undang-Undang Pengadilan HAM mengingat pentingnya fungsi prinsip-prinsip hukum umum tersebut dalam menuntun hakim mengambil keputusannya.
Prinsip hukum umum dalam hukum intemasional mempunyai tempat penting karena merupakan sumber hukum, yaitu tempat dapat ditemukannya ketentuan yang berlaku bagi suatu peristiwa yang tertentu. Dalam Pasal38 ayat (I) Statuta Mahkamah [nternasional, prinsip hukum umum menempati posisi sebagai sumber hukum yang utama, di samping peijanjian dan kebiasaan, dalam hukum intemasional. Ketiga sumber hukum utama tersebut akan saling melengkapi. Sementara dalam ketentuan Statuta Roma dinyatakan bahwa sumber hukum Mahkamah: (1) Statuta sendiri; (2) perjanjian-perjanjian yang berkaitan; (3) prinsjp-prinsip hukum umum yang diambil oleh Mahkamah sesuai dengan hukum intemasional serta nonna dan standaryang diakui secara intemasional; (4) prinsip dan aturan hukum sebagaimana ditafsirkan dalam keputusan-keputusannya terdahulu.3
Dalam kaitannya dengan hal tersebut maka tulisan ini
akan
membahas mengenai prinsip-prinsip hukum pi dana umum yang dianut oleh Statuta Rom a. Penelusuran prinsip-prinsip hukum umum ini perlu dilakukan terutama sebagai referensi bagi hukum nasional dalam hal ini Undang-Undang Pengadilan HAM dalam mengatur masalah yang berkaitan.1 Makalah disuslUI untuk dipresentasikan pada Lokakarya Tentang Pengadilan Hak Asasi Ma-nusia Dan Kaitannya Dengan Hukum Humaniter Internasional, diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional bekerja sama dengan Committee International of The Red Cross, Jakarta. 19 Desember 2008.
l Dosen Fakultas Hukum Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. 1 Pasal 21 Statuta Roma 1998
him. 94 -
Badan Pembinaan Hukum Nasiona/2009
I. Kewajiban Negara untuk Menghukum/Mengekstradisi
Prinsip utama yang dianut oleh Statuta Roma adalah kewajiban
semua negara untuk mengadili atau mengekstradisi pelaku kejahatan
yang ada dalam yurisdiksi Mahkamah. Kewajiban ini timbul berdasar
pada hukum kebiasaan sehingga menjadi kewajiban semua negara apakah
mereka sudah menjadi pihak dalam berbagai petianjian ataukah belum.
Dalam Mukadimah Statuta ditegaskan pula bahwa kejahatan paling serius
yang menjadi perhatian masyarakat intemasional secara keseluruhan tidak
boleh dibiarkan tak dihukum dan bahwa penuntutan mereka secara efektif
harus dijamin dengan mengambillangkah-langkah ditingkat nasional dan
dengan memajukan kerja sama intemasional. Usaha ini dilakukan dengan
tekad untuk memutuskan rantai kekebalan hukum
(impunity) bagi para
pelaku kejahatan sehingga akan memberi sumbangan kepada dicegahnya
kejahatan. Mengingat hal tersebut di atas maka merupakan kewajiban
setiap Negara untuk melaksanakan jurisdiksi pidananya terhadap
orang-orang yang bertanggungjawab atas kejahatan intemasional tersebut.
2.
Complementarity (Pelengkap)
Prinsip tersebut di atas terlihat akan berkaitan dengan prinsip
complementarity.
4Berdasar prinsip
complementarity ini maka Mahkamah
hanya sebagai pelengkap pengadilan nasional suatu negara karena negara
tersebut sudah mempunyai kewaj iban berdasar hukum intemasional untuk
mengadili individu yang bertanggungjawab atas kejahatan-kejahatan yang
terjadi. Mahkamah hanya akan mengadili apabila negara tersebut:
a. Tidak mampu
(unable)atau tidak bersedia
(unwilling),atau
b. Hanya menjalankan pengadilan pura-pura untuk membebaskan
terdakwa dari pertanggungjawaban pidana
c. tidak menjalankan pengadilan secara independen (mandiri) dan
imparsial (tidak memihak).
5Jadi Mahkamah tidak akan mengadili suatu kasus jika kasus sedang
diselidiki atau dituntut oleh suatu Negara yang mempunyai jurisdiksi atas
kasus tersebut, kecuali jika: (I) Negara tersebut tidak bersedia atau
benar-benar tidak dapat melakukan penyelidikan atau penuntutan; (2)
langkah-langkah hukum sudah atau sedang dilakukan atau keputusan nasional yang
'Pasal1 dan 17 Statuta Roma 1998Badan Pembinaan Hukum Nasiona/2009- hlm. 95
diambil untuk tujuan melindungi orang yang bersangkutan dari tanggung
jawab pidana atas kejahatan; (3) ada suatu penangguhan yang tidak dapat
dibenarkan dalam langkah-langk:ah hukum yang tidak sesuai dengan
maksud untuk membawa orang yang bersangkutan ke depan Mahkamah;
atau (4) langk:ah-langk:ah hukum dulu atau sekarang tidak dilakukan secara
mandiri atau tidak memihak.
2.
Nebis in idem
Masih berkaitan dengan kedua prinsip tersebut di atas, maka dikenal
prinsip Ne bis in idem, yang menyatakan bahwa tidak seorang pun diadiH
di depan Mahkamah atau di depan suatu pengadilan lain berkenaan dengan
perbuatan yang merupakan dasar kejahatan yang untuk itu orang tersebut
telah dinyatakan bersalah atau dibebaskan oleh Mahkamah. Namun prinsip
ini dapat dikecualikan jika: (I) pengadilan bertujuan untuk melindungi
orang yang bersangkutan dari tanggungjawab pi dana untuk kejahatan yang
berada di dalarn jurisdiksi Mahkamah; atau (2) pengadilan tidak dilakukan
secara mandiri atau tidak memihak sesuai dengan norma-norma mengenai
proses yang diakui oleh hukum intemasional
3. Praduga Tak Bersalah dan Hak atas Peradilan yang Adil
Sementara prinsip-prinsip hukum pidana umum yang berkaitan
dengan terdakwa adalah asas praduga tak bersalah yang pada intinya
menyatakan bahwa setiap orang harus dianggap tak bersalah sampai
terbukti bersalah di depan Mahkamah sesuai dengan hukwn yang berlaku,
sehingga tanggungjawab terletak pada Penuntut Urn urn untuk membuktikan
kesalahan tertuduh dan untuk menghukum tertuduh, Mahkamah harus
merasa yakin mengenai kesalahan dari tertuduh tanpa ada keraguan yang
masuk akal.
16Prinsip lain berkaitan dengan hak-hak terdakwa ini adalah
bahwa terdakwa berhak atas peradilan yang adil (fair trial).
7 4.Nullum Crimen Sine Lege
8Berdasarkan prinsip ini seseorang hanya akan dihukum atas suatu
perbuatan jika perbuatan tersebut sudah diatur dalam Statuta pada saat
' Pasal 66 Statuta Roma 1998' Pasal 67 Statuta Roma 1998
him. 96 -
Badan Pembinaan Hukum Nasional 2009
perbuatan dilakukan (lex
scripta),
dilakukan setelah aturan tersebut berlaku mengikat (lex praevia ), didefinisikan dengan penjelasan yang memadai (lexcerta) dan tidak diperluas dengan analogi
(lex
stricta). Prinsip kejelasandan larangan untuk melakukan analogi membawa konsekuensi bahwa keraguan (maksud yang mendua) harus diselesaikan demi kepentingan terdakwa. Lebih lanjut, prinsip hukum tertulis (lex scripta) dan
non-retroaktif (lex praevia) memberikan terdakwa hak untuk bergantung pada
hukum yang sudah diatur dan valid pada saat perbuatan dilakukan. Dalam kasus adanya perubahan hukum sebelum keputusan dibuat maka kemudian dipilih hukum yang lebih menguntungkan bagi terdakwa.
Namun demikian pengertian istilah hukum dalam prinsip
nullum
crimen sine lege
harus dipahami dalam cakupan yang luas yang tidak hanya mencakup hukum yang diperjanjikan dan tertulis, tetapi juga kebiasaan dan prinsip-prinsip hukum umum. Sebagai konsekuensinya prinsip non-retroaktif akan mendasarkan bukan hanya pacta hukum yang tertulis dan diperjanjikan sebelumnya tetapi juga hukum kebiasaan intemasional. Hal ini diperkuat oleh PasaJ 15 ayat (2)the International Covenant on Civil
and
Political Right.
5.
Nulla Poena Sine Lege
9Prinsip ini menyatakan bahwa seseorang yang dinyatakan bersalah hanya boleh dihukum oleh hukuman yang didasarkan pacta Statuta. Prinsip ini akan sangat berkaitan dengan adanya hukuman yang dinyatakan terhadap tindakan pidana yang dilakukan.
6. Non-retroakti£1°
Mahkamah mempunyai jurisdiksi hanya berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan setelah berlakunya Statuta ini. Kalau suatu Negara menjadi pihak dari Statuta ini setelah Statuta ini mulai berlaku, Mahkamah dapat melaksanakan jurisdiksinya hanya berkenaan dengan kejahatan yang dilakukan setelah di berlakukannya Statuta ini untuk Negara terse but, kecuali kalau Negara tersebut telah membuat suatu deklarasi. Negara tersebut dapat, dengan deklarasi yang disampaikan kepada Panitera, menerima pelaksanaan jurisdiksi oleh Mahkamah berkenaan dengan kejahatan yang dipersoalkan. 11
9 Pasal 23 Statuta Roma 1998 1
" Pasal II Statuta Roma 1998 11 Pasall2 ayat (3) Statuta Roma 1998
Badan Pembinaan Hukum Nasional2009- hlm. 97
7. Pertanggungjawaban pidana individual
Statuta Roma menganut pertanggungjawaban pidana individual, bukan pertanggungjawaban Negara. Doktrin 'individual criminal responsibility' menuntut pertanggungjawaban bukan hanya pelaku yang
sesungguhnya tetapi juga mereka yang membantu terjadinya tindak pi dana tersebut Berdasar Pasal25 Statuta ICC prinsip pertanggungjawaban pidana perorangan mencakup:
a. Keterlibatan dalam perbuatan pidana b. Hasutan
c. Persekongkolan
d. Percobaan melakukan kejahatan (tidak biasa disebutkan dalam Konvensi Jenewa 1949)
Demikian pula pasal ini memasukkan siapa saja yang dengan sengaja 'commits (melakukan), orders (memerintahkan), solicits induces
(membujuk), aids (membantu), abets (menghasut), assists, contributes
(menyumbang), attempted commission of such by group of persons acting within a common purpose, attempts (mencoba).
Perlu ditegaskan bahwa pertanggungjawaban individual ini jangan sampai menghilangkan pertanggungjawaban negara terutama dalam memberikan restitusi, kompensasi, dan rehabilitasi. Seperti halnya disebutkan dalam Pasal25 (4) Statuta Roma, "Tidak ada ketentuan dalam Statuta Roma yang berkaitan dengan tanggung jawab individual akan mempengaruhi tanggungjawab negara berdasarkan hukum intemasional." Di samping itu, Statuta Roma menganut prinsip Tidak Dimasukkannya Jurisdiksi atas Orang-Orang di Bawah Delapan Belas Tahun dengan menyebutkan bahwa Mahkamah tidak mempunyai jurisdiksi atas seseorang yang berumur kurang dari delapan betas tahun pada saat dilakukannya suatu kejahatan yang dilaporkan.
8. Tidak relevannyajabatan resmi
Dalam Statuta Roma disebutkan bahwa Statuta berlaku sama terhadap semua orang tanpa suatu perbedaan atas dasar jabatan resmi. Secara khusus, jabatan resmi sebagai seorang Kepala Negara atau Pemerintahan, anggota suatu pemerintahan atau parlemen, wakil terpilih
him. 98 -
Badan Pembinaan Hulrum Nasional 2009
atau pejabat pemerintah dalam hal apa pun tidak mengecualikan seseorang dari tanggungjawab pidana di bawah Statuta ini, demikian pula dalam dan mengenai dirinya sendiri, tidak merupakan suatu alasan untuk mengurangi hukuman. Kekebalan atau peraturan prosedural khusus yang mungkin terkait dengan jabatan resmi dari seseorang, baik di bawah hukum nasional atau intemasional, tidak menghalangi Mahkamah untuk melaksanakan jurisdiksinya atas orang tersebut.12
9. Tanggungjawab komandan atau atasan lainnya13
Superior responsibility
merupakan pertanggungjawaban yang menekankan pacta kelalaian melakukan suatu kewajiban (delik Omisi).u Sifat pertanggungjawaban ini bukanlahstrict liability
15 ,tetapiharus dibuktikan dulu bahwa atasan tersebut gaga! untuk: (a) mencegah terjadinya tindakan melawan hukum tersebut; (b) menyediakan segala saran a untuk mencegah atau menghalangi tindakan tersebut; atau (c) melakukan penyelidikan, mengadili dan menghukum pelaku.16
Terdapat 3 (tiga) elemen dalam
superior responsibility.
Elemen pertama, adanya hubungansuperior-subordinate
dengan pengawasan yang efektif darisuperior
(komandan militer atau atasan lainnya) terhadap bawahan(sub-ordinate)
pelak.u kejahatan. Hubungansuperior-subordinate
memerlukan hubungan hirarki yang bersifat baik formal maupun informal dimana atasan adalah seseorang yang lebih senior daripada bawahan. Hubungan ini tidak terbatas pada struktur model komando militer yang'1 Pasal 27 Statuta Roma 1998
13 Sebagian pendapat mengenai masalah doktrin superior responsibility ini pemah disampalkan penulis pada Sidang Eksaminasi I Putusan Pengadilan HAM Abepura yang diselenggarakan oleh ELSAM pada tanggall6 Agustus 2007 di Hotel Haris Jakarta.
" Yoram Dinstein, 2004, The Conduct of Hostilities under the Law of International Armed Conflict, Cambridge University Press, Cambridge. hlm. 238.
15 Contoh sifat command responsibility yang berdasarkan pada strict liability telah
ditunjuk-kan oleh kasus Jenderal Yamashita pada akhir Perang Dunia II. Yamashita tetap dipersalahkan sebagai atasan yang bertanggungjawab atas perbuatan bawahnya yang melakukan kejahatan perang walaupun ia tidak mengetahui perbuatan bawahannya karena hubungan komunikasi yang telah hancur dan putus. Dalam perkembangannya terjadi penolakan terhadap sifat strict liability ini.
10M. CherifBas~iuum. 1992. Crimes Against Humanity in International Criminal Law, Marti-nus NijhoffPublishers, DordrechVBoston!London. hlm. 368.
Badan Pembinaan Hukum Nasional 2009- hlm. 99
kaku.17 Adanya hubungan sub-ordinasi antara superior dan sub-ordinate
merupakan salah satu syarat mutlak bagi adanya pertanggungjawaban atasan. Bergantung darimana asal kekuasaan (otoritas), hubungan ini dapat dibangun melalui dua cara yaitu de jure dan de facto. Kekuasaan atasan untuk menjalankan otoritas yang berasaJ dari pendelegasian perintah secara resmi dari institusi yang bersangkutan terhadap bawahan menunjukkan otoritas yang bersifat de jure. Namun demikian, kedudukan sesuatu ·perintah tidak hanya ditentukan oleh status formalnya saja. Dalam kondisi ketiadaan pemberian otoritas formal, seorang atasan harus secara aktual mempunyai hak untuk mengontrol bawahannya. Kekuasaan de jure menentukan kompetensi dan kewenangan seseorang. Namun demikian, perintah de jure bukanlah faktoryang menentukan dari otoritas aktual, sebab problem identifikasi akan muncul ketika tidak ada legislasi, tidak jelas, atau jika ada, otoritas tersebut tidak. cukup menggambarkan fungsi aktual seseorang dan sejauh mana otoritas yang dimiliki secara aktual. Dengan demikian akan dibutuhkan kemudian otoritas hubungan yang bersifat
de facto. 11 Sementara itu maksud dari pengawasan efektif adalah bahwa
prinsip superior responsibility harus diterapkan hanya pada para atasan yang memiliki kontrol efektif atas bawahan mereka. Pertanggungjawaban hanya akan muncul berkaitan dengan tindak.an-tindakan yang dilakukan pasukan atau bawahan yang berada dibawah kontrol
dan
komando efektif, atau di bawah kewenangan efektif dari komandan atau atasan yang bersangkutan. 1"
Elemen kedua adalah adanya mental state (mens rea). Maksud dari elemen ini adalah adanya pengetahuan atau pengetahuan yang konstruktif dari superior bahwa suatu perbuatan melanggar hukum (kejahatan) baru saja terjadi, sedang terjadi, atau sedang berlangsung. Terdapat 3 (tiga) macam standar mengetahui yaitu: (a) apabila seorang atasan telah mengetahui (had knowledge) bahwa kejahatan telah atau akan dilak.ukan dan tidak mencegah atau menghukum pelakunya. Standar mengetahui dalam kasus ini adalah 'actual knowledge' (betul-betul mengetahui);
11 Semanza, Trial Chamber ITCY, May IS, 2003, paragraph 401.
1~ IIi as Bantekast, July 1999, "The Contem(?Orary Law of Superior Responsibility",
the Ameri· can Journal of lmernational Law, Vol. 93 No. 3.
19 Claire de iHAN & Edwin Shorts, 2003, International Criminal Law and Human Right,
him. I 00 -
Bad an Pembinaan Hukum Nasional2009
(b) apabila seorang atasan seharusnya mengetahui. Standar mengetahui adalah 'dianggap mengetahui'
(presumption of knowledge);
(c) apabila seorang atasan seharusnya sudah menjadikan tugasnya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan pasukannya atau orang yang berada di bawah pengendaliannya. Standar mengetahui adalah'had reason to
know'. 20Penerapan persoalan mengenai pengetahuan akan terjadinya kejahatan berbeda antara komandan militer dan atasan lainnya. Komandan militer bertanggung jawab j ika ia mengetahui a tau berdasarkan keadaan saat itu seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan kejahatan. Sementara itu atasan lain selain komandan mil iter dianggap bertanggungjawab jika ia mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yang secara jelas menunjukkan bahwa bawahan sedang melakukan atau baru saja melakukan kejahatan. Dasar pembedaan ini adalah karena asumsi bahwa dalam struktur militer rantai komando biasanya berfungsi secara memadai karenanya setiap komandan dapat bergantung dari adanya rantai komando yang memadai tersebut untuk memperoleh inforrnasi yang lebih baik daripada atasan sipil lainnya. Dengan demikian nampak bahwa atasan sipil mempunyai pertanggung-jawaban ,yang lebih terbatas daripada atasan militer.
Elemen ketiga adalah adanya kegagalan dari
superior
untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dan yang dimungkinkan untuk mencegah atau menghentikan kejahatan atau menghukum pelaku kejahatan. Kegagalan seorang komandan atau atasan Jainnya untuk mengambillangkah-langkah yang diperlukan dapat dikategorikan menjadi dua: (a) kegagalan untuk mengambil langkah-langkah preventif; (b) kegagalan untuk mengambil langkah-langkah represif. Komandan atau atasan lainnya bertanggungjawab secara pidana jika mereka gaga! untuk melaksanakan segala cara untuk mencegah atau menghentikan pelanggaran yang terjadi. Jadisuperior
dianggap gaga! untuk melakukan tindakan-tindakan preventif Jika mereka tabu setelah terjadinya pelanggaran atau tidak mempunyai cara yang tersedia untuk mencegah ataupun menghentikan1
" Eddy Djunaedi Karnasudirja, 2005, Tanggung Jawab Seorang Atasan terhadap Bawahan yang Melakukan f'elanggaran HAM Bera/ dan Penerapannya oleh Pengadilan Pidana lnter-naswnal dan Pengadi!an Hak Asasi Manusia Indonesia, LPP HAN, Jakarta, hlm. 18 dan hlm. 56-57.
Badan Pembinaan Hukum Nasiona/ 2009 - him. I 01
pelanggaran, mereka tetap bertanggungjawab jika mereka gagaJ untuk melakukan tindakan represif yaitu dengan membawa pelaku kejahatan ke pengadilan. Secara lebih spesifik, mereka juga bertanggungjawab jika mereka tidak menyerahkan pelaku kepada otoritas yang berwenang untuk diadakan investigasi dan penghukuman, atau paling tidak melaporkan peristiwa pelanggaran kepada otoritas yang berwenang.21
Pasal 28 Statuta Roma secara khusus menentukan bahwa pertanggungjawaban pidana diberikan oleh
superior
yang gaga! untuk melaksanakan pengawasan secara memadai atas pasukan atau bawahan yang berada di bawah komando dan pengawasannya yang efektif. Kelalaian melaksanakan tugas pengawasan yang efektif hanya akan relevan jika mengakibatkan suatu kejahatan yang dilakukan oleh pasukannya atau orang-orang yang berada di bawah komandonya. Hal ini mengindikasikan adanya kewajiban hukum seorangsuperior
untuk memberi informasi dan selaJu mengawasi semua orang yang secara struktural hirarkis berada di bawah komando dan pengawasan efektifnya. Berdasarkan haJ ini maka seorangsuperior
akan bertanggungjawab secara pidana jika tidak melakukan pengawasan terhadap bawahannya secara memadai melalui pemberian informasi, pendidikan, nasehat, dan/atau pengawasan atas manfaat dari penerapan hukum yang tepat. Terjadinya peristiwa pelanggaran hukum yang dilakukan pasukan atau bawahan menunjukkan bahwa atasan tidak menggunakan seluruh kewenangan dan segala cara yang dimilikinya untuk mempengaruhi bawahannya untuk bertindak secara hukum dan untuk tidak terlibat dalam tindakan-tindakan yang melswan hukum, terutama atas kejahatan.22Pertanggungjawaban pidana yang sudah dilakukan oleh seorang bawahan yang melakukan kejahatan tidak menghapuskan pertanggungjawaban atasan karena dapat berarti menyangkut kegagalan untuk bertindak sebagaimana mestinya, kegagalan untuk mencegah, dan kegagalan untuk menghukum. Namun demikian kegagalan untuk bertindak akan sangat tergantung pada pengetahuan yang dimiliki atasan dan kesempatan untuk bertindak. Sebaliknya kepatuhan terhadap perintah
"Claire de THAN & Edwin Shorts, op. cit., him. 140
22
Geert-Jan Ale~ander Knoops, 200J\ An Introduction to The Law of /nternDtionDI Criminal
him. I 02 -
Badan Pembinaan Hukum Nasional 2009
atasan tidak serta merta mengindikasikan bahwa atasan atau mereka yang berada di atas rantai komando bertanggungjawab secara pidana jika perintah tersebut salah dipahami atau diterapkan oleh bawahan. n
I 0. Tidak dapat diterapkannya ketentuan pembatasan
Statuta Roma menyebutkan bahwa, "Kejahatan dalam jurisdiksi Mahkamah tidak tunduk pada setiap ketentuan pembatasan." Ketentuan pembatasan yang dimaksud seperti halnya pembatasan mengenai daluwarsa yang biasa diterapkan oleh hukum nasional suatu negara. Alasan terhadap larangan ketentuan daluwarsa dengan alasan kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang meninggalkan tidak saja duka dan derita yang begitu dalam bagi jutaan manusia, namun juga menunjukkan rendahnya moralitas para pelaku, sehingga keyakinan hukum dari manusia bemurani akan terguncang hila tidak diberikan reaksi apapun terhadap peristiwa tersebut. Ketentuan-ketentuan tentang daluwarsa dalam masalah kejahatan-kejahatan serius terhadap kemanusiaan di Belanda misalnya telah dicabut oleh UU tertanggal 8 April 1971, Stb 210, juga oleh Pasal 3 UU Pelaksana Konvensi Genosida. Pencabutan tersebut dilakukan juga sebagai konsekuensi dari Konvensi PBB tentang daluwarsa tertanggal 26 November 1968. Negara lain misalnya Jerman memberlakukan pencabutan demikian. 2~ Dan temyata memang tidak dapat diberlakukannya ketentuan daluwarsa dalam kasus kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang sekarang sudah menjadi bagian dari hukum kebiasaan intemasional.3s Dalam UU Pengadilan HAM ketentuan mengenai tidak berlakunya daluwarsa disebutkan pada Pasal46 yang menyebutkan bahwa, "Untuk pelanggaran hak asasi man usia yang berat sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini tidak berlaku ketentuan mengenai daluwarsa."
11. Unsur mental
Mental elemen (mens rea) adalah unsur mental dalam suatu tindakan Hfbid. hlm. 371.
1• Jam Remmelink, 2003, Hul...-um Pidana: Komentar alas Pasa/-pasa/ terpenling dari Kitab
Undang-Undang Hukum Belanda dan Padanannya da/am Kitab Undang-Undang Hukum Pida=lndonesia, Gramedia Media Pustaka, Jakarta, hlm. 435.
>J William A. Schabas, 200\, An Introduction to the International CrimiiUII Court, Cambridge University Press, Cambridge, hlm. 93.
Badan Pemhinaan Hukum Nasiona/2009- him.
103yang menjadikan dapat dipidananya suatu perbuatan (tindakan) tersebut, yang meliputi niat (kesengajaan), pengetahuan (kesadaran) dari fakta-fakta dan keadaan-keadaan yang relevan.26 Mengingat seriusnya tindak
pidana yang berada dalam yurisdiksi Mahkamah, maka Pasal30 paragraph
(I) Statuta Roma mendefnisikan konsep mental elemen ini. Seseorang dinyatakan mempunyai niat dalam hubungannya dengan perbuatan, hila orang tersebut bermaksud untuk ikut serta dalam perbuatan. Sementara niat dalam hubungannya dengan akibat, jika orang tersebut bermaksud untuk menimbulkan konsekuensi atau menyadari bahwa akan terjadi daJam jalannya peristiwa yang biasa. Sedangkan pengetahuan diartikan sebagai suatu kesadaran bahwa suatu keadaan ada atau suatu konsekuensi akan terjadi dalam perkembangan kejadian yang biasa.
12. Pembelaan
Berikut beberapa prinsip yang dapat digunakan sebagai pembelaan dimuka persidangan yang tercantum daJam Statuta Roma:
a. Alasan penghapus tanggung jawab pi dana
Statuta menyebutkan bahwa seseorang tidak bertanggungjawab secara pidana, kalau pada waktu perbuatan itu dilakukan oleh orang tersebut:
(I) Orang terse but menderita sakit ingatan atau cacat mental yang merusak kemampuan orang tersebut untuk. menilai ketidak-absahan atau sifat dari perbuatannya, atau kemampuan untuk mengendalikan perbuatannya agar sesuai dengan ketentuan hukum;
(2) Orang itu berada dalam keadaan keracunan yang merusak kemampuan orang tersebut untuk menilai ketidak-absahan atau sifat dari perbuatannya, atau kemampuan untuk mengendalikan perbuatannya agar sesuai dengan ketentuan, kecuali kalau orang tersebut telah meracunkan diri secara suka rei a di bawah keadaan
him. I 04 -
Badan Pembinaan Hukum Nasional 2009
yang diketahui oleh orang tersebut, atau mengabaikan risiko, bahwa sebagai akibat dari keracunan tersebut, ia mungkin sekali melakukan perbuatan yang merupakan suatu kejahatan yang berada dalam jurisdiksi Mahkamah;
(3) Orang tersebut berbuat secara masuk aka! untuk membela dirinya sendiri atau seseorang lain atau, dalam hal kejahatan perang, hak milik yang amat penting bagi kelangsungan hidup dari orang atau seseorang lain atau hak milik yang amat penting untuk memenuhi suatu misi militer, terhadap suatu penggunaan kekuatan yang tidak sah dan segera terjadi dengan suatu cara yang proporsional dengan besamya bahaya terhadap orang atau orang-orang lain atau hak milik yang dilindungi. Kenyataan bahwa orang itu terlibat dalam suatu operasi yang dilakukan oleh angkatan bersenjata tidak dengan sendirinya merupakan alasan untuk meniadakan tanggung jawab pi dana berdasarkan sub ayat ini;
( 4) Perbuatan yang dinyatakan merupakan suatu kejahatan di bawah jurisdiksi Mahkamah disebabkan oleh tekanan yang timbul dari ancaman kematian yang segera terjadi atau kerugian fisik secara serius yang berkelanjutan atau segera terjadi terhadap orang itu atau seseorang lain, dan orang itu bertindak seperlunya dan masuk aka! untuk menghindari ancaman ini, dengan syarat bahwa orang itu tidak bermaksud menimbulkan suatu kerugian yang lebih besar ketimbang kerugian yang diupayakan untuk dihindari. Ancaman semacam itu mungkin:
(a) Dilakukan oleh orang-orang Jain; atau
(b) Ditimbulkan oleh keadaan-keadaan lain di luar penguasaan orang tersebut.
b. Kekeliruan fakta atau kekeliruan penerapan hukum
Suatu kekeliruan fakta akan menjadi dasar pengecualian bagi tanggung jawab pidana hanya jika hal itu membuktikan tidak adanya unsur mental yang diperlukan oleh kejahatan yang dilakukan itu. Suatu
Badan Pembinaan Hukum NasionaJ 2009 - hlm. I 05
kekeliruan penerapan hukum tentang apakah suatu jenis tindakan tertentu merupakan suatu kejahatan dalamjurisdiksi Mahkamah tidak boleh menjadi dasar pengecualian tanggung jawab pidana. Suatu kekeliruan penerapan hukum hanya bias menjadi dasar pengecualian tanggung jawab pidana jika hal itu membuktikan tidak adanya unsur mental yang diperlukan oleh kejahatan yang dilakukan itu, atau sebagaimana dinyatakan dalam pasal33.
c. Perintah atasan dan ketentuan hukum
Kenyataan bahwa suatu kejahatan dalam jurisdiksi Mahkamah telah dilakukan oleh seseorang sesuai dengan perintah suatu Pemerintah atau seorang atasan, baik militer atau sipil, tidak membebaskan tanggungjawab pidana orang tersebut kecuaJi kalau:
(1) Orang tersebut berada dalam kewajiban hukum untuk menuruti perintah dati Pemerintah atau atasan yang bersangkutan; (2) Orang tersebut tidak tabu bahwa perintah itu melawan hukum;
dan
(3) Perintah itu tidak nyata-nyata melawan hukum.
Untuk keperluan pasal ini, perintah untuk melakukan
genosida
atau kejahatan terhadap kemanusiaan jelas-jelas melawan hukum. Ketentuan mengenai perintah atasan ini tidak diatur dalam UU Pengadilan HAM, sementara masalah ini sangat potensial menjadi suatu masalah yang pelik, mengingat hukum pi dana kita memungkinkan bahwa perintahjabatan dapat menjadi alasan pembenar yang dapat hapuskan pidananya. Seperti pasal 31 R-KUHP menyebutkan bahwa, "Tidak dipidana, setiap orang yang melakukan tindak pidana karena melaksanakan peraturan perundang-undangan." dan Pasal32 yang menyebutkan, "Tidak dipidana, setiap orang yang melakukan tindak pidana karena melaksanakan perintahjabatan yang diberikan oleh pejabat yang berwenang." Ketentuan ini bisa diterima dalam kaitan dengan tindak pidana umum, tetapi mungkin tidak dapat diberlakukanhim. I 06 -Badan Pembinaan Hukum Nasional2009
dalam hal tindak pi dana intemasional terlebih tindak pi dana yang menjadi keprihatinan serius masyarakat intemasional. Dalam hal tindak pidana demikian, orang tetap dianggap bertanggungjawab walaupun