BAB
VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Tujuan dari riset ini sebagaimana dinyatakan di bagian depan adalah pertama: Ingin menggambarkan fenomena terjadinya split–ticket voting dalam Pemilu legislatif dan presiden di Indonesia tahun 2014. Apakah terjadi split-ticket voting? Jika ya, seberapa banyak split-ticket voting ini terjadi dan bagaimana pola split-nya. Kedua, menguji teori-teori dominan mengenai split-ticket voting dalam konteks Indonesia. Studi mengenai split-ticket voting ini sudah banyak dilakukan di negara maju (terutama Amerika Serikat). Apakah temuan dalam banyak penelitian itu juga berlaku di Indonesia? Jika ternyata temuan itu berlaku atau tidak berlaku, apa penyebab dan penjelasannya. Ketiga, merumuskan faktor-faktor dan mekanisme yang menjelaskan perilaku split-ticket voting dalam konteks Indonesia.
6.1. Terjadinya Split-Ticket Voting dalam Pemilu 2014
Perbandingan hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden menunjukkan terjadinya pembelahan suara (split-ticket voting) dalam pemilu Indonesia 2014. Jika suara pendukung partai tidak terbelah, pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang didukung oleh partai dengan jumlah suara lebih besar, seharusnya memenangkan pemilihan presiden. Sebab total jumlah pemilih dari partai Koalisi Merah Putih yang mendukung pasangan ini (Gerindra/Golkar/PPP/PKS/PAN/Demokrat/PBB) adalah sebesar 63,54%. Sementara jumlah suara yang didapat Prabowo-Hatta pada pemilu presiden hanya 46,85%. Pola ini kebalikan dari pemenang pemilu presiden 2014 yakni pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pasangan yang didukung Koalisi Indonesia Hebat (PDI–P/Hanura/ NasDem/PKB/PKPI) ini meraih 53,15% suara. Padahal total jumlah pemilih partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat hanya 40,38%.
Dari hasil survei nasional yang dilakukan penulis pada Mei dan Juni 2014, juga bisa dicek adanya fenomena split-ticket voting. Caranya adalah membandingkan jawaban responden untuk pemilu legislatif dan pemilu presiden. Dari hasil survei tampak lebih
jelas adanya fenomena split-ticket voting di pemilu 2014. Jumlah split voting dari hasil survei adalah sebesar 20,3% pada Mei 2014 dan 19,2% pada Juni 2014, dan straight voting adalah 56,0% pada Mei 2014 dan 61% pada Juni 2014. Adapun sebanyak 23,7% (Mei 2014) dan 19,8% (Juni 2014) tidak bisa diidentifikasi kategorisasinya. Ini terjadi ketika untuk pilihan partai atau kandidat, responden menjawab tidak tahu atau tidak bersedia menjawab. Angka 20,3% (Mei 2014) dan 19,2 (Juni 2014) bisa menunjukkan pembelahan (split) suara pemilih partai ke kandidat pasangan presiden yang berbeda.
6.2. Hasil Pengujian Model-Model Split-ticket Voting
Pada Bab IV dan V, penelitian ini telah menguji lima model yang selama ini dominan dipakai oleh ahli dalam menjelaskan fenomena split-ticket voting, yakni model moderasi (keseimbangan) dari Fiorina, model konflik harapan dari Jacobson, model kepemilikan isu dari Petrocick, model check and balance, dan model pemasaran politik. Kelima model itu kemudian ditambah model sosiologis demografis yang juga dibicarakan dalam kajian split-voting meskipun jarang. Diuji pula model yang diajukan penulis sebagai alternatif model penjelas yang dianggap lebih tepat untuk konteks Indonesia, yakni model low information.
Tabel 6.1. menyajikan rangkuman hasil pengujian regresi logistik. Secara statistic, untuk melihat kekuatan dari model bisa dilihat dari dua informasi penting yang disediakan oleh regresi logistik. Pertama, persentase benar (percentace correct). Angka ini merujuk kepada model ini bisa menjelaskan berapa persen dari kasus. Semakin besar nilai akan semakin baik karena mengindikasikan bahwa model bisa menjelaskan semua kasus (sampel) yang diuji dalam penelitian. Kedua, Nagelkerke R Square. Nilai ini sama dengan R Square pada regresi linear. Angka Nagelkerke R Square merujuk kepada berapa besar (%) variabel bebas (independen) bisa menjelaskan terjadinya variabel terikat (dependen) - dalam hal ini split dan straight voting. Angka Nagelkerke R Square sebesar 0,30 misalnya, bisa diartikan sebagai variabel variabel bebas (independen) dalam model bisa menjelaskan sebesar 30% dari terjadinya split-ticket voting dan sisanya (70%) disebabkan oleh variabel lain.
Dari tabel 6.1 tersebut terlihat, enam model (keseimbangan dari Fiorina, model konflik harapan dari Jacobson, model kepemilikan isu dari Petrocick, model check and
balance, model pemasaran sosial, dan model sosial demografis) tidak cukup baik dalam menjelaskan terjadinya split-ticket voting. Model ini mempunyai Percentace Correct hanya sebesar 70-82%. Kelemahan dari keenam model ini makin terlihat dari angka Nagelkerke R Square. Model tersebut hanya bisa menjelaskan kurang dari 5% saja dari split-ticket voting. Variabel-variabel independen yang diuji dalam model ini hanya bisa menjelaskan kurang dari 5%, sementara sisanya (95%) disebabkan oleh variabel lain. Sementara model low information yang diajukan penulis mampu mencapai angka percentage correct dan daya jelas lebih tinggi. Masing-masing 81,6% sampai dengan 96% percentage correct dan daya jelas 0,366% sampai dengan 64%.21
Tabel 6.1. Rangkuman Hasil Regresi Logistik Model Split-ticket voting
No Model Percentace Correct
(Regresi Logistik)
Nagelkerke R Square (Regresi Logistik) Mei 2014 Juni 2014 Mei 2014 Juni 2014
1 Model Keseimbangan
(Fiorina) 81,8% 77,7% 0,035
0,024 2 Model Konflik Harapan
(Jacobson) 82,4% 82,4% 0,025 0,025
3 Model Kepemilikan Isu
(Petrocick) 72,7% 76,6% 0,051
0,013 4 Model Check and Balance 75,7% 78,8% 0,032 0,014 5 Model Pemasaran Politik 81,1% 73,4% 0,016 0,028 6 Model Sosial Demografis 73,4% 73,1% 0,017 0,035 7 Model Low Information Antara
83,5-95,0% Antara 81,6-96% 0,366 hingga 0,636 0,40 hingga 0,64
Rendahnya nilai Nagelkerke R Square tersebut mengindikasikan bahwa model dominan yang selama ini banyak dipakai di Amerika dan Eropa dalam menjelaskan terjadinya split-ticket voting kurang bisa digunakan di Indonesia. Mengapa model-model tersebut tidak bisa digunakan dalam menjelaskan fenomena split-ticket voting di Indonesia? Pertama, konteks dari berlakunya teori-teori tersebut tidak sesuai atau tidak terpenuhi dalam konteks Indonesia. Hal ini baik menyangkut akses terhadap informasi,
21
Riset ini adalah bagian dari tradisi kuantitatif. Sesuai namanya, di sini ada kecenderungan
menguantifikasi daya jelas variabel dan teori dalam angka. Suatu praktek yang belum tentu sejalan dengan pembaca dari tradisi kualitatif. Hemat penulis, daya jelas variabel model low information 0,366-0,64 sudah cukup baik. Yang jelas, lebih baik/tinggi daripada model lain yang diuji. Mengingat banyaknya variabel yang bekerja dalam suatu fenomena sosial, sangat sulit mendapatkan model dengan daya jelas mencapai 1 alias 100%.
tingkat pendidikan, sistem kepartaian, maupun sistem pemilunya. Berikut rangkuman prasyarat konteks bekerjanya model dan perbedaannya dengan situasi di Indonesia (Tabel 6.2).
Tabel 6.2. Rangkuman Model dan Alasan Mengapa Model Tidak Bekerja di Indonesia
Model Tesis Utama Asumsi Berlakunya Model Kondisi di Indonesia
Model Keseimbangan (Fiorina)
Split-ticket voting
lebih mungkin terjadi pada pemilih yang relatif moderat, tidak ekstrim pada spektrum ideologi.
(a) Terdapat posisi atau spektrum ideologi yang tajam. Partai dan kandidat yang ada mewakili spektrum ideologi tersebut. Program partai mewakili spektrum ideologi tersebut. Sebagai
akibatnya, pemilih yang moderat akan cenderung membagi suaranya agar tidak terjadi kondisi ekstrim. Pemilih tidak
menginginkanpemerintah dan kebijakannya terlalu ekstrim pada posisi ideologi tertentu.
(b) Pemilih mempunyai
pengetahuan dan bisa mengetahui dengan tepat isu dan program dari partai. Posisi-posisi ideologi yang ekstrim dinilai identik dengan partai tertentu.
(a) Partai yang ada tidak mewakili spektrum ideologi yang ekstrim (kiri vs kanan); (a) Partai yang ada tidak menampilkan spektrum ideologi yang jelas; (c) Partai kerap mengangkat program dan kebijakan yang
bertentangan dengan garis ideologi yang ditentukan (pragmatis). Sebagai akibatnya, tidak terbentuk identitas ideologi partai yang kuat. Model Konflik Harapan (Jacobson) Split-ticket voting terjadi ketika pemilih berusaha untuk memuaskan keinginan lewat partai dan kandidat yang berbeda. Dengan memilih partai atau kandidat yang beragam, maka pemilih memandang bisa memenuhi semua kebutuhannya.
(a) Partai atau kandidat tidak mungkin bisa memenuhi semua harapan pemilih. Partai dan kandidat mempunyai kekuatan masing-masing, misalnya untuk isu tertentu yang kuat adalah partai A sementara isu lain yang kuat adalah partai B.
(b) Pemilih mengetahui perbedaan program masing-masing partai dan kandidat. Kekuatan masing-masing partai dan kandidat terkait dengan sejarah di masa lalu. Bisa menempatkan harapan mana yang ingin dipenuhi oleh partai dan kandidat tertentu, dan mana yang ingin dipenuhi oleh partai dan kandidat lain.
(a) Partai tidak mempunyai kekuatan program atau isu tertentu yang identik dengan partai tersebut. Program masing-masing partai bahkan kerap seragam satu sama lain, tidak bisa dibedakan secara tegas.
(b) Pemilih tidak bisa membedakan kekuatan program dari masing-masing partai dan kandidat. Model Kepemilikan Isu (Petrocick) Split-ticket voting terjadi karena pemilih menetapkan standar yang berbeda untuk pemilihan yang berbeda. Ketika memilih presiden,
(a) Partai mempunyai sumber kekuatan yang berbeda. Misalnya, ada partai yang identik dengan isu tertentu yang disukai oleh pemilih. Sementara partai lain lebih kuat di sisi anggota legislatif yang ditawarkan.
(b) Pemilih secara rasional
(a) Pemilih tidak membedakan pemilu legsilatif dan presiden sebagai dua jenis pemilihan yang terpisah. (b) Pertimbangan pemilih dalam memilih leguslatif dan presiden relatif sama.
standar atau penilaian yang dipakai adalah isu yang diangkat. Sebaliknya ketika memilih anggota legislatif, standar atau kriteria yang dipakai adalah pada sisi kandidat, seperti kepribadian, kompetensi dan seterusnya. Split terjadi karena pengalaman dan sejarah partai yang panjang, membuat partai mempunyai kekuatan masing-masing. Misalnya, partai tertentu lebih kuat di isu sehingga bisa memenangkan pemilu presiden, sementara partai lain lebih kuat di anggota legislatif (kandidat) sehingga lebih memenangkan pemilu legislatif.
membuat split (pembedaan) kriteria atau dasar dalam memilih legislatif dan presiden. Perbedaan kriteria itu akan berakibat pada pilihan yang split.
Pemilih tidak menetapkan standar atau kriteria yang berbeda untuk jenis pemilihan yang berbeda. (c) Tidak/belum terbangun “kepemilikan isu” dalam sistem dan tradisi kepartaian di Indonesia. Model Check and Balance Pemilih pada dasarnya menginginkan terjadinya keseimbangan (ekuilibrium), tidak ingin kekuasaan didominasi oleh pertai tertentu saja. Pemilih secara sengaja membagi suara (split) agar cabang kekuasaan (terutama legislatif dan eksekutif) tidak berada di tangan satu partai.
(a) Ada partai penguasa (pemerintah) dan partai oposisi. Dengan pemegang kekuasaan yang berbeda, akan terjadi check and balance. Partai yang berkuasa di eksekutif misalnya akan dikontrol oleh partai yang berkuasa di legislatif. (b) Pemilih menginginkan terjadinya pembagian kekuasaan. Pemilih tidak ingin cabang kekuasaan berada di tangan satu partai. Perilaku split adalah upaya
pemilih untuk menciptakan check
and balance. Ketika satu partai sudah menguasai eksekutif, pemilih memberikan suara ke partai lain agar memenangkan legislatif.
(a) Masih kuatnya pandangan “integralistik” di kalangan pemilih Indonesia yang menginginkan adanya kekuatan tunggal dalam politik.
(b) Pemilih Indonesia menganggap “oposisi” bukan sesuatu yang baik. Oposisi dilihat sebagai konflik, tidak harmonis.
Model Pemasaran Politik Split-ticket voting terjadi karena sebab-sebab atau alasan struktural, seperti seberapa pendekatan pada pemilih (iklan,
(a) Partai dan presiden mempunyai pemasaran politik yang berbeda. Misalnya, untuk Pemilu legislatif, yang kuat adalah partai A, sementara untuk Pemilu presiden yang lebih aktif dan menarik justru kandidat dari partai B.
(a) Akses pada kampanye yang rendah, khususnya hadir di kampanye dan dihubungi oleh tim partai atau calon presiden. (b) Persuasi dan kampanye tidak dibandingkan satu
kampanye, dsb). Pemilih memilih partai atau kandidat tertentu karena dipersuasi oleh partai atau kandidat tertentu. Pilihan yang berbeda terjadi karena pemasaran politik yang berbeda yang dilakukan oleh partai atau kandidat.
(b) Pemilih rasional, aktif dan terlibat pada kegiatan kampanye, memperhatikan persuasi yang dilakukan oleh partai dan kandidat. Pemilih memilah dan memutuskan pilihan berdasar atas persuasi dan pemasaran yang dilakukan oleh partai dan kandidat.
sama lain.
(c) Kampanye bukan menjadi variabel dalam mempengaruhi pilihan. Model Sosial Demografis Split-ticket voting terjadi karena sebab-sebab sosiologis atau demografis. Split-ticket voting lebih mungkin terjadi untuk orang dengan latar belakang tertentu dibandingkan dengan orang dengan latar belakang lain, misalnya: gender perempuan, pendidikan tinggi, status sosial ekonomi tinggi dan sebagainya.
(a) Pemilih terbagi secara tegas berdasar kategori tertentu, misalnya pendidikan, jenis kelamin dan sebagainya. Perilaku pemilih berbeda secara jelas menurut dasar sosial demografis. (b) Pemilih dengan kategori sosial yang berbeda. Misalnya antara endidikan tinggi dan rendah mempunyai perilaku yang berbeda. Misalnya, pemilih berpendidikan tinggi lebih rasional, sementara pemilih berpendidikan rendah lebih emosional dan sebagainya.
(a) Partai atau kandidat tidak terbagi berdasar kelas dan kategori sosial. Misalnya, partai yang ditujukan untuk kelompok pemilih tertentu. (b) Partai di Indonesia cenderung menjadi “catch all party”. (b) Pada dasarnya pilihan bukan disebabkan oleh variable sosiologis dan demografis tapi oleh variable lainnya.
Model Low
information
Split terjadi bukan akibat intensi (kesengajaan) dan pertimbangan rasional dari pemilih. Split terjadi akibat “cues”, sesuatu yang mencolok seperti kedekatan pada partai dan kesukaan pada kandidat. Pemilih memilih partai X, dan akan memilih kandidat presiden dari partai Y karena suka dengan kandidat tersebut. Pilihan itu bukan karena pertimbangan rasional atau strategi elektoral.
(a) Pengetahuan pemilih pada partai dan kandidat relatif rendah, tidak bisa membedakan program dan kekuatan partai dan kandidat. (b) Keterlibatan pemilih juga relatif rendah (low involvement). (c) Tingginya faktor ketokohan, seperti kesukaan pada kandidat tertentu.
Sesuai dengan kondisi pemilih di Indonesia
Sebab kedua teori-teori dominan tidak bekerja di Indonesia adalah mekanisme berpikir pemilih Indonesia yang kiranya tidak sesuai dengan asumsi teori-teori dominan. Dengan mengambil wawasan dari kajian-kajian di dunia persuasi, analisa perilaku pemilih kiranya bisa mendapat suatu perspektif baru. Teori Hallahan (2000) tentang keragaman jenis publik (baca: pemilih) dan jalur-jalur pengolahan informasi dari Petty dan Cacioppo (Petty et. al, 2002), kiranya dapat memberikan arah tentang mekanisme bagaimana pemilih melakukan split-ticket voting dalam pemilu 2014.
Seperti telah dikutipkan sebelumnya, salah satu yang menarik dari teori persuasi kontemporer adalah publik tidaklah dilihat secara tunggal. Publik sebaliknya dilihat plural, majemuk. Para ahli persuasi menggunakan identifikasi mengenai publik atau khalayak tersebut untuk merancang pesan agar pesan persuasi efektif ke tangan khalayak. Pesan persuasi harus disesuaikan dengan karakteristik dan identifikasi dari khalayak tersebut agar efektif. Hallahan (2000) membuat tipologi mengenai khalayak yang bisa dipakai dan diadaptasi dalam menjelaskan perilaku pemilih.
Hallahan melihat khalayak atau publik tidak tunggal. Khalayak, sebaliknya, dilihat mempunyai berbagai jenis. Hallahan (2000) membagi khalayak berdasar dua aspek. Pertama, pengetahuan (knowledge). Sejauh mana khalayak mengetahui isu-isu yang ada. Kedua, keterlibatan (involvement). Sejauh mana khalayak terlibat dengan isu yang diperbincangkan,. Berdasar atas dua aspek tersebut, Hallahan (2000) kemudian membagi khalayak atau publik ke dalam 5 kategori, yakni publik yang aktif (active publics), publik yang sadar (aware publics), publik yang tergerak (aroused publics), publik yang tidak aktif (inactive publics) dan bukan publik (non-publics).
Tabel 6.4. Tipologi Khalayak Menurut Hallahan Keterlibatan Pengetahuan Keterlibatan (Involvement) Tinggi Keterlibatan (Involvement) Rendah Tidak Ada Keterlibatan (Involvement) Pengetahuan Tinggi I
Publik yang aktif (Active Publics)
II
Publik yang sadar (Aware Publics)
Pengetahuan Rendah III
Publik yang tergerak (Aroused Publics)
IV
Publik yang tidak aktif (Inactive Publics) Tidak Punya
Pengetahuan
V
Bukan publik (Non-Publics)
Sumber: Hallahan (2000:504)
Berangkat dari insipirasi Hallahan (2000) di atas, peneliti membagi ke dalam dua kataegori, yakni publik dengan kategori high information dan publik dengan kategori low information. Publik dengan kategori high information adalah publik yang masuk dalam kategori active publics dan aware publics dalam kategori yang dibuat oleh Hallahan (2000). Publik dengan kategori high information dicirikan sebagai berikut. Pertama, mereka mempunyai basis pengetahuan yang cukup sebagai bahan dalam mengolah pesan. Kedua, mereka mempunyai keinginan dan kemampuan dalam mengolah pesan. Ini dicirikan oleh upaya khalayak untuk menimbang-nimbang informasi, membuat perbandingan, dan mengambil keputusan berdasar pertimbangan yang sudah dibuat tersebut. Jika konsep high information ini ditarik dalam ranah perilaku pemilih, pemilih dengan kategori high information adalah pemilih yang mempunyai pengetahuan dan keterlibatan yang cukup. Ketika mengambil keputusan (misalnya memilih partai atau kandidat) didasarkan pada pertimbangan rasional - membandingkan kekuatan partai satu dengan partai lain.
Sementara pemilih dengan kategori low information mempunyai ciri yang bertolak belakang dengan pemilih high information. Pertama, tingkat pengetahuan rendah, tidak mengetahui secara persis isu yang diperbincangkan. Kedua, tidak ada proses pengolahan pesan. Ketika seseorang membuat pilihan, tidak didasarkan pada pertimbangan berupa membandingkan informasi satu dengan lain. Dalam konteks perilaku pemilih, khalayak tidak membandingkan satu partai dengan partai lain, melihat kelebihan dan kelemahan dan seterusnya. Kiranya, pemilih di Indonesia lebih cenderung masuk ke dalam kategori low information dibandingkan dengan high information.
Analisa data survei yang disajikan oleh penulis sebelumnya memperkuat bukti bahwa Indonesia masuk dalam kategori pemilih low information. Apa keterkaitan antara low information ini dengan perilaku pemilih? Sekali lagi, kita bisa mengacu kepada
teori-teori mengenai persuasi (lihat kembali pada Bab II). Teori-teori-teori persuasi menyatakan
bahwa ada perbedaan perilaku antara khalayak dengan kategori “high information” dan low information. Pada khalayak dengan kategori high information, proses pengolahan informasi yang terjadi adalah berada pada jalur sentral. Ini ditandai oleh logika, penggunaan rasional, perbandingan antar pesan dan sebagainya. Sementara khalayak dengan kategori low information ditandai oleh pilihan berdasar penampakan yang mencolok (cues).
Tabel 6.11. Tipologi Pemilih dan Pemrosesan Informasi
Pemilih Pemrosesan informasi Ciri
High information (HI) Jalur sentral Rasional, logika, menimbang dan memperbandingkan pesan
Low Information (LI) Jalur pinggiran (peripheral) Tidak menimbang pesan, lebih mendasarkan pada penampakan yang mencolok (cues)
Apa sesuatu yang mencolok (cues) yang tinggal ambil dan bisa langsung dipergunakan dalam konteks perilaku pemilih? Pada Bab II, penulis mengusulkan dua aspek yang bisa berfungsi sebagai cues dalam mekanisme perilaku split voting. Kedua cues ini adalah kedekatan pada pemilih (PartyID) dan kesukaan pada kandidat. Dua aspek ini merupakan “cues”, yang tinggal langsung dipakai tanpa harus menggunakan penalaran yang kompleks, khususnya bagi pemilih low information.
Party ID menjadi variabel yang berpengaruh dalam split ticket karena identifikasi partai menjadi cues bagi pemilih low information dalam mencari calon presiden. Pemilih yang memiliki party ID akan cenderung memilih calon presiden yang partainya sama dengan dirinya. Dalam bahasa ELM (Elaboration Likelihood Method), party ID berfungsi sebagai jalur peripheral bagi pemilih dalam menentukan calon presiden. Party ID adalah cues ke pilihan calon presiden. Itu sebabnya di Amerika Serikat, negara dengan tingkat party ID tinggi (kisaran 80%) siapapun calon presiden yang dihasilkan oleh konvensi partai akan mendapatkan proporsi dukungan yang tinggi dari pemilih partai bersangkutan.
Artinya, siapapun pemenang konvensi dalam pilpres Amerika tahun 2008 lalu, apakah Barack Obama atau Hillary Clinton, atau calon yang lain, akan mendapatkan
dukungan yang hampir penuh dari pemilih Demokrat. Hal sebaliknya berlaku untuk calon presiden dari Partai Republik. Dukungan dari pemilih Partai Republik ke calon presiden Partai Republik dapat diharapkan tinggi. Hal ini kurang berlaku di Indonesia, suatu negara dengan tingkat party ID yang relative rendah (dalam survei Mei dan Juni 2014, party ID tercatat masing-masing 27% dan 31,4%).
Situasi ini telah tergambar dengan baik dalam kasus pencalonan Wiranto sebagai calon presiden Golkar di pemilu 2004. Wiranto terpilih sebagai capres Golkar lewat mekanisme konvensi setelah mengalahkan sejumlah peserta konvensi Golkar lain termasuk di antaranya Akbar Tanjung, Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, dan Surya Paloh. Nyatanya dalam pilpres, suara pemilih Golkar jauh dari solid mendukung Wiranto (lihat data di Bab I). Hal ini terkait party ID pemilih Golkar yang rendah selain daya tarik Wiranto sebagai calon presiden yang kalah pamor dengan Susilo Bambang Yudhoyono22.
Pamor atau dalam kajian ini disebut sebagai evaluasi kandidat, menjadi cues berikutnya yang memainkan peran lebih besar dalam proses split ticket voting. Di negara-negara demokrasi maju, tokoh dipercaya tetap penting dalam menjelaskan perilaku memilih (Campbell, et. al. 1960; Miller dan Shanks, 1996; Bean dan Mughan, 1989; Bean dan Kelley, 1988; Graetz dan McAllister, 1987; Miller dan Miller, 1975; Butler dan Stokes, 1974; Stokes, 1966 dalam Mujani, Liddle, Ambardi, 2012). Apalagi di negara demokrasi baru baru seperti Indonesia di mana kekuatan tokoh memang memiliki sejarah yang panjang.
Evaluasi kandidat presiden menjadi variabel yang semakin kuat dalam sistem politik dengan party ID rendah seperti Indonesia. Di tengah kebingungan terhadap ideologi politik yang tidak jelas, ketiadaan kepemilikan isu antara pemilu legislatif dan pemilu presiden, dan program kerja yang sulit dibedakan antara calon presiden, maka evaluasi kandidat presiden – kemampuannya dan kepribadiannya seperti kepintaran,
22
Untuk adilnya harus dikatakan pula bahwa dukungan pimpinan resmi Partai Golkar kepada Wiranto dalam pilpres 2004 tidak cukup maksimal. Paling tidak hal ini tercermin dari banyaknya tokoh teras Partai Golkar yang membelot dan menyatakan dukungannya kepada Susilo Bambang Yudhoyono dalam masa kampanye. Patut diduga, Akbar Tanjung sebagai Ketua Umum Partai Golkar yang mewacanakan dan menyelenggarakan konvensi merasa kecewa karena ia sendiri gagal terpilih sebagai capres. Dapat ditambahkan bahwa calon presiden dalam konvensi Golkar dipilih oleh para pemimpin Golkar di pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Jumlah suara pimpinan tingkat kabupaten/kota jadi penentu karena jumlahnya jauh lebih banyak.
kejujuran, ketegasan dan kepedulian pada masyarakat – menjadi cues yang memandu pemilih Indonesia mencoblos calon presidennya.
Karena itu tidak mengherankan, calon presiden dengan evaluasi yang positif akan menarik pemilih dari partai yang tidak mencalonkan dirinya. Pada pemilu presiden 2004, Susilo Bambang Yudhoyono adalah calon presiden dengan evaluasi terbaik di mata publik. Oleh karena itu ia mampu menarik pemilih dalam jumlah besar dari partai-partai lain. Sebaliknya, Hamzah Haz, calon dengan evaluasi terlemah, tidak mampu menarik suara dari partainya sendiri. Apalagi menarik suara dari partai lain.
6.3. Faktor dan Rumusan Model Split-ticket Voting di Indonesia
Tujuan ketiga dari penelitian ini adalah merumuskan faktor dan mekanisme split-ticket voting yang bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena split-split-ticket voting di Indonesia. Penulis mengusulkan suatu pendekatan yang disebut sebagai low information sebagai lawan dari pendekatan high information. Teori-teori yang banyak dipakai dalam menjelaskan perilaku split-ticket voting menempatkan pemilih pada level high information dengan niat dan kemampuan pemilih untuk memilah, membandingkan satu partai dengan partai lain atau antara satu kandidat dengan kandidat lain.
Menurut penulis, dalam konteks negara Indonesia (yakni tipe pemilih low information), yang berlaku justru adalah pendekatan yang low information pula. Ketika memutuskan untuk memilih (dan sebagai produk akhirnya adalah split-ticket voting) pemilih tidak melakukannya secara sengaja dan kompleks, membandingkan satu partai dengan partai lain atau antara satu kandidat dengan kandidat lain.
Yang terjadi adalah proses non-intensional di mana pemilih banyak menggunakan cues dalam mengambil keputusan (jalur peripheral). Berdasarkan riset-riset perilaku pemilih di negara lain dan di Indonesia, penulis melihat dua faktor penting yang berfungsi sebagai cues dalam mekanisme split-ticket voting, yakni kedekatan pada partai (PartyID) dan evaluasi kandidat presiden. Pengujian memperlihatkan model ini cukup baik dalam menjelaskan split-ticket voting di Indonesia.23 Survei bulan Mei dan Juni
23
Dalam tulisan ini, pengunaan istilah model low information dengan dua alasan. Pertama, untuk mengontraskan dengan model (teori-teori) yang mapan dalam riset split-ticket voting seperti model
keseimbangan Fiorina, model konflik harapan Jacobson, dan model kepemilikan isu Petrocik. Kedua, untuk memudahkan pembahasaan dan pembahasan konsep-konsep dalam tulisan ini. Penulis menyadari
2014 secara konsisten memperlihatkan hasil bahwa model ini cukup baik menjelaskan split-ticket voting di Indonesia.
6.4. Rekomendasi
Temuan dalam penelitian ini, terutama usulan mengenai model low information perlu diuji lebih lanjut. Penelitian selanjutnya bisa melanjutkan hasil dari studi ini.
1. Pengujian untuk konteks pemilu lain atau pilkada
Model low information yang ditawarkan oleh penulis perlu diuji lagi untuk pemilu lain selain Pemilu 2014, baik Pemilu sebelum 2014 (terutama Pemilu 2004 dan 2009 - jika datanya tersedia) ataupun Pemilu setelah 2014. Pengujian juga bisa dilakukan pada level pilkada. Pengujian ini diperlukan untuk melihat konsistensi hasil. Apakah temuan dan model yang penulis paparkan ini berlaku unik (hanya terjadi khusus pada Pemilu 2014) ataukah berlaku umum, bisa menjelaskan fenomena pemilu di Indonesia secara keseluruhan? Apakah hanya berlaku pada skala nasional atau juga pada skala lokal (dalam konteks pilkada langsung)?
2. Pengujian untuk pemilu di negara lain yang mempunyai konteks pemilu seperti Indonesia
Model ini disebuat sebagai model low information untuk dilawankan dengan model high information. Penulis berargumentasi bahwa kondisi Indonesia berbeda dengan negara dengan kategori high information tempat dimana teori-teori mengenai split-ticket voting ini banyak diuji dan memperoleh bukti empiris. Model low information ini secara teoritis bisa dipakai di negara lain yang mempunyai tipe dan kondisi yang sama dengan Indonesia - ditandai oleh pendidikan dan keterlibatan pemilih yang rendah, sistem multi partai, sistem pemilu proporsional, dan sejarah kepartaian yang pendek. Untuk
penggunaan istilah model ini harus dengan catatan karena pada dasarnya model ini bertumpu pada variable Party ID dan ketokohan yang notabene sudah lebih dulu dikenal sebagai model psikologis Michigan dan
model leadership Mujani dan Liddle. Yang baru dalam riset ini adalah model Michigan dan model Mujani
dan Liddle digunakan untuk menjelaskan fenomena split ticket voting, bukan menjelaskan perilaku pemilih partai atau memilih presiden. Yang baru juga dari riset ini adalah memperkenalkan teori ELM (Elaboration Likelihood Model) dalam menjelaskan perilaku split-ticket. Lewat teori ELM kita bisa melihat mekanisme pikiran pemilih ketika melakukan split voting, yakni melalui jalur peripheral dan bukan jalur sentral.
mengetahui apakah model ini bisa dipakai di negara lain dengan tipe yang sama dengan Indonesia, perlu pengujian lebih lanjut.
3. Pengujian dengan metode penelitian yang berbeda
Model low information tidak hanya menguji faktor atau variabel yang diduga menjelaskan split ticket voting di Indonesia, tapi juga mencoba merumuskan mekanisme yang berlangsung di kepala pemilih ketika melakukan split. Rumusan mekanisme itu dipinjam dari ilmu persuasi, khususnya teori ELM (Elaboration Likelihood Method) oleh Petty dan Cacioppo. Apakah mekanisme yang berlangsung benar seperti dikonstruksikan dalam penelitian ini dapat dikonfirmasi lebih jauh lewat penelitian eksperimental atau penelitian kualitatif yang menggali cara, tahap, dan proses berpikir pemilih ketika melakukan split-ticket voting di Indonesia.