• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI PETERNAKAN DALAM PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI PETERNAKAN DALAM PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASER"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI PETERNAKAN

DALAM PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASER

RIYANTodanFIKRI ARDHANI

Program Studi Agronomi dan Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian - Universitas Mulawarman

PENDAHULUAN

Keadaan lingkungan alam dari waktu ke

waktu semakin mengkhawatirkan, dimana

pemanasan global telah merupakan kenyataan dan tidak lagi sebagai teori . Dalam kaitannya dengan pemanasan global, maka lahan terbuka seperti sawah merupakan obyek yang menjadi sasaran utama terkena dampak kekeringan . Dengan demikian produksi bahan pangan akan

terkena dampak terlebih dahulu, dan

selanjutnya pakan ternak akan menyusul

menerima dampak lanjutan, sebagai akibat dari kurangnya sisa hasil pertanian yang dipakai sebagai pakan temak .

Perkebunan tanaman keras yang tajuknya menyerupai tajuk hutan, seperti berbagai perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, dan karet merupakan contoh baik dimana memiliki sistem perakaran dan seresah yang cukup

banyak yang dapat membantu dalam

penyerapan air hujan untuk tidak banyak yang lepas sebagai airrun-off. Dalam hamparan luas tanah di lantai perkebunan mampu menyimpan air selain untuk kepentingan tanaman itu sendiri juga untuk dilepaskan sebagai air tanah . Diantara tanaman budidaya tersebut masih terdapat ruang yang ditumbuhi oleh berbagai jenis rerumputan dan legume yang secara disengaja ataupun tidak disengaja ditanam diantara tanaman sebagai cover crop, yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, demikian juga rampasan dedaunan ataupun pelepah daun dapat juga sebagai pakan ternak .

Sisa produk pertanian yang melimpah,

khususnyajerami padi dan brangkasan jagung merupakan potensi yang cukup besar sebagai pakan ternak yang potensial, khususnya untuk program penggemukan selain dari hijauan padangan yang diperoleh dari berbagai tempat .

Integrasi peternakan dalam perkebunan

akan memberi peluang besar, mengingat

potensi limbah perkebunan dapat dimanfaatkan

secara optimal bagi program peternakan, dan hal ini didukung dengan program perluasan

perkebunan yang merupakan salah satu

program utama dari pemerintah Kabupaten Paser, sebagai inti dari visi dan misinya,

dimana Kabupaten Paser dikembangkan

sebagai daerah agribisnis dan agroindustri untuk produk perkebunan .

Integrasi peternakan dalam perkebunan

akan lebih sempurna, manakala didukung

dengan pertanian (limbah produk pertanian) sebagai pakan ternak yang potensial .

GLOBAL WARMINGYANG PERLU

DIANTISIPASI

Semenjak tahun 1988-1989, World

resources telah mengingatkan bahwa

seseorangpun tidak akan tahu bagimana iklim

regional akan merespon dampak dari

meningkatnya gas rumah kaca yang memberi

dampak pada pemanasan global . Dapat

dicontohkan disini bahwa suhu yang panas akan meningkatkan laju evaporasi, dan oleh karena itu akan menaikkan jumlah uap air yang ada di atmosfir dan awan, sehingga akan

mempengaruhi pola hujan regional .

Peningkatan evaporasi juga akan

mengakibatkan lebih banyak kelembaban tanah yang terevaporasi dan sebagai akibatnya tanah menjadi lebih kering . Sebagai contoh manakala hal tersebut terjadi di petak-petak persawahan,

maka sawah-sawah akan mengalami

kekeringan terlebih dahulu, sebab tanah sawah

hanya memiliki kedalamam bajak 30 cm,

dimana dibawahnya merupakan lapisan kedap

air (hard pan) . Sebagai dampak dari

kekeringan sawah akan terjadi kekurangan pangan dan pakan ternak .

Kondisi demikianlah yang dikhawatirkan dan untuk mecegah hal itu, dimana sawah tetap

mendapat air yang cukup, maka kawasan

(2)

mutlak diperlukan untuk dilindungi dan ditambah dengan kawasan perkebunan (ekologi seperti hutan) yang diperluas, maka sumber air bagi sawah akan terjamin untuk mengantisipasi dampak dari globalwarming .

Kekhawatiran tentang pemanasan global (global warming) tersebut mencuat kembali dalam beberapa waktu belakangan ini, balk

dari surat kabar KOMPAS maupun MAJALAH

TIME pada tahun 2006, bahwa perlu tindakan

antisipasi dalam kehidupan sehari-hari dalam ikut mengurangi pemanasan global . Salah satu diantara upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan yang tidak saja berasal dari sumber karbohidrat (beras, gandum, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kentang, dan sagu), tetapi juga dapat berasal dari daging, susu, ikan, telur, dsb .

Daging dapat diperoleh dari kegiatan

pemeliharaan ternak, balk ternak kecil maupun besar dan unggas . Ternak besar khususnya sapi dan kerbau dapat ditemakkan di kawasan perkebunan, hutan, dan pertanian . Di kawasan perkebunan dan kehutanan tersebut ternak sapi maupun kerbau dapat mencari pakan, balk dari

rerumputan maupun legume yang tumbuh

diantara pepohonan . Selain itu kondisi iklim

mikro di bawah naungan pepohonan

(perkebunan dan hutan) sangat cocok bagi kehidupan ternak-ternak tersebut, manakala suhu udara tinggi .

POTENSI KABUPATEN PASER SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN

PETERNAKAN SAPI

Kabupaten Paser (nama lama Kabupaten Pasir) memiliki beberapa kecamatan yang iklimnya relatif agak keying dibandingkan dengan kecamatan lainnya, sehingga daerah-daerah tersebut cocok untuk dikembangkan peternakan sapi (sebagai contoh) .

Pembangunan peternakan di Kabupaten Paser memiliki potensi besar karena alasan sbb:

I . Lahan 2 . Pakan ternak

3 . Teknologi inseminasi buatan 4 . Sumberdaya manusia Lahan

a . Lahan KBNK

Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak

Di Kabupaten Paser terdapat lahan KBNK (Kawasan Budidaya Non Kehutanan) seluas 72 .890 ha, yang dapat dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan . Seperti diketahui lahan alang-alang seluas I hektar dapat

menampung V2 ekor sapi, sehingga dapat

dibayangkan manakala luas lahan KBNK

tersebut ditumbuhi alang-alang semua maka akan dapat menampung sebanyak 36 .000 ekor sapi . Sudah tentu bila kualitas rerumputan atau tumbuhan di lahan KBNK tersebut bukan alang-alang tetapi rerumputan dan legume

yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber

pakan sapi dan kerbau makacarrying capacity

juga akan lebih besar lagi . b. Lahan di bawah perkebunan

Di Kabupaten Paser pada tahun 2005 luas lahan perkebunan kelapa sawit adalah 64 .469 ha, lahan perkebunan kelapa dalam 4 .161 ha, dan lahan perkebunan karet 6 .352 ha . Di lantai

lahan perkebunan tersebut sudah tentu

ditumbuhi berbagai macam rumput dan legume sebagai pakan ternak, dan sebagian lain lantai

kebun tersebut hanya ditumbuhi semak

belukar, karena tidak dirawat oleh pemiliknya . c . Lahan hutan

Hutan yang sudah rusak atau hutan bekas tebangan kebanyakan terdapat ruang terbuka dimana sinar matahari dapat masuk sampai ke lantai hutan, dan diantara tegakan pepohonan tersebut ditumbuhi rerumputan dan legume yang dapat dimakan ternak, oleh sebab itu di lantai hutan juga terdapat pakan ternak yang sering sifatnya potensial, seperti hutan jati di Jawa .

Demikian juga di pinggir hutan banyak

rerumputan dan legume yang dapat

dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi

maupun kerbau . Karena di pinggir hutan

biasanya petani mengusahakan budidaya

tanaman pangan dan sebagainya . Pakan ternak

a . Hijauan padangan

Banyak hijauan dalam bentuk rumput dan legume lokal yang tumbuh subur di lantai perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam dan karet, yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi maupun kerbau . Kualitas hijauan tersebut dapat ditingkatkan manakala kualitas

(3)

varietas rumput dan legume unggul . Dari Tabel I terlihat luas lahan perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, karet serta kaitannya dengan keberadaan ternak sapi dan kerbau di tiap kecamatan .

Dari data tersebut kelihatannya ada hubungan yang sejajar antara luas lahan kelapa sawit, kelapa dalam dan karet dengan jumlah

Tabel 1 . Luas lahan perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, karet dan keberadaan temak sapi dan kerbau di tiap kecamatan di Kabupaten Paser pada tahun 2005

Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak

b . Sisa hasil pertanian

Sisa hasil pertanian, khususnya padi, jagung, pucuk tebu dan juga pelepah daun kelapa sawit yang merupakan sumber utama pakan ternak peliharaan, seperti sapi dan kerbau . Dari data produksi padi dan jagung yang dihasilkan pada tahun 2005 dapat di estimasikan besaran jumlah limbah jerami padi dan brangkasan jagung yang dihasilkan, maka akan dapat dipakai sebagai pakan untuk program penggemukan sapi (sebagai contoh) .

ternak sapi maupun kerbau, seperti terlihat di Kecamatan Pasir Belengkong, Long Ikis dan Long Kali . Oleh sebab itu kemungkinan ada alasan bahwa ternak-ternak sapi maupun kerbau tersebut digembalakan di sekitar kebun-kebun kelapa sawit, kelapa dalam maupun kebun karet .

Limbah padi dan jagung (jerami dan brangkasan kering) bila dijumlahkan mencapai 45 .515 ton, dan apabila 80% saja (36 .412 ton) dimanfaatkan bagi kegiatan penggemukan sapi selama 120 hari (4 bulan) dimana rata-rata sapi yang akan digemukkan beratnya 200 kg (dengan asumsi pakan 20 kg bahan kering/ ekor), maka jumlah limbah tersebut akan mampu menggemukkan sebanyak 15 .171 ekor sapi . Suatu jumlah yang tidak kecil, bila dibandingkan dengan keberadaan sapi di Kabupaten Paser tahun 2005 hanya 6 .062 ekor . label 2 . Produksi padi dan jagung serta limbah (jerami dan brangkasan) di Kabupaten Paser, pada tahun

2005

Kecamatan Padi sawah (ton) Padi ladang (ton) Jagung (ton)

produksi jerami produksi jerami produksi Brangkasan

1 . Batu Sopang 15 1 .575 24 2. Muara Samu 58 1 .269 75 3 . Tanjung Harapan 12 12 0 4 . Batu Engau 117 2 .210 548 5 . Pasir Belengkong 3 .063 571 24 6 . Tanah Grogot 4 .538 187 16 7 . Kuaro 1 .340 1 .174 333 8 . Long Ikis 7 .937 3 .029 258 9 . Muara Komam 0 4 .654 462 10 . Long Kali 1 .649 1 .596 20 Jumlah 18 .729 22 .524 16 .277 19 .575 1 .760 3 .416

Kecamatan Kelapa sawit (ha) Kelapa dalam (ha) Karet (ha) Keberadaan temak Sapi (ekor) Kerbau (ekor)

1 . Batu Sopang 484 65 240 97 8 2 . Muara Samu 120 45 368 85 6 3 . Teluk Harapan 1 .080 304 0 56 6 4 . Batu Engau 12 .769 420 214 128 16 5 . Pasir Belengkong 10.948 438 581 1 .587 23 6 . Tanah Grogot 1 .165 840 33 675 12 7 . Kuaro 8 .565 129 f 885 956 13 8 . Long Ikis 22.342 146 755 1 .669 272 9 . Muara Komam 476 122 414 545 12 10 . Long Kali 6 .519 1 .485 2 .862 264 217 Jumlah 64.469 4 .161 6 .352 6 .062 585

(4)

c . Sisa/limbah produk induutri

Beberapa indsutri pengolahan TBS kelapa sawit, ataupun pengolahan kelapa dalam dan juga kacang tanah, sering menghasilkan produk samping seperti bungkil, yaitu bungkil kernel kelapa sawit, bungkil kelapa dan bungkil kacang . Jenis bungkil-bungkil tersebut masih memiliki kandungan protein cukup tinggi yang balk bagi pakan suplemen untuk ternak sapi maupun kerbau .

Teknologi inseminasi buatan

Masyarakat peternak sapi di Kabupaten Paser telah lama mengembangkan ternaknya dengan kawin suntik yaitu dengan Inseminasi Buatan (IB), karena dari cara demikian akan

diperoleh anakan yang kualitasnya dan

kesehatannya jauh lebih balk, demikian juga dengan harga jualnya . Harga sapi hasil IB jauh

lebih tinggi dari harga sapi hasil perkawinan alami . Dengan perkawinan IB akan terhindar degradasi kualitas sapi yang dimiliki peternak .

Di Kabupaten Penajam Paser Utara telah

lama berdiri UPTD-BBIB (UPTD-Balai

Pembibitan dan Inseminasi Buatan) milik Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur, yang telah menghasilkan produk straw untuk

IB . Produk tersebut telah lama dimanfaatkan oleh peternak sapi di Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara secara luas, disamping straw untuk IB dari Singosasri, Jawa Timur . Oleh sebab itu teknologi IB telah berkembang luas di masyarakat peternak di

kedua kabupaten tersebut dan sangat

mendukung pengembangan peternakan sapi berkualitas di kedua kabupaten tersebut khususnya dan Provinsi Kalimantan Timur

umumnya .

Sumberdaya manusia

Sumberdaya manusia peternak di

Kabupaten Paser cukup banyak, dan sesuai dengan kultur mereka mengembangkan ternak sapi merupakan kegiatan yang telah lama ditekuni . Oleh sebab itu penyebaran temak sapi

bibit sangat antusias diterima oleh para peternak sapi, terlebih tersedia teknologi IB dan adanya produksi straw yang dihasilkan oleh UPTD-BBIB sangat membantu dalam

Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawii dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak

penyebaran teknologi IB bagi ternak sapi,

maka para peternak sapi semakin aktif

mengembangkan ternaknya .

Ketersediaan pakan, balk dari sisa -sisa hasil tanaman pangan maupun rerumputan yang tumbuh diantara tanaman perkebunan menjadikan beberapa kecamatan di kabupaten Paser mengembangkan peternakan sapi, seperti terlihat dalam Tabel I tersebut diatas .

Dengan teknologi IB yang telah

berkembang maju bagi para peternak sapi di Kabupaten Paser, menyebabkan keturunan sapi menjadi berkualitas serta memiliki harga cukup mahal bila dibandingkan dengan sapi jenis Bali . Para peternak lebih menyenangi apabila anakan sapi mereka jantan, karena memiliki harga jual yang lebih mahal .

INTEGRASI PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASER

Integrasi peternakan di perkebunan telah lama dilakukan oleh para petani tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai negara Asia, seperti Filipina, Thailand. Integrasi peternakan di kehutanan (hutan jati, HTI), dan perkebunan

dikenal secara luas sebagai praktek

Agroforestri . Dimana dalam pengertian secara umum dikatakan bahwa Agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan secara lestari dimana pepohonan (contoh : kelapa sawit, kelapa dalam, karet, dsb) ditanam bersama-sama dengan tanaman pangan, pastur atau ternak . Dimana hubungan tersebut dapat dalam bentuk bergantian atau bersamaan pada lahan yang sama . Biasanya diperoleh interaksi keuntungan ekonomi maupun ekologi antara komponen

penyusun tersebut . Jadi dengan adanya

integrasi peternakan dan perkebunan itu sebenarnya bukanlah hal yang tak biasa, tetapi merupakan hal yang telah lama dijalankan oleh petani .

Berbagai keuntungan yang diperoleh dari interaksi peternakan dan perkebunan adalah :

1 . Keuntungan ekonomi, sudah jelas

dimana petani selain memperoleh

keuntungan dari hasil kebun/

perkebunan yang diusahakan, juga

diperoleh keuntungan dari ternak yang dipelihara .

2 . Dari keuntungan tersebut kesejahteraan petani semakin meningkat, karena usaha

(5)

Seminar Oplimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak

budidaya tidak lagi tunggal (kebun saja, dimana ada resiko hasil kebun harganya rendah), tetapi juga dari usaha budidaya

ternak . Dengan demikian ada

penyebaran resiko dalam usaha tani mereka.

3 . Ternak yang digembalakan di kebun/ perkebunan akan memperoleh pakan dari berbagai jenis rumput dan legum yang tumbuh di lantai kebun . Faeces dan urin ternak akan tersebar di kebun dan menjadikan sumber nutrisi kebun/

tanaman tersebut sebagai pupuk

organik .

4 . Pupuk organik yang diperkirakan

berasal darifaeces sekitar 8-10 kg/ekor

ternak sapi (basah) merupakan

sumbangan yang sangat berharga bagi pertanaman, sehingga secara ekologis sangat baik .

5 . Bila diperhitungkan masa penggemukan seekor sapi tersebut selama 4 bulan (120

hari), maka sumbangan faeces pada

lantai kebun berkisar antara 8-10 kg x 120 hari = 960-1200 kg (kotoran basah) .

Dimana jumlah dan kualitas faeces

tergantung dari jenis dan kualitas pakan

serta air yang diberikan dan juga

kondisi cuaca setempat. Dari faeces

basah tersebut, bila dihitung

berdasarkan rata-rata hasil analisis kotoran sapi basah adalah : N = 1,00%, P = 0,20-0,50%, K= 1,35-1,50% dan bahan organik sekitar 10% . Maka dalam kurun waktu 120 hari (penggemukan) per ekor sapi akan menyumbangkan kotorannya ke lantai kebun berbagai

unsur hara seperti : Nitrogen (N)

sebanyak 12 kg, P = (1,924,8 kg) -(2,4-6 kg), K = (12,9-14,4 kg) - (16,2-18 kg), dan bahan organik sebanyak 96-120 kg .

6. Dengan demikian program pemupukan (dosis pupuk) untuk kebun/perkebunan tersebut akan banyak dikurangi jumlah-nya dan program pemupukan akan lebih efisien karena kandungan bahan organik tanah meningkat .

7 . Kondisi tanah di lantai kebun/

perkebunan menjadi baik secara fisik, kimia dan biologis . Sehingga kehidupan organisme tanah semakin baik dalam

perombakan bahan organik dan residu lainnya .

8 . Kondisi demikian akan meningkatkan kesehatan bagi pertanaman itu sendiri,

karena dengan berkembangnya

organisme tanah menjadi predator bagi berbagai hama dan penyakit tanaman yang dibudidayakan, sehingga tanaman akan menjadi lebih sehat .

9 . Dengan integrasi peternakan dalam perkebunan (SITT), terjadi siklus materi (unsur hara) secara internal yang lebih sempurna dan tidak ada yang keluar (terbuang) .

10 . Ternak sapi dan kerbau yang

diusahakan dapat dimanfaatkan sebagai tenaga penarik beban hasil panen TBS yang lebih kuat serta tidak memerlukan BBM, sehingga kegiatan panen dan transportasi TBS lebih efektif dan efisien .

11 . Keseluruhan tersebut akhirnya

merupakan suatu kegiatan yang dikenal sebagai sistem "Low External Input Sustainable Agriculture" (LEISA) (Sistem Pertanian Berkelanjutan dengan

InputLuar Rendah) .

PETERNAKAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Perkebunan kelapa sawit perusahaan

Sebagaimana telah disinggung bahwa

ternak yang digembalakan di perkebunan

kelapa sawit memperoleh pakan dari

rerumputan dan legum yang tumbuh diantara

pepohonan kelapa sawit, dimana legum

merupakan tanaman yang standar bagi

budidaya tanaman kelapa sawit sebagai cover crop . Selain itu ternak sapi dapat juga memperoleh pakan dari pelepah daun kelapa sawit hasil dari perawatan kelapa sawit atau juga hasil tebasan pada saat panen TBS .

Ternak sapi juga dapat memperoleh pakan dari by-product industri minyak kelapa sawit

yang terbuang .

Perkebunan rakyat kelapa sawit, kelapa dalam dan karet

Untuk perkebunan rakyat khususnya kelapa sawit, kelapa dalam dan karet, maka pakan

(6)

Seminar Optimalisast Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak

ternak biasanya diperoleh diantara tegakan tanaman perkebunan tersebut, hanya bedanya di perkebunan rakyat umumnya tak terawat sehingga lantai kebun banyak yang ditumbuhi semak-semak . Oleh sebab itu potensi tersebut dapat ditingkatkan apabila di lantai per-kebunan tersebut diperkaya dengan berbagai jenis tanaman legum (Centro dan Peuraria)

dan rumput yang tahan terhadap naungan

(Panicum maximum dan Paspalum plicatum) . Pakan ternak di areal perkebunan rakyat dapat diperkaya dengan menambahkan pakan sisa-sisa hasil pertanian (jerami padi dan brangkasan jagung) yang berasal dari lahan budidaya sawah atau ladang petani . Karena umumnya peternak sapi itu selain memiliki lahan kebun/perkebunan juga memiliki lahan sawah atau tegalan (lahan kering) untuk

menambah pendapatan keluarga. Sehingga

integrasi peternakan dan perkebunan akan lengkap dengan keikutsertaan pertanian dalam pengembangan peternakan di Kabupaten Paser .

BAGAIMANA PROSPEK INTEGRASI PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN DI

KABUPATEN PASER?

Prospek peternakan dan perkebunan di Kabupaten Paser akan dapat berjalan, apabila :

1 . Ada keinginan yang kuat dari petani/ peternak itu sendiri .

2 . Harus ada political will yang kuat dan konsisten dari fihak legislatif dan eksekutif dalam hal pendanaan (sesuai dengan Visi dan Misi Pembangunan Kabupaten Paser, yaitu agribisnis dan agroindustri)

3 . Mampu menggerakan PPL Peternakan dalam pendampingan petani/peternak dengan prinsip partisipatif, serta dengan

dukungan biaya operasional yang

memadai . Demikian juga diperlukan tambahan jumlah PPL Peternakan di

Kabupaten Paser .

4 . Diperlukan need assement petani/

peternak sehingga program

pendam-pingan oleh PPL bersifat efektif. 5 . Diperlukan kerjasama kemitraan antara

perusahaan

(PBN

dan

PBS)

dengan

petani/pekebunan (Pola Kemitraan

Tradisional, Pola Kemitraan Pemerintah atau Pola Kemitraan Pasar) .

DAFTAR PUSTAKA

ANTHONY YOUNG . 1997 . Agroforestry for soil management. ICRAF and CAB Internasional .

320pp .

DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN . 2005 .

Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasir . Tahun2005 . BADAN PUSAT STATISTIK . 2006 . Kabupaten Pasir

Dalam Angka . 2006 . Kerjasama BPS dan Pemerintah Kabupaten Paser .

WORLD RESOURCES . 1988-1989 . World Resources Institute in Collaboration with United Nations Environment Programme .

Y . FAUZI, Y . E . WIDYASTUTI, I . SATYAWIBAWA,dan R. HARTONO . 2004 . Kelapa sawit. budidaya, pemanfaatan hasil dan limbah . Analisis Usaha dan Pemasaran . Penebar Swadaya . 167him .

Gambar

Tabel 1 . Luas lahan perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, karet dan keberadaan temak sapi dan kerbau di tiap kecamatan di Kabupaten Paser pada tahun 2005

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian pewarnaan pada jamur dengan cara diidentifikasi menggunakan pewarnaan dengan lactophenol blue , pertama siapkan media agar sebanyak 5 ml secara aseptis

Berdasarkan hasil analisis data, temuan dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1) Kemampuan interkoneksi multiple

Strategi Perancangan Mutu Ripe Banana Chip (RBC) Berbasis Harapan Konsumen ; Diana Iftitah Susilowati ; 101710101075; 2015; 63 halaman; Jurusan Teknologi Hasil

SISTEM PELAPORAN BUDAYA KESELAMATAN RUMAH SAKIT '& 'ama 7abatan #etua #&mite #eselamatan Pasien Rumah Sakit 1 Pengertian 7abatan Sese&rang yang diberikan wewenang

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) Informasi rasio keuangan tahun 2001 bermanfaat atau dapat digunakan untuk memprediksi perubahan laba tahun 2002 dan H1 diterima..

Namun hal ini tidak benar adanya karena dengan menerapkan eko- efisiensi maka UKM akan memperoleh keuntungan yang lebih besar (WBCSD, 2007: 36) sehingga yang dapat

Pengembangan bahan ajar pada materi dongeng yang diperuntukkan kelas III telah di validasi oleh ahli dan pengguna dengan hasil bahwa bahan ajar yang dikembangkan

“Hukum materiil sipil dan untuk sementara waktupun hukum materiil pidana sipil yang sampai kini berlaku untuk kaula-kaula daerah Swapraja dan orang-orang yang dahulu