PROSPEK PENGEMBANGAN INTEGRASI PETERNAKAN
DALAM PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASER
RIYANTodanFIKRI ARDHANI
Program Studi Agronomi dan Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian - Universitas Mulawarman
PENDAHULUAN
Keadaan lingkungan alam dari waktu ke
waktu semakin mengkhawatirkan, dimana
pemanasan global telah merupakan kenyataan dan tidak lagi sebagai teori . Dalam kaitannya dengan pemanasan global, maka lahan terbuka seperti sawah merupakan obyek yang menjadi sasaran utama terkena dampak kekeringan . Dengan demikian produksi bahan pangan akan
terkena dampak terlebih dahulu, dan
selanjutnya pakan ternak akan menyusul
menerima dampak lanjutan, sebagai akibat dari kurangnya sisa hasil pertanian yang dipakai sebagai pakan temak .
Perkebunan tanaman keras yang tajuknya menyerupai tajuk hutan, seperti berbagai perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, dan karet merupakan contoh baik dimana memiliki sistem perakaran dan seresah yang cukup
banyak yang dapat membantu dalam
penyerapan air hujan untuk tidak banyak yang lepas sebagai airrun-off. Dalam hamparan luas tanah di lantai perkebunan mampu menyimpan air selain untuk kepentingan tanaman itu sendiri juga untuk dilepaskan sebagai air tanah . Diantara tanaman budidaya tersebut masih terdapat ruang yang ditumbuhi oleh berbagai jenis rerumputan dan legume yang secara disengaja ataupun tidak disengaja ditanam diantara tanaman sebagai cover crop, yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, demikian juga rampasan dedaunan ataupun pelepah daun dapat juga sebagai pakan ternak .
Sisa produk pertanian yang melimpah,
khususnyajerami padi dan brangkasan jagung merupakan potensi yang cukup besar sebagai pakan ternak yang potensial, khususnya untuk program penggemukan selain dari hijauan padangan yang diperoleh dari berbagai tempat .
Integrasi peternakan dalam perkebunan
akan memberi peluang besar, mengingat
potensi limbah perkebunan dapat dimanfaatkan
secara optimal bagi program peternakan, dan hal ini didukung dengan program perluasan
perkebunan yang merupakan salah satu
program utama dari pemerintah Kabupaten Paser, sebagai inti dari visi dan misinya,
dimana Kabupaten Paser dikembangkan
sebagai daerah agribisnis dan agroindustri untuk produk perkebunan .
Integrasi peternakan dalam perkebunan
akan lebih sempurna, manakala didukung
dengan pertanian (limbah produk pertanian) sebagai pakan ternak yang potensial .
GLOBAL WARMINGYANG PERLU
DIANTISIPASI
Semenjak tahun 1988-1989, World
resources telah mengingatkan bahwa
seseorangpun tidak akan tahu bagimana iklim
regional akan merespon dampak dari
meningkatnya gas rumah kaca yang memberi
dampak pada pemanasan global . Dapat
dicontohkan disini bahwa suhu yang panas akan meningkatkan laju evaporasi, dan oleh karena itu akan menaikkan jumlah uap air yang ada di atmosfir dan awan, sehingga akan
mempengaruhi pola hujan regional .
Peningkatan evaporasi juga akan
mengakibatkan lebih banyak kelembaban tanah yang terevaporasi dan sebagai akibatnya tanah menjadi lebih kering . Sebagai contoh manakala hal tersebut terjadi di petak-petak persawahan,
maka sawah-sawah akan mengalami
kekeringan terlebih dahulu, sebab tanah sawah
hanya memiliki kedalamam bajak 30 cm,
dimana dibawahnya merupakan lapisan kedap
air (hard pan) . Sebagai dampak dari
kekeringan sawah akan terjadi kekurangan pangan dan pakan ternak .
Kondisi demikianlah yang dikhawatirkan dan untuk mecegah hal itu, dimana sawah tetap
mendapat air yang cukup, maka kawasan
mutlak diperlukan untuk dilindungi dan ditambah dengan kawasan perkebunan (ekologi seperti hutan) yang diperluas, maka sumber air bagi sawah akan terjamin untuk mengantisipasi dampak dari globalwarming .
Kekhawatiran tentang pemanasan global (global warming) tersebut mencuat kembali dalam beberapa waktu belakangan ini, balk
dari surat kabar KOMPAS maupun MAJALAH
TIME pada tahun 2006, bahwa perlu tindakan
antisipasi dalam kehidupan sehari-hari dalam ikut mengurangi pemanasan global . Salah satu diantara upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan yang tidak saja berasal dari sumber karbohidrat (beras, gandum, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kentang, dan sagu), tetapi juga dapat berasal dari daging, susu, ikan, telur, dsb .
Daging dapat diperoleh dari kegiatan
pemeliharaan ternak, balk ternak kecil maupun besar dan unggas . Ternak besar khususnya sapi dan kerbau dapat ditemakkan di kawasan perkebunan, hutan, dan pertanian . Di kawasan perkebunan dan kehutanan tersebut ternak sapi maupun kerbau dapat mencari pakan, balk dari
rerumputan maupun legume yang tumbuh
diantara pepohonan . Selain itu kondisi iklim
mikro di bawah naungan pepohonan
(perkebunan dan hutan) sangat cocok bagi kehidupan ternak-ternak tersebut, manakala suhu udara tinggi .
POTENSI KABUPATEN PASER SEBAGAI PUSAT PENGEMBANGAN
PETERNAKAN SAPI
Kabupaten Paser (nama lama Kabupaten Pasir) memiliki beberapa kecamatan yang iklimnya relatif agak keying dibandingkan dengan kecamatan lainnya, sehingga daerah-daerah tersebut cocok untuk dikembangkan peternakan sapi (sebagai contoh) .
Pembangunan peternakan di Kabupaten Paser memiliki potensi besar karena alasan sbb:
I . Lahan 2 . Pakan ternak
3 . Teknologi inseminasi buatan 4 . Sumberdaya manusia Lahan
a . Lahan KBNK
Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak
Di Kabupaten Paser terdapat lahan KBNK (Kawasan Budidaya Non Kehutanan) seluas 72 .890 ha, yang dapat dimanfaatkan sebagai padang penggembalaan . Seperti diketahui lahan alang-alang seluas I hektar dapat
menampung V2 ekor sapi, sehingga dapat
dibayangkan manakala luas lahan KBNK
tersebut ditumbuhi alang-alang semua maka akan dapat menampung sebanyak 36 .000 ekor sapi . Sudah tentu bila kualitas rerumputan atau tumbuhan di lahan KBNK tersebut bukan alang-alang tetapi rerumputan dan legume
yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber
pakan sapi dan kerbau makacarrying capacity
juga akan lebih besar lagi . b. Lahan di bawah perkebunan
Di Kabupaten Paser pada tahun 2005 luas lahan perkebunan kelapa sawit adalah 64 .469 ha, lahan perkebunan kelapa dalam 4 .161 ha, dan lahan perkebunan karet 6 .352 ha . Di lantai
lahan perkebunan tersebut sudah tentu
ditumbuhi berbagai macam rumput dan legume sebagai pakan ternak, dan sebagian lain lantai
kebun tersebut hanya ditumbuhi semak
belukar, karena tidak dirawat oleh pemiliknya . c . Lahan hutan
Hutan yang sudah rusak atau hutan bekas tebangan kebanyakan terdapat ruang terbuka dimana sinar matahari dapat masuk sampai ke lantai hutan, dan diantara tegakan pepohonan tersebut ditumbuhi rerumputan dan legume yang dapat dimakan ternak, oleh sebab itu di lantai hutan juga terdapat pakan ternak yang sering sifatnya potensial, seperti hutan jati di Jawa .
Demikian juga di pinggir hutan banyak
rerumputan dan legume yang dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi
maupun kerbau . Karena di pinggir hutan
biasanya petani mengusahakan budidaya
tanaman pangan dan sebagainya . Pakan ternak
a . Hijauan padangan
Banyak hijauan dalam bentuk rumput dan legume lokal yang tumbuh subur di lantai perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam dan karet, yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi maupun kerbau . Kualitas hijauan tersebut dapat ditingkatkan manakala kualitas
varietas rumput dan legume unggul . Dari Tabel I terlihat luas lahan perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, karet serta kaitannya dengan keberadaan ternak sapi dan kerbau di tiap kecamatan .
Dari data tersebut kelihatannya ada hubungan yang sejajar antara luas lahan kelapa sawit, kelapa dalam dan karet dengan jumlah
Tabel 1 . Luas lahan perkebunan kelapa sawit, kelapa dalam, karet dan keberadaan temak sapi dan kerbau di tiap kecamatan di Kabupaten Paser pada tahun 2005
Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak
b . Sisa hasil pertanian
Sisa hasil pertanian, khususnya padi, jagung, pucuk tebu dan juga pelepah daun kelapa sawit yang merupakan sumber utama pakan ternak peliharaan, seperti sapi dan kerbau . Dari data produksi padi dan jagung yang dihasilkan pada tahun 2005 dapat di estimasikan besaran jumlah limbah jerami padi dan brangkasan jagung yang dihasilkan, maka akan dapat dipakai sebagai pakan untuk program penggemukan sapi (sebagai contoh) .
ternak sapi maupun kerbau, seperti terlihat di Kecamatan Pasir Belengkong, Long Ikis dan Long Kali . Oleh sebab itu kemungkinan ada alasan bahwa ternak-ternak sapi maupun kerbau tersebut digembalakan di sekitar kebun-kebun kelapa sawit, kelapa dalam maupun kebun karet .
Limbah padi dan jagung (jerami dan brangkasan kering) bila dijumlahkan mencapai 45 .515 ton, dan apabila 80% saja (36 .412 ton) dimanfaatkan bagi kegiatan penggemukan sapi selama 120 hari (4 bulan) dimana rata-rata sapi yang akan digemukkan beratnya 200 kg (dengan asumsi pakan 20 kg bahan kering/ ekor), maka jumlah limbah tersebut akan mampu menggemukkan sebanyak 15 .171 ekor sapi . Suatu jumlah yang tidak kecil, bila dibandingkan dengan keberadaan sapi di Kabupaten Paser tahun 2005 hanya 6 .062 ekor . label 2 . Produksi padi dan jagung serta limbah (jerami dan brangkasan) di Kabupaten Paser, pada tahun
2005
Kecamatan Padi sawah (ton) Padi ladang (ton) Jagung (ton)
produksi jerami produksi jerami produksi Brangkasan
1 . Batu Sopang 15 1 .575 24 2. Muara Samu 58 1 .269 75 3 . Tanjung Harapan 12 12 0 4 . Batu Engau 117 2 .210 548 5 . Pasir Belengkong 3 .063 571 24 6 . Tanah Grogot 4 .538 187 16 7 . Kuaro 1 .340 1 .174 333 8 . Long Ikis 7 .937 3 .029 258 9 . Muara Komam 0 4 .654 462 10 . Long Kali 1 .649 1 .596 20 Jumlah 18 .729 22 .524 16 .277 19 .575 1 .760 3 .416
Kecamatan Kelapa sawit (ha) Kelapa dalam (ha) Karet (ha) Keberadaan temak Sapi (ekor) Kerbau (ekor)
1 . Batu Sopang 484 65 240 97 8 2 . Muara Samu 120 45 368 85 6 3 . Teluk Harapan 1 .080 304 0 56 6 4 . Batu Engau 12 .769 420 214 128 16 5 . Pasir Belengkong 10.948 438 581 1 .587 23 6 . Tanah Grogot 1 .165 840 33 675 12 7 . Kuaro 8 .565 129 f 885 956 13 8 . Long Ikis 22.342 146 755 1 .669 272 9 . Muara Komam 476 122 414 545 12 10 . Long Kali 6 .519 1 .485 2 .862 264 217 Jumlah 64.469 4 .161 6 .352 6 .062 585
c . Sisa/limbah produk induutri
Beberapa indsutri pengolahan TBS kelapa sawit, ataupun pengolahan kelapa dalam dan juga kacang tanah, sering menghasilkan produk samping seperti bungkil, yaitu bungkil kernel kelapa sawit, bungkil kelapa dan bungkil kacang . Jenis bungkil-bungkil tersebut masih memiliki kandungan protein cukup tinggi yang balk bagi pakan suplemen untuk ternak sapi maupun kerbau .
Teknologi inseminasi buatan
Masyarakat peternak sapi di Kabupaten Paser telah lama mengembangkan ternaknya dengan kawin suntik yaitu dengan Inseminasi Buatan (IB), karena dari cara demikian akan
diperoleh anakan yang kualitasnya dan
kesehatannya jauh lebih balk, demikian juga dengan harga jualnya . Harga sapi hasil IB jauh
lebih tinggi dari harga sapi hasil perkawinan alami . Dengan perkawinan IB akan terhindar degradasi kualitas sapi yang dimiliki peternak .
Di Kabupaten Penajam Paser Utara telah
lama berdiri UPTD-BBIB (UPTD-Balai
Pembibitan dan Inseminasi Buatan) milik Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur, yang telah menghasilkan produk straw untuk
IB . Produk tersebut telah lama dimanfaatkan oleh peternak sapi di Kabupaten Paser dan Kabupaten Penajam Paser Utara secara luas, disamping straw untuk IB dari Singosasri, Jawa Timur . Oleh sebab itu teknologi IB telah berkembang luas di masyarakat peternak di
kedua kabupaten tersebut dan sangat
mendukung pengembangan peternakan sapi berkualitas di kedua kabupaten tersebut khususnya dan Provinsi Kalimantan Timur
umumnya .
Sumberdaya manusia
Sumberdaya manusia peternak di
Kabupaten Paser cukup banyak, dan sesuai dengan kultur mereka mengembangkan ternak sapi merupakan kegiatan yang telah lama ditekuni . Oleh sebab itu penyebaran temak sapi
bibit sangat antusias diterima oleh para peternak sapi, terlebih tersedia teknologi IB dan adanya produksi straw yang dihasilkan oleh UPTD-BBIB sangat membantu dalam
Seminar Optimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawii dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak
penyebaran teknologi IB bagi ternak sapi,
maka para peternak sapi semakin aktif
mengembangkan ternaknya .
Ketersediaan pakan, balk dari sisa -sisa hasil tanaman pangan maupun rerumputan yang tumbuh diantara tanaman perkebunan menjadikan beberapa kecamatan di kabupaten Paser mengembangkan peternakan sapi, seperti terlihat dalam Tabel I tersebut diatas .
Dengan teknologi IB yang telah
berkembang maju bagi para peternak sapi di Kabupaten Paser, menyebabkan keturunan sapi menjadi berkualitas serta memiliki harga cukup mahal bila dibandingkan dengan sapi jenis Bali . Para peternak lebih menyenangi apabila anakan sapi mereka jantan, karena memiliki harga jual yang lebih mahal .
INTEGRASI PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN DI KABUPATEN PASER
Integrasi peternakan di perkebunan telah lama dilakukan oleh para petani tidak saja di Indonesia tetapi juga di berbagai negara Asia, seperti Filipina, Thailand. Integrasi peternakan di kehutanan (hutan jati, HTI), dan perkebunan
dikenal secara luas sebagai praktek
Agroforestri . Dimana dalam pengertian secara umum dikatakan bahwa Agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan secara lestari dimana pepohonan (contoh : kelapa sawit, kelapa dalam, karet, dsb) ditanam bersama-sama dengan tanaman pangan, pastur atau ternak . Dimana hubungan tersebut dapat dalam bentuk bergantian atau bersamaan pada lahan yang sama . Biasanya diperoleh interaksi keuntungan ekonomi maupun ekologi antara komponen
penyusun tersebut . Jadi dengan adanya
integrasi peternakan dan perkebunan itu sebenarnya bukanlah hal yang tak biasa, tetapi merupakan hal yang telah lama dijalankan oleh petani .
Berbagai keuntungan yang diperoleh dari interaksi peternakan dan perkebunan adalah :
1 . Keuntungan ekonomi, sudah jelas
dimana petani selain memperoleh
keuntungan dari hasil kebun/
perkebunan yang diusahakan, juga
diperoleh keuntungan dari ternak yang dipelihara .
2 . Dari keuntungan tersebut kesejahteraan petani semakin meningkat, karena usaha
Seminar Oplimalisasi Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan Industri Olahannya sebagai Pakan Ternak
budidaya tidak lagi tunggal (kebun saja, dimana ada resiko hasil kebun harganya rendah), tetapi juga dari usaha budidaya
ternak . Dengan demikian ada
penyebaran resiko dalam usaha tani mereka.
3 . Ternak yang digembalakan di kebun/ perkebunan akan memperoleh pakan dari berbagai jenis rumput dan legum yang tumbuh di lantai kebun . Faeces dan urin ternak akan tersebar di kebun dan menjadikan sumber nutrisi kebun/
tanaman tersebut sebagai pupuk
organik .
4 . Pupuk organik yang diperkirakan
berasal darifaeces sekitar 8-10 kg/ekor
ternak sapi (basah) merupakan
sumbangan yang sangat berharga bagi pertanaman, sehingga secara ekologis sangat baik .
5 . Bila diperhitungkan masa penggemukan seekor sapi tersebut selama 4 bulan (120
hari), maka sumbangan faeces pada
lantai kebun berkisar antara 8-10 kg x 120 hari = 960-1200 kg (kotoran basah) .
Dimana jumlah dan kualitas faeces
tergantung dari jenis dan kualitas pakan
serta air yang diberikan dan juga
kondisi cuaca setempat. Dari faeces
basah tersebut, bila dihitung
berdasarkan rata-rata hasil analisis kotoran sapi basah adalah : N = 1,00%, P = 0,20-0,50%, K= 1,35-1,50% dan bahan organik sekitar 10% . Maka dalam kurun waktu 120 hari (penggemukan) per ekor sapi akan menyumbangkan kotorannya ke lantai kebun berbagai
unsur hara seperti : Nitrogen (N)
sebanyak 12 kg, P = (1,924,8 kg) -(2,4-6 kg), K = (12,9-14,4 kg) - (16,2-18 kg), dan bahan organik sebanyak 96-120 kg .
6. Dengan demikian program pemupukan (dosis pupuk) untuk kebun/perkebunan tersebut akan banyak dikurangi jumlah-nya dan program pemupukan akan lebih efisien karena kandungan bahan organik tanah meningkat .
7 . Kondisi tanah di lantai kebun/
perkebunan menjadi baik secara fisik, kimia dan biologis . Sehingga kehidupan organisme tanah semakin baik dalam
perombakan bahan organik dan residu lainnya .
8 . Kondisi demikian akan meningkatkan kesehatan bagi pertanaman itu sendiri,
karena dengan berkembangnya
organisme tanah menjadi predator bagi berbagai hama dan penyakit tanaman yang dibudidayakan, sehingga tanaman akan menjadi lebih sehat .
9 . Dengan integrasi peternakan dalam perkebunan (SITT), terjadi siklus materi (unsur hara) secara internal yang lebih sempurna dan tidak ada yang keluar (terbuang) .
10 . Ternak sapi dan kerbau yang
diusahakan dapat dimanfaatkan sebagai tenaga penarik beban hasil panen TBS yang lebih kuat serta tidak memerlukan BBM, sehingga kegiatan panen dan transportasi TBS lebih efektif dan efisien .
11 . Keseluruhan tersebut akhirnya
merupakan suatu kegiatan yang dikenal sebagai sistem "Low External Input Sustainable Agriculture" (LEISA) (Sistem Pertanian Berkelanjutan dengan
InputLuar Rendah) .
PETERNAKAN DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Perkebunan kelapa sawit perusahaan
Sebagaimana telah disinggung bahwa
ternak yang digembalakan di perkebunan
kelapa sawit memperoleh pakan dari
rerumputan dan legum yang tumbuh diantara
pepohonan kelapa sawit, dimana legum
merupakan tanaman yang standar bagi
budidaya tanaman kelapa sawit sebagai cover crop . Selain itu ternak sapi dapat juga memperoleh pakan dari pelepah daun kelapa sawit hasil dari perawatan kelapa sawit atau juga hasil tebasan pada saat panen TBS .
Ternak sapi juga dapat memperoleh pakan dari by-product industri minyak kelapa sawit
yang terbuang .
Perkebunan rakyat kelapa sawit, kelapa dalam dan karet
Untuk perkebunan rakyat khususnya kelapa sawit, kelapa dalam dan karet, maka pakan
Seminar Optimalisast Hasil Samping Perkebunan Kelapa Sawit dan industri 0lahannya sebagai Pakan Ternak
ternak biasanya diperoleh diantara tegakan tanaman perkebunan tersebut, hanya bedanya di perkebunan rakyat umumnya tak terawat sehingga lantai kebun banyak yang ditumbuhi semak-semak . Oleh sebab itu potensi tersebut dapat ditingkatkan apabila di lantai per-kebunan tersebut diperkaya dengan berbagai jenis tanaman legum (Centro dan Peuraria)
dan rumput yang tahan terhadap naungan
(Panicum maximum dan Paspalum plicatum) . Pakan ternak di areal perkebunan rakyat dapat diperkaya dengan menambahkan pakan sisa-sisa hasil pertanian (jerami padi dan brangkasan jagung) yang berasal dari lahan budidaya sawah atau ladang petani . Karena umumnya peternak sapi itu selain memiliki lahan kebun/perkebunan juga memiliki lahan sawah atau tegalan (lahan kering) untuk
menambah pendapatan keluarga. Sehingga
integrasi peternakan dan perkebunan akan lengkap dengan keikutsertaan pertanian dalam pengembangan peternakan di Kabupaten Paser .
BAGAIMANA PROSPEK INTEGRASI PETERNAKAN DAN PERKEBUNAN DI
KABUPATEN PASER?
Prospek peternakan dan perkebunan di Kabupaten Paser akan dapat berjalan, apabila :
1 . Ada keinginan yang kuat dari petani/ peternak itu sendiri .
2 . Harus ada political will yang kuat dan konsisten dari fihak legislatif dan eksekutif dalam hal pendanaan (sesuai dengan Visi dan Misi Pembangunan Kabupaten Paser, yaitu agribisnis dan agroindustri)
3 . Mampu menggerakan PPL Peternakan dalam pendampingan petani/peternak dengan prinsip partisipatif, serta dengan
dukungan biaya operasional yang
memadai . Demikian juga diperlukan tambahan jumlah PPL Peternakan di
Kabupaten Paser .
4 . Diperlukan need assement petani/
peternak sehingga program
pendam-pingan oleh PPL bersifat efektif. 5 . Diperlukan kerjasama kemitraan antara
perusahaan
(PBN
danPBS)
denganpetani/pekebunan (Pola Kemitraan
Tradisional, Pola Kemitraan Pemerintah atau Pola Kemitraan Pasar) .
DAFTAR PUSTAKA
ANTHONY YOUNG . 1997 . Agroforestry for soil management. ICRAF and CAB Internasional .
320pp .
DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN . 2005 .
Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Pasir . Tahun2005 . BADAN PUSAT STATISTIK . 2006 . Kabupaten Pasir
Dalam Angka . 2006 . Kerjasama BPS dan Pemerintah Kabupaten Paser .
WORLD RESOURCES . 1988-1989 . World Resources Institute in Collaboration with United Nations Environment Programme .
Y . FAUZI, Y . E . WIDYASTUTI, I . SATYAWIBAWA,dan R. HARTONO . 2004 . Kelapa sawit. budidaya, pemanfaatan hasil dan limbah . Analisis Usaha dan Pemasaran . Penebar Swadaya . 167him .