1
I.
PENDAHULUAN
Ekosistem mangrove disebut sebagai hutan payau atau hutan bakau. Ekosistem
mangrove merupakan tipe hutan daerah tropis yang khas tumbuh disepanjang pantai
atau muara sungai yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Bengen, 2000).
Mangrove didefinisikan sebagai tumbuhan atau komunitas yang terdapat di daerah
pasang surut, juga didefinisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang khas
di pantai daerah tropis dan subtropis yang terlindungi. Vegetasi mangrove secara
khas memperlihatkan adanya pola zonasi. Mangrove memiliki fungsi sebagai
penangkap sedimen di daerah estuaria, dan penahan gelombang abrasi (Budi et al.,
2013). Mangrove di berbagai belahan dunia akan mengalami kondisi peningkatan
suhu udara, perubahan rejim hidrologi, peningkatan muka air laut, dan frekuensi
bencana badai tropis (Field, 1995).
Menurut Horton et al., (2005) pada 6000 tahun lalu muka laut di dunia pernah
berada pada ketinggian 4 hingga 5m di atas muka laut sekarang, berdasarkan pada
penelitian polen mangrove, mengemukakan bahwa pada kurun 6,4 dan 2,7 ribu tahun
BP (Before Present) muka laut berada di atas muka laut sekarang walau dalam
kisaran pendek. Muka air laut yang lebih tinggi dari sekarang juga pernah terjadi
dengan ketinggian 5m dari sekarang. Muka laut yang lebih tinggi tersebut terjadi
antara 5000 hingga 6000 BP yang dikenal sebagai ketinggian iklim optimum.
Perubahan muka laut pada satu masa tidaklah sama antara satu tempat ke tempat lain.
Beberapa faktor yang mempengaruhi variasi perubahan tinggi muka laut adalah
volume cekungan samudera karena proses sedimentasi, tektonisme, dan perubahan
bentuk geoid. Verstappen (1994) dalam penelitiannya menemukan bukti di pantai
Jepara tentang muka air laut yang lebih tinggi yaitu terdapat gerong taut (knotch).
Kenaikan muka air laut untuk wilayah Indonesia hingga tahun 2100 sekitar 1,1 m
yang berdampak pada hilangnya daerah pantai dan pulau-pulau kecil seluas 90.260
km2, atau tenggelamnya sekitar 115 buah pulau. Selain itu para ahli telah
memperkirakan presipitasi di Asia Tenggara akan meningkat sekitar 3,6% di tahun
2020-an, 7,1% di tahun 2050, dan 11,3% di tahun 2080-an. Berdasarkan fenomena di
atas, maka perubahan iklim global akan menyebabkan hilangnya hutan mangrove
yang tumbuh di pulau-pulau kecil dan diiringi dengan tenggelamnya pulau-pulau
tersebut. Disamping itu, akan terjadi penyempitan lebar hutan mangrove yang
tumbuh di pantai-pantai, sedangkan pulau yang tidak tenggelam tetapi lahan di
2
kawasan pesisir di belakang mangrove banyak diokupasi oleh penduduk. Namun,
bagi mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir yang tidak banyak diokupasi oleh
penduduk, diperkirakan lebar mangrove akan meluas (Susandi et al., 2008).
Fosil polen merupakan salah satu kunci utama informasi perubahan muka laut
masa lampau. Studi mengenai mikrofosil untuk interpretasi iklim masa lampau dapat
menggunakan data fosil polen dan spora (Setijadi et al., 2011). Serbuk sari (polen)
dan atau spora dari tumbuhan mangrove yang tumbuh di kawasan tersebut baik pada
masa sekarang maupun masa lampau dan telah terendapkan dalam sedimen berupa
fosil, merupakan bukti palinologi yang sangat penting. Bukti palinologi ini
merupakan representasi dari tumbuhan mangrove sehingga dapat menggambarkan
bagaimana kondisi lingkungan mangrove beserta vegetasinya (Suedy et al., 2006).
Permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagimana keanekaragaman tumbuhan mangrove holosen di Banjir Kanal
Timur Semarang berdasarkan bukti fosil polen.
2. Bagimana dinamika vegetasi magrove holosen di Banjir Kanal Timur
Semarang berdasarkan bukti fosil polen.
3. Bagimana perubahan muka laut di Banjir Kanal Timur Semarang berdasarkan
bukti fosil polen
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui keanekaragaman tumbuhan mangrove holosen di Banjir Kanal
Timur Semarang berdasarkan bukti fosil polen.
2. Mengetahui dinamika vegetasi magrove holosen di Banjir Kanal Timur
Semarang berdasarkan bukti fosil polen.
3. Mengetahui perubahan muka laut di Banjir Kanal Timur Semarang
berdasarkan bukti fosil polen.
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan gambaran tentang perubahan muka
laut di Banjir Kanal Timur Semarang serta memperoleh inventaris data tumbuhan
kala holosen dimanfaatkan untuk data konservasi tumbuhan yang mungkin
ditemukan namun sekarang tidak ditemukan lagi karena mengalami kepunahan.