3.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian dalam penelitian ini dapat dikategorikan dalam penelitian kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif digunakan karena memaparkan dan mendeskripsikan perubahan nilai-nilai dan perubahan bentuk yang ada pada rumoh
Aceh. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir, 2014).
3.2 Variabel Penelitian
Variabel penelitian didapatkan setelah melakukan kajian teoritis yang berkenaan dengan penelitian. Berdasarkan kajian studi literature yang berkaitan dengan perubahan budaya dan perubahan bentuk arsitektur tradisional diperoleh beberapa indikator penting yang digunakan dalam menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan bentuk arsitektur tradisional akibat adanya perubahan nilai-nilai budaya. Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini terdiri dari:
1. nilai-nilai sosiokultural 2. tipologi/pola ruang 3. konfigurasi spasial 4. fungsi ruang
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah ukuran-ukuran tentang sesuatu yang ingin kita buat inferensinya. Kawasan yang dipilih sebagai populasi harus mendukung dan memenuhi kriteria sehingga memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya.
penelitian ini populasinya adalah rumah tradisional Aceh yang terdapat di Desa Blang Baroh Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie. Pada penelitian ini, jenis populasinya dapat dikatakan sebagai populasi finit dikarenakan jumlah rumah pada desa Blang Baro yang akan diteliti mempunyai jumlah yang pasti.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebahagian dari dari populasi yang dipilih dengan menggunakan teknik tertentu sehingga diharapkan mampu mewakili populasinya (Sugiarto, dkk, 2003). Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling sering disebut juga dengan sampling-sampling pertimbangan. Purposive sampling adalah tehnik sampling yang digunakan oleh peneliti jika peneliti memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk menjadi penentuan tertentu (Ridwan, 2006).
Adapun kriteria sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Merupakan bangunan rumah tinggal kuno, berusia 50 tahun atau lebih. b. Bangunan masih ditempati sebagai rumah tinggal yang di dalamnya masih
melakukan aktivitas.
c. Rumah berada di Kabupaten Pidie.
d. Bangunan masih terlihat asli secara fisik, walaupun adanya perubahan di beberapa elemen.
e. Rumah yang diteliti masih menerapkan konsep pola ruang bangunan rumoh
Acehyang asli, walaupun mengalami perubahan.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan di desa Blang Baroh Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie, terdapat sekitar 10 rumah tradisional Aceh yang sudah mengalami perubahan. Dengan tehnik sampling yang dipilih adalah purposive
sampling, maka dari itu peneliti memutuskan jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 10 rumah.
3.4 Instrumen Penelitian
1. Kamera digital
Kamera digital digunakan untuk mendokumentasikan betuk fisik rumoh
Aceh, baik yang masih asli atau yang sudah mengalami perubahan. 2. Alat pencatat/perekam
Alat perekam digunakan untuk mencatat dan merekam pada saat wawancara dengan pemilik atau penghuni rumoh Aceh.
3. Alat ukur
Alat ukur digunakan untuk mengukur pada saat observasi langsung sehingga memudahkan pada saat digambar kembali.
4. CAD (Computer Aided Design)
Aplikasi komputer CAD digunakan untuk menggambar kembali kondisi eksisting rumoh Aceh yang diobservasi.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang cukup mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada rumoh Aceh, maka peneliti harus mendata dan menggambar kembali
Tabel 3.1 Metode Pengumpulan Data
Data Data Yang dibutuhkan Metode Pengumpuan Arsitektur
Tradisional
Rumoh Aceh
Gambar denah, tampak dan
potongan Rumah Tradisional Aceh.
Dengan mengobservasi kondisi fisik dan menggambar kembali dalam
rangka untuk mendokumentasikan.
Perubahan Tata Nilai
Tata Nilai yang berlaku pada Rumah Tradisional aceh dan perubahan yang terjadi.
Dengan metode studi literature, wawancara dan observasi langsung ke lapangan.
Transformasi /Perubahan Bentuk
Gambar denah, tampak dan
potongan Rumah Tradisional Aceh yang
sudah mengalami perubahan bentuk.
Dengan mengobservasi kondisi fisik dan menggambar kembali perubahan yang terjadi pada
Rumah Aceh saat ini dan menyebar kuesioner.
Pidie lebih dari 50 tahun yang memiliki pemahan dan pengetahuan mengenai rumoh
Aceh dan budaya-budaya yang ada pada rumoh Aceh.
3.6 Kawasan Penelitian
Setelah menentukan kriteria populasi dan sample untuk penelitian ini, maka lokasi kawasan penelitian ditetapkan pada kawasan di Desa Blang Baroh Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie. Lokasi ini dipilih karena pada lokasi ini masih banyak terdapat rumoh Aceh dan masih dapat dijumpai rumoh Aceh baik yang asli maupun yang sudah dimodifikasi karena kebutuhan pemiliknya.
3.7 Metoda Analisa Data
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan analisa kualitatif dengan metoda deskriptif-komparatif, yang memberikan deskripsi terhadap perubahan yang terjadi dan apa saja faktor-faktor perubahan tata nilai dan perubahan bentuk fisik
rumoh Aceh di Pidie. Sebanyak 10 rumah dari desa Blang Baroh diambil sebagai sampel yang ditetapkan berdasarkan kesesuaian dengan kriteria serta pemiliknya adalah orang bersuku Bangsa Aceh dan memiliki pengetahuan yang baik mengenai
perbedaan dengan rumoh Aceh yang dijadikan sebagai pedoman.
Kesimpulan kondisi perubahan nilai-nilai sosiokultural, tipologi ruang, konfigurasi spasial dan fungsi ruang pada masing-masing periode perkembangan akan disajikan dalam bentuk tabel yang menjelaskan perubahan dan faktor-faktor pembeda dengan rumoh Aceh yang dijadikan sebagai pedoman. Kemudian dari kesimpulan tersebut dapat ditarik kesimpulan terkait;
1. Kondisi perubahan nilai-nilai dan bentuk pada rumoh Aceh dari 1900 hingga saat ini yang disajikan dalam bentuk tabel.
2. Komponen pembanding seperti nilai-nilai sosiokultural, tipologi ruang, konfigurasi spasial dan fungsi ruang yang menunjukan perubahan dari periode 1940 hingga sekarang juga disajikan dalam bentuk tabel.
4.1 Gambaran Umum Kabupaten Pidie
Kabupaten Pidie berada pada sisi ujung barat pulau Sumatera Indonesia terletak antara 04,30°–04,60° Lintang Utara; 95,75°–96,20° Bujur Timur dengan rata-rata ketinggian 0.80 meter diatas permukaan laut. Kabupaten Pidie mempunyai sebuah ibu kota kecamatan yang dikenal dengan nama Kota Sigli. Kabupaten Pidie memiliki batas wilayah Sebelah Utara dengan Selat Malaka, Sebelah Selatan dengan Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Jaya, Sebelah Timur dengan Kabupaten Pidie Jaya, Sebelah Barat dengan Kabupaten Aceh Besar (Gambar 4.1).
Kabupaten Pidie terdiri dari 23 Kecamatan, 94 Kemukiman dan 730 Desa.
Kecamatan yang terdapat dalam wilayah Kabupaten Pidie adalah Batee, Delima,
Geumpang, Glumpang Tiga, Indra Jaya, Kembang Tanjong, Kota Sigli, Mila, Muara
Tiga, Mutiara, Padang Tiji, Peukan Baro, Pidie, Sakti, Simpang Tiga, Tangse,
Tiro/Truseb, Keumala, Mutiara Timur, Grong-Grong, Mane, Glumpang Baro dan
Titeue.
Luasan wilayah di Kabupaten Pidie ± 3.562,14 Km². Luasan tersebut terbagi dalam beberapa peruntukan lahan seperti; Sawah 29.391 Ha, Pekarangan 9.175 Ha, Tegalan/Kebun 26.857 Ha, Ladang/Huma 19.772 Ha, Padang Penggembalaan 16.194 Ha, Hutan Rakyat 23.782 Ha, Hutan Negara 81.448 Ha, Perkebunan 21.212 Ha, Rawa-Rawa 2.128 Ha, Tambak 2.890 Ha, Tebat/Empang 162 Ha, Pemukiman 30.714 Ha, dan wilayah yang belum diupayakan 78.093 Ha.
4.2 Gambaran Umum Desa Blang Baro
Desa Blang Baro terletak pada 37 25’ 19.1 Lintang Utara, 122 05’ 06’ Bujur Barat di Kabupaten Pidie tepatnya di Kecamatan Glumpang Baro, Kemukiman Glumpang Payong. Desa Blang Baro dapat diakses dari jalan Negara Banda Aceh– Medan dengan jarak sekitar 3 km dari simpang Glumpang Minyeuk. Desa Blang Baroh memiliki karakter desa dengan kontur permukaan tanah datar. Hal ini dikarenakan sebagian besar luas desa adalah persawahan dan lokasi desa lebih kearah pesisir.
Adapun batas-batas wilayah dari Desa Blang Baroh, Kemukiman Glumpang Payong, Kecamatan Glumpang Baro, Kabupaten Pidie adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Gampong Unoe;
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Gampong Sangget;
c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Gampong Meunasah Sagoe;
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Gampong Sukun Paku.
Jumlah penduduk Desa Blang Baro saat ini berjumlah 532 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 139 KK. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, sebahagian kecil berdagang dan sebagai pegawai negeri dikantor pemerintahan. Desa Blang Baroh memiliki 3 Mushalla desa, 1 TPA (Taman Pengajian Al-Qur’an) dan 5 WC umum.
4.2.1 Karakteristik kehidupan masyarakat
Adapun karakteristik kehidupan dari masyarakat di Gampong Blang Baroh Kecamanata Glumpang Baro Pidie dijelaskan sebagai berikut;
a. Ekonomi
Mata pencaharian penduduk di Desa Blang Baroh yang paling dominan adalah sebagai buruh tani sebanyak 78 orang. Selain itu masyarakat desa juga beprofesi sebagai petani sebanyak 35 orang, buruh kasar 36 orang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) 15 orang, dan pedagang 8 orang (Tabel 4.1). Desa Blang baro ini tergolong dalam salah satu desa miskin dengan swadaya masyarakat rendah.
Tabel 4.1 Penduduk berdasarkan mata pencaharian tahun 2016
No Mata Pencaharian Jumlah
1 Buruh tani 78
2 Petani 35
3 Buruh Kasar 36
4 PNS 15
b. Penduduk menurut komposisi jenis kelamin
Jumlah rumah tangga yang terdapat di Desa Blang Baro pada tahun 2016 adalah 139 rumah tangga. Desa Blang Baro memiliki jumlah penduduk 532 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki 226 jiwa atau 42% dan jumlah penduduk perempuan 306 jiwa atau 58% dari jumlah penduduk desa (Tabel 4.2).
Tabel 4.2 Penduduk berdasarkan komposisi jenis kelamin tahun 2016
No Penduduk Jumlah
1 Jumlah KK 139
2 Jumlah Penduduk 532
3 Laki-laki 226
4 Perempuan 306
c. Penduduk menurut Agama yang dianut
Mayoritas penduduk di desa Blang Baro menganut agama Islam yaitu sebanyak 532 jiwa (Tabel 4.3).
Tabel 4.3 Jumlah persentase penduduk menurut agama tahun 2016 No Agama Jumlah (jiwa) Persentase (%)
Sarana peribadatan yang terdapat di desa berupa 3 meunasah (mushalla) yang terdapat di tiap-tiap dusun. Sedangkan Masjid hanya terdapat di lokasi kecamatan Glumpang Baro. Sehingga untuk acara kegiatan kegamaan yang sifatnya lebih besar diadakan di Mesjid kecamatan.
d. Penduduk menurut pendidikan
Kualitas sumber daya di desa Blang baro sangat beragam. Tingkat pendidikan yang dimiliki penduduk desa mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai tingkat Sarjana Starata Satu (S1). Tingkat pendidikan dominan adalah lulusan Sekolah Dasar (SD) 115 orang, Sekolah Menengah Atas 107 orang, Sekolah Menengah Pertama 35 orang, Diploma Dua (D2) 11 orang, Diploma Tiga (D3) 15 Orang, Sarjana (S1) 20 orang dan pengangguran 43 orang (Tabel 4.4).
Tabel 4.4 Penduduk berdasarkan mata pencaharian tahun 2016
No Penduduk Jumlah
1 Sarjana (S1) 20
2 D3 (Diploma) 15
3 D2 (Diploma) 11
4 SMA/Sederajat 107
5 SMP/Sederajat 35
6 SD/Sederajat 115
e. Aspek Fisik Bangunan (Hunian)
Jumlah Rumah di desa Blang Baroh pada tahun 2016 sebanyak 75 rumah. Jumlah tersebut terbagi dalam 25 unit rumah permanen, 40 unit rumah semi permanen (beton/kayu) dan 10 unit rumah dari tepas bambu.
f. Lokasi Objek Penelitian
Lokasi penelitian pada Desa Blang baro terdapat pada ketiga dusun yang ada di desa tersebut, yaitu Dusun Blang, Dusun Cut dan Dusun Balee. Jumlah objek kajian tersebar dalam tiga dusun tersebut. Jumlah objek kajian terdiri dari 10 objek rumoh Aceh yang sudah mengalami perubahan. Adapun letak posisi dari objek kajian dapat dilihat dalam peta desa (Gambar 4.3)
Gambar 4.3 Peta lokasi sampel (Googlemaps, 2016)
R3
R4 R5
R9
R6 R8 R7
R2 R1
Karakteristik rumoh Aceh yang berkembang di Pidie khususnya Desa Blang Baro mulai dari tahun 1940 hingga 2016 terbagi dalam tiga kategori. Perkembangan
rumoh Aceh terbagi sebagai berikut; 1. Tipe pertama (1940an)
Tipe modifikasi rumoh Aceh dengan susunan asli namun sudah menagalami perubahan pada susunan ruang.
2. Tipe kedua (1990an)
Tipe modifikasi rumoh Aceh dengan susunan asli namun sudah mengalami perubahan dengan penambahan ruang.
3. Tipe ketiga (2000an)
Tipe modifikasi rumoh Aceh yang susunan aslinya sudah mengalami perubahan total.
Tabel 5.1 Rumoh Aceh sebagai Sampel Deskripsi
(Periode) Kondisi Rumah Keterangan
Modifikasi Tipe 1 R1 dan R2
Rumah Aceh dengan susunan bentuk asli namun sudah mengalami modifikasi. Bentuk ini merupakan model modifikasi yg terjadi pertama kali pada bentuk
rumoh Aceh.
Model rumah ini mulai berkembang tahun 1940an.
R1 (Rohani)
R2 (Karmiah)
Modifikasi Tipe 2 (R3, R4, R5, R6, R7, dan R8).
Tabel 5.1 (Lanjutan) Deskripsi
(Periode) Kondisi Rumah Keterangan
Rumah Aceh dengan susunan bentuk asli namun sudah mengalami modifikasi dengan penambahan ruang pada bagian bawah dan belakang rumah. kolong rumah sebagian besar sudah dimanfaatkan sebagai ruang tambahan. Model rumah ini mulai berkembang tahun 1990an.
R4 Isnaini
R5 Kamariah
Tabel 5.1 (Lanjutan) Deskripsi
(Periode) Kondisi Rumah Keterangan
R7 Ilyas
R8 Yusuf Abdullah
Modifikasi Tipe 3 (R09 dan R10).
Rumah Aceh dengan bentuk dan susunan yang sudah berubah. Penambahan ruang terjadi pada seluruh bagian rumah. sebagian besar kolong rumah sudah tidak terlihat. Model rumah ini mulai berkembang tahun 2000an.
R9 Arrahman
5.2 Rumoh Aceh Tipe 1
Rumoh Aceh tipe 1 merupakan rumoh Aceh dengan bentuk dan susunan ruang mengikuti rumoh Aceh asli. Bentuk rumoh Aceh masih terlihat dengan jelas. Menurut ibu karmiah sang pemilik rumah tipe 1 ini, rumah tipe ini mulai berkembang sekitar tahun 1940an (Gambar 5.1, dan 5.2). Rumoh Aceh tipe 1 ini masih menerapkan susunan ruang asli seperti yang terdapat pada rumoh Aceh.
Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu karmiah yang merupakan pewaris pertama dari rumoh Aceh tersebut menyatakan bahwa, “pada masa itu masyarakat cenderung membangun rumah seperti itu dan melakukan perubahan hanya
penambahan ruang pada susunan intinya saja”. Perubahan yang terjadi pada model
rumoh Aceh tipe 1 ini masih memperlihatkan konsep rumoh Aceh dengan jelas. Elemen-elemen pada rumoh Aceh masih dapat dijumpai dengan mudah, salah satunya konsep susunan ruang dan kolong rumah yang masih dipertahankan.
Model perubahan pada rumoh Aceh tipe 1 ini masih sangat sederhana. Perubahan yang terjadi hanya pada penambahan ruang pada bagian dalam rumoh
5.2.1 Nilai-nilai sosiokultural
Nilai–nilai sosiokultural yang terkadung pada rumoh Aceh tipe 1 ini masih terjaga dengan baik. Menurut ibu karmiah, “pada masa ini (1900-1940an) ketentuan adat dan norma Agama masih sangat ketat dijalankan oleh masyarakat”. Rumoh
Aceh R1 dan R2 yang berkembang cenderung masih menerapkan budaya-budaya lama seperti:
a. Upacara membangun dan mendiami rumah
Menurut ibu karmiah, rumah R1 dan R2 dibangun pada tahun 1900-1940an. Pada saat proses membangun, upacara adat yang dilakukan adalah sebagai berikut; upacara pengambilan bahan dan upacara mendirikan rumah. Sementara saat bangunan telah selesai dan siap untuk ditempati upacara yang dilakukan adalah upacara menempati rumah baru.
b. Kepemilikan rumah
Untuk kepemilikan rumah, berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik rumah R1 dan R2, rumah R1 dan R2 masih mengikuti adat lama yaitu rumah menjadi milik istri dan anak-anak perempuan.
Berdasarkan hasil kajian dilapangan dan didukung hasil wawancara dengan pemilik didapati nilai-nilai sosiokultural yang masih diterapkan dan nilai-nilai sosiokultural yang berubah (Tabel 5.2 ).
Tabel 5.2 penerapan nilai-nilai lama dan perubahan nilai-nilai pada rumah R1 dan R2
Objek Kajian
Nilai-nilai Sosiokultural yang masih diterapkan
Nilai –nilai Sosiokultural yang mengalami
rumah masih milik istri dan anak perempuan sesuai dengan hokum adat yang berlaku.
Tabel 5.2 (Lanjutan)
Objek Kajian
Nilai-nilai Sosiokultural yang masih diterapkan
Nilai –nilai Sosiokultural yang mengalami b. Upacara saat
mendirikan
b. Upacara saat mendirikan
rumah masih milik istri dan anak perempuan.
Pada rumah R2 Juga belum ada Nilai-nilai lama yang berubah.
5.2.2 Tipologi ruang
Bentukan ruang pada rumah R1 dan R2 tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi hanya penambahan ruang yang terdapat pada bagian
Pada rumah R1 dan R2 penerapan nilai-nilai lama masih diterapkan dalam hal tata letak rumah, orientasi rumah masih mengikuti orientasi utara selatan dan membujur timur barat seperti rumoh Aceh yang asli. Namun orientasi terhadap jalan
Gambar 5.3 3D Visual Rumoh Aceh R1
yang membedakannya. Rumah R1 berada disisi barat jalan dan R2 berada disisi timur jalan (Gambar 5.5, dan 5.6).
Pada rumah R1 panambahan ruang hanya untuk kamar anak perempuan. Menurut hasil wawancara dengan ibu Rohani, penambahan ruang kamar khusus untuk anak perempuannya dikarenakan anak perempuannya sudah berumur dewasa.
Gambar 5.5 Orientasi Rumoh Aceh R1 terhadap jalan
Gambar 5.6 Orientasi Rumoh Aceh R2 terhadap jalan jalan
Sehingga mereka membutuhkan kamar sendiri sebagai ruang privasi mereka. Sedangkan pada rumah R2 penambahan ruang juga terjadi pada bagian seuramoe likoet (belakang). Namun penambahan ruang hanya berupa ruang untuk penyimpanan barang (gudang). Menurut ibu karmiah, penambahan ruang penyimpanan barang (gudang) dimaksudkan untuk menyimpan alat-alat dapur dan peralatan berkebun. Sehingga ruang seuramoe likoet (belakang) dapat lebih teratur dan dapat dimanfaatkan sebagai ruang makan. Selain orientasi rumah, nilai-nilai lama yang masih terjaga pada rumah R1 dan R2 adalah tidak adanya kamar tidur untuk anak laki-laki didalam rumah serta peletakan toilet yang tidak menyatu dengan rumah. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk denah rumah R1 dan R2 (Tabel 5.3).
Tabel 5.3 Perubahan bentuk denah rumoh Aceh tipe 1 Denah eksisting Penambahan ruang Faktor Perubahan Rumah R1
Penambahan ruang kamar dikarenakan kebutuhan akan ruang privasi bagi anak perempuan.
Rumah R2
Penambahan ruang penyimpanan (gudang) untuk
5.2.3 Konfigurasi spasial
Rumoh Aceh tipe 1 masih menerapkan nilai-nilai konsfigurasi spasial seperti pada rumoh Aceh asli. Nilai-nilai dari konsep suci pada rumoh aceh asli dengan terdapat pemisahan antara kamar mandi/toilet dengan rumah induk masih diterapkan. Pada rumah R1 dan R2, Kamar mandi/toilet masih ditempatkan pada bagian luar rumah dan terpisah dari rumoh Aceh. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga kesucian dari rumoh Aceh tersebut.
Penambahan ruang yang terjadi tidak merubah susunan ruang asli. Pembedaan ruang antara ruang publik dan ruang privat masih sangat jelas terlihat pada pembagian ruang-ruang rumah R1 dan R2. Ruang-ruang dibagi dalam tiga zona besar, yaitu zona publik pada seuramoe keu (depan), zona suci pada seuramoe teungoh (tengah) dan zona privat pada seuramoe likoet (belakang) (Gambar 5.7).
Pada rumah R1 dan R2 batasan kegiatan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan masih terjaga dengan baik. Selain itu pada rumah R1 dan R2 letak kamar tidur baik kamar tidur orang tua dan kamar tidur anak perempuan masih ditempatkan pada posisi lebih tinggi dari level lantai seuramoe keu dan seuramoe likoet. Hal
tersebut dimaksudkan untuk menjaga nilai-nilai lama yang menempatkan posisi kamar pada level yang lebih tinggi dari seuramoe keu dan seuramoe likoet.
5.2.4 Fungsi ruang
Untuk fungsi ruang pada rumah tipe 1 ini tidak banyak terjadi perubahan. Nilai-nilai lama yang berkaitan dengan fungsi ruang seperti pada bagian seuramoe reunyeun (tangga) masih terjaga. Pada bagian yup moh (kolong) pada rumah R1 dan R2, posisi tangga masih berfungsi sebagai batasan kontrol sosial bagi tamu yang bukan muhrim atau bukan keluarga dekat yang ingin berkunjung.
Pada rumah R1 dan R2 perubahan fungsi ruang hanya terjadi pada bagian penambahan ruang yaitu pada seuramoe likoet. Sedangkan pada rumah R2 perubahan fungsi ruang terjadi karena adanya penambahan ruang penyimpanan. Perubahan ruang tersebut disebabkan karena adanya kebutuhan ruang privasi (rumah R1) dan adanya perubahan aktivitas (rumah R2). Pada rumoh Aceh bagian seuramoe likoet
merupakan zona kegiatan kaum perempuan, sehingga penambahan kamar anak perempuan dan ruang penyimpanan diletakkan pada bagian seuramoe likoet dari
rumoh Aceh (Tabel 5.4).
Table 5.4 Perubahan fungsi ruang pada rumah Aceh tipe 1 Penambahan Ruang Perubahan Fungsi ruang Sifat Ruang
1. Kamar tidur anak
Dari hasil analisa terhadap perubahan nilai-nilai sosiokultural, tipologi ruang, konfigurasi ruang dan fungsi ruang pada rumah aceh tipe 1 maka diperoleh data perubahan pada rumoh Aceh tipe 1 (Tabel 5.5).
Table 5.5 Kesimpulan perubahan nilai dan bentuk pada rumoh Aceh tipe 1
Aspek Perubahan Faktor
Sosiokultural Tidak terjadi perubahan Ketentuan Adat dan norma Agama masih ketat. Sehingga nilai-nilai budaya lama masih terjaga.
Tipologi ruang Penambahan ruang: Kamar tidur
Ruang penyimpanan
Kamar tidur (kebutuhan ruang privasi)
Gudang (keamanan dan terlindungi)
Konfigurasi ruang Tidak terjadi perubahan Masih menerapkan pola konfigurasi ruang pada rumoh
Aceh asli. Fungsi ruang Perubahan fungsi ruang
seuramoe likoet: sebagai kamar tidur (rumah R1) dan ruang penyimpanan (rumah R2)
Dikarenakan Seuramoe likoet
diperuntukkan sebagai ruang kegiatan kaum perempuan pada rumoh Aceh.
5.3 Rumoh Aceh Tipe 2
menggunakan material kayu dan ada juga yang sudah menggunakan penggunaan material fabrikasi. Pada masa ini masyarakat baru mulai mengenal material fabrikasi sebagai alternatif penggati material alam. Namun dikarenakan material alam yang masih mudah dijumpai, masyarakat masih banyak yang mengggunakan material alami.
.
Gambar 5.8 Rumoh Aceh R3 (Razali)
Gambar 5.10 Rumoh Aceh R5 (Isnaini)
5.3.1 Nilai-nilai sosiokultural
Nilai-nilai sosiokultural yang terkandung pada pada rumah R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 mulai mengalami perubahan. Menurut pak Razali, rumah tipe 2 ini mulai berkembang pada tahun 1990an. Perkembangan yang terjadi pada masa ini sudah mulai dipengaruhi oleh unsur-unsur modernisme namun masih menerapkan pola hidup yang lama. Ketentuan akan nilai adat istiadat sudah mulai tidak terlalu ketat
Gambar 5.12 Rumoh Aceh R7 (Ilyas)
diterapkan dimasyarakat. Namun nilai-nilai lama masih diterapkan pada rumoh Aceh R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 seperti berikut:
a. Upacara membangun dan mendiami rumah
Rumah R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 berkembang pada tahun 1990an. Pada saat proses membangun, upacara adat yang dilakukan hanya upacara pada saat mendirikan rumah dan pada saat bangunan telah selesai dan siap untuk ditempati upacara yang dilakukan adalah upacara menempati rumah baru. Sementara upacara mengambil bahan dihutan pada rumah tipe 2 ini sudah tidak dilakukan lagi. Hal tersebut dikarenakan material yang digunakan pada saat membangun tidak lagi diambil dihutan melainkan dibeli.
b. Kepemilikan rumah
Untuk rumoh aceh dengan perubahan tipe 2 ini yang berkembang pada tahun 1990an, kepemilikan rumah masih mengikuti adat lama, dimana rumah dan perkarangannya akan menjadi hak istri dan anak perempuannya. Hal ini dikarenakan dalam adat istiadat masyarakat aceh rumah tidak boleh di faraidhkan (hukum waris).
Tabel 5.6 Penerapan nilai-nilai lama dan perubahan nilai-nilai pada rumah R3, R4, R5, R6, R7 dan R8
Objek Kajian
Nilai-nilai Sosiokultural yang masih diterapkan
Nilai–nilai Sosiokultural yang mengalami perubahan
a. Upacara saat mendirikan rumah masih milik istri dan anak perempuan sesuai dengan hukum adat yang berlaku.
Pada rumah R3 Nilai-nilai lama mulai ada yang berubah. perubahan terlihat dengan mulai menghilangkan upacara adat saat pengambilan bahan dihutan juga sudah tidak dilaksanakan. Rumah
R4
a. Upacara saat mendirikan
rumah masih milik istri dan anak perempuan.
Pada rumah R4 Upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan.
Rumah R5
a. Upacara saat mendirikan
rumah masih milik istri dan anak perempuan.
Pada rumah R5 Upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan.
Rumah R6
a. Upacara saat mendirikan rumah masih milik istri dan anak perempuan.
Pada rumah R6 Upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan.
Rumah R7
a. Upacara saat mendirikan
rumah masih milik istri dan anak perempuan.
Tabel 5.6 (Lanjutan)
Objek Kajian
Nilai-nilai Sosiokultural yang masih diterapkan
Nilai–nilai Sosiokultural yang mengalami perubahan
a. Upacara saat mendirikan
rumah masih milik istri dan anak perempuan.
Pada rumah R8 Upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan.
5.3.2 Tipologi ruang
Gambar 5.15 Orientasi Rumoh Aceh R4 terhadap jalan Gambar 5.14 Orientasi Rumoh Aceh R3 terhadap jalan
Gambar 5.16 Orientasi Rumoh Aceh R5 terhadap jalan jalan
j a l a n
Bentukan ruang pada rumoh Aceh tipe 2 ini mengalami perubahan yang tidak terlalu signifikan, perubahan yang terjadi pada rumoh Aceh tipe 2 ini masih sederhana dan tidak merubah konsep dari rumoh Aceh secara keseluruhan. Perubahan
Gambar 5.17 Orientasi Rumoh Aceh R6 terhadap jalan
Gambar 5.18 Orientasi Rumoh Aceh R7 terhadap jalan
Gambar 5.19 Orientasi Rumoh Aceh R8 terhadap jalan jalan
jalan
terjadi pada sebagian ruang-ruang pada rumah. Penambahan ruang yang terjadi dengan menambahkan ruang seperti: kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja, dapur, ruang makan, gudang, kamar mandi/wc (Gambar 5.20-5.25). Hal tersebut mulai menghilangkan konsep kolong dari rumah Aceh. Selain itu, penambahan kamar tidur untuk anak laki-laki (R3, R4, R5, R6, R7 dan R8) juga memperlihatkan adanya budaya lama pada rumoh Aceh yang mulai berubah.
Gambar 5.22 3D Visual Rumoh Aceh R5
Gambar 5.24 3D Visual Rumoh Aceh R7
Menurut hasil wawancara dengan pak Ilyas, penambahan kamar tidur (R3, R4, R5. R6, R7 dan R8) baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki merupakan hal yang banyak dilakukan pada rumah aceh tipe 2. Selain karena jumlah kamar yang ada tidak mencukupi untuk anggota keluarga, faktor kebutuhan akan ruang pribadi juga menjadi faktor penambahan ruang kamar tidur. Sementara itu, untuk penambahan ruang tamu dan ruang keluarga (R3 dan R5) menurut ibu Isnaini, penambahan ruang tersebut dilakukan sebagai ruang untuk silaturrahmi dengan tetangga dan saudara, selain itu dapat digunakan juga sebagai ruang komunikasi keluarga dan digunkanan juga pada saat acara-acara keluarga.
Penambahan ruang kerja (R3) yang ditempatkan pada bagian seuramoe teungoh, menurut pak razali, penambahan ruang kerja pada rumahnya harus ia lakukan dikarenankan tuntutan pekerjaan beliau sebagai kepala desa di Desa Blang Baroh. Sehingga warga bisa kapan saja menjumpai beliau jika berhubungan dengan pemerintahan desa tanpa harus ke kantor desa. Penambahan ruang makan dan dapur (R3, R4, R5. R6, R7 dan R8) menurut ibu kamariah, penambahan ruang makan dan dapur dikarenakan adanya penyesuaian terhadap alat masak yang digunakan.
Nuriah, penambahan kamar mandi/wc didalam rumah sangat membantu baginya yang sudah berumur lanjut untuk mengakses kamar mandi sewaktu-waktu. Kamar mandi/wc yang dibuat didalam rumah lebih aman dan terlindungi. Hal ini tentunya berbeda dengan konsep rumoh Aceh asli yang menempatkan kamar mandi/wc diluar rumah. Selain itu penambahan gudang (R4) menurut ibu kamariah, dikarenakan aktivitas beliau sebagai petani sehingga banyak alat-alat pertanian yang membutuhkan tempat untuk penyimpanan (Tabel 5.7).
Tabel 5.7 Perubahan bentuk denah rumoh Aceh tipe 2 Denah eksisting Penambahan ruang Faktor Perubahan Rumah R3 (Razali)
Rumah R4 (Kamariah)
R.Tamu (ruang publik/ silaturahmi dengan kerabat dan saudara ).
R.Keluarga (ruang berkumpul dan acara-acara keluarga). Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur dan ruang makan (agar lebih higienis). Km/Wc (kemudahan akses).
Ruang kerja (aktivitas pemilik sebagai seorang kepala desa)
Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur (agar lebih higienis).
Tabel 5.7 (Lanjutan)
Denah eksisting Penambahan ruang Faktor Perubahan Rumah R3 (Razali)
Rumah R6 (Hj.Nuriah)
R.Tamu (ruang publik/ silaturahmi dengan kerabat dan saudara ).
R.Keluarga (ruang berkumpul dan acara-acara keluarga). Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur dan ruang makan (agar lebih higienis). Km/Wc (kemudahan akses).
Ruang kerja (aktivitas pemilik sebagai seorang kepala desa)
Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur (agar lebih higienis).
R.Keluarga (ruang berkumpul dan acara-acara keluarga).
Rumah R7 (Ilyas) Kamar tidur (kebutuhan akan
ruang privasi). Dapur (agar lebih higienis).
Tabel 5.7 (Lanjutan)
Denah eksisting Penambahan ruang Faktor Perubahan Rumah R8 (Yusuf)
Kamar tidur ( kebutuhan akan ruang privasi). Dapur (agar lebih higienis).
Km/Wc (kemudahan akses).
5.3.3 Konfigurasi spasial
Konfigurasi ruang pada rumoh Aceh tipe 2 ini mulai merubah penerapkan sistem konfigurasi ruang pada rumoh Aceh asli. Pada rumah R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 masih terlihat adanya perbedaan zona seuramoe keu (publik), seuramoe teungoh
(privat) dan seuramoe likoet (privat). Perubahan terjadi pada bagian bawah dari
seurmaoe likoet dan pada bagian belakang. Konsep kolong rumoh Aceh masih terlihat pada rumah tipe 2 ini (Gambar 5.26).
Selain itu, perubahan nilai-nilai pada konfigurasi ruang terdapat pada berubahnya nilai-nilai konsep suci pada rumoh aceh tipe 2 ini dengan menempatkan kamar mandi/toilet kedalam rumah dan menyatu dengan rumah. Pada rumah R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 keseluruhannya sudah menempatkan kamar mandi/toilet dalam rumah (Tabel 5.7). Hal ini tentu menjadi berbeda dengan konsep nilai pada rumoh Aceh yang asli. Hal ini menjadi bahagian dari New Elemen (elemen baru) (Rapopor, 1990), yang terdapat pada perkembangan rumoh Aceh tipe 2 ini yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Aceh saat itu.
5.3.4 Fungsi ruang
Untuk fungsi ruang pada rumah tipe 2 ini banyak terjadi perubahan. Nilai-nilai lama yang berkaitan dengan fungsi ruang bawah seperti fungsi tangga pada- bagian yup moh sudah tidak berfungsi sebagai kontrol sosial bagi tamu yang bukan muhrim atau bukan keluarga dekat yang ingin bertamu. Fungsi tangga sebagai ruang batasan kontrol sosial sudah berganti dengan adanya penambahan ruang tamu pada bagian bawah dari seuramoe likoet.
Perubahan fungsi ruang pada rumah R3, R4, R5, R6, R7 dan R8 terjadi pada
seuramoe likoet. Pada seuramoe likoet perubahan terjadi dengan adanya tambahan ruang sebagai kamar anak perempuan dan anak laki-laki, dapur dan kamar mandi/wc, ruang tamu, ruang keluarga dan ruang penyimpanan. Perubahan fungsi ruang dari
Table 5.8 Perubahan fungsi ruang pada rumah Aceh tipe 2
Penambahan Ruang Perubahan Fungsi ruang
Sifat Ruang Kamar tidur anak
perempuan
Pada seuramoe likoet Ruang privat Kamar tidur anak laki-laki Pada seuramoe likoet Ruang privat Ruang makan Pada seuramoe likoet Ruang privat
dapur Pada seuramoe likoet Servis Kamar mandi/wc Pada seuramoe likoet Servis Ruang penyimpanan Pada seuramoe likoet Servis
Ruang tamu Pada seuramoe likoet Ruang publik Ruang keluarga Pada seuramoe likoet Ruang publik Ruang kerja Pada seuramoe likoet Ruang publik
Dari hasil analisa terhadap perubahan nilai-nilai sosiokultural, tipologi ruang, konfigurasi ruang dan fungsi ruang pada rumah Aceh tipe 2 maka diperoleh data perubahan pada rumoh Aceh tipe 2 (Tabel 5.9).
Table 5.9 Kesimpulan perubahan nilai dan bentuk pada rumoh Aceh tipe 2
Aspek Perubahan Faktor Perubahan
Sosio kultural
Adanya perubahan nilai-nilai lama seperti;
upacara adat saat pengambilan bahan dihutan tidak diterapkan lagi.
Nilai-nilai lama mulai ada yang ditinggalkan.
Masyarakat mulai menerapkan gaya hidup modern.
Tipologi ruang
Penambahan ruang:
Ruang tamu dan ruang keluarga, kamar tidur, dapur dan ruang makan, kamar mandi/wc
Tabel 5.9 (Lanjutan)
Aspek Perubahan Faktor Perubahan
Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur dan ruang makan (agar lebih
higienis). Km/Wc (kemudahan akses dan
keamanan). Gudang (kebutuhan akan ruang penyimpanan agar lebih aman)
Konfigurasi ruang Terjadi perubahan
Letak toilet disatukan dengan rumah
Perubahan terjadi pada bagian seuramoe likoet dan bagian bawah. Namun masih menerapkan pola konfigurasi ruang pada
rumoh Aceh.
Fungsi ruang Fungsi tanga sebagai kontrol sosial sudah
berganti dengan penambahan ruang tamu.
Perubahan fungsi ruang
seuramoe likoet: kamar tidur, ruang makan, dapur, kamar mandi dan gudang. Sedangkan pada bagian bawah dari seuramoe teungoh (tengah) rumah sebagai ruang tamu dan ruang keluarga
Seuramoe likoet menjadi bagian yang dimanfaatkan sebagai ruang tambahan dikarenakan bagian dari
seuramoe likoet lebih
mudah dilakukan perubahan. Selain itu sifat
ruang seuramoe likoet
5.4 Rumoh Aceh Tipe 3
Rumoh Aceh tipe 3 merupakan rumoh Aceh dengan bentuk dan susunan ruang yang sudah mengalami perubahan pada keseluruhan bangunan (Gambar 5.19, dan 5.20). Bentuk rumoh Aceh sudah tidak terlihat dengan jelas. Modifikasi terjadi diseluruh bagian rumah, baik itu susunan ruang dan bentuk dari rumah itu sendiri. Perubahan yang dilakukan dengan penambahan ruang pada bagian bawah dari
seuramoe keu, seurmoe likoet dan pada bagian belakang dari rumah. Menurut pak Abdurrahman (pemilik rumah), model seperti ini mulai berkembang ditahun 2000-an. Perubahan yang terjadi didominasi oleh penggunaan material fabrikasi. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2000-an material fabrikasi sudah sangat mudah dijumpai di Pidie dan sebaliknya dengan material kayu yang sudah sangat sulit dijumpai keberadaanya.
5.4.1 Nilai-nilai sosiokultural
Nilai-nilai sosiokultural yang terkandung pada rumoh Aceh tipe 3 ini sudah banyak mengalami perubahan. Menurut pak A. Rahman, rumah R09 dan R10 yang berkembang pada tahun 2000an sudah banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur kehidupan modern. Saat ini masyarakat Desa Blang baroh mulai mengadopsi gaya hidup modern. Pada zaman yang serba modern, masyarakat menginginkan segala sesuatunya yang serba instan dan efisien. Hal ini berdampak pada hunian masyarakat Aceh yang ada di Desa Blang Baroh. Kondisi tersebut diperparah lagi oleh mahalnya harga kayu dan sulitnya mendapatkan kayu pilihan untuk membangun dan merenovasi rumoh Aceh. Sehingga perubahan yang terjadi pada elemen-elemen
rumoh Aceh sudah menggunakan material fabrikasi. Perubahan yang terjadi pada
sendiri. Selain itu nilai-nilai yang ada pada rumoh Aceh tersebut ikut berubah, nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut;
a. Upacara membangun dan mendiami rumah
Rumah R9 dan R10 berkembang pada tahun 2000an. Pada saat proses membangun, upacara adat yang dilakukan hanya upacara pada saat mendirikan rumah dan pada saat bangunan telah selesai dan siap untuk ditempati upacara yang dilakukan adalah upacara menempati rumah baru. Sementara upacara adat saat mengambil bahan dihutan pada rumah tipe 3 ini sudah tidak dilakukan lagi. Hal tersebut dikarenakan material yang digunakan pada saat membangun tidak lagi diambil dihutan melainkan dibeli. Selain itu material fabrikasi juga mulai mendominasi pada rumoh
Aceh tipe 3 ini.
b. Kepemilikan rumah
Berdasarkan hasil kajian dilapangan dan didukung hasil wawancara dengan pemilik didapati nilai-nilai sosiokultural yang masih diterapkan dan nilai-nilai sosiokultural yang berubah pada rumoh Aceh tipe 3 (Tabel 5.10).
Tabel 5.10 Penerapan nilai-nilai lama dan perubahan nilai pada rumah R9 dan R10
Objek Kajian
Nilai-nilai Sosiokultural yang masih
diterapkan Nilai–nilai
Sosiokultural yang
a. Upacara saat mendirikan bangunan
b. Upacara menaiki rumah baru
Kepemilikan rumah tidak lagi mengikuti hukum Adat. Namun saat ini sudah mengikuti hukum Syariat Islam yang berlaku di Aceh
Upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan.
Letak toilet disatukan dengan rumah
Adanya penambahan kamar bagi anak laki-laki Pengguanaan material fabrikasi yang sangat mendominasi
Rumah R10
a. Upacara saat mendirikan bangunan
b. Upacara menaiki rumah baru
Kepemilikan rumah tidak lagi mengikuti huukum Adat. Namun saat ini sudah mengikuti hukum Syariat Islam yang berlaku di Aceh
Upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan.
Letak toilet disatukan dengan rumah
5.4.2 Tipologi ruang
Bentukan ruang pada rumoh Aceh tipe 3 ini mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perubahan terjadi pada keseluruhan ruang-ruang pada rumah (Gambar 5.29, dan 5.30).
Gambar 5.29 3D Visual Rumoh Aceh R9
Orientasi rumah R9 dan R10 masih mengikuti orientasi utara selatan dan membujur timur barat seperti rumoh Aceh pada umumnya yaitu berorietasi pada arah kiblat. Namun orientasi terhadap jalan, Rumah R9 dan R10 berada disisi barat jalan (Gambar 5.31, dan 5.32).
Dari sisi bentuk hunian, perubahan yang terjadi pada rumoh Aceh tipe 3 ini mulai merubah konsep dari rumoh Aceh. Perubahan tersebut dapat dilihat dengan mulai adanya penambahan ruang langsung di atas tanah pada bagian bawah dan
seuramoe likoet. Penyatuan toilet kedalam rumah dan penambahan ruang tidur anak j
a l a n j a l a n
laki-laki menjadi hal berbeda dengan nilai-nilai pada rumoh Aceh asli yang menjadi acuan.
Pada rumah R09 perubahan terjadi dengan adanya penambahan ruang seperti ruang keluarga, kamar tidur, ruang tamu, dapur, gudang dan kamar mandi/wc. Menurut pak Arrahman, penambahan ruang keluarga dan ruang tamu dimaksudkan untuk ruang berkumpul keluarga dan ruang untuk menerima tamu. Penambahan kamar tidur anak laki-laki dimaksudkan sebagai ruang privasi mereka. Serta penambahan dapur, gudang dan kamar mandi/wc yang ditempatkan didalam rumah disesuaikan dengan kebutuhan dan faktor keamanan dan efisien. Sedangkan pada rumah R10 perubahan yang terjadi adanya penambahan ruang seperti ruang keluarga, kamar tidur, carport, dapur dan kamar mandi/wc.
Tabel 5.11 Perubahan bentuk denah rumoh Aceh tipe 3
Denah eksisting Penambahan ruang Faktor Perubahan Rumah R9
(A. Rahman) R.tamu (ruang publik/
silaturahmi dengan kerabat dan saudara).
Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur dan ruang makan (agar lebih higienis). Km/Wc (kemudahan akses).
Carport (ruang penyimpanan kendaraan bermotor)
Rumah R10
(Amriani) R.Tamu (ruang publik/
silaturahmi dengan kerabat dan saudara ).
R.Keluarga (ruang berkumpul dan acara-acara keluarga).
Kamar tidur (kebutuhan akan ruang privasi). Dapur dan ruang makan (agar lebih higienis). Km/Wc (kemudahan akses).
5.4.3 Konfigurasi spasial
Konfigurasi ruang pada rumoh Aceh tipe 3 ini sudah tidak menerapkan lagi sistem nilai-nilai konfigurasi ruang pada rumoh Aceh asli. Pada rumah R09 dan R10 sudah tidak terlihat lagi adanya perbedaan ruang untuk zona kegiatan laki-laki dan perempuan seperti zona seuramoe keu (publik), seuramoe teungoh (suci) dan
seuramoe likoet (privat) seperti yang terdapat pada susunan rumoh Aceh asli. Penambahan ruang dilakukan pada keseluruhan bangunan (Gambar 5.33). Bangunan tambahan dibangun langsung di atas permukaan tanah. Sehingga menghilangkan kesan kolong yang menjadi salah satu ciri khas rumoh Aceh. Hal tersebut dipengaruhi juga oleh penggunaan material fabrikasi yang secara pengaplikasiannya lebih mudah dari material kayu.
Penambahan kamar tidur yang dilakukan pada bagian bawah rumah dan didirikan langsung diatas tanah mulai menghilangkan kesan kamar sebagai ruang paling suci dalam rumoh Aceh sebagaimana pada rumoh Aceh yang asli. Selain itu,
penambahan kamar mandi/toilet juga menunjukan adanya perbedaan dengan rumoh
Aceh asli yang memisahkan kamar mandi/toilet untuk menjaga kesan suci pada
rumoh Aceh. Hal ini juga menjadi elemen baru pada rumoh Aceh tipe 3 ini. 5.4.4 Fungsi ruang
Perubahan nilai-nilai pada kaitannya dengan fungsi ruang sudah terlihat dengan adanya penambahan ruang tamu pada bagian yup moh (kolong). Penambahan ruang tamu menghilangkan fungsi tangga sebagai kontrol sosial bagi tamu yang bukan muhrim atau bukan kerabat dekat yang ingin berkunjung. Penambahan ruang yang dilakuka pada bagian kolong rumah juga menghilangkan konsep rumah panggung pada rumoh Aceh yang sudah menjadi cirri khas dari rumoh Aceh tersebut.
Untuk fungsi ruang pada rumah tipe 3 ini banyak terjadi perubahan. Perubahan fungsi ruang terjadi pada bagian penambahan ruang yaitu pada seuramoe keu, seuramoe teungoh dan seuramoe likoet. Pada rumah R09 seuramoe keu terdapat perubahan ruang sebagai carport, seuramoe teungoh terdapat ruang tamu dan
Tabel 5.12 Perubahan fungsi ruang pada rumoh Aceh tipe 3 Penambahan Ruang Perubahan Fungsi ruang Sifat Ruang
Kamar tidur anak
perempuan Seuramoe likoet Ruang privat
Kamar tidur anak laki-laki Seuramoe likoet Ruang privat
Ruang tamu Seuramoe keu Ruang publik
Ruang keluarga Seuramoe keu Ruang publik Ruang makan Seuramoe likoet Ruang publik
dapur Seuramoe likoet servis
Kamar mandi/wc Seuramoe likoet servis
Ruang penyimpanan Seuramoe likoet servis
carport Seuramoe keu servis
Dari hasil analisa terhadap perubahan nilai-nilai sosiokultural, tipologi ruang, konfigurasi ruang dan fungsi ruang maka diperoleh data dari perubahan-perubahan pada rumoh aceh tipe 3 (Tabel 5.13).
Table 5.13 Kesimpulan perubahan nilai dan bentuk pada rumoh Aceh tipe 3
Aspek Perubahan Faktor
Sosiokultural Mengalami perubahan Dipengaruhi oleh gaya hidup modern.
Tipologi ruang Penambahan ruang :
Ruang tamu,ruang keluarga, kamar tidur, ruang makan, dapur, kamar mandi/wc, gudang dan carport.
Kebutuhan akan ruang privasi, Ruang berkumpul, Kebersihan dan higienis, kemudahan akses dan ruang penyimpanan.
Konfigurasi ruang
Terjadi perubahan dengan
Penambahan ruang pada bagian bawah rumah
Kemudahan pengaplikasian dari material fabrikasi dan
Tabel 5.13 (Lanjutan)
Aspek Perubahan Faktor
Fungsi ruang Perubahan fungsi ruang
seuramoe keu: sebagai ruang tamu,ruang keluarga dan car port seuramoe likoet: sebagai kamar tidur, ruang makan, dapur, kamar mandi dan gudang dan ruang penyimpanan.
Menyesuaikan dengan kebutuhan dan peningkatan aktivitas pemilik dan adanya peningkatan faktor finansial pemilik.
5.5 Perubahan Tata Nilai dan Bentuk Rumoh Aceh Hingga Saat Ini 5.5.1 Analisa faktor perubahan
5.5.1.1 Nilai-nilai sosiokultural
Perubahan nilai-nilai sosiokultural yang terjadi pada rumoh Aceh mulai tahun 1940an hingga saat ini memperlihatkan bahwa adanya pergeseran budaya dalam masyarakat Aceh. Nilai-nilai tradisional mulai hilang dan munculnya nilai-nilai baru yang dipengaruhi oleh keinginan akan gaya hidup modern (Tabel 5.14).
Table 5.14 Perubahan nilai-nilai sosiokultural dari1940 hingga saat ini Nilai-
nilai-nilai adat istiadat dan norma agama masih ketat. Pada rumah tipe 1, upacara adat saat mendirikan
dan mendiami bangunan masih diterapkan. Tangga masih menjadi kontrol sosial terhadap tamu yang datang. Letak posisi toilet masih terpisah dan pada rumah tipe 1 tidak terdapat kamar untu anak laki-laki.
Mulai terjadi perubahan, penerapan
adat istiadat mulai longgar.
Perubahan tersebut terlihat pada upacara adat mengambil bahan banguan dihutan sudah tidak dilaksanakan lagi dikarenakan material yang digunakan dibeli. Letak posisi toilet sudah menyatu dengan rumah.
Kamar anak laki-laki sudah tersedia dalam rumah sebagai ruang privasi mereka.
Terjadi perubahan, Dipengaruhi oleh gaya hidup modern.
Perubahan tersebut terlihat pada upacara adat mengambil bahan banguan dihutan sudah tidak dilaksanakan lagi
dikarenakan material yang digunakan dibeli
dan banyak menggunakan material
fabrikasi.
Letak posisi toilet sudah menyatu dengan rumah.
Tabel 5.14 (Lanjutan)
Tangga tidak lagi menjadi batas sebagai kontrol sosial bagi tamu yang datang.
Banyak terjadi penambahan
ruang-ruang baru yang disesuaikan dengan aktivitas.
Dari hasil penelitian terkait aspek nilai-nilai sosiokultural, ditemukan bahwa nilai-nilai lama seperti upacara pengambilan bahan dihutan sudah tidak dilaksanakan lagi. Pemisahan antara toilet dan rumah juga menjadi kendala pada kehidupan saat ini. Sehingga saat ini toilet dibangun menyatu dengan rumah. Selain itu, ditemukan juga ruang yang dikhususkan untuk menerima tamu, untuk keluarga sehingga fungsi tangga pada rumoh Aceh sebagai batas atau sebagai kontrol sosial bagi tamu yang bukan muhrim sudah tidak berlaku lagi.
menjadi identitas pemilik arsitektur. Biasanya Core elemen yang sulit berubah memiliki kaitannya dengan budaya kehidupan masyarakat. Hal ini cukup dapat menjelaskan mengapa orientasi rumoh Aceh dalam perkembangannya tetap mengikuti orientasi pada rumoh Aceh asli yaitu menghadap utara selatan dan membujur timur barat. Konsep kolong yang masih didapati pada rumah Aceh di Desa Blang baroh juga menjadi sesuatu yang hal yang masih dipertahankan. Selain itu ruang khusus untuk tamu, keluarga dan anak perempuan masih ada pada perkembangannya rumoh Aceh di desa Bang Baro. Disisi lain yang menjadi hal baru adalah adanya penambahan kamar anak laki-laki dan kamar mandi/toilet dalam rumah. Penambahan tersebut tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan syariat yang berlaku pada saat ini. Hal tersebut dikategorikan dalam New elemen (elemen yang diadaptasi oleh pemilik kebudayaan dan menjadi bagian baru pada arsitektur) (Rapoport, 1990).
5.5.1.2 Tipologi ruang
menyesuaikan dengan kebutuhan mereka saat ini. Oleh karena itu banyak ruang-rang baru yang hadir dalam perkembangan rumoh Aceh saat ini. Ruang-ruang tersebut hadir untuk memenuhi kebutuhan dari penghuni rumoh Aceh dengan kompleksitas aktivitas mereka saat ini (Tabel 5.15).
Table 5.15 Perubahan Tipologi ruang dari 1940 hingga saat ini
Bentuk Tipologi perubahan
Tipologi rumah tipe 1 (1940)
Perubahan hanya terjadi pada susunan asli yaitu seuramoe likoet.
Tipologi rumah tipe 2 (1990)
Tabel 5.15 (Lanjutan)
Bentuk Tipologi perubahan
Tipologi rumah tipe 3 (2000an)
Perubahan terjadi pada keseluruhan bangunan rumoh
Aceh yaitu pada seuramoe keu, seuramoe teungoh dan seuramoe likoet
5.5.1.3 Konfigurasi spasial
Table 5.16 Perubahan Konfigurasi ruang dari tahun 1940 hingga saat ini
Bentuk Tipologi perubahan
Konigurasi rumah tipe 1 (1940)
Masih menerpakan susunan asli, namun penambahan ruang terjadi pada bagian seuramoe likoet
Konigurasi rumah tipe 2 (1990)
Susunan mulai berubah. Penambahan ruang langsung pada bagian seuramoe likoet dan bagian belakang rumah. Penambahan ruang langsung diatas permukaan tanah. Konsep kolong rumah masih dapat dijumpai.
Konigurasi rumah tipe 3 (2000an)
Perubahan terjadi pada keseluruhan seuramoe keu, seuramoe teungoh dan seuramoe
5.5.1.4 Fungsi ruang
Fungsi ruang pada rumah Aceh sejak tahun 1940 hingga saat ini mengalami banyak perubahan. Pada rumoh Aceh tipe 2 dan tipe 3 perubahan fungsi yang merubah nilai-nilai lama adalah berubahnya fungsi tangga pada yup moh (kolong) bagian seuramoe keu (serambi depan) yang dulunya berungsi sebagai ruang batasan kontrol sosial bagi tamu yang bukan muhrim atau bukan saudara dekat yang ingin berkunjung kini fungsinya tergantikan dengan adanya ruang tamu. Selain itu perubahan fungsi yup moh (kolong) yang berganti dengan ruang-ruang tambahan baru, mulai menghilangkan konsep rumah panggung pada rumoh Aceh yang telah menjadi karakteristik dari rumoh Aceh itu sendiri.
Perubahan fungsi ruang terjadi pada bagian penambahan ruang yaitu pada
seuramoe keu, seuramoe teungoh dan seuramoe likoet (Tabel 5.17). Pada rumah R09
Table 5.17 Perubahan Fungsi ruang dari tahun 1940 hingga saat ini Rumah Seuramoe keu Seuramoe
teungoh
Seuramoe likoet
Rumah tipe 1 Tidak berubah Tidak berubah Kamar tidur
Ruang penyimpanan Rumah tipe 2 Tidak berubah Tidak berubah Kamar tidur, ruang tamu,
ruang keluarga, ruang kerja, kamar mandi/wc, dapur, ruang makan, gudang
Rumah tipe 3 Carport, ruang tamu, ruang keluarga
Ruang keluarga kamar tidur
Berdasarkan hasil analisa yang telah dibahas pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik rumoh Aceh yang terdapat pada lokasi penelitian yaitu, Gampong Blang Baroh Pidie dapat dijelaskan seperti pada Tabel 6.1.
Tabel 6.1 Karakteristik rumoh Aceh di Pidie
Karakteristik Gambar
Rumoh Aceh sudah mengalami perubahan. Perubahan dengan penambahan ruang hingga membangun bangunan baru.
Seuramoe keu, seuramoe teungoh, seuramoe likoet masih dapat dijumpai. Namun dengan adanya tambahan ruang pada
seuramoe likoet, batas
pemisahan ruangan khusus untuk laki dan perempuan sudah mulai menghilang
seuramoe keu,
seuramoe teungoh,
Tabel 6.1 (Lanjutan)
Karakteristik Gambar
lantai bagian teungah (juree) masih lebih tinggi (dianggap sebagai bagian paling suci dalam rumoh aceh).
Kamar tidur orang tua (rumoh Inong) dan anak perempuan (Anjong) masih dipertahankan.
Terdapat penambahan kamar tidur anak laki-laki dan kamar mandi/wc sudah menyatu dengan rumoh Aceh (di dalam rumah).
Kebanyakan rumoh Aceh di Pidie (studi kasus: gampong Blang Baroh) kolong berjumlah 16 dan 20 tiang
Posisi juree lebih tinggi dari
seuramoekeu dan
Tabel 6.1 (Lanjutan)
Karakteristik Gambar
Berdiri sendiri (tidak sambung menyambung) namun menyatu dengan bangunan tambahan (baru).
Menggunankan material alam (dinding,lantai dan tiang dari kayu, atap rumbia diganti seng dan tali rotan/ijuk masih digunkan sebagai pengikat sambungan). Namun sebagian besar rumoh Aceh sudah menggunakan material pabrikasi.
Selain menyimpulkan karakteristik dari rumoh Aceh yang terdapat pada lokasi penelitian, hasil penelitian juga menunjukan beberapa hal baru pada rumoh
Aceh yang berkembang di Gampong Blang Baroh Pidie yang dapat ditarik sebagai kesimpulan adalah sebagai berikut;
1. Berdasarkan dari variabel-variabel yang diteliti, perubahan/modifikasi yang terjadi pada rumoh Aceh di Pidie menunjukan tingkat perubahan yang berbeda-beda.
(kamar tidur anak laki-laki, ruang makan, dapur, kamar mandi/wc, gudang, ruang tamu dan garasi/carport).
3. Selain itu perubahan dari nilai-nilai sosikultural juga terjadi pada rumoh
Aceh seperti; mulai hilangnya batasan kegiatan antara kegiatan kaum laki-laki dan kaum perempuan dan mulai adanya kamar mandi/wc dalam
rumoh Aceh.
4. Arsitektural rumoh Aceh yang masih dapat terlihat dari dulu hingga sekarang adalah:
a. Nilai-nilai sosiokultural
Masih adanya kamar khusus untuk anak perempuan (rumoh anjong) dan kamar khusus orang tua (rumoh inoeng), serta seuramoe keu dalam bentuk ruang tamu dan ruang keluarga. Selain itu, upacara adat saat mendirikan dan mendiami rumah juga masih dijalankan oleh masyarakat.
b. Tipologi ruang
Keberadaan seuramoe keu (depan), seuramoe teungoh (tengah) dan seuramoe likoet (belakang) masih dapat terlihat pada rumoh Aceh. Hal lain yang masih dapat dijumpai hingga saat ini adalah orientasi rumoh Aceh yang menghadap utara-selatan dan membujur timur-barat.
c. Konfigurasi ruang spasial
adanya perbedaan kegiatan ruang publik dan ruang privat. Selain itu, keberadaan kolong juga masih dapat dijumpai pada rumoh Aceh saat ini.
d. Fungsi ruang
Fungsi ruang merupakan salah satu elemen yang ikut berubah, namun demikian fungsi seuramoe keu sebagai ruang publik masih terlihat dengan adanya ruang tamu dan ruang keluarga, pada seuramoe teungoh juga masih difungsikan sebagai area kamar tidur orang tua dan anak perempuan (ruang privat). Serta area dapur pada seurmoe likoet.
5. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan pada rumoh Aceh adalah adanya pergeseran budaya dari masyarakat Aceh. Masyarakat beralih ke unsur-unsur modern dan mulai meninggalkan unsur lokalitas.
6. Selain itu, kebutuhan akan ruang yang semakin kompleks yang diakibatkan oleh aktivitas masyarakat Aceh saat ini yang semakin beragam juga turut mempengaruhi perubahan.
7. Faktor berikutnya adalah masalah kemampuan ekonomi. Kemampuan ekonomi yang baik, mampu mendorong pemilik dari rumoh Aceh untuk melakukan penambahan atau perubahan pada rumoh Aceh. Hal tersebut terlihat pada rumoh Aceh modifikasi tipe 2 dan tipe 3 (1940-2016). 8. Perubahan-perubahan yang terjadi tidak selalu didasarkan oleh kearifan
menyebabkan penurunan kualitas dari nilai-nilai kearifan lokal yang positif pada rumoh Aceh menjadi terabaikan bahkan hilang.
6.2 Saran
Kelestarian dari rumoh Aceh diharapkan masih dapat dinikmati dalam jangka waktu yang lebih lama. Oleh karenanya beberapa saran yang dapat dipertimbangkan dalam menjaga eksistensi dari rumoh Aceh tersebut yaitu:
a. Menanamkan kesadaran dan membangun persepsi masyarakat akan pentingnya melestarikan kearifan lokal Aceh. Salah satunya dengan melestarikan rumoh Aceh itu sendiri, agar dapat dinikmati lebih lama oleh generasi-generiasi beikutnya.
b. Keterlibatan pemerintah juga diharapkan dalam menjaga kearifan lokal dari rumoh Aceh dan mengarahkan perubahan-perubahan yang terjadi pada rumoh Aceh agar nilai-nilai yang terkadung dalam rumoh Aceh tidak hilang begitu saja. Sehingga dengan adanya rugulasi dari pemerintah, masyarakat tidak hanya mengerti arti pentingnya menjaga kelestarian
Selain itu, berdasarkan dari hasil penelitian, penulis juga mencoba memberikan rekomendasi desain yang sifatnya tidak mengikat. Rekomendasi desain untuk perubahan dan penambahan ruang yang akan dilakukan kedepannya pada
rumoh Aceh sebaiknya tetap mempertahankan nilai-nilai dan elemen yang ada pada
rumoh Aceh, mengikuti perubahan ataupun penambahan ruang seperti pada rumoh
Aceh tipe 1 dan tipe 2 yang terdapat pada lokasi penelitian. Hal tersebut dikarenakan konsep rumoh Aceh masih dapat terlihat dan mudah dikenali pada rumoh Aceh tipe 1 dan tipe 2. Adapun rekomendasi perubahan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penerapan nilai-nilai islami dalam rumoh Aceh. Seperti tetap mempertahankan konsep konfigurasi spasial pada rumoh Aceh dengan adanya perbedaan sifat ruang untuk kaum laki-laki dan perempuan dan ruang untuk kegiatan publik dan privat (Gambar 6.1).
Gambar 6.1 Mempertahankan konsep konfigurasi spasial pada rumoh Aceh
Ruang paling
2. Selain itu, perubahan pada rumoh Aceh dapat dilakukan dengan tetap mempertahankan konsep kolong (seuramoe miyup) yang ada pada rumoh
Aceh. Hal ini dikarenakan, kolong (seuramoe miyup) merupakan salah satu bagian yang menjadi ciri khas dari rumoh Aceh tersebut (Gambar 6.2).
Gambar 6.2 Mempertahankan Konsep kolong sebagai ruang publik Kolong dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik
3. Arah perubahan dan penambahan ruang dapat dilakukan pada bagian belakang (seuramoe likoet). Pada opsi pertama, ruang tambahan diletakkan pada bagian bawah dari seuraoe likoet (Gambar 6.3).
Gambar 6.3 Opsi Penambahan ruang tipe 1
Gambar 6.4 Opsi penambahan ruang tipe 2
Penelitian yang sudah dilakukan ini hanya berfokus pada desa Blang Baroh Kecamatan Glumpang Baro Pidie, diharapkan adanya penelitian-penelitian berikutnya yang lebih mendalam tentang bentuk dan perubahan nilai-nilai pada