• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perubahan Tata Nilai dan Bentuk pada Arsitektur Tradisional Rumoh Aceh di Pidie

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perubahan Tata Nilai dan Bentuk pada Arsitektur Tradisional Rumoh Aceh di Pidie"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN I

TERMINOLOGI

A

Anjong Kamar depan, yang berfungsi sebagai kamar untuk anak perempuan.

Kap Bagian atap

M

Miyub Moh Kolong Rumah, bagian bawah rumah

Meunasah Tempat ibadah

O

(2)

P

Putroe Puteri

Peusijuk Syukuran

Peurumoh Yang punya rumah

R

Rambat Lorong penghubung kedua serambi

Rinyeun Tangga

Rumoh Rumah

Ruweueng Ruang

S

Seuramoe Serambi

Seuramoe Keu Serambi depan, tempat khusus kaum lelaki dan ruang publik

Seuramoe Likoet Serambi belakang, ruang khusus kaum wanita dan terdapat dapur

T

Tameh Tiang kayu

Tulak Angen Tolak Angin

Tungai Ruang tengah yang elevasinya lebih tinggi daripada lantai serambi. Di dalam tungai terdapat bilik dan rambat

Teungku Ulama Setempat

(3)

LAMPIRAN II

DAFTAR NAMA NARASUMBER

No Nama Umur Keterangan

1 Rohani 59 Pemilik (penduduk yang sudah tinggal lebih dari 50 tahun) 2 Kamariah 53 Pemilik (penduduk yang sudah

tinggal lebih dari 50 tahun) 3 Razali 62 Tokoh gampong, pemilik

(penduduk yang sudah tinggal lebih dari 50 tahun)

4 Isnaini 43 pemilik

5 Kamariah 45 pemilik

6 Hj. Nuriah 56 Pemilik (penduduk yang sudah tinggal lebih dari 50 tahun) 7 Ilyas 53 Pemilik (penduduk yang sudah

tinggal lebih dari 50 tahun) 8 Yusuf Abdullah 51 Pemilik (penduduk yang sudah

tinggal lebih dari 50 tahun) 9 Arrahman 59 Tokoh gampong, pemilik

(penduduk yang sudah tinggal lebih dari 50 tahun)

(4)

LAMPIRAN III

(5)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian maka permasalahan umum pada penelitian ini adalah “ Apa saja nilai-nilai yang terdapat dalam kearifan lokal

66 Satu hal yang mendasari adanya konflik tersebut adalah bahwa masyarakat Baluwarti selama ini telah mengabdi, menempati, dan selalu menjalankan aturan- aturan yang diberlakukan

Perluasan bagian belakang makam dan bagian luar yang sering disebut aula atau serambi sebenarnya adalah semacam teras masjid yang digunakan sebagai tempat shalat

Hal ini juga seperti yang terdapat dalam arsitektur masjid Ashabul Kahfi yang di dalamnya hampir semua bagian lantai-lantai dilapisi dengan keramik marmer dan tiang

berupa pondasi rumah panggung, denah masjid yang berbentuk persegi, mihrab, mimbar, tiang-tiang utama (sokoguru) masjd, serambi pada sekeliling ruang utama, atap masjid yang tumpang,

Karena belum banyak referensi rumah selain rumoh Aceh saat itu, mempengaruhi bobot perseptual dan artikulasi rumah panggung, baik tepi-sudut maupun bidang, tidak jauh

Walaupun memiliki susunan dan prinsip perubahan ruang yang sama pada tipe 3, namun adanya perbedaan akses ruang yang dipengaruhi oleh kecenderungan aktivitas penghuni, yaitu

Perluasan bagian belakang makam dan bagian luar yang sering disebut aula atau serambi sebenarnya adalah semacam teras masjid yang digunakan sebagai tempat shalat