BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menginvasi tubuh yang menyerang kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh sehingga bila dibiarkan dalam jangka lama penderita yang terserang HIV akan jatuh kedalam keadaan AIDS. HIV termasuk kedalam golongan lentivirus atau retrovirus. Virus ini termasuk virus RNA. Dalam penyebarannya virus ini membutuhkan enzim reverse transkriptase agar dapat berplikasi dan menginfeksi tubuh manusia. HIV yang menginvasi tubuh manusia akan terus bereplikasi dan akan terus menyerang sel kekebalan tubuh manusia. Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia melalui reseptor CD4 yang terdapat pada sel-sel kekebalan tubuh. Virus HIV terdiri dari 2 subtipe yaitu HIV1 dan HIV2. HIV1 merupakan jenis yang paling banyak menginfeksi manusia (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
2.2 Pengertian AIDS
AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Bila ditinjau dari segi bahasa Acquired berarti didapat bukan penyakit turunan. Immuno berarti sistem kekebalan tubuh. Deficiency artinya kekurangan dan syndrome adalah kumpulan gejala. Dari pengertian tersebut maka dapat ditarik pengertian bahwa AIDS adalah kumpulan gejala maupun penyakit yang disebabkan oleh virus HIV yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh mudah diserang penyakit lain yang dapat berakibat fatal (Soanes, C., 2001).
Berdasarkan Kamus Kedokteran Dorland (2006), AIDS adalah suatu penyakit retrovirus epidemik, menular yang disebabkan oleh infeksi HIV (Human
Immunodeficiency Virus), yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai depresi
manifestasi infeksi virus HIV yang menyebabkan depresi berat kekebalan tubuh manusia.
2.3 Epidemiologi
Saat ini HIV/AIDS merupakan penyakit pandemi dimasyarakat dunia. HIV/AIDS merupakan masalah yang sangat mendunia dan sangat kompleks. Lebih dari jutaan orang yang terkena HIV/AIDS dan hal ini sangat berpotensi untuk menyebarkan kepada orang lain. HIV/AIDS pertama kali dilaporkan oleh
Center For Disease Control (CDC) di Amerika Serikat pada sekelompok kaum
homoseks di California dan New York City pada tahun 1981. Sampai saat ini kasus HIV/AIDS ini masih terus berkembang dan penyebarannya juga masih terus terjadi sehingga tingginya kasus HIV/AIDS yang dijumpai pada saat ini (CDC, 2014).
2.3.1 HIV/AIDS di Dunia
Tabel 2.1 Epidemiologi HIV/AIDS (WHO/UNAIDS, 2012)
Dari tabel diatas didapati bahwa Sub-Saharan Afrika merupakan negara
yang paling tinggi yang diprediksi oleh WHO/UNAIDS pada tahun 2012. Sub-Saharan Afrika merupakan suatu negara bagian yang terdapat di Benua Afrika. Hal ini tentunya tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja. Kebudayaan masyarakat, faktor geografis, faktor sosial, faktor kurangnya pengetahuan masyarakat akan HIV/AIDS, kurangnya kesadaran akan infeksi HIV/AIDS, serta kemajuan teknologi merupakan faktor – faktor yang diduga sebagai penyebab masih tingginya penyebaran HIV/AIDS. Asia Tenggara dan Asia Selatan pada tabel diatas dapat kita lihat menduduki peringkat kedua dalam jumlah infeksi HIV/AIDS. Asia Tenggara sendiri memiliki negara-negara anggota yang terdiri dari 11 negara. Hal ini dapat kita lebih cermati pada Indonesia yang merupakan salah satu anggota Negara Asia Tenggara. Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, bahkan Indonesia merupakan negara ketiga penduduk terbanyak di dunia. Nantinya pada bagian yang selanjutnya akan dibahas mengenai epidemiologi HIV/AIDS di Indonesia (WHO/UNAIDS, 2012).
2.3.2 HIV/AIDS di Indonesia
Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.
Adults And Children Sub-Saharan Africa 25.0 Million 1.6 Million 4.7% 1.2 Million
Human Immunodeficiency Virus (HIV) sudah ada di Indonesia sejak kasus
pertama ditemukan tahun 1987. Sampai saat ini kasus HIV/AIDS telah dilaporkan oleh 341 dari 497 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu Negara Asia dengan penyebaran HIV/AIDS yang berkembang paling cepat (UNAIDS, 2012), dan merupakan negara dengan tingkat epidemi HIV terkonsentrasi, karena terdapat beberapa daerah dengan prevalensi HIV lebih dari 5% pada subpopulasi tertentu, dan prevalensi HIV tinggi pada populasi umum 15-49 tahun terjadi di Provinsi Papua dan Papua Barat (2,4%).
Gambar 2.1 Jumlah Kasus HIV/AIDS Serta Kematian Karena HIV/AIDS di Indonesia Tahun 2005-September 2012 (Direktorat PP&PL, Kemenkes,
2012)
574 760 825 937 960 1185 825 514
0
2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
Jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia terus mengalami peningkatan. Penghitungan kembali terhadap data-data mengenai infeksi HIV/AIDS pun terus dilakukan. Pada tahun 2013 didapati peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS. Hal ini jelas terlihat pada gambar 2.2 berikut ini.
Gambar 2.2 Jumlah HIV/AIDS Yang Dilaporkan Pertahun Sampai Dengan Maret 2013 (Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013)
Dari gambar diatas kita dapat membandingkan dengan tahun sebelumnya dimana terjadi perubahan jumlah pasien yang didapati menderita HIV/AIDS. Pada grafik 2.1 pada tahun 2012 didapati jumlah pasien yang terkena HIV berjumlah 9.883 orang sedangkan menurut data kemenkes tahun 2013, jumlah pasien yang menderita HIV pada tahun 2012 berjumlah 21.511 orang. Hal ini terjadi karena diadakannya validasi data oleh pihak pengumpul untuk mendapatkan hasil yang akurat.
Tabel 2.2 Jumlah Infeksi HIV Sampai Maret 2013 (Ditjen PP&PL,Kemenkes RI, 2013)
2.3.3 HIV/AIDS di Sumatera Utara
Sumatera merupakan suatu pulau di sebelah barat dari Indonesia yang terdiri atas beberapa provinsi. Pada bagian ini akan lebih dibahas pada Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara memang belum memasuki provinsi yang penyebarannya tinggi. Pada tahun 2010 jumlah kasus baru untuk HIV (+) yaitu 171 kasus dan AIDS sebanyak 468 kasus (Dinkes Provsu). Penambahan kasus baru pada tahun 2011 menyebabkan peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS secara keseluruhan menjadi 3.237 kasus. Pada tahun 2012, jumlah kasus HIV/AIDS meningkat tajam menjadi 6.430 kasus dengan rincian, 2.189 kasus HIV dan 4.241 kasus AIDS(Dinkes Provsu, 2012). Penderita baru HIV/AIDS 3 tertinggi tahun 2012 secara berturut-turut adalah Kota Medan yaitu 506 kasus atau sekitar 34,56%, Kabupaten Karo 347 kasus (23,70%), dan Kabupaten Deli Serdang sebanyak 172 kasus (11,75%) dari total seluruh penderita baru (Dinkes Provsu, 2012).
Gambar 2.3 menunjukkan jumlah kumulatif pasien HIV/AIDS dari tahun 1994 sampai tahun 2012. Dari gambar tersebut jelas dapat kita lihat bahwasannya terdapat 4241 total pasien AIDS yang ditemukan sampai tahun 2013. Total pasien HIV pada gambar juga dapat kita lihat sebanya 2189 orang dari tahun 1994 sampai 2013. Jumlah tersebut termasuk pasien dengan infeksi baru, orang dengan HIV/AIDS (ODHA), dan kematian akibat penyakit ini.
Dari gambar 2.4 dapat kita lihat bahwa Medan merupakan kota yang menduduki peringkat pertama sebagai kota yang jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 506 orang yang dideteksi telah terjangkit penyakit HIV/AIDS. Medan merupakan Ibukota Provinsi Sumatera Utara. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan. Oleh karena itu perlu adanya upaya untuk menurunkan tingkat penyebaran virus ini agar jumlah pasien yang terjangkit tidak akan terus bertambah di kemudian hari.
2.4 Transmisi
Setiap benda asing yang merusak tubuh manusia memiliki jalan masuk tertentu agar dapat menginvasi tubuh dan berinteraksi dengan tubuh. Seperti halnya HIV, virus ini tentunya memiliki jalan masuk untuk menginfeksi tubuh manusia. HIV dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui kontak langsung dengan darah ataupun cairan tubuh seperti cairan semen, secret vagina, cairan serviks, dan cairan otak. Namun virus ini juga dapat masuk melalui air mata, urin, keringat, dan ASI, tetapi hanya dalam jumlah yang sangat sedikit (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
Sebelumnya telah berkembang dimasyarakat bahwasannya transmisi penyebaran HIV/AIDS melalui gigitan nyamuk dapat terjadi. Belum ada literatur maupun jurnal yang dapat membuktikan hal tersebut, namun hal tersebut sudah dapat dibantah. Belum ada pasien yang tercatat menderita HIV/AIDS melalui gigitan nyamuk baik di Indonesia maupun di dunia. Berikut ini terdapat beberapa cara penularan HIV yaitu :
1. Melalui hubungan seksual baik secara vaginal, oral maupun anal dengan pengidap HIV. Ini adalah cara yang paling umum terjadi yaitu meliputi 80 – 90% total kasus didunia.
3. Pembuatan tatto yang dilakukan tidak dengan alat-alat yang steril, penggunaan pisau cukur yang tidak diganti pada saat bercukur di salon. 4. Transmisi secara vertikal dari ibu pengidap HIV kepada bayinya, (selama
proses kelahiran dan melalui ASI). (Sudoyo AW et al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
2.5 Etiologi
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya HIV merupakan suatu virus golongan lentivirus subklas retrovirus yang menyerang sisitem kekebalan tubuh manusia yang dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh penderita sampai muncul gejala-gejala maupun sindrom yang dapat memungkinkan infeksi penyakit lain (infeksi oppurtinistik) yang disebut dalam keadaan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom). Luc Montagnier dkk. tahun 1983 telah menemukan LAV ( Lymphadenopathy Associated Virus). Pada tahun 1984 sejenis virus yang disebut HTVL 3 (Human T cell Lymphotropic Virus Type 3) ditemukan dari pasien AIDS di Amerika Serikat oleh Robert Gallo dkk. Kemudian didapati bahwa kedua virus ini sama, dan oleh committee taxonomy international pada tahun 1985 disebut sebagai HIV (Human Imuno-deficiency Virus). Pada tahun 1994 dikenal terdapat 2 jenis virus HIV yaitu HIV 1 dan HIV 2 (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
HIV1 dan HIV2 merupakan suatu virus RNA yang termasuk kedalam retrovirus. HIV1 penebarannya lebih luas dibandingkan dengan HIV 2. HIV1 penyebarannya hampir diseluruh dunia , sedangkan HIV 2 ditemukan pada pasien-pasien Portugal dan Afrika Barat. HIV2 lebih mirip dengan monkey virus yang disebut SIV (Simian Imunodeficiency Virus). Kedua jenis virus HIV ini sebenarnya memiliki banyak kemiripan. Kedua virus ini memiliki inti yang mirip, tetapi kedua virus ini memiliki selubung luar yang berbeda.
2.6 Patogenesis
HIV menginfeksi tubuh manusia dengan menempel pada sel-sel yang mempunyai molekul CD4 sebagai reseptor utama yaitu limfosit T4. Adapun sel lain yang memiliki reseptor CD4 yaitu sel monosit, sel makrofag dan sel – sel dendritik, sel retina, sel leher rahim serta sel langerhans. Gp120 yang merupakan reseptor permukaan virus yang akan berikatan dengan CD4. Kemudian GP120 akan berinteraksi dengan koreseptor yang tertanam dalam membran sel dan terpapar dengan peptide dari Gp41 dan mulailah terjadi fusi antara virus dan
membrane sel. Setelah fusi, internal virion core akan dilepaskan ke sitoplasma sebagai suatu kompleks ribonukleoprotein (Pathologic Basic of Disease).
Gambar 2.5. Ilustrasi skematik struktur HIV-1 (Pathologic Basic of Disease )
replikasi virus. Selubung virus tersusun oleh lapisan bilayer yang mempunyai tonjolan - tonjolan yang tertanam pada permukaan selubung lipid dan terdiri dari glikoprotein Gp120 dan Gp41. Gp120 berperan pada pengikatan HIV dengan reseptor CD4 dari sel. GP41 mengadakan fusi antara virus dengan membran sel host pada saat virus masuk ke sel host. Struktur genom RNA yaitu struktur pasang basanya terdiri dari 3 gen utama yang mengkode pembentukan struktur – struktur virus yaitu gen gag, pol, dan env. Selain itu, terdapat gen tambahan yaitu tat, rev, dan nef. Struktur polipeptida utama dari inti virus adalah p24. Polipeptida lain adalah p17 yang ada di sekeliling inti dan p15 yang membentuk kompleks dengan RNA virus.
Gambar 2.6. Mekanisme HIV Menginfeksi Sel (Pathologic Basic Of Disease )
pada bagian luar sel. Melalui proses budding pada permukaan membran sel, virion akan dikeluarkan dari sel host dalam keadaan matang (Pathologic Basic of Disease).
Segera setelah infeksi HIV, sebagian virus yang bebas maupun yang berada dalam sel – sel CD4 T yang terinfeksi akan mencapai kelenjar limfe regional dan akan merangsang imunitas seluler dan humoral dengan cara antara lain merekrut limfosi – limfosit. Pengumpulan sel limfosit ini justru akan menyebabkan sel – sel CD4 yang terinfeksi akan semakin banyak. Pada akhinya monosit dan limfosit yang terinfeksi akan beredar ke seluruh tubuh dan menyebarkan virus ke seluruh tubuh. HIV juga dapat memasuki otak melalui monosit Yang terdapat dan beredar di otak ataupun melalui infeksi sel endotel pada otak (Pathologic Basic of Disease).
Gambar 2.7 Mekanisme Kehilangan sel CD4 Pada Infeksi HIV/AIDS (Pathologic Basic Of Disease )
biak dengan cepat. Cepatnya replikasi sel virus tidak dapat diimbangi dengan respon tubuh terhadap perkembangan virus. Setelah 2-4 minggu akan terjadi peningkatan jumlah limfosit total yang diakibatkan oleh peningkatan jumlah sel CD8 T (sel sitotoksik) yang merupakan bagian dari respon imun terhadap virus (Harison, 2005).
Adanya sel T sitotoksik merupakan tanda rangsang neutralising antibodi. Antibodi akan terbentuk setelah minggu kedua atau ketiga namun kadang – kadang terjadi sampai beberapa bulan. Penurunan virus bebas dan sel yang terinfeksi disebabkan oleh lisis sel yang terinfeksi HIV oleh CD8 T. Sel CD8 yang teraktivasi pada individu yang terinfeksi HIV juga memproduksi sejumlah sitokin terlarut yang dapat menghambat replikasi virus dalam sel – sel CD4 T tanpa menyebabkan lisis sel. Setelah itu, jumlah sel CD4 akan kembali ke kadar semula seperti sebelum terinfeksi HIV. Selama fase akut, kebanyakan kasus menunjukkan gejala infeksi virus akut pada umumnya yaitu berupa demam, letargi, mialgia dan sakit kepala serta gejala lain berupa faringitis, limfadenopati dan ruam (Pathologic Basic of Disease).
menurun sampai < 200 sel/ul. Karena sel – sel ini berperan dalam mengontrol sel yang terinfeksi virus dan membersihkan virus pada tahap awal infeksi sehingga dikemukakan hilangnya aktivitas sel ini mempunyai dampak dalam peningkatan jumlah virus. Kemungkinan lain disebabkan karena terjadi mutasi dari virus sehingga tidak dikenal oleh sel T sitotoksik (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
2.7 Manifestasi klinis
Gejala klinis terdiri dari 2 gejala menurut Sudoyo et. Al.,Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (2009) yaitu gejala mayor (umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi):
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan. b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan. c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan. d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis. e. Demensia/ HIV ensefalopati.
Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan. b. Dermatitis generalisata.
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang. d. Kandidias orofaringeal.
e. Herpes simpleks kronis progresif. f. Limfadenopati generalisata. g. Retinitis virus Sitomegalo.
Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research
a. Fase awal
Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau lebih. Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun tubuh, penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti pembesaran kelenjar getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare, berat badan menurun, demam, batuk, dan pernafasan pendek. Gejala yang dapat ditimbulkan seperti demam, sakit tenggorokan, letargi, batuk, mialgia, keringat malam, keluhan GIT (Gastrointestinal Tract) berupa mual, muntah, sakit menelan, dan diare.
c. Fase akhir
Selama fase akhir dari HIV yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir pada penyakit yang disebut AIDS.
2.8 Masa Inkubasi
Masa inkubasi merupakan suatu waktu yang dihitung mulai dari seseorang terinfeksi HIV sampai kepada memberikan gejala. Gejala yang dapat ditimbulkan seperti demam, sakit tenggorokan, letargi, batuk, mialgia, keringat malam, keluhan GIT (Gastrointestinal Tract) berupa mual, muntah, sakit menelan, dan diare. Berdasarkan penelitian didapati bahwa masa inkubasi virus HIV ini sangat bervariasi yaitu antara 6 bulan sampai lebih dari 10 tahun, namun dikatakan bahwa masa inkubasi rata-rata adalah 5-10 tahun (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
dikenal dengan “masa window periode”. Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
Menurut Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam UI ( Universitas Indonesia) membagi lagi manifestasi klinis penyakit HIV/AIDS yaitu :
1. Infeksi Akut
Pasien yang terinfeksi HIV sekitar 30-50% pasien akan memberikan gejala infeksi akut yang mirip dengan gejala infeksi mononucleosis. Gejala yang dapat ditimbulkan seperti demam, sakit tenggorokan, letargi, batuk, mialgia, keringat malam, keluhan GIT (Gastrointestinal Tract) berupa mual, muntah, sakit menelan, dan diare. 2. Infeksi Kronik Asimptomatik
Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik yang lamanya dapat bertahun-tahun. Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat mengisolasi virus dari darah psien dan selama fase ini pasien juga infeksius. Selama fase ini tetap jelas bahwa aktivitas HIV tetap terjadi dan ini dibuktikan dengan menurunnya imunitas tubuh penderita dari waktu ke waktu. Kemungkinan sampai jumlah virus tertentu, tubuh masih dapat mengompensasi sistem imun.
3. PGL (Pembengkakan Kelenjar Getah Bening)
4. Gejala-gejala Akibat Penyakit Lain
a) Gejala yang disebabkan oleh hal-hal yang tidak langsung berhubungan dengan HIV, seperti : diare, demam lebih dari satu bulan, keringat malam, rasa lelah berlebihan, batuk kronik lebih dari satu bulan, dan penurunan berat badan 10% atau lebih. Apabila yang mencolok adalah penurunan berat badan, maka ini merupakan salah satu indikator penyakit AIDS, dan disebut sebagai slim disease, gejala ini paling banyak di Afrika.
b) Gejala yang langsung akibat HIV, misalnya : mielopati, neuropati perifer dan penyakit susunan saraf otak. Hampir 30% pasien dalam stadium akhir akan menderita AIDS dementia kompleks, yaitu menurun sampai menghilangnya daya ingat, gangguan fuingsi motorik dan fungsi kognitif, sehingga pasien sulit untuk berkomunikasi dan keterbatasan pergerakan.
c) Infeksi opportunistik dan neoplasma. Pada stadium kronik simptomatik ini sangat sedikit keluhan dan gejala yang benar-benar sebagai akibat langsung dari HIV. Akibat menurunnya daya tahan tubuh maka infeksi opportunistik masuk dan menambah berat penyakit yang diderita orang yang terinfeksi HIV (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
Karena masa inkubasi yang memiliki waktu yang relatif lama ini biasanya para penderita tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Seperti yang telah dijelaskan sebelummnya, pada masa inkubasi ini penderita sangat berpotensi untuk meyebarkan ataupun sebagai reservoir pengakit ini. Hal inilah yang dapat menyebabkan tingginya penyebaran virus ini baik dari sektor manapun.
Setiap penyakit pada umumnya menggunakan anamnesa sebagai langkah awal untuk mengetahui dan sebagai media pendekatan kepada pasien mengenai penyakit yang dideritanya sehingga kita dapat menggali lebih dalam masalah yang dikemukakan pasien agar dapat menjadi bahan acuan dalam penegakan diagnosa. Anamnesa berperan kurang lebih 80% dalam penegakan diagnosa. Begitu pula dengan kasus HIV/AIDS. kebanyakan pasien HIV/AIDS di diagnosa sementara oleh dokter setelah melakukan anamnesis. Adapun hal yang akan ditanyakan dalam anamnesa seperti kapan melakukan hubungan sexual terakhir, kebiasaan memakai alat pengaman seperti kondom, sesering apa pasien melakukan sex tanpa menggunakan pengaman, melakukan hubungan sex dengan sesama jenis atau heterosex, bagaimana pasien melakukan hubungan sex yaitu kelamin-kelamin, kelamin – anus, maupun secara oral. Pada anamnesa juga tidak dapat dilupakan mengenai penyakit maupun keluhan tambahan yang dirasakan pasien. Setelah pemeriksa selesai melakukan tanya jawab kepada pasien , maka untuk diagnosa yang lebih pasti akan dilakukan pemeriksaan fisik (CDC, 2014).
Pemeriksaan penunjang pada pasien HIV/AIDS yang sering dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium. Salah satu tes yang dijalankan adalah tes antibodi HIV yaitu dengan menggunakan test enzyme-linked immunoabsorbent assay ( ELISA ). Hasil tes yang positif berarti pernah terinfeksi, bukan adanya kekebalan terhadap virus. Sensitivitas ELISA sebesar 98 – 100%. Hasil positif ELISA harus dinkonfirmasi dengan Western Blot. Western Blot lebih spesifik mendeteksi antibodi terhadap komponen antigen permukaan virus. Spesifisitas Western Blot sebesar 99.6 – 100%. Hasilnya dinyatakan positif, negative atau indeterminate. CDC merekomendasikan reaksi dengan dua dari band berikut sebagai kriteria untuk hasil positif; p24, Gp41, Gp 120. Hasil indeterminate dihasilkan dari reaksi nonspesifik sera HIV negatif dengan beberapa protein HIV. Hasil indeterminate harus dievaluasi dan diperiksa secara serial selama 6 bulan sebelum menyatakan negatif. Untuk mendeteksi antigen virus digunakan pemeriksaan PCR (Harison, 2005).
Gambar 2.8 Algoritma diagnosis HIV/AIDS (Kasper et al, 2005)
perlahahan – lahan dan apabila CD4 menurun sehingga kurang dari 200/ul, ini didefiniskan sebagai AIDS. Tes alternatif yang lain adalah menghitung virus bebas pada pembuluh darah perifer. Tes ini disebut tes alternative karena tidak terlalu tepat. Hal ini karena replikasi virus berlaku di kelenjar limfa dan bukannya di pembuluh darah perifer (Harison, 2005).
Selain pemeriksaan penunjang yang telah dikemukakan diatas terdapat juga tes – tes laboratorium yang lain yang jarang digunakan dalam praktek kesehatan saat ini. Hal ini dikarenakan biaya untuk melakukan pemeriksaan yang terlalu mahal. Biopsi kelenjar limfa juga bisa dilakukan. HIV DNA, RNA dan proteinnya bisa dideteksi dengan teknik molekular dan dengan menggunakan mikroskop elektron untuk melihat virions. ( e-medicine, 2008).
2.10. Pengobatan
Pengobatan terhadap HIV/AIDS mencakup preventive dan kuratif. Namun pada bagian ini akan dibahas pengobatan terhadap HIV/AIDS secara kuratif. Pada prinsipnya pengobatan infeksi HIV terdiri dari pengobatan terhadap virus dan pencegahan agar tidak terjadinya infeksi oportunistik. Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi viral load sebanyak mungkin dengan target <20-50 kopi/ml sehingga dapat menghentikan atau memperlambat progresivitas selama mungkin, memperbaiki status imun dalam segi kuantitas dan kualitas CD4, serta memperpanjang usia hidup dan memperbaiki kualitas hidup (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
Obat golongan NRTI yaitu Zidovudine (AZT), Lamivudine (3TC), Didanosine (ddL), Zalcitabine (ddC) dan lain – lain bekerja melalui fosforilasi interselluler menjadi bentuk trifosfat dan bergabung ke DNA selanjutnya dapat menghambat pemanjangan rantai RNA virus. Obat golongan NNRTI seperti Nevirapine (NVP), Delavirdine (DLV), dan Efavirenz (EFV) bekerja dengan menghambat enzim reverse transcriptase melalui ikatan dengan tempat aktivitas enzim. Obat ini dapat menghambat atau menginduksi aktivitas sitokrom p450 sehingga dapat berinteraksi dengan obat –obatan yang lain. Obat golongan PI seperti Saquinavir (SQV), Indinavir (IDV), Ritonavir (RTV), dan lain – lain bekerja dengan mencegah pelepasan polipeptida pasca translasi menjadi protein virus fungsional. PI dapat menghambat sitokrom p450, dan ini akan meningkatkan potensi interaksi dengan banyak obat (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
2.11. Pencegahan
Selain upaya pengobatan terhadap penyakit (kuratif) para pihak petugas kesehatan seharusnya tidak dapat melupakan hal yang lebih penting untuk di lakukan yaitu pencegahan terhadap penyakit HIV/AIDS ini. Pencegahan menjadi lebih penting dikarenakan dengan melakukan pencegahan maka kita meminimalkan kemungkinan terinfeksi HIV. Upaya pencegahan dapat berupa :
a) Melakukan sex yang aman.
b) Menghindari kontak darah ataupun sexual dengan penderita HIV.
c) Melakukan penyuluhan kepada masyarakat awam mengenai penyakit HIV/AIDS dan bahayanya.
d) Meningkatkan pelayanan di sektor penanggulangan khusus HIV/AIDS (Sudoyo A.W. et.al., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2009).
Adapun pencegahan yang lebih rinci terhadap HIV/AIDS : a. Transmisi melalui sexual
sexual dengan berganti-ganti pasangan, melakukan hubungan sex dengan satu orang saja. Pencegahan yang kedua yaitu melakukan penurunan kemungkinan transmisi virus dengan aktivitas sexual yaitu dengan menggunakan alat pengaman sex berupa kondom baik untuk pria maupun wanita ataupun keduanya (Simon,v et all, 2010).
b. Transmisi melalui injeksi jarum dan peralatan lainnya
Penggunaan melalui injeksi jarum dapat berupa pemakaian narkoba suntik, tertusuk jarum suntik pada pihak yang berisiko, pembuatan tattoo. Sedangkan maksud transmisi melalui alat lainnya adalah transmisi yang tidak disengaja melalui pisau cukur yang tidak diganti dan sebagainya. Transmisi melalui jalur ini tentunya perlu pencegahan melalui penjagaan higeanitas alat. Pemakaian alat dengan metode sekali pakai juga dapat mengurangi risiko tertular HIV/AIDS (Kesthkaran, Ali, et. all, 2014).
Adapun berdasarkan penelitian dikatakan bahwa penggunaan MMT (Methadone Maintenance Treatment) dapat menurunkan risiko penularan melalui narkoba suntik. Methadone dapat menurunkan risiko penyebaran dengan cara menurunkan pemakaian narkoba suntik (Kesthkaran, Ali, et. all, 2014).
c. Transmisi melalui Ibu terhadap anak
Pencegahan melalui ibu dan anak yang pertama yaitu melalui pemberian ART (Anti Retroviral Therapy) dengan nevirapine kepada ibu yang melahirkan dan anak yang baru dilahirkan tersebut. Pencegahan melalui jalan lahir juga harus dilakukan untuk mencegah transmisinya. Ibu-ibu hamil yang terdeteksi HIV dianjurkan untuk dilakukan operasi secio caesarean. Hal ini dilakukan untuk mencegah transmisi virus melalui luka bila dilahirkan secara normal (Simon,v et all, 2010).
Adapun pencegahan lainnya yaitu berupa pemberian PrEP (Pre Exposure Prophilaxis). PrEP diberikan kepada orang-orang yang tidak terinfeksi HIV/AIDs. PrEP merupakan kombinasi dari 2 golongan obat ARV yaitu tenofovir disoproxil fumarate (disebut juga TDF, atau tenofovir) dan emtricitabine (disebut juga FTC). Penggunaan PrEP ini yaitu dengan cara 1 pil setiap hari.hal ini dimaksudkan untuk mencegah dengan menguatkan tubuh dari serangan virus (CDC, 2014)
Pencegahan lainnya juga yaitu melalui sirkumsisi pada lelaki. Alasan sirkumsisi dilakukan sebagai langkah pencegahan yaitu karena pada foreskin terdapat kelenjar apokrin yang mensekresikan lisozim dan juga sel-sel langerhans yang memiliki reseptor CD4. Oleh karena itulah langkah pencegahan dengan cara sirkumsisi diambil sebagai upaya untuk menurunkan penyebaran HIV/AIDS (Simon,v et all, 2010).
2.12. Prevalensi Faktor Risiko Penyebaran HIV/AIDS
Tingginya faktor risiko sex bebas pada saat ini merupakan gambaran tingginya tingkat kejahatan dan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penyebab HIV/AIDS. Tingginya pengaruh faktor risiko sex bebas diduga dikarenakan meningkatnya kejahatan masyarakat dalam hal sexualitas. Adapun alasan lain yang mungkin menyebabkan hal tersebut yaitu mulai menurunnya penggunaan narkoba suntik pada kalangan pengguna narkoba. Kedua alasan inilah yang mungkin menyebabkan tingginya penyebaran HIV/AIDS melalui sex bebas di kalangan masyarakat.
Gambar 2.9 Gambaran Prevalensi faktor risiko HIV/AIDS tahun 1987 sampai Maret 2013 (Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2013)
Pada gambar 2.9 dapat kita lihat bahwasannya sex bebas (heterosex) merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh dalam menyebarkan HIV/AIDS. Sex bebas bila kita lihat pada gambar berjumlah 59,8%, dari persentase tersebut berarti dari seluruh pasien HIV/AIDS yang tercatat oleh Dinas kesehatan lebih dari separuhnya terkena HIV/AIDS melalui jalur sex bebas.
Sebelumnya penasun (pengguna narkoba suntik) pada tahun 2006 merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh dalam penyebaran HIV/AIDS. Tercatat faktor risiko yang tertinggi menyebabkan HIV/AIDS adalah pengguna narkoba suntik (Penasun) (50,3%), diikuti oleh sex bebas (40,3%), homosex (4,2%), dan perinatal (1,5%) (Depkes, 2006). Untuk lebih memudahkan dalam melihat masing-masing pengaruh faktor risiko HIV/AIDS dapat dilihat pada gambar 2.10.
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, transmisi
dikarenakan tingginya pemakaian narkoba suntik dikalangan masyarakat Indonesia.
Gambar 2.10 Gambaran prevalensi faktor Risiko HIV/AIDS tahun 2006 (Depkes , 2006)
Berdasarkan kedua data pada tahun 2006 dan total kumulatif pada tahun 1987 sampai dengan tahun 2013 kita dapat menjumpai adanya pergeseran pengaruh faktor risiko penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Pergeseran pengaruh faktor risiko ini berupa pergeseran pengaruh faktor risiko penasun ( Pengguna Narkoba Suntik) sebagai faktor risiko penyebaran yang pengaruhnya terbesar sampai tahun 2006 dengan faktor risiko penyebaran melalui sex bebas (Heterosex) secara kumulatif dari tahun ditemukannya kasus HIV/AIDS di Indonesia yaitu tahun 1987 sampai dengan bulan Maret 2013.
Pergeseran pengaruh faktor risiko ini dapat terjadi dikarenakan oleh 2 hal seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Alasan pertama adalah tingginya perilaku sex bebas di kalangan masyarakat. Alasan yang kedua adalah berkurangnya penggunaan narkoba suntik di kalangan pengguna narkoba. Kemungkinan kedua hal itulah yang menjadi alasan terkuat sebagai landasan