PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS MATERI
DESCRIPTIVE TEXT
DI KELAS VII-B SMP NEGERI 1 PAGERWOJO - TULUNGAGUNG
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
1
Usa Meilini
1SMP Negeri 1 PagerwojoDs. Mulyosari, Kec. Pagerwojo, Kab. Tulungagung, Indonesia meiliniusa@ y mail .co m
ABSTRAK
Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk mengetahui kualitas Pembelajaran Bahasa Inggris Materi Descriptive Text, khususnya peningkatan keterampilan membaca melalui penerapan model pembelajaran Jigsaw di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014. Kualitas tersebut dianalisis berdasarkan aspek-aspek motivasi, aktivitas belajar, serta kompetensi siswa. Penelitian dilakukan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri atas tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penulis mengambil data aktivitas siswa pada tiap siklus, sedangkan data hasil belajar diperoleh dari tes tertulis di akhir siklus. Penulis juga mengambil data tes awal (pre-test) untuk memetakan kemampuan awal siswa. Kesimpulan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut: 1) Penerapan model pembelajaran Jigsaw terbukti berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014; 2) Penerapan model pembelajaran Jigsaw terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa dalam rangka peningkatan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014; 3) Penerapan model pembelajaran
Jigsaw terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam rangka peningkatan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014. Saran dari Peneliti adalah: 1) Guru sebaiknya lebih memperhatikan karakteristik siswanya, terutama sekali dalam sistem monitoring yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, guru dapat mengontrol sikap dan perilaku siswa pada saat proses berlangsung; 2) Pihak guru, sekolah serta stakeholder lainnya sebaiknya memberikan dukungan dan kontribusi yang nyata terhadap berbagai upaya pengembangan lebih lanjut; 3) Bagi guru mitra yang akan menggunakan perangkat dan model pembelajaran ini, sebaiknya sebelum menggunakannya, terlebih dahulu melakukan simulasi dan selalu berkonsultasi dengan peneliti, sehingga kekurangan yang terjadi pada ujicoba ini dapat teratasi sebelum mengajarkan di kelas; serta 4) Bagi peneliti lain yang hendak mengembangkan ataupun mereplikasi penelitian ini, sebaiknya mempertimbangkan berbagai keterbatasan penelitian yang telah diutarakan penulis.
Kata Kunci : Model Pembelajaran Jigsaw, Keterampilan membaca (readingskill), DescriptiveText
Pendahuluan
Bahasa Inggris merupakan alat atau media untuk berkomunikasi, baik secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan bahasa, yaitu: mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing). Keempat keterampilan inilah
yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006).
Tingkat literasi tersebut mencakup performative,
functional, informational, dan epistemic. Pada tingkat
performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat
informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan yang dimilikinya ke dalam bahasa sasaran (Wells, 1987).
Kemampuan berkomunikasi dengan Bahasa Inggris dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan menghasilkan teks lisan dan tulis yang direalisasikan dalam keterampilan reseptif dan keterampilan produktif. Keterampilan reseptif meliputi keterampilan menyimak (listening) dan keterampilan membaca (reading), sedangkan keterampilan produktif meliputi keterampilan berbicara (speaking) dan keterampilan menulis (writing). Baik keterampilan reseptif maupun keterampilan produktif perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan agar siswa mampu berkomunikasi dan berwacana dalam Bahasa Inggris.
Dalam proses pembelajaran membaca pemahaman bahasa Inggris di kelas selama ini, siswa cenderung mempunyai orientasi untuk mendapatkan nilai semata. Para guru jarang sekali mengembangkan keterampilan membaca, karena menurut persepsi mereka pemahaman membaca akan berkembang sendiri secara natural selama para siswa mengetahui makna/arti kosakata (words) yang ada di dalam teks. Penguasaan kosakata memang dapat menjadi salah satu modal yang cukup untuk memahami sebuah teks dan siswa yang lemah penguasaannya akan menghadapi permasalahan yang serius terhadap pemahaman membaca. Akan tetapi, penguasaan kosakata saja tidak dapat membantu siswa untuk memahami sebuah teks, sehingga selain harus diajarkan tentang bagaimana menguasai kosakata siswa juga harus diajarkan keterampilan dan strategi dalam memahami sebuah teks (Rapp, et. all, 2007).
Selain itu, untuk mengembangkan keterampilan membaca dalam pembelajaran bahasa Inggris, guru cenderung melaksanakan proses pembelajaran membaca secara konvensional. Guru hanya membaca teks dan bersama-sama menjawab pertanyaan berdasarkan teks dengan tidak memperhatikan bagaimana mengembangkan kemampuan membaca pemahaman bagi siswa. Pernyataan diatas sesuai dengan pendapat yang diungkapkan oleh Winograd dan Greenlee (1986) dalam Westwood (2008), yang mengatakan, “Teachers are spending too much time managing children through materials by assigning them activities and asking questions and too little
time engaged in the kind of teaching that will help children into independent readers”.
Pengalaman peneliti yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Pagerwojo Tulungagung membuktikan bahwa berbagai permasalahan tersebut di atas memang pada kenyataannya terjadi. Di Kelas VII-B dimana peneliti mengajar, kondisi tersebut diperparah dengan munculnya faktor-faktor lain yang mempengaruhi, antara lain: 1) siswa kurang gemar membaca, apalagi teks yang berbahasa Inggris; 2) siswa kurang menguasai teknik membaca teks Bahasa Inggris; 3) siswa kurang mempunyai pengalaman berinteraksi dengan teks Bahasa Inggris; 4) terbatasnya sumber bacaan dengan teks Bahasa Inggris; 5) sifat malas; serta 6) sifat malu.
Masalah-masalah yang diidentifikasi peneliti tersebut berbanding lurus dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris, khususnya pada aspek keterampilan membaca (reading skill) pada materi descriptive text. Hasil ulangan harian dan tugas individu untuk aspek tersebut membuktikan bahwa banyak dari siswa Kelas VII-B mempunyai keterampilan membaca cenderung rendah. Kriteria rendah yang dimaksud adalah mempunyai nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) = 75.
Diketahui bahwa dari 25 siswa yang terdapat di Kelas VII-B, sebanyak 14 siswa (56,00%) mempunyai nilai ulangan harian dibawah KKM = 75; sebanyak 9 siswa (36,00%) mempunyai nilai ulangan harian sama dengan KKM = 75; serta hanya 2 siswa (8,00%) mempunyai nilai ulangan harian diatas KKM = 75. Diketahui pula bahwa sebanyak 12 siswa (48,00%) mempunyai nilai tugas individu dibawah KKM = 75; dan sebanyak 13 siswa (52,00%) mempunyai nilai tugas individu diatas KKM = 75. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa di Kelas VII-B lebih banyak yang mempunyai nilai ulangan harian dibawah KKM meskipun lebih banyak yang mempunyai nilai tugas individu diatas KKM.
Hambatan dan permasalahan, serta temuan mengenai hasil ulangan harian dan tugas individu siswa pada mata pelajaran Bahasa Inggris aspek keterampilan membaca (reading skill) pada materi
descriptive text, menjadi faktor-faktor yang mendorong peneliti untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas yang dapat mendeskripsikan dengan jelas dan faktual tentang strategi dan model pembelajaran yang tepat untuk meningkatkan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi descriptive text.
mendesain model pembelajaran kooperatif tipe
jigsaw. Model ini akan dicoba digunakan dalam pembelajaran Bahasa Inggris materi descriptive text, khususnya peningkatan keterampilan membaca (reading skill) siswa.
Model pembelajaran jigsaw adalah salah satu teknik pembelajaran kooperatif yang mengedepankan partisipasi siswa. Siswa yang memiliki tanggungjawab lebih besar dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas, dan bukan gurunya. Jigsaw
telah dikembangkan dan diuji coba oleh Eliot Aroson dan teman-temannya di Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins (Trianto, 2011). Pembelajaran menggunakan jigsaw melibatkan semua peserta didik yang ada di kelas. Tujuan dari metode ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif dan penguasaan materi.
Pembelajaran koopertif tipe jigsaw menurut Ibrahim, dkk., (2001:7-8) memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan, antara lain:
1. memungkinkan murid dapat mengembangkan kreativitas, kemampuan, dan daya pemecahan 3. memotivasi guru untuk bekerja lebih aktif dan
kreatif;
4. mampu memadukan berbagai pendekatan belajar, yaitu pendekatan kelas, kelompok, dan individual.
5. meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga
8. meningkatkan kemampuan bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.
Kelebihan dan potensi yang dimiliki model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dipandang perlu dan kompatibel oleh peneliti untuk mengatasi dan mengantisipasi berbagai masalah, hambatan dan tantangan dalam implementasi pembelajaran Bahasa Inggris materi descriptive text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo–Tulungagung, khususnya dalam
rangka meningkatkan keterampilan membaca (reading skill).
Diharapkan, model pembelajaran jigsaw dapat menjadi alternatif solusi bagi guru dalam menemukan atau memformulasikan model pembelajaran yang inovatif – progresif pada pembelajaran Bahasa Inggris materi descriptive text, tidak saja di kelas penelitian tetapi juga di kelas-kelas lain. Selain itu, guru dapat mendeskripsikan dan menganalisis aktivitas dan motivasi belajar, serta hasil belajar siswa pada aspek keterampilan membaca (reading skill) dari materi lembar observasi. Penulis memberikan tes awal ( pre-test) terlebih dahulu. Setiap test menggunakan 20 item soal ber-tipe pilihan ganda (multiple choice) dengan bobot nilai yang seragam / sama, yaitu 5. Setiap siklus berpedoman kepada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang membahas materi
Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014.
Skenario 2 siklus tersebut kemudian dikembangkan ke dalam langkah-langkah berikut: 1) Perencanaan (planning); 2) Pelaksanaan tindakan (action); 3) Observasi (observation); kemudian 4) Refleksi (reflection).
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Pebruari – April 2013 di SMP Negeri 1 Pagerwojo– Tulungagung, khususnya di Kelas VII-B. Jumlah siswa adalah 25 orang yang terdiri dari 14 siswa laki-laki dan 11 orang siswa perempuan, dengan kemampuan heterogen .
Cara pengambilan data adalah sebagai berikut: a) data aktivitas kelas diambil melalui observasi pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung dengan menggunakan lembar observasi; b) data hasil belajar siswa diambil setelah masing-masing siklus berlangsung dengan instrumen tes; c) data tentang motivasi siswa diambil melalui observasi setelah KBM berlangsung; d) data tentang keterkaitan antara perencanaan dengan pelaksanaan didapat dari rencana pembelajaran dan observasi. Data diklasifikasikan atas dua tipe data, yaitu: kualitatif dan kuantitatif. Data kuantitatif berupa nilai para siswa pada setiap siklus. Melalui penggunaan teknik statistik sederhana, data kuantitatif kemudian ditabulasikan dan dihitung rata-ratanya.
Indikator keberhasilan tindakan ini adalah bilamana keterampilan membaca siswa dalam memahami materi descriptive text tentang describing my house mencapai tingkat keberhasilan 80% secara klasikal dan 75% secara individual.
Hasil Penelitian
Soal dalam pre-test sebanyak 20 soal pilihan ganda (multiple choice), dengan bobot nilai masing-masing adalah 5 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah. Berdasarkan hasil pre-test, diketahui bahwa sebagian besar (56,00%) siswa Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo–Tulungagung cenderung mempunyai aktivitas dan motivasi belajar serta kompetensi yang masih rendah tentang keterampilan membaca (reading skill). Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan dengan cara melakukan eksperimen penerapan model pembelajaran jigsaw.
Tabel 1. Tabulasi Hasil Pre-Test
Tingkat keberhasilan secara klasikal pada pra-Siklus I hanya mencapai 69,86%.
Gambar 1. Histogram Tabulasi Hasil Pre-Test
Soal dalam post-test Siklus I sebanyak 20 soal pilihan ganda (multiple choice), dengan bobot nilai masing-masing adalah 5 untuk jawaban benar dan 0
untuk jawaban salah. Berdasarkan hasil post-test
Siklus I, diketahui bahwa sebagian (68,00%) siswa Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo–Tulungagung sudah mempunyai aktivitas dan motivasi belajar serta kompetensi yang relatif tinggi dalam keterampilan membaca (reading skill). Namun demikian, masih terdapat 8 siswa (32,00%) yang nilainya dibawah KKM.
Tabel 2. Tabulasi Hasil Post-Test Siklus I
Tingkat keberhasilan secara klasikal pada Siklus I mencapai 73,90%.
Gambar 2. Histogram Tabulasi Hasil Post-Test Siklus I
Soal dalam post-test Siklus II sebanyak 20 soal pilihan ganda (multiple choice), dengan bobot nilai masing-masing adalah 5 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah. Berdasarkan hasil post-test
Siklus II, diketahui bahwa sebagian besar (92,00%) siswa Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo– Tulungagung sudah mempunyai aktivitas dan motivasi belajar serta kompetensi yang relatif tinggi dalam keterampilan membaca (reading skill). Meski demikian, masih terdapat 2 siswa (8,00%) yang nilainya dibawah KKM, yang berarti mempunyai aktivitas dan motivasi belajar serta kompetensi yang relatif rendah dalam keterampilan membaca (reading skill).
Tingkat keberhasilan secara klasikal pada Siklus II telah mencapai 81,10%.
Gambar 3. Histogram Tabulasi Hasil Post-Test Siklus II
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (92,00%) siswa Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung sudah mempunyai aktivitas dan motivasi belajar serta kompetensi yang relatif tinggi dalam keterampilan membaca (reading skill). Meski demikian, masih terdapat 2 siswa (8,00%) yang nilainya dibawah KKM, yang berarti mempunyai aktivitas dan motivasi belajar serta kompetensi yang relatif rendah dalam keterampilan membaca (reading skill). Pemberian tindakan berupa penerapan media pembelajaran kooperatif tipe jigsaw untuk meningkatkan keterampilan membaca terbukti efektif. Jumlah siswa yang memenuhi syarat KKM telah meningkat menjadi 23 siswa (92,00%) pada Siklus II, dibandingkan pencapaian pada Siklus I sebanyak 17 siswa (68,00%), serta pencapaian pada kondisi awal sebanyak 11 siswa (44,00%).
Melihat kenyataan diatas maka target ketuntasan klasikal yang ditetapkan penulis yaitu 80% telah tercapai. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran jigsaw terbukti dapat meningkatkan keterampilan membaca pada pembelajaran Bahasa Inggris materi descriptive text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014. Konsekuensi logisnya, aktivitas dan motivasi belajar siswa dalam KBM seharusnya meningkat. Peningkatan itu akan dibuktikan dengan melakukan analisis di level kelompok awal dan kelompok ahli. Analisis mencakup sikap dan perilaku siswa pada saat mengikuti pembelajaran di kelompok awal maupun di kelompok ahli.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan. Data menunjukkan adanya perubahan terhadap aktivitas dan motivasi belajar siswa, pemahaman hasil belajar dan ketuntasan belajar siswa baik secara individu maupun secara kelompok.
Kriteria penilaian tingkat aktivitas dan motivasi belajar siswa dilakukan dengan cara sebagai berikut (Indon, dkk., 2013):
Tabel 4. Kriteria Penilaian Aktivitas dan Motivasi Belajar Siswa
Tabel 5. Penilaian Aktivitas dan Motivasi Belajar Siswa
Data pada Tabel 13. menunjukkan bahwa aktivitas dan motivasi belajar siswa sebelum penelitian tindakan kelas hanya sebesar 44,00% atau 11 dari 25 siswa Kelas VII-B. Pasca Siklus I, aktivitas dan motivasi belajar siswa setelah penelitian tindakan kelas meningkat sebesar 12,00% menjadi 56,00% atau 14 dari 25 siswa. Pasca Siklus II, aktivitas dan motivasi belajar siswa setelah penelitian tindakan kelas meningkat sebesar 12,00% menjadi 68,00% atau 17 dari 25 siswa. Dengan demikian, total peningkatannya mencapai 24,00% atau 6 siswa.
Pembahasan
Hasil penelitian pada kelas eksperimen telah menghasilkan beberapa temuan yang membuktikan bahwa aspek kognitif siswa cenderung mengalami peningkatan secara signifikan, khususnya dalam keterampilan membaca (reading skill) sebagai keterampilan dasar siswa dalam memahami dan menguasai pembelajaran Bahasa Inggris materi
Descriptive Text. Hasil pre-test dan post-test
Pada tahap pre-test, nilai tertinggi adalah 85 dan nilai terendah adalah 60, dengan nilai rata-rata sebesar 71,80. Sebanyak 11 siswa (44,00%) memiliki nilai di atas rata-rata, serta sebanyak 14 siswa (56,00%) memiliki nilai di bawah rata-rata. Komposisi yang sama juga terjadi pada saat menggunakan parameter KKM = 75, dimana sebanyak 11 siswa (44,00%) memiliki nilai di atas atau sama dengan KKM, serta sebanyak 14 siswa (56,00%) memiliki nilai di bawah KKM. Tingkat keberhasilan secara klasikal pada pra-Siklus I hanya mencapai 69,86% dari ketentuan minimal 80% (belum tercapai).
Pada tahap post-test dalam Siklus I, nilai tertinggi adalah 90 dan nilai terendah adalah 65, dengan nilai rata-rata sebesar 76,20. Sebanyak 9 siswa (36,00%) memiliki nilai di atas rata-rata, serta sebanyak 16 siswa (64,00%) memiliki nilai di bawah rata-rata. Komposisi yang berbeda terjadi pada saat menggunakan parameter KKM = 75, dimana sebanyak 17 siswa (68,00%) memiliki nilai di atas atau sama dengan KKM, serta sebanyak 8 siswa siswa (52,00%) memiliki nilai di atas rata-rata, serta sebanyak 12 siswa (48,00%) memiliki nilai di bawah rata-rata. Komposisi yang berbeda terjadi pada saat menggunakan parameter KKM = 75, dimana sebanyak 23 siswa (92,00%) memiliki nilai di atas atau sama dengan KKM, serta sebanyak 2 siswa (8,00%) memiliki nilai di bawah KKM. Tingkat keberhasilan secara klasikal pada pra-Siklus II sudah mencapai 81,10% dari ketentuan minimal 80% (sudah tercapai).
Sebagaimana penjelasan sebelumnya bahwa eksperimen ini dilakukan dalam dua siklus, dan setiap siklus dilakukan dua kali pertemuan. Berdasarkan indikator nilai tes yang dipetakan dengan dua parameter, yaitu: nilai rata-rata per tes dan KKM, serta indikator keberhasilan / ketuntasan di tingkat kelas yang dipetakan dengan parameter ketuntasan klasikal; maka kontribusi model pembelajaran jigsaw
terhadap peningkatan keterampilan membaca sudah cukup signifikan saat perlakuan tersebut berlangsung hanya dalam 2 siklus. Artinya, apabila eksperimen dikembangkan lagi menjadi 3 siklus, maka kedua indikator tersebut sudah pasti akan menunjukkan pencapaian yang lebih tinggi lagi. Implikasinya adalah kontribusi model pembelajaran jigsaw
terhadap peningkatan keterampilan membaca semakin signifikan.
Hasil penelitian pada kelas eksperimen telah menghasilkan beberapa temuan yang membuktikan bahwa aspek aktivitas dan motivasi belajar siswa peningkatan keberanian dalam membaca nyaring, bertanya, berdiskusi dan mengeluarkan pendapat.
Secara spesifik, pada level (SA) peningkatan terjadi dari tidak ada siswa yang sangat aktif menjadi 2 siswa yang sangat aktif. Pada level (A) justru penurunan terjadi dari 4 siswa yang aktif menjadi 3 siswa yang aktif. Pada level (CA) peningkatan terjadi dari 7 siswa yang cukup aktif menjadi 12 siswa yang cukup aktif. Dengan demikian, penerapan model kooperatif tipe jigsaw cenderung mempengaruhi keaktifan siswa dari (KA) menjadi (CA). Namun demikian, hasil akhir keaktifan siswa mencapai 68,00% adalah ekuivalen dengan dua per tiga dari total jumlah siswa di Kelas VII-B. Artinya, model kooperatif tipe jigsaw terbukti cukup efektif dalam memperbaiki aktivitas dan motivasi belajar siswa.
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dapat mempengaruhi keterampilan siswa dalam mendalami, memahami, serta meningkatkan aktivitas dan kualitas membaca pada materi descriptive text. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terbukti juga dapat memotivasi siswa dalam mendalami, memahami, serta meningkatkan aktivitas dan kualitas membaca pada materi descriptive text. Motivasi yang dapat ditingkatkan dengan terlibat dalam proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw terbukti dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan kata lain, aspek afektif siswa ikut mengalami perbaikan saat mengaplikasikan model pembelajaran tersebut.
Beberapa keterbatasan dari Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah: 1) hasil belajar yang dimaksud adalah pada segmen keterampilan membaca (reading skill), belum secara penuh masuk ke segmen descriptive text; 2) hasil belajar yang dimaksud belum menyentuh aspek psikomotor, meskipun relatif sulit untuk mengukur aspek ini saat pengaplikasian model pembelajaran kooperatif tipe
Jigsaw dalam peningkatan keterampilan membaca pada materi descriptive text; 3) ketentuan 2 siklus dan 2 pertemuan pada masing-masing siklus masih belum menggambarkan efisiensi dan efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam peningkatan keterampilan membaca pada materi
tentunya peneliti lain untuk mengembangkan penelitian ini lebih jauh dan lebih mendalam.
Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Penerapan model pembelajaran Jigsaw terbukti berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014; 2) Penerapan model pembelajaran Jigsaw
terbukti dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa dalam rangka peningkatan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014; 3) Penerapan model pembelajaran Jigsaw
terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam rangka peningkatan keterampilan membaca (reading skill) pada pembelajaran Bahasa Inggris materi
Descriptive Text di Kelas VII-B SMP Negeri 1 Pagerwojo – Tulungagung Tahun Pelajaran 2013/2014.
B. Saran
1. Dalam rangka penerapan model pembelajaran
Jigsaw ini, guru sebaiknya lebih memperhatikan karakteristik siswanya, terutama sekali dalam sistem monitoring yang lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, guru dapat mengontrol sikap dan perilaku siswa pada saat proses berlangsung. 2. Pihak guru, sekolah serta stakeholder lainnya
sebaiknya memberikan dukungan dan kontribusi yang nyata terhadap berbagai upaya pengembangan lebih lanjut.
3. Bagi guru mitra yang akan menggunakan perangkat dan model pembelajaran ini, sebaiknya sebelum menggunakannya, terlebih dahulu melakukan simulasi dan selalu berkonsultasi dengan peneliti, sehingga kekurangan yang terjadi pada ujicoba ini dapat teratasi sebelum mengajarkan di kelas.
4. Bagi peneliti lain yang hendak mengembangkan ataupun mereplikasi penelitian ini, sebaiknya mempertimbangkan berbagai keterbatasan
penelitian yang telah diutarakan penulis pada pembahasan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Badan Standar Nasional Pendidikan. 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah: SK-KD SMP/MTs. Jakarta: BSNP.
Ibrahim, M., dkk. 2001. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Surabaya University Press.
Indon, Natalia, dkk. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa. Skripsi. Pontianak: Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Tanjungpura.
Rapp, D.N., et. all. 2007. Higher – Order Comprehension Processes in Struggling Readers: A Perspective for Research and Intervention. Journal of Sientific Studies of Reading, 11(4): 289 – 312.
Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Wells, M.A.1987. College English. New York: Harcourt: Brace and World, Inc.
Westwood, Peter S. 2008. What Teachers Need To know About Reading and Writing Difficulties. Victoria: ACER Press.
https://sites.google.com/site/tamanbahasaku/Home/K
urikulum-Pendidikan-di-Indonesia/karakteristik-mapel-bahasa-inggris
http://dianpelita.wordpress.com/2011/02/21/the- interactive-compensatory-model-untuk- meningkatkan-kemampuan-pemahaman- membaca-siswa-dalam-pembelajaran-bahasa-inggris-di-sekolah-menengah-pertama
http://belajarpsikologi.com/model-pembelajaran-kooperatif-jigsaw/