EVALUASI KINERJA KEUANGAN PADA PERUSAHAAN SEKTOR
PERTAMBANGAN DAN PENGARUHNYA DALAM MEMPREDIKSI PERUBAHAN
LABA PERIODE 2007-2010 (STUDI DI PT. BUMI RESOURCES TBK. DAN PT.
BUKIT ASAM TBK.)
Esther Elizabeth Tamboen¹, Prof. Dr. Hiro Tugiman², Drs.³
¹Manajemen (Manajemen Bisnis Telekomunikasi & Informatika), Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Telkom
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
1.1.1 PT Bukit Asam (Persero) Tbk
Sejarah pertambangan batubara di Tanjung Enim dimulai sejak
zaman kolonial Belanda tahun 1919 dengan menggunakan metode
penambangan terbuka (open pit mining) di wilayah operasi pertama, yaitu di
Tambang Air Laya. Selanjutnya mulai 1923 beroperasi dengan metode
penambangan bawah tanah (underground mining) hingga 1940, sedangkan
produksi untuk kepentingan komersial dimulai pada 1938. Seiring dengan
berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para karyawan
Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang menjadi
pertambangan nasional.
Pada 1950, Pemerintah RI kemudian mengesahkan pembentukan
Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA). Pada 1981, PN
TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT
Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk, yang selanjutnya disebut
Perseroan. Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara di
Indonesia, pada 1990 pemerintah menetapkan penggabungan Perum Tambang
Batubara dengan Perseroan.
Gambar 1.1 Logo PT Bukit Asam (Persero)Tbk
Sumber : www.ptba.co.id (diakses 01September 2011)
Sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional,
pada 1993 Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha
briket batubara. Pada 23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri sebagai
perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia dengan kode “PTBA”.
1. Visi, Misi dan Strategi PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Visi
Menjadi perusahaan energi berbasis batubara yang ramah lingkungan
Misi
1. Fokus kepada core competency dan pertumbuhan yang
berkesinambungan
2. Memberikan tingkat pengembalian yang optimal kepada pemegang
saham
3. Meningkatkan budaya korporasi yang mengutamakan kinerja.
4. Memberikan kontribusi pengembangan ekonomi nasional
5. Memberikan kontribusi yang maksimal dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan
Strategi
Perusahaan energi berbasis batubara yang ramah lingkungan dan
terkemuka di Indonesia
yang menerapkan Enam Langkah Strategis :
1. Fokus kepada pertumbuhan produksi/ penjualan batubara
2. Fokus pada proyek-proyek dengan skala kesiapan 1
3. Restrukturisasi korporasi
4. Meningkatkan kompetensi dan regenerasi SDM serta meningkatkan
budaya korporasi yang mengutamakan kinerja
5. Meningkatkan sistem remunerasi yang berdasarkan kinerja
6. Meningkatkan peringkat kinerja penataan pengelolaan lingkungan.
2. Laporan Keuangan
Berikut ditampilkan laporan keuangan PT Bukit Asam (Persero) Tbk.
Dari tahun 2007 sampai Juni 2011. Dapat dilihat pada laporan neraca
keuangan tiga tahun terakhir mengalami penurunan signifikan dalam aktiva,
kewajiban dan ekuitas. Namun mulai beranjak naik di pertengahan tahun ini
yakni sampai Juni 2011.
Sama halnya dengan laporan laba rugi terjadi penurunan laba bersih
di akhir tahun 2010. Hal ini terjadi diakibatkan besarnya peningkatan yang
terjadi pada beban penjualan serta beban usaha. Pada pendapatan terjadi
peningkatan pada tahun 2007 sampai tahun 2009 namun mengalami
penurunan pada tahun 2010.
Data laporan keuangan dan laporan laba rugi dapat dilihat lebih jelas
pada tabel berikut:
Tabel 1.1 PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Neraca Keuangan Periode 2007-2010
(dalam jutaan rupiah)
No NERACA (dalam Jutaan Rupiah)
Uraian Des-2007 Des-2008 Des-2009 Des-2010
1 Kas & Setara
Kas 2,222,819 3,041,720 4,709,104 5,054,075
2 Piutang 163,956 308,064 427,731 382,920
3 Persediaan 271,482 420,040 409,901 423,678
4 Aktiva Lancar 3,080,350 4,949,953 6,783,391 6,645,953
5 Aktiva Tidak
Lancar 847,721 1,156,875 1,295,187 2,076,746
6 Total Aktiva 3,928,071 6,106,828 8,078,578 8,722,699
7 Kewajiban
Lancar 695,010 1,353,426 1,380,908 1,147,728
8 Kewajiban
Tidak Lancar 421,789 675,743 911,832 1,133,723
9 Total
Kewajiban 1,116,799 2,029,169 2,292,740 2,281,451
10 Ekuitas 2,799,118 3,998,132 5,701,372 6,366,736
Sumber : Laporan Keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
Tabel 1.2 PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Laporan Laba Rugi Periode 2007-2010
(dalam jutaan rupiah)
No Laporan Laba Rugi (dalam Jutaan Rupiah)
Uraian Des-2007 Des-2008 Des-2009 Des-2010
1 Penjualan 4,123,855 7,216,228 8,947,854 7,909,154
2 Harga Pokok
Penjualan 2,474,529 3,686,136 4,104,301 4,258,988
3 Laba Kotor 1,649,326 3,530,092 4,843,553 3,650,166
4 Beban Usaha 703,778 1,036,150 1,295,238 1,346,008
5 Laba Usaha 945,548 2,493,942 3,548,315 2,304,158
6 Laba Sebelum
Pajak 1,058,128 2,551,672 3,762,002 2,599,650
7 Laba Bersih 760,207 1,707,771 2,727,734 2,008,891
Sumber : Laporan Keuangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
1.1.2 PT BUMI Resources Tbk
Bumi Resources merupakan sebuah perusahaan yang bergerak pada
eksplorasi sumber daya alam khususnya batubara. Bumi Resources
merupakan ekspor batu bara terbesar di Indonesia. Perusahaan berdiri pada
tahun 1973 yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata. Pada tanggal
13 Agustus 1998, RUPS Luar Biasa memutuskan perusahaan merubah usaha
inti menjadi perusahaan yang bergerak dalam bidang minyak, gas alam dan
pertambangan.
Gambar 1.2 Logo PT BUMI Resources Tbk.
Sumber : www.bumiresources.com (diakses 01 Oktober2011)
Tahun 1990 perusahaan yang dulunya adalah perseroan berubah
menjadi perusahaan terbuka dengan menjual sahamnya di Bursa Efek Jakarta
dan Bursa Efek Surabaya (yang sekarang bergabung menjadi Bursa Efek
Indonesia atau BEI). Pada tahun 1997 PT Bakrie Capital Indonesia
mengambil alih 58,51% saham Perseroan dari Asuransi Jiwa Bersama
Bumiputera 1912.
Pada bulan November 2001, perusahaan mengakuisisi 80% saham
PT. Arutmin Indonesia dari BHP Minerals Exploration Inc. Arutmin
Indonesia adalah produsen batubara dengan dua tambang batu bara terbuka
yang berada di Senakin dan Satuui di Kalimantan Selatan. Oktober 2003,
perusahaan membeli 100% kepemilikan PT Kaltim Prima Coal (“KPC”) sebagai langkah lebih lanjut untuk melakukan ekspansi usaha. Dengan
mengakuisisi KPC maka perusahaan memberikan kontribusi sebesar 40% dari
total produksi batubara nasional tahun 2004.
1. Visi, Misi dan Strategi PT BUMI Resources Tbk
Visi
Menjadi perusahaan operator bertaraf Internasional dalam sector
energi dan pertambangan
Misi
Menjaga kesinambungan usaha dan daya saing Perseroan dalam
menghadapi persaingan terbuka di masa mendatang dengan tujuan untuk:
1. Meningkatkan hasil dan nilai yang optimal bagi Pemegang Saham
2. Meningkatkan kesejahteraan para karyawan
3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah operasi
pertambangan
4. Menjaga kelestarian lingkungan di seluruh areal operasi
pertambangan
Strategi perusahaan
Seiring dengan peningkatan kapasitas pembangkit listrik tenaga uap
di seluruh dunia, permintaan batubara thermal baik di pasar domestik maupun
dunia terus, meningkat dari tahun ke tahun. Perseroan selalu berupaya
mengambil peran signifikan sebagai produsen baik di pasar lokal maupun
dunia. Peningkatan produksi menjadi 111 juta ton per tahun yang akan dicapai
pada tahun 2012 dan ekspansi ke pertambangan non batubara yang terus
dijalankan menjadi strategi Perseroan dalam meningkatkan bisnis sekaligus
memberikan hasil maksimal pada investor.
2. Laporan Keuangan
Berikut ditampilkan keuangan PT BUMI Resources Tbk. dari tahun
2007 sampai Juni 2011. Dapat dilihat pada laporan neraca keuangan pada tiga
tahun terakhir mengalami peningkatan dalam aktiva, dan kewajiban,
sedangkan ekuitas mengalami penurunan dari tahun 2008 ke tahun 2009 dan
mengalami kenaikan di tahun 2010 dari tahun sebelumnya yakni tahun 2009.
Sama halnya dengan aktiva dan kewajiban, pada laporan laba rugi
terjadi peningkatan dari tahun 2007 sampai 2010,namun dari tahun 2008 ke
2009 terjadi penurunan pendapatan dikarenakan beban penjualan pada tahun
2009 lebih tinggi dari pada tahun 2008.
Data laporan keuangan dan laporan laba rugi dapat dilihat lebih jelas
pada tabel berikut:
Tabel 1.3 PT BUMI Resources Tbk. Neraca Keuangan Periode 2007-2010
(dalam jutaan rupiah)
No NERACA (dalam Jutaan Rupiah)
Uraian Des-2007 Des-2008 Des-2009 Des-2010
1 Kas & Setara
Kas 1,136,018 1,553,098 975,925 1,883,617
2 Piutang 1,910,002 2,081,815 2,767,687 2,412,379
3 Persediaan 860,319 1,477,808 2,073,637 1,533,553
4 Aktiva Lancar 11,003,297 17,935,423 21,337,051 29,000,238
5 Aktiva Tidak
Lancar 14,754,916 33,550,652 55,736,605 50,703,929
6 Total Aktiva 25,758,213 51,486,076 77,073,656 79,704,167
7 Kewajiban
Lancar 7,762,275 15,302,061 21,998,677 18,583,163
8 Kewajiban
Tidak Lancar 5,189,768 15,451,014 38,469,723 41,021,456
9 Total 12,952,043 30,753,076 60,468,400 59,604,619
Kewajiban
10 Ekuitas 10,250,239 15,261,204 15,298,110 14,697,035
Sumber :Laporan Keuangan PT BUMI ResourceS Tbk (BUMI)
Tabel 1.4 PT BUMI Resources Tbk. Laporan Laba Rugi Periode 2007-2010
(dalam jutaan rupiah)
No
Laporan Laba Rugi (dalam Jutaan Rupiah)
Uraian Des-2007 Des-2008 Des-2009 Des-2010
1 Penjualan 20,697,316 32,696,088 33,480,451 39,700,731
2 Harga Pokok
Penjualan 13,806,605 17,087,131 22,002,027 24,932,553
3 Laba Kotor 6,890,710 15,608,956 11,478,424 14,768,177
4 Beban Usaha 3,178,483 4,888,487 4,840,649 4,786,342
5 Laba Usaha 3,712,226 10,720,469 6,637,775 9,981,835
6 Laba Sebelum
Pajak 7,810,803 9,994,724 5,383,613 9,077,120
7 Laba Bersih 7,208,339 6,245,844 1,980,666 2,827,066
Sumber :Laporan Keuangan PT BUMI ResourceS Tbk (BUMI)
1.2 Latar Belakang Penelitian
Indonesia memang dikenal sebagai negara yang kaya sebagai
penghasil tambang, minyak maupun gas bumi. Di sejumlah provinsi di
Indonesia, seperti Papua, Riau, Naggroe Aceh Darussalam, Bangka Belitung
sebagai daerah yang berpotensi memiliki keunggulan relatif pada sektor
pertambangan.
Pengamat Ekonomi dan Guru Besar Prasetya Mulya Business School
Djisman Simanjuntak, mengemukakan pendapatnya bahwa, pertumbuhan
ekonomi dunia diperkirakan masih dalam level cukup tinggi, yaitu pada
rentang 3,40%-3,50% dan tingkat pertumbuhan itu, ditambah dengan harga
komoditas tambang yang terdongkrak oleh kenaikan harga minyak,
menjadikan minat investasi di sektor pertambangan tetap kuat tahun ini yang
tercermin dalam kenaikan penanaman modal dalam negeri dan modal asing.
Berdasarkan data Bisnis (Widagdo & Suryani 2009:3), investasi di sektor
pertambangan meningkat dalam enam tahun terakhir. Setelah terpuruk hanya
US$547 juta para 2002, investasi tambang meningkat menjadi US$1,35 miliar
pada 2007, dan komitmen meningkat menjadi US$1,55 miliar pada 2008
(rudi.ariffianto @bisnis.co.id).
Keberadaan perusahaan yang bergerak pada sektor pertambangan
merupakan aktivitas perekonomian yang sangat besar dibandingkan dihampir
berbagai sektor lainnya. Hal ini bisa dimungkinkan karena sektor ini
merupakan sektor yang mengeksplorasi sumber daya alam berskala besar.
Indonesia sebagai Negara dengan pengakuan dunia dengan kekayaan sumber
daya alam dan mineral tentu memiliki perusahaan yang mengelola daya ini
baik untuk kepentingan perusahaan tersebut dan juga kepentigan Negara
sebagai regulator atas kepemilikan sumber daya disuatu Negara tempat
perusahaan melakukan aktivitas ekonomi.
Tentu hal ini membuat berdirinya banyak perusahaan pengekplorasi
sumber daya alam dan mineral di Indonesia, dan tak lain merupakan
perusahaan besar dengan tingkat kepentingan tinggi dan pemegang hajat
orang banyak. Seperti perusahaan-perusahaan yang akan diteliti yakni PT
BUMI Resources Tbk dan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. PT BUMI
Resources Tbk merupakan perusahaan pertambangan batubara dengan
pertumbuhan paling cepat di Asia dan tercepat kedua di dunia. Cadangan baru
bara Bumi Resources merupakan yang terbesar di Indonesia (Susanto : 2010).
Perusahaan ini memiliki unit bisnis antara lain: Kaltim Prima Coal, Arutmin
Indonesia, Gallo Oil, Enercorp Ltd., Bumi Mauritania A.S, Gorontalo
Minerals, Citra Palu Minerals, Herald Resources Ltd., Darma Henwa, dan
Fajar Bumi Sakti. Majalah Forbes menyebutkan (Susanto : 2010) perusahaan
ini menempati posisi ke-1533 dari 2000 perusahaan terbaik di dunia.
Pemilihan PT BUMI juga didasarkan pada pemilihan perusahaan yang
berkepemilikan swasta, namun termasuk kedalam perusahaan besar, agar
dapat mewakili dari segi kepemilikan dalam menganalisis kinerja.
Sedangkan PT Bukit Asam dipilih peneliti karena merupakan
perusahaan persero yang untuk tahun buku 2009 menetapkan dividen final
sebesar Rp 1,228 triliun,yakni 54 persen dari laba bersih perseroan tahun buku
2009 sebesar Rp2,778 triliun. Dari laba tersebut, manajemen PTBA
mengalokasikan dana CSR untuk Kemitraan & Bina Lingkungan
masing-masing 2 persen dari laba, sebesar masing-masing-masing-masing Rp 54,6 miliar sehinga total
Rp 109 miliar. Dibandingkan dengan dividen tahun buku 2008 sebesar Rp
853,9 miliar dari total laba bersih Rp 1,707 triliun, maka dividen yang
dibagikan PTBA untuk tahun buku 2009 naik 43,80 persen. Kemudian yang
menetapkan PT Bukit Asam (Persero) sebagai perusahaan Badan Umum
Milik Negara (BUMN) sektor pertambangan yang paling besar pengaruhnya.
Dilihat juga dalam perusahaan yang bergerak disektor pertambangan batu bara
hanya PT Bukit Asam lah sebagai satu-satunya perusahaan BUMN, pemilihan
ini yang mendasarkan dipilihnya PT Bukit Asam dari segi kepemilikan yakni
BUMN, serta dapat dilihat pula perubahan harga yang positif secara signifikan
mencapai 500 pada pergerakan harga di PTBA (Bukit Asam) membuat
perusahaan bisa dijadikan perbandingan bagi perusahaan sebesar BUMI, lebih
jelas ada pada Tabel 1.5.
Baik perusahaan yang berkepemilikan Negara (BUMN) dan tidak
berkepemilikan Negara (swasta) pada hakekatnya suatu perusahaan atau
organisasi lainnya mempunyai tujuan dan sasaran. Salah satunya adalah untuk
memperoleh laba Sehingga agar dapat mencapai laba yang diharapkan,
perusahaan dihadapkan dengan pengambilan keputusan yang tepat agar tidak
jaruh dalam kerugian.
Berdasarkan hal ini maka tujuan yang sesuai adalah untuk
memaksimalkan nilai suatu perusahaan. Pada kasus perusahaan publik nilai
perusahaan dikaitkan dengan nilai saham yang beredar di pasar. Penetapan
tujuan yang benar akan sangat berpengaruh pada proses pencapaian tujuan
dan pengukuran kinerja nantinya. Karena kesalahan menentukan tujuan akan
berakibat pada kesalahan strategi yang diambil.
Dalam bidang manajemen keuangan, perusahaan memiliki andil
untuk menyajikan kondisi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan
akan berjalannya aktivitas perusahaan tersebut. Hal ini tentu dapat
menggambarkan kinerja perusahaan. Sehingga untuk mengetahui kondisi
perusahaan, maka diperlukannya analisis untuk mengukur kinerja perusahaan.
Dengan dilakukannya analisis ini diharapkan dapat diketahui indikasi
kekuatan dan kelemahan keuangan perusahaan dan dapat mengetahui apakah
operasional perusahaan dan kinerja perusahaan baik atau tidak.
Kinerja keuangan umumnya diukur berdasarkan pengahasilan besih
(laba) atau sebagai dasar bagi ukuran yang lain seperti imbalan investasi
(return on investment) atau penghasilan per saham (earning per share).
(Harmono 2009:23).
Laba bagi perusahaan sangat penting karena merupakan indikasi
aktivitas keberlangsungannya sebuah perusahaan. Laba memberikan
gambaran positif maupun negatif dalam menilai kinerja perusahaan. Jika laba
perusahaan positif maka diindikasikan kinerja perusahaan dalam keadaan baik
dan sebaliknya bila laba menunjukkan negatif maka kinerja keuangan
perusahaan tersebut kurang baik.
Menurut (Fahmi 2011:3), salah satu tahap dalam menganalisis
kinerja perusahaan adalah melakukan review terhadap data laporan keuangan.
Hal ini menunjukkan pentingnya analisis laporan keuangan. Jadi untuk
menilai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan dapat digunakan rasio yang
merupakan perbandingan angka-angka yang terdapat pada pos-pos laporan
keuangan (Fahmi 2011:46).
Menurut Widagdo & Suryani (2009:3) dalam jurnalnya “KINERJA BEBERAPA PERUSAHAAN SEKTOR PERTAMBANGAN YANG
SAHAMNYA TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA”, ukuran yang dipakai untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan lazimnya adalah
dengan menggunakan analisis rasio keuangan dimana rasio keuangan ini
terbagi menjadi empat kriteria yaitu rasio profitabilitas, rasio aktivitas, rasio
leverage dan rasio likuiditas.
Komponen masing-masing jenis rasio (Darsono 2005:51) adalah:
1. Likuiditas, untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
membayar kewajiban jangka pendek.
2. Solvabilitas (leverage), yaitu untuk mengetahui kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan tersebut
dilikuidasi, termasuk di dalamnya menilai batasan perusahaan dalam
meminjam uang.
3. Profitabilitas , yaitu menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan laba dalam periode tertentu.
4. Aktivitas, yaitu menunjukkan seberapa efektif perusahaan
menggunakan sumber daya yang dimiliki.
Penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan pengujian lebih lanjut
penelitian-penelitian sebelumnya mengenai rasio keuangan, khususnya
menyangkut kegunaannya dalam memprediksi laba yang akan datang dan
tentunya menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan sudah baik atau
belum. Sebaliknya bila rasio tidak cukup signifikan dalam memprediksi
perubahan laba dimasa yang akan datang, hasil penelitian ini akan
memberikan bukti ketidak konsistensian penelitian – penelitian sebelumnya. Analisis rasio keuangan pada PT BUMI Resources Tbk dan PT Bukit
Asam (Persero) Tbk dilakukan karena kedua perusahaan ini bergerak pada
sektor pertambangan khususnya batu bara dimana BUMI termasuk dari 2000
perusahaan besar di dunia dan Bukit Asam merupakan BUMN yang Go
Public yang memiliki pengaruh besar dalam keberlangsungan BUMN.
Sebagai mana terdapat pada tabel 1.5 berikut:
Tabel 1.5 Kapitalisasi Pasar Sektor Pertambangan (sub Sektor Pertambangan Batu Bara di Bursa Efek Indonesia (BEI))
Data Saham Bursa Efek Indonesia 30-09-2011
Sub Sektor : Pertambangan Batu Bara
Sumber: www.idx.co.id (Data diolah) (diakses 02 Oktober 2011)
Dilihat dari kapitalisasi saham peneliti memilih BUMI sebagai
perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di sektor pertambangan batu bara,
walaupun Bukit Asam merupakan perusahaan kelima terbesar dari sektor
pertambangan batu bara ini, Bukit Asam merupakan perusahaan BUMN
terbesar yang bergerak di sektor tersebut. Oleh karena itu peneliti mengambil
perusahaan Bukit Asam sebagai pembanding dengan BUMI ditinjau dari
kepemilikan swasta dan negeri atau BUMN. Dapat dilihat pula perubahan
harga yang positif secara signifikan mencapai 500 pada pergerakan harga di
PTBA (Bukit Asam) membuat perusahaan bisa dijadikan perbandingan bagi
perusahaan sebesar BUMI. Dapat dilihat pada Tabel 1.6 berikut:
Tabel 1.6 Pergerakan Saham Perusahaan BUMN yang Go Public
Data Saham Bursa Efek Indonesia 30-09-2011 BUMN
Kode Penutupan Perubahan %
Dilihat dari tabel ditas PTBA merupakan perusahaan milik negara
dengan nilai saham terbesar dibandingkan dengan perusahaan BUMN lainya,
hal inilah yang membuat peneliti menempatkan PTBA sebagai pembanding
dengan BUMI, dari segi kepemilikan yakni pemerintah. Hal –hal diataslah yang melatar belakangi kenapa perusahaan BUMI dan Bukit Asam dipilih
oleh peneliti.
Fenomena yang menarik dari permasalahan yang akhirnya dipilih
peneliti adalah bagaimana rasio keuangan dapat berpengaruh terhadap
perubahan laba, yang kemudian berpengaruh pula terhadap kinerja perusahaan
tersebut. Hal ini semakin menarik lagi, terutama pada PT BUMI diperkuat
dengan kutipan dari artikel yang mengatakan “ BUMI: Laba Bersih 2009 Turun 49%, Namun Kinerja Perusahaan Membaik. Emiten batubara, PT Bumi
Resources tbk (BUMI) tercatat mengalami penurunan laba bersih yang cukup
signifikan sepanjang tahun 2009. Laba bersih 2009 BUMI tercatat turun 49%
jika dibandingkan laba bersih tahun 2008. Kinerja fundamental BUMI sendiri
sebenarnya mengalami kenaikan jika dilihat dari produksi batubara yang naik
19,50% menjadi 63,12 juta ton pada tahun 2009” (Sitepu 2010), kutipan diatas membuat peneliti semakin tertarik lagi untuk meneliti permasalah tersebut.
Dikarenakan laba merupakan cerminan dari kinerja perusahaa, yang akhir
menimbulkan pertanyaan bagaimana kinerja membaik sedangkan laba turun.
Hal tersebutlah yang melatar belakangi bagaimana sampel yang diambil
berasal dari PT BUMI yang merupakan perusahaan dengan kapabilitas pasar
paling besar disektor pertambangan batu bara. Jelasnya ada pada Tabel 1.5.
Selain dilihat dari kapitalisasi saham, perbandingan dapat juga dilihat
dari laba yang dihasilkan serta rasio keuangan dari tahun sebelumnya. Pada
tahun 2008 terjadi peningkatan laba di PT BUMI yakni sebesar 15%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya tahun 2007 , terlebih pada tahun 2009
terjadi penurunan laba sebesar 8% dari tahun sebelumnya hingga mencapai
7% yang kemudian mulai meningkat lagi pada tahun 2010 sebesar 10%. Jika
dilihat dari perubahan laba ditahun sebelumnya, bisa dilihat tahun 2011 akan
mengalami perubahaan kenaikan laba seperti tahun 2010.
Sebaliknya dengan PT Bukit Asam (PTBA) terjadi peningkatan laba
yang cukup signifikan pada tahun 2008 dibandingkan dengan tahun
sebelumnya tahun 2007 hingga mencapai 120%, dan perlahan terjadi
penurunan pada tahun setelahnya yakni tahun 2009 sebesar 114% dan tetap
dalam sisi positif tidak seperti BUMI mencapai sisi negatif. Tak hanya sampai
disitu saja tahun 2010 PTBA mengalami penurunan mencapai -46%. Hal ini
tentu dikhawatirkan terjadi penurunan ditahun selanjutnya.
Penjelasan dari keterangan diatas dapat dilihat pada Tabel 1.7 berikut ini:
Tabel 1.7 Perbandingan Laba Tahunan dari Tahun 2007-2010
Tahun PT BUMI (dalam
Rata Rata Perubahaan Laba 0.11=11.25% 0.63=63%
Sumber : Laporan Keuangan BUMI Resources dan Bukit Asam (diolah)
Perbandingan lain selain dari segi perubahan laba dapat dilihat dari
perbandingan rasio dari kedua perusahaan pada tabel berikut:
Tabel 1.8 Perbandingan Rasio BUMI dan PTBA
Sumber : Company Report pada BEI August 2011
Dari Tabel 1.8 dapat disimpulkan bahwa pada rasio likuidasi yang
diwakili oleh rasio lancar (current ratio), pada kedua perusahaan dari tahun
2007 sampai 2010 mengalami peningkatan. Kemudian pada rasio leverage
yang diwakili dari Debt to Asset Ratio (DAR) dan Debt to Equity Ratio (DER)
pada PT BUMI mengalami peningkatan setiap tahun, sedangkan PTBA pada
tahun 2008 meningkat dari tahun sebelumnya yakni tahun 2007, namun
kemudian menurun lagi ke tahun selanjutnya.
Selanjutnya pada rasio profitabilitas yang diwakili Gross Profit
Margin (GPM), Net Profit Margin (NPM), ROA, dan ROE pada BUMI
mengalami peningkatan sedangkan pada PTBA mengalami penurunan. Pada
rasio aktivitas yang diwakili oleh operation profit margin (OPM)/ margin
usaha kondisi kedua perusahaan hampir sama pada tahun 2010 mengalami
penurunan dari tahun sebelumnya yakni tahun 2009.
Kenaikan maupun penurunan nilai rasio yang terjadi pada kedua
perusahaan tentu berpengaruh pada kinerja perusahaan. Tentu dampak ini
akan berpengaruh pada pertumbuhan laba. Hal inilah yang mendorong
dilakukannya analisis rasio keuangan. Dengan menganalisis rasio keuangan
diharapkan dapat mengevaluasi kinerja perusahaan, dimaksud dengan evaluasi
berarti berdasarkan kinerja masa lalu.
Oleh karena itu disini penulis akan lebih menganalisis rasio-rasio
keuangan yang terkait dengan pertumbuhan laba yang terjadi pada BUMI dan
Bukit Asam, sehingga dapat disimpulkan dan dibandingkan baik atau tidaknya
kinerja dari kedua perusahaan tersebut.
Berdasarkan hal diatas, maka penulis mengambil judul penelitian : ““Evaluasi Kinerja Keuangan pada Perusahaan Sektor Pertambangan dan Pengaruhnya Dalam Memprediksi Perubahan Laba Periode
2007-2010 (Studi pada PT BUMI Resources Tbk. dan PT Bukit Asam
(Persero) Tbk.)
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat dirumuskan
perumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perubahan kinerja keuangan dilihat dari perubahan rasio
likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio profitabilitas
dan perubahan rasio aktivitas pada PT BUMI dan PT Bukit Asam
periode 2007-2010 ?
2. Bagaimana perubahan laba yang terjadi pada PT BUMI dan PT Bukit
Asam periode 2007-2010 ?
3. Bagaimana pengaruh perubahan kinerja keuangan dillihat dari
perubahan rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas PT BUMI dan PT Bukit
Asam secara simultan terhadap perubahan laba PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010?
4. Bagaimana pengaruh perubahan kinerja keuangan dilihat dari
perubahan rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas PT BUMI dan PT Bukit
Asam secara parsial terhadap perubahan laba PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010?
5. Kinerja perusahaan manakah yang lebih baik dilihat dari perubahan
rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas antara PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010?
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan dengan perumusan masalah seperti yang telah
dipaparkan diatas, maka disimpulkan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Mengetahui bagaimana perubahan kinerja keuangan dilihat dari
perubahan rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas pada PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010.
2. Mengetahui bagaimana perubahan laba yang terjadi pada PT BUMI
dan PT Bukit Asam periode 2007-2010.
3. Mengetahui bagaimana pengaruh kinerja keuangan dilihat dari
perubahan rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas PT BUMI dan PT Bukit
Asam secara simultan terhadap perubahan laba PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010.
4. Mengetahui bagaimana pengaruh kinerja keuangan dilihat dari
perubahan rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas PT BUMI dan PT Bukit
Asam secara parsial terhadap perubahan laba PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010
5. Mengetahui manakah kinerja yang lebih baik dilihat dari perubahan
rasio likuiditas, perubahan rasio leverage, perubahan rasio
profitabilitas dan perubahan rasio aktivitas antara PT BUMI dan PT
Bukit Asam periode 2007-2010.
1.5 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi kegunaan baik secara teoritis
(kegunaan teoritis yang dapat dicapai) maupun praktis (kegunaan yang dicapai
dari penerapan pengetahuan) sebagai berikut:
1. Bagi investor dan pemegang saham
Bagi investor diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan
untuk keputusan investasi. Bagi pemegang saham sebagai salah satu
untuk menilai kinerja keuangan perusahaan.
2. Bagi ilmu pengetahuan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap ilmu pengetahun khususnya pada kajian manajemen
keuangan tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam perubahaan
laba dan kinerja keuangan perusahaan.
3. Bagi penelitian selanjutnya.
Penelitian ini menyediakan informasi bagi penilaian selanjutnya
yaitu mengenai informasi apakah terdapat hubungan antara rasio
keuangan dengan perubahaan laba dan penilaian kinerja perusahaan.
4. Bagi perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan pedoman dalam
membuat kebijakan dan keputusan bisnis.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini merupakan penjelasan secara umum, ringkas, dan padat yang
mengambarkan dengan tepat isi penelitian. Isi bab ini meliputi gambaran
umum objek penelitian, latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian
dan kegunaan penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini mengemukakan dengan jelas tentang hasil kajian yang terkait
dengan topik dan variabel penelitian untuk dijadikan dasar bagi penyusunan
kerangka pemikiran dan perumusan hipotesis.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menegaskan pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan
untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat menjawab atau
menjelaskan masalah penelitian.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini merupakan hasil penelitian dan pembahasan yang diuraikan
secara kronologis dan sistematis sesuai dengan perumusan masalah serta
tujuan penelitian. Sistematikan pembahasan ini akan lebih tampak jelas luas
cakupan, batas dan benang merahnya apabila disajikan dalam sub-judul
tersendiri.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab V disajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap
hasil analisis temuan penelitian, yang disajikan dalam bentuk kesimpulan
penelitian.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini penulis memberikan kesimpulan dan saran atas
penelitian yang telah dilakukan yang selanjutnya dapat digunakan sebaga
bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil perbandingan Rasio Laporan Keuangan BUMI san
Bukit Asam serta pengaruhnya terhadap perubahan laba pada tahun 2007
sampai dengan 2010 maka dapat ditarik kesimpulanya sebagai berikut:
1. Perubahan kinerja yang diukur dengan perubahan rasio
a. Rasio Likuiditas
Hasil analisis terhadap Rasio Likuiditas menggunakan perhitungan
Current Ratio dan Quick Ratio menunjukkan bahwa Bukit Asam
memiliki tingkat likuiditas yang lebih tinggi dari pada BUMI.
b. Rasio Leverage
Hasil analisis terhadap Rasio Leverage menggunakan Debt to Asset
Ratio dan Debt to Equity Ratio menunjukkan bahwa Bukit Asam
memiliki Rasio Leverage yang lebih rendah dibandingkan BUMI.
Berarti dalam hal ini Rasio Leverage Bukit Asam tiap tahunnya
semakin membaik dibandingkan BUMI.
c. Rasio Aktivitas
Hasil analisis terhadap Rasio Aktivitas menggunakan perhitungan
Total Asset Turn Over (TATO), Receiveable Turn Over (RTO),
Inventory Turn Over (ITO) dan Rata-rata Penagihan Piutang atau
Average Collection Period (ACP) secara keseluruha menunjukkan
bahwa Bukit Asam memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan
dengan BUMI.
d. Rasio Aktivitas
Hasil analisis terhadap Rasio Profitabilitas menggunakan
perhitungan Net Profit Margin (NPM), Return on Assets (ROA) dan
Return on Equity (ROE) menunjukkan bahwa Bukit Asam memiliki
nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan BUMI.
2. Perubahan Laba
Rata-rata perubahan laba kedua perusahaan menunjukkan bahwa
BUMI selama empat tahun terakhir memiliki perubahan laba sebesar
10.60%. Sedangkan Bukit Asam sebesar 62.63%. Hasil perubahan ini
juga menunjukkan bahwa untuk tahun kedepan BUMI bisa menghasilkan
perubahan laba positif (meningkat) sampai 10,60% atau 11%, sedangkan
Bukit Asam jauh lebih besar yakni dapat mampu menciptakan laba
ditahun depannya mencapai 62.63% atau 63%. Hal ini menunjukkan
bahwa walaupun pada tahun 2010 BUMI mengalami kenaikan tapi
perubahan Bukit Asam lebih unggul jauh dibandingkan BUMI.
3. Pengaruh perubahan rasio keuangan terhadap perubahan laba
Berdasarkan hasil perhitungan pengolahaan data menggunakan software
SPSS seperti yang telah dijelaskan pada bab 4, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut:
a. BUMI
1. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perubahan laba
tahun 2007 hingga 2010. Variabel independen yang digunakan
adalah perubahan rasio keuangan tahun 2007 hingga 2010.
Terdapat empat kelompok rasio keuangan yaitu Rasio Likuiditas,
Rasio Leverage, Rasio Aktivitas dan Rasio Profitabilitas. Keempat
rasio tersebut dinyatakan bebas dari uji asumsi klasik dan
berdistribusi normal.
2. Pada saat hipotesis dengan Uji F untuk mengetahui pengaruh
secara simultan, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabel dependen dan variabel independen
artinya kelompok Rasio Likuiditas, Rasio Leverage, Rasio
Aktivitas dan Rasio Profitabilitas berpengaruh terhadap perubahan
laba.
3. Pada saat hipotesis dengan uji t untuk mengetahui pengaruhnya
secara parsial, sama halnya dengan hipotesis uji F, mengatakan
bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara variabel dependen
dan variabel independen secara parsial, kelompok variabel
independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependennya adalah Rasio Profitabilitas.
b. Bukit Asam
1. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perubahan laba
tahun 2007 hingga 2010. Variabel independen yang digunakan
adalah perubahan rasio keuangan tahun 2007 hingga 2010.
Terdapat empat kelompok rasio keuangan yaitu Rasio Likuiditas,
Rasio Leverage, Rasio Aktivitas dan Rasio Profitabilitas. Keempat
rasio tersebut dinyatakan bebas dari uji asumsi klasik dan
berdistribusi normal.
2. Sama halnya dengan BUMI, pada saat hipotesis dengan Uji F
untuk mengetahui pengaruh secara simultan, menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel dependen dan
variabel independen artinya kelompok Rasio Likuiditas, Rasio
Leverage, Rasio Aktivitas dan Rasio Profitabilitas berpengaruh
terhadap perubahan laba.
3. Pada saat hipotesis dengan uji t untuk mengetahui pengaruhnya
secara parsial, sama halnya dengan hipotesis uji F, mengatakan
bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara variabel dependen
dan variabel independen secara parsial, kelompok variabel
independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependennya adalah Rasio Aktivitas.
4. Evaluasi Kinerja
Dari hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa BUMI
memiliki kinerja perusahaan yang relatif meningkat di tahun 2010 sama
halnya dengan Bukit Asam. Namun apabila dilihat dari tingkat
Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitasya, Bukit Asam lebih
baik dibandingkan dengan BUMI. Sehingga dari keseluruhan analisis
perubahan kinerja yang diukur dengan perubahan rasio keuangan ini,
dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja yang lebih baik dimiliki oleh
Bukit Asam.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan diatas, maka beberapa
saran yang dikemukakan dalam skripsi ini bagi pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap laporan keuangan adalah sebagai berikut:
a. Bagi perusahaan
Berdasarkan hasil penelitian, pada Rasio Likuiditas khususnya pada
BUMI, hendaknya mengurangi persediaan yang dikira berlebih dalam
aktiva, karena dengan banyaknya persediaan yang menumpuk hal ini
akan mengurangi penjualan diakibatkan meningkatnya beban
persediaan, sehingga akan menurunkan laba yang dapat dihasilkan bila
persediaan bisa dikelola dengan baik. Sedangkan Rasio Leverage,
khususnya BUMI, ada baiknya perusahaan mempertimbangkan dalam
menambah hutang atau kewajiban dengan melihat bunga pinjaman
yang nantinya akan dibebankan. Hal ini diperlukan untuk
mempertimbangkan cara-cara lain dalam memperoleh dana, bila
dianggap bunga yang nantikan akan dibebankan terlalu besar, sehingga
bisa menghambat pendapatan pada perusahaan.
Pada Rasio Aktivitas bisa dipastikan ada beberapa pelanggan/pembeli
yang mengalami gangguan dalam membayar piutang, terlebih dari
krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2008 yang terjadi diluar
kendali. Ada baiknya perusahaan segera menemukan siapa
pelanggan/pembeli itu pastinya, dan mengencarkan usaha penagihan
dan menahan penyerahan barang selanjutnya, hingga tagihan tuntas
tertagih. Dan pada Rasio Profitabilitas, pihak manajer BUMI
hendaknya untuk memperhatikan tepat tidaknya perusahaan
menempatkan dana/modal yang didapat dengan kata lain, modal/dana
lebih baik dipertimbangkan untuk menambah kas bila nanti kiranya
terjadi hal-hal diluar kendali seperti inflasi, resesi dan lain sebagainya
yang bisa menyebabkan aset mengganggur. Sehingga kas kiranya bisa
membantu apabila terjadinya hal-hal tersebut. Karena apabila rasio
dipandang tidak baik akan membuat para investor lebih memilih tidak
berinvestasi atau memilih perusahaan yang lebih menguntungkan.
b. Bagi pihak Kreditur
Dalam memberikan pinjaman, pihak kreditur dapat lebih
mempertimbangkan Bukit Asam mengingat Bukit Asam mempunyai
tingkat rasio likuiditas yang lebih baik dibandingkan BUMI, sehingga
tingkat risikonya lebih rendah.
c. Bagi pihak Investor
Dalam melakukan investasi, pihak investor dapat memilih Bukit Asam
karena mempunyai NPM. ROA dan ROE yang lebih tinggi
dibandingkan BUMI.
d. Bagi penelitian berikutnya
Kepada peneliti berikutnya sebaiknya menggunakan data yang lebih
bervariasi.
Dengan melihat hasil pengolahan data pengaruh variabel independen terhadap
dependen maka penulis menyadari tidak ada penelitian yang sempurna untuk
itu saran-saran untuk penelitian berikutnya adalah:
a. Untuk penelitian selanjutnya tidak hanya terbatas pada perusahaan
pertambangan saja. Diharapkan penelitian selanjutnya melakukan
penelitian untuk semua sektor industri yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia.
b. Untuk periode pengamatan hendaknya menggunakan periode yang
lebih banyak dan tidak menggunakan data pertriwulan karena data yang
diolah belum teraudit.
c. Untuk penelitian-penelitian berikutnya hendaknya menggunakan
rasio-rasio keuangan lainnya yang dapat mempengaruhi perubahan laba, agar
lebih kompleks lagi rasio-rasio keuangan yang berpengaruh terhadap
perubahan dan mungkin yang dapat memprediksi laba.
DAFTAR PUSTAKA
Calmorin, Laurentina Paler., & Melchor A. Calmorin. (2007). Research Methods and Thesis Writing (Second ed) Manila Philipines: RBSI.
Darsono & Ashari. (2005). Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.
Doane, David P,. & Lori E. Seward. (2007). Applied Statistics in Business and Economics. New York: Mc Graw Hill.
Ecer, Fatih., Gozde Ulutagay.,& Efendi Nasiboglu. (2011). Does Foreign Ownership Affect Financial Performance? An Industrial Approach. Middle Eastern Finance and Economics. ISSN: 1450-2889 Issue 14, 152-166. EuroJournals Publishing, Inc.
Elcom. (2010). Seri Belajar Kilat SPSS 17. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Eriyanto.(2007). Teknik Sampling Analisis Opini Publik. Yogyakarta: LKiS.
Fahmi, Irham. (2011).Analisis Kinerja Keuangan. Bandung : Alfabeta.
Fuad, M., Christin H., Nurlela., Sugiarto., & Paulus Y.E.F. (2006). Pengantar Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gilarso, T. (2003). Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro. Yogyakarta : KANISIUS.
Gulo, W. (2011). Metodologi Penelitian. Jakarta : Grasindo.
Harmono. (2009). Manajemen Keuangan. Jakarta : BUMI Aksara.
Indra, A. Zubaidi. (2006). Faktor-Faktor Fundamental Keuangan Yang Mempengaruhi Resiko Saham. Jurnal Bisnis dan Manajemen. Volume 2 No. 3 Mei 2006: 239-256. Fakultas Ekonomi Universitas Lampung.
Itasabella. (2010). Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Laba pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi pada Universitas Sumatra Utara: Tidak diterbitkan.
Kuswandi. (2008). Memahami Rasio Keuangan Orang Awam. Jakarta : Elex Media Komputindo.
Luciana, Spica .,& Emanuel Kristijadi. (2003). Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Akuntasi dan Auditing Indonesia (JAAI) Vol.7 No.2. 1-27. STIE Perbanas Surabaya.
Mardiyanto, Handono. (2009). Inti Sari Manajemen Keuangan. Jakarta: Grasindo.
Mentes, S. Ahmet. (2011). Gender Diversity at the Board and Financial Performance: A Study on ISE (Istanbul Stock Exchange. Middle Eastern Finance and Economics. ISSN: 1450-2889 Issue 14,6-15.EuroJournals Publishing, Inc.
Nafarin, M. (2007). Penganggaran Perusahaan (ed 3.) Jakarta : Salemba Empat.
Nawari. (2010). Analisis Regresi dengan MS Excel 2007 dan SPSS 17. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Novika, Winda. (2011). Analisis Pengaruh Rasio Modal Saham terhadap Return Perusahaan Pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005-2009. Skripsi pada Universitas Sumatra Utara : Tidak diterbitkan.
Paramati, Sudharshan Reddy., & Rakesh Gupta.(2011). An Empirical Analysis of Stock Market Performance and Economic Growth: Evidence from India. International Research Journal of Finance and Economics. ISSN 1450-2887 Issue 73, 144-160. Euro Journals Publishing, Inc.
Raj, Mahendra.,& Osama Sweidan. (2011). Profitability of Trading Rules using Nikkei Futures Transaction Data. International Research Journal of Finance and Economics. ISSN 1450-2887 Issue 74, 97-105 . Euro Journals Publishing, Inc.
Rochaety ,Ety., Ratih Tresnati H.,& Abdul Madjid Latief. (2007). Metodologi Penelitian Bisnis dengan aplikasi SPSS. Jakarta :Mitra Wacana Medis.
Santoso, Singgih. (2010). Statistik Parametrik. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Sarwono, Jonathan. (2010). Kunci Sukses dalam Menulis Ilmiah. Yogyakarta: CV ANDI OFFSET.
Siagian, Dergibson & Sugiarto. (2006). Metode Statistika untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta: Gramedia.
Sitepu, Nanda. (2010, 05 April). BUMI: Laba Bersih 2009 Turun 49%, Namun Kinerja Perusahaan Membaik.Vibiz News [Online]. Tersedia: http://www.vibiznews.com/news/stock/2010/04/05/bumi-laba-bersih-2009-turun-49-namun-kinerja-perusahaan-membaik-/10. [1 Oktober 2011]
Situmorang, Syafrizal Helmi., Doli M., Ja'far Dalimunte., Fadli., Iskandar Muda., & Fanzie Syarief. (2010). Analisis Data untuk Riset Manajemen dan Bisnis. Medan: USU Press.
Sulistiyowati, Leny. (2010). Panduan praktis memahami laporan keuangan. Jakarta: Elex Media Komputindo
Susanto, Heri. (2010, 26 April).10 Perusahaan Indonesia Masuk Kelas Dunia. VIVANews[Online].Tersedia:http://bisnis.vivanews.com/news/read/146 793-10_perusahaan_indonesia_masuk_kelas_dunia [2 Oktober 2011]
Ulupui, I. G. K. A., (2007). Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas, dan Profitabilitas terhadap Return saham (Studi pada Perusahaan Makanan dan Minuman dengan Kategori Industri Barang Konsumsi di Bursa Efek Jakarta)”, Jurnal Akuntansi dan Bisnis. Januari 2007, 88-102. FE Universitas Udayana
Umar, Husein. (2007). Metode Penelitian. Jakarta: Rajawali Pers.
Umar, Husein. (2002). Metode Riset Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Utami, Dina Kartika. (2009). Perbandingan Rasio Keuangan Untuk Mengevaluasi Kinerja Keuangan Perusahaan – Perusahaan Sektor Telekomunikasi dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Laba Periode 2005-2008. Skripsi pada IMTelkom : Tidak diterbitkan.
Utomo, Lisa Linawati. (1999). Economic Value Added sebagai Ukuran Keberhasilan Kinerja Manajemen Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan. Vol. 1, No. 1, Mei 1999 : 28 – 42. FE Universitas Kristen Petra.
Wahdikorin, Ayu. (2010). Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perbankan yang Terdaftara di Bursa Efek
Indonesia (BEI) tahun 2007-2009.Skripsi pada UNDIP Semarang : Tidak diterbitkan.
Wibisono, Dermawan. (2003). Riset Bisnis Panduan Bagi Praktisi & Akademisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Widagdo, Bambang., & Tri Suryani. (2009). Kinerja beberapa Perusahaan Sektor Pertambangan yang Sahamnya Tercatat di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ekonomi & Manajemen Sumber Daya. 10(1) Juni .. hal 2. FE UMM.
Widiasih, Nur Ari. (2006). Analisis Rasio Keuangan Dalam Perubahan Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Skripsi pada UII Yogyakarta: Tidak diterbitkan