• Tidak ada hasil yang ditemukan

KALIMATUN SAWA ANTARA ISLAM DAN KRISTEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KALIMATUN SAWA ANTARA ISLAM DAN KRISTEN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

1

KALIMATUN SAWA’ ANTARA ISLAM DAN KRISTEN (SEBUAH UPAYA DIALOGIS MENUJU TITIK TEMU TEOLOGIS)

Rendra Khaldun1

Tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama. Tidak ada perdamaian antar agama tanpa dialog antar agama. Tidak ada dialog antar agama tanpa penyelaman terhadap

fondasi agama-agama.2

Pendahuluan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya semua agama memiliki misi yang suci, yakni mengajak manusia untuk mencapai derajad yang tinggi dalam arti spiritual, yaitu dengan kesadaran transendental yang dimiliki. Di sisi lain agama, dengan gamblang menunjukkan kepeduliannya terhadap pentingnya kebersamaan dalam menempuh kehidupan dengan upaya menghindari hal-hal yang bersifat primordial.

Agama dengan segenap doktrin yang dikandungnya menunjukkan kepedulian terhadap persoalan-persoalan seperti ketidakadilan, kesewenang-wenangan, kemiskinan, penindasan, dan segenap sisi kemanusiaan lainnya.Oleh karenanya masing-masing pemeluk agama, tanpa batasan agama apa yang dianutnya seharusnya menghayati nilai-nilai luhur agama yang universal tersebut. Dengan demikian, pemeluk agama tidak akan lagi terbelenggu oleh sekat-sekat primordial dan formal, ketika harus dihadapkan pada persoalan kemanusiaan. Karena jika tidak demikian berarti bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri dan bahkan juga agama-agama lainnya yang ada di muka bumi.

Ironisnya, terdapat fenomena ekslusif pada diri sebagian kaum beriman, mereka menginginkan agar orang yang tidak beragama sesuai dengan agamanya hendaknya berubah mengikuti agama yang dianutnya. Keinginan tersebut didasari atas pemahaman yang eksklusif dan militan umat beragama. Tanpa didasari

bahwa sikap semacam itu justru akan menimbulkan kebencian dan permusuhan.3

Klaim kebenaran dan sikap eksklusif pada kenyataannya tidak hanya terjadi di Barat (Kristen dan Yahudi), tetapi juga di dunia Timur (Islam). Hal ini terlihat jelas pada cara mereka menafsirkan teks-teks keagamaan seperti al-Qur’an pada ayat-ayat yang berbicara tentang agama lain khususnya Kristen dan Yahudi. Bercampur aduknya aspek doktrin–teologis dalam pergumulan kultural-historis menurut Amin Abdullah menambah semakin rumitnya persoalan keagamaan pada

1

Dosen Tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram

2Hans Kung: Islam, Past, Present, and Future, (Oneworld Book Published by Oneworld

Publications 2007) h. xxiv

3

(2)

2

wilayah historis-empiris kemanusiaan. Lebih lanjut adanya pemikiran apriori, praanggapan, prasangka, praduga teologis tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat luas, yang kemudian diperkuat oleh para da’i missionaris, zending dengan landasan kitab suci masing-masing. Kenyataan ini sangat sulit dilerai hanya dengan menggunakan cara-cara konvensional, baik dengan mempelajari kembali doktrin agama masing-masing secara baik dan jujurmaupun lewat studi empiris seperti yang biasa dilakukan oleh studi agama-agama. Hubungan antar umat tidak lagi hanya sekedar hubungan antar personal dan kelompok, tetapi

masuk dalam wilayah ketertumpangtindihan antara teks dan realitas.4

Truth claim yang sering muncul di antara agama-agama dapat dipahami

karena setiap agama mengajarkan kebenaran dan menyeru umat manusia untuk berkumpul dalam naungan kebenaran dan keselamatan sejati. Persoalannya adalah kebenaran ketika dipahami manusia mengandung resiko untuk terdistorsi karena berbagai faktor. Agama memiliki dua sisi, yaitu sisi spiritualitas dan sisi identitas sosial dan komunal. Sisi spiritualitas merupakan sisi substansi, sementara sisi identitas sosial hanyalah suplemen. Akan tetapi, sisi identitas sosial seringkali mendominasi sisi spiritualitas sehingga kebenaran agama tidak dapat didialogkan lagi.

Setidaknya konflik antar agama terjadi karena barbagai kepentingan, seperti politik, ekonomi, sampai sosial budaya. Terjadinya klaim kebenaran bahwa pemahaman agamanya yang paling mutlak benar terjadi karena penafsiran dari masing-masing agama sangat eksklusif dan kurang apresiatif terhadap ajaranagama lain, bahkan lebih jauh lagi kurang bisa menangkap pesan moral dan

konteks sosio historis sebuah teks agama yang diturunkan5 menjadi penyebab

utama terjadinya konflik baik intra maupun antar agama.6

Dalam konteks-konteks agama di dunia, Islam dan Kristen merupakan dua agama yang terbesar pemeluknya. Karenanya tidaklah mengherankan jika kedua

agama Abrahamik7 ini menjadi landasan dan barometer kedamaian dunia.

Meskipun secara konseptual keduanya memiliki beberapa perbedaan, namun secara teologis kedua agama ini memiliki ciri khas yang sama, yakni agama monoteis (agama tauhid). Konsep monoteisme inilah yang sering dijadikan landasan untuk mencari titik temu antara kedua agama tersebut disamping konsep

kasih sayang antar sesama.8

4

Amin Abdullah, Pengantar dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi Agama, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2000) h. 6

5Untuk lebih jelasnya lihat Mahmoud Musthafa Ayyoub, Mengurai Konflik Muslim Kristen dalam Perspektif Islam, (Jogjakarta: Fajar Pustaka baru, 2003)

6

Amin Syukur, Pengantar, dalam Hasyim Muhammad, Kristologi Qur’ani Telaah Kontekstual Doktrin Kekrtistenan dalam Al-Qur’an (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. vii

7 Istilah agama Abrahamic ini diambil dari nama Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang dari nabi-nabi sesudahnya yang diberikan Kitab suci. Untuk lebih jelasnya tentang ilustrasi ini lihat W.M. Watt, Muslim-Christian Encounters: a Perception and Misperception (London: Routledge. 1991), h. 59, 70.

8

(3)

3

Dalam catatan sejarah, hubungan antara Islam dan Kristen mengalami pasang surut baik secara politis, teologis, ekonomi, budaya, sosial dan

pendidikan.9Tradisi pemikiran-pemikiran Yahudi, Kristen, dan Islam telah saling

berinteraksi dan dipertemukan lewat pemikiran filsafat Yunani Kuno.Terjadinya interaksi akademik dalam bidang kosmologi, science, dan filsafat, bahkan mistisisme sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Warisan Graeco-Islam beserta weltanschauung kepada Barat mengakibatkan dunia Kristen pada abad pertengahan mencapai prestasi rennaisance, pencerahan, dan teknologi modern yang nantinya akan mengakibatkan perbedaan (polemik dalam bidang teologi)

yang sangat tajam antara Islam dan Kristen.10

Upaya dialog antar agama, terutama agama Abrahamic sudah banyak dilakukan, lebih-lebih antara Islam dan Kristen. Dari seminar tingkat regional,

nasional sampai tingkat internasional.11 Upaya ini dilakukan untuk mewujudkan

kehidupan yang damai ditengah pluralitas agama tanpa adanya sebuah klaim

kebenaran yang melingkupi masing-masing agama terutama agama Abrahamic.12

Perdebatan antara umat Islam-Kristen disamping berawal dari kenyataan bahwa kedua agama tersebut memiliki kedekatan historis juga terjadi karena berbagai faktor seperti: Pertama, kedua agama berasal dari tradisi agama Semitik yang melahirkan agama-agama besar Ibrahim, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam.

Kedua, sejarah-sejarah umat terdahulu yang dirujuk oleh ketiga tradisi agama

tersebut dapat dikatakan sama, meskipun ada perbedaan detail narasinya dan perbedaan interpretasi atas sejarah tersebut. Ketiga, kedua agama tersebut

9

Ibrahim Kalin mencontohkan bagaimana Al-Mutawakkil yang merupakan salah satu Khalifah Dinasti Abbasiyah melakukan tekanan politik kepada kaum syi’ah dan Kristen termasuk mengekang mereka dari pemerintahan dan memaksa mereka menggunakan pakaian khusus. Demikian juga dengan Khalifah Hakim bin Amrillah memerintahkan untuk menghancurkan Gereja Suci dan Kuburan Suci umat Kristen, kejadian ini (penghancuran salah satu gereja suci sangat membuat shock kaum Muslim dan Kristen. Untuk lebih jelasnya lihat Islam Christianity, the Enlightenment: “A Common Word” and Muslim-Christian Relations, dalam Waleed El Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian Understanding Theory and Aplication of “A Common Word” (New York: palgrave Macmillan, 2010), h. 42

10

Ibrahim Kalin, Islam Christianity, the Enlightenment: “A Common Word” and Muslim-Christian Relations, dalam Waleed El Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Muslim-Christian Understanding Theory and Aplication of “A Common Word” (New York: Palgrave Macmillan, 2010), h. 41

11

Lutheran World Federation (LWF) merupakan salah satu lembaga yang konsis dan eksis menyelenggarakan seminar maupun dialog tentang Islam dan Kristen baik menyangkut tentang keimanan maupun kerjasama lain diantara keduanya sejak tahun 1992. Beberapa artikel mengenai hal ini dapat dilihat di The Lutheran Word Federation, Dialogue and Beyond Christians and Muslims Together on The Way (Switzerland: The Lutherand Word Federation, 2003).

12

(4)

4

mengkalim sebagai agama monotheis dan bersumber dari monotheisme, meskipun dalam kasus Kristenmenggunakan terminologi trinitas. Keempat, kedua agama memiliki klaim mengenai kebenaran eksklusif masing-masing. Dalam Kristen dikenal istilah extra eccelisia nulla sallus (di luar gereja tidak ada keselamatan), dan di Islam dikenal ayat yang menyebutkan inna al-din ‘inda Allah al-Islam (sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam). Kelima, kedua agama merupakan agama misi yang menyuruh umatnya untuk mendakwahkan

atau mewartakan kebenaran masing-masing.13

Prakarsa Multiagama Oleh Umat Islam

Dua prakasra muslim berskala internasional yang paling utama adalah pesan dari Amman (Amman Message) yang disponsori oleh Yordania, dan “Satu Kata Bersama di Antara Kami dan Anda”. Keduanya merupakan contoh tanggapan Muslim terhadap ekstrimisme keagamaan dan terorisme global serta upaya menggerakkan para pemimpin agama dan individu lainnya dalam usaha menjembatani perbedaan dan perselisihan antar agama khususnya pada agama Abrahamic yang masih terus berlangsung sampai saat ini.

Lahirnya Pesan dari Amman dilatarbelakangi oleh ancaman yang terus menerus dilakukan oleh golongan ekstrimis Islam, khutbah penghasut dari ekstrimis agama, perang antarsekte di Irak, dan kurangnya otoritas agama sentral dalam Islam, sehingga banyak orang yang bertanya, “siapa yang berbicara atas nama Islam?”. Pada Tahun 2004, Raja Abdullah dari Yordania berusaha mengatasi ekstrimisme dan militansi agama dengan mendudukkan bersama para pemimpin Islam untuk menyusun pernyataan mengenai sifat Islam sejati, untuk menunjukkan mana yang islami dan mana yang bukan, serta aksi-aksi mana yang mewakilinya dan tidak dengan menekankan nilai-nilai inti dalam Islam tentang kebaikan hati, saling menghargai, penerimaan, dan kebebasan beragama. Pesan dari Amman ini dimaksudkan untuk menolak ekstrimisme karena merupakan penyimpangan dari keyakinan islami dan menegaskan ajaran Islam tentang toleransi serta kemanusiaan sebagai landasan bersama antarberbagai agama dan

masyarakat.14

Kemudian pada bulan Juli tahun 2005 dilaksanakan sebuah konferensi internasional yang dihadiri oleh lebih dari dua ratus ulama yang berasal dari lima puluhan negara sebagai tindak lanjut dari pertanyaan yang diajukan kepada dua puluh empat ulama senior mengenai: 1) siapakah Muslim itu? 2) Bolehkah menyatakan seseorang itu kafir, dan 3) Siapa yang berhak mengeluarkan

fatwa?.15Berdasarkan fatwa yang dihasilkan tiga otoritas keagamaan paling senior

13

Untuk melihat masing-masing klaim kebenaran yang dikemukakan oleh Islam dan Kristen lihat Sam Solomon dan Al Maqdisi, Truth About Common Word diunduh pada tanggal 24 Desember 2011

14

Untuk lebih jelasnya lihat Jon Hoover, A Common Word “More Positive and Open, Yet Mainstreaming and Orthodox, dalam Theological Review, XXX), h. 50-77.

15

(5)

5

dari kalangan Sunnah dan Syi’ah diantaranya Syaikh Muhammad Sayyid Tanthawi dari Universitas al-Azhar, Ayatullah Ali al-Sistani dari Irak, dan Yusuf Qardhawi. Para ulama membahas konflik dan kekerasan dalam masyarakat muslim. Mereka juga berusaha menafikan para ekstrimis yang mengeluarkan

fatwa untuk pembenaran agenda mereka.16

Para peserta mengeluarkan deklarasi akhir yang berisikan hal-hal sebagai berikut:

1. Menekankan persatuan dan validitas tiga cabang utama Islam yakni Sunni,

Syi’i, dan Ibadiyah;

2. Melarang pengkafiran sesama Muslim;

3. Menetapkan garis besar syarat kesahihan fatwa; tak ada yang boleh

mengeluarkan fatwa tanpa memenuhi persyaratan kualifikasi pribadi yang ditetapkan tiap madzhab bagi pengikutnya, dan siapapun yang mengeluarkan

fatwa harus memenuhi metodologi yang berlaku dalam madzhab tersebut.17

Pedoman ini menuai dukungan luas, pada bulan Desember tahun 2005 secara aklamasi diadopsi oleh Organisasi Konfrensi Islam, yang mewakili pemimpin politik limapuluh tujuh negara berpendudukan mayoritas Muslim, dan oleh enam Majelis Ulama Internasional lainnya, termasuk akademi Fiqh Internasional Jeddah, pada Juli 2006. Secara keseluruhan lebih dari limaratus ulama terkemuka dunia mendukung Pesan dari Amman ini. Dengan demikian untuk pertama kali dalam sejarah, sejumlah ulama besar dari berbagai negara dan golongan, mewakili Islam sedunia, bergabung mengeluarkan pernyataan otoritatif.18

Satu Kata Bersama

Pada bulan September tahun 2006, Paus Benediktus XVI menyampaikan pidato di Regensburg, Jerman, yang mengecewakan dan membuat marah kaum Muslim di seluruh dunia. Benediktus mengutip ucapan Kaisar Bizantium dari abad keempat belas mengenai Nabi Muhammad: “Tunjukkan kepadakau hal baru yang dibawa Muhammad, dan akan kita jumpai hal-hal yang jahat dan tidak manusiawi belaka, seperti perintahnya untuk menyebarkan ajarannya dengan

pedang”.19 Pernyataan bahwa Muhammad memerintahkan penyebaran Islam

dengan pedang disangkal keras dan dinyatakan tidak akurat oleh Muslim dan

banyak ilmuan non Muslim.20

dan cendekiawan dari berbagai macam Perguruan Tinggi terkenal di dunia seperti Oxford Univercity, Michigan State Univercity, Yale Univercity dan lainnya.

16

John L. Esposito, Masa Depan Islam Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan Dengan Barat(Bandung; Mizan, 2010), h. 280

17

John L. Esposito, ibid. h 280 18

John L. Esposito, ibid. h 281 19

John L. Esposito, ibid. h 282 20

(6)

6

Yang juga menjadi kontroversi dalam pernyataan Paus Benediktus adalah pernyataannya tentang ayat al-Qur’an “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama” (QS. Al-Baqarah [2]: 256) diturunkan pada awal kenabian Muhammad di Makkah, suatu masa “ketika Muhammad masih lemah dan dibawah (ancaman)”, tetapi sudah digantikan “instruksi, yang dibuat belakangan dan dicatat dalam Koran (Qur’an), mengenai jihad”.

Sebulan setelah pidato Paus Benediktus di Resenburg, tigapuluh delapan ulama mengirim surat terbuka kepada Paus Benediktus XVI, mengungkapkan keprihatinan mereka atas pidato tersebut. Memperingati setahun surat tersebut tepatnya pada tanggal 13 Oktober 2007 sekitar 138 pemimpin Muslim yang terdiri dari mufti, akademisi, inteltual, menteri negara, dan penulis buku dari seluruh dunia kembali mengirimkan surat terbuka, “satu kata bersama antara kami dan anda’, kepada para pemimpin gereja-gereja besar di seluruh dunia. Prakarsa ini

diluncurkan bersamaan dengan konferensi di Dubai, London, dan Washington.21

Para pemimpin dan cendekiawan Kristen di seluruh dunia segera menanggapai “Satu Kata Bersama”. Uskup Agung Canterbury, Paus Benediktus XVI, Patriarkat Ortodoks Alexei II dari Rusia, pemimpin Uskup Federasi Dunia Lutheran, dan banyak lainnya, mengakui pentingnya surat ini. Banyak pula para individu dan kelompok menuliskan komentar dan kritik pada situs Web resmi “Satu Kata Bersama”. Lebih dari tiga ratus cendekiawan serta pemimpin arus utama dan evangelis Amerika terkemuka menanggapi dalam sebuah surat terbuka yang mengesahkan pernyataan “Bersama-sama mencintai Tuhan dan Sesama”, yang dipublikasikan di New York Times dan surat kabar lainnya. Jumlah pemimpin Muslim serta ulama yang menandatangani prakarsa ini meningkat dari semula berjumlah 138 orang menjadi lebih dari 300 orang, ditambah dukungan

dari 460-lebih organisasi dan asosiasi Islam.22

Sebagai tindak lanjut dari surat tersebut, diadakan konfrensi internasional antara para pemuka agama, cendekiawan, LSM, di Yale Univercity, Cambridge Univercity, dan Georgetown Univercity serta di Vatikan untuk meneliti implikasi

teologis, alkitabiah, dan sosial dari prakarsa ini.23

Delegasi Muslim dipimpin oleh Mufti Besar Bosnia-Herzegovina Mustafa Ceric. Kardinal Louis Tauran menjadi pemimpin delegasi Vatikan, menyebut pertemuan tersebut sebagai “Babak baru dalam sejarah panjang”. Vatikan mendesakkan topik yang menjadi perhatian mereka yakni penekanan pada keyakinan dan nilai-nilai bersama tidak mengabaikan perbedaan dan persoalan sebenarnya, khususnya yang disebut “timbal balik” kebebasan umat Kristen untuk membangun gereja dan beribadah di negara Islam. Kegiatan ini juga diharapkan

serius, untuk lebih jelasnya lihat D. J. Sahas, John of Damaskus on Islam (Leiden: 1972), h. 134-141

21

John L. Esposito, Masa Depan Islam, h. 282 22

John L. Esposito, ibid. 23

(7)

7

berlangsung dengan penuh saling hormat menghormati terhadap tradisi sakral antara yang satu dengan yang lainnya, tanpa ada rasa saling mencurigai, dan

tannpa menggunakan sumber-sumber yang dapat mereduksi

keduanya.24Pertemuan tiga hari tersebut menghasilkan sebuah manifesto yang

menyerukan dialog antara pemimpin Muslim dan Kristen, menekankan nilai-nilai

bersama antara Islam dan Kristen.25

Titik Temu antara Teologi Islam dan Teologi Kristen

Secara teologis, usaha mendapatkan titik temu antara Islam dan Kristen ini sangat penting, terlebih lagi sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa lebih dari setengah populasi dunia terdiri dari umat Muslim dan Kristen. Tanpa perdamaian dan keadilan diantara dua masyarakat beragama ini, tidak mungkin tercapai perdamaian dunia yang penuh arti. Masa depan dunia ini tergantung pada

perdamaian antara Muslim dan Kristen.26

Batu pijakan untuk perdamaian dan saling pengertian ini sudah ada, yaitu bagian dari prinsip dasar kedua agama; kecintaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kecintaan kepada sesama. Prinsip ini berkali-kali dijumpai dalam kitab suci Islam dan Kristen. Dengan demikian ke Esa-an Tuhan, dan keharusan mencintai

sesama menjadi landasan bersama antara umat Islam dan Kristen.27

Landasan prinsip-prinsip diatas merupakan prinsip universal dari seluruh agama terlebih agama Abrahamic (Islam, Kristen, dan Yahudi), dengan sendirinya adalah tunggal, meskipun ada kemungkinan manifestasi lahiriyahnya beraneka ragam. Ini juga yang menghasilkan pandangan antropologis bahwa pada mulanya semua agama adalah tunggal karena berpegang kepada kebenaran tunggal yang diambil dari intisari ajaran kitab suci mereka. Namun, kemudian terjadi perselisihan antar sesama justeru setelah penjelasan tentang kebenaran itu datang. Bahkan setelah mereka berusaha memahami dalam taraf kemampuan dan keterbatasan mereka, maka terjadilah perbedaan penafsiran terhadap kebenaran tunggal tersebut. Perbedaan tersebut kemudian semakin tajam dengan masuknya berbagai macam kepentingan yang diusung oleh masing-masing elit dari agama itu sendiri.

Pokok pangkal kebenaran universal yang tunggal adalah Ketuhanan Yang Maha Esa atau tauhid dan inilah yang menjadi perdebatan teologis antara agama Abrahamic khususnya Islam dan Kristen. Secara historis-sosiologis terjadi

24

Seyyed Hossein Nahsr, A, Common Word…., h. 24 25

Untuk lebih jelasnya lihat Joseph Lumbard, The Uncommonality of A Common Word(Crown Center for Middle East Studies: Brandeis University, 2009)

26

Ibrahim Kalin, Islam, Christianity, …., h. 43 27

(8)

8

“variasi” pemahaman konsep tentang Tuhan dari beberapa pemeluk (elit) agama sehingga masing-masing agama Abrahamic sering mengklaim sebagai pemilik monoteisme murni (strit monoteism). Klaim-klaim ini tidak hanya didengungkan oleh elit Muslim semata, namun elit-elit non Muslim pun mengklaim sebagai

penganut monoteisme murni.28

Menurut Hossein Nashr ada beberapa hal yang menjadi (kesamaan) titik temu antara Islam dan Kristen, pertama, bahwa antara Muslim dan Kristen sama-sama dikaruniai iman yang obyeknya bukan hanya Tuhan semata, akan tetapi juga hal-hal yang terkait wahyu, agama, dan dunia malakut; kedua, antara Muslim dan Kristen sama-sama mempercayai bahwa ethical karakter pada kehidupan manusia harus ditegakkan di muka bumi; ketiga, antara Islam dan Kristen sama-sama memegang teguh tentang prinsip keadilan wahyu dan keadilan bagi kehidupan sosial dengan menakankan pada pokok-pokok kecintaan terhadap Tuhan, kasih sayang, rahmat, dan kebajikan dalam setiap kehidupan sehingga sifat keadilan

dan tanggung jawab hanya diperuntukkan bagi kehidupan individu dan sosial.29

Pada level paraksis keagamaan, antara Islam dan Kristen sama-sama beribadah menyelenggarakan ritus-ritus sakral walaupun secara formal tatacara ritual tersebut berbeda-beda tetapi secara hakiki mereka menekankan dan mencerminkan kesamaan dalam realitas keagamaan. Secara empiris, antara Islam dan Kristen sama-sama menyadari akan adanya kesamaan dalam berbagai hal khususnya terkait dengan praktek keagamaan ini. Pada beberapa kasus, secara eksistensial kita sama-sama akan merasakan ketenangan dan kedamaian yang mengalir selama kita melaksanakan ibadah walaupun bentuk dan caranya berbeda beda. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengklaim bahwa kehendak kita dan

kehendak yang mengklaim yang di kabullkan oleh Tuhan dan yang lain tidak.30

Monoteisme Dalam Islam dan Kristen

Trinitas atau Tritunggal adalah merupakan konsep monoteisme Kristen

yang sangat populer. Bagi orang lain, doktrin ini agak sulit untuk dimengerti dan dipahami. Namun bagi kaum Kristiani mereka memahaminya dengan semangat keimanan suci dan menjadi salah satu fondasi pokok dalam memahami Tuhan dan manifestasi-Nya dalam kehidupan nyata. Karena itu argumen yang sering dilontarkan oleh umat Kristen dalam menjelaskan dalam menjelaskan doktrin ini adalah bahwa Tritunggal merupakan pengakuan iman rasuli yang yang mestidipercayai secara mutlak dan tidak perlu diutak-atik secara akali karena memasuki ranah imani bukan rasio.

BJ. Boland, seorang teolog Kristen menerangkan bahwa Allah yang satu dan Esa itu memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah di atas kita (Allah Bapa), sebagai Allah ditengah-tengah kita (Yesus Kristus), dan sebagai Allah dalam diri kita (Roh Kudus). Ketiganya tak terpisahkan satu sama lain, namun tetap

28

Untuk lebih jelasnya lihat Nurkholis Madjid, Islam doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina, 1995), h. xcii.

29

Seyyed Hossein Nashr, “A Common Word” Initiatove: Theoria and Praxis dalam Waleed el-Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian Understanding Theory and Aplication of “A Common Word” (New York: Palgrave Macmillan, 2010), h. 24

30

(9)

9

bedakan. Itulah yang dimaksud dengan Tritunggal.31 Dapat pula dikatakan bahwa

hubungan antara Allah Bapa dan anak-Nya (Yesus Kristus) menunjukkan “kedekatan yang sangat” antara Allah dan Yesus bukan merupakan hubungan anak-biologis.

Kebesaran Allah dalam tiga pribadi itu adalah rahasia iman Kristen yang paling besar. Manusia sulit memahaminya, kecuali melalui akal ilahi. Akal ilahi saja tidak dapat memahami semua ciptaan yang lahir maupun bathin, apalagi

hendak memahami Allah Tritunggal.32 Cukup bagi umat Kristiani untuk

mengimani apa yang diwahyukan kepada Yesus Kristus ini. Dan akhirnya doktrin Allah Tritunggal ini menjadi misteri dan rahasia yang dalam, yang sulit dipahami akal manusia.

Dalam iman Kristen, Trinitas atau Tritunggal tidak dapat dijelaskan dengan pendekatan apapun selain menyatakan, bahwa Trinitas adalah wahyu Allah, berasal dan datang dari Allah yang Esa. Ke Esaan inilah yang membuatnya sulit dijelaskan dengan apapun dan oleh siapa pun kecuali oleh Allah sendiri. Kebenaran dari segala sesuatu adalah semu, sehingga tidak mungkin menjelaskan tentang kebenaran Allah yang Mutlak. Berbicara tentang Allah harus dengan kesadaran bahwa Allah bukan sesuatu yang dikuasai oleh akan budi tetapi sesuatu yang menguasai akal budi. Oleh karenanya Allah tidak mungkin menjadi terang

dengan penjelasan akal budi. 33

Sedangkan konsep monoteisme dalam Islam dimaknai sebagai penyerahan diri secara penuh, utuh, dan bulat kepada Allah dengan cara menyembah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tidak ada yang setara dengan-Nya. Tidak dapat disetarakan dengan siapa dan apapun.Tempat bergantung dan bersandar segala sesuatu. Dalam seluruh kehidupannya, seorang Muslim berikrar atau berkomitmen teguh bahwa “shalatku, ibadahku, matiku, hidup dan matiku hanya milik allah, Tuhan pemilik alam. Setidaknya beberapa elemen tersebut merupakan esensi ketauhidan (monoteisme) yang menjadi dasar

keyakinan (faith) kemudian beribadah yang menjadi dasar perbuatan manusia.34

Dari permulaan sejarahnya, doktrin tauhid dalam Islam senantiasa menjaga kemurniannya hingga kini. Sejak pertama Nabi Muhammad mengenalkan Islam dengan risalah monoteismenya, tak pernah ada usaha-usaha destruktif dari umatnya untuk menyimpangkan doktrin ini. Konsep Tuhan dalam Islam, sepanjang pergulatan sejarahnya tidak pernah berevolusi dari bentuk apapun.

Dalam pandangan mayoritas Islam, semua manusia dapat langsung berhubungan dengan Tuhan dimanapun, kapanpun, dan bagaimanapun kondisinya, tanpa perantara tuhan-tuhan kecil dan makhluk ciptaan-Nya. Tuhan pun mustahil mengejawantahkan dirinya pada diri rasul-Nya atau apapun yang kemudian dijadikan obyek sesembahan.

31

BJ. Bolland, Intisari Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984), h. 89 32

P. Wahyo, Pengajaran Gereja Katolik (Jakarta: Penerbit Obor, 1959), h. 33

Untuk lebih jelasnya lihat Niko Syukur Dister, Kristologi: Sebuah Sketsa (Jakarta: Kanisius, 1993), h. 15

34

(10)

10

Para Kristologi Kristen secara garis besar menggunakan dua pendekatan dalam mengkaji identitas dan pokok-pokok keimanan tentang Yesus. Kedua pendekatan tersebut dikenal dengan istilah dari bawah (low ascending) dan dari atas (high descending). Pendekatan low ascending ini terkait dengan hal-hal yang bersifat kemanusiaan, dan pendekatan high descending terkait dengan hal-hal yang bersifat ketuhanan. Pendekatan low ascending akhir-akhir ini menjadi sangat populer digunakan oleh para Kristolog dan pendekatan ini banyak ditemukan dalam Kitab Perjanjian Baru. Sementara itu pendekatan high descending

digunakan untuk menjelaskan inkarnasi dalam konsep keimanan Kristen.35

Jika pendekatan-pendekatan ini diterapkan untuk mengkaji al-Qur’an, maka kita akan mengatakan bahwa ini merupakan high descending: al-Qur’an merupakan firman Tuhan yang abadi yang datang dari atas (Tuhan) kepada kita (manusia). Sedangkan jika kita menggunakan low ascending terhadap al-Qur’an maka kita akan melihat bahwa secara sederhana al-Qur’an merupakan sebuah karangan yang diilhami dari Nabi Muhammad namun ini sulit untuk diterima. Walaupun al-Qur’an mungkin berasal dari firman Tuhan dan kata-kata yang ada didalamnya tidak bisa disamakan dengan kata-kata biasa. Namun orang-orang Muslim tetap ragu mengadopsi pendekatan jenis ini jika digunakan kepada

al-Qur’an.36

Low Ascending Kristologi cenderung untuk mengkonfirmasikan kepada

Muslim tentang kepercayaan mereka bahwa orang-orang kristen di angkat ke tempat yang tinggi semata-mata karena menjadi pelayan kemanusiaan menuju tempat “ketuhanan” dimana tidak ada tempat selain itu. Menariknya, para teolog tradisional Islam merefleksikan bahwa al-Qur’an sebagai kata-kata Tuhan agar terhindar dari beberapa isu yang parallel dengan tradisi Kristen pada masa awal pertumbuhan agama Kristen. Hal-hal yang dapat menjadi isu adalah bahwa komunitas Muslim mengenal apa yang dijadikan testimony dalam al-Qur’an semata-mata merupakan teks manusia (puisi, syair atau sajak), sejarah-sejarah purba, atau berupa ucapan-ucapan ramalan yang diaktualkan sebagai wahyu; dan selanjutnya hal ini juga terjadi pada ungkapan-ungkapan Johannine yang datang

dari Tuhan, telah dikirim oleh Tuhan.37

Ayat-ayat al-Qur’an terhadap Hubungan antar Agama

Pada dasarnya Islam secara tegas memberikan kebebasan sepenuhnya

kepada manusia dalam masalah agama dan keberagamaan.38 Menurutnya, Islam

sama sekali tidak menafikan agama-agama yang ada. Islam mengakui eksistensi agama-agama tersebut dan tidak menolak nilai-nilai ajarannya. Kebebasan

35

Daniel A. Madigan, Mutual Theological Hospitality: Doing Theology in the Presence of the Other dalam Waleed el-Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian Understanding Theory and Aplication of “A Common Word” (New York: Palgrave Macmillan, 2010), h. 62

36

Daniel A. Madigan, Mutual Theological, ..ibid. 37

(11)

11

beragama dan respek terhadap agama dan kepercayaan orang lain adalah ajaran agama, disamping itu memang merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat majemuk. Dengan demikian, membela kebebasan beragama bagi siapa saja dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain dianggap sebagai bagian dari

kemusliman.39

Jika kita cermati secara mendalam maka akan dijumpai beberapa ayat yang menjelaskan tentang hubungan antara agama Abrahamik, problematikanya dan solusi untuk meredakan ketegangan di amtara agama-agama tersebut. Secara garis besar ayat-ayat yang berhubungan dengan antar agama ini dibagi menjadi dua kelompok kluster. Kelompok kluster pertama berbicara tentang ayat-ayat al-Qur’an yang saling terkait tentang agama-agama Abrahamik dan kluster ini terdiri dari lima subkluster. Kelompok kluster kedua berbicara tentang jawaban final al-Qur’an terhadap persoalan keanekaragaman agama-agama dunia dan klaim atas kebenaran masing-masing agama, dan kluster kedua ini terbagi menjadi dua

subkluster.40

Subkluster pertama dari kelompok kluster pertama adalah semula umat

manusia merupakan sebuah kesatuan, tetapi pecah karena wahyu Allah yang disampaikan kepada nabi-nabi. Kelompok Dari keterangan-ketarangan yang

didapat dalam al-Qur’an, jelas sekali bahwa sejak awal hingga akhir kehidupannya sebagai seorang Nabi, Muhammad benar-benar yakin bahwa kitab suci terdahulu berasal dari Allah dan mereka yang menyampaikan Kitab-kitab suci tersebut merupakan nabi-nabi Allah. Itulah sebabnya mengapa Nabi tanpa sangsi mengakui bahwa Ibrahim, Musa, Isa, dan tokoh-tokoh lainnya baik yang disebutkan dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama merupakan nabi-nabi seperti dirinya.

Jika Nabi Muhammad beserta pengikut-pengikutnya mempercayai semua nabi, maka semua manusia harus mempercayainya. Mengingkari dia berarti mengingkari nabi-nabi tersebut karena perbuatan ini berarti merusak garis silsilah kenabian. Namun pada bagian akhir periode Makkah Nabi menyadari bahwa kaum-kaum Yahudi dan Kristen tidak akan mempercayainya; begitu pula masing-masing di antara keduanya tidak akan mengakui yang lainnya.

Kesadaran mengenai keanekaragaman agama-agama walaupun semuanya terpancar dari sumber yang sama ini merupakan masalah teologis yang amat penting bagi Muhammad. Kejadian ini sangat menghujam dan mendukakan hati Muhammad, sehingga sejak mendapatkan kesadaran ini hingga fase terakhir kehidupannya masalah ini tetap disinggung dalam al-Qur’an pada berbagai level. Al-Qur’an seringkali mengatakan bahwa agama-agama yang bebeda tidak hanya bertentangan, tatapi setiap agama itu sendiri mengalami perpecahan dalam tubuhnya. Di dalam al-Qur’an ditemukan sebuah pandangan yang agak lain dalam masalah ini. Dikatakan bahwa pada mulanya umat manusia merupakan sebuah

! " # $ %"& ' ( ) * # * ( * " * +

,

40

(12)

12

kesatuan; tetapi kesatuan ini pecah karena wahyu-wahyu Allah yang disampaikan oleh para nabi. Mengapa wahyu-wahyu tersebut merupakan sumber dan kekuatan yang memecah belah umat manusia adalah rahasia Allah, dan jika dia

menghendaki niscaya dia mempersatukan mereka.41

Subkluster kedua, keragaman dan pluralitas hukum (agama).Secara

ekplisit ayat-ayat diatas menunjukkan adanya sebuah pluralisme dalam beragama. Pluralisme agama sejatinya tidak semata-mata mengakui adanya keragaman agama, tetapi juga kesanggupan dan kesediaan untuk hidup bersama dalam kerukunan dan semua penganut agama yanag berbeda-beda. Dalam konteks teologi universal, keberadaan agama adalah bukti cinta kasih Tuhan kepada manusia. Agama diturunkan guna kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia.

Dalam memahami pluralisme agama, al-Qur’an berulangkali menegaskan bahwa sistem nilai plural (termasuk pluralisme agama) adalah takdir (ketentuan) Tuhan dan sunnatullah yang tidak mungkin berubah, diubah, dilawan, dan diingkari. Siapa saja yang mencoba untuk mengingkari sunnatullah tersebut akan berakibat fatal terhadap kedamaian dunia dan kehidupan umat beragama dan kelangsungan hidup manusia.

Ayat-ayat al-Qur’an yang ada menegaskan bahwa terdapat fakta-fakta tentang masyarakat akan terbagi menjadi kelompok-kelompok dan komunitas, yang masing-masing memiliki orientasi kehidupan dan petunjuknya sendiri-sendiri. Komunitas-komunitas tersebut diharapkan dapat menerima kenyataan tentang adanya keragaman sosio-kultural, saling toleransi dalam memberikan kebebasan dan kesempatan bagi setiap orang untuk menjalani kehidupan sesuai

dengan sistem kepercayaannya masing-masing.42

Dengan kehendakNya, Tuhan bisa saja menciptakan satu umat yang homogen dengan unitas keimanan, tetapi itu tidak dilakukanNya karena hal itu hanya akan menafikan perjuangan manusia melawan segala macam kekuatan dan kepentingan yang berkecamuk dalam dirinya. Apa yang diharapkan dalam sistem plural bahwa komunitas-komunitas yang berbeda saling berkompetisi dengan cara yang dapat dibenarkan dan sehat, guna meraih sesuatu yang terbaik bagi umat manusia. Kelak di akhirat Tuhan akan menerangkan mengapa manusia diciptakan

berbeda-beda seperti perbedaan, ras, suku, agama dan lain sebagainya.43

Oleh karena itu Tuhan membebaskan umat manusia dalam beragama. Tidak dibolehkannya memaksakan suatu agama ialah karena manusia dianggap sudah mampu dan harus diberi kebebasan untuk membedakan serta memilih sendiri antara yang benar dan yang salah. Dengan kata lain, manusia telah dianggap dewasa sehingga dapat menentukan sendiri jalan hidupnya yang benar,

dan tidak perlu lagi dipaksa seperti seorang yang belum dewasa. 44

Subkluster ketiga, eksklusifitas penganut agama-agama Abrahamik (Yahudi, Islam, dan Kristen). Dalam al-Qur’an, disebutkan bahwa semua

41

Beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang hal tersebut adalah surat Al-Baqarah (2): 213), Hud (11): 118), dan Yunus (10): 19)

42

QS. Al Kaafirun (109): 1-6 43

(13)

13

agama Abrahamik memiliki klaim kebenaran masing-masing. Klaim-klaim yang mereka lontarkan kepada kelompok lain tersebut sebenarnya didasari oleh keinginan mereka agar kelompok lain mengikuti keyakinannya. Demikian juga halnya, sikap mereka terhadap pengikut Muhammad, hingga kaum muslimin mendukung keyakinan mereka, begitu juga sebaliknya. Tidak hanya itu saja, masing-masing agama Abrahamik saling merendahkan antara satu dengan yang lainnya. Apa yang dijadikan pedoman agama masing-masing dianggap oleh yang

lain tidak benar atau palsu.45 Kristologi 100

Klaim kebenaran yang dilontarkan oleh agama atau kelompok tertentu tidak akan dapat memberikan jaminan atas individu pengikutnya melainkan tergantung dari amal baik dan perbuatan yang dilakukan oleh individu itu sendiri. Agama dan wahyu yang diturunkan oleh Allah adalah merupakan karunia yang diberikan oleh untuk umat manusia agar ia dapat menjadikannya sebagai penuntun dan pedoman untuk berbuat baik dimuka bumi. Wahyu tuhan tidak akan berarti jika manusia tidak mampu menjadikannya sebagai petunjuk.

Subkluster keempat, Ketegasan nada al-Qur’an terhadap doktrin inkarnasi dan pemahaman yang berbeda-beda terhadap trinitas dikalangan Nashrani. Pada umumnya, para ulama berpendapat bahwa umat Kristiani

seharusnya sepakat dengan penolakan terhadap Trinitas. Bagi mereka, Trinitas hanyalah paham yang diselewengkan oleh sebagian pengikut Isa yang berkhianat. Pendapat yang demikian ini bisa jadi karena perbedaan paradigma dalam memandang hakekat ketuhanan Yesus. Dalam Islam sendiri, perbedaan tentang

hakekat Tuhan dalam hubungannya dengan manusia juga terjadi perbedaan.46

Al-Qur’an hanya mengakui satu Tuhan dan menolak adanya pribadi-pribadi Tuhan sebagaimana dipahami umat Kristiani, sebagai pribadi-pribadi-pribadi-pribadi yang memiliki hakikat ketuhanan, Yesus Kristus sebagai anak Tuhan atau Tuhan Anak atau Roh Kudus. Tidak hanya itu saja, al-Qur,an juga secara tegas menolak anggapan bahwa Yesus Kristus adalah salah satu dari tiga pribadi Tuhan, melainkan hanya seorang rasul yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan ajaraan kebenaran dari Allah. Yesus adalah manusia biasa sebagaimana manusia yang lain, dilahirkan dari seorang ibu bernama Maryam yang diberi Ilham oleh

Allah untuk melahirkan seorang anak tanpa Bapak.47

Subkluster kelima, esensi dan substansi agama di dunia. Allah secara tegas tidak memberikan keistimewaan terhadap kelompok agama ras, golongan, kelompok, dan agama tertentu yang ada dimuka bumi ini. Bagi Allah yang

terpenting adalah keimanan dan amal baik mereka selama mereka hidup dimuka bumi. Allah juga mengakui akan adanya beragam sistem keberagamaan dimuka bumi dengan syari’at yang beragam pula. Dengan adanya beragam keyakinan dan pemahaman tentang agama tersebut, Allah memberikan hak yang sama kepada setiap agama dan keyakinan dalam wilayah kemanusiaan yang nisbi. Selanjutnya Allah mengingatkan agar umat manusia tidak lagi melihat agama apa yang dianut atau ritual apa yang harus dijalanjkan, tetapi mengajak untuk kembali kepada misi

45

QS. Al-Baqarah (2): 113 dan 111, QS. Ali Imran (3): 19 dan 85 46

QS. An-Nisa’ (4): 171-172 47

(14)

14

universal yang diusung oleh masing-masing agama yakni menyembah dan mengabdi kepada kepada Allah dan tidak menyekutukannya.

Pemutlakan kebenaran tertentu akan menyebabkan keangkuhan dan kesombongan dalam beragama, dan diskriminasi sosial merupakan karakter orang kafir dan musyrik yang banyak dikecam oleh al-Qur’an. Al-Qur’an menegaskan pengakuannya terhadap semua agama dan memberikan hak yang sama pada pemeluknya untuk mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya. Al-Qur’an secara berulangkali mengakui adanya manusia-manusia yang saleh di dalam kaum-kaum tersebut (Yahudi, Kristen, dan Shabi’in), seperti pengakuannya

terhadap adanya manusia-manusia yang beriman dalam Islam.48

Sedangkan kelompok kluster kedua merupakan jawaban final al-Qur’an terhadap persoalan keanekaragaman agama-agama dunia dan klaim atas kebenaran masing-masing. Dalam kluster kelompok kedua ini terdapat dua subkluster yang merupakan jawaban atas permasalahan diatas yakni: subkluster

pertama, subkluster mengatakan bahwa realitas sosiologis keberagamaan manusia memang berbeda-beda sehingga membuka sebuah “persaingan terebuka’ untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.49Ayat-ayat yang terkait masalah ini dipandang sebagai intisari masalah sekaligus solusi tentang pluralitas dan pluralisme. Pengingkaran terhadapnya akan melahirkan konflik yang tidak berkesudahan. Secara teologis, keragaman ini akan dapat menjadi wadah umat manusia untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan terhadap Tuhan dan

terhadap sesama.50 Kelak diakhirat Tuhan akan menerangkan mengapa manusia

diciptakan berbeda-beda. 200 Tasawuf

Bagi kaum muslimin sendiri, walaupun mereka dimuliakan sebagai “kaum penengah” dan “sebaik-baiknya kaum yang diciptakan untuk umat manusia” tidak diberikan jaminan bahwa mereka adalah kaum yang dikasihi Allah kecuali jika mereka memperoleh kekuasaan diatas dunia mereka menegakkan shalat, berusaha meningkatkan kesejahteraan orang-orang yang miskin, menyerukan kebajikan dan

mencegah kejahatan. 51

Subkluster kedua, kluster yang menyatakan bahwa rahmat Allah mengatasi semua perbedaan, keyakinan dan tafsir para pengikut nabi-nabi penerus nabi Ibrahim.52 Sebagaimana dimaklumi bahwa setiap nabi dan rasul yang dipilih Tuhan adalah penerus dan penyambung dari nabi sebelumnya, dengan suatu misi suci (wahyu) yang sama yakni mengajarkan kepada satu Tuhan (monoteisme/tauhid). Tidak ada satupun nabi yang menyimpang dari tugas suci ini. Dalam pandangan al-Qur’an, wahyu merupakan pesan (risalah, message) Tuhan bersifat universal yang disampaikan oleh seorang nabi atau rasul kepada

(15)

15

Ibnu Taymiyah mengatakan bahwa semua agama nabi adalah sama dan satu, yakni Islam (dalam pengertian pasrah “kepada Allah” sepenuhnya), meskipun syari’atnya berbeda-beda sesuai zaman dan tempatnya namun inti dari ajaran semua agama adalah hanya beribadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha

Esa, yang tiada padanan bagiNya.54Lagipula, sulit rasanya untuk menerima bahwa

Tuhan Mahaadil, Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang jika Dia hanya membimbing bangsa-bangsa tertentu dibelahan bumi tertentu menuju keselamatan dan kebahagiaan, tetapi membiarkan bangsa-bangsa lain dibelahan bumi lain dalam keadaan kesesatan. Sulit untuk membenarkan bahwa Tuhan Mahaadil, maha Pengasih, lagi Maha Penyayang jika dia mengutus para nabi hanya kepada bangsa-bangsa semitik semata.

KELOMPOK SATU, LIMA KLUSTER AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG SALING TERKAIT

TENTANG HUBUNGAN ANTARA AGAMA ABRAHAMIK.

Keterangan :

kluster 1 : Semula umat manusia merupakan sebuah kesatuan, tetapi pecah

karena Wahyu-wahyu Allah yang di sampaikan oleh para nabi.

kluster 2 : keragaman dan pluralitas hukum ( agama )

kluster 3 : Eklusivitas penganut agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen,

Islam ).

kluster 4 : Ketegasan nada al-Qur’an terhadap doktrin Inkarnasi dan pema

haman yang berbeda-beda terhadap trinitas di kalangan Nashrani.

(16)

16

kluster 5 : Esensi dan Subtansi agama-agama dunia55

KELOMPOK DUA. JAWABAN FINAL AL-QUR’AN TERHADAP PERSOALAN KEANEKARAGAMAN AGAMA-AGAMA DUNIA DAN KLAIM ATAS KEBENARAN MASING-MASING.

55

Amin Abdullah, Ayat-ayat… h. 1

1

2

3

5

4

I. Kluster satu, Realtas Sosiologis keberagaman manusia memang berbeda-beda :

berlomba-lomba dalam kebaikan

II. Kluster dua. Rahmat Allah mengatasi semua

Perbedaan pemahaman, keyakinan Dan “tafsir” para pengikut Nabi-nabi Penerus Nabi Ibrahim

- al-Maidah (5): 48 - al-Baqarah (2): 148 - al-Baqarah (2): 177 - Ali Imran (3): 64

(17)

17

Dari Teologi Ekslusif Menuju Teologi Pluralis

Berdasarkan keyakinan teologis, pandangan yang bersikap setia kepada agama tertentu akan sampai pada kesimpulan bahwa sasaran kesetiaannya mengatasi segala-galanya. Dalam bentuknya yang paling sederhana, pandangan ini melihat kesetiaan yang lain sebagai sosok jahat yang bertentangan dengan sesuatu yang baik yang menjadi anutannya. Atau paling tidak dalam pandangannya ia merupakan sosok yang keliru dan bertentangan dengan kepercayaan yang dianutnya. Dikotomi antara benar dan keliru itu tidak tepat jika dimaksudkan menentang agama-agama lain baik itu agama Abrahamic (samawai) maupun agama ardhi.

Walaupun setiap agama menolak kemungkinan mengakui persamaan sepenuhnya antara kepercayaannya dengan kepercayaan lain atau agamanya dengan agama lain, maka timbullah pandangan teologis sebagai suatu kompromi yang mengakui agama lain mempunyai kebenarannya masing-masing, namun tarafnya sedikit lebih rendah. Hal inilah yang nantinya akan merepresentasikan cara memandang dan sikap bergama antara agama yang satu dengan agama yang lainnya.

Dalam penelitian ilmu agama-agama, paling tidak ada tiga sikap keberagamaan :

Pertama, sikap ekslusif. Sikap ini merupakan pandangan yang dominan

dari zaman ke zaman, dan terus dianut hingga dewasa ini. Bagi kaum Kristiani inti pandangan ini adalah bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan yang sah untuk keselamatan. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Ayat ini bagi yang bersikap ekslusif sering dibaca secara literal. Juga ada ungkapan yang selalu dikutif, “Dan keselamatan tidak ada dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain-maka terkenallah istilah No Other Name- yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Lihat:Kisah Para Rasul 4,12), ada juga perumusan Gereja seperti; extra ecclesiam

nulla salus (tidak ada keselamatan di luar gereja) atau extra ecclesiam nullus propheta (tidak ada nabi di luar Gereja), dan lainnya yang membenarkan ajaran

Kristiani.56

Kedua, Sikap inklusif. Paradigma ini membedakan antara kehadiran

penyelamatan dan aktivitas Tuhan dalam tradisi agama-agama lain, dengan penyelamatan dan aktivitas Tuhan sepenuhnya dalam Yesus Kristus. Menjadi inklusif berarti percaya bahwa seluruh kebenaran agama non-Kristiani mengacu kepada Kristus … Begitu kata Alan Race. Pandangan yang paling ekspresif dari paradigma inklusif ini tampak pada dokumen konsili Vatikan II, mempengaruhi seluruh komunitas Katolik sejak 1965, Dokumen yang berkaitan dengan pernyataan inklusif berkaitan dengan agama lain, ada pada “Deklarasi tentang hubungan Gereja dan Agama-agama non-Kristiani. Begitu pula dalam pandangan

Umat Islam dengan mengutip seorang filusuf Muslim Ibn Taymīyah:

56

(18)

18

Pangkal al-Islam ialah persaksian bahwa “Tidak ada suatu tuhan apapun selain Allah, Tuhan yang sebenarnya, dan persaksian itu mengandung makna penyembahan hanya kepada Allah semata dan meninggalkan penyembahan

kepada selain Dia. Inilah al-Islām al-‘āmm (Islam umum, universal) yang Allah

tidak menerima ajaran ketundukan selain daripadanya. Dalam Al-Qur’ān

disebutkan :

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah". Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan

Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.

(QS.Ibrahim/14:4-5)

Ketiga,Sikap Paralelisme, Paradigma ini percaya bahwa setiap agama

mempunyai jalan keselamatannya sendiri, dan karena itu klaim kebenaran oleh sekelompok umat beragama harus ditolak, demi alasan-alasan teologis dan

fenomenologis.57 Menurut para penganut paham pluralis misalnya Syed Hossein

Nasr menyatakan; setiap umat beragama pada dasarnya distruktur oleh dua hal;

Perumusan iman dan pengalaman iman. Hanya saja setiap umat beragama selalu

menganggap yang satu mendahului yang kedua. Persis dalam pembedaan ini, sikap pluralis bisa diterima, karena misalnya antara Islam dan Kristen perbedaannya terletak dalam menaruh mana yang lebih penting antara dua hal tersebut. Islam mendahulukan perumusan iman (tauhid) dan pengalaman iman mengikuti perumusan iman tersebut yang dalam konteks Kristologis Kristen dikenal dengan pendekatan high descendent. Sebaliknya agama Kristiani, mendahdulukan pengalaman iman (dalam hal ini pengalaman akan Tuhan menjadi manusia pada diri Yesus Kristus, yang kemudian disimbolkan dalam sakranmen misa, dan ekaristi), dan perumusan iman mengikuti pengalaman ini, dengan rumusan dogmatis mengenai trinitas yang dikenal dengan pendekatan low

ascendent.58 Perbedaan dalam struktur perumusan dan pengalaman iman

inihanyalah ekspresi kedua agama ini dalam merumuskan dan mengalami Tuhan

yang sama.59

Sikap paralelisme ini setidaknya mengekspresikan adanya sebuah fenomena “satu Tuhan, banyak agama” yang berarti suatu sikap toleran terhadap adanya jalan lain kepada Tuhan. Menurut Frithjof Schoun pada dasarnya perbedaan agama tidaklah begitu penting, jika kita bisa melihatnya dari segi transendent (esoteris), dimana yang ada adalah kesatuan yang merupakan jantung

57 Lihat, Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman(Jakarta: Paramadina, 2001) cet. I, h. 44-48.

58

Daniel A. Madigan, Mutual Theological….., h. 62 59

(19)

19

dari agama. Menurutnya perbedaan yang penting bukanlah antara agama-agama, tetapi antara orang-orang dalam setiap agama.

Dalam pandangan Schoun, seorang esoteris akan melihat orang yang eksoteris dengan menghargainya sebagai kekayaan sumber-sumber pewahyuan. Contohnya adanya kekayaan dari macam-macam Kitab Suci atau inkarnasi. Seorang esoterik juga tidak akan pernah setuju wawasan eksoteris bahwa agamanya sendiri adalah satu-satunya jalan dimana Yang Ilahi telah berbicara kepada manusia. tetapi sebaliknya yang eksoterik akan melihat kepada yang esoterik dengan kesulitan untuk menerimanya (toleran). Seorang eksoterik akan akan cenderung melihat orang esoteris sebagai orang-orang yang merelatifir kalau tidak malah merusak kebenaran. Memegang bahwa Tuhan mewahyukan kebenaran kepada agama-agama yang berbeda dalam waktu-waktu yang berbeda

telah mengancam klaim-klaim absolut yang dibuat oleh kaum eksoteris.60

Senada Schoun, Abdul Aziz Sachedina mengatakan bahwa “Manusia adalah ummat yang satu” adalah fondasi utama teologi pluralis yang mensyaraktkan kesetaraan yang ditakdirkan Ilahi serta hak-hak yang sama bagi seluruh umat manusia. Walaupun al-Qur’an mengakui Kristen dan Yahudi sebagai komunitas agama yang sah, kaum Muslim tetap dianggap “ideal” atau yang terbaik”. Dalam menghadapi masa depan, Islam dan kaum Muslim, seperti juga agama Kristen dan umat Kristen, dituntut menyeimbangkan antara rasa keunikan atau takdir khusus dan penghormatan sejati terhadap agama lain. Menurut Sachedina, “tes lakmus pluralisme adalah apakah suatu agama bersedia mengakui pemeluk agama lain sebagai calon warga dunia nanti. Akan tetapi keselamatan pada akhirnya tidak bergantung pada kepemelukan agama tertentu, melainkan

lebih utama pada etika atau moral.61

60

Prithjof Schoun, Mencari titik Temu Agama-agama, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), h. 8-36.

61

(20)

20

Refleksi

Secara teoretis-praktis, setiap agama memiliki ajaran teologis sendiri-sendiri, yang tidak mungkin bisa dipersatukan antara satu dengan lainnya, namun bukan berarti antaragama tidak akan mendapatkan titik perjumpaan, karena bisa jadi, antara titik perjumpaan dan perceraian antaragama lebih banyak titik perjumpaannya dari perceraiannya, namun demikian, titik perjumpaan antaragama ini tidak dimaksudkan sebagai model sinkretis, tetapi untuk membangun proses dialog yang sadar, terlebih antara agama Islam dengan agama Kristen (nasrani) memiliki nasab yang sama yaitu Ibrahim atau Abraham dan memiliki ajaran yang sama yaitu tauhidillah (ke-Esa-an Allah), dan cinta kepada sesama (love of God

and love of neighbour).

Namun membangun misi dan visi yang sama antara Islam dengan Kristen, bukanlah perkara yang mudah, terlebih antara Islam dan Kristen secara historis pernah terjadi konflik, maka sebagai salah satu upaya mendamaikan agama-agama itu adalah dengan membaca dan mengkaji ulang kitab suci (pemahaman dan penafsiran) itu dengan mencari titik temu atau mencari benang merah (principle

of identity), dengan begitu agama akan tampil sebagai sarana perekat (melting pot)

bukan sebagai faktor disintegrasi antar agama maupun antara umat beragama. Dialog teologis adalah salah satu upaya untuk menjembatani bagaimana benturan antar agama bisa dieliminir dan dapat membangun kedamaian dan peradaban dunia. Dialog harus dilakukan dengan jujur, terbuka, tanpa ada rasa saling curiga, tanpa mendistorsi antara yang satu dengan yang lainnya, menunjukkan sikap tidak memihak dalam terminologi fenomenologi disebut dengan epoche. Dialog memang bukan tanpa persoalan, misalnya berkenaan dengan standar apa yang harus digunakan untuk mencakup beragam peradaban yang ada di dunia. Oleh karena itu perlu ada standar universal untuk mencari titik temu di antara keduanya. Standar itu hendaknya bermuara pada moralitas internasional atau etika global, yaitu hak asasi manusia, kebebasan, demokrasi, keadilan dan perdamaian. Hal-hal ini bersifat universal dan melampaui

kepentingan umat tertentu.62

Jika hal ini dilaksanakan maka apa yang disebut sebagai “meaning” dalam istilah Sanders Pierce dapat ditemukan. Namun jika habit of mind yang ortodoks

(scriptual-textual oriented) yang dibungkus dengan ulumuddin masih

mendominasi tradisi pemahaman kita maka doubt yang menjadi entry point untuk menemukan meaning tidak dapat kita temukan. Hal inilah yang menjadi cikal bakal lahir dan berkembangnya truth claim dalam tradisi keagamaan kita alih alih akan mencapai apa yang disebut dengan inquirykeberagamaan.

Namun nampaknya kita harus bisa memposisikan diri kita agar titik temu antara Kristen dan Islam dapat diwujudkan. Pilihan apakah kita harus memposisikan diri kita menjadi participant as observer, observer as

62

(21)

21 participantataukah complit participant dan complit observer harus dipertimbangkan secara mendalam agar sikap empati dan simpati di antara Islam dan Kristen, saling menerima dan menghargai antara sesama agama Abrahamic dapat diwujudkan untuk kedamaian dunia.

Penutup

Agama, bagaimanapun juga mempunyai bangunan normatif dan historis yang tidak akan penah terhindar dari nilai-nilai esoterik yang diyakini secara ruhaniah oleh para pemeluknya sebagai “kebenaran” yang paling shahih dan otentik yang dapat “menyelamatkan” dari “ketidakselamatan”. Namun demikian agamapun, tidak selamanya mengekpresikan artikulasi dan aktualisasi dirinya dalam koridor yang paralel dengan insting manusia pada umumnya untuk hidup damai dan tenang. ‘Keselamatan’ yang dikandung agama acapkali lebih berskala internal, bukan eksternal dengan umat agama lain. Dari sinilah praktik kekerasan antar umat beragama yang menjadi realitas sejarah paradoks dengan otentisitas masing-masing ajaran agama.

Belum lagi jika klaim kebenaran masing-masing agama yang dibungkus oleh vested interest dari masing-masing elit agama untuk menunjukkan bahwa hanya ajaran agamanyalah yang paling benar dan otentik sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan dan menilai agama lain tidak sesuai dengan “kehendak” Tuhan yang selanjutnya memunculkan apa yang dinamakan dengan klaim kebenaran dari masing-masing agama sebagaimana yang digambarkan diatas.

(22)

22

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azis Abdul Hussein Sachedina, The Islamic Roots of Democratic

Pluralism, (New York: Oxford Univercity Press, 2001)

Amin Abdullah, Pengantar dalam Ahmad Norma Permata, Metodologi Studi

Agama, (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2000)

---

Amin Abdullah, Dari Fundamentalism Ke Islamism : Asal Usul,

Perkembangan Dan Penyebarannya, h. 2 diunduh pada tanggal 20

Desember 2011.

Bassam Tibi, “Moralitas Internasional sebagai Landasan Lintas Budaya”, dalam M. Nasir Tamara dan Elza Pelda Taher (ed.), Agama dan Dialog Antar

Peradaban (Jakarta : Yayasan Paramadina, 1996)

BJ. Bolland, Intisari Iman Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1984)

Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Paramadina, 2001)

Daniel A. Madigan, Mutual Theological Hospitality: Doing Theology in the Presence of the Other dalam Waleede el-Anshary dan David K. Linnan,

Muslim and Christian Understanding Theory and Aplication of “A Common Word”, (New York: Palgrave Macmillan, 2010)

D. J. Sahas, John of Damaskus on Islam, (Leiden: 1972)

Hans Kung: Islam, Past, Present, and Future, (Oneworld Book Published by Oneworld Publications 2007)

Ibrahim Kalin, Islam Christianity, the Enlightenment: “A Common Word” and Muslim-Christian Relations, dalam Waleed El Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian Understanding Theory and Aplication of “A

Common Word” (New York: palgrave Macmillan, 2010),

Jon Hoover, A Common Word “More Positive and Open, Yet Mainstreaming and Orthodox, dalam Theological Review, XXX).

John L. Esposito, Masa Depan Islam Antara Tantangan Kemajemukan dan

Benturan Dengan Barat (Bandung; Mizan, 2010)

(23)

23

Mahmoud Musthafa Ayyoub, Mengurai Konflik Muslim Kristen dalam Perspektif

Islam, (Jogjakarta: Fajar Pustaka baru, 2003)

Niko Syukur Dister, Kristologi: Sebuah Sketsa (Jakarta: Kanisius, 1993)

Nurkholis Madjid, Islam doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan (Jakarta: Paramadina, 1995)

P. Wahyo, Pengajaran Gereja Katolik (Jakarta: Penerbit Obor, 1959)

Parliament of the World’s Religions, Declaration Toward a Global Ethic (Chicago : t.t.)

Prithjof Schoun, Mencari titik Temu Agama-agama, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996)

Sam Solomon dan Al Maqdisi, Truth About Common Word diunduh pada tanggal 24 Desember 2011

Seyyed Hossein Nashr, “A Common Word” Initiatove: Theoria and Praxis dalam Waleed el-Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian

Understanding Theory and Aplication of “A Common Word” (New York:

Palgrave Macmillan, 2010)

The Lutheran Word Federation, Dialogue and Beyond Christians and Muslims

Together on The Way (Switzerland: The Lutherand Word federation, 2003).

The Righ Reverend William O. Gregg, The Power of Finding Common Ground; “A Common Word” and the Invitation to Understanding, dalam Waleed el-Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian Understanding

Theory and Aplication of “A Common Word” (New York: Palgrave

Macmillan, 2010)

Waleed El Anshary dan David K. Linnan, Narrative Introduction, dalam Waleed El Anshary dan David K. Linnan, Muslim and Christian Understanding

Theory and Aplication of “A Common Word” (New York: palgrave

Macmillan, 2010)

Referensi

Dokumen terkait

Gejala yang paling dominan ialah mosaik kuning dan bergaris kuning yang diperoleh dari semua sampel bawang merah (Bandung, Bantul, Brebes, dan Cirebon), sedangkan jenis gejala

Tinggi tongkol produktif dihitung pada semua tanaman sampel dengan cara menghitung tinggi tongkol yang dari pangkal batang hingga tepat keluarnya tongkol buah menggunakan

Berbicara tentang pengaturan BMT dan lembaga keuangan syariah, kita masih dihadapkan pada berbagai kesulitan pengembangan hukum perdangan di Indonesia.Kesulitan

Bakteri membentuk agregat dalam usus dari kutu yang terin8eksi dan hasil ini di loak muntah darah tertelan* yang sekarang terin8eksi* ke situs gigitan hewan pengerat atau

Penambahan sari timun setara 15 ppm kalium selama masa aklimatisasi dapat menurunkan tingkat stres ditinjau dari kadar glukosa cairan tubuh dan tingkat konsumsi oksigen,

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel di atas dapat diketahui bahwa besarnya koefisien determinasi (R²) sebesar 0,199 yang berarti variabilitas variabel

Sengupta dan Singh (1994) pada percobaan larutan elektrolit KOH mendapatkan bahwa semakin luas permukaan anoda yang terkontak dengan larutan (anoda semakin dalam masuk kelarutan),

Data residu cemaran yang didapatkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai data dasar (base line), sehingga sangatlah perlu untuk dilakukan monitoring