BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Laba merupakan ukuran paling sederhana untuk menilai kinerja suatu perusahaan. Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba di masa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan aliran kasnya. Manajemen laba yang dilakukan perusahaan dapat dilakukan dengan memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi dan pemilihan metode akuntansi. SAK mengizinkan manajemen untuk melakukan judgement terhadap estimasi akuntansi, seperti estimasi piutang tak tertagih, masa manfaat aset tetap, dan nilai sisa dari aset tetap tersebut serta kurun waktu amortisasi aset tak berwujud. Sedangkan dalam Peraturan Perpajakan, estimasi piutang tak tertagih tidak diizinkan sebagai pengurang pendapatan dalam menghitung laba fiskal. Peraturan perpajakan juga sudah mengatur masa manfaat aset tetap dan aset tak berwujud serta tarif penyusutannya yang dibedakan berdasarkan pengelompokan aset tersebut.
Perusahaan di Indonesia dalam membuat laporan keuangan berpedoman pada PSAK dan Peraturan Perpajakan. Dalam menyiapkan laporan keuangan, manajemen membutuhkan penilaian dan perkiraan. Hal ini memberikan manajemen fleksibilitas dalam menyusun laporan keuangannya. Fleksibilitas dalam menyusun laporan keuangan diatur dalam Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 tentang penyajian laporan keuangan dengan pendekatan akrual (accrual basis).
disebabkan oleh kesalahan pengklasifikasian akrual total kedalam bentuk discretionary accrual dan non-discretionary accrual, sehingga penggunaan model akrual menjadi tidak tepat. Dechow (1995) menguji lima model akrual dan menemukan bukti bahwa tidak ada di antara kelima model tersebut yang benar-benar tepat untuk mendeteksi manajemen laba. Kesalahan dalam memprediksi ada tidaknya manajemen laba, menyebabkan kesalahan dalam menilai kualitas laba perusahaan sehingga menyebabkan bias dalam penilaian kinerja perusahaan.
Menurut IAI dalam PSAK No.46 diatur mengenai perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan dimana beban pajak tangguhan terdapat didalammnya. PSAK No. 46 terdapat beberapa pernyataan yang dapat memberikan kebebasan manajemen dalam menentukan pilihan kebijakan akuntansi dalam menentukan besaran pencadangan beban / penghasilan pajak tangguhan atas adanya perbedaan antara standar akuntansi dengan peraturan perpajakan. PSAK No.46 ini diterbitkan untuk memperbaiki kualitas pelaporan keuangan yang berkaitan dengan akuntansi pajak penghasilan. Penerapan PSAK No.46 bisa menimbulkan konsekuensi bagi reported net income perusahaan, dimana laporan keuangan suatu perusahaan akan disorot berbagai users terutama investor yang akan berinvestasi.
Lebih kecilnya laba akuntansi daripada laba fiskal mengakibatkan perusahaan dapat menunda pajak terutang tersebut pada periode mendatang. Namun, apabila laba fiskal tidak mungkin tersedia dalam jumlah memadai untuk dapat dikompensasi dengan saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi, atau bila dimungkinkan adanya realisasi manfaat pajak dimasa depan dengan probabilitas kurang dari 50%, maka aset pajak tangguhan tidak diakui dan perusahaan akan mencatat cadangan aset pajak tangguhan. Sedangkan, kewajiban pajak tangguhan terjadi bila laba akuntansi lebih besar dari laba fiskal akibat perbedaan temporer.
Manajemen laba adalah manipulasi data yang dilakukan oleh pihak manajemen untuk mencapai tujuan tertentu. Manipulasi tersebut dilakukan agar laba terlihat sebagaimana yang diharapkan. Selain itu, manipulasi juga dilakukan agar investor tetap tertarik dengan perusahaan tersebut. Sebenarnya perusahaan menghadapi suatu dorongan yang saling bertentangan pada saat melakukan manajemen laba. Pada satu sisi manajemen perusahaan ingin menampilkan kinerja keuangan yang baik dengan memaksimalkan laba yang dilaporkan kepada para pemegang saham dan pengguna eksternal lainnya. Namun demikian, disisi lain manajemen perusahaan juga menginginkan untuk meminimalkan laba kena pajak yang dilaporkan untuk keperluan pajak. Langkah yang kemudian diambil agar keduanya dapat dicapai adalah dengan memanipulasi laba menjadi lebih tinggi untuk pelaporan keuangan tetapi tidak untuk pelaporan pajaknya.
dan laba fiskal (book-tax differences) sebagai indikator manajemen laba (Mills dan Newberry, 2001; Phillips et al., 2003; Ratmono, 2004; Yuliati, 2004). Penelitian-penelitian tersebut didasari oleh literatur akuntansi keuangan yang menegaskan bahwa book-tax differences dapat memberikan informasi tentang laba berjalan (current earnings). Logika yang mendasarinya adalah sedikitnya kebebasan yang diperbolehkan dalam pengukurun laba fiskal, menyebabkan book-tax differences memberikan informasi tentang management discretion dan proses akrual. Mills dan Newberry (2001) dan Phillips et al. (2003) berpendapat bahwa para manajer mempunyai banyak kebebasan dalam pelaporan keuangan dibanding pelaporan pajak, dan dapat memanfaatkan kebebasannya tersebut untuk menaikkan laba akuntansi dengan suatu cara tertentu tanpa menaikkan laba fiskal. Yuliati (2004) menemukan bahwa kedua pengukur manajemen laba (akrual dan beban pajak tangguhan) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap probabilitas perusahaan melakukan manajemen laba untuk menghindari kerugian.
komponen-komponen perubahan dalam aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan untuk mendeteksi manajemen laba untuk menghindari laba menurun
Penelitian ini berdasarkan pada hasil penelitian Phillips et al. (2003) yang menemukan bahwa beban pajak tangguhan yang dihasilkan dari selisih antara aktiva pajak tangguhan dan utang pajak tangguhan, dapat digunakan untuk mendeteksi manajemen laba. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa komponen-komponen yang terkandung dalam perubahan atas aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan dapat digunakan untuk menganalisis ada tidaknya praktik manajemen laba untuk menghindari laba menurun. Kedua penelitian tersebut didasarkan pada peraturan pajak yang berlaku di Amerika Serikat. Peraturan pajak yang berbeda antar negara di dunia menimbulkan pertanyaan apakah penelitian ini dapat diterapkan di negara-negara lain di luar Amerika Serikat, khususnya Indonesia. Dengan demikian penelitian ini menguji kemampuan beban pajak tangguhan yang dihasilkan dari selisih antara aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan untuk mendeteksi manajemen laba dan menguji komponen-komponen yang terkandung dalam perubahan atas aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan yang digunakan untuk mengelola laba.
Penelitian Philip et al (2003) menemukan bahwa beban pajak tangguhan dapat digunakan untuk memprediksi praktik manajemen laba oleh manajemen dengan dua tujuan yaitu untuk menghindari laba dan menghindari kerugian.
untuk melakukan manajemen laba guna menghindari kerugian perusahaan. Hubungan antara beban pajak tangguhan dengan akrual sangat erat dalam mendeteksi perilaku dari earning management yaitu untuk memaksimumkan bonus yang mereka dapatkan dengan merekayasa angka akrual dan berusaha meminimalkan pajak yang harus mereka bayarkan, dengan cara meningkatkan akrual untuk menjadikan angka laba lebih rendah. Pengakuan pajak tangguhan dapat mengakibatkan bertambah atau berkurangnya laba bersih karena adanya pengakuan beban pajak tangguhan atau manfaat pajak tangguhan. Pengakuan aset dan pajak tangguhan didasarkan pada fakta adanya kemungkinan pembayaran pajak pada periode mendatang menjadi lebih besar atau lebih kecil. Hal ini menjadi celah bagi manajemen untuk memanipulasi jumlah dari laba bersihnya sehingga bisa memperkecil jumlah pajak yang harus dibayar.
juga ditemukan selisih lebih besar menurut fiskal daripada menurut Laporan Keuangan Perusahaan sebesar Rp 48.766.124.690,-. Hal ini menunjukkan bahwa pajak tangguhan dijadikan celah oleh manajemen untuk mempengaruhi besarnya pajak penghasilan yang seharusnya dibayarkan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suranggane (2007) yaitu yang menganalisis aktiva pajak tangguhan dan akrual sebagai prediktor manajemen laba: kajian empiris pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ, diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa variabel akrual berpengaruh signifikan pada terjadinya manajemen laba dengan tingkat signifikansi 5%, sedangkan cadangan aktiva pajak tangguhan tidak berpengaruh.
Dari uraian diatas dan banyaknya perbedaan hasil penelitian dari penelitian terdahulu, saya tertarik untuk menguji kembali penelitian yang telah ada. Adapun perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya yaitu untuk melihat pengaruh pengaruh terhadap manajemen laba dalam suatu perusahaan, penulis menggunakan variabel deferred tax liabilities, variabel deferred tax asset, dan variabel akrual. Tahun yang digunakan pada penelitian sebelumnya yaitu tahun 2008 sampai tahun 2010. Pada penelitian ini tahun yang digunakan adalah tahun 2013 sampai tahun 2014.
Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu:
2. Penelitian ini memasukkan deferred tax liabilities sebagai variabel independen. Variabel deferred tax asset dan akrual sebelumnya pernah diteliti oleh Suranggane (2007).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang manajemen laba suatu perusahaan dengan judul: “Pengaruh
Deferred Tax Liabilities, Deferred Tax Asset dan Akrual terhadap Manajemen
laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka masalah yang akan dikemukakan adalah:
1. Apakah ada pengaruh antara Deferred Tax Liabilities terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? 2. Apakah ada pengaruh antara Deferred Tax Asset terhadap Manajemen Laba
pada Perusahaan Manufaktur yang terdaaftar di Bursa Efek Indonesia? 3. Apakah ada pengaruh antara Akrual terhadap Manajemen Laba pada
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan & Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penelitian ini memiliki tujuan untuk: 1. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Deferred Tax Liabilities
terhadap Manajemen Laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Deferred Tax Asset terhadap Manajemen Laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Akrual terhadap
Manajemen Laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
4. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh Deferred Tax Liabilities, Deferred Tax Asset dan Akrual secara simultan terhadap Manajemen Laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
2. Bagi Kalangan Akademik
Dapat menjadi referensi dan sumbangan konseptual sebagai bahan pembelajaran dan menambah wawasan pengetahuan di bidang akuntansi perpajakan.
3. Bagi Manajemen
Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan kepada manajemen dalam meningkatkan persepsi positif para pengguna laporan keuangan terhadap kualitas laba akuntansi yang dilaporkan melalui pengelolaan perbedaan temporer.
4. Bagi Investor