• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENELITIAN KOLEKTIF DOSEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENELITIAN KOLEKTIF DOSEN"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

Komunitas Hijabers Kelas Menengah Perkotaan, Islam Populer Dan Budaya Konsumerisme Terhadap Trend Muslim Fashion

PENELITIAN KOLEKTIF DOSEN

Ketua:

Dr. Dwi Setianingsih, M.PdI NIP. 197212221999032004

Anggota:

Mohammad Thohir, M. Pd I NIP. 197905172009011007

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN AMPEL SURABAYA PERIODE 2021

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan hijab di Indonesia dalam beberapa dekade dapat dibilang cukup lambat. Dimulai pada tahun 1980-an, penggunaan hijab oleh wanita Muslimah masih sangat jarang. Penggunaan hijab pada masa itu masih dianggap sebagai sebuah kekunoan dan kefanatikan dalam beragama. Bahkan sempat terjadi pelarangan penggunaan hijab bagi para peserta didik di sekolah-sekolah umum pada masa itu.

Pada tahun 90-an secara perlahan hijab mulai mendapatkan tempat di dunia fashion. Saat itu juga mulai banyak pelaku fashoin yang memproduksi dan

meluncurkan brand-brand pakaian khusus kaum Muslimah. Kemudian pada dekade 2000-an hingga sekarang. Perkembangan hijab semakin pesat, baik dari segi penggunaan maupun kreasi fashion dari hijab itu sendiri. Saat ini hampir di setiap tempat kita temui wanita yang menggunakan hijab. Pada saat yang sama globalisasi tengah melanda dunia. Dampak yang ditimbulkan dari globalisasi ini sangat kuat meng-influence negara-negara di dunia. Salah satu dampak dari globalisasi adalah lahirnya sebuah budaya populer atau budaya pop (pop culture).

Pada 27 November 2010, bertempat di Jakarta, 30 orang Muslimah yang berasal dari latar belakang dan profesi yang berbeda berkumpul, dan berbekal dari visi yang sama mereka membentuk sebuah komunitas wanita muslimah yang bernama Hijabers Community (Community, 2012). Komunitas ini bertujuan untuk mengakomodasi kegiatan-kegiatan seputar muslimah dan hijabnya, mulai dari kajian-kajian seputar Islam hingga fashion.

(3)

2

Pola keberagamaan sebagai salah satu wujud refleksi atas pemahaman dan pemaknaan teologi yang dialami oleh kaum uban middle class muslim (Muslim Kelas Menengah perkotaan adalah sesuatu yang berkembang secara terus menerus.

Modernitas dan budaya yang selalu mengiringi kehidupan mereka membuat suatu harapan mereka menjadi tenggelam dalam ketiadaan identitas. Pola penampakan spiritualitas melalui tanda, gaya hiidup adalah suatu keharusan, mengingat mengingat mereka merupakan masyarakat kota dengan berbagai macam ciri modern.

Spiritualitas yang dulu dianggap sebagai sebagai pola prifat yang seharusnya tidak perlu dipertontonkan, dalam masyarakat masyarakat modern yang memilili pola konsumerisme yang juga dihegemoni oleh dunia kapitalis berubah bentuk menjadi pola gaya hidup spiritualitas dalam kehidupan sosial. Sehingga tanpa disadari pula semua itu menjadi lifestyle yang mencerminkan pola tindakan serta membedakan antara satu orang dengan yang lainnya.

Pada sisi lain, terbukanya ruang publik berkontribusi melahirkan berbagai industri bisnis modern yang semakin mempercepat tumbuhnya Islam popular.

Industri bisnis ini mencakup di banyak bidang, baik buku, musik, film, hingga fashion atau mode. Berbagai penerbit buku-buku Islami mulai bermunculan, baik

yang mengangkat tema ringan, praktis, hingga wacana keislaman yang mendalam.

Genre music dan film Islami juga menjadi trend di kalangan remaja muslim. Industri fashion atau mode di bidang busana muslim/mah tidak kalah menariknya. Industri ini

melibatkan modal besar bahkan melibatkan para artis papan atas sebagai sponsor.

Dari butik, hotel, hingga Mall menyelenggarakan pameran dan peragaan busana muslim/mah ini. Industri fashion dengan serta merta membentuk identitas kelas menengah kota.1 Simbolisasi dari Islam popular tidak berhenti di sini saja. Simbol

(4)

3

Islam popular mulai merambah ke produk kosmetik, perbankan syariah, produk makanan, produk kecantikan, hingga labelisasi sertifikat halal.2

Harus diakui, pada awal kelahirannya, budaya pop Islam tidak hanya dipengaruhi, bahkan menjadi bagian dari ideologi modernisme dan produk sampingannya. Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan era Islam Jawa dengan budaya Hindu-Budahnya. Dalam konteks modern, era liberalisasi ekonomi dan pasar bebas melahirkan perjanjian antar bangsa dengan AFTA dan NAFTA. Kapitalisme global, menurut Baudrillard, mengubah seluruh aspek social menjadi komoditas seperti hiburan (music dan film), olah raga, pendidikan, informasi, penampilan tubuh, pikiran, hingga kekuasaan demi kelangsungan modal para kapitalis.3 Dengan menguasai alat produksi, para pemilik kapital tidak hanya memproduksi komoditas.

Mereka juga merekayasa dengan merancang dan mengeksploitasi para konsumen melalui identitas diri atas nama life style atau gaya hidup.4

B. Rumusan Masalah

Dari deskripsi di atas dapat dirumuskan beberapa masalah dalam penelitian ini yaitu;

1. Bagaimanakah perkembangan trend muslim fashion di era millenial ?

2. Bagaimanakah komunitas hijabers kelas menengah perkotaa mengkonstruksi budaya konsumerisme terhadap trend muslim fashion yang berkembang ?

3. Bagaimanakah interkorelasi antara perkembangan Islam popular dengan budaya konsumerisme komunitas hijabers kelas menengah perkotaan ?

(5)

4

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan atas rumusan masalah di atas, penelitian ini secara akademis bertujuan untuk;

1. Untuk mengetahui perkembangan trend muslim fashion di era millenial.

2. Untuk mengetahui komunitas hijabers kelas menengah perkotaan dalam mengkonstruksi budaya konsumerisme terhadap trend muslim fashion yang berkembang

3. Untuk mengetahui interkorelasi antara perkembangan Islam populer dengan budaya konsumerisme komunitas hijabers kelas menengah perkotaan.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara akademis maupun secara praktis dalam tataran realitas sosial. Adapun manfaat tersebut adalah ;

1. Secara akademis hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi bagi perkembangan Islam Populer Indonesia di era millenial.

2. Secara praktis hasil penelitian ini bisa dijadikan pijakan dalam

mengembangkan model-model dakwah islami, pengembangan jaringan usaha dunia muslim, atau pun pembentukan social market bagi komunitas-

komunitas Islam lainnya.

E. Metode Penelitian

Pendekatan penelitian dan lokus penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian fenemenologi dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan kualitatif merupakan salah satu

(6)

5

pendekatan yang mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Pendekatan ini berupaya mengetahui dan mendeskripsikan tentang fakta-fakta yang muncul di lapangan. Dalam hal ini terkait dengan fenomena komunitas hijabers kelas menengah perkotaan yang semakin menjamur di berbagai daerah.

Lokus dari penelitian ini akan dilakukan pada komunitas hijabers di 3 kota Jawa Timut, yaitu Surabaya, Sidoarjo, Malang. Pemilihan terhadap 3 kota tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa kota tersebut merupakan kota yang menjadi trend muslim fashion yang tinggi di daerah Jawa Timur. Penelitian ini akan menggunakan purposive sampling dengan meneliti 3 komunitas hijabers yang berada di wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Malang.

Tehnik pengumpulan Data

Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tiga tehnik yaitu,

Pertama, Wawancara mendalam (indept interview), yaitu melakukan

wawancara mendalam kepada anggota komunitas hijabers. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tiga cara yaitu wawancara terstruktur, waancara semi terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

Wawancara terstruktur adalah wawancara yang dilakukan sesuai dengan pedoman penelitian, apabila muncul kejadian di luar pedoman tersebut maka hal itu tidak dihiraukan. Wawancara semi terstruktur adalah wawancara yang dilakukan dengan mengembangkan instrumen penelitian. Wawancara ini sudah

(7)

6

termasuk dalam kategori wawancara mendalam yang pelaksanaanya lebih bebas dan terbuka dibandingkan wawancara terstruktur. Wawancara mendalam yang sebenarnya adalah jenis wawancara yang ketiga. Oleh karena itu, wawancara mendalam sering disebut juga dengan wawancara tidak terstruktur yang menerapkan metode interview secara lebih mendalam, luas, dan terbuka dibandingkan wawancara terstruktur.

Kedua, observasi partisipasif, yaitu observasi yang dilakukan dengan

adanya keterlibatan langsung antara peneliti dan komunitas hijabers. Observasi adalah pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang dilihat secara langsung di lapangan. Observasi juga berarti pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki pada objek penelitian. Teknik ini terdiri dari tiga jenis yaitu observasi peran serta, (participant observation) observasi terus terang dan tersamar (ovent observation and covert observation), dan pengamatan tak terstruktur

(unstructured observation). Dalam penelitian ini peneliti hanya akan menggunakan pengamatan berperan serta dengan alasan bahwa jurang sekali peneliti dapat mengamati subjek penelitian tanpa terlibat dalam kegiatan yang menjadi sasaran penelitian.

Ketiga, dokumentasi, yaitu tehnik yang pengumpulam data penelitian

dari hasil dokumentasi program kegiatan yang dilakukan oleh komunitas hijabers dan segala aktivitas yang berhubungan dengan penelitian ini.

Dokumentasi ini dapat diperoleh melalui foto-foto kegiatan, dokumentasi kegiatan komunitas hijabers, dan lain sebagainya.

(8)

7

Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Langkah-langkah yang diambil peneliti dalam analisis data adalah sebagai berikut;

Reduksi data, berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian, data yang direduksi akan memberikan gambaran yang jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.

Penyajian Data, setelah direduksi, maka langkah selanjutnya adalah men- display data. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan mudah dipahami. Bentuk yang paling sering dari model data kualitatif selama ini adalah teks naratif.

Penarikan kesimpulan, merupakan kegiatan penggambaran yang utuh dari obyek yang utuh untuk konfigurasi yang utuh dari obyek penelitian. Proses pengambilan kesimpulan ini merupakan proses pengambilan inti dari penelitian yang kemudian disajikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat.

(9)

8

(10)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI

A. Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian tentang komunitas hijabers sebenarnya telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, mengingat fenomena komunitas hijabers ini merupakan fenomena yang selalu up to date dan menarik untuk dikaji di era millenial ini dalam berbagai prespektif. Adapun penelitian-penelitian itu diantaranya sebagai berikut;

Penelitian Khairun Nisa dan Rudianto (2017), Trend Fashion Hijab Terhadap Konsep Diri Communitas Hijabers Medan. Berdasarkan hasil penelitian

diperoleh hasil bahwa hijab tidak hanya menjadi kewajiban bagi wanita muslim akan tetapi hijab juga menjadi trend yang digemari oleh para wanita muslim dan mampu memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai seperti apa konsep wanita muslim yang sesuai dengan ajaran dan kaidah agama Islam.

Penelitian Asriani Sagianto (2017), Tranformasi Nilai Busana Muslim oleh Komunitas Fatimah Hijabers Tanggerang dalam Pengungkapan Identitas Diri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa para hijabers yang tergabung dalam komunitas Fatima Hijabers Tangerang memiliki gaya berbusana tersendiri karena lebih modern itu jauh dari jilbab kuno dan bahkan lebih bergaya. Mereka juga mengindikasikan bahwa gaya hidup mereka masuk dalam kategori tengah dan atas ditandai oleh budaya nongkrong di tempat-tempat yang dianggap gaul dan menghelat aktivitas mereka di Indonesia daerah prestise yang tinggi. Bentuk identitas di komunitas Fatima Hijaber Tangerang sebagai komunitas eksklusif, komersial dan konsumen.

(11)

Penelitian Yunita Sari, dkk, (2012) dengan judul, Religiusitas Pada Hijabers Community Bandung penelitian ini menggambarkan religiusitas anggota

Hijabers Community Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 74,9% (48 orang) memiliki religiusitas yang tinggi dan 25,1 % (16 orang) memiliki religiusitas yang rendah. Dari kelima dimensi religiusitas diketahui bahwa dimensi intelektual merupakan dimensi yang kurang dibandingkan keempat dimensi lainnya. Hal ini berarti, anggota Hijabers Community Bandung masih perlu meningkatkan pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan beragama Islam melalui dalil-dalil yang kuat dari Al Qur’an dan Al Hadits dalam berperilaku. Selain itu, faktor norma dan tata nilai yang ada di komunitas juga memberi kontribusi pada perkembangan religiusitas Hijabers Community Bandung.

Penelitian Rofhani (2013), Pola Religiousitas Muslim Kelas Menengah di Perkotaan. Dalam penelitian ini menggambarkan pola keagamaan masyarakat kelas

menengah yang tinggal di kota, dimana modernitas telah muncul dengan bentuknya yang sangat beragam. Bagi mereka yang tinggal di kota dianggap sebagai ancaman kehidupan yang melemah moralitas. Hal ini dianggap akan menciptakan gerakan fundamental. Maka mereka menawarkan untuk mengakui gaya hidup modern dan Islami. Penelitian ini menjelaskan Pola kehidupan modern di kalangan Muslim kelas menengah perkotaan.

Penelitian Fakhrurroji (2015), Transformasi Konsep Diri Muslimah dalam Hijabers Community. Dengan menggunakan studi kasus, penelitian ini melihat

secara positif bahwa model-model baru hijab tidak hanya telah memberikan sejumlah alternatif gaya berbusana muslimah, tetapi juga telah mengubah cara pandang masyarakat tentang jilbab yang dalam skala lebih luas telah mentransformasi konsep

(12)

diri mereka sebagai muslimah modern. Sebagai salah satu komunitas yang bertujuan untuk mengangkat citra hijab secara sosial, Hijabers Community Bandung memiliki andil dalam mentransformasi konsep diri seorang muslimah. Hijab yang pada awalnya dipandang sebagai sesuatu yang menghalangi mereka untuk berpenampilan menarik telah mengalami perubahan signifikan.

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, kebanyakan penelitian lebih fokus pada protret citra diri dan religiousitas anggota komunitas hijabers yang lebih bersifat individu. Sedangkan penelitian komunitas hijabers yang bersifat sosiologis belum banyak dilakukan khususnya dalam perkembangan Islam Populer. Oleh karena ini penelitian ini akan mengisi kekosongan ranah akademik tersebut.

B. Islam Populer dan Kelas Menengah Perkotaan

Islam popular secara sederhana dapat dimaknai sebagai segala bentuk ekspresi keislaman di ruang publik secara luas dan bebas. Prasyarat lahirnya Islam popular ini dimulai dari terbukanya ruang public (public sphare) dalam mengekspresikan sikap keislaman setiap individu umat Islam. Dalam sejarahnya, terbukanya public sphare dapat dilihat di akhir periode Orde Baru (Orba) membuka kebijakan kehadiran Islam di ranah publik. Selama Orba, rezim Suharto membatasi sedemikian ketat terhadap aktivitas umat Islam, terlebih gerakan Islam politik. Sejak 1990-an, rezim Suharto mulai mengakomodasi aspirasi umat Islam yang ditandai dua hal, yakni (1) Lahirnya Ikatan Cendekiawan Islam Indonesia (ICMI) dan (2) Lahirnya Bank Muamalat pertama kali dalam sejarah Indonesia modern. 5 Terbukanya public sphare yang semakin luas terjadi sejak akhir kekuasaan Suharto hingga memasuki era reformasi.

(13)

Di satu sisi, gairah spiritualitas Islam menjadi trend baru di kalangan kelas menengah muslim perkotaan. Fenomena ini, oleh Howell disebutnya sebagai urban sufisme.1 Howell mencatat tumbuh suburnya berbagai institusi urban sufisme, baik dari latar belakang ortodoksi sufi maupun dari neo-sufisme atau neo-modernis.

Tarekat Qodiriyah-Naqsyabandiyah (TKN) yang berafiliasi kepada Abah Anom, Suryalaya sebagai salah satu institusi ortodoksi sufi yang memiliki banyak pengikut di kalangan kelas menengah perkotaan. Demikian juga dengan Majelis Shalawat Nurul Mustafa, Habib Hasan bin Ja’farAssegaf dan Majelis Rasulullah pimpinan Habib Munzir Al-Musawwa.2 Di kalangan neo-sufisme banyak melahirkan pusat- pusat kajian urban sufisme. Menyebut di antaranya adalah Yayasan Paramadina yang digagas oleh Nurcholis Madjid, ICNIS, IIMAN, Tazkia, dan masih banyak lagi.3

Pada sisi lain, terbukanya ruang publik berkontribusi melahirkan berbagai industri bisnis modern yang semakin mempercepat tumbuhnya Islam popular.

Industri bisnis ini mencakup di banyak bidang, baik buku, musik, film, hingga fashion atau mode. Berbagai penerbit buku-buku Islami mulai bermunculan, baik

yang mengangkat tema ringan, praktis, hingga wacana keislaman yang mendalam.

Genre music dan film Islami juga menjadi trend di kalangan remaja muslim. Industri fashion atau mode di bidang busana muslim/mah tidak kalah menariknya. Industri ini

melibatkan modal besar bahkan melibatkan para artis papan atas sebagai sponsor.

Dari butik, hotel, hingga Mall menyelenggarakan pameran dan peragaan busana

1 Banyak karya Howell yang mengkaji tentang fenomena urban sufisme ini. Di antara beberapa karya penting Howell adalah: Julia Day Howell, Indonesia’s Urban Sufis: Challenging Stereotypes of Islamic Revival, ISIM Newsletter, 6/00, hal. 17. Lihat juga: Yulia Day Howell, Re-Packaging Sufism in Urban Indonesia, ISIM REVIEW, 19/Spring 2007, hal. 22-23.

2 Arif Zamhari & Julia Day Howell, Taking Sufism in the Streets: Majelis Zikir and Majelis Shalawat as New Venue for Popular Islamic Piety in Indonesia, Review of Indonesian and Malaysian Affairs, Vol. 46, No. 2, 2012, hal. 50-67.

3 Julia Day Howell, Sufism and the Indonesian Islamic Revival, The Journal of Asian Studies, Vol. 60, No. 3, Agustus 2001, hal. 720-721.

(14)

muslim/mah ini. Industri fashion dengan serta merta membentuk identitas kelas menengah kota.6 Simbolisasi dari Islam popular tidak berhenti di sini saja. Simbol Islam popular mulai merambah ke produk kosmetik, perbankan syariah, produk makanan, produk kecantikan, hingga labelisasi sertifikat halal.7

Karena itu, Islam popular dapat dijabarkan di sini sebagai bentuk komoditas barang maupun ritual yang diterima secara komersial dan komunal sebagai bagian pembentuk muslim kelas menengah. Gejala komodifikasi barang melalui symbol Islam sebenarnya dapat dilihat sejak adanya liberalisasi aturan yang memungkinkan Islam dapat diekspresikan dalam ruang-ruang publik. 8 Di era reformasi, lahirnya Islam popular ini ditandai dengan munculnya berbagai macam ekspresi budaya popular yang ditimbulkan dalam berbagai bentuk seperti fashion, musik, film, konsumsi, dan sebagainya. Merebaknya berbagai macam produk yang sesuai dengan nafas Islam tidak terlepas diterimanya Islam tidak hanya sebagai ajaran teologis, namun sudah menjadi panduan nilai, norma, maupun perilaku. 9 Berkembangnya Islam sebagai agama sipil (civil religion) karena eksistensinya sebagai agama mainstream bagi warga Negara Indonesia. Alih-alih Islam sebagai agama Negara (syariat Islam), tumbuhnya kelas menengah muslim moderat mendorong Islam sebagai panduan, norma, dan etika secara kultural.10

Kelompok kelas menengah atau yang disebut urban middle class Muslim, adalah kelompok yang cukup menarik dibahas terutama di perkotaan. Kota yang dikatakan sebagai pusat perubahan sosial merupakan tempat yang cukup strategis pertumbuhan dan perkembangan ekonomi atau pun budaya terutama pada kalangan kelas menengah. Posisinya pada tingkat tengah menjadikan kelas ini sebagai penyambung antara kelas bawah dan kelas atas, karenanya kelas menengah ini juga

(15)

bisa dikatakan sebagai kelas transisi. Posisi kelas menengah ini juga cukup strategis dijadikan sebagai sarana menyebarkan ide ataupun menunjukkan suatu isu-isu yang sedang berkembang. Pembahasan mengenai kelas menengah semakin menarik, karena tema ini diusung pada The Mark Plus Conference 2012 di Jakarta. Hermawan Kartajaya sebagai founder dan president Mark Plus Inc. menjelaskan bahwa kelas menengah diprediksi tahun 2012 akan mengalami kebangkitan yang cukup dahsyat, yang berimplikasi perubahan perilaku pasar. Data IMF memproyeksikan dengan percepatan pertumbuhan ekonomi kelas menengah Indonesia yang luar biasa, pada tahun 2012 GDP Indonesia akan melampaui GDP Belanda. Bangkitnya kelas menengah secara tidak langsung berbanding lurus dengan meningkatnya permintaan produk kategori gaya hidup (lifestyle), produk kecantikan, kesehatan dan juga tidak ketinggalan sektor wisata dan transportasi, yang ini juga akan berdampak pada aneka produk kelas premium, termasuk properti kelas atas. Fenomena ini pada akhirnya menumbuhkan tema baru pada strategi marketing 2010 dengan pendekatan segmentasi youth, women, neizen.11 Pertumbuhan ini otomatis akan berdampak pada daya beli yang semakin baik terutama pada sektor perdagangan terutama pada kualitas kelas premium, termasuk properti kelas atas.

Pembahasan mengenai kelompok menengah penting karena kelompok ini merupakan kelompok penghubung dan jembatan antara kelompok kelas atas dan kelompok kelas bawah, sehingga kelompok ini sangat fleksibel atau juga bisa dikategorikan sebagai kelompok pada posisi tengah. Berdasarkan tesis tersebut, kelompok ini menjadi sasaran dan kajian yang menarik, sebab suatu kultur atau budaya akan mudah terserap oleh kelompok ini yang kemudian mencerminkan sikap budaya. Pada perkembangan berikutnya kelompok ini dijadikan sebagai sasaran

(16)

pasar pada sebuah produk kelas semi premium atau bahkan produk premium.

Kuntowijoyo menyebutkan adanya dua kemungkinan sikap budaya yang muncul.

Pertama, budaya elite; pemilik tetap sebagai subyek budaya, tidak mengalami alienasi dan mengalami pencerdasan. Pemilik budaya elite identitasnya tidak tenggelam dalam budaya. Kedua, budaya massa; mengalami obyektifasi, alienasi dan pembodohan. Pemilik budaya ini tidak berperan apa-apa dalam pembentukan simbol budaya. 12 Untuk mengatasi budaya massa, pada kebanyakan kelompok kelas menengah ini menempuh cara dengan mengadopsi budaya elite dan menghindari masifikasi budaya terutama menyangkut perilaku simbolik dengan melakukan privatisasi dan spiritualitas. Pada aspek privatisasi ini kelompok middle class ini berusaha menampakkan hal yang berbeda, mereka menekankan kepemilikan pribadi yang khas dan tidak sama.

Proses perubahan yang telah dialami kelompok ini berkaitan erat dengan perkembangan rasionalitas manusia. Sedangkan bentuk rasionalitas manusia meliputi alat (mean) sebagai sasaran utama dan tujuan (end) yang meliputi aspek kultural.

Bisa dikatakan bahwa pada dasarnya manusia mampu hidup dengan pola pikir yang rasional sebagai alat dan budaya yang mendukung kehidupannya. Weber menegaskan orang rasional akan memilih alat paling benar untuk mencapai tujuannya. Lebih lanjut Weber memberikan pola tindakan manusia menjadi empat macam, dan pola tindakan yang dilakukan urban middle class Muslim pada tataran rasionalitas instrumental (instrumental rationality). Mereka tidak hanya menentukan tujuan yang ingin dicapai, tetapi secara rasional telah mampu menentukan alat (instrumen) yang digunakan mencapai tujuan tersebut. Tampilan fashion dengan berbagai macam pilihan, acara-acara bertajuk keagamaan atau juga perjalanan

(17)

bertema Islami yang diberi label umrah adalah sebagai instrumen yang digunakan urban middle class Muslim untuk mencapai tujuan menjadi Muslim modernis.

Dalam kondisi modernis yang didominasi wujud-wujud permukaan, spiritualitas menemukan tempat kontradiktif, yang cenderung digiring ke dalam ruang-ruang imanen yang di dalamnya ditampilkan wujud tanda-tanda (signs of spirituality) dan citraan (image of spirituality). Pada tingkat tertentu tidak lagi menggambarkan esensi spiritualitas, tetapi hanya menampilkan realitas tanda dan citra sendiri. Berbagai bentuk wacana spiritual, seperti kelas-kelas tasawuf atau sufi memperlihatkan kontradiksi kultural, yang di satu pihak menawarkan jalan pencerahan jiwa, namun di pihak lain dapat menggiring pada gaya hidup (life style).

Oleh karena itu, dalam era post-spiritualitas sebagaimana yang dialami kaum middle class ini mencoba memadukan antara kekuatan spirit tuhan (spirit of divinity) dan spirit konsumerisme (spirit of consumerism). Spirit ketuhanan adalah kekuatan pengendalian hasrat, perenungan, pencarian jalan kesucian, dan menjauhkan dunia materi, sedangkan spirit konsumerisme adalah kekuatan pembebasan libio dan pemujaan dunia materi.

Terlepas adanya penamaan simbiosis gaya hidup dalam wacana spiritualitas yang mendera kaum urban middle class Muslim, fenomena ini merupakan suatu kewajaran dalam kemodernan serta perkembangan rasionalitas manusia sebagaimana diungkap Weber dan Fromm, di mana manusia selalu ingin mengungkapkan identitas dirinya dengan jalan “memiliki” dan “menjadi”. Ego sebagai manusia yang ingin

“ada” adalah suatu fitrah yang telah diberikan Tuhan. Lebih jauh Griffin memberikan pemaknaan bahwa ada hubungan timbal balik antara spiritualitas masyarakat dengan spiritualitas anggota-anggotanya. Di satu sisi, adat kebiasaan dan hukum-hukum

(18)

suatu masyarakat mencerminkan spiritualitas anggota-anggotanya. Sementara di sisi lain spiritualitas anggota-anggota masyarakatnya dibangun dan dibentuk oleh sifat- sifat (nature) masyarakat.

C. Trend Fashion Muslimah: Komunitas Hijaber dan Budaya Konsumsi Dalam kehidupan sehari-hari kata fashion lebih sering diartikan sebagai dandanan atau gaya dan busana, ada juga orang yang mengartikan fashion sebagai pakaian atau memakai pakaian (Barnard, 2011: 13). Fashion juga menjadi simbol kelas dan status sosial pemakainya, ia juga menjadi representasi sosial budaya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal representasi sosial budaya, fashion kadang juga dikaitkan dengan simbol-simbol agama tertentu. Misalnya pemakaian kerudung/jilbab yang diidentikan dengan Islam, aksesoris- aksesoris berupa kalung berbentuk salib yang diidentikan dengan agama Kristen, dan masih banyak lagi.

Malcolm Barnard dalam bukunya Fashion as Communication mengidentifikasi busana baku dengan antifashion, sedangkan busana modis dengan fashion (Barnard, 2011: 20). Apabila fashion dan antifashion dikaitkan dengan jilbab, maka jilbab sebagai busana sekarang ini bisa dikategorikan sebagai busana fashion. Jilbab sebagai busana yang antifashion sekarang ini sudah tidak ada lagi, karena sekarang telah banyak model-model jilbab yang dibuat mengikuti tren fashion yang sedang berkembang. Yang ada adalah jilbab yang fashionable dan jilbab yang tidak fashionable.

Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim dengan berbagai macam model dan bentuknya adalah upaya mereka untuk membentuk identitas individu mereka.

(19)

Tubuh kita memiliki peran penting dalam merepresentasikan identitas kita.

Pengertian tentang siapa kita, dan hubungan kita dengan individu, personal, dan masyarakat di mana kita hidup selalu berada dalam perwujudan tubuh. (Woodward, 2002: 1-2). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim adalah representasi identitas diri mereka yang bisa dilihat melalui perwujudan tubuh. Mereka memilih menunjukkan identitas diri melalui perwujudan tubuh karena cara inilah yang paling mudah, karena setiap orang yang melihat wanita berjilbab pasti akan tahu bahwa ia adalah wanita muslim.

Dalam usaha untuk membentuk identitas diri, ada proses yang dinamakan identifikasi diri. Identifikasi diri adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Setiap orang pada saat berinteraksi dengan orang lain melalui pakaiannya, dapat memilih ia ingin menjadi seperti siapa (Crane & Bovone, 2006:

319). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim bisa menunjukkan kecenderungan merujuk kepada siapa identifikasi diri mereka. Kebanyakan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan para public figure yang memakai jilbab, seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca.Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri, lingkungan merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar. Lingkungan tersebut bisa berupa lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, ataupun lingkungan kerja. Para wanita muslim ini menyatakan lingkungan di sekitar mereka memiliki andil yang cukup besar dalam proses pembentukan identitas diri sebagai wanita muslimah, dalam hal ini dengan cara memakai jilbab. Lingkungan yang memberi pengaruh besar umumnya adalah lingkungan teman sepergaulan dan teman sebaya, disusul lingkungan keluarga.

(20)

Selain itu ada juga pengaruh khusus yang didapat dari guru mengaji.

Selain tubuh kita sendiri, identitas diri seseorang juga dipengaruhi beberapa faktor eksternal, antara lain ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Woodward, 2002:

1-2). Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri yang dilakukan oleh para informan, ada faktor eksternal yang mempengaruhi mereka. Ada dua faktor eksternal yang membentuk identitas diri para informan sebagai wanita muslim, dua faktor tersebut yaitu faktor sosial dan budaya.

Pengaruh faktor sosial bisa bisa dilihat dari mereka yang tertarik memakai jilbab setelah melihat lingkungan sekitar mereka, yaitu teman sepergaulan dan keluarga yang memakai jilbab. Dari faktor sosial inilah akhirnya muncul keinginan dari mereka untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim dengan cara memakai jilbab. Sedangkan pengaruh faktor budaya bisa dilihat dari salah satu informan yang memakai jilbab sejak kecil, karena ia selalu bersekolah di sekolah Islam. Kebiasaannya memakai jilbab sejak kecil dan budaya di sekolahnya yang mengharuskan setiap siswi untuk memakai jilbab adalah hal yang membentuk identitas dirinya sebagai wanita muslim.

Sebagai bagian dari fashion, jilbab selain berfungsi sebagai penanda identitas diri sebagai seorang muslim, juga menjadi bagian dari ekspresi diri dalam berbusana. Ekspresi tersebut terlihat dari pilihan jenis jilbab yang dipakai oleh setiap wanita muslim. Jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren saat ini, sejatinya juga menggambarkan ekspresi diri para pemakainya. Warna, corak dan bentuk dari jilbab modifikasi yang dipakai oleh para wanita muslim tersebut, bisa menunjukkan perasaan atau isi hati si pemakai.

Fashion sebagai bentuk komunikasi nonverbal mengikuti mahzab

(21)

komunikasi yaitu mahzab “proses”. Yaitu fashion atau pakaian menjadi medium yang digunakan seseorang untuk “menyatakan” sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Pesan yang ingin disampaikan melalui jilbab inipun beragam, seperti jilbab dipakai sebagai batasan diri dalam bergaul. Seorang wanita muslim memakai jilbab untuk membatasi dirinya dalam pergaulan negatif dan menghindarkan diri dari pelecehan seksual.

Jilbab yang dipakai olehnya menjadi medium komunikasi nonverbal yang membawa pesan bagi orang lain bahwa dengan memakai jilbab, ia ingin memberi jarak/batasan bagi dirinya dalam bergaul. Dengan jilbab yang dipakainya tersebut, diharapkan orang lain juga paham dengan maksudnya untuk membatasi diri dalam pergaulan. Selain membatasi diri dalam pergaulan, jilbab dalam hal ini jilbab modifikasi, juga dipakai sebagai media untuk menunjukkan bahwa seorang wanita muslim bisa aktif dalam berbagai macam kegiatan tanpa terhalangi oleh jilbab yang dipakainya.

Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berfungsi sebagai penanda status sosial bagi pemakainya. Ada sebagian wanita muslim yang melakukan hal ini dengan cara memakai jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren, dengan tujuan agar dilihat memiliki status sosial yang lebih tinggi dari orang lain. Hal ini wajar saja, karena orang sering menggunakan pakaian atau fashion untuk menunjukkan nilai sosial atau status sosial, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status sosial orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut (Barnard, 2011: 86).

Jilbab juga bisa menjadi ekspresi diri dari pemakainya. Wanita muslim memiliki selera dan ketertarikan yang berbeda terhadap model dan bentuk jilbab. Kebanyakan jilbab yang disukai oleh para wanita muslim adalah jilbab yang dipopulerkan dan

(22)

dipakai oleh para public figure seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca. Sedangkan untuk jenisnya sendiri, mereka lebih banyak memakai jilbab segi empat, dan shawl.

Meskipun para wanita muslim ini ingin mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan mereka dengan memakai jenis dan bentuk jilbab yang dipakai berbeda, namun mereka juga tidak ingin merasa terasing dari pergaulan kelompok mereka. Maka ketika para wanita muslim di lingkungan mereka memakai jilbab modifikasi, mereka pun menjadi tertarik untuk juga memakai jilbab tersebut.

Orang rupanya perlu menjadi sosial dan individual di saat yang sama, dan fashion serta pakaian merupakan cara dari sejumlah hasrat atau tuntutan yang kompleks dinegosiasikan (Barnard, 2011: 17). Karena selain keinginan untuk menunjukkan keunikan individu, manusia juga memiliki keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini adalah kebutuhan manusia yang bisa diwujudkan oleh fashion (dalam hal ini jilbab).

Umumnya para wanita muslim lebih memilih memakai jilbab modern/modifikasi karena mereka tertarik dengan berbagai macam model jilbab sekarang. Selain itu ada diantara mereka yang memakai jilbab modern untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan yang lainnya memakai jilbab modern karena tidak ingin dianggap kuno. Disini bisa dilihat bahwa para wanita muslim tersebut tidak ingin menjadi terasing dari lingkungannya, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk memakai jilbab modifikasi karena lingkungan sekitar mereka juga memakai jilbab yang sama.

Media massa juga turut andil dalam mempopulerkan berbagai macam model jilbab, sehingga akhirnya banyak wanita yang tertarik untuk memakai jilbab sebagai

(23)

busana sehari-hari mereka. Tren fashion berjilbab sekarang yang banyak dipengaruhi oleh hijabers community sudah sangat bagus dan maju dibandingkan fashion berjilbab sebelum adanya hijabers community. Meskipun sudah bagus dan berkembang pesat, namun ada beberapa orang yang memakai jilbab hanya untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial saja. Selain itu tren fashion berjilbab ini seringkali disalah artikan oleh sebagian masyarakat, dengan seringnya dilihat wanita berjilbab namun memakai pakaian ketat. Tren fashion berjilbab ala hijabers ini sebenarnya juga lebih ditujukan untuk kalangan menengah ke atas, sebab tren fashion yang mereka bawa termasuk tren fashion yang mahal.

Media massa memiliki kemampuan untuk membentuk konstruksi sosial, dalam hal ini konstruksi sosial tentang wanita berjilbab. Selama ini konstruksi sosial yang ditampilkan oleh media massa tentang wanita berjilbab menimbulkan citra positif di masyarakat, karena oleh media massa wanita berjilbab sekarang ini tidak lagi dicitrakan sebagai wanita kuno dan ketinggalan jaman, melainkan sebagai wanita yang cantik dan modis. Selain itu berbagai pemberitaan tentang kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas wanita berjilbab juga menambah citra positif tentang wanita berjilbab. Hal-hal yang demikian akhirnya menumbuhkan ketertarikan bagi para wanita untuk memakai jilbab.

Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Konstruksi sosial media massa yang berlangsung satu arah ini membuat media cetak seperti majalah dan buku tidak

(24)

terlalu diminati oleh para wanita muslim dalam mencari informasi tentang tren fashion berjilbab. Hal ini karena para wanita muslim sebagai penerima pesan hanya bisa menerima pesan dari media tersebut, tanpa bisa memberi tanggapan langsung atas pesan yang ia terima.

Dalam perkembangan tren fashion berjilbab sekarang ini, internet menjadi media yang paling banyak digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi dan referensi tentang jilbab. Internet tampaknya telah menggeser peran media massa cetak dan media elektronik lainnya seperti televisi dan radio. Hal ini juga dilakukan oleh para wanita berjilbab yang lebih sering mengakses internet dibandingkan dengan membaca majalah, ataupun menonton televisi.

Mereka lebih suka mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab melalui internet karena ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh media massa lain seperti majalah dan televisi. Keunggulan utama dari internet adalah kemudahan akses, dimana hampir semua orang yang memiliki komputer bisa masuk ke jaringan.

Dengan beberapa kali klik tombol mouse, kita akan masuk ke lautan informasi dan hiburan yang ada di seluruh dunia. (Vivian, 2008: 262). Terlebih lagi sekarang ini koneksi internet tidak hanya tersedia melalui jaringan kabel yang hanya bisa diakses melalui komputer saja. Jaringan internet nirkabel pun sekarang telah bisa dinikmati melalui perangkat laptop ataupun ponsel. Hal ini tentu saja menambah kemudahan akses internet untuk dipakai dimana saja.

Internet juga memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh media massa lainnya, yaitu bersifat interaktif. Interaktif disini memiliki arti bahwa internet punya kapasitas untuk memampukan orang berkomunikasi, bukan sekadar menerima pesan belaka, dan mereka bisa melakukannya secara real time. (Vivian, 2008: 263).

(25)

Meskipun media elektronik seperti televisi dan radio sekarang ini juga bisa bersifat interaktif, namun interaksi antara media massa dan audience mereka tidak bisa berlangsung setiap waktu. Berbeda dengan internet dimana penerima pesan/audience bisa memberi tanggapan sewaktu-waktu.

Dari berbagai macam situs internet yang ada dan menjadi referensi dalam mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab, situs berbagi video youtube adalah situs yang paling sering diakses oleh para wanita berjilbab ini. Youtube menjadi pilihan karena ia memiliki kelebihan dibanding situs internet lain yang kebanyakan hanya berisi tulisan dan gambar. Youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Ditambah lagi konten audio visual yang ada di youtube bisa diunduh dan disimpan, untuk nantinya disaksikan pada lain waktu. Kelebihan inilah yang tidak dimiliki oleh televisi yang membuat youtube lebih unggul, meskipun keduanya sama-sama memiliki konten audio visual.

Media-media yang menjadi referensi para wanita berjilbab memberi pengaruh kepada jilbab yang mereka pakai, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda- beda. Mereka cenderung selektif dalam mengambil/menggunakan konten dari sebuah media. Seberapapun jernih dan jelasnya pesan, orang mendengar dan melihatnya secara egosentris. Fenomena ini dikenal sebagai selective perception (Vivian, 2008:

478). Selektifitas para wanita berjilbab dalam menggunakan konten media massa yang mereka pakai untuk mencari informasi tentang jilbab, terlihat dari sebagian dari mereka yang hanya mengambil tutorial berjilbab yang ada di media massa, namun tidak berusaha untuk menirunya secara persis dan sama.

Masyarakat saat ini telah mengalami perubahan, menuju budaya konsumsi

(26)

dan perilakukehidupan yang konsumtif. Masyarakat konsumeris adalah masyarakat yang menciptakan nilai-nilai yang berlimpah ruah melalui barang- barang konsumeris, serta menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan.13 Disadari atau tidak, dalam masyarakat Indonesia saat ini juga terdapat suatu kecenderungan untuk menjadi masyarakat konsumeris. Hal ini dapat dilihat dari gaya berpakaian, telepon genggam yang digunakan, serta mobil yang dikendarai, dianggap dapat merepresentasikan status sosial tertentu. Fenomena seperti ini, dengan mudah kita temukan di pusat-pusat perbelanjaan. Sebagian besar pengunjung berpakaian dan mengenakan aksesoris yang sesuai dengan fashion dan mode yang sedang berlaku saat ini. Hampir semua pengunjung memiliki telepon genggam serta kebanyakan dari pengunjung- pengunjung tersebut lebih memilih fast food (yang dianggap lebih bergengsi) daripada makanan tradisional khas Indonesia. Barang elektronik, fast food, pakaian bermerek, dan lain-lain, sepertinya kini menjadi suatu kebutuhan

primer dan tidak dapat ditinggalkan. Masyarakat tidak lagi membeli suatu barang berdasarkan skala prioritas kebutuhan dan kegunaan, tetapi lebih didasarkan pada gengsi, prestise, dan gaya. Baudrillard berpendapat bahwa yang dikonsumsi oleh masyarakat konsumeris (consumer society) bukanlah kegunaan dari suatu produk melainkan citra atau pesan yang disampaikan dari suatu produk.

Fenomena masyarakat konsumeris tersebut terjadi karena adanya perubahan mendasar berkaitan dengan cara-cara orang mengekspresikan diri dalam gaya hidupnya. Gaya hidup mulai menjadi perhatian penting untuk setiap individu. Gaya hidup selanjutnya merupakan cara-cara terpola dalam menginvestasikan aspek-aspek tertentu kehidupan sehari-hari dengan nilai sosial atau simbolik; tapi ini juga berarti bahwa gaya hidup adalah cara bermain dengan identitas.14 Gaya hidup adalah salah

(27)

satu bentuk budaya konsumeris, karena gaya hidup seseorang dapat dilihat dari apa- apa yang dikonsumsinya, baik konsumsi barang atau jasa. Gaya hidup juga dihubungkan dengan status kelas sosial ekonomi. Gaya hidup mencitrakan keberadaan seseorang pada suatu status sosial tertentu. Misalnya saja pilihan mobil, perhiasan, bacaan, rumah, makanan yang dikonsumsi, tempat hiburan, dan berbagai merek pakaian; semua itu sebenarnya hanyalah simbol dari status sosial tertentu.

D. Teori Masyarakat Konsumsi Jean Paul Baudrillard

Jean Paul Baudrillard adalah seorang filuf Perancis yang memiliki ketertarikan khusus terhadap budaya konsumsi pada masyarakat postmodern yang berkaitan dengan perkembangan media massa kontemporer. Masyarakat postmodern menurut Baudrillard adalah sebuah masyarakat penuh kelimpahruahan. Baudrillard menyatakan, masyarakat kontemporer adalah ...masyarakat yang lekat dengan praktek konsumsi dan kelimpahruahan objek, jasa, dan barang-barang material...(Baudrillard, 1970:3).

Masyarakat kini dihadapkan pada kenyataan mengenai objek komoditas yang berlimpah, teknologi yang sudah modern, serta “keramahan” iklan. Objek yang dikonsumsi masyarakat postmodern menurut Baudrillard bukan lagi objek yang murni memiliki nilai guna ataupun nilai tukar, melainkan objek yang memiliki nilai tanda. Apabila masyarakat modern berkutat seputar produksi dan konsumsi komoditas serta penyetabilan pasar, masyarakat postmodern cenderung berada dalam sistem simulakra yang penuh dengan permainan citra (tanda) dan pengefektifannya pada komoditas yang ada.
Gaya cerdas dari mall dalam menciptakan suasana layaknya musim semi yang selalu indah, pada akhirnya mampu mengaktifkan gairah

(28)

(hasrat) konsumsi para penikmat tanda. Semua stor menampilkan pertunjukan konsumsi yang dahsyat, yang semuanya dianggap “seni”,padahal yang bermain didalamnya adalah ambiguitas tanda pada objek (komoditas). Komoditas yang tidak memiliki tanda akan dilewati, jadi agar dapat dikonsumsi, komoditas harus terlepas dulu dari makn sebenarnya. Jika realitas yang ada pada komoditas pakaian misalnya, hanya disajikan sebagai penutup tubuh, maka kemungkinan akan lama terjual dan hanya akan menjadi onggokan sampah di pojok ruangan.

Maka dari itu, untuk menjual komoditas, produsen perlu menambahkan manipulasi tanda yang mampu menekan kesadaran konsumen, mempengaruhi logika kebutuhan konsumen. Itulah yang dikatakan Ritzer (dalam Baudrillard, 1970:xxxiv) sebagai “keindahan kemasan adalah kunci keberuntungan”. Fashion sejatinya menyajikan sebuah (manipulasi) atas tanda. Realitas yang disajikan fashion kontemporer tidak merujuk pada sesuatu yang nyata bahkan tidak menggiring kemanapun tetapi hanya menciptakan suatu tanda. Fashion juga tidak memiliki nilai moralitas dan cenderung menyebar laksana virus dan kanker, secara pelan dan tidak disadari telah menyebar dan mempengaruhi rasionalitas peminatnya. Penikmat fashion pada akhirnya hanya terus hanyut dalam rayuan tanda, kehilangan kehati-

hatiannya dalam mengkonsumsi komoditas, dan pada akhirnya yang dikonsumsi masyarakat postmodern adalah tanda itu sendiri, konsumsi itu sendiri. Mereka tidak mendapatkan apapun kecuali kesadaran palsu bahwa kebutuhan—yang sejatinya adalah hasrat—mereka akan segera terpuaskan jika mereka bisa mengkonsumsi komoditas (bertanda) tersebut. Menurut faktanya kini memang tindakan konsumsi manusia terhadap barang dan jasa bukan lagi berdasar atas pertimbangan rasionalitasnya, melainkan cenderung untuk mendapatkan citra tertentu dari tanda

(29)

yang melekat dalam barang dan jasa tersebut. Rasionalitas dan kehati-hatian masyarakat kontemporer dalam mengkonsumsi seakan telah runtuh demi mendapatkan ragam citra yang diinginkan.

Fenomena pencitraan pada masyarakat kontemporer sejalan dengan pemikiran Baudrillard (1970:87), yang menyatakan bahwa
“Logika sosial konsumsi tidak terfokus pada pemanfaatan nilai guna barang, melainkan pada produksi dan manipulasi sejumlah penanda sosial.” Pada akhirnya konsumsi yang notabene merupakan tindakan pemenuhan atas kebutuhan manusia menurut pandangan Baudrillard adalah bukan lagi suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat secara bebas dan rasional, melainkan sarat akan ‘paksaan’ yang seolah-olah menjadi suatu tugas yang tak terhindarkan. Dalam pandangan Baudrillard, kebutuhan dan konsumsi adalah perluasan dari kekuatan produktif yang diorganisir (Ritzer,2003:137). (1970:87), yang menyatakan bahwa
“Logika sosial konsumsi tidak terfokus pada pemanfaatan nilai guna barang, melainkan pada produksi dan manipulasi sejumlah penanda sosial.” Pada akhirnya konsumsi yang notabene merupakan tindakan pemenuhan atas kebutuhan manusia menurut pandangan Baudrillard adalah bukan lagi suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat secara bebas dan rasional, melainkan sarat akan ‘paksaan’ yang seolah-olah menjadi suatu tugas yang tak terhindarkan. Dalam pandangan Baudrillard, kebutuhan dan konsumsi adalah perluasan dari kekuatan produktif yang diorganisir (Ritzer,2003:137).

Baudrillard (1970:82) mengurutkan sejarah system industri konsumsi sebagai berikut :

1. Tatanan produksi menghasilkan mesin/kekuatan produktif, system teknik yang secara radikal berbeda dengan alat tradional.

(30)

2. Ia menghasilkan modal/kekuatan produktof yang masuk akal, system investasi dan sirkulasi rasioanl yang secara mendasar berbeda dengan

“kekayaan” dan model perdagangan sebelumnya.

3. Ia menghasilkan kekuatan tenaga kerja bergaji, kekuatan produktif yang abstrak, tersistematisir, yang secara mendasar berbeda dengan “pekerjaan”

tradisional.

4. Terakhir ia melahirkan kebutuhan-kebutuhan produkstif sebagai kumpulan yang dirasionalkan, disatukan, diawasi, melengkapi, tiga hal yang lain dalam proses pengawasan total dengan kekuatan prodktif dan dengan proses produksi.

Dalam penelitian ini, penulis menganalisis atas fashion hijab berlandaskan pada teori measyarakat konsumsi yang disajikan Jean Baudrillard. Menurut peneliti teori ini lebih relevan untuk dijadikan acuan untuk menjabarkan kegiatan konsumsi fashion hijab yang seakan menjadi candu bagi muslimah saat ini.

(31)
(32)

BAB III

Pembahasan dan Analisis Data

A. Komunitas Hijaber sebagai simbol religiusitas dan simbol identitas

Mengkomunikasikan identitas diri menggunakan medium fashion adalah hal umum yang dilakukan oleh banyak orang. Salah satu pilihan fashion tersebut adalah jilbab. Penutup kepala ini telah berkembang menjadi satu identitas sosial bagi pemakainya. Jilbab sekarang ini memiliki banyak varian corak dan model. Tren fashion berjilbab di Indonesia mungkin telah dimulai sejak beberapa artis ibukota memilih untuk memakai jilbab sebagai pakaian sehari-hari mereka.

Ada beberapa artis populer yang dulunya tidak berjilbab sekarang memakai jilbab sebagai busana sehari-hari, mereka memakai jilbab sebagai bentuk penghayatan dan kesadaran mereka untuk memenuhi kewajiban agama untuk menutup aurat, mereka antara lain adalah: Nuri Maulida, Marshanda, Puput Melati, Rachel Maryam, Desi Ratnasari, Risty Tagor, Zaskia Sungkar.

(http://jogja.tribunnews.com/2012/07/20/7-artis-yang-kini-berjilbab).

Namun merebaknya penggunaan jilbab sebagai fashion di kalangan anak muda nampaknya lebih dipengaruhi oleh kemunculan sosok Dian Pelangi dan Hijabers Community. Dian Pelangi adalah desainer muda Indonesia, yang debutnya di dunia mode telah dimulai sejak umurnya 19 tahun pada gelaran Jakarta Fashion Week 2009. Pada ajang tahunan tersebut Dian Pelangi mampu mencuri perhatian dengan rancangan busana muslim modern yang ditampilkannya. Selain itu ia adalah pendiri Hijabers Community yaitu komunitas yang berisi anak-anak muda berjilbab yang tampil modis dan gaya yang diresmikan pada tanggal 27 November 2010 di

(33)

Jakarta. (http://www.tabloidbintang.com/hobi/56493-hijabers-community-bermula- dari- acara-buka-puasa-di-mal.html ) Hijabers Community sendiri mempunyai suatu misi untuk memperkenalkan jilbab/kerudung yang modis kepada anak-anak muda, dan ingin mengikis anggapan bahwa para pemakai jilbab adalah orang yang kuno.

Meningkatnya jumlah wanita muslimah yang memakai jilbab ini juga tidak lepas dari banyaknya event yang dilaksanakan oleh hijabers community untuk mengenalkan jilbab trendy kepada masyarakat. Salah satu event yang sering digelar oleh mereka adalah Hijab Class. Dalam acara Hijab Class ini para peserta diajarkan tentang bagaimana memakai jilbab yang modis dan trendi. Selain itu Hijabers Communnity juga memanfaatkan media jejaring sosial dalam setiap acara yang mereka buat, tercatat ada tiga media sosial yang digunakan Hijabers Community yaitu WebBlog, Facebook dan Twitter.

Media massa tersebut memberi ide dan gagasan pada wanita muslimah untuk memakai jilbab seperti yang dikenakan oleh publik figur yang sering muncul di media massa. Hal ini dimungkinkan karena media massa memiliki kekuatan untuk mengonstruksikan realitas. Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu.

Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198).

Banyaknya wanita muslimah yang memakai jilbab tidak lantas membuat mereka terbebas dari cibiran dan pandangan negatif dari masyarakat. Para wanita muslimah yang memakai jilbab trendi dan modis ala hijabers kadangkala dianggap hanya mengikuti tren semata, ada juga yang beranggapan bahwa jilbab yang mereka

(34)

pakai tidak sesuai syariah islam karena jilbab yang mereka pakai tidak memenuhi kaidah berjilbab yang benar. Pandangan-pandangan negatif tersebut bisa dilihat salah satunya dalam pemberitaan di media-media berbasis Islam seperti yang diberitakan oleh media online Dakwatuna berikut:

Ketika kita berbicara tentang jilbab, maka kita berbicara tentang pakaian takwa. Pakaian yang diturunkan untuk muslimah, untuk menutup auratnya dan jelas disebutkan di Al-Qur’an. Baru-baru ini, paradigma manusia tentang jilbab semakin jauh dari kata “syar’i”, bagaimana tidak? Iklan-iklan jilbab yang “mengaku menjual jilbab syar’i” semakin membuat kening ini berkerut? Apakah memang seperti itu jilbab yang diperintahkan oleh Allah, atau kita selama ini telah tertipu? Jilbab syar’i dan modis, begitu tagline yang selama ini digembar- gemborkan oleh kalangan hijabers. (http://www.dakwatuna.com/2013/05/13/33127/jilbab-syari-jilbab-paling- modis- sepanjang-zaman/#ixzz2ZYcppqlC)

Dalam kehidupan sehari-hari kata fashion lebih sering diartikan sebagai dandanan atau gaya dan busana, ada juga orang yang mengartikan fashion sebagai pakaian atau memakai pakaian (Barnard, 2011: 13). Fashion juga menjadi simbol kelas dan status sosial pemakainya, ia juga menjadi representasi sosial budaya yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Dalam hal representasi sosial budaya, fashion kadang juga dikaitkan dengan simbol-simbol agama tertentu. Misalnya pemakaian kerudung/jilbab yang diidentikan dengan Islam, aksesoris- aksesoris berupa kalung berbentuk salib yang diidentikan dengan agama Kristen, dan masih banyak lagi. Malcolm Barnard dalam bukunya Fashion as Communication mengidentifikasi busana baku dengan antifashion, sedangkan busana modis dengan fashion (Barnard, 2011: 20). Apabila fashion dan antifashion dikaitkan dengan

(35)

jilbab, maka jilbab sebagai busana sekarang ini bisa dikategorikan sebagai busana fashion. Jilbab sebagai busana yang antifashion sekarang ini sudah tidak ada lagi, karena sekarang telah banyak model-model jilbab yang dibuat mengikuti tren fashion yang sedang berkembang. Yang ada adalah jilbab yang fashionable dan jilbab yang tidak fashionable.

Perkembangan jilbab tentu saja tidak bisa dilepaskan dari kebudayaan di mana jilbab itu dipakai, di Indonesia sendiri jilbab telah mengalami banyak perkembangan dari segi bentuknya. Berdasarkan hal tersebut, maka bisa dirumuskan permasalahan “Bagaimana pengalaman dan pemaknaan wanita muslimah berjilbab dalam memakai jilbab ala hijabers”.

Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim dengan berbagai macam model dan bentuknya adalah upaya mereka untuk membentuk identitas individu mereka.

Tubuh kita memiliki peran penting dalam merepresentasikan identitas kita.

Pengertian tentang siapa kita, dan hubungan kita dengan individu, personal, dan masyarakat di mana kita hidup selalu berada dalam perwujudan tubuh. (Woodward, 2002: 1-2). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim adalah representasi identitas diri mereka yang bisa dilihat melalui perwujudan tubuh. Mereka memilih menunjukkan identitas diri melalui perwujudan tubuh karena cara inilah yang paling mudah, karena setiap orang yang melihat wanita berjilbab pasti akan tahu bahwa ia adalah wanita muslim. Dalam usaha untuk membentuk identitas diri, ada proses yang dinamakan identifikasi diri. Identifikasi diri adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Setiap orang pada saat berinteraksi dengan orang lain melalui pakaiannya, dapat memilih ia ingin menjadi seperti siapa (Crane & Bovone,

(36)

2006: 319). Jilbab yang dipakai oleh para wanita muslim bisa menunjukkan kecenderungan merujuk kepada siapa identifikasi diri mereka. Kebanyakan mereka mengidentifikasi diri mereka dengan para public figure yang memakai jilbab, seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca.

Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri, lingkungan merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar. Lingkungan tersebut bisa berupa lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, ataupun lingkungan kerja. Para wanita muslim ini menyatakan lingkungan di sekitar mereka memiliki andil yang cukup besar dalam proses pembentukan identitas diri sebagai wanita muslimah, dalam hal ini dengan cara memakai jilbab. Lingkungan yang memberi pengaruh besar umumnya adalah lingkungan teman sepergaulan dan teman sebaya, disusul lingkungan keluarga. Selain itu ada juga pengaruh khusus yang didapat dari guru mengaji.

Selain tubuh kita sendiri, identitas diri seseorang juga dipengaruhi beberapa faktor eksternal, antara lain ekonomi, sosial, budaya, dan politik (Woodward, 2002:

1-2). Dalam proses pembentukan identitas diri dan identifikasi diri yang dilakukan oleh para informan, ada faktor eksternal yang mempengaruhi mereka. Ada dua faktor eksternal yang membentuk identitas diri para informan sebagai wanita muslim, dua faktor tersebut yaitu faktor sosial dan budaya.

Pengaruh faktor sosial bisa bisa dilihat dari mereka yang tertarik memakai jilbab setelah melihat lingkungan sekitar mereka, yaitu teman sepergaulan dan keluarga yang memakai jilbab. Dari faktor sosial inilah akhirnya muncul keinginan dari mereka untuk menunjukkan identitas diri mereka sebagai seorang wanita muslim dengan cara memakai jilbab. Sedangkan pengaruh faktor budaya bisa dilihat dari

(37)

salah satu informan yang memakai jilbab sejak kecil, karena ia selalu bersekolah di sekolah Islam. Kebiasaannya memakai jilbab sejak kecil dan budaya di sekolahnya yang mengharuskan setiap siswi untuk memakai jilbab adalah hal yang membentuk identitas dirinya sebagai wanita muslim.

Sebagai bagian dari fashion, jilbab selain berfungsi sebagai penanda identitas diri sebagai seorang muslim, juga menjadi bagian dari ekspresi diri dalam berbusana. Ekspresi tersebut terlihat dari pilihan jenis jilbab yang dipakai oleh setiap wanita muslim. Jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren saat ini, sejatinya juga menggambarkan ekspresi diri para pemakainya. Warna, corak dan bentuk dari jilbab modifikasi yang dipakai oleh para wanita muslim tersebut, bisa menunjukkan perasaan atau isi hati si pemakai.

Fashion sebagai bentuk komunikasi nonverbal mengikuti mahzab komunikasi yaitu mahzab “proses”. Yaitu fashion atau pakaian menjadi medium yang digunakan seseorang untuk “menyatakan” sesuatu pada orang lain (Fiske dalam Barnard, 2011: 41). Pesan yang ingin disampaikan melalui jilbab inipun beragam, seperti jilbab dipakai sebagai batasan diri dalam bergaul. Seorang wanita muslim memakai jilbab untuk membatasi dirinya dalam pergaulan negatif dan menghindarkan diri dari pelecehan seksual.

Jilbab yang dipakai olehnya menjadi medium komunikasi nonverbal yang membawa pesan bagi orang lain bahwa dengan memakai jilbab, ia ingin memberi jarak/batasan bagi dirinya dalam bergaul. Dengan jilbab yang dipakainya tersebut, diharapkan orang lain juga paham dengan maksudnya untuk membatasi diri dalam pergaulan. Selain membatasi diri dalam pergaulan, jilbab dalam hal ini jilbab modifikasi, juga dipakai sebagai media untuk menunjukkan bahwa seorang wanita

(38)

muslim bisa aktif dalam berbagai macam kegiatan tanpa terhalangi oleh jilbab yang dipakainya.

Jilbab sebagai bagian dari fashion juga berfungsi sebagai penanda status sosial bagi pemakainya. Ada sebagian wanita muslim yang melakukan hal ini dengan cara memakai jilbab modifikasi yang sedang menjadi tren, dengan tujuan agar dilihat memiliki status sosial yang lebih tinggi dari orang lain. Hal ini wajar saja, karena orang sering menggunakan pakaian atau fashion untuk menunjukkan nilai sosial atau status sosial, dan orang kerap membuat penilaian terhadap nilai sosial atau status sosial orang lain berdasarkan apa yang dipakai orang tersebut (Barnard, 2011: 86).

Jilbab juga bisa menjadi ekspresi diri dari pemakainya. Wanita muslim memiliki selera dan ketertarikan yang berbeda terhadap model dan bentuk jilbab.

Kebanyakan jilbab yang disukai oleh para wanita muslim adalah jilbab yang dipopulerkan dan dipakai oleh para public figure seperti Jenahara Nasution, Dian Pelangi, dan Zaskia Adya Mecca. Sedangkan untuk jenisnya sendiri, mereka lebih banyak memakai jilbab segi empat, dan shawl.

Meskipun para wanita muslim ini ingin mengekspresikan diri dan menunjukkan keunikan mereka dengan memakai jenis dan bentuk jilbab yang

dipakai berbeda, namun mereka juga tidak ingin merasa terasing dari pergaulan kelompok mereka. Maka ketika para wanita muslim di lingkungan mereka memakai jilbab modifikasi, mereka pun menjadi tertarik untuk juga memakai jilbab tersebut. Orang rupanya perlu menjadi sosial dan individual di saat yang sama, dan fashion serta pakaian merupakan cara dari sejumlah hasrat atau tuntutan yang kompleks dinegosiasikan (Barnard, 2011: 17). Karena selain keinginan untuk menunjukkan keunikan individu, manusia juga memiliki keinginan untuk

(39)

menyesuaikan diri dengan lingkungan. Hal ini adalah kebutuhan manusia yang bisa diwujudkan oleh fashion (dalam hal ini jilbab).

Umumnya para wanita muslim lebih memilih memakai jilbab modern/modifikasi karena mereka tertarik dengan berbagai macam model jilbab sekarang. Selain itu ada diantara mereka yang memakai jilbab modern untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sedangkan yang lainnya memakai jilbab modern karena tidak ingin dianggap kuno. Disini bisa dilihat bahwa para wanita muslim tersebut tidak ingin menjadi terasing dari lingkungannya, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk memakai jilbab modifikasi karena lingkungan sekitar mereka juga memakai jilbab yang sama.

Media massa juga turut andil dalam mempopulerkan berbagai macam model jilbab, sehingga akhirnya banyak wanita yang tertarik untuk memakai jilbab sebagai busana sehari-hari mereka. Tren fashion berjilbab sekarang yang banyak dipengaruhi oleh hijabers community sudah sangat bagus dan maju dibandingkan fashion berjilbab sebelum adanya hijabers community. Meskipun sudah bagus dan berkembang pesat, namun ada beberapa orang yang memakai jilbab hanya untuk menonjolkan kekayaan dan status sosial saja. Selain itu tren fashion berjilbab ini seringkali disalah artikan oleh sebagian masyarakat, dengan seringnya dilihat wanita berjilbab namun memakai pakaian ketat. Tren fashion berjilbab ala hijabers ini sebenarnya juga lebih ditujukan untuk kalangan menengah ke atas, sebab tren fashion yang mereka bawa termasuk tren fashion yang mahal. Media massa memiliki kemampuan untuk membentuk konstruksi sosial, dalam hal ini konstruksi sosial tentang wanita berjilbab. Selama ini konstruksi sosial yang ditampilkan oleh media massa tentang wanita berjilbab menimbulkan citra positif di masyarakat, karena oleh

(40)

media massa wanita berjilbab sekarang ini tidak lagi dicitrakan sebagai wanita kuno dan ketinggalan jaman, melainkan sebagai wanita yang cantik dan modis. Selain itu berbagai pemberitaan tentang kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas wanita berjilbab juga menambah citra positif tentang wanita berjilbab. Hal-hal yang demikian akhirnya menumbuhkan ketertarikan bagi para wanita untuk memakai jilbab.

Pada umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu arah, di mana media menyodorkan informasi sementara konsumen media tidak memiliki pilihan lain selain mengonsumsi informasi itu. Model satu arah ini terutama terjadi pada media cetak. Sedangkan media elektronik khususnya radio bisa dilakukan dua arah (Bungin, 2008: 198). Konstruksi sosial media massa yang berlangsung satu arah ini membuat media cetak seperti majalah dan buku tidak terlalu diminati oleh para wanita muslim dalam mencari informasi tentang tren fashion berjilbab. Hal ini karena para wanita muslim sebagai penerima pesan hanya bisa menerima pesan dari media tersebut, tanpa bisa memberi tanggapan langsung atas pesan yang ia terima.

Dalam perkembangan tren fashion berjilbab sekarang ini, internet menjadi media yang paling banyak digunakan oleh para wanita berjilbab untuk mencari informasi dan referensi tentang jilbab. Internet tampaknya telah menggeser peran media massa cetak dan media elektronik lainnya seperti televisi dan radio. Hal ini juga dilakukan oleh para wanita berjilbab yang lebih sering mengakses internet dibandingkan dengan membaca majalah, ataupun menonton televisi.

Mereka lebih suka mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab melalui internet karena ia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh media massa lain

(41)

seperti majalah dan televisi. Keunggulan utama dari internet adalah kemudahan akses, dimana hampir semua orang yang memiliki komputer bisa masuk ke jaringan.

Dengan beberapa kali klik tombol mouse, kita akan masuk ke lautan informasi dan hiburan yang ada di seluruh dunia. (Vivian, 2008: 262). Terlebih lagi sekarang ini koneksi internet tidak hanya tersedia melalui jaringan kabel yang hanya bisa diakses melalui komputer saja. Jaringan internet nirkabel pun sekarang telah bisa dinikmati melalui perangkat laptop ataupun ponsel. Hal ini tentu saja menambah kemudahan akses internet untuk dipakai dimana saja.

Internet juga memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki oleh media massa lainnya, yaitu bersifat interaktif. Interaktif disini memiliki arti bahwa internet punya kapasitas untuk memampukan orang berkomunikasi, bukan sekadar menerima pesan belaka, dan mereka bisa melakukannya secara real time. (Vivian, 2008: 263).

Meskipun media elektronik seperti televisi dan radio sekarang ini juga bisa bersifat interaktif, namun interaksi antara media massa dan audience mereka tidak bisa berlangsung setiap waktu. Berbeda dengan internet dimana penerima pesan/audience bisa memberi tanggapan sewaktu-waktu.

Dari berbagai macam situs internet yang ada dan menjadi referensi dalam mengikuti perkembangan tren fashion berjilbab, situs berbagi video youtube adalah situs yang paling sering diakses oleh para wanita berjilbab ini. Youtube menjadi pilihan karena ia memiliki kelebihan dibanding situs internet lain yang kebanyakan hanya berisi tulisan dan gambar. Youtube menawarkan konten audio visual yang menarik sama seperti televisi, ditambah dengan segala kelebihan internet yang melekat padanya. Ditambah lagi konten audio visual yang ada di youtube bisa diunduh dan disimpan, untuk nantinya disaksikan pada lain waktu. Kelebihan inilah

(42)

yang tidak dimiliki oleh televisi yang membuat youtube lebih unggul, meskipun keduanya sama-sama memiliki konten audio visual.

Media-media yang menjadi referensi para wanita berjilbab memberi pengaruh kepada jilbab yang mereka pakai, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda- beda. Mereka cenderung selektif dalam mengambil/menggunakan konten dari sebuah media. Seberapapun jernih dan jelasnya pesan, orang mendengar dan melihatnya secara egosentris. Fenomena ini dikenal sebagai selective perception (Vivian, 2008:

478). Selektifitas para wanita berjilbab dalam menggunakan konten media massa yang mereka pakai untuk mencari informasi tentang jilbab, terlihat dari sebagian dari mereka yang hanya mengambil tutorial berjilbab yang ada di media massa, namun tidak berusaha untuk menirunya secara persis dan sama

B. Komunitas Hijabers: Sebuah “Wadah” Ekspresi Diri dan Pembentukan Social Market

Keberadaan Komunitas Hijaber —gaya mereka dalam berhijab dan semua aktifitas komunitas mereka—nyatanya kemudian cukup menarik perhatian muslimah lain yang ada di kota Malang. Di dunia maya mereka aktif di jejaring facebook, sedangkan di dunia nyata mereka sering mengadakan berbagai acara misalnya pengajian, hijab class, make up class, fashion show, seminar, dan kegiatan lainnya.

Akun facebook dan fan page mereka memiliki cukup banyak anggota dan penggemar. Gaya hijab dandandanan para anggota komunitas yang telah di upload keakun tersebut mampu menarik minat muslimah lain untuk ikut bergabung dalam komunitas.
Konsep hijab yang diusung fashion hijab adalah berhijab modis mengikut perkembangan fashion. Dengan demikian berarti berhijab tak lagi

Referensi

Dokumen terkait

Padatnya pemukiman penduduk di wilayah kelurahan Meteseh Kecamatam Tembalang, Kota Semarang tentunya juga mengakibatkan tingginya buangan limbah rumah tangga, buangan limbah

Masalah yang timbul saat ini adalah kepala perusahaan kesulitan dalam mengetahui sepatu apa saja yang paling banyak dipesan, sering terjadinya pemesanan/pencarian

biopsikososial harusnya digunakan dalam melakukan penanganan LBP kronis dan pemberian latihan pada pasien merupakan rekomendasi terbaik, akan tetapi pada prakteknya

Pembuatan briket arang ini dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain: kerapatan arang dapat ditingkatkan, bentuk dan ukuran arang dapat disesuaikan dengan

kesejahteraan rakyat yang diantaranya meliputi aspek ekonomi dan Pendidikan oleh pemerintah dewasa ini belum menunjukan hasil sesuai yang diharapkan rakyat Indonesia

a) Pengukuran tingkat ketrampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan mekanis dari suatu aktivitas. Contoh: dalam mempelajari performa atlet. b) Pengukuran

E (2014) melakukan penelitian pada tanah gambut Rawa Pening dengan menggunakan campuran gypsum sintetis dan garam dapur dengan campuran variatif dengan uji

Analisa Kualitas Effluent yaitu analisa pada hasil outlet dari rekator unit filter yang sudah dibuat dengan menggunakan parameter kekeruhan. Analisa ini bertujuan untuk