LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI
Disusun Oleh : Kelompok 57
Arif Rakhmanto (08 522 200)
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur praktikan panjatkan kehadirat Allah atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga praktikan dapat menyelesaikan Laporan Resmi Praktikum Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi ini dengan lancar.
Praktikan telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan laporan praktikum ini dengan sebaik mungkin, tetapi praktikan menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu praktikan mengharap kritik dan saran yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan laporan ini.
Terimakasih praktikan ucapkan kepada :
1. M. Ragil Suryoputro, S.T. selaku kalab. Ananlisis Perancangan Kerja dan Ergonomi.
2. Assisten pembimbing Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi atas segala bimbingan dan dukungan selama proses praktikum.
3. Rekan – rekan praktikan Laboratorium APK dan E sebagai teman dalam menempuh praktikum.
Harapan kami semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi secara khusus dan Jurusan Teknik Industri secara umum.
Yogyakarta, 10 Mei 2011
iii
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
Cover Antropometri Abstrak BAB I Pendahuluan ... 1
BAB II Landasan Teori ... 3
BAB III Metode Penelitian ... 6
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 8
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 18
Daftar Pustaka Lampiran Cover Micromotion Study Abstrak BAB I Pendahuluan ... 19
BAB II Landasan Teori ... 21
BAB III Metode Penelitian ... 25
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 28
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 34
Daftar Pustaka Lampiran Cover Biomekanika BAB I Pendahuluan ... 35
BAB II Landasan Teori ... 37
BAB III Metode Penelitian ... 41
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 44
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 49 Daftar Pustaka
Lampiran
iv
BAB I Pendahuluan ... 50
BAB II Landasan Teori ... 52
BAB III Metode Penelitian ... 56
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 59
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 70
Daftar Pustaka Lampiran Cover Fisiologi BAB I Pendahuluan ... 71
BAB II Landasan Teori ... 73
BAB III Metode Penelitian ... 76
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 79
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 93
Daftar Pustaka Lampiran Cover Work Sampling BAB I Pendahuluan ... 94
BAB II Landasan Teori ... 96
BAB III Metode Penelitian ... 99
BAB IV Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 102
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 110 Daftar Pustaka
Lampiran Kartu asistensi
LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI
(ANTROPOMETRI)
Disusun Oleh : Kelompok 57
Arif Rakhmanto (08 522 200)
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
ABSTRAK
PT. Eagle Eyes merupakan perusahaan multinasional asal Jepang yang memproduksi mouse. Perusahaan tersebut memiliki cabang di Indonesia. Namun customer di Indonesia mengeluh karena mouse tidak nyaman untuk digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh standar pembuatan mouse yang menggunakan dimensi orang luar negri. Untuk menyelesaikan masalah tersebut maka PT. Eagle Eyes bekerjasama dengan PT. Ergonomic Design Centre untuk melakukan penelitian dalam membuat mouse yang ergonomis bagi orang Indonesia. Dalam penelitian tersebut PT. Ergonomic Design Centre menggunakan ilmu antropometri untuk mendapatkan mouse yang ergonomis. Antropometri merupakan studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Dimensi tubuh manusia di Indonesia berbeda dengan dimensi tubuh orang barat karena faktor suku bangsa/ etnis yang berbeda. Disamping itu dimensi tubuh manusia juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan pekerjaan. Untuk melakukan penelitian maka digunakan beberapa data-data dimensi tubuh manusia. Data-data tersebut kemudian diolah menggunakan metode kecukupan data, keseragaman data dan persentil. Setelah dilakukan pengolahan data maka dapat diperoleh bahwa data-data yang diolah telah mencukupi dan berada dalam batas kontrol. Dan Precentil yang digunakan adalah 50 atau rata-rata agar produk mouse dapat merata digunakan oleh semua orang.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Antropometri merupakan bagian dari ilmu ergonomi yang berhubungan dengan dimensi tubuh manusia yang meliputi bentuk, ukuran dan kekuatan dan penerapannya untuk kebutuhan perancangan fasilitas aktivitas manusia. Data antropometri sangat diperlukan untuk perancangan peralatan dan lingkungan kerja. Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian ukuran alat dengan ukuran manusia. PT. Eagle Eyes merupakan perusahaan multinasional asal Jepang yang memproduksi mouse. Perusahaan tersebut memiliki cabang di Indonesia. Namun customer di Indonesia mengeluh karena mouse tidak nyaman untuk digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh standar pembuatan mouse yang menggunakan dimensi orang luar negri. Untuk menyelesaikan masalah tersebut maka PT. Eagle Eyes bekerjasama dengan PT. Ergonomic Design Centre untuk melakukan penelitian dalam membuat mouse yang ergonomis bagi orang Indonesia. Dalam penelitian tersebut PT. Ergonomic Design Centre menggunakan ilmu antropometri untuk mendapatkan mouse yang ergonomis. Dimensi tubuh manusia di Indonesia berbeda dengan dimensi tubuh orang barat karena faktor suku bangsa/ etnis yang berbeda. Disamping itu dimensi tubuh manusia juga dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin dan pekerjaan. Untuk melakukan penelitian maka digunakan beberapa data-data dimensi tubuh manusia.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah data yang diteliti telah cukup dan seragam sesuai dengan perhitungan kecukupan data, keseragaman data dan presentil?
2. Bagaimanakah analisis terhadap kecukupan data, keseragaman data dan presentil kasus diatas?
1.3 Batasan Masalah
Untuk mempercepat proses penelitian, mengurangi biaya penelitian dan memdapatkan penelitian yang akurat maka penelitian ini memiliki sekup bahasan dengan batasan sebagai berikut :
1. Perhitungan mengunakan 30 sampel data antropometri, 15 putri dan 15 putra dari bank data Antropometri Laboratorium APK dan E.
2. Dimensi yang digunakan Untuk mendesain sebuah mouse minimal 6 dimensi.
1.4 Objek Pengamatan
Obyek pengamatan dalam penelitian ini adalah 15 orang putra dan 15 putri yang kemudian akan diambil data dimensi tubuh mereka. Dimensi yang digunakan untuk mendesain mouse adalah data antropometri tangan, antara lain panjang tangan (Pt), panjang telapak tangan (Ptt), panjang jari telunjuk (Pjl), lebar jari telunjuk (Ljl), tebal jari telunjuk (Tjl), panjang jari tengah (Pjt).
1.5 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Mampu mengetahui interaksi antara manusia, mesin, peralatan, bahan, maupun lingkungan kerjanya.
2. Mampu memahami adanya sejumlah data antropometri dan menggunakannya untuk perancangan / pengaturan sistem kerja.
3. Membekali mahasiswa dengan konsep berpikir (prosedural) penganalisaan dan perancangan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Antropometri
Istilah anthropometry berasal dari kata “anthropos (man)” yang berarti manusia dan “metron (measure)” yang berarti ukuran (Bridger, 1995). Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Antropometri secara luas digunakan untuk pertimbangan ergonomis dalam suatu perancangan (desain) produk maupun sistem kerja yang akan memerlukan interaksi manusia. Aspek-aspek ergonomi dalam suatu proses rancang bangun fasilitas marupakan faktor yang penting dalam menunjang peningkatan pelayanan jasa produksi. Setiap desain produk, baik produk yang sederhana maupun produk yang sangat komplek, harus berpedoman kepada antropometri pemakainya. Menurut Sanders & Mc Cormick (1987); Pheasant (1988), dan Pulat (1992), antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai orang.
Ada 3 filosofi dasar untuk suatu desain yang digunakan oleh ahli-ahli ergonomi sebagai data antropometri yang diaplikasikan, yaitu:
a. Perancangan produk bagi individu dengan ukuran yang ekstrim.
Contoh: penetapan ukuran minimal dari lebar dan tinggi dari pintu darurat. b. Perancangan produk yang bisa dioperasikan di antara rentang ukuran tertentu.
Contoh: perancangan kursi mobil yang letaknya bisa digeser maju atau mundur, dan sudut sandarannyapun bisa dirubah-rubah.
c. Perancangan produk dengan ukuran rata-rata.
Contoh: desain fasilitas umum seperti toilet umum, kursi tunggu, dan lain- lain.
Untuk mendapatkan suatu perancangan yang optimum dari suatu ruang dan fasilitas akomodasi, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah faktor-faktor seperti panjang dari suatu dimensi tubuh baik dalam posisi statis maupun dinamis. Hal lain yang perlu diamati adalah seperti Berat dan pusat massa (centre of
gravity) dari suatu segmen/bagian tubuh, bentuk tubuh, jarak untuk pergerakan
Selain itu, harus didapatkan pula data-data yang sesuai dengan tubuh manusia. Pengukuran tersebut adalah relatif mudah untuk didapat jika diaplikasikan pada data perseorangan. Akan tetapi semakin banyak jumlah manusia yang diukur dimensi tubuhnya maka akan semakin kelihatan betapa besar variasinya antara satu tubuh dengan tubuh lainnya baik secara keseluruhan tubuh maupun persegmen-nya.
Data antropometri yang diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
1. Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dll). 2. Perancangan peralatan kerja (perkakas, mesin, dll).
3. Perancangan produk-produk konsumtif (pakaian, kursi, meja, dll). 4. Perancangan lingkungan kerja fisik.
Antropometri adalah pengetahuan yang menyangkut pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi tubuh. Antropometri dibagi atas dua bagian, yaitu: 1) Antropometri statis, dimana pengukuran dilakukan pada tubuh manusia yang
berada dalam posisi diam. Dimensi yang diukur pada Anthropometri statis diambil secara linier (lurus) dan dilakukan pada permukaan tubuh. Agar hasil pengukuran representatif, maka pengukuran harus dilakukan dengan metode tertentu terhadap berbagai individu, dan tubuh harus dalam keadaan diam. 2) Antropometri dinamis, dimana dimensi tubuh diukur dalam berbagai posisi
tubuh yang sedang bergerak, sehingga lebih kompleks dan lebih sulit diukur. Terdapat tiga kelas pengukuran dinamis, yaitu:
a) Pengukuran tingkat ketrampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan mekanis dari suatu aktivitas. Contoh: dalam mempelajari performa atlet.
b) Pengukuran jangkauan ruangan yang dibutuhkan saat kerja. Contoh: Jangkauan dari gerakan tangan dan kaki efektif saat bekerja yang dilakukan dengan berdiri atau duduk.
c) Pengukuran variabilitas kerja.
Contoh: Analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan dari seorang juru ketik atau operator komputer.
Terdapat berbagai macam faktor yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia, diantaranya:
a) Umur Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai kira-kira berumur 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Kemudian manusia akan berkurang ukuran tubuhnya saat manusia berumur 60 tahun.
b) Jenis Kelamin Pada umumnya pria memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada dan pinggul.
c) Suku Bangsa (Etnis) Variasi dimensi akan terjadi, karena pengaruh etnis. d) Pekerjaan Aktivitas kerja sehari-hari juga menyebabkan perbedaan ukuran
tubuh manusia.
Selain faktor-faktor di atas, masih ada beberapa kondisi tertentu (khusus) yang dapat mempengaruhi variabilitas ukuran dimensi tubuh manusia yang juga perlu mendapat perhatian, seperti:
a) Cacat tubuh, Data antropometri akan diperlukan untuk perancangan produk bagi orang- orang cacat.
b) Tebal/tipisnya pakaian yang harus dikenakan, Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variasi yang berbeda pula dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Artinya, dimensi orang pun akan berbeda dalam satu tempat dengan tempat yang lain.
c) Kehamilan (pregnancy), Kondisi semacam ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran dimensi tubuh (untuk perempuan) dan tentu saja memerlukan perhatian khusus terhadap produk-produk yang dirancang bagi segmentasi seperti itu.
BAB III
METODE PENGAMATAN
3.1 Flowchart
Menentukan kebutuhan perancangan dan kebutuhannya
(establish requirement)
Mendefinisikan dan mendeskripsikan populasi
pemakai
Pemilihan sampel yang akan diambil datanya
Penentuan kebutuhan data
Penentuan sumber data & pemilihan persentil yang akan
dipakai
Penyiapan alat ukur yang akan dipakai
Pengambilan data
Pengolahan data
Analisis hasil rancangan
Tahapan perancangan sistem kerja work space design dengan memperhatikan faktor antropometri secara umum adalah sebagai berikut (Roevuck, 1995):
1. Menentukan kebutuhan perancangan dan kebutuhannya (establish requirement) 2. Mendefinisikan dan mendeskripsikan populasi pemakai
3. Pemilihan sampel yang akan diambil datanya
4. Penentuan kebutuhan data (dimensi tubuh yang akan diambil)
5. Penentuan sumber data (dimensi tubuh yang akan diambil) dan pemilihan persentil yang akan dipakai
6. Penyiapan alat ukur yang akan dipakai 7. Pengambilan data
8. Pengolahan data - Uji kenormalan data - Uji keseragaman data - Uji kecukupan data - Perhitungan persentil data
9. Visualisasi rancangan dengan memperhatikan - Posisi tubuh secara normal
- Kelonggaran (pakaian dan ruang) - Variasi gerak
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Operator
Tabel 4.1 Data Operator
No Nama Pt Ptt Pjl Ljl Tjl Pjt
1 Herdi Juni Ansyah 18 10 5,8 2 1,3 7,3
2 Ikhsan Hikhmawan 19,5 10 7,3 2,2 1,8 8,8
3 Yohan Arya Prasetya 19,5 10,7 7,3 2,5 2,4 8,4
4 Dosi Sumardi 17,6 9,6 6,6 2,6 1,3 7,7
5 Ardi Wahyu Utama 18,2 10,5 7,1 2,8 2,4 8
6 Lesly Zakaria 20,5 11,7 8 2,4 1 9,1
7 Gilang Jesi Ananda 19,5 11,3 7,3 1,7 1,5 8,5 8 Fantomy Eka Agastara 19,1 11 7,1 1,18 1,55 7,6 9 Shofa Reza Chusnufam 20 11,7 9 1,9 1,6 8,7 10 Hendi Dwi Pramadhan 18,4 10,2 7,7 2,3 1,4 8,2 11 Rio Ade Rakhmanto 17,6 10,1 7,4 1,8 1,7 7,9 12 Valdy Galih Saputra 18,7 11,7 7,4 2,4 2,2 8,2 13 Abdul Hafit Satrianto 19,4 11,3 7,5 1,98 1,67 8,1 14 Aditya Murti Aji P 18,4 11 6,8 2,1 1,7 7,8 15 Dwi Eka Purnomo Sari 19,6 11,3 8 2 1,7 8,6 16 Annisa Amelia Hanifa 16,6 10 6,4 2 1,3 7,2 17 Frylie Frescia Falen 16,9 10 6,3 2,8 1,5 7 18 Yulia P Adinegara 17,3 10,2 6,1 2 1,4 7,8
19 Paramitha F 18,5 11 7,3 2,7 2,2 7,8
20 Aldiani Puspasari 17 7 8,5 1,4 1,4 9,5
21 Beatriz 15,7 8,3 8,3 2,4 1,6 9
22 Ferra Ani Farida 17,2 10,3 7,7 3 2,2 8
23 Ika Rachmawati 18,7 10,6 8 3 2,1 9,2 24 Luthfina Aryani 16 9 7 1,8 1 7,2 25 Indri Astuti 17 10 6,7 2 2 8,1 26 Roro Ismi M P 18,4 9,7 7 1,7 1,4 7,8 27 Anestya P 17 10 7 2,1 0,9 8 28 Kristina Damayanti 17 9,5 7 1,7 2 8 29 Yaumil Amalia 16 8,5 6,5 1,4 1,2 6,5 30 Maya Margareta 19 11 7 2,2 1,5 7,8
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Pengolahan Data Manual a. Uji Kecukupan Data
Panjang Tangan (Pt) [ √ ∑ ∑ ∑ ] [ √ ] 7,71
Panjang Telapak Tangan (Ptt)
[ √ ∑ ∑ ∑ ] [ √ ] 16,75
Panjang Jari Telunjuk (Pjl)
[ √ ∑ ∑ ∑ ] [ √ ] 15,10
Lebar Jari Telunjuk (Ljl) [ √ ∑ ∑ ∑ ] [ √ ] 73,14
Tebal Jari Telunjuk (Tjl)
[ √ ∑ ∑ ∑ ] [ √ ] 96,46
Panjang Jari Tengah (Pjt)
[ √ ∑ ∑ ∑ ] [ √ ] 10,90
b. Uji Keseragaman Data Panjang Tangan (Pt) [√∑ ] [√ ]
1.63 BKA = ̅+ K = 18.08 + 3 x (1.63) = 22.97 BKB = ̅– K = 18.08 - 3 x (1.63) = 13.19
Panjang Telapak Tangan (Ptt) [√∑ ] [√ ] 1.14 BKA = ̅+ K = 16.96 + 3 x (1.14) = 20.38 BKB = ̅– K = 16.96 - 3 x (1.14) = 13.54
Panjang Jari Telunjuk (Pjl) [√∑ ] [√ ] 0,51 BKA = ̅+ K = 13.28 + 3 x (0,51) = 14,81 BKB= ̅– K = 13.28 - 3 x (0,51) = 11,75
Lebar Jari Telunjuk (Ljl) [√∑ ] [√ ] 0,22 BKA= ̅+ K = 9.45 + 3 x (0,22) = 10,11 BKB= ̅– K = 9.45 - 3 x (0,22) = 8,79
Tebal Jari Telunjuk (Tjl) [√∑ ] [√ ] 0,17 BKA= ̅+ K = 17.02 + 3 x (0,17) = 17,53 BKA= ̅– K = 17.02 - 3 x (0,17) = 16,51
Panjang Jari Tengah (Pjt) [√∑ ] [√ ] 0,46 BKA= ̅+ K = 11.78 + 3 x (0,46) = 13,16 BKB= ̅– K = 11.78 - 3 x (0,46) = 10,4
c. Percentil
Panjang Tangan (Pt)
P5 = ̅-1,645 = 18.08 - 1,645 x (1,63) = 15.40
P50= ̅ = 18.08
P95= ̅+1,645 = 18.08 + 1,645 x (1,63) = 20.75 Panjang Telapak Tangan (Ptt)
P5 = ̅-1,645 = 10,24 - 1,645 x (1.14) = 8,37
P50= ̅ = 10,24
P95= ̅+1,645 = 10,24 + 1,645 x (1.14) = 12,11 Panjang Jari Telunjuk (Pjl)
P5 = ̅-1,645 = 7,24 - 1,645 x (0,51) = 6,40
P50= ̅ = 7,24
P95= ̅+1,645 = 7,24 + 1,645 x (0,51) = 8,08 Lebar Jari Telunjuk (Ljl)
P5 = ̅-1,645 = 2,14 - 1,645 x (0,22) = 1,78
P50= ̅ = 2,14
P95= ̅+1,645 = 2,14 + 1,645 x (0,22) = 2,49 Tebal Jari Telunjuk (Tjl)
P5 = ̅-1,645 = 1,63 - 1,645x (0,17) = 1,36
P50= ̅ = 1.63
P95= ̅+1,645 = 1,63 + 1,645 x (0,17) = 1,90 Panjang Jari Tengah (Pjt)
P5 = ̅-1,645 = 8,06 + 1,645 x (0,46) = 7,31
P50= ̅ = 8,06
4.2.2 Pengolahan Data SPSS a. Uji Normalitas Data
(Terlampir) b. Percentil
(Terlampir)
Langkah – langkah SPSS :
1. Input data nilai dimensi pada data view.
2. Masuk ke variable view, kemudian kolom name di ganti nama dimensi. 3. Pengolahan data :
a) Klik analyze, pilih descriptive statistics, kemudian explore. b) Masukkan semua variabel sebagai dependent variables. c) Checklist both pada toolbox display.
d) Pilih statistic: checklist descriptive, percentiles, kemudian continue. e) Pilih plots: checklist none pada boxplots, stem and leaf pada descriptive. f) Checklist normality plots with test, kemudian continue.
g) Pilih options: checklist exclude cases listwise, kemudian continue. h) Klik continue. Hasil pengolahan data ditampilkan pada output.
4.2.3 Analisis Data
a. Analisis Data Manual
1. Analisis Kecukupan Data a. Panjang Tangan (Pt)
N‟ < N yaitu 7,71 < 30 maka data dinyatakan cukup. b. Panjang Telapak Tangan (Ptt)
N‟ < N yaitu 16,75 < 30 maka data dinyatakan cukup c. Panjang Jari Telunjuk (Pjl)
N‟ < N yaitu 15,10 < 30 maka data dinyatakan cukup d. Lebar Jari Telunjuk (Ljl)
N‟ < N yaitu 7,14 < 30 maka data dinyatakan cukup e. Tebal Jari Telunjuk (Tjl)
N‟ < N yaitu 9,46 < 30 maka data dinyatakan cukup f. Panjang Jari Tengah (Pjt)
2. Analisis Keseragaman Data a. Panjang Tangan (Pt)
Semua data ada pada batas control maka data dinyatakan seragam b. Panjang Telapak Tangan (Ptt)
Semua data ada pada batas control maka data dinyatakan seragam c. Panjang Jari Telunjuk (Pjl)
Semua data ada pada batas control maka data dinyatakan seragam d. Lebar Jari Telunjuk (Ljl)
Semua data ada pada batas control maka data dinyatakan seragam e. Tebal Jari Telunjuk (Tjl)
Semua data ada pada batas control maka data dinyatakan seragam f. Panjang Jari Tengah (Pjt)
Semua data ada pada batas control maka data dinyatakan seragam
3. Analisis Percentil Data a. Panjang Tangan (Pt)
Menggunakan dimensi ruang dengan P50 yaitu 18.08 cm untuk
membuat badan mouse. b. Panjang Telapak Tangan (Ptt)
Menggunakan dimensi ruang dengan P50 yaitu 10,24 cm agar
punggung mouse nyaman saat dipegang. c. Panjang Jari Telunjuk (Pjl)
Tinggi Siku Berdiri menggunakan P50 yaitu 7,24 cm untuk
menentukan jarak left click agar pas. d. Lebar Jari Telunjuk (Ljl)
Menggunakan P50 yaitu 2,14 cm agar jari telunjuk dan jari tengah
tidak berdempetan. e. Tebal Jari Telunjuk (Tjl)
Menggunakan P50 yaitu 1,63 cm agar ketinggian mouse dapat
diperhitungkan.
f. Panjang Jari Tengah (Pjt)
Menggunakan dimensi ruang dengan P50 yaitu 8,06 cm untuk
b. Analisis Data SPSS
1. Analisis Normalitas Data Ho: Data Normal
H1: Data tidak Normal
Jika α < 0.05, maka Ho ditolak,
Jika α > 0.05, maka Ho diterima atau data berdistribusi normal.
Maka :
a. Panjang Tangan (Pt)
Nilai Signifikansi 0,2 sehingga Ho diterima atau data (Pt)
berdistribusi normal normal. b. Panjang Telapak Tangan (Ptt)
Nilai Signifikansi 0,2 sehingga Ho diterima atau data (Ptt)
berdistribusi normal normal. c. Panjang Jari Telunjuk (Pjl)
Nilai Signifikansi 0,148 sehingga Ho diterima atau data (Pjl)
berdistribusi normal normal. d. Lebar Jari Telunjuk (Ljl)
Nilai Signifikansi 0,2 sehingga Ho diterima atau data (Ljl)
berdistribusi normal normal. e. Tebal Jari Telunjuk (Tjl)
Nilai Signifikansi 0,19 sehingga Ho diterima atau data (Tjl)
berdistribusi normal normal. f. Panjang Jari Tengah (Pjt)
Nilai Signifikansi 0,002 sehingga Ho diterima atau data (Pjt)
4.2.4 Analisis Produk
Gambar 4.1
Disain mouse dibuat menggunakan software Auto CAD berdasarkan ukuran dimensi tubuh yang diperoleh dari perhitungan sebelumnya. Dimensi tubuh yang digunakan antara lain panjang tangan (Pt), panjang telapak tangan (Ptt), panjang jari telunjuk (Pjl) dan panjang jari tengah (Pjt).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan kecukupan data, keseragaman data, perhitungan persentil dan analisis ketiga perhitungan, maka dapat diketahui bahwa :
1. Data-data yang digunakan telah memenuhi kriteria kecukupan data. Sedangkan menurut analisis perhitungan keseragaman data, maka data-data yang digunakan berada pada batas kontrol.
2. Menurut analisis perhitungan kecukupan data, keseragaman data dan persentil maka dapat diketahui bahwa data telah cukup dan berada pada batas kontrol. 3. Berdasarkan perhitungan persentil tiap dimensi dengan P50 maka dapat
diketahui nilai dari tiap dimensi, yakni Panjang tangan (Pt) 18.08 cm, Panjang telapak tangan (Ptt) 10,24 cm, Panjang jari telunjuk (Pjl) 7,24 cm, Lebar jari telunjuk (Ljl) 2,14 cm, Tebal jari telunjuk (Tjl) 1.63 cm, Panjang jari tengah (Pjt) 8,06 cm.
5.2 Saran
Produk yang telah didesain diharapkan bisa menjadi produk nyata agar dapat langsung diuji coba oleh pemakai sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelebihan dari desain mouse tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Modul Antopometri Laboratorium Analisis Perancangan Kerja dan Ergonomi Anggawisata, Sutalaksana. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung, 1979.
Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Study Gerak dan Waktu. Edisi pertama. Jakarta:Penerbit PT. Guna Widya, 1995.
LAMPIRAN
Lampiran Output SPSS.
Output Normalitas Data SPSS Output Percentil SPSS
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Pt 30 100.0% 0 .0% 30 100.0% Ptt 30 100.0% 0 .0% 30 100.0% Pjl 30 100.0% 0 .0% 30 100.0% Ljl 30 100.0% 0 .0% 30 100.0% Tjl 30 100.0% 0 .0% 30 100.0% Pjt 30 100.0% 0 .0% 30 100.0% Descriptives Statistic Std. Error Pt Mean 17.7333 .22961
95% Confidence Interval for Mean
Lower Bound 17.2637
5% Trimmed Mean 17.7407 Median 18.0000 Variance 1.582 Std. Deviation 1.25762 Minimum 15.00 Maximum 20.00 Range 5.00 Interquartile Range 2.00 Skewness -.125 .427 Kurtosis -.538 .833 Ptt Mean 9.9667 .18866
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 9.5808 Upper Bound 10.3525 5% Trimmed Mean 10.0556 Median 10.0000 Variance 1.068 Std. Deviation 1.03335 Minimum 7.00 Maximum 11.00 Range 4.00 Interquartile Range 1.25 Skewness -1.135 .427 Kurtosis 1.212 .833 Pjl Mean 7.24 .131
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 6.97 Upper Bound 7.50 5% Trimmed Mean 7.22 Median 7.20 Variance .511 Std. Deviation .715 Minimum 6 Maximum 9 Range 3
Interquartile Range 1
Skewness .349 .427
Kurtosis .295 .833
Ljl Mean 1.7333 .10649
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1.5155 Upper Bound 1.9511 5% Trimmed Mean 1.7037 Median 2.0000 Variance .340 Std. Deviation .58329 Minimum 1.00 Maximum 3.00 Range 2.00 Interquartile Range 1.00 Skewness .086 .427 Kurtosis -.357 .833 Tjl Mean 1.63 .074
95% Confidence Interval for Mean Lower Bound 1.47 Upper Bound 1.78 5% Trimmed Mean 1.62 Median 1.55 Variance .166 Std. Deviation .408 Minimum 1 Maximum 2 Range 2 Interquartile Range 1 Skewness .324 .427 Kurtosis -.578 .833 Pjt Mean 8.06 .124
95% Confidence Interval for Mean
Lower Bound 7.81
Upper Bound 8.31
5% Trimmed Mean 8.06
Variance .458 Std. Deviation .677 Minimum 6 Maximum 10 Range 3 Interquartile Range 1 Skewness .053 .427 Kurtosis .155 .833 Percentiles Percentiles 5 10 25 50 75 90 95 Weighted Average(Definition 1) Pt 15.5500 16.0000 17.0000 18.0000 19.0000 19.0000 20.0000 Ptt 7.5500 8.1000 9.7500 10.0000 11.0000 11.0000 11.0000 Pjl 5.96 6.31 6.78 7.20 7.70 8.27 8.72 Ljl 1.0000 1.0000 1.0000 2.0000 2.0000 2.0000 3.0000 Tjl .96 1.02 1.38 1.55 2.00 2.20 2.40 Pjt 6.78 7.20 7.78 8.00 8.52 9.09 9.33 Tukey's Hinges Pt 17.0000 18.0000 19.0000 Ptt 10.0000 10.0000 11.0000 Pjl 6.80 7.20 7.70 Ljl 1.0000 2.0000 2.0000 Tjl 1.40 1.55 2.00 Pjt 7.80 8.00 8.50 Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
Pt .153 30 .069 .941 30 .099 Ptt .280 30 .000 .826 30 .000 Pjl .110 30 .200* .983 30 .889 Ljl .343 30 .000 .745 30 .000 Tjl .129 30 .200* .954 30 .219 Pjt .118 30 .200* .979 30 .794
Percentiles Percentiles 5 10 25 50 75 90 95 Weighted Average(Definition 1) Pt 15.5500 16.0000 17.0000 18.0000 19.0000 19.0000 20.0000 Ptt 7.5500 8.1000 9.7500 10.0000 11.0000 11.0000 11.0000 Pjl 5.96 6.31 6.78 7.20 7.70 8.27 8.72 Ljl 1.0000 1.0000 1.0000 2.0000 2.0000 2.0000 3.0000 Tjl .96 1.02 1.38 1.55 2.00 2.20 2.40 Pjt 6.78 7.20 7.78 8.00 8.52 9.09 9.33 Tukey's Hinges Pt 17.0000 18.0000 19.0000 Ptt 10.0000 10.0000 11.0000 Pjl 6.80 7.20 7.70 Ljl 1.0000 2.0000 2.0000 Tjl 1.40 1.55 2.00
Pt
Pt Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf 1,00 15 . 0 4,00 16 . 0000 8,00 17 . 00000000 8,00 18 . 00000000 7,00 19 . 0000000 2,00 20 . 00 Stem width: 1,00 Each leaf: 1 case(s)
Pjt
Pjt Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf 1,00 Extremes (=<6,5) 4,00 7 . 0223 8,00 7 . 67888889 9,00 8 . 000011224 4,00 8 . 5678 3,00 9 . 012 1,00 9 . 5 Stem width: 1 Each leaf: 1 case(s)
Tjl
Tjl Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf 1,00 0 . 9
10,00 1 . 0023334444 11,00 1 . 55556667778 8,00 2 . 00122244 Stem width: 1
Ljl
Ljl Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf 10,00 1 . 0000000000 ,00 1 . 18,00 2 . 000000000000000000 ,00 2 . 2,00 3 . 00 Stem width: 1,00 Each leaf: 1 case(s)
Pjl
Pjl Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf 1,00 5 . 8 3,00 6 . 134 4,00 6 . 5678 13,00 7 . 0000011333344 3,00 7 . 577 4,00 8 . 0003 1,00 8 . 5 1,00 9 . 0 Stem width: 1 Each leaf: 1 case(s)
Ptt
Ptt Stem-and-Leaf Plot Frequency Stem & Leaf 3,00 Extremes (=<8,0) 4,00 9 . 0000 ,00 9 . 13,00 10 . 0000000000000 ,00 10 . 10,00 11 . 0000000000 Stem width: 1,00 Each leaf: 1 case(s)
LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI
(MICROMOTION STUDY)
Disusun Oleh : Kelompok 57
Arif Rakhmanto (08 522 200)
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
ABSTRAK
Micrmotion Study adalah analisa yang dilakukan terhadap beberapa gerakan bagian badan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Adapun metode yang biasa digunakan dalam Micromotion Study yaitu work factor system, basic motion dan micromotion time measurement (MTM). PT Best Light adalah sebuah PT yang bergerak dalam bidang pembuatan Berbagai jenis Steker . Berbagai jenis produk steker yang dibuat hamper 90 % mendekati optimal. Terdapat 1 Jenis steker yaitu steker T yang belum optimal dalam hal dalam penentuan waktu bakunya sehingga kurang effisienya waktu hal tersebut juga dipengaruhi layout yang digunakan . Oleh karena itu PT Best Light Ingin mendisain dua layout tempat kerja untuk pekerjanya. Ada layout awalan dan layout usulan. Ternyata dari dua layout tersebut outputnya tidak sama. Seorang mahasiswa Teknik Industri diminta oleh perusahaan tersebut untuk mencari tahu layout mana yang lebih produktif. Dan kemudian dia melakukan penelitian dengan mengamati elemen gerakan pekerja denga menggunakan webcamp. Selain itu dia juga mengukur jarak masing-masing part dari pusat tubuh. Dari penelitian yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa layout usulan merupakan layout yang lebih produktif, dengan waktu siklus 29 detik dan waktu bakunya 11.47 detik.
Kata kunci : Methods Time Measurement, Waktu Siklus, Waktu Baku, Micromotion Study
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Analisa operasi kerja adalah prosedur untuk menganalisa operasi kerja baik yang menyangkut suatu elemen-elemen kerja yang bersifat produktif atau tidak dengan tujuan memperbaiki metode kerja. Kegiatan ini merupakan cara untuk menaikan jumlah produk per satuan waktu dan untuk mengurangi unit cost. MTM (Methods Time Measurement) adalah suatu sistem penetapan waktu baku yang dikembangkan berdasarkan studi gambar gerakan-gerakan kerja dari suatu operasi kerja industri yang direkam dalam film. MTM mempunyai keunggulan
pre-determained artinya metoda ini dapat mendeteksi waktu penyelesaian suatu
pekerjaan dalam suatu metoda yang diusulkan sebagai alternatif, sebelum metoda kerja tersebut diterapkan atau dijalankan.
Dengan metoda MTM ini dapat diketahui gerakan-gerakan yang dilakukan oleh operator dalam melakukan pekerjaan, baik yang dikerjakan dengan tangan kiri maupun tangan kanan dan meminimasi waktu yang dibutuhkan bagi seorang pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya. Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data menggunakan alat bantu handycam untuk merekam pekerjaan perakitan steker.
Pengamatan yang dilakukan kali ini adalah untuk mengoptimalkan kinerja di PT Best Light, PT Best Light adalah sebuah PT yang bergerak dalam bidang pembuatan Berbagai jenis Steker. Steker yang dibuat hampir 90 % mendekati optimal, tetapi masih ada satu jenis steker yaitu steker T yang masih kurang optimak waktu bakunnya. Oleh karena itu PT best light ingin meningkatkan produktivitas perusahaannya dengan mengoptimalkan waktu baku di stasiun perakitan steker T.
Ada layout awalan dan layout usulan. Ternyata dari dua layout tersebut outputnya tidak sama. Peneliti diminta oleh perusahaan tersebut untuk mencari tahu layout mana yang lebih produktif. Peneliti melakukan penelitian dengan mengamati elemen gerakan pekerja denga menggunakan webcam. Selain itu peneliti juga mengukur jarak masing-masing part dari pusat tubuh.
1.2 Rumusan Masalah
Dari Latar Belakang Masalah yang telah didefinisikan maka dapat diambil rumusan maslah dalam penelitan ini, yaitu :
1. Seperti apa tabel gerakan tangan kanan dan tangan kiri berdasarkan tabel TMU. Untuk layout awalan dan usulan?
2. Berapa waktu baku masing-masing layout tersebut?
3. Bagaimana perbandingan Layout awalan dan layout usulan, layout mana yang paling efektif ? Berikan pula alasannya?
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini kami membatasi masalah yang akan diteliti, batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Metode yang digunakan untuk menganalisis masalah adalah Micromotion Study.
2. Obyek yang diamati adalah seorang operator di departemen perakitan steker T.
1.4 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari penelitian ini secara garis besar adalah sebagai berikut : a. Tujuan Umum
Memperkenalkan kepada Mahasiswa tentang metode Micromotion Study dalam aplikasi pengukuran waktu baku dengan menganalisis elemen-elemen gerakan kerja.
b. Tujuan Khusus
1. Praktikan dapat mengidentifikasikan elemen-elemen gerakan suatu pekerjaan.
2. Praktikan mampu menganalisis elemen-elemen gerakan yang efektif dan tidak efektif.
3. Dapat melakukan perbaikan-perbaikan elemen-elemen gerakan yang tidak perlu atau pengaturan tata letak fasilitas atau stasiun kerja.
4. Mampu menghitung waktu baku dengan mempelajari elemen-elemen gerakan yang ada dengan bantuan rekaman film.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Micromotion Study
Study gerakan adalah analisa yang dilakukan terhadap beberapa gerakan bagian badan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya. Untuk memudahkan penganalisaan terhadap elemen gerakan kerja yang dipelajari, perlu dikenal dahulu gerakan - gerakan dasar. Seorang tokoh yang telah meneliti gerakan - gerakan dasar secara mendalam adalah Frank B. Gilberth beserta istrinya yang menguraikan gerakan ke dalam 17 gerakan dasar atau elemen gerakan yang dinamai Therblig (Sutalaksana, 1979) Suatu pekerjaan mempunyai uraian yang berbeda - beda jika dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya. Hal ini tergantung pada jenis pekerjaannya.
Secara garis besar masing - masing gerakan Therblig dapat didefinisikan sebagai berikut (Wignjosoebroto, 1995) :
1. Mencari.
Mencari adalah elemen gerakan pekerja untuk menentukan lokasi suatu obyek. Gerakan dimulai saat mata bergerak mencari obyek dan berakhir jika obyek telah ditemukan. Mencari termasuk dalam gerakan yang tidak efektif. 2. Memilih.
Memilih merupakan elemen gerakan Therblig untuk menemukan atau memilih suatu obyek diantara dua atau lebih obyek lainnya yang sama. Memilih ini termasuk dalam elemen gerakan Therblig yang tidak efektif. 3. Memegang ( Grasp )
Memegang adalah elemen gerakan tangan yang dilakukan dengan menutup jari - jari tangan obyek yang dikehendaki dalam suatu operasi kerja. Memegang adalah elemen Therblig yang efektif.
4. Menjangkau / Membawa Tanpa Beban (Transport Empty)
Menjangkau adalah elemen gerakan Therblig yang menggambarkan gerakan tangan berpindah tempat tanpa beban atau hambatan (resistance) baik gerakan menuju atau menjauhi obyek. Gerakan ini diklasifikasikan sebagai elemen Therblig yang efektif dan sulit untuk dihilangkan secara keseluruhan
dari suatu siklus kerja. Meskipun demikian gerakan ini dapat diperbaiki dengan memperpendek jarak jangkauan serta memberikan lokasi yang tetap untuk obyek yang harus dicapai selama siklus kerja berlangsung.
5. Membawa Dengan Beban (Transport Loaded)
Membawa merupakan elemen perpindahan tangan, hanya saja disini tangan bergerak dalam kondisi membawa beban (obyek). Elemen gerak membawa termasuk Therblig yang efektif sehingga sulit untuk dihindarkan. Tetapi waktu yang untuk elemen kegiatan ini dapat dihemat dengan cara mengurangi jarak perpindahan, meringankan beban, dan memperbaiki tipe pemindahan beban dengan material handling.
6. Memegang untuk Memakai ( Hold )
Elemen ini terjadi jika elemen memegang obyek tanpa menggerakan obyek tersebut. Elemen memegang untuk memakai adalah elemen kerja yang efektif yang bisa dihilangkan dengan memakai alat bantu untuk memegang obyek. 7. Melepas ( Release Load )
Elemen ini terjadi pada saat operator melepaskan kembali terhadap obyek yang dipegang sebelumnya. Elemen gerak melepas termasuk elemen therblig yang efektif yang bisa diperbaiki.
8. Mengarahkan ( Position )
Mengarahkan adalah elemen gerakan therblig yang terdiri dari menempatkan obyek pada lokasi yang dituju secara tepat. Elemen gerak ini termasuk Therblig yang tidak efektif, sehingga untuk itu harus diusahakan untuk dihilangkan.
9. Mengarahkan Awal (Pre - Position)
Mengarahkan awal adalah elemen gerakan efektif Therblig yang mengarahkan obyek kesuatu tempat sementara sehingga pada saat kerja mengarahkan obyek benar-benar dilakukan maka obyek tersebut dengan mudah dapat dipegang dan dibawa kearah tujuan yang dikehendaki.
10. Memeriksa ( Inspect )
Elemen ini termasuk dalam langkah kerja untuk menjamin bahwa obyek telah memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan. Elemen ini termasuk elemen Therblig yang tidak efektif .
Merakit adalah elemen gerakan Therblig untuk menghubungkan dua obyek atau lebih menjadi satu kesatuan. Elemen ini merupakan elemen Therblig yang efektif yang tidak dapat dihilangkan sama sekali tetapi dapat diperbaiki. 12. Mengurai Rakit ( Diassembly )
Disini dilakukan gerakan memisahkan atau mengurai dua obyek tergabung satu menjadi obyek - obyek yang terpisah. Ini termasuk gerakan therbligh yang efektif.
13. Memakai ( Use )
Memakai adalah elemen gerakan efektif Therblig dimana salah satu atau kedua tangan digunakan untuk memakai / mengontrol suatu alat untuk tujuan-tujuan tertentu selama kerja berlangsung.
14. Kelambatan yang Tidak Terhindarkan ( Unavoidable Delay )
Kondisi ini diakibatkan oleh hal-hal diluar kontrol dari operator dan merupakan interupsi terhadap proses kerja yang sedang berlangsung. Ini termasuk gerakan therbligh yang tidak efektif.
15. Kelambatan yang Dapat Dihindarkan ( Avoidable Delay )
Kegiatan ini menunjukan situasi yang tidak produktif yang dilakukan oleh operator sehingga perbaikan/ penanggulangan yang perlu dilakukan lebih ditujukan kepada operator sendiri tanpa harus merubah proses kerja lainnya. Ini termasuk gerakan therbligh yang tidak efektif.
16. Merencanakan ( Plan )
Elemen ini merupakan proses mental dimana operator berhenti sejenak bekerja dan memikir untuk mentukan tindakan - tindakan apa yang diharus dilakukan. Ini termasuk gerakan therbligh yang tidak efektif.
17. Istirahat untuk Menghilangkan Lelah ( Rest To Overcome Fatique )
Elemen ini tidak terjadi pada setiap siklus kerja akan tetapi berlangsung secara periodik. Ini termasuk gerakan therbligh yang tidak efektif.
2.2 Micromotion Time Measurement
Dalam menganalisa gerakan kerja sering kali dijumpai kesulitankesulitan dalam menentukan batas-batas suatu elemen Therblig dengan elemen Therblig yang lainnya karena waktu kerja yang terlalu singkat. Untuk memudahkannmya dilakukan perekaman atas gerakan-gerakan kerja dengan menggunakan kamera
film (video recorder). Hasil perekaman dapat diputar ulang kalau perlu dengan kecepatan lambat (slow motion) sehingga analisa gerakan kerja dapat dilakukan dengan lebih teliti.
Aktivitas micromotion study mengharuskan untuk merekam setiap gerakan kerja yang ada secara detail dan memberi kemungkinan-kemungkinan analisa gerakan kerja secara detail dan secara lebih baik. (Hasil Training asisten 2001).
2.3 Perhitungan Waktu Baku
Waktu baku adalah waktu yang dibutuhkan secara wajar oleh seorang pekerja normal untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang dijalankan dalam suatu sistem kerja yang terbaik atau biasa didefinisikan, menghitung waktu yang diperlukan untuk merakit 1 produk dengan memperhatikan elemen-elemen gerakan operator. Sedang waktu siklus merupakan waktu yang diperlukan untuk merakit 1 produk, yang mana data perhitungan waktunya diambil dari data mentah yang didapat dari percobaan.
Sehingga jika pengukuran dilakukan terhadap beberapa alternatif sistem kerja, yang terbaik diantaranya dilihat dari segi waktu yang dapat dicari yaitu sistem yang membutuhkan penyelesaian tersingkat.
2.4 Penetapan Waktu Baku dengan Data Waktu Gerakan
Methods Time Measurement (MTM) adalah suatu sistim penerapan awal waktu baku (predetermined time standard) yang dikembangkan berdasarkan studi gambar gerakan-gerakan kerja dari suatu operasi kerja industri yang direkam dalam film. Sistem ini didefinisikan sebagai suatu prosedur untuk menganalisa setiap operasi atau metode kerja (manual operation) ke dalam gerakan-gerakan dasar yang diperlukan untuk melaksanakan kerja tersebut, dan kemudian menetapkan standart waktu dari masing-masing gerakan tersebut berdasarkan macam gerakan dan kondisi-kondisi kerja yang ada.
Unit waktu yang digunakan dalam tabel-tabel ini adalah sebesar perkalian 0.00001 jam dan unit satuan ini dikenal sebagai TMU (Time-Measurement Unit). Disini 1 TMU adalah sama dengan 0.00001 jam atau 0.0006 menit.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Pengamatan
Dalam penelitian ini peneliti mengamati bagaimana proses perakitan sebuah steker T dengan obyek seorang pria bernama Angger Pratonggopati berumur 20 tahun. Median pengamatan dengan menggunakan komputer yang telah dilengkapi dengan webcam.
Peneliti melakukan beberapa percobaan dalam merakit steker T dan merekamnya dengan webcam. Praktikum yang dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui gerakan-gerakan apa saja yang dilakukan dalam merakit sebuah steker T dan menghitung waktu bakunya.
3.2 Flowchart
3.3 Keterangan Flowchart 1. Mulai
Memulai penelitian 2. Identifikasi masalah
Mengindentifikasi maslah yang ada, dalam hal ini kurang optimalnya waktu yang digunakan departemen perakitan steker T di PT Best Light. 3. Perumusan Masalah
Merumuskan bagaimana masalah yang telah diketahui tersebut bisa di selesaikan dnegan metode apa dan bagaimana.
4. Pengumpulan data
Mengumpulkan data dari pengamatan yang telah dilakukan, dalam kasus ini yaitu waktu yang digunakan untuk merakit dan gerakan-gerakannya. 5. Pengolahan data
Dari data yang telah diperoleh, diolah dengan menggunakan metode MTM sesuai dengan tujuan dari penelitian ini.
6. Analisa data
Data yang telah diolah kemudian dianalisis hasilnya, mencari waktu baku yang sesuai.
7. Kesimpulan dan Saran
Disimpulkan dari hasil yang diperoleh, kemudian rekomendasikan saran perbaikan terhadap metode yang dihasilkan.
8. Selesai
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Operator
Nama : Angger Pratonggopati Jenis Kelamin : Laki -laki
Usia : 20 Tahun
4.1.2 Data Hasil Pengamatan 1. Layout Awalan
Gambar 4.1 Awalan Tabel 4.1 Layout Awalan
Kotak Keterangan Jarak ( cm )
A Badan Atas, Badan Bawah 65
B Kaki 63
C Mur, Baut 64
D Obeng, Produk 70
2. Layout Usulan
Tabel 4.2 Layout Usulan
Kotak Keterangan Jarak ( cm ) Jarak ( inch)
A Badan Atas, Badan Bawah 39 15,21
B Mur, Baut 43 16,77 C Kaki 44 17,16 D Obeng, Produk 43 16,77 4.2 Pengolahan Data 4.2.1 Layout Awalan Gambar 4.3 Awalan Tabel 4.3 Layout Awalan
Elemen – elemen gerakan :
1. Mengambil badan atas steker T dengan tangan kiri. 2. Mengambil 2 kaki steker T dengan tangan kanan 1 kali. 3. Mengambil badan bawah steker T dengan tangan kanan. 4. Menekan badan bawah steker T dengan tangan kanan. 5. Mengambil mur dan baut sekaligus dengan tangan kanan. 6. Mengambil obeng dengan tangan kanan.
7. Menaruh produk dan obeng dengan tangan kanan dan kiri.
Kotak Keterangan Jarak ( cm ) Jarak ( Inch)
A Badan Atas, Badan Bawah 65 25,35
B Kaki 63 24,57
C Mur, Baut 64 24,96
Perhitungan TMU:
Tabel 4.4 Perhitungan TMU
Tangan kiri Jarak
(inch) Kode TMU TMU Kode
Jarak
(inch) Tangan Kanan
MenjangkauA 25,35 R25.35A 15.50 Memegang A G1A 2 Membawa A M25.35C 26.71 15.07 R24.57A 24.57 Menjangkau B 2 G1A Memegang B 26.01 M24.57C Membawa B 9.1 P1SSE Mengarahkan B 26.01 M24.57C 24.57 Membawa B 9.1 P1SSE Mengarahkan B 15.50 R25.35A 25.35 Menjangkau A 2 G1A Memegang A 26.71 M25.35C Membawa A 9.1 P1SSE Mengarahkan A Menekan A 25.35 AF 3.4 3.4 AF 25.35 Menekan A 15.33 R24.96A 24.96 Menjangkau C 2 G1A Memegang C 26.36 M24.96C Membawa C 9.1 P1SSE Mengarahkan C 16.38 R27.3A 27.3 Menjangkau D 2 G1A Memegang D 28.4 M27.3C Membawa D 9.1 P1SSE MengarahkanD 47.6 TS120°7 Memutar 7 kali D120° Melepas Produk RL1 2 2 RL1 Melepas D Total TMU 49.61 302.2 7 Total TMU 351.88
4.2.2 Layout Usulan
Gambar 4.4 Usulan Tabel 4.5 Layout Usulan
Kotak Keterangan Jarak ( cm )
A Badan Atas, Badan Bawah 39
B Kaki 43
C Mur, Baut 44
D Obeng, Produk 43
Elemen – elemen gerakan :
1. Mengambil badan atas steker T dengan tangan kiri 2. Mengambil 2 kaki steker T dengan tangan kanan 2 kali. 3. Mengambil badan bawah steker T dengan tangan kanan 4. Mengambil mur dan baut sekaligus dengan tangan kanan 5. Mengambil obeng dengan tangan kanan
Perhitungan TMU :
Tabel 4.6 Perhitungan TMU
Tangan kiri Jarak
(inch) Kode TMU TMU Kode
Jarak
(inch) Tangan Kanan
MenjangkauA 15.21 R15.21A 11.04 Memegang A G1A 2 Membawa A M15.21C 17.98 11.58 R16.77A 16.77 Menjangkau B 2 G1A Memegang B 19.35 M16.77C Membawa B 9.1 P1SSE Mengarahkan B 11.58 R16.77A 16.77 Menjangkau B 2 G1A Memegang B 19.35 M16.77C Membawa B 9.1 P1SSE Mengarahkan B 11.04 R17A 15.21 Menjangkau A 2 G1A Memegang A 17.98 M17C Membawa A 9.1 P1SSE Mengarahkan A 11.92 R17.16A 17.16 Menjangkau C 2 G1A Memegang C 19.68 M17.16C Membawa C 9.1 P1SSE Mengarahkan C 11.58 R16.77A 16.77 Menjangkau D 2 G1A Memegang D 19.35 M16.77C Membawa D 9.1 P1SSE MengarahkanD 74.8 TS120° Memutar 11 kali D120°
Melepas Produk RL1 2 2 RL1 Melepas D
Total TMU 33.02 285.7
4.3 Analisis Data
4.3.1 Metode Kerja
Dari kedua layout diatas dapat diketahui gerakan-gerakan yang dilakukan oleh operator. Dan dapat di ketahui juga gerakan-gerakan yang efektif dan tidak efektif. Pada layout awalan terdapat 26 gerakan efektif dan tidak ada gerakan tidak efektif. Sedangkan pada layout usulan semua gerakan yang dilakukan operator merupakan gerakan efektif, yaitu terdapat 26 gerakan. 4.3.2 Waktu Siklus
Waktu siklus layout awalan = 26 detik Waktu siklus layout usulan = 29 detik 4.3.3 Waktu Baku
Pada layout awalan waktu baku nya adalah 360.3 TMU = 12,66 detik. WB layout awalan < WS layout awalan = 12,66 detik < 26 detik.
Sedangkan pada layout usulan waktu baku nya adalah 318.72 TMU = 11.47 detik.
WB layout usulan < WS layout usulan = 11.47 detik < 29 detik. 4.3.4 Layout
Pada layout awalan jarak masing kotak elemen produk dengan operator yaitu sebagai berikut (dalam inch):
1. Kotak A berjarak 25.35 dari operator. 2. Kotak B berjarak 24.57 dari operator. 3. Kotak C berjarak 24.96 dari operator. 4. Kotak D berjarak 27.3 dari operator.
Sedangkan pada layout usulan memiliki jarak antara lain (dalam inch) : 1. Kotak A berjarak 15.21 dari operator.
2. Kotak B berjarak 16.77 dari operator. 3. Kotak C berjarak 17.16 dari operator. 4. Kotak D berjarak 16.77 dari operator.
Dari kedua layout tersebut dapat di ketahui bahwa jarak setiap kotak yang paling dekat dengan operator adalah layout usulan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a. Berdasarkan pengamatan menggunakan webcam di komputer waktu siklus dalam perakitan steaker untuk layout awalan selama 26 detik, dan layout usulan selama 29 detik
b. Dari perhitungan menggunakan MTM didapat waktu baku layout awalan 12.66 detik dan layout usulan 11.47 detik.
c. Dilihat dari waktu baku yang telah dihitung, dapat diketahui bahwa layout yang paling produktif dari segi waktu adalah layout usulan.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas peneliti menyarankan bahwa untuk menaikkan produktivitas PT Best Light maka pihak perusahaan perlu mengganti layout proses perakitan menjadi layout usulan karena memiliki waktu baku yang lebih sedikit.
Untuk penelitian-penelitian selanjutnya hendaknya menggunakan lebih dari 1 obyek pengamatan sehingga rata-rata waktu yang diperoleh menjadi semakin akurat.
DARTAR PUSTAKA
Modul Pengukuran Waktu Kerja Praktikum Genap 2011/2012, laboratorium Analisa Pengukuran Kerja dan Ergonomi.
Barnes, Ralph M., Motion and Time Study: Design and Measurement of Work, Seventh Edition, 1980, London: John Wiley & Sons.
Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi, Studi Gerakan dan Waktu. Edisi pertama. 1995, Jakarta: Penerbit PT. Guna Widya.
LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS PERANCANGAN KERJA DAN ERGONOMI
(BIOMEKANIKA)
Disusun Oleh : Kelompok 57
Arif Rakhmanto (08 522 200)
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
ABSTRAK
Indomaret merupakan salah satu retail franchise yang paling populer di Indonesia. Salah satu barang yang diperjualbelikan adalah air minum kemasan dengan sistem penukaran galon. Ketika ada konsumen yang menukarkan galon kosong dengan galon baru berisi air minum, maka karyawan Indomaret akan membantu konsumen dalam membawakan galon tersebut ke kendaraan (motor atau mobil). Dalam satu hari (24 jam) terdapat kurang lebih 3 – 8 konsumen yang menukarkan galon tersebut. Sehingga repetisi pengangkatan yang dilakukan oleh karyawan tersebut relatif sering. Aktivitas pengangkatan sangat rentan dengan cidera bila beban yang diangkat terlalu berat. Oleh sebab itu aktivitas pengangkatan ini perlu ditinjau secara lebih lanjut dengan konsep Biomekanika. Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut. Apabila memang sikap kerja dan konsep kerjanya menimbulkan kecelakaan kerja maka sebaiknya metode kerja dirubah atau diperbaiki sehingga pekerja dapat bekerja dengan baik, sehat tanpa mangalami cidera. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar beban kerja, gaya tekan dan beban kerja dengan perhitungan RWL dan MPL kemudian memberikan saran dan perbaikan apabila ternyata kondisi proses kerja tidak aman bagi Operator. Setelah menghitung RWL awal, didapatkan nilai Lifting Index sebesar 0,65 LI < 1, dan RWL akhir didapatkan nilai lifting index sebesar 0,91 LI < 1. Kedua LI tersebut < 1 sehingga dapat dikatakan bahwa pekerjaan tersebut aman untuk dilakukan. Sedangkan MPL sebesar 3374,515 N menunjukkan bahwa pekerjaan tersebut tidak membahayakan bagi pekerja karena masih dalam batasan yang diijinkan yaitu dibawah 6500N. Pekerjaan mengangkat galon air minum tersebut aman dan tidak mengalami cidera pada L5/S1.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Indomaret merupakan salah satu retail franchise yang paling populer di Indonesia. Salah satu barang yang diperjualbelikan adalah air minum kemasan dengan sistem penukaran galon. Ketika ada konsumen yang menukarkan galon kosong dengan galon baru berisi air minum, maka karyawan Indomaret akan membantu konsumen dalam membawakan galon tersebut ke kendaraan (motor atau mobil). Dalam satu hari (24 jam) terdapat kurang lebih 3 – 8 konsumen yang menukarkan galon tersebut. Sehingga repetisi pengangkatan yang dilakukan oleh karyawan tersebut relatif sering. Aktivitas pengangkatan sangat rentan dengan cidera bila beban yang diangkat terlalu berat. Oleh sebab itu aktivitas pengangkatan ini perlu ditinjau secara lebih lanjut dengan konsep Biomekanika.
Kemasan galon dapat menampung 19 liter air minum atau seberat 15,2 kg. Beban seberat 15,2 kg merupakan beban yang relatif berat untuk diangkat. Beban tersebut bisa jadi berpotensi menimbulkan cidera. Untuk mengetahui apakah galon seberat 15,2 kg tersebut berbahaya atau tidak maka dilakukan penelitian. Proses pengamatan dilakukan langsung ke lapangan dengan memfoto obyek pada waktu melakukan pengangkatan. Dari data-data yang diperoleh akan di hitung nilai MPL, RWL, LI dari pekerja tersebut . Dan dari hasil perhitungan yang telah dilakukan akan diketahui apakah pekerjaan mengangkat galon tersebut beresiko atau tidak. Jika ternyata pekerjaan tersebut berpotensi menimbulkan cidera maka akan diberikan saran perbaikan metode atau sistem kerja untuk mengurangi resiko tersebut.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan kasus yang telah dijelaskan dalam latar belakang masalah maka dapat disusun beberapa rumusan masalah, anatara lain sebagai berikut :
1. Apakah pekerjaan mengangkat galon air minum tersebut layak untuk dilakukan jika dilihat berdasarkan kriteria RWL (awal dan akhir)?
3. Berapakah gaya tekan/kompresi pada L5/S1?
4. Apakah pekerjaan tersebut layak berdasarkan perhitungan MPL? 5. Adakah saran perbaikan untuk kasus tersebut?
1.3. Batasan Masalah
Agar penelitian lebih fokus dan menghemat biaya serta waktu maka dibuat batasan masalah sebagai berikut :
1. Pengamatan hanya dilakukan pada satu kali pengangkatan sebagai representasi dari repetisinya.
2. Analisa pada foto hanya dilakukan pada posisi awal dan akhir.
1.4.Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum biomekanika adalah sebagai berikut : a. Tujuan Umum
1. Mampu melakukan pengukuran kerja dan memanfaatkannya dengan merancang metode kerja didasarkan pada prinsip–prinsip biomekanika. 2. Mengetahui besar beban kerja pada saat melakukan kerja dengan metode
biomekanika.
3. Mampu memahami keterbatasan manusia dari beban kerja yang dibebankan pada anggota tubuh manusia.
b. Tujuan Khusus
1. Mampu mengaplikasikan metode Recommended Weight Limit (RWL) dalam menghitung beban kerja, menghitung lifting index.
2. Mampu memberikan rekomendasi beban benda yang seharusnya dapat diangkat oleh operator.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Biomekanika
Biomekanika merupakan salah satu dari empat bidang penelitian informasi hasil ergonomi. Yaitu penelitian tentang kekuatan fisik manusia yang mencakup kekuatan atau daya fisik manusia ketika bekerja dan mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas kerja tersebut. Dalam biomekanik ini banyak disiplin ilmu yang mendasari dan berkaitan untuk dapat menopang perkembangan biomekanik. Disiplin ilmu ini tidak terlepas dari kompleksnya masalah yang ditangani oleh biomekanik ini.
Biomekanika diklasifikasikan menjadi 2, yaitu General Biomechanic dan
Occupational Biomechanic. General Biomechanic adalah bagian dari
Biomekanika yang berbicara mengenai hukum – hukum dan konsep – konsep dasar yang mempengaruhi tubuh organic manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak. General Biomechanic dibagi menjadi 2, yaitu:
a) Biostatics adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisis tubuh pada posisi diam atau bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).
b) Biodinamic adalah bagian dari biomekanik umum yang berkaitan dengan gambaran gerakan – gerakan tubuh tanpa mempertim-bangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gerakan yang disebabkan gaya yang bekerja dalam tubuh (kinetik)
Sedangkan Occupational Biomechanic didefinisikan sebagai bagian dari biomekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar produktifitas kerja dapat meningkat
1. Tulang
Tulang adalah alat untuk meredam dan mendistribusikan gaya/tegangan yang ada padanya Tulang juga selalu terikat dengan otot, dan jaringan penghubung
(connective Tissue) yakni ligamen,cartilage dan Tendon. Fungsi otot disini untuk menjaga posisi tubuh agar tetap sikap sempurna.
2. Connective Tissue atau jaringan penghubung yang terdiri dari Cartilagenous, ligamen dan tendon.
3. Otot ( Muscle )
Membahas masalah otot striatik yaitu otot sadar. Otot terbentuk atas visber (fibre), dengan ukuran panjang dari 10-40 mm dan berdiameter 0,01-0,1 mm dan sumber energi otot berasal dari pemecahan senyawa kaya energi melalui proses aerob maupun anaerob
2.2 Analisa Mekanik
2.2.1 Maximum Permissible Limit (MPL)
MPL merupakan batas besarnya gaya tekan pada segmen L5/S1 dari kegiatan pengangkatan dalam satuan Newton yang distandarkan oleh NIOSH (National Instiute of Occupational Safety and Health) tahun 1981. Besar gaya tekannya adalah di bawah 6500 N pada L5/S1. Sedangkan batasan gaya angkatan normal (the Action Limit) sebesar 3500 pada L5/S1. Sehingga, apabila Fc < AL (aman), AL < Fc < MPL (perlu hati-hati) dan apabila Fc > MPL (berbahaya). Batasan gaya angkat maksimum yang diijinkan , yang direkomendasikan NIOSH (1991) adalah berdasarkan gaya tekan sebesar 6500 N pd L5/S1 , namun hanya 1% wanita dan 25% pria yang diperkirakan mampu melewati batasan angkat ini.
Dalam biomekanik perhitungan guna mencari moment dan gaya dapat dilakukan dengan cara menghitung gaya dan mement secara parsial atau menghitung tiap segmen yang menyusun tubuh manusia. Berat dari masing – masing segmen tubuh didapat dari besarnya prosentase dikali dengan gaya berat dari orang tersebut. Oleh karena itu, di bawah ini merupakan perhitungan (secara manual) dalam praktikum ini, yaitu dihitung tiap segmen yang mempengaruhi tulang belakang dalam melakukan aktivitas pengangkatan, kecuali segmen kaki:
1. Telapak tangan ΣFy = 0 ΣFx = 0 --ΣM = 0 WH = 0,6% x Wbadan Fyw = Wo/2 + WH Mw = (Wo/2 + WH) x SL1 x cos θ1 2. Lengan Bawah ΣFy = 0
ΣFx= 0-- ada gaya horisontal. ΣM = 0
λ2 = 43%
WLA = 1,7% x Wbadan Fye = Fyw + WLA
Me = Mw + (WLA x λ2 x SL2 x cosθ2) + (Fyw x SL2 x cos θ2) 3. Lengan Atas ΣFy = 0 ΣFx = 0 --ΣM = 0 λ3 = 43,6% WUA = 2,8% x Wbadan Fys = Fye + WUA
Ms = Me + (WUA x λ3 x SL3 x cosθ3) + (Fye x SL3 x cos θ3) 4. Punggung ΣFy = 0 ΣFx = 0 --ΣM = 0 λ4 = 67% WT = 50% x Wbadan Fyt = 2Fys + WT Mt = 2Ms + (WT x λ4 x SL4 x cos θ4) + (2Fys x SL4 x cos θ4)
Dengan menggunakan teknik perhitungan keseimbangan gaya pada tiap segmen tubuh manusia, maka didapat moment resultan pada L5/S1. Kemudian untuk mencapai keseimbangan tubuh pada aktivitas pengangkatan, moment pada L5/S1 tersebut diimbangi gaya otot pada spinal erector (FM) yang cukup besar dan juga gaya perut (FA) sebagai pengaruh tekanan perut (PA)
Gaya otot pada spinal erector dirumuskan sebagai berikut: FM.E = M(L5/S1) – FA.D
PA = 10-4 [43-0.36 (ƟH + ƟT)] x [M(L5/S1)]1.8
FA = PA.AA
Wtot = Wo +2 WH + 2 WLA+ 2 WUA + Wt
Kemudian gaya tekan/kompresi pada L5/S1 dirumuskan sbb: FC = WTOT . Cos Ɵ4 – FA + FM
2.2.2 Recommended Weight Limit (RWL)
Recommended Weight Limit merupakan rekomendasi batas beban yang
dapat diangkat oleh manusia tanpa menimbulkan cidera meskipun pekerjaan tersebut dilakukan secara repetitive dan dalam jangka waktu yang cukup lama Persamaan untuk menentukan beban yang direkomendasikan untuk diangkat seorang pekerja dalam kondisi tertentu menurut NIOSH adalah sbb:
RWL = LC x HM x VM x DM x AM x FM x CM
Setelah nilai RWL diketahui, selanjutnya perhitungan Lifting Index, untuk mengetahui index pengangkatan yang tidak mengandung resiko cidera tulang belakang, dengan persamaan :
Jika LI ≤ 1, maka aktivitas tersebut tidak mengandung resiko cidera tulang belakang. Jika LI > 1, maka aktivitas tersebut mengandung resiko cidera tulang belakang.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Objek Pengamatan
Gambar 3.1 Mengangkat galon
Data operator :
Jenis Kelamin Operator : Laki-laki Umur : 22 tahun
Operator melakukan pengangkatan galon air minum dalam keadaan terisi 19 liter atau seberat 15,2 kg. Operator melakukan aktivitas mengangkat dan memindahkan galon tersebut keatas motor dengan perkiraan tinggi 70 cm dari lantai.
3.2 Flowchart mulai observasi Mengumpulkan dan memproses data Mengolah data Data RWL Data MPL selesai Analisa hasil Menggabungkan hasil penghitungan
Penjelasan Flowchart
1. Pengamatan Awal : Peneliti melakukan pengamatan awal kepada operator tentang aktifitas pengangkatan galon yang berisi air minum di toko Indomaret Umbulmartani.
2. Identifikasi Masalah : Peneliti melakukan identifikasi masalah apakah suatu pekerjaan mengangkat galon yang berisi air minum tersebut dapat menimbulkan cidera punggung atau pada segmen L5/S1
3. Pengumpulan Data : Peneliti melakukan pengumpulan data tentang aktifitas dan pengukuran dimensi pengangkatan tubuh saat operator mengangkat galon. 4. Pengolahan Data : Peneliti mengolah data yang telah diperoleh dan
dikumpulkan, kemudian menghitung nilai RWL dan MPL dari data tersebut. 5. Analisis Data : Setelah menghitung nilai RWL dan MPL dari aktivitas
pengangkatan kardus, peneliti menganalisis hasil tersebut apakah proses pengangkatan memiliki dampak cidera pada tulang punggung dan segmen L5/S1
6. Pembahasan : Peneliti melakukan pembahasan tentang hasil analisis yang diperoleh dari perhitungan RWL dan MPL
7. Kesimpulan dan Saran : Berdasarkan perhitungan RWL dan MPL kemudian peneliti mengambil kesimpulan dan saran atas perbaikan metode kerja pada proses pengangkatan galon apabila proses dan aktivitas tersebut menimbulkan cidera punggung dan cidera segmen L5/S1
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1 Pengumpulan Data
4.1.1 Data Operator
Jenis Kelamin : Laki-laki Umur : 22 tahun Tinggi badan : 170 cm Berat badan : 61 kg
Operator melakukan pengangkatan galon air minum dalam keadaan terisi 19 liter atau seberat 15,2 kg. Operator melakukan aktivitas mengangkat dan memindahkan galon tersebut keatas motor dengan perkiraan tinggi 70 cm dari lantai.
Tabel 4.1 Pengamatan Kerja Berat
Beban
Posisi Tangan Jarak
Vertikal (cm) Durasi Kerja Sudut Asimetris Awal Sudut Asimetri Akhir Frekuensi Pengangkatan Kopling Benda Awal Akhir L H V H V D A A F C 15,2 kg 15 10 25 70 60 5 menit 10° 20° 1 lift (*) F = 0,95
(*) frekuensi pengangkatan hanya 1 kali dalam 5 menit sehingga F = 2 Lift/mnt 4.1.2 Data MPL dan RWL
a. Data RWL
a.1 Data RWL Awal
L = 15,2 kg LC = 23Kg
V = 10 cm Handle Fair = 0,95
D = 60 H = 15 cm