• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kajian teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kajian teori"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user 9

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian teori

1. Hakekat perkembangan

Perkembangan merupakan proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah keadaan yang makin terorganisir dan terspesialisasi. Semakin terorganisasi artinya organ-organ tubuh semakin bisa dikendalikan sesuai dengan kemauan. Semakin terspesialisasi yaitu bahwa organ- organ tubuh semakin bisa berfungsi sesuai dengan fungsinya masing masing.

Perkembangan bisa terjadi dalam bentuk perubahan kuantitatif, perubahan kualitatif, atau perubahan pada kedua-duanya secara serempak. Perubahan kuantitatif perubahan yang bisa diukur atau di hitung. Sedangkan perubahan kualitatif adalah perubahan dalm bentuk semakin baik, semakin teratur, semakin lancar, dan sebagainya yang ada dasarnya merupakan perubahan yang tidak bisa atau sukar diukur, Sugiyanto (1998:14)

Perkembangan individu mencakup berbagai aspek yang ada di dalam dirinya, yang berpangaruh terhadapa perkembangan itu meliputi berbagai faktor, baik yang berada di dalam dirinya maupun yang berada di luar dirinya. Berbagai aspek yang bekembang, dan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan perlu dipadukan dalam membentuk konsep perkembangan secara menyuluruh. Di dalam membahas konsep perkembangan diperlukan kerangka

(2)

acuan. Teori-teori perkembangan yang sudah berkembang lebih awal digunakan sebagai acuan dalam studi perkembangan gerak. Secara umum, perkembangan dikaji dari prespektif atau sudut pandang biologi dan psikologis. Dalam prespektif biologis, keterbentukan dan perkembangan bagian-bagian dan sisitem tubuh dipelajari pada level seluler dan pada level organismik. Pada level seluler dipelajari perkembangan sel yang membentuk organ- organ tubuh manusia, sedangkan pada level organismik dipelajari perkembangan organ-organ tubuh manusia tubuh manusia. Dalam prespektif psikologis, individu dipelajari, dalam segi berfikir, emosi, dan perasaanya (Sugiyanto,1998:18)

Perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah keadaan yang makin terorganisir dan terspesialisasi. Makin terorganisir adalah bahwa organ-organ tubuh masih bisa dikendalikan sesuai dengan kemauan. Terspesialisasi adalah bahwa organ-organ tubuh semakin bisa berfungsi dengan fungsi masing-masing. Perkembangan anak terdiri dari : perkembangan motorik kasar (pergerakan dan sikap tubuh);

perkembangan motorik halus (menggambar, memegang suatu benda dan lain – lain); perkembangan bahasa (kemampuan respon suara, mengikuti perintah, dan berbicarasopan);kepribadian atau tingkah laku (berinteraksi dengan lingkungannya).

Menurut malina dan bouchard perkembangan gerak adalah proses perpindahan susunan dan ketrampilan, yang mana karakter tersebut terus menerus memodifikasi dan saling berkaitan dengan:

(3)

commit to user

2. Petumbuhan dan pendewasaan anak, missal dalam ukuran dan bentuk komposisi tubuh.

Dijelaskan lagi oleh F. J. Monks, dkk (2001) pengertian perkembangan menunujukan pada suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak dapt diulang kembali. Perkembangan menunjukan pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat intregritasi yang lebih tinggi berdasarkan pertumbuhan, pematangan, dan belajar.

Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan cirri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi.

Perkembangan bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk atau tahap ke tahap berikutnya yang kian hari bertambah maju mulai dari masa pembuahan dan berakhir kematian.

Perkembangan individu bersifat individual dan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secara umum dapat dikelompokan sebagai faktor internal dan eksternal individu. Masing-masing individu memiliki tingkat kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan individu tersebut. Aspek genetis dan aspek lingkungan baik fisik maupun social secara bersama memberikan pengaruh pada pola perkembangan individu.

Perkembangan individu mencakup seluruh aspek atau domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam perkembangnya, seluruh aspek dalam diri

(4)

commit to user

individu berkembang secara slimutan dan saling mempengaruhi satu dengan uang lainnya. Keserasian antar masing-masing aspek perkembangan memberikan kualitas perkembangan individu yang optimal.

Meskipun perkembangan indivividu bersifat individual namun secara umum menunjukan pola perkembangan-perkembangan yang sama. Perkembangan individu memiliki korelasi yang erat dengan umur namun tidak tergantung dengan umur (Gallahue dan Ozmun, 1998). Dalam proses perkembangan individu sebagai proses berkelanjutan yang berlangsung seumur hidup terdapat periode-periode perkembangan individu yang menunjukan karakteristik-karakteristik perkembangan yang sama untuk semua individu. secara umum perubahan yang terjadi pada awalnya bersifat peningkatan dan kemudian mengalami penurunan.

Karakteristik perkembangan individu secara umum menunjukan fase-fase yang sama pada periode unsure tertentu. Fase-fase perkembangan berdasarkan umur secara umum dibagi menjadi beberapa fase seperti tampak pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Periodisasi perkembangan berdasarkan umur (Haywood, 1986 dalam Sugiyanto, 1998)

Periode perkembangan Perkiraan umur kronologis Sebelum lahir

- Awal - Embrio - Janin

- Pembuahan sampai dua minggu - 2-8 minggu

- 8-akhir Bayi

- Neonantal - Sejak lahir sampai 2 tahun - Sejak lahi sampai 4 minggu Anak-anak

- Anak kecil

- Anak besar - 1 atau 2 sampai 10 atau 12 tahun

- 1 atau 2 sampai 6 tahun sampai 10 atau 12 tahun Adolesensi

(5)

commit to user - Dewasa muda

- Dewasa madya - Dewasa tua

- 18 atau 20 sampai 40 tahun - 40 sampai 60 tahun

- 60 tahun lebih

Masing-masing fase dalam periode perkembangan individu tersebut menunjukankarakteristik perkembangan perkembangan tersendiri yang berbeda dengan perkembangan lainnya. Dalam aktivitas olahraga, kajian perkembangan fisik dan perkembangan gerak tampak meiliki pengaruh yang sangat dominan.

Perkembangan ketrampilan gerak sebgai modal utama pencapain prestasi hanya dapat berkembang dengan baik apabila didukung oleh perkembangan gerak yang baik.

2. Perspektif perkembangan dan pertumbuhan

Masalah perkembangan tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan.

Perkembangan sebagai bentuk perubahan menuju ke kualitas yang lebih baik tidak dapat dipisahkan dari proses pertumbuhan sebagai pendukungnya. Fisik, gerak, pikir, emosi, dan social tumbuh dan kembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan fungsi-fungsi organ tubuh sebagai faktor pendukung aktivitas.

(Sugiyanto, 1998). Dalam Samsunuwiyati (2006) menurut Seifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan perkembangan sebagai “ long-term changes in a person’s growth, fellings, patterns of thinking, social relationship, and motor skills.”

Sementara itu , Chaplinn (2002) mengartikan perkembangan sebagai:

(1) Perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organism, dari lahir sampai mati

(2) Pertumbuhan

(6)

(3) Perubahan dalam bentuk dan dalam intregritasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional

(4) Kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak dipelajari

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi dan saling berkaitan menjadi satu kesatuan sehingga sulit dipisahkan. Menurut Hurlock (1998) dalam Endang RS, Panggung, Suhartini (2007) istilah perkembangan dan pertumbuhan merupakan dua istilah yang berbeda, walaupun dapat dipisahkan namun keduanya tidak berdiri sendiri.

Pertumbuhan merupakan perubahan kuantitatif yaitu peningkatan ukuran dan struktur, anak tidak menjadi besar secara fisik, tetapi ukuran dan struktur organ dalam dan otak meningkat. Akibanya adanya pertumbuhan otak, anak mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk belajar, mengingat, dan berpikir. Anak akan tumbuh baik secara mental. Sebaliknya perkembangan, berkaitan dengan perubahan kualitatif, kuantitatif, dan kedua-duanya secara serempak.

Menurut Sugiyanto (1998) pertumbuhan adalah peningkatan yang ada pada diri seorang yang bersifat kuantitatif, atau peningkatan dalam hal ukuran. Dan di dalam studi perkembangan gerak cenderung digunakan dalam kaitannya dengan ukuran fisik. Menurut Endang RS, Panggung, Suhartini (2007) pertumbuhan adalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram), ukuran panjang (cm), umur tulang dan keseimbangan metabolik. Dalam konsep perkembangan yang akan diulas di bawah nanti, perkembangan juga terkandung konsep

(7)

commit to user

digunakan dalam biologi, sehingga perngertiannya lebih bersifat biologi. Menurut C. P. Chaplin (2002) dalam Samsunuwiyati (2006), mengartikan pertumbuhan sebagai satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau organisme sebagai satu keseluruhan. Menurut A. E. Sinolungon (1997), pertumbuhan menunjukan pada perubahan kuantitatif yaitu dapat diukur datau dihitung seperti panjang dan berat tubuh. Sedangkan Ahmad Thothowi (1993) mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran sebagai akibat dari adanya perbanyakan sel-sel.

Dengan demikian istilah pertumbuhan lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju keruntuhannya. Sedangkan perkembangan lebih menunjukan pada kemajuan mental (jiwa) sampai akhir hayat (Samsunuwiyati, 2006)

Menurut Gallahue dan Ozmun, (1997) pertumbuhan bukanlah proses independent. Walaupun faktor keturunan dapat membatasi pertumbuhan, tetapi faktor lingkungan juga berperan penting dalam memperlebar batas tersebut.

Tingkatan sampai seberapa besar faktor tersebut dapat mempengaruhi perkembangan motorik belum jelas dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Adapun menurut Unicef dan Johnson 1992 dalam Dewa NS, Bachyar B, Ibnu F, (2002) membuta model interelasi tumbuh kembang anak dengan melihat penyebab dasar, sebab tidak langsung dan sebab langsung. Sebab langsung adalah kecukupan makanan dankeadaan kesehatan. Penyebab tidak langsung meliputi

(8)

ketahanan makanan keluarga, asuhan bagi ibu dan anak, dan pemnafaatan pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan. Penyebab yang paling mendasar dari tumbuh kembang anak adalah masalah struktur politik dan ideology serta struktur ekonomi yang dilandasi oleh potensi sumber daya.

Telah dijelaskan di atas hakekat perkembangan dan pertumbuhan, masing- masing individu mempunyai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda sesuai dengan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan individu tersebut. Aspek genetis dan aspek lingkungan baik fisik maupun social secara bersama memberikan pengaruh pada pola perkembangan individu.

Meskipun perkembangan individu bersifat individual namun secara umum menunjukan pola perkembangan-perkembangan yang sama. Perkembangan individu memiliki korelasi yang erat dengan umur namun tidak tergantung umur (Gallahue dan Ozmun, 1998)

Gambar 2.1 Tumbuh kembang anak dan alur kehidupan (Dewa NS, Bachyar B, Ibnu F, 2002)

(9)

commit to user

Gambar 2.1 Tumbuh kembang anak dan alur kehidupan (Dewa NS, Bachyar B, Ibnu F, 2002)

Perkembangan akan pesat atau cepat terlihat pada anak sekolah dasar atau anak besar yang berusia enam sampai sepuluh atau dua belas tahun.

Karakteristik siswa sekolah dasar atau anak besar sendiri sangat tinggi dalam melakukan aktivitas fisik terutama dalam berolahraga, minta untuk melakukan aktivitas fisik sangant dipengaruhi oleh kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik itu sendiri. Apabila sejak kecil anak selalu dikekang atau tidak diberi kesempatan melakukan aktivitas fisik, maka minatuntk melakukan aktivitas itu tidak akan berkembang. Sebaliknya apabila kesempatan itu diberikan secara cukup, maka minat melakukan aktivitas fisik menjadi berkembang. Apabila dinilai secara umum mengenai perkembangan minat melakukan aktivitas fisik pada anak- anak, dapat dilihat adanya kecenderungan grafik yang selalu meningkat, namun

(10)

kecepatan peningkatan tidak sama. Minat berkembang dengan cepat pada tahun- tahun terakhir masa anak besar dan awal masa adolesensi. Kecenderungan seperti ini terjadi baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Seperti halnya menurut Espenschade dan Eckret, 1980 dalam Sugiyanto, 1998) yang dituangkan dalam bentuk grafik berikut ini:

Gambar 2.2 grafik perkembangan minat anak besar laki-laki

(11)

commit to user

Gambar 2.3 grafik perkembangan minat anak besar perempuan

Di atas diterangkan grafik minat anak besar, aktivitas olahraga menunjukan minta yang paling tinggi, dengan minta yang makin besar terhadap aktivitas fisik

sesudah umur sembilan tahun, maka kemungkinan untuk meningkatkan kualitas kemampuan fisik dan geraknya akan menjadi besar pula.

Ada beberapa sifat pada anak besar untuk melakukan aktivitas fisik, antara lain:

1. Kemampuan memusatkan perhatian pada suatu macam aktivitas yang sedang dilakukan meningkat.

2. Semangat untuk mencari pengalaman baru cukup tinggi.

3. Perkembangan sosialnya makin baik (bermain bersama-sama).

(12)

4. Perbedaan perilaku antara anak laki-laki dan perempuan semakin jelas dan kecenderungan kurang senang untk bermain bersama lawan jenis.

5. Semangat untuk menguasai suatu bentuk aktivitas tertentu dan semangat berkompetensi tinggi.

Dari faktor-faktor di atas ditunjang pula dengan sifat psikoogis dan social anak besar, antara lain:

1. Sifat psikologis dan social yang menonjol pada anak besar usia 9 tahun a) Imajinatif serta menyenangi suara dan gerak ritmik

b) Menyenangi pengulangan aktivitas c) Menyenangi aktivitas kompetitif d) Rasa ingin tahu besanya

e) Selalu memikirkan sesuatu yang dibutuhkan

f) Lebih menyenangi aktivitas kelompok daripada individual

g) Meningkat minatnya untuk terlibat dalam permainan yang diorganisir h) Cenderung membandingkan dirinya dengan temanya

i) Mudah gembira karena pujian j) Senang menirukan idolanya

k) Selalu menginginkan peretujan orang dewasa

2. Sifat psikologis dan social yang menonjol pada anak besar usia 10 sampai 12 tahun

a) Laiki-laki dan perempuan menyenangi permainan aktif b) Minta terhadap orang kompetitif meningkat

c) Minat terhadap permainan yang lebih terorganisasi meningkat

(13)

commit to user

e) Selalu berusaha berbuat sesuatu untuk memperoleh perhatian orang dewasa

f) Memiliki kepercayaan yang tinggi

g) Memperoleh kepuasan yang besar melalui kemampuan mencapai sesuatu

h) Pemujaan kepahlawanan kuat i) Mudah gembira

j) Kondisi emosional tidaj stabil

k) Mulai memahami arti waktu dan ingin mencapai sesuatu pada waktunya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa aktivitas-aktivitas gerak yang diperlukan anak besar, antara lain:

1. Aktivitas yang menggunkan ketrampilan untuk mencapai tujuan tertentu 2. Aktivitas secara beregu

3. Aktivitas mencoba-coba

4. Aktivitas fisik untuk meningkatkan fisik dan ketrampilan Sumber: Sugiyanto, 1998

3. Perkembangan keseimbangan anak a. Keseimbangan

Balance atau keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan sistem neuromuscular kita dalam kondisi statis, atau mengontrol sisitem

(14)

neuromuscular tersebut dalam suatu posisi atau sikap yang efisien selagi kita bergerak ( Barrow dan McGee : 1979). Menurut Oxendine (1968), balance adalah

“ Ease in maintaining and controlling body position “ atau mudahnya orang untuk mengontrol dan mempertahan posisi tubuh. Jadi ada dua keseimbangan :

a) Keseimbangan Statis (static balance) dalam static balance, ruang geraknya biasanya sangat kecil, misal berdiri di atas dasar yang sempit atau balok keseimbangan, rel kereta api, melakukan handstand

b) Keseimbangan Dinamis (dynamic balance), yaitu kemampuan orang untuk bergerak dari satu titik ke titik yang lain dengan mempertahankan keseimbangan (equilibrium), misalnya menari, latihan kuda kuda atau palang sejajar.

Keseimbangan adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankam posisi, dalam bermacam-macam gerakan, mereka merupakan semua gerakan yang dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Mempertahankan keseimbnagan dipengaruhi oleh penglihatan, perabaan, dan rangsangan vertibular (David L, Gallahue, 1985)

Penglihatan atau pandangan memegang peranan penting, dalam semua gerakan anak-anak usia muda. Cratly dan Nartin, 1969, menemukan bahnwa anak- anak wanita usia 6 tahun kebawah tidak dapat mempertahankan keseimbangan dengan berdiri diatas satu kaki, dengan mata tertutup. Tetapi mulai usia 7 tahun mereka dapat melakukanya, dan makin usia bertambah makin baik keseimbangannya (David L, Gallhue, 1985). Dengan mata terbuka anak-anak dimungkinkan memusatkan perhatianya pada satu titik, dalam mempertahankan

(15)

commit to user

gerak tubuh secara visual, selama melakukan keseimbangan statis dan dinamis.

Keseimbangan Statis, adalah kemampuan tubuh mempertahankan keseimbangan dalam posisi tetap (De Oreo, 1980) menyatakan dalam hasil penelitianya bahwa tidak terdapat perbedaan menyolok antara kemampuan mempertahankan keseimbangan anak laki laki dan perempuan, dibandingkan tugas kemampuan gerak yang lainya.

Keseimbangan Dinamis memiliki berbagai pengertian yang akan mempermudah dalam melakukan penelitian terhadap keseimbangan, pengertian dari keseimbangan dinamis adalah kemampuan mempertahankan keseimbangan pada waktu melakuakan gerak dari satu posisi ke arah posisi lain.

Terminologi “balance” dan “equilibrium” sering digunakan secara arti yang sama. Balance dapat dimasukkan sebagai proses dimana “body’s equilibrium”

dikontrol untuk tujuan tertentu ( Kreighbauum & Barthels, 1985 ). Balance didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengontrol tubuh dan center of gravity secara relatif pada “based support” yang digambarkan sebagai “family adjustment” yang diperlukan agar dapat menjaga posture dan gerakan. Family adjusment ini mempunyai 3 tujuan, yaitu : 1) untuk mensupport kepala dan tubuh melawan gravitasi dan tenaga/kekuatan dari luar, 2) untuk menjaga “centre of the body mass”/CBM ( pusat massa tubuh ) sesuai dengan alignment dan balance diatas “based support”, dan 3) untuk menstabilkan bagian tubuh dimana anggota tubuh yang lain bergerak atau berpindah ( Ghez, 1991 ).

(16)

David dan Gallahue (1985), menyatakan bahwa keseimbangan adalah kemampuan tubuh untuk mempertahankan posisi dalam bermacam-macam gerakan, yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu penglihatan, perabaan, dan rangsangan vestibular.

Menurut (Suhartono, 2005) keseimbangan postural adalah kemampuan tubuh untuk memelihara pusat dari massa tubuh dengan batasan dari stabilitas yang ditentukan oleh dasar penyangga. Pusat massa tubuh adalah titik dimana jumlah gaya yang bekerja sama dengan nol. Pada orang normal, pusat massa tubuh terlatak di depan vertebra sacral ke-2 atau berada 55-57% dari tinggi badan seseorang di atas tanah. Batasan stabilitas adalah tempat pada suatu ruang dimana tubuh dapat menyangga posisi tanpa berubah dari dasar penyangga.

Keseimbangan melibatkan berbagai gerakan di setiap segmen tubuh dengan di dukung oleh sistem muskuloskleletal dan bidang tumpu. Kemampuan untuk menyeimbangkan massa tubuh dengan bidang tumpu akan membuat manusia mampu untuk beraktivitas secara efektif dan efisien.

Klasifikasi keseimbangan postural dapat berdasarkan klasifikasi diklasifikasikan menjadi dua, yaitu (Suhartono, 2005)

1) Keseimbangan statik.

Keseimbangan statik adalah suatu keadaan dimana seseorang dapat memelihara keseimbangan tubuhnya pada suatu posisi tertentu selama jangka waktu tertentu. Misalnya pada anak yang menirukan patung.

(17)

commit to user

Keseimbangan dinamik merupakan keseimbangan pada saat tubuh melakukan gerakan atau saat berdiri di atas landasan yang bergerak (dynamic standing) yang akan menempatkannya dalam kondisi yang tidak stabil, dan pada keadaan ini kebutuhan akan kontrol keseimbangan postural semakin meningkat.

Misalnya keseimbangan saat berjalan, naik di atas perahu, ataupun berlari di atas treadmill.

Keseimbangan merupakan interaksi yang kompleks dari integrasi/interaksi sistem sensorik (vestibular, visual, dan somatosensorik termasuk proprioceptor) dan muskuloskeletal (otot, sendi, dan jar lunak lain) yang dimodifikasi/diatur dalam otak (kontrol motorik, sensorik, basal ganglia, cerebellum, area asosiasi) sebagai respon terhadap perubahan kondisi internal dan eksternal. Dipengaruhi juga oleh faktor lain seperti, usia, motivasi, kognisi, lingkungan, kelelahan, pengaruh obat dan pengalaman terdahulu.

Keseimbangan merupakan penyebab utama yang sering mengakibatkan seorang lansia mudah jatuh. Keseimbangan merupakan tanggapan motorik yang dihasilkan dari berbagai faktor, diantaranya input sensorik dan kekuatan otot.

Keseimbangan juga bisa dianggap sebagai penampilan yang tergantung atas aktivitas atau latihan yang terus menerus dilakukan. Penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan menurun dengan lanjutnya usia, yang bukan hanya sebagai akibat menurunnya kekuatan otot atau akibat penyakit yang diderita. Penurunan keseimbangan ini bisa diperbaiki dengan berbagai latihan keseimbangan.

(18)

Mekanisme keseimbangan postural menurut Suhartono (2005:23) mekanisme keseimbangan postural membutuhkan kerjasama dan interaksi dari tiga komponen, yaitu:

1) Sistem Sensori Perifer

Sistem sensori utama terkait dengan keseimbangan postural meliputi sistem visual, vestibular dan proprioseptif (Suhartono,). Gangguan visual yang dapat meningkatkan resiko jatuh, misalnya katarak (Hazzard,). Manula umumnya mengalami perubahan struktur mata. Salah satu nya adalah atropi dan hialinisasi pada muskulus siliaris yang dapat meningkatkanamplitudo akomodasi. Hal ini dapat meningkatkan ambang batasvisual sehingga dapat mematahkan impuls afferen yang kemudian dapat menurunkan visual manula, dan pada akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan postural mereka. Selain itu juga terjadi perubahan lapang pandang, penurunan tajam penglihatan, sensitivitas penglihatan kontras akibat berkurangnya persepsi kontur dan jarak. Penurunan tajam penglihatan terjadi akibat katarak, degenerasi makuler, dan penglihatan perifer menghilang.

Reseptor visual ini memberikan informasi tentang orientasi mata dan posisi tubuh atau kepala terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Gangguan keseimbangan akan tampak lebih jelas lagi jika impuls afferen untuk visual ditiadakan, misalnya pada saat mata tertutup, maka kelihatan ayuanan tubuh (sway) menjadi berlebihan.

2) Sistem efektor

Tugas utama dari sistem efektor adalah mempertahankan pusat gravitasi tubuh / Center Of Gravitation (COG). Dimana tugasnya meliputi duduk, berdiri, atau berjalan. Dalam posisi berdiri respon motor (effector) mempertahankan atau

(19)

commit to user

Gerakan dilakukan oleh suatu kelompok sendi dan otot dari kedua sisi tubuh, maka komponen efektor yang normal harus ada supaya dapat melakukan gerakan keseimbangan postural yang normal. Komponen efektor yang dibutuhkan adalah LGS (Lingkup Gerak Sendi), kekuatan dan ketahanan (endurance) dari kelompok otot kaki, pergelangan kaki, lutut, pinggul, punggung, leher, dan mata. Gangguan pada komponen efektor akan mempengaruhi kemampuan dalam mengontrol postur sehingga akan terjadi gangguan keseimbangan postural.

Kontrol sikap yang baik harus mampu mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpuan saat statik maupun dinamik. Tubuh harus mampu mengatasi pergeseran pusat gravitasi, baik oleh kemampuan sendiri maupun pengaruh dari luar tubuh. Ada tiga komponen yang berperan dalam mempertahankan keseimbangan, yaitu : sistem informasi tentang posisi tubuh dan hubungannya dengan ruangan. Hal ini dilakukan oleh sistem sensorik, antisipasi tubuh untuk dapat sedikit banyak memberikan respon secara efektif dan tepat waktu ( central processing), pelaksanaan respon melalui sistem efektor, yang meliputi kekuatan, luas gerak sendi, fleksibilitas dan stamina (Gueccione, 1993)

a. Sistem Informasi

Input sensorik diperoleh dari visual, vestibular, dan sistem somatosensori.

Komponen visual terdiri dari kemampuan membedakan bentuk, kemampuan membedakan pola dan bayangan, kemampuan melihat dari samping, dan kemampuan membedakan jarak.

(20)

Sistem vestibular memberikan informasi ke CNS tentang gerakan dan posisi kepala. Masukan dari vestibular dimaksudkan untuk menimbulkan gerak mata dan respon sikap saat ada gerakan kepala dan membentu mengatasi perbedaan antara gambaran visual dan gerak yang sebenarnya. Informasi dari vestibular akan berinteraksi dengan informasi visual dan somatosensori untuk mengontrol sikap tubuh. Somatosensoru meliputi input propioceptive yang berasal dari sendi, tendon, dan otot. Informasi yang disampaikan ke CNS berkenaan dengan gerak tubuh.

b. Central Processing

Central processing merupakan proses menata respon sikap. Proses ini memeta lokasi pusat gravitasi dan mengorganisasi respon terhadap gangguan balance dengan cara memprogram strategi sensorimotor. Strategi tersebut didasarkan pada biomekanik, informasi sensorik, lingkungan, dan pengalaman sebelumnya.

Respon balance terpicu oleh situasi feedback dan feedforward. Feedback adalah situasi dimana tubuh terganggu oleh faktor eksternal, misalnya tergelincir, terdorong. Pusat gravitasi tergeser dan CNS berdasarkan informasi sensorik mengatur respon sikap untuk mengembalikan pusat gravitasi. Respon tersebut dapat protektif atau korektif. Feedforward merupakan situasi dimana CNS menyiapkan respon sikap dalam mengantisipasi gangguan pusat gravitasi, misalnya menangkap bola atau mengangkat kedua tangan. Gerakan menangkap bola merupakan pergeseran pusat gravitasi secara voluntary, tetapi respon sikap

(21)

commit to user

gravitasi sehingga gerakan dapat berlangsung (Sri Mardiman, 2003).

c. Komponen efektor

Komponen efektor merupakan perangkat biomekanik untuk merealisasikan respon yang telah terprogram di pusat. Faktor-faktor seperti lingkup gerak sendi, kekuatan otot, alignment sikap dan stamina mempengaruhi kapasitas seseorang dalam merespon gangguan keseimbangan. Kelemahan otot akan menyebabkan seseorang mudah jatuh. Ada 3 strategi dasar yang merupakan respon normal terhadap gangguan keseimbangan (Cohen, 1993) yaitu strategi ankle, strategi hip, dan strategi stepping. Strategi ankle digunakan pada gangguan balance yang kecil.

Pusat gravitasi tergeser ke depan atau ke belakang dan badan bergoyang pada ankle sebagai fulkrum dalam usaha membawa pusat gravitasi kembali pada bidang tumpuan.

Strategi hip digunakan apabila gangguan keseimbangan cukup besar, berdiri dengan bidang tumpuan yang sempit atau tidak stabil. Dalam hal ini gangguan terjadi pada sendi hip.

Strategi stepping digunakan pada situasi dimana pusat gravitasi bergeser keluar dari bidang tumpuan. Strategi ini diperlukan untuk mengembalikan balance, karena strategi ankle dan strategi hip tidak mampu mengembalikan pusat gravitasi pada bidang tumpuan ( Sri Mardiman, 2003).

(22)

b. Anak Sekolah Dasar 1) Jenis kelamin

Menurut Bompa (1994:318) menyebutkan, “Age and sex affect balance to the extent that younger individuals and girls as opposed to boys, seem to be more balancee.” Bahkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Phillips (1955), Kirchner dan Glines (1957), dalam Bloomfield, dkk (1994:212) menyebutkan,

“Females appear to be more balancee with smaller bones and less musculature than males.” Jadi maksud penjelasan di atas ialah wanita lebih seimbang daripada laki-laki karena tulang-tulangnya lebih kecil dan otot-ototnya lebih sedikit daripada laki-laki. Jenis kelamin (bahasa Inggris: sex) adalah kelas atau kelompok yang terbentuk dalam suatu spesies sebagai sarana atau sebagai akibat digunakannya proses reproduksi seksual untuk mempertahankan keberlangsungan spesies itu. (http://id.wikipedia.org/wiki/Jenis_kelamin).

Menurut Hungu (2007) jenis kelamin (seks) adalah perbedaan antara perempuan dengan laki-laki secara biologis sejak seseorang lahir. Seks berkaitan dengan tubuh laki-laki dan perempuan, dimana laki-laki memproduksikan sperma, sementara perempuan menghasilkan sel telur dan secara biologis mampu untuk menstruasi, hamil dan menyusui. Perbedaan biologis dan fungsi biologis laki-laki dan perempuan tidak dapat dipertukarkan diantara keduanya, dan fungsinya tetap dengan laki-laki dan perempuan pada segala ras yang ada di muka bumi.

2) Umur (anak besar)

Anak besar adalah anak yang berusia antara 6 sampai dengan 10 atau 12 tahun (Sugiyanto dan Sudjarwo, 1992). Menurut penelitian Valdiavia (2006)

(23)

commit to user

berbeda pada anak usia 7 – 8 tahun. Terlihat perbedaanya pada saat umur 10-12 tahun dengan perbedaan yang tidak terlalu besar. Usia 6 tahun perkembangan keseimbangan akan berbeda dengan anak yang berusia 7 tahun yang sedikit lebih baik keseimbnaganya, sedang pada anak berusia 8 tahun akan berbeda dengan anak yang berusia 9 tahun. Pada usia 10 sampai 12 tahun keseimbangan anak akan mengalami perkembangan yang melambat, akan kembali normal pada usia berikutnya.

3) Karakter anak laki-laki dan perempuan

Penelitian longitudinal klasik yang dilakukan oleh Clarke (1971) memanfaatkan delapan belas kabel tensiometer dan mengungkapkan penambahan kekuatan tahunan pada anak laki-laki usia 7 hingga 17 tahun. Sedangkan Setelah usia 12 atau 13, anak perempuan cenderung mengalami perubahan secara mencolok dibandingkan dengan anak laki-laki pada tingkat kekuatan. Menurut Corbin (1980), anak perempuan yang tidak dilatih akan terus mengalami penurunan pada usia ini, sedangkan anak laki-laki akan terus meningkat meskipun tanpa latihan. Ada kemungkinan bahwa kekuatan anak laki-laki dan perempuan sebelum masa sekolah adalah sama, dengan sedikit perbedaan bahwa anak laki- laki lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan. Sayangnya, tidak ada yang tahu tentang kekuatan otot anak-anak pada masa ini.

(24)

4. Anak usia 7-12 Tahun

Secara garis besar ada lima fase perkembangan dalam hidup manusia, yaitu: 1) Fase sebelum lahir (prenatal), 2) Fase bayi (infant), 3) Fase anak-anak (childhood), 4) Fase adolesensi (adolescence), 5) Fase dewasa (adulthood) Sugiyanto, (1998:7). Secara lebih rinci anak-anak (childhood) terdiri dari dua fase yaitu fase anak kecil (early childhood) berkisar dari umur 1 atau 2-6 tahun dan fase anak besar (later childhood) berkisar umur 7-12 atau 12 tahun (Sugiyanto, 1998).

Berdasarkan priodisasi perkembangan usia anak besar antara 7-10 tahun atau 12 tahun. Periode ini merupakan periode lanjutan dari masa anak kecil. Pola pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada anak besar memiliki kecenderungan yang berbeda dengan perkembangan periode sebelum dan sesudahnya. Perbedaan terjadi pada kecepatan dan pola pertumbuhan yang berkaitan dengan proporsi ukuran bagian-bagian tubuh. Pada perisode anak besar munculah atau tampak adanya perubahan pada anak laki-laki dan perempuan ini terlihat pada masa-masa akhir.

Kemampuan fungsional tubuh sudah dapat dilihat pada masa anak-anak khususnya pada masa anak besar yaitu pada rentangan 7-12 tahun. Pada periode ini kecenderungan anak untuk tumbuh ke tipe tubuh tertentu mulai terlihat. Setiap tubuh mempunyai karakteritik tertentu yang ada hubunganya dengan kemungkinan kesesuaian menekuni cabang olahraga tertentu. Malina, Bouchard dan Bar-or (2004:83). Secara garis besar ada lima fase perkembangan dalam hidup manusia, yaitu: 1) Fase sebelum lahir (prenatal), 2) Fase bayi (infant), 3)

(25)

commit to user

(adulthood) Sugiyanto, (1998:7). Secara lebih rinci anak-anak (childhood) terdiri dari dua fase yaitu fase anak kecil (early childhood) berkisar dari umur 1 atau 2-6 tahun dan fase anak besar (later childhood) berkisar umur 7-12 atau 12 tahun (Sugiyanto, 1998).

Hal tersebut didukung oleh penyimpnan inormasi atau memory didalam otak anak besar tersebut. Usia-usia anak besar mempunyai mermory yang sangat bagus untuk feedbakkedalam ketrampilan. Hal penting dalam perkembangan motorik adalah kemampuan untuk memproses informasi yang datang dari system sensorik. Suatu model bagaimana informasi diproses mendapatkan fasilitasi yang besar dari penelitian mengenai motor skill learning dan performance. Model proses pengolahan informasi umumnya menunjukan komponen-komponen dari system proses pengolahan informasi yang saling berhubungan satu sama lain.

Komponen yang terlihat pada gambar tersebut lebih bersifat fungsional dari pada structural, karenanya model tersebut menunjukan suatu proses yang menghasilkan skill performance baik berdasarkan logical assessment dari kemampuan merespon atau integrasi proses. Proses ini tidak memerlukan bagian atau tidak berpusat pada system saraf.

Sebagai contoh bayangkan seorang pemain basket yang berusaha untuk melewati jajaran pemain lawan. Reseptor sensorisnya akan menerima stimulus dan mengubahnya menjadi informasi neural, yaitu stimulasi kinestetik berupa orientasi tubuh dan posisi ekstremitas, lampu sorot yang menandakan posisi dan gerakan pemain lawan dan gelombang suara di lingkungan sekitarnya. Input

(26)

sensoris ini akan ditahan dalam komponen sensory register dari memory. Pemain tersebut memiliki kemampuan menyaring sensory input dan hanya mengambil informasi yang berguna untuknya. Ia tidak hanya pasif tetapi dapat menggunakan mata, telinga, dan tubuhnya untuk menerima semua stimulus yang lebih baik.

Signal-signal neural tersebut harus diubah menjadi suatu kode-kode yang dapat diproses di otak dan dapat disimpan dalam memory. Hal ini mencakup proses pengelompokan signal. Selanjutnya signal-signal dari berbagai system sensoris tersebut harus disatukan untuk membentuk suatu persepsi. Persepsi yang baru ini harus diinterprestasi dan dianalisa serta dibandingkan dengan memori lain yang sebelumnya telah ada. Berdasarkan analisa ini maka kita dapat memilih skema respon yang dikehendaki. Secara teori, skema adalah seperangkat cara-cara yang mengatur suatu kondisi tertentu. Namun skema bukanlah respon motorik yang terekam untuk setiap kondisi stimulus yang khas. Skema lebih pada pengaturan system. Pemain basket tersebut akan memilih respon dan waktu yang tepat berdasarkan pengalaman terdahulu mengenai cara melewati pemain lawan. Skema akan membuat pemain mengatur kecepatan, alur, tinggi, posisi dan hal-hal lain dari teman satu timnya. Selanjutnya proses ini akan berakhir pada penempatan satu alur/keterbatasan kapasitas.

1. Masa anak-anak

Perbedaan usia mempengaruhi pemilihan saat menyaring informasi (selective filter) dan komponen perhatian pada proses pengolahan informasi. Hal ini menyetakan bahwa kemampuan anak kecil lebih sedikit dibandingkan kemampuan orang dewasa dalam mengidentifikasi stimulus-stimulus pada

(27)

commit to user stimulus yang tidak relevan.

Faktor perbedaan usia dalam hal perhatian kemungkinan berhubungan dengan perbedaan usia, yang dalam hal ini adalah pengalaman, dimana orang dewasa banyak mengetahui dari pengalaman yang lalu mengenai stimulus mana yang berhubungan dengan rspon-respon-respon tertentu dan mana yang tidak.

Sedangkan pada anak-anak pengalamannya masih kurang. Pendidik dapat membantu anak dengan memberi tanda pada stimulus-stimulus yang berhubungan dengan tugas.

Secara perlahan anak akan menjadi lebih efisien dalam melakukan proses pengolahan informasi seiring dengan bertambahnya kematangan pada diri mereka. Hal ini dapat mempengaruhi peningkatan keterbatasan kapasitas anak, tetapi keragaman dari faktor lain dapat diatasi dengan baik. Salah satunya adalah faktor yang dapat memperbaiki kemampuan anak dalam mengintegrasikan informasi dari system sensorik yang berbeda dan memperbaiki perkembangan

„subroutines‟ untuk bagian dasar dari tugas yang kompleks.

a. Kegunaan Schemata

Sketsa awal dari model proses pengolahan informasi mencakup schemata/mengeneralisasikan program untuk memilih respon. Kita dapat berfikir mengenai pelaku (performer) yang memiliki program yang berisi perintah untuk mengkontraksikan otot yang diperlukan dalam menghasilkan respon motorik. Skema tersebut dapat diterapkan dalam berbagai cara tergantung kondisi lingkungan. Program schmeta ini dirancang berdasarkan

(28)

bagaimana otot berkontraksi, perintah, kekuatan dan bentuk temporal (Schimdt, 1977). Saat respon ini dipilih, kondisi awal, respon yang diinginkan, feedback yang diinginkan dari respon ini, dan gerakan yang dihasilkan akan berhubungan satu sama lain. Dan semakin banyak respon yang timbul, pelaku akan mencari hubungan abstrak antara respon yang diinginkan dengangerakan yang dihasilkan. Anak-anak hanay memiliki sedikit pengalaman untuk membangun hubungan ini. Schemata mereka tidak seakurat dan sekuat orang dewasa dalam beradaptasi dengan berbagai kondisi awal.

Hal tersebut menunjukkan bahwa akan lebih bermanfaat bagi anak untuk melakukan praktek dalam membentuk suatu skema yang baik dalam berbagai kondisi daripada menghindari keadaan dimana kondisi awalnya relatif sama.

b. Feedback

Feedback adalah salah satu faktor yang paling mempengaruhi skill performance. Hal ini terutama nyata bagi anak-anak pada fase awal pembentukan schemata untuk beragam kemampuan. Pada saat yang sama jelas bahwa anak-anak seringkali tidak mengenali stimulus yang relevan yang datang dipertengahan pandangan yang ada. Banyak orang mengira feedback berupa peringatan dari guru mengenai satu kesalahan, namun feedback yang baik adalah berupa informasi evaluasi kuantitas kesalahan dari sikap tunggal yang harus diatasi.

(29)

commit to user

Neuromuscular Control adalah keputusan untuk mengkontraksikan otot pada suatu bentuk, waktu, dan kondisi yang tepat. Williams (1981) mengidentifikasi 2 perubahan yang berhubungan dengan usia dalam Neuromuscular Control. Pertama adalah peningkatan produksi force. Schembes (1976) menemukan bahwa dibandingkan orang dewasa seorang anak akan menggunakan force yang berlebihan dan kadang-kadang otot-otot lain yang tidak diperlukan saat mereka mencoba menjaga keseimbangannya. Karena latihan diketahui dapat adpat merubah waktu pegnaktifan motor unit, kemungkinan anak akan belajar menyempurnakan produksi force melalui latihan. Simard (1969) menunjukan bahwa anak usia 3 dan 12 tahun dapat mempelajari beberapa derajat kontrol dalam menajga aktivitas motor unit.

Selain itu, terdapat hubungan usia dalam meningkatkan kemampuan untuk menginhibisi kontraksi otot, juga hal-hal yang diperlukan dari skill movement, karena kelompok otot yang berlawanan harus diinhibisi untuk menggerakkan otot utama.

d. Kecepatan Proses Informasi

Kecepatan memproses informasi meningkat seiring bertambahnya kematangan anak. Hal ini tampak walau dalam respon motorik yang sederhana seperti kecepatan mengerjakan suatu tugas. Waktu reaksiadalah waktu antara datangnya stimulus sampai awal terjadinya gerakan. Kecepatan maksimal dari respon inin meningkat dari umur 3 tahun sampai remaja. Peningkata ini termasuk juga waktu yang diperlukan untuk memproses input untuk

(30)

menghasilkan respon dalam tugas yang berkelajutan. Faktor-faktor yang mengenai proses di pusat (susunan saraf pusat) berperan dalam lambatnya kecepatan proses pada anak. Perhaian merupakan salah satu proses yang ada di susunan saraf pusat. Selain itu kecepatan adri respon motorik dapat dipilih dan hal itu merupakan fungsi usia. Namun lamanya waktu proses akan menurun dengan bertambahnya usia. Namun jika perhatian pada faktor pusat, memory dan pemilihan respon dapat mempengaruhi lambatnya kecepatan proses pada anak, maka tidak demikian dengan faktor perifer.

5. Kondisi lingkungan kabupaten Demak a) Letak Geografis

Kabupaten Demak merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah yang terletak diantara dua Kota besar yaitu Kota Semarang dan Kabupaten Kudus, dengan banyak ditemukan persawahan yang luas dan pedesaan yang memiliki jarak yang jauh anatara satu kecamatan dengan kecamatan yanga lain. Pedesaan dengan mata pencarihan terbesar sebagai petani di persawahan yang ada di sekitar tempat tinggal.

b) Luas Wilayah

Luas wilayah Kabupaten Demak adalah 56.367,66 Ha, yang terdiri dari luas tanah persawahan, perkebunan milik pribadi serta jalan dan perumahan.

Memiliki empat belas kecamatan yang tersebar di kabupaten Demak dengan jarak antara satu kecamatan dengan kecamatan yang lain berjauhan.

(31)

commit to user Sebelah Utara : Kabupaten Semarang Sebelah Timur : Kabupaten Kudus Sebelah Selatan : Kabupaten Jepara Sebelah Barat : Kota Grobokan

 Letak Daerah : Kabupaten Demak terletak antara 900 – 1200 60‟ Bujur Timur dan 70 28‟ - 70 46‟ Lintang Selatan

 Ketinggian Daerah :

Ketinggian rata-rata Kabupaten Demak 432 m di atas permukaan air laut.

Adapun tempat olahraga di sekalahan kabupaten Demak, mulai dari sekolah yang terletak di desa sampai kota mempunyai lahan tersendiri atau bekerjasama dengan penduduk setempat antara lain Lapangan sepak bola, bak lompat tinggi dan jauh, halaman sekolah yang luas. Semua itu dikenakan untuk kegiatan olahraga sang anak didik usia 7-12 tahun, untuk menunjang gerakan fisik sang anak, dalam gerakan itu secara otomatis bersangkutan dengan fleksibilitas sang anak, semakin gerakan sang anak luas atau sering gerak, anak usia 7-12 tahun akan mempunyai fleksibiltas persendian yang bagus pula

B. Penelitian yang relevan

Penelitian yang memiliki relevansi dengan penelitian ini diantaranya yaitu:

1. I Nyoman Sudarmada tahun 2010 tentang perkembangan presentase lemak tubuh, ukuran anthropometri dan kemampuan loncat tegak pada anak usia 6-

(32)

12 tahun ditinjau dari jenis kelamin dan ketinggian wilayah tempat tinggal di Bali. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil adanya perbedaan presentase lemak tubuh, ukuran anthropometri dan kemampuan loncat tegak pada anak usia 6-12 tahun ditinjau dari jenis kelamin dan ketinggian wilayah tempat tinggal di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian perkembangan dengan menggunakan metode kros-seksional.

2. Galih fajar bahari tahun 2011 tentang perkembangan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan pada anak usia 6-12 tahun ditinjau dari jenis kelamin dan. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil adanya perbedaan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan pada anak usia 6-12 dari jenis kelamin dan.

Penelitian ini merupakan penelitian perkembangan dengan metode kros- seksional.

C. Kerangka berpikir

Kerangka berfikir merupakan argumentasi teoritik terhadap hipotesis yang diajukan dan langkah-langkah metodologis yang akan dijalankan dalam penelitian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perkembangan keseimbangan Statis dan keseimbangan Dinamis pada anak laki- laki dan Perempuan usia 7-12 tahun di daerah Kabupaten Demak. Ditinjau dari masalah di atas maka perkembangan keseimbangan anak usia 7-12 tahun ditinjau dari jenis kelamin adalah metode yang dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan keseimbangan statis dan dinamis untuk anak laki-laki dan perempuan.

Perkembangan keseimbangan anak usia 7-12 tahun ditinjau dari jenis kelamin

(33)

commit to user

perkembangan keseimbangan anak usia 7-12 ditinjau dari jenis kelamin, sehingga perlu pemahaman tentang faktor yang menentukan hasil dari perkembangan keseimbangan anak usia 7-12 tahun ditinjau dari jenis kelamin yang dapat menentukan tercapainya tujuan dari penelitian perkembangan. Dengan survei tes keseimbangan maka langkah-langkah metodologis yang sesuai untuk mengetahui perkembangan keseimbangan anak usia 7-12 tahun di tinjau dari jenis kelamin di Kabupaten Demak.

Perkembangan keseimbangan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang telah diungkapkan di atas tadi, salah satu faktornya adalah jenis kelamin, jenis kelamin sendiri ada dua yaitu laki-laki dan perempuan, laki-laki akan lebih agesif dalam bergerak dan penasaran terhadap gerakan-gerakan yang berada dihadapannya, sering kali anak laki-laki akan menirukan gerakan binatang atau gerakan bintang kesukaannya dan gerakan tersebut dieksplorer ke hadapan teman-teman sebayanya, sedangkan wanita akan lebih diam atau sedikit bergerak, karena wanita mempunyai sifat malu itupun juga karena lingkungan semata.

keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan sistem neuromuscular kita dalam kondisi statis, atau mengontrol sistem neuromuscular tersebut dalam suatu posisi atau sikap yang efisien selagi kita bergerak, dalam kekuatan gerak laki dan perempuan sangat berbeda karena pria lambat disbanding dengan perempuan, pria dalam berkembang pesat umur 11 sampai 12 tahun dan wanita umur 9 sampai 10 tahun, wanita akan lebih cepat 2 tahun daripada pria sejalan

(34)

dengan kecendrungan umum di mana anak perempuan secara fisik dan fsiologis lebih awal 12 tahun.

Dalam penelitian ini, peneliti ingin meneliti perkembangan keseimbangan anak besar usia 7-12 tahun dimana keseimbangan ini sangat berperan besar dalam olahraga maupun kehidupan sehari-hari sehingga penelitian ini dapat membantu untuk mengetahui keseimbangan anak usia besar ditinjau dari jenis kelamin, untuk mengetahui perkembangan tersebut menggunakan jenis penelitian perkembangan (developmental research) dengan menggunakan metode silang singkat (cross- sectional studies). menggambarkan perkembangan keseimbangan anak besar usia 7-12 tahun. Menurut Suharsimi Arikunto (2009) dengan menggunakan metode ini subjek yang baru pada tahun berikutnya akan diganti dengan subjek lain yang umurnya bertingkat.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa kimia yang terdapat dalam minyak daging buah pala yang mempunyai potensi sebagai antijamur serta potensi minyak

(4) Dalam hal setelah dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2), orang perseorangan dan Korporasi Non-Bank tetap melanggar

Pada tanggal 2 Januari 2019 Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Tinggi DKI Jakarta yang amarnya menerima banding dari Penasihat Hukum Syafruddin

Pada saat kegiatan pembelajaran siklus 1 pertemuan 1 dan 2 berlangsung, peneliti bertugas mengajar dan menunjuk rekan untuk mengamati jalannya pembelajaran yang sedang

Dari hasil penelitian keausan rata-rata, kampas rem variasi magnesium oxide (MgO) pada kondisi pengujian kering dan air garam nilai keausan rata-rata yang mendekati

Tata Usaha pada UPTD Tindak Darurat Dinas Cipta Karya dan Tata Kota Samarinda Eselon

satu elemen subak sebagai sistem sosial, diartikan sebagai suatu kedudukan yang menggambarkan tingkat prestise atau kekuasaan, yang membedakan antara anggota. yang satu

Dari hasil prediksi aplikasi DBD, walaupun data cuaca yang digunakan sama dengan yang digunakan dalam memprediksi DBD di wilayah kecamatan Kebayoran baru, akan tetapi untuk