• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP UKSW 1, 2 Dosen Pendidikan Guru PAUD FKIP UKSW 2 ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP UKSW 1, 2 Dosen Pendidikan Guru PAUD FKIP UKSW 2 ABSTRAK"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

727

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

TALKING STICK PADA SISWAS KELAS V SDN SUMOGAWE 04 KECAMATAN GETASAN KABUPATEN SEMARANG

Serafina Desy Natalia Charismasari1, Tritjajo Danny Soesilo2

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga 50711

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP UKSW 1,

2Dosen Pendidikan Guru PAUD FKIP UKSW 2

E-mail: [email protected] 1, [email protected] 2

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan hasil belajar Matematika dengan pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick pada siswa kelas V SDN Sumogawe 04. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari 2 siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah 20 siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan non tes. Sedangkan teknik analisis data adalah analisis diskriptif dengan indikator keberhasilan minimal 80% siswa hasil belajar pada mata pelajaran Matematika mencapai KKM 70.Hasil penelitian ini dapat dilihat dari nilai hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang semakin meningkat. Nilai prasiklus menunjukkan dari 20 siswa hanya 8 siswa yang tuntas (40%) Setelah tindakan pada siklus I meningkat menjadi 13 siswa yang tuntas (65%) dan hasil belajar pada siklus II meningkat menjadi 18 siswa yang tuntas (90%).

Kata Kunci : Pembelajaran Kooperatif tipeTalking Stick, Hasil Belajar, Perkalian Bilangan Pecahan.

(2)

728 PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan sarana yang berfungsi untuk mengembangkan kecerdasan intelektual dan kecermelangan akademik melalui pendidikan disiplin ilmu serta meningkatkan kualitas manusia, baik kualitas dari segi kognitif (pengetahuan), kualitas psikomotorik (keterampilan) maupun kualitas afektif (sikap) sehingga dapat tercipta bangsa yang maju dan berkualitas serta cerdas. Selain itu pendidikan merupakan kegiatan formal yang melibatkan guru, peserta didik, kurikulum, evaluasi, administrasi yang memproses peserta didik menjadi lebih bertambah pengetahuan, skill dan nilai kepribadiannya dalam suatu keteraturan kalender akademik. Pendidikan juga berakar pada budaya bangsa untuk membangun kehidupan bangsa masa kini dan masa mendatang.

Seperti yang dikemukakan oleh Winkel (dalam Muhibbin Syah, 2016: 33)

“Pendidikan adalah kegiatan membimbing anak manusia yang disengaja dalam bentuk perbuatan, bantuan, dan pimpinan orang dewasa kepada anak- anak menuju pada kedewasaan dan mandiri”. Berdasarkan pendapat Winkel tersebut menunjukkan bahwa dalam proses pengembangan pengetahuan, tingkah laku, manusia agar lebih terarah perlu adanya pembimbing yang profesional seperti guru. Pendidik yang professional dalam kegiatan belajar mengajar mampu menyampaikan materi- materi ajar secara optimal kepada peserta didik khususnya dalam bidang kependidikan. Materi-materi ajar yang terlalu sulit dapat mengakibatkan peserta didik menjadi malas, takut dan kurang berminat terhadap pelajaran. Untuk mengurangi penyampaian materi ajar yang terlalu sulit diterima oleh peserta didik maka diperlukan adanya pemilihan metode serta media yang tepat untuk membantu dan memperlancar guru dalam penyampaian materi-materi ajar.

Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar tetapi juga sebagai seorang pendidik yang memberikan pengarahan serta menuntun siswa dalam belajar. Bell Gredler (1986:1) dalam Optimalisasi Belajar dan Pembelajaran (Kosasih, 2013)

berpendapat belajar sebagai proses memperoleh berbagai kemampuan, ketrampilan dan sikap. Belajar sebagai proses mengubah tingkah laku dan skema pengetahuan dari segi kuantitas dan kualitas sebagai hasil dari pengalaman dan interaksi baik di dalam pendidikan formal maupun informal.

Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa. Oleh karena itu guru sebaiknya menjalin hubungan yang baik dengan siswa agar dalam proses belajar mengajar hasil belajar yang dicapai siswa meningkat. Guru juga harus memiliki kompetensi dibidangnya dan mampu memvariasikan metode pelajaran agar tidak menjadi sesuatu yang konvensional, sehingga hasil yang dicapai juga maksimal.

Seperti pembelajaran matematika menurut Soedjadi matematika memiliki objek tujuan yang abstrak karena berdasar fakta, konsep, operasi dan prinsip. Menurut James dan James dalam (Ruseffendi, 1998),

“matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan,besaran dan konsep- konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi kedalam tiga bidang yaitu, aljabar, analisis, geometri. “

Dalam Permendiknas (2006) mata pelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut : 1. Memahami konsep matematika,

menjelaskan keterkaiatan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma,secara luwes, akurat, tepat dan efisien dalam pemecahan masalah.

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan modeldan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain

(3)

729 untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dari hasil observasi yang telah dilakukan di SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang Guru cenderung menggunakan metode ceramah dan dalam proses kegiatan belajar mengajar pembelajaran hanya terpusat pada guru dan siswa kurang tertarik dengan pembelajaran matematika itu sendiri karena bagi mereka materinya terlalu sulit, sehingga pembelajaran tidak efektif dan kurang maksimal karena tidak adanya antusias dari para siswa terhadap materi pelajaran. Hal tersebut terjadi pada siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2016/2017, pada pembelajaran matematika tentang perkalian dan pembagian bilangan pecahan menunjukkan rendahnya penguasaan tentang materi pelajaran. Hanya 3 dari 20 siswa yang telah mempunyai nilai lebih dari 80, 6 siswa yang mempunyai nilai 60 – 70, dan 11 siswa lainnya dibawah 60 dan ini berarti hasil belajar pada pelajaran tersebut belum mencapai nilai diatas KKM yaitu 70.

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa perlu diciptakan situasi yang menyenangkan dan merangsang siswa untuk aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Ada banyak model yang dapat membantu guru dalam meningkatkan keaktifan maupun hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif tipe talking stick. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang didasarkan pada pandangan kontruktivisme.

Pendekatan konstruktivisme dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling bekerjasama mendiskusikan konsep-konsep dalam kelompok- kelompok kecil. Anita Lie (2008:7) menyatakan bahwa suasana

belajar kooperatif menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik dari pada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisah- misahkan siswa. agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, siswa diajarkan ketrampilan khusus seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu yang lebih lemah.

Agar terlaksana dengan baik dan efisien strategi ini dilengkapi dengan LKS yang berisi tugas atau pertanyaan yang harus dikerjakan siswa. Selama bekerja dalam kelompok, setiap anggota kelompok memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dan memberikan tanggapan terhadap pendapat temannya. Pada akhirnya siswa diberikan evaluasi dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tes yang diberikan. siswa tidak boleh bekerjasama pada saat mengikuti evaluasi, pada saat ini mereka harus menunjukkan apa yang mereka pelajari sebagai individu.

Model pembelajaran Talking Stick adalah sebuah pembelajaran yang dilaksanakan dengan memberikan kesempatan dalam berpendapat, mengembangkan dan menumbuhkan rasa percaya diri. Model Talking Stick ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dan mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat serta mengembangkan sikap saling menghargai pendapat. Adapun Langkah- langkah penerapan model pembelajaran Talking Stick menurut Suyatno (2009:124) yaitu : 1. Guru menyiapakan sebuah tongkat.

2. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi pada buku pegangannya.

3. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahkan peserta didik untuk menutup bukunya.

4. Guru mengambil tongkat dan memberikan pada peserta didik, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan peserta didik yang memegang tongkat

(4)

730 tersebut harus menjawab pertanyaan, demikian seterusnya.

5. Guru memberikan kesimpulan.

6. Evaluasi.

7. Penutup.

Adapun kelebihan dari model pembelajaran Talking Stick ini adalah:

menguji kesiapan peserta didik dalam pembelajaran, melatih peserta didik memahami materi dengan cepat, memacu agar peserta didik lebih giat belajar.

Model pembelajaran ini memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri yang mana pendekatan tersebut ditujukan untuk menciptakan emosi dan sikap positif dalam belajar yang berdampak pada peningkatan kecerdasan otak.

Kelemahan model pembelajaran ini diantaranya membuat senam jantung, membuat peserta didik tegang, ketakutan akan pertanyaan yang akan diberikan oleh guru.

Berdasarkan uraian diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe talking stick pada siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang tahun ajaran 2016/2017.

METODE

Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe talking stick meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang tahun ajaran 2016/2017, dengan mengubah variabel bebas yaitu model pelajaran kooperatif tipe talking stick dan variabel terikat yaitu hasil belajar matematika. Jenis penelitian yang digunakan adalam penelitian tindakan kelas (PTK). Tahapan yang dilakukan penulis ada tahap pra siklus, siklus I, dan siklus II.

Tahap Pra siklus tahap dimana kondisi awal yang masih asli. Tahap siklus I terdapat rencana tindakan, palaksanaan tindakan, observasi, hasil tindakan siklus I, dan refleksi. Penulis merasa bahwa tahap siklus

I kurang maksimal dalam meningkatkan hasil belajar maka dari itu penulis melakukan penelitian tahap siklus II dengan tahapan yang sama dengan siklus I. Penulis berharap setelah melakukan penelitian dengan berbagai tahapan ini, diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas V pada mata pelajaran matematika. Subyek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang tahun ajaran 2016/2017 dengan jumlah siswa 20 orang.

Untuk menganalisa data ini peneliti menggunakan teknik deskriptif.

Analisis data dilakukan pada tiap data yang dikumpulkan baik data kuantitatif ataupun data kualitatif. Data kuantitatif adalah hasil belajar diperoleh dengan memberi tes pada siswa, data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan cara kuantitatif sederhana yakni dengan presentasi sedangkan Data kualitatif adalah data yang diperoleh dari proses belajar mengajar pada saat dilaksanakan tindakan kelas diambil dengan lembar observasi dan lembar pengamatan siswa. Data kualitatif dianalisis dengan membuat penilaian- penilaian kualitatif (kategori).

Dalam penelitian tindakan kelas ini, data dianalisis dengan perhitungan persentase dan rata-rata hasil belajar yang di capai oleh siswa. Dengan menggunakan rumus:

Dimana, KB : Ketuntasan belajar

T : Jumlah skor yang di peroleh siswa

Tt : Jumlah skor total Setelah dilakukan perhitungan terhadap presentase ketuntasan hasil belajar yang dicapai siswa, maka selanjutnya dilihat apabila ketuntasan belajar secara klasikal ≥ 80 % maka, suatu kelas dapat dikatakan tuntas belajarnya.

HASIL DAN DISKUSI

Penelitian dilakukan di kelas V Sekolah Dasar Negeri Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang dengan jumlah responden 20

(5)

731 siswa. Berdasarkan hasil belajar yang diperoleh sebelum pelaksanaan tindakan (prasiklus) diketahui bahwa hasil belajar yang diperoleh masih rendah karena masih terdapat 12 dari 20 siswa yang nilainya belum mencapai KKM 70. Oleh karena itu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran koopertif tipe Talking Stick sebanyak 2 siklus, setiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan, yaitu pertemuan I dan II. Setiap pertemuan terdiri dari kegiatan awal, inti dan kegiatan penutup yang masing- masing pertemuan berlansung selama 70 menit (2 jam pembelajaran). Untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa maka, diakhir pertemuan ke II siswa diberi tes formatif dan ternyata penerapan pembelajaran tipe Talking Stick dapat meningkatan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan hasil belajar yang diperoleh siswa.

Dari pengamatan terhadap proses pembelajaran pada siklus I dan Siklus II, guru telah melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick dengan baik.

Guru berhasil meningkatkan keaktifan dan antusiasme siswa terhadap materi pelajaran matematika yang terkesan menakutkan dan sulit bagi siswa. Pada siklus I masih banyak hal- hal yang masih kurang maksimal bahkan belum dilaksanakan oleh guru seperti kurangnya waktu dalam berdiskusi kelompok, dalam menjelaskan materi pelajaran terlalu cepat, dan kurang memperhatikan siswa dalam kegiatan diskusi sehingga keadaan kelas kurang kondusif serta tingkat pemahaman siswa terhadap materi masih cukup rendah.

Hasil analisa penilaian siklus I menunjukkan masih rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dari keseluruhan siswa kelas V yang berjumlah 20 orang yang mendapat nilai tuntas hanya 13 siswa dan yang belum tuntas ada 7 siswa dengan nilai rata- rata kelas 60,5. Dengan demikian peneliti merencanakan perbaikan pembelajaran siklus II.

Pada pembelajaran Siklus II, peneliti merancang pembelajaran yang lebih baik dengan persiapan yang lebih matang, sehingga pembelajaran berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan dan

diharapkan. Hasil analisa penilaian menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding dengan siklus I, karena dalam siklus II ini guru lebih giata dalam meningkatkan keaktifan dan antusiasme siswa dengan membagikan soal- soal untuk dikerjakan dan membimbing dalam proses pembelajaran dengan baik. Selain itu guru juga dalam menyampaikan materi lebih jelas dan tidak terlalu cepat. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick juga sangat berpengaruh dalam kegiatan belajar karena dengan permainan ini siswa akan lebih aktif belajar dan tidak takut berpendapat sehingga hasil belajar siswa akan meningkat. Berikut adalah tabel perkembangan penguasaan siswa terhadap pembelajaran matematika pada tahap prasiklus, siklus I dan Siklus II:

Tabel 1.

Perkembangan Penguasaan Pembelajaran Matematika Prasiklus,

Siklus I dan Siklus II

No Urai- an

Siswa yang Tuntas

Siswa yang belum Tuntas Fre-

kuen- si

%

Fre- kuen-

si

%

1 Pra siklus

8 40% 12 60

% 2 Siklus

I

13 65% 7 35

% 3 Siklus

II

18 90% 2 10

%

Dari tabel diatas digambarkan dalam bentuk grafik dibawah ini

Grafik 1. Perbandingan Tingkat Ketuntasan Pembelajaran Prasiklus, Siklus I dan

Siklus II

(6)

732 Berdasarkan tabel dan grafik diatas hasil perhitungan menunjukkan bahwa sebelum dilakukan perbaikan pembelajaran hasil belajar siswa kelas V SDN sumogawe 04 sangat rendah, dari 20 siswa hanya 8 siwa (40%) yang mendapat nilai diatas KKM dan 12 siswa (60%) masih belum mencapai KKM. Pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I dengan menggunakan pembelajaran talking stick pada mata pelajaran Matematika materi pokok mengubah pecahan kebentuk lain dan perkalian pecahan. Pada pertemuan ke II peneliti memberikan tes formatif sebagai evaluasi siklus I. Hasil analisa tes formatif siklus I menunjukkan hasil yang kurang memuaskan karena nilai terendah 30 yang diperoleh siswa dan nilai tertinggi 85. Dari 20 siswa yang mencapai KKM hanya 13 siswa dan 7 siswa belum dapat mencapai KKM diatas 70. Nilai rata- rata kels mencapai 64,5. Hasil analisa tes formatif siklus II menunjukkan peningkatan baik dalam proses pembelajaran maupun hasil belajar. Hal ini dapat dilihat dari hasil yang diperoleh siswa saat mengerjakan soal formatif siklus II. Dari 20 siswa kelas V 18 diantaranya mencapai nilai ketuntasan belajar dengan KKM (70) atau taraf serapnya mencapai 90% dengan nilai rata- rata 77,25. Ini terbukti bahwa hipotesa tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumogawe 04 dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick menjadikan hasil belajar siswa menjadi lebih baik dan bisa dikatakan berhasil.

KESIMPULAN

Penerapan pembelajaran Kooperatif tipe Talking stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang semester II tahun pelajaran 2016/2017. Hal ini dilihat dari pencapaian ketuntasan hasil belajar yaitu 90% siswa mampu mencapai hasil belajar diatas KKM atau diatas nilai 70.

Hal tersebut dibuktikan dengan analisa hasil evaluasi pembelajaran tiap siklus yang menunjukkan peningkatan nilai yang dicapai siswa sesuai dengan tingkat ketuntasan belajar yaitu pada prasiklus 8

siswa (40%),kemudian meningkat pada siklus I 13 siswa (65%) dan pada siklus II 18 siswa ( 90%).

Dengan kesempatan dan kewenangan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar maka yang diharapkan guru dapat berkreasi sebaik mungkin untuk menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran matematika sehingga pembelajaran tidak begitu membosankan sehingga siswa lebih aktif dan antusias dalam menerima materi pelajaran sehigga kompetensi yang diharapkan dapat tercapai.

Untuk itu penulis memberikan beberapa saran yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang dengan demikian model pembelajaran dapat bermanfaat dan dikembangkan guna meningkatkan hasil belajar serta keaktifan siswa.

a. Bagi Sekolah

Dalam interaksi kegiatan belajar mengajar, guru memegang peran utama untuk tercapainya keberhasilan belajar siswa. Oleh sebab itu guru harus memiliki ketrampilan mengajar serta metode yang tepat. Sehingga prestasi siswa dapat semakin meningkat dan berguna bagi masyarakat sekitar.

b. Bagi Guru

Guru hendaknya menggunakan media atau alat peraga dalam menyampaikan materi pelajaran agar siswa lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan.

c. Bagi Siswa

Siswa harus mampu menyalurkan kemampuan berpikir kritis. Untuk itu dalam pembelajaran siswa diwajibkan berperan aktif demi tercapainya tujuan pembelajran dan terciptanya Keberhasilan hasil belajar siswa.

(7)

733 UCAPAN TERIMAKASIH

Penyusunan artikel ini dapat terselesaikan dengan baik karena adanya dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak mulai dari kegiatan awal sampai hingga kegiatan penyelesaian tugas akhir ini, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Prof. Pdt. Drs. John A. Titaley, Th.D, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana, yang memberi keputusan untuk menerima penulis sebagai mahasiswa S1 PGSD FKIP-UKSW 2. Dr. Yari Dwikurnaningsih, M.Pd.

Dekan FKIP Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian

3. Stefanus C. Relmasira, S.Pd., MSEd Kaprogdi S1 PGSD FKIP universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

4. Drs. Tritjahjo Danny Soesili, M.Si Dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dalam penyusunan tugas akhir.

5. Krisma W. Wardani, S.Pd.,M.Pd Dosen yang telah berkenan sebagai reviewer tugas akhir saya.

6. Wahyu Darmanto S.Pd.SD Kepala Sekolah SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang telah memberikan izin penelitian

7. Sudarmanto, A.Ma.Pd Guru kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian

8. Siswa kelas V SDN Sumogawe 04 Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Supriono. 2013. Cooperatif Learning.

Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Aunurrahman. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.

Ekawarna. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: GP Press Group Kagan, Spencer. 2007. Pembelajaran

Kooperatif. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Lie, Anita. 2008. Cooperative Learning.

Jakarta: Gramedia.

Madya, Suwarsih. 2008. Strategi Pembelajaran Active Learning.

Jogyakarta.

Syah, Muhibbin. 2016. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Poerwanti, Endang, dkk. 2008. Asesmen Pembelajaran SD. Jakarta:

Depdiknas.

Slavin. 2009. Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta: PT Grasindo, Anggota Ikapi.

Sugiyono.2007. Metodologi penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D.

Bandung: ALFABETA Suprijono, Agus. 2009. Pengantar Psikologi

pendidikan. Surabaya : Bima Ilmu.

Suranto. 2015. Teori Belajar &

Pembelajaran Kontemporer.

Yogyakarta: LaksBang

PRESSindo.

Suryanto, Adi. 2009. Strategi Belajar Mengajar & Micro Teaching : Quantum Teaching.

Tryana. 2008. Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Group.

Wardani, Nanik Sulistya, dkk. 2010.

Asesmen Pembelajaran SD.

Jakarta: Depdiknas.

(8)

734

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mengetahui bahan ajar yang disajikan guru Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar se-Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang

Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi guru mata pelajaran non penjasorkes terhadap kinerja guru penjasorkes Sekolah Dasar pada Dabin II Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang

Permasalahan pada penelitian ini adalah bagaimana Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Kompetensi Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Dabin 1 Kecamatan Jekulo

 Siswa dalam kelompok mengamati contoh benda-benda yang berbentuk limas dan prisma yang disiapkan oleh guru.  Siswa dalam kelompok mengamati bangun ruang limas dan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh antara penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match dengan metode

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu guru pada masing-masing sekolah di SDN Gugus II Batu Kumbung terkait proses pembelajaran yang dilakukan dengan sistem belajar di rumah

Desy Alulu, 2013 Skripsi “Penerapan Metode Problem Solving Pada Pembelajaran Matematika Di SDN 3 Tapa Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango”. Pendidikan Guru Sekolah Dasar

PENUTUP Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tentang problematika guru dalam menerapkan kurikulum 2013 di SDN Se Kecamatan Pinolosian Kabupaten Bolaang Mongondow