• Tidak ada hasil yang ditemukan

: Pembahasan Materi DIM RUU Badan Peradilan Pajak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan ": Pembahasan Materi DIM RUU Badan Peradilan Pajak"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS (PANSUS)

PEMBAHASAN 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN

Tahun Sidang :1996 - 1997 Masa Persidangan : III

Rapat Ke : 10

lenis Rapat : Rapat Kerja ke 8 Sifat Rapat : Terbuka

HarilTanggal : Rabu, 5 Maret 1997 Pukul : 14.10 - 16.45 WIB

Tcmpat : Ruang Kaca Grahatama DPR-Rl Ketua Rapat : lusufTalib

Sekretaris Rapat : Ny. Anita Soekarjo, SH

Acara : Pembahasan Materi DIM RUU Badan Peradilan Pajak

(2)

Hadir : - Anggota Pansus

I.

54 orang dari 59 orang Anggota Tetap 18 orang dari 28 orang Anggota Penggati - Pemerintah (Departemen Keuangan RI ) :

28 orang

ANGGOTA PANSUS A. ANGGOTA TETAP:

1. NOVYAN KAMAN, SH

2. H. ANDAYA LESTARI, SE, MBA 3. JUSUF TALIB, SH

4. H.SYAIFUL ANWAR HUSEIN 5. DRS. YAHYA NASUTION 6. DRS. H. ASNAWI HUSIN 7. dr. H. FATHI DAHLAN

8. DRA.NY. S.A. RUDI LENGKONG, MPA 9. DRS. MOl-I. MURNI <

10. DRS. H. MUCHSIN RIDJAN

(3)

11. H. AGUS TAGOR 12. DRS. H. HASANUDDIN

]3. NY. HJ. OETARTI SOEWASONO,SH 14. DJIMANTO

15. HISOM PRASETYO, SH

16. NY. MUSTOKOWENI MURDI, SH 17. IBNU SALEH

18. NY. HARTINI MOCHTAR KASRAN, SH 19. SOEKOTJO SAID, SE

20. MOH. SUPARNI, BA

21. IR. NY. BAMBANG SIGlT PRAKOESWO 22. ABDULLAH ZAINJE, SH

23. DRS. AWANG FAROEK ISHAK 24. DRS. MADE SUDIARTHA 25. BEN MESSAKH, SE

26. NY. SIS HENDARWATI HADIWlTARTO 27. ANDI HASAN MACHMUD

28. DRS. H. MEKKA HAYADI.

(4)

29. MOEHARSONO KARTODIRDJO.

30. H. ABDUL BAKR[ SRIHARDONO 31. IR. S.M. TAMPUBOLON

32. DRS. SIMON PATRICE MORIN 33. R. M. PURBA

34. DJATMIKANTO D., S.IP 35. PUDJIARTO, SE

36. DANIEL TODING, S.IP 37. SOEWARNO

38. SUTRISNO R., SE 39. DRS. M. SITUMORANG 40. L.J. ARIFIN

41. DRS. PAIMAN 42. DRS.

SUPRIADI

43. DRS. H.M. MUKROMAS'AD 44. H. ALI HARDI KIAIDEMAK, SH 45. DRS. H. JUSUF SYAKIR

46. DRS. H.M. SYAFIE NONGKE

(5)

47. IR. H.M. SALEH KHALID, MM 48. H. ZAIN BADJEBER

49. H. ALIMARWAN HANAN, SH

50. DRS. H. NADHIER MUHAMMAD, MA 51. H. URAl FAISAL HAMID, SH

52. DRS. IGNATIUS SUWARDI 53. DRS. NOORACHARI 54. BUDI HARDJONO, SH 55. IR. H. ANWAR DATUK 56. DJUFRJ[, SH

57. HANDJOJO PUTRO, SH 58. SOENARJO

59. SETYADn LAWI, BA B. ANGGOTA PENGGANTI : 60. DRS. USMAN ERMULAN 61. JAHYABAHAR

62. H.A. KAMIL SHAHAB

63. NY. SRI REDJEKI SUMARYOTO, SH

(6)

64. DRS. H. MASKA RIDWAN 65. H. NANANG SUDJANA, SH 66. G.B.P.H. JOYOKUSUMO 67. SUNDORO SYAMSURI

68. DRS. SARWOKO SOERJOHOEDOJO 69. DRS. ALOYSIUS ALOY

70. ALI RASYIDI

71. PROF.DR.IR. FACHRUDDIN 72. DRS. BAMBANG WAHYUDI 73. F.P.D. LENGKEY

74. H. JAKUB SILONDAE 75. SUPARMANACHMAD 76. I GDE ARTJANA, S.IP 77. OENG RUMADJI, SH 78. ORA. PAULAB. RENYAAN 79. TEDY YUSUF .

80. DARYANTO, SE, MM 81. H. YUDO PARIPURNO, SH

(7)

82. H. SOELAIMAN BIYAHIMO 83. K.H. SA' AD SYAMLAN, BA 84. DRS. H.A. CHOZIN CHUMAIDY 85. TIOP HARUN SITORUS

86. H. MARWAN ADAM

87. NI GUSTI AYU EKA SUKMADEWI II. PEMERINTAH

1. DRS. MAR'IE MUHAMMAD 2. DR. FUAD BAWAZIER 3. DR. DONO ISKANDAR D.

4. DR. IR. BAMBANG SUBIANTQ 5. ARIE SOELENDRO

6. DR. AGUS HARYANTO, SR, MA 7. AGUS PURWANTA

8. DJOKO HIDAYANTO 9. FACHROEDY J.

10. M. PALAL SANTOSO 11. SUMANTORO

(8)

12. SAHALA L. GAOL

13. BAMBANG RUSSAMSENO 14. BENNY HARYONO

15. SUGITO

16. DRS. MACHFUD SIOIK, M.Sc 17. ACHMADSOFYAN

18. DJAZOELI SADHANI 19. YONG SUAR

20. DJUNAEDI ARlEF 21. JAMARSEN SIPAYUNG 22. M.ARIEFN.

23. M. YASIN BUCHARI 24. DRS. DJONIFAR, MA 25. DRS. MEMET"S 26. HADIYANTO

27. SElRAMA BUTAR-BUTAR 28. TOHA SETIABUDI

29. SUBAGIONO S.

.~.

30. TJEPI SUHENDRA ' 31. RUSLI TAiB

32. DR. GUNADI

(9)

KETUA RAPAT (JUSUF' TALIB, SH):

Assalamualaikum Wr. Wh.

Hari ini adalah Rapat Kerja yang ke 8, maka dengan resmi skors kemarin kami cabut kembali.

{SKORS DICABUT PUKUL 14.10 WIB) Bapak Menteri dan rekan-rekan yang kami hormati.

Di depan kita semuanya ada Laporan Singkat tentang jalannya rapat- rapat yang tanggal 4 Mar,et lalu, namun seperti kesepakatan semula, jadi notulen ini dengan segala hormat kami mohon semua Fraksi untuk mempelajarinya, dan pad a waktunya kalaut ada koreksl atau perbaikan disampaikan sec:ara te11ulis. Dapat disetujui ?

(RAPAT : SETUJU) Terima kasih.

Rekan-rekan fraksi dan Bapak Menteri yang kami hormati. Dari catatan yang kami adakan merupakan identifikasi dari materi muatan DIM persandingan, dan ini merupakan materi DIM persandingan yang terbanyak dian tara lima RUU itu. Dari catatan kami identifikasi materi muatan DIM persandingan keseluruhan butir bahasan adallah 577 butir, dengan rincian ada 3 butir substansial yang sangat prinsipil sekali dan kami anggap sebagai lokomotif-nya. Kemudian materi ikutan dari substansi yang prinsipil itu 79 butir, jadi kalau Iokomotifnya lepas 79 ini akan jalan. Kemudian materi substansial ada 142, redaksionaI 302 butir, dan tetap 51 butir, dengan demikian keseluruhannya 577 butir.

Baiklah kami langsung saja karena waktunya sudah pukuI 14.10,

(10)

kam i mulai dengan DIM nomor 1 yaitu yang Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor Tahun 1996. Saya kira ini sepel1i DIM-DIM yang lalu angka 1996 kita hilangkan dan tentunya disesuaikan nanti menjadi 1997, bisa disetujui ?

(RAPAT: SETUJU)

DIM yang kedua, nah ini salah satu lokomotifnya, yaitu yang berkaitan dengan judul. Dari keempat Fraksi mengemukakan, tiga Fraksi mengemukakan ada permasalahan yang akan dikemukakan secara Iisan nantinya, kemudian dari F-PP sudah jelas mengemukakan satu formulasi yang lain.

Dengan hOl1nat kami persilakall rekan dari F-ABRI untuk menyam- paikan DIM Nomor 2 yang berkaitan denganjudul.

F-ABRI (DRS. SUPRIADI):

Yang kami hdrmati Ketua Rapat, Bapak Menteri,

Para peserta Rapat Pansus yang berbahagia.

Assalamualaikum Wr. Wh.

Dari F-ABRI DIM Nomor 2 tentang masalah judul ini ada masalah substansi perlu dikaji secara mendaiam, perlu kita ketahul bersama bahwa pembentukan Harlan Peradilan Pajak landas~n hukumnya adalah undang- undang tentang KUP yaitu nomor 9, dimana dalam Undang-undang ini Pasal 27 Badan Peradilan Pajak bukalliah merupakan suatu nama, karena kita lihat disitu masih huruf kecil-BPP ini adalah suatu lembaga yang melaksanakan tugas untuk menyelesai kan suatu banding dari wajib pajak

(11)

yang keputusan keberatannya dari pejabat atau Dirjen Pajak khususnya mengenai pajak yang tidak atau kurang berkenan dari wajib pajak. Dengan demikian kalau kita lihat daripada Badan Peradilan Pajak yang ada di KUP ini, maka ini adalah, kami ulangi Iagi bukan suatu nama, tapi suatu lembaga yang nantinya untuk menyelebaikan sengketa perpajakan. Oleh karena itu F-ABRI beranggapan ini perlu dikaji dan memang didalam rumusan dari RUU ini sudah mencakup mulai dari susunan organsisai, acara, serta pelaksanaan putusan yang merupakan suatu peradilall didalam penyelesaian sengketa perlPajakan. Namun demikian apabila memang Pansus menganggap Badan Peradilan Pajak dengan hurup kecil ini akan dijadikan suatu nama judul, ini perlu kita setujui bersama dan namun demikian perlu kita kaji kembali, demikian Pak. Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih.

Selanjutnya kami persilakan yang terhormat F-PDI.

F-PDI (DJUPRI, SH) :

Terima kasih Saudara Pimpinan. Assalamualaikum Wr. Wh.

Pilllpinan Pansus yang ikallli horlllati, Bapak Menteri beserta Staf , rekan-rekan Anggota dan sidang Pansus yang terhorraat.

Dalam menentukan suatu judul rancangan undang-undang memang gal11pang-gal11pang susah, oleh karena Disal11ping rumusannya harus singkat, padat, tapi diharapkan untuk bisa l11enampung kandungan daripada Rancangan Undang-Undang ini. Apabila kita melihat dasar acuannya secara yuridis formal dan secaI'a harpiah sebenarnya penggunaan nama seperti judul dalam Rancangan Undang-Undang tentang Badan Peradilan Pajak sudah sesuai dengan sumber hukulll sebagai acuannya. Sebagaimana

(12)

tercantum datam Pasal 27 Undang-Undang Nomor 9 Tallmn J 994 tentang Pembahan atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpaja-kan. Yang dis,ini kita melihat terdiri dari 7 ayat, yang 4 ayat diantaranya menyebut dengan jelas nama badan peradilan pajak dengan hump kecil, karena memang belum merupakan nama diri badan peradilan pajak itu sendiri sehingga mungkin juga memakai nama lain. Begitu pula apabila kita mengambil acuan sumber dari Pasal 13 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1970 yang ada hubungannya dengan Pasal 10 ayat (1) disana disebutkan ada empat jenis pengadilan dalam empat Iingkungan, yaitu lingkungan peradilan umum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 2 talmn 1986, Perad ilan Agama diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989, Perad ilan Militer yang sekarang ini bam dan akan kita bahas, kemudian Peradilan Tata Usaha Negara Undang- undang nomor 5 tahun 1986. Meskipun keempatnya tidak menggunakan istilah badan tetapi memakai peradilan. Dan apabila nantil peradilan pajak menjadi salah satu misalnya maka jenis pe:radilan yang bersifat khusus itu jadinya ada em pat, lima dengan peradilan umum. Akan tetapi apabila kita membaca secara keselumhan kandungan dalam Rancangan Undang- Undang, berbagai permasalahan raneu perlu dilumskan terlebih dahulu.

Kerancuan terse but akan kami jelaskan sebagai· berikut :

Apabila kita mengacu kepada penjelasan Pemerintah dalam mengantarkan Rancangan Undang-Undang Badan Peradilan Pajak ini diajukan berdasarkan pasal 13 Undang-Undang 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaaan Kehakiman yang menegaskan bahwa Badan Peradilan khusus disamping badan-badan peradilan yang sudah ada dapat diadakan dengan undang-undang, inijelas sekali.

Mengingat mmusan tersebut menyinggung masalah badan Peradilan yang sudah ada, maka mari kita membaea sejenak pasal 10 Undang- undang nomor 14 Tahun 1970 terse but yang menyatakan dalam ayat (1) nya yang tadi sudah sebut, ada empat badan peradilan, Peradilan Agama, Peradilan

(13)

Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara itu merupakan peradilan khusus.

Karena mengadili perkara tertentu dan mengenai golongan rakyat tertentu yang 3uga mungkin harapan daripada peradilan pajak itu.

Selanjutnya apabila kita mengamati Ranc:angan Undang-Undang dalam konsiderans mengingat Pemerintah mencantumkan Pasal 24 dan Pasal 25, khususnya dalam Pasal 24 yang disini kita bisa membaca dan ditegaskan ayat (1) kekuasaan kehakiman dilakukan dalam sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang. ayat (2) susunan dan kekuasaan badan-badan kehalkiman ditentukan dengan undang- undang.

Begitu pula dalam rancangan Undang-undan Pasal2 ditegaskan badan peradilan pajak adalah badan peradilan khusus di bidang perpajalkan sebagai salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman.

Dengan penjelasan-penjelasan yang kami sebutkan diatas F- POI menangkap bahwa Pemerintah rupa-rupanya berkeinginan agar badan peradilan pajak sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang keberadaannya dibawah naungan Mahkamah Agung. Apabila memang demikian maksud Pemerintah maka seharusnya hadan peradilan pajak dimaksud hams berada dalam kekuasaan dan pembinaan Mahkamah Agung sebagai pengadilan negara tertinggi, sehingga tidak dapat menutup kemungkinan digunakannya kasasi kepada Mahkamah Agung, karena apa ?, karena didalam Pasal 10 ayat (3) Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 terse but ditegaskan bahwa terhadap putusan-putusan yang diberikan tingkat terakhir oleh pengadlilan-pengadilan lain dari Mahkamah Agung kasasi dapat dimintakan kepada Mahkamah Agung, kami ulangi Kasasi dapalt dimintakan kepada Mahkamah Agung,

Dengan istilah dapat disini mengandung pengertian tidak hams diajukan kasasi, tetapi hak mengajukan kasasi tersebut tidak dapat

(14)

dilarang, dalam pengertian hams membuka pintu kepada pihak yang bersengketa untuk mengajukan kasasi meskipun kasasi terse but belum tentu dipergunakan atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berperkara. Dalam Batang Tubuh RUU sama sekali tidak ada pasal yang mengatur, membuka peluang kepada pihak-pihak yang bersengketa untuk mengajukan kasasi, keclIali dijelaskan dalam penjelasan umum butir 11 yang menyatakan bahwa putusan badan peradilan pajak merupakan putusan akhir dan bersifat tetap dan bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. Oleh karena itiI terhadap keputusan badan peradilan pajak tidak dapat diajukan kasasi maupun peninjauan kembali kecuali demi kepentingan hukum Jaksa Agung dapat mengajukan kasasi.

Sebenarnya rumusan penjelasan umum butir 11 tersebut sudah membuka pintu, kemungkinan mengajukan kasasi, akan tetapi disamping dirasakall tidak adil, kesempatan untuk dapat mengajukan kasasi hanya diberikan kepada Jaksa Agung. Tentu menimbulkan pertanyaan atas dasar apa Jaksa Agung diberi wewenang dalam kasus tersebut, padahal sejak semula Jaksa Agung tidak pernah dilibatkan dan tidak pernah terlibat dalam proses persidangan, dalam badan peradilan pajak itu tiba-tiba orang asing bilang ujug-ujug dengan serm merta diberi wewenang mengajukan kasasi dan penlnjauan kembali demi kepentingan hukum.

Jaksa Agung untuk mengajukan kasasi dimungklnkan, balk dalam perkara pidana maupun perdata dan tata usaha negara, akan tetapl khususnya hanya ada dalam perkam pidana. Dalam perkam perdata dan tata lIsaha negara itu bisa bertindak kecuali atas kuasa hukum atau sebagai kuasa hllkum dari Pemerintah, Jaksa Agung beserta jajarannya dapat bertindak untuk dan atas nama Pemerintah sebagai kuasa hukumnya itu lagi. Disamping itu dirasakan kurang adil apabila hak kasasi itu hanya diberikan kepada satu pihak saja sedangkan penggugat yang mengajukan banding yang dalam hal ini adalah wajib pajak sebagai penanggung pajak sarna sekali tidak diberikan untuk mengajukan kasasi, maka dirasakan tidak adit.

(15)

Peltanyaan terakhir timbul, bagaimana jalan keluarnya apabi-,la Pcmerintah memang tetap bermaksud bahwa badan peradilan pajak ini berada dalam sistim peradilan dibawah kekuas3ail Mahkamah Agung berdasarkan Pasal 24 daa Pasal 25 Undang-und,mg Dasar ! 945, Undang- undang nomoI" 14 tahun 1970 tentang Kekntuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kchakiman, bcgitu. pula sekaligus mengacu kepada Pasal 27 Undang-undang nomor 9 Tahun ] 994 tentang Perub;;.han. atas Undang- undang Nomor 6 tahun 1983 tentang I{ctent.l2.n Urnum dan Tatac,ara Perpajakan. Hal ini sangat tergantung dad jawaban dan penjelasan dari Pemerintah. Dalam hubungan ini sebenamya pada waktu i"nenyampaikan pemandangan umumnya F-PDI telah mengajukanpcrt.anyaan pada Pemerintah akan tetapi bdum mernpero!eh jawaban sccaI'a tegas acuan hukum mana yang dipaka:i sehlngga F-PDI dalam Dn.1-nya belUBl dapat menyusun perubahan penyempumaannya tennasuk tanggapan F-PDI untuk namajudul, sehingga disebut disana ada pt:rmasabhan.

Dalam kesempatan ini kami atas nama F-PDI ingin mendengarkan penegasan tersebut dari Pemerintah sehingga permasalahan ini dapat kita selebaikan sebaik-baiknya. Kami ingin menegaskan kembali apabila Pemerintah telah berpegang teguh kepada pendirian bahwa badan peradilan pajak ini akan ditetapkan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang berada dalam naungan Mahkamah Agung, maka cara yang dapat ditempuh masih dimungkinkan, antara lain membuat rumusan dalam Rancangan Undang-Undang dengan membuka peluang kasasi dan peninjauan kembali kepada kedua belah pihak yang bersengketa, yang dalam hal ini yang pertama adalah pejabat yang berwenang sebagaimana dirumuskan dalam Ketentuan Umllm butir 1 yang menyatakan bahwa pejabat yang berwenang adalah Direktur lenderal Bea Cukai, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Tingkat II, atall pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan.Selanjutnya bisa saja pejabat yang berwenang terse but mau diwakili oleh laksa Agung atau seluruh jajaran kejaksaan baik dipusat mall pun didaerah mewakili sebagai kuasa hukumnya. Begitu pula

(16)

kasasi, peninjauan kembali harus terbuka pula terhadap pihak lain, yang dalam hal ini adalah pihak kedua, yang dalam hal ini adalah penanggung pajak sebagai pihak yang mengajukan banding.

Selanjutnya untuk memenuhijiwa Pasal22 ayat (4) yang menyatakan bahwa putusan badan peradilan pajak mempakan putusan akhir dan bersifat tetap dapat ditempuh dalam rangka undang-undang ini dapat diatur dengan cara-cara antara lain membatasi dengan ketentuan yang ketat untuk mengajukan kasasisebagaimanadiatur dalam rancangan undang-undang Pasal 7 ayat (2) b mengenai pemeriksaan dengan acara singkat misalnya, yang menentukan bahwa perkara sengketa perpajakan yang diatur dalam acara singkat oleh badan peradilan pajak ini yang telah mengajukan permohonan banding dengan jumlah tidak melebihi satu juta rupiah. Pembatasaninipun dapat diatur pula dalam proses kasasi sampai dengan jumlah berapa kasasi yang boleh diajukan sehingga pihak yang berperkara tidak selalu mengajukan kasasi, mungkinjuga sarna sekali tidak mengajukan.

Saudara Pimpinan dan Saudara sekalian;

Dengan alasan yang kami kemukakan diatas maka akan Kami ajukan juga pemikiran altcrnatifyang bisa ditempuh yaitu;

Alternatif pertama apabila Pel11erintah bermaksud agar badan peradilan pajak ini tetap dimasukkan dalam slstim peradilan berdasarkan Undang- Undang Dasar 1945, Undang-UndangNomor 14 Talmn 1970 dan Undang- Un dang Nomor 9 Tahun 1994 maka dapat dipilih alternatif pertama ini dengan konsekuensi oleh Pansus ini RUU lPeradilan Pajak ini dengan l11engubah dan l11enyempurnakan antara lain ketentuan yang mengatur tentang kesempatan l11embuka kemungkinan kasasi dengan pembatasan- pel11batasan yang ketat.

(17)

Alternatif yang kedua apabila Pemerintah memang bermaksud hadan peradilan pajak 1i1anya menerusikan sejarahnya yang semula bernama Maje:lis Pertimbangan Pajak dengan meningkatkan peranan dan kualitasnya dengan mengganti nama badan peradi!an pajak atau nama yang lain misalnya yang nanti menjadi kesepakatan kita semua, yang keberadaannya hanya mengacu kepada Undang-undang nomoI' 9 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas undang-undang tentang KClcntuan Umum dan Tara cara Perpajakan. Sehiingga konseJuensinya hal lEi diharapkan untuk Pansus ini pada tingkat pertama sebdum kita memhahas secara mend.etail seluruh pasal-pasal yang ada setidaknya harus ada kesepakatan terlebih dahulu. Dan bl~rdasarkan hal-hal yang kami utarakan tadi untuk mengatasi kerancuan yang kami kemukakan diatas, terlebih dahulu memang hams ditegaskan, hal1ls disepakati untuk memilih dua aJtcrnatif. Apakah badan peradilan pajak ini akan dimasukkan daJam satu sistem peradilan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 altaukah diiuar sistim yang hanya mengacu kepada Undang .. undang Nomor 9 Tahun 1994 dan itu dua- duanya diperkenankan dengan sendirinya boleh karena Undang-undang ini bisa mengaturnya. Tentu harapan kita majelis pertimbangan pajak yang sekarang ini masih berjalan dan akan diganti dengan peradilan tentu peranan dan kualitanya tidak akan seperti peradilan secara umum, yang semua pengaturannya akan kita rumuskan didalam rancangan Undang- Undang ini. Demikian Saudara Pimpinan.

KETUA RAPAT :

Mohon maaf, judulnya bagaimana Pak.

F-PP (DJUPRI, SH) :

Dengan demikian, tadi kami utarakan se:betulnya F-PDI dengan acuan dari judul itu sendiri dan sumber hukumnya cendcrung untuk memilih judul yang sudah ada yaitu Badan Peradilan Pajak.

(18)

KETUARAPAT:

Selanjutnya kami persilakan rekan dad F-PP.

F -PP (H. ZAIN BADJEBER, SH) : Assalamualaikum Wr. Wh.

Mengenai judul F-PP mengajukan pembahan yaitu diubah menjadi Pengadilan Pajak. Kami mencoba meneillsurii jalan pikiran dari petnbuat RUU ini tentu saja dengan mengacu dan mengaca pada konsiderans mengingat yang ada didalam RUU ani. Didalam konsiderans mengingat angka 1 Pasal 24 dan 25 dari Undang-Undang Oasar 1945 ikut disebutkan.

Kemudian pada angka 2 disebutkan Undang-undang Nomm 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman atau disingkat juga dengan Undang-undang kekuasaan kehakiman.

Kemudian butir ke 3 bam disebutkan Undlang-undang nomor 6 Tahun 1983 sebagaimanayangtelahdiubahdengan Undang-undang nornor9 Tahun 1994. Sedangkan Undang-Undang Dasar Pasal 24 dan 25 itu bcrdapatkan perwujudannya didalam Undang-undang 14 tallUn 1970. Kalau kita baca Penjelasan Umum daripada Undang-undallg nomor 14 Talmn 1970 disana disebutkan pada butir 3 alinca ke 4 bunyinya saya coba bacakan untuk itu perlulah dalam undang-\mdang tentang ketentuan-k,'-!tentuan pokok kekuasaaan kehakiman yang baru ini diusahakan tercantumnya dasar- dasar bagi penyelenggaraan peradilan dan ketentuan-kt:!tentuan pokok mengenai hubungan peradi-Ian dan pencari keadilan yang sejiwa dengan Undang-Undang Dasar 1945 supaya pelaksanaannya nanti dapat sesuai dengan Pancasila. Penyelenggaraan kekuasaan kehakirnan diserahkan kepada badan-badan peradilan dcng:m ketentuan bahwa Undang-Undang tentang Ketentuan-ketentuan Pokolk kekuasaan kehakiman ini akan merupakan induk dan keranglka umum yang meletakkan dasar serta azas-

(19)

azas peradilan serta pedoman bagi lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara yang masing- masing diatur dalam Undang-undang tersendiri.

Butir 4, Undang-Undang Dasar ! 945 beserta penjelasannya tidak memberikan keterangan mengenai arti kekuasaan kehakiman secara tuntas.

Namun ketentuan-ketentuan dalam Pasa124 dian Pasa125 Undang-Undang Dasar 1945 b.:selia penjellasannya anl.:1ra lain mCllcantumkan kekuasaan kehakiman dilakkukan oleh sebuah MahkamahAgung dan Lain-lain badan kehakiman rnenurut undang-undang dan sarat-sarat untuk mcnjadi dan dibcrhentikan sebagai hakirn ditetapkan dengan undang-undang. Maka yang dituju dengan kekuasaan kehakiman dalam Pasal24 Undang-undang Dasar 1945 ial41h kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan beadilan berdasarkan Pancasi-la demi terselenggaranya negara hukum Republik Indonesia.

Dengan demikian bahwa untuk membuat suatu peradilan acuan pokoknya adalah Undang··undang nomor 14 Tahun 1970, sebagaimana kalau kita untuk membuat undang-undang perpajakan acuan pokoknya adalah undang-undang ketentuan umum perpajakan. Di dalam RUU ini ada ketentuan-ketentuan misatnya mengenai organisasl keuallgall dan sebagainya dibawah Departemen Keuangan, darimana ketentuan itll. itu karena ada pada pasall1 daripada Undang-llndang 14 Tahun 1970. Pasal II itll mengacu ke Pasal 10 Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970, jadi tidak bisa kita memisahkan Pasal13 dengan PasalllO. Didalam Pasall0 ayat (1) ada empat kekuasaan kehakiman yang dijarankan oleh empat lingkungan peradilan. Didalam undang-undang Nomor 19 Tahun 1994 yaitu Undang- undang kekllasaan kehakiman yang digantikan oleh Undang-undang nomor 14 talllln 1970, disana dikenaljuga empat lingkungan peradilan, namun ada perbedaall dengan Undang-undal1g 14 tahun 1970, bahwa Pasal 7 dari pada UU NomOI" 19 Talllln 1964 mengakatan : "Disamping peradilan umum ada peradilan khusus". Peradilan khusus itu yaiitu yang tadi disebutkan oleh

(20)

Pak Djupri, Peradilan Militer, Tata Usaha Negara, Agama, itu dijaman UU Nomor 19 Tahun 1994 Pasal7. Setelah UU Nomor 19 Tahun 1964 dicabut dengan UU Nomor 14 Tahun 1970, UU Nomor 14 Tahun 1970 dicabut UU Nomor 19 Tahun 1964, pengertian Peradilan Khusus tersebut tidak lagi digunakan, oleh karena lingkungan peradilan yang 4 itu sarna tidak dikatakan yang satu umum yang satu khusus. Keempat-empatnya setingkat didalam melaksanakan kekuasaan kehakiman.

Kemudian didalam penjelasan Pasal 10 ayat (1) disana disebutkan bahwa perbedaan dalam 4 Iingkungan peradilan ini tidak menutup kemungkinan adanya pengkhususan deferensiasi spesialisasi dalam masing-masing lingkungan misalnya dalam perdadilan umum dapat diadakan pengkhususan berupa Pengadilan Lalu Lintas, Pengadilan Anak, Pengadilan Ekonomi dan sebagainya.

Karena diintrodusir ada pengadilan khusus yang ada di bawah dilingkungan peradilan 4 umum. Di dalam UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, juga membuka kemungkinan ada peradilan khusus. Di dalam RUU Peradilan Militer yang sekarang di DPR, disamping Mahkamah Millter juga akan ada Peradilan KhlUSUS yang ada di dalam lingkungan Peradilan Militer, Mahmilub dan sebagainya.

Jadi pengertian khusus di sini juga berbeda dengan khusus yang ada di dalam Pasal 7 UU Nornor 19 Talmn 1994 mengenai Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang dicabut dengan UU Nomor 19 Tahun 1964.

Pasal 7 di sana ada pengertian khusus menurut konteks UU terse but yang pada UU Nomor 14 Tahun 1970 pengertian khusus itu dirubah lagi didalam konteks lingkungan daripada masing-masing peradilan. Sehingga apabila kita membaca Pasal 2 daripada RUU ini yang menyebutkan bahwa Badan Peradilan Pajak rnerupakan peradilan khusus, menimbulkan pertanyaan pada kita mengacu kemana peradilan khusus pada Pasal 2 RUU ini.

Mengacu ke UU Nomor 19 Tahun 1964 atau mengacu ke UU Nomor 14

(21)

Tahun 1970. Karena konsideransnya UU Nomor 14 Tahun 1970 tentunya hams kita giring kepada p,~ngertial1: ke UU Nomor 14 'fahun 1970. Ikami sepakat dengan pendapat bahwa UU N0l11019 Tahun 1994 itu menyebutkan Badan PeradiLm Pajak dengan humf kedl, b keci! tidak kapital, yang artinya itu tidak dikandung maksurl menjadi nama daripada pengadilan yang abn dibcntuk. Tetapi :matu insltruksi diperlubn adanya satu peradilan untuk merubah "tviajelis P(;rtlmlni:3an Pajak ckngan. ::wberapa instruksi tertentu saja mengenai putusannya bersifat temkhir dan tetap, tetapi yang lainnya kemana dia hams meneari, kalau UU Nomor 9 tahun 1994 hanya mengatakan "mempakan putusan akhir dan bersifat tetap, yang selanjutnya kemana.

Pembuat konsep atau pembuat RUU dari Badan Peradilan ini, kami melihat banyak mengambil dari PTUN, dad UU Nomor 5 Tahun 1986, baik hukum acaranya maupun pada ketentuan keuasaan dan sebagaiinya, bisa kita persandingkan nanti, walaupun redaksinya ada diubah.

Kecendenmgan menempatkan Badan Peradilan Pajak ini kepada PTUN, memang buat kami tetapi kami tidak persoalkan di sini dutu, karena kita persoalkan masalah nama, judul, yang di dalam soal ini mungkin sulit kalau kita katakan dengan what is the name, di sini the name is imporlan.

Kar,ena dia akan menullju-kan wajah kemarin juga waktu membicarakan RUU Peradilan Anak, sehingga berhasil menjadi RUU Pengadilan Anak.

Karena masalab perkataan peradilan ini tidak saja menyalahi Pasal 10 ayat (1) maupun UU Nomor 2 Tahun 1986 ten tang Peradilan Umum yang sudah menyebutkan pc~ngadilan yang akan dibentuk itu adalah Pengadilan Anak, tetapi dalam kerangka menempatkan dia dalam kekuasaan kehakiman yang diatur oleh UU Nomor 14 Tahun 1970 yang tadi kami telah kami bacakan penjelasannya bahwa menjadi kerangka acuhan umum daripada lembaga-Iembaga yang akan dibentuk di dalam pelaksanaan 24 dan 25 UUD 1945.

Memang Pasal 27 UU Nomor 9 Tahun 1994 diperkuat kembali oleh

(22)

UU Noma!" 10 Tahlln 1995, ka1au kita baca UU Kepabeanan Pasal 95 sampai

denga~

Pasal 97, kita baca UU Cukal pasal 43 sampai dengan Pasal 47 Nomor 11 talmn 1995, di sana juga ditulis dengan huruf keciL Dibentuk lembaga banding di sana dalam pengertian banding apa, nanti kita persoalkan.

Demikian dengan menghubungkan bahwa Pasal 13 andaikata kita mengacu kepada Pasal 13 UU Nomor 14 Tahun 1970, itu tidak sejarahnya saya kira begini : Pasal 10 ayat (1) menerangkan : "bahwa 4 lingkungan peradilan ini akan mempunyai peradilan khusus deferensiasi maupun spesialisasi yang diatur dengan undang-undang"'. Tetapi perintah mengatur dengan undang-undang itu tidak dapat di dalam penjelasan saja. Oleh karena itu diangkat ke Pasal13 perintah untuk melakukan dengan undang- undang, sebab Pengadilan Khusus yang dimaksud di dalam penjelasan Pasal 10, dikatakan "dibentuk. dengan undang-undang", tetapi itu di dalam penjelasan. Pada waktu UU Nomor 14 Talmn 1970, penempatan penjelasan itu tidak dianggap cukup untuk melakukan suatu perintah yang begitu penting didirikan Pasal 13 terse but.

jadi Pasal 13 ini tidak menerobos Pasal 10, bllkan suatu terobosan kepada PasallO. Kalau dia merupakan pasal terobosan kepada Pasal10 itu artinya dalam penjelasan umum tadi tidak disebutkan hanya 4 lingkungan ini tempat untuk mengacu yang ada di bawah Mahkamah Agung. Dengan dasar pemikiran ini kami mengakatan ini mestinya Pt:ngadilan Pajak, Pengadilan Pajak ini berindulk kemana atau merupakan Pengadilan Khusus dari mana, ya dari Tata Usaha Negara, sehingga dia tidak keluar dari kerangka 4 Iingkungan. Adapun kekuasaan daripada ini, campurtangan dari lembaga lain itu bisa kita atur.

Demikian pengantar kami untuk tahap awal untuk menjelaskan DIM F-PP. Terima kasih.

(23)

Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

KETUA RAPAT : Terima kasih.

Selanjutnya dengan homlat saya persilakan dari F-KP.

F-KP (ABDULLAH ZAINIE, SH) :

Terima kasih Pimpinan. Assalamu 'alaikum wi: Wh.

Bapak Menteri, Bapak-bapak dan Ibu Anggota Pansus yang saya hormati.

Kita membicarakan masalah judul atau nama dari pada suatu undang- undang. Memang benar apa yang dikatakan oleh Pak Zein tadi bahwa ini bukan hanya sekedar nama. Karenajudul atau nama daripada suatu undang- undang yang mempunyai implikasi yang sangat luas terhadap substansi daripada undang-undang itu sendiri. Dia agak mewarnai itu. Oleh karena itu, maka kami sangat sependapat sekali apa yang dikatakan oleh F-ABRI di sini bahwa jilldul itu perlu dikaji secara mendalam dan tadi kita sudah mendengarkan bersama pendapat daripada masing-maslng Fraksi .. Kalau kita ingin mendalami ini tentu kita perlu adanya referensi. Kami hanya menemukan dua referensi yang tertulis yang seperti dikatakan oleh Pak Zein tadi.

Pel1ama adalah UU tentang KUP, UU Nomor 9 Tahun 1994 Pasal 27, dimana di situ dikatakan bahwa wajib pajak dapat mengajukan permohonan badning hanya kepada badan peradilan pajak terhadap keputusan mengenai keberatannya yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.

Jadi di sini merupakan sillatu pasal yang memberikan instruksi kepada

(24)

kita sebagai pembentuk undang-undang untuk membuat undang-undang ini dan ini memang merupakan genus. jadi dia belum merupakan nama diri dan ini belum kita konkritisasikan. Dalam Pansus ini kita ingin mengkonkritkan apa namanya. Kita ingin menjadikan untuk membuat suatu undang-undang yang mempunyai nama diri atau judul. Dalam hal ini Pemerintah di dalam RUU ini sudah mengajukan yaitu Badan Peradilan Pajak.

Jadi apa yang kami katakan tadi genus itu sudah dijadikan nama diri, sudah dikonkritkan oleh Pemerintah di dalam RUU ini. Kami Saudara Pimpinan, belum merambah kepada yang Lain-lain, jadi kami batasi sampai judul ini dulu, nanti bagaimana masalah kasasi, bagaimana hubungan antara Badan Peradilan Pajak dengan TUN, apakah dia masuk di dalam Iingkungan daripada satu peradilan, apakah dia masuk lingkungan peradilan umum, masuk ke Peradilan TUN itu saya kira itu step berikutnya, jadi masalah judul dulu, juga belum mengemukakan pendapat sekarang ini, judul mana yang paling tepat, apakah Badan Peradilan Pajak ataukah Pengadilan, atau mungkin ada nama yang lain. Kalau umpamanya seperti yang dikemukakan di sini, susunan kekuasaan dan aeara Badan Peradilan Pajak itu lengkap, seperti UU tentang Pidana Ekonomi itu juga ada susunan dan lain sebagainya.

jadikami kira untuk tahap pertama ini karnijustru ingin minta penjelasan lebih dulu kepada Pemerintah, apa alasan Pemerintah mengajukan judul ini. Apakah hanya berpegang kepada yurldis formal yang ada dalam Pasal 27 seperti yang disinggung oleh F-PDI tadi dan juga pada Pasal 13 UU tentang Pokok Kehakiman 14 tahun 1970. Tadi Pak Zein itu mengemukakan tidak bisa dipisahkan Pasal 13 dengan Pasal 10, memang saya kira masalah Interpretasi atau penafsiran. Kalau Pak Bajeber itu kami kira menganut penafsiran gramatikal, penafsiran sistimatlk. jadi penafsiran sistimatlk, karena itu tidak bisa dipisahkan antara pasal yang satu dengan pasal yang lain undang-undang yang satu dengan undang-undang yang lain mempunyai keterkaitan. Tetapl kalau kita memakai penafsiran ataupun

(25)

interpretasi gramatikal, Pasal 13 itu dia bisa berdiri sendiri, jadi ini juga suatu penafsiran. Bagi kami, kami kira penafsiran yang dikatakan oleh Saudara dari F-PDI, bahwa Pasal13 bisa kitajadikan sebagai suatu acuan, bisa kita jadikan dasar. jadi ada dua dasar di sini, Pasal 13 UU Nomor 14 Tahun ]970 dan Pasa127 UU Nomor 9 Tahun 1994, sehingga sampai kepada keslmpulan bahwajudulnya demikian itu.

Jadi kami ingin bertanya lebih dulu kepada Pemerintah, apa alasannya, apa dasarnya membuat judul ini yaitu Badan Peradilan Pajak, demikian Pimpinan. Terima kasih.

Wassalamu 'alaikum ~r. Wb.

KETUARAPAT:

Terima kasih.

Saya kira Ikita sudah mendengar stand PDInt atau posisi dari keempat Fraksi yang berkaitan dengan judul, dan selanjutnya kami persilakan Pemerintah. Sebab saya kira posisi ini perlu kita pertimbangkan, perlu putaran kedua atau kita cari jalan lain nantinya. Kami persilakan dengan segala hormat kepada Saudara Menteri.

PEMERINTAH :

Saudara Ketua dan para Anggota Dewan yang terhormat.

Kami telah membaca DIM dengan penuh perhatlan mengenal masalah ini, karena ini .adalah record daripada DIM dan kami t.elah dengan penuh menyimak pendapat dan pertimbangan-pertimbangan yang disarnpaikan oleh keempat Fraksi melaluijuru bicaranya masing-masing.

Saudara Ketua dan para Anggota Pansus yang kami hormati, judul

(26)

tentang RUU yang diajukan ini tentunya tidak dapat dipisah-kan dengan pasal-pasal selanjutnya mengikuti judul tersebut. Karena itu persis seperti Saudara ketua kemukakan, ini harus pertu kita selebaikan. Kami memilih judul ini tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar memenuhi sepenuhnya mengikuti amanat Pasal 27 KUP yang kemudian juga ada UU tentang Kepabeanan demikian juga tentang Cukai. Mengapa pada undang-undang tidak hurufbesar, itu kita serahkan saja pada waktu merumuskan terdahulu.

Tetapi ini saya kira intepretasi apapunjuga yang kita gunakan tidak menutup kemungkinan dijadikanjudul dengan hurufbesar, intepretasi apapun yang juga kita pakai tidak menutup kemungkinan bahwa huruf keeil ini kita angkat menjadi hurufbesar sebagai nama. Karenajika kita simak baik-baik Pasal 27 ayat (1) "wajib pajak dapat mengajukan permohonan banding hanya" ada kata "hanya kepada badan peradilan pajak" tiada badan lain, ditunjuk dengan itu, jadi tidak intepretatif dia. telah spesifik menyatakan seeara eksplisit kepada siapa mengajukan banding, itu gunanya hanya, kalau tidak ada, tidak ada gunanya ini "hanya". Jadi secara spesifik dan eksplisit menunjuk kepada sesuatu kemana dia harus mengajukan kalau kita mengadakan sesuatu akhirnya kan lama.

Kemudian mengenai keberatannya yang dlitetapkan oleh Dirjen Pajak, ayat (2) sebelum badan peradlilan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk permohonan banding diajukan kepada majelis pertimbangan pajak", ini memang nama besar ini yang pUltusannya bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. jadi ini bukan di luar birokrasi yang putusannya bukan merupakan keputusan Tata Usaha Negara. Kalau ini sudah "K" besar, "P" besar, "U" besar dan ''N'' besar. ayat (3) : sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan secara tertulis dengan bahasa Indonesia dengan alasan yang jelas dalam waktu tiga bulan sejak keputusan itu diterima dilampiri salinan dari surat keputusan tersebut ayat (4) : putusan badan peradilan pajak merupakan putusan akhirdan bersifat tetap", itu untuk dia. ini kan sudah jelas, dibuat kata-kata hegini, jadi tidak ada hadan lain lagi. ayat (5) : "pengajuan permohonan banding tidak menunda kewajihan

(27)

membayar pajak dan pelaksanaan penaglhan pajak ini sebagaimana ayat .{l) Prinsip-prinsip umum/universal ini semuanya begitu tentang suatu ketentuan 'I1lcn,genai pcrpajakan.ayat (6) SUSUllan, kekuasaan dan eara peradilan pajak sebagal badan peradlllan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan undang-undang, ini yang kita bicarakan.

jadi dengan demikian Saudara Ketua dan para Anggota Pansus yang kami hormati, sungguh kami sangat mcnghormati dan menghayati hal-hal yang tadi dikemukakan untuk kesekian kaHnya karena ini masalah yang memang merupakan hal yang penting, kami sangat menghormati kehati- hatian kita bersama, karena pada akhlrnya kita kan nanti dan saya kira yang terbaik adalah memang dari forum ini. Secara demokratis dengan asas-asas musyawarah dan mufakat kita selebaikan sebaik-baiknya, Saudara Ketua dan sekaligusjuga bagaimanapunjuga sebagaimana kami kemukakan tadi bahwa kita mengatakan nama tidak terlepas daripada isi dan isi tidak terlepas daripada konsiderans. Kalau dalam konsiderans kami sitirlkami singgung mengenai pasal-pasal yang mengenai kekuasaan Kehakiman, andaikata itu dianggap tidak konsisten dengan pelaksanaan pemurnian Pasal27 ini, kami mempertimbangkan untuk kita t1njau kembali supaya koslsten dengan Pasal 27. Karena itu, Saudara Ketua andaikata Saudara Ketua dan para Anggota Pansus yang kami hormati, kalau diputar lagi saya kira ya tidak banyak bedanya dan kalau diputar lagi terns terang Saudara Ketua, kami tidak ada alasan lain. Karena itu Saudara Ketua, apakah tidak sebaiknya kita adakan skors, kita adakan lobbi dalam waktu terserah sampai kita dapat selebaikan ini dengan suatl! permintaan kiranya namajuga sekaligus kita diselebaikan seperti yang lalu konsiderans dan yang lain danjika ini bisa kita selebaikan dan kami optimis dan Insya Allah dapat kita selebaikan. Mungkin Saudara ketua bisa mengajukan dua hal lain lagi yang tadi dikatakan yang paling pokok dalam forum lobbi itu, kalau lobbi tidak hams betul-betul final arah- arah penyelesaian. jadi kita tidak mengurangi juga kewenangan dari pada forum besar. Demikian Saudara Ketua. Terima kasih.

(28)

KETUA RAPAT :

Terima kasih Saudara Menteri.

Dengan mengawali tadi kami katakan ada lokomotifyang punya gaya pengaruh untuk menarik gerbong-gerbongnya, maka kalau lokomotifnya tidak terselebaikan, saya khawatir gerbongnya tidak akan jalan dan gerbongnya cukup panjang ini. jadi sebetulnya kami sependapat dengan tidak mengurangl kesepakatan rekan-rekan Fraksi, barangkali semua Fraksi sudah mengutarakan begitu luas, begitu mendalam dari berbagai pertimbangan, maka dengan persetujuan keempat Fraksi, kami l11ohonkan apakah?

INTERUPSI F-PP (H. ZAIN BADJEBER):

Saudara Ketua.

KETUA RAPAT : Persilakan.

F .pp (II. ZAIN BADJEBER) :

Ada hal-hal yang kalau lobbi itu tidak dicatat, ada hal-hal yang perlu kita clearkan didalal11 pencatatan Pansus ini, l11engenai pendirian masing-masing yang perlu kita tanggapl sebagai risalah resmi sesudah itu lobbi. Karena awal hanya penjelasan pendirian kemudian l11isalnya tadi Pemerintah mengatakan Pasal27 kita ingin l11enanggapi.

KETUARAPAT:

Baik saya kira tadinya kami berpikir bahwa lobbi juga salah satu

(29)

instrumen d~ipada Pansusdan tentunya juga ada rekaman <Wltuk itu, otentitasnya saya kira tidak berbeda dan ini resmi daiam mekanisme. ini saya pikir dengan tidak mengurangi itu, karena kim tahu bahwa waktu kita kalau menurut jadwal hanya sampai pukul 4 (\6.00 WIB) tetapi tadinya kami akan menawarkan tambah lagi satu jam seperti kemarin kita selebarkan sampai pukul 5 (17.00 \VIB).jadi barangkali bagaimana Pak Zain kalau Jobbii itu merupakan instrunlen yang resrni daripada Pansus dan di-record.

F-PP (ZAIN BADJEBER) :

Putaran kedua juga instrumen yang resrni.

KETUARAPAT:

Ya betul, tetapi apakah kalau stand PDlntnya sudah jelas toh nanti kita perdebat toh juga pada satu konklusi, apakah tidak sebaiknya sekarang, ini saya tawarkan dulu kepada Fraksi-fraksi yang lain, apakah kita gunakan putaran kedua atau langsung kita lobbi. jadi saya mau masih tawarkan kepada Fraksi yang lain dulu Pak Zain. F-PDI, apakah kita gunakan putaran kedua atau langsung lobbi sesuai dengan permintaan Pak Menteri?

F-PDI (DJUPRI, SH):

Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Sidang ini, jadi kami setuju diteruskan putaran keduapun setuju, lobbipun setuju.

KETUA RAPAT :

jadi gelombangnya ya,

F-KP

saya persilakan.

F-KP (ABDULLAH ZAINIE, SH) : Terima kasih Pimpinan.

(30)

Saya kira memang kita ini bisa memilih antara dua, apakah putaran satu kali lagi ataukah langsung lobbi. Kami dari F-KP memilih untuk langsung lobbi, adapun alasan-alasan yang akan dikemukakan oleh Fraksi-fraksi nanti bisa kita kemukakan lagi di dalam lobbi secara panJang lebar begitu.

jadi langsung lobbi. Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT :

Baik, terima kasih, dari F-ABRI.

F-ABRI (DRS. SUPRIADI):

Dari F-ABRI Pak, karena dari Pak Menteri tadi sudah menyam-paikan dan demikian juga dari Fraksi-fraksi, jadi kami dapat menyetujui untuk lobbi dan setelah itu hasillobbi nanti dapat disampaikan di Sidang ini Pak.

Terima kasih. Dengan alasan-alasannya.

KETUARAPAT:

Baik, terima kasih.

Jadi kami kembalikan kepada F-PP bahwa lobbi merupakan instrumen dan tetap di-record yang s:tatusnya barangkali bisa kita sepakati sarna dengan recording daripada putaran kedua, saya persilakan.

~'-PP (DRS. H. JUSUF SYAKIR, SH) Terima kasih Saudara ketua.

Kalau diputar [agi, kaiau kami yang bicara tidak ada yang mendengar

(31)

karena PemeriI1ltah menghendaki iobbi, F-KP menghendakllobbi, F-ABRI menghendaki lobbi, F-PDI lobbi mau, tidak mau, jadi kami kalau bicara lagi kan tidak ada yang dengar, jadi ya pragmatis saja, jadi kami tidak Keberatan lobbi, cuma kami menyesalkancara Pimpinan menyeJebaikan masalah ini, kan biasanya yang sudah-sudah kadang-kadang hal tidak prinsipiil saja dua kali putaran. Saya tadi sudah menunjukkan kepada Pak Ketua begini-begini ini saya minta diputar, tidak ada ruginya, putar itu tidak ada ruginya, paling tidak sampai 10 menit. Tetapi ada rasa kepuasan dan rasa kepuasan itu psikologis tidak rasional itu rasa kepuasan itu, itu masalah perasaan. jadi saya setuju sekaIi lobbi bahkan menurut pendapat saya lobbi itu bukan hanya j udul. jadi mestinya kita lobbi itu substansi, kan problemnya bukan hanya di judul, judul itu sesungguhnya tidak terlalu substansi bagi pendapat saya. Mungkin substansi betul, tapi tidak terIalu substansi peradilan ini. Yang pentingkan kedudukannya dimana, lalu bisa kasasi tidak, lalu kewenangannya apa, lalu dimana. itu saja yang penting, itu saja perIu juga dilobbikan. jadi yang pentingkan ke empat fraksi ditambah Pemerintah political will-nya sarna, sisinya sarna kalau sudah sarna ahli hukum cari yuridisnya, bukan ahli hukum mencari yuridisnya dulu baru political, ini kebalik ini.

jadi seperti waktu kita bicarakan KUP dahulu, padahal di dalam UU jelas keputusan MPP itu bi:sa dibanding ke PTUN itu jelas UU. Tetapi political will ke empat fraksi dan pemerintah menyata kan waktu itu tidak boleh dibandingpolitical will dulu yang bicara baru dicari usaha yuridisnya, lalu kita tutup itu banding. Bila bertentangan dengan UU yang ada, kita tutup juga dinyatakan umpamanya Badan Peradilan Pajak keputusannya adalah tingkat terakhir dan final itu juga bertentangan dengan UU, tapi politi cal will ke empat fraksi dan pemerintah dinyatakan harus ditutup, kita tutup. jadi political will inilah yang menurut pendapat saya yang perIu di lobbikan, bukan hanya selkedar judul.

Jadi kami setuju Saudara Ketua, dilobbikan dan menyesal juga saya sampaikan dan saya minta maaf kalau saya terlalu keras. Terima kasih.

(32)

KETUARAPAT :

Terima kasih Pak Yusuf. Ada lagi silakan.

F-PP (H. ZAIN BADJEBER) :

Ini bukan menyarankan supaya diputar atau tidak itu dilobbi, artinya melobbi putaran kedua atau tidak. Tetapi apa yang kami katakan tadi yang sudah dikatakan Pal;: Yusuf Syakir, bahwa ini sejarah mencatat risalah.

Setahu kami yang ada risalah selama ini ialah Pansus sama Panja, lobbi itu tidak punya risaIah, jadi seperti tadi Pemerintah mengatakan Pasal 27 itu jelas disana dikatakan, keputusan "TUN" (dengan hurnf besar), disana tidak dikatakan putusan "TUN", keputusan "TUN", putusan dan keputusan

itu berbeda. Putusan adalah von is, keputusan adminstratif.

Jadi "'llJN» disitu tidak berartj Peradilan "TUN" memang. Tetapi tata usaha negara di dalam arti administrasi, karena di dahului oleh keputusan hokan putusan, ini hal-hal seperti begini kita hams clear-kan diantara sesama kita.. Begitu juga kalau disebutkan Pasal 13 tafsiran kami gramatikal atau tafsiran bahasa, kam i tidak juga historis interpretasi yang kami lakukan, bagaimana historisnya pasal-pasal itu, yang kebetulan kami ikut menyusunnya pada waktu itu. Terima kasih.

KETUARAPAT :

Baik terima kasih Pak Zain dan Pak Yusuf.

Jadi saya Mohon maaf,jadi terus terang memang tidak ada maksud untuk mengurangi hak bicara, atau beradu argumentasi. tapi mungkin Pimpinan in; terjebak dengan waI..-ru barangkali, setelah diketahui bahwa hari Jum'at itu tidak ada sidang lagi, maka porsi yang disediakan untuk BPP ini praktis hari ini mungkin duajam atau satu jam, dan hari besok sampai sore. jadi kalau lobbi memang tidak hanya jUdlll saja, mungkin belberapa substansi yang kita anggap prinsipil bisa diangkat di dalam lobbi.

(33)

Namun apakah ini dianggap rnenyimpang daripada prosedur atau tata cara pembahasan, tidak dua kali, saya kira masalahnya tidak terlalu disitu barangkali letaknya yang kami kemukakan tadi. Jadi kalau ada salah pengertian dalam segi ini kami mohon maaf, dan sekali lagi kami tawarkan kepada Pemerintah sebagai user dari pada RUU ini nanti kalau sudah jadi. Apakah saran dari lPemerintah dalam hal ini Menteri, untuk langsung di lobbikan apakah kita teruskan apakah kita sekali lagi diputar.

Sebab usul lobbi itu Pak Yusuf datangnya pertama-tama dari Pemerintah, bukan dari saya. Menteri tadi mengusulkan untuk bisa langsung di lobbikan dengan membahas substansU-substansi yang lain. Saya persilakan Saudara Menteri.

INTERUPSI F-KP (BEN MESSAKH, SE) : Saudara Ketua.

lni saya kim semua fraksi setuju lobbi, tidak perlu tawarkan kern bali kepada Pemerintah.

KETUARAPAT:

Saya kira tidak ada salahnya kalau kita tawarkan kepada Pemerintah barangkali.

INTERUPSI F-PP (DRS.H. YUSUF SYAKIR) :

Saya idem, ditto itu Pak Mesakh, karena Pemerintah sudah mengusulkan, masih ditanya lagi.

KETUARAPAT:

Saya hanya mau meluruskan saja, bahwa lobbi itu datangnya sebetulnya dari Pemeritah, saya kira terima kasih ..

(34)

Jadi saya kira kesepakatan semua fraksi lobbi tidak hanya membahas masalah judul saja, dan waktunya juga seperti dikatakan tadi sampai selesai, saya kira selesainya bisa kita sepakati pada forum lobbi. Saya kira demikian.

F-ABRI kami persilakan.

F-ABRI (OENG RUMADJI, SH) : Saudara Ketua mohon maaf.

Kami mendengar Saudara Ketua akan melobbi disamping judul ada substansi yang lain akan dibicarakan. Substansi yang lain tentu ada di dalam DIM ini, apakah bisa sebelum dibicarakan di forum Pansus ini kita akan kita lobbikan, ini pertanyaan saja,

Tetapi kalau kita memang sependapat bisa, ya mari mungkin sebagian besar akan kita lobbikan bisajlLlga. Seyogyanya F-ABRI menyarankan mari kita tinjau dulu apa yang akan kita lobbikan, mungkin dalam kaitan dalam judlll, kita bisa melihat Bab Mengingat nomor 1 dan nonlOr 2, nomor 3.

Barangkali nanti bisa kita kaitkan pada Pasal 2 tentang Kedudukan, nah mllngkin ini bisa setelah itu kita sampaikan, mungkin tidak perlu kita putar ini kita sampaikan mari kita lobbikan, mel1lang itu ada kaitan. Saya kira demikian, terima kasih.

KETUARAPAT:

Baik tcrima kasih, saya kira del1likian.

Jadi sekarang pukul 15.15 WIB. Jadi bisa kita langsung lobbi ditel1lpat yang biasa kita lakukan lobbi ..

F-KP (ABDULLAH ZAINIE, SH) : Sebentar Pimpinan.

(35)

Apa yang dikatakan f,·ABRI barangkali perlu kita tanggapi bersama, apa yang kita lobbikan, tadi kita sepakat "Judul" itu sudah pasti. Kemudian apakah kita ikuti apa yang telah kita laksanakan beberapa waktu yang lalu, bahwa untuk konsiderans rnenimbang dan konsiderans mengingat itu nanti masuk di dalam Tim Kecil. Tetapi walaupun dia masuk ke dalam Tim KeciI, itu mungkin bisa kita bicarakan secara garis besar di dalam lobbi itu, kemudian baru kita laporkan kepada Pansus ini.

Jadi memang benar kalau kita ingin lobbi, kita tentukan dulu apa yang mau kita lobbi, kita putuskan dulu disini. Kalau hanya batas judul mari kita judul, kalau sampai konsiderans mari konsiderans- konsiderans bagaimana, konsiderans secara keseluruhan, atau konsiderans diberikan nanti kepada Tim Kecil. Terima kasih.

KETUA Rt\PAT :

Baik, Saya kira mengenai konsiderans Menimbang, Mengingat dan Penjelasan Vmum, saya kira sesuai mekanisme itu akan di serahkan kcpada Tim Kedl nielalui Panja dengan mandat pcnuh, kalau tidak salah bunyinya demikian, tetapi karcna ada titik singgungnya barangkali nanti di dalam lobbi itu bisa kita singgung berbagai substansi yang berkaitan dengan itu. Dengan tidak mengurangi perse1ujuan nanti dari forum materi atau substansi alPa perlu di lobbikan nantinya.

Jadi lobbi ini fokusnya jelas hanya pada judul, mungkin titik singgung yang lain barangkali bisa kita kembangkan nanti dengan persetujuan forum yang lebih luas. Saya kira demikian, bisa kita mulai lobbi barangkali, karena waktunya tidak kita tentukan sampai dengan selesal dan InsyaAllah dengan Innayah Allah SWT kita bisa menyelebaikan dengan ini dengan sebaik-baiknya dan semangat musyawarah yang sebaik-baiknya.

Baik sidang kami skors sampai selesainya lobbi, terima kasih.

(36)

(Rapat diskors Puku115.20 WIB.) Saudara-saudara sekalian,

Skors kami cabut kembali dengan BissmjIJai1irohmmmirohil1l.

(Skorsing rapat dicabut Pukn116.45 WIB.) Saudara-saudara sekalian yang kami hormati.

Setelah kita adakan lobbi dengan segala keterbukaan dan dengan segal a ketulusan dan keihklasan untuk berupaya memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini, untuk masa-masa perjalanan selanjutnya, maka keempat fraksi dan Pemerintah sepakat mengarnbil kesimpulan hal-hal sebagai berikut :

Yaitu pertama, bahwa keempat fraksi dan Pemerintah sepakat untuk melaksanakan secara mumi dan konsekuen amanat Pa.<;al 27 Undang- undang Nornor 9 Tahun 1994 tentang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (KUP). Itu yang pertama.

Yang kedua, untuk menentukan nama lembaga yang akalll dibentuk yang diamanatkan oleh Pasa) 27 Undang-undang Nomor 9 tahun 1994, keempat fraksi dan Pemerintah sepakat, perlu kehati-hatian dan kecermatan, jangan sampai nama itu bisa menimbulkan kontradiksi dalam konteks dengan makri muatan maupun dengan sistem yang berjalan. jadi nama jangan sampai istilah nyercmpet-nyerempet atau bertentangan dengan sistcm peradilan yang sudah ada. Untuk ito dalam kaitan melaksanakan secara murni dan konsekuen, amanat Pasal 27 Undang-undang Nomor 9 Tabun 1994, maka sepakat keempat fraksi dan Pemerintah ulltuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dari konsiderans menimbang, mengingat, materi muatan secarn keseluruhan termasuk penjelasan-penjelasannya.

(37)

Untuk itu malam ini dimohonkan dengan honnat semua fraksi dan Pemerintah sendiri untuk merenungkan secara cennat dan bagi yang terbiasa melakukan istiqarah bisa melakukan secara individual untuk bisa mendapatkan yang terbaik.. Dan besok pagi Insya Allah pada waktu kita memulai sidang pada Pukul 09.00 WIB. sudah ada titik-titik cerah yang berkaitan dengan apa yang kami kemukakan tadi.

Dan selanjutnya sebelum Pukul 09.00 WIB keempat fraksi dan Pemerintah akan mempertemukan diri kembali, Insya Allah sudah bisa ditemukan titik-titik yang lebih terang dan lebihjelas sehingga pembahasan Illsya Allah akan lebih lancar. Dengan catatan bahwa Pukul 09.00 WIB besok pembahasan akan terus berjajan seandainya, nama yang tepat belum ditemukan maka pembahasan secara terus akan bisa dilaksanakan dan sesuai kesepakatan konsiderans menimbang, mengingat dan penjelasan umum itu akan diserahkan kepada Tim Kecil melalui Panja dengan catatan- catatan amanat tadi.

Dengan demikian di dalam pembahasan, kalau belum ditemukan Insya Allah dengan melalui berbagai cara kita bisa menemukan nama itu dengan sebaik-baiknyat, maka pembahasan akan terus sejauh menyinggung nama akan kita titik-titik, tetapi subtansinya bisa kita teruskan dalam konteks murni dan konsekuen tadi.

Saya kira demikian, dan F-ABRI saya persilakan mungkin ada penyempurnaan atau penambahan.

F-ABRI (R.M. PURBA) : Terima kasih Bapak Ketua.

Mungkin ada satu kesepakatan yang apakah betul demikian tadi, yaitu mengenai judul kalau tidak salah Bapak Ketua mengatakan supaya judul ini tidak kontradiksi dengan nama maupun s[stem peradilan yang sudah ada.

(38)

Kalau saya tidak salah bukan kontradiksi, tapi nama itu jangan sampai nyerempet-nyerempet, nyeremlPet-nyerempet dengan kontradiksi inikan beda, nyerempet-nyerempet dengan nama atau sistem hukum atau dengan sistem peradilan yang sudah ada supaya tidak menimbulkan kerancuan lagi.

Saya kira demikian Pak, mohon klarifikasi. Terima kasih.

KETUARAPAT:

Jadi saya kira saya ulangi.

Jadi dalam butir yang belakangan yang saya sebutkan mernang saya ulang, bahwa nama hendaknya dengan kehatian-hatian tadi, nama yang akan kita sepakati jangan sampai nyerempet-nycrempet atau bertentangan dengan sistem peradilan yang ada. Saya kira itu Pak. Atau hanya yang nyerernpet-nyerernpet saja atau bertentangan.

F-ABRI (R.M. PURBA) :

Kalau dikatakan jangan bertentangan dengan sistern peradilan yang sudah ada, berarti sarna dengan peradilan yang sam a padahalmaksudnya bukan itu tadi .

KETUARAPAT:

Baik, jadi dengan dernikian.

Saya ulangi nama yang nantinya Insya Allah kita sepakati bersama dengan kehati-hatian tadi jangan sampai nyerempet-nyerempet dengan sistem pcradilan yang ada. Saya kira begitu.

Dari F-PP bisa menyetujui.

(39)

F-PP (II. ZAIN BADJEBER) :

Setuju.

KETUA RAPAT :

Dari F-KP.

F-KP (ABDULLAH ZAINIE, SH) :

Setuju.

KETUARAPAT:

Dari F-PDI.

F-PDI (DJUPRI, SII) :

Setuju.

KETUARAPAT:

Dari F-ABRI.

F-ABRI (R.M. PURBA) : Sctuju.

KETUA RAPAT :

Dari Pemerintah yang hormat Saudara Menteri.

PEMERINTAH : Setuju

(40)

KETUARAPAT:

Dengan berucap AlhanuiulillaJl, maka kesepakatan itu menjadi pegangan pokok di dalam perjalanan kita selanjutnya.

Mudah-mudahan dan /nsya Allah, Allah senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk serta Innayah-Nya kepada kita semuanya di dalam mencoba berbuat dan melakukan sesuatu yang terbaik bag! Bangsa dan Negara ini.

Dengan seizin Saudara-saudara sekalian, Rapat Pansus yang ke-8 kami skors untuk InsyaAl1ah kita lanjutkan besok pagi puknl 09.00 'VIB.

Terima kasih. Wassalamu 'alaikum Wr. Wh.

(RAPAT DISKORS PUKUL 16.45 WIB.)

Jakarta, 5 Maret 1997 A.N. KETUA RAPAT

PANS US 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN SEKRETARIS PANSUS

Nv.

~

ANITA SOEKARDJO, S.H.

NIP. 210000974

(41)

LA1>ORAN SINGKA T PANITIA KHUSUS (PANSUS)

PEMnAT-I \S.\N 5 RUn TE]\TIA NG BAnAN PERADILAN PAJAK

Tahun Sidang : 1996 - 1997 Musa Persidangan : lTJ

RapatKe : 10

lenis Rapat : Rapat Kerja ke 8 Dengan : Menteri Keuangan RI Sifat Rapat : Terbuka

HarilTanggal : Rabu, 5 Maret 1997 Pukul : 14.10 - 16.45 \vIB

Tempat : Ruang Kaca Gedung DPR-RI Ketua Rapat : lusuf Talib, SH

Sekretaris Rapat : Ny. Anita Soekarjo, SH

Acara : Pembahasan Materi DIM RUU Tentang Badan Peradilan Pajak

(42)

Hadir Anggota Pansus :

54 orang dari 59 orang Anggota Tetap 18 orang dari 28 orang Anggota Penggati

- Pemerintah : ( Menteri Keuangall1 RI beserta jajarannya) :

KESIMPULANIKEPUTUSAN:

1. Ketua Rapat mencabut skorsing dan rapat dilanjutkan 14.10 WIB dan dinyatakan terbuka untuk umum.

2. Koreksi terhadap laporan singkat tgi. 4 Maret 1997 akan dilakukan secara tertulis dari masing-masing Fraksi dan Pemerintah akan diberikan kepada Sekretariat Pansus untuk perbaikan seperlunya.

Koreksi terhadap laporan singkat tgl.4 Maret 1997 dari Pemeritah:

Halaman 1

Tertulis: LAPORAN SINGKAT PANlTIA KHUSUS BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH.

Seharusnya: LAPORAN SINGKAT PANITIA KHUSUS RUU TENTANG PENAGlHAN PAJAK DENGAN SURAT PAKSA.

Halaman 1

Tertulis Senin, 4 Maret 1997 Seharusnya: Selasa, 4 Maret 1997

Halaman 2 No. 3.17. DIM No.Urut 38 Tertulis: tentang biaya lain-lainnya.

(43)

Seharusnya: tent.ang biaya,t.;ilya ;ail:hY.:.

Halaman 9 No.3. 142. DIM No.Umt 163

Tertu]is: DIM No.Urut 163Pasal 22 ayat (2) RUU pembahasannya diserahkan ke Panja untuk diteruskan ke Tim Perumus.

Sehamsnya: DIM No. Urut 163 Pasal 22 ayar (2) RUU pembahasannya diserahkan ke Panja untuk diteruskan ke Tim Pcrumus, sedangkan usul pcnambahan ayat (2) bani dari FPP pcmbahasannya diserahkan ke Panja.

3. Lanjutan Pembahasan Materi:

3.l.DIM No.Urut ) disetujui rumusannya dengan menoJiapus angka 1996

3.2.DIM No.Urut 2 tentangjudul RUU diadakan lobby dengan kesimpulan:

Keempat Fraksi dan Pemerintah sepakat untuk melaksanakan amanat UU No.9 Tahun 1994 tentang KUP, PasaI27 secara murni dan konsekuen.

Mengenai judul, masih perlu direnungkan lebih mendalam Sehingga lobby dilanjutkan besok pagi, Kamis, 6 Maret 1997 pukul 08.30 WIB.

Diupayakan agar judul RUU jangan sampai menyerernpet- nyerernpet dengan sistern peradilan yang ada.

4. Rapat diskors pukul 16.45 WIB dan akan dilanjutkan kern bali besok Karnis,6 Maret 1997 pukul 09.00 WIB.

(44)

Jakarta, 5 Maret 1997 A.N. KETUA RAPAT

PANSUS 5 RUU BIDANG PERPAJAKAN SEKRETARIS PANSUS

N~'H'

NIP. 210000974

Referensi

Dokumen terkait

SKEMA BISNIS SMF DALAM SISTEM PEMBIAYAAN PEUMAHAN Bank Umum Bank Syariah Bank Pembangunan Daerah MultiFinance Sekuritisasi Penerbitan Surat Utang Pelatihan &amp; Konsultansi Mortg

Laboratorium Hidrolika Lingkungan merupakan salah satu laboratorium yang ada di Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas yang ditujukan untuk menunjang kegiatan

Objek Pajak Penghasilan adalah penghasilan yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak (WP), baik yang berasal dari Indonesia

memecahkan masalah dengan benar Siswa mampu memecahkan masalah dengan benar Siswa kurang mampu memecahkan masalah dengan benar Siswa tidak mampu memecahkan masalah

bahwa untuk melaksanakan amanat Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 ten.tang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nornor 23 Tahun 2014 ten tang Pemerintahan

Untuk mengakses SIMAK sebagai level mahasiswa, dapat dilakukan dengan memilih sub menu Data Mahasiswa pada menu Depan. Hal ini dilakukan untuk memastikan mahasiswa

Tetapi hasil tersebut masih sangat bervariasi dibanding dengan penelitian yang lain, seperti penelitian yang dilakukan Gisondi pada tahun 2007 yang menyatakan

HITUNG DASAR YANG DI TRAMPILKAN BAB: SUDUT TOPIK: JUMLAH SUDUT DALAM PADA BANGUN SEGITIGA Kertas berbentuk segitiga yang terdiri dari : -. Guru mengingatkan dengan