• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

2.1 Letak Geografis dan Sejarah Kabupaten Aceh Tengah

Aceh tengah merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Ibukota Kabupaten Aceh Tengah yaitu Takengon, yang memiliki luas wilayah 445.404,12 Ha terdiri dari 14 Kecamatan dan 268 Desa. Kota Takengon terletak pada ketinggian 200-2600 meter di atas permukaan laut. Daerah ini terletak pada 4°10’- 4°58’ Lintang Utara dan 96°18’-96°22’ Bujur Timur. Ditinjau dari letaknya Kabupaten Aceh Tengah, pada bagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Bieruen dan Kabupaten Aceh Utara. Pada bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Pidie dan Kabupaten Aceh Barat. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur. Sedangkan disebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Gayo Lues.

Kabupaten Aceh Tengah terbagi lagi menjadi 14 Kecamatan, Kecamatan tersebut antara lain: Atu Lintang, Bebesen, Bies, Bintang, Celala, Jagong Jeget, Kebayakan, Ketol, Kute Panang, Linge, Lut Tawar, Pegasing, Rusip Antara, dan Silih Nara. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2.1

Pembagian Wilayah Administrasi Kecamatan Kabupaten Aceh Tengah

No Kecamatan Luas (Ha)

1 Linge 176.624,89

2 Bintang 57.826,07 3 Lut Tawar 8.310,16 4 Kebayakan 4.817,95 5 Pegasing 18.687,11

(2)

No Kecamatan Luas (Ha)

6 Bebesan 2.895,52

7 Kute Panang 2.094,86 8 Silih Nara 7.504,35

9 Ketol 61.146,86

10 Celala 10.881,85

11 Atu Lintang 14.626,87 12 Jagong Jeget 18.824,75

13 Bies 1.231,55

14 Rusip Antara 59.931,33

Total 445.404,13

Sumber : Buku Putih Sanitasi (BPS) Kabupaten Aceh Tengah

Awal mula nama kota Takengon berasal dari bahasa Gayo “Beta ku engon” yang berarti begitu saya lihat. Dan diduga kata-kata tersebut diucapkan oleh Genali yang merupakan orang pertama yang dipercaya menemukan kota Takengon. Kabupaten Aceh Tengah berdiri pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-oendang No. 10 tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah Kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-undang No.7 (Drt) Tahun 1956.

Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu kewedanaan Takengon, Gayo Lues dan Tanah Alas. Kemudian pada tahun 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan kembali menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara melalui Undang-undang No. 4 Tahun 1974, pemekaran ini terjadi karena sulitnya transportasi dan didukung oleh masyarakat. Dan kembali lagi dimekarkan pada tanggal 7 Januari 2004 Kabupaten Aceh Tengah tetap menjadi Ibukota Takengon dan Bener Meriah menjadi Ibukota Simpang Tiga Redelong, dengan Undang-undang No. 41 Tahun 2003.

Kolonial Belanda memasuki wilayah Aceh Tengah sekitar tahun 1904, kolonial Belanda tertarik untuk datang ke Aceh Tengah karena potensi perkebunan tanah Gayo sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, tembakau dan damar. Pada masa ini wilayah

(3)

Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai Ibukotanya.

Pada masa itu juga di kota Takengon mulai berkembang menjadi pusat pemasaran hasil bumi dataran tinggi Gayo, khususnya sayuran dan kopi. Kemudian masuknya penduduk Jepang pada tahun 1942-1945 sebutan Onder Afdeeling Takengon diubah menjadi Gun yang dipimpin oleh Gunco. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 sebutan tersebut berganti lagi menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi Kabupaten.

2.2 Iklim

Kabupaten Aceh Tengah termasuk ke dalam daerah yang beriklim Tropis, dan memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim penghujan berlangsung dari bulan September sampai November.Curah hujan rata-rata setiap tahun 1.082 mm sampai dengan 2.409 mm, rata-rata hujan setiap tahun 113 hari sampai dengan 160 hari per tahun. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan November yang mencapai 316,5 mm, curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli yang mencapai 6,2 mm.

Sedangkan pada musim kemarau berlangsung pada bulan Januari sampai Agustus.

Selengkapnya dapat diilihat dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2

Data Curah Hujan Kabupaten Aceh Tengah

Tahun 2007 – 2012

Tahun Curah Hujan

2007 138,75 mm 2008 162,71 mm 2009 292,52 mm 2010 216,98 mm 2011 165,77 mm 2012 196 mm

Sumber: Buku Putih Sanitasi (BPA) Kabupaten Aceh Tengah

(4)

Kabupaten Aceh Tengah memiliki suhu udara yang sejuk antara 10-20°C, suhu terpanas terjadi pada bulan April dengan suhu 26,6°C. Dan suhu terdingin pada bulan September dengan suhu 19,700C. Kelembaban udara di Aceh Tengah berkisar 80,08%,kelembaban udara terbasah 86,28% dan terkering 74,25%. Kecepatan angin tercepat 2,53m/det dan terlambat 0,95m/det.

2.3 Topografi

Kabupaten Aceh Tengah memiliki topografi wilayah yang bervariasi mulai dari dataran dengan kemiringan lereng 0-2%, landai dengan kemiringan 2-8%, berombak dengan kemiringan lereng 8-15%, bergelombang dengan kemiringan lereng 15-25%, berbukit dengan kemiringan lereng 25-40%, bergunung dengan kemiringan lereng >40%.

Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3

Kemiringan Lahan, Bentuk dan Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tengah

No Kemiringan Lereng (%)

Bentuk Wilayah Luas

Wilayah (Ha) (%)

1 0 – 2 Datar 4.780,91 1,07

2 2 – 8 Landai 7.100,07 1,59

3 8 – 15 Berombak 32.115,33 7,21

3 15 – 25 Bergelombang 101.180,05 22,72 4 25 – 40 Berbukit 184,932,46 41,52 5 >40 Bergunung 115,295,30 25,89

Jumlah 445.404,12 100,00

Sumber: Buku Putih Sanitasi (BPA) Kabupaten Aceh Tengah

Kabupaten Aceh Tengah memiliki ketinggian tempat yang beragam, dimulai dari ketinggian 100-250 mdpl 0,03%, ketinggian 250-500 mdpl 4,70%, ketinggian 500-750

(5)

mdpl 12,29%, ketinggian 750-1000 mdpl 13,85%, ketinggian 1000-1250 mdpl 17,47%, ketinggian 1250-1500 mdpl 20,35%, ketinggian 1500-1750 mdpl 24,18%, ketinggian 1750-2000 mdpl 6,60% dan ketinggian >2000 mdpl 0,53%. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.4

Ketinggian Tempat dan Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tengah No Ketinggian (mdpl) Luas

Wilayah(Ha) %

1 100 – 250 127,41 0,03

2 250 – 500 20.919,72 4,70

3 500 – 750 54.738,76 12,29

4 750 – 1.000 61.686,22 13,85

5 1.000 – 1.250 77.834,09 17,47 6 1.250 – 1.500 90.645,32 20,35 7 1.500 - 1750 107.711,95 24,18

8 1.750 – 2000 29.376,90 6,60

9 > 2000 2.363,76 0,53

Jumlah 445.404,13 100,00 Sumber: Buku Putih Sanitasi (BPA) Kabupaten Aceh Tengah

2.4 DAS (Daerah Aliran Sungai)

Daerah aliran sungai yang ada di Kabupaten Aceh Tengah, antara lain; Kreung Peusangan, Kreung Woyla, Kreung Jambo Aye, Kreung Meureubo, Kreung Tripa, Kreung Tamiang, Kreung Seunagan. Sungai dimanfaat oleh masyarakat sekitar sebagai sumber air untuk pertanian, perkebunan, kebutuhan sehari-hari dan digunakan untuk pembangkit listrik. Sungai-sungai yang digunakan untuk pembangkit listrik yaitu Sungai Peusangan dan anak-anak Sungai Woyla. Sungai Peusangan dimanfaatkan sebagai

(6)

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan di alirkan ke Kecamatan Silih Nara yaitu di Dusun Singkiren Kampung Semelit Mutiara. Kemudian Sungai Peusangan dan anak-anak Sungai Woyla dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang di pasok untuk kebutuhan listrik di beberapa tempat, yakni; Kampung Bergang dan Karang Ampar Kecamatan Ketol dengan kapasitas 45 kw; Kampung Berawang Dewal dan Kampung Merah Said Kecamatan Jagong Jeget dengan kapasitas 200 kva; Kampung Tanjung dan Kampung Kuala Rawa Kecamatan Rusip Antara dengan kapasitas 150 kw;

dan Kampung Tanoh Depet dan Depet Indah Kecamatan Celala dengan kapasitas 45 kw.

2.5Danau Laut Tawar

Kabupaten Aceh Tengah juga memiliki sebuah danau, danau tersebut dinamakan dengan Danau Laut Tawar. Biasanya orang setempat menyebutnya dengan Danau Lut Tawar. secara astronomis Danau Laut Tawar ini terletak di040 50’ LU dan 960 50’ BT memiliki luas kira-kira 5.472 Ha dengan panjang 17 km dan lebar 3.219 km, volume air kira-kira 2.537.483.884 m3 atau 2,5 triliun liter. Pasokan air Danau Laut Tawar didapat dari 14 sungai dan anak sungai yaitu Wih Nareh, Wih Gembrik, Wih Empan, Wih Rawe, Wih Nosar, Wih Menganya, Wih Bewang, Wih Uning, Wih Kala Rengki, Wih Kebayakan, Wih Ulung (ular) Gajah, Wih Bintang, dan Wih Linung Bulen.

Danau Luat Tawar ini dikelilingi oleh barisan gunung dan bukit antara lain bur ni Kelieten, bur ni Birang Panyang, bur ni Telege, bur ni Lelabu, maka tidak heran Danau Laut Tawar ini juga dijadikan sebagai komoditi pariwisata. Selain itu Danau Laut Tawar juga dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan warga. Maka warga sekitar Danau Laut Tawar tidak sedikit yang berprofesi sebagai nelayan air tawar, dan air danau tersebut juga dimanfaatkan sebagai irigasi untuk petani sawah yang ada di sekitar danau Laut Tawar. Di sekeliling Danau Laut Tawar terdiri dari beberapa wilayah Kecamatan,

(7)

yaitu; Kecamatan Lut Tawar, Kecamatan Kebayakan, Kecamatan Bebesen dan Kecamatan Bintang.

Danau Laut Tawar memiliki kedalaman yang bervariasi berdasarkan relief danau, berikut ukuran kedalaman Danau Laut Tawar:

- 35 meter dari pinggir danau memiliki kedalaman 8,9 meter - 100 meter dari pinggir danau memiliki kedalaman 19,27 meter - 620 meter dari pinggir danau memiliki kedalaman 51,13 meter

Begitu pula dengan suhu di Danau Laut Tawar, suhu air di danau ini juga bervariasi berdasarkan tingkat kedalamannya. Berikut ukuran suhu air Danau Laut Tawar berdasarkan kedalamannya:

- Kedalaman 1 meter dengan suhu 21,55° C - Kedalaman 5 meter dengan suhu 21,37° C - Kedalaman 10 meter dengan suhu 21,15° C - Kedalaman 20 meter dengan suhu 20,70° C - Kedalaman 50 meter dengan suhu 19,35° C

Di sekeliling Danau Laut Tawar terdapat lahan hutan Pinus namun secara perlahan hutan Pinus ini semakin berkurang. Salah satu faktor yang menyebabkan berkurangnya hutan di sekeliling danau yaitu hutan yang dijadikan lahan perkebunan.

Alih fungsi lahan ini berdampak pada menyusutnya debit air dan tingginya sedimentasi di Danau Laut Tawar.

(8)

Danau Laut Tawar dikelilingi oleh batu gamping3 dan batuan metasedimen4 umumnya struktur geologi di sekitar Danau Laut Tawar berupa Karts yang ditandai dengan gua-gua yang ada di sekeliling danau, struktur perlipatan, dan Sesar yang ditandai dengan adanya air terjun. Lingkungan Danau Laut Tawar terdiri dari kemiringan yang landai, curam, dan sangat curam. Lingkungan danau yang kemiringan yang landai yaitu berada di sekitar Kecamatan Kebayakan, Kecamatan Lut Tawar, Kecamatan Bebesen, dan Kecamatan Bintang. Lingkungan dengan kemiringan yang curam berada di sekitar Kecamatan Lut Tawar, Kecamatan Kebayakan, dan Kecamatan Bintang. Serta lingkungan dengan kemiringan sangat curam berada di sekitar Kecamatan Lut Tawar.

Keindahan alam menjadikan Danau Laut Tawar sebagai tempat yang banyak menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar negri. Selain itu Danau Laut Tawar juga memiliki peran penting dalam pengendalian keseimbangan air khusus untuk Kota Takengon dan menjadi sumber air untuk Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Bireun, Kabupaten Aceh Utara. Danau Laut Tawar diduga oleh Ir. P.J Jansen terbentuk karena adanya sesuatu material yang hilang dari dalam gunung berapi, lalu akibat dari kekosongan yang terjadi dasar tanah turun ke pusat bumi hal ini terbukti bahwa tepi bagian utara dan selatan sangat curam5. Air Danau Laut Tawar ini dipasok dari mata air yang ada di celah-celah tebing yang berdampingan dengan Danau Laut Tawar, informasi ini saya peroleh dari salah satu informan saya yang bernama Aman Nani. Berikut pernyataannya:

      

3 Batu gamping adalah batuan fosfat yang sebagian besar tersusun oleh mineral kalsium karbonat (CaCo3).

4 Batuan metasedimen adalah batuan malihan yang berasal dari batuan sedimen. Beberapa contoh batu malihan Sabak, Filit, Sekis, Marmer dst. Selengkapnya dapat dilihat melalui

http://one2land.wordpress.com/2010/01/22/mineral-dan-batuan/

5 Dapat dilihat dalam buku C. Snouck Hurgronje “Gayo: Masyarakat dan Kabudayaan Awal Abad ke- 20”

(9)

“…. Dedesen terbuat dari mata aer di pengger danau…”(Dedesen terbuat dari mata air di pinggir danau).

Informasi dari salah satu informan ini menjadi bukti bahwa di pinggir-pinggir Danau Laut Tawar ada mata air. Mata air ini berasal dari air gunung yang kemudian keluar dari celah-celah tebing di pinggir Danau Laut Tawar. Apabila volume air berlebih maka air disalurkan oleh sungai Peusangan.

Danau Laut Tawar menjadi rumah bagi ikan Depik (Rasbora Leptosoma)ikan ini merupakan ikan endemik di danau ini, selain itu ada beberapa jenis Ikan musiman yang juga hidup di Danau Laut Tawar sepertiEyas (Rasbora Argyrotaenia), Kawan (Puntius Tawarensis). Jenis Ikan yang tidak musiman yaitu Relo (Rasbora Tawarensis), Kerup (Anabas Testudineus), Jejolong (Mystacoleucus Magnatius), Keperas (Puntuis Sumatranus), Peres (Osteochilus Hasselti), Bawal (Cyprinus Carpio), Pedih (Labeobarbus), Lele (Clarias Batrachus), Gabus dan Lokot (Ophiocepalus Gachua), Lindung (Anguilla), Ili (Homaloptera Heterolepsi), Mujaher (Tilapia Mosambica)6. Tumbuhan yang hidup di Danau Laut Tawar yaitu Chlorophyceae7sebesar 35%, Bacillariophyceae8 24%, Myxophyceae9 9% dan kelas lain sebesar 32%. Tumbuhan lain juga ditemukan di Danau Laut Tawar seperti Hydrilla sp, enceng gondok dan kiambang.

2.6 Letak dan Akses Menuju Kecamatan Kebayakan

Kecamatan Kebayakan terletak di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Kecamatan Kebayakan terdiri dari 22 kampung atau kelurahan, yaitu;

Lot Kala, Jongok Meluem, Gunung Bukit, Pinangan, Paya Tumpi, Bukit Sama, Paya Reje Tami Delem, Kelupak Mata, Mendale, Kala Lengkio, Jongok Bathin, Kute Lot, Gunung       

6 Nama latin Ikan Depik ada dua yaitu Rasbora Leptosoma (lihat, melalatoa;1981,ha-l33) dan Rasbora Tawarensis (yang dibuat Oleh Muchlisin).

7Chlorophyceae adalah ganggang hijau.

8Bacillariophyceae atau Diatomeae adalah jasad renik bersel satu.

9Myxophyceae adalah ganggang lendir.

(10)

Balohen, Paya Tumpi Baru, Paya Tumpi 1, Timangan Gading, Gunung Bahgie, Bukut Eweh Tami Delem, Bukit, Telege Atu, Tawar Sedenge, Musara. Jarak Kecamatan Kebayakan dengan Ibukota Kabupaten Aceh Tengah yaitu Takengon sepanjang 2,5 km, dengan jarak tempuh lebih kurang lima menit perjalanan. Jarak Kecamatan Kebayakan dengan Ibukota Provinsi Nangroe Aceh Darussalam sepanjang 325 km, dengan jarak tempuh lebih kurang enam jam perjalanan.

Secara geografis Kecamatan Kebayakan mempunyai luas wilayah 56,34 Ha.

Ditinjau dari letak, pada bagian Utara Kecamatan Kebayakan berbatasan dengan Kecamatan Bukit dengan Kec. Wih Pesam (Kabupaten Bener Meriah). Pada bagian Barat berbatasan dengan Kecamatan Bintang. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Bebesen dan Kecamatan Lut Tawar. sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bebesen.

Tabel 2.5

Data Luas Wilayah Kecamatan Kebayakan

No Nama Kampung/kelurahan Luas Wilayah Ha Jumlah Dusun

1. Lot Kala 5,17 3

2. Jongok Meluem 2,50 3

3. Gunung Bukit 1,50 2

4. Pinangan 4,16 4

5. Paya Tumpi 1,50 2

6. Bukit Sama 6,00 1

7. Paya Reje Tami Delem 2,44 2

8. Kelupak Mata 6,00 4

9. Mendale 6,57 3

10. Kala Lengkio 1,60 3

(11)

No Nama Kampung/kelurahan Luas Wilayah Ha Jumlah Dusun

11. Jongok Bathin 2,50 2

12. Kute Lot 1,50 3

13. Gunung Balohen 1,00 2 14. Paya Tumpi Baru 3,50 3

15. Paya Tumpi 1 1,00 2

16. Timangan Gading 1,90 2 17. Gunung Bahgie 2,00 3 18. Bukit Eweh Tami Delem 1,50 3

19. Bukit 1,00 2

20. Telege Atu 3,00 2

21. Tawar Sedenge - -

22. Musara - -

Jumlah 56,34 51

Sumber: Data Kependudukan Kecamatan Kebayakan

Untuk mencapai Kecamatan Kebayakan dari kota Takengon sangat mudah hanya dengan menggunakan alat transportasi darat, dan memerlukan jarak tempuh selama lima menit. Dengan pilihan kendaraan yang bervariasi, dapat menggunakan kendaraan pribadi, dengan menggunakan angkutan umum labi-labi (angkot) dengan jurusan Kebayakan dengan membayar ongkos sekitar 2000-3000 rupiah. Menggunakan becak motor dengan membayar ongkos sekitar 5000-6000 rupiah.

2.6.1 Keadaan Penduduk Kecamatan Kebayakan 2.6.1.1 Kependudukan

Secara keseluruhan penduduk Kecamatan Kebayakan berjumlah 14.032 jiwa dengan 3.424 kepala keluarga, penduduk perempuan 6.852 jiwa dan penduduk laki-laki

(12)

7.023 jiwa data ini didapat berdasarkan jumlah penduduk dalam Kecamatan Kebayakan tahun 2013.

Tabel 2.6

Data Kependudukan Kecamatan Kebayakan

NO Nama Kampung/Kelurahan

Penduduk Laki- laki

Penduduk Perempuan

Jumlah

1. Lot Kala 647 679 1.326

2. Jongok Meluem 427 484 911

3. Gunung Bukit 644 337 981

4. Pinangan 897 925 1.822

5. Paya Tumpi 365 362 727

6. Bukit Sama 225 208 428

7. Paya Reje Tami Delem 175 198 373

8. Kelupak Mata 189 176 365

9. Mendale 305 302 607

10. Kala Lengkio 239 224 463

11. Jongok Bathin 212 348 560

12. Kute Lot 617 607 1.224

13. Gunung Balohen 312 318 630

14. Paya Tumpi Baru 394 363 757

15. Paya Tumpi 1 256 254 510

16. Timangan Gading 280 285 560

17. Gunung Bahgie 239 171 410

18. Bukit Eweh Tami Delem 305 331 636

19. Bukit 295 280 575

20. Telege Atu 81 86 167

21. Tawar Sedenge - - -

22. Musara - - -

Jumlah 7.023 6.852 14.032

Sumber: Data Kependudukan Kecamatan Kebayakan

(13)

2.6.1.2 Mata Pencarian

Wilayah Kecamatan Kebayakan memiliki potensi untuk pengembangan pertumbuhan ekonomi di bidang pertanian, perikanan, peternakan, perdangan dan lain- lain. Sebagian besar masyarakat Kecamatan Kebayakan berprofesi sebagai petani, kemudian berprofesi sebagai nelayan. Sisanya bekerja di bidang lain seperti PNS (Pegawai Negri Sipil), pedagang, dan lain-lain. Namun ada pula yang memiliki profesi ganda. Misalnya seorang warga yang berprofesi sebagai PNS, kemudian memiliki kerja sampingan mengolah lahan yang ia miliki. Ada pula warga berprofesi nelayan yang juga bertani, atau seorang pegawai PNS yang juga sebagai nelayan.

2.6.2 Etnis, Agama dan Bahasa

2.6.2.1 Gayo

Penduduk di wilayah Kecamatan Kebayakan di dominasi oleh etnis Gayo selain itu ada juga dari luar etnis Gayo seperti Batak, Cina, Jawa, Minang, Aceh. Etnis Gayo terbagi dalam beberapa kelompok yaitu; kelompok Orang Gayo Lut; Gayo Deret; Gayo Serbejadi; Gayo Kalul; Gayo Lues. Kelompok Orang Gayo Lut yaitu kelompok Orang Gayo yang tinggal di sekitar Danau Laut Tawar. Kelompok Orang Gayo Deret yaitu kelompok orang Gayo yang tinggal didaratan. Orang Gayo Serbejadiatau sering disebut Gayo Semamah adalah kelompok Orang Gayo yang tinggal di sekitar Sungai Peurelak.

Orang Gayo Kalul merupakan kelompok Orang Gayo yang tinggal di daerah Sungai Tamiang. Kelompok Orang Gayo yang tinggal di wilayah Aceh Tengah dan khususnya wilayah Kecamatan Kebayakan di dominasi oleh kelompok Orang Gayo Lut dan Gayo Deret.

Mengenai asal mula Orang Gayo, memiliki beberapa versi yang diperoleh dari legenda-legenda yang berkembang di masyarakat. Ada yang mengatakan bahwa Orang

(14)

Gayo berasal dari sekelompok orang yang melarikan diri karena tidak mau masuk agama Islam di daerah pantai. Arti kata Gayo menurut versi ini yaitu “Kayo”yang artinya

“takut/melarikan diri”. Dapat disimpulkan bahwa menurut versi ini, Orang Gayo ada setelah masuknya ajaran agama Islam. Versi lain tentang asal mula Orang Gayo, ada yang mengatakan bahwa Orang Gayo berasal dari “Negeri Rum” negeri rum ini di duga dari daerah Timur Tengah. Orang yang berasal dari Negeri Rum tersebut bernama Genali menurut cerita Genali terdampar di sebuah pulau kecil, pulau kecil tersebut menjadi pulau Sumatra. Genali memiliki hubungan dengan anak raja yang berasal dari Negeri Johor.

Putri Johor tersebut membawa serta pengasuh dan penginangnya dan pada saat itu berkembanglah penduduk di pulau tersebut. Kemudian Genali menjadi raja pertama di daerah tersebut, pulau kecil tersebut bernama Buntul Linge dengan nama kerajaan

“Kerajaan Lingga”. Asal mula Orang Gayo selalu dikaitkan dengan kalimat “asal linge awal serule” yang memiliki arti Linge dan Serule sama-sama asal dan sama-sama awal.

(Melalatoa;1981)

Tetapi versi yang mengatakan bahwa Orang Gayo awalnya sekumpulan orang yang tidak mau masuk Islam, dan lari ke Tanah Gayo saat ini. Versi tersebut dibantahkan dengan adanya fosil yang ditemukan oleh Arkeolog yang bernama Ketut Wardhana pada tahun 2009 di daerah Mendale Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. Fosil tersebut berumur 4400 tahun. Fosil tersebut identik dengan DNA (Deoxyribonucleic Acid) Orang.

Gayo saat ini, maka dapat disimpulkan bahwa fosil tersebut nenek moyang Orang Gayo.

Sedangkan ajaran Islam masuk ke Aceh pada abad ke-12 melalui Kerajaan Pasai.

Fosil tersebut ditemukan di dalam gua atau ceruk Ujung Karang dengan keadaan kaki terlipat dan menjadi cara penguburan manusia pada saat itu di Tanah Gayo. Cara penguburan pada saat itu dengan cara badan ditindihkan dengan batu dan dengan kaki

(15)

yang dilipat ke belakang, diduga hal ini dilakukan agar jenazah aman dari gangguan binatang atau mungkin cara penguburannya sudah diatur berdasarkan prosesinya. Pada saat ditemukan tulang paha kaki dan pinggul dalam posisi tertindih batu.

Kemudian di situs Loyang Mendale ditemukan gerabah yang diberi hiasan warna merah dan putih pada permukaan bagian luar, dengan temper yang kasar dan tidak ada motif hias lain. Kemudian di situs yang sama ditemukannya kapak persegi, membuktikan bahwa di daerah Gayo sudah ada budaya Neolitik10 yang berkembang 5000 tahun silam.

Kerangka manusia purba ini ditemukan di daerah Mendale Kecamatan Kebayakan dan dekat dengan Danau Laut Tawar.

Jauh sebelum ditemukan kerangka tersebut ada orang yang menduga bahwa sudah ada sejak zaman neolitik, ini didasari oleh ragam hias di Gayo yaitu pahatan tertentu di rumah Gayo berupa lambang-lambang bagian tubuh dari binatang. Lambang-lambang itu selain sebagai hiasan tetapi juga menyangkut kepercaan mereka. Ragam hias tersebut berupa anyaman seperti tikar, wadah yang dianyam seperti; tape, sentong, bebalun.

Ragam hias tersebut juga memiliki ikatan dengan kepercayaan. Kemudian ragam hias tembikar dengan berbagai motif dan nama seperti; kekukut, memayang, kekuyang, gegenit, tapak tikus, dll. Nama-nama hiasan tersebut diambil dari unsur tubuh binatang seperti telapak tikus, kaki lipan. Ada pula nama dari alam seperti ‘awan berangkat’, semua itu dapat dihubungkan dengan aktivitas mereka di masa lalu.(Melalatoa;1981)

Sistem kekerabatan Orang Gayo bersifat Patrilineal atau mengikuti garis keturunan dari ayah. Perkawinan pada Orang Gayo menurut adat exogam belah (minimal lineage), yang mana seseorang dilarang kawin sesama anggota satu belah. Kelompok       

10 Neolitikum atau Zaman Batu Muda yaitu fase atau tingkat kebudayaan pada zaman prasejarah yang memiliki ciri-ciri berupa unsur kebudayaan, seperti peralatan dari batu yang diasah, pertanian menetap, peternak dan pembuatan tembikar.

(16)

belah ini yaitu kelompok kerabat yang masih saling mengenal, dalam satu kampung biasanya terdiri dari beberapa belah, tetapi ada pula dalam satu kampung yang terdiri dari satu belah saja.

Perkawinan akan membentuk sebuah keluarga batih (nuclear family). Keluarga batih yang baru ini masih tinggal dengan orang tua atau keluarga batih senior dalam jangka waktu tertentu, yang dikenal dengan sebutan sara kuren atau sara dapur (satu dapur). Dua keluarga yang hidup dalam satu atap maka akan membentuk sebuah keluarga luas (extended family). Aturan menetap setelah menikah (resident patterns) yang diumum di masyarakat Gayo yaitu virilokal yang mana kedua pengantin akan tinggal di sekitar kediaman suaminya, dalam istilah Gayo disebut kawin juelen atau ango. Selain virilokal, adapula yang uxorilokal (menetap di kediaman kerabat istri setelah menikah) yang dalam bahasa Gayo disebut dengan angkap. Ada tiga bentuk angkapyaitu angkap nasap, yang mana sang suami tinggal selamanya di lingkungan kerabat istri dan biasanya pasangan suami istri ini diberikan satu rumah dan lahan untuk bertani. Yang kedua yaitu angkap biasa, yang mana pasangan suami istri bisa saja pindah dari rumah kerabat istri ke kediaman kerabat suami (virilokal) dengan persetujuan orang tuanya. Dengan syarat membayar kembali mas kawin (unyuk).

Yang ketiga yaitu angkap sentaran (angkap sejep) dalam angkap ini dibedakan menjadi dua bentuk yaitu angkap duduk edet (angkap tekunul utang) yang mana pada angkap ini pasangan suami istri tidak mampu membayar seluruh teniron(permintaan).

Saat itu suami menjadi anggota belah istrinya, ketika sang suami sudah bisa membayar hutangnya berupa teniron maka ia juga harus membayar penesoh (soh=kurang) karena kepergiannya menyebabkan keluarga belah dari pihak istri berkurang. Bentuk yang kedua yaitu angkapdengan pejanyin, yang mana pada bentuk angkap ini terjadi karena adanya

(17)

perjanjian dan alasan tertentu. Selain itu ada berkembang pula adat menetap utrolokal yang dalam bahasa Gayo disebut kuso kini (ke sana-ke mari), dalam adat menetap ini pasangan pengantin bebas untuk memilih tinggal di lingkungan kerabat suami atau kerabat istri.

Ada norma-norma yang mengatur hubungan keluarga batih dengan sesama anggotanya. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Orang Gayo menarik garis keturunan dari ayah atau patrilineal, dan ayah merupakan pihak yang memiliki kedudukan tertinggi di suatu keluarga. Setelah ayah kedudukan tertinggi berikutnya yaitu anak laki-laki dewasa. Karena ayah memiliki kedudukan tertinggi di dalam keluarga, maka sosok ayah sangat dihormati dan disegani oleh anggota keluarga. Hubungan ayah dengan menantu laki-laki terlihat kaku, seorang menantu laki-laki sangat segan oleh mertua laki-laki (avoidance relationship). Bahkan karena segannya jarang ada komunikasi antara menantu laki-laki dengan mertua laki-laki, dan apabila mereka berpapasan di jalan maka menantu akan memilih untuk mencari jalan pintas. Kemudian rasa segan berikutnya terjadi pada seorang perempuan dengan saudara laki-laki yang lebih tua dari suaminya (temude).

Hubungan yang terbilang bebas yaitu hubungan antara menantu laki-laki dan mertua perempuan, adik perempuan ayah (ibi) dan suaminya ibi (kil), kemudian orang tua dari ayah dan ibu yaitu kakek (awan) dan nenek (anan). Hubungan bebas ini dilihat dari komunikasi yang lebih terbuka dan kedekatan diantaranya.

Kemudian aturan dalam tutur atau sapaan, seorang pengantin akan disapa dengan sebutan aman mayak(untuk pengantin laki-laki) dan inen mayak (untuk pengantin perempuan). Dan apabila sepasang pengantin ini sudah memiliki anak laki-laki maka akan disapa dengan aman uwin (ayah dari anak laki-laki) dan inen uwin (ibu dari anak

(18)

laki-laki). Apabila mereka memiliki anak perempuan maka akan disapa dengan aman ipak (ayah dari anak perempuan) dan inen ipak (ibu dari anak perempuan). Untuk sapaan yang sifatnya tetap biasanya diambil dari nama anak pertamanya misalnya anak pertamanya bernama Genali, maka akan disapa dengan aman Genali (ayah Genali) dan inen Genali (ibu Genali). Sehubungan dengan istilah kekerabatan Orang Gayo yang bersifat patrilineal memiliki enam tingkat ke atas dan tiga tingkat ke bawah ego. Enam tingkat ke atas yaitu ama (ayah), mpu, datu (uyut), muyang, nini, entah. Dantiga tingkat dibawah ego yaitu anak, kumpu(cucu)dan piut (buyut).

Namun kini sebutan kekerabatan dalam istilah Gayo sudah kabur, karena kebanyakan Orang Gayo sudah tidak menggunakan sebutan kekerabatan dalam bahasa Gayo. Ini mungkin disebabkan oleh masuknya budaya luar dan bahasa Indonesia yang kemudian digunakan Orang Gayo dalam sebutan kekerabatan, misalnya sebutan inesudah diganti dengan sebutan mamak, mama, dan ibu. Dan sebutan ama diganti dengan sebutan ayah, bapak, dan papa. Sebutan anan diganti dengan nenek, dan sebutan untuk awan diganti dengan kakek.

2.6.2.2 Agama

Keberadaan Islam di Tanah Gayo diduga sudah cukup lama, kemungkinan lebih lama dari masuknya Islam ke Aceh. Adanya dugaan ini berdasarkan adanya batu nisan yang bertuliskan Allah dan Muhammad dalam tulisan Arab. Batu nisan tersebut diduga berasal dari masa yang lebih tua dari jaman Islam, bentuk batu nisan tersebut berbentuk seperti menhir yang mungkin berasal dari megalitik.

Perkembangan agama di Tanah Gayo ada tiga tahap yang dilihat dari bagaimana mereka mengamalkan ajaran agama tersebut. Yang pertama yaitu perkembangan sebelum masuknya agama Islam mereka masih mempercayai animisme (mempercayai kekuatan-

(19)

kekuatan gaib yang ada di pohon-pohon besar, batu-batu besar, mata air dsb). Pada masa ini mereka sudah fanatik dengan Islam, mereka pantang disebut kafir, agama Islam tidak boleh dihina walaupun mereka sendiri juga belum mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Saat itu mereka belum memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai ajaran Islam, mereka hanya mengerjakan ajaran Islam seperti; melaksanakan khitan, menjalankan kenduri maulud, dan melaksanakan kenduri mayit. Walaupun begitu ada juga yang telah mengerjakan ajaran Islam yang paling pokok seperti sholat, puasa dan bayar zakat. Orang-orang tersebut biasanya sudah berusia lanjut dan sudah bergelar Tengku .

Kemudian perkembangan dimana Orang Gayo sudah beragama Islam namun Animisme masih juga dirasakan. Yang terakhir yaitu perkembangan dimana Orang Gayo sudah mengamalkan ajaran Islam secara murni dengan cepat. Lalu pada tahun 1928 Muhammaddiyah berdiri di sekitar kota Takengon dan beberapa desa yaitu desa Teritit dan Bintang. (Melalatoa;1981)

Kini agama Islam masih mendominasi di Aceh Tengah dan pada Orang Gayo khususnya, ada juga agama lain seperti Kristen dan Budha. Biasanya agama Kristen dan Budha dianut oleh para pendatang dari daerah lain seperti Batak dan Cina. Walaupun begitu mereka hidup dalam rasa toleransi yang tinggi dan saling menghormati.

2.6.2.3 Bahasa

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Orang Gayo memiliki kelompok-kelompok, kelompok tersebut antara lain orang Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Lues, Gayo Serbejadi, dan Gayo Kalul. Karena kelompok-kelompok tidak tinggal dalam satu lingkup atau wilayah, maka dalam bahasa mereka memiliki dialeg tersendiri. Dialek tersebut dibagi

(20)

menjadi dua yaitu dialek Gayo Lut, yang terdiri dari sub-dialek Gayo Lut dan Gayo Deret kemudian memiliki sub-subdialek yaitu Bukit dan Cik. Dan yang kedua yaitu Dialek Gayo Lues yang terdiri dari sub-dialek Gayo lues dan Serbejadi, sub dialek Serbejadi terbagi lagi kedalam dua sub-subdialek yaitu sub-subdialek Serbejadi dan sub-subdialek Lukup.

Berdasarkan pemencarannya bahasa Gayo dan bahasa Aceh terjadi pada tahun 1515 SM dengan jangka kesalahan 423 tahun. Bahasa Gayo dan bahasa Karo pada tahun 609 SM dengan jangka kesalahan 340 tahun (Melalatoa;1981). Pemencaran bahasa ini juga mematahkan dugaan bahwa Orang Gayo merupakan sekelompok orang yang tidak mau masuk Islam, dengan bukti Orang Gayo ada jauh sebelum kedatangan Islam di Aceh.

Bahasa Gayo juga menyerap pengaruh bahasa Melayu, ini dikarenakan adanya hubungan komunikasi dengan Orang Temiang dan Orang Gayo yang bekerja di perkebunantembakau di Sumatera bagian Timur, Langkat. Walaupun begitu bahasa Gayo tidak memiliki dialek yang sama dengan bahasa Melayu maupun Aceh.(Hurgronje;1996)

2.6.3 Sarana dan Prasarana

Secara umum masyarakat di Kecamatan Kebayakan sudah tersentuh dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi yang ada di daerah tersebut seperti adanya listrik, kini disetiap rumah sudah menggunakan tenaga listrik sebagai penerangan dan menggunakan prabot-prabot rumah tangga yang sifatnya elektronik. Sistem informasi dan komunikasi di Kecamatan Kebayakan ini juga terbilang maju. Banyak alat ataupun fasilitas untuk memperoleh informasi yang dimiliki warga secara pribadi seperti televisi, telepon (telepon genggam ataupun telepon rumah) , jaringan internet, dan lain-lain. Di tambah lagi dengan tersedianya warnet di beberapa tempat di Kecamatan Kebayakan.

(21)

Sarana pendidikan di Kecamatan Kebayakan cukup baik, dimana di Kecamatan Kebayakan ini memiliki sarana pendidikan sekolah umum berupa Taman Kanak-kanak (TK) milik swasta bejumlah 9 sekolah dengan 41 guru. Sekolah Dasar Negri (SDN) berjumlah 10 sekolah dan swasta 1 dengan jumlah guru keseluruhan 119 orang. Sekolah Menengah Pertama Negri (SMPN) 2 sekolah dengan tenaga pengajar 62 orang. Sekolah Menengah Atas Negri (SMAN) 2 sekolah; dan milik swasta 1 sekolah dengan tenaga pengajar 123 orang. Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negri (MIN) 2 sekolah; dan milik swasta 1 sekolah dengan tenaga pengajar 54 orang. Sekolah Madrasah Tsanawiyah Negri (MTSN) 1 sekolah dengan 27 orang tenaga pengajar.

Selain sarana pendidikan, sarana kesehatan juga memiliki peran penting bagi warga sekitar Kecamatan Kebayakan dan terbilang cukup memadai. Di Kecamatan Kebayakan terdapat 1 Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), 3 Pustu (Puskesmas Pembantu), dan 3 Polindes (Poliklinik Desa).

Tempat ibadah juga berperan penting bagi masyarakat sekitar untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu tempat ibadah juga di jadikan sebagai tempat untuk berorganisasi seperti misalnya di beberapa mesjid ada membentuk kelompok Remaja Mesjid, Serikat Tolong Menolong (STM), dan lain sebagainya. Untuk kecamatan Kebayakan tempat ibadah yang ada hanya tempat ibadah bagi umat muslim saja, ini dikarena rata-rata masyarakat Kecamatan Kebayakan beragama muslim. Masjid dan meunasah yang ada di Kebayakan terbilang cukup banyak karena hampir di setiap desa memiliki paling tidak 1 masjid ataupun meunasah. Untuk yang beragama nasrani karena jumlahnya yang sangat sedikit maka untuk tempat ibadah berada di kota Takengon.

(22)

2.6.4 Pemerintahan Adat

Sistem pemerintahan di Kabupaten Aceh Tengah khususnya Kecamatan Kebayakan menggunakan sistem pemerintahan adat yaitu Sarak Opat.Sarak Opat terdiri dariReje(Raja/Kepala Kampung), Imem (Imam), Petue (petua) dan Rayat (Rakyat).

Kembalinya Sarak Opat dalam pemerintahan di Kabupaten Aceh Tengah pada saat dibentuknya otonomi daerah. Peran dan fungsi Petue mendapat legalitas dengan adanyaQanun Aceh no 10 tahun 2008 yang mengatur tentang lembaga adat.

Peranan Reje diharapkan memerankan beberapa unsur seperti; keadilan, kesucian, kasih sayang, bijaksana. Keempat unsur itu disebut Musuket Sipet. Peran Petue dituntut untuk memahami kejadian dan gejala yang hidup di masyarakat, yang disebut Musidik Sasat.Imem berperan dibidang keagamaan, yang menuntun Reje, Petue dan Rayat apa yang harus dilakukan dan apa yang dilarang oleh agama, peran tersebut disebut Muperlu Sunet. Kemudian Rayatmemiliki peran dalam hal musyawarah atau disebut Genap Mupakat. Ada sanksi-sanksi yang diberikan kepada pejabat adat, apabila dinyatakan telah melakukan penyimpangan.

Penyimpangan yang dilakukan oleh Reje disebut Taksir, peyimpangan yang dilakukan Petue disebut Tingel, penyimpangan yang dilakukan oleh Imem disebut Laman, dan penyimpangan yang dilakukan oleh Rayat disebut Salah. Sanksi yang diberika kepada Reje, Petue, dan Imem yang melakukan penyimpangan yaitu sanksi berupa melepaskan peranannya sebagai pejabat adat. Sedangkan sanksi yang diberikan untuk Rayatyang melakukan penyimpangan yaitu melepaskan peranan sebagai Rayat disertai denda, pengucilan bahkan diusir oleh masyarakat setempat yang disebut Parak dan Jeret Naru.(Melalatoa;1981)

 

Referensi

Dokumen terkait

Asal mula terbentuk Kampung Adat Dukuh yaitu dari kedatangan Syekh Abdul Jalil, seorang ulama yang sebelumnya mengabdi kepada kerajaan Sumedang Larang, tetapi

Hutaurat dan Hutabalian merupakan desa yang digabungkan menjadi satu desa (dapat disebut dengan nama desa Sianjur Mula-Mula), yang disebabkan karena jumlah penduduk per KK

(Sumber : PT. Mandheling Gayo Internasional Bagian Sertifikasi).. Pekerja sortasi berjumlah 200-270 orang dengan rincian: untuk gudang pertama dan kedua masing-masing berjumlah

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa Islam dianut oleh sebagian besar masyarakat Desa Simpang Gaung yaitu 3164 orang atau 98.44% dari komposisi penduduk yang ada,

Propinsi Sumatera Utara yang telah terbentuk itu meliputi wilayah Karesidenan Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli dengan Medan sebagai puSat pemerintahannya.Tetapi pembentukan propinsi

Rumah permanen umumnya di Kelurahan Karang Anyar ini masih bisa dihitung sebab yang punya dan menempati rumah permanen ini juga adalah orang-orang yang sudah lama tinggal di

Di daerah Helvetia Tengah ini terdapat perkumpulan atau organisasi sosial dalam wilayah tempat tinggal yaitu seperti kegiatan arisan, gotong royong, olah raga, kesenian,

Keberadaan dari Sungai Brantas yang membagi wilayah Kabupaten Blitar menjadi dua wilayah yaitu wilayah Kabupaten Blitar Bagian Utara dan Wilayah Kabupaten Blitar