commit to user
58 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pratindakan
Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras Boyolali tahun pelajaran 2015/2016. Tahap persiapan dalam penelitian ini yaitu melakukan observasi di sekolah. Observasi dilakukan di kelas selama pembelajaran dan dilengkapi dengan wawancara yang ditujukan kepada guru mata pelajaran kimia. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik siswa, bagaimana proses pembelajaran yang terjadi, dan untuk mengetahui keadaan awal saat proses kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, saat ini memang sudah menggunakan kurikulum 2013, tetapi karena kurikulum tersebut masih baru, sehingga belum diterapkannya secara maksimal Kurikulum 2013 di kelas, karena justru memakan waktu yang banyak serta jumlah konsep pembelajaran hanya sedikit yang tersampaikan beliau. Dan beliau masih agak meraba-raba serta menyesuaikan dengan kondisinya, karena di dalam kurikulum baru ini terdapat beberapa hal khusus terutama dalam hal penilaian. Selama pembelajaran berlangsung guru menjelaskan materi yang disampaikan dengan ceramah di depan kelas, padahal metode ceramah cenderung membuat pembelajaran yang pasif bagi siswa karena pembelajaran masih berpusat pada guru. Kemudian eksperimen di laboratorium, kemudian diskusi, lalu ada tugas lapangan atau istilahnya proyek.
Tetapi kenyataan selama pembelajaran berlangsung, guru masih kurang memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki. Kondisi siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran kimia ini dapat ditunjukkan dengan sikap siswa yang tidak aktif bertanya, sehingga dapat digolongkan memiliki rasa ingin tahu yang masih rendah. Padahal Lab di SMA Negeri 1 Teras Boyolali cukup representatif yang artinya memiliki alat-alat yang komplit, bahan kimianya komplit, kemudian area Lab-nya luas, airnya memuaskan, hanya sayangnya belum ada laboran dan belum ada teknisi.
commit to user
Kenyataan seperti ini menyebabkan pembelajaran menjadi searah dan hanya berpusat kepada guru, sehingga interaksi antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa masih kurang. Menurut pandangan para siswa, materi yang paling sulit dipahami dan dikuasai adalah materi kesetimbangan kimia kemudian urutan berikutnya materi laju reaksi dan materi termokimia. Hal ini mengakibatkan kurang maksimalnya kualitas hasil belajar kimia dari ranah pengetahuan.
Di dalam kelas pun terlihat bahwa saat pembelajaran berlangsung guru juga kurang melibatkan siswa untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran seperti berdiskusi untuk menemukan konsep dari pengetahuan yang siswa miliki, serta guru masih jarang memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
Sehingga siswa pun cenderung pasif untuk bertanya kepada guru. Hal ini menyebabkan siswa menjadi terlihat kurang aktif di dalam kelas dan menjadi pendiam yang lama-kelamaan siswa cenderung bosan dan melakukan aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan proses kegiatan belajar seperti menggambar atau mengobrol dengan teman sebangkunya. Saat mengerjakan soal, siswa masih cenderung mekanistik dimana belum bisa memperluas rumus dengan mengaitkan rumus yang satu dengan rumus yang lainnya. Sehingga siswa masih mengalami kesulitan saat menemui soal-soal dengan permasalahan yang kompleks.
Berdasarkan observasi yang telah peneliti lakukan di kelas XI MIA 4, dapat diketahui bahwa rasa ingin tahu siswa selama pembelajaran berlangsung masih rendah. Hal ini akan berdampak pada penguasaan konsep materi yang masih kurang dan menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berhasil secara seutuhnya. Maka perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan rasa ingin tahu dan prestasi belajar siswa, dengan menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5E pada materi kesetimbangan kimia. Model pembelajaran ini sangat sesuai untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa, karena model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkostruksi pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri dengan terlibat secara aktif mempelajari materi secara bermakna dengan bekerja dan berfikir baik secara individu maupun kelompok, sehingga
commit to user
siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran.
B. Deskripsi Hasil Tiap Siklus 1. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus I
a. Tahap Perencanaan Tindakan Siklus I
Pada tahap perencanaan tindakan siklus I, peneliti dan guru melakukan kajian terhadap silabus. Pertama peneliti meminta silabus pelajaran kimia materi kesetimbangan kimia kepada guru yang bersangkutan. Pada penelitian ini menggunakan kurikulum 2013, sehingga silabus disusun oleh Kemendikbud. Berdasarkan silabus tersebut, peneliti membuat rencana kegiatan pembelajaran yang terdiri dari empat kali pertemuan (8 JP) dengan alokasi tiga kali pertemuan (6 JP) untuk penyampaian materi dan satu kali pertemuan (2 JP) untuk kegiatan evaluasi siklus I. Pembelajaran didesain dengan menggunakan model pembelajaran learning cycle 5e pada materi kesetimbangan kimia.
Dengan diterapkannya model pembelajaran learning cycle 5e, diharapkan siswa dapat lebih berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran melalui penerapan model pembelajaran learning cycle 5e pada mata pelajaran kimia, agar siswa dapat memenuhi kriteria ketuntasan belajar sebagaimana dimaksudkan pada penelitian ini yaitu prestasi belajar aspek kognitif, afektif dan psikomotorik serta memiliki rasa ingin tahu.
Instrumen penilaian yang digunakan sebagai alat evaluasi adalah soal tes aspek pengetahuan, selain itu untuk aspek sikap berupa lembar observasi yang digunakan selama kegiatan pembelajaran dan angket penilaian diri serta dilakukan wawancara kepada siswa kelas XI MIA 4 apabila hasil dari observasi dan angket masih belum bisa diambil nilai modusnya, sikap yang dinilai meliputi sikap sosial (kerjasama, toleransi, disiplin, jujur dan tanggung jawab). Sedangkan untuk aspek keterampilan menggunakan lembar observasi praktikum serta penilaian laporan praktikum.
commit to user
Instrumen penilaian prestasi belajar siswa berupa soal tes aspek pengetahuan yang terdiri dari 26 soal pilihan ganda. Sebelum digunakan sebagai alat evaluasi, instrumen tersebut divalidasi terlebih dahulu oleh dua orang validator yaitu guru kimia yang berkopeten dalam bidangnya.
Instrumen penilaian aspek pengetahuan siklus I dapat dilihat pada Lampiran. Sedangkan instrumen penilaian angket sikap sosial dapat dilihat pada Lampiran dan instrumen penilaian keterampilan siswa pada siklus I dapat dilihat pada Lampiran.
Instrumen penilaian yang digunakan sebagai alat evaluasi rasa ingin tahu siswa adalah angket dan lembar observasi yang digunakan selama kegiatan pembelajaran siswa kelas XI MIA 4. Instrumen evaluasi rasa ingin tahu siswa terdiri dari angket yang berisi 22 poin pernyataan siswa, lembar observasi terdiri dari enam point pengamatan. Instrumen penilaian angket rasa ingin tahu siswa, observasi dan penilaian rasa ingin tahu siklus I dapat dilihat pada Lampiran.
Dalam penerapan model pembelajaran learning cycle 5e, jumlah siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras Boyolali adalah 34 siswa yang dibagi menjadi 6 kelompok dimana setiap kelompok beranggotakan 5-6 siswa. Pembagian kelompok siswa pada pembelajaran siklus I selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran.
a. Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pelaksanaan tindakan pada siklus I berupa serangkaian kegiatan pembelajaran di kelas XI MIA 4 menggunakan model pembelajaran learning cycle 5e sesuai yang tercantum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun peneliti dan disetujui oleh guru mata pelajaran kimia kelas XI. Tindakan siklus I dilaksanakan pada 10 november 2015 sampai 19 november 2015. Di dalam kelas, peneliti dibantu oleh 3 observer yang bertugas mencatat dan mendokumentasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung pada hari tersebut.
commit to user
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 10 November 2015 dengan alokasi waktu 2 JP. Materi yang dibahas adalah kesetimbangan dinamis. Pada awal pembelajaran, guru membuka pelajaran dengan 2 soal pre-test dan mengecek kehadiran. Pada pertemuan ini tidak ada siswa yang absen. Pada tahap awal, guru menggunakan Engagement, yaitu berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dengan keingintahuan siswa tentang topik yang akan diajarkan. Guru melanjutkan dengan memberikan apersepsi berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi. Apersepsi yang diberikan berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang sering ditemui siswa. Di sini telah terjadi interaksi dua arah, karena ada siswa tanpa ditunjuk yang mampu menjawab pertanyaan dari guru dan menyampaikan gagasannya.
Selanjutnya, guru menjelaskan cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan tersebut serta memotivasi siswa dengan memberikan contoh yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mengenai materi kesetimbangan dinamis.
Kemudian guru memberikan pengarahan kepada siswa untuk duduk berkelompok sesuai dengan pembagian kelompok yang sudah dibentuk. Pembentukan kelompok secara umum terdiri dari siswa laki- laki dan perempuan. Kemudian, siswa diminta guru untuk memakai nomor di depan dada mereka agar mudah dikenali dan dibedakan dalam observasi. Setelah itu, guru membagikan lembar kerja kelompok (LKK 1) sebagai pedoman dalam pembelajaran dengan model Learning Cycle 5e.
Beberapa siswa terlihat bertanya kepada guru untuk diberikan bimbingan berkaitan dengan maksud diberikannya LKK 1 tersebut. Guru menjelaskan ,membimbing, dan memancing pengetahuan siswa sesuai dengan LKK 1 seperti mengenai apa yang dimaksud dengan reaksi dapat balik (reversible), reaksi tidak dapat balik (irreversible), reaksi bolak- balik, lalu adanya suatu reaksi kimia yang dapat mencapai kesetimbangan dinamis. Langkah-langkah yang dilakukan siswa adalah mengidentifikasi masalah, merumuskan beberapa alternatif cara
commit to user
pemecahan masalah dan mendiskusikannya serta mempresentasikan hasilnya kemudian.
Selanjutnya guru menerapkan Explanation, yaitu meminta kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan kelompok yang lainnya bertugas memberikan tanggapan dan sanggahan. Setelah tahap presentasi selesai, guru melakukan Elaboration, yaitu menyamakan persepsi dan memberikan penguatan tentang konsep-konsep yang telah dibangun siswa yaitu kesetimbangan kimia yang dinamis, yang bertujuan untuk membuat siswa menjadi lebih paham dengan materi yang telah dipelajari. Pada tahap ini terlihat adanya interaksi antara guru dan siswa juga berlangsung dua arah. Menurut hasil observasi kelompok 3, 4 dan 5 terlibat secara aktif dalam diskusi. Dalam setiap kelompok rata-rata hanya 3 siswa yang aktif berbicara, tetapi keseluruhan siswa dalam kelompok mencatat seluruh hasil diskusi. Proses pembelajaran bisa dikatakan berlangsung dengan baik dilihat dari tidak adanya siswa yang mengganggu kelompok lain dan membuat gaduh. Pada akhir pembelajaran, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah di pelajari.
Kemudian guru memberikan Evaluation, yaitu memberikan soal postest yang berjumlah 2 soal untuk dikerjakan secara individu dalam waktu 5 menit, kemudian di koreksi secara bersama. Setelah itu, guru memberi tahu kepada siswa untuk mempelajari materi selanjutnya yaitu mengenai tetapan kesetimbangan. Berdasarkan hasil postest dapat diketahui bahwa jumlah siswa yang menjawab soal dengan benar lebih dari 50%. Nilai postest tidak digunakan sebagai data penelitian karena postest ini hanya membantu guru untuk mengetahui kemampuan siswanya pada materi yang baru saja dipelajari.
Pertemuan kedua dilaksanakan pada tanggal 12 November 2015 selama 2 JP. Pada pertemuan ini, materi yang dibahas adalah tetapan kesetimbangan. Untuk pelaksanaannya hampir sama seperti pertemuan pertama, guru mengecek kesiapan siswa untuk menerima pembelajaran
commit to user
dengan mengajukan 2 soal pre-test berkaitan pertemuan sebelumnya sebagai apersepsi kemudian memberikan motivasi kepada siswa. Setelah itu siswa berkelompok dan berdiskusi membahas permasalahan yang ada di lembar kerja kelompok (LKK 2). Sebagian siswa terlihat sangat serius dalam mempelajari materi ini dan berantusias mencari literatur lain seperti buku paket dan LKS dari sekolah untuk melengkapi materi yang dipelajari. Diskusi pada pertemuan ini siswa lebih aktif, semua anggota kelompok mencoba mengerjakan soal dan bertanya saat menemukan kesulitan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang di sajikan. Di dalam pembelajaran guru lebih berperan sebagai fasilitator dengan membimbing dan memberikan pancingan-pancingan apa yang dimaksud dari permasalahan-permasalahan tersebut sehingga memerlukan waktu lebih lama dari yang direncanakan.
Setelah diskusi selesai, guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk maju ke depan untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Antusias siswa untuk mengungkapkan ide-ide dan pendapatnya lebih tinggi dari pada pertemuan pertama yaitu 27 siswa pada pertemuan kedua sedangkan pertemuan pertama hanya 15 siswa.
Sebagian besar siswa memperhatikan presentasi di depan kelas, ada juga yang berani membenarkan jawaban dari presentasi kelompok lain.
Jumlah siswa yang bertanya lebih banyak dari pada pertemuan pertama (pertemuan kedua 20 siswa sedangkan pertemuan pertama 9 siswa) dan sebagian besar siswa sudah dapat menyelesaikan soal-soal yang kompleks. Kemudian guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi siswa dan dilanjutkan dengan membimbing siswa menyimpulkan materi yang sudah dipelajari dan memberi tahu siswa agar mempelajari kembali materi kesetimbangan kimia guna memperdalam materi tersebut, serta mempelajari materi selanjutnya yaitu hukum kesetimbangan massa dan nilai kesetimbangan parsial gas. Di akhir pembelajaran, guru merencanakan postest bagi siswa tetapi tidak terlaksana. Hal ini
commit to user
dikarenakan waktu kegiatan belajar mengajar telah berakhir, sehingga pelaksanaan pembelajaran pada pertemuan selanjutnya harus lebih baik.
Pertemuan ketiga dilaksanakan pada tanggal 17 November 2015 selama 2 JP, dengan materi yang dibahas adalah tentang pergeseran kesetimbangan. Proses pembelajaran pada pertemuan ketiga ini disertai dengan kegiatan Exploration (praktikum). Guru memberikan apersepsi dengan mengingatkan kembali materi sebelumnya yaitu tentang tetapan kesetimbangan. Guru menanyakan kembali materi yang digunakan sebelumnya, lalu mengarahkan siswa agar berkelompok seperti pertemuan sebelumnya. Setelah itu, guru membagikan lembar kerja kelompok serta peralatan untuk praktikum dan siswa mulai mengecek kelengkapan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kelompoknya masing-masing. Sebelum kegiatan praktikum dimulai, guru mengarahkan siswa untuk memahami permasalahan yang ada di lembar kerja praktikum. Lembar kerja praktikum melengkapi lembar kerja kelompok (LKK 3) dan digunakan sebagai acuan untuk membuat laporan praktikum setelahnya.
Siswa melaksanakan kegiatan praktikum dan berdiskusi dalam kelompoknya, hampir semua siswa memiliki kerjasama yang baik antar anggota kelompok dengan saling bertukar pikiran mengemukakan gagasan-gagasannya dan membantu apabila menemukan kesulitan dalam memecahkan permasalahan yang diberikan. Beberapa siswa juga bertanya kepada guru pada saat guru berkeliling membimbing jalannya praktikum.
Setelah kegiatan praktikum selesai, siswa diberi waktu untuk berdiskusi mengerjakan LKK 3. Kemudian perwakilan dari beberapa kelompok mempresentasikan hasil praktikum dan diskusi di depan kelas dan kelompok lainnya bertugas memberikan tanggapan atau sanggahan.
Ada beberapa siswa yang bertanya dan mengemukakan pendapat untuk melengkapi jawaban atau memberikan jawaban lain. Kemudian guru memberikan umpan balik berupa penguatan kembali mengenai konsep-
commit to user
konsep yang telah dibangun oleh siswa dan membahas kembali keseluruhan hasil pembelajaran. Pada akhir pembelajaran siswa dengan bimbingan guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kemudian guru memberikan postest 2 soal dengan alokasi waktu 3 menit kemudian di koreksi secara bersama. Setelah itu guru memberikan informasi bahwa pada pertemuan selanjutnya akan diadakan ulangan harian.
Pertemuan keempat dilaksanakan pada tanggal 19 november 2015 untuk kegiatan tes akhir siklus I. Tes siklus I terdiri dari tes pengetahuan dan tes penilaian diri. Tes pengetahuan dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa, soal yang diberikan berupa soal pilihan ganda sebanyak 26 soal dengan alokasi waktu 60 menit. Setelah tes pengetahuan, siswa diberikan angket rasa ingin tahu sebanyak 22 soal dan angket penilaian sikap sebanyak 26 soal. Tes siklus I ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa setelah tindakan siklus I. Siswa mengerjakan tes dengan pengawasan guru dan saya sendiri selaku peneliti.
b. Tahap Observasi Tindakan Siklus I 1. Kegiatan siswa
Kegiatan siswa saat pembelajaran berlangsung selama 3 kali pertemuan dapat diamati melalui lembar observasi sikap. Lembar observasi penilaian sikap sosial. Sikap sosial yang diamati ialah sikap disiplin, jujur, tangung jawab, toleransi, kerjasama. Lembar observasi ini diisi oleh 3 orang observer lainnya. Untuk memudahkan observasi setiap siswa memakai nomer absen setiap kali pertemuan.
Berdasarkan kehadiran siswa di kelas, pertemuan pertama, kedua dan ketiga semua siswa mengikuti pelajaran. Jumlah siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras Boyolali sebanyak 34 siswa. Dari segi keaktifan, siswa kelas XI MIA 4 termasuk siswa yang aktif namun kurang berpartisipasi aktif selama proses pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut guru harus lebih ekstra mengingatkan dan
commit to user
membimbing siswa agar lebih aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa dari pertemuan pertama sampai akhir meningkat dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan guru.
a) Prestasi belajar aspek pengetahuan
Penilaian aspek pengetahuan berupa tes yang dilaksanakan di akhir siklus I yang terdiri dari 26 soal pilihan ganda yang mencangkup 2 kompetensi dasar dan 10 indikator kompetensi. Tes ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran selama siklus I. Berdasarkan analisis hasil tes siklus I materi kesetimbangan kimia dapat diketahui bahwa, ketuntasan kelas XI MIA 4 sebesar 47,06% atau sebanyak 16 siswa dan siswa yang belum tuntas sebesar 52,94% atau sebanyak 18 siswa. Dari persentase ketuntasan tersebut, maka hasil siklus I ini untuk aspek pengetahuan belum mencapai target yang telah ditetapkan, yaitu 60% atau 21 siswa tuntas. Persentase ketuntasan aspek pengetahuan pada siklus I ditunjukkan pada Gambar 4.1. sebagai berikut.
Gambar 4.1. Diagram Pie Prestasi Belajar Siswa Aspek Pengetahuan Sikus I
47,06%
52,94 %
Jumlah Siswa
tuntas belum tuntas
commit to user
Tabel 4.1. Ketercapaian Aspek Pengetahuan Siklus I Materi kesetimbangan kimia untuk Tiap Indikator
Indikator Kompetensi
Ketercapaian(%)
Kriteria Tiap
Soal
Tiap Indikator 1. Menjelaskan kesetimbangan kimia 91,18
94,12
92,65 Tercapai 2. Membedakan kesetimbangan
homogen dan heterogen
82,35 73,53 88,24
81,37 Tercapai
3. Meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan
menggunakan azas le Chatelier
71,88 64,71 55,88 58,82 58,82 61,76
61,27 Tercapai
4. Menganalisis pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan dan volume pada pergeseran
kesetimbangan melalui percobaan
73,53 41,18
57,35 Tdk
tercapai
5. Menentukan rumusan tetapan kesetimbangan (Kc) dari berbagai persamaan reaksi
64,71 44,12 35,29 41,18
46,32 Tdk
tercapai
6. Menentukan persamaan reaksi yang sesuai berdasarkan rumusan tetapan kesetimbangan (Kc)
47,06 47,06 Tdk
tercapai 7. Menghitung harga Kc berdasarkan
konsentrasi zat dalam
kesetimbangan dan sebaliknya
35,29 41,18 35,29 88,24
50,00 Tdk
tercapai
8. Menghitung harga Kp berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi dan hasil reaksi pada keadaan setimbang
41,18 41,18 Tdk
tercapai 9. Menghitung harga Kc berdasarkan
Kp dan sebaliknya
58,82 58,82 Tdk
tercapai 10. Menjelaskan penerapan prinsip
kesetimbangan
82,35 85,29
83,82 Tercapai
commit to user
Berdasarkan analisis hasil tes pengetahuan siklus I dapat dinyatakan hasil ketercapaian prestasi belajar siswa tiap soal dan tiap indikator kompetensi yang disajikan dalam Tabel 4.1.
Berdasarkan data pada Tabel 4.1. terdapat indikator yang belum tercapai (masih di bawah 60%). Dari 10 indikator yang diukur hanya empat indikator yang dapat tercapai, sisanya delapan indikator masih belum tercapai. Dari hasil observasi soal, dimungkinkan kebanyakan siswa masih kesulitan menentukan rumus mana yang lebih dahulu digunakan, hal ini dikarenakan adanya variasi soal dengan permasalahan lebih kompleks. Selain itu dikarenakan siswa masih malu bertanya saat diskusi berlangsung, sehingga bagian-bagian pada materi yang masih dibingungkan siswa masih belum mendapat pemecahannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan siklus II untuk memperbaiki pembelajaran sehingga semua indikator akan dapat tercapai.
b) Prestasi belajar aspek sikap
Selain penilaian terhadap aspek pengetahuan, dilakukan pula penilaian terhadap aspek sikap. Aspek sikap sosial yang meliputi disiplin, jujur, tangungjawab, kerjasama dan toleransi.
Penilaian aspek sikap diperoleh melalui dua cara yaitu observasi selama pembelajaran berlangsung dan angket penilaian diri.
Apabila dari kedua cara penilaian tersebut terdapat perbedaan, maka dilakukan teknik penilaian triangulasi yang ketiga yaitu wawancara. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan hasil sikap siswa.
Dari hasil penilaian aspek sikap sosial dalam pembelajaran Siklus I didapatkan data persentase siswa kategori sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang berturut-turut adalah 45,45%;
45,45%; 9,09%, dan 0%. Hasil capaian aspek sikap sosial siswa Siklus I melalui angket penilaian diri disajikan dalam Gambar 4.2.
commit to user
Gambar 4.2. Hitogram Penilaian Angket Diri Aspek Sikap Sosial Siklus I
Hasil analisis penilaian sikap sosial siswa melalui angket diri yang diberikan pada akhir Siklus I disajikan dalam tabel 4.2.
Tabel 4.2. Hasil Analisis Penilaian Sikap Sosial Siswa Melalui Angket Diri Siklus I
Aspek Sikap
Sosial Capaian (%) Target (%) Kriteria
Jujur 75,49 75 Tuntas
Tanggungjawab 81,06 75 Tuntas
Disiplin 83,08 75 Tuntas
Kerjasama 85,61 75 Tuntas
Toleransi 82,07 75 Tuntas
Hasil penilaian aspek sikap sosial melalui angket teman sejawat didapatkan hasil sikap siswa kategori sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik berturut-turut adalah 57,58%; 27,27%;
12,12%; dan 3,03%. Hasil capaian persentase aspek sikap sosial siswa Siklus I melalui angket teman sejawat disajikan dalam Gambar 4.3.
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00
Sangat Baik Baik Cukup Kurang
45.45 45.45
9.09
0.00
%
commit to user
Gambar 4.3. Histogram Penilaian Angket Teman Sejawat Aspek Sikap Sosial Siklus I
Hasil analisis penilaian sikap sosial siswa melalui angket teman sejawat yang diberikan pada akhir Siklus I disajikan dalam tabel 4.3.
Tabel 4. 3. Hasil Analisis Penilaian Sikap Sosial Siswa Melalui Angket Teman Sejawat Siklus I
Aspek Sikap
Sosial Capaian (%) Target (%) Kriteria
Jujur 75,97 75 Tuntas
Tanggungjawab 82,83 75 Tuntas
Disiplin 83,59 75 Tuntas
Kerjasama 85,98 75 Tuntas
Toleransi 80,81 75 Tuntas
Dari kedua hasil diatas terdapat perbedaan hasil sikap sosial siswa melalui angket diri dan angket teman sejawat. Hal ini dikarenakan perbedaan sudut pandang dalam penilaian. Untuk itu dilakukan wawancara terhadap siswa kelas X MIA 3 untuk membuat hasil akhir sikap sosial siswa menjadi lebih valid. Hasil akhir penilaian aspek sikap sosial melalui angket diri, teman sejawat serta dilengkapi wawancara didapatkan persentase sikap siswa kategori sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00
Sangat Baik Baik Cukup Kurang
57.58
27.27
12.12
3.03
%
commit to user
berturut-turut adalah 42,42%; 39,39%; 18,18%, dan 0%. Hasil akhir sikap sosial ini dapat dilihat pada Lampiran 37. Hasil capaian akhir sikap sosial disajikan pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4. Diagram Pie Penilaian Akhir Sikap Sosial Siswa Siklus I
Dari hasil penilaian sikap sosial di atas dapat disimpulkan bahwa semua aspek sikap sosial siswa pada kelas X MIA 3 melalui angket diri dan angket teman sejawat telah mencapai target/tuntas.
Kriteria ketuntasan siswa dalam sikap sosial adalah mencapai nilai minimum B (Baik). Dari data yang didapat, siswa kategori baik dan sangat baik merupakan siswa yang mencapai ketuntasan.
Persentase gabungan antara kategori baik dan sangat baik mencapai 81,81% yang artinya sikap sosial siswa pada Siklus I telah mencapai target yaitu 75%.
c) Prestasi belajar aspek keterampilan
Penilaian keterampilan dilakukan sebagai wujud dari penilaian aspek keterampilan siswa selama pembelajaran kimia berlangsung pada materi membedakan kesetimbangan dinamis.
42,42%
39,39%
18,18%
0%
Sangat Baik Baik Cukup Kurang
commit to user
Penilaian keterampilan dilakukan melalui observasi selama percobaan di laboratorium (praktikum), menjelaskan dan menyimpulkan dalam bentuk pembuatan laporan percobaan. Hasil akhir penilaian didasarkan pada nilai optimum baik dari observasi, melakukan percobaan (praktikum), menyimpulkan dan menjelasakan (pembuatan laporan).
Ketuntasan prestasi belajar aspek keterampilan siswa Kelas XI MIA 4 sebesar 94,12%. Hasil observasi keterampilan siklus I disajikan pada Tabel 4.4. sebagai berikut.
Tabel 4.4. Ketercapaian Aspek Keterampilan Siklus I Aspek
Keterampilan
Target (%)
Ketercapaian
(%) Kriteria
Praktikum 75 77,02 Tercapai
Laporan 75 80,10 Tercapai
d) Rasa Ingin Tahu
Salah satu indikator dalam penelitian ini yaitu rasa ingin tahu siswa. Rasa ingin tahu siswa dalam proses pembelajaran ini diukur melalui angket dan observasi yang dilaksanakan di akhir siklus I. Angket dan observasi yang digunakan dibuat berdasarkan indikator rasa ingin tahu yang terdiri dari (1) Bereaksi positif terhadap lingkungan belajar, (2) Ingin tahu lebih banyak tentang permasalahan-permasalahan baru, (3) Keinginan untuk memperdalam materi, (4) Antusias pada proses sains, (5) Menanyakan langkah-langkah kegiatan, (6) Bertanya atau membaca sumber di luar buku teks tentang materi yang terkait dengan pelajaran, (7) Bertanya tentang sesuatu yang terkait dengan materi pelajaran tetapi diluar yang dibahas di kelas.
Hasil akhir penilaian rasa ingin tahu siswa didasarkan pada nilai optimum baik dari hasil angket maupun hasil observasi.
Analisis selengkapnya untuk hasil perhitungan nilai rasa ingin tahu siswa pada siklus I dapat dilihat pada Lampiran. Hasil dari
commit to user
perhitungan nilai rasa ingin siswa kelas XI MIA 4 pada siklus I dirangkum dalam Tabel 4.4. sebagai berikut.
Tabel 4.5. Ketercapaian rasa ingin tahu siswa Siklus I
Aspek Rasa Ingin Tahu Target (%)
Ketercapaian
(%) Kriteria
1. Angket 65 79,41 Tercapai
2. Observasi 65 70,59 Tercapai
2. Kegiatan Guru
Berdasarkan observasi peneliti selama pembelajaran berlangsung, guru telah menciptakan kondisi yang menyenangkan dan berinteraksi aktif dengan siswa, meskipun masih ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam bertanya ataupun mengajukan pertanyaan. Dalam hal pemberian materi pelajaran, guru mampu membimbing siswa agar menguasai materi dengan baik, memberikan penekanan-penekanan pada hal-hal yang penting.
Secara umum di setiap pertemuan kegiatan awal dimulai dengan memberikan apersepsi dan mengecek kesiapan siswa. Selanjutnya guru memberikan penjelasan sedikit mengenai point-point dari materi yang diajarkan. Kemudian guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan soal diskusi dan melakukan presentasi. Dalam diskusi, siswa mencari penyelesaian dari suatu permasalahan yang diberikan dan guru mengamati aktivitas belajar dalam diskusi kelompok tersebut. Pada akhir pembelajaran guru memberikan evaluasi dan penekanan kembali pada point-point penting selama pembelajaran berlangsung, memberikan soal evaluasi dalam bentuk postest dan memberitahukan materi yang akan dipelajari untuk pertemuan mendatang.
commit to user c. Tahap Refleksi Tindakan Siklus I
Pembelajaran materi kesetimbangan kimia pada siklus I dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan (8 JP) dengan pembagian 3 kali pertemuan (6 JP) untuk proses pembelajaran dan 1 kali pertemuan (2 JP) untuk tes akhir siklus I. Tujuan pembelajaran pada siklus I adalah agar siswa menguasai semua indikator kompetensi dalam materi kesetimbangan kimia. Secara umum pelaksanaan tindakan pada siklus I berjalan dengan lancar.
Pada saat kegiatan pembelajaran, mulai dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga sudah berjalan dengan baik, dilihat dari banyaknya siswa yang bertanya mengenai materi yang kurang dimengerti dan tidak malu untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya. Selain itu dalam diskusi kelompok untuk menyelesaikan soal-soal kimia berjalan cukup baik dimana siswa dalam satu kelompok saling memberikan gagasan selama diskusi berlangsung, meskipun masih ada beberapa kelompok hanya 1-2 siswa saja yang aktif untuk berdiskusi. Pada saat presentasi hasil diskusi, sebagian besar siswa berani mengemukakan pendapat dan bertanya jika ada materi yang belum dipahami. Sehingga suasana belajar yang tercipta sudah mengarah pada pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Peran guru hanya sebagai fasilitator dan pendamping siswa dalam memahami materi serta membimbing proses diskusi. Secara keseluruhan keaktifan siswa dari pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga sudah mengalami peningkatan.
Setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I sebanyak 3 kali pertemuan, peneliti melaksanakan tes akhir siklus I. Tes tersebut meliputi tes aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek rasa ingin tahu. Tes aspek pengetahuan berupa soal pilihan ganda sebanyak 26 soal dengan alokasi waktu 70 menit. Hasil analisis aspek pengetahuan siklus I, diketahui bahwa jumlah siswa yang telah mencapai batas tuntas (KKM) sebanyak 16 siswa atau 47,06%, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 18 siswa atau 52,94%. Dari hasil tes pengetahuan, dapat diketahui bahwa
commit to user
prestasi belajar pada aspek pengetahuan belum mencapai target yang ditentukan sebelumnya yaitu 60% siswa tuntas. Dari 10 indikator, ada 4 indikator yang sudah tercapai dan tersisa 6 indikator yang masih belum tercapai.
Beberapa siswa mengungkapkan, pada saat ulangan mereka masih bingung dan lupa mengkaitkan rumus yang satu dengan rumus yang lain dan lupa cara menghitung dengan logaritma sehingga kebanyakan dari siswa salah menjawab. Selain itu, siswa juga masih bingung karena adanya beberapa variasi soal.
Untuk penilaian rasa ingin tahu siswa, siswa diberikan angket sebanyak 22 soal dan di observasi dengan 6 poin indikator observasi.
Hasil dari penilaian rasa ingin tahu siswa sudah tercapai dari target yang ditentukan yaitu 65%.
Hasil ketercapaian dari penilaian aspek rasa ingin tahu siswa, prestasi belajar aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa selama tindakan siklus I disajikan dalam Tabel 4.6. sebagai berikut.
Tabel 4.6. Ketercapaian Target Siklus I
Aspek yang dinilai Target Siklus I
Kriteria Target (%) Ketercapaian (%)
Rasa ingin tahu 65 73,00 Tercapai
Pengetahuan 60 47,06 Belum
Tercapai
Sikap 75 81,81 Tercapai
Keterampilan 75 94,12 Tercapai
Dari Tabel 4.5. dapat diketahui bahwa dari keempat aspek yang dinilai selama pembelajaran siklus I yaitu rasa ingin tahu siswa dalam proses pembelajaran, prestasi belajar aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan masih ada satu aspek yaitu aspek pengetahuan yang masih belum mencapai dari target yang direncanakan penulis. Sehingga, masih perlu dilakukan perbaikan pembelajaran dengan melanjutkan ke siklus II.
Dari analisis, masih terdapat indikator kompetensi aspek pengetahuan yang belum dikuasai siswa. Oleh karena itu, perlu adanya tindakan pada
commit to user
siklus II sehingga persentase ketercapaian seluruh indikator dapat tuntas seluruhnya. Selain itu, tujuan dilakukannya refleksi ialah untuk mengetahui kekurangan yang terdapat selama proses pembelajaran pada siklus I, sehingga diharapkan dapat diperbaiki pada siklus II dan meningkatkan ketercapaian target yang telah dicapai pada siklus I.
2. Deskripsi Hasil Tindakan Siklus II
a. Tahap Perencanaan Tindakan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi dari siklus I, maka peneliti dan guru bersama-sama melakukan perencanaan tindakan pada siklus II. Siklus II lebih difokuskan untuk perbaikan terhadap kendala-kendala yang muncul pada siklus I. Materi yang diberikan pada siklus II ini difokuskan pada indikator yang belum tuntas pada siklus I yaitu aspek pengetahuan yang belum mencapai dari target yang direncanakan. Tindakan pada siklus II lebih difokuskan untuk penyempurnaan dan perbaikan terhadap kendala- kendala yang terdapat pada siklus I.
Adapun tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
pertama, kelompok belajar pada siklus I tidak diganti pada siklus II, hal ini diharapkan agar siswa yang sudah tuntas dapat membantu teman dalam satu kelompok yang kurang mengerti dengan jelas, sehingga ilmu yang diperoleh sebelumnya dapat merata ke seluruh siswa dan diskusi kelompok menjadi lebih efektif. Kedua, guru memberikan perhatian yang lebih kepada siswa yang mengalami kesulitan dan siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM pada siklus I serta memberi kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami. Ketiga, guru mendorong siswa yang masih malu bertanya untuk mengajukan pertanyaan bila ada hal yang belum jelas.
Keempat, guru memberikan motivasi kepada siswa untuk terus belajar karena di setiap akhir pertemuan selalu mengadakan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru. Kelima, guru memberikan kesempatan lebih
commit to user
banyak untuk siswa yang percaya dirinya masih kurang dengan mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
Dengan demikian, diharapkan hasil ketercapaian lebih baik dan dapat mencapai target. Untuk siklus II dilaksanakan 2 kali pertemuan (4 JP), dengan rincian yaitu pertemuan pertama penguatan materi (2 JP) dan pertemuan kedua (2 JP) tes akhir siklus II.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pelaksanaan tindakan siklus II dilakukan dalam 2 kali pertemuan, yaitu pada tanggal 24 november 2015 untuk penyampaian materi dan pada tanggal 26 november 2015 untuk tes siklus II dengan alokasi waktu 2 JP tiap pertemuan. Pada pertemuan pertama, sebelum memulai pembelajaran, guru menyampaikan bahwa pertemuan kali ini digunakan untuk mengulang materi kesetimbangan kimia yang belum tuntas dan menyebutkan indikator yang belum tuntas tersebut.
Seperti pembelajaran pada siklus I, guru menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5e sesuai yang tercantum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun peneliti dan disetujui oleh guru mata pelajaran kimia kelas XI. Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi untuk mengingatkan materi yang sudah dipelajari dan memberikan pertanyaan kepada siswa terkait materi yang telah dipelajari pada siklus I. Disini terlihat jelas bahwa terjadi peningkatan intensitas komunikasi dua arah karena siswa tanpa ditunjuk ada yang menjawab pertanyaan dari guru ataupun berani mengajukan pertanyaan. Selama pembelajaran berlangsung, tetap dilakukan observasi sikap siswa yang dilakukan oleh peneliti dibantu 3 observer yang lain.
Secara keseluruhan, sudah lebih dari 85% siswa aktif dalam berdiskusi kelompok dan aktif bertanya kepada guru. Saat mempresentasikan hasil diskusi, guru menunjuk dengan memanggil nama siswa, pemilihan siswa didasarkan pada siswa yang belum tuntas
commit to user
pada saat tes akhir siklus I. Setelah presentasi selesai dan tidak ada lagi pertanyaan dari siswa, maka diadakan postest untuk melihat apakah siswa benar-benar sudah paham terhadap kesetimbangan kimia. Sebelum postest dimulai, guru memberikan penguatan kembali mengenai konsep- konsep yang telah dibangun oleh siswa dan membahas kembali keseluruhan hasil pembelajaran. Soal postest terdiri dari 2 soal.
Pertemuan kedua dilaksanakan tanggal 26 november 2015 yaitu untuk tes akhir siklus II. Tes akhir siklus II ini hanya tes aspek pengetahuan. Tes aspek pengetahuan meliputi 18 soal pilihan ganda dengan alokasi waktu 60 menit.
c. Tahap Observasi Tindakan Siklus II 1) Kegiatan Siswa
Pada pembelajaran siklus II ini, siswa terlihat lebih antusias mengemukakan gagasan-gagasannya. Mereka mengerjakan soal diskusi dengan lebih fokus, dan secara spontan mau bertanya kepada guru bilamana mengalami kesulitan, sehingga guru sudah tidak benar- benar menuntun dalam pemecahan masalah yang ada, karena siswa sudah mulai terbiasa menggunakan rasa ingin tahunya dan sungguh- sungguh untuk memecahkan masalah yang terdapat dalam soal diskusi.
Gambar 4.5. Diagram Pie Ketuntasan Prestasi Belajar Aspek Pengetahuan Siklus II
79,%
21%
Tuntas
Belum Tuntas
commit to user
Tabel 4.7. Hasil Prestasi Belajar Aspek Pengetahuan Tiap Indikator Pada Siklus II
Indikator Kompetensi
Target Ketercapaian (%)
Kriteria
1. Menjelaskan kesetimbangan kimia
2. Membedakan
keseteimbangan homogen dan heterogen
3. Meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas le Chatelier
4. Menganalisis pengaruh perubahan suhu, konsentrasi, tekanan, dan volume pada pergeseran kesetimbangan melalui percobaan.
5. Menentukan rumusan tetapan kesetimbangan (Kc) dari berbagai persamaan reaksi 6. Menentukan persamaan
reaksi yang sesuai berdasarkan rumusan tetapan kesetimbangan (Kc)
7. Menghitung harga Kc berdasarkan konsentrasi zat dalam kesetimbangan dan sebaliknya
8. Menghitung harga Kc berdasarkan tekanan parsial gas pereaksi dan hasil reaksi pada keadaan setimbang 9. Menghitung harga Kc
berdasarkan Kp dan sebaliknya
10. Menjelaskan penerapan prinsip kesetimbangan
Pada siklus II ini siswa belajar dengan kelompok yang tidak berbeda, diharapkan dengan kelompok yang masih sama ini siswa lebih bisa berpartisipasi aktif dan mengerti dalam diskusi kelompok.
commit to user
Disini guru berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan diskusi ataupun presentasi jawaban di depan. Prestasi Belajar Aspek Pengetahuan didapatkan dari hasil tes aspek pengetahuan di akhir siklus II yang terdiri dari 18 soal pilihan ganda. Dari hasil penilaian siklus II, didapatkan bahwa persentase ketuntasan siswa sebanyak 79,4% atau 27 siswa yang tuntas dan 21% atau 7 siswa yang tidak tuntas. Untuk tes aspek pengetahuan ini sudah mencapai target, meskipun masih ada 7 siswa yang belum tuntas. Siswa-siswi yang belum tuntas ini akan diberikan remedial oleh guru mata pelajaran.
Persentase ketuntasan aspek pengetahuan pada siklus II ditunjukkan pada Gambar 4.5. Dari analisis hasil tes siklus II dapat dinyatakan hasil ketercapaian ketuntasan belajar siswa tiap soal dan tiap indikator kompetensi sudah memenuhi target dan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
2) Kegiatan Guru
Berdasarkan hasil observasi pada proses pembelajaran, kegiatan guru pada siklus II terlihat mengalami peningkatan. Guru lebih banyak memberikan bimbingan kepada siswa yang belum memahami materi dan memantau kegiatan siswa dalam diskusi kelompok. Guru juga lebih banyak memberi pertanyaan umpan balik untuk siswa, sehingga tercipta pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dan guru bertindak sebagai fasilitator.
d. Tahap Refleksi Tindakan Siklus II
Pembelajaran kimia pada materi kesetimbangan kimia dengan model pembelajaran Learning Cycle 5e pada siklus II dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan (2 JP). Siswa mulai terbiasa dengan pembelajaran yang baru dan siswa sudah lebih senang menjawab soal- soal diskusi. Semua kelompok aktif dan antusias mengemukakan pendapat-pendapatnya dalam kegiatan diskusi kelompok, hingga hampir semua siswa aktif dalam diskusi kelompok. Siswa lebih berani dan
commit to user
percaya diri dalam bertanya, mengungkapkan pendapat dan lebih santai dalam mengikuti pelajaran.
Setelah pelaksanaan tindakan siklus II sebanyak 1 kali pertemuan telah selesai, maka dilaksanakan tes aspek pengetahuan untuk menguji kemampuan siswa terhadap materi kesetimbangan kimia. Tes pengetahuan yang diberikan berupa soal pilihan ganda sebanyak 18 soal dengan alokasi waktu 60 menit. Berdasarkan analisis hasil tes pengetahuan pada siklus II, diketahui bahwa jumlah siswa yang telah mencapai batas tuntas sebanyak 27 siswa atau 79%, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 7 siswa atau 21%. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa prestasi belajar aspek pengetahuan telah memenuhi target ketuntasan.
C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar Siklus
Penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5e pada materi kesetimbangan kimia dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan, sedangkan siklus II dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan.
Perbandingan hasil tindakan antar siklus digunakan untuk mengetahui peningkatan yang terjadi selama tindakan siklus I dan siklus II dilaksanakan.
1. Prestasi Belajar Aspek Pengetahuan
Salah satu aspek prestasi belajar yang merupakan faktor penting penentu keberhasilan pembelajaran adalah aspek pengetahuan, penilaian aspek pengetahuan pada pembelajaran ini dilakukan pada setiap akhir siklus dengan bentuk soal objektif tipe pilihan ganda. Hasil tes aspek pengetahuan siklus I menyatakan bahwa siswa yang telah mencapai ketuntasan belajar 16 dari 34 siswa di kelas XI MIA 4 atau 47 % dan 18 siswa dari 34 siswa di kelas XI MIA 4 atau 53 % dinyatakan belum tuntas. Persentase ini belum mencapai target yang telah ditentukan yaitu 60 %. Hasil tes aspek pengetahuan siklus II menyatakan bahwa jumlah siswa yang telah tuntas sebanyak 27 siswa dengan persentase ketuntasan sebesar 79%, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanyak 7 siswa atau 21%. Dari data tersebut dapat dilihat terjadinya
commit to user
peningkatan persentase ketuntasan dari siklus I terhadap siklus II. Adapun peningkatan persentase ketuntasan hasil tes aspek pengetahuan siklus I dan II disajikan pada Gambar 4.6. sebagai berikut.
Gambar 4.6. Diagram Ketuntasan Prestasi Belajar Aspek Pengetahuan Siklus I dan II.
Berdasarkan data pada diagram batang dalam bentuk Gambar 4.6.
terlihat bahwa persentase ketuntasan siswa pada siklus II lebih tinggi dari pada siklus I. Ketuntasan belajar merupakan faktor penentu keberhasilan penelitian ini. Ketuntasan prestasi belajar diperoleh dari nilai tes aspek pengetahuan pada setiap akhir siklus. Perbandingan hasil tes aspek pengetahuan siswa siklus I dan siklus II tiap indikator disajikan dalam Tabel 4.9. sebagai berikut.
Tabel 4.8. Ketercapaian Hasil Tes Aspek Pengetahuan Siklus I dan Siklus II Siklus I
Kriteria
Siklus II
Kriteria Persentase
Ketercapaian (%)
Persentase Ketercapaian (%)
47,06 Belum Tercapai 79,04 Tercapai
Berdasarkan Tabel 4.10. dapat diketahui bahwa pada siklus II mengalami peningkatan persentase ketercapaian. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar siswa sudah mampu mengartikan permasalahan yang ada pada
53
47 79
21
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Tuntas Belum Tuntas
Ketuntasan(%)
Kriteria
Siklus I Siklus II
commit to user
soal, dimana siswa mampu mengaitkan antara rumus yang satu dengan rumus yang lainnya dan menggunakan rumus yang benar untuk menyelesaikan permasalahan di soal tersebut. Pembelajaran pada siklus II difokuskan untuk indikator kompetensi yang perlu mencapai batas tuntas. Secara umum, penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5e telah berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa yaitu prestasi aspek pengetahuan siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras.
2. Prestasi Belajar Aspek Sikap
Penilaian aspek sikap yang meliputi sikap sosial (jujur, Tanggungjawab disiplin, kerjasama, dan toleransi). Perbandingan ketercapaian prestasi belajar aspek sikap tiap indikator disajikan dalam Tabel 4.9. sebagai berikut.
Tabel 4.9. Persentase Ketercapaian Aspek Sikap Siswa pada Siklus I
Indikator Sikap Kriteria
Teman Sejawat Angket Diri
Jujur 75,97 75,49
Tanggung Jawab 82,83 81,06
Disiplin 83,59 83,08
Kerjasama 85,98 85,61
Toleransi 80,81 82,07
Dari Tabel 4.9. dapat diketahui bahwa dari analisis aspek sikap siswa kelas XI MIA 4 yang telah peneliti laksanakan, ketuntasan siswa sebesar 100% atau sebanyak 34 siswa telah memiliki kriteria tuntas. Hal ini sudah memenuhi aspek sikap yang ditargetkan yaitu 75%. Nilai akhir ketuntasan dari prestasi belajar aspek sikap dituangkan dalam bentuk kategori, yakni kategori Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C) dan Kurang (K). Oleh karena aspek sikap para siswa kelas XI MIA 4 telah dapat tercapai pada siklus I, sehingga peneliti tidak perlu melakukan penilaian aspek sikap siswa pada siklus II.
3. Prestasi Belajar Aspek Keterampilan
Penilaian keterampilan dilakukan sebagai wujud dari penilaian aspek keterampilan siswa selama pembelajaran kimia berlangsung pada materi
commit to user
membedakan kesetimbangan dinamis. Penilaian keterampilan dilakukan melalui observasi selama percobaan di laboratorium (praktikum), menjelaskan dan menyimpulkan dalam bentuk pembuatan laporan percobaan. Hasil akhir penilaian didasarkan pada nilai optimum baik dari observasi, melakukan percobaan (praktikum), menyimpulkan dan menjelaskan (pembuatan laporan).
Ketuntasan prestasi belajar aspek keterampilan siswa kelas XI MIA 4 sebesar 88,35%.
Perbandingan ketercapaian prestasi belajar aspek keterampilan tiap indikator disajikan dalam Tabel 4.10. sebagai berikut.
Tabel 4.10. Persentase Ketercapaian Aspek Keterampilan Siswa pada Siklus I dan Siklus II.
Indikator Aspek Keterampilan Kriteria (%) Siklus I
Praktikum Tercapai 91,2 %
Laporan Tercapai 83,5 %
Ketuntasan belajar untuk aspek keterampilan ditetapkan dengan predikat target minimal 75 %. Oleh karena aspek keterampilan para siswa kelas XI MIA 4 telah dapat tercapai 88,35 % pada siklus I, sehingga peneliti tidak perlu melakukan penilaian aspek keterampilan siswa pada siklus II.
4. Rasa Ingin Tahu
Rasa ingin tahu siswa dalam proses pembelajaran ini diukur melalui angket dan observasi yang dilaksanakan di akhir siklus I. Hasil akhir penilaian rasa ingin tahu siswa didasarkan pada nilai optimum, baik dari hasil angket maupun hasil observasi.
Tabel 4.11. Persentase Ketercapaian Aspek Rasa Ingin Tahu Siswa pada Siklus I
Indikator Rasa Ingin Tahu Kriteria (%) Siklus I
Angket Tercapai 79,4 %
Observasi Tercapai 73,5 %
commit to user
Ketuntasan belajar untuk aspek rasa ingin tahu ditetapkan dengan predikat target minimal 65 %. Oleh karena aspek keterampilan para siswa kelas XI MIA 4 telah mencapai target pada siklus I, sehingga peneliti tidak perlu melakukan penilaian aspek keterampilan siswa pada siklus II.
D. Pembahasan
Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan siswa dengan sumber belajar di lingkungan belajar untuk mewujudkan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru perlu merencanakan strategi pembelajaran yang bersifat sistematis dan didesain untuk membuat siswa belajar lebih aktif. Oleh karena itu, model pembelajaran yang diterapkan oleh guru harus berpusat pada siswa. Karena agar siswa lebih terlibat langsung secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga keberhasilan penguasaan konsep materi pada diri siswa dapat lebih optimal.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran Learning Cycle 5e pada materi kesetimbangan kimia.
Dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5e, pembelajaran tidak berpusat pada guru namun berpusat pada keterampilan siswa. Model pembelajaran Learning Cycle 5e telah terbukti dapat meningkatkan rasa ingin tahu hingga berdampak positif pada prestasi siswa, karena pembelajaran ini menekankan pada pemberian masalah sebagai kunci pembelajaran, dimana siswa perlu berpikir secara kreatif mengenai masalah atau fenomena yang disajikan untuk bisa merumuskan, memecahkan dan menarik kesimpulan dari permasalahan tersebut. Diterapkannya model ini agar siswa dapat menemukan sendiri konsep dari materi yang disampaikan oleh guru. Dalam pembelajaran ini guru lebih banyak berperan sebagai motivator, fasilitator dan katalisator, sedangkan siswa adalah aktor utama pencari informasi dan pengetahuan. Kegiatan pembelajaran dalam langkah-langkah pembelajaran Learning Cycle 5e dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pada tahap Engagement (Libatkan), guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dengan keingintahuan siswa tentang kesetimbangan kimia
commit to user
yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang sesuai dengan topik yang dibahas). Selama pengalaman pembelajaran ini, siswa mula-mula dihadapkan pada tugas-tugas instruksional dan diberi kesempatan untuk melakukan identifikasi.
Selama fase ini, siswa membuat hubungan antara pengalaman belajar dimasa lalunya dengan pengalaman belajar sekarang. Hal ini dapat dilaksanakan melalui diskusi kelas, atau dengan bantuan media audio-visual seperti video film dan sebagainya.
Pada tahap Exploration (Eksplorasi) kegiatan pokok pembelajaran adalah melibatkan siswa dalam pokok bahasan atau topik pembelajaran, memberikan kesempatan kepada mereka untuk membangun pemahamannya sendiri. Pada tahap ini, para siswa berkesempatan terlibat secara langsung dengan fenomena yang diselidiki dan bahan-bahan kajian. Mereka bekerja dalam suatu tim, lalu mengalami pengalaman bersama dengan saling berbagi dan berkomunikasi tentang esensi pokok pembelajaran. Guru bertindak sebagai fasilitator yang menyediakan bahan- bahan pembelajaran yang diperlukan dan memandu siswa agar tetap focus dalam pembelajaran kesetimbangan kimia. Setiap kelompok melakukan pembelajaran aktif melalui pelajaran sains berbasis inkuiri (inquiry-based science). Penekanannya adalah pada pengajuan pertanyaan setahap demi setahap oleh guru yang harus dijawab oleh kelompok lainnya.
Pada tahap Explaination (Jelaskan) siswa diberi kesempatan untuk mengkomunikasikan apa yang telah dipelajarinya sejauh ini dan menjelaskan maksudnya. Pada tahap ini, para siswa menjelaskan apa yang telah dipelajarinya dengan berkomunikasi dengan rekan-rekannya, dengan fasilitaor (guru) melalui suatu proses reflektif. Dengan kata lain, setelah seorang siswa dari perwakilan setiap kelompok mencapai suatu pemahaman, mereka boleh membuat ringkasan atau menjelaskan gagasan-gagasannya.
Pada tahap Elaboration (Elaborasi), siswa diberi kesempatan untuk menerapkan pengetahuan barunya dan secara berkesinambungan melakukan eksplorasi dan implikasi ini. Pada tahap ini, para siswa mengembangkan materi
commit to user
kesetimbangan kimia yang telah dipelajarinya, membuat jalinan dengan konsep terkait lainnya, kemudian mengaplikasikan pemahamannya ini dalam dunia nyata.
Dan yang terakhir adalah tahap Evaluation, baik siswa maupun guru menilai sejauh mana terjadi pembelajaran dan pemahaman. Dalam hal ini, guru menilai sejauh mana para siswa memperoleh pemahaman tentang konsep-konsep dari kesetimbangan kimia dan memiliki rasa ingin tahu dari pengetahuan tersebut.
Evaluasi dan penilaian dapat berlangsung selama proses pembelajaran.
Pada penelitian ini, data diperoleh dari berbagai sumber, yaitu informan (guru dan siswa), peristiwa atau perilaku siswa dalam pembelajaran, dokumen atau arsip dan hasil tes. Untuk mengukur validitas data yang diperoleh dilakukan teknik triangulasi. Triangulasi merupakan teknik memastikan data dari berbagai sudut pandang. Triangulasi yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi observasi, angket dan wawancara. Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil observasi selaras dengan hasil angket yang diisi sendiri oleh siswa, sehingga informasi yang diperoleh dapat dinyatakan valid.
Berdasarkan observasi, angket dan tes yang telah dilakukan selama proses pembelajaran, pembelajaran model Learning Cycle 5e dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras pada materi kesetimbangan kimia. Prestasi belajar yang dimaksud meliputi empat aspek, yaitu prestasi belajar aspek pengetahuan dalam hal penguasaan materi kesetimbangan kimia, prestasi belajar aspek rasa ingin tahu siswa pada saat pembelajaran, prestasi belajar aspek sikap dalam hal sikap keseharian siswa pada saat pembelajaran, serta prestasi belajar aspek keterampilan berupa kemampuan siswa ketika melakukan presentasi kelompok.
Tindakan yang dilakukan pada kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras terdiri atas dua siklus. Siklus I dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan untuk penyampaian materi dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus I, yang meliputi tes aspek pengetahuan, tes aspek rasa ingin tahu, tes aspek keterampilan, dan pengisian angket sikap. Sedangkan untuk siklus II dilakukan dalam 1 kali pertemuan untuk penyampaian materi dan 1 kali pertemuan untuk tes akhir siklus II yang meliputi tes aspek pengetahuan. Pada siklus II penulis sudah tidak
commit to user
melakukan tes aspek rasa ingin tahu, tes aspek keterampilan, dan pengisian angket sikap karena siswa kelas XI MIA 4 telah mengalami target ketercapaian.
Pada saat pembelajaran, siswa dibagi dalam kelompok yang dihadapkan pada berbagai permasalahan yang diberikan. Diskusi kelompok yang dilaksanakan oleh siswa dapat menjadi pengalaman bermakna karena memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan berpikir, berinteraksi sosial serta berlatih bersikap positif. Selain itu, masing-masing siswa juga bertanggung jawab terhadap kemajuan kelompoknya dengan cara saling kerja sama dalam berdiskusi.
Berdasarkan hasil pengamatan, setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II untuk materi kesetimbangan kimia, rasa ingin tahu siswa dalam proses belajar semakin meningkat yang ditunjukkan dengan kesediaan para siswa untuk aktif berdiskusi, lebih sering bertanya kepada guru, mencatat pelajaran dan mengamati guru ketika menerangkan.
Tahap persiapan dalam penelitian ini yaitu melakukan observasi di sekolah. Observasi dilakukan di kelas selama pembelajaran dan dilengkapi dengan wawancara yang ditujukan kepada guru mata pelajaran kimia. Observasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik siswa, bagaimana proses pembelajaran yang terjadi, dan untuk mengetahui keadaan awal saat proses kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Berdasarkan hasil observasi, kondisi awal kelas menunjukkan bahwa rasa ingin tahu siswanya masih rendah. Tetapi setelah diberikan tindakan siklus I, terjadi peningkatan persentase aspek rasa ingin tahu menjadi 77% yang berarti telah mengalami target ketercapaian yaitu 65%. Peningkatan persentase rasa ingin tahu siswa dalam pembelajaran disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang menyebabkan peningkatan rasa ingin tahu siswa adalah metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran Learning Cycle 5e yang diterapkan bersifat konstruktivisme, sehingga menuntut siswa untuk lebih aktif bertanya hingga berdiskusi bersama kelompoknya.
Pada prestasi belajar aspek sikap siswa terhadap pembelajaran, penilaian aspek sikap siswa meliputi sikap sosial (disiplin, jujur, tanggunngjawab,
commit to user
kerjasama, dan toleransi) dilakukan melalui 2 cara yaitu angket penilaian teman sejawat dan angket penilaian diri di akhir siklus. Dari metode-metode ini dilakukan untuk mendapatkan nilai akhir untuk aspek sikap siswa. Berdasarkan hasil analisis, ketuntasan aspek sikap pada siklus I langsung mencapai 100%, yang berarti telah mengalami target ketercapaian yaitu 75%. Sehingga tidak perlu dilakukan kembali pada siklus II.
Selain penilaian aspek rasa ingin tahu siswa dan aspek sikap siswa, peneliti juga melakukan aspek keterampilan siswa terhadap pembelajaran. Prestasi belajar aspek keterampilan siswa pada siklus I telah mencapai 88%, yang berarti telah mengalami target ketercapaian yaitu 75%. Sehingga tidak perlu dilakukan kembali pada siklus II.
Untuk ketuntasan aspek pengetahuan siswa pada siklus I secara umum hanya mencapai 47,06%. hal ini belum sesuai dengan target yang telah ditetapkan yaitu 60%, sehingga peneliti melakukan penilaian kembali yang dilaksanakan pada akhir siklus II. Pada akhir siklus II hasil ketuntasan aspek pengetahuan siswa mencapai 79,04%. Peningkatan prestasi belajar aspek pengetahuan pada siklus II disebabkan karena siklus II pembelajaran difokuskan pada pemberian materi untuk indikator kompetensi yang belum tuntas. Selain itu, anggota kelompok tidak berubah pada siklus II. Pembelajaran dengan model Learning Cycle 5e merupakan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa, dimana siswa secara kelompok menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran kimia. Proses pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa, sehingga guru hanya membimbing dan memfasilitasi setiap kelompok untuk menyelesaikan permasalahan dalam soal diskusi kelompok.
Suatu penelitian tindakan kelas dapat dikatakan berhasil apabila masing- masing indikator yang diukur telah mencapai target yang telah ditetapkan.
Penelitian ini dapat dikatakan berhasil karena masing-masing indikator proses dan prestasi belajar siswa yang diukur telah mencapai target yang ditetapkan. Dari hasil tindakan, pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Learning Cycle 5e dapat meningkatkan rasa ingin
commit to user
tahu dan prestasi belajar pada materi kesetimbangan kimia siswa kelas XI MIA 4 SMA Negeri 1 Teras Tahun Pelajaran 2015/2016.