4.1. Proses Produksi
PT Prestasi Ide Jaya dalam melakukan proses produksi sepatunya, pemesanan bahan baku material sepatu dilakukan dari perusahaan lokal sedangkan untuk proses penjahitan, pihak perusahaan membaginya menjadi 2 macam, yaitu jahit dalam dan jahit luar. Pada pengerjaan suatu pesanan dari konsumen, pihak perusahaan membagi menjadi beberapa giliran pengerjaan atau pembagian quantity karena tidak mungkin pesanan sepatu dikerjakan semua dalam waktu yang bersamaan kecuali pesanan dalam jumlah kecil (kurang dari 1000 pasang), jadi jika jumlah besar harus dibagi rata agar dapat dikeijakan secara bertahap. Pembagian tersebut dinamakan dengan KIK. Berikut ini departmen- departemen proses produksi yang dalam aktivitas proses tersebut masing-masing mempunyai divisi sendiri yang mengatur dan mengontrol arus keluar masuk bahan dari satu bagian ke bagian lainnya.
4.1.1. Departemen Inventory
Semua bahan material sepatu disimpan didalam gudang, yang terdiri dari berbagai macam jenis, yaitu:
• PVC Puma, PVC Compond! resin, PVC Nubuck yang masing-masing terdapat berbagai macam wama. Bahan ini berupa lembar meteran kain memanjang yang akan digunakan untuk pembuatan kulit sepatu bagian luar.
• Visateri, bahan untuk kulit sepatu bagian dalam.
• Spon, dipakai untuk bantalan kulit luar.
• Ring, tali dan tempat velcro sebagai perlengkapan untuk pengikatan sepatu.
• Lapis alas sepatu.
• String pin, benang, PP band, dan kwh (pengeras sepatu)
• Cat kaleng berbagai wama untuk sablon design sepatu.
28
4.1.2. Departemen Cutting
Pada departemen ini dilakukan proses pemotongan bahan baku berupa kain roll panjang yang berasal dari gudang bahan baku menjadi kain berukuran 3,5 meter x 1,5 meter, setelah itu kain potongan tersebut diplong oleh mesin press menjadi alas sepatu bagian dalam dengan menggunakan pisau mall sepatu yang berada dalam mesin press. Proses pengeplongan untuk satu komponen sepatu dapat dilakukan bersamaan beberapa lembar kain, dengan cara bahan baku ditumpuk menjadi satu kemudian diplong sekaligus. Pada departemen ini terdapat divisi QC sendiri yang bertugas mengontrol kesempumaan hasil plong-plongan.
Keterangan lengkapnya dapat dilihat OPC {Operation Process Control) Cutting pada lampiran 1.
4.1.3. Departemen Sablon
Pada bagian proses ini penyablonan dilakukan pada alas sepatu yang berasal dari department cutting dengan menggunakan cat sablon dan film kassa design sablon. Penyablonan juga dilakukan pada kulit luar sepatu untuk variasi design agar menarik dan sesuai dengan pesanan gambar dan merk dari konsumen.
Keterangan lengkapnya dapat dilihat OPC {Operation Process Chart) Sablon pada lampiran 2.
4.1.4. Departemen Sticking (Jahit)
Pada departemen ini dilakukan proses penjahitan komponen satu persatu.
Proses pengerjaan dilakukan sesuai dengan urutan-urutan pengerjaan penjahitan masing-masing komponan sepatu. Proses penjahitan ini dilakukan dengan menggunakan mesin jahit. Selain proses penjahitan komponen, pada department ini terdapat beberapa bagian yaitu :
a. Bagian Mai
Dilakukan proses seset dan proses gerinda yang bertujuan untuk menipiskan bagian-bagian tepi komponen tersebut supaya dapat mengurangi kesan bertumpuk dan memudahkan proses penjahitan. Proses ini dilakukan sebelum proses penjahitan
b. Bagian Latex
Berfimgsi imtuk mengoleskan latex pada bagian-bagian komponen yang akan digabung/ dilipat untuk mempermudah saat komponen akan dijahit. Proses ini dilakukan sebelum proses penjahitan
c. Bagian Pekeijaan tangan
Berfungsi untuk memberi tanda pada komponen-komponen hasil plong yang akan dijahit sehingga tidak melewati batas yang ditentukan selain itu juga untuk mempermudah pekerjaan di bagian jahit. Proses ini dilakukan sebelum proses penjahitan
d. Bagian Pemasangan tali
Berfungsi memasang tali upper sepatu pada hasil jahitan. Proses ini dilakukan setelah proses penjahitan.
e. Bagian Obras
Berfungsi untuk memasang tali bagian bawah upper sepatu hasil dari jahitan.Proses ini dilakukan setelah proses penjahitan.
Dalam departemen ini juga ada divisi QC yang memeriksa hasil jahitan agar sesuai dengan pesanan konsumen dan tingkat product reject dapat ditekan.
Hasil dari proses jahit ini adalah bagian upper sepatu yang kemudian akan dikirimkan ke departemen inject. Keterangan lengkapnya dapat dilihat OPC {Operation Process Chart) Sticking pada lampiran 3.
4.1.5. 'D&poxiemen Injection
Pada departemen ini berfungsi membuat plastik alas sepatu bagian bawah. Proses pembuatannya dilakukan dengan mesin inject yang disuntikkan pada patung kaki sepatu yang ukurannya sudah disesuaikan, pada patung tersebut sudah dikenakan upper sepatu lengkap dengan cara mempererat tali obras yang berada pada bawah upper sepatu. Sehingga hasil akhir adalah bagian plastik inject tersebut melekat pada upper sepatu.
Keterangan lengkapnya dapat dilihat OPC {Operation Process Chart) Injection pada lampiran 4.
4.1.6. Departemen Finishing
Di departemen ini dilakukan proses pembersihan sepatu (bagian upper sepatu dibersihkan dari sisa lem, benang, mal, dan lain-lain). Setelah itu dilakukan inspeksi terhadap;
• Bentuk sepatu
• Cacal/ tidak (sobek/ lubang)
• Wama sama/ tidak pada sepasang sepatu.
Setelah proses inspeksi sepatu dibungkus dengan kertas, lalu dimasukkan ke dalam inner box. Kemudian hasil produksi dihitung dan dimasukkan dalam cartoon box lalu disimpan. Keterangan lengkapnya dapat dilihat OPC {Operation Process Chart) Finishing pada lampiran 5.
4.1.7. Departemen Barang Jadi
Penyimpanan barang jadi dan siap diberikan ke konsumen sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
4.2. Alur Sistem PPC.
Informasi yang mengalir dalam keseluruhan rangkaian sistem PPC di PT Prestasi Ide Jaya melibatkan 7 departemen yang lain, yaitu: Marketing, Development, PPC, Pembelian, Accounting, Gudang, dan Produksi. Adapun proses alur pemesanan bahan baku tersebut adalah jika ada Proforma Invoice (pemesanan produk sepatu) customer yang terdiri dari gambar desain, jumlah, jenis, wama, bahan, dan ukuran sepatu. Selain itu juga disertai dengan sample sepatu dan mall master dari customer, maka pertama kali diterima oleh Marketing, selanjutnya PI {Proforma Invoice), mall master, dan sample sepatu diberikan oleh Marketing ke Development untuk diputuskan apakah dengan bahan dan gambar desain tersebut perusahaan mampu membuatnya, untuk hal ini sebelum memutuskannya Development perlu konfirmasi dahulu dengan PPC. Setelah bagian PPC menerima mall master dan PO dari bagian Development maka PPC juga membuat keputusan apakah batas waktu yang diberikan customer mampu diselesaikan tepat waktu atau tidak. Dalam hal ini PPC membuat Master Planning Schedulle (MPS), memeriksa gudang bahan baku untuk melihat stock
bahan baku yang ada dan melakukan perhitungan quantity pemesanan dengan acuan mall master. Jika kedua bagian yaitu bagian Development dan PPC sanggup maka diambil keputusan kesanggupan kepada bagian Marketing untuk konfirmasi ke customer, jika tidak sanggup maka bagian Marketing akan melakukan negosiasi ulang dengan customer. Setelah keputusan kesanggupan tersebut maka PPC membuat PO {Purchase Order) dan memperbanyak PO tersebut ke bagian Development, Produksi, Pembelian, Accounting. Hasil perhitungan quantity kebutuhan bahan baku diberikan kepada bagian Pembelian untuk dilakukan pemesanan tanpa menunggu pembuatan mall middle size dari bagian Development. Kemudian PPC mengembalikan mall master tersebut kepada bagian Development untuk dibuat menjadi mall middle size sesuai yang telah disepakati dalam PO selain itu juga untuk membuat pisau mall untuk memotong bahan baku.
Setelah itu bagian pembelian melakukan pemesanan bahan baku ke supplier dengan sebelumnya konfirmasi dahulu kepada Accounting. Gambar 4.1.
menunjukkan sistem pemesanan bahan baku perusahaan saat ini.
Masalah yang terjadi adalah pada waktu pemesanan dari PPC ke bagian pembelian yang dituntut untuk cepat, karena ada bahan baku yang proses pembuatan dari supplier-nya memakan waktu lama (±1 bulan) sedangkan semestinya hams menunggu pembuatan mall middle size dari bagian Development.
Hal ini tentu berdampak pada seringnya terjadi kelebihan atau kekurangan kebutuhan barang baku tersebut. Hal ini teijadi karena jadwal penyelesaian order yang begitu padat membuat proses pemesanan yang dilakukan PPC berupa perkiraan saja, seharusnya jika bisa menunggu dari penyelesaian mall dari bagian Development hal ini bisa dicegah. Jadi yang menjadi kendala disini adalah waktu yang tersedia cukup singkat, ditambah dengan tidak adanya safety stock dari perusahaan,terutama bahan baku yang pemesanannya memakan waktu lama. Flow Chart sistem PPC sekarang, dapat dilihat pada Lampiran 6, merupakan alur keseluruhan sistem PPC sejak menerima PI sampai pemesanan ke supplier.
Pertama : Custom er melakukan pem esanan barang kepada marketing berupa Pi {Proforma Invoice) dan m all master.
Kedua : Marketing menerima pesanan dari pihak customer. Y ang berisi gambar desain, jum iah, jen is, warna, bahan, ukuran sepatu dan kapan harus diselesaikan pesanan tersebut dan m all master.
K etiga : D evelopm ent menerima PI dan mall master dari marketing untuk diputuskan apakah model tersebut sanggup dikerjakan oleh perusahaan.
Dalam hal ini D evelopm ent akan melakukan konfirmasi dahulu kebagian PPC, baru memberikan keputusan ke marketing.
K eem p a t; PPC m enerima PI dan m all master dari Development. Untuk memberikan keputusanan apakah bisa memenuhi delivery date dari customer, PPC mengatur M P S dan m emeriksa material di gudang dan menghitung quantity bahan baku yang dipesan.
K elim a ; Jika desain pihak D evelopm ent sudah sanggup dan PPC dapat inemenuhi waktu Penyelesaian yang diajukan. Maka PPC
memberi kabar kesanggupan kepada m arketing dan membuat PO (Purchase Order) lalu disebarkan ke bagian D evelopm ent, Pembelian, Accounting, Gudang, dan Produksi. Setelab iti PPC dan Produksi. Setelah itu PPC memberikan perhitungan quantity bahan baku untuk dipesan kepada Pembelian tanpa
menunggu hasil perhitungan m all berbagai ukuran dari D evelopm ent. Jika tidak sanggup, m arketing akan
melakukan negosiasi ulang dengan customer.
K eenam : Setelah menerima hasil perhitungan quantity, Pem belian melakukan pemesanan bahan baku ke supplier dengan sebelum nya konfinnasi ke Accounting dahulu.
Gambar 4.1. Sistem pemesanan bahan baku sekarang di PT Prestasi Ide Jaya
4.2.1. Sistem Development
Departemen Development menerima PI {Proforma Invoice), mall master, dan sample sepatu dari bagian Marketing, selanjutnya Development tersebut memeriksa PI, apakah spesifikasi pesanan sepatu customer tersebut dapat dikerjakan dengan teknologi mesin perusahaan serta dapatkah Development membuat mall middle size {grading) sesuai dengan gambar permintaan customer.
Jika PI customer sesuai dengan barang yang ditawarkan, maka langsung PI diteruskan ke bagian PPC. Adapun kegunaan dari pembuatan mall serial oleh Development adalah untuk pengukuran pesanan quantity bahan baku, juga untuk membuat pisau mall yang akan dipakai dalam proses cutting. Pembuatan mall middle size dalam hal ini memakan waktu lama, kurang lebih 3 hari atau 21 jam kerja. Seharusnya dalam pembuatan mall ini ditunggu oleh bagian PPC agar dalam penghitungan quantity bahan baku lebih tepat. Karena setelah pihak PPC terlanjur melakukan pesanan, selang waktu + 2 hari pembuatan mall middle size selesai dan diberikan ke PPC untuk revisi pesanan saja.
4.2.2. Sistem PPC
Departemen PPC menerima PI {Proforma Invoice) dan mall master setelah dikontrol oleh bagian Selanjutnya dilakukan pengecekan kesanggupan produksi dengan delivery time sesuai permintaan customer.
Pengecekan oleh PPC ini dilakukan secara manual dengan menghitung kebutuhan quantity bahan baku dengan acuan mall master dari customer serta melakukan pengecekan secara langsung ke gudang. Proses ini hanya memakan waktu 1 hari saja. PPC juga menghitung Master Planning Schedulle (MPS). Setelah ada kesanggupan dari PPC maka informasi kesanggupan ini diberikan kepada Marketing, kemudian baru dapat dipakai sebagai acuan persetujuan order. Jika hasil pengecekan tersebut tidak dapat memenuhi delivery time yang sesuai dengan permintaan customer, maka Marketing akan melakukan negosiasi pengunduran delivery time. Jika dapat memenuhi permintaan customer, maka Marketing melakukan proses deal produksi dengan pihak customer. PPC membuat PO {Purchase Order), KIK (Kartu Instruksi Kerja) setelah dicapai kata sepakat antara marketing dan customer dan memperbanyak PO, KIK, dan hasil perhitungan
kebutuhan bahan baku tersebut ke bagian Development, Produksi, Pembelian, Accounting dan gudang, tanpa menunggu hasil pembuatan mall middle size dari bagian Development. Setelah hasil perhitungan kebutuhan bahan baku tersebut sampai ke bagian Pembelian, maka dilakukan pemesanan bahan baku kepada supplier.
4.2.3. Form yang mengalir
Secara keseluruhan, sistem mengalir manual yaitu dengan mengalimya form-form sebagai alat informasi antara departemen yang satu ke departemen lainnya. Adapun, form-form yang mengalir pada rangkaian sistem PPC PT Prestasi Ide Jaya antara lain;
a. Form Proforma Invoice (PI), terdiri dari 3 form yaitu form SPL Request, form New Assortment, dan form Packing Instruction, yang semuanya berisi keterangan order dari customer yang diterima oleh marketing. Dara-data yang termuat dalam masing-masing form adalah ;
• Form SPL Request tennuat data: SPL Req # (Nomer Order), Customer, Pattern (Kode Model), REF (tanggal pesan), Outsole (bag bawah sepatu).
Gender (users). Description (Keterangan bahan), Logo, Quantity, Picture, dan Delivary Date.
• Form New Assortment termuat data; Description, Colour & Material, Quantity Pairs, Size Range, Price USD, dan Total USD. FOB SUB.
• Form Packing Instruction termuat keterangan penempatan stiker pada sepatu, bahan dari pengikat stiker, jumlah pack karton sepatu dalam satu dos besar, tulisan-tulisan yang harus dicantumkan dalam karton sepatu seperti color, size, dimension, qty, art, merek, dan lain-lain.
Form-form PI ini diperbanyak oleh Marketing, kemudian diberikan ke bagian Development dan PPC.
b. Form Purchase Order (PO) merupakan form yang dibuat oleh PPC setelah terjadi deal antara marketing dan customer karena kesanggupan design oleh Development dan delivery date oleh PPC. PO ini merupakan rangkuman keseluruhan dari form-from PI. PPC memperbanyak form PO untuk bagian Development, Produksi, Pembelian, Accounting dan gudang. Data yang
diinformasikan pada form ini adalah: Factory Name, Delivery Date, Unit Price, PI.No, Stock, Pattern, Customer, Color, Total pairs. Gender, Last pts, cases, material uppers (keterangan bahan material bagian atas sepatu), material lining (keterangan bahan material bagian bawah sepatu), material ornament/stitching (keterangan bahan material bagian jahit, sol, tali sepatu, dan lain-lain). Remark (Keterangan Packing Intruction), dan tabel size range {Euro size, UK size. Pairs, Pairs/case)
c. Form Laporan Penerimaan Barang (LPB), merupakan form surat bukti penerimaan barang dari supplier, sesuai dengan SPB yang diminta. Dibuat oleh pihak Gudang (setelah menerima barang) diberikan kepada Pembelian.
Pembelian membuat copynya. rangkap 5, 1 sebagai data disimpan, 1 untuk accounting, 1 untuk pajak, 1 untuk administrasi gudang dan satu lagi untuk administrasi kantor.
d. Form Control Production Sheet, merupakan form laporan hasil tiap departemen produksi kepada PPC tiap harinya. Data yang ada pada form ini adalah date, size, quantity, total, departemen, in, out, order numberlYJK, colour, component.
e. Bon Bahan, merupakan form yang berisi bukti pengambilan bahan dari gudang, dibuat oleh masing-masing departemen yang memerlukan bahan baku dari gudang bahan baku. Ada 4 (empat) rangkap dibedakan berdasarkan wamanya, yaitu; merah (untuk diberikan kepada administrasi kantor), biru (sebagai arsip departemen bersangkutan), putih (diserahkan kepada bagian gudang), dan kuning (diserahkan kepada bagian administrasi gudang). Data- data yang ada di dalamnya antara lain; nomer bon, KIK, tanggal, model, bagian, kode barang, uraian bahan, satuan, jumlah diminta, jumlah diberi, harga satuan, total jumlah, tanda tangan (kabag bagian gudang bahan, administrasi bagian gudang bahan, kabag bagian PPC).
f Surat Pesanan, merupakan form yang berisi pesanan bahan baku kepada supplier. Form ini dibuat oleh pembelian berdasarkan perhitungan quantity kebutuhan bahan baku dari PPC. Form ini diperbanyak menjadi dua, satu kepada accounting dan satu lagi sebagai arsip bagian pembelian itu sendiri.
Adapun data yang ada didalamnya adalah tanggal surat, nomer SP, nomer
KIK, nama dan alamat supplier, kode barang, uraian bahan, satuan, jumlah, harga satuan, total jumlah, tanggal pengiriman, syarat pembayaran, dan tanda tangan (disetujui, diperiksa, dan pemesan).
g. Form kebutuhan bahan baku I, merupakan form hasil perhitungan quantity kebutuhan bahan baku dari PPC. Form ini juga dilengkapi dengan design gambar. Adapun data yang termuat didalamnya adalah nama setiap departemen beserta nama komponennya, uraian bahan colour, standar deviasi, jumlah, total, dan satuan. Selain itu juga tercantum keterangan nomer KIK, customer, nomer PO, brand, model, colour, total order, total kerja, cetakan, dan delivery date, nomer pisau, nomer sepatu, nomer cetakan, nomer insole, total order, total kerja, lost, dan cara packing. Form ini 6\-copy empat kali, satu untuk gudang, satu untuk accounting, satu untuk pembelian, dan satu lagi untuk arsip bagian PPC.
h. Form kebutuhan bahan baku II, form ini sama dengan form kebutuhan bahan baku I hanya dilakukan penambahan kolom stok gudang bahan (diisi oleh bagian gudang), kolom tanggal, order, nomer SP, dan supplier (diisi oleh bagian pembelian), kolom tanggal, harga satuan, total, dan keterangan (diisi oleh bagian pembelian setelah barang dikirim). Form ini di-copy empat kali, satu untuk gudang, satu untuk accounting, satu untuk pembelian, dan satu lagi untuk arsip bagian PPC.
i. Form MPS {Master Production Schedule), merupakan form jadwal produksi yang dibuat oleh bagian PPC setelah menerima Proforma Invoice (PI). Pada form ini dilakukan pembagian KIK agar memudahkan proses produksi.
Adapun informasi yang terdapat pada form ini adalah nomer PO, KIK, buyer, style (Prestasi Ide Jaya dan customer), quantity pairs, tanggal start dan finish {departement cutting, departement stitching dan departement injection), dan PO delivery date serta planning delivery date.
4.3. Perhitungan kapasitas produksi dan lead time dari Master Production Schedule untuk pemesanan kebutuhan material.
4.3.1. Waktu baku produksi a. Cutting
Kapasitas produksi/ hari ; 3000 pasang
Konversi ; - Senin-Jumat
(7 jam * 60 menit)-60 menit =0,12 menit/ unit 3000
- Sabtu
(5 iam*60 menit)-60 menit = 0,08 menit/ unit 3000
b. Sabion
Kapasitas produksi/ hari : 3000 pasang
Konversi : - Senin-Jumat
(7 jam * 60 menit)-60 menit =0,12 menit/ unit 3000
- Sabtu
(5 jam*60 menit)-60 menit = 0,08 menit/unit 3000
c. Stitching
Kapasitas produksi/hari : 1500 pasang
Konversi : - Senin-Jumat
(1 jam * 60 menit)-60 menit = 0,24 menit/ unit 1500
- Sabtu
(5 iam*60 menit)-60 menit =0,16 menit/ unit 1500
d. Injection
Kapasitas produksi/ hari : 1500 pasang
Konversi ; - Senin-Jumat
(7 jam * 60 menit)-60 menit = 0,24 menit/ unit 1500
- Sabtu
(5 iam*60 menit)-60 menit = 0,16 menit/unit 1500
e. Finishing
Kapasitas produksi/hari : ISOOpasang
Konversi : - Senin-Jumat
(7 jam * 60 menit)-60 menit = 0,24 menit/ unit 1500
- Sabtu
(5 iam*60 menit)-60 menit ^0 ,1 6 menit/ unit 1500
4.3.2. Lead time pemesanan bahan baku material
Dalam proses perhitungan MPS perusahaan dapat diketahui batas waktu minimum untuk melakukan pemesanan kebutuhan bahan baku sehingga perusahaan dapat melakukan safety stock kebutuhan bahan baku, tujuan dari adanya safety stock ini adalah agar dari divisi PPC memperoleh cukup waktu dalam menerima mall middle size dari divisi Development. Berikut ini adalah perhitungan waktu untuk mencari jam kerja masing-masing proses dengan menggunakan batasan bahwa hari Senin sampai Jumat adalah 7 jam kerja sedangkan hari Sabtu adalah 5 jam kerja. Asumsi jumlah pesanan sepatu adalah
10.000 pasang
4.3.2.1. Lead Time Delivery Date
Merupakan lead time yang ada dalam PO (Purchase Order), rata-rata tenggang waktu adalah 2 bulan atau 48 hari kerja. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja x 40 hari (Senin-Jumat) = 350 jam kerja 5 jam kerja x 8 hari (Sabtu)________________ = 50 jam kerja +
Total ^ 400 jam kerja
4.3.2.2. Lead Time Produksi a. Lead Time Cutting
Dengan jumlah order sepatu sebanyak 10.000 pasang sepatu dan proses cutting yang berkapasitas 3000 pasang/ hari maka didapatkan jumlah hari kerja
selama 4 hari. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja X 4 hari (Senin-Jumat) = 28 jam kerja b. Lead Time Sablon
Dengan jumlah order sepatu sebanyak 10.000 pasang sepatu dan proses sablon yang berkapasitas 3000 pasang/ hari maka didapatkan jumlah hari kerja selama 4 hari. Tetapi dalam proses ini dibutuhkan tambahan waktu 1 hari kerja atau 7 jam kerja untuk pengeringan cat, maka total hari kerja adalah 5 hari.
Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut;
7 jam kerja x 5 hari (Senin-Jumat) = 35 jam kerja c. Lead Time Sticking
Dengan jumlah order sepatu sebanyak 10.000 pasang sepatu dan proses sticking yang berkapasitas 1500 pasang/ hari maka didapatkan jumlah hari kerja selama 7 hari. Tetapi dalam proses ini dibutuhkan tambahan waktu 6 hari kerja atau 40 jam kerja untuk QC jahit dalam dan jahit luar dan obras, maka total hari kerja adalah 13 hari. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja x 11 hari (Senin-Jumat) = 77 jam kerja 5 jam kerja x 2 hari (Sabtu)________________ = 10 jam kerja +
Total = 87 jam kerja
d. Lead Time Injection
Dengan jumlah order sepatu sebanyak 10.000 pasang sepatu dan proses injection yang berkapasitas 1500 pasang/ hari maka didapatkan jumlah hari kerja selama 7 hari. Tetapi dalam proses ini dibutuhkan tambahan waktu 2 hari kerja atau 14 jam kerja untuk pemotongan sisa-sisa compond, maka total hari kerja adalah 9 hari. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja x 8 hari (Senin-Jumat) = 56 jam kerja 5 jam kerja x 1 hari (Sabtu)________________ = 5 jam kerja +
Total = 61 j am kerj a
e. Lead Time Finisking
Dengan jumlah order sepatu sebanyak 10.000 pasang sepatu dan proses finishing yang berkapasitas 1500 pasang/ hari maka didapatkan jumlah hari kerja selama 7 hari. Tetapi dalam proses mi dibutuhkan tambahan waktu 2 hari untuk memproses ulang barang reject yang masih bisa diperbaiki, maka total hari kerja adalah 9 hari, Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja x 8 hari (Senin-Jumat) - 56 jam kerja 5 jam kerja x 1 hari (Sabtu)________________ = 5 jam kerja +
Total = 61 jam kerja
4.3.2.3. Lead Time turunnya PI dari Marketing sampai PPC membuat MPS, membuat PO, membuat perhitungan kebutuhan bahan baku dengan perkiraan 5 % dan melihat stok gudang.
Dalam setiap kali order, mulai dari turunnya PI, kesanggupan bagian Development dan PPC dalam melakukan produksi, hingga PPC membuat MPS, membuat PO dan melihat stok barang dibutuhkan waktu selama 2 hari kerja.
Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja x 2 hari (Senin-Jumat) = 14 jam kerja
4.3.2.4. Lead Time pengiriman mall {Development ke PPC) dan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan acuan mall middle size.
Dalam setiap order, waktu yang dibutuhkan Development untuk pengerjaan mall sampai dengan dikirimnya mall tersebut ke bagian PPC adalah selama 3 hari. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut:
7 jam kerja x 3 hari (Senin-Jumat) = 21 jam kerja
4.3.2.5. Lead time pengolahan hasil perhitungan kebutuhan bahan baku kebutuhan ke Control Material (CM) dan pembuatan Bon Pesanan oleh bagian Pembelian
Pada setiap order, waktu yang dibutuhkan bagi pembelian untuk pengolahan hasil perhitungan kebutuhan bahan baku kebutuhan ke Control
Material (CM) dan Bon Pesanan adalah selama 1 hari kerja. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut;
7 jam kerja x 1 hari (Senin-Jumat) = 7 jam kerja
4.3.2.6. Lead Time pemesanan bahan baku material berdasarkan Master Production Schedule
Merupakan waktu terlama pemesanan bahn baku dari PT. Innan yang dianggap sebagai lead time pemesanan. Pemesanan tersebut rata-rata selama 25 hari kerja. Adapun perinciannya untuk mencari jam kerja adalah sebagai berikut;
7 jam kerja X 21 hari (Senin-Jumat) - 147 jam kerja 5 jam kerja x 4 hari (Sabtu)_______________ = 20 jam kerja +
Total = 167 jam kerja
4.3.3. Lead Time Pemesanan ideal
Lead Time Pemesanan ideal = Lead time Delivery Date - {Lead Time Produksi + Lead Time turunnya PI dari Marketing sampai PPC membuat MPS, menghitung kebutuhan bahan baku dengan perkiraan 5 %, dan melihat stok di gudang
+ Lead Time Pengiriman mall middle size dan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan acuan mall middle size
+ Lead time Pengolahan hasil perhitungan kebutuhan bahan baku kebutuhan
Control Material (CM) dan pembuatan Bon Pesanan oleh bagian Pembelian Lead Time Pemesanan ideal = 400 jam kerja - (272 jam kerja + 14 jam
kerja + 21 jam kerja + 7 jam kerja)
= 86 jam kerja
4.3.4. Rumus perhitungan lead'time pemesanan ideal
Dalam menghitung lead time pemesanan ideal disesuaikan dengan jumlah order yang dipesan adapun rumusnya sebagai berikut ini:
LT ideal = LTd - { (LTc + Ltsa + LTst + Lti + L T f) + (Lta + LTb +
+ L T c)} (4.1)
dan;
Waktu yang hams dilakukan safety stock = LT ideal - LT sekarang (4.2)
dimana:
LTd = lead time delivery date yaitu 400 jam kerja untuk semua order N = jumlah pesanan
LTc = lead time proses produksi cutting
= (N/3000)*7
LTsa = lead time proses produksi sablon
= { (N/3000)*7 } + 7
LTst =lead proses produksi 5^/c/zmg
= { (N/3000)*7 } + 40
LTi = lead time proses produksi injection
= { (N/3000)*7 } + 14
LTf = lead time proses produksi finishing
= { (N/3000)*7 } + 14
LTa = lead time turunnya PI dari Marketing sampai PPC membuat MPS, membuat PO dan melihat stok gudang yaitu 14 jam kerja untuk semua order
LTb = lead time pengiriman mall {Development ke PPC) yaitu 21 jam kerja untuk semua order
LTc = lead time pengolahan hasil perhitungan kebutuhan bahan baku kebutuhan ke Control Material (CM) dan Bon Pesanan oleh bagian Pembelian yaitu 7 jam kerja untuk semua order
LTskg = lead time pemesanan bahan baku sekarang yaitu 167 jam kerja.
4.4. Perbandingan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan perkiraan 5% dan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan mall middle size.
4.4.1. Perhitungan kebutuhan bahan baku dengan perkiraan 5%
Perhitungan ini diiakukan oleh bagian PPC ketika menerima mall middle size dari Development yang selanjutnya akan diberikan ke pembelian untuk diiakukan pemesanan.
Standar perhitungan ini memakai Euro Size dengan ukuran tertentu dan acuannya adalah mall master. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;
Langkah 1 : Mencari nilai tengah dari jumlah total sepatu.
Langkah 2 ; Cari size yang berada pada nilai tengah tersebut. Selanjutnya size itu disebut middle size.
Langkah 3 ; Bandingkan jumlah total pairs size-size sebelum middle size dan jumlah total pairs size-size sesudah middle size dengan jumlah jumlah pairs middle size.
Jika selisih < 500 pairs, berarti middle size sudah tepat.
Jika selisih > 500 pairs, dilihat lebih besar selisih jumlah total airs size-size sebelum middle size maka middle size berubah satu size sebelum middle size tadi., tetapi kalau dilihat lebih besar selisih jumlah total pairs size-size setelah middle size maka size setelah middle size berubah satu setelah middle size berubah satu size setelah middle size tadi.
Langkah 4 ; Setelah diketahui nilai tengah (middle size). Lalu hitung kebutuhan bahan baku dengan acuan mall master.
Langkah 5 : Diketahui masing-masing kebutuhan bahan baku kemudian tambahkan 5% dari hasil perhitungan tersebut setiap kelipatan size dari size mall master sampai middle size yang sudah diketahui tadi pada langkah 3.
4.4.2. Perhitungan kebutuhan bahan baku dengan mall middle size
Perhitungan ini diiakukan oleh bagian PPC dengan acuan mall middle size yang dibuat oleh bagian Development. Standar perhitungan ini memakai Euro Size dengan ukuran tertentu. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut;
Langkah 1 sampai langkah 3 ; Sama dengan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan perkiraan 5%
•Langkah 4 : Setelah diketahui nilai tengah {middle size). Lalu hitung kebutuhan bahan baku dengan acuan mall middle size.
4.5. Studi kasus perhitungan kebutuhan bahan baku
Pada model sepatu PTS 310001 DV jenis Shaker, didapatkan perhitungan standar deviasi masing-masing komponen sepatu dengan cara menggambar di atas kertas karton dengan acuan mall master. Setelah itu dibandingkan dengan perhitungan kebutuhan bahan baku menggunakan perkiraan 5 % dan perhitungan kebutuhan bahan baku menggunakan mall middle size. Juga dicantumkan data aktual kebutuhan sepatu sebagai acuan dasar. Adapun perbandingannya sebagai berikut:
Tabel 4.1. Perhitungan kebutuhan bahan baku
No Kom ponen Bhn Ibr
bhn (m)
STD m all.m aster s.26 (m)
perkrn 15% dr s.26 (m)
m all m iddle s .2 9{m )
Aktual (m)
1 Kepala Nubuck navy 1,37 0,0165 0,0189 0,0155 0,0100
2 Underlay. Kepala Nubuck navy 1,37 0,0043 0,0049 0,0079 0,0065
3 Letter U Nubuck navy 1,37 0,0024 0,0028 0,0031 0,0042
4 U. vrs samping Nubuck navy 1,37 0,0026 0,0030 0,0050 0,0050
5 Tandukan Nubuck navy 1,37 0,0100 0,0115 0,0128 0,0126
6 Tempong Nubuck navy 1,37 0,0073 0,0084 0,0088 0,0089
7 Label lidah Nubuck navy 1,37 0,0028 0,0087 0,0032 0,0043
8 Samping Puma white 1,37 0,0052 0,0060 0,0160 0,0200
9 Bantalan dalam Visaterry fm 1.1 0,0032 0,0367 0,0396 0,0410
10 Badan belakang Non Woven 0,9 0,0444 0,0510 0,0541 0,0540
Dari data tabel diatas diketahui perbandingan perhitungan dengan perkiraan 5% (naik 5% setiap naik size ke middle size), perhitungan kebutuhan bahan baku dengan menggunakan mall middle size dan data aktual. Setelah itu dicari selisih antara kedua perhitungan yaitu menggunakan perkiraan 5% dan menggunakan mall middle size dengan data aktual agar diketahui kelebihan atau kekurangan bahan baku, jika dengan jumlah order sebanyak 10.000 pasang sepatu. Adapun keterangannya dibawah ini;
lab el 4.2. Perbandingan perhitungan kebutuhan bahan baku perkiraan 5% dengan data aktual
Perkrn 1 5 % d rs.2 6 (m)
Aktual
(m)
S elisih pekiraan 15% dr s.26 dgn data aktual (m)
K elebihan (+) atau kekurangan (-) bahan baku (m)
0,0189 0,01 0,0089 89
0,0049 0,0065 -0,0016 -16
0,00276 0,0042 -0,0014 -14,4
0,003 0,005 -0,0020 -20
0,0115 0,0126 -0,0011 -11
0,0084 0,0089 -0,0005 -5
0,0087 0,0043 0,0044 44
0,006 0,02 -0,0140 -140
0,0367 0,041 -0,0043 -43
0,051 0,054 -0,0030 -30
lab el 4.3. Perbandingan perhitungan kebutuhan bahan baku acuan mall middle
m all Aktual S elisih m all m iddle size K elebihan (+) atau M iddle s.29 (m) (m) dgn data aktual (m) kekurangan (-) bahan baku (m)
0,0155 0,01 0,0055 55
0,0079 0,0065 0,0014 14
0,0031 0,0042 -0,0011 -11
0,005 0,005 0,0000 0
0,0128 0,0126 0,0002 2
0,0088 0,0089 -0,0001 -1
0,0032 0,0043 -0,0011 -11
0,016 0,02 -0,0040 -40
0,0396 0,041 -0,0014 -14
0,0541 0,054 0,0001 1
Dari data diatas diketahui jika melakukan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan perkiraan 5% maka tingkat kesalahan hampir mencapai 1,4 % dari data aktual sedangkan jika menggunakan perhitungan kebutuhan bahan baku dengan acuan mall middle size tingkat kesalahan hanya mencapai 0,55 % dari data aktual.
4.6. Analisa Sistem PPC Sekarang
Perhitungan kebutuhan bahan baku sangatlah vital perannya dalam suatu perusahaan, karena hal ini mempengaruhi pemesanan bahan baku dan jadwal
produksi. Bagian PPC dalam hal ini dinilai masih kurang akurat dalam perhitungannya karena masih mengacu pada satu sample size saja dan untuk perhitungan size lainnya hanya berupa perkiraan 5% saja. Hal ini sangatlah tidak tepat, mungkin dalam jumlah pesanan yang kecil perbedaannya tidak terlihat.
Tetapi dalam skala pemesanan yang besar, perbedaan perhitungan antara memakai skala 5% dan perhitungan menggunakan mall middle size dirasakan besar (dapat mencapai l%dari jumlah oriier) jika jumlah order besar yaitu diatas 10000 pasang sepatu.
Bagian Development dalam membuat mall serial memang membutuhkan waktu yang tidak sedikit karena pekerjanya hanya 1 orang, proses pengerjaanya masih manual yaitu dengan tangan, dan juga tugas dari Development sendiri tidak sedikit yaitu selain membuat mall serial juga inovasi model sepatu baru yang keduanya ini merhbutuhkan kecermatan dan ketelitian yang tinggi. Jadi yang dipermasalahkan disini adalah kurangnya waktu yang ada pada bagian PPC untuk menunggu mall serial dari bagian Development. Hal ini sebenamya bisa diatasi dengan adanya safety stock agar dapat mempercepat proses produksi dengan memproses stock yang ada. Tentunya hal ini dapat membuat waktu penyelesaian order menjadi lebih efisien, dan dampak utamanya adalah pihak PPC dapat menunggu mall middle size dari bagian Development. Hal ini beralasan karena selama ini perusahaan tidak berani dalam mengadakan safety stock, karena mereka takut kelebihan bahan baku. Hal ini sangatlah salah sebab kelebihan bahan baku selama ini yang dialami oleh perusahaan bukanlah karena permintaan yang tidak menentu tetapi disebabkan oleh perhitungan kebutuhan bahan baku yang kurang akurat. Banyak bahan baku yang selalu mengalami pemesanan tiap bulannya tidak dilakukan stock., dan ada juga yang proses pemesanannya memakan waktu lama (± 1 bulan) terutama dari PT. Innan.
Pemesanan lama bukan tergantung dari bahannya tetapi dari supplier- nya. Dari perhitungan lead time diatas dapat diketahui bahwa waktu ideal untuk pemesanan bahan baku adalah paling lama 13 hari kerja atau 86 jam kerja sedangkan yang terjadi di perusahaan berdasarkan MPS adalah 25 hari kerja atau 167 jam kerja. Perbedaan dari kedua lead time tersebut sebesar 12 hari kerja atau 81 jam kerja. Dari bukti tersebut dinilai sangatlah penting bagi perusahaan untuk
melakukan safety stock. Untuk itu perlu dilakukan suatu peramalan kebutuhan bahan baku dengan pemfokusan pada bahan baku yang pemakaiannya terus- menerus tiap bulannya serta proses pemesanannya memakan waktu lama.
4.7. Peramaian bahan baku material.
Dalam membuat peramalan pemesanan bahan baku, dilakukan pengambilan data historis selama 2 tahun dari bahan baku tersebut lebih dahulu.
4.7.1. Data kebutuhan bahan baku.
Proses pengambilan data pemesanan dapat dilihat pada lampiran 1, dimana pengeplotan hanya dilakukan pada bahan baku yang hampir terus mengalami pemesanan tiap bulannya dan proses pemesanan ke supplier memakan waktu paling lama. Adapun kelengkapan data semua bahan baku produksi PT.Innan dan keterangan kebutuhan bahan baku selama 2 tahun dapat dilihat pada lembar Lampiran 7. Berikut ini adalah data dan plot bahan baku yang pemesanannya ada tiap bulan selama 2 tahun terakhir (Bulan Desember 2002 dan Desember 2003 tidak ada pemesanan karena peraturan perusahaan yaitu menghabiskan stock bahan baku yang ada dengan membuat sepatu) dan proses pemesanannya memakan waktu lama;
4.7.1.1.PVC Puma Navy Dof 1,1 DC
Lama pemesanan bahan ini adalah 25 hari atau 167 jam kerja. Berikut ini adalah data aktual pemesanan selama 2 tahun.
Tabel 4.4. Data aktual kebutuhan bahan baku PVC Puma Navy Dof 1,1 DC Bulan Januari 2002 sampai bulan November 2003 (dalam m)
Bulan’02 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 1000 600 300 800 1250 600 660 450 800 1000 800
Bulan’03 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 600 1250 650 850 600 400 1000 700 950 600 900
Pemesanan Puma Navy Dof 1,1 DC
1500
I" 1000 (0£ 500
-> zs 0 — I— I....I " " I .... I ....I.... I .... I.... I....I.... I....I.... I..
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 Bulan
Gambar 4.2. Grafik data aktual pemesanan bahan baku PVC Puma Navy D of 1,1 DC bulan Januari 2002 sampai bulan November 2003 4.7.I.2. PVC Puma White Dof 1,1 DF
Lama pemesanan bahan ini adalah 25 hari atau 167 jam kerja. Berikut ini adalah data aktual pemesanan selama 2 tahun.
Tabel 4.5. Data aktual pemesanan bahan baku PVC Puma White D of 1,1 DF Bulan Januari 2002 sampai bulan November 2003 (dalam m)
Bulan’02 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 2600 550 300 3050 2500 4000 1000 1080 2700 600 1000
Bulan’03 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 600 1300 950 650 300 1250 350 680 300 875 1550
Pemesanan Puma White Dof 1,1 DF
6000 I 4000
I 2000
3
0 —r— —I—)—-f T - * - i--- r - * - i--- --- r
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 Bulan
Gambar 4.3. Grafik data aktual kebutuhan bahan baku PVC Puma White Dof 1,1 DF Bulan Januari 2002 sampai bulan November 2003
4.7.1.3. PVC Nubuck Navy D of 1,2 NC
Lama pemesanan bahan ini adalah 25 hari atau 167 jam kerja. Berikut ini adalah data aktual pemesanan selama 2 tahun.
la b el 4.6. Data aktual kebutuhan bahan baku PVC Nubuck Navy Dof 1,2 NC BulanJanuari 2002 sampai bulan November 2003 (dalam m)
Bulan’02 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 650 1845 800 300 2000 1000 900 300 1000 900 1250
Bulan’03 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 1000 600 300 1250 650 2150 1000 1600 600 900 700
Pemesanan Nubuck Navy Dof 1,2 NC
3000 T 2000 4- I 1000 --
Bulan
Gambar 4.4. Grafik data aktual pemesanan bahan baku PVC Nubuck Navy Dof 1,2 NC bulan Januari 2002 sampai bulan November 2003
4.6.1.4. PVC Nubuck Black D of 1,1 NC, lama pemesanan 24 hari atau 160 jam kerja.
Lama pemesanan bahan ini adalah 24 hari atau 160 jam keija. Berikut ini adalah data aktual pemesanan selama 2 tahun.
la b e l 4.7. Data aktual kebutuhan bahan baku PVC Nubuck Black Dof 1,1 NC BulanJanuari 2002 sampai bulan November 2003 (dalam m)
Bulan’02 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 600 750 2300 650 850 300 950 1250 1000 1250 600
Bulan’03 Jan Feb Mrt Apr Mei Jun Jul Ags Sept Okt Nov
Jumlah 850 300 950 1600 900 1500 700 1000 1450 1000 700
Gambar 4.5. Grafik data aktual pemesanan bahan baku PVC Nubuck Black Dof 1,1 NC bulan Januari 2002 sampai bulan November 2003
4.7.2. Pemilihan metode peramalan berdasarkan hasil plot data pemesanan.
Dilakukan pengambilan data kebutuhan bahan baku selama 22 bulan sebagai data peramalan. Peramalan ini digunakan untul meramalkan 1 bulan kedepan Maka berdasarkan keterangan model 4 jenis data diatas dilakukan pemilihan model peramalan dengan metode deret waktu {Time Series Methods) yang terdiri dari berbagai model peramalan. Adapun kemungkinan model peramalan yang dipilih dari beberapa metode yang ada pada metode deret waktu y aitu ;
• Metode peramalan rata-rata bergerak {Moving Average Methods)
• Metode pemulusan eksponensial tunggal {Single Exponential Smoothing Methods)
• Metode peramalan analisis garis kecenderungan {Trend Line Analysis Methods)
Ada sejumlah indikator dalam pengukuran akurasi peramalan, yaitu ;
• K4AD {Mean Absolut Deviation) i Rata-rata Penyimpangan Absolut
• MAPE {Mean Absolut Percentage Error) / Rata-rata Persentase Kesalahan absolut
• MSE {Mean Square Error) / Rata-rata Kuadrat Kesalahan
• Tracking Signal sebagai validasi peramalan
Dengan adanya indikator tersebut, maka didapatkan cara memilih metode peramalan yang tepat. Semakin kecil MAD, MAPE, MSE maka tingkat
4.7.3. Pengolahan data peramalan berdasarkan MAD, MAPE, MSE, dan Tracking Signal.
Teknik peramalan dalam data aktual ini menggunakan sofware Minitab Relesead 13.20.
4.7.3.1. Bahan baku PVC Puma Navy Dof 1,1 DC
Berdasarkan data historis yang ada selama 22 bulan, data tidak menunjukkan kecenderungan (trend) dan acak dari waktu ke waktu, dari hal ini dapat diasumsikan bahwa permintaan pasar relatif stabil dari jangka waktu pengambilan data, maka didapatkan metode peramalan dengan menggunakan metode peramalan rata-rata bergerak {Moving Average Methods) dengan 6 periode, Pemilihan metode dan data peramalan 1 bulan ke depan ini berdasarkan pada nilai MAD, MAPE, MSE terkecil. dan nilai uji validasi dengan menggunakan Tracking Signal tidak melebihi batas-batas pengendalian yaitu ± 4. Berdasarkan hasil peramalan didapatkan:
• MAPE: 28,3
• MAD: 196,6
• MSD: 56013,4
• Nilai uji validasi Tracking Signal maksimum 2,21 dan minimum -2
akurasi peramalan akan semakin tinggi, sedangkan Tracking Signal maksimum ± 4, sebagai batas-batas pengendalian untuk Tracking Signal.
Tabel 4.8. Data hasil peramalan dengan metode Moving Average 6 periode untuk bahan baku PVC Puma Navy Dof 1,1 DC
Periode Data Aktual (m) M A {m ) Predict (m) Error (m)
Jan’02 100 * ♦ *
Feb’02 600 * * *
Mrt’02 300 * *
Apr’02 800 * *
Mei’02 1250 * *
,Tun’02 600 758.333 *
Jul’02 660 701.667 758.333 -98.333
Ags’02 450 676.667 701.667 -251.667
Sept’02 800 760 676.667 123.333
0k t’02 1000 793.333 760 240
Nov’02 800 718.333 793.333 6.667
Tabel 4.8. Data hasil peramalan dengan metode Moving Average 6 periode untuk bahan baku PVC Puma Navy Dof 1,1 DC (sambungan)
Periode Data Aktual (m) M A (m ) Predict (m) Error (m)
Jan’03 600 718.333 718.333 -118.333
Feb’03 1250 816.667 718.333 531.667
Mrt’03 650 850 816.667 -166,667
Apr’03 850 858.333 850 0
Mei’03 600 791.667 858.333 -258.333
Jun’03 400 725 791.667 -391.667
Jul’03 1000 791.667 725 275
A«s’03 700 700 791.667 -91.667
Sept’03 950 750 700 250
0 k t’03 600 708.333 750 -150
Nov’03 900 758.333 708.333 191.667
Berdasarkan peramalan dengan menggunakan metode Moving Average 6 periode, didapatkan forecast 1 bulan ke depan yaitu; 758,33 meter dengan lower 294,457 meter dan upper 1222,21 meter.
Moving Average
Actual A Predicted
* Forecast --- Actual ---Predicted --- Forecast
Mo\«ng A\erage
Length: 6
MAPE: 28,3
MAD: 196,6
M S n 56013,4
Time
Gambar 4.6. Plot data aktual dengan hasil forecast dengan metode Moving Averagehdhm baku PVC Puma Navy D of 1,1 DC
Tabel 4.9. Uji validasi dengan Tracking Signal dari metode Moving Average 6 periode untuk bahan baku PVC Puma Navy Dof 1,1 DC
Periode F o re c a s t
(m)
Aktual
(m)
E rro r (m)
R S F E
(m)
A b so lu t E rro r (m)
K um ulatif Ab. E rro r (m)
M A D (m)
Trackin g S ig n a l
Jul’02 758,333 660 -98,333 -98,333 98,333 98,333 98,333 -1,000
Ags’02 701,667 450 -251,667 -350 251,667 350 175,000 -2,000
Sept’02 676,667 800 123,333 -226,667 123,333 473,333 157,778 -1,437
0k t’02 760 1000 240 13,333 240 713,333 178,333 0,075
Nov’02 793,333 800 6,667 20 6,667 720 144,000 0,139
Jan’03 718,333 600 -118,333 -98,333 118,333 838,333 139,722 -0,704
Feb’03 718,333 1250 531,667 433,334 531,667 1370 195,714 2,214 Mrt’03 816,667 650 -166,667 266,667 166,667 1536,667 192,083 1,388
Apr’03 850 850 0 266,667 0 1536,667 170,741 1,562
Mei’03 858,333 600 -258,333 8,334 258,333 1795 179,500 0,046
Jun’03 791,667 400 -391,667 -383,333 391,667 2186,667 198,788 -1,928
M ’03 725 1000 275 -108,333 275 2461,667 205,139 -0,528
Ags’03 791,667 700 -91,667 -200 91,667 2553,334 196,410 -1,018
Sept’03 700 950 250 50 250 2803,334 200,238 0,250
0 k t’03 750 600 -150 -100 150 2953,334 196,889 -0,508
Nov’03 708,333 900 191,667 91,667 191,667 3145,001 196,563 0,466
4.7.3.2. Bahan baku PVC Puma White Dof 1,1 DF
Berdasarkan data historis yang ada selama 22 bulan, data menunjukkan kecenderungan (trend) menurun sepanjang waktu, maka didapatkan metode peramalan dengan menggunakan metode peramalan garis kecenderungan {Trend Line Analysis Methods) dengan menggunakan persamaan garis lurus {straight line equation) , Pemilihan metode dan data peramalan 1 bulan ke depan ini berdasarkan pada nilai MAD, MAPE, MSE terkecil. dan niiai uji validasi dengan menggunakan Tracking Signal tidak melebihi batas-batas pengendalian yaitu ± empat. Berdasarkan hasil peramalan didapatkan:
• MAPE: 93
• MAD: 719
• MSD: 809180
• Nilai uji validasi Tracking Signal maksimum 1,445 dan minimum -1,77
lab el 4.10. Data hasil peramalan menggunakan metode peramalan garis kecenderungan {Trend Line Analysis Methods) dengan persamaan
garis lurus {straight line equation) bahan baku PVC Puma White D o f l , l DF
Periode Data Aktual (m) Trend (m) Detrend (m)
Jan’02 2600 2028,08 571,92
Feb’02 550 1956,95 -1406,95
Mrt’02 300 1885,81 -1585,81
Apr’02 3050 1814,67 1235,33 .
Mei’02 2500 1743,53 756,47
Jun’02 4000 1672,39 2327,61
JuF02 1000 1601,26 -601,26
Ags’02 1080 1530,12 -450,12
Sept’02 2700 1458,98 1241,02
0k t’02 600 1387,84 -787,84
Nov’02 1000 1316,71 -316,71
Jan’03 600 1245,57 -645,57
Feb’03 1300 1174,43 125,57
Mrt’03 950 1103,29 -153,29
Apr’03 650 1032,15 -382,15
Mei’03 300 961,02 -661,02
Jun’03 1250 889,88 360,12
Jul’03 350 818,74 -468,74
Ags’03 680 747,60 -67,60
Sept’03 300 676,47 -376,47
0k t’03 875 605,33 269,67
Nov’03 1550 534,19 1015,81
Berdasarkan peramalan menggunakan metode peramalan garis kecenderungan {Trend Line Analysis Methods) dengan persamaan garis lurus {straight line equation), didapatkan forecast 1 bulan ke depan yaitu 463,052 meter