• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS STRUKTUR TEKS, KOGNISI SOSIAL, DAN DIMENSI SOSIAL DALAM NOVEL PULANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS STRUKTUR TEKS, KOGNISI SOSIAL, DAN DIMENSI SOSIAL DALAM NOVEL PULANG"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 49

ANALISIS STRUKTUR TEKS, KOGNISI SOSIAL, DAN DIMENSI SOSIAL DALAM NOVEL PULANG KARYA TERE LIYE (ANALYSIS OF

TEXT STRUCTURE, SOCIAL COGNITION, AND SOCIAL DIMENSIONS IN NOVEL PULANG CREATION TERE LIYE)

Ahmad Jamaludin

UPTD SMP Negeri 6 Satui, Jalan Transmigrasi Rt. 09 Desa Jombang, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kode Pos 72275, e-mail [email protected]

Abstract

Analysis of Text Structure, Social Cognition, and Social Dimensions in Novel Pulang Creation Tere Liye. The purpose of this study is to describe the structure of the text, social cognition, and dimensions used in the novel Pulang by Tere Liye when viewed from the analysis of Teun A. Van Dijk's critical discourse analysis. This study uses the Critical Discourse Analysis approach developed by Teun A. Van Dijk and uses the descriptive qualitative method. The results obtained in the novel Pulang Tere Liye's text structure is divided into several elements, namely, macrostructure, superstructure, and microstructure.

The author's macro structure has the theme of betrayal. There are several stages in the superstructure, namely the stages of settlement, conflict arising, increasing conflict, climax, and resolution. Microstructure uses semantics, syntax, stylistic, and rhetoric. Semantic elements are divided into several parts, namely, background, detail and purpose. The setting of this novel are Sumatra, the Jungle Forest of Sumatra, Hong Kong, Tokyo Airport, the Capital Harbor. The details used by the author are more beneficial to him but some are detrimental to him. The author's intent is stated explicitly and clearly so that the reader understands and easily understands the story. In syntax, it is divided into several parts, namely coherence, pronouns, and sentence forms. Coherence used is meaningful coherence of cause and effect, emphasis, location or time, addition, inference, and conflict. The pronouns used in this novel are the first singular pronouns aku (I), the first plural pronoun kami and kita (we), the second singular pronoun, anda, kau and mu, (you), the second plural pronoun kalian (all of you), the third singular pronoun ia and dia, and the third plural pronoun mereka (they, them).The froms of sentences used by the writer are active and passive sentences. The style of language used is the style of language anaphora, epanalepsis, asonance, simile, pleonasm, correction, aptronym, antithesis, sarcasm, alonym, erotesis, and asidenton. Rhetorical cases are divided into several parts, namely graphics; the author uses emphasis with words or sentences in italics. The metaphors used by the writer are daily expressions, proverbs, and proverbs. The expressions used referred to sad and happy expressions. The social cognition is divided into several elements, namely knowledge, opinions and attitudes, and ideology. Furthermore, the social dimension is divided into several elements, namely power and access.

Key words: critical discourse, text structure, social cognition, social dimensions, novel Abstrak

Analisis Struktur Teks, Kognisi Sosial, dan Dimensi Sosial dalam Novel Pulang Karya Tere Liye. Tujuan penelitian mendeskripsikan struktur teks, kognisi sosial, dan dimensi yang digunakan dalam novel Pulang karya Tere Liye bila ditinjau dari analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk. Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk dan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yang diperoleh dalam novel Pulang karya Tere Liye yaitu struktur teks terbagi

ISSN 2580-5932 (Online)

(2)

50 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

menjadi beberapa elemen yaitu struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro pengarang mengangkat tema penghianatan. Superstruktur terdapat beberapa tahapan yakni tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap peningkatan konflik, tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Struktur mikro menggunakan semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris. Elemen semantik terbagi beberapa bagian yaitu latar, detil dan maksud. Latar yang digunakan dalam novel ini yaitu di Sumatera, Hutan Rimba Sumatera, Hongkong, Bandara Tokyo, Pelabuhan Ibu Kota. Detil yang digunakan pengarang lebih menguntungkan dirinya namun ada pula yang merugikan dirinya. Maksud disampaikan penulis secara eksplisit dan jelas sehingga pembaca mengerti dan mudah memahami cerita. Pada sintaksis, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu koherensi, kata ganti, dan bentuk kalimat. Koherensi yang digunakan yaitu koherensi bermakna sebab akibat, penekanan, lokasi atau waktu, penambahan, penyimpulan, dan pertentangan. Kata ganti yang digunakan yaitu kata ganti pertama tunggal aku, kata ganti pertama jamak kami dan kita, kata ganti kedua tunggal anda, kau, dan mu, kata ganti kedua jamak kalian, kata ganti ketiga tunggal ia dan dia, kata ganti ketiga jamak mereka. Bentuk kalimat yang digunakan penulis yaitu kalimat aktif dan pasif.

Gaya bahasa yang digunakan yaitu gaya bahasa anafora, epanalepsis, asonansi, simile, pleonasme, koreksio, aptronim, antitesis, sarkasme, alonim, erotesis, dan asidenton. Retoris terbagi menjadi beberapa bagian yaitu grafis, penulis menggunakan penekanan dengan kata atau kalimat yang dicetak miring. Metafora yang digunakan penulis yaitu ungkapan sehari- hari, peribahasa, dan pepatah. Ekspresi yang digunakan yaitu ekspresi sedih dan bahagia.

Pada kognisi sosial terbagi menjadi beberapa elemen yaitu pengetahuan, opini dan sikap, serta ideologi. Selanjutnya, dimensi sosial terbagi menjadi beberapa elemen yaitu kekuasaan dan akses.

Kata-kata kunci: wacana kritis, struktur teks, kognisi sosial, dimensi sosial, novel

PENDAHULUAN

Dalam pembentukan sebuah wacana, media massa memiliki peran yang penting. Novel merupakan cara yang paling baik dalam mewacanakan sesuatu atas interpretasi penulis untuk menunjukan sebuah peristiwa. Dalam novel, kisah yang disuguhkan terdapat sebuah pesan yang dapat menjadi sebuah pengetahuan baru bagi khalayak pembacanya. Dalam novel Pulang karya Tere Liye mengisahkan tentang suatu ekonomi dikaitkan dengan tukang pukul.

Selain itu, cerita dihubungkan dengan unsur keagamaan dan perjuangan. Cerita yang terlihat tidak mungkin itu diolah sedemikian rupa oleh pengarang menjadi cerita yang menarik.

Penulis mengisahkan sebuah cerita tentang shadow economy dengan jelas serta detail. Hal yang menarik karya Tere Liye ialah cerita yang dihadirkan tentang perjalanan tokoh utama dalam melewati sebuah pertarungan untuk memeluk kesedihan serta kebencian, kemudian pulang pada kehidupan yang sebenarnya. Selain itu, novel ini menceritakan tentang ekonomi dikaitkan dengan tukang pukul. Berdasarkan berbagai pertimbangan tersebut, penelitian ini menjadi penting untuk dilaksanakan.

Pendekatan ini menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) yang ditemukan oleh Teun A. Van Dijk. Dari sekian banyak analisis wacana kritis yang sering digunakan ialah teori A.

Van Dijk. Model tersebut memiliki keunggulan karena lebih praktis dalam penerapannya.

Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis disebut kognisi sosial. Pendekatan ini beranggapan bahwa kognisi sosial merupakan elemen penting dalam proses produksi sebuah wacana di masyarakat. Sebuah wacana yang muncul memiliki kecenderungan tertentu karena kognisi atau kesadaran mental yang ada dalam diri penulis, bahkan kesadaran masyarakat tempat wacana tersebut muncul. Untuk mengungkap makna yang tidak terlihat dari teks, diperlukan suatu analisis kognisi dan konteks sosial. Wacana digambarkannya mempunyai tiga dimensi, yaitu struktur teks, kognisi sosial, serta dimensi sosial. Ketiganya digabungkan menjadi kesatuan penelitian (Darma, 2013, hlm. 88). Dijk menambahkan bahwa pada dimensi teks hal yang dianalisis ialah struktur dari teks. memanfaatkan dan mengambil analisis

(3)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 51 linguistik (kosakata, kalimat, proposisi, paragraf) untuk mendeskripsikan serta memberikan makna dari suatu teks. Teks memiliki beberapa tingkatan yang saling mendukung. Ada tiga level pada dimensi ini, yaitu struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Struktur makro merupakan arti keseluruhan pada suatu teks yang dapat diteliti dengan melihat topik atau tema yang didahulukan pada suatu berita. Superstruktur ialah tingkatan wacana yang berkaitan dengan kerangka pada teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara padu. Struktur mikro merupakan arti wacana yang dapat dianalisis dari bagian kecil dari suatu teks yaitu kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, serta gambar (Eriyanto, 2009, hlm. 225).

TINJAUAN PUSTAKA

Suprastruktur (superstructure) adalah seperti apa bagian pendahuluan pada teks, isi dan penutup saat menyampaikan pidato-pidato politik seorang ketua partai atau bagaimana suprastruktur yang dipakai ketika mencermati kebijakan pemerintah. Aspek struktur mikro (micro structure) bisa dilihat bagaimana pemilihan kalimat, kata, dan gaya bahasa yang digunakan oleh si pembicara dalam pidatonya. Struktur makro (macro structure) adalah implikatur yang diinginkan oleh pembuat teks. Struktur makro mempelajari makna secara keseluruhan (global meaning) yang dapat diamati melalui tema atau topik yang dibahas oleh suatu wacana (Astuti, 2020, hlm. 171).

Dalam pandangan Dijk, kognisi sosial terutama dikaitkan dengan proses produksi. Proses produksi teks melibatkan proses yang disebut kognisi sosial. Kognisi sosial adalah dimensi untuk memberikan penjelasan bagaimana suatu teks diproduksi oleh individu/kelompok penulis. Selain itu, analisis kognisi sosial menekankan, bagaimana peristiwa dipahami, didefinisikan, dianalisis, dan ditafsirkan, ditampilkan dalam suatu model dalam memori.

Model ini menggambarkan bagaimana: tindakan atau peristiwa yang dominan, partisipan, waktu dan tempat, keadaan, objek yang relevan, atau seperangkat tindakan dibentuk dalam struktur berita. Kognisi sosial terbagi menjadi beberapa elemen yaitu pengetahuan, opini dan sikap, serta ideologi. Pada awal munculnya ilmu pengetahuan adalah ilmu filsafat, yang dianggap sangat luas jangkauannya. Titik tolak pemahaman ilmu ini adalah pemahaman bahasa yang sangat jlimet. Tentu saja pemahaman bahasa ini harus diimbangi daya nalar yang kuat. Hubungan antara analisis ilmu filsafat dengan AWK adalah mengenai kesamaannya dalam hal daya nalar (Eriyanto, 2009, hlm. 225-268).

Menurut Badara (2012 dalam Agustina, 2017, hlm. 81), analisis wacana kritis lebih konkret dengan melihat bagaimana gramatikal bahasa membawa posisi dan makna ideologi tertentu. Dengan kata lain, aspek ideologi itu diamati dengan melihat pilihan bahasa dan struktur tata bahasa yang dipakai. Bahasa, baik pilihan kata maupun struktur gramatikal, dipahami sebagai pilihan oleh seseorang untuk diungkapkan membawa makna ideologi tertentu. Ideologi tersebut ada dalam taraf yang umum, menunjukkan bagaimana satu kelompok berusaha menenangkan dukungan publik dan bagaimana kelompok lain berusaha dimarginkan melalui pemakaian bahasa dan struktur gramatika tertentu. Sejalan dengan itu, Titscher dkk. (2000 dalam Humaidi, 2016, hlm. 118) menjelaskan bahwa analisis wacana kritis mengkonseptualisasikan bahasa sebagai bentuk praktik sosial, dan mencoba membuat pembaca sadar akan pengaruh timbal balik antara bahasa dan struktur sosial yang biasanya tidak disadari.

Pada opini dan sikap hal yang perlu dicatat, teks juga memiliki sejumlah opini pribadi.

Meskipun demikian, pendapat pribadi ini ketika diperlihatkan lebih jauh tetap didasarkan pada proposisi opini umum. Opini dalam mental peribadi dapat dibentuk pada dasar sikap kelompok yang dibagi bersama. Pendapat pribadi dan wacana, kurang atau lebih mengacu

(4)

52 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

pada sikap kelompok dan koheren antara satu sama lain. Dijk mengatakan bahwa ideologi dimaksud untuk mengatur masalah tindakan dan praktik individu atau anggota suatu kelompok. Ideologi mempunyai beberapa implikasi penting. Pertama, ideologi secara inheren bersifat sosial, tidak personal. Ia membutuhkan share diantara anggota kelompok, organisasi atau kolektivitas dengan orang lain. Kedua, ideologi meskipun bersifat sosial, ia digunakan secara internal diantara anggota kelompok atau komunitas. Karena itu, ideologi tidak hanya menyediakan fungsi koordinatif dan kohesi tetapi juga membentuk identitas diri kelompok, membedakan dengan kelompok lain.

Dimensi ketiga analisis model Dijk ialah dimensi sosial. Wacana merupakan bagian dari wacana yang berkembang pada masyarakat sehingga menelaah teks perlu dilakukan dengan cara analisis intertekstual serta menganalisis bagaimana wacana tentang sesuatu hal dibuat serta dikonstruksi pada masyarakat. Penelitian ini yang terpenting yaitu menunjukkan bagaimana arti yang dihayati, kekuasaan sosial dibuat melalui praktik wacana dan legitimasi.

Dimensi sosial terbagi menjadi dua elemen yaitu kekuasaan dan akses. AWK mempertimbangkan elemen kekuasaan dalam analisis (Eriyanto, 2009, hlm. 271). Dijk mendefinisikan kekuasaan sebagai kepemilikan yang dimiliki oleh suatu kelompok, satu kelompok untuk mengontrol kelompok dari kelompok lain. Kekuasaan ini umumnya didasarkan pada kepemilikan atas sumber-sumber yang bernilai seperti uang, status, dan pengetahuan. Pada akses, Dijk memberi perhatian yang besar, bagaimana akses diantara masing-masing kelompok dalam masyarakat. Kelompok elit mempunyai akses yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok yang tidak berkuasa. Akses yang lebih besar bukan hanya memberi kesempatan untuk mengontrol kesadaran khalayak lebih besar, tetapi juga menentukan topik apa dan isi wacana apa yang dapat disebarkan dan didiskusikan kepada khalayak.

METODE

Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu menjelaskan struktur teks, kognisi sosial, serta dimensi sosial pada novel Pulang karya Tere Liye, lalu menguraikan berbagai temuan dalam paparan. Berikut alasan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Pertama, data yang dikumpulkan dan dianalisis berbentuk deskripsi, uraian detail, dan cerita rinci yang dilihat dari novel Pulang karya Tere Liye. Kedua, menemukan makna di balik informasi atau cerita yang detail atau mendalam.

Data penelitian ini berupa kosakata, frasa, atau kalimat yang menunjukkan kondisi latar teks wacana dalam novel “Pulang” karya Tere Liye. Sumber data dalam penelitian ini adalah dokumen yang berupa teks wacana dalam novel yang berjudul “Pulang” karya Tere Liye yang diterbitkan oleh Republika Penerbit, Jakarta. Jumlah halaman 400. Cetakan pertama September 2015. Teknik yang dipakai dalam pengumpulan data adalah studi kepustakaan (library research), yaitu dengan mencatat dokumen atau arsip yang berkaitan erat dengan tujuan penelitian. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2008, hlm. 240). Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah novel “Pulang” karya Tere Liye.

Instrumen yang digunakan berbentuk tabel untuk memudahkan pencatatan data-data yang dianggap relevan dengan objek penelitian. Data-data dikumpulkan dalam kategori tertentu, kemudian dianalisis kembali berdasarkan teori Teun A. van Dijk. Instrumen yang digunakan ialah sebagai berikut.

(5)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 53 Tabel 1. Elemen Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk

Novel: Pulang Karya Tere Liye

No Dimensi Analisis Hal yang diamati Elemen Data Penelitian

1 Struktur Teks

Struktur makro Tematik Superstruktur Skematik Struktur mikro Semantik Sintaksis Stilistik Retoris 2 Kognisi Sosial

Pengetahuan Opini dan Sikap

Ideologi

3 Dimensi Sosial Kekuasaan

Akses

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini penulis mencoba memberikan gambaran tentang hasil dan pembahasan, beberapa bagian tersebut mencakup hasil penelitian dari struktur teks, kognisi sosial dan dimensi sosial. Masing-masing bagian akan dipaparkan secara lebih rinci.

Struktur Teks

Dalam analisis teks, peneliti fokus pada strategi wacana dan teknik penulisan yang dipakai oleh pengarang dalam menggambarkan suatu peristiwa tertentu. Menguraikan struktur kebahasaan dengan cara struktur makro (tematik), superstruktur (skematik), dan struktur mikro (semantik, sintaksis, stilistik, dan retoris).

Struktur Makro

Dalamstruktur makro, hal yang diamati adalah elemen tematik meliputi tema dan topik yang adadi dalam novel Pulang karya Tere Liye. Bagian ini merupakan gambaran umum suatu teks. Tema ini dapat dilihat dari kutipan teks berikut ini:

Aku keliru sekali. Benar-benar telah keliru. Ini bukan ancaman serangan dari Keluarga Lin yang membalas dendam. Ini juga bukan datang dari keluarga yang membenci kesuksesan Tauke karena telah disingkirkan.

Ini adalah skenario lihai. Ini adalah pengkhianatan. Cara yang akan terus abadi di dunia hitam. Aku meremas jemari, “Basyir! Basyir adalah pengkhianatnya.“ (Liye, 2015, hlm. 253).

Teks di atas tema yang disampaikan penulis yaitu tentang penghianatan. Peristiwa ini terjadi ketika Basyir yang menghianati keluarga Tong yang sudah mengalami kesuksesan dan kekuasaan tertinggi. Basyir merupakan seorang tukang pukul yang kuat. Ia mencoba mengumpulkan pemimpin dan orang kepercayaan keluarga Tong dalam sebuah ruangan. Hal

(6)

54 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

ini dilakukan agar ia dapat mempermudah menghabisi keluarga Tong sekaligus. Namun, Bujang mengetahuinya, setelah keadaan sudah rumit dan terperangkap jebakan Basyir. Tapi Bujang mampu menyelamatkan diri pada bagian penghianatan bagain satu. Agar mempertegas tema penghianatan, pengarang membuat sub judul “Pengkhianatan (Bag. Dua)”.

Superstruktur

Superstruktur diartikan sebagai kerangka suatu teks serta bagaimana suatu teks tersebut dapat tersusun secara utuh. Skematik merupakan teks yang mempunyai alur dari awal sampai akhir. Dari sebuah skematik atau alur dapat menunjukan bagian-bagian dalam suatu teks yang tersusun dan diurutkan sehingga membuat kesatuan arti. Tahapan alur terbagi atas lima bagian, yaitu Situation yaitu pengarang mulai melukiskan suatu keadaan atau situasi.

Generating circumstances yaitu peristiwa yang bersangkut-paut, yang berkait-kaitan mulai bergerak. Rising action yaitu keadaan mulai memuncak. Climax yaitu peristiwa-peristiwa mencapai klimaks. Denouement yaitu pengarang memberikan pemecahan sosial dari semua peristiwa (Tarigan, 2009, hlm. 156). Tahapan alur yang akan diteliti dalam novel Pulang karya Tere Liye yaitu tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap peningkatan konflik, tahap klimaks, dan tahap penyelesaian. Tahap penyituasian dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

“Ini anakku Tauke Muda,” Bapak menunjukku.

“Usianya lima belas. Namanya Bujang.”

“Ah, jadi ini anak laki-lakimu, Samad?” orang bermata sipit itu menatapku dari ujung kepala hingga kaki, “Tubuhnya gagah besar seperti bapaknya, sudah seperti pemuda dewasa. Matanya hitam tajam. Aku suka dia. Kelas berapa kau sekarang?” (Liye, 2015, hlm. 5).

Teks di atas penulis mulai menceritakan tokoh dalam novel yang dibuatnya. Dimulai dari bapak yang memanggil Bujang untuk memperkenalkan kepada Tauke Muda. Sehingga pembaca tahu bahwa ketua rombongan dari ibu kota itu bernama Tauke Muda sedangkan nama bapaknya Bujang adalah Samad. Dalam hal ini pembaca mulai mengenal nama tokoh dalam novel tersebut. Selanjutnya, tahap pemunculan konflik dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

“Aku tidak akan menghabiskan waktu menganalisis pengkhianatanmu, Basyir.”

Tangannya lantas teracung ke depan, ke Tauke Besar yang duduk bersandarkan bantal, “Orang tua itu, yang terbaring tidak berdaya di atas ranjang dan memegang pistol yang amunisinya habis, dialah yang membuatku menjadi yatim-piatu. Kenapa, Bujang? Seharusnya itu pertanyaanku kepadanya, bukan kepadaku, kenapa?

“Kenapa dia menyerang kelompok arab yang berpuluh tahun hidup damai mengurus pabrik tekstil hanya untuk memuaskan ide gilanya tentang menguasai seluruh kota provinsi? Keluargaku bukan bangsat atau bajingan, mereka hanya kebetulan tinggal di sana, berbaur di kampung Arab. Malam itu puluhan tukang pukul Keluarga Tong datang menyerang membabi-buta,

(7)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 55 menghancurkan apapun yang ada di sana. Rumah keluargaku terbakar, ayah

dan ibuku mati terpanggang. Mereka tidak berhasil menguasai kawasan itu pada serangan pertama, mereka dipukul mundur. Tapi akibatnya, orang- orang yang tidak bersalah menjadi korban. Aku menatap sendiri tubuh orang tuaku yang menjadi arang hitam, tidak sempat melarikan diri dari kebakaran (Liye, 2015, hlm. 287).

Teks di atas penulis mulai menampilkan peristiwa dengan memunculkan suatu masalah yang menyebabkan pemunculan konflik. Konflik ini muncul ketika Tauke Muda yang ingin menguasai seluruh kota provinsi dengan menyerang kelompok Arab. Walaupun serangannya tidak berhasil tetapi banyak nyawa yang hilang akibat penyerangan tersebut. Salah satunya adalah orang tua Basyir yang menyebabkan ia menjadi anak yatim piatu. Hidup di jalanan dan di pasar untuk bertahan hidup karena ia sudah tidak memiliki rumah. Rumah yang ia miliki terbakar bersama dengan kedua orang tuanya karena tidak sempat menyelamatkan diri. Hal ini lah yang membuat Basyir menjadi marah dan pengkhianat dalam keluarga Tong.

Pengkhianatan yang ia lakukan karena ingin membalas kematian kedua orang tuanya yang sudah sejak lama ia pendam. Selanjutnya, tahap peningkatan konflik dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

“Kau menginginkan pertarungan ini, bukan?” Basyir tersenyum kepadaku,

“Untuk membalas kekalahan di Amok?”

Aku mendesis.

“Kau tidak punya kesempatan menang melawanku, Bujang.” Basyir tertawa.

Aku menggenggam pedangku lebih erat. Menunggu kapanpun dia maju.

Di ujung tawanya, Basyir maju menyerang. Khanjarnya berkelebat menyambar dadaku. Aku bergerak mundur satu langkah, dan saat Khanjar itu mengenai udara kosong, aku balas menyabetkan pedang. Basyir berkelit ke samping (Liye, 2015, hlm. 293).

Teks di atas penulis menambahkan konflik yang semakin memanas sehingga menimbulkan perkelahian diantara tokoh. Perkelahian ini muncul karena konflik sebelumnya yang bertambah meningkat. Perkalahian itu terjadi ketika Bujang tidak mau menyerahkan Tauke Besar kepada Basyir. Perkelahian dimenangkan oleh Basyir. Bujang tidak mampu mengalahkan Basyir karena ia cukup kuat dan hebat. Ketika Bujang hendak di bunuh Basyir, Tauke Muda menembakkan pistol yang dipegangnya ke arah Basyir namun Basyir mampu menghindar dengan cepat. Lalu, Tauke menekan tombol lorong rahasia yang Basyir tidak tahu sebelumnya. Sehingga ia mampu melarikan diri dengan luka yang parah dan membuat Basyir marah karena tidak bisa membunuh mereka. Selanjutnya, tahap klimaks dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

“Kali ini aku tidak akan memberi ampun, Bujang.”

Basyir menyeringai, menghina, “Dan tidak ada ranjang ajaib yang bisa membawa kau kabur.”

Aku balas menghina, “Kau akan mulai menyerang atau akan terus bicara, Basyir?”

(8)

56 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

“Serang mereka!” Sebagai jawabannya, Basyir berteriak kencang (Liye, 2015, hlm. 378).

Teks di atas penulis menambahkan konflik sampai pada tahap klimaks. Pada cerita sebelumnya Bujang dan Tauke berhasil meloloskan diri dari serangan Basyir. Namun, Tauke Tidak bisa terselamatkan karena sakit yang dideritanya pada saat di perjalanan melarikan diri.

Sehingga membuat Bujang dan temannya yang masih setia kepadanya untuk merebut kembali kekuasaan yang di ambil oleh Basyir. Ia mengatur strategi untuk berperang melawan Basyir.

Sehingga terjadilah peperangan diantara kedua kelompok tersebut menjadi bertambah parah.

Banyak korban yang meninggal akibat peperangan itu. Awalnya Bujang dan pasukannya tidak mampu melawan Basyir. Sehingga ia teringat akan pesan yang disampaikan oleh guru Bushi pada saat ia belajar menjadi seorang ninja. Disaat itulah ia mampu menghilang dan mampu mengalahkan Basyir. Selanjutnya, tahap penyelesaian dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.

Dari lorong, White dan mantan marinir beserta pasukan berpistol Salonga telah tiba, mereka berhasil membersihkan lantai atas. Togar di bawah juga sudah memenangkan lobi gedung. Puluhan tukang pukul pembelot menyerah, mereka berlutut di lantai.

“Bawa Basyir keluar. Pergilah.” Aku berkata kepada anggota Brigade Tong,

“Aku akan menjamin kalian aman melintasi lobi bawah.”

Anggota Brigade Tong mengangguk. Dengan wajah takut-takut, mereka bergegas menggotong Basyir keluar dari ruangan, menuju pintu lift. Aku menghubungi Togar lewat alat komunikasi, memerintahkannya agar tidak ada satupun anak buahnya yang menyentuh rombongan Basyir. Togar hendak protes, tapi dia selalu tahu, kalimat seorang Tauke adalah perintah.

Togar berseru kepada anak-buahnya agar memberikan jalan.

“Tuan Muda Lin,” Aku menatap putra tertua Keluarga Lin, “Aku juga minta maaf atas kejadian di Grand Lisabon beberapa hari lalu. Aku tidak punya banyak pilihan saat itu. Seharusnya kita bisa menyelesaikan masalah prototype pemindai itu secara baik-baik.” (Liye, 2015, hlm. 393).

Teks di atas penulis menampilkan tahap penyelesaian konflik di antara kedua kelompok tersebut. Penyelesaian konflik ini terjadi ketika Basyir dan Tuan Lin kalah melawan kelompok Basyir. Walaupun ia kalah, Bujang tidak membunuh mereka tetapi meminta maaf kepadanya dan membiarkan mereka pergi. Selain itu, Bujang menggantikan posisi Tauke Besar yang telah meninggal. Ia menjadi pemimpin baru dalam keluarga Tong. Peperangan telah selesai, Bujang memberikan perintah kepada anak buahnya untuk merapikan semua kejadian ini. Setelah semua sudah selesai dan dirapikan, Bujang kembali pulang ke Talang untuk melihat makam kedua orang tuanya yang tidak pernah ia jenguk selama di kota. Bujang telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan meminta maaf kepada orang tuanya.

Begitulah penyelesaian cerita dalam novel ini.

Struktur Mikro

(9)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 57 Semantik merupakan makna yang terkandung dalam sebuah tulisan. Makna yang terkandung dalam sebuah teks bisa secara implisit atau eksplisit, tergantung pada penulis dalam menginterpretasikannya. Makna yang muncul dari suatu teks bisa melalui hubungan antarkalimat, hubungan antarproposisi yang membangun makna tertentu dalam bangunan teks. Analisis wacana yang terpenting yaitu arti yang ditunjukan oleh struktur teks. Dalam pembelajaran linguistik konvensional, arti kata dikaitkan dengan makna yang terdapat pada kamus, sedangkan pada analisis wacana, arti kata merupakan praktik yang ingin dibicarakan sebagai sebuah strategi (Sobur, 2012, hlm. 78). Elemen yang ada dalam semantik yaitu latar, detil, dan maksud.

Latar

Pada bagian semantik peneliti akan menganalisis latar yang ada pada novel Pulang karya Tere Liye.

Latar merupakan elemen yang bertujuan untuk membongkar maksud yang ingin disampaikan.

Latar juga akan mempengaruhi semantik (arti) yang ingin ditampilkan pengarang. Berikut kutipan latar yang terdapat dalam Novel Pulang karya Tere Liye.

Kampung kami ini sebenarnya tidaklah seperti desa yang kalian kenal. Kami manyebutnya Talang. Hanya ada dua atau tiga puluh rumah dari kayu, letaknya berjauhan dipisahkan kebun atau halaman. Jika hendak memanggil tetangga, kalian bisa membuka jendela lantas berteriak sekencang mungkin itulah kenapa intonasi orang pedalaman Sumatra terdengar kasar (Liye, 2015, hlm. 3).

Penulis menggambarkan latar sebuah desa di daerah Sumatera. Desa tersebut dikisahkan pengarang berbeda dengan desa pada umumnya. Penulis menyebutnya dengan desa Talang serta menjelaskan dengan rinci bagaimana bentuk dan letak suatu desa tersebut.

Detail

Detail merupakan strategi pengarang dalam mengekspresikan sikapnya dengan cara implisit. Detil tentu berhubungan dengan kontrol informasi yang ditampilkan oleh pengarang.

Pengarang biasanya akan menampilkan infomasi secara berlebihan yang akan menguntungkan dirinya, namun ia akan menampilkan informasi yang sedikit apabila merugikan dirinya.

Dalam novel Pulang karya Tere Liye, pengarang menampilkan sebuah informasi yang banyak menguntungkan dirinya. Proposisi yang menunjukkan hal tersebut sebagai berikut.

Aku hadir setengah jam sebelumnya, sudah siap. Manajernya memberikan syarat bahwa seluruh yang hadir tidak boleh mengambil gambar, video, ataupun menceritakan kejadian itu kepada siapapun, atau pertandingan akan dibatalkan. Aku menyetujuinya, juga para penonton. Hanya dengan aba-aba suara dari penontontanpa letusan pistol, malam itu aku mengalahkannya pada tiga kali kesempatan (Liye, 2015, hlm. 224).

Teks di atas termasuk dalam detil karena informasi yang menguntungkan penulis melalui tokoh utama bernama Bujang. Ketika itu Bujang sedang bertanding lari dengan seorang yang

(10)

58 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

memegang rekor dunia. Dalam hal ini sang tokoh utama menang dengan tiga kali perlombaan berturut-turut. Sehingga dalam pandangan pembaca menguntungkan bagi dirinya dan terkesan tokoh tersebut hebat.

Maksud

Elemen maksud akan melihat apakah teks yang dibuat oleh pengarang disampaikan secara implisit atau secara eksplisit. Dalam novel Pulang karya Tere Liye elemen maksud disampaikan secara ekplisit atau terbuka dan jelas. Berikut proposisi yang menunjukkan hal tersebut.

“Ketahui, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. Kau membenci suara adzan misalnya, benci sekali, mengingatkan pada masa lalu. Itu karena kau tidak pernah mau berdamai dengan kenangan tersebut. Adzan jelas adalah mekanisme Tuhan memanggil siapa pun agar pulang kepangkuan kepangkuan Tuhan, bersujud. Adzan tidak dirancang untuk mengganggu, suara berisik itu bukan untuk menyakiti siapapun. Itu justru suara panggilan dan harus kencang agar orang mendengarnya. Kau tidak pernah mau berdamai dengan hati sendiri, Nak, itulah yang membuatmu benci pada suara adzan, kau sendiri yang mendefinisikan demikian (Liye, 2015, hlm. 340).

Teks di atas termasuk dalam maksud yang disampaikan secara eksplisit. Peristiwa ini terjadi ketika tokoh yang bernama Bujang sangat tidak menyukai suara Adzan. Menurutnya suara tersebut hanya mengganggu ketenangan orang lain. Dengan adanya penjelasan tersebut tokoh yang bernama Bujang akhirnya sadar. Hal ini juga akan berpengaruh terhadap pembaca tentang Adzan yang selalu kita dengar setiap harinya, terutama bagi umat islam. Suara adzan begitu berarti untuk menunaikan ibadah shalat.

Sintaksis

Sintaksis merupakan ilmu bahasa yang mengkaji tentang seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Dalam hal ini pengarang akan menggunakan kalimat hingga menjadi satu kesatuan.

Koherensi

Koherensi digunakan untuk menghubungkan antarkalimat, biasanya dengan memakai kata: dan, atau, tetapi, namun, meskipun, karena, jika, dan sebagainya. Koherensi akan memberikan kesan kepada khalayak bagaimana dua fakta tersebut diabstrasikan dan dihubungkan.

Itu percakapan yang terlalu cepat. Bahkan sebelum aku menyadarinya, aku telah memperoleh tiket emas yang selama ini aku idamkan. Setengah jam kemudian, di dapur rumah panggung, mamak tampak tidak senang.

Wajahnya yang berkeringat karena sedang memasak gulai, nampak masam.

Tapi bapak meyakinkan kalau semua baik saja. Mereka bicara khusus tentang izin berburu untukku (Liye, 2015, hlm. 6).

Teks di atas termasuk dalam koherensi yang bermakna sebab akibat yaitu pada kata karena. Kata tersebut menghubungkan dua kalimat yaitu ketika Bujang ingin diajak berburu ke hutan bersama Tauke Muda sebagai sebab. Kemudian mamanya Bujang wajahnya tidak

(11)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 59 senang dan nampak masam merupakan akibat. Akibat ini terjadi karena Bujang tidak pernah ikut berburu sebelumnya dan merupakan anak satu-satunya.

Kata ganti

Kata ganti merupakan alat yang dipakai seorang pengarang dalam menunjukan posisi seseorang dalam suatu wacana.

“Mau minum apa?

“Aku tidak datang untuk minum atau makan. Bapak Calon Presiden.” (Liye, 2015, hlm. 28).

Teks di atas pengunaan kata ganti pertama tunggal yaitu pada kata aku. Kata ganti pertama tunggal merupakan kata ganti untuk menggantikan subjek dirinya sendiri, biasanya ditandai dengan kata saya, aku, hamba, dan beta. Kata yang digunakan dalam teks di atas yaitu kata aku. Kata ini digunakan pengarang untuk menggantikan tokoh yang bernama Bujang. Situasi ini ketika Bujang ingin bertemu dengan Bapak Calon Presiden untuk mengajaknya berbisnis tentang shadow economy.

Bentuk kalimat

Bentuk kalimat merupakan proposisi yang diatur dalam satu rangkain kalimat.

Maksudnya proposisi yang mana yang akan ditempatkan di awal atau di akhir kalimat. Selain itu, bentuk kalimat merupakan segi sintaksis yang berhubungan dengan berpikir yang logis.

Bentuk kalimat yang akan diteliti yaitu kalimat aktif dan kalimat pasif. Bentuk kalimat yang terdapat dalam novel Pulang karya Tere Liye sebagai berikut.

Aku berdiri di dekat anak tangga, mendengar percakapan. Beberapa warga kampung lain juga ikut menonton keramaian (Liye, 2015, hlm. 3).

Teks di atas penulis menggunakan kalimat aktif karena mengandung kata kerja bentuk aktif yaitu kata berdiri yang berperan sebagai sebuah predikat. Imbuhan ber pada kata berdiri menandakan bahwa subjeknya melakukan sebuah aktifitas atau tindakan. Verba ber pada kata berdiri diikuti pelengkap yaitu pada kalimat di dekat anak tangga yang memperjelas sebuah keadaan atau posisi subjek berada. Kalimat ini termasuk kalimat aktif intransitive yang berpola S-P-K karena tidak ada objek yang menerima tindakan dari subjek.

Stilistik

Stilistik merupakan gaya bahasa pengarang dalam menyatakan maksud melalui kata yang digunakan serta menyajikan sebuah cerita dalam bahasa yang lugas. Gaya bahasa mencakup diksi, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, dan mantra. Kajian stilistika merupakan sebuah pendekatan yang digunakan untuk menganalisis bahasa khas yang biasa digunakan seorang pengarang. Melalui kajian tersebut dapat terlihat gaya bahasa (style) pengarang.

Menurut Ratna (2016 dalam Herliati, 2018, hlm. 93) bahasa yang khas bukan berarti bahwa

(12)

60 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

bahasa sastra berbeda dengan bahasa sehari-hari dan bahasa yang dipergunakan dalam penulisan karya ilmiah.Ciri khasnya, yaitu pada proses pemilihan dan penyusunan kembali kata-kata tersebut.

“Curang!!” Seketika terdengar teriakan.

“Curang!!” Tukang pukul yang berdiri di lingkaran berseru-seru tidak terima (Liye, 2015, hlm. 82).

Teks di atas merupakan gaya bahasa anafora. Gaya bahasa anafora adalah kata atau kelompok kata pertama yang diulang. Pengarang menggunakan pengulangan kelompok kata pertama sebanyak dua kali yaitu pada kata curang. Pengulangan ini membuat kata yang terdapat di dalamnya terkesan memiliki keterkaitan satu sama lain. Selain itu, bentuk pengulangan kata ini membuat pembaca lebih merasakan apa yang dilakukan seorang tokoh.

Retoris

Retoris merupakan gaya yang diungkapkan pengarang dalam sebuah karyanya. Gaya tersebut berupa intonasi dan penekanan. Retoris terbagi menjadi beberapa elemen yaitu grafis, metafora, dan ekspresi.

Grafis

Grafis digunakan untuk memeriksa bagian mana yang akan ditonjolkan atau ditekankan oleh seseorang yang diamati melalui teks. Grafis biasanya digunakan dalam pemakaian huruf tebal, huruf miring, pemakaian garis bawah, ataupun ukuran huruf yang dibuat lebih besar.

Aku mendengarkan seluruh cerita Frans si Amerika. Frans bukan anggota keluarga Tong, dia hanya datang saat diperlukan. Dia dekat dengan Tauke Besar, karena Tauke pernah menyelesaikan urusannya di ibu kota. Aku tidak tahu detailnya, tapi itu pasti berurusan dengan dunia hitam. Toh, dikeluarga Tong, ada nasihat yang penting dihafal anggotanya. Semua orang punya masa lalu, dan itu bukan urusan siapapun. Urus saja masa lalu masing-masing (Liye, 2015, hlm. 101).

Teks di atas termasuk dalam grafis karena ada kalimat yang dicetak miring. Dalam hal ini penulis mencoba menekankan bahwa di dalam kehidupan seseorang pasti mengalami sebuah masa lalu. Masa lalu pada setiap manusia berbeda-beda tergantung bagaimana orang tersebut mengalaminya. Begitupun yang diceritakan dalam novel Pulang karya Tere Liye yaitu ketika seorang tokoh yang bernama Frans bercerita kepada Bujang tentang masa lalunya yang mengalami kesulitan dan perlu pertolongan. Kemudian datanglah tokoh lain yang membantu Frans yang bernama Tauke Besar. Tauke Besar pun berhasil menolongnya pada waktu itu.

Tokoh Bujangpun dapat menyimpulkan dari cerita Frans tersebut. Dari sinilah terlihat bahwa penulis ingin menekankan tulisannya melalui kalimat yang dicetak miring.

Metafora

Metafora digunakan untuk memperjelas pesan utama, biasanya menggunakan kepercayaan masyarakat, ungkapan sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata

(13)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 61 kuno, dan nasehat agama. Hal ini dilakukan pengarang agar para pembaca lebih bisa mengingat dan memahami isi pesan yang disampaikan. Subroto (dalam Meyridah, 2015, hlm.

95) menguraikan tiga fungsi atau kegunaan metafora yang meliputi 1) mengatasi kekurangan atau keterbatasan leksikon, 2) mengekspresikan tuturan, dan 3) menghindari atau mengurangi ketunggalan (monotonitas).

Guru Bushi selalu bilang, “ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka lebih dulu, maka mereka kan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang (Liye, 2015, hlm. 153).

Teks di atas digunakan penulis untuk memperjelas pesan yang ingin disampaikan melalui tokohnya. Dari kutipan tersebut pembaca juga dapat mengambil pesan yang ingin disampaikan penulis melalui ceritanya yaitu ketika kita sedang berperang tidak ada kata ampun untuk membunuh siapa saja yang menjadi lawan kita pada saat berperang. Apabila kita ragu untuk membunuhnya maka kita yang akan di bunuh. Kemudian pada kalimat jangan ragu walau sehelai benang merupakan peribahasa agar pembaca lebih mudah mengingat pesan yang ditulis pengarang.

Ekspresi

Ekspresi bertujuan untuk membantu menonjolkan atau menghilangkan bagian tertentu dari suatu teks yang disampaikan. Dalam teks tertulis, ekspresi ini muncul dalam bentuk gambar atau foto maupun grafis.

“Apakah kita harus membayar mereka, Samad?” Tetua kampung bertanya cemas.

Bapak menggeleng dalam pertempuran sebulan yang lalu, “Tidak sepeserpun Bang. Mereka memang suka berburu babi (Liye, 2015, hlm. 4).

Teks di atas merupakan suatu ekspresi yang dilakukan oleh tetua kampung Talang.

Ekspresi ini terlihat melalui teks yang ditulis pengarang yaitu “tetua kampung bertanya cemas”. Ia bertanya cemas karena ia takut jika harus membayar pemburu babi dari kota.

Namun setelah pertanyaan itu terjawab ia pun merasa gembira karena tidak harus membayar mereka.

Kognisi Sosial

Kognisi sosial merupakan dimensi untuk menjelaskan bagaimana suatu teks diproduksi oleh pengarang. Analisis kognisi sosial menekankan bagaimana peristiwa dipahami, didefenisikan, dianalisis, dan ditafsirkan yang ditampilkan dalam suatu memori. Kognisi sosial terbagi menjadi beberapa elemen yaitu pengetahuan, opini dan sikap serta ideologi.

“Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang-orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat- obatan, narkoba, atau prostitusi, judi, dan sebagainya. Itu adalah masa lalu

(14)

62 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

shadow economy, ketika mereka hanya menjadi kecoa haram dan menjijikan dalam setiap ekonomi dunia. Hari ini kita bicara tentang pencurian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutahir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap.

Kami tidak dikenali oleh masyarakat, tidak terdaftar dipemerintah, dan jelas tidak liput media massa, seperti yang anda nikmati setiap hari. Bukankan kemanapun, wartawan berbondong-bondong memotret anda? Kami tidak.

Kami berdiri dibalik bayangan. Menatap semua sandiwara kehidupan orang- orang (Liye, 2015, hlm. 30).

Teks di atas termasuk dalam pengetahuan yang disampaikan oleh Bujang kepada calon presiden. Bujang menjelaskan tentang shadow economy yang ia ketahui sistem kerjanya.

Bujang faham tentang shadow economy karena ia pernah peneliti tentang itu dan sedang menjalankan bisnis itu. Ia mengatakan bahwa shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di dunia hitam. shadow economy yang sekarang sudah berbeda dengan shadow economy yang dulu pernah ada. Bujang menyatakan pengetahuan berdasarkan bukti-bukti yang ada dan berdasarkan fakta.

Opini dan sikap

Teks juga memiliki sejumlah opini pribadi. Meskipun demikian, pendapat pribadi ini ketika diperlihatkan lebih jauh tetap didasarkan pada proposisi opini umum. Opini dalam mental peribadi dapat dibentuk pada dasar sikap kelompok yang dibagi bersama. Pendapat pribadi dan wacana, kurang atau lebih mengacu pada sikap kelompok dan koheren antara satu sama lain. Representasi politik yang terstruktur dan luas memudahkan pemahaman pengaruh politik (politisi, persoalan politik, cerita politik di media, dan sebagainya.

“Jika dia adalah jagal dunia hitam, maka tidak pelak lagi, dia adalah jagal nomor satu. Jenius, kuat dan tidak mengenal rasa takut. Semua ucapannya adalah kebenaran. Itulah kenapa, aku sungguh minta maaf, terpaksa membatalkan kampanye di kota lain. Pertemuan ini sangat penting. Aku tidak bisa menolak saat mereka memintanya, atau kita berisiko menghadapi sesuatu yang berbahaya.” (Liye, 2015, hlm. 36).

Teks di atas merupakan pendapat yang disampaikan oleh penasihat calon presiden kepada calon presiden. Pendapat ini disampaikan berdasarkan skemata. Ia berpendapat bahwa apa yang disampaikan oleh Bujang itu memang benar dan tidak ada gurauan. Kalimat ini disampaikan sebelumnya oleh penasihat calon presiden. Pendapat ini selanjutnya diperkuat bahwa jika Bujang berasal dunia hitam, maka tidak heran ia akan menjadi seorang jagal nomor satu yang jenius, kuat dan tidak mempunyai rasa takut. Ia berpendapat demikian berdasarkan pengalaman yang ia lihat ketika kuliah di Amerika dan satu kampus dengan Bujang. Bujang seorang anak yang pintar karena mampu menyelesaikan dua master sekaligus dengan waktu yang singkat. Ia juga mampu mengalahkan seorang atlet lari rekor dunia seperti

(15)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 63 anak kecil. Sehingga penasehat calon presiden itu mengambil sikap untuk membatalkan kampanye presiden karena pertemuan ini sangat penting.

Ideologi

Ideologi yang digunakan dalam novel Pulang karya Tere Liye yaitu ideologi kapitalisme.

Ideologi kapitalisme yaitu suatu paham yang memiliki modal yang dimiliki oleh pihak swasta sehingga negara tidak memiliki kekuasaan atas sistem ekonomi dan pemerintah berperan hanya sebagai pengawas saja. Para pemilik modal atau pengusaha mempunyai tujuan yaitu ingin mencari keuntungan yang besar sehingga untuk mencapai hal tersebut pemerintah tidak boleh ikut campur dalam usaha mereka.

“Kami bukan mafia, triad, yakuza, atau apapun yang pernah anda lihat di film, televisi, atau buku-buku. Menyamakan kami dengan mereka, sama saja dengan menyamakan kami dengan preman pasar. Organisasi kami lebih besar, lebih rapi. Bahkan dalam teritorial tertentu, di negara-negara tertentu, organisasi shadow economy bahkan lebih besar dan lebih berpengaruh dibanding pemerintahannya. Bedanya, mereka tidak mencolok, tidak tampak.” (Liye, 2015, hlm. 32).

Teks di atas pengarang menggunakan ideologi kapitalisme. Ideologi kapitalisme yaitu suatu paham yang memiliki modal oleh pihak swasta sehingga negara tidak memiliki kekuasaan atas sistem ekonomi dan pemerintah berperan hanya sebagai pengawas saja.

Sehingga, pemerintahan cenderung lemah dan terkesan tidak ada. Pengarang melalui tokoh yang bernama Bujang ketika itu sedang menjelaskan tentang shadow economy kepada calon presiden. Ia menceritakan tentang organisasi shadow economy yang saat ini. organisasi shadow economy bukanlah seperti mafia, triad, atau yakuza yang ada di telivisi tetapi lebih dari itu. Ia juga menceritakan dalam sebuah teritorial negara tertentu bahwa shadow economy lebih besar dan berpengaruh dibandingkan pemerintahan. Dilihat dari tokoh menjelaskan hal tersebut pengarang menggunakan ideologi kapitalisme karena kekuasaan lebih penting dari pemerintahan.

Dimensi sosial Kekuasaan

Kekuasaan pada umumnya didasarkan pada kepemilikan atas sumber-sumber yang bernilai seperti uang, status dan pengetahuan.

“Kau harus sekolah, Bujang.” Tauke menatapku marah, wajahnya tidak suka.

Aku menggeleng.

“Kau harus sekolah, BUJANG!!” Tauke membentakku.

Niatku sudah kokoh. Aku tidak datang sejauh ini ke kota besar hanya untuk sekolah. Aku tidak membunuh babi raksasa itu hanya untuk kemudian disuruh belajar (Liye, 2015, hlm. 54).

(16)

64 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

Teks di atas termasuk dalam kekuasaan paksaan. Kekuasaan paksaan merupakan suatu kekuasaan yang cenderung melakukannya dengan cara ancaman atau memaksa pelaku agar mengikuti keinginannya. Teks di atas termasuk dalam kekuasaan paksaan karena sang tokoh yang bernama Bujang dipaksa oleh Tauke Besar untuk bersekolah, namun ia tak mau bersekolah. Bujang hanya ingin menjadi tukang pukul yang hebat dalam keluarga Tong bukan menjadi seorang pelajar. Kekuasaan paksaan terlihat pada kalimat “Kau harus sekolah, Bujang” dengan ekspresi marah dan membentak Bujang tapi Bujang tetap saja tidak mau untuk sekolah.

Akses

Akses yang besar bukan hanya memberi kesempatan untuk mengontrol kesadaran, tetapi juga menentukan topik dan isi wacana. Dalam novel pulang karya tere liye akses dilakukan oleh seorang pemimpin yang bernama Tauke Besar. Akses ini akan mempengaruhi wacana khalayak dan mempunyai perencanaan yang akan ia tuju. Berikut kutipan mengenai hal tersebut.

“Kau urus surat menyurat bagaimana mendirikan bank, Mansur. Jika kau tidak tahu, cari profesional terbaik diseluruh dunia, hubungi Frans si Amerika. Juga tempatnya, cari gedung di lokasi paling strategis. Beli. Jika mereka tidak mau menjualnya, minta Kopong dan Basyir untuk mengurusnya. Satu bulan dari sekarang, aku ingin bank pertama Keluarga Tong telah berdiri di jalan protokol. Gunakan nama orang lain sebagai pemilik bank itu. Kita akan meresmikannya secara besar-besaran dan mengundang pejabat penting.

Pastikan menjadi headline koran nasional agar masyarakat luas percaya dan mau menabung di bank kita. Aku ingin setahun kemudian, bank itu sudah menjadi bank besar di negeri ini. Kau catat, Mansur!” (Liye, 2015, hlm. 169).

Teks di atas termasuk akses yang mempengaruhi wacana, dimana seorang pemimpin lebih berkuasa dibandingkan bawahannya serta kelompok elit akan berkuasa dibandingkan masyarakat biasa. Hal ini terlihat ketika Tauke Besar memberikan perintah kepada Mansur untuk mendirikan bank pribadi. Pertama mengenai lokasi yang strategis, ia memerintahkan agar segera dibeli, jika pemilik tanah tidak mau menjualnya maka hubungi Kopong dan Basyir untuk mengurusnya. Kopong dan Basyir merupakan tukang pukul di keluarga Tong tentu jika pemilik tanah tidak mau menjualnya maka akan berhadapan dengan mereka.

Sehingga kekuasaan dan kelompok elit terlihat dibandingkan dengan kelompok yang tidak elit. Kedua akses yang dilakukan Tauke Besar yaitu ia memerintah Mansur agar dalam waktu satu bulan bank sudah berdiri di jalan protokol dan diresmikan dengan mengundang pejabat penting. Akses ini merupakan akses kerjasama seorang pemimpin terhadap pejabat penting dan wartawan agar bank ia dirikan menjadi topik nasional sehingga mempengaruhi khalayak untuk percaya dan menabung di bank mereka. Selain itu, akses perencanaan juga digunakan oleh seorang Tauke Besar yaitu ia ingin satu tahun kedepan bank yang ia dirikan menjadi bank yang besar di negeri ini. Dapat disimpulkan bahwa akses mempengaruhi wacana terutama mempengaruhi khalayak agar mereka mengikuti yang disampaikan oleh kelompok

(17)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 65 elit. Sehingga kelompok elit atau kekuasaan tertinggi akan berhasil dalam menggapai keinginannya.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

Struktur teks dalam novel Pulang karya Tere Liye terdiri dari tiga bagian yaitu struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro. Pada struktur makro penulis mengangkat tema penghianatan. Penghianatan itu dilakukan oleh tokoh bernama Basyir kepada keluarga Tong.

Penghianatan itu terlihat dari cerita dan alur yang disampaikan penulis yaitu ketika tokoh bernama Basyir membunuh pimpinan keluarga Tong dan ingin menguasai kekayaan dan bisnis keluarga Tong. Pada superstruktur, terdapat beberapa tahapan yakni tahap penyituasian, tahap pemunculan konflik, tahap peningkatan konflik, tahap klimaks, dan tahap penyelesaian.

Tahap penyituasian, pengarang memperkenalkan situasi latar dan karakter berbicara orang Sumatera serta para tokoh. tahap pemunculan konflik, pemunculan konflik ini terjadi ketika Tauke Muda ingin menguasai seluruh kota provinsi dengan menyerang kelompok Arab.

Dalam kelompok Arab tersebut terdapat orang tua dari tokoh lain yang bernama Basyir.

Dalam penyerangan tersebut orang tua Basyir meninggal karena terbakar. Tahap peningkatan konflik, konflik ini bertambah meningkat ketika Basyir ingin membunuh Tauke dan Bujang namun tidak berhasil. Basyir tambah marah lagi ketika mereka mampu meloloskan diri dari perkelahian. Tahap klimaks, terjadi peperangan diantara dua kelompok yang berbeda yaitu kelompok Basyir dan Bujang. Pertempuran tersebut memakan banyak korban hingga salah satu diantara mereka kalah. Pada pertempuran tersebut Basyir kalah dan diminta untuk meninggalkan keluarga Tong. Tahap penyelesaian, pertempuran itu berakhir dengan kalahnya pasukan keluarga Lin dan Basyir. Mereka pun dibiarkan untuk pergi ketempat asalnya masing-masing. Bujang pun menjadi pemimpin keluarga Tong yang baru dan ia kembali pulang ke kampung halamannya di desa Talang.

Pada struktur mikro ada beberapa elemen di dalamnya yaitu semantik, sintaksis, stilistik dan retoris. Elemen semantik terbagi beberapa bagian yaitu latar, detil dan maksud. Latar yang digunakan dalam novel ini yaitu di Sumatera, Hutan Rimba Sumatera, Hongkong, Bandara Tokyo, Pelabuhan Ibu Kota. Pada detil pengarang lebih menguntungkan dirinya melalui tokoh bernama Bujang. Akan tetapi ada juga yang merugikan dirinya ketika sang tokoh berlatih menembak karena selalu dimaki dengan kata bodoh. Sedangkan pada maksud, penulis menyampaikan secara eksplisit dan jelas sehingga pembaca mengerti dan mudah memahami cerita dalam novel. Pada sintaksis, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu koherensi, kata ganti, bentuk kalimat. Pada koherensi yang bermakna sebab akibat terdapat pada novel ini yaitu pada kata karena, koherensi yang bermakna penekanan yaitu pada kata memang.koherensi yang bermakna lokasi atau waktu yaitu pada kata Sumatera dan tahun ini.

Koherensi yang bermakna penambahan yaitu pada kata dan. Koherensi yang bermakna penyimpulan yaitu pada kata jadi. Koherensi yang bermakna pertentangan yaitu pada kata tapi. Selanjutnya kata ganti yang digunakan dalam novel ini yaitu kata ganti pertama tunggal (aku), kata ganti pertama jamak (kami dan kita), kata ganti kedua tunggal (anda, kau, dan mu), Kata ganti kedua jamak (kalian), kata ganti ketiga tunggal (ia dan dia), kata ganti ketiga jamak (mereka). Bentuk kalimat yang digunakan penulis yaitu kalimat aktif dan pasif. Stilistik atau gaya bahasa yang digunakan dalam novel pulang karya Tere Liye yaitu gaya bahasa anafora, epanalepsis, asonansi, simile, pleonasme, koreksio, aptronim, antitesis, sarkasme, alonim, erotesis, dan gaya bahasa asidenton. Retoris terbagi menjadi beberapa bagian yaitu grafis, metafora, dan ekspresi. Pada grafis, penulis menggunakan penekanan dengan kata atau kalimat yang dicetak miring sehingga pembaca melihat penekanan tersebut. Pada metafora

(18)

66 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

yang digunakan penulis yaitu ungkapan sehari–hari, peribahasa, dan pepatah. Selanjutnya pada bagian ekspresi yang digunakan penulis yaitu ekspresi sedih dan bahagia.

Pada kognisi sosial terbagi menjadi beberapa bagian pengetahuan, opini dan sikap serta ideologi. Pada tahap pengetahuan, penulis melalui sang tokoh menyampaikan pengetahuan yang ia miliki seperti pengetahuan tentang hutan rimba, shadow economy, suku bedouin, amok, texas, kakeknya Bujang, dan pertempuran. Pada opini dan sikap yang terdapat dalam novel ini diantaranya tentang kepribadian sang tokoh utama (Bujang). Pada ideologi, penulis menggunakan ideologi kapitalisme dimana kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga Tong lebih tinggi dibandingkan pemerintahan, sehingga pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya sebagai pengawas kegiatan mereka.

Pada dimensi sosial yang diteliti yaitu kekuasaan dan akses. Kekuasaan terbagi menjadi beberapa jenis yaitu kekuasaan paksaan, kekuasaan sah, kekuasaan ganjaran, kekuasaan keahlian, dan kekuasaan acuan. Pada jenis kekuasaan paksaan yaitu ketika Bujang dipaksa untuk sekolah namun ia tidak mau, selanjutnya ketika ia dipaksa untuk menembak Salonga.

Pada kekuasaan sah, pemimpin mempunyai peran yang tinggi terhadap bawahannya, sehingga apa yang dikatakan atau diperintah pemimpin diikuti oleh bawahannya. Dalam novel ini kekuasaan sah dilakukan oleh Tauke Muda sebagai pemimpin keluarga Tong kepada anak buahnya, kemudian Master Dragon sebagai pemimpin seluruh shadow economy di Asia. Pada kekuasaan ganjaran, Bujang memberikan ganjaran berupa hadiah apabila mampu menyelesaikan misi yang dilakukan yaitu ketika Bujang ingin merebut kembali patung naga emas milik keluarganya dan memberikan hadiah kepada Yuki dan Kiko apabila misi ini berhasil dengan memberikan lima batang emas. Pada kekuasaan kepakaran dilakukan oleh Bujang yang mempunyai keahlian di bidang ekonomi dan bisnis yaitu ketika Bujang mengatakan kepada anggota rapat yang hadir untuk mendirikan bank sendiri jika pihak bank tidak ingin meminjamkan kepada keluarga Tong. Selain itu, kepakaran juga dilakukan oleh Salonga yang ahli dalam menembak dan guru Busyi yang ahli dalam memainkan katana dan jurus ninja. Pada kekuasaan acuan yang terdapat dalam novel ini yaitu bernama Samad, karena ia merupakan tokoh yang pemberani dan selalu memberikan semangat kepada anak buahnya ketika berperang. Pada elemen akses yang terdapat dalam novel Pulang karya Tere Liye yaitu mengenai kekuasaan yang dilakukan oleh pemimpin dikeluarga Tong bernama Tauke Besar. Sebagai pemimpin jelas akses ini akan mempengaruhi bawahannya serta khalayak orang banyak terutama mengenai ekonomi seperti mendirikan suatu bank. Sehingga akan mempengaruhi khalayak orang banyak untuk menabung di bank mereka.

DAFTAR RUJUKAN

Agustina, L. (2017). Pemikiran Presiden Joko Widodo Dalam Pidato Sambutan . Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 81.

Astuti, H. Y. (2020). Analisis Wacana Kritis Pada Pidato Politik Mantan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 171.

Darma, Y. (2013). Analisis Wacana Kritis. Bandung: Yrama Widya.

Eriyanto. (2009). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKis Printing Cemerlang.

(19)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 67 Herliati, S. (2018). Kajian Stilistika Dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata. Jurnal

Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 93.

Humaidi, A. (2016). Struktur Teks, Kognisi Sosial, Dan Dimensi Sosial Pidato Susilo Bambang Yudhoyono. Jurnal Bahasa, Sastra Dan Pembelajarannya, 118.

Liye, T. (2015). Pulang. Jakarta: Republika.

Meyridah. (2015). Pemakaian Metafora Dalam Judul-Judul Berita Di Media Massa Cetak Kalimantan Selatan. Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya, 95.

Sobur, A. (2012). Analisis Teks Media: suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis simioti, dan analisis framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2008). Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfbeta.

Tarigan, H. G. (2009). Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari perancangan game ini yaitu merancang media game edukasi yang komunikatif dan menarik untuk pengenalan huruf pada anak usia dini (1-5 tahun) sehingga anak

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dihasilkan, dapat disimpulkan bahwa dissenting opinion dalam pemeriksaan peninjauan kembali perkara pidana pelanggaran merek

Kondisi yang dapat dideteksi dan diklasifikasikan menggunakan metode Transformasi Wavelet dan Klasifikasi Naive Bayes adalah kondisi normal dan kondisi gangguan hubung singkat

Sebaliknya, bila Bioenergi yang diterima oleh Resipien mengandung instruksi-instruksi yang tidak sesuai dengan sistem tubuh dan kebutuhannya, maka sel sel dan

pengelolaan sampah pekerja dan limbah padat konstruksi, serta memberikan peringatan, teguran, dan sanksi yang tegas terhadap Kontraktor Pelaksana yang tidak

Sebelum melakukan analisis kerusakan, dilakukan studi literatur dengan mempelajari dokumen terkait, kemudian dilakukan pemeriksaan dan pengecekan pada sub sistem seksi 100 PCP

Jika mata terkena cairan metanol atau uap metanol dengan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi, mata berair, dan terbakar

Dengan berdasarkan pada teori atau konsep tentang profesionalisme yang diuraikan dalam telaah pustaka, maka kepada informan pegawai kantor Camat Malalayang diajukan