commit to user V-1
BAB V
ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL
Bab ini menjelaskan tentang analisis dan interpretasi hasil penghitungan dan pengolahan data yang telah dilakukan pada bab IV. Analisis dan interpretasi hasil yang diuraikan pada bab ini adalah analisis penetapan variabel penelitian, analisis korelasi model trust in a brand dan loyalitas merek dan analisis hasil regresi .
5.1 Analisis Penetapan Variabel Penelitian
Penetapan variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung nilai standar deviasi variabel, nilai factor loading variabel, dan nilai koefisien cronbach’s alpha variabel. Tiap variabel harus memenuhi atau melampaui nilai standar yang sudah ditentukan agar tidak dieliminasi.
Nilai standar deviasi variabel menunjukkan sebaran atau variabilitas dari tanggapan atau respons terhadap variabel tertentu. Bila nilai standar deviasi relatif kecil, artinya tanggapan responden terhadap variabel tertentu mengelompok di seputar nilai rata-rata dengan penyimpangan yang kecil. Sebaliknya, nilai standar deviasi yang relatif besar menunjukkan sebaran atau variabilitas yang tinggi.
Nunnally (1978) dalam Lau dan Lee (1999) menyatakan bahwa nilai kritis dari standar deviasi terkecil harus berada di atas 0,5.
Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa seluruh variabel mempunyai nilai standar deviasi di atas nilai kritis dengan variabel company integrity memiliki standar deviasi terkecil yaitu 0,96, dan variabel brand experience memiliki standar deviasi terbesar yaitu 1,69. Seluruh variabel yang ada dapat diterima dan dapat digunakan untuk pengolahan data selanjutnya. Secara keseluruhan, respons pada pertanyaan dalam suatu skala menunjukkan variabilitas/sebaran yang tinggi dan tidak menunjukkan adanya penumpukan atau pengelompokan data. Hal ini menandakan bahwa pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner sudah baik dan responden memahami maksud pertanyaan yang diberikan. Dengan demikian, produsen mesin cetak dapat menggunakan atribut- atribut ini untuk mengukur variabel-variabel model trust in a brand.
commit to user V-2
Nilai factor loading variabel menunjukkan kedekatan variabel tersebut dengan salah satu faktor yang terbentuk. Nunnally (1978) dalam Lau dan Lee (1999) menyatakan bahwa factor loading minimal 0,3 digunakan untuk menentukan apakah suatu variabel adalah bagian dari suatu faktor. Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa nilai terbesar factor loading tiap variabel berada di atas nilai 0,3. Selanjutnya, tiap variabel dibagi ke dalam faktor berdasarkan nilai factor loading yang terbesar. Semakin besar nilai factor loading suatu variabel menunjukkan hubungan yang semakin besar pula terhadap suatu faktor.
Berdasarkan tabel 4.4, dapat diketahui bahwa variabel-variabel bebas terbagi ke dalam tiga faktor. Faktor satu terdiri dari sepuluh variabel, faktor dua terdiri dari dua variabel, dan faktor tiga hanya memiliki satu variabel.
Hal ini menandakan bahwa alat ukur ini sudah sesuai untuk mengukur konsep yang dimaksudkan, sehingga tidak perlu ada pengeliminasian variabel dalam tahap ini. Produsen mesin cetak selanjutnya dapat menggunakan alat ukur ini untuk mengukur loyalitas konsumennya. Produsen dapat memfokuskan strategi pengembangan nilai merek pada faktor satu karena faktor satu memuat lebih banyak variabel dibandingkan dengan faktor dua dan tiga.
Walaupun uji validitas menunjukkan bahwa alat ukur sudah mengukur konsep yang dimaksudkan, namun tidak menutup kemungkinan alat ukur tersebut akan berfungsi sama jika di lakukan pada tempat, waktu atau keadaan yang berbeda. Nilai koefisen cronbach’s alpha akan menunjukkan konsistensi dari alat ukur yang digunakan dalam suatu penelitian. Jika suatu instrumen ukur dipakai dua kali untuk mengukur konsep yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka instrumen ukur tersebut diangap reliabel. Berdasarkan tabel 4.5, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa variabel yang memiliki nilai koefisien di bawah ambang batas. Variabel dengan nilai koefisien yang rendah dapat dieliminasi karena hanya akan menimbulkan bias jika digunakan pada pengukuran berikutnya. Variabel-variabel tersebut adalah company reputation, perceived motives of company dan peer support.
Ketidakstabilan dapat terjadi karena responden memberikan respons yang berbeda untuk tiap atribut dalam suatu variabel, walaupun atribut-atribut tersebut secara beban mengukur konsep yang sama (Sekaran, 2006). Variabel-variabel
commit to user V-3
yang tidak lolos uji reliabilitas menunjukkan gejala tersebut. Terhadap variabel- variabel tersebut, responden memberikan nilai-nilai yang tidak konsisten pada tiap pertanyaan dalam suatu variabel walaupun pertanyaan-pertanyaan tersebut digunakan untuk mengukur konsep yang sama.
5.2 Analisis Korelasi Model Trust in a Brand dan Loyalitas Merek
Analisis korelasi pada penelitian ini dilakukan dengan menghitung besarnya nilai koefisien korelasi product moment pearson antar variabel. Nilai koefisien korelasi ini menunjukkan derajat hubungan linier antara satu variabel dengan variabel lain. Nilai koefisien yang semakin mendekati angka 1 menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara variabel-variabel tersebut, sebaliknya nilai keofisien yang mendekati angka 0 menunjukkan hubungan yang sangat lemah antara variabel-variabel tersebut.
Berdasarkan tabel 4.7, dapat diketahui bahwa sebagian besar variabel memiliki nilai koefisien korelasi yang relatif besar mendekati nilai 1, namun terdapat beberapa variabel yang memiliki nilai koefisien korelasi yang mendekati nilai 0. Variabel dengan nilai korelasi tertinggi variabel brand reputation dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,627, sedangkan variabel dengan nilai korelasi terendah adalah variabel similarity between consumer’s self concept and brand personality dengan nilai koefisien korelasi sebsar 0,027. Produsen mesin cetak harus memberikan perhatian lebih terhadap variabel model trust in a brand yang memiliki nilai koefisien korelasi mendekati angka 1, karena variabel tersebut memiliki kemungkinan lebih besar dalam mempengaruhi konsumen dalam menggunakan mesin cetak.
Nilai koefisien korelasi ini selanjutnya digunakan dalam uji t untuk pembuktian hipotesis. Dengan pembuktian hipotesis ini, tiap produsen mesin cetak dapat mengetahui variabel mana saja yang mempunyai hubungan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek. Masing-masing produsen mesin cetak dapat lebih mudah mengetahui faktor-faktor apa saja yang perlu diperhatikan dalam menjaga dan meningkatkan nilai merek di mata konsumen.
commit to user V-4
Berdasarkan tabel 4.8, dapat diketahui bahwa sebagian besar hipotesis diterima. Variabel-variabel tersebut adalah brand reputation, brand predictability, brand competence, trust in the company, company integrity, brand liking dan brand satisfaction. Variabel-variabel tersebut diketahui memiliki hubungan dengan variabel kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Variabel kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak juga diketahui memiliki hubungan dengan loyalitas konsumen terhadap merek mesin cetak. Hal ini harus menjadi perhatian penting bagi para produsen mesin cetak, karena para produsen mesin cetak tentu tidak ingin kehilangan konsumen loyalnya. Produsen mesin cetak harus memberikan lebih banyak perhatian terhadap variabel-variabel yang diketahui secara hipotesis memiliki hubungan dengan loyalitas merek.
Variabel-variabel yang secara hipotesis tidak memiliki hubungan dengan kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak adalah similarity between consumer’s self concept and brand personality, difference between consumer’s self concept and brand personality dan brand experience. Penolakan hipotesis terhadap variabel-variabel ini disebabkan karena tidak adanya hubungan yang cukup kuat antara variabel-variabel tersebut dengan kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak.
5.3 Analisis Hasil Regresi Linier Berganda
Pengolahan regresi dalam penelitian ini dilakukan dengan menghitung besarnya nilai koefisien regresi dan koefisien beta (koefisien regresi yang sudah distandarisasi). Koefisien regresi digunakan untuk membentuk persamaan model regresi. Sedangkan koefisien beta digunakan untuk membandingkan kekuatan variabel bebas dengan level signifikansi.
Berdasarkan tabel 4.10, dapat diketahui bahwa sebagian besar variabel memiliki nilai koefisien regresi yang tinggi mendekati nilai 1, namun sebagian lagi memiliki nilai koefisien regresi yang rendah. Berdasarkan tabel 4.10, dapat diketahui persamaan model regresi untuk penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
Y = 0,836 + 0,196X1 + 0,181X2 – 0,147X3 + 0,022X4 + 0,057X5
+ 0,125X6 + 0,410X7
commit to user V-5
Nilai konstanta yang bernilai positif (0,836) menunjukkan kecenderungan bahwa apabila produsen mesin cetak tidak melakukan usaha apapun terhadap variabel model trust in a brand, kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak akan berada pada level 1,68. Nilai ini didapatkan dari nilai konstanta (0,836) ditambah semua nilai koefisien dengan nilai X1 sampai dengan X7 bernilai 1. Nilai 1 digunakan karena merupakan nilai skala likert minimal yang digunakan dalam menjawab kuesioner. Jika produsen melakukan usaha yang maksimal terhadap variabel model trust in a brand, maka kepercayaan konsumen terhadap merek akan berada pada level 6,744. Nilai ini didapatkan dari nilai konstanta ditambah semua nilai koefisien dengan nilai X1 sampai dengan X7 bernilai 7. Nilai 7 digunakan karena merupakan nilai skala likert maksimal yang digunakan dalam menjawab kuesioner. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa nilai Y berada pada nilai minimal 1,68 sampai dengan nilai maksimal 6,744.
Koefisien regresi untuk variabel brand reputation (X1) yang bernilai positif (0,196) menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara reputasi merek terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Jika reputasi suatu merek naik sebesar 1 satuan, maka kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak akan naik sebesar 0,196. Semakin baik persepsi konsumen terhadap reputasi suatu merek mesin cetak, maka kepercayaan dan loyalitas konsumen terhadap merek mesin cetak tersebut juga akan semakin kuat. Hal yang sama juga berlaku terhadap variabel-variabel yang lain seperti variabel brand predictability (X2), brand competence (X3), trust in the company (X4), company integrity (X5), brand liking (X6) dan brand satisfaction (X7).
Berdasarkan tabel 4.10, diketahui bahwa terdapat satu variabel yang memiliki koefisien regresi bernilai negatif, yaitu variabel brand competence dengan koefisien regresi sebesar -0,147. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara kompetensi merek terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Jika persepsi konsumen terhadap kompetensi merek mesin cetak naik sebesar 1 satuan, maka kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak akan turun sebesar 0,147.
Dari hasil pengolahan data juga didapatkan nilai koefisien determinasi (R2) yang dapat digunakan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi variabel bebas
commit to user V-6
yaitu tujuh variabel model brand reputation, brand predictability, brand competence, ttrust in the company, company integrity, brand liking dan brand satisfaction terhadap variabel terikat, yaitu kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Berdasarkan tabel 4.10, dapat diketahui bahwa nilai koefisien determinasi untuk model persamaan regresi linier berganda ini adalah sebesar 0,476. Hal ini berarti 47,6% perubahan variabel kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak dapat dijelaskan oleh perubahan tujuh variabel di atas secara bersama-sama, sedangkan sisanya sebesar 52,4% dijelaskan oleh variabel lain di luar variabel yang ada dalam penelitian ini.
Relatif rendahnya nilai koefisien determinasi pada penelitian ini disebabkan karena masih ada banyak faktor lain yang sebenarnya mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Beberapa faktor tersebut mungkin termasuk ke dalam kelompok variabel model trust in a brand yang dieliminasi pada uji-uji awal. Produsen mesin cetak dapat menganalisis kembali variabel- variabel yang sudah dieliminasi dan melakukan interpretasi yang baru terhadap variabel tersebut atau memunculkan variabel yang baru.
Teknologi yang semakin berkembang dan cara pikir konsumen yang berbeda dengan tahun di mana model trust in a brand diciptakan bisa menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai koefisien determinasi dalam penelitian ini. Penggunaan media sosial bisa menjadi salah satu contohnya. Produsen mesin cetak harus awas terhadap penggunaan media sosial ini. Dengan semakin banyaknya konsumen yang melek teknologi, kontribusi media sosial harus diperhitungkan dalam pengembangan nilai merek di mata konsumen. Produsen dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan informasi, serta sarana untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen.
Selain menghitung koefisien regresi untuk melengkapi persamaan model regresi, penelitian ini juga melakukan penghitungan untuk koefisien beta (koefisien regresi yang sudah distandarisasi) tiap variabel bebas. Nilai koefisien beta tiap variabel bebas ini selanjutnya saling dibandingkan satu sama lain. Hal ini dilakukan untuk mengetahui variabel mana yang lebih berpengaruh dominan terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak
commit to user V-7
Berdasarkan tabel 4.11, dapat diketahui bahwa terdapat empat variabel yang berpengaruh lebih dominan terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Berdasarkan tingkat kepentingannya dalam menjelaskan kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak dilihat dari nilai koefisien beta masing- masing, variabel tersebut adalah brand satisfaction, brand reputation, brand predictability dan brand liking. Produsen mesin cetak dapat memprioritaskan strategi pengembangan nilai merek masing-masing dengan memberikan fokus yang lebih pada ke empat variabel ini.
Terhadap variabel brand satisfaction, produsen mesin cetak harus mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai apa yang konsumen rasakan setelah menggunakan mesin cetak, karena variabel ini berhubungan dengan interaksi langsung konsumen terhadap suatu merek. Dengan demikian, perusahaan dapat segera mengetahui apa yang sebenarnya konsumen inginkan terhadap suatu merek mesin cetak.
Brand reputation mesin cetak dapat dilakukan dengan melakukan strategi periklanan yang baik, dan menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan. Berita negatif yang tersebar di kalangan masyarakat yang menyangkut reputasi merek mesin cetak harus segera ditangani dengan baik. Pemasar harus berpikir dan bertindak cepat dalam menangani isu negatif terhadap merek, karena kerusakan yang terjadi pada suatu merek biasanya tidak dapat diperbaiki dengan mudah.
Terhadap variabel brand predictability, produsen mesin cetak harus memastikan kualitas yang konsisten dari tiap produk yang dipasarkan, karena variabel ini berhubungan dengan konsistensi. Produsen harus melakukan kontrol kualitas yang baik, mulai dari proses produksi sampai produk berada di tangan konsumen.
Brand liking dapat dikembangkan dengan membuat produk nyaman untuk dilihat, dirasakan maupun disentuh. Produsen dapat melakukan penelitian lebih lanjut terhadap hal-hal apa saja yang membuat konsumen menyukai atau tidak menyukai suatu merek tertentu. Dengan demikian, konsumen dapat memiliki memori yang baik terhadap merek tersebut.
Berdasarkan tabel 4.11, dapat diketahui bahwa terdapat satu variabel yang memiliki koefisien beta bernilai negatif, yaitu variabel brand competence dengan
commit to user V-8
koefisien beta sebesar -0,127. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi merek tidak memberikan pengaruh yang positif terhadap kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak. Semakin tinggi persepsi konsumen terhadap kompetensi suatu merek mesin cetak, kepercayaan konsumen terhadap merek mesin cetak akan semakin menurun.