Lab Proteomik ITD didukung Peralatan Canggih dan Lengkap
UNAIR NEWS – Salah satu laboratorium andalan UNAIR adalah Lab.
Proteomik di Institute of Tropical Disease (ITD). Peralatannya canggih dan lengkap. Selalu kaya akan inovasi untuk bersumbangsih buat negeri.
Pusat Kajian Etnografi Punya Museum “Kematian” nan Eksotik
UNAIR NEWS – Pusat Kajian Etnografi yang berada di kampus B, FISIP Universitas Airlangga memiliki musem yang eksotis. Tema yang diambil museum itu adalah kematian. Mulai dari model pemakaman di nusantara, kisah kematian unik dari penjuru jagat raya, keterangan tentang mati suri di tembok-tembok, dan lain sebagainya. Bunyi-bunyian alias back sound yang didengungkan pas pengunjung masuk museum itu pun begitu khas suasana suram.
Berikut sejumlah potretnya.
Dua Fakultas di Kampus A yang Termasuk Ikon Kota Surabaya
UNAIR NEWS – Kampus A Universitas Airlangga (UNAIR) tergolong bangunan bersejarah alias Cagar Budaya. Letaknya, di Jalan Mayjend Prof Moestopo. Ada dua Fakultas di sana. Yakni, Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG).
Keduanya, menjadi bagian dari ikon Kota Surabaya.
Perpustakaan Makin Nyaman Buat Belajar
UNAIR NEWS – Perpustakaan UNAIR selalu berupaya memberikan layanan terbaik. Koleksi buku diperbanyak dan akses ke Jurnal Nasional/Internasional terus dimudahkan melalui e-Library.
Digitalisasi dilakukan di semua aspek. Berikut adalah potret sekilas Perpustakaan di Kampus B.
FK Komitmen Lakukan Pemutakhiran Data
UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR berkomitmen untuk melakukan pemutakhiran data di website tiap program studi (Prodi). Langkah itu diyakini akan berpengengaruh pada ranking webometric maupun akreditasi. “Pemutakhiran data adalah bentuk kepedulian kita pada Prodi yang ada di FK,” kata Wakil Dekan I FK UNAIR Prof. Dr. David Sontani Perdanakusuma, dr., Sp.BP- RE(K) dalam pembukaan acara pendampingan dan sosialisasi pemutakhiran data di gedung AMEC lantai 4 Jum’at (10/3).
Dalam event tersebut, hadir sebagai pendamping pihak Direktorat Sistem Informasi UNAIR dan Pusat Informasi dan Humas UNAIR. Rencananya, event itu bakal dilaksanakan hingga sepuluh hari. Tak kurang dari 43 perwakilan Prodi di FK UNAIR yang akan diberi pembekalan. Tampak dalam sesi pembukaan itu Direktur Sistem Informasi Eko Supeno dan Ketua PIH Suko Widodo.
Eko menjelaskan, data yang perlu dimutakhirkan mencakup semua aspek. Mulai dari biodata dan riwayat pengajaran dosen, prestasi Prodi, hingga capaian di level fakultas. Artinya,
perlu keseriusan dan ketekunan. Mengingat, begitu banyaknya elemen yang harus disentuh. “Kami siap memberikan pendampingan secara intensif,” ujar dia.
Sementara itu, Suko Widodo menilai, aspek lain seperti cerita- cerita unik di kampus juga perlu dituangkan di website. Hal itu terkait dengan upaya branding kampus dan promosi. Jangan sampai, FK UNAIR yang memiliki kualitas luar biasa, justru kurang pemberitaan. “Silakan tulis kabar atau berita menarik di website kampus. Dengan demikian, FK bisa lebih eksis. Mutu kita sudah sangat bagus. Pasti punya banyak kisah unik dan menarik,” kata dia. (*)
Penulis: Rio F. Rachman
Kampung Pengemis (Part 2)
untuk membaca Part 1, silakan klik Kampung Pengemis (Part 1) Sabtu itu, hari sudah sore. Aku dan temanku itu telah berada di dermaga penyeberangan kotanya. Aku yang menggendong ransel di punggung bersiap menyeberang ke kampung pengemis di pulau pengemis. Dia kembali menyarankan dan membujuk agar aku mengurungkan niatku. Dia takut aku ketularan jadi pengemis.
Tentu saja aku menolak. Dia mahasiswa yang aneh, ucapku padanya. Di jaman sekarang masih percaya dengan mitos kutukan macam itu. Dia pun mengalah dan menyerah membujukku. Dia lalu bertanya kapan aku kembali, agar bisa dijemputnya. Kubilang besok, hari minggu siang aku sudah di dermaga. Dia mengiyakan.
Tak lama menanti, kapal penyeberangan tiba. Aku dan dia bersalaman. Aku naik ke kapal dan mulai meninggalkan dermaga kota temanku.
Sekitar tiga puluh menit selepas lepas landas dari dermaga
kota temanku, aku dan penumpang lain turun ke pulau yang kami tuju. Sejauh itu, aku tak melihat tanda-tanda kepengemisan di pulau tersebut. Aku melihat keadaan pulau tersebut biasa-biasa saja. Seperti kebanyakan pulau lain yang berjarak tidak begitu jauh dengan perkotaan. Pulau yang disebut temanku pulau pengemis ini, terlihat cukup membaur dengan peradaban modern.
Nampak televisi di ruang tunggu dermaga. Sepeda motor dan mobil di jalan-jalannya. Beberapa parabola dan ada pula antena alias tower agak raksasa. Tebakanku, antena alias tower itu adalah milik salah satu perusahaan telekomunikasi.
Apa benar ini kampung pengemis. Atau kampung pengemis ada di pedalaman dari pulau ini. Aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Atau kampung pengemis hanya rahasia umum yang tidak nyata. Aku pun menyusuri jalan, beberapa tukang becak menawari jasa, demikian pula tukang-tukang ojek. Namun aku menolak dengan lembut. Aku sedang ingin berjalan-jalan dan menikmati pulau ini sendirian. Hingga pada suatu titik, aku berhenti.
Aku melihat sebuah papan nama. Bukan papan nama sebuah kantor, melainkan papan nama di sebuah rumah yang keterangan nama di papan itu sangat menarik perhatianku. Tertulis di sana: Kepala Kampung Pengemis. Diseret rasa ingin tahu, aku menghampiri rumah itu dan mengetuk pintunya.
Seseorang berjenis kelamin pria membuka pintu lalu menyapaku ramah kemudian memersilakan untuk masuk ke ruang tamu.
“Saya mahasiswa dari sebrang, Pak. Datang ke sini dengan niatan untuk jalan-jalan.”
“Mau jalan-jalan, atau cari pekerjaan, atau penelitian, silakan saja, Dik. Pulau ini terbuka untuk umum. Nah, kecuali kalau ada orang asing mau merampas hak kampung ini, baru para penduduk akan bertindak tegas.” Ucap orang itu dengan senyuman di bibirnya.
Dia lalu pamit sebentar untuk ke dalam beberapa saat. Ketika kembali ke ruang tamu, di tangannya sudah ada nampan membawa
d u a m i n u m a n k e m a s a n k a l e n g y a n g n a m p a k s e g a r . D i a memersilakanku meminumnya. Aku pun menikmati minuman itu, tapi tidak menghabiskannya.
“Kampung ini sering didatangi mahasiswa-mahasiswa, ada yang mau meneliti, jalan-jalan maupun cari kerja. Kata orang sih, di kampung ini memang banyak lapangan pekerjaannya. Padahal tidak juga.”
“Maksud Bapak?”
“Ya mata pencaharian utama di kampung ini kan hanya satu, kalau pun ada mata pencaharian lain, ya itu sekadar hobi.”
“Apa mata pencaharian utama itu, Pak?” aku menyelidik.
“Mengemis.” Dia menyamankan duduknya dengan bersandar di sandaran sofa.
“Nah, kalau adik lihat tadi ada pedagang, tukang jaga dermaga, tukang becak, tukang ojek, atau ada pula petani, maka itu sekadar hobi, Dik. Mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan sampingan seperti itu maksimal hanya…, ya… rata-rata dua kali seminggu. Selebihnya, mereka dan kami semua memilih untuk menyebrang ke luar pulau. Mengemis di sana. Dapat hasil, kami nikmati di sini. Kami bangun pulau ini. Sehingga pulau ini nampak tidak ketinggalan jaman. Meskipun tidak memiliki tempat-tempat wisata yang bergengsi, maupun tidak memiliki sumber kekayaan alam yang melimpah. Kami tidak mau bergantung pada alam untuk memajukan pulau kami. Kami bekerja. Nyatanya sekarang, kami sukses. Adik kebetulan saja ke sini pas saya ada di rumah, padahal sering kali saya juga menyebrang ke luar pulau. Pergi ke kota-kota untuk mengemis.”
Aku tertegun mendengar penjelasan kepala kampung itu. Tanganku meraih kaleng minuman di hadapanku. Dan kembali meminum isinya. Kali ini sampai habis. Tercetus di pikiranku, menjadikan kampung ini sebagai objek penelitian adalah ide yang benar-benar brilian.
“Rencananya Adik mau pulang kembali ke kota kapan? Ehm saya bertanya begini sebab hari kan memang sudah menjelang senja.
Maksudnya: kalau adik memang pengen jalan-jalan atau cerita- cerita sama saya, Adik boleh kok menginap di sini. Besok baru pulang. Kebetulan sekarang ini istri dan anak-anak saya sedang mengemis di luar pulau sana. Mungkin adik juga pengen tahu cara-cara mengemis yang baik, nanti saya ajari. Itu juga kalau adik mau. Kalau tidak suka sama pekerjaan ini, ya saya tidak memaksa.”
Aku berpikir sejenak. Pak kepala kampung yang baik itu membuka minuman kaleng miliknya, disodorkannya pada ku. Aku tersenyum menerima suguhan itu. Mungkin dia melihat gurat lelah di keningku sehingga memberiku minuman lagi.
“Baiklah, Pak. Kalau memang tidak merepotkan, saya tidur di sini saja satu malam. Besok saya pulang.”
***
Banyak pengalaman dan penjelasan yang ku terima dari kepala kampung itu. Nyaris semalaman kami berbincang perihal apa saja yang ingin kami obrolkan. Baru pukul dua dini hari aku berangkat tidur. Pukul sepuluh pagi hari minggu, aku sudah di dermaga penyebrangan pulau pengemis. Bersiap ke kota temanku di sebrang. Sebelum berangkat meninggalkan pulau pengemis, aku dan kepala Kampung Pengemis bersalaman. Dia mendoakanku semoga aku sukses dalam hidup, doa standar dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda.
Selepas sekitar tiga puluh menit lepas landas dari dermaga pulau pengemis, kapal yang mengangkut aku dan orang-orang dari kampung pengemis sandar di dermaga penyebrangan kota temanku.
T e m a n k u y a n g t e r n y a t a t e l a h b e r a d a d i d e r m a g a p u n menghampiriku. Kami bersalaman. Dia mengajak aku makan di sebuah warung sederhana namun bersih di sekitar dermaga. Kami makan dengan lahap di sana.
Sesudah makan, masih di warung itu, aku membuka ransel ku.
Menarik sebuah map yang ada di dalamnya dan membuka map tersebut. Lalu berkata pada temanku.
“Aku baru dapat pekerjaan dari kepala kampung sana. Menjadi sukarelawan pencari sumbangan. Di map ini ada surat tugas beserta amplop-amplop perlengkapannya. Lumayan. Menurut aturan, dari seratus persen sumbangan yang kita peroleh, kita sebagai sukarelawan pencari sumbangan dapat bagian tujuh puluh persen. Maklum lah, aku kan nantinya lelah, biaya transportasi dan lain sebagainya kan juga dari aku. Tiap bulan tiga puluh persen dari hasil sumbangan bisa ditransfer melalui bank, bisa pula di antar langsung ke pulau tadi langsung ke kepala kampung. Bagaimana menurutmu?”
Aku bisa melihat jelas di raut wajah temanku. Keningnya berkerut. Matanya memincing lalu semakin melebar. Dia pun menggeleng-geleng seraya menarik dan membuang napas panjang.
Raut orang heran melekat di wajahnya. Kemudian dia berucap mantap tapi tak begitu keras terdengar.
“Gila!” ucapnya. Aku tak tahu apa yang membuatnya heran. Aku pun tak paham arti dari satu kata yang baru diucapkannya. (*)
Asyiknya Menikmati Suasana Danau Kampus C UNAIR
UNAIR NEWS – Danau kampus C Universitas Airlangga (UNAIR) merupakan salah satu spot asyik untuk menikmati sore. Angsa- angsa yang berbaris rapi dan berenang, ikan-ikan yang selalu datang ke tepian bila ada pengunjung yang menebar makan, serta kerindangan pepohonan yang sejuk bila duduk di bawahnya. Tentu pula, tempat ini merupakan tempat yang pas buat foto-foto.
Selfie, Wefie, maupun sekadar memfoto angsa. Sesekali,
terlihat mahasiswa yang belajar ataupun orang-orang berolahraga. (*)
Kampung Pengemis (Part 1)
free instagram followermake up wisudamake up jogjamake up prewedding jogjamake up wedding jogjamake up pengantin j o g j a p r e w e d d i n g j o g j a p r e w e d d i n g y o g y a k a r t a b e r i t a indonesiayogyakarta wooden craftAku tahu tentang kampung pengemis dari seorang teman. Sewaktu aku dan teman itu mengobrol sambil minum kopi di kantin kampus, dia sempat bercerita tentang kampung itu. Kami sebagai dua orang makhluk yang sedang belajar di fakultas ilmu sosial memang sering berdiskusi perihal fenomena sosial dan kehidupan masyarakat.
Apalagi, kami sedang merangkak di semester-semester akhir masa kuliah.
“Kamu pernah dengar tentang kampung pengemis?” tanya teman itu seraya menyeruput kopinya.
“Aku baru dengar dari kamu sekarang ini,”
“Jadi, di kampung itu semua penduduknya bepekerjaan sebagai pengemis,” dia menjelaskan sedikit lalu menghisap rokoknya.
Aku pun membenarkan letak dudukku.
“Kamu tahu dari mana?”
“Sudah jadi rahasia umum di kota ku. Kampung itu berjarak seseberang sungai dari kota ku. Kampung itu ada di sebuah pulau yang memang hanya punya satu kampung. Ya, kampung pengemis itu. Pulau dan kampung itu masih satu kabupaten dengan kota ku”.
Ganti aku yang meneguk kopi. Ada rasa penasaran di pikiranku.
Mengapa orang kok sudi jadi peminta-minta. Satu kampung lagi.
Belum sempat rasa penasaranku terjabar sepenuhnya dalam benak, temanku itu melanjutkan ceritanya.
“Ada yang menarik, dulu ada seorang lelaki yang ingin menikahi salah satu penduduk di kampung itu. Terus, oleh orang tua si gadis, pemuda itu diberi syarat. Kebetulan pemuda itu adalah pemuda luar pulau. Kamu tahu syaratnya apa?”
“Mengemis?” aku mencoba menebak.
“Cerdas! Jarang ada teman yang tebakannya sempurna seperti kamu”
“Kurang ajar” aku menggumami pujian temanku itu. Sebab pujiannya terdengar seperti mengejek. Dia lalu tertawa sebentar.
Kantin kampus tempat kami mengobrol belum terlalu ramai. Waktu itu memang tergolong masih pagi. Baru pukul delapan. Hanya sedikit mahasiswa yang sarapan. Sebagian mereka mungkin memilih sarapan di warung-warung dekat kos atau di rumah masing-masing. Harga di kantin kampus memang terpaut lumayan lebih mahal daripada di warung dekat kos atau sekitar kampus.
Maklum, kantin kampus harus bayar sewa alias ‘pajak’ pada pihak universitas.
“Cara mengemis yang mereka terapkan sangat beragam. Ada yang pura-pura cacat, melumuri tubuh dengan darah. Berpakaian compang-camping di pinggir jalan trans provinsi atau pun pasar. Dengan wajah sok disedih-sedihkan, mereka tanpa malu mengemis. Dan banyak cara lainnya.”
“Sangat tidak punya malu.”
“Bahkan konon kabarnya, ini baru kabarnya ya.” Temanku itu melemahkan suaranya. Agak berbisik dia berkata.
“Pengemis-pengemis dari kampung pengemis sudah banyak yang intelek. Mereka membuat surat tugas. Juga menyiapkan amplop- amplop kosong yang diberi stempel suatu lembaga atau yayasan sosial. Kadang surat tugas dan amplop kosong itu diakui mereka dikeluarkan oleh yayasan jompo, yatim piatu, sekolah agama, lalu mereka minta sumbangan ke kantor-kantor. Juga ke kampus- kampus. Kita kan juga kerap disodori amplop-amplop oleh sukarelawan-sukarelawan yang kurang jelas yayasannya itu.” dia jeda sejenak. Menarik napas.
“Nah, konon, aku bukan menuduh, cuma kabarnya, mereka itu adalah pengemis-pengemis dari kampung pengemis. Yang sekarang punya metode baru untuk meminta-minta.” temanku itu menjelaskan dengan wajah serius.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak yakin, cuma aku pernah dengar analisa yang seperti itu. Kalau kupikir-pikir cukup masuk akal juga. Yayasan mereka yang sering minta-minta ke kita itu cukup tidak jelas, bukan?”
“Biasanya kan, di amplop-amplop atau surat tugas mereka ada nomor telepon atau alamatnya, apa kamu tidak pernah menghubungi untuk sekadar konfirmasi?”
“Tidak pernah sih, tapi kan aku juga tidak menuduh. Memangnya apa urusanku repot-repot mengkonfirmasi segala.”
Tiba-tiba aku mulai tertarik dengan kampung pengemis yang
temanku itu ceritakan. Terbersit untuk mengangkat tema kampung pengemis sebagai bahan tugas akhirku kelak. Aku bisa menelaah fenomema kampung pengemis melalui beberapa sudut pandang. Di antaranya: dari letak geografisnya, mengingat kata temanku tadi, letak kampung pengemis terkhusus di sebuah pulau.
Mungkin keeksklusifan tempat bisa membuat penduduknya bersikap eksklusif. Bisa juga melalui akar filosofis kaum pengemis di sana, berpatokan dari penjelasan temanku bahwa orang luar yang ingin menikah dengan orang kampung pengemis, harus rela mengakui—sebut saja begitu— ideologi pengemis, dengan cara turut mengemis.
“Aku jadi berminat meneliti perkampungan pengemis yang baru kamu ceritakan, sebagai sumber tugas akhirku.”
“Jangan!”
“Lho? Kenapa jangan? Apa salahnya? Apa kampung pengemis itu cuma mitos rekaanmu belaka? Apa kamu takut ketahuan bohong?”
larangannya seketika membuat aku ragu dengan kebenaran cerita kampung pengemis itu.
“Eh jangan salah, dari awal kan aku bilang cerita ku ini memang rahasia umum. Tapi bukan kenyataan umum. Kalau ternyata kampung pengemis tidak benar-benar ada, ya aku tak bertanggung jawab. Masalahnya begini, menurut mitos dan lagi-lagi menurut konon, siapa yang masuk ke kampung itu, atau masuk ke pulau itu, maka otaknya akan tercuci dan akan jadi pengemis juga.
Aku kuatir kamu jadi pengemis.”
“Kurang ajar!” sekali lagi aku mengumpatnya dengan suara rendah. Aku pun membuat pembelaan atas prasangkanya itu.
“Kamu meremehkanku, ya? Masa aku mudah tercuci otak oleh para pengemis-pengemis itu.” Aku memincingkan mataku pada teman itu. Lalu mereguk kopi dari cangkir yang keberadaannya sempat sedikit terlupakan sebab perbincangan kami yang mulai serius.
“Bukan begitu. Cuma mengingatkan. Aku sih percaya kalau kamu
kuat. Tapi ya agar kamu lebih waspada bila akhirnya tetap bersikeras ke sana.”
“Mungkin untuk awalnya aku main-main saja ke pulau itu.
Hitung-hitung rekreasi ke luar pulau. Penelitiannya nanti- nanti saja.”
“Kalau mau rekreasi, ke kota ku saja. Tak usah ke pulau itu.”
“Kamu kenapa sih? Nampaknya menghalang-halangi aku.?” Sebelum menjawab pertanyaanku, teman itu menghisap rokoknya dalam- dalam. Sambil berucap, nampak asap dari mulutnya berhamburan.
“Aku tidak menghalang-halangi. Hanya mencarikan alternatif yang lebih baik untuk rekreasi. Bila kamu tidak bersedia ya tidak apa-apa.”
“Terima kasih. Tapi aku tak memilih alternatif dari mu. Terus, kapan kamu mau mengantarku ke sana?”
“Hah? Secepat itu kah?”
“Lebih cepat lebih baik. Paling tidak aku survey dulu. Lihat keadaan di sana dulu.” Teman itu menggeleng-geleng lalu berujar sekenanya.
“Ah, terserah kamu sajalah.”
“Akhir pekan ini?”
“Boleh. Tapi jangan salah sangka, aku tak mengantarmu sampai ke pulau. Aku hanya mengantarmu ke dermaga penyebarangan di kota ku. Kamu nyebrang sendiri saja. Aku takut mitos yang kuceritakan benar. Nanti bisa-bisa ketika pulang aku jadi pengemis.”
“Ya, terserah kamu sajalah. Tolong doakan aku, tak jadi pengemis selepas pulang.”
“Amin.” Sambutnya.
Bersambu
Aku tahu tentang kampung pengemis dari seorang teman. Sewaktu aku dan teman itu mengobrol sambil minum kopi di kantin kampus, dia sempat bercerita tentang kampung itu. Kami sebagai dua orang makhluk yang sedang belajar di fakultas ilmu sosial memang sering berdiskusi perihal fenomena sosial dan kehidupan masyarakat. Apalagi, kami sedang merangkak di semester- semester akhir masa kuliah.
“Kamu pernah dengar tentang kampung pengemis?” tanya teman itu seraya menyeruput kopinya.
“Aku baru dengar dari kamu sekarang ini,”
“Jadi, di kampung itu semua penduduknya bepekerjaan sebagai pengemis,” dia menjelaskan sedikit lalu menghisap rokoknya.
Aku pun membenarkan letak dudukku.
“Kamu tahu dari mana?”
“Sudah jadi rahasia umum di kota ku. Kampung itu berjarak seseberang sungai dari kota ku. Kampung itu ada di sebuah pulau yang memang hanya punya satu kampung. Ya, kampung pengemis itu. Pulau dan kampung itu masih satu kabupaten dengan kota ku”.
Ganti aku yang meneguk kopi. Ada rasa penasaran di pikiranku.
Mengapa orang kok sudi jadi peminta-minta. Satu kampung lagi.
Belum sempat rasa penasaranku terjabar sepenuhnya dalam benak, temanku itu melanjutkan ceritanya.
“Ada yang menarik, dulu ada seorang lelaki yang ingin menikahi salah satu penduduk di kampung itu. Terus, oleh orang tua si gadis, pemuda itu diberi syarat. Kebetulan pemuda itu adalah pemuda luar pulau. Kamu tahu syaratnya apa?”
“Mengemis?” aku mencoba menebak.
“Cerdas! Jarang ada teman yang tebakannya sempurna seperti kamu”
“Kurang ajar” aku menggumami pujian temanku itu. Sebab pujiannya terdengar seperti mengejek. Dia lalu tertawa sebentar.
Kantin kampus tempat kami mengobrol belum terlalu ramai. Waktu itu memang tergolong masih pagi. Baru pukul delapan. Hanya sedikit mahasiswa yang sarapan. Sebagian mereka mungkin memilih sarapan di warung-warung dekat kos atau di rumah masing-masing. Harga di kantin kampus memang terpaut lumayan lebih mahal daripada di warung dekat kos atau sekitar kampus.
Maklum, kantin kampus harus bayar sewa alias ‘pajak’ pada pihak universitas.
“Cara mengemis yang mereka terapkan sangat beragam. Ada yang pura-pura cacat, melumuri tubuh dengan darah. Berpakaian compang-camping di pinggir jalan trans provinsi atau pun pasar. Dengan wajah sok disedih-sedihkan, mereka tanpa malu mengemis. Dan banyak cara lainnya.”
“Sangat tidak punya malu.”
“Bahkan konon kabarnya, ini baru kabarnya ya.” Temanku itu melemahkan suaranya. Agak berbisik dia berkata.
“Pengemis-pengemis dari kampung pengemis sudah banyak yang intelek. Mereka membuat surat tugas. Juga menyiapkan amplop- amplop kosong yang diberi stempel suatu lembaga atau yayasan sosial. Kadang surat tugas dan amplop kosong itu diakui mereka dikeluarkan oleh yayasan jompo, yatim piatu, sekolah agama, lalu mereka minta sumbangan ke kantor-kantor. Juga ke kampus- kampus. Kita kan juga kerap disodori amplop-amplop oleh sukarelawan-sukarelawan yang kurang jelas yayasannya itu.” dia jeda sejenak. Menarik napas.
“Nah, konon, aku bukan menuduh, cuma kabarnya, mereka itu adalah pengemis-pengemis dari kampung pengemis. Yang sekarang
punya metode baru untuk meminta-minta.” temanku itu menjelaskan dengan wajah serius.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak yakin, cuma aku pernah dengar analisa yang seperti itu. Kalau kupikir-pikir cukup masuk akal juga. Yayasan mereka yang sering minta-minta ke kita itu cukup tidak jelas, bukan?”
“Biasanya kan, di amplop-amplop atau surat tugas mereka ada nomor telepon atau alamatnya, apa kamu tidak pernah menghubungi untuk sekadar konfirmasi?”
“Tidak pernah sih, tapi kan aku juga tidak menuduh. Memangnya apa urusanku repot-repot mengkonfirmasi segala.”
Tiba-tiba aku mulai tertarik dengan kampung pengemis yang temanku itu ceritakan. Terbersit untuk mengangkat tema kampung pengemis sebagai bahan tugas akhirku kelak. Aku bisa menelaah fenomema kampung pengemis melalui beberapa sudut pandang. Di antaranya: dari letak geografisnya, mengingat kata temanku tadi, letak kampung pengemis terkhusus di sebuah pulau.
Mungkin keeksklusifan tempat bisa membuat penduduknya bersikap eksklusif. Bisa juga melalui akar filosofis kaum pengemis di sana, berpatokan dari penjelasan temanku bahwa orang luar yang ingin menikah dengan orang kampung pengemis, harus rela mengakui—sebut saja begitu— ideologi pengemis, dengan cara turut mengemis.
“Aku jadi berminat meneliti perkampungan pengemis yang baru kamu ceritakan, sebagai sumber tugas akhirku.”
“Jangan!”
“Lho? Kenapa jangan? Apa salahnya? Apa kampung pengemis itu cuma mitos rekaanmu belaka? Apa kamu takut ketahuan bohong?”
larangannya seketika membuat aku ragu dengan kebenaran cerita kampung pengemis itu.
“Eh jangan salah, dari awal kan aku bilang cerita ku ini
memang rahasia umum. Tapi bukan kenyataan umum. Kalau ternyata kampung pengemis tidak benar-benar ada, ya aku tak bertanggung jawab. Masalahnya begini, menurut mitos dan lagi-lagi menurut konon, siapa yang masuk ke kampung itu, atau masuk ke pulau itu, maka otaknya akan tercuci dan akan jadi pengemis juga.
Aku kuatir kamu jadi pengemis.”
“Kurang ajar!” sekali lagi aku mengumpatnya dengan suara rendah. Aku pun membuat pembelaan atas prasangkanya itu.
“Kamu meremehkanku, ya? Masa aku mudah tercuci otak oleh para pengemis-pengemis itu.” Aku memincingkan mataku pada teman itu. Lalu mereguk kopi dari cangkir yang keberadaannya sempat sedikit terlupakan sebab perbincangan kami yang mulai serius.
“Bukan begitu. Cuma mengingatkan. Aku sih percaya kalau kamu kuat. Tapi ya agar kamu lebih waspada bila akhirnya tetap bersikeras ke sana.”
“Mungkin untuk awalnya aku main-main saja ke pulau itu.
Hitung-hitung rekreasi ke luar pulau. Penelitiannya nanti- nanti saja.”
“Kalau mau rekreasi, ke kota ku saja. Tak usah ke pulau itu.”
“Kamu kenapa sih? Nampaknya menghalang-halangi aku.?” Sebelum menjawab pertanyaanku, teman itu menghisap rokoknya dalam- dalam. Sambil berucap, nampak asap dari mulutnya berhamburan.
“Aku tidak menghalang-halangi. Hanya mencarikan alternatif yang lebih baik untuk rekreasi. Bila kamu tidak bersedia ya tidak apa-apa.”
“Terima kasih. Tapi aku tak memilih alternatif dari mu. Terus, kapan kamu mau mengantarku ke sana?”
“Hah? Secepat itu kah?”
“Lebih cepat lebih baik. Paling tidak aku survey dulu. Lihat keadaan di sana dulu.” Teman itu menggeleng-geleng lalu
berujar sekenanya.
“Ah, terserah kamu sajalah.”
“Akhir pekan ini?”
“Boleh. Tapi jangan salah sangka, aku tak mengantarmu sampai ke pulau. Aku hanya mengantarmu ke dermaga penyebarangan di kota ku. Kamu nyebrang sendiri saja. Aku takut mitos yang kuceritakan benar. Nanti bisa-bisa ketika pulang aku jadi pengemis.”
“Ya, terserah kamu sajalah. Tolong doakan aku, tak jadi pengemis selepas pulang.”
“Amin.” Sambutnya.
Bersambung….
Aku tahu tentang kampung pengemis dari seorang teman. Sewaktu aku dan teman itu mengobrol sambil minum kopi di kantin kampus, dia sempat bercerita tentang kampung itu. Kami sebagai dua orang makhluk yang sedang belajar di fakultas ilmu sosial memang sering berdiskusi perihal fenomena sosial dan kehidupan masyarakat. Apalagi, kami sedang merangkak di semester- semester akhir masa kuliah.
“Kamu pernah dengar tentang kampung pengemis?” tanya teman itu seraya menyeruput kopinya.
“Aku baru dengar dari kamu sekarang ini,”
“Jadi, di kampung itu semua penduduknya bepekerjaan sebagai pengemis,” dia menjelaskan sedikit lalu menghisap rokoknya.
Aku pun membenarkan letak dudukku.
“Kamu tahu dari mana?”
“Sudah jadi rahasia umum di kota ku. Kampung itu berjarak
seseberang sungai dari kota ku. Kampung itu ada di sebuah pulau yang memang hanya punya satu kampung. Ya, kampung pengemis itu. Pulau dan kampung itu masih satu kabupaten dengan kota ku”.
Ganti aku yang meneguk kopi. Ada rasa penasaran di pikiranku.
Mengapa orang kok sudi jadi peminta-minta. Satu kampung lagi.
Belum sempat rasa penasaranku terjabar sepenuhnya dalam benak, temanku itu melanjutkan ceritanya.
“Ada yang menarik, dulu ada seorang lelaki yang ingin menikahi salah satu penduduk di kampung itu. Terus, oleh orang tua si gadis, pemuda itu diberi syarat. Kebetulan pemuda itu adalah pemuda luar pulau. Kamu tahu syaratnya apa?”
“Mengemis?” aku mencoba menebak.
“Cerdas! Jarang ada teman yang tebakannya sempurna seperti kamu”
“Kurang ajar” aku menggumami pujian temanku itu. Sebab pujiannya terdengar seperti mengejek. Dia lalu tertawa sebentar.
Kantin kampus tempat kami mengobrol belum terlalu ramai. Waktu itu memang tergolong masih pagi. Baru pukul delapan. Hanya sedikit mahasiswa yang sarapan. Sebagian mereka mungkin memilih sarapan di warung-warung dekat kos atau di rumah masing-masing. Harga di kantin kampus memang terpaut lumayan lebih mahal daripada di warung dekat kos atau sekitar kampus.
Maklum, kantin kampus harus bayar sewa alias ‘pajak’ pada pihak universitas.
“Cara mengemis yang mereka terapkan sangat beragam. Ada yang pura-pura cacat, melumuri tubuh dengan darah. Berpakaian compang-camping di pinggir jalan trans provinsi atau pun pasar. Dengan wajah sok disedih-sedihkan, mereka tanpa malu mengemis. Dan banyak cara lainnya.”
“Sangat tidak punya malu.”
“Bahkan konon kabarnya, ini baru kabarnya ya.” Temanku itu melemahkan suaranya. Agak berbisik dia berkata.
“Pengemis-pengemis dari kampung pengemis sudah banyak yang intelek. Mereka membuat surat tugas. Juga menyiapkan amplop- amplop kosong yang diberi stempel suatu lembaga atau yayasan sosial. Kadang surat tugas dan amplop kosong itu diakui mereka dikeluarkan oleh yayasan jompo, yatim piatu, sekolah agama, lalu mereka minta sumbangan ke kantor-kantor. Juga ke kampus- kampus. Kita kan juga kerap disodori amplop-amplop oleh sukarelawan-sukarelawan yang kurang jelas yayasannya itu.” dia jeda sejenak. Menarik napas.
“Nah, konon, aku bukan menuduh, cuma kabarnya, mereka itu adalah pengemis-pengemis dari kampung pengemis. Yang sekarang punya metode baru untuk meminta-minta.” temanku itu menjelaskan dengan wajah serius.
“Kamu yakin?”
“Aku tidak yakin, cuma aku pernah dengar analisa yang seperti itu. Kalau kupikir-pikir cukup masuk akal juga. Yayasan mereka yang sering minta-minta ke kita itu cukup tidak jelas, bukan?”
“Biasanya kan, di amplop-amplop atau surat tugas mereka ada nomor telepon atau alamatnya, apa kamu tidak pernah menghubungi untuk sekadar konfirmasi?”
“Tidak pernah sih, tapi kan aku juga tidak menuduh. Memangnya apa urusanku repot-repot mengkonfirmasi segala.”
Tiba-tiba aku mulai tertarik dengan kampung pengemis yang temanku itu ceritakan. Terbersit untuk mengangkat tema kampung pengemis sebagai bahan tugas akhirku kelak. Aku bisa menelaah fenomema kampung pengemis melalui beberapa sudut pandang. Di antaranya: dari letak geografisnya, mengingat kata temanku tadi, letak kampung pengemis terkhusus di sebuah pulau.
Mungkin keeksklusifan tempat bisa membuat penduduknya bersikap eksklusif. Bisa juga melalui akar filosofis kaum pengemis di sana, berpatokan dari penjelasan temanku bahwa orang luar yang ingin menikah dengan orang kampung pengemis, harus rela mengakui—sebut saja begitu— ideologi pengemis, dengan cara turut mengemis.
“Aku jadi berminat meneliti perkampungan pengemis yang baru kamu ceritakan, sebagai sumber tugas akhirku.”
“Jangan!”
“Lho? Kenapa jangan? Apa salahnya? Apa kampung pengemis itu cuma mitos rekaanmu belaka? Apa kamu takut ketahuan bohong?”
larangannya seketika membuat aku ragu dengan kebenaran cerita kampung pengemis itu.
“Eh jangan salah, dari awal kan aku bilang cerita ku ini memang rahasia umum. Tapi bukan kenyataan umum. Kalau ternyata kampung pengemis tidak benar-benar ada, ya aku tak bertanggung jawab. Masalahnya begini, menurut mitos dan lagi-lagi menurut konon, siapa yang masuk ke kampung itu, atau masuk ke pulau itu, maka otaknya akan tercuci dan akan jadi pengemis juga.
Aku kuatir kamu jadi pengemis.”
“Kurang ajar!” sekali lagi aku mengumpatnya dengan suara rendah. Aku pun membuat pembelaan atas prasangkanya itu.
“Kamu meremehkanku, ya? Masa aku mudah tercuci otak oleh para pengemis-pengemis itu.” Aku memincingkan mataku pada teman itu. Lalu mereguk kopi dari cangkir yang keberadaannya sempat sedikit terlupakan sebab perbincangan kami yang mulai serius.
“Bukan begitu. Cuma mengingatkan. Aku sih percaya kalau kamu kuat. Tapi ya agar kamu lebih waspada bila akhirnya tetap bersikeras ke sana.”
“Mungkin untuk awalnya aku main-main saja ke pulau itu.
Hitung-hitung rekreasi ke luar pulau. Penelitiannya nanti-
nanti saja.”
“Kalau mau rekreasi, ke kota ku saja. Tak usah ke pulau itu.”
“Kamu kenapa sih? Nampaknya menghalang-halangi aku.?” Sebelum menjawab pertanyaanku, teman itu menghisap rokoknya dalam- dalam. Sambil berucap, nampak asap dari mulutnya berhamburan.
“Aku tidak menghalang-halangi. Hanya mencarikan alternatif yang lebih baik untuk rekreasi. Bila kamu tidak bersedia ya tidak apa-apa.”
“Terima kasih. Tapi aku tak memilih alternatif dari mu. Terus, kapan kamu mau mengantarku ke sana?”
“Hah? Secepat itu kah?”
“Lebih cepat lebih baik. Paling tidak aku survey dulu. Lihat keadaan di sana dulu.” Teman itu menggeleng-geleng lalu berujar sekenanya.
“Ah, terserah kamu sajalah.”
“Akhir pekan ini?”
“Boleh. Tapi jangan salah sangka, aku tak mengantarmu sampai ke pulau. Aku hanya mengantarmu ke dermaga penyebarangan di kota ku. Kamu nyebrang sendiri saja. Aku takut mitos yang kuceritakan benar. Nanti bisa-bisa ketika pulang aku jadi pengemis.”
“Ya, terserah kamu sajalah. Tolong doakan aku, tak jadi pengemis selepas pulang.”
“Amin.” Sambutnya.
Bersambung…. Klik Kampung Pengemis (Part 2)
Kultur Media Sosial dan Pendakwah Muda
free instagram followermake up wisudamake up jogjamake up prewedding jogjamake up wedding jogjamake up pengantin j o g j a p r e w e d d i n g j o g j a p r e w e d d i n g y o g y a k a r t a b e r i t a indonesiayogyakarta wooden craft
Khutbah yang Melampaui Waktu
UNAIR NEWS – Yang dipotret di buku ini adalah ceramah mendiang Cak Nur yang melintas zaman. Apa bukti kalau petuahnya melangkahi waktu? Silakan nikmati kumpulan berjudul 32 Khutbah Jum’at Cak Nur dan rasakan kerelevanannya saat ini.
Buku ini memberi gambaran keasyikan khutbah di Yayasan Waqaf Paramadina akhir 90-an. Pembaca dibawa berimajinasi, dia sedang berada di ruang kuliah yang gayeng dengan pembicara yang tidak membosankan.
Mengambil tema kehidupan sehari-hari, lulusan Chicago University ini seolah menyesuaikan diri dengan para hadirin.
Mereka bukan hanya orang kampus. Namun juga, para karyawan kantor, pekerja serabutan, dan pemangku profesi lain yang luar biasa beragam dan memilih shalat Jum’at di sana.
Tanpa membaca teks, mantan ketua umum PB HMI ini membagikan pengetahuan. Topik khutbah tergolong ringan namun segar.
Tentu, dia tidak menggali tema debatable yang akrab melingkupinya selama ini: sekularisme, liberalisme, dan
plurarisme. Karena mungkin, dia paham, tema tersebut tidak tepat diusung dalam waktu sesingkat durasi Jum’atan.
Umumnya, khutbah Jum’at yang ada saat ini bersifat general dengan dalil yang diulang-ulang. Tidak salah memang. Cak Nur sendiri pernah mengatakan, wasiat takwa (pesan kebaikan) tak boleh berhenti diingatkan. Bahkan tidak mengapa bila saban hari digaungkan laksana jatung yang berdetak. Adapun yang membedakan ceramah Cak Nur dengan pendakwah zaman sekarang adalah kedalaman referensi dan variasi konten.
Kelengkapan informasi yang diberikan orisinal dan tidak pasaran. Sebagai contoh, kala berbicara tentang “Mendamaikan Persaudaraan Seiman” (halaman: 133), dia tidak sekadar menyitir Al Qur’an surah Al-Hujurat (49) ayat 9: Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Lebih dari itu, dia bercerita sejarah dan kelompok muslim di masa setelah Nabi Muhammad wafat.
Ada tiga kelompok. Pertama, pewaris aristokrasi Makkah, Bani Umayyah, yang karakternya kaya dan berpengalaman di pemerintahan/politik. Kedua, kelompok populis-sosialis yang karakternya sangat saleh. Diidentikkan dengan para sahabat Nabi seperti Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar Al Ghifari, dan Salman Al farisi. Sedangkan kelompok ketiga, kaum moderat yang disimbolkan dengan sosok Abu Bakar Shiddiq dan Umar Bin Khaththab. Mereka inilah penengah dan pemilik kebijaksanaan yang sempurna.
Dia tidak berkisah bahwa tiga kelompok itu bersilang sengketa.
Namun paling tidak, Cak Nur mengisyaratkan, bahwa perbedaan sudah ada sejak di zaman lampau. Persoalan ini merupakan sunatullah atau hukum alam. Sehingga, mesti disikapi dengan kepala dingin.
Buku
Judul : Catatan Khutbah Jumat Cak Nur
Penulis : Nurcholish Madjid Penerbit : Noura Books, Jakarta Cetakan : Pertama, April 2006 Tebal : xvi + 409 halaman