1 Pengantar
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori trilogi sastra.
Triologi sastra pertama kali diperkenalkan oleh Rene Wellek dan Austin Warren dalam bukunya yang berjudul Theory of Literature. Trilogi sastra mencakup tiga hal yaitu yang pertama adalah sosiologi pengarang, yang kedua adalah sosiologi karya sastra, dan yang ketiga adalah sosiologi pembaca. Ian Watt (Faruk, 2013: 5) mengemukakan tiga macam pendekatan yang berbeda dari apa yang dikemukakan oleh Rene Wellek dan Austin Warren. Pertama, konteks sosial pengarang. Dalam hal ini berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca. Hal utama yang harus diteliti dalam pendekatan ini adalah bagaimana pengarang mendapatkan pencariannya, sejauh mana pengarang menganggap pekerjaannya sebagai suatu profesi, dan masyarakat yang dituju oleh pengarang. Kedua, sastra sebagai sarana masyarakat. Hal utama yang mendapatkan perhatian adalah sejauh mana sastra mempengaruhi gambaran masyarakat yang ingin disampaikan, sejauh mana sifat pribadi pengarang, dan sejauh mana genre sastra yang digunakan pengarang. Ketiga, fungsi sosial sastra/
hal utama yang menjadi perhatian adalah sejauh mana sastra dapat berfungsi sebagai perombak masyarakat, sejauh mana sastra hanya berfungsi sebagai penghibur saja.
Analisis triologi yang digunakan dalam naskah drama Jamila & Sang Presiden (J&SP) ini mengacu pada apa yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren di atas. Pertama, sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra. Masalah yang berkaitan di sini adalah latar belakang sosial, status pengarang, ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Kedua, isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang tersirat dalam karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial. Yang terakhir adalah permasalahan pembaca atau sosiologi pembaca dan dampak sosial karya sastra.
Pembahasan
Seperti yang telah dikemukakan di atas, teori trilogi sastra adalah pendekatan sosiologi sastra yang mengacu pada tiga pembahasan yaitu sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi pembaca.
2 1. Sosiologi Pengarang
Sosiologi pengarang berhubungan dengan profesi pengarang dan institusi sastra. Masalah yang dikaji antara lain; latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Sosiologi pengarang dapat dimaknai sebagai salah satu kajian sosiologi sastra yang memfokuskan perhatian pada pengarang sebagai pengarang karya sastra. Dalam sosiologi pengarang, pengarang sebagai pengarang karya sastra dianggap merupakan makhluk sosial yang keberadaannya terikat oleh status sosialnya dalam masyarakat, ideologi yang di anutnya, posisi dalam masyarakat, juga hubungannya dengan pembaca. Dalam pembuatan karya sastra, campur tangan penulis sangat menentukan. Dari yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren, serta Wolff dalam kajian teori, maka wilayah yang menjadi kajian sosiologi pengarang yaitu:
a. Status Sosial Pengarang
Status Sosial Pengarang, Status sosial sering kali disebut sebagai kedudukan atau posisi, peringkat seseorang dalam kelompok masyarakatnya. Status sosial dibagi menjadi dua. Yang pertama yaitu ascribed status, achieved status, dan assigned status. Ascribed status adalah kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya seseorang yang lahir dari keluarga bagsawan, ataupun kyai maka ketika besar mereka yang lahir dalam dari keluarga tersebut akan disebuat bangsawan atau kyai. Biasaanya hal ini terjadi pada negara yang menganut sistem kerajaan atau daerah-daerah pedesaan. Namun hal ini tidak berlaku hanya pada hal yang seperti itu dikalangan masyarakat yang bukan bangsawan atau kyai bisa dijumpai seperti kedudukan seorang laki-laki dalam keluarganya, juga kedudukan seorang ibu pada anaknya. Assigned status, yaitu status sosial yang diperoleh di dalam lingkungan masyarakat yang bukan di dapat sejak lahir tetapi diberikan karena usaha dan kepercayaan masyarakat. Sedangkan Achieved status, yaitu kedudukan yang diperoleh seseorang dengan cara diperjuangkan, dan usaha- usaha yang disengaja oleh individu itu sendiri. Kedudukan ini bersifat terbuka untuk siapa saja bergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengejar, serta
3 mencapai tujuan-tujuannya. Misalnya seperti pengarang sekaligus sutradara naskah drama ini, Ratna Sarumpaet berhasil mendapatkan berbagai macam penghargaan berkat hasil kerja kerasnya dalam dunia sastra, seperti dalam data berikut:
Seperti dilaporkan pada 2010 silam, Ratna menjelaskan bahwa J&SP hanya berhasil masuk dalam 65 besar untuk kategori "Foreign Language". Meski tak berhasil melaju di Academy Award, J&SP meraih penghargaan Penyuntingan Terbaik di Asia Pacific Film Festival ke-53 di Taipei, Taiwan. Dua penghargaan juga berhasil diraih dalam Vesoul International Film Festival of Asian Cinema 2010 di Vesoul, Perancis, yaitu Prix de Public dan Prix Jury Lyceen.
(http://showbiz.liputan6.com/read/2481582/...aktivis- ratna-sarumpaet-pernah-mencoba-berlaga-di-oscar)
Usai memberikan pidato, Ratna terbang ke Tokyo untuk menerima “The Female Special Award for Human Rights”
dari The Asian Foundation of Human Rights.
(https://id.wikipedia.org/...Ratna_Sarumpaet)
Dari data di atas bisa dilihat bagaimana Ratna Sarumpaet mendapatkan penghargaan berkat karya sastranya dengan tema-tema yang syarat akan penindasan terhadap kaum kecil dan kaum minoritas.
b. Latar Belakang Sosial Budaya
Latar belakang sosial budaya adalah masyarakat dan kondisi sosial budaya dari mana pengarang dilahirkan, tinggal, dan berkarya. Latar belakang tersebut, secara langsung ataupun tidak langsung akan memiliki hubungan dengan karya sastra yang dihasilkannya. Sebagai manusia dan makhluk sosial, pengarang akan dibentuk oleh masyarakatnya. Dia akan belajar dari apa yang ada di sekitarnya.
Seperti pengarang naskah drama J&SP, jika dibaca dari beberapa karya sastra yang sudah diciptakannya seperti Alia: Luka Serambi Mekah menceritakan tentang
4 penindasan terhadap kaum kecil dan kaum minoritas, Ratna Sarumpaet memiliki watak yang “keras” karena Ratna juga aktif sebagai aktivis HAM sampai saat ini.
Hal itu tergambar dengan jelas dari karya-karya yang telah ia buat. Seperti dalam data berikut:
Dalam sebuah seminar tentang karya-karya drama bertema Human Rights di Inggris tahun 2002, seorang pengamat dari Princeton University mengatakan dalam makalahnya berjudul Dare To Speak Up, “Saya belum pernah membaca karya drama yang setega Ratna Sarumpaet dalam menguliti sebuah kasus. Dengan ketegaannya itu ia mampu melahirkan karya yang ampuh memukul. Gaya penulisan Ratna serta sifat temanya yang antropolis sangat beresiko membuat murka mereka yang merasa dikoreksi. “Marsinah Menggugat” mencuat secara International; Menjadi hantu raksasa bagi penguasa RI; Meski tidak satu katapun dalam monolog Marsinah Menggugat menyebut kata tentara.
Hanya dengan sound effect derap sepatu tentara yang terus diulang-ulang, penguasa RI/ tentara kebakaran jenggot karena seluruh isi monolog itu punya kebenaran yang sangat akurat. Dengan fantasi yang cantik, religius, hal serupa kembali diulang Ratna dalam ALIA: Luka Serambi Mekah, lebih menohok karena lebih terbuka”. (Latar
belakang naskah drama J&SP)
Dari data di atas tergambar jelas maksud watak “keras” yang dimiliki Ratna Sarumpaet adalah bagaimana dalamnya ia membawa sebuah kejadian nyata yang terjadi di sekitar kehidupannya ke dalam karyanya.
c. Ideologi Sosial Pengarang
Ideologi sosial pengarang artinya sebagai suatu himpunan dari nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan yang dimiliki seseorang atau kelompok orang yang menjadikannya sebagai dasar dalam menentukan sikap terhadap kejadian atau
5 problem yang mereka hadapi. Kaitannya dengan sastra sering kali pengertian ini disamakan dengan pandangan dunia. Dalam pandangan dunia pengarang, ideologi yang dianut akan mempengaruhi bagaimana pengarang memahami dan mengevaluasi sosial yang terjadi disekitarnya. Selain itu, ideologi juga mempengaruhi terhadap karya sastra yang diciptakan oleh pengarang. Pemecahan masalah, serta sikap tokoh yang tergambar dalam karya sastra pengarang secara tidak langsung menggambarkan ideologi yang dianut oleh pengarang. Nilai ketegasan yang terdapat dalam konsep dan sinopsis J&SP ini menunjukkan ideologi Ratna Sarumpaet dalam berkarya.
Saya tidak pernah merasa bersalah mengomentari perilaku anggota DPR yang tidak bermutu atau mengecam kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyimpang. Tapi menuangkan dalam sebuah karya kesedihan dan kemarahan saya atas apa yang terjadi di negeri ini, bagi saya adalah puncak kebahagiaan dan kepada para pembuat kebijakan di negeri inilah sesungguhnya karya ini saya alamatkan (konsep & sinopsis J&SP: 4)
Dari data di atas tergambar jelas ketegasan yang dimiliki oleh Ratna Sarumpaet dalam bersastra. Kesedihan serta kemarahan Ratna terhadap kinerja pemerintahan tidak ia tunjukkan dengan cara yang negatif melainkan dengan cara yang positif yakni dengan membuat suatu pementasan drama yang jalan ceritanya ia peroleh langsung dari penelitian yang ia lakukan.
2. Sosiologi Karya Sastra
Sosiologi karya sastra adalah kajian sosiologi sastra yang mengkaji karya sastra dan hubungannya dengan masalah-masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Sosiologi karya sastra ini mengambil dari teori mimesis Plato yang menganggap bahwa sastra sebagai tiruan dari kehidupan nyata. Sosiologi karya sastra mengkaji karya sastra sebagai cerminan dari kehidupan yang ada di lingkungan sosial pengarang.
6 Ada beberapa masalah yang menjadi wilayah kajian sosiologi karya sastra, yaitu isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial. Di samping itu, sosiologi karya sastra juga mengkaji sastra sebagai cermin masyarakat, sastra sebagai dokumen sosial budaya yang mencatat kenyataan sosial budaya suatu masyarakat pada masa tertentu. Isi karya sastra berkaitan dengan masalah sosial, dalam hal ini sering kali dipandang sebagai dokumen sosial, atau sebagai potret kenyataan sosial. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thomas Warton (dalam Rene Wellek dan Agustin Warren, 2014:110) terhadap sastra Inggris, dibuktikan bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Sastra menurut Warton, mampu menjadi gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban, terutama sejarah bangkit dan runtuhnya semangat kesatriaan. Sebagai dokumen sosial, sastra dapat dipakai untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial.
Dalam naskah drama J&SP disebutkan beberapa faktor mengapa mereka menjadi seorang pelacur. Faktor yang pertama akan dibahas dalam data berikut:
Tidak Bu Darno. Aku tidak pernah ingin jadi pelacur dan tidak ditakdirkan menjadi pelacur. Ibulah yang membuat saya jadi pelacur. Ibulah yang menipu saya dan memeras saya, sama seperti bagaimana Ibu memeras mereka- mereka ini. (Ratna, J&SP: 28)
Setiap malam gadis-gadis di Pondok Sari itu dipaksa membeli sabu-sabu dan menghisapnya sampai tuntas.
Supaya kalian bisa bergoyang sampai pagi. Supaya kalian bisa melahap sepuluh laki-laki dalam satu malam. Supaya kalian cepat kaya, lalu keluar dari hutan sialan ini dengan sekoper uang. Dinda lebih cerdas dari yang lain. Dia tidak menghisap sabu-sabu yang wajib dihisapnya, dia menolak hadiah paket gratis. Takut kecedasan Dinda menular ke yang lain, dia lalu dibunuh dengan keji. (Ratna, J&SP: 38)
7 Dari data di atas, faktor pertama yang menjadi penyebab mereka menjadi pelacur adalah karena faktor kebodohan. Mereka ditipu oleh mucikari karena kebodohan mereka sendiri.
Faktor yang kedua penyebab mereka menjadi seorang pelacur akan dibahas dalam data berikut:
Ooo... jadi itu intinya. Ingin punya banyak uang? Bagus.
Ibu akan menunjukkan sama kamu, membimbing kamu, hingga kamu dengan cara gampang, cepat, enak dan dapat uang sebanyak-banyaknya. (Ratna, J&SP: 22)
Dari data di atas, faktor kemiskinan juga menjadi penyebab mereka menjadi pelacur. Mereka dimanfaatkan oleh oknum yang mengelabuhi mereka dengan iming-iming mendapatkan uang dengan cepat dan mudah.
Dalam naskah drama J&SP ada faktor ketiga mengapa mereka menjadi seorang pelacur. Faktor tersebut akan dibahas dalam data berikut:
Setiap malam gadis-gadis di Pondok Sari itu dipaksa membeli sabu-sabu dan menghisapnya sampai tuntas.
Supaya kalian bisa bergoyang sampai pagi. Supaya kalian bisa melahap sepuluh laki-laki dalam satu malam. Supaya kalian cepat kaya, lalu keluar dari hutan sialan ini dengan sekoper uang. Dinda lebih cerdas dari yang lain. Dia tidak menghisap sabu-sabu yang wajib dihisapnya, dia menolak hadiah paket gratis. Takut kecedasan Dinda menular ke yang lain, dia lalu dibunuh dengan keji. (Ratna, J&SP: 38)
Dari data di atas, faktor ketiga yang menjadi penyebab mereka menjadi pelacur adalah faktor lemahnya iman. Mereka masih saja mau disuruh untuk menghisap sabu padahal mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya setelah mereka menghisap sabut-sabu itu.
8 3. Sosiologi Pembaca
Sosiologi pembaca adalah kajian trilogi sastra yang memfokuskan atau mengkaji hubungan karya sastra dan pembaca. Masalah yang dikaji adalah sejauh mana karya sastra mempengaruhi pembaca sebagai penikmat karya sastra tersebut, juga sejauh mana permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra bagi pembaca yang merupakan audiens yang dituju oleh pengarang dalam menciptakan karya sastra. Ian Watt (sheduarea.blogspot.com/.../sosiologi-pengarang-karya) membedakan adanya tiga pandangan yang berhubungan dengan fungsi sosial sastra.
Pertama, pandangan kaum romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi, sehingga sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak. Kedua, pandangan “seni untuk seni”, yang melihat sastra sebagai penghibur belaka. Yang ketiga, pandangan yang bersifat kompromis artinya sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.
Dampak sosial pembaca naskah drama J&SP ini mengarah pada pandangan yang ketiga. Pembaca merasa terhibur dengan cara Ratna Sarumpaet mengkritik kinerja pemerintah dengan cara yang positif. Nilai ketegasan Ratna tersalurkan melalui karyanya yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Pelajaran yang dapat dipetik dari naskah drama J&SP ini adalah pembaca menjadi tahu apa sebenarnya yang menjadi penyebab seseorang menjadi pelacur yakni karena lemahnya iman orang tersebut dan keinginan untuk memiliki uang dengan cara yang cepat. Seperti dalam data berikut:
Ooo... jadi itu intinya. Ingin punya banyak uang? Bagus.
Ibu akan menunjukkan sama kamu, membimbing kamu, hingga kamu dengan cara gampang, cepat, enak dan dapat uang sebanyak-banyaknya. (Ratna, J&SP: 22)
Dari data di atas, jelas bahwa alasan utama seorang menjadi pelacuran adalah karena ingin mendapatkan uang dengan cara yang cepat sehingga mereka menjadi seorang pelacur. Ada sebagian dari mereka yang menjadi korban dari mucikari yang menipu mereka sehingga menjerumuskan mereka ke dalam dunia pelacuran dan ada juga dari mereka yang memang secara sadar masuk dalam dunia
9 pelacuran karena pengaruh pergaulan yang salah, yang menuntut mereka untuk selalu tampil dengan barang-barang mewah.
4. Penutup/ Kesimpulan
Teori trilogi sastra adalah kajian sosiologi sastra yang membahas hubungan antara sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi pembaca.
Sosiologi pengarang adalah kajian trilogi karya sastra yang mengkaji pengarang sebagai pencipta karya sastra. Masalah yang berkaitan dengan sosiologi pengarang adalah status sosial pengarang, latar belakang sosial, dan ideologi pengarang.
Sosiologi karya sastra adalah kajian trilogi sastra yang mengkaji karya sastra itu sendiri. Sosiologi pembaca adalah kajian trilogi sastra yang membahas hubungan antara pembaca sebagai audiens yang menikmati karya sastra dengan karya sastra itu sendiri, apakah karya sastra yang ditulis pengarang berpengaruh terhadap kehidupan sosial pembaca atau tidak.
5. Daftar Pustaka
Faruk. 2013. “Pengantar Sosiologi Sastra”. Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Wellek, Rene dan Austin Warren. 2014. “Teori Kesusastraan”. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sheduarea. 2011. “Sosiologi Pengarang Karya Sastra” (online) diakses pada tanggal 28 September 2016
Https://id.wikipedia.org/...Ratna_Sarumpaet (online) diakses pada tanggal 28 September 2016
Http://Showbiz.liputan6.com/read/2481582/...aktivis-ratna-sarumpaet-pernah- mencoba-berlaga-di-oscar (online) diakses pada tanggal 28 September 2016