Pengantar Marhaenisme
I. Pendahuluan
Berbicara Marhaenisme tidak akan pernah lepas dari nama Sukarno. Ia adalah penemu dan pencetus Marhaenisme. Maka dari itu, membicarakan Marhaenisme berarati pula membicarakan Sukarno. Selain itu, memahami Marhaenisme berarti pula harus memahami istilah-itilah penopang yang termuat di dalamnya—yang meyusun istilah Mrahaenisme itu sendiri. Maksudnya, Marhaenisme murupakan suatu ‗isme‘, olehkarenaya pasti terdapat tiga hal di dalamnya: Marhaen, Marhaenis, dan Marhaenisme. Dalam kata lain, membahas Marhaenisme, pastilah membahas ―apa itu Marhaen?‖, ―apa itu Marhaenis?‖, dan ―apa itu Marhaenisme?‖.
II. Pengertian Marhaen
Marhaenisme terinspirasi dari seoarang petani yang ditemui Sukarno di Bandung Selatan, Jawa Barat. Petani tersebut bernama Marhaen.1 Pertemuan itu terjadi di kisaran tahun 1920-an, sewaktu ia masih menjadi mahasiswa di Sekolah Teknik Tinggi Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung). Dalam pertemuan itu terjadi dialog antara Sukarno dengan Kang Marhaen, sehingga Sukarno mendapatkan suatu realitas mayarakat Indonesia: seorang yang memiliki alat produksi (seperti sebidang tanah, cangkul, arit, dll), tapi hasil dari produksinya tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.2
Pertemuannya dengan Kang Marhaen, membuat Sukarno menyadari bahwa Marhaen miskin bukan semerta-merta akibat tidak memiliki alat produksi (buruh). Namun, melaratnya Marhaen terlebih karena adanya sistem yang membelenggu, yakni kapitalisme (termasuk imperialisme dan kolonialisme) dan feodalisme.
Dalam pidatonya di Kongres GMNI tahun 1959, Sukarno menyatakan: ―dan siapakah yang saya namakan kaum Marhaen itu? Yang saya namakan Marhaen adalah setiap rakyat
Tulisan ini pernah digunakan sebagai bahan materi pokok dalam Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) DPC GMNI Yogyakarta periode 2014 – 2016 dan 2016 – 2018.
1 Dalam versi lain, disebut nama petani tersebut adalah Mang Aen yang kemudian disyitir oleh Soekarno menjadi Marhaen.
2 Untuk lebih mendetail tentang pertemuan Soekarno dan Si Marhaen, lihat, Cindy Adams, 1966, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, Jakarta: PT. Gunung Agung
Indonesia yang melarat atau lebih tepat: yang telah dimelaratkan oleh setiap kapitalisme, imprealisme dan kolonialisme‖.3 Lebih spesifik, Sukarno menjelaskan kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur, yakni kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia, dan kaum melarat Indonesia yang lain.4
Unsur-unsur ini sejalan dengan yang dirumuskan dalam kongres Partindo (Partai Indonesia). Konferensi Partindo menghasilkan 9 poin, salah satunya (poin ke dua) berbunyi
―Marhaen adalah kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia dan kaum melarat Indonesia yang lain-lain.‖5 Dengan dimasukannya proletar dalam pengertian Marhaen, maka definisi Marhaen tidak lagi bergatung pada memiliki atau tidak memiliki alat produksi. Melainkan menjadi, semua orang Indonesia yang dimiskinkan oleh sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme, dan feodalisme.
III. Pengertian Marhaenis
Dalam pidato Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa, Sukarno menyatakan:
―Dan siapakah yang saya maksud dengan kaum Marhaenis?
Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot Bangsa yang mengorganisir berjuta-juta kaum Marhaen itu, dan yang bersama-sama dengan tenaga massa Marhaen itu hendak menumbangkan sistem kapitalisme, imprealisme, kolonialisme, dan yang bersama-sama dengan massa Marhaen itu membanting tulang untuk membangun negara dan masyarakat, yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur‖.6
Pengertian di atas, lebih luas dari yang termuat dalam rumusan Partindo yang hanya menyatakan (dalam poin ke 9) ―Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.‖7 Dalam pengertian di atas, ditekankan bahwa Marhaenis bukan sekedar sebagai orang yang menjalankan Marhaenisme, tetapi sekaligus menggalang kekuatan
3 Ir. Soekarno, Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa (Pidato di Kongres GMNI pada 17 ebuari 1959 di Kalirang, Yogyakarta, Lihat dalam Ali Sastroamidjojo, 1961, Dasar-Dasar Pokok Marhaenisme (Buku Saku PNI), Jakarta: Partai Nasional Indonesia
4 Ibid
5 Ir. Soekarno, Marhaen dan Proletar, Fikiran Ra‘jat, 1933 dalam Di Bawah Bendera Revolusi, Jakarta: Yayasan Bung Karno, 2005, hlm. 253
6 Ir. Soekarno, op.,cit, 1959
7
progesif Kaum Marhaen untuk menumbangkan kapitalisme, imperalisme, dan kolonoliasme.
Artinya, seorang Marhaenis dituntut untuk menjadi seorang organisatoris dan pelopor. ―Camkan benar-benar: setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama- sama kaum Marhaen!‖8
IV. Pengertian Marhaenisme
4. 1. Marhaenisme adalah Pancasila
―Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang di dalam segala halnya menyelamatkan Marhaen.‖9 Definisi ini menyiratkan, dalam kata lain, Marhaenisme adalah spirit yang digunakan oleh para Marhaenis guna menyelamatkan Kaum Marhaen, Kaum yang harus senantiasa dibelanya. Azas adalah dasar; dan bagi Marhaenis, Marhaenisme adalah dasar dari segala pikiran dan tindakan perjuangannya untuk membela Kaum Marhaen.
Namun, karena Marhaenis bukan hanya sekedar pembela Marhaen, tetapi sekaligus pengorganisirnya, maka Marhaenisme pun sekaligus adalah ―cara perjuangan untuk mencapai susunan masyarakat dan susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjuangan yang revolusioner.‖10 Dalam kata lain, Marhaenisme adalah sekaligus dasar dan cara Marhaenis untuk mengorganisir Kaum Marhaen, guna bersama-sama mewujudkan negara dan masyarakat yang kuat, bahagia, adil dan makmur.
Seharusnya, Marhaenisme bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Indonesia.
Marhaenisme bukanlah hal yang khusus dimiliki oleh suatu partai atau organisasi saja.
Seharusnya Marhaenisme menjadi milik semua bangsa Indonesia, karena Marhaenisme itulah Pancasila. Akan tetapi, memang jarang sekali Pancasila secara langsung disebut sebagai Marhaenisme, ataupun sebaliknya. Padahal, hal ini dapat dilihat dari pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di Sidang BPUPKI.
―Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja.
8 Op.,cit, 1959
9 Op.,cit, 1933
10 Ibid
Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah ―perasan‖ yang tiga itu? Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar- dasarnya Indonesia Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme – kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan Sosio-nasionalisme.
Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek- economische demoratie – yaitu politieke demoratie dengan sociale rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan – saya peraskan pula menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Sosio-demokrasi. Tinggal lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain‖.11
Tiga hal itulah isi daripada Marhaenisme, yakni sosio-nasionalisme, sosio demokrasi, dan ketuhan. Lantas, apa itu sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan yang dimaksudkan oleh Sukarno?
4. 2. Sosio-nasionalisme
Bagi Sukarno, nasionalisme bukanlah paham untuk mengungkung manusia dalam satu kotak bernama bangsa. Akan tetapi, justru nasionalisme itu untuk membebaskan manusia dari keterkungkungan, dari belenggu. Dalam kata lain, nasionalisme Sukarno bukanlah nasionalisme tertutup seperti ‗ultra-nasionalisme‘ Nazi. Nasionalisme Sukarno bukanlah ‗djinggo nasionalisme‘, bukanlah chauvinis. Melainkan, nasionalisme yang terbuka. nasionalisme yang di dalamnya mengandung makna internasionalisme. Sebagaimana yang ia ungkapkan: ―dua dasar yang pertama, kebangsaan dan internasionalisme – kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu: itulah yang dahulu saya namakan sosio-nasionalisme.‖12
Hal ini sejalan dengan definisi bangsa yang dianut oleh Sukarno. Ia memakai definisi Ernest Renan dan Otto Baure untuk mengartikan bagsa. Menurut Renan, bangsa adalah hasil dari kemauan manusia untuk menyatukan dirinya dengan yang lain, untuk hidup menjadi satu.
Sementara, bagi Otto Baure, bangsa adalah kesamaan nasib yang dialami dan dijalani oleh suatu
11 Soekarno, Lahirnya Pancasila (Pidato 1 Juni 1945 di Sidang BPUPKI)
12
masyarakat.13 Adapun, teori tambahan yang digunakan Sukarno adalah teori geopolitik. Sebuah teori yang disebut Ki Bagus Hadikusomo sebagai persatuan “manusia dan alamnya”.14
Nasionalisme Sukarno adalah nasionalisme yang dilandaskan pada kemanusiaan. Ia menyitir perkataan Mahatma Gandhi yang berkata: “my nationalism is humaty”. Dasar kemanusiaan ini yang menjadikan sosio-nasionalisme sebagai nasionalisme yang terbuka, bahkan mengandung makna internasionalisme. Seperti yang telah dilakukan negera ini sebagai pelopor Konferensi Asia-Afrika (KAA). Serta termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, tujuan Negara Indonesia adalah ikut serta mewujudkan perdamaian dunia, dan mengusir penindasan di atas bumi.
―Memang, maksudnya sosio-nasionalisme ialah memperbaiki keadaan-keadaan di dalam masyarakat itu, sehingga keadaan yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna, tidak ada kaum yang tertindas, tidak ada kaum yang cilaka, tidak ada kaum yang papa-sengsara.‖15 Lebih lanjut, Sukarno mengungkapkan: ―oleh karenanya, maka sosio-nasionalisme adalah nasionalisme Marhaen dan menolak tiap tindak borjuisme yang menjadi kepincangan masyarakat itu. Jadi sosio-nasionalisme adalah nasionalisme politik dan nasioanlisme ekonomi,—
nasionalisme yang bermaksud mencari keberesan politik dan keberesan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki.‖16
4. 3. Sosio-demokrasi
Sama halnya dengan sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi pun adalah demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Sebagai mana yang dituliskan oleh Sukarno:
―Dan demokrasi masyarakat? Demokrasi masyarakat—sosio- demokrasi—adalah timbul karena sosio-nasionalisme. Sosio- demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan dua kakinya di dalam masyarakat. Sosio-demokrasi tidak ingin mengabdi kepentingan suatu gundukan kepentingan sahaja, tetapi kepentingan masyarakat. Sosio-demokrasi bukanlah domokrasi ala Perancis, bukan demokrasi ala Amerika, ala Inggris, ala Nederland, ala Jerman dll, tetapi ia adalah
13 Ibid, lihat juga, Soekarno, 1926, Marxisme, Islamisme, Nasionalisme, dalam Di Bawah Bendera Revolusi, Jakarta:
Yayasan Bung Karno, 2005, hlm. 3
14 Lihat Ibid, Lahirnya Pancasila
15Soekarno, Demokrasi-politik dan Demokrasi-ekomoni dalam Di Bawah Bendera Revolusi, 2005, Jakarta: Yayasan Bung Karno, hlm. 173
16 Ibid
demokrasi sejati yang mencari keberesan politik dan ekonomi, keberesan negeri dan keberesan rezeki. Sosio-demokrasi adalah demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.‖ 17
Dari penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa sosio-demokrasi adalah demokrasi yang tidak sejalan dengan demokrasi liberal. Bagi Sukarno, demokrasi liberal hanya demokrasi di bidang politik saja. Artinya, seseorang hanya sama dihadapan politik, tetapi berbeda dihadapan wilayah ekonomi. Seseorang boleh saja memiliki hak suara sebagai hak politiknya, tetapi ia tetap menjadi buruh di bidang ekonomi. Akhirnya, hak politinya pun tumpul akibat tertekan dalam prihal ekonomi.
Akan tetapi, sosio-demokrasi adalah demokrasi yang pula menjamin di bidang ekonomi.
Setiap orang memiliki kesamaan hak untuk mengakses ekonomi dan mendapatkan kesejahteraan.
Hal ini, agar demokrasi dapat benar-benar berjalan demokratis, tidak tumpang-tindih. Sosio- demokrasi adalah demokrasi khas Indoneisa, demokrasi yang berdasar pada ‗gotong-royong‘.
Demokrasi musyawarah-mufakat.
4. 4. Ketuhanan
Sukarno mengungkapkan dalam Pidato Lahirnya Pancasila sebagai berikut:
―Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara kebudayaan, yakni tiada ―egoisme agama‖. Dan hendaknya Negara Indonesia satu negara yang bertuhan!‖18
17 Ibid
18
Bagi Sukarno, ketuhanan pastilah ada dalam diri setiap manusia. Meskipun, tidak mesti urusan ketuhanan itu adalah agama. Sukarno tidak pernah membatasi agama seseorang, karena bagi Sukarno ketuhanan berarti ketuhanan yang berkebudayaan. Ketuhanan yang diselenggarakan dengan cara-cara yang beradab, tidak menindas satu dan yang lain.
―Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid (sifat dapat memahami pendapat yang lain, dalam bahasa Belanda-Ed.), tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini – sesuai dengan itu – menyatakan: Bahwa prinsip kelima dari negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.‖19
Selain itu, bagi Sukarno ketuhanan bukan hanya urusan manusia dengan Tuhannya.
Namun, tidak kalah penting adalah pula urusan manusia dengan manusia. Ketuhanan dan agama adalah soal untuk menjawab persoalan manusia di dunia, bukan hanya di akhirat. Apabila diamati, tulisan-tulisan Sukarno yang membahas persoalan ketuahan pun menitik beratkan, bahwa setiap konsep ketuhan selalu ada ajaran untuk menyelamatkan kehidupan kaum tertindas.
Singkat kata, bagi Sukarno esensi ketuhanan adalah menghentikan penindasan bukan justru melahirkan penindasan. Dalam kata lain, ketuhanan bagi Sukarno, juga berarti ketuhanan yang segala-galanya menyelematkan Kaum Marhaen.
V. Kesimpulan
Dari pemaparan-pemaparan di atas, dapat ditarik beberarapa kesimpulan. Pertama, Marhaenisme adalah spirit yang dijalankan oleh Marhaenis untuk menyelamatkan dan bergerak bersama Marhaen, untuk mewujudkan masyarakat yang kuat, bahagia, adil, dan makmur.
Marhaenisme berisi tiga hal, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan. Sosio- nasionalisme adalah nasionalisme yang berkemanusiaan. Nasionalisme politik dan ekonomi.
Begitupula, sosio-demokrasi—yang merupakan turunan dari sosio-nasionalisme—adalah
19 Ibid
demokrasi ekonomi dan demokrasi politik. Ketuhanan, bukan hanya sekedar urusan manusia dengan Tuhannya, tapi pula urusan manusia dengan sesamanya. Ketuhanan untuk mewujudkan tatanan yang tanpa penindasan, bukan justru sebaliknya.
Kedua, Marhaenis adalah setiap bangsa Indonesia yang bergerak berdasarkan Marhaenisme untuk menyelamatkan dan megorganisir Marhaen. Ketiga, Marhaen adalah orang yang dimiskinkan oleh sistem, terlepas dari memiliki alat produksi atau tidak. Unsur-unsur marhaen adalah bruh Indonesia, tani Indonesia, pedangang kecil Indonesia, nelayan kecil Indonesia, dan kaum miskin dan kecil yang lain.
Daftar Bacaan:
Agung
Adams, Cindy, 1966, Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, Jakarta: PT. Gunung Sastroamidjojo, Ali 1961, Dasar-Dasar Pokok Marhaenisme (Buku Saku PNI), Jakarta:
Partai Nasional Indonesia
Sukarno, 2005, Di Bawah Bendera Revolus Jilid I, Jakarta: Yayasan Bung Karno, Sukarno, Lahirnya Pancasila (Pidato 1 Juni 1945 di Sidang BPUPKI)
Sukarno, Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa (Pidato di Kongres GMNI pada 17 febuari 1959 di Kalirang, Yogyakarta)
Sukarno, 1989, Indonesia Menggugat, Jakarta: Cv. H. Mas Agung