SKRIPSI
PENGARUH MOTIVASI BERWIRAUSAHA, LINGKUNGAN BISNIS, DAN INOVASI TERHADAP KINERJA USAHA PADA
START-UP BISNIS COFFEE SHOP DI KAWASAN MEDAN SUNGGAL DAN MEDAN JOHOR
OLEH
NUGRAHA PRATAMA PUTRA 150502157
PROGRAM STUDI STRATA 1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
ABSTRAK
PENGARUH MOTIVASI BERWIRAUSAHA, LINGKUNGAN BISNIS DAN INOVASI TERHADAP KINERJA USAHA PADA
START-UP BISNIS COFFEE SHOP DI KAWASAN MEDAN SUNGGAL DAN MEDAN JOHOR
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh motivasi berwirausaha, lingkungan bisnis dan inovasi terhadap kinerja usaha Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Sampel penelitian ini adalah 33 responden dengan metode sampel jenuh.
Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berwirausaha, lingkungan bisnis, dan inovasi secara serempak berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha. Sedangkan secara parsial variabel motivasi berwirausaha, lingkungan bisnis, dan inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usaha.
Kata kunci: Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, Inovasi, Kinerja Usaha
ABSTRACT
THE INFLUENCE OF ENTREPRENEURIAL MOTIVATION, BUSINESS ENVIRONMENT AND INOVATION ON BUSINESS PERFORMANCE
OF START-UP BUSINESS COFFEE SHOP IN MEDAN SUNGGAL AND MEDAN JOHOR
This research aims to analyze the influence of entrepreneurial motivation, business environment and inovation on business performance of Start-Up Business Coffee Shop in Medan Sunggal and Medan Johor. This is an associative research. Sample were 33 respondents with saturated method. Analysis method used is descriptive analysis and multiple regression analysis. The results showed that entrepreneurial motivation, business environment and inovation simultaneously had a significant effect on business performance. While partially the variable of entrepreneurial motivation, business environment and inovation on business performance commitment have a positive and significant effect on business performances.
Keyword: Entrepreneurial Motivation, Business Environment, Inovation, Business Performance
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan skripsi ini, dengan judul “Pengaruh Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi Terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor”, guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua, yakni Ayahanda Kombes Pol. Solihin, S.I.K dan Ibunda Nora Lidya Pandia yang telah membesarkan peneliti dengan segala kekuatan luar biasa yang tidak dapat terbalas, peneliti mengucapkan terima kasih yang tulus, ikhlas, dan tak terhingga kepada kedua orang tua peneliti. Pada kesempatan ini peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ramli, SE, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Amlys Syahputra Silalahi, SE, M.Si, dan Bapak Doli Muhammad Jafar Dalimunthe, SE, M.Si, selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Yasmin Chairunisa Muchtar, SP, MBA, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, arahan dan saran dalam penulisan skripsi ini.
4. Bapak Ami Dilham, SE, M.Si, dan Bapak Drs. Bongsu Hutagalung, M.Si,
selaku Dosen Penguji yang telah membantu dan memberikan saran untuk kesempurnaan dalam skripsi ini.
5. Seluruh Dosen dan Staf di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara untuk segala jasanya selama perkuliahan.
6. Kakak peneliti Soraya Putri, S.Ked, Adik peneliti Ananda Sesio Putra, Abang ipar peneliti Iptu Adek Taufik, S.I.K dan Keluarga peneliti yang telah meluangkan waktunya untuk mengontrol peneliti serta memberikan motivasi selama dalam mengerjakan skripsi ini.
7. Teristimewa Tengku Syarifah Amanda Refita, A.Md, yang selalu menghibur serta memberikan motivasi, semangat dan dorongan dalam mengerjakan skripsi yang tiada henti kepada peneliti.
8. Kepada sahabat seperjuangan di kampus Andre Edenro Surbakti, Ankana Trisna, Arden Siregar, Arief Hidayat, Arief M Addien, Aulia Rahman Rambe, Chandra Aditya, Dara Elvira, Farhan Emirsyah, Farhan Rozki Daulay, Haikal Putra Rizal, Hassian Gerry, Jetli Canses, Muhammad Emil Adrian, Muhammad Haris, Muhammad Husni, Nanda Adilfa Mulya, Nanda Frista, Tengku Irfansyah Sinar, yang telah banyak memberikan saran, motivasi dan dukungan yang tiada henti kepada peneliti selama mengerjakan skripsi.
9. Teman-teman sekelas di Manajemen C dan D terima kasih atas kebersamaannya di bangku kuliah.
10. Kepada sahabat dari SMA yaitu Indra Paskah Pratama Sitorus, SE, dan Reza Himawan Siregar, S.Ked, yang telah memberikan motivasi serta
dukungan kepada peneliti.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala dapat memberikan balasan atas kebaikan-kebaikan yang telah diberikan kepada peneliti baik di dunia maupun di akhirat kelak. Peneliti menyadari sepenuhnya skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Agustus 2019 Peneliti,
Nugraha Pratama Putra 150502157
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1. Kewirausahaan, UMKM dan Start-Up Bisnis ... 11
2.1.1 Kewirausahaan ... 11
2.1.2 UMKM ... 15
2.1.3 Start-Up Bisnis ... 16
2.2 Kinerja Usaha ... 17
2.2.1 Defenisi Kinerja Usaha ... 17
2.2.2 Dimensi Kinerja Usaha ... 19
2.2.3 Indikator Kinerja Usaha ... 20
2.3 Motivasi Berwirausaha ... 20
2.3.1 Defenisi Motivasi Berwirausaha ... 20
2.3.2 Dimensi Motivasi Berwirausaha... 22
2.3.3 Indikator Motivasi Berwirausaha... 23
2.4 Lingkungan Bisnis ... 23
2.4.1 Defenisi Lingkungan Bisnis ... 23
2.4.2 Dimensi Lingkungan Bisnis ... 25
2.4.3 Indikator Lingkungan Bisnis ... 26
2.5 Inovasi... 27
2.5.1 Defenisi Inovasi ... 27
2.5.2 Dimensi Inovasi ... 29
2.5.3 Indikator Inovasi ... 30
2.6 Penelitian Terdahulu ... 31
2.7 Kerangka Konseptual ... 32
2.8 Hipotesis ... 33
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
3.1 Jenis Penelitian ... 35
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian... 35
3.3 Batasan Operasional ... 35
3.4 Operasional Variabel ... 36
3.5 Skala Pengukuran Variabel ... 38
3.6 Populasi dan Sampel ... 39
3.6.1 Populasi ... 39
3.6.2 Sampel... 39
3.7 Metode Pengumpulan Data ... 41
3.8 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 41
3.8.1 Uji Validitas ... 41
3.8.2 Uji Reliabilitas ... 42
3.9 Teknik Analisis Data ... 43
3.9.1 Analisis Deskriptif ... 43
3.9.2 Analisis Regresi Linier Berganda ... 44
3.10 Uji Asumsi Klasik ... 45
3.10.1 Uji Normalitas ... 45
3.10.2 Uji Heteroskedastisitas ... 45
3.10.3 Uji Multikolinieritas ... 46
3.11 Koefisien Determinasi (R2) ... 46
3.12 Uji Hipotesis ... 47
3.12.1 Uji Signifikansi Serempak (Uji-F) ... 47
3.12.2 Uji Signifikansi Parsial (Uji-T) ... 48
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 49
4.1 Gambaran Umum Coffee Shop ... 49
4.2 Hasil Penelitian ... 50
4.2.1 Analisis Deskriptif Responden ... 50
4.3 Analisis Regresi Linier Berganda ... 61
4.4 Uji Asumsi Klasik ... 62
4.4.1 Uji Normalitas ... 62
4.4.2 Uji Heteroskedastisitas... 64
4.4.3 Uji Multikolinearitas ... 65
4.5 Uji Koefisien Determinan (R2) ... 66
4.6 Pengujian Hipotesis ... 66
4.6.1 Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) ... 66
4.6.2 Uji Signifikansi Parsial (Uji-T) ... 67
4.7 Pembahasan ... 69
4.7.1 Pengaruh Motivasi Berwirausaha Terhadap Kinerja Usaha... 69
4.7.2 Pengaruh Lingkungan Bisnis Terhadap Kinerja Usaha... 70
4.7.3 Pengaruh Inovasi Terhadap Kinerja Usaha... 71
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72
5.1 Kesimpulan ... 72
5.2 Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 75
DAFTAR LAMPIRAN ... 77
DAFTAR TABEL
No. Gambar Judul Halaman
1.1 Daftar Jumlah Wirausaha di Enam Negara Asean ... 1
2.1 Penelitian Terdahulu ... 31
3.1 Operasionalisasi Variabel ... 37
3.2 Instrumen Pengukuran Numerik ... 38
3.3 Daftar Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor ... 40
3.4 Hasil Uji Validitas ... 42
3.5 Hasil Uji Reliabilitas ... 43
4.1 Distribusi Frekuensi dan Presentase Berdasarkan Jenis Kelamin 50 4.2 Distribusi Frekuensi dan Presentase Berdasarkan Umur ... 51
4.3 Distribusi Frekuensi dan Presentase Berdasarkan Pernah Bekerja Sebelumnya ... 52
4.4 Distribusi Frekuensi dan Presentase Berdasarkan Lama Usaha .. 52
4.5 Distribusi Jawaban Terhadap Variabel Motivasi Berwirausaha . 53 4.6 Distribusi Jawaban Terhadap Variabel Lingkungan Bisnis ... 55
4.7 Distribusi Jawaban Terhadap Variabel Inovasi ... 57
4.8 Distribusi Jawaban Terhadap Variabel Kinerja Usaha... …... 59
4.9 Hasil Regresi Linier Berganda ... 61
4.10 One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 64
4.11 Hasil Uji Glejser ... 65
4.12 Uji Multikolinearitas ... 65
4.13 Hasil Pengujian Koefisien Determinasi (R2) ... 66
4.14 Hasil Uji F Signifikansi Simultan (Uji-F) ... 67
4.15 Uji Signifikansi Parsial (Uji-T) ... 68
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual ... 33
4.1 Histogram Uji Normalitas ... 63
4.2 Plot Uji Normalitas ... 63
4.3 Scatterplot Heteroskedastisitas ... 64
DAFTAR LAMPIRAN
No. Gambar Judul Halaman
1. Kuesioner ... 77
2. Uji Validitas ... 79
3. Uji Reliabilitas ... 79
4. Distribusi Jawaban Responden ... 80
5. Analisis Karakteristik Responden ... 81
6. Frekuensi Jawaban Responden ... 82
7. Analisis Regresi Linier Berganda... 83
8. Uji Normalitas ... 83
9. Uji Heteroskedastisitas ... 84
10. Uji Multikolienaritas ... 85
11. Uji Koefisiensi Determinasi (R2) ... 85
12. Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) ... 85
13. Uji Signifikansi Parsial (Uji-T) ... 85
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Enam Negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, menjadi negara paling pas untuk sasaran kewirausahaan. Global Entrepreneurship Monitor (GEM) mengadakan riset kewirausahaan secara komprehensif di enam negara Asia Tenggara. Jumlah populasi di enam negara ini mencapai 9 persen populasi dunia. Sementara Produk Domestik Bruto (PDB)-Nya mencapai 3,17 persen PDB dunia. Hal ini menjadikan enam negara ini dianggap mampu menjadi lahan untuk menjalin kemitraan perdagangan, bisnis, dan ekonomi.
Tabel 1.1
Daftar jumlah wirausaha di enam negara Asean
Nama Negara Jumlah Wirausaha (%)
Indonesia 3,1
Filipina 4
Malaysia 5
Singapura 7
Thailand 4,5
Vietnam 3,3
Sumber: Global Entrepreneurship Monitor (2019)
Indonesia mengalami penurunan jumlah pengangguran yang cukup baik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2019 ada di angka 5,01 persen dari tingkat partisipasi angkatan kerja Indonesia. Angka ini membaik dibanding posisi Februari 2018 yakni 5,13 persen.
Pada Februari 2019, jumlah pengangguran berkurang sebanyak 50 ribu orang dari 6,87 juta orang pada Februari 2018 menjadi 6,82 juta orang. Angka sebesar 5,01 persen ini sejatinya menunjukkan kualitas penyerapan lapangan kerja yang baik.
Sebab, penurunan angka pengangguran ini terjadi di tengah tingkat partisipasi angkatan kerja yang juga meningkat.
BPS mencatat, tingkat partisipasi angkatan kerja Februari 2019 di angka 136,18 juta orang atau tumbuh 1,67 persen dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BPS, penurunan jumlah pengangguran ini disebabkan oleh jumlah wirausaha di Tanah Air yang telah tembus 3,1 persen dari total jumlah penduduk yang saat ini sekitar 260 juta jiwa. Angka tersebut telah melampaui standar internasional sebanyak 2 persen. Jumlah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia akan menurun dengan adanya peningkatan jumlah wirausaha.
Apabila kewirausahaan kuat, maka akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang adil, di mana adanya kesenjangan ekonomi akan terus tergerus.
Wirausaha merupakan faktor pendukung yang menentukan maju mundurnya perekonomian suatu negara. Hal ini akan teratasi apabila masyarakat mempunyai minat untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri yaitu dengan bekerja sesuai keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki, tidak perlu mengandalkan untuk mendapatkan pekerjaan dari orang lain atau bekerja pada instansi pemerintah. Wirausahawan yang sukses umumnya memiliki kompetensi yang ditunjukkan oleh sikap dan perilakunya dalam menjalankan usaha. Sikap dan perilaku yang terarah dapat membantu seseorang mencapai prestasi atau kinerja yang diharapkan. Pengertian kinerja atau prestasi usaha
3
adalah hasil kerja yang dicapai perusahaan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas dalam kurun waktu tertentu (Romansyah, 2015).
Usaha yang dapat berkembang merupakan keinginan setiap wirausaha.
Sehingga diharapkan dengan perkembangan tersebut wirausaha mampu bersaing dan mengikuti kemajuan zaman. Karena itu, tujuan yang diharapkan oleh wirausaha dapat tercapai dengan baik. Kemajuan wirausaha dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yang bersifat internal dan eksternal. Sejauh mana tujuan wirausaha telah tercapai dapat dilihat dari seberapa besar wirausaha memenuhi tuntutan lingkungannya. Memenuhi tuntutan lingkungan berarti dapat memanfaatkan kesempatan atau mengatasi tantangan lingkungan atau ancaman dari lingkungan dalam rangka menghadapi atau memenuhi tuntutan dan perubahan-perubahan di lingkungan bisnis.
Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seorang wirausaha sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai tujuan usaha bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Kinerja dapat diartikan sebagai gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi usaha yang tertuang dalam rencana strategi suatu usaha. Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat keberhasilan seorang wirausaha. Kinerja dapat diketahui hanya jika wirausaha tersebut memiliki kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Kriteria keberhasilan ini berupa tujuan-tujuan atau target-target tertentu yang hendak dicapai. Tanpa adanya tujuan serta target, kinerja seseorang
tidak dapat diketahui karena tidak memiliki tolak ukur.
Motivasi berwirausaha yang tinggi harus ada dalam diri seseorang yang ingin menjadi wirausaha yang sukses, karena dengan adanya motivasi berwirausaha yang tinggi dapat membentuk mental yang ada pada diri mereka untuk selalu lebih unggul dan mengerjakan segala sesuatu melebihi standar yang ada. Motivasi berwirausaha juga menjadi faktor penting dalam membangkitkan kinerja usaha. Motivasi merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri seseorang maupun dorongan dari orang lain untuk melakukan pekerjaannya guna untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dalam menjalankan usaha. Motivasi berwirausaha merupakan salah satu pendorong tumbuh kembangnya jiwa wirausaha seseorang. Kesuksesan seseorang seringkali disertai dengan motivasinya yang kuat dalam menjalakan setiap usaha yang dijalaninya. Salah satu motivasi yang paling dibutuhkan pelaku usaha adalah keinginannya untuk terus belajar dan menambah keterampilan. Seperti kita ketahui bersama, motivasi belajar menjadi modal awal bagi para wirausaha untuk mengembangkan bisnisnya.
Lingkungan bisnis juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kinerja usaha. Secara umum lingkungan merupakan segala sesuatu yang ada disekitar objek dan dapat mempengaruhi maupun dipengaruhi subjek tersebut.
Dalam konteks upaya untuk meningkatkan dan mengembangkan kinerja usaha, yang dimaksud lingkungan disini adalah lingkungan yang dengan siapa kita berinteraksi dalam keseharian, seperti lingkungan internal yaitu diri sendiri ataupun keluarga, maupun lingkungan eksternal yang terdiri dari pelanggan,
5
pemasok, pesaing, kreditor, ekonomi, sosial, politik, teknologi, dan ekologi.
Namun tidak semua lingkungan eksternal ini mempunyai signifikansi yang sama dalam mempengaruhi lahir dan berkembangnya wirausaha.
Saat ini persaingan semakin ramai karena banyak orang yang menjadi wirausaha, sehingga masing-masing bisnis saling berlomba menciptakan inovasi terbaru demi mempertahankan eksistensinya. Dapat dipastikan tidak adanya inovasi akan membuat konsumen merasa bosan, meninggalkan produk tersebut, dan bisa dipastikan bisnis akan tenggelam di tengah ketatnya persaingan. Inilah yang mendorong para pelaku bisnis, baik skala kecil maupun besar dituntut untuk selalu berinovasi meningkatkan daya saing usahanya. Hal ini dikarenakan keinginan konsumen yang selalu berubah-ubah dan ketidakpastian lingkungan.
Pelaku bisnis yang memiliki kemampuan berinovasi tinggi akan lebih baik dalam merespon lingkungan dan mengembangkan kemampuan baru yang akan meningkatkan kinerja usaha. Kemampuan dalam produk dan inovasi bisnis sangat penting bagi bisnis untuk mengeksploitasi peluang baru dan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.
Start-up bisnis merupakan salah satu jenis usaha yang memajukan
perekonomian di Indonesia saat ini. Start-up bisnis adalah sebuah perusahaan atau usaha yang baru saja dibangun atau masih dalam masa rintisan. Perusahaan- perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada pada fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pangsa pasar yang tepat.
Start-up bisnis dikelola oleh seorang entrepreneur dengan motivasi untuk mendapatkan laba, kebebasan, impian personal dan kemandirian (Saiman, 2014).
Entrepreneur akan mendapatkan imbalan berupa laba yang diinginkan, keuntungan
yang diperoleh dan besarnya biaya yang akan disalurkan kepada pihak lainnya.
Keuntungan kedua yang diperoleh entrepreneur berupa kebebasan mengalokasikan waktu, bebas dari pengawasan, aturan atau intervensi pada sebuah organisasi. Ketiga dengan menjadi seorang entrepreneur maka impian personal dapat direalisasikan mengubah mimpi menjadi kenyataan hidup tanpa harus mengikuti visi dan misi dari sebuah organisasi yang sudah ditetapkan. Manfaat keempat ketika menjadi entrepreneur menjadikan orang mandiri membuat orang menjadi bangga memiliki
permodalan sendiri serta menjadi pemimpin bagi diri sendiri.
Salah satu start-up bisnis yang berkembang di Indonesia saat ini adalah coffee shop. Dengan meningkatnya mobilitas dan gaya hidup masyarakat yang
dipengaruhi oleh budaya luar, khususnya di kota-kota besar di Indonesia menyebabkan berkembangnya bisnis coffee shop. Coffee shop menjadi tujuan yang diminati terutama oleh kalangan muda untuk sekedar bersantai ataupun berkumpul dengan teman. Coffee shop juga dapat menjadi tempat bertemu dengan rekan bisnis dan arisan. Menurut Kasali (2010) meminum kopi kini bukan lagi sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk, tapi juga sebagai gaya hidup dimana coffee shop menjadi tempat berkumpul yang amat diminati.
Menjamurnya kedai kopi di Indonesia sendiri tak lepas dari semakin tingginya angka minat konsumsi kopi dari tahun ke tahun. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, konsumsi kopi nasional pada 2016 mencapai sekitar 250 ribu ton dan tumbuh 10,54 persen menjadi 276 ribu ton. Konsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016-2021
7
diprediksi tumbuh rata-rata 8,22 persen/tahun. Pada 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795 ribu ton dengan konsumsi 370 ribu ton, sehingga terjadi surplus 425 ribu ton. Angka tersebut jelas menunjukkan pasar peminum kopi yang potensial untuk menjadi sasaran investor dan pebisnis.
Seiring berkembangnya kebiasaan minum kopi dan suksesnya brand- brand coffee shop lokal di Indonesia, menginspirasi para pelaku usaha
terutama di Kota Medan untuk meniru usaha sejenisnya. Start-up bisnis semakin banyak tersebar di Kota Medan yang dipengaruhi oleh munculnya peluang-peluang usaha seperti peningkatan jumlah penduduk yang semakin banyak mengkonsumsi barang dan jasa untuk melangsungkan hidup, pelatihan kewirausahaan yang diberikan oleh instansi pemerintah, bantuan kredit dengan suku bunga yang rendah, pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh industri yang memaksa penduduk untuk membuka usaha secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Start-up bisnis yang berkembang di Kota Medan mayoritas bergerak di bidang makanan dan minuman. Alasan utama perkembangan bisnis ini karena modal yang dibutuhkan untuk menjalankan bisnis relatif kecil dibandingkan jenis bisnis lainnya.
Pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat terutama di Kota Medan memiliki konsekuensi tersendiri untuk start-up bisnis coffee shop seperti di kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor. Medan Sunggal merupakan salah satu kecamatan terbesar di Kota Medan dengan populasi 115.785 penduduk.
Kawasan Medan Sunggal merupakan salah satu kawasan padat penduduk dengan banyaknya pemukiman dan juga variasi usaha yang cukup kompleks
khususnya sektor usaha coffee shop. Medan Sunggal berbatasan sebelah selatan dengan Medan Johor. Menurut Pemerintah Kota Medan (Pemko Medan), di Kecamatan Medan Johor ini banyak terdapat perumahan- perumahan kelas menengah dan mewah, daerah ini sangat potensial bagi para wirausaha yang ingin mengembangkan usahanya. Terjadi persaingan usaha yang ketat di kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor. Mereka bersaing untuk menciptakan kualitas produk masing-masing. Karena mereka menjual produk yang sama, mereka harus mampu menarik pengunjung dengan kopi yang mereka buat. Dengan menjaga kualitas produk, wirausaha dapat memenangkan persaingan usaha start-up bisnis coffee shop di kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor. Hal ini menunjukkan bahwa adanya perkembangan yang signifikan pada start-up bisnis coffee shop di Kota Medan.
Berdasarkan pernyataan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi Terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka perumusan masalah yang akan diteliti adalah:
1. Apakah Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi secara serempak berpengaruh terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor?
2. Apakah Motivasi Berwirausaha berpengaruh terhadap Kinerja Usaha Pada Start-
9
Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor?
3. Apakah Lingkungan Bisnis berpengaruh terhadap Kinerja Usaha Pada Start- Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor?
4. Apakah Inovasi berpengaruh terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pengaruh Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi secara Bersama-sama terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
2. Untuk menganalisis pengaruh Motivasi Berwirausaha terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Lingkungan Bisnis terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Inovasi terhadap Kinerja Usaha Pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dengan melakukan penelitian ini, antara lain:
1. Bagi Pelaku Bisnis
Penelitian ini dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi Start-up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor tentang pengetahuan
Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi terhadap Kinerja Usaha.
2. Bagi Peneliti
Memberikan pengembangan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan serta pola pikir dalam menganalisis hubungan Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi terhadap Kinerja Usaha.
3. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi yang dapat dijadikan bahan perbandingan dalam melakukan penelitian di masa yang akan datang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kewirausahaan, UMKM, dan Start-Up Bisnis 2.1.1 Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses (Suryana, 2013). Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk mengelola sesuatu yang ada dalam diri untuk dimanfaatkan dan ditingkatkan agar lebih optimal sehingga bisa meningkatkan taraf hidup di masa mendatang (Hendro, 2011). Menurut Kasmir (2016) secara sederhana wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil risiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Menurut Daryanto (2012) kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai risiko yang mungkin dihadapinya. Dalam bidang tertentu, kewirausahaan telah menjadi kompetensi inti guna menciptakan perubahan, pembaruan, dan kemajuan.
Kewirausahaan tidak hanya dapat digunakan sebagai kiat bisnis jangka pendek, tetapi juga sebagai kiat kehidupan secara umum dalam jangka panjang.
Berkewirausahaan merupakan suatu penciptaan nilai melalui pengenalan kesempatan bisnis, manajemen pengambilan resiko yang tepat, dan melalui keterampilan komunikasi dan manajemen untuk memobilisasi manusia, uang, dan
bahan-bahan atau sumber daya lain yang diperlukan untuk menghasilkan proyek supaya terlaksana dengan baik. Kewirausahaan juga berarti proses dinamis atas penciptaan tambahan kekayaan oleh individu yang berani mengambil resiko utama dengan syarat-syarat kewajaran, waktu, dan komitmen karier atau penyediaan nilai-nilai untuk berbagai barang dan jasa (Saiman, 2014). Seseorang yang memiliki bakat berwirausaha dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan dan pelatihan. Mereka yang menjadi wirausaha adalah orang-orang yang mengenal potensi dan belajar mengembangkannya untuk menangkap peluang serta mengorganisasi usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu untuk menjadi wirausaha yang sukses, tidak cukup hanya memiliki bakat saja, tetapi juga memiliki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuni antara lain keuangan, produksi, pemasaran, dan akuntansi. Menurut Riye (dalam Saiman, 2014), ada beberapa kualifikasi profil wirausaha agar bisa berhasil dalam membangun bisnisnya, yaitu:
1. Seseorang yang berprestasi tinggi
Seorang wirausahawan dituntut untuk memiliki prestasi yang tinggi, sehingga diperlukannya kerja sama dengan berbagai pihak terutama dengan pihak yang bisa membantu memecahkan masalah dalam berbisnis. Dalam setiap langkah harus memikirkan pandangan jangka pendek maupun jangka panjang dan bisa menentukan visi dan misi bisnisnya.
2. Pengambil resiko
Seorang wirausahawan tidak boleh takut dalam menghadapi atau memikul resiko, namun tidak sebagai pengambil resiko yang terlalu rendah ataupun terlalu
13
tinggi. Jika memungkinkan, sebaiknya memilih resiko menengah sehingga jika berani mengambil resiko maka pebisnis dapat mengambil peluang-peluang yang ada didepannya sehingga tujuan yang diinginkan tercapai.
3. Pemecah masalah
Seorang pebisnis harus mampu memecahkan masalah dan sekaligus dapat menyelesaikannya dengan efisien dan efektif atas masalah yang dihadapi.
4. Pencari status
Para wirausahawan lebih menyukai apabila mendapatkan pujian atas bisnis yang dibangunnya.
5. Memiliki tingkat cadangan energi yang tinggi
Para wirausaha dituntut untuk sehat jasmani dan rohani serta dapat melebihi dari tuntutan jam kerja normal atau dapat bekerja pada kurun waktu yang panjang. Hal ini dikarenakan mereka yang mengelola waktu dengan mandiri, dan pada tahap awal membutuhkan waktu yang panjang.
6. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi
Percaya diri bahwa seorang wirausaha memiliki keterampilan, kemauan, dan kemampuannya sendiri, dan dapat menguasai hidup tanpa bergantung pada pihak lain.
7. Menghindari emosi
Harus dapat menghindari hal-hal yang dapat mengakibatkan berkembangnya hubungan yang buruk dengan mitra usaha. Dan tidak menganggap bisnis sebagai suatu beban.
8. Memerlukan kepuasan pribadi
Wirausahawan umumnya termotivasi oleh sesuatu kebutuhan akan prestasi pribadi sehingga mereka harus mengatur usahanya secara fleksibel, tidak perlu meniru bentuk struktur organisasi tradisonal yang birokratis, namun harus dapat bentuk sendiri struktur yang dibutuhkan, sehingga muncul kepuasan diri pribadi atas keberhasilannya.
Menurut Hutagalung (2010) tipe kewirausahaan dibagi atas empat, antara lain sebagai berikut :
1. The personal achiever, ciri-ciri wirausaha tipe personal achiever adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kebutuhan berprestasi b. Memiliki kebutuhan atas umpan balik
c. Memiliki kebutuhan perencanaan dan penetapan tujuan 2. The supersales person, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Memiliki kemampuan memahami dan mengerti orang lain b. Memiliki keinginan untuk membantu orang lain
c. Percaya bahwa proses-proses sosial sangat penting 3. The real manager, ciri-ciri tipe ini adalah sebagai berikut :
a. Keinginan untuk bersaing b. Ketegasan
c. Keinginan untuk menonjol di antara orang-orang lain
4. The expert idea generation, ciri-ciri wirausaha tipe expert idea generation adalah sebagai berikut:
a. Keinginan untuk melakukan inovasi
15
b. Menyukai gagasan-gagasan c. Inteligensi yang tinggi
2.1.2 UMKM
Menurut peraturan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Pengertian UMKM adalah sebagai berikut:
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Kriteria asset: maksimal Rp. 50 Juta, kriteria omzet: maksimal Rp. 300 juta rupiah.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. Kriteria asset: Rp. 50 juta - Rp. 500 juta, kriteria omzet: Rp. 300 juta - Rp. 2,5 Miliar rupiah.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Kriteria asset: Rp. 500 juta – Rp. 10 Miliar, kriteria omzet: Rp. 2,5 Miliar – Rp. 50 Miliar rupiah.
Berdasarkan perkembangan UMKM di Indonesia dibedakan menjadi empat kriteria yaitu sebagai berikut:
1. Livelihood Activities, merupakan Usaha Kecil Menengah yang digunakan sebagai kesempatan kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal. Contohnya adalah pedagang kaki lima.
2. Micro Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang memiliki sifat pengrajin tetapi belum memiliki sifat kewirausahaan.
3. Small Dynamic Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4. Fast Moving Enterprise, merupakan Usaha Kecil Menengah yang telah memiliki jiwa kewirausahaan dan akan melakukan transformasi menjadi Usaha Besar (UB).
2.1.3 Start-Up Bisnis
Menurut Ramdhan (2016) start-up bisnis adalah perusahaan yang belum lama beroperasi. Perusahaan-perusahaan ini sebagian besar merupakan perusahaan yang baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Start-up adalah institusi manusia, bisa berupa individu/perorangan atau perusahaan. Start-up didirikan oleh perorangan atau perusahaan dalam rangka untuk menjual produk atau jasa baru. Start-up sebagai bisnis baru yang didirikan menghadapi kondisi ketidakpastian yang sangat tinggi, apakah start-up tersebut akan berhasil atau gagal (Ries, 2011).
Menurut Ries (2011) tahap perkembangan kewirausahaan terdiri dari dua
17
tahap yaitu tahap awal (start-up) dan tahap pertumbuhan (growth). Tujuan tahap start-up adalah tercapainya kesinambungan tujuan dan rencana pokok atau
menciptakan ide-ide ke pasar. Ciri-ciri tahap start-up adalah fokus pada masa yang akan datang dibandingkan masa sekarang dan usaha-usaha menengah diarahkan untuk jangka panjang, pengambil resiko yang moderat dengan tingkat toleransi yang tinggi terhadap perubahan dan kegagalan, kapasitas untuk menemukan ide-ide inovatif yang memberi kepuasan kepada konsumen, pengetahuan teknik dan pengalaman di bidangnya.
Menurut Ramdhan (2016) ciri-ciri perusahaan baru yang bisa disebut sebagai perusahaan start-up adalah sebagai berikut:
1. Sebuah perusahaan yang dikatakan sebagai perusahaan start-up adalah karena perusahaan tersebut belum berdiri lama. Perusahaan tersebut setidaknya baru berdiri kurang lebih dari 3 tahun. Start-up bisa dikatakan sebagai bayi yang baru lahir.
2. Memiliki ide yang sangat inovatif & disruptif.
3. Memiliki mobile application untuk mendukung core business-Nya.
4. Sedang menjalani program-program dari investor, seperti akselerator atau inkubasi.
5. Memiliki growth bisnis yang sangat cepat dibanding usaha lainnya.
6. Masuk ulasan di media-media yang memang khusus mengulas start-up.
2.2 Kinerja Usaha
2.2.1 Definisi Kinerja Usaha
Menurut Dharma (2010) kinerja adalah suatu cara untuk mendapatkan hasil
yang lebih baik bagi individu, kelompok ataupun organisasi dengan memahami dan mengelola kinerja sesuai dengan target yang telah direncanakan, standar dan persyaratan kompetensi yang telah ditentukan. Menurut Fairoz (2010) kinerja usaha telah dilaporkan sebagai hasil dari tujuan-tujuan organisasi yang dicapai melalui efektifitas strategi dan teknik. Dengan adanya pengukuran kinerja akan dapat dilakukan pengevaluasian dengan membandingkan kinerja yang ditetapkan dengan yang sesungguhnya. Dari hasil perbandingan tersebut, pelaku usaha dapat mengetahui seberapa besar penyimpangan yang terjadi dan seberapa jauh kemajuan yang telah tercapai dan tidak tercapai, sehingga dapat diambil tindakan untuk mengatasinya. Faktor yang terutama dalam mengukur suatu kinerja usaha adalah analisis terhadap perilaku yang diperlukan untuk mencapai hasil yang telah disepakati, bukan penilaian terhadap kepribadian (Dharma, 2010).
Kinerja usaha atau prestasi usaha adalah hasil kerja yang dicapai perusahaan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas dalam kurun waktu tertentu (Romansyah, 2015). Menurut Moeheriono (2012) kinerja adalah sebagai ukuran kuantitatif dan kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kinerja dapat dipandang sebagai proses maupun hasil pekerjaan. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana proses mengerjakannya serta hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan yang kuat dengan tujuan strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi ekonomi (Wibowo, 2016).
Menurut Nasucha (2014) kinerja organisasi merupakan efektifitas
19
secara menyeluruh dalam suatu organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu kelompok melalui usaha yang sistematik dan meningkatkan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan yang sistematik.
Menurut Supriyanto (2010) dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi dapat melakukan usaha-usaha dari sumbernya yang berkualitas.
Usaha ini dapat berupa pengembangan, perbaikan sistem kerja, sebagai kelanjutan penilaian terhadap prestasi kerja karyawan yang telah dicapainya dengan kemampuan yang telah dimilikinya pada kondisi tertentu. Dengan demikian kinerja merupakan hasil keterkaitan antara usaha, kemampuan, dan persepsi tugas yang telah dibebankan.
2.2.2 Dimensi Kinerja Usaha
Menurut Wibowo (2016) terdapat dua dimensi kinerja usaha, yaitu:
1. Kuantitatif: Kuantitatif adalah ukuran yang didasarkan pada data empiris dan hasil angka yang mengkarakteristikkan kinerja dalam bentuk fisik atau bentuk lain. Dimensi kuantitatif menjelaskan berupa pencapaian keuangan, produksi, pemasaran dan jumlah tenaga kerja. Pertumbuhan dari jumlah pelanggan ataupun dari sektor lain di dalam bisnis termasuk kedalam dimensi kuantitatif.
Indikator untuk melihat kinerja perusahaan dapat dilihat dari meningkatnya pencapaian pangsa pasar, keuangan, produksi dan jumlah tenaga kerja.
2. Kualitatif: Kualitatif adalah ukuran yang didasarkan pada penilaian pandangan persepsi seseorang berdasarkan pengamatan dan penilaianya terhadap sesuatu. Ukuran kinerja kualitatif berupa kedisiplinan, kualitas pencapaian tujuan, perilaku individual dalam organisasi dan efektifitas.
Dimensi kualitatif menjadi penting karena fokus pada manusia itu sendiri sebagai pelaku kegiatan akan menjadi sangat kuat.
2.2.3 Indikator Kinerja Usaha
Pengukuran kinerja suatu usaha dapat dilakukan dengan berbagai ukuran dan cara. Banyak faktor yang dapat dijadikan ukuran kinerja, namun ukuran kinerja harus relevan, signifikan dan komprehensif. Tipe ukuran kinerja diklasifikasikan sebagai berikut (Wibowo, 2016):
1. Produktivitas, yaitu hubungan antara input dan output fisik suatu proses.
2. Kualitas, yaitu baik ukuran internal maupun ukuran eksternal.
3. Ketepatan waktu, yaitu mengukur apakah orang melakukan apa yang dikatakan akan dilakukan.
4. Cycle time, yaitu selang waktu yang diperlukan dalam keberlanjutan proses.
5. Pemanfaatan sumber daya, yaitu diterapkan pada mesin, komputer, kendaraan, dan manusia.
6. Biaya, yaitu dilakukan dalam kalkulasi per unit namun pada umumnya dikalkulasikan menyeluruh.
2.3 Motivasi Berwirausaha
2.3.1 Definisi Motivasi Berwirausaha
Menurut Danim (2012) motivasi diartikan sebagai kekuatan, dorongan, kebutuhan, semangat, tekanan, atau mekanisme psikologi yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai prestasi tertentu sesuai dengan apa yang dikehendakinya. Motivasi berwirausaha merupakan suatu
21
dorongan dan energi yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan suatu usaha. Motivasi berwirausaha ada pada setiap orang yang memiliki perilaku inovatif, kreatif, dan pada setiap orang yang menyukai perubahan, pembaruan, kemajuan, dan tantangan (Suryana, 2013).
Kemudian menurut Handoko (2011) motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Sedangkan menurut Rivai (2011) motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Menurut Daft (2012) bahwa mereka dengan dorongan prestasi yang tinggi berbeda dari orang lain dalam keinginan kuat mereka untuk melakukan hal-hal dengan lebih baik. Mereka mencari kesempatan- kesempatan dimana mereka memiliki tanggung jawab pribadi dalam menemukan jawaban-jawaban terhadap masalah. Mereka yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi paling tinggi adalah para wirausahawan yang berhasil.
Kebutuhan untuk berkuasa juga merupakan kebutuhan adanya keinginan yang kuat untuk mengendalikan orang lain, untuk mempengaruhi orang lain, dan untuk memiliki dampak terhadap orang lain. Orang yang ingin kekuasaannya besar adalah mereka yang suka untuk menjadi pemimpin. Kebutuhan untuk berafiliasi adalah orang dengan kebutuhan berafiliasi yang tinggi. Mereka ingin disukai orang lain dan menghindari konflik. Berdasarkan semua teori tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi berwirausaha adalah semua kekuatan yang memberi energi, daya, arah, dan dorongan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan, baik pemenuhan kebutuhan atau pencapaian kepuasan dalam berwirausaha.
2.3.2 Dimensi Motivasi Berwirausaha
Adapun dimensi motivasi berwirausaha menurut McClelland (dalam Daft, 2012) adalah prestasi, afiliasi, dan kekuasaan.
1. Motivasi prestasi (achievement motivation), adalah dorongan dalam diri seseorang untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam mencapai tujuan. Entrepreneur yang berorientasi dan bekerja keras apabila mereka memandang bahwa mereka akan memperoleh kebanggaan pribadi atas upaya mereka, apabila hanya terdapat sedikit resiko gagal, dan apabila mereka mendapat balikan spesifik tentang prestasi diwaktu lalu.
2. Motivasi afiliasi (affiliation motivation), adalah dorongan untuk berhubungan dengan orang-orang atas dasar sosial. Orang-orang yang bermotivasi afiliasi bekerja lebih baik apabila mereka dipuji karena sikap dan kerja sama mereka yang menyenangkan.
3. Motivasi kekuasaan (power motivation), adalah dorongan untuk mempengaruhi orang-orang dan mengubah situasi. Orang-orang yang bermotivasi kekuasaan ingin menimbulkan dampak dan mau memikul resiko untuk melakukan hal itu.
Motivasi menjadi wirausaha adalah sesuatu yang melatar belakangi atau mendorong seseorang melakukan aktivitas dan memberi energi yang mengarah pada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurangi ketidakseimbangan dengan membuka suatu usaha atau bisnis (Zimmerer dalam Kasmir, 2016). Berdasarkan pemaparan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dimensi motivasi berwirausaha adalah motivasi berprestasi, motivasi afiliasi,
23
motivasi kekuasaan, dan motivasi kompetensi.
2.3.3 Indikator Motivasi Berwirausaha
Indikator di bagi menjadi tiga dimensi dimana kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan afiliasi, maupun kebutuhan akan kekuasaan. Tiga dimensi kebutuhan ini diperkuat oleh McClelland (dalam Hasibuan, 2013), dimensi dan indikator motivasinya adalah sebagai berikut:
1. Indikator kebutuhan akan prestasi, yaitu:
a. Mengembangkan kreativitas b. Antusias untuk berprestasi tinggi.
2. Indikator kebutuhan akan afiliasi, yaitu:
a. Kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain di lingkungan ia tinggal dan bekerja.
b. Kebutuhan akan perasaan dihormati, karena setiap manusia merasa dirinya penting.
c. Kebutuhan akan perasaan maju dan tidak gagal.
d. Kebutuhan akan perasaan ikut serta.
3. Indikator kebutuhan akan kekuasaan, yaitu:
a. Memiliki kedudukan yang terbaik.
b. Mengerahkan kemampuan demi mencapai kekuasaan.
2.4 Lingkungan Bisnis
2.4.1 Definisi Lingkungan Bisnis
Menurut Buchory (2010) lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat
diperhitungkan dalam pengelolaan kegiatan bisnis. Menurut Alma (2013) dorongan membentuk wirausaha juga datang dari lingkungan seperti teman sepergaulan, lingkungan keluarga, sahabat dimana mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha, masalah yang dihadapi dan cara mengatasi. Menurut Alma (2013) lingkungan dalam bentuk role models juga berpengaruh terhadap minat berwirausaha biasanya melihat kepada orang tua, keluarga, teman, dan pengusaha yang sukses. Menurut Alma (2013) pekerjaan orang tua sering terlihat bahwa ada pengaruh dari orang tua yang bekerja sendiri maka cenderung anaknya akan menjadi wirausaha. Situasi seperti ini sering kali memberikan inspirasi anak sejak kecil. Lingkungan masyarakat juga berpengaruh terhadap minat berwirausaha biasanya seseorang yang tinggal di suatu daerah yang mayoritas wirausaha akan tertarik berwirausaha. Dorongan teman juga sangat berpengaruh terhadap semangat membuka usaha karena dapat berdiskusi lebih bebas, teman biasanya memberikan dorongan, pengertian, bahkan bantuan (Alma, 2013). Menurut Suryana (2013) bahwa lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalannya perusahaan.
Lingkungan yang dapat mempengaruhi jalannya usaha adalah lingkungan internal dan eksternal. Lingkungan internal adalah para pelaku yang secara langsung berkaitan dengan lingkungan yang mempengaruhi perusahaan. Lingkungan eksternal adalah kekuatan-kekuatan yang timbul dan berada diluar jangkauan serta biasanya terlepas dari situasi operasional perusahaan (Buchory, 2010).
Menurut Buchory (2010) beberapa alasan pentingnya analisis faktor lingkungan dilakukan, yaitu sebagai berikut:
1. Lingkungan berubah sangat cepat atau dinamis sehingga para pimpinan
25
perusahaan perlu menganalisis dan mendiagnosis perubahan lingkungan tersebut.
2. Para pimpinan perlu menyelidiki lingkungan, khususnya untuk:
a. Menentukan apakah faktor-faktor dalam lingkungan saat sekarang mengancam strategi dan pencapaian tujuan perusahaan.
b. Menentukan apakah faktor-faktor dalam lingkungan saat sekarang mengancam strategi dan pencapaian tujuan perusahaan.
3. Perusahaan yang secara sistematis melakukan analisis dan diagnosis lingkungan umumnya lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak melakukannya.
Dapat disimpulkan bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam menjalankan sebuah usaha, dengan lingkungan yang dinamis dan strategi memungkinkan usaha akan berkembang sangat cepat.
2.4.2 Dimensi Lingkungan Bisnis
Dimensi lingkungan bisnis menurut Jauch (dalam Buchory, 2010) adalah sebagai berikut:
1. Biaya Bisnis
Perusahaan biasanya memperhatikan segi biaya yang dikeluarkan untuk operasinal perusahaan dalam membuat suatu barang.
2. Ketersediaan Tenaga Kerja
Ketersediaan tenaga kerja dalam penelitian ini memiliki indikator-indikator pada staf manajerial, pengurangan teknisi, pekerjaan yang terkait, pengurangan karyawan yang terlatih, dan pekerja produksi.
3. Tingkat Persaingan
Persaingan dalam suatu industri terus-menerus menekan tingkat hasil
pengembalian modal yang ditanamkan menuju tingkat hasil pengembalian dasar yang bersaing atau tingkat pengembalian yang akan dinikmati oleh industri yang dalam istilah ekonomi dinamakan industri persaingan sempurna.
2.4.3 Indikator Lingkungan Bisnis
Indikator lingkungan bisnis menurut Jauch (dalam Buchory, 2010) adalah sebagai berikut:
1. Biaya Bisnis
a. Peningkatan biaya tenaga kerja b. Peningkatan biaya material
c. Peningkatan biaya pengangkutan bahan mentah dan barang jadi d. Peningkatan biaya penyewaan gedung
2. Ketersediaan Tenaga kerja
a. Pengurangan staf manajerial dan administrasi b. Pengurangan teknisi
c. Pengurangan staf produksi 3. Tingkat Pesaing
c. Tajamnya persaingan dalam pasar lokal d. Peningkatan permintaan konsumen
e. Produksi untuk memenuhi standar kualitas 4. Dimensi Pasar
a. Tingkat produk dan jasa menjadi ketinggalan dibanding pesaing b. Tingkat inovasi produk baru
27
2.5 Inovasi
2.5.1 Definisi Inovasi
Menurut Suryana (2013) inovasi adalah kreativitas yang diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat diimplementasikan dan memberikan nilai tambah atas sumber daya yang dimiliki. Menurut Winardi (2014) inovasi merupakan timbulnya sesuatu hal yang baru, misalnya berupa sebuah ide baru, sebuah teori baru, sebuah hipotesis baru, sebuah gaya baru penulisan, atau cara melukis sebuah invensi, atau sebuah metode baru untuk manajemen sebuah organisasi.
Inovasi memerlukan pencarian kesempatan baru, hal ini berarti perbaikan barang dan jasa yang ada atau menciptakan barang dan jasa yang baru. Inovasi juga merupakan kemampuan mengkombinasikan unsur-unsur produksi yang ada dengan cara baru dan lebih baik (Wiratmo, 2011).
Menurut Goman (dalam Alma, 2013) inovasi adalah penerapan secara praktis gagasan yang kreatif. Kata inovasi dapat diartikan sebagai proses atau hasil pengembangan atau pemanfaatan mobilisasi pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan. Inovasi sebagai sebuah objek juga memiliki arti sebagai suatu produk baru yang tersedia bagi aplikasi, umumnya dalam suatu konteks komersial, biasanya beragam tingkat kebaruannya dapat dibedakan, bergantung pada konteksnya. Suatu inovasi dapat bersifat baru bagi perusahaan, baru bagi pasar, negara atau daerah, bahkan bagi dunia.
Menurut Hendro (2011) faktor-faktor pendukung untuk tercapainya keberhasilan penerapan kemampuan inovatif adalah :
1. Harus berorientasi pasar
Hubungan inovasi dengan pasar yang didalamnya terdapat 5C, yaitu:
Competitor (pesaing), Competition (persaingan), Change of Competition
(perubahan persaingan), Change Driver (penentu arah perubahan), dan Customer Behavior (perilaku konsumen).
2. Mampu meningkatkan nilai tambahan perusahaan
Adanya value added sehingga mampu menjadi pendongkrak pertumbuhan dan perkembangan perusahaan.
3. Punya unsur efisiensi dan efektifitas
Tanpa adanya efisiensi dan efektifitas dari sebuah inovasi yang ditemukan, maka inovasi tersebut tidak mempunyai arti atau dampak bagi kemajuan perusahaan.
4. Harus sejalan dengan visi dan misi perusahaan
Harus sejalan dengan visi dan misi perusahaan agar tidak menyimpang dari arah pertumbuhan usaha.
5. Harus bisa ditingkatkan lagi
Inovasi harus bisa diinovasikan lagi sehingga terjadi inovasi yang berkelanjutan hingga menumbuhkan perusahaan menjadi lebih baik dan lebih berkembang.
Menurut Hendro (2011) ada beberapa sumber yang bisa mendorong terjadinya sebuah inovasi. Sumber-sumber tersebut adalah sebagai berikut:
1. Perbedaan antara permintaan dan penawaran
Di suatu negara yang mempunyai budaya tertentu biasanya jika penawaran
29
barang atau produk tidak sesuai dengan kondisi permintaan yang ada, maka kejadian ini bisa memunculkan sebuah inovasi.
2. Penciptaan permintaan karena kecenderungan (trend)
Adanya kecenderungan pola hidup masyarakat disuatu negara yang menyukai produk yang instan maka muncul produk-produk lain yang mengikuti trend tersebut.
3. Perubahan (change)
Setiap perubahan pasti diikuti oleh seseorang untuk dimanfaatkan, misalnya perubahan ekonomi, perubahan teknologi, perubahan sosial.
4. Masalah yang belum terpecahkan dalam jangka waktu yang lama
Terkadang masalah yang diselesaikan dengan cara pemikiran kreatif saja belum tentu bisa memecahkan masalah dalam jangka waktu yang dapat menghilangkan masalah.
5. Inovasi yang ditujukan untuk mengganti inovasi produknya sendiri
Hampir sebagian besar industri berteknologi tinggi menggunakan prinsip ini agar produknya bisa diganti dengan produk yang baru diluncurkan sehingga masih bisa menjadi pemimpin pasar.
2.5.2 Dimensi Inovasi
Menurut Soegoto (2017) dimensi inovasi adalah sebagai berikut:
1. Inovasi Produk (Product innovation)
Inovasi produk merupakan hasil dari pengembangan produk baru oleh suatu perusahaan atau industri, baik yang sudah ada maupun belum. Dari produk lama yang telah mencapai titik jenuh di pasaran, diperlukan sebuah inovasi
untuk mengganti produk lama tersebut.
2. Inovasi proses (Process innovation)
Dalam kegiatan operasional, sebuah organisasi harus menyederhanakan proses kerja untuk memperoleh efisiensi, atau menemukan proses yang baru dengan meninggalkan proses operasi yang lama demi membuat loncatan dalam pencapaian hasil kerja organisasi.
3. Inovasi Pasar (Market innovation)
Inovasi pasar adalah penerapan metode pemasaran yang baru atau peningkatan signifikan pada pengemasan atau desain produk, penempatan produk, promosi produk, atau harga.
2.5.3 Indikator Inovasi
Menurut Soegoto (2017) indikator inovasi adalah sebagai berikut:
1. Inovasi produk (Product innovation) a. Variasi jenis produk
b. Variasi bentuk produk c. Variasi rasa produk
d. Variasi ukuran/berat/kemasan produk e. Variasi harga produk
2. Inovasi proses (Process Innovation) a. Perbaikan alat prosuksi yang telah ada b. Pemanfaatan alat atau teknologi baru 3. Inovasi pasar (Market innovation)
a. Penambahan kios baru
31
b. Perluasan segmen pasar
2.6 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Daftar Penelitian Terdahulu
No Peneliti (Tahun)
Judul Penelitian
Variabel
Penelitian Hasil Penelitian 1 Aftan &
Hanapi (2018)
The Impact of Entrepreneurial Motivation on Small Business Performance in Iraq
Independen:
Motivasi Berwirausaha Dependen:
Kinerja Usaha
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi berwirausaha berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja usaha 2 Bagenda,
Sule, Febrian, &
Sari (2016)
The Influence of Business Environment and Business Strategy on Business Performance
Independen:
1.Lingkungan Bisnis 2. Strategi Bisnis Dependen:
Kinerja Usaha
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan bisnis dan strategi bisnis secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha
3 Sun, Yao, Zhang, Chen
& Liu (2015)
Entrepreneurial Environment, Market-Oriented Strategy, and Entrepreneurial Performance
Independen:
1. Lingkungan Bisnis 2. Strategi Orientasi
Pasar Dependen:
Kinerja Usaha
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan bisnis dan strategi orientasi pasar secara bersama-sama berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja usaha
4 Mohammad Rosli dan Syamsuria
Sidek (2013)
The Impact of Innovation on the Performance of Small and Medium Manufacturing Enterprises:
Evidence from Malaysia
Independen:
Inovasi Dependen:
Kinerja Usaha
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Inovasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha
5 Fauzul Mafasiya
Fairoz (2010)
Entrepreneurial Orientation and Business Performance of Small and Medium Scale Enterprises of Hambantota District Sri Lanka
Independen:
1.Orientasi Kewirausahaan 2.Kinerja Usaha
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orientasi
kewirausahaan dan kinerja usaha secara bersama-sama berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja usaha UMKM
Lanjutan Tabel 2.1
No Peneliti (Tahun)
Judul Penelitian
Variabel
Penelitian Hasil Penelitian 6 Gerry
Segal, Dan Borgia,
Jerry Schoenfel
(2005)
The Motivation to Become an Entrepreneur
Independen:
Motivasi Berwirausaha Dependen:
Minat
Berwirausaha
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi berwirausaha berpengaruh positif signifikan terhadap minat berwirausaha 7 Dubini
(1988)
The Influence of Motivations and Environment on Business Start- Ups: Some Hints For Public Policies
Independen:
1. Motivasi Berwirausaha 2. Lingkungan Bisnis
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi berwirausaha dan lingkungan bisnis secara bersama-sama berpengaruh positif signifikan terhadap Start-Up Bisnis
2.7 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah suatu model yang menerangkan bagaimana hubungan suatu teori dengan faktor-faktor yang telah diketahui dalam suatu masalah tertentu. Kerangka konseptual dimaksudkan untuk menggambarkan paradigma penelitian sebagai jawaban atas masalah penelitian. Kerangka konseptual akan menjelaskan secara teoritis hubungan antar variabel yang diteliti yaitu variabel independen dan variabel dependen. Kerangka penelitian ini untuk mempermudah jalan pemikiran terhadap permasalahan yang dibahas.
Di era globalisasi ini, wirausahawan berlomba untuk menjadi wirausaha yang sukses. Wirausahawan yang sukses umumnya memiliki kompetensi yang ditunjukkan oleh sikap dan perilakunya dalam menjalankan usaha. Sikap dan perilaku yang terarah dapat membantu seseorang mencapai prestasi atau kinerja yang diharapkan. Pengertian kinerja atau prestasi usaha adalah hasil kerja yang dicapai perusahaan, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas dalam kurun
33
waktu tertentu (Romansyah, 2015).
Salah satu faktor yang mempengaruhi Kinerja Usaha adalah Motivasi Berwirausaha. Berdasarkan Aftan & Hanapi (2018) bahwa Motivasi Berwirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Usaha.
Lingkungan Bisnis juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan Kinerja Usaha. Berdasarkan Sun et al (2015) bahwa Lingkungan Bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Usaha.
Faktor lain yang mempengaruhi Kinerja Usaha adalah Inovasi.
Berdasarkan Rosli & Sidek (2013) bahwa Inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Usaha.
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat digambarkan kerangka konseptual yang diajukan adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.8 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2017).
Inovasi Lingkungan
Bisnis Motivasi Berwirausaha
Kinerja Usaha
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual yang dikemukakan di atas, dapat dirumuskan hipotesis sementara sebagai berikut:
1. Motivasi Berwirausaha, Lingkungan Bisnis, dan Inovasi secara serempak berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Usaha pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
2. Motivasi Berwirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Usaha pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
3. Lingkungan Bisnis berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Usaha pada Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
4. Inovasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Usaha pada Start- Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian adalah cara atau jalan yang ditempuh sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, yang memiliki langkah-langkah yang sistematis. Dilihat dari jenis penelitiannya, jenis penelitian ini adalah penelitian asosiatif. Menurut Sugiyono (2017) penelitian asosiatif adalah suatu rumusan masalah penelitian yang bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Hal ini dapat dilihat dari variabel yang dihubungkan dalam penelitian ini, yaitu variabel Motivasi Berwirausaha (X1), Lingkungan Bisnis (X2), dan Inovasi (X3) serta variabel terikat yaitu Kinerja Usaha (Y).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Usaha Start-Up Bisnis Coffee Shop di Kawasan Medan Sunggal dan Medan Johor. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juni 2019 sampai dengan bulan Agustus 2019.
3.3 Batasan Operasional
Untuk menghindari pembahasan yang tidak terarah dan mengakibatkan tidak tepatnya sasaran yang diharapkan, maka langkah berikutnya peneliti perlu membatasi masalah yang di bahas, hanya pada:
1. Variabel bebas, yaitu variabel Motivasi Berwirausaha (X1), Lingkungan Bisnis (X2), dan Inovasi (X3)
2. Variabel Terikat, yaitu Kinerja Usaha (Y)