2.1. Studi Literatur
Hal pertama yang harus diperhatikan untuk mempromosikan suatu produk adalah menganalisa situasi yang berhubungan dengan produk yang akan dipromosikan. Analisa meliputi analisa industri, analisa pasar, analisa konsumen, analisa pesaing dan persaingan serta analisa lingkungan makro. Selain analisa, perlu diketahui terlebih dahulu teori-teori yang berhubungan dengan produk dan promosinya. Adapun tujuan dalam menganalisa teori dan situasi adalah agar produk yang akan dipromosikan bisa tepat sasaran dan memberikan manfaat serta memenuhi kebutuhan konsumen.
2.1.1. Teori Pemasaran
Kegiatan seperti pengembangan produk, pencarian, komunikasi, distribusi, penerapan harga dan pelayanan merupakan inti dari kegiatan pemasaran.
Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Proses pertukaran melibatkan kerja, penjual harus mencari pembeli, mengenali kebutuhan, merancang produk yang tepat, mempromosikan produk tersebut, menyimpan, mengangkut, menegosiasikan dan lain sebagainya. (Kotler, 1987).
2.1.2. Teori Periklanan
Periklanan merupakan suatu metode penyampaian pesan dari seorang sponsor melalui sebuah medium impersonal (bukan tatap muka) kepada orang banyak. Hubungan periklanan dengan proses pemasaran adalah iklan merupakan
’tangan’ komunikasi.
Peranan periklanan sangat banyak, diantaranya periklanan dapat dirancang untuk mendukung suatu maksud. Periklanan dapat digunakan untuk memilih seorang calon, mengumpulkan dana, akan tetapi sebagian besar periklanan digunakan untuk pemasaran barang dan jasa. Menurut Rhenald Kasali (Rhenald, 1992), iklan adalah pesan penawaran suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat media dengan jalan membujuk orang untuk membeli.
Iklan memiliki banyak hal yang dapat mempengaruhinya, antara lain (Kotler 1987:88)
1. Membangun kesadaran, iklan membantu agar sesuatu dikenal
2. Menumbuhkan atau membangun sikap-sikap yang diinginkan, mendorong tumbuhnya pandangan yang positif mengenai suatu produk atau jasa
3. Membangun identitas iklan, membantu menanamkan citra atau ciri-ciri tertentu terhadap suatu produk
4. Memposisikan produk di pasar yang tersegmentasi, iklan membantu memposisikan suatu produk dalam segmen dan mengidentifikasikan produk dengan segmen tersebut
Iklan yang baik adalah iklan yang mempunyai kriteria yang dapat : 1. Meluncurkan dan memperkenalkan produk baru
2. Menarik perhatian dan minat orang yang melihat
3. Menanamkan image yang kuat tentang produk dan brand awareness produk
4. Menumbuhkan permintaan atau daya beli konsumen
5. Mendukung kinerja penjualan, citra perusahaan dan para distributor 6. Memenangkan persaingan di pasar
2.1.3. Teori Merek
Untuk mendapatkan aset yang paling berharga yang diperlukan seorang pemasar, kita perlu memahami dengan cermat beberapa unsur pemasaran yang dipakai. Produk bukanlah sekedar produk yang dipabrikasikan, tetapi diciptakan untuk pengembangan produk berikutnya. Sebuah produk hanya lahir di dalam dan melalui proses komunikasi. Komunikasi memproklamasikan identitas tunggal dan tahan lamanya, wilayahnya, dan sebagainya. Sebagai sebuah produk yang baik, produk harus dapat dibedakan dari pesaingnya. Dalam lingkungan pemasaran penting sekali bahwa setiap komunikasi memperkuat personalitas merek.
Periklanan, hubungan masyarakat, display (peragaan), penjualan dan promosi semuanya harus dikelola untuk membangun ekuitas dengan mengkomunikasikan pesan merek yang sama kepada para konsumen.
2.1.4. Tinjauan Gambar
Di jaman modern dalam era komunikasi-informasi seperti saat ini, bahasa gambar sangat dibutuhkan karena seiring perkembangan teknologi selain sebagai media estetika yang ekspresif, gambar tidak pernah kehilangan peranannya sebagai media komunikasi. Gambar melengkapi bahasa lisan dan tulisan dalam menjelaskan keberadaan suatu obyek. Gambar memiliki kemampuan untuk mengkomunikasikan isi pikiran, ide atau gagasan dengan memaparkan secara lebih rinci dan membatasi rentang interpretasi. Bahkan pada masa prasejarah pun gambar telah memiliki kemampuan bercerita dengan bahasa rupa yang mana dalam hal tertentu gambar dapat lebih efektif daripada bahasa verbal. Pada masa itu gambar dimanfaatkan sebagai media pendidikan dan transfer tradisi oleh para tetua pada generasi berikutnya. Jadi penggunaan bahasa gambar bukan sekadar bernilai tanda atau untuk memenuhi kebutuhan estetis saja, tetapi sudah pasti merupakan pengganti kata-kata, serta pengisahan lisan. Bahasa gambar jauh lebih komunikatif dibandingkan dengan bahasa tulis, seperti yang diungkapkan oleh C.
Leslie Martin (Istanto 2000:23) yang mengatakan “One picture is better than a thousand words”. Bagi perancangnya, gambar adalah alat untuk mencapai tujuan, karena itu mereka tidak perlu semahir Piccaso atau pelukis terkenal lainnya.
Gambar merupakan media yang ampuh untuk mengungkapkan gagasan karena lebih mudah dicerna. Menurut penggunaan, metode, serta sistem nilainya gambar dapat dibedakan menjadi tiga (Istanto 2000:31) yang dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 2.1. Gambar menurut penggunaan, metode dan sistem nilainya Gambar Keterangan
Sebagai karya seni
Responding Expressing -Artist-
Merupakan respon terhadap lingkungan, mendemonstrasikan kebebasan berekspresi Gambar bebas untuk diinterpretasikan
Perupa mengkomunikasikan karyanya di galeri-galeri lukis
Sebagai gambar konsep Draftsmen menjelaskan suatu obyek yang akan
Describing Instructing -Draftsmen-
direalisasi
Gambar berisi instruksi-instruksi tanpa ada kebebasan menginterpretasikan
Draftsmen menggandakan gambarnya sebagai petunjuk dan instruksi serta disimpan sebagai rekaman
Sketsa desain
Generating Evaluating Improving -designer-
Gambar tidak menunjukkan sesuatu yang sudah terbentuk
Gambar secara langsung berkemampuan untuk
membangkitkan, mengevaluasi dan meningkatkan apa yang ada dalam pikiran perancang
Gambar bukanlah gambar akhir, namun mengandung intisari dan akurasi rancangan
Gambar ini memang bisa berakhir di tempat sampah Sumber : Jurnal Ilmiah Nirmana (Istanto 2000:31)
Sebuah gambar juga mengandung arti bukan hanya dari topiknya saja, melainkan juga cara pengolahan grafisnya sebagai bagian pesan yang diungkapkan. Bagaimana sesuatu itu terlihat, medium apa yang digunakan untuk mengekspresikan penglihatan tersebut, teknik-teknik apa yang digunakan untuk mengkristalkan khayalan tersebut, bagaimana khayalan tadi ditata dan dilihat dalam konteks merupakan semua aspek yang menggambarkan persepsi dan pemahaman mengenai apa yang digambar. Oleh karena itu, adalah suatu keputusan penting dalam pemilihan titik pandang, penggunaan peralatan atau mediumnya dan pemanfaatan teknik-teknik gratisnya yang hams didasarkan pada maksud dan tujuan dari sebuah gambar, apakah untuk menggambarkan apa yang kita lihat, melatih pemikiran visual atau menyampaikan informasi grafis dan ide-ide. Maka gambar dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu gambar sebagai ilustrasi, gambar sebagai visualisasi dan gambar sebagal alat Komunikasi.
(Francis 2002:27-32)
a. GambarSebagai Ilustrasi
Gambar ilustrasi dapat secara efektif merekam pengamatan seseorang agar orang lain dapat ikut melihat dan mempelajarinya. Ada banyak
contoh gambar yang digunakan, baik dalam ilmu pengetahuan maupun seni, untuk menggambarkan dan menjelaskan informasi visual mengenai dunia di sekeliling kita.
b. Gambar Sebagai Visualisasi
Gambar di sini berfungsi untuk mengkspresikan apa yang divisualisasikan dalam pikiran dan mengeksplorasi tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan di kemudian hari. Jenis gambar eksplorasi ini merupakan bagian dan proses kreatif yang seringkali tanpa akhir.
Gambar-gambar tersebut biasanya dibuat dengan cepat, santai dan seringkali bersifat pribadi. Oleh karena tidak dimaksudkan untuk dipamerkan di muka umum, gambar-gambar tersebut dapat menjadi basil perenungan yang sangat berharga bagi proses kreatifitas seseorang.
c. Gambar Sebagai Alat Komunikasi
Semua gambar berkomunikasi. Gambar-gambar ilustrasi menunjukan kemiripan akan benda yang digambar agar orang lain dapat melihat dan memahaminya. Gambar-gambar eksplorasi menyajikan bentuk terlihat dari ide seseorang agar orang lain dapat mempertimbangkannya.
Gambar-gambar lain digunakan secara eksplisit untuk menyampaikan sebuah pesan ataupun menyalurkan informasi.
Gambar yang digunakan untuk berkomunikasi harus jelas, tegas dan memanfaatkan ketentuan-ketentuan yang telah dimengerti baik oleh yang menyajikan maupun yang menerimanya.
2.1.5. Tinjauan Desain
Seperti yang telah dijelaskan di atas akan adanya beberapa macam gambar dalam kaitannya dengan fungsi dan tujuannya, maka secara lebih rinci lagi berikut akan dijabarkan mengenai gambar sebagai ilustrasi. Adanya berbagai pergerakan seni yang semakin lama semakin modern menimbulkan keberadaaan ilustrasi pada masa sekarang berkembang dari lukisan. Teknik ilustrasi yang digunakan dalam karya-karya para desainer dan seniman yang bergaya pop dan postmodern, menjadikan ilustrasi sebagai bentuk seni yang sifatnya kontemporer. Adapun perbedaannya adalah pada pergeseran fungsi seiring dengan kemajuan jaman. Bila
seni lukis lebih diarahkan pada perasaan pribadi pelukisnya yang bersifat independen dan tidak bergantung kepada kepuasan orang lain maka ilustrasi sekarang diciptakan untuk tujuan komersil dari reproduksi sehingga gambar dibuat dalam rangka memuaskan klien atau orang lain bahkan dibatasi oleh tenggang waktu pembuat serta dikepalai oleh art director. Dalam hal ini, ilustrasi dituntut untuk dapat dipahami oleh banyak orang yang melihatnya dan keberadaannya sering digabungkan dengan teks (artikel, cerita, teks/copy, iklan dan sebagainya).
Sehingga pada umumnya ilustrasi diartikan sebagai bahasa visual yang dapat dihasilkan melalui berbagai media baik fotografi, bentuk- bentuk huruf, grafik, diagram dan sebagainya (tidak terbatas gambar manusia).
Gambar ilustrasi merupakan salah satu di cara di dalam memvisualisasikan sesuatu, namun ia mempergunakan bentuk lukisan ataupun gambar. Maka gambar ilustrasi diartikan sebagai bentuk gambar atau lukisan yang mengkomunikasikan ide, gagasan, pendapat, perasaan, hasil pengamatan dan juga suatu cerita. Berikut tinjauan gambar ilustrasi berdasarkan batasan-batasan tertentu.
a. Tinjauan Gambar Ilustrasi Berdasarkan Bidang Kajian
• Ilustrasi Editorial
Banyak dijumpai pada novel-novel, buku-buku bacaan anak dan orang dewasa, buku-buku olahraga, kartun dan karikatur (politik) dan lain sebagainya. Khusus untuk ilustrasi buku anak-anak yang banyak mengangkat tema fantasi sehingga keberadaan ilustrasi sangat penting karena mampu mengembangkan cerita. Sedangkan ilustrasi pada surat kabar dan majalah yang berkaitan dengan artikel berfungsi sebagai komunikasi massa, dapat berupa gambar maupun fotografi. Bahkan pada sampulnya, ilustrasi berfungsi untuk menarik perhatian para pembeli, sehingga selain kata-kata, gambar juga dapat menggambarkan isi buku secara efektif. Ilustrasi dapat juga menjadi pengisi ruang-ruang kosong sebagai penarik perhatian pada halaman
tersebut di samping berfungsi untuk menguraikan teks sehingga antara ilustrasi dan teks saling mendukung.
• llustrasi Periklanan
Merupakan ilustrasi yang berguna untuk promosi dan pemasaran serta mempengaruhi ketertarikan.konsumen, diantaranya :
- Ilustrasi Fashion. Dapat berbentuk fotografi maupun gambar yang memberi informasi sekitar fashion maupun mempromosikan dan menjual produk-produk fashion.
- Ilustrasi Produk. Berfungsi untuk menggambarkan produk yang diproduksi semenarik mungkin untuk ditawarkan kepada konsumen.
- Ilustrasi Pariwisata. Biasanya menggambarkan pemandangan alam, arsitektur dan figur-figur tertentu di daerah yang dipromosikan.
• Ilustrasi Medis
Ilustrasi ini berkaitan dengan pengetahuan kedokteran, sehingga ilustrator dituntut memiliki pengetahuan kedokteran selain fungsinya sehagai media komunikasi visual.
• Ilustrasi ilmiah
Ilustrasi ini bertujuan untuk menggambarkan material-material tertentu yang membutuhkan ketepatan, kejelasan dan kerapian, misalnya bangunan dan arsitektur bentuk-bentuk konstruksi geometri lainnya.
b. Tinjauan Gambar Ilustrasi Berdasarkan Sifat dan Fungsinya
• Gambar ilustrasi yang bertujuan untuk menjelaskan keadaan yang dilihat, baik berupa sketsa kasar dengan garis-garis yang cepat maupun gambar yang detail. Contoh : sketsa cepat atau bahkan photo realism (mirip foto, karena detail yang akurat).
Gambar 2.1 Gambar Ilustrasi Tubuh Manusia
Gambar 2.2 Gambar Ilustrasi photo realism
• Gambar ilustrasi yang bertujuan untuk memvisualisasikan apa yang diimajinasikan, yaitu dengan menggambarkan objek atau keadaan yang tidak ada di dalam kenyataan. Visualisasinya dapat berupa penggambaran yang mewakili sesuatu bahkan dalam bentuk abstrak. Contoh : gaya surealism (Salvador Dali) yang memberikan penggambaran seperti fantasi dan mimpi.
• Gambar Ilustrasi yang memvisualisasikan suatu ide dan konsep, misalnya dalam bentuk simbolisasi. Gambar ini tidak hanya menekankan masalah teknik dan kemampuan namun juga kedalaman isi yang digambarkan. Tipe penggambarannya menghadirkan sudut pandang, perasaan dan emosi, interpretasi dan ekspresi orang yang menggambarnya sehingga berkesan ekspresif.
• Gambar ilustrasi yang berfungsi untuk menghias atau sebagai unsur dekoratif. Gambar ini mengisi komposisi bidang yang kosong untuk memberi daya tarik dan memenuhi kepuasan estetis bagi pengamatnya.
• Gambar ilustrasi yang menjembatani pemahaman terhadap bahasa verbal.
Ilustrasi dan teks saling mendukung serta mempermudah pembaca mengeti cerita yang disajikan.
2.1.5.1. Tinjauan Unsur Gambar Dalam Desain a. Garis (line)
Garis pada hakekatnya merupakan titik yang digerakkan untuk membentuk guratan sepanjang tempat di mana titik tersebut digerakkan. Garis merupakan unsur pokok dalam gambar yang memiliki peranan sangat penting karena dapat dipergunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk dan observasi visual atau pengungkapan secara subjektif akan gagasan, membangkitkan berbagai pengalaman, pikiran/paham, dan intuisi. (Daniele & Duante 1967: 64).
b. Warna
Warna merupakan elemen yang bercahaya dari sebuah objek yang memiliki berbagai kualitas yang memberikan kesan volume dan kompleksitas dari objek.
Warna dihasilkan dari gelombang cahaya, sejenis radiasi elektromagnetik yang terukur dalam satuan mikron. Warna-warna yang dapat kita lihat berada antara 400-700 mikron namun ada juga warna-warna yang tidak terjangkau untuk dilihat karena panjang gelombangnya berada di luar jangkauan kita.
Gambar 2.3 Colour Wheel
Gambar 2.4 Warna Primer dan Sekunder
Gambar 2.5 Spektrum Warna
Dalam penggunaannya, warna dibedakan menjadi 3 yaitu praktis, psikis teknis dan estetis. Praktis berarti berfungsi sebagai tanda pemberitahuan.
Misalnya: merah sebagai tanda tempat peralatan pemadam kebakaran, kuning/hitam sebagai tanda harus berhati-hati, putih sebagai garis lalu lintas, dsb.
Sedangkan sebagai psikis teknis, warna dapat mempengaruhi kemauan kerja, mendorong memusatkan perhatian, membantu penerangan, dll. Dan sebagai estetis, warna akan berperan dalam bentuk dan tampilan lukisan, patung, arsitektur serta benda-benda guna lainnya.
Terdapat beberapa macam klasifikasi warna, berikut penjelasannya :
• Klasifikasi Warna Berdasarkan Spektrum Warna - Warna Primer
Merupakan warna-warna dasar terdiri dari : merah (magenta red), kuning (lemon yellow) dan biru (turquoise blue). Warna-warna lainnya merupakan kombinasi dari ketiga warna tersebut.
- Warna Sekunder
Warna-warna sekunder merupakan hasil dari pencampuran bersama antara berbagai warna primer, misalnya percampuran antara merah dan biru
menjadi warna ungu, percampuran warna kuning dan merah menjadi warna jingga, percampuran warna kuning dan biru menjadi warna hijau.
- Warna Tersier
Warna tersier merupakan warna yang berada di antara berbagai warna- warna yang ada, biasanya lebih dari satu nama warna seperti hijau kekuningan, biru keunguan dan sebagainya.
- Warna Komplementer
Warna-warna yang saling berlawananan di alam lingkungan warna merupakan warna komplementer. Warna-warna komplementer selalu berlawanan secara kontras dan jika keduanya bercampur maka akan dihasilkan warna kelabu. Misalnya ungu dengan kuning, merah dengan hijau, biru dengan jingga dan sebagainya. Warna komplementer dapat menetralkan intensitas warna yang terlalu kuat.
- Warna Analogus
Warna-warna yang mempergunakan terang gelap dan intensitas dari warna terdekat, misalnya kuning kehijauan, kuning jingga (dominasi kuning) dan sebagainya. Sekalipun lebih berwarna daripada monokromatic, namun warna analogus juga menciptakan keharmonisan dan suasana hati yang tenang karena hubungan dekat warna-warna yang dipakai.
• Klasifikasi Warna Berdasarkan Sifatnya - Warna Menurut Ilmu Fisika
Sifat cahaya bergantung pada panjang gelombang yang dipantulkan benda tersebut. Benda yang memantulkan semua panjang gelombang terlihat putih, sedangkan yang sama sekali tidak memantulkan terlihat hitam.
Warna utama dari cahaya atau spektrum adalah biru, kuning, merah dengan kombinasi yang dapat membentuk segala warna.
- Warna Menurut Ilmu Bahan
Setiap zat tertentu memberikan warna. Pigmen memberikan warna pada tumbuhan, hewan, demikian juga pada cat, plastik dan produksi lain kecuali tekstil. Suatu pigmen berwarna khas karena menghisap beberapa panjang gelombang sinar dan memantulkan yang lain.
• Klasifikasi Warna Pada Gambar/Ilustrasi - Warna Monochrome
Warna yang menambahkan atau mengurangi intensitas dari satu warna saja. Gambar yang hanya memiliki satu warna (monochrome), warna dan kedalamannya tergambarkan pada kualitas terang maupun gelap. Gambar monochrome tidak mempresentasikan kenyataan/realitas yang ada, namun mengidentifikasikan sebuah keseimbangan antara cahaya dan juga gelap dari sebuah objek, bukan warna-warni dari sebuah objek yang sesungguhnya ataupun gradasi dari warna-warna tersebut. Gambar monochrome memberikan kesan volume dari sebuah warna, memberikan kesan kelonggaran dan kebebasan bagi pengamatnya untuk memiliki imajinasi tentang objek gambar serta partisipasi dalam memahami objek.
- Warna Polychrome/Optical Color
Warna yang menggunakan banyak kandungan warna yang dicampurkan, tidak semata-mata menambah intensitas dan kuat lemahnya seperti halnya monochromatic. Polychrome membuat objek menjadi lebih realis dan ekspresif sebab pencampuran warna didasarkan kepada warna-warna yang sesungguhnya dilihat.
• Klasifikasi Warna Berdasarkan Sensasi yang Ditimbulkan
- Warna-warna panas. Termasuk di antaranya : warna merah, kuning dan pencampuran di antaranya.
- Warna-warna dingin. Termasuk di antaranya : biru dan hijau serta kombinasi-kombinasi di antaranya.
- Warna-warna netral. Termasuk di antaranya yaitu putih, abu-abu dan juga hitam.
• Klasifikasi Warna Berdasarkan Karakteristiknya
- Warna positif atau aktif, yaitu : kuning, merah, kuning kemerahan (jingga) dan juga merah kekuningan. Warna-warna ini memberikan kesan sifat dan karakter yang aktif.
- Warna negatif atau pasif, yaitu : biru, biru kemerahan, merah kebiruan.
Warna-warna ini mengidentifikasikan kegelisahan, kepatuhan, kegairahan, pemikiran lemah lembut.
• Klasifikasi Warna Berdasarkan Kualitasnya
- Hue, adalah kualitas atau sifat khas dari warna yang membedakan antara warna satu dengan lainnya sebagai keunikan masing-masing warna.
Posisinya dalam lingkaran warna mengacu pada nama-nama dari warna- warna tersebut. Misalnya : biru, merah, kuning dan sebagainya. Itu berarti warna biru berbeda dengan warna merah maupun kuning.
- Chroma, adalah kekuatan dan kelemahan warna yang mengacu kepada intensitas warna, dalam hal ini pigmen dari warna. Misalnya : dua warna merah yang sama, mungkin dapat pula bernada sama, akan tetapi dalam penampilannya berbeda. Satu merupakan merah kuat dan yang lainnya merah lemah, yang disebabkan beda jumlah pigmen warnanya.
- Value, yaitu jenjang gelap terangnya suatu warna. Merupakan kualitas warna yang disebabkan dalam warna tersebut mengandung sejumlah warna hitam atau putih. Penambahan warna hitam dapat menyebabkan warna menjadi gelap sedangkan penambahan warna putih menyebabkan warna menjadi terang. Value warna dapat dibedakan menjadi :
a. Tint, warna dengn value tinggi, warna-warna yang dianggap lebih ringan dan terang karena penambahan warna putih.
b. Shade, warna dengan value rendah, warna-warna yang lebih berat oleh karena tambahan unsur hitam.
Suatu target value tertentu dapat tercapai dari sebuah warna dengan dipengaruhi warna-warna di sekitarnya. Warna-warna yang saling berdampingan dapat mempengaruhi bentuk objek dan juga penampilan warna itu sendiri dengan memperbandingkan apakah warna tersebut lebih terang atau gelap dibandingkan dengan warna yang mendampinginya.
• Klasifikasi Warna Berdasarkan Maknanya
Seperti kata-kata, warna juga memiliki makna tertentu. Warna-warna yang dilihat oleh mata, masuk ke dalam jiwa kita seperti suara yang terdengar oleh telinga. Maka terjadi sebuah standar warna yang diklasifikasikan berdasarkan atas makna-makna simbolis dan karakter warna itu sendiri. Kemudian dapat ditemukan makna-makna warna tersebut secara lebih mendalam yang tampak dalam tabel berikut ini.
c. Komposisi
• Penataan Layout
Bentuk penataan komposisi ada berbagai macam,yang paling umum adalah komposisi pada bidang gambar berbentuk segi empat panjang.
Hasil dari penataan ini sangat sederhana dan paling mudah dilakukan. Hal yang terpenting dalam penataan komposisi adalah subjek gambar. Subjek gambar inilah yang akan menentukan bidang gambar yang akan digunakan. Contohnya penataan komposisi yang cocok untuk lukisan potret adalah komposisi vertikal atau dalam posisi tegak karena membutuhkan persegi panjang yang tinggi. Sedangkan untuk subjek gambar pemandangan,maka komposisi yang cocok adalah komposisi horisontal atau memanjang agar gambar yang dihasilkan semakin dramatis pada bidang yang cukup lebar.
• Perkembangan Komposisi
Untuk mencapai bentuk yang lebih menarik, tak jarang komposisi dalam sebuah design banyak dilanggar. Namun, dari situlah justru ditemukan design layout yang unik-unik namun tetap konsisten (tidak asal membuat komposisi). Hal penerapan komposisi dilakukan dengan permainan grid sebagai garis bantu sehingga objek dapat berada pada tempat yang unik dan menarik namun juga seimbang; dimana format layout-nya bertumpu pada garis-garis vertikal dan horisontal dengan membagi bidang. Di era perkembangan design post-modern banyak dijumpai penggambaran objek yang terpotong, terletak di sisi paling kanan atau kiri dan sebagainya.
Umumnya pengaturan komposisi tersebut tetap menggunakan elemen- elemen untuk menjaga keseimbangan gambar, seperti bayangan, subjek pembantu, pewarnaan, gradasi dan lain sebagainya.
2.1.6. Tentang Konsumen
Dalam peluncuran suatu promosi produk, analisa konsumen sangat dibutuhkan karena dengan analisa ini diharapkan promosi produk yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Analisa konsumen bertujuan untuk memahami dan mempelajari perilaku dan karakteristik konsumen dalam
pengambilan keputusan untuk membeli produk fashion berdasarkan segmentasi konsumen tertentu.
Definisi konsumen
Pengertian konsumen menurut Wikipedia adalah seorang individu atau rumah tangga yang mengkonsumsi barang dan jasa dalam kegiatan perekonomian.
(www.wikipedia.org).
Konsumen dari produk fashion di Surabaya dapat dikategorikan sebagai berikut:
a. Umur
Konsumen yang suka untuk mengikuti gaya hidup modern ialah konsumen yang masih aktif, masih mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang cukup atau lebih, sehingga usia-usia pengkonsumsi produk fashion ialah usia remaja (15-19 tahun) dan dewasa muda (20-24 tahun), walaupun tidak menutup usia yang sudah di atas kategori dewasa dan orang tua tersebut juga mengikuti tren produk fashion.
b. Gaya hidup
Melihat harga produk OSELLA cukup tinggi, maka konsumen kebanyakan adalah masyarakat menengah, menengah ke atas.
Mereka suka mengikuti gaya hidup atau tren yang ada di masyarakat seiring dengan perkembangannya. Konsumen seperti ini juga sering bepergian ke mall. Menurut pengamatan penulis mereka tidak pelit membelanjakan uangnya untuk membeli produk fashion terbaru, serta dalam kesehariannya mereka terbuka untuk mencoba hal-hal baru.
c. Tempat tinggal
Produk fashion OSELLA dapat dikategorikan sebagai produk yang mengikuti perkembangan gaya hidup, hal ini tentu dapat dijumpai pada masyarakat kota modern dimana memiliki pola yang selalu mengikuti perkembangan gaya hidup yang tinggi. Untuk itu, penulis akan merancang promosi di Surabaya sebagai kota pemasaran kedua
setelah Jakarta, walau tidak menutup kemungkinan promosi ini akan dipakai di kota besar lainnya.
Analisa perilaku konsumen
Seiring dengan berkembangnya waktu, konsumen mengkonsumsi produk fashion tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan saja, akan tetapi lebih kepada gaya hidup. Konsumen yang mengkonsumsi produk fashion saat ini, semakin meningkat (www.swa.co.id), mereka berani membelanjakan uang mereka untuk produk fashion terbaru, tentunya hal itu dipengaruhi oleh perkembangan dan tren gaya hidup yang semakin modern dan adanya produk fashion yang mudah dijumpai di pusat perbelanjaan.
Berdasarkan pengamatan penulis, konsumen masyarakat Surabaya sering membelanjakan uangnya untuk membeli produk fashion seperti baju, celana, sepatu, aksesoris terbaru seperti yang ditampilkan di majalah-majalah favourite mereka. Banyak outlet produk fashion yang tidak mau ketinggalan meraup keuntungan dari pola konsumtif produk fashion di kota besar. Hanya saja persaingan yang tinggi menyebabkan setiap produsen berlomba-lomba untuk mencuri perhatian konsumen. Oleh karena faktor tersebut, perusahaan fashion harus bisa membuat sebuah terobosan promosi baru yang mampu menarik perhatian masyarakat. Tentu saja dengan membuat inovasi promosi baru ini, sekiranya bisa memenangkan persaingan di antara perusahaan produk fashion.
Segmentasi konsumen
Segmentasi konsumen dapat didefinisikan sebagai proses mengidentifikasi kelompok atau kumpulan konsumen yang mempunyai tingkah laku atau karakteristik sama dalam membeli (Warren 1996:223).
Ada lima variabel segmentasi, yaitu segmentasi demografis (yang didasarkan pada karakteristik umur, jenis kelamin, pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan), segmentasi geografis (berdasarkan tempat konsumen itu berada), segmentasi psikografis (seperti gaya hidup dan kepribadian), dan segmentasi behaviour (tingkah laku). Berikut adalah tabel data jumlah penduduk Surabaya menurut Badan Pusat Statistik :
Tabel 2.2.
Daftar Jumlah Penduduk Surabaya Menurut Jenis Kelamin Kelompok umur Laki-laki Perempuan Jumlah
0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 19 20 – 24 25 – 29 30 – 34 35 – 39 40 – 44 45 – 49 50 – 54 55-59 60 – 64 65 – 69 70 – 74 75 + Tak terjawab
107.315 100.202 91.782 122.949 155.841 157.667 130.121 104.345 88.412 70.249.
48.843 39.611 29.622 18.719 12.621 10.164
15
102.191 95.281 89.943 141.972 173.873 160.583 125.968 105.256 85.254 65.009 47.275 36.553 31.559 21.619 15.317 14.003
22
209.506 195.483 181.725 264.921 329.714 318.250 256.089 209.601 173.666 135.258 96.118 76.164 61.181 40.338 27.938 24.167
37
Jumlah 1.288.478 1.311.678 2.600.156 Sumber : Badan Pusat Statistik “Surabaya Dalam Angka 2003”
2.1.7. Tinjauan Periklanan
Definisi dari advertising atau periklanan adalah “Paid, non personal communication by business firm, non profit organizations, and individuals who are identified in their advertising messages and who hope to inform or persuade members of particular audiences” (Boone & Kurtz 2006:598)
Manfaat dari advertising adalah (Diktat DKV III 2003): memberi alternatif konsumen dan menambah produksi sehingga keuntungan meningkat. Berbagai pendekatan yang digunakan dalam Advertising (Diktat DKV III 2003):
a. Hard Sell: pendekatan yang rasional,berdasarkan logika dan mempengaruhi pikiran.
b. Soft Sell: pendekatan yang menyentuh hati nurani dan berdasarkan perasaan.
c. Drama: pemain berbicara satu sama lain, bukan kepada permirsa atau pendengar.
d. Demonstration: mendemonstrasikan bagaimana menggunakan produk atau apa yang dapat dilakukan oleh suatu produk dan kelebihan suatu produk menjadi pusat perhatian.
e. Comparison: membandingkan dua atau lebih produk dimana biasanya produk yang diiklankan diunggulkan, baik secara direct dan indirect.
f. Humor: diharapkan pemirsa atau pendengar akan mentransfer perasaan seseorang (setelah dihibur) kepada produk yang diiklankan.
g. Problem Solution: dimulai dengan masalah, kemudian produknya diperlihatkan sebagai jawaban/solusi dari masalah tersebut.
h. Spoke Person: seseorang (bisa artis, ahli atau orang biasa) berbicara atas nama suatu produk.
i. Testimonial: variasi dari spoke person. Perbedaannya adalah pada testimonial berbicara mengenai pengalaman mereka terhadap suatu produk.
j. Straigthforward: penyampaian pesan tanpa bujukan, emosi atau efek khusus, langsung ke sasaran.
k. Teasers: bersifat menggoda, tidak mengidentifikasi produk, tidak memberikan informasi yang cukup dan cenderung ke Soft Sell.
Iklan dibagai menjadi berbagai jenis. Jenis-jenisnya adalah :
1. Iklan Strategis digunakan untuk membangun merek. Hal itu dilakukan dengan mengkomunikasikan nilai merek dan manfaat produk. Perhatian utama iklan strategis ini dalam jangka panjang adalah memposisikan merek serta membangun pangsa pikiran dan pangsa pasar.
2. Iklan taktis memiliki tujuan yang lebih mendesak. Iklan ini dirancang untuk mendorong konsumen agar segera melakukan kontak dengan merek tertentu.
3. Iklan ritel dilakukan oleh toko serba ada, pasar swalayan, dan dealer mobil yang memberikan banyak penawaran khusus dan mempunyai banyak persediaan barang dagang.
4. Iklan korporat merupakan bentuk lain dari iklan strategis, ketika sebuah perusahaan melakukan kampanye untuk mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada publik.
5. Iklan bisnis kepada bisnis (business to business) terjadi ketika sebuah perusahaan berbicara kepada perusahaan lain yang biasanya dilakukan melalui majalah bisnis.
6. Iklan layanan masyarakat (ILM) ialah iklan yang mengkomunikasikan pesan-pesan tentang masalah masalah sosial yang terjadi di sekitar masyarakat.
Dilihat dari tujuannya, dan diserap dari segi praktisnya, dapat dikatakan bahwa iklan merupakan sarana penyampai pesan dari produsen kepada konsumen dengan tujuan untuk mempengaruhi mereka agar membeli barang atau jasa.
Sarana penyampaian pesan ini mengambil bentuk seperti dengan lisan, tulisan, teriakan, tercetak, terpancar (radio, film, televisi, slide, dan lain-lain).
2.1.8. Tinjauan Positioning
Positioning didefinisikan sebagai “the strategy for leading your consumers credibily”. Artinya positioning adalah menyangkut bagaimana kita membangun kepercayaan, keyakinan, dan trust kepada pelanggan (Kotler 2005:215))
Cara atau strategi Positioning menurut Hermawan Kertajaya, Yuswohady, Jacky Mussry, dan Taufik (www.swa.co.id):
a. Identifikasi Target Segmen yang Relevan
Langkah awalnya adalah memahami dengan baik segmen pasar yang akan menjadi target market.
b. Menentukan “Frame of Reference” Pelanggan
Yang dimaksud “Frane of Reference” disini adalah jenis kelamin alias kategori suatu produk.
c. Merumuskan “Point of Defferentiation”
Dalam hal ini menentukan “kenapa” konsumen harus memilih produk yang kita tawarkan dibandingkan pesaing. Positioning yang disusun harus dengan jelas menunjukkan perbedaan produk tersebut dibandingkan orang lain.
d. Menetapkan Keunggulan Kompetitif Produk
Dalam hal ini point of defferentation memang sangat penting, tetapi point of defferentiation harus didukung dengan competitive edge.
Philip Kotler (2000:118) menyebut empat kesalahan yang bisa terjadi dalam positioning. Kesalahan-kesalahan itu adalah :
1. Underpositioning (produk tidak memiliki posisi yang jelas sehingga dianggap sama saja dengan kerumunan produk lainnya di pasar).
2. Overpositioning (terlalu sempit memposisikan produknya sehingga mengurangi minat konsumen yang masuk dalam segmen pasarnya).
3. Confused positioning (konsumen mengalami keraguan karena marketer terlalu menekan terlalu banyak atribut).
4. Doubtful positioning (posisioning ini diragukan kebenarannya karena tidak didukung bukti yang memadahi).
2.1.9. Tinjauan Tentang Promosi Sebagai Bagian Dari Pemasaran
Tujuan dari pemasaran itu sendiri adalah memuskan konsumen yang dituju dan masyarakat lain untuk mendapatkan laba atau perbandingan yang menguntungkan antara penghasilan dan biaya.
Sebagai dasar pengembangan suatu kegiatan promosi adalah komunikasi.
Dengan komunikasi ini seseorang, lembaga, ataupun masyarakat dapat saling mengadakan interaksi satu sama lain. Komunikasi periklanan adalah kegitan komunikasi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual, dan merupakan kegiatan yang membantu dalam pengambilan keputusan di bidang pemasaran serta mengerahkan pertukaran agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat lebih baik (Kotler 2000:280).
Faktor-faktor yang mendukung strategi pemasaran menurut adalah : 1. Riset dan analisa pasar
2. Keputusan-keputusan tentang produk
3. Penetapan harga 4. Promosi
5. Distribusi
Menurut Rhenald Kasali (1998:198), secara fungsional tujuan promosi adalah untuk merangsang pembelian di tempat dan pengertian Marketing Mix adalah kombinasi dari empat variable atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yakni product, price, place, and promotion. Product menyangkut barang yang akan dijual, price menyangkut barang yang akan dijual, place menyangkut sistem distribusi dan promotion yang menyangkut kegiatan pengenalan produk sampai pada pemberian image produk. Dengan adanya keempat sistem ini yang erat, maka pemasaran akan dapat dilakukan dengan maksimal. Menurut Basu dan Irawan Tujuan promosi ada 4 hal, yaitu:
a. Modifikasi Tingkah Laku
Orang yang melakukan suatu kegiatan komunikasi itu sebenarnya mempunyai beberapa alasan. Bisa jadi alasan tersebut seperti mencari kesenangan, mencari bantuan, memberikan informasi, mengemukakan pendapat dan ide. Sedangkan promosi dari segi lain, berusaha merubah tingkah laku dan pendapat, dan memperkuat tingkah laku yang ada.
b. Memberitahu
Suatu kegiatan promosi ini dilakukan untuk memberitahu kepada pasar yang dituju tentang penawaran yang diberikan oleh perusahaan. Promosi yang bersifat informasi umumnya lebih banyak disukai karena lebih sesuai dulakukan pada tahap-tahap awal di dalam siklus kehidupan produk.
Promosi yang bersifat informatif ini juga penting bagi konsumen karena dapat membantu mereka dalam pengambilan keputusan untuk membeli.
c. Membujuk
Promosi yang bersifat membujuk ini umumya tidak disukai oleh masyrakat, namun kenyataannya sekarang ini justru banyak muncul promosi yang bersifat persuasiff. Promosi jenis ini akan menjadi dominan jika produk tersebut memulai masuk tahap pertumbuhan.
d. Mengingatkan
Promosi ini juga bersifat mengingatkan, ini dilakukan terutama untuk mempertahankan merk produk tersebut di hati masayarakat dan kegiatan ini dilakukan juga untuk mengingatkan bahwa produk ini masih ada di pasaran.
2.2. Identifikasi Data Perusahaan 2.2.1. Data Perusahaan
2.2.1.1 Nama Perusahaan Kantor Pusat Jakarta :
P.T. Cipta Kreasi Sandang Mandiri
Kantor Cabang Surabaya : P.T. Artajaya Kreasi Semesta
2.2.1.2. Pengelola Perusahaan
Komisaris : Bp. William Sutjiatma Direktur : Bp. Harris A. Putra
2.2.1.3. Produk-Produk yang Dipasarkan
Seluruh Produk Fashion OSELLA mulai dari OSELLA Kids, OSELLA untuk remaja dan OSELLA Girls. Ragam produk fashion yang ditawarkan adalah T-Shirt, Shirt (Wangky), Kemeja, Celana Panjang dan Aksesoris. Untuk produk baju dibagi menjadi baju polos (tanpa motif), baju salur (motif garis) dan baju fashion (motif design bebas).
2.2.1.4. Potensi Perusahaan
Sebagai produk fashion yang eksis sejak tahun 1987 dan mampu menjadi market leader untuk produk fashion nasional kelas menengah. Mampu berinovasi produk sehingga dapat penetrasi market untuk kelas menengah atas.
2.2.1.5. Lokasi Perusahaan
P.T. Cipta Kreasi Sandang Mandiri Jl. Gang Jangkung 11 PP Jembatan Dua Jakarta Barat
Kantor Cabang Surabaya : P.T. Artajaya Kreasi Semesta Pertokoan Wisma Gemini
Jl. Gembong 2-16 Blok C-9 Surabaya 60141 Telp. (031) 3715506, 3715763
Fax. (031) 372 5511
Email : [email protected]
Status : Distributor OSELLA untuk wilayah Jawa Timur, Bali, Lombok dan Kalimantan.
Gambar 2.6 Peta Lokasi P.T. ARTAJAYA KREASI SEMESTA
Lokasi Gerai di Surabaya :
- Showroom : Tunjungan Plaza I Jl. Basuki Rahmat Surabaya Lantai UG No. 1
Gambar 2.7 Lokasi Showroom OSELLA Tunjungan Plaza UG No.1 Surabaya
- Matahari Department Store Tunjungan Plaza 2 Jl. Basuki Rahmat Surabaya
Gambar 2.8 Lokasi Showroom OSELLA di Matahari Department Store
- Matahari Department Store Delta Plaza Jl. Pemuda Surabaya - Matahari Department Store Royal Plaza Jl. Ahmad Yani Surabaya
2.2.2. Data Produk 2.2.2.1. Nama Brand OSELLA
Gambar 2.9 Logo OSELLA
Gambar 2.10 Logo OSELLA lama
2.2.2.2. Nama dan Harga Produk
Tabel 2.3. Daftar Harga Produk OSELLA
Nama Produk Harga Nasional Harga Konsep Wangky Polos / Polo Shirt Rp. 75.000,- Rp. 104.900,- Wangky Salur Rp. 99.900,- Rp. 149.900,- Wangky Fashion Rp. 99.900,- Rp. 149.900,- T-Shirt / Oblong Salur Rp. 89.900,- Rp. 139.900,- T-Shirt / Oblong Fashion Rp. 89.900,- Rp. 139.900,-
Kemeja Rp. 99.900,- Rp. 159.900,-
Celana Jeans & Catoon - Rp. 199.900,- Aksesoris Rp. 59.900,- Rp. 109.900,- Sumber : P.T. Artajaya Kreasi Semesta
2.2.2.3. Positioning Produk
P.T. Artajaya Kreasi Semesta ingin menjadikan produk OSELLA sebagai trendsetter produk fashion untuk kelas remaja. Dalam mejalankan setiap aktivias sehari-hari, diharapkan target market selalu menggunakan produk OSELLA, meskipun itu baju, celana maupun aksesorisnya.
2.2.2.4. Target Audience Produk
- Jenis kelamin : Pria dan Wanita.
- Umur : 17 – 24 tahun.
- Pekerjaan : Siswa pelajar SMP, SMA, Mahasiswa serta profe- sional yang berjiwa muda dan ingin tampil beda.
- Kelas Sosial : B dan C (menengah dan menengah ke atas) - Budaya : Konsumtif dan fashionable
Konsumen dari produk fashion OSELLA Active adalah usia 17-24 tahun yang berasal dari golongan SES A dan B yang suka mengikuti tren, suka mencoba hal baru, memiliki gaya hidup moderen, senang berkomunitas, percaya diri, berdomisili di perkotaan (urban) dan pinggiran kota (sub-urban), mulai memperhatikan perkembangan lifestyle dan fashion, tidak sensitif terhadap harga, mempunyai aktivitas yang tinggi, mengikuti teknologi, memperhatikan dan peduli penampilan, serta suka pakaian yang kasual, nyaman, dan praktis dipakai.
Tabel 2.4
Segmentasi Karakteristik Konsumen Produk OSELLA
Demografis Psikografis Geografis Behavioral Remaja 15-19 tahun,
pria dan wanita.
Pengeluaran
>500.000
Suka mengikuti trend dan mencoba hal baru, gaya hidup
moderen, senang bepergian ke plasa,
aktif, suka
Tinggal di daerah perkotaan
dan pinggiran
kota.
Membeli pakaian baik baju, celana, atau aksesoris 2 sampai 3 kali
sebulan, atau
berkomunitas, mengikuti teknologi,suka pakaian yang casual,
mulai memperhatikan penampilan dan fashion untuk menambah jati diri
mereka.
bila ada yang tertarik mereka
akan mencoba dan beruasaha
membeli.
Dewasa Muda
20-24 tahun, pria dan
wanita.
Pengeluaran
>500.000
Senang bepergian ke pusat perbelanjaan, mengikuti tren, gaya hidup moderen, suka mengikuti teknologi, suka pakaian kasual
dan praktis, suka mencoba hal baru,
tidak sensitif terhadap harga, aktivitas tinggi, suka
memperhatikan pakaian untuk penampilan mereka.
Tinggal di daerah perkotaan
dan pinggiran
kota.
Membeli pakaian baik baju, celana, atau aksesoris 3 sampai 5 kali
sebulan, atau bila ada yang membuat mereka suka, mereka akan membelinya di
luar budget belanja mereka.
Sumber: data dari OSELLA diolah kembali oleh Penulis
2.2.2.5. Foto Produk
Gambar 2.11 Produk OSELLA
2.2.3. Data Pemasaran
2.2.3.1. Strategi dan Wilayah Pemasaran
Dalam memasarkan produk OSELLA, strategi yang diterapkan oleh perusahaan dibagi menjadi 2, yaitu :
a. Untuk Barang Nasional
- Harga lebih murah, warna disesuaikan dengan selera orang yang tinggal di daerah
- Sasaran pemasaran : Store Fashion di daerah-daerah di luar Matahari Department Store Group
- Sistem penjualan : sistem putus / semi konsinyasi pembayaran 2 bulan
- Bertujuan untuk memasarkan produk OSELLA agar lebih dikenal oleh masyarakat di daerah
b. Untuk Barang Konsep
- Harga lebih mahal dibandingkan dengan barang nasional, disesuaikan dengan kualitas bahan yang digunakan
- Warna dan model mengikuti trend yang sedang berlaku saat ini di dunia
- Sasaran pemasaran : di outlet OSELLA sendiri dan di counter- counter OSELLA yang ada di Matahari Department Store di seluruh Indonesia
- Bertujuan untuk memasarkan produk OSELLA di kota-kota besar
2.2.3.2. Potensi Pasar
Pemasaran distributor OSELLA yang dipegang oleh P.T. Artajaya Kreasi Semesta di Surabaya adalah wilayah Jatim, Madura, Bali, Lombok dan Kalimantan.
Target penjualan produk OSELLA sebesar Rp. 12.000.000.000,- / tahun.
Tingkat penyerapan yang berhasil diraih OSELLA sebesar 21% dari market yang ada. Hal ini berarti OSELLA mampu menempati posisi yang baik di dalam benak konsumen.
2.2.4. Data Komunikasi Visual Yang Ada
Dalam menjalankan bisnis fashion tentu hal komunikasi visual tidak bisa terlepas dari satu ikatan. Dunia fashion adalah dunia image yang berhubungan erat dengan komunikasi visual. Untuk itu perusahaan seperti P.T. Artajaya Kreasi Semesta tak lupa melakukan komunikasi visual kepada target marketnya. Sarana komunikasi visual tidak hanya berupa iklan cetak saja, namun mencakup seluruh visualisasi yang menghubungkan sebuah pesan dari perusahaan OSELLA kepada target marketnya.
2.2.4.1. Sarana Komunikasi Visual Eksternal
Sarana komunikasi visual eksternal adalah segala visualisasi OSELLA yang berada di luar gerai, toko ataupun kantor. OSELLA pernah melakukan berbagai macam komunikasi visual eksternal berupa :
- Pemasangan iklan Billboard di depan gedung Tunjungan Plaza Surabaya - Pemasangan iklan di surat kabar
- Pemasangan iklan di majalah - Pemasangan spanduk di jalan raya
- Pemasangan “Tutup Ban Serep” pada mobil - Pemasangan iklan di radio
2.2.4.2. Sarana Komunikasi Visual Internal
Sarana komunikasi visual internal adalah segala visualisasi OSELLA yang berada di dalam gerai, toko dan kantor. Hal ini dilakukan untuk menunjang segala bentuk informasi maupun promosi kepada target market yang sedang berkunjung.
Macam komunikasi internal ini berupa : - Poster yang diletakkan di dalam gerai - Neon box di dalam gerai
- Standing Banner untuk menunjang produk yang ditonjolkan
- Bekerjasama dengan Matahari Departemen Store untuk memasang logo OSELLA pada gerainya maupun promosi katalognya
- Menyebarkan brosur kepada pengunjung di mall
2.3. Identifikasi Data Kompetitor 2.3.1 Data Perusahaan
2.3.1.1. Nama Perusahaan
Produk H&R merupakan kompetitor produk fashion OSELLA yang dipasarkan oleh P.T. Tira Fashion, dimana merupakan salah satu anak perusahaan Tigaraksa Satria Group.
2.3.1.2. Produk-Produk yang Dipasarkan
Produk H&R terbagi menjadi dua kategori, yaitu :
a. Garment. Meliputi T-Shirt untuk remaja putra, remaja putri, maupun unisex (Dapat dikenakan oleh putra maupun putri).
b. Aksesoris. Meliputi sandal, mug, pin, dompet, tas.
2.3.1.3.Potensi perusahaan
Produk H&R dengan sasaran para remaja memiliki karakter desain yang sesuai dengan sasaran. T-shirt H&R memiliki model dan desain yang dinamis, baik style maupun tema grafisnya mengikuti trend. Misalnya, beberapa waktu yang lalu masyarakat sedang demam piala dunia sepak bola, maka H&R menggunakan tema grafis seputar sepak bola. Remaja saat ini sangat memperhatikan model dan trend berpakaian serta aksesoris seperti dompet, tas sandal dan sebagainya. H&R menyediakan semua kebutuhan tersebut.
2.3.2. Data Produk 2.3.2.1. Jenis Produk
Produk yang dipasarkan H&R adalah T-Shirt, Shirt, sandal, mug, pin, dompet dan tas. Semua produk tersebut tersedia di setiap gerai H&R
2.3.2.2. Harga Produk
Tabel 2.5. Daftar Harga Produk H&R
Nama Produk Harga
Wangky Polos / Polo Shirt Rp. 89.900,-
Wangky Gambar Rp. 119.900,-
T-Shirt Gambar Rp. 139.900,-
Celana Jeans & Catoon Rp. 199.900,-
Aksesoris Rp. 69.900,- sampai Rp. 159.900,- Sumber : P.T. Artajaya Kreasi Semesta dan Matahari Department Store
2.3.2.3. Segmentasi Pasar a. Demografis :
- Pria dan wanita - Usia 17– 25 tahun
- Kelas ekonomi menengah dan menengah ke atas b. Geografis :
- Seluruh Indonesia, terutama kawasan perkotaan c. Psikografis :
- Dinamis, kreatif dan ceria d. Behavioral :
- Menyukai pakaian casual - Mengikuti trend
- Menyukai / mengoleksi aksesoris
2.3.3. Data Pemasaran 2.3.3.1. Strategi Pemasaran
Dalam memasarkan produknya, H&R selalu mengikuti trend yang sedang berlaku di kalangan target marketnya. Dengan demikian, produk H&R akan selalu diminati oleh target marketnya karena H&R selalu update dengan trend yang sedang hangat-hangatnya di kalangan target market saat itu.
H&R selalu mengimbangi dengan penjualan aksesoris sebagai nilai tambah dibandingkan kompetitornya. H&R tidak hanya memfokuskan pada pembuatan dan penjualan produk garment. Penjualan aksesoris dianggap sesuatu yang penting dan cukup dekat di kehidupan target marketnya.
2.3.3.2. Wilayah Pemasaran
Peningkatan penjualan tidak terlepas dari jumlah outlet yang terus bertambah setiap tahunnya. Kekuatan produsen terletak pada distribusi produk
yang tersebar luas dari sabang hingga Indonesia Timur. Distribusi produk tersebut bekerjasama dengan department store yang telah dikenal dengan baik seperti Matahari dan Rimo.
2.3.3.3. Konsep Desain
Konsep yang diangkat H&R adalah “Smart Somewhat Naughty” yang direfleksikan pada produk, packaging yang inovatif serta desain produk imaginatif dan dinamis menjadikan H&R tampil beda sehingga dapat ikut bersaing di pasar dan menjadi produk pilihan.
2.3.3.4. Iklan H&R
Gambar 2.12. Contoh Iklan H&R di Majalah
2.4. Data Survey dan Wawancara 2.4.1. Tabulasi dan Analisa Data Survey
Setelah dilakukan perhitungan hasil kuesioner, maka didapatkan hasil survei sebagai berikut:
1. Usia responden saat ini:
Tabel 2.6. Usia Responden
Pilihan Frekuensi Persentase
15 - 19 tahun 55 55 %
20 ・ 24 tahun 41 41 %
24 tahun ke atas 4 4 %
Total 100 100 %
55%
41%
4%
15 - 19 t hn 20 – 24 t hn 24 t hn ke at as
Gambar 2.13 Diagram Usia Responden Analisa:
Sebagian besar responden memiliki jenjang usia antara 15 - 19 tahun, yaitu sebesar 55%, disusul dengan jenjang usia antara 21 – 24 tahun sebesar 41%, dan di atas 24 tahun sebesar 4 %. Pengambilan usia yang kurang lebih jumlahnya sama ini dilakukan agar dapat diketahui pendapat responden di setiap jenjang usia terhadap pakaian casual pada umumnya.
2. Pekerjaan responden:
Tabel 2.7. Pekerjaan Responden
Pilihan Frekuensi Persentase
Pelajar 42 42 %
Mahasiswa 46 46 %
Bekerja 12 12 %
Total 100 100 %
42%
46%
12% Pelajar
Mahasisw a Bekerja
Gambar 2.14. Diagram Pekerjaan Responden Analisa:
Sebagian besar responden memiliki pekerjaan sebagai mahasiswa yaitu sebesar 46%, kemudian disusul pelajar sebesar 42%, serta bekerja sebesar 12%, semuanya dianggap sebagai target market OSELLA ACTIVE, dan mewakili masyarakat awam di Surabaya.
3. Pemakaian pakaian casual sehari-hari:
Tabel 2.8. Banyaknya responden yang memakai pakaian casual sehari-hari Pilihan Frekuensi Persentase
Ya, pakai 67 67 %
Tidak pakai 33 33 %
Total 100 100 %
67%
33%
Pakai Tidak pakai
Gambar 2.15 Diagram Pemakaian pakaian casual sehari-hari Analisa:
Sebagian besar responden sebesar 46% memakai pakaian casual untuk aktivitas sehari-hari, dan hanya 33% saja yang tidak.
4. Saat pemakaian pakaian casual:
Tabel 2.9. Saat pemakaian pakaian casual responden
Pilihan Frekuensi Persentase
Santai 25 25 %
Bekerja 8 8 %
Kuliah 22 22 %
Jalan-jalan 42 42 %
Lainnya 3 3 %
Total 100 100 %
13%
4%
11%
2% 21%
49%
Santai Bekerja Kuliah Jalan-jalan Lainnya Total
Gambar 2.16. Diagram saat pemakaian pakaian casual sehari-hari Analisa:
Kebanyakan responden lebih sering memakai pakaian casual pada waktu jalan-jalan, kuliah dan pada waktu mereka santai.
5. Alasan responden memakai pakaian casual:
Tabel 2.10. Alasan responden memakai pakaian casual Pilihan Frekuensi Persentase
Nyaman 47 39.1 %
Praktis 31 32.3 %
Murah 12 21 %
Lainnya 10 7.6 %
Total 100 100 %
39%
32%
21%
8% Nyaman
Praktis Murah Lainnya
Gambar 2.17. Diagram alasan responden memakai pakaian casual Analisa:
Responden suka memakai pakaian casual karena mereka merasa praktis dan nyaman untuk menjalankan aktivitas mereka sehari-hari.
6. Pengetahuan responden terhadap merek OSELLA:
Tabel 2.11. Pengetahuan responden terhadap merek OSELLA Pilihan Frekuensi Persentase
Tahu 52 52 %
Pernah tahu 40 40 %
Tidak tahu 8 8 %
Total 100 100 %
40% 52%
8%
Tahu Pernah tahu Tidak tahu
Gambar 2.18. Pengetahuan responden terhadap merek OSELLA Analisa:
Kebanyakan dari responden menjawab merasa pernah tahu merek OSELLA, dan diikuti dengan responden yang benar-benar tahu merek OSELLA . Hal ini berarti brand awareness OSELLA di masyarakat masih tergolong kurang.
7. Pembelian pakaian merek OSELLA oleh responden:
Tabel 2.12. Pembelian pakaian merek OSELLA oleh responden Pilihan Frekuensi Persentase
Ya, pernah 87 94.6 %
Tidak pernah 5 5.4 %
Total 92 100%
95%
5%
Pernah Tidak pernah
Gambar 2.19. Diagram pembelian pakaian merek OSELLA
Analisa:
Kebanyakan responden pernah membeli merek OSELLA, meskipun pada tabel sebelumnya dapat kita lihat bahwa banyak juga responden yang mengaku pernah tahu merek OSELLA.
8. Frekuensi pembelian pakaian merek OSELLA:
Tabel 2.13. Frekuensi pembelian pakaian merek OSELLA Pilihan Frekuensi Persentase
1-3 kali 16 18.4 %
4-6 kali 40 46 %
Lebih dari 6 kali 31 35.6 %
Total 87 100 %
18%
46%
36% 1-3 kali
4-6 kali Lebih dari 6 kali
Gambar 2.20. Diagram frekuensi pembelian pakaian merek OSELLA Analisa:
Responden mengaku pernah membeli produk OSELLA dengan rate tertinggi sebanyak 4 sampai 6 kali, diikuti dengan pembelian lebih dari 6 kali oleh responden.
9. Alasan pembelian pakaian OSELLA:
Tabel 2.14. Alasan responden membeli produk OSELLA Pilihan Frekuensi Persentase
Desain bagus 35 40.2 %
Kualitas bagus 24 27.6 %
Harga terjangkau 21 24.1 %
Lainnya 7 8.1 %
Total 87 100 %
40%
28%
24%
8%
Desain bagus
Kualitas bagus
Harga terjangkau Lainnya
Gambar 2.21. Diagram alasan responden membeli produk OSELLA Analisa:
Kebanyakan responden membeli produk OSELLA karena kualitasnya dan desain yang dimiliki, hal ini merupakan nilai tambah bagi perusahaan untuk terus mempromosikan produknya kepada masyarakat dan target marketnya.
10. Pertama kali responden mengetahui merek OSELLA:
Tabel 2.15. Pertama kali responden mengetahui merek OSELLA Pilihan Frekuensi Persentase Orang lain (teman, keluarga) 30 34.5 %
Iklan 18 20.7 %
Tahu sendiri 16 18.4 %
Department store 20 23 %
Lainnya 3 3.4 %
Total 87 100 %
35%
18% 21%
23% 3%
Orang lain
Iklan
Tahu sendiri
Department store Lainnya
Gambar 2.22. Diagram Pertama kali responden mengetahui merek OSELLA Analisa:
Responden lebih banyak mengetahui merek OSELLA dari orang lain dan department store, hal ini menandakan kurangnya kegiatan promosi OSELLA yang dapat membuat masyarakat tertarik membeli produk OSELLA.
11. Pendapat responden terhadap produk OSELLA:
Tabel 2.16. Pendapat responden terhadap produk OSELLA dari segi harga Pilihan Frekuensi Persentase
Murah 0 0 %
Sedang 40 46%
Mahal 47 54%
Total 87 100 %
0%
46%
54%
Murah Sedang Mahal
Gambar 2.23. Diagram pendapat responden terhadap produk OSELLA dari segi harga
Tabel 2.17. Pendapat responden terhadap produk OSELLA dari segi desain Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 63 72.4 %
Cukup 22 25.3%
Kurang 2 2.3 %
Total 87 100 %
73%
25%
2%
Bagus Cukup Kurang
Gambar 2.24. Diagram pendapat responden terhadap produk OSELLA dari segi harga
Tabel 2.18. Pendapat responden terhadap produk OSELLA dari segi kualitas Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 77 88.6 %
Cukup 10 11.4%
Kurang 0 0 %
Total 87 100 %
89%
11% 0%
Bagus Cukup Kurang
Gambar 2.25. Diagram pendapat responden terhadap produk OSELLA dari segi kualitas
Analisa:
Dari data yang diperoleh dari responden, mereka menilai bahwa produk OSELLA termasuk dalam relatif harga cukup mahal, karena sebagian responden mengatakan sedang dan sebagian mengatakan mahal. Mengenai desain dan kualitas produk OSELLA, responden menilai sudah bagus. Hal ini tentunya merupakan nilai tambah bagi OSELLA untuk terus menambah target pasarnya dan membangkitkan kembali brand OSELLA ini di masyarakat.
12. Produk OSELLA yang paling disukai :
Tabel 2.19. Produk OSELLA yang paling disukai konsumen Pilihan Frekuensi Persentase
Shirt 33 38 %
T-shirt 21 24 %
Kemeja 17 19.5 %
Celana jeans 10 11.5 %
Aksesories 4 4.6 %
Semuanya 2 2.3%
Total 87 100 %
38%
24%
20%
11% 5% 2% Shirt
T-shirt Kemeja Celana jeans Aksesories Semuanya
Gambar 2.26. Diagram Produk OSELLA yang paling disukai konsumen Analisa:
Produk shirt OSELLA merupakan produk yang paling disukai responden, diikuti dengan produk T-shirt. Hal ini membuat OSELLA harus bisa mempunyai nilai jual lebih pada produknya yang lain, yang dapat dibuat melalui promosi- promosinya.
13. Promosi OSELLA menurut konsumen:
Tabel 2.20. Promosi OSELLA menurut konsumen Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 14 15.2 %
Cukup 18 19.6 %
Kurang 40 43.5 %
Tidak tahu tentang
promosinya 20 21.7 %
Total 92 100 %
15%
20%
43%
22%
Bagus
Cukup
Kurang
Tidak tahu tentang promosinya
Gambar 2.27. Diagram Promosi OSELLA menurut konsumen Analisa:
Data yang diperoleh menunjukkan kurangnya promosi OSELLA dan ada responden yang sama sekali tidak tahu tentang promosi OSELLA, hal inilah yang dapat mendukung dirancangnya promosi baru untuk OSELLA yang dapat menarik perhatian masyarakat.
14. Pendapat konsumen mengenai gerai (Outlet) OSELLA di Surabaya:
Tabel 2.21. Pendapat konsumen mengenai gerai (Outlet) OSELLA di Surabaya Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 17 18.5 %
Biasa 55 59.8 %
Jelek 20 21.7 %
Total 92 100 %
18%
60%
22%
Bagus Biasa Jelek
Gambar 2.28. Diagram Pendapat konsumen mengenai gerai OSELLA di Surabaya Analisa:
Gerai OSELLA ternyata tergolong biasa di mata responden, konsep yang berjalan memang hanya sekedar ruang pamer dan jual produk saja, adanya konsep inovasi baru sangat diperlukan untuk mendukung jalannya promosi yang akan dirancang dan akan membuat orang yang melihatnya tertarik untuk masuk, dan melakukan transaksi.
15. Pembelian kebutuhan pakaian dalam sebulan:
Tabel 2.22. Pembelian responden akan kebutuhan pakaian dalam sebulan Pilihan Frekuensi Persentase
1-2 kali 14 14 %
3-5 kali 78 78 %
Lebih dari 5 kali 8 8 %
Total 100 100 %
14%
78%
8%
1-2 kali 3-5 kali Lebih dari 5 kali
Gambar 2.29. Diagram Pembelian responden akan kebutuhan pakaian dalam sebulan
Analisa:
Dalam sebulan, responden biasa membeli pakaian sebnyak tiga sampai lima kali, hal ini dapat memacu tingkat promosi dan penjualan OSELLA, sehingga diharapkan responden atau konsumen membeli pakaian paling banyak di OSELLA.
16. Besar anggaran yang disediakan responden untuk membeli pakaian dalam satu bulan:
Tabel 2.23. Anggaran responden untuk membeli pakaian dalam satu bulan Pilihan Frekuensi Persentase
< Rp. 100.000 13 13 %
Rp. 100.000 – Rp. 400.000 65 65 %
> Rp. 400.000 22 22 %
Total 100 100 %
13%
65%
22%
< Rp. 100.000
Rp. 100.000 – Rp. 400.000
> Rp. 400.000
Gambar 2.30. Diagram Anggaran responden untuk membeli pakaian dalam satu bulan
Analisa:
Besar anggaran responden berkisar antara seratus hingga empat ratus ribu Rupiah untuk pembelanjan pakaian mereka dalam satu bulan. Harga yang diberikan oleh OSELLA untuk tiap produknya sudah sesuai dengan besar anggaran tersebut apabila mereka membeli pakaian antara tiga hingga lima kali dalam sebulan.
17. Promosi produk pakaian yang disukai:
Tabel 2.24. Promosi produk pakaian yang disukai konsumen Pilihan Frekuensi Persentase
Diskon harga 30 30 %
Iklan media massa 29 29 %
Interaktif langsung 20 20 %
Fashion show 11 11 %
Lainnya (beli 1 dapat 1) 10 10 %
Total 100 100 %
30%
29%
20%
11% 10%
Diskon harga
Iklan media massa
Interaktif langsung
Fashion show
Lainnya (beli 1 dapat 1)
Gambar 2.31. Diagram Promosi produk pakaian yang disukai konsumen Analisa:
Promosi yang disukai konsumen ialah program diskon harga dan promosi di media massa. Dari hal ini dapat membantu OSELLA untuk konsentrasi lagi di strategi promosi dengan cara diskondan iklan media massa.
18. Ketertarikan untuk mencoba program promosi ‘Make Over’ di mall : Tabel 2.25. Tanggapan responden mengenai promosi ‘Make Over’ di mall
Pilihan Frekuensi Persentase
Ya 73 73 %
Tidak (alasan: malas) 27 27 %
Total 100 100 %
73%
27%
Ya Tidak
Gambar 2.32. Diagram Tanggapan respnden mengenai promosi ‘Make Over’ di mall
Analisa:
Ketertarikan responden yang didapat ini akan menjadi strategi promosi yang akan dirancang secara sinergis dengan promosi OSELLA lainnya yang sesuai dengan strategi promosi OSELLA.
19. Besar anggaran yang disediakan responden untuk membeli pakaian dalam satu bulan:
Tabel 2.26. Pendapat responden terhadap merek H & R Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 48 48 %
Sedang 42 42 %
Jelek 10 10 %
Total 100 100 %
48%
42%
10%
Bagus Sedang Jelek
Gambar 2.33. Diagram Pendapat responden terhadap merek H & R
Tabel 2.27. Pendapat responden terhadap merek HAMMER Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 69 69 %
Sedang 28 28%
Jelek 3 3 %
Total 100 100 %
69%
28%
3%
Bagus Sedang Jelek
Gambar 2.34. Diagram Pendapat responden terhadap merek HAMMER
Tabel 2.28. Pendapat responden terhadap merek Point One Pilihan Frekuensi Persentase
Bagus 40 40%
Sedang 52 52 %
Jelek 8 8 %
Total 100 100 %
40%
52%
8%
Bagus Sedang Jelek
Gambar 2.35. Diagram Pendapat responden terhadap merek Point One Analisa:
Dari pendapat responden, dapat menjadi masukan bagi OSELLA bahwa pesaing utamanya ialah produk HAMMER, diikuti dengan produk dari H & R, dan yang terakhir ialah produk dari Point One. OSELLA bisa menganalisa apa kelebihan dan kekurangan pesaing unuk menciptakan strategi promosi dan penjualan yang efektif.
20. Media favorit responden dari segi media radio, majalah, dan koran:
Tabel 2.29. Radio Favorit Responden
Pilihan Frekuensi Persentase
Istara 30 9 %
Prambors 20 38 %
DJ FM 11 12 %
My Radio 9 13 %
Hard Rock FM 19 4 %
EBS 6 11 %
Lainnya 5 5 %
Total 100 100 %
30%
11% 20%
9%
19%
6% 5%
Istara Prambors DJ FM My Radio Hard Rock FM EBS
Lainnya
Gambar 2.36. Diagram Radio Favorit Responden
Tabel 2.30. Koran Favorit Responden
Pilihan Frekuensi Persentase
Jawa Pos 51 9 %
Kompas 20 38 %
Surya 15 12 %
Suara Merdeka 9 13 %
Lainnya 5 5 %
Total 100 100 %
51%
20%
15%
9% 5% Jaw a Pos
Kompas Surya
Suara Merdeka Lainnya
Gambar 2.37. Diagram Koran Favorit Responden
Tabel 2.31. Majalah Favorit Responden
Pilihan Frekuensi Persentase
Go Girls 11 11%
Kawanku 10 10 %
MTV Traxx 10 10 %
Gadis 19 19 %
ICE 18 18 %
Shop & Shop 8 8 %
Aneka 6 6 %
Glow 7 7 %
Hai 9 9 %
Lainnya 2 2 %
Total 100 100%
11%
10%
10%
18% 19%
8%
6%
7% 9% 2%
Go Girls Kaw anku MTV Traxx Gadis ICE
Shop & Shop Aneka Glow Hai Lainnya
Gambar 2.38. Diagram Majalah Favorit Responden Analisa:
Untuk dapat menjalankan strategi promosi yang tepat sasaran dan sesuai dengan keinginan konsumen, dari hasil kuesioner didapatkan responden menyukai radio Istara, media cetak koran yaitu Jawa Pos, serta majalah Gadis dan ICE.
2.4.2. Data Wawancara
1. Pertanyaan : Sejak tahun berapa OSELLA berdiri?
Jawaban : Sejak tahun 1987
2. Pertanyaan : Siapakah kompetitor OSELLA?
Jawaban : Kompetitor secara langsung adalah H&R, Hammer. Sedangkan kompetitor kami secara tidak langsung adalah Walrus, PoshBoy, Bomb Boogie, Oto-Ono
3. Pertanyaan : Produk OSELLA manakah yang paling laku ? Jawaban : T-Shirt dan Wangky (Kaos Oblong)
4. Pertanyaan : Gerai manakah yang pertama kali berdiri di Surabaya?
Jawaban : Di Tunjungan Plaza (TP) Surabaya Lt. UG No. 1. Kami menyewa tempat tersebut sejak 5 Oktober 1990
5. Pertanyaan : Jika boleh tahu, berapakah harga sewa gerai showroom di TP 1?
Jawaban : $40-$50/m2, dengan kurs ditetapkan oleh TP $1=Rp. 6.000,- 6. Pertanyaan : Selain showroom di TP UG Lt.1, gerai OSELLA ada di mana
saja?
Jawaban : Matahari TP, Matahari Delta Plaza, Matahari Royal Plaza 7. Pertanyaan : Promosi apa saja yang pernah dilakukan oleh OSELLA?
Jawaban : Banyak, diantaranya :
- Fashion Show di seluruh diskotik Surabaya tahun 1995-1997 - Pemasangan Neon Box di sejumlah tempat hiburan umum di
Surabaya
- Iklan di 21 Cineplex sebelum film bioskop dimulai - Iklan di Televisi pada tahun 1998-1999
- Sponsor Gadis Sampul untuk majalah Aneka, Kawanku, Gadis - Sponsor Sinetron Intan dan Wulan pada tahun 2007
8. Pertanyaan : Promosi apa yang ingin dilakukan?
Jawaban : Kami ingin meberikan souvenir untuk pembelian minimal Rp.100.000,-
9. Pertanyaan : Bagaimanakan pendapat Anda mengenai promosi “Make Over”
dan “OSELLA Community” ?
Jawaban : Menurut saya hal itu bagus sekali, Anda tahu mengenai apa yang anak muda inginkan. Semua program yang Anda rencanakan belum pernah kami pikirkan sebelumnya, saya rasa program tersebut bisa diterapkan dan saya yakin akan mendapat respon yang baik dari masyarakat.
2.4.3. Asumsi Data Survey dan Wawancara
Setelah melalui proses survey dan wawancara, perancangan promosi yang akan dilakukan oleh penulis mendapatkan respons positif baik dari manajemen OSELLA maupun target audience OSELLA itu sendiri. Promsi “Make Over” dan