No. 41/07/34/Th. XVI, 04 Juli 2014
I NDEKS D EMOKRASI I NDONESIA (IDI) 2013
INDEKS DEMOKRASI INDONESIA (IDI) DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTATAHUN 2013 SEBESAR 72,36.
1. Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia 2013
Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) DIY 2013 sebesar 72,36 dalam skala 0 sampai 100.Angka ini turun0,6poin dibandingkan dengan IDI DIY 2012 yang sebesar 72,96. Meskipun mengalami penurunan, tingkat demokrasi di DIY masih tetap berada pada kategori sedang.
Perkembangan IDIDIY dari 2010 hingga 2013 mengalami fluktuasi (2010 sebesar 74,33, 2011 sebesar 71,67, 2012 sebesar 72,96, dan 2013 sebesar 72,36). Meskipun demikian, tingkat demokrasi di DIY berdasarkan penghitungan Indeks sejak tahun 2010 hingga 2013 tetap masih berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan IDI sebagai sebuah alat untuk mengukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia, memang dirancang untuk sensitif terhadap naik-turunnya kondisi demokrasi. Karena IDI disusun berdasarkan evidence based (kejadian)sehingga potret yang dihasilkan IDI merupakan refleksi realitas yang terjadi.
IDI Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)2013 sebesar 72,36 dalam skala 0 sampai 100.Angka ini turun0,6 poin dibandingkan dengan IDI DIYl 2012 sebesar 72,96. Meskipun mengalami penurunan, tingkat demokrasi DIY masih tetap berada pada kategori sedang. Tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga katergori yakni “baik” (indeks >80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan
“buruk” (indeks < 60).
Penurunan angka yang merupakan indeks komposit tersebut dipengaruhi perubahan tiga aspek demokrasi yang diukur yakni Kebebasan Sipil (Civil Liberty) yang naik 3,39 poin dari 87,39 pada 2012 menjadi 90,78 pada 2013, Hak-Hak Politik (Political Rights) turun 4,87 poin menjadi 50,65dari 2012 yang sebesar 55,52, dan Lembaga-lembaga Demokrasi (Institution of Democracy) yang naik 1,17 poin dari 82,52 pada 2012 menjadi 83,69 pada 2013.
Secara metodologis dalam pengumpulan data digunakan 4 sumber data berupa : (1) review surat
kabar lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4)
wawancara mendalam.
Grafik 1. Perkembangan IDI DIY, 2010-2013
Angka IDI 2013 merupakan indeks komposit yang disusun dari skor beberapa aspek yakni aspek kebebasan sipil dengan nilai90,78; aspek hak-hak politik sebesar 50,65; dan aspek lembaga demokrasi sebesar 83,69.
Secara lebih rinci, pada 2013 distribusi indeks dalam ketiga aspek demokrasi yang diukur terlihat aspek kebebasan sipil dan lembaga demokrasi mengalami peningkatan berturut-turut 3,39 dan 1,17 poin. Sementara nilai indeks hak-hak politik cenderung mengalami penurunan 4,87 poin..
Walaupun terjadi peningkatan indeks, pola sebaran nilai di atas masih sama dengan tahun pengukuran sebelumnya, yaitu kebebasan sipil dan lembaga demokrasi secara umum terkategori “tinggi”, sementara aspek hak-hak Politik masih “buruk”. Dari data IDI 2013 diperoleh informasi pada aspek hak-hak politik masih terdapat penyampaian aspirasi dalam bentuk demonstrasi yang dilakukan dengan cara-cara kekerasan seperti merusak, memblokir, membakar, dan melakukan penyegelan terhadap kantor-kantor pemerintah dan pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan yang berkurang cukup banyak.
Grafik 2. Perkembangan Indeks Aspek IDI, 2010-2013 IDI
74.33
71.67
72.96
72.36
2010 2011 2012 2013
Kebebasan Sipil Hak Politik Lembaga Demokrasi
91.24
55.96
82.25 87.22
52.35
82.81 87.39
55.52
82.52 90.78
50.65
83.69
2010 2011 2012 2013
Dari sisi variabel, pada IDI 2013 terdapat tujuh variabel yang mengalami peningkatan skor yakni kebebasan berkumpul dan berserikat (naik 8,75 poin dari 90,00 pada 2012 menjadi 98,75 pada 2013), kebebasan berpendapat (naik 8,35 poin dari 81,65 pada 2012 menjadi 90,00 pada 2013), kebebasan berkeyakinan (naik 0,66 poin dari 93,34 pada 2012 menjadi 94,00 pada 2013), kebebasan dari diskriminasi (naik 6,25 poin dari 74,15 pada 2012 menjadi 80,40 pada 2013), hak memilih dan dipilih (naik 0,58 poin dari 52,25 pada 2012 menjadi 52,83 pada 2013), peran DPRD (naik 0,66 poin dari 37,60 pada 2012 menjadi 38,26 pada 2013), dan peran peradilan yang independen (naik 5 poin dari 95,00 pada 2012 menjadi 100,00 pada 2013). Sementara itu, terdapat dua variabel yang mengalami penurunan skor diantaranya partisipasi politik dalam pengambilan keputusan dan pengawasan yang turun10,3 poin dari 58,78 pada 2012 menjadi 48,48 pada 2013 dan peran partai politik yang juga turun 0,49 poin dari 99,72 pada 2012 menjadi 99,23 pada 2013. Kemudian sisanya tidak mengalami perubahan atau relatif sama.
Tabel 1. Perkembangan Skor Variabel IDI DIY, 2012-2013
No Nama Variabel 2012 2013
1 Kebebasan Berkumpul dan Berserikat 90,00 98,75
2 Kebebasan Berpendapat 81,65 90,00
3 Kebebasan Berkeyakinan 93,34 94,00
4 Kebebasan dari Diskriminasi 74,15 80,40
5 Hak Memilih dan Dipilih 52,25 52,83
6 Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan
dan Pengawasan 58,78 48,48
7 Pemilu yang Bebas dan Adil 91,66 91,66
8 Peran DPRD 37,60 38,26
9 Peran Partai Politik 99,72 99,23
10 Peran Birokrasi Pemerintah Daerah 87,98 87,98 11 Peran Peradilan yang Independen 95,00 100,00
Dari sisi indikator, pada IDI 2013 terdapat 15 indikator yang mengalami kinerja baik(merupakan
indikator yang memiliki skor di atas 80) diantaranya yaitu indikator 1, 2, 3, 5,6, 7,10, 11, 18, 19, 23, 24,
25, 27, dan 28 (lihat tabel 2 perkembangan skor indikator 2012 dan 2013). Kendati demikian, masih
terdapat masalah kronis yang ditunjukkan melalui indikator 13, 17, 20, 21, dan 22 (merupakan indikator
yang memiliki skor dibawah 50), diantaranya adalahkualitas daftar pemilih tetap (DPT), pengaduan
masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan, alokasi anggaran pendidikan, perda yang
merupakan inisiatif DPRD dan rekomendasi DPRD kepada eksekutif. Oleh karena itu, indikator
tersebut memerlukan perhatian khusus agar nilainya dapat membaik.
Tabel 2. Perkembangan Skor Indikator 2012 dan 2013
Nomor Indikator 2012 2013
1
Kebebasan Sipil
Ancaman/penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat
kebebasan berkumpul dan berserikat 90,00 100,00
2 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat
kebebasan berkumpul dan berserikat 90,00 90,00
3 Ancaman /penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat
kebebasan berpendapat 90,00 90,00
4 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat
kebebasan berpendapat 40,00 90,00
5 Aturan tertulis yang membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama 95,65 95,65 6 Tindakan/pernyataan pejabat membatasi kebebasan menjalankan ibadah agama 100,00 90,00 7 Ancaman/penggunaan kekerasan dari satu kelompok terkait ajaran agama 80,00 90,00 8 Aturan tertulis yang diskriminatif dalam hal gender, etnis, kelompok 50,00 50,00 9 Tindakan/pernyataan pejabat yang diskriminatif dalam hal gender dst 77,50 100,00 10 Ancaman/penggunaan kekerasan oleh masyarakat karena alasan gender 100,00 100,00
Hak-Hak Politik
11 Hak memilih atau dipilih terhambat 86,54 86,54
12 Kurang fasilitas sehingga penyandang cacat tidak dapat menggunakan hak pilih 50,00 50,00
13 Kualitas Daftar Pemilih Tetap (DPT) 30,00 30,00
14 Voters turnout 72,95 72,95
15 % Perempuan terpilih terhadap total anggota DPRD Propinsi 72,73 78,79
16 Demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan 72,61 76,96
17 Pengaduan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan 44,95 20,00 Lembaga Demokrasi
18 Keberpihakan KPUD dalam penyelenggaraan pemilu 90,91 90,91
19 Kecurangan dalam penghitungan suara 92,41 92,41
20 Alokasi anggaran pendidikan 47,72 40,38
Alokasi anggaran kesehatan 57,51 63,48
21 Perda yang merupakan inisiatif DPRD 14,29 21,43
22 Rekomendasi DPRD kepada Eksekutif 3,57 3,57
23 Kegiatan kaderisasi yang dilakukan partai peserta pemilu 100,00 100,00
24 % perempuan pengurus partai politik 97,22 92,28
25 Penggunaan fasilitas pemerintah untuk kepentingan parpol 98,68 98,68 26 Keterlibatan PNS dalam kegiatan parpol peserta pemilu 77,27 77,27
27 Keputusan hakim yang kontroversial 90,00 100,00
28 Penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi 100,00 100,00