PROSPEK PENGEMBANGANNYA
(Kasus di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat)
Oleh :
Anggun Eka Nugraha Putra A 14101658
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
RINGKASAN
ANGGUN EKA NUGRAHA PUTRA. Analisis Sistem Tataniaga Kayu Jenis Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Prospek Pengembangannya (Kasus di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat). (Di Bawah Bimbingan HARIANTO ).
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam dengan tingkat kenanekaragaman hayati dan tingkat keunikan (endemisme) yang sangat tinggi sehingga termasuk salah satu negara mega-biodiversity. Keanekaragaman hayati termasuk di dalamnya jenis-jenis satwa dan tumbuhan serta ekosistemnya, telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah hutan.
Hutan memiliki fungsi tangiable (dapat diukur dari segi ekonomi) dan intangiable (sulit diukur dari segi ekonomi). Fungsi hutan yang tangiable adalah sebagai penghasil bahan baku untuk berbagai keperluan bagi masyarakat seperti untuk kayu gergajian, kayu lapis, kayu pertukangan, pulp, dan kayu energi. Fungsi hutan yang termasuk fungsi Intangiable yaitu hutan berfungsi sebagai pengatur siklus hidrologi, penyeimbang ekosistem dan ekologi, pencegah bencana alam (erosi, longsor dan banjir), tempat rekreasi alam, serta habitat bagi tumbuhan dan satwa.
Tujuan penelitian yaitu, Menganalisis sistem tataniaga kayu gergajian jenis Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Prospek pengembangan budidaya tanaman Sengon oleh masyarakat di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung.
Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Mei 2005 di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer
berdasarkan kuisioner yang meliputi karakteristik petani, jenis kayu, harga beli,
harga jual, jumlah kebutuhan kayu, jumlah produksi, sumber pembelian, arah
penjualan, tujuan pembelian, dan teknik pengangkutan. Data sekunder meliputi
informasi keadaan umum, letak geografis dan informasi lain yang berkaitan yang
diperoleh dari Badan Statistik Kabupaten Bandung, Dinas Kehutanan Jawa Barat,
Kantor Kecamatan Cililin, Kantor Kelurahan, dan Perpustakaan. Data yang
diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif.
Analisis kualitatif meliputi pengamatan lokasi, karakteristik petani, sistem budidaya, struktur pasar, perilaku pasar, saluran tataniaga, marjin tataniaga, aspek pasar dan pemasaran, aspek sosial budaya, dan aspek teknik dan teknologi.
Sedangkan analisis kuantitatif melihat keragaan pasar dengan pendekatan analisis marjin tataniaga, analisis ekonomi budidaya kayu Sengon yang meliputi perhitungan B/C (Benefit and cost ratio) , IRR (Internal rate of return), dan NPV (Net present value).
Umumnya jenis kayu yang diperdagangkan di wilayah penelitian Kecamatan Cililin adalah jenis kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) atau disebut kayu Albazia. Jenis kayu lainnya; kayu Afrika (Maesopsis eminii), Mahoni (Swetinia mahagoni), Manglid (Maglonia blumei), Jati (Tectona grandis), Suren (Toona sureni), dan Nangka (Arthocarpus heterophyllus).
Jenis kayu pada tingkat Industri Penggergajian Kayu (IPK) dihasilkan bermacam-macam ukuran seperti; tiang, papan, kaso, kusen, palang, reng dan palet. Beberapa cara yang digunakan dalam proses penjualan kayu diantaranya;
Petani menawarkan langsung kayu kepada tengkulak atau pengolah; Tengkulak atau pengolah telah mengamati kebun-kebun kayu milik masyarakat sebelumnya;
Tengkulak dan pengolah mendapatkan informasi dari masyarakat lainnya. Sistem pembayaran yang diggunakan pada tingkat tengkulak dan pengolah adalsh cara tunai sebanyak 62,96 persen dan cara mencicil 11,11 persen, dan sisanya 25,93 persen menggunakan cara keduanya. Struktur pasar yang terbentuk berdasarkan jumlah antara lembaga pemasaran dan petani adalah struktur persaingan tidak sempurna (Imperfect competitive market).
Lembaga tataniaga kayu Sengon pada wilayah penelitian adalah; Petani Sengon, Tengkulak kayu, Pengolah kayu, Industri Penggergajian Kayu (IPK), Pedagang penampung dan Material. Secara umum saluran tataniaga kayu Sengon di Kec.Cililin dapat dikelompokkan menjadi tujuh saluran tataniaga, yaitu;
Saluran I (Petani, Tengkulak, dan Pedagang Penampung). Saluran II (Petani,
Tengkulak, Industri Penggergajian Kayu (IPK), dan Material). Saluran III (Petani,
Pengolah, dan Pedagang Penampung). Saluran IV (Petani, Pengolah, dan
Material). Saluran V (Petani, Industri, dan Material. Saluran VI Petani,
Tengkulak, Industri Penggergajian Ka yu (IPK), Pedagang Penampung). Dan yang terakhir saluran VII (Petani, Tengkulak, dan Industri luar daerah).
Beberapa masalah yang dihadapi oleh petani dan pelaku pasar lainnya dalam pemasaran kayu Sengon di Kecamatan Cililin diantaranya adalah; Masih rendahnya pengetahuan petani tentang tata cara bertani atau berkebun kayu Sengon (budidaya, pemanenan, penaganan pasca panen) yang baik, Terbatasnya akses informasi pasar oleh petani; Kualitas dan jumlah kayu yang dipanen masih rendah, Petani tidak memiliki kelompok kerja antara sesama petani atau dengan pelaku tataniaga lainnya sebagai tempat untuk bertukar pengalaman mengenai budidaya, pemasaran, atau masalah pertanian lainnya.
Saluran yang paling banyak digunakan adalah saluran tataniaga I (Petani–
Tengkulak–Pedagang Penampung). Dengan marjin tataniaga tengkulak sebesar 36,51 persen dan keuntungan sebesar 154,05 persen, sedangkan Farmer’s share petani sebesar 63,40 persen dengan keuntungan sebesar 29,22 persen.
Nilai rata-rata marjin keuntungan terbesar diperoleh pengolah sebesar Rp 46.488.10/m
3, diikuti oleh Industri Penggergajian Kayu (IPK) sebesar Rp 40.666.67/m
3, kemudian tengkulak sebesar Rp 36.916.67/ m
3, tengkulak sebesar Rp 35.375.00/m
3dan yang terendah Petani sebesar Rp 28.132.19/ m
3.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa sistem tataniaga kayu gergajian jenis Sengon di wilayah Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung belum efisien karena tidak adanya pembagian keuntungan yang merata antara pelaku tataniaga yang terlibat. Usaha budidaya Sengon di wilayah Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung layak untuk dilakukan karena berdasarkan nilai B/C ratio lebih dari 1 (satu), yaitu sebesar 3,34, dengan nilai NPV positif sebesar 1. 242.738, dan nilai IRR sebesar 39,85 persen lebih besar dari r yang diinginkan.
Saran yang dapat diberikan diantaranya perlu diadakannya pelatihan
budidaya tanaman Sengon bagi petani secara terpadu, sehingga diharapkan
usahatani tersebut dapat memiliki produktivitas hasil yang tinggi dan dapat
meningkatkan keuntungan petani. Untuk meningkatkan efisiensi sistem tataniaga
kayu Sengon di wilayah Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung, perlu dibentuk
kelompok tani sebagai wadah bagi petani untuk mengetahui informasi pasar,
mendapatkan bantuan modal dan teknologi budidaya yang digunakan.
PROSPEK PENGEMBANGANNYA
(Kasus di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat)
Oleh :
Anggun Eka Nugraha Putra A 14101658
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian
Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2006
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh:
Nama : Anggun Eka Nugraha Putra Nrp : A 14101658
Program Studi : Ekstensi Manajeman Agribisnis
Judul Skrip si : Analisis Sistem Tataniaga Kayu Jenis Sengon
(Paraserianthes falcataria) dan Prospek Pengembangannya (Kasus di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat).
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan pada Program Sarjana Ekstensi Manajeman Agribisnis Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Harianto, MS Nip. 131 430 801
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, M.Agr.
Nip. 130 422 698
Tanggal Kelulusan 23 Januari, 2006
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR- BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, Januari 2006
Anggun Eka Nugraha Putra
A 14101658
Penulis terlahir dari pasangan Drs. H. Aan Supriatna, MM dan Hj. I. Rohiyah, S.Ag, pada hari Rabu, tanggal 25 Juni 1980, di Kota Bandung
tepatnya di Desa Bongas Cililin. Penulis terlahir sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dengan nama adik kandung Indah Dwi Kartini Putri.
Penulis mengikuti Pendidikan Sekolah Dasar di SDN Ciherang V Sindang Barang Ciomas Kabupaten Bogor dan lulus pada tahun 1992, kemudian melanjutkan ke Pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri di SLTPN 7 Kotamadya Bogor dan lulus pada tahun 1995, setelah itu Penulis melanjutkan Pendidikan ke Sekolah Menengah Umum Negeri di SMUN 7 Kotamadya Bogor, dan lulus pada tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis di terima sebagai mahasiswa di Program Diploma III Budidaya Hutan Tanaman Jurusan
Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 2002. Penulis melanjutkan Pendidikan Sarjana pada Program Ekstensi
Manajeman Agribisnis Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor periode pada hari tahun 2003/2004.
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif berorganisasi di lingkungan akademik ataupun masyarakat. Beberapa organisasi kepemudaan yang pernah diikuti dan dipimpin adalah; sebagai Ketua Himpunan Karang Taruna di lingkungan tempat tinggal; Ketua Himpunan Forum Komunikasi (FORKOM) Mahasiswa Diploma III Fakultas Kehutanan IPB dan Wakil Ketua Senat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kehutanan IPB periode tahun 1999-2000;
Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Kehutanan Institut
Pertanian Bogor pada tahun yang sama; dan aktif sebagai anggota pada Himpunan
Mahasiswa Ekstensi Manajemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor periode
2003-2004; saat ini penulis menjabat sebagai Ketua Himpunan Alumni Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
i Alhamdulillahirobil’alamin penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rakhmat dan karunia -Nya yang telah diberikan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Analisis Sistem Tataniaga Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Prospek Pengembangnnya (Kasus di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat)”.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat kelulusan pendidikan pada Program Ekstensi Manajeman Agribisnis Pertanian, Institut Pertanian Bogor tahun ajaran 2005/2006 yang disusun berdasarkan kegiatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan penelitian dan studi literatur yang ada kaitannya dengan usahatani kayu Sengon.
Selama menyusun skripsi ini, penulis dapat bimbingan, dukungan, serta dorongan yang tidak sedikit dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis sampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya, semoga segala perhatian yang diberikan, dilimpahkan rakhmat dan karunia dari Allah SWT. Amiin. Besar harapan penulis semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan umumnya bagi para pembaca.
Bogor, Januari 2006
Penulis
ii
1. Penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahku Drs. H. Aan Supriatna, MM dan Bundaku tercinta Hj. I. Rohiyah, SAg,
yang telah memberikan ilmu, do’a, materi, motivasi dan kesabarannya.
2. Untuk Nenekku, dan seluruh Keluarga besar di Desa Bongas Cililin, Bandung.
Atas do’a, kasih sayang dan sajiannya. Untuk Adikku Indah Dwi Kartini Putri atas semua perhatiannya.
3. Bapak Dr. Ir. Harianto, MS, sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu dan menyumbangkan ilmunya untuk membantu Penulis dalam menyusun skripsi.
4. Ibu Ir. Yayah K. Wagiono, MEc, sebagai dosen Layak Uji dan Ketua Program Sarjana Ekstensi Manajeman Agribisnis Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
5. Ibu Ir. Ratna Winandi. MS, selaku dosen Eva luator pada Kolokium Skripsi.
6. Bapak Muhammad Firdaus. SP. MSi, sebagai dosen Penguji Utama pada Sidang Skripsi.
7. Ibu Tanti Novianti, SP. MSi, sebagai dosen Penguji Akademik pada Sidang Skripsi.
8. Saudara Andri Purna, sebagai Pembahas Seminar.
9. Seluruh Staf Sekretariat Ekstensi Manajemen Agribisnis Pertanian Institut Pertanian Bogor.
10. Teman dekatku tercinta “Eceu” atas kesetiaan mendampingi, semangat dan kasih sayangnya selama ini.
11. Seluruh teman dan sahabatku, Uyunk ‘geulis atas ide cemerlangnya, Alimi
‘doth, Adi ‘ndut, Rully ‘boun, Eka Cianjur dan Welly atas keceriaanya.
12. Tim Sepakbola dan Futsal atas keringatnya, dan seluruh sahabat kuliah yang
telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih.
iii Halaman
KATA PENGANTAR... i
UCAPAN TERIMA KASIH ... ii
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR... vii
DAFTAR LAMPIRAN...viii
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...1
1.2. Perumusan Masalah ...4
1.3. Tujuan ...7
1.4. Ruang Lingkup dan Manfaat Penelitian ...7
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tataniaga ...8
2.2. Lembaga dan Saluran Tataniaga ...9
2.3. Struktur Pasar...11
2.4. Perilaku Pasar...12
2.5. Efisiensi Tataniaga ...12
2.6. Marjin Tataniaga ...14
2.7. Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria ) ...16
2.7.1. Botani dan Ekologi...17
2.7.2. Penanaman ...18
2.7.3. Kegunaan ...18
2.8. Studi Penelitian Terdahulu ...20
2.9. Prospek Pengembangan Sengon (Paraserianthes falcataria ) ...22
III. METODE PENELITIAN
3.1. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian...23
iv
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 24
3.4.1. Analisis Lembaga Tataniaga dan Saluran Tataniaga……… ... 25
3.4.2. Analisis Struktur Pasar...25
3.4.3. Analisis Marjin Tataniaga ………. ...25
3.4.4. Analisis Efisiensi Tataniaga…………... 26
3.4.5. Analisis Aspek Pasar dan Pemasaran...27
3.4.6. Analisis Aspek Sosial Ekonomi Budaya...28
3.4.7. Analisis Aspek Teknis dan Teknologi ...28
3.4.8. Analisis Aspek Keuangan (Financial) ...28
3.4.8.1. NPV(Net Present Value) ...28
3.4.8.2. IRR(Internal Rate of Return) ...29
3.4.8.3. B/C Ratio(Benefit and Cost Ratio)...29
3.5. Kerangka Operasional…………... 29
IV. KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Lokasi Penelitian...33
4.2. Sarana Perekonomian...35
4.3. Jenis Tanaman Pertanian...36
4.4. Sarana Sosial Budaya dan Transportasi...36
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Jenis dan Bentuk Kayu yang Diperdagangkan ... 38
5.2. Lembaga Tataniaga dan Distribusi Kayu...41
5.3. Cara Pembelian dan Pembayaran...42
5.4. Harga dan Struktur Pasar ...44
5.5. Total Biaya Tataniaga Kayu Sengon Yang Terjadi ...46
5.6. Saluran Tataniaga dan Marjin Tataniaga ...48
5.7. Marjin Keuntungan...51
5.8. Hubungan antara Pelaku Tataniaga dengan Saluran Tataniaga ...54
5.9. Hubungan antara Saluran Tataniaga dengan Biaya
Tataniaga dan Total Keuntungan ... 56
v VI. PROSPEK PENGEMBANGAN BUDIDAYA KAYU SENGON
(Paraserianthes falcataria)
6.1. Aspek Pasar dan Pemasaran ...61
6.2. Aspek Sosial, Ekonomi dan Budaya ... 62
6.3. Aspek Teknis dan Teknologi ...62
6.4. Aspek Keuangan (Finansial) ...63
6.4.1. NPV (Net Present Value) ...67
6.4.2. IRR (Internal Rate of Return) ...67
6.4.3. B/C Ratio (Benefit and Cost Ratio) ...69
VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan...70
7.2. Saran ...71
DAFTAR PUSTAKA...72
LAMPIRAN…………...74
vi
No Halaman
1. Data Jumlah Kebutuhan Kayu Bulat dan Gergajian Propinsi Jawa barat... 4
2. Karakteristik Struktur Pasar ...26
3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia di Kecamatan Cililin ...34
4. Luas Tanaman dan Jumlah Produksi per ton di Kecamatan Cililin ...36
5. Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Ciilin ...37
6. Bentuk dan Jenis Kayu Olahan Dalam Berbagai Macam Ukuran di Kecamatan Cililin ...39
7. Sistem Pembayaran Kayu Sengon oleh Tengkulak dan Pengolah di Kecamatan Cililin ...43
8. Persentase Jumlah Lembaga Pemasaran Kayu Sengon di Kecamatan Cililin ...44
9. Harga Rata-rata Kayu Gelondongan (log) di Kecamatan Ciilin ...45
10. Marjin Tataniaga (M), Farmer’s share (FS) dan Rasio keuntungan (RK) ...50
11. Marjin Keuntungan Pelaku Pasar di Kecamatan Cililin ...53
12. Hubungan Saluran Tataniaga dengan Biaya Tataniaga dan Total Keuntungan di Kecamatan Cililin ...57
13. Penerimaan dan Keuntungan Usahatani Kayu Sengon Dalam 5000m
2...64
14. Analisis Biaya Usahatani Kayu Sengon Dalam 5000m
2di Kecamatan Cililin... 66
15. Perhitungan NPV Usahatani Kayu Sengon dengan r = 30% ...67
16. Perhitungan NPV Usahatani Kayu Sengon dengan r = 40% ...68
17. Perhitungan Interpolasi Present value dengan r = 30 dan r = 40 ...68
18. Perhitungan B/C Ratio Pada Usahatani Kayu Sengon
di Kecamatan Cililin... 69
vii No Halaman 1. Hubungan Antara Marjin Tataniaga, Nilai Marjin Tataniaga serta
Marketing Cost dan Charges ...15 2. Skematika Konsep Utama Kerangka Penelitian...32 3. Saluran Tataniaga Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria)
di Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung Tahun 2005...54
viii
No Halaman
1. Biaya Produksi Kebun Sengon di Kecamatan Cililin ... 74
2. Saluran Tataniaga I Kayu Sengon di Kecamatan Cililin... 76
3. Saluran Tataniaga II Kayu Sengon di Kecamatan Cililin ... 77
4. Biaya Tataniaga Saluran I dan II Kayu Sengon di Kecamatan Cililin... 78
5. Biaya dan Saluran Tataniaga III Kayu Sengon di Kecamatan Cililin... 79
6. Saluran dan Biaya Tataniaga IV Kayu Sengon di Kecamatan Cililin... 80
7. Saluran dan Biaya Tataniaga V Kayu Sengon di Kecamatan Cililin ... 81
8. Saluran Tataniaga VI Kayu Sengon di Kecamatan Cililin... 82
9. Biaya Tataniaga Saluran VI dan VII Kayu Sengon di Kecamatan Cililin ... 83
10. Saluran dan Biaya Tataniaga VII Kayu Sengon di Kecamatan Cililin ... 84
11. Sistem Pembayaran Pengolah dan Tengkulak, Jumlah Penduduk Menurut Matapencaharian di Kecamatan Cililin ... 85
12. Analisis Biaya Budidaya Kayu Sengon Kayu Sengon di Kecamatan Cililin ... 86
13. Total Biaya Tataniaga Kayu Sengon di Kecamatan Cililin Kabupaten
Bandung Tahun 2005 ... 87
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam dengan tingkat kenanekaragaman hayati dan tingkat keunikan (endemisme) yang sangat tinggi sehingga dimasukkan ke dalam salah satu negara mega-biodiversity.
Keanekaragaman hayati termasuk di dalamnya jenis-jenis satwa dan tumbuhan serta ekosistemnya, telah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satunya adalah hutan. Hutan merupakan sumber daya alam yang memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup di dunia. Hutan memiliki fungsi tangiable (dapat diukur dari segi ekonomi) dan intangiable (sulit diukur dari segi ekonomi). Fungsi hutan yang tangiable adalah sebagai penghasil bahan baku untuk berbagai keperluan bagi masyarakat seperti untuk kayu gergajian, kayu lapis, kayu pertukangan, pulp, dan kayu energi. Sedangkan fungsi hutan yang termasuk fungsi Intangiable yaitu hutan berfungsi sebagai pengatur siklus hidrologi, penyeimbang ekosistem dan ekologi, pencegah bencana alam (erosi, longsor dan banjir), tempat rekreasi alam, serta habitat bagi tumbuhan dan satwa.
Pada masa awal pembangunan Indonesia, eksploitasi sumber daya hutan
hanya berorientasi pada timber based management yang menitikberatkan pada
manfaat untuk menghasilkan devisa Negara. Memasuki Abad 21, pembangunan
kehutanan Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang makin kompleks yaitu
Indonesia dikenal sebagai negara dengan laju pengurangan luas hutan alam yang
terbesar di dunia. Data menunjukkan laju pengurangan luas hutan tersebut di
Sumatera mencapai 2 persen per tahun, di Jawa mencapai 0,42 persen per tahun,
di Kalimantan mencapai 0,94 persen per tahun, di Sulawesi mencapai 1 persen per tahun dan di Irian Jaya mencapai 0,7 persen per tahun. Pengurangan luas hutan tersebut terja di akibat proses laju penurunan mutu hutan (degradasi) dan penggundulan hutan (deforestasi). Beberapa studi menunjukkan laju degradasi dan deforestasi hutan di Indonesia mencapai rata -rata 1-1,5 juta hektar per tahunnya
1. Hal tersebut telah memberikan implikasi yang sangat luas dan mengkhawatirkan bagi kehidupan masa depan. Fungsi-fungsi lingkungan yang mendukung kehidupan manusia terabaikan, beranekaragam kehidupan flora dan fauna yang membentuk mata rantai kehidupan menjadi rusak dan hilang, yang terjadi saat ini adalah banjir di beberapa daerah serta kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap. Selain itu laju kerusakan yang tinggi mengakibatkan sumber daya hutan Indonesia mengalami penurunan potensi kayu yang sangat berarti dari tahun ke tahun. Disisi lain permintaan untuk kebutuhan kayu perumahan, pulp, gergajian, energi, dan bahan baku lainnya meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, dampaknya adalah persediaan kayu yang ada tidak dapat mencukupi kebutuhan.
Berdasarkan hasil paduserasi Tata Guna Hutan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) yang dituangkan kedalam keputusan Gubernur Jawa Barat nomor 17, luas potensi sumber daya hutan di Propinsi Jawa Barat seluas 784.119 ha, atau sekitar 22,57 persen dari luas daratan Jawa Barat.
Luas tersebut terdiri dari hutan produksi 295.635 ha, hutan lindung 210.138 ha.
Selain kawasan hutan hasil paduserasi, di Jawa Barat terdapat hutan milik atau hutan rakyat seluas 98.127,78 ha. Berdasarkan aspek pengelolaan, kawasan hutan seluas 792.467 ha atau sekitar 79,19 persen dari luas kawasan hutan Jawa
1 WWW.dephut.goid/informasi/peta%20tematik/DEFOREST.HTM-4k.
Barat sepenuhnya dikelola oleh Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Sisanya berupa kawasan konservasi seluas 208.267 ha atau sekitar 20,81 persen dari luas kawasan hutan Jawa Barat yang terdiri dari kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam yang dikelola oleh unit-unit pengelolaan Taman Nasional.
Berdasarkan data mengenai jumlah kebutuhan kayu bulat dan kayu gergajian di Propinsi Jawa Barat pada Tabel 1, besarnya jumlah kebutuhan kayu di wilayah Jawa Barat sangat tergantung kepada Perum Perhutani sebagai lembaga resmi yang bekerja sama dengan Pemerintah dalam pemanfaatan hasil hutan kayu dan non kayu. Sejak lima tahun lalu kebutuhan kayu diperkirakan mencapai sekitar lima juta meter kubik per tahun. Sedangkan, produksi kayu bulat Perhutani setiap tahun rata-rata hanya satu juta meter kubik. Pada 1999, produksi kayu bulat Perhutani tercatat 1,8 juta meter kubik. Pada 2000 menurun menjadi 1,6 juta meter kubik. Penurunan produksi itu membuat Perhutani menurunkan target tebangan tahun 2003, menjadi 931.503 meter kubik, dan tahun 2004 diturunkan lagi menjadi 847.320 meter kubik. Kebutuhan bahan baku kayu untuk industri maupun perorangan di Jawa semakin hari kian meningkat. Pasokan dari pulau lain dipastikan tidak mencukupi, karena arus pembangunan fisisk yang membutuhkan bahan baku kayu dalam jumlah banyak.
Kebutuhan kayu bulat tahun 2001 jumlahnya semakin menurun
dibandingkan denagan tahun-tahun sebelumnya. Menurunnya jumlah kebutuhan
kayu bulat untuk Perum Perhutani tersebut sesuai dengan kebijakan Departemen
Kehutanan yang menerapkan kebijakan untuk mengurangi dan menghentikan
sementara kegiatan pemanenan atau penebangan kayu rimba di wilayah Perum
Perhutani unit III Jawa Barat. Kebijakan ini ditujukan untuk mengurangi dampak
yang kerusakan alam disebabkan menurunnya daya dukung alam bagi lingkungan sekitarnya sehingga terjadi bencana alam seperti tanah longsor, banjir, dan kekeringan. Selain itu juga ditujukan untuk mengembalikan potens i tegakan kayu sehingga volume kayu yang dipanen meningkat
2. Disisi lain berbeda dengan kondisi kebutuhan kayu bulat pada Perum Perhutani yang semakin menurun, jumlah kebutuhan kayu untuk kayu gergajian semakin meningkat. Sesuai data Dirjen Pengusahaan Hutan yang terdapat pada Tabel 1, Pada tahun 2000 jumlah kebutuhan kayu gergajian sebesar 501.000.00/
m3, kemudian meningkat menjadi 702.356.30/
m3, pada tahun 2001.
Tabel. 1. Data Jumlah Kebutuhan Kayu Bulat dan Gergajian Propinsi Jawa Barat Tahun 1995-2001
JENIS KEBUTUHAN KAYU (m3)
TAHUN PROPINSI/LEMBAGA KEHUTANAN
KAYU BULAT KAYU GERGAJIAN
1995 Jawa Barat 0 7.889.81
Perum Perhutani 1.869.850.44 0
1996 Jawa Barat 0 44.969.71
Perum Perhutani 1.949.203.24
1997 Jawa Barat 374.340.17 45.930.02
Perum Perhutani 1.821.297
1998 Jawa Barat 0 145.020.13
Perum Perhutani 2.027.682.19
1999 Jawa Barat 0 444.877.10
Perum Perhutani 1.890.900.78
2000 Jawa Barat 0 501.000.00
Perum Perhutani 897.615.38
2001 Jawa Barat 0 702.356.30
Perum Perhutani 1.455.403
Sumber : Direktorat Jenderal Pengusahaan Hutan (2003)
Sumber daya hutan memiliki keterbatasan untuk memperbaharui alam yang ada didalamnya. Daya regenerasi hutan lebih rendah apabila dibandingkan dengan tingkat pemanfaatan sumber daya kayu untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Semakin tinggi kebutuhan akan sumber daya hutan, maka akan
2WWW.grenomies.org/docs%semi201004_hutan.doc
semakin berkurang potensi sumber daya hutan tersebut, dan apabila kondisi ini semakin hari semakin tidak terkendali maka kondisi ekosistem hutan akan menjadi rusak dan luas kawasan hutan akan semakin berkurang karena adanya kegiatan ekploitasi dan konversi areal hutan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya.
(Soerianegara, 1996).
Pertimbangan ekonomi dalam hal ekploitasi, produksi dan konsumsi harus diimbangi dengan pertimbangan ekologi dalam hal regenerasi, rehabilitasi dan konservasi. Kecepatan ekploitasi sumber daya hutan harus seimbang dengan kecepatan tumbuh dari sumber daya hutan tersebut. Ekploitasi sumber daya hutan banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, salah satunya adalah untuk bahan baku kayu gergajian. Di daerah pedesaan dan perkotaan telah banyak tersebar industri-industri kayu gergajian dengan menggunakan jenis bahan baku kayu yang berbeda. Di daerah pedesaan seperti di Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung, jenis bahan baku yang umum digunakan adalah jenis kayu Sengon (Paraserianthes falcataria).
1.2. Perumusan Masalah
Kayu Sengon terkenal murah dan mudah dalam penggunaanya sebagai
kayu gergajian. Di wilayah Kecamatan Cililin, harga kayu Sengon sangat
tergantung terhadap kualitas dan kuantitasnya di alam. Dengan meningkatnya
jumlah industri penggergajian kayu, kebutuhan pasokan bahan baku kayu Sengon
akan semakin meningkat. Berdasarkan pengamatan awal di lokasi penelitian,
Kecamatan Cililin memiliki kondisi lingkungan alam yang subur dengan kondisi
topografi lahan yang berbukit. Kondisi lingkungan ini sangat sesuai untuk
tanaman Sengon sehingga dapat tumbuh dengan baik. Akan tetapi kondisi tersebut belum didukung oleh sistem budidaya yang baik oleh petani sebagai produsen kayu. Petani di Kecamatan Cililin masih mengandalkan bibit Sengon yang tumbuh liar di alam dengan tingkat keberhasilan tumbuhnya yang rendah. Oleh karena itu pengamatan mengenai prospek pengembangan budidaya Sengon mulai dari pembibitan sampai dengan pemasaran hasil kayu sangat penting. Dengan diketahuinya tingkat kelayakan budidaya Sengon di wilayah tersebut, diharapkan dapat menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dan pengusaha untuk berinvestasi menanam kayu Sengon. Dis isi lain, secara tidak langsung hal ini juga dapat membantu meningkatkan keuntungan petani kayu Sengon di tempat penelitian.
Petani sebagai produsen kayu di Kecamatan Cililin belum menganggap tanaman Sengon sebagai suatu komoditi yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini terlihat dari sedikitnya jumlah petani yang mengelola kebunnya dengan baik.
Terbatasnya kemampuan petani dalam budidaya Sengon menjadi salah satu
penyebab mereka kurang memiliki daya saing dalam menawarkan kayu Sengon,
sehingga volume kayu dan keuntungan dari hasil penjualan yang didapatnya
sedikit. Harga kayu yang dijual lebih ditentukkan oleh para tengkulak dan
memposisikan petani sebagai penerima harga (price taker). Posisi tersebut
mengakibatkan peran tengkulak lebih menonjol dan mendapatkan keuntungan
yang lebih besar dibandingkan petani. Walaupun kondisi tersebut adalah kondisi
yang umumnya terjadi dalam suatu usahatani, akan tetapi perlu dikaji lebih jauh
mengenai sistem tataniaga yang sedang terjadi saat ini sehingga dapat diketahui
apakah sistem tataniaga tersebut sudah efisien atau belum.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu :
1. Menganalisis sistem tataniaga kayu jenis Sengon di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung.
2. Menganalisis prospek pengembangan budidaya tanaman Sengon oleh masyarakat di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung.
1.4. Ruang Lingkup dan Manfaat Penelitian
Ruang lingkup penelitian meliputi kegiatan tataniaga kayu Sengon di Kecamatan Cililin Kabupaten Bandung. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan budidaya tanaman di persemaian, penanaman, pemanenan, distribusi, dan proses jual beli. Termasuk kedalamnya analisis pendapatan dan biaya usahatani serta data mengenai jumlah dan fungsi saluran serta lembaga tataniaga yang terlibat seperti
produsen dan konsumen akhir. Konsumen akhir dalam penelitian ini diartikan sebagai sekelompok orang atau individu yang membeli kayu untuk
diperjual belikan dengan cara dirubah bentuknya ataupun disesuaikan dengan kebutuhan para pengguna.
Manfaat pe nelitian yang diharapkan adalah sebagai referensi bagi
penelitian mengenai sistem tataniaga kayu Sengon selanjutnya, dan acuan untuk
Pemerintah Daerah dalam rangka pengembangan budidaya Sengon secara terpadu
di kebun-kebun masyarakat, serta acuan bagi pengusaha yang ingin berinvestasi
pada usahatani kayu Sengon di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tataniaga
Definisi tataniaga menurut Kohls, R.L. (1967) adalah keragaan dari semua aktivitas bisnis dalam upaya menyalurkan produk atau jasa mulai dari titik produksi sampai ketangan konsumen. Tataniaga merupakan suatu kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran, yaitu meliputi kegiatan untuk memindahkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen (Kotler,1990).
Pengertian tataniaga dapat dilihat dengan pendekatan manajerial (aspek pasar) dan aspek ekonomi. Berdasarkan aspek manajerial, tataniaga merupakan analisis perencanaan organisasi, pelaksanaan dan pengendalian pemasaran untuk menentukkan kedudukan pasar. Sedangkan berdasarkan aspek ekonomi, tataniaga merupakan distribus i fisik dan aktivitas ekonomi yang memberikan fasilitas- fasilitas untuk begerak, mengalir dan pertukaran komponen barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Selain itu tataniaga merupakan kegiatan produktif karena meningkatkan, menciptakan nilai guna bentuk, waktu, tempat dan kepemilikan.
Dengan demikian tataniaga pertanian dapat diartikan sebagai semua bentuk
kegiatan dan usaha yang berhubungan dengan perpindahan hak milik dan fisik
dari barang-barang hasil pertanian dan kebutuhan usaha pertanian dari tangan
produsen ke konsumen, termasuk di dalamnya kegiatan-kegiatan tertentu yang
menghasilkan perubahan bentuk dari barang untuk mempermudah penyalurannya
dan memberikan kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen (Limbong, 1997).
Dalam menganalisis sistem tataniaga Khols, R.L. (1967), selanjutnya mengemukakan beberapa pendekatan yang digunakan, yaitu :
1. Pendekatan Fungsi (the fungsional approach)
Merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengetahui fungsi tataniaga apa saja yang dijalankan oleh pelaku yang terlibat dalam tataniaga. Fungsi- fungsi tersebut adalah fungsi pertukaran (pembelian dan penjualan), fungsi fisik (penyimpanan, transportasi, dan pengolahan) dan fungsi fasilitas (standarisasi, resiko, pembiayaan, dan informasi pasar).
2. Pendekatan Kelembagaan (the institutional approach)
Merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengetahui berbagai macam lembaga atau pelaku yang terlibat dalam tataniaga. Pelaku-pelaku itu adalah pedagang perantara (merchant middleman) yang terdiri dari pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pedagang spekulatif, agen, manufaktur; dan organisasi lainnya yang terlibat.
3. Pendekatan Sistem (the behavior system approach)
Merupakan pelengkap dari pendekatan fungsi kelembagaan, untuk mengetahui aktivitas-aktivitas yang ada dalam proses tataniaga, seperti perilaku lembaga yang terlibat dalam tataniaga dan kombinasi dari fungsi tataniaga. Pendekatan ini terdiri dari the input-output system, the power system, dan the communication system.
2.2. Lembaga dan Saluran Tataniaga
Hanafiah dan Saefudin (1983), menjelaskan bahwa lembaga tataniaga adalah
badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dimana
barang bergerak dari produsen sampai ke konsumen. Lembaga tataniaga ini bisa termasuk golongan produsen, pedagang perantara, dan lembaga pemberi jasa.
Saluran tataniaga merupakan cara yang digunakan untuk menyampaikan produk oleh produsen kepada konsumen. Saluran tataniaga sangat penting terutama untuk melihat tingkat harga pada masing-masing lembaga pertanian dan harga jual produk di pasaran. Panjang pendeknya saluran tataniaga suatu produk pertanian tergantung kepada beberapa faktor yaitu ;
1. Jarak dari produsen ke konsumen
Semakin jauh jarak antara produsen dan konsumen akan cenderung menciptakan saluran tataniaga yang panjang dengan aktivitas dan pelaku bisnis yang lebih banyak.
2. Sifat komoditas
Produk yang cepat rusak membutuhkan saluran tataniaga yang relatif pendek agar dapat segera sampai ke konsumen untuk diolah atau dikonsumsi.
3. Skala produksi
Skala produksi yang semakin besar menyebabkan saluran tataniaga akan semakin banyak melibatkan sejumlah lembaga tataniaga. Dengan demikian kehadiran pedagang perantara diharapkan dalam penyaluran produk sehingga saluran yang akan dilalui cenderung lebih panjang.
4. Kekuatan modal yang dimiliki
Produsen dengan modal yang besar cenderung memiliki saluran tataniaga
yang pendek karena fungsi tataniaga yang dapat dilakukan lebih banyak
dibandingkan dengan produsen yang modalnya lemah. Dengan kata lain,
pedagang dengan modal yang besar cendrung memperpendek saluran TN.
2.3. Struktur Pasar
Struktur pasar (market structure) adalah suatu dimensi yang menjelaskan pengambilan keputusan oleh perusahaan atau industri, jumlah perusahaan dalam suatu pasar, distribusi perusahaan menurut berbagai ukuran seperti size atau concentration , deskripsi produk dan diferensiasi produk, syarat-syarat entry dan sebagainya (Limbong, 1997). Struktur pasar dicirikan oleh konsentrasi pasar, differensiasi produk, dan kebebasan keluar-masuk pasar. Dalam analisis sistem tata niaga, struktur pasar sangat diperlukan karena secara otomatis akan dijelaskan bagaimana perilaku penjual dan pembeli yang terlibat (market conduct) dan selanjutnya akan menunjukkan keragaan yang terjadi dari struktur dan perilaku pasar (market performance) yang ada dalam sistem tataniaga tersebut.
Hammond dan Dahl (1977), menetapkan empat faktor penentu dari
karakteristik struktur pasar, yaitu; Jumlah atau ukuran perusahaan, Kondisi atau
keadaan komoditas, Kondisi keluar masuk perusahaan, dan tingkat pengetahuan
yang dimiliki oleh partisipan dalam tataniaga. Berdasarkan strukturnya, pasar
digolongkan menjadi dua yaitu Pasar bersaing sempurna dan bersaing tidak
sempurna. Pasar bersaing sempurna jika terdapat banyak pembeli dan penjual,
setiap pembeli maupun penjual hanya menguasai sebagian kecil dari barang dan
jasa, sehingga tidak dapat mempengaruhi harga pasar (price taker), barang atau
jasa homogen serta pembeli dan penjual bebas keluar masuk pasar (freedom to
entry and to exit). Sedangkan pasar tidak ber saing sempurna dapat dilihat dari dua
sisi, yaitu sisi penjual dan pembeli. Dari sisi pembeli terdiri dari pasar monopsoni,
oligopsoni, dan sebagainya. Dari sisi penjual terdiri dari pasar persaingan
monopolistik, monopoli, oligopoli dan sebagainya.
2.4. Perilaku Pasar
Perilaku pasar menunjukkan tingkah laku perusahaan dalam struktur pasar tertentu, terutama bentuk-bentuk keputusan apa yang harus diambil dalam menghadapi berbagai struktur pasar. Perilaku pasar meliputi kegiatan penjualan, pembelian, penentua n harga dan strategi tataniaga. Perilaku pasar dapat dilihat dari proses pembentukan harga dan stabilitas pasar, serta ada tidaknya praktek jujur dari lembaga yang terlibat dalam tataniaga (Azzaino,1983).
2.5. Efisiensi Tataniaga
Kohls, R.L.(1967), menjelaskan bahwa untuk memahami efisiensi tataniaga harus terlebih dahulu memahami tataniaga sebagai suatu aktifitas bisnis yang ditujukan untuk menyampaikan suatu produk kepada konsumen. Output dari aktifitas tataniaga adalah kepuasan konsumen terhadap suatu produk dan jasa, sedangkan input-nya adalah semua sumber daya usaha yang meliputi tenaga kerja, kapital, dan manajemen yang digunakan perusahaan dalam proses produksi.
Sehingga efisiensi tataniaga dapat diartikan sebagai maksimisasi dari rasio input- output, atau efisiensi dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang menyebabkan berkurangnya biaya input pada suatu pekerjaan tanpa mengurangi kepuasan konsumen dari keluaran suatu produk atau jasa.
Efisiensi dalam pengertian sederhana merupakan keluaran (output) yang
optimum dari penggunaan seperangkat masukan (input). Hanafiah dan Saefudin
(1983), menjelaskan bahwa pengertian efisiensi tataniaga akan berbeda tergantung
dari sudut pandang mana kita melihatnya. Pengertian efisiensi tataniaga yang
dimaksud oleh pengusaha tentunya akan berbeda dengan yang dimaksudkan oleh
konsumen. Perbedaan ini timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara pengusaha dan konsumen. Pengusaha menganggap suatu sistem tataniaga efisien apabila penjualan produknya mendatangkan keuntunga n yang tinggi baginya, sebaliknya konsumen menganggap sistem tataniaga tersebut efisien apabila konsumen mudah mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga rendah.
Suatu perubahan yang dapat meningkatkan kepuasan konsumen akan output barang atau jasa me nunjukkan suatu perbaikan tingkat efisiensi tataniaga.
Sebaliknya suatu perubahan yang dapat mengurangi biaya input tetapi juga mengurangi kepuasaan konsumen menunjukkan suatu penurunan tingkat efisiensi tataniaga. Banyak cara yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi tataniaga yaitu dengan cara sebagai berkut :
1. Menghilangkan persaingan yang tidak bermanfaat, 2. Mengurangi jumlah pedagang perantara pada saluran, 3. Membuka metode cooperative,
4. Memberi bantuan kepada konsumen, 5. Standarisasi dan implikasi.
Untuk melihat efisiensi dapat dengan dua konsep yaitu pertama, dengan
konsep analisis struktur, perilaku dan keragaan pasar serta konsep kedua yaitu
dengan konsep rasio input-output. Penggunaan konsep yang kedua yaitu dengan
rasio input-output menghadapi kesulitan dalam pengukuran kepuasan konsumen,
sehingga pengukuran tingkat efisiensi tataniaga dilakukan melalui pendekatan lain
yaitu melalui efisiensi operasional dan efisiensi harga. Efisiensi operasional
menekankan pada keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari
produsen ke konsumen akibat perubahan tempat, bentuk dan waktu yang diukur
melalui keterpaduan pasar yang terjadi akibat pergerakan komoditas dari satu pasar ke pasar lainnya. Sedangkan efisiensi harga menekankan kepada kemampuan meminimumkan biaya yang dipergunakan untuk menggerakkan komoditas dari produsen ke konsumen atau kemampuan meminimumkan biaya untuk menyelenggarakkan fungsi-fungsi tataniaga. Efisiensi harga dapat didekati dengan perhitungan biaya dan marjin tataniaga. Istilah bia ya tataniaga yang dimaksud adalah mencakup jumlah pengeluaran yang dikeluarkan oleh pelaku tataniaga untuk pelaksanaan kegiatan pemasaran produk. Biaya tataniaga suatu produk biasanya diukur secara kasar dengan marjin. Pada pengukuran efisiensi ekonomis, margin tataniaga sering digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui efisiensi dari sistem tataniaga tersebut (Hanafiah dan Saefudin. 1983).
2.6. Marjin Tataniaga
Marjin adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan perbedaan harga yang terjadi pada suatu tingkat yang berbeda dalam sistem tataniaga. Pada suatu perusahaan istilah marjin merupakan uang yang ditentukkan secara internal accounting , yang diperlukan untuk menutupi biaya dan laba, dan ini merupakan perbedaan antara harga pembelian dan penjuala n. Hanafiah dan Saefudin (1983)
Hammond dan Dahl (1977) mendefinisikan marjin tataniaga sebagai perbedaan harga di tingkat petani (Pf) dengan harga pedagang pengecer (Pr).
Marjin tataniaga menjelaskan perbedaan harga dan tidak memuat pernyataan
mengenai jumlah produk yang dipasarkan. Marjin tataniaga juga dapat
digambarkan sebagai jarak vertikal antara kurva permintaan atau kurva
penawaran. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.
Nilai Marjin Tataniaga Harga = (Pr-Pf).Qr,f
Sr Pr
Marjin Tataniaga { Sf (Pr-Pf)
Pf Dr
Df
0 Qr,f
Marketing Costs Marketing Charges (pembayaran untuk faktor -faktor produksi) (pembayaran untuk
lembaga tataniaga)
Gambar 1. Hubungan Antara Marjin Tataniaga, Nilai Marjin Tataniaga serta Marketing Costs dan Charges.
Sumber: Hammond dan Dahl (1977)
Keterangan :
(Pr-Pf), Qr,f = Nilai marjin tataniaga
Pr = Harga di tingkat pedagang pengecer Pf = Harga di tingkat petani
Sr = Suplai di tingkat pengecer (derived supply) Sf = Suplai di tingkat petani (primary supply)
Dr = Permintaan di tingkat pengecer (derived demand) Df = Permintaan di tingkat petani (primary demend)
Qr,f = Jumlah keseimbangan di tingkat petani dan tingkat pengecer Gaji/Upah
Bunga Sewa Keuntungan
Pengecer
Grosir
Pengolah
Pengumpul
Dari Gambar 1, dapat dilihat bahwa terbentuknya marjin tataniaga merupakan hasil perkalian antara selisih harga di dua tingkat lembaga tataniaga (Pr-Pf) dengan jumlah komoditas yang dipasarkan (Qr,f). Nilai marjin tataniaga pada dasarnya dapat dianalisis berdasarkan dua aspek kajian, yaitu (Marketing cost) biaya tataniaga dan (Marketing charges) beban tataniaga. Biaya tataniaga merupakan semua jenis biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga dalam menyampaikan komoditas dari titik produsen ke konsumen dan beban tataniaga merupakan penerimaan yang diperoleh lembaga tataniaga sebagai imbalan dari menyelenggarakan fungsi-fungsi tataniaga.
2.7. Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria)
Budi, S.H. (1992), menyatakan bahwa Sengon merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh dengan cepat di daerah tropis. Untuk pertama kalinya pada tahun 1871, Teysmann menemukan Tanaman Sengon di pedalaman Pulau Banda, yang kemudian dibawa ke Kebun Raya Bogor. Dari kebun inilah kemudian Sengon tersebar ke berbagai daerah mulai dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, sampai Irian Jaya. Pada saat ini Sengon juga dijumpai di Negara Filipina, Malaysia, Srilanka, dan India. Dengan nama biasa atau nama ilmiah apapun yang dikenal, kayu Sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) merupakan pohon serbaguna yang berharga untuk daerah tropis beriklim lembab.
Species ini juga merupakan salah satu species yang dapat digunakan sebagai kayu
plup, kayu bakar, pohon hias, naungan (kopi, teh dan ternak sapi) dan produk
kayu lainnya. Pemanfaatan potensial yang sedang di uji coba dalam penanaman
hutan adalah dengan sistem tumpang sari.
2.7.1. Botani dan Ekologi
Paraseriamthes falcataria termasuk keluarga Leguminosae (sub-keluarga Mimosoideae). Jenis ini sudah dikenal luas dengan nama yang lamanya, Albizia falcataria, atau juga pernah di sebut A. moluccana dan A. Falcata ”Falcate”, artinya melengkung seperti sabit sesuai dengan bentuk daunnya. Ranting daun berpasang-pasangan, panjang antara 23-30 cm. Bunganya berwarna putih gading, polongnya tipis, rata, panjang 10-13 cm dengan lebar 2 cm. Falcataria termasuk pohon besar hingga mencapai ketinggian 24-30 m, dengan diameter 80 cm. Jika di tempat terbuka akan membentuk tajuk yang besar berbentuk payung. Pada penanaman sebanyak 1000-2000 pohon/ha, tajuk akan menyempit, karena membutuhkan banyak cahaya. Setelah berumur 3-4 tahun akan memproduksi biji secara teratur dalam jumlah banyak. Sengon tumbuh secara alami di Indonesia, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon dari 10ºLS-30ºLU. Dalam habitat alamiahnya bisa tumbuh dari permukaan laut sampai 1200 m. Dengan curah hujan 2000-4000 mm, serta musim kemarau kurang dari dua bulan dengan suhu antara 22ºC-34ºC. Meski lebih menyukai tanah basa (NAS 1983 dalam Budi 1992), namun dapat pula tumbuh baik pada tanah masam. Berdasarkan hasil analisa korelasi dan regresi ganda memperlihatkan bahwa kedalaman lapisan tanah atas merupakan indikator yang paling penting untuk kualitas tempat tumbuh Sengon.
Akar Sengon relatif menguntungkan dibandingkan akar pohon lainnya. Akar
tunggangnya cukup kuat menembus ke dalam tanah. Sementara itu akar
rambutnya tidak terlalu besar, dan tidak semrawut. Akar rambut tersebut akan
dimanfaatkan oleh pohon induknya untuk menyimpan zat nitrogen, oleh sebab itu
tanah di sekitar pohon Sengon akan menjadi subur (Budi, S.H. 1992).
2.7.2. Penanaman
Pada umumnya tanaman Sengon diperbanyak dengan biji. Biji tersebut dapat dibeli di penangkar benih, kios-kios pertanian, ataupun dicari di bawah pohon induk. Jumlah biji Sengon sebanyak 42000 per kg dengan perkecambahan biji mudah dan hanya membutuhkan perendaman air semalam. Agar perkecambahan seragam, biji-biji tersebut dapat dimasukan dalam air panas atau dalam masam belerang pekat (H
2SO
4) selama 10 menit, dilanjutkan dengan perendaman dalam air selama 15 menit. Anakan Sengon ditanam setelah tiga bulan di persemaian dan akan tumbuh dengan cepat di lahan (NAS, 1983 dalam NFTA World Education. 1991).
Penanaman Sengon diawali dengan pengaturan jarak tanam dan pembuatan lubang tanam. Jarak tanam untuk produksi kayu Pulp dengan waktu rotasi antara 6-8 tahun adalah 3 m x 3 m. Jika yang diinginkan kayu tebangan untuk papan, pada umur 6-8 tahun tegakan dapat dijarangkan sampai 6 m x 6 m dan dipanen pada umur 15 tahun. Pada lahan yang lebih subur, umumnya jarak tanam untuk produksi kayu Pulp 4 m x 4 m. Dari penelitian tentang jarak tanam yang lebih rapat ditemukan bahwa pertumbuhan dengan jarak 2 m x2 m secara signifikan lebih cepat di bandingkan dengan 1 m x 1 m. Adapun ukuran lubang tanman panjang 30 cm x 30 cm x 30 cm.
2.7.3. Kegunaan
Bagian terpenting yang bernilai ekonomis pada tanaman Sengon adalah
kayunya. Sengon lebih dikenal sebagai tana man Pulp. Kegunaan lainnya, yaitu
sebagai serat dan bahan papan, peti kemas, kotak-kemasan, korek api, sumpit,
mebel ringan. Kayunya sukar di gergaji dan tidak kuat atau tidak tahan lama.
Tajuknya yang jarang memberikan naungan untuk tanaman kopi, teh, dan cokelat.
Disamping itu, berfungsi pula sebagai tanaman penahan angin bagi pohon pisang.
Pada percobaan di Pulau Hawaii memperlihatkan besarnya kegunaan dalam sistem tumpang sari dengan Eucalyptus , terutama di daerah basah. Dalam penanaman Eucalyptus bersama Sengon dengan perbandingan 50 : 50 pada jarak tanam 2m x 2m, sesudah berumur 4 tahun berukuran 1,3 m. Pepohonan Eucalyptus akan memperlihatkan hasil 58 persen lebih tinggi dan 55 persen lebih besar, dibandingkan dengan tegakan Eucalyptus saja. Dalam percobaan campuran Sengon 34 persen dan 50 persen Eucalyptus, total biomasa yang dihasilkan Eucalyptus dan Sengon akan sama atau lebih baik dari pada penanaman jenis Eucalyptus saja (Schubert, dkk.1998 dalam NFTA World Education.1991).
Sengon juga berpotensi dalam alley farming. Di Indonesia, pada percobaan di
tanah asam (pH 4,2) yang ditanam dalam larikan-larikan dengan jarak 4 m,
menghasilkan pupuk hijau (bahan kering) 2-3 ton/ha/tahun. Penggunaannya
sebagai pupuk hijau akan meningkatkan produksi kopi 4 kali lipat, apabila
dibandingkan dengan plot pembanding. Namun pada tahun 1988 muncul
keprihatinan akan keberlanjutan pertumbuhannya dalam sistem Alley cropping
(Evensen, komunikasi pribadi). Sengon di tanam sebagai pohon hias, meski jarang
hidup lebih dari 50 tahun dan cabang-cabangnya yang rapuh dapat menjadi
masalah di daerah yang banyak angin. Raharjo dan Cheke (1985) dalam NFTA
World Education (1991), melaporkan bahwa daunnya disukai kelinci, di Samoa
Barat, Philipina dan Jawa, kayunya dimanfaatkan seba gi kayu bakar dan di tanam
di kebun pekarangan bersama dengan tanaman merambat dan buah-buahan.
2.8. Studi Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian mengenai kayu Sengon (Paraserianthes falcataria), kayu gergajian dan sistem tataniaga produk pertanian pernah dilakukan sebelumnya.
Beberapa judul penelitian yang pernah diteliti diantaranya adalah ;
Firman, N.S.(1998), melakukan penelitian mengenai Analisis Efisiensi Tataniaga Mangga Cengkir, Arumanis, dan Gedong. Hasil penelitian menunjukkan marjin tataniaga di lokasi penelitian tidak merata dengan marjin terbesar pada pengepul dan Pedagang Antar Kota (PAK). Struktur pasar di tingkat petani, tengkulak dan PAK dari sisi pembeli termasuk ke pasar oligopsoni.
Sedangkan struktur pasar di tingkat pengepul dan pedagang grosir (PG) dari sisi penjual adalah pasar oligopoli. Dari hasil analisis marjin tataniaga dan keterpaduan pasar disimpulkan sistem tataniaga di lokasi penelitian belum efisien.
Maryatun (1999), melakukan penelitian mengenai Analisis Biaya dan Pemasaran (Marketing Margin) Kayu Gergajian di DKI dengan studi kasus di daerah Kalibaru. Penelitian tersebut bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang profil perdagangan yang berada di wilayah Kalibaru, mengidentifikiasi lembaga -lembaga yang terlibat dan menentukan efisiensi saluran tataniaganya.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui lembaga tataniaga yang terlibat dalam pemasaran kayu gergajian di Kalibaru adalah; distributor, pedagang besar dan pengecer. Tingkat pengecer pada kayu Borneo Kalimantan merupakan tingkat tataniaga yang efisien secara ekonomi, sedangkan kayu Keruing pada tingkat distributor adalah jenis kayu yang efisien secara operasional.
Harviana (1999), dalam penelitiannya mengenai Peningkatan Nilai Tambah
Tegakan Sengon (Paraserianthes falcataria) Melalui Penggunaannya Sebagai
Bahan Baku Industri Penggergajian Kayu dan Medium Density Fiberboard (MDF), mengemukakan bahwa bahan baku MDF bisa dihasilkan dari limbah industri penggergajian kayu (laminated board) karena tidak memerlukan persyaratan ya ng tinggi. Nilai tambah per satuan m
3log untuk industri MDF dengan harga semula Rp 43.560,- mengalami peningkatan sebesar Rp 134.168,- dan industri laminated board dengan harga semula Rp 66.000,- mengalami peningkatan sebesar Rp.128.844,-. Jika satu hektar tanaman Sengon menghasilkan 150 m3 nilai tambah log/ha untuk MDF Rp 20.125.238,- dan untuk laminated board Rp 19.326.624,-. Nilai NPV laminated board Rp 149.160,-/m
3dan nilai internal rate of return (IRR) untuk industri sebesar 47,5 persen dan industri MDF sebesar 42,0 persen, 26,5 persen dan 20,0 persen pada tingkat harga yang berbeda.
Tingkat suku bunga yang diisyaratkan sebesar 10 persen, sehingga berdasarkan IRR industri tersebut layak untuk dilaksanakan.
Pada tahun (2000), Gunawan, J. Meneliti mengenai Pemanfaatan Limbah Industri Penggergajian Untuk Balok Laminasi. Tujuan yang ingin dicapai yaitu membuat kayu berlapis majemuk dengan perekat (balok laminasi) dengan memanfaatkan sebetan yang banyak mengandung kayu gubal atau potongan kayu ukuran kurang. Berdasarkan hasil penelitian produk ini memiliki keunggulan komparatif berupa harga pokok yang rendah dan bisa memanfaatkan limbah kayu.
Berbeda dengan kajian penelitian terdahulu, studi mengenai analisis efisiensi
tataniaga kayu Sengon (Paraserianthes falcataria) belum pernah dilakukan
sebelumnya. Kelebihan penelitian ini, selain melihat efisiensi sistem tataniaga
yang terjadi, juga dikaji mengenai prospek pengembangan budidaya kayu Sengon
di wilayah penelitian.
2.9. Prospek Pengembangan Budidaya Sengon (Paraserianthes falcataria) Dalam melakukan pengembangan suatu jenis usaha perlu terlebih dahulu menilai dan mempertimbangkan usaha tersebut di masa yang akan datang.
Penilaian di sini tidak lain adalah memberikan rekomendasi apakah usaha tersebut layak untuk dilakukan atau tidak. Untuk mengukur kelayakan tersebut secara umum ada beberapa aspek yang akan dikaji, yaitu meliputi; aspek hukum, aspek sosial ekonomi dan budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen, dan aspek keuangan. (Suratman, 2002).
Aspek hukum berkaitan dengan keberadaan secara legal dimana usaha tersebut akan dilaksanakan yang meliputi ketentuan hukum yang berlaku termasuk perizinan, badan hukum yang diusulkan, dan sebagainya. Aspek sosial ekonomi budaya mencakup pengaruh usaha terhadap pendapatan nasional, penambahan dan pemerataan kesempatan kerja, dampak pergeseran hidup masyarakat setempat dan lain sebagainya. Aspek pasar dan pemasaran berkaitan dengan adanya potensi pasar dari produk yang akan di pasarkan, analisis kekuatan pesaing yang mencakup program pemasaran yang akan dilakukan, estimasi penjualan yang memungkinkan dapat diraih (market share). Aspek teknis dan
teknologi berkaitan dengan pemilihan lokasi proyek, pemilihan jenis mesin atau peralatan lain sesuai dengan kapasitas produksi yang akan digunakan termasuk lay-out dan pemilihan teknologi yang sesuai. Aspek manajemen berkaitan dengan manajemen dalam pembangunan usaha dan manajemen dalam operasionalnya.
Dan yang terakhir aspek keuangan berkaitan dengan dari manasumber dana yang
akan diperoleh dan proyeksi pengembaliannya dengan tingkat biaya modal
dari sumber dana yang bersangkutan.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Mei 2005 di Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dipilih dengan pertimbangan kedekatannya terhadap bahan baku kayu, dan banyaknya industri gergajian yang tersebar disekitar wilayah penelitian.
3.2. Jenis dan Pengumpulan Data
Data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung di lapangan. Wawanca ra dilakukan berdasarkan kuisioner yang meliputi pertanyaan mengenai karakteristik petani, jenis kayu, harga beli, harga jual, jumlah kebutuhan kayu, jumlah produksi, sumber pembelian, arah penjualan, tujuan pembelian, dan teknik pengangkutan.
Kuisioner tersebut diberikan kepada individu atau kelompok yang terlibat dalam
saluran tataniaga kayu Sengon di wilayah Kecamatan Cililin, yaitu meliputi petani
sebagai produsen kayu, pengusaha seperti pemilik material ataupun pemilik
industri penggergajian kayu, lembaga Pemerintah yang terlibat seperti Perum
Perhutani ataupun Penyuluh Kehutanan, dan masyarakat sekitar sebagai
konsumen. Sedangkan data sekunder meliputi informasi mengenai keadaan
umum, letak geografis dan informasi lain yang berkaitan dengan objek penelitian
yang diperoleh dari Badan Statistik Kabupaten Bandung, Dinas Kehutanan Jawa
Barat, Kantor Kecamatan Cililin, Kantor Kelurahan, dan Perpustakaan.
3.3. Penentuan Responden
Responden penelitian ditentukan secara sengaja (purposive) dengan melakukan penelusuran saluran tataniaga mulai dari tingkat petani sampai ke tingkat konsumen akhir. Penentuan responden diambil berdasarkan informasi dari responden sebelumnya sehingga jalur tataniaga tersebut tidak terputus. Responden petani diambil di wilayah sekitar Ke camatan Cililin, meliputi petani yang memiliki kebun yang sedang atau telah ditanami kayu Sengon dan petani yang memproduksi bibit Sengon untuk digunakan sendiri atau untuk dijual. Responden konsumen meliputi semua orang baik individu ataupun kelompok yang melakukan pembelian kayu Sengon di wilayah penelitian.
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis
kualitatif dilakukan dengan pengamatan terhadap keadaan lokasi, karakteristik
petani, sistem budidaya, struktur pasar, perilaku pasar, saluran tataniaga, marjin
tataniaga, aspek pasar dan pemasaran, aspek sosial budaya, dan aspek teknik dan
teknologi. Struktur pasar yang diamati didekati dengan melihat jumlah penjual
dan pembeli, kebebasan untuk keluar masuk pasar, penentuan harga dan sumber
informasi. Sedangkan analisis kuantitatif dilakukan untuk melihat keragaan pasar
dengan pendekatan analisis marjin tataniaga, analisis ekonomi budidaya kayu
Sengon yang meliputi perhitungan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate
of Return) , B/C Ratio (Benefit and Cost Ratio).
3.4.1. Analisis Lembaga Tataniaga dan Saluran Tataniaga
Analisis ini ditujukan untuk mengidentifikasi lembaga– lembaga dan saluran tataniaga yang digunakan dalam pemasaran kayu Sengon. Identifikasi tersebut meliputi identitas, fungsi, dan tata cara lembaga– lembaga tersebut dalam rangka memasarkan kayu Sengon sampai kepada konsumen akhir.
3.4.2. Analisis Struktur Pasar
Analisis struktur pasar ditujukan untuk mengetahui kondisi persaingan diantara produsen dan konsumen kayu yang terdapat di wilayah penelitian. Untuk lebih jelasnya mengenai struktur pasar dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Karakteristik Struktur Pasar
Karakteristik Struktur Pasar
Jumlah Partisipan
Sifat Produk Sisi Penjual Sisi Pembeli