7 BAB II
LANDASAN TEORI
II.1 Pemahaman Pajak II.1.1 Definisi Pajak
Menurut Soemitro,R (2006) ”Pajak adalah perikatan yang timbul karena undang-undang yang mewajibkan seseorang yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang (Taatbestand) untuk membayar sejumlah uang ke kas Negara yang dapat dipaksakan, tanpa mendapat imbal jasa secara langsung dapat ditunjuk, yang digunakan untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran Negara dan yang dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran Negara dan yang digunakan sebagai alat (pendorong atau penghambat) untuk mencapai tujuan di luar bidang keuangan”.(h.1)
Menurut Sukardji,U (2006), ”Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib pajak membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran- pengeluaran umum berhubung dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan”.(h.1)
Dengan mengacu kepada pendapat diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa pengertian pajak adalah iuran rakyat kepada negara yang dilaksanakan
8
dengan paksa dan digunakan untuk kepentingan negara dalam rangka menyelenggarakan pemerintah dan tanpa kontraprestasi langsung.
II.1.2 Pengelompokan dan Tarif pajak
Sukardji,U (2006) mendefinisikan ”Pengelompokan Pajak terdiri dari Pajak Langsung dan Pajak Tidak Langsung: Pajak Langsung adalah pajak yang beban pajaknya tidak bisa diserahkan/dialihkan kepada lain sedangkan Pajak Tidak Langsung adalah pajak uang beban pajaknya dapat dipindahkan/dialihkan kepada pihak lain.
Mardiasmo (2006) mengemukakan ”Tarif pajak terdiri dari”:
1.Tarif Proposional
Tarif Proposional adalah tarif berupa persentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah pajak yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proposional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak.
2.Tarif Progresif
Tarif Progresif adalah tarif pajak dengan persentase semakin besar, bila dasar pengetahuan pajaknya semakin besar.
3.Tarif Degresif
Tarif Degresif adalah tarif pajak dengan persentase semakin kecil, bila dasar pengenaan pajaknya bertambah besar. Tarif Degresif ini tidak dipakai dalam sistem perpajakan diindonesia.
4.Tarif Tetap
Tarif Tetap berupa jumlah pajak yang tetap (sama) berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak terutang tetap.
9 II.1.3 Sistem Pemungutan Pajak
Mardiasmo (2006) mengemukakan ”Sistem Pemungutan Pajak” adalah:
1.Self Assesment Adalah suatu sistem pemungutan pajak dimana wajib pajak
menentukan sendiri besarnya pajak tetutang.
2.Official Assesment System
Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak terutang oleh Wajib Pajak.
3.With Holding System
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.
II.2. Pengertian Pajak Pertambahan Nilai II.2.1 Pengertian Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Rusjdi, M (2006) ”Pajak Pertambahan Nilai Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut berdasarkan undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 merupakan pajak yang dikenakan terhadap pertambahan nilai (value added) yang timbul akibat dipakainya faktor-faktor produksi di setiap jalur”.(h.4).
10 II.2.2 Fungsi Pajak Pertambahan Nilai
Rusjdi, M (2006) mengemukakan ”Fungsi Pajak Pertambahan Nilai diuraikan sebagai berikut:
1. Penerimaan Negara
Penghasilan yang diperoleh dari pemungutan pajak,dipergunakan sebagai sumber pembiayaan negara, sebagaimana tercantum dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.
2. Pemerataan beban pajak
Pajak Pertambahan Nilai sering dikatakan sebagai tambahan atau koreksi untuk pajak penghasilan (PPh). Dengan diadakannya Pajak Pertambahan Nilai, subjek pajak yang terbebaskan pada PPh, secara tidak langsung menjadi penanggung pajak melalui konsumsi yang dilakukannya.
3. Mengatur pola konsumsi
Pajak Pertambahan Nilai disebut juga sebagai pajak atas konsumsi. Oleh karena itu Pajak Pertambahan Nilai dapat juga dijadikan alat untuk mengatur pola konsumsi dengan mengenakan pajak atas barang-barang konsumsi.
4. Mendorong ekspor
Untuk mendorong dan meningkatkan daya saing barang ekspor di pasaran luar negeri, tarif atas penyerahan ekspor ditetapkan sebesar 0%.
5. Mendorong investasi
Dalam sistem pajak pertambahan nilai, pajak yang dibayar atas perolehan (impor barang modal) dapat dibebaskan/diminta kembali. Pembebasan/pengembalian Pajak Pertambahan Nilai barang modal diharapkan akan mendorong investasi.
11 II.2.3 Dasar Hukum Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Pandiangan (2002), Pajak Pertambahan Nilai yang merupakan pajak tidak langsung di Indonesia yang dikelola Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan, mulai berlaku sejak 1 April 1985. Dasar hukum pengenaannya adalah berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983. Dengan berlakunya Undang- undang ini, maka Pajak Penjualan (PPn) Tahun 1951 digantikan oleh Pajak Pertambahan Nilai atau dikenal sebagai pajak konsumsi. Sejak diberlakuakan Pajak Pertambahan Nilai melalui Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983, telah dilakukan 2 (dua) kali perubahan yaitu dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 dan terakhir dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000. Dalam ketentuan pasal 1 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, yang dimaksud dengan:
1. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.
2. Barang adalah barang berwujud, yang menurut sifat atau hukumnya dapat berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, dan barang tidak berwujud.
3. Barang kena Pajak adalah barang sebagaimana dimaksud dalam angka 2 yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang ini.
4. Penyerahan Barang kena Pajak adalah setiap kegiatan penyerahan Barang kena Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 3.
12
5. Jasa adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas atau kemudahan atau hak tersedia untuk dipakai, termasuk jasa yang dilakukan untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan.
6. Jasa Kena Pajak adalah jasa sebagaimana dimaksud dalam angka 5 yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang ini.
7. Perdagangan adalah kegiatan usaha membeli dan menjual, termasuk kegiatan tukar menukar barang, tanpa mengubah bentuk atau sifatnya.
8. Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.
9. Pengusaha adalah orang pribadi atau Badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean.
10. Pengusaha Kena Pajak adalah Pengusaha melakukan penyerahan Barang kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan
13
Undang-undang ini, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali Pengusaha Kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
11. Menghasilkan adalah kegiatan mengolah melalui proses mengubah bentuk atau sifat suatu barang dari bentuk aslinya menjadi barang baru atau mempunyai daya guna baru, atau kegiatan mengolah sumber daya alam termasuk menyuruh orang pribadi atau badan lain melakukan kegiatan tersebut.
12. Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.
13. Pembeli adalah orang pribadi atau badan yang menerima atau seharusnya menerima penyerahan Barang kena Pajak dan yang membayar atau seharusnya membayar harga Barang kena Pajak tersebut.
14. Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak, atau bukti pungutan pajak karena impor Barang kena Pajak yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
II.2.4 Subyek Pajak Pertambahan Nilai
Dari ketentuan yang mengatur tentang objek Pajak Pertambahan Nilai dalam pasal 4, 16C, dan 16D UU Pajak Pertambahan Nilai 1984 dapat diketahui bahwa subjek Pajak Pertambahan Nilai, adalah Pengusaha Kena Pajak dalam Ketentuan yang mengatur bahwa Subjek Pajak Pertambahan Nilai harus
14
Pengusaha Kena Pajak adalah pasal 4 huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf f serta pasal 16D Jo pasal 1 angka 15 UU Pajak Pertambahan Nilai 1984 Jo pasal Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000. Dari pasal-pasal ini dapat diketahui bahwa :
1. Yang melakukan penyerahan Barang kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dapat dikenakan Pajak Pertambahan Nilai adalah Pengusaha Kena Pajak (pasal 4 huruf a dan huruf c Jo pasal 1 angka 15 UU Pajak Pertambahan Nilai 1984 Jo pasal 2 ayat 1 PP Nomor 143 Tahun 2000).
2. Yang mengekspor Barang kena Pajak yang dapat dikenakan Pajak Pertambahan Nilai adalah Pengusaha Kena Pajak (pasal 4 huruf f UU Pajak Pertambahan Nilai 1984).
3. Yang menyerahkan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan adalah Pengusaha Kena Pajak (pasal 16D UU Pajak Pertambahan Nilai 1984).
4. Bentuk kerja sama operasi yang apabila menyerahkan Barang kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dapat dikenakan Pajak Pertambahan Nilai adalah Pengusaha Kena Pajak (pasal 2 ayat 2 PP Nomor 143 Tahun 2000).
II.2.5 Objek Pajak Pertambahan Nilai
Objek Pajak Pertambahan Nilai yang diatur dalam Pasal 4 Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai Nomor 18 Tahun 2000 dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Syarat-syaratnya adalah Barang Berwujud yang diserahkan
15
merupakan Barang Kena Pajak dan Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan Barang Kena Pajak tidak berwujud.
1. Penyerahan dilakukan di dalam Derah Pabean.
2. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.
3. Impor Barang Kena Pajak.
4. Penyerahan Jasa Kena Pajak yang dilakukan di dalam Daerah Pabean oleh Pengusaha Kena Pajak. Syarat-syaratnya adalah Jasa yang diserahkan merupakan Jasa Kena Pajak
5. Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean
6. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya
7. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
8. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
9. Ekspor Barang kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.
10. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.
11. Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, sepanjang Pajak Masukan yang dibatar pada saat perolehannya menurut ketentuan dapat dikreditkan.
16 II.2.6 Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai
Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak tidak langsung yang dapat dirumuskan berdasarkan dua sudut pandang sebagai berikut:
1. Sudut pandang ekonomi, beban pajak dialihkan kepada pihak lain, yaitu pihak yang akan mengkonsumsi barang atau jasa yanng menjadi objek pajak.
2. Sudut pandang yuridis, tanggung jawab pembayaran pajak kepada kas Negara tidak berada di tangan pihak yang memikul beban pajak. Sudut pandang secara yuridis ini membawa konsekuensi filosofis bahwa dalam pajak tidak langsung, apabila pembeli atau penerima jasa telah membayar pajak-pajak yang terutang kepada penjual atau pengusaha jasa, pada hakikatnya sama dengan telah membayar pajak tersebut ke kas Negara.
Pajak Objektif
Suatu jenis pajak yang saat timbulnya kewajiban pajak ditentukan oleh faktor objektif, yaitu adanya taatbest and (keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak yang juga disebut dengan nama objek pajak).
Sebagai pajak objektif, timbulnya kewajiban untuk membayar Pajak Pertambahan Nilai ditentukan oleh adanya objek pajak.
Multi Stage Tax
Karateristik Pajak Pertambahan Nilai yang dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi.
17
Metode Pengurangan tidak langsung / Metode Kredit / Metode Faktur Pajak
Digunakan dalam menghitung Pajak Pertambahan Nilai terutang yang harus dibayar ke kas Negara. Pajak Pertambahan Nilai terutang yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak penjual atau pengusaha jasa secara tidak otomatis wajib dibayar ke kas Negara. Metode pengurangan pajak tidak langsung adalah Pajak Pertambahan Nilai terutang yang wajib dibayar ke kas Negara merupakan hasil perhitungan dengan mengurangkan Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar kepada Pengusaha Kena Pajak lain yang dinamakan Pajak Masukan dengan Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut dari pembeli atau penerima jasa disebut pajak keluaran. Metode pengkreditan adalah pajak yang dikurangkan dengan pajak untuk memperoleh jumlah pajak yang akan dibayar ke kas Negara untuk mendeteksi kebenaran jumlah pajak masukan dan pajak keluaran yang terlibat dalam mekanisme ini dibutuhkan dokumen, yaitu faktur pajak sehingga disebut metode faktur
Pajak Pertambahan Nilai adalah pajak atas konsumsi umum dalam negeri Pajak Pertambahan Nilai hanya dikenakan atas konsumsi barang kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan di dalam negeri. Komoditi impor dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan persentase yang sama dengan produk domestik. Pajak Pertambahan Nilai bersifat netral, netralis Pajak Pertambahan Nilai dibentuk oleh dua faktor, yaitu :
18
1. Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas konsumsi barang maupun jasa
2. Dalam pemungutannya, Pajak Pertambahan Nilai menganut prinsip tempat tujuan (destination principle)
Barang dalam negeri yang akan diekspor dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0%, karena akan dikenakan Pajak Pertambahan Nilai di Negara tujuan.
3. Tidak menimbulkan dampak pengenaan pajak berganda
Pajak Penjualan dikenakan terhadap nilai jual setiap perpindahan/pertukaran barang dan jasa, sehingga menimbulkan adanya pajak berganda. Sejak ditetapkan Undang-undang PPN Nomor 8 Tahun 1983, maka Pajak Pertambahan Nilai merupakan Pajak yang dikenakan terhadap pertambahan nilai yang timbul akibat faktor-faktor produksi disetiap jalur perusahaan dalam menyiapkan, menghasilkan, menyalurkan, dan memperdagangkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak kepada konsumen.
II.2.7 Pengusaha Kena Pajak
Pengertian Pengusaha Kena Pajak menurut Pasal 1 ayat 15 Undang- undang 18 tahun 2000 adalah Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN, tidak termasuk pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan, kecuali pengusaha kecil memilih untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
19 II.2.8 Kewajiban Pengusaha Kena Pajak
Sukardji, U (2002) mengemukakan “Kewajiban Pengusaha Kena Pajak”
Pengusaha Kena Pajak berkewajiban untuk:
1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.
2. Membuat Faktur Pajak atas setiap kegiatan Penyerahan maupun perolehan Barang Kena Pajak.
3. Membuat nota retur dalam hal terdapat pengembalian Barang Kena Pajak.
4. Melakukan pencatatatan atau pembukuan mengenai kegiatan usahanya.
5. Menyetorkan Pajak terutangnya.
6. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.
II.2.9 Kelebihan dan Kelemahan Pajak Pertambahan Nilai Kelebihan Pajak Pertambahan Nilai
1. Mencegah terjadinya pengenaan pajak berganda.
2. Netral dalam perdagangan lokal dan internasional.
3. Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan berang modal dapat diperoleh kembali pada bulan perolehan.
4. Ditinjau dari besar pendapatan Negara, Pajak Pertambahan Nilai mendapat predikat sebagai money maker. Karena konsumen selaku pemikul beban pajak tidak merasa dibebani oleh pajak tersebut sehingga memudahkan fiskus untuk memungutnya.
20 Kelemahan Pajak Pertambahan Nilai
1. Biaya administrasi relatif tinggi bila dibandingkan dengan pajak tidak langsung lainnya, baik di pihak administrasi pajak maupun di pihak wajib pajak.
2. Menimbulkan dampak regresif, yaitu semakin tinggi tingkat kemampuan konsumen, semakin ringan beban pajak yang dipikul.
3. Pajak Pertambahan Nilai sangat rawan dari upaya penyelundupan pajak.
4. Pajak Pertambahan Nilai menuntut tingkat pengawasan yang lebih cermat oleh administrasi pajak terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakaknya.
II.2.10 Faktur Pajak
Dalam Pasal 1 angka 23 Undang-undang 18 tahun 2000, Faktur pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena pajak yang melakukan kegiatan Penyerahan maupun perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang sehingga dapat dilaporkan dan dipertanggung jawabkan Pajak Pertambahan Nilai. Sehinnga dalam Pasal 13 ayat 1 Undang-undang 18 Tahun 2000, Faktur Pajak dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Faktur Pajak Standar
Faktur Pajak Standar dalam Pasal 13 ayat (5) Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 disebutkan bahwa Faktur Pajak Standar wajib diisi dengan benar, lengkap, dan jelas dan Faktur Pajak Standar harus mencantumkan keterangan tentang penyerahan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang paling sedikit harus mencantumkan mengenai:
21
• Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang kena Pajak, dan atau Jasa Kena Pajak
• Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak, atau penerima Jasa Kena Pajak
• Jenis barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan potongan harga
• Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Pertambahan Nilai BM dipungut
• Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan faktur pajak
• Nama, jabatan, dan tanda tangan yang berhak menandatangani faktur pajak
• Faktur pajak merupakan bukti pungutan pajak dan dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkreditkan pajak masukan. Oleh karena itu faktur pajak harus benar, baik secara formal maupun secara materiil.
Dalam Pasal 14 ayat (2) Undang-undang 16 tahun 2000 menegaskan bahwa Faktur Pajak yang tidak memuat keterangan atau tidak mengisi secara benar, lengkap, dan jelas tidak dapat mengkreditkan Pajak Pertambahan Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran.
2. Faktur Pajak Sederhana
Faktur pajak sederhana juga merupakan bukti pungutan pajak yang dibuat oleh pengusaha kena pajak untuk menampung kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak atau oleh pengusaha kena pajak untuk menampung kegiatan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyarahan Jasa Kena Pajak yang dilakukan secara langsung kepada konsumen akhir dalam Keputusan Direktur Jenderal pajak Nomor KEP-524/PJ./2000, Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan
22
Barang kena Pajak dan atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang tidak diketahui identitasnya dapat membuat Faktur Pajak Sederhana. Dalam hal ini Faktur Pajak Sederhana tidak dapat digunakan sebagai dasar pengkreditan Pajak Masukan oleh pembeli Barang kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.
Faktur pajak sederhana paling sedikit memuat :
• Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang menyerahkan Barang kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak.
• Jenis dan kuantum Barang kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang diserahkan.
• Jumlah Harga Jual atau Penggantian yang sudah termasuk Pajak Pertambahan Nilai atau besarnya Pajak Pertambahan Nilai dicantumkan secara terpisah.
• Tanggal pembuatan Faktur Pajak Sederhana.
3. Faktur Pajak Pengganti
Berdasarkan Pasal 7 Keputusan Direktur Jenderal pajak Nomor KEP- 549/PJ./2000 apabila terjadi kekeliruan atau kesalahan dalam pengisian Faktur Pajak Standar, tidak boleh dibetulkan dengan cara dicoret atau dihapus.
Pembetulannya dilakukan dengan cara membuat Faktur Pajak Pengganti.
II.2.11 Faktur Pajak yang Dianggap Tidak Sah
Berdasarkan Ketentuan SE-27/PJ.52/2003, Faktur Pajak dianggap tidak sah, apabila:
23
1. Faktur Pajak diterbitkan atas suatu transaksi oleh Wajib Pajak yang belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
2. Faktur Pajak yang diterbitkan oleh Wajib Pajak yang alamatnya tidak diketahui atau tidak dikenal.
3. Faktur Pajak yang diterbitkan oleh Wajib Pajak yang menggunakan nama, NPWP dan Nomor Pengukuhan PKP milik orang pribadi atau badan lain.
4. Faktur Pajak yang secara formal memenuhi ketentuan pasal 13 (5) Undang- Undang 18 tahun 2000, tetapi tidak memenuhi secara material yaitu tidak ada penyerahan barang dan atau uang, atau barang tidak diserahkan kepada pembeli sebagaimana tertera pada Faktur Pajak.
II.2.12 Tata Cara Penggantian Faktur Standar Yang Hilang
Berdasarkan ketentuan PER 159/PJ./2006 menegaskan, bahwa mengenai Faktur Pajak Standar yang hilang dapat dilakukan penggantian dengan cara sebagai berikut:
1. Pengusaha Kena Pajak pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak dapat mengajukan permohoan tertulis untuk meminta copy dari Pengusaha Kena Pajak penjual atau pem beri Jasa Kena Pajak dengan tembusan kepada Kantor Pelayanan Pajak ditempat Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak dikukuhkan.
2. Berdasarkan permohonan dari Pengusaha Kena Pajak pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak, Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak membuat copy dari arsip Faktur Pajak Standar yang disimpan oleh Pengusaha
24
Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak, untuk dilegalisir oleh Kantor Pelayanan Pajak di tempat Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak dikukuhkan. Copy dibuat dalam rangkap dua, yaitu :
• Lembar ke-1 : Diserahkan ke Pengusaha Kena Pajak pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak melalui Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak.
• Lembar ke-2 : Arsip Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan.
3. Legalisir diberikan oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak dikukuhkan setelah meneliti asli arsip Faktur Pajak Standar dan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dari Pengusaha Kena Pajak penjual atau pemberi Jasa Kena Pajak tersebut.
4. Kantor Pelayanan Pajak tempat Pengusaha Kena Pajak pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak dikukuhkan, wajib melakukan penelitian atas Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai dari Pengusaha Kena Pajak pembeli atau penerima Jasa Kena Pajak untuk meyakinkan bahwa Faktur Pajak Standar yang dilaporkan hilang sudah dikreditkan sebagai Pajak Masukan.
II.3.Dasar Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai II.3.1 Dasar Tarif Pajak Pertambahan Nilai
Tarif Pajak Pertambahan Nilai menurut pasal 7 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 adalah:
1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10%(sepuluh persen).
25
2. Tarif Pajak pertambahan Nilai atas ekspor Barang kena Pajak adalah 0% (nol persen).
3. Dengan peraturan pemerintah, tarif pajak sebagaimana dimaskud pada ayat (1) dapat diubah menjadi serendah-rendahnya 5% dan setinggi-tingginya 15%.
4. Dalam pasal 9 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000, Cara menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang terutang adalah dengan mengalikan jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor atau Nilai Lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan dengan tarif pajak sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1).
II.3.2 Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai adalah dasar yang dipakai untuk menghitung pajak yang terutang, yaitu Jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau Nilai lain yang ditetapkan sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan.
1. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
2. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pemberi jasa karena penyerahan Jasa Kena Pajak tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
26
3. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan Bea Masuk ditambah pungutan lainnya yang dikenakan pajak berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan Pabean untuk Impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang.
4. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir.
5. Nilai Lain adalah suatu jumlah yang ditetapkan sebagai Dasar Pengenaan Pajak dengan Keputusan Menteri Keuangan.
II.3.3 Penyerahan Barang Kena Pajak
Pengertian penyerahan Barang Kena Pajak diatur Pasal 1A ayat 1 Undang- undang 18 tahun 2000. Kegiatan dalam penyerahan Barang Kena Pajak, yaitu:
1. Penyerahan hak atas Barang Kena Pajak karena suatu perjanjian.
2. Pengalihan Barang Kena pajak oleh karena suatu perjanjian sewa beli dan perjanjian leasing.
3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang.
4. Pemakaian sendiri dan atau pemberian cuma-cuma atas Barang Kena Pajak.
5. Persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, sepanjang Pajak Pertambahan Nilai atas perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan.
27
6. Penyerahan Sarang Kena Pajak dari Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan penyerahan Barang Kena Pajak antar Cabang.
7. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi.
II.3.4 Mekanisme Pengkreditan Pajak Pertambahan Nilai
Mekanisme pengkreditan Pajak Pertambahan Nilai diatur dalam Pasal 9 Undang-undang NO 18 Tahun 2000 Jo Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000, yang pada prinsipnya mengatur tentang:
1. Pajak Masukan dalam suatu masa Pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran yang dipungut dalam suatu masa Pajak yang sama.
2. Apabila tidak dapat dikreditkan pada masa pajak yang sama, maka Pajak Masukan tersebut dapat dikreditkan pada masa pajak berikutnya. Paling lambat 3 bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan, sepanjang:
• Belum dibebankan sebagai biaya atau tidak ditambahakan kepada Harga perolehan Barang Kena Pajak.
• Belum dilakukan pemeriksaan oleh Fiskus.
3. Dalam hal pada suatu masa Pajak belum terdapat Pajak Keluaran, Pajak Masukan dapat dikreditkan.
4. Apabila telah melewati jangka waktu pengkreditan Pajak Masukan tersebut dapat dikreditkan, dengan melakukan pembetulan pada SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai.
5. Jika Pajak Keluaran lebih besar dai Pajak Masukan, maka selisih harus disetor ke Kas Negara paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya.
28
6. Jika Pajak Masukan lebih besar dari Pajak Keluaran, maka kelebihan tersebut dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau dilakukan restitusi.
7. Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berhubungan langung dengan kegiatan usaha dari perolehan Barang Kena Pajak.
II.3.5 Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan
Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan diatur dalam Pasal 9 ayat (8) dan Pasal 16B ayat (3) Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai. Rinciannya adalah sebagai berikut :
1. Perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
2. Perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha.
3. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep, station wagon, van, dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;
4. Pemanfaatan Barang kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
5. Perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang bukti pungutannya berupa Faktur Pajak Sederhana.
6. Perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) UU Pajak Pertambahan Nilai adalah Faktur Pajak Cacat.
29
7. Pemanfaatan Barang kena Pajak tidak berwujud atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) UU Pajak Pertambahan Nilai adalah Faktur Pajak Cacat.
8. Perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak;
9. Perolehan Barang kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan.
10. Pajak Masukan yang dibayar untuk perolehan Barang kena Pajak dan atau perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
II.4. Penerapan dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai II.4.1 Penerapan Pajak Pertambahan Nilai
Sukardji,U (2006), mengemukakan Pihak yang wajib meyetorkan Pajak Pertambahan Nilai, adalah:
1. Pengusaha Kena Pajak (PKP) 2. Pemungut PPN/PPnBM, adalah :
• Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara
• Bendaharawan Pemerintah Pusat dan Daerah
• Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
• Pertamina
30
• BUMN/ BUMD
• Kontraktor Bagi Hasil dan Kontrak Karya bidang Migas dan Pertambangan Umum lainnya
• Bank Pemerintah
II.4.2 Yang Wajib Disetor
Sukardji,U (2006), mengemukakan Pengusaha Kena Pajak yang wajib setor, adalah:
1. PPN yang dihitung sendiri melalui pengkreditan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran. selisih Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, harus disetokan, bila Pajak Masukan lebih besar dari Pajak Keluaran.
2. PPnBM yang dipungut oleh PKP Pabrikan Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah.
3. PPN/ PPnBM yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Tagihan Pajak (STP).
4. Oleh Pemungut PPN/PPnBM adalah PPN/PPnBM yang dipungut oleh Pemungut PPN/ PPnBM
II.4.3 Mekanisme Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Sukardji,U (2006), mengemukakan Saat Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai adalah: Pajak Pertambahan Nilai Wajib dihitung sendiri oleh PKP dan harus dilaporkan dalam SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai dan
31
disampaikan kepada kantor pelayanan pajak setempat paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir. Dalam memori penjelasan mengenai pasal 3 UU KUP digariskan bahwa bagi Pengusaha Kena Pajak fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggung-jawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang;
1. Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran
2. Pembayaran dan pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak yang ditentukan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku:
3. Bagi Pemungut dan Pemotong Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannnya.
Saat Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai:
1. PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
2. PPN dan PPnBM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP yang telah dilunasi segera dilaporkan ke KPP yang menerbitkan.
3. PPN dan PPnBM yang pemungutannya dilakukan
• Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan paling lambat 14 hari setelah Masa Pajak berakhir.
32
• Pemungut Pajak Pertambahan Nilai selain Bendaharawan Pemerintah harus dilaporkan paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
• Direktorat Jenderal Bea dan Cukai atas Impor, harus dilaporkan secara mingguan selambat-lambatnya 7 hari setelah batas waktu penyetor an pajak berakhir.
4. Untuk penyerahan tepung terigu oleh BULOG, maka PPN dan PPnBM dihitung sendiri oleh PKP, harus dilaporkan dalam SPT Masa dan disampaikan kepada KPP setempat paling lambat 20 hari setelah Masa Pajak berakhir.
Catatan: Apabila tanggal jatuh tempo pelaporan jatuh pada hari libur, maka pelaporan harus dilaksanakan pada hari kerja sebelum tanggal jatuh tempo.
II.4.4 Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 541/KMK.04/2000, pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) atau sarana lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal pajak.
Sebagaimana diatur dalam ketentuan baru, yaitu Peraturan Direktur Jenderal pajak Nomor PER-01/PJ./2006 jo PER-102/PJ./2006 bahwa Surat Setoran Pajak adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran dan penyetoran pajak yang terutang ke Kas Negara melalui Kantor pos dan atau bank Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah atau tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan sebagai penerima pembayaran atau setoran Pajak. Berdasarkan Pasal 3 ayat 2 , Surat Setoran Pajak (SSP) yang dibuat dalam 5 (lima) rangkap, yang peruntukannya sebagai berikut:
33 1. Lembar ke-1 : Untuk arsip Wajib Pajak
2. Lembar ke-2 : Untuk Kantor Pelayanan Pajak melalui KPKN 3. Lembar ke-3 : Untuk dilaporkan oleh Wajib Pajak ke KPP 4. Lembar ke-4 : Untuk arsip Kantor Penerimaan Pembayaran
5. Lembar ke-5: Untuk arsip Wajib Pungut atau Pihak lain sesuai dengan Ketentuan Peundangan Perpajakan yang berlaku.
Saat Penyetoran Pajak Pertambahan Nilai:
1. PPN dan PPnBM yang dihitung sendiri oleh PKP harus disetorkan paling lambat tanggal 15 bulan takwim berikutnya setelah bulan Masa Pajak.
2. PPN dan PPnBM yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP harus dibayar/disetor sesuai batas waktu yang tercantum dalam SKPKB, SKPKBT, dan STP tersebut.
3. PPN/PPnBM atas Impor, harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran BeaMasuk, dan apabila pembayaran Bea Masuk ditunda/dibebaskan, harus dilunasi pada saat penyelesaian dokumen Impor.
4. PPN/PPnBM yang pemungutannya dilakukan oleh:
• Bendaharawan Pemerintah, harus disetor paling lambat tanggal 7 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
• Pemungut PPN selain Bendaharawan Pemerintah, harus disetor paling lambat tanggal 15 bulan takwim berikutnya setelah Masa Pajak berakhir.
• Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang memungut PPN / PPnBM atas Impor, harus menyetor dalam jangka waktu sehari setelah pemungutan pajak dilakukan.
34
5. PPN dari penyerahan tepung terigu oleh Badan Urusan Logistik (BULOG), harus dilunasi sendiri oleh PKP sebelum Surat Perintah Pengeluaran Barang (D.O) ditebus.
Catatan: Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran jatuh pada hari libur, maka pembayaran harus dilaksanakan pada hari kerja berikutnya.
II.5 SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai II.5.1 SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai
Berdasarkan Pasal 1 butir 10 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000, bahwa Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak (WP) digunakan untuk melaporkan penghitungan dan atau pembayaran pajak, objek pajak dan atau bukan objek pajak dan atau harta dan kewajiban, menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. Surat Pemberitahuan Masa merupakan laporan bulanan yang dapat disampaikan oleh Pengusaha kena pajak, mengenai perhitungan :
1. Pajak masukan berdasarkan realisasi pembelian Barang Kena Pajak atau realisasi penerimaan Jasa Kena Pajak
2. Pajak keluaran berdasarkan realisasi pengeluaran Barang Kena Pajak / Jasa Kena Pajak Penyetoran pajak atau kompensasi
Bagi pengusaha kena pajak penyampaian SPT bersifat :
1. Wajib melaporkan perhitungan pajak tersebut kepada Dirjen Pajak ( Kantor Pelayanan Pajak)
35
2. Dalam jangka waktu 20 hari setelah akhir masa pajak 3. Menggunakan formulir SPT Masa
4. Keterangan dan dokumen yang dicantumkan dan atau dilampirkan pada SPT Masa ditetapkan oleh Menteri Keuangan
5. SPT dianggap tidak dimasukkan jika tidak atau tidak sepenuhnya melaksanakan ketentuan UU Pajak Pertambahan Nilai
6. Perhatian juga ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
Dalam pasal 7 ayat 1 Undang-undan 18 tahun 2000, apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditetapkan Undang-undang, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).
Tanggal jatuh tempo penyampaian SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai adalah tanggal 20 Masa Pajak berikutnya. Apabila tanggal 20 jatuh pada hari minggu atau hari libur, SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai harus disampaikan pada hari kerja sebelumnya.
II.5.2 Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai
Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam :
• Pasal 28 Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)
• Pasal 6 Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai
Akuntansi Pajak Pertambahan Nilai adalah akutansi yang kegiatannya untuk memenuhi ketentuan diatas dan bertujuan memberikan informasi bagi perusahaan untuk dapat menghitung, membayar, dan melaporkan mengenai Pajak Pertambahan Nilai yang terutang.