BAB III
SETTING PENELITIAN
3.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Gambar 3.1 Peta Kota Kediri
Sumber : (id.pinterest.com)
Kota Kediri sendiri merupakan sebuah kota yang terletak di provinsi Jawa Timur, Kota Kediri sendiri merupak kota terbesar ketiga di provinsi Jawa Timur setelah Kota Surabaya dan Kota Malang berdasarkan jumlah penduduknya, Kota yang terbelah oleh sungai brantas yang membunjur sepanjang tujuh kilometer ini mempunyai luas wilayah sebesar 63,40 km yang dimana seluruh wilayahnya sendiri berbatasan dengan Kabupaten Kediri untuk letak astronomi Kediri sendiri
berada diantara 111° 47’ 05’ sampai dengan 112° 18’ 20’ Bujung timur dan 7° 36’
12’ sampai dengan 8° 0’ 32’ Lintang Selatan dengan su wilayah yang berkisar 23°C sampai dengan 31°C , Kota Kediri sendiri merupakan pusat industri rokok terbesar di Indonesia.
3.1.1 Sejarah Kota Kediri
Kediri sendiri merupakan salah satu kota yang terkenal akan nilai sejarahnya yang besar hal ini sendiri bisa diliat dari nama kediri yang banyak terdapat dalam kitab jawa kuno seperti Kitab Samaradana, Kitab Negara Kertagama, Kitab Pararaon, dan juga Kitab Calon arang. Yang dimana didalam semua kitab tersebut membahas asal muasal nama Kota Kediri dan juga sejarahnya nama kediri sendiri hanya sebuah nam yang kecil namun mereka bisa berkembang menjadi sebuah kerajaan panjalu yang sangat besar, sejarah berdirinya kerajaan Kadiri sendiri berawal dari Raja Airlangga yang dimana sebagai sebuah raja berhasil menyatukan daerah-daerah kerajaan Dharmawangsa yang dimana pada saat itu terpecah belah diakibatkan karena pengaruh Sriwijaya. Raja Airlangga sempat membagi kerajaan dimana kerajaan tersebut dibagi menjadi dua yang dimana pada pembagian ini bagian timur yang terdiri atas Kerajaan Jenggala yang ibukota nya bernama Kahuripan yang meliputi daerah Surabaya, Malang, dan juga Besuki.
Sementara itu pada bagian satunya atau bagian barat sendiri terdiri dari Kerajaan Panjalu yang dimana dalam kerajaan ini meliputi daerah Kediri, Madiun, dan dengan ibukota sendiri bernama Dahapura. Raja pertama kerajaan Kadiri sendiri Airlangga adalah seorang pertapa yang juga mempunyai nama Jatiwindra
atau bisa juga di sebut dengan Maharesi Gentanyu karena ketaatannya pada ajaran hindu ini lah yang membuatnya memecah kerajaan Kadiri menjadi dua bagian tersebut dikarenakan karena keiinginannya untuk fokus hanya menjadi seorang pertapa. Selanjutnya setelah mengalami beberapa sistem pemerintahan selanjutnya adalah fase kedua dari kerajaan Kadiri dimulai dimana berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Panjalu atau yang terkenal dengan nama Dhaha, ibukota dari kerajaan Panjalu ini sendiri berada pada Kota Kediri saat ini pada pertengahan Abad ke – 11 sejarah kerjaan menjadi terkenal karena dimana kerajaan Kadiri di pimpin oleh Sri Jayawarsa yang dimana dia memerintah dari tahun 1104 – 1115 yang selanjutnya tahta tersebut diberikan kepada anaknya yang bernama kamiswara.
Pada masa kepemimpinan Kamiswara ini lah bayak muncul tokoh – tokoh hebat yang terkenal seperti mpu Tanakung, Mpu Dharmaja. Dijaman ini juga terkenal dengan Sri Jayabaya yang dimana terkenal dengan ramalan Jayabaya yang dimana beliau juga sempat menjadi Raja, lalu raja terakhir dari kerajaan adalah raja Kertajaya.
Namun raja Kertajaya ketika menjadi seorang raja bukan tanpa kontroversi permasalahan yang terjadi adalah pemeritahan raja Kertajaya yang bertindak sewenang – wenangnya yang menyebabkan timbul pemberontakan yang melemahkan kerajaan Kadiri, dimana pertentangan – pertentangan yang terjadi adalah antara kertajaya dengan golongan para Pendeta. Yang dimana raja Kertaya menolak para golongan pendeta sehingga menyebabkan golongan para pendeta menyingkir jauh ke Tumapel yang pada saat itu dipimpin oleh Ken Arok yang
akhirnya menyebabkan pemberontakan dengan skala besar penyerang Tumapel yang dipimpin oleh Ken Arok ini terjadi pada tahun 1222 yang dimana pada penyerang besar – besaran ini meruntuhkan kerajaan Kadiri, kekalahan dari Tumapel tersebut menyebabkan awal mula kerajaan yang dipimpin oleh Ken Arok yang dimana pada masa pertama menjabat Ken Arok memindahakan kerjaan ke Singosari. Selanjutnya kerajaan Singosari di pimpin oleh Kartanegara dalam kepemimpinan Kartanegara ini Kartanegara sebagai raja berhasil mempunyai pencapain yang membanggakan bagaimana tidak pada masa kepemimpinan raja Kartanegara ia berhasil Mempersatukan Nusantara menjadi satu ia juga berhasil membina Nusantara menjadi negara Maritim yang teguh dan juga ia berhasil dalam hal penyebaran agama syiwa dan budhha keberhasilan dalam menggembangkan kerjaan ini menimbulkan kecurigaan negara-negara sekitarnya yang dimana kerjaan-kerajaan seperti kerajaan Mongol yang dimana pada saat itu dibawah komando Kaisar Kubilai Khan ingin merebut tanah air Nusantara.
Fase terakhir dari sejarah Kota Kediri adalah fase masuknya Hindia Belanda yang menguasai Nusantara, yang dimana pada tahun 1906 pada masa hindia belanda ini dibentuknya Gemeente Kediri yang dimana sebagai tempat kedudukan Resident Kediri yang dekenal dengan istilah sifat pemerintahan otonom terbatas yang diresmikan pada 1 april 1906 lalu pada tanggal 1 januari 1928 pemerintah hindia mengubah peraturan dengan menjadikan Kediri sebagai Zelfstanding Gemeenteschap yang itu dimana pemeritahan menjadi otonom secara penuh. Tepat pada 10 maret 1942, setelah Belanda menyerah kepada Jepang Kota Kediri mengalami perubahan pemerintahan dimana pada pemerintahan Jepang pemerintah
jepang merubah kebijakan Gemeente Kediri karena dianggap teralalu kecil cakupan wilayahnya sehingga oleh pemerintah Jepang diperluas menjadi daerah Kota dan Kediri menjadi Kediri Shi yang dimana di kepalai atau dipimpin oleh Shicho, Kediri shi sendiri pada waktu diambil oleh pemerintahan jepang mempunyai tiga son atau orang yang bertanggung jawab yang dimana dikepalai oleh Shoncho Son yang di situ terdapat beberapa kepala atau Kucho namun yang memegang kendali penuh pada waktu itu tetap Shicho atau biasa dikenal dengan Walikota madya.
Peran Shoncho sendiri tidak hanya menjalankan otonomi tetapi juga menjalankan algemeen bestuur atau pemerintahan secara umum dengan mengikuti sesuai mandat dari pusat yang berbedanya adalah pada bidang otonomi tidak dalam pemngawasan atau pendampingan dari DPRD sehingga wewenang sepenuhnya Kediri berada di tangan Shicho, stelaha kekalah jepang dan membuat jepang menyerahkannya kepada sekutu merupakan akhir dari sejarah Pemerintah Jepang di Kediri sehingga membuat pemerintahan di kota Kediri di ambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia yang dimana pada saat itu sudah mengumumkan kemerdekaannya yang dimana pada awal mulanya Walikota kediri sendiri didampingi oleh Komine Nasional Kotamadya dan berkembang dengan berjalannya waktu dan perundang – undangan yang berlaku di Negara Republik Indonesia.
3.1.2. Sejarah Kampung Inggris
Jika melihat kondisi kampung inggris yang sekarang tentunya mengalami perubahan yang perkembangan yang pesat yang dimana dalam perubahan
perkembangan yang pesat ini tidak terlepas dari perjuangan dari perintis atau pendiri kampung inggris ini yang dimana beliau berusaha mendirikan sebuah institusi pendidikan informal yang dimana letaknya berada di sebuah perkampungan desa yang dimana desa nya adalah desa tulungrejo dan desa pelem yang berada pada kecamatan Pare kabupaten Kediri, jika ingin mengetahui lebih sejarah tentang penamaan kampung inggris ini perlu diketahui sumber untuk menunjukkan asal usul penamaan kampung inggris berdasarkan penelusuran yang didapat sebutan kampung inggris tersebut muncul dengan sendirinya dengan kata lain tidak ada istilah – istilah khusus yang dibuat oleh pendiri atau penduduk asli sekitar kampung inggris tersebut istilah penyebutan kampung inggris ini sendiri terjadi dikarenakan dikemukakan oleh para wartawan atau jurnalis yang meliput tentang lembaga – lembaga yang ada di desa pelem dan desa tulungrejo.
Sebenarnya penyebutan – penyebutan yang ditunjukkan kepada desa pelem dan tulungejo ini tidak hanya kampung inggris tapi juga banyak juga yang menyebut dengan nama Kampung Bahasa dana juga Kampung Khursus namun diantara penyebutan istilah – istilah tersebut yang paling terkenal semdiri adalah istilah Kampung Inggris dan hal itu memang tepat karena memang banyak terdapat lembaga – lembaga khursus Bahasa Inggris di desa – desa tersebut Bermula pada tahun 1976, Kalend Olsein merupakan santri asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur yang belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Menginjak kelas lima di pondok, Kalend meninggalkan bangku sekolah karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan. Bahkan biaya untuk pulang ke kampungnya juga tidak ada. Dalam kondisi sulit itu, seorang temannya
memberitahukan adanya seorang ustadz (pengajar) di Pare, Kediri yang menguasai delapan bahasa asing. Ustadz tersebut bernama KH Ahmad Yazid. Kalend kemudian berniat berguru dengan harapan minimal dapat menguasai satu atau dua bahasa asing. Dia tinggal dan belajar tanpa mengeluarkan biaya di Pesantren Darul Falah, Desa Pelem, Kecamatan Pare milik Ustadz Yazid.
Suatu ketika, dua mahasiswa datang untuk belajar Bahasa Inggris kepada Ustadz Yazid untuk persiapan menghadapi ujian negara dua pekan lagi yang akan dilaksanakan di kampusnya, IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Saat itu Ustadz Yazid sedang pergi ke Majalengka, Jawa Barat. Kedua mahasiswa tersebut diarahkan untuk belajar kepada Kalend oleh istri Ustadz Yazid. Kalend menyanggupi permintaan itu dan mereka akhirnya terlibat proses belajar mengajar di serambi masjid area pesantren. Pembelajarannya cukup singkat namun intensif selama lima hari saja. Sebulan kemudian kedua mahasiswa tersebut kembali dan mengabarkan kepada Kalend bawah mereka telah lulus ujian.
Keberhasilan dua mahasiswa itu tersebar di kalangan mahasiswa IAIN Sunan Ampel, Surabaya dan mereka tertarik mengikuti jejak seniornya dengan belajar kepada Kalend Osein. Sejak saat itu, pada 15 Juni 1977 Kalend mendirikan lembaga kursus dengan nama Basic English Course (BEC) di Dusun Singgahan, Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri. Kelas perdana hanya ada enam siswa. Para siswa tersebut tidak hanya belajar Bahasa Inggris namun juga ilmu agama. Selama sepuluh tahun Kalend mengembangkan lembaga kursusnya.
3.2 Aspek Geografis Lokasi Penelitian
3.2.1. Keadaan Geografis Lokasi Penelitian
Kabupaten Kediri sendiri mempunyai tiga bagian karaktersistik wilayah kediri diapit oleh dua gunung yaitu gunung wilis yang berada di barat kediri dan merupakan gunung non vulkanik sementara di sisi timur sendiri terdapat gunung kelud yang merupakan salah satu gunung aktif di jawa timur Kediri sendiri mempunyai luas wilayah sebesar 963,21 Km² dengan letak Geografis Kediri sendiri terletak pada 111°47,05 sampai 112° 18 20 Bujur timur dan juga 7° 36 12 sampai dengan 8° 0 32 Lintang selatan, jika melihat topografinya kabupaten kediri dibagi empat wilayah yang dimana ketinggian diatas 0 meter sampai 100 meter dpl yang membentang luas 32,45% yang kedua ketinggian di atas 100 meter sampai 500 meter dpl yang membentang seluas 53,83%, yang ketiga ketinggian diatas 500 meter samapai dengan 1000 meter dpl dengan luaas 9,98%, dan yang terakhir ketinggian diatasa 1000 meter dpl dengan luas 3,73%, Pare sendiri merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Kediri, pare sendiri merupakan jantung dari kabupaten Kediri namun secara tertulis justru kecamatan Ngasem lah yang merupakan ibu kota Kabupaten Kediri, untuk posisi Pare sendiri tepatnya berada di timur Kota Kediri. Untuk Luas wilayah Kecamatan Pare sendari sekitar 100,00 km, Di kecamatan Pare sendiri terdapat batas – batas wilayah dimana batas wilayah yang ada yaitu pertama kecamatan Kandangan kedua kecamatan Puncu dan terakhir Kediri sementara di sisi sebelah barat terdapat Kecamatan Gurah di sisi Selatan batas wilayah Pare sendiri terdapat kecamtan Kepung, dan yang terakhir di sisi Utara terdapat
Kecamatan Badas. Di dalam Kecamatan Pare sendiri terdapat sembilan desa dan kelurahan yang dimana desa dan kelurahan itu terdiri dari desa Pelem, Desa Tulungrejo, Desa Sambirejo, Darungan, Kelurahan Gedangsewu, Kelurahan Tertek, Sidorejo, Sumberbendo, Bendo, dan yang terakhir adalah Pare sendiri.
Kelurahan pare sendiri merupah wilayah yang terkecil ketimbang yang lainnya dengan luas sebesar 2,28 Km² sementara wilayah yang terbesar merupakan Desa Gedangsewu dengan luas sebesar 8,38 Km².
Desa tulungrejo sendiri merupakan salah satu tempat yang dikenal dengan nama kampung inggris yang dimana desa tulungrejo ini merupakan satu bagian wilayah pemerintahan kecamatan pare dan jika ingin melihat lebih jauh lagi bahwa desa tulungrejo sendiri ini mempunyai luas wilayah sebesar 532.8 Ha/m². Dengan keberadaan tinggi sebesar 131,8 meter diatas permukaan laut dengan lahan tanah sawah seluas 191,12 Ha serta tanah kering seluas 267,88 Ha dan fasilitas umu 159 Ha. Dan desa tulungrejo terletak sejauh 3 Km arah barat Pare dan berada sejauh 2 Km dari pusat pemerintahan Pare dan dengan kondisi topografi tanah di desa tulungrejo merupakan dataran perbukitan 0 Ha dengan kondisi tanah subur 216.205 Km/m² dan kondisi tanah yang tidak subur 0.5 Ha. Desa tulungrejo sendiri berbatasan dengan beberapa desa yang mana desa itu adalah desa pelem yang tepatnya berada pada sebelah barat desa tulungrejo sendiri.
Desa Pelem merupakan desa yang mempunyai luas wilayah lebih kecil ketimbang desa tulungrejo yang dimana luas wilayahnya sebesar 426,0 Ha dengan sebagian besar wilayahnya masih bernuasa persawahan namun secara
letak geografis desa pelem sendiri mempunyai tinggi sebesar 132 meter yang dimana ini lebih tinggi ketimbang dengan desa tulungrejo. Desa pelem sendiri masih terkenal dengan daerahnya yang masih asri dengan luas sawah seluas 221 Ha dan tanah kering seluas 113,55 Ha serta fasilitas umum dengan luas 91,45 Ha.
3.2.2. Iklim
Kondisi iklim di kota kediri sendiri seperti halnya iklim dikota – kota indonesia yang merupakan iklim tropis dimana suhu maksimum di kabupaten Kediri mempunyai rata – rata 30,7oC pada musim kemarau dan mempunyai minimum rata – rata 23,8oC yang terjadi pada musim penghujan atau rata – rata 27,2oC dengan kelembaban udara rata – rata sekitar 85,5% pertahun, dan kelembaban nisbi antara 74% sampai dengan 86%, kabupaten Kediri sendiri mempunyai kecepatan angin setara 12 sampai 13 knots yang dimana itu terjadi pada masa musim kemarau sedangkan pada musim penghujan memiliki rata - rata kecapatan sebesar 17 sampai 20 knots dan biasanya musim – musim kemarau terjadi pada 6 sampai dengan 7 bulan yang dimana biasanya terjadi pada bulan mei sampai pada november, sementara musim penghujan terjadi selama 4 sampai 5 bulan dan terjadi pada bulan desember sampai dengan bulan april dengan mempunyai curah hujan 130 – 150 pertahun dengan jumlah hari hujan rata – rata 6 sampai 15 hari dan terjadi setiap tahunnya (sumber: pemkab kediri 2019).
3.3 Aspek Demografis Lokasi Penelitian
Penduduk di kabupaten Kediri sendiri pada tahun 2019 tercatat berjumlah sebanyak 292.768 jiwa, yang dimana jumlah ini naik sebesar 2.621 jiwa dan dengan kata lain nail sebanyak 0,90% yang dimana jika dibandingkan dengan tahun 2017 dengan jumlah sebesar 290.147 jiwa. Kenaikan ini sendiri dikarenakan beberapa faktor yang terjadi dimana yang penyebab pertama nya sendiri diakibatkan oleh perpindahan penduduk yang terjadi dimana kita mengetahui bahwasannya kabupaten kediri sendiri menjadi tempat tujuan para perantau setelah kota Surabaya dan juga kota Malang yang berada di luar daerah dimana hal itu bisa terjadi dikarenakan para perantau yang awalnya hanya ingin mencari kerja ataupun menuntut ilmu di Kediri merubah pikiran mereka menjadi ingin menetap selamanya di Kediri karena apa yang ditawarkan kepada mereka seperti fasilitas dan kebutuhan tidak mereka dapatkan di kota asal ada dikota tempat mereka merantau,dan yang selanjutnya adalah adanya selisih antara jumlah kelahiran dan kematian yang terjadi yang dimana kita mengetahui bahwa angka kematian menurun karena penemuan obat – obatan dan juga dikarenakan adanya peningkatan program kesehatan sehingga menyebabkan selisih antara angka kelahiran dan angka kematian.
Dengan hanya luas wilayah yang sebesar 63,40 Km2 kepadatan penduduk di kabupaten Kediri termasuk sangat tinggi hal ini berdasarkan data pada tahun 2018 yaitu sebesar 4.618 jiwa per Km2. Jika ingin melihat berdasarkan jenis kelamin yang ada di Kediri sendiri untuk jumah laki – laki yang ada di Kediri mempunyai presentasi yang lebih kecil ketimbang penduduk berjenis kelamin perempuan
dimana penduduk berjenis kelamin laki – laki mempunyai hasil presentase sebesar 49,65% dengan jumlah komposisi sebanyak 145.351 jiwa penduduk, sementar presentase jumlah penduduk perempuan sendiri sebesar 50,35% yang dimana tentunya hasil itu lebih banyak ketimbang penduduk laki – laki untuk komposisinya penduduk perempuan sebanyak 147.417 jiwa. Walaupun begitu pendudu kota Kediri sendiri dalam lima tahun terakhir mengalami yang namanya fluktuasi yang menyebabkan penurunan yang sangat signifikan hal ini bisa dilihat dari data tahun 2016 ke tahun 2017 yang disebabkan karena adanya perbaikan dalam administrasi kependudukan di kediri sendiri.
Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Kediri Berdasarkan Kelompok Umur Di Kediri Pada Tahun 2014 – 2018
Kelompok Umur 2014 2015 2016 2017 2018
0 – 4 20.233 20.788 20.431 18.407 19.238
5 – 9 23.209 24.502 24.386 23.449 23.873
10 – 14 23.273 24.709 24.947 23.405 24.481
15 – 19 20.203 22.145 22.584 21.929 23.020
20 – 24 20.083 20.875 21.220 19.965 20.100
25 – 29 23.282 23.029 22.213 19.746 19.436
30 – 34 28.715 29.667 28.525 23.563 21.251
35 – 39 24.779 27.069 27.607 25.153 25.051
40 – 44 22.433 23.778 24.272 22.081 22.017
45 – 49 21.182 21.989 22.525 21.151 20.912
50 – 54 18.347 20.206 20.530 19.118 19.338
55 – 59 15.723 17.405 17.649 16.890 16.942
60 – 64 10.555 12.590 13.132 12.931 13.667
65 – 69
21.165
8.318 8.953 8.540 8.805
70 – 74 6.170 6.460 5.349 5.887
75< 9.759 10.119 8.470 8.750
JUMLAH 293.282 312.999 315.553 290.147 292.768
Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Kediri
Dalam demografi sendiri tingkat ketergantungan merupakan hal penting karena dlama pelaksaannya semakin tinggi tingkat ketergantungan maka akan semakin tinggi juga bebang yang ditanggung penduduk yang produktif dalam membiayai hidup penduduk yang belum cukup produktif dan yang tidak produktif jika melihat table diatas bisa dilahat bahwasannya udia 15 sampai dengan usia 64 tahun mendominasi pada tahun 2018 dengan jumlah sebesar 201.734 orang dengan presentase sekitar 68,91% yang tentu hal ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang non produk yang hanya berjumlah 91.034 jiwa saja dengan presentase 31,09% sehingga bisa disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan Kediri sendiri pada tahun 2018 sebesar 0,45. Itu artinya bahwa setiap 100 orang yang berusia kerja mereka mempunyai tanggungan sebanyak 45 orang yang belum produktif ataupun yang tidak produktif.
Tentu saja hal ini merupakan kabar yang gembira dikarenakan penduduk dengan usia produktif merupakan modal dalama sebuah pembaguna sebuah wilayah atau tempat, yang dikarenakan jumlah penduduk berusia muda lebih banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk usia tua, jika meliah dari sisi Keagamaan maka mayoritas penduduk Kediri sendiri beragama islam hal ini terlihat dari banyaknya pesantren – pesantren terkenal yang berada di Kediri sendiri dengan presentase sebesar 91,56% yang dimana dalam wilayahnya pemeluk agama islam terbesar berada di wilayah kecamatan Mojoroto, yang dimana lokasi itu merupakan pusat dari pengembangan Pendidikan Agama Islam yang terbesar di Kediri, tentu Pesantren – pesantren besar seperti Lirboyo, Wahdiyah, Al-Ishlah yang merupakan
tempat pembelajaran bagi para santri yang memang kebanyakan dari santri tersebut berasal dari luar daerah Kediri, sementara untuk presentase penduduk yang beragama non islam terdapat penduduk yang beragama kristen sebesar 5,71%, Katholik 2,22%, dan Buddha sebesar 0,40% dengan selebihnya merupakan beragama Hindu dan Khonghuchu, Sementara dalam aspek lapangan pekerjaan di Kediri sendiri penduduknya lebih mengarah kepada sektor perdagangan yang dimana perdagangan yang dimakasud alah seperti jasa akomondasi, warung makan, cafe dll.
Tabel 3.2 jumlah penduduk Kediri berdasarkan Agama
No Kecamatan AGAMA
Islam Kristen protestan
Katholik Hindu Budhha Lainnya Jumlah
1. Mojoroto 105.442 3.237 2.391 112 73 11 111.266
2. Kota 78.792 8.529 3.116 51 902 74 91.464
3. Pesantren 84.136 4.752 907 51 168 24 90.038
Jumlah 268.370 16.518 6.414 214 1.143 109 292.768 Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Kediri
Tabel 3.3 penduduk Kediri berdasarkan lapangan pekerjaan
Lapangan Pekerjaan Utama Laki-laki Perempuan Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 6,16 0,28 Pertambangan dan Penggalian, Listrik, Gas dan Air Minum 1,29 0,26
Industri 16,85 16,79
Konstruksi 15,98 0,58
Perdagangan, Rumah Makan dan Jasa Akomodasi 30,07 48,65
Lapangan Pekerjaan Utama Laki-laki Perempuan
Transportasi, Pergudangan dan Komunikasi 6,02 0,97
Lembaga Keuangan, Real Estate, Usaha Persewaan & Jasa
Perusahaan 5,81 4,99
Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 17,82 27,48
Jumlah 100,00 100,00
Sumber: Badan Pusat Statistik Kediri
Penduduk desa Tulungrejo dan Pelem sendiri berjumlah 18.726 jiwa tentu saja hal ini merupakan jumlah penduduk yang terbesar sekecamatan Pare hal ini sendiri terjadi dikarenakan laju nya pertumbuhan di desa Tulungrejo yang terbilang meningkat yang kebanyakan di karenakan adanya penduduk yang berasal dari luar daerah Tulungrejo dan rata – rata penduduk yang berimigrasi ini yang awalnya hanya mempunyai tujuan untuk mecari ilmu atau belajar dan mencari mata pencarian untuk hidup mereka lalu merubah pemikiran mereka untuk menetap disini hal tersebut yang membuat intesitas pertumbuhan penduduk di desa Tulungrejo meningkat, namun intesitas pertambahan penduduk bukanlah masalah yang begitu besar karena disamping adanya pertambahan penduduk itu semua juga didukung dengan dampak positif yang mana dengan adanya intesitas pertamabahan penduduk maka akan ada peningkata pendapatan pada masyarakat yanf dimana ini justru menambah atau membantu perekonomian suatu daerah.
Selain untuk meningkatkan perekonomian suatu daerah pertumbuhan penduduk ini juga diharapkan dapat mengali atau mengangkat potensi – potensi sumber daya manusia yang ada di desa Tulungrejo ini karena ini merupakan sebuah poin plus atau nilai jual dari wilayah yang dimana terdapat penambahan intesitas penambahan penduduk tersebut tentu saja harapannya dapat di manfaatkan oleh
pemerintah setempat dalam medongkrak perekonomian setempat karena dengan adanya sumber daya manusia yang berlimpah bisa menjadikan pembangunan di desa Tulungrejo menjadi desa lebih maju dari desa – desa di sekitarnya ataupun desa lain ditempat tersebut.
Jumlah penduduk desa Tulungerjo sendiri terhitung sampe sekarang mempunyai jumlah 18.726 jiwa yang dimana jumlah itu terdiri atas 9.358 jiwa yang berjenis kelamin laki-laki dan 9.368 jiwa yang berjenis kelamin perempuan sementara untuk jumlah kepala keluarga di desa Tulungrejo sendiri terdapat 5.697 kepala keluarga yang dimana terdapat 2.079 kepala keluarga yang dikategorikan sebagai keluarga yang kurang mampu. (Sumber : Daftar isian Tingkat Perkembangn Desa dan Kelurahan )
Dengan jumlah penduduk sebanyak 18.726 jiwa terdapat beberapa klasifikasi kelompok umur yang menetukan usia produktif didesa Tulungrejo yang dimana klasifikasinya sendiri kelompok umur 20 sampai denganga 25 tahun mendominasi jumlah penduduk dan merupakan usia produktif di desa Tulungerjo dengan total 1.805 jiwa. Lalu yang kedua ada penduduk yang berkisaran umur 30 sampai 35 tahun dengan jumlah sebnyak 1.795 jiwa ketiga dan kelompok dengan kisaran umur 25 sampai dengan 30 tahun yang berjumlah 1.781 jiwa keempat ada penduduk dengan usia 35 sam 40 tahun dengan jumlah 1.652 jiwa lalu usia 60 tahun dengan jumlah 1.640 jiwa dan usia 15 sampai dengan 20 tahun yang berjumlah 1.615 jiwa dan yang ketujuh ada penduduk dengan usia 40 sampai dengan 45 tahun yang berjumlah 1.411 jiwa dan yang kedelapan ada penduduk dengan rentang 5 sampai
10 tahun yang berjumlah 1.400 jiwa dan yang kesembilan 5 tahun kebawah dengn jumlah 1.149 jiwa dan yang kesepuluh ada penduduk dengan rentang umur 10 sampai 15 tahun yang berjumlah 1.115 jiwa dan dari data yang ada bisa menunjukkan bahwasanya penduduk di desa Tulungrejo mempunyai potensi bahwa penduduknya bisa menjadi sumber daya manusia yang unggul dan kreatif jika pemerintah setempatnya bisa melihat peluang yang ada dan mau untuk membangun desa Tulungrejo menjadi desa lebih maju lagi. (sumber : Daftar isian potensi desa dan kelurahan ).
3.4. Gambaran Gaya Hidup Lokasi Penelitian
Jika membicarakan gaya hidup maka perlu diketahui bahwasannya gaya hidup menjadi indentitas diri yang dibangun dengan cara mengkonsumsi baik itu apa yang dikenakkan ataupun tindakan yang dimana semua itu menjadi sebuah kebiasaan (Bagong Suryanto,2013:140). Gaya hidup yang terjadi sendiri dikarenakan pembangunan image diri yang berusaha dibangun oleh individu tersebut melalui sikap dan perilakunya yang tidak terbatas hanya untuk mengisi waktu luang saja tetapi bisa menjadi sebuah kebiasaan yang melekat pada diri individunya. tentu saja perkembangan gaya hidup menjadi sorotan yang sangat penting melihat disatu sisi bahwa perkembangan gaya hidup ini dapat mempengaruhi aktivitas di lingkungan sekitar maupun dapat membawa perubahan yang signifikan pada suatu wilayah namun tidak semua hal yang berhubungan dengan gaya hidup harus diaplikasikan dalam kehidupan karena tidak semua lingkungan ataupun wilayah cocok dengan pengaplikasian gaya hidup yang ada bisa jadi hal tersebut bertentangan dengan
aturan ataupun norma – norma yang berlaku diwilayah tersebut sehingga perlu adanya penyesuaian dalam gaya hidup yang mengikuti norma – norma yang ada diwilayah ataupun lingkungan tersebut. Gaya hidup juga merupakan alat untuk membedakan diri dengan individu yang ada di sekitarnya atau yang lainnya dengan tujuan untuk menunjukkan eksistensi diri didalam lingkungan sebuah kelompok, gaya hidup yang dimaksud disini sendiri bukanlah yang dimaksud dengan cara hidup melainkan lebih kepada kepribadian jati diri individu tersebut karena didalam gaya hidup yang dimaksud tidak hanya mencakup tentang apa yang dikonsumsi yang dikenakkan melainkan juga melihat bagaimana sikap perilakunya yang dimana tidak hanya brsifat sebentar melainkan yang sudah menjadi sesuatu yang melekat hal ini yang menyebabkan bahwasanya gaya hidup itu sendiri dapat berkembang yang tentu saja dalam perkembangannya tersebut dapat menjadi permasalahan yang baru karena tentu saja gaya hidup asing bisa menjadi berlawanan dengan gaya hidup yang sudah atau norma yang ada di dalam suatu sisterm masyarakat. kehidupan masyarakat di desa Tulungrejo sendiri sangat beraneka ragam. Dari mulai adanya budaya untuk menggunakan bahasa inggris atau bahasa asing dalam kegiatan sehari- hari namun penggunaan bahas asing ini tidak dilakukan di semua tempat yang ada di desa Tulungrejo kecamatan Pare ini melainkan kegiatan dilakukkan ditempat – tempat tertentu yang dimana tempat tersebut dekat dengan lokasi khursus atau pun tempat tinggal yang sudah bekerjasama dengan tempat khursus tersebut.
Jika melihat gaya hidup penduduk di lingkungan desa Tulungrejo sendiri tentunya mengalami perubahan yang dimana kita mengetahui bahwasanya lingkungan desa yang terkenal dengan suasana desanya mengalami perubahan yang
dimana perubahan ini terjadi dikarenakan lingkungan atau gaya masyarakat desa sudah mulai mengadaptasi dengan budaya lingkungan perkotaan yang penyebabnya sendiri dikarenakan oleh adnya penduduk yang bermigrasi ke kecamatan Pare yang mempunyai berbagai macam alasan dan tujuan yang dimana terdapat kepentingan para pendatang. Penggunaan bahasa asing di kampung inggris ini sendiri sudah merupakan aturan yang ditetapkan oleh lembaga khursus yang bekerjasama juga dengan pemerintah desa setempat yang dimana terdapat aturan yang mengatur para peserta tersebut untuk tetap menggunakan bahasa asing yang dimana bila nanti jika didalam pelaksanaannya ada siswa yang melanggar maka akan diberikan sanksi baik itu berupa denda ataupun tindakan fisik seperti push up kepada yang melamggar, tentu saja hal ini memnjadikan sebuah daya tarik sendiri dan juga tidak monoton dimana para siswa para penjual banhkan warga juga mau tidak mau harus mengikuti perkembangan gaya hidup yang dimana menggunakan bahasa asing walaupun tidak harus dilakukan terlalu insentif terlebih kepada penduduk sekitar yang notabenenya merupakan kalangan warga biasa yang dalam kesehariaannya menggunajan bahasa jawa ataupun bahasa Indonesia.
Meskipun gaya hidup dengan mengadopsi seperti bahasa – bahasa asing ini terbilang baru ataupun susah dilakukan mayoritas penduduk yang berada di sekitaran desa Tulungrejo tetap berusaha untuk melakukan atau ingin belajar mengadaptasi dengan gaya hidup yang ada karena pada gaya bicara yang dilakukan dengan bahasa asing yang berusaha di terapkan di desa Tulungrejo dan pelem ini dapat menjadi identitas yang baru yang dapat membuat kemajuan yang berarti di kecamatan Pare tersebut.