April 2011
PERANAN PENANAMAN MODAL
BAGI PEMBANGUNAN NASIONAL
BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL
T U J U A N P E R K U L I A H A N
1
1. Memberikan informasi mengenai peran penting
penanaman modal/ investasi dalam menunjang
pembangunan ekonomi nasional.
2. Menarik minat mahasiswa/i tingkat akhir dan sarjana
untuk dapat berperan aktif di bidang penanaman
modal dengan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di
BKPM.
O U T L I N E
2
A. Perkembangan Realisasi Penanaman Modal
B. Proyeksi Penanaman Modal 2010-2030
C. Perbandingan Indonesia dengan BRIC
D. Peringkat Indonesia Berdasarkan Lembaga Survey
International
E. Penyikapan Strategis
ELEMEN PMTB (PEMBENTUKAN MODAL TETAP BRUTO) DALAM PDB 2010-2014
4
PMTB TOTAL
Rp 3.168 triliun (US$ 344,35 miliar) PMTB Swasta (dalam dan luar negeri)
Lembaga keuangan Belanja modal pemerintah Belanja modal rumah tangga
PMTB swasta
Skala besar: PMA + PMDN yang dikelola BKPM (PMA ~80%) Skala besar: investor domestik + asing sektor migas dan pertambangan (asing > domestik)
Skala kecil dan menengah: investor domestik yang dikelola oleh Pemda (PDPPM/PDKPM*) 2010 30% PDB Rp 6.254 T 2014 33,8% PDB Rp 9.375 T
Investasi Swasta 26% (2010) dan 24% (2014) mencakup PMA+PMDN dan investasi skala besar (domestik+asing) di
sektor migas hulu dan pertambangan
•Data APBN-P 2010, Asumsi: US$ 1 = Rp 9.200 •SUMBER: BAPPENAS, diolah
22% Rp 1.894 triliun (US$ 205,87 miliar)
57%
7%54%
6% 18% 12% 24% 2010 Rp 1.079 triliun (US$ 117,28 miliar) 8% 18% 31% 2014 Rp 1.711 triliun (US$ 195,98 miliar) 16% 8% 30%57%
54%
*) PDPPM = Perangkat Daerah Provinsi di Bidang Penanaman Modal PDKPM = Perangkat Daerah Kabupaten/Kota Bidang Penanaman Modal
Rp 151,5 triliun (US$ 16,47 miliar)
Rp 506,9 triliun (US$ 55,09 miliar)
Realisasi Penanaman Modal 2010
Realisasi Investasi sejak 2010 berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) BKPM
Total keseluruhan investasi Januari – Desember 2010 adalah sebesar Rp. 208.5 triliun, tumbuh 54.2% jika dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar Rp. 135.2 triliun.
Target investasi tahun 2010 adalah Rp. 160.1 triliun, sehingga realisasi 2010 telah melebihi target 30.2%.
Realisasi investasi 2010 menyerap 463.012 tenaga kerja, naik 52.5% dari realisasi investasi tahun 2009 yang menyerap 303.573 tenaga kerja.
5 5 Teratas Investasi 2010
untuk PMA berasal dari Negara: 1. Singapura 2. Inggris 3. Amerika Serikat 4. Jepang 5. Belanda
Realisasi Penanaman Modal 2010, Berdasarkan Sektor
6
Penanaman Modal Dalam Negeri:
Tanaman pangan & perkebunan (Rp 28.7 trilliun, 238 proyek); Industri makanan (Rp 16.4 trilliun, 208 proyek); Transportasi, pergudangan & telekomunikasi (Rp 13.8 trilliun, 46 proyek); Listrik, Gas & Air (Rp 4.9 trilliun, 47 proyek); dan Jasa lainnya (Rp 3.3 trilliun, 92 proyek).
Penanaman Modal Asing :
Transportasi, pergudangan & telekomunikasi (US$. 5 miliar, 154 proyek); Pertambangan (US$. 2.2 miliar, 298 proyek); Listrik, Gas dan Air (US$ 1.4 miliar, 59 proyek); Perumahan, kawasan industri & perkantoran (US$. 1.1 miliar; 89 proyek); dan Industri makanan (US$. 1 miliar; 250 proyek).
(Dalam Rp. Triliun)
(Dalam US$. Miliar)
Terdapat peningkatan penting yang dijadikan sebagai tolok ukur perkembangan realisasi investasi 2010 dengan 2009, yakni:
1.Pertumbuhan penanaman modal dalam negeri (PMDN)
2.Peningkatan penanaman modal yang berlokasi di luar pulau Jawa
Realisasi Penanaman Modal 2010, Berdasarkan Lokasi
(1)
Realisasi Penanaman Modal 2010, Berdasarkan Lokasi
(2)
8
Penanaman Modal Dalam Negeri :
Jawa Barat (Rp 15.8 trilliun, 136 proyek); Jawa Timur (Rp 8.1 trilliun, 117 proyek); Kalimantan Timur (Rp 7.9 trilliun, 64 proyek); Banten (Rp. 5.8 trilliun, 97 proyek) dan Jakarta (Rp. 4.5 trilliun; 104 proyek).
Penanaman Modal Asing :
Jakarta (US$ 6.4 miliar, 1068 proyek); Jawa Timur (US$ 1.8 miliar, 137 proyek); Jawa Barat (US$. 1.6 miiliar, 729 proyek); Banten (US$. 1.5 miliar, 336 proyek); dan Kalimantan Timur (US$. 1.1 miliar, 138 proyek).
ASUMSI PROYEKSI PDB, PMTB, DAN PMA/PMDN
10
Pertumbuhan PDB: 7 – 8%
Inflasi (yoy): 4 – 6 %
Kurs 2010: Rp 9.200 per US$1
Rasio PMTB terhadap PDB: 30% (termasuk Belanja Modal RT) atau 20-25% (di luar
Belanja Modal rumah tangga)
Rasio PMTB di luar konsumsi rumah tangga terhadap PDB: 20%
Rasio PMA/PMDN terhadap PMTB: 15%
Rasio pembelanjaan infrastruktur terhadap PDB: 5%
PROPORSI PMTB DALAM PDB (PROYEKSI)
11
US$ Triliun
2010-2014
2015-2019
2020-2024
2025-2030
TOTAL
PDB
4
8
15
25
52
PMTB
1
2
3,5
5
11,5
INFRASTRUKTUR
0,2
0,4
0,75
1,25
2,6
PMA DAN PMDN
0,15
0,3
0,5
0,75
1,7
C. PERBANDINGAN INDONESIA DENGAN BRIC
Posisi Indonesia dibandingkan negara-negara BRIC
13
Indonesia BRIC
Brazil Rusia India China
Number of Population (million) 228.1 191.3 141.9 1,135.6 1,330.0 GDP Nominal 2009 (US$ trillion) 0.623 1.57 1.23 1.24 4.985
Human Poverty Index 17 8.6 7.4 2.8 7.7
Doing Business Rank 2010 122 129 20 133 89
World Investment Report 2010
a. FDI Inflow (US$ Mn) 4,877 25,949 38,722 34,613 95,000 b. FDI Outflow (US$ Mn) 2,949 -10084 46,057 14,897 48,000 Growth Competitiveness Index Rank (2010) 44 58 63 51 27
Growth Environment Score (2006) 3.4 4.2 4.4 3.9 4.9
HDI Value 0.734 0.813 0.817 0.612 0.772
HDI Value 0.734 0.813 0.817 0.612 0.772
Health & Education
Doctors per 1,000 pop. 0.1 1 4.3 0.6
Hospital beds per 1,000 pop. 0.6 2.4 9.7 0.9
Education Spending (% of GDP) 3.5 5.1 3.9 3.2
Education Index 2007 0.84 0.891 0.933 0.643
Literacy Rate 92 90 99.5 66 94.6
Infrastructure
Electricity consumption 119.3 bn 404.3 bn 1,023 bn 568 bn 3.44 tn Electricity Consumption per capita 523.01 2113.43 7209.3 500.17 2586.5 Roadways (km) 437,759 1,751,868 940,000 3,320,410 3,583,715 Highways (km per 1000 people) 1,683 9,921 3,639 3,323 1,111
Number of Internet Users in BRICI Countries, 2009 – 2015E
14 137 49 36 26 20 211 88 384 81 68 44 31 223 93 650 237 155 76 94 238 101 0 250 500 750China India Brazil Russia Indonesia USA Japan
2006 2009 2015E
Brazil, Rusia, India, China, dan Indonesia—memiliki jumlah pengguna internet sebesar 610 juta dan jumlah tersebut kian bertambah dan diperkirakan pada 2015 akan mencapai 1,2 milyar pengguna.
Sumber: The Boston Consulting Group
Produksi dan Konsumsi Baja Mentah Dunia Tahun 2009
15
Negara Produksi baja
mentah (000 ton) Produksi baja mentah per kapita Konsumsi baja mentah (000 ton) Konsumsi baja mentah per kapita
(kg) China 567.842 424,24 564.980 422,1 Jepang 87.534 688,87 56.800 447 India 62.838 54,32 57.610 49,8 Korea Selatan 48.572 1.001,27 47.254 974,1 Brazil 26.506 138,56 20.556 103,4 Malaysia 4.004 155,72 7.534 293 Thailand 3.646 55,23 12.285 186,1 Indonesia 3.501 14,58 7.227 30,1 Russia 2.417 17,03 202,8 1.824 Vietnam 2.700 30,48 12.162 137,3 Singapura 664 142,55 2.990 641,9
Baja merupakan salah satu komponen yang penting dalam proses industrialisasi. Konsumsi
baja Indonesia sebesar 30kg per kapita per tahun masih relatif rendah untuk menuju proses
industrialisasi. Untuk dapat menjadi negara industri yang maju dibutuhkan konsumsi baja
sekitar 500 kg per kapita per tahun. Untuk itu kita harus meningkatkan kapasitas produksi
baja menjadi sekitar 120 juta ton per tahun dengan dana sekitar US$120 miliar.
Produksi dan Konsumsi Semen Dunia Tahun 2009
16
Selain baja, semen juga merupakan salah satu material dasar yang diperlukan bagi proses
industrialisasi. Produksi dan konsumsi semen Indonesia merupakan salah satu yang terendah
dibandingkan dengan negara-negara di Asia dan negara-negara BRIC. Apabila Indonesia ingin
melakukan industrialisasi skala besar, peningkatan produksi dan konsumsi semen juga harus
dipenuhi.
Country Production of cement (mmt) Production of cement per capita (kg) Consumption of cement (mmt) Consumption of cement per capita (kg) China 1,400 1,062 1,450 1,100 India 180 162 200 180 Jepang 59.6 468.2 44.3 348 Brazil 53 279.5 55 290 Russia 55 385 50 350 South Korea 50.12 1,027.83 48.47 994 Indonesia 38 158.3 38.4 160 Thailand (2008) 28.24 416.5 27.53 406D. PERINGKAT INDONESIA BERDASARKAN SURVEY
LEMBAGA INTERNASIONAL
Peringkat Indonesia Berdasarkan Survei Beberapa Lembaga Internasional (1)
18
World Economic Forum (WEF)
Sumber: The Global Competitiveness Report 2009–2010, World Economic Forum Geneva, Switzerland 2010
Perbandingan Tingkat Daya Saing Global (Global Competitiveness Index/ GCI)
2010–2011 dan 2009–2010
Countries 2010-2011 2009-2010 Ranking Score Ranking Score
Swiss 1 5.63 1 5.60 USA 4 5.43 2 5.59 Singapore 3 5.48 3 5.55 Japan 6 5.37 8 5.37 Malaysia 26 4.88 24 4.87 China 27 4.84 29 4.74 Thailand 38 4.51 36 4.56 Indonesia 44 4.43 54 4.26 India 51 4.33 49 4.30 Brazil 58 4.28 56 4.23 Russia 63 4.24 63 4.15 Vietnam 59 4.27 75 4.03 Filipina 85 3.96 87 3.90
o Tahun ini GCI diikuti oleh 133 negara. Terdapat sekitar 100 indikator yang digunakan dalam survei yang direfleksikan dalam 12 pilar utama daya saing yaitu: institusi, infrastruktur, stabilitas makroekonomi, kesehatan dan pendidikan utama, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, ukuran pasar, efisiensi berbisnis, dan inovasi.
o Peringkat Indonesia di GCI masih lebih baik dibanding dengan Brazil, Rusia dan India, terkecuali Cina, yang dikenal dengan kelompokBRIC.
Peringkat Indonesia Berdasarkan Survei Beberapa Lembaga Internasional (2)
19
World Investment Prospects Survey 2008 - 2012 as “the most attractive economies for the location of FDI”
oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD)
No. Negara Peringkat (periode tahun) 2010-2012 2009-2011 2008-2010 1. China 1 1 1 2. India 2 3 2 3. Brazil 3 4 5 4. Amerika Serikat 4 2 3 5. Rusia 5 5 4 6. Mexico 6 12 11 7. Inggris 7 6 12 8. Vietnam 8 11 6 10. Jerman 10 7 7
11. Thailand 11 n/a n/a
12. Polandia 12 13 13
13. Australia 13 8 n/a
14. Perancis 14 14 15
15. Malaysia 15 n/a n/a
16. Jepang 16 n/a n/a
17. Kanada 17 10 10
18. Chile 18 n/a n/a
19. Afrika Selatan 19 n/a n/a
20. Spanyol 20 n/a n/a
9.
Indonesia
9
9
8
Indonesia berada pada peringkat 9 tujuan utama Foreign Direct Investment (FDI) berdasarkan hasil suvei UNCTAD dengan responden dari para korporat/ eksekutif Transnational Corporation (TNC’s) negara-negara maju dan berkembang. UNCTAD sendiri beranggotakan 193 ekonomi/negara.
Peringkat Indonesia Berdasarkan Survei Beberapa Lembaga Internasional (3)
20 20
The 25 Most Attractive FDI Destination According to Corporate Executive
-+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
-Low Confidence High Confidence
Nilai pada skala 0 - 3
TOP 20 (1) 1 (3) 2 (2) 3 (6) 4 (10) 5 ( ) 6 (11) 7 (19) 8 (14) 9 (4) 10 (8) 11 (12) 12 (13) 13 (5) 14 (17) 15 ( ) 16 ( ) 17 (9) 18 ( ) 19 (16) 20
*) Other Gulf States Includes Bahrain, Kuwait, Oman and Qatar Peringkat Tetap Peringkat Naik Peringkat Turun
-+
( ) Tidak termasuk TOP 20 pada survei 2007 ( #) Ranking survei 2007
Sumber: “The 2010 A.T. Kearney FDI Confidence Index”., A.T Kearney is a global management consulting firm.
Indeks “The Foreign Direct Investment Confidence” adalah survei global yang diselengarakan oleh A. T. Kearney. Indeks memberikan gambaran unik prospek arus investasi internasional. Perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi dalam survei dari 44 negara dan 17 sektor industri, mewakili 75% dari arus FDI global (US$ 2 trillion annual global sales).
Sumber : Fitch, S&P and Moody’s,
Keterangan : *) S&P (BB for long term foreign currency, BB+ for long term local currency), **) the Japan Credit Rating Agency upgraded Indonesia to investment grade – proper to invest (BBB ), the first in 13 years .
International Rating Agencies
Institution
Rating
Before
Rating
Fitch
BB
BB+
Januari 2010
Standar and
Poor
BB-
BB
*)Maret 2010
Moody’s
Ba2
Ba1
Januari 2011
the Japan
Credit Rating
Agency
BB+
BBB
**)Juli 2010
Sumber: www.surabayapost.co.id, detikfinance
o Lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's Investor Service telah merevisi prospek peringkat utang luar negeri Indonesia dari Ba2 menjadi Ba1, satu peringkat di bawah ‘investment grade’.. o Analis Citibank, memperkirakan
Moody’s akan segera memasukan Indonesia dalam peringkat investasi atau
investment grade pada semester
dua 2011.
21
Peringkat Indonesia Berdasarkan Survei Beberapa Lembaga Internasional (4)
E. PENYIKAPAN STRATEGIS
ROADMAP INVESTASI
23
Quick Wins
(“low hanging fruits”)
Akselerasi Pembangunan
Infrastruktur dan Energi
Industrialisasi Skala
Besar
Ekonomi Berbasis
Pengetahuan
Roadmap ini dilakukan secara paralel mulai dari strategi
jangka pendek menuju strategi jangka panjang
• Meningkatkan daya saing SDA melalui peningkatan nilai tambah • Oil refinery
Produksi: 970rb barel/hari Konsumsi: 1,4jt barel/hari Rencana: 500rb-1jt barel/hari (2010-2014)
Investasi : USD15-30 miliar • Infrastruktur fisik dan lunak • Jalan
Rencana: 20.000 km (2010 - 2014) Investasi : USD 100-200 miliar • Listrik
Rencana: 15.000 MW (2010-2014) Investasi : USD 15 – 30 miliar • Pelabuhan Laut
Investasi : Rp23 triliun / USD 2,5 miliar (APBN)
• Pendidikan
Kebutuhan: 75.000 – 100.000 doktor/S3 (2010 – 2029) Tenaga kerja terampil/spesialis
• Penguatan struktur industri untuk meningkatkan nilai tambah • Baja
Produksi: 14,58kg /kapita (2009) Konsumsi: 30,1kg/kapita (2009) Rencana : 500 kg/kapita ~ tambahan kapasitas 120 juta ton Investasi : USD 120 miliar • Semen
Produksi:158,3kg/kapita Konsumsi:160 kg/kapita Rencana: 270-280 kg/kapita ~ tambahan kapasitas 65-68 juta ton Investasi : USD15-20 miliar
• Ekonomi berbasis teknologi dan inovasi • Menjadi pemain
utama di tingkat global • Pendirian infrastruktur pendukung sebagai katalisator (seperti Silicon Valley atau sentra-sentra
24
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL 2010
(1)DAFTAR
NEGATIF
INVESTASI
(DNI)
TAX HOLIDAY
PTSP DAN
SURAT
EDARAN
BERSAMA
Pada 25 Mei 2010 telah diterbitkan Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2010 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan Di Bidang Penanaman Modal atau yang biasa dikenal dengan Daftar Negatif Investasi (DNI).
Dengan berlakunya Perpres baru ini, maka Perpres 77/2007 sebagaimana telah diubah dengan Perpres 111/2007, dicabut (tidak berlaku lagi).
Lampiran daftar bidang usaha formatnya disusun per sektor sehingga lebih mudah dipahami serta terdapat tambahan kolom untuk bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan bagi penanam modal dari negara-negara ASEAN. Terdapat sekitar 40 bidang usaha yang lebih terbuka bagi penanaman modal dan 10 bidang usaha lebih restriktif.
Telah dilakukan pengkajian dan pembahasan bersama antara Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian dan BKPM perihal feasibilitas dari pemberian Tax Holiday.
Saat ini, Kementerian Keuangan sedang melakukan finalisasi mekanisme pemberian Tax Holiday yang rencananya akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah.
Pada tanggal 15 September 2010, telah dilakukan penandatanganan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Kepala BKPM tentang Sinkronisasi Pelaksanaan Pelayanan Penanaman Modal di Daerah.
SEB menjadi pedoman bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman modal. Dengan SEB ini diharapkan Gubernur, Bupati/Walikota segera melimpahkan sepenuhnya kewenangan pemberian pelayanan perizinan dan nonperizinan di bidang penanaman modal yang menjadi urusannya kepada Perangkat Daerah di Bidang Penanaman Modal atau PTSP di daerah masing-masing.
Saat ini sudah 33 provinsi dan 40 kabupaten/kota sudah memiliki PTSP yang telah interkoneksi Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) dengan BKPM. 6 provinsi diantaranya sudah menerbitkan perizinan penanaman modal melalui SPIPISE.
25
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL 2010
(2)REVISI PP
NO. 62
TAHUN 2008
Saat ini sedang dilakukan finalisasi atas revisi Peraturan Pemerintah No. 62 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-daerah Tertentu, yang dikoordinasikan oleh Kantor Menko Perekonomian.
Telah dilakukan identifikasi permasalahan lemahnya implementasi PP No. 62 Tahun 2008 yang persetujuannya terus menurun, antara lain terkait dengan cakupan bidang usaha yang masih belum jelas sehingga pengertian petugas di lapangan dapat berbeda terhadap suatu definisi/rincian barang/jasa, dan mekanisme pengajuan dari pemohon sampai penetapan insentif dipandang masih panjang.
Adapun rekomendasi yang dapat disampaikan untuk proses finalisasi PP No. 62 Tahun 2008 antara lain: Memperjelas cakupan produk pada setiap bidang usaha pada Lampiran PP.
Mekanisme pemberian insentif perlu disederhanakan dan diharapkan dapat mendukung Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal.
Perusahaan pemohon yang telah mendapatkan perijinan dari BKPM namun belum melakukan realisasi investasinya pada saat tanggal efektif PP ini berlaku, kiranya tetap dapat menikmati fasiltas fiskal ini sepanjang bidang usahanya memenuhi kriteria.
Usulan Kementerian
Revisi PP No. 62 Tahun 2008 Tambahan pada Lampiran I
(Bidang Usaha Tertentu)
Tambahan pada Lampiran II (Bidang Usaha Tertentu dan Daerah-daerah Tertentu)
Perindustrian 42 27
Pertanian 4 14
Kelautan & Perikanan - 21
26
PERKEMBANGAN KEBIJAKAN PENANAMAN MODAL 2010
(3)TIMNAS PEPI
KEBIJAKAN
DI BIDANG
KESEHATAN
Telah diterbitkan Keputusan Presiden No. 28 Tahun 2010 tentang Perubahan Keduan Atas Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2006 tentang Tim Nasional Peningkatan Ekspor dan Peningkatan Investasi.
Timnas PEPI dengan Ketua Presiden RI dan Ketua Harian Menko Perekonomian:
memperluas keterlibatan Kementerian/Non Kementerian dari 19 menjadi 26 Menteri/Kepala Lembaga Non Kementerian,
melakukan penyederhanaan dari 4 Kelompok Kerja (Pokja) menjadi 2 Pokja yaitu: Pokja Bidang Peningkatan Ekspor yang diketuai oleh Menteri Perdagangan, dan Pokja Bidang Peningkatan Investasi (diketuai oleh Kepala BKPM). Adapun susunan keanggotaan, tugas dan tata kerja Pokja ditetapkan oleh Menko Perekonomian selaku Ketua Harian.
Di dalam DNI, bidang usaha industri farmasi kepemilikan saham asing dibatasi maksimal 75%. Ada wacana dari Kementerian Kesehatan bidang usaha ini dibuka untuk asing hingga 100%. Apabila hal ini akan dilakukan maka Kementerian Kesehatan mengajukan usulan perubahan DNI 2010 kepada Kantor Menko Perekonomian.
27
PENYIKAPAN STRATEGIS
PARADIGMA
INVESTASI
INDUSTRI
STRATEGIS
SUMBER
DAYA
MANUSIA
UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (pro growth – pro job – pro environment – pro poor)
Nasionalisme Ekonomi Keseimbangan antara :
Kepentingan untuk menjaga/menopang Keamanan Nasional
Realitas keterbatasan kemampuan usaha nasional vs besarnya kebutuhan investasi untuk mendorong pembangunan nasional.
Tujuan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang
Peran BKPM sebagai koordinator kegiatan penanaman modal di seluruh sektor sesuai dengan amanat UU No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
Berbagai industri kunci yang menjamin ketahanan nasional seperti baja, semen, pupuk, industri kimia dasar, infrastruktur dan migas perlu didorong melalui BUMN dengan:
Penguatan struktur permodalan Dukungan fiskal
Perbaikan tata kelola perusahaan
Guna menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan pengembangan sumber daya manusia harus dilakukan:
PENDIDIKAN: menciptakan angkatan kerja yang berpendidikan dan berkemampuan tinggi, melalui pendidikan tersier (75 ribu-100 ribu orang PhD sampai dengan 2029) dan pelatihan keterampilan praktis.
28
PENYIKAPAN STRATEGIS (lanjutan)
AKSELERASI
REALISASI
INVESTASI
Persetujuan investasi 2005 – 2010 yang belum terealisasi: PMDN Rp 756,2 triliun
PMA US$48,2 miliar
Fasilitasi perizinan dan non perizinan investasi
Mengingat kebutuhan investasi yang tinggi perlu keterbukaan terhadap SMART CAPITAL dari luar negeri :
Untuk penciptaan nilai tambah/hilirisasi
Transfer teknologi dan peningkatan kemampuan tenaga kerja lokal Perluasan jaringan secara internasional
Tata ruang hal yang mendukung kebutuhan investasi :
Untuk keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan
Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat
Keseimbangan dan keserasian perkembangan antar wilayah dan kegiatan antar sektor Pada 2010 “Pemerintah telah menyelesaian Peraturan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
untuk 14 Provinsi”