• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA MENOPAUSE USIA 56-60 TAHUN Hubungan Antara Kecemasan Dengan Fungsi Seksual Pada Wanita Menopause Usia 56-60 Tahun.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA MENOPAUSE USIA 56-60 TAHUN Hubungan Antara Kecemasan Dengan Fungsi Seksual Pada Wanita Menopause Usia 56-60 Tahun."

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA MENOPAUSE USIA 56-60 TAHUN

NASKAH PUBLIKASI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi

Diajukan Oleh:

SEPTI DIAN PRATIWI

J 110 100 053

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV FISIOTERAPI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)

PENGESAHAN NASKAH PUBLIKASI

Naskah Publikasi Ilmiah dengan Judul Hubungan antara Kecemasan dengan

Fungsi Seksual pada Wanita Menopause Usia 56-60 Tahun.

Naskah publikasi ilmiah ini telah disetujui oleh pembimbing skripsi untuk

dipublikasikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Diajukan oleh :

Nama : Septi Dian Pratiwi

NIM : J110100053

Pembimbing I Pembimbing II

Wahyuni, S.Fis., M.Kes Isnaini Herawati, S.Fis., M.Sc

Mengetahui,

Ka. Progdi Fisioterapi FIK UMS

(3)

PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:

Nama : Septi Dian Pratwi

NIM : J110100053

Fakultas/Jurusan : Fakultas Ilmu Kesehatan/Fisioterapi

Jenis Penelitian : Skripsi

Judul : Hubungan antara Kecemasan dengan Fungsi Seksual pada

Wanita Menopause Usia 56-60 Tahun Dengan ini menyatakan bahwa saya menyetujui untuk:

1. Memberikan hak bebas royalti kepada perpustakaan UMS atas penulisan

karya ilmiah saya, demi mengembangkan ilmu pengetahuan.

2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan atau pengalih formatkan.

3. Mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya serta menampilkan dalam bentuk softcopy untuk kepentingan akademis kepada perpustakaan UMS, tanpa perlu meminta izin dari saya selama tetap

mencantumkan nama saya sebagai penulis atau pencipta.

4. Bersedia dan menjamin untuk menanggung secara pribadi tanpa melibatkan

pihak perpustakaan UMS, dari segala bentuk tuntutan hukum yang timbul

atas pelanggaran hak cipta dalam karya ilmiah ini.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan semoga dapat

dipergunakan sebagaimana mestinya.

Surakarta, Juli 2014

Yang menyatakan

(4)

ABSTRAK

“HUBUNGAN ANTARA KECEMASAN DENGAN FUNGSI SEKSUAL PADA WANITA MENOPAUSE USIA 56-60 TAHUN”

V Bab, 46 Halaman, 9 Tabel, 3 Gambar, 8 Lampiran

(Pembimbing : Wahyuni, S.Fis., M.Kes. dan Isnaini Herawati, S.Fis., S.Pd., M.Sc.)

Latar Belakang : Menopause merupakan keadaan dimana siklus menstruasi berhenti. Gejala yang timbul saat menopause dibagi menjadi gejala psikis dan gejala fisik. Gejala psikis yang timbul adalah kecemasan. Kecemasan merupakan suatu keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologes, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan kekhawatiran bahwa sesutu buruk yang akan terjadi. Sedangkan salah satu gejala fisik yang timbul adalah menurunnya fungsi seksual.

Tujuan Penelitian : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual pada wanita menopause usia 56-60 tahun.

Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan rancangan cross sectional. Responden dalam penelitian ini adalah warga Desa Bebel, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan dan dilakukan ada bulan Juli 2014 dengan total sampel 35 orang, diambil dengan menggunakan teknik

purposive sampling, pengukuran kecemasan menggunakan skala HARS

(Hamilton Anxiety Rtaing Scale) dan pengukuran fungsi seksual menggunakan FSFI (Function Sexual Female Index).

Hasil : Uji normalitas data dengan Kolmogorov-smirnov, dimana data berdistribusi normal. Uji analisa data dengan chi-square terdapat 2 cell yang diharapkan kurang dari 5 sehingga p-value menggunakan uji Fisher’s dengan memperoleh p-value > 0,005 yaitu 0,227 menunjukkan tidak ada hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual, hasil Contingency Coefficient 0,226 yang berarti koefisien lemah, dan hasil Odd Ratio 0,196 memberikan interpretasi seberapa besar resiko yang akan timbul. Nilai p-value Odd Ratio sebesar 0,205, karena p-value> 0,05 maka pada taraf kepercayaan 95 %, odd ratio dinyatakan signifikan.

Kesimpulan : Tidak ada hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual pada wanita menopause usia 56-60 tahun.

(5)

PENDAHULUAN

Menopause dikenal sebagai masa berakhirnya menstruasi atau haid, dan

sering dianggap menjadi momok dalam kehidupan wanita. Sebagian besar wanita

mengalami gejala menopause pada usia 40-an dan puncaknya tercapai pada usia

50 tahunan (Williams dkk., 2007).

Gejala-gejala fisik yang timbul pada menopause adalah gejala rasa panas

dan keringat pada malam hari, kelelahan, insomnia, kekeringan kulit dan rambut,

sakit dan nyeri pada persendian, sakit kepala, palpitasi (denyut jantung cepat dan

tidak teratur) dan berat badan bertambah (Kasdu, 2004).

Sedangkan untuk gejala psikologis adalah ingatan menurun, kecemasan,

mudah tersinggung, stres, dan depresi. Kecemasan yang muncul pada wanita yang

mengalami menopause sering dihubungkan dengan adanya kekhawatiran dalam

menghadapi situasi yang sebelumnya belum pernah dialaminya. Umumnya

mereka tidak mendapatkan informasi yang benar sehingga yang dibayangkan

adalah efek negatif yang akan dialami setelah memasuki masa menopause.

Masalah yang timbul akibat menopause ini disebut dengan sindrom

premenopause (Proverawati, 2010).

Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005 & Muslimin dkk., 2013) mengatakan

bahwa kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingankan individu tentang

kemungkinan datangnya bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang

sesuai. Kecemasan memberi sinyal kepada kita bahwa ada bahaya dan kalau tidak

dilakukan tindakan yang tepat, bahaya itu akan meningkat sampai ego dikalahkan.

Seksualitas menurut defnisi kerja WHO (2002) tentang seksualitas adalah

(6)

gender, orientasi seksual, erotisme, kenikmatan, kemesraan dan reproduksi.

Seksualitas dialami dan diungkapkan dalam pikiran, khayalan, gairah,

kepercayaan sikap, nilai, perilaku, perbuatan, peran dan hubungan. Sementara

seksualitas dapat meliputi semua dimensi ini. Tidak semuanya selalu dialami atau

diungkapkan. Seksualitas dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, psikologis,

sosial, ekonomi, politik, budaya, etika, hukum, sejarah, religi dan spiritual.

Disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada salah satu atau lebih

aspek fungsi seksual (Pangkahila, 2006). Bila didefinisikan secara luas, disfungsi

seksual adalah ketidakmampuan untuk menikmati secara penuh hubungan seks.

Secara khusus, disfungsi seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu

atau lebih dari keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006).

Sehingga disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu saja

respons seksual.

Steroid seks sangat berperan terhadap fungsi susunan saraf pusat, terutama

terhadap perilaku, suasana hati, serta fungsi kognitif dan sensorik seseorang.

Dengan demikian, tidak heran bila terjadi penurunan sekresi steroid seks, timbul

perubahan psikis yang berat dan perubahan fungsi kognitif. Kurangnya aliran

darah ke otak menyebabkan sulit bekonsentrasi dan mudah lupa. Akibat

kekurangan hormon estrogen pada wanita meopause, timbullah keluhan seperti

mudah tersinggung, cepat marah, cemas, dan berasa tertekan (Baziad, 2003).

Gejala seksualitas pada wanita menopasue, akibat dari terjadinya

kekurangan estrogen sehingga vagina yang menjadi kering karena penipisan

(7)

timbul nyeri, nyeri bertambah buruk apabila hubunga seks makin jarang

dilakukan. Serta pada wanita menopause merasakan perasaan terbakar, gatal,

sering keputihan, dan berkurangnya gairah seks (libido) (Hutapea, 2009).

TUJUAN

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kecemasan

dengan fungsi seksual pada wanita menopause usia 56-60 tahun.

METODE

Penelitian ini dilaksanaka pada bulan Juli 2014 di Desa Bebel, Kecamatan

Wonokerto, Kabupaten Pekalongan. Responden berjumlah 35 orang sesuai

dengan kriteria penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasi dengan

rancangan cross sesctional yaitu bertujuan untuk mengungkapkan korelasi antara

variabel bebas dan terikat, artinya variabel bebas dan terikat pada obyek penelitian

diukur atau dikumpulkan secara simultan (dalam waktu yang bersamaan).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.1. Distribusi responden menurut umur

Umur Responden

Jumlah Presentase

56-57 tahun 20 57,1 %

58-59 tahun 12 34,3 %

>60 tahun 3 8,6 %

Jumlah 35 100 %

Rata-rata : 1

(8)

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan umur responden terbanyak adalah pada usi

56-57 tahun dengan jumlah 20 orang (57,1 %) dan terendah umur >60 tahun

dengan jumlah 3 orang (8,6%).

Tabel 4.2. Distribusi responden menurut pendidikan

Pendidikan Responden

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan tingkat pendidikan responden terbanyak

adalah SD berjumlah 20 orang (57,1 %) dan terendah adalah pendidikan SMP

berjumlah 4 orang (11,4 %).

Tabel 4.3. Distribusi responden menurut Pekerjaan

Pekerjaan Responden

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga

dengan jumlah 18 orang (51,4 %) dan pekerjaan terendah adalah wiraswasta

sebanyak 8 orang (22,9 %).

Tabel 4.4. distribusi responden menurut aktivitas seksual

(9)

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan aktivitas seksual responden yang terbanyak

adalah aktif dengan jumlah 33 orang (94,3 %) dan terendah adalah tidak aktif

dengan jumlah 2 (5,7 %).

Tabel 4.5. Distribusi responden menurut Kecemasan

Kecemasan Responden

Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan kecemasan responden paling banyak dialami

adalah kecemasan sedang berjumlah 24 orang (68,6 %) dan terendah adalah tidak

cemas dengan jumlah 11 orang (31,4 %).

Tabel 4.6. Distribusi responden menurut fungsi seksual

Fungsi Seksual Responden

Berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan fungsi seksual responden adalah banyak

mengalami disfungsi seksual yaitu 32 orang (91,4 %) dan terendah adalah normal

dengan jumlah 3 orang (8,6 %).

Hasil Analisa Data

Analisa hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual menggunakan uji

analisi Chi square dengan menggunakan program SPSS for windows.

Hasil uji Non Parametric Chi Square hubungan antara kecemasan dengan dapat

(10)

Tabel 4.7. Hasil Uji Non Parametric Chi Square Test Variabel Contingency

Coeffient

Odd Ratio P-value Keterangan

Kecemasan dengan

fungsi seksual

0,226 0,196 0,227 signifikan

Hasil analisa data merupakan hasil uji korelasi Non Parametric Chi Square

test dan Odd Ratio (OR) hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual

karena terdapat 2 cell yang diharapkan kurang dari 5 sehingga p-value

menggunakan uji Fisher’s pada Exact sig. (2-side) yaitu 0,227 karena nialai

p-value>0,005maka dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara

kecemasan dengan fungsi seksual. Sedangkan hasil Contingency Coefficient 0,226

yang mana memberikan interpretasi koefisien lemah. Dari hasil pengolahan data,

nilai Odd Ratio ditunjukkan dengan nilai estimate yaitu 0,196 memberikan

interpretasi seberapa besar resiko yang akan timbul. Nilai p-value Odd ratio

sebesar 0,205, karena p-value> 0,05 maka pada taraf kepercayaan 95 %, odd ratio

dinyatakan signifikan atau dapat mewakili keseluruhan populasi.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka hipotesis penelitian yang berbunyi

“hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual pada wanita menopause usia

56-60 tahun” ditolak. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

Qomariyati (2013) dikelurahan Sajen , Klaten mnegungkapkan bahwa kecemasan

tidak memiliki hubungan dengan kehidupan seksual wanita menopause.

Wanita yang mengalami perubahan psikologis dalam batas wajar dan

aktivitas seksualnya masih aktif, menunjukkan bahwa wanita menopause telah

(11)

mengganggu hubungan seksualnya dengan pasangan. Wanita pada masa

menopause dapat berkonsultasi ke dokter untuk memperoleh informasi mengenai

gejala dan keluhan menopause yang dialaminya. Banyak wanita merasa cemas,

takut dan depresi karena wanita beranggapan bahwa menopause merupakan masa

suram dimana wanita tidak berdaya lagi dalam melayani hasrat seksual suami.

Dalam segi klinis memang membenarkan bahwa adanya kemunduran bahwa

adanya kemunduran dalam frekuensi hubungan seks pada wanita menopause

disebabkan oleh gangguan pada perubahan fisiknya. Akan tetapi, itu semua juga

bisa disebabkan bagaimana wanita menopause mempersepsikan situasi yang

dihadapinya dan faktor psikologis cukup penting dalam mengkontruksi keinginan

seksual (Mahayuni dkk., 2007).

Menurut Hawton (1993) dalam Papalia (2008) pengaruh utama seksualitas

dihubungkan dengan perubahan yang terjadi saat menopause, terjadi perubahan

stimulasi sensori dan aliran darah akibat penurunan hormon estrogen, vagina

menjadi kurang fleksibel dan mungkin membutuhkan pelumas buatan. Menurut

Lichtenberg (1997 dalam Miller, 2004) menjelaskan bahwa perubahan fungsional

yang berhubungan dengan fungsi seksualitas pada lanjut usia yaitu melibatkan

respon terhadap rangsangan seksualitas, dan minat serta partisipasi dalam aktivitas

seksualitas.

Menurut Christiani dkk. (2000), rendahnya kecemasan pada wanita yang

menghadapi menopause, kemungkinan karena sekarang sudah ada berbagai cara

(12)

menghadapi masa menopause. Sarana dan fasilitas yang diberikan bisa melalui

media elektronik atau media cetak.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi dalam menghadapi menopause

antara lain pengetahuan, pendidikan, sosial ekonomi, dan riwayat kesehatan.

Pengetahuan yang cukup akan membantu wanita memahami dan mempersiapkan

dirinya menghadapi menopause dengan lebih baik (Kasdu, 2002).

Tingkat pendidikan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan,

selain itu informasi dan faktor pengalaman akan menambah pengetahuan tentang

sesuatu yang bersifat nonformal. Wanita yagn berpendidiakn akan mempunyai

pengetahuan kesehatan yang lebih baik (Soekanto, 2002). Selain itu, keadaan

sosial ekonomi memengaruhi faktor fisik, kesehatan, dan pendidikan. Wanita

yang berasal dari golongan ekonomi rendah cenderung dan mampu beradaptif

dengan baik saat mengalami menopause. Riwayat kesehatan Kondisi kesehatan

seseorang dapat memengaruhi kondisi seseorang, misal gangguan jantung,

gangguan metabolisme (diabetus millitus), vaginitis, baru selesai operasi dan

kurang gizi.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil data yang didapatkan, disimpulkan bahwa tidak ada

hubungan antara kecemasan dengan fungsi seksual pada wanita menopause usia

56-60 tahun.

Berdasarkan hasil yang didapatkan, maka saran bagi responden diharapkan

(13)

menopause dengan banyak mencari informasi baik dari media elektronik atau

media cetak, sehingga dapat meningkatkan pemahaman tentang kesiapan

mengahadapi menopause dalam perubahan seksualitas, terutama bagi responden

dengan tingkat pengetahuan tentang menopause yang rendah, dan bagi peneliti

selanjutnya diharapkan dapat mengkaji lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang

mempengaruhi fungsi seksual dan mengatasi disfungsi seksual pada wanita

menopause, misalnya riwayat kesehatan sebelumnya (penyakit penyerta).

DAFATAR PUSTAKA

Admin, 2014. Menopause Bukan Halangan untuk Bercinta. (online) diakses dari http://www.waspada.co.id/ pada tanggal 24 Juli 2014

Alwisol, 2005. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press.

Anonim, 2013. Gejala Menopause. (online) Diakses dari http://gejalamenopause.com/tanda-gejala-menopause/ pada tanggal 13 Maret 2014.

Anonim, 2014. Menopause dan Libido Wanita. (online) diakses dari http://spermaencer123.com/menopause-dan-libido-wanita.htm pada tanggal 12 Juli 2014

Bambang AR. 2003. Mengatasi Gejala Menopause Secara Medis dan Alami Hidup Sehat dengan Menopause. Jakarta : Nirmala.

Badziad, A.2003. Endrokonologi Ginekologi. Media Aecupius FK – UI. Jakarta CV. Sagung Seto.

Baziad, A.2008. Endrokrinologi ginekologi. Jakarta : Media Aesculapis Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Blackbum dan Davidson. 1990. Terapi Kognitif Untuk Depresi dan Kecemasan Suatu Petunjuk Bagi Praktisi. Semarang, IKIP Semarang.

(14)

Camellia, V. 2008. Sindroma pascamenopause [skripsi]. Medan: Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

Daradjat, Z.1978. Kesehatan Mental. Jakarta: CV Aji Masagung

Darmojo, R. Boedhi, dan H. Hadi Martono. 2006. Buku Ajar Geriatri : Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Hidayana, I.2004. seksualitas : Teori dan Realitas. Jakarta : FISIP UI.

Hawari. 2001 Manajemen Stress, Cemasa dan Depresi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta

Joseph, L., Mayo. 2000. A Natural approavh to Menopause. Advanced Nutrition Publication, 5, 5-13.

Kasdu. 2004. Kiat Sehat & Bahagia di Usia Menopause. Puspaswara. Jakarta : Gramedia.

Kozier, B., Erb, G. & Berman, J.A. 2000. Fundamental of Nursing ; concept, process and practice. New Jersey : Prentice Hall Health.

Lidia, H., Hakimi, M., Dasuki, D. 2008. Hubungan Antara Kecemasan Dengan Aktivitas Dan Fungsi Seksual Pada Wanita Usia Lanjut Di Kabupaten Purworejo. Berita Kedokteran Masyarakat. Vol. 24, No. 4, Desember 2008 halaman 176 – 190

Manuaba. 2005. Memahami Kesehatan Wanita. Jakarta : EGC.

Mahayuni, A.A.I.D, Melaniani, S. 2007. Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Seksual pada Wanita Perimenoopause Studi di Kelurahan Renon Kecamatan Denpasar Selatan. The Indonesian Journal of Public Health, Vol. 3, No. 3, Maret 2007 : 87-93

Morley, J.E. 2006. Sexuality and Aging, Principles and Practice of Geriatry Medicine.

Nevid, J.S., Rathus, S.A., Greence, B.2003. psikologi Abnormal. Jakarta. Erlangga.

(15)

Noor. S.R. Tetap Bergairah Memasuki Usia Menopause : Sebuah Tinjauan Psikologis, 2008, (online) (sofia-psy.staff.ugm.ac.id/files/menopause.doc, diakses 27 Februari 2014)

Northrup, C. 2006. Bijak Di saat Menopause. Bandung. Pustaka Hidayah.

Notoadmodjo, Sukidjo.2003. pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : EGC.

Pakasi, S.L.2000.Meopause:Masalah dan Penanggulangannya.Jakarta. Fakultas Kedokteran. Universitas Indonesia.

Pinel, J.P.J. 2009. Biopsikologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Proverawati, A. 2010. Menopause dan Syndrome Premenopause. Yogyakarta : Nuha Medika.

Rosen, R., Brown, C., Heiman, J., Leiblum, S., Meston, C., Shabsigh, R., Ferguson, D., D’Agostino, R.Jr. 2000. The Female Sexual Function Index (FSFI): A Multidimensional Self-Report Instrument for the Assessment of Female Sexual Fuction. Journal of sex & Marital Therapy, 26:191-208.

Rostiana, T., dan Kurniati, N.M.T. 2009. Kecemasan Pada Wanita Yang Menghadapi Menopause. Jurnal Psikologi Volume 3, No. 1, Desember 2009.

Stuart, G.W., Sundeen, S.J. keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Sarwono, P.Ilmu Kandungan Yokyakarta : Rineka Cipta (2008)

Soekanto. 2002. Sosiologi Sebagai Suatu Pengantar. Jakarta : CV Rajawali.

Sugiyono. 2005. Statistika Untuk Penelitia n. Bandung: CV Alfabeta.

Viva Breaking News. 2011. Seks Sehat Memberikan Manfaat. Diakses dari

http://vivabreakingnews.wordpress.com/2011/02/28/seks-sehat-memberikan-manfaat/ pada tanggal 16 Maret 2014.

Gambar

Tabel 4.1. Distribusi responden menurut umur
Tabel 4.2. Distribusi responden menurut pendidikan
Tabel 4.5. Distribusi responden menurut Kecemasan
Tabel 4.7. Hasil Uji Non Parametric Chi Square Test

Referensi

Dokumen terkait

Parameter yang diamati adalah kadar air benih, daya hantar listrik, daya berkecambah, kecepatan tumbuh benih, indeks vigor, potensi tumbuh maksimum, panjang plumula

[r]

Ma már azt lehet mondani, hogy a pártok az interakciós funkciót is kihasználják, köszönhetően a közösségi oldalaknak, mint például a Facebook vagy a Twitter.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara Motivasi Berkoperasi dan Pengetahuan tentang Koperasi dengan Partisipasi Anggota pada Koperasi Rumah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi Program Keluarga Harapan di Kelurahan Kranggan sudah dilaksanakan dengan baik, pelaksana kebijakan ada penyusunan anggota

Perhitungan harga pokok sewa kamar Hotel Pelangi Malang adalah dengan cara mengidentifikasikan biaya sumber daya dan aktivitas, membebankan biaya sumber daya pada

1. Pelaksanaan PPL sangatlah penting bagi praktikan sebelum nantinya benar- benar menjadi seorang guru di masa yang akan datang. Managemen kelas yang baik akan

Berdasarkan uraian di atas bahwa penghuni (pegawai negeri sipil) rumah negara golongan II yang berhenti karena pensiun, diberhenti- kan dengan hormat/tidak dengan