TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN SEWA MENYEWA BARANG MILIK DAERAH ANTARA PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN PERUSAHAAN ADVERTISING DIKAITKAN DENGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA ATAU DAERAH.

62  15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK

NEGARA ATAU DAERAH

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum UPN “Veteran” Jawa Timur

Oleh:

DWI AZIZAH RADITIANI NPM . 0771010131

YAYASAN KESEJAHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR

FAKULTAS HUKUM

(2)

PERUSAHAAN ADVERTISING DIKAITKAN DENGAN PERATURAN

PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN

BARANG MILIK NEGARA ATAU DAERAH

Disusun oleh :

DWI AZIZAH RADITIANI NPM. 0771010131

Telah disetujui untuk mengikuti Ujian Skripsi

Menyetujui,

Pembimbing Pendamping

Wiwin Yulianingsih, SH., M.Kn

NIP/NPT. 3 7507 07 0225

Pembimbing Utama

Hariyo Sulistiyantoro, SH, MM

NIP . 19 62062199103 1001

MENGETAHUI DEKAN

Hariyo Sulistiyantoro, SH, MM

(3)

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi ini. Disini Penulis mengambil judul “TINJAUAN YUR1DIS PERJANJIAN SEWA MENYEWA BARANG MILIK DAERAH ANTARA PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN PERUSAHAAN ADVERTISING DIKAITKAN DENGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA ATAU DAERAH"

Penulisan skripsi ini disusun guna untuk memenuhi persyaratan memperoleh Gelar Sarjana Hukum Program Studi Strata I Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum UPN "Veteran" Jawa Timur serta untuk menerapkan dan membandingkan teori yang telah diterima. dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Di samping itu juga dapat memberikan bekal tentang hal-hal yang berkaitan dengan disiplin ilmunya sebelum mengadakan penelitian guna menyusun skripsi

Skripsi ini dapat terselesaikan atas bantuan, bimbingar dan dorongan oleh beberapa pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang tak terhingga kepada:

(4)

Hukum Universitas Pembangunan Nasional "VETERAN" Jawa Timur.

4. Ibu Wiwin Yulianingsih,SH.,MKn selaku dosen pembimbing II yang telah berkenan membimbing dou memberikan pengarahan kepada penyusun dengan meluangkan tenaga dan waktunya.

5. Ibu Mas Anienda Tien Fitriyah,SH.,MH selaku dosen wali yang telah membimbing dan mendampingi dalam menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Pembangunan Nasional

6. Bapak Ibu dosen Fakultas Hukum yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan.

7. Seluruh Staf dan Karyawan Fakultas Hukum Universitas Pembanguran Nasional "Veteran" Jawa Timur yang telah membantu dalam pelaksanaan dan kelancaran pengerjaan skripsi ini.

8. Bapak Hotlan Marbun Bagian Hukum Pemerintah Kota Surabaya yang bersedia mengarahkan dalam penyelesaian skripsi ini.

9. Bapak Agus Winoto selaku Ketua Asosiasi Periklanan Indonesia yang bersedia mengarahkan dalam penyelesaian skripsi ini.

(5)

Permana, Erik, Arif, serta semua teman-teman yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu yang telah membantu dan memberikan masukan dalam pembuatan skripsi hingga selesai.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang sifatnya membangun, penulis diharapkan guna memperbaiki dan menyempumakan penulisan yang selanjutnya, sehingga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, Juni 2011

(6)

HALAMAN PERSETUJUAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN REVISI SKRIPSI . iv SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian. ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Kajian pustaka ... 6

1.5.1 Tinjauan Umum Tentang Perjanjian... 6

1.5.2 Sewa Menyewa ... 10

1.5.3 Jembatan Penyeberangan ... 15

1.5.4 Reklame ... 16

(7)

1.6.3 Sumber Data ... 20

1.6.4 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 21

1.6.5 Metode Analisis Data ... 22

1.6.6 Sistematika Penulisan ... 23

BAB II Bagaimana Tinjauan Yuridis Sewa Menyewa Barang Milik Daerah khususnya yang berkaitan dengan reklame antara Pemerintaj Kota Surabaya dengan pihak swasta jika dikaitkan dengan Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 ... 25

2.1 Pelaksanaan perjanjian sewa menyewa barang milik pemerintah dengan pihak swasta dikaji secara yuridis ... 33

BAB III Upaya apa yang akan dilakukan bila salah satu pihak melakukan wanprestasi ... 38

3.1 Upaya Hukum yang dilkukan oleh Pemerintah kota Surabaya melelui Pengadilan Negeri ... 41

3.2 Upaya Hukum yang dilkukan pihak swasta melalui Pengadilan Tata UsahaNegara... 43

3.3 Upaya Hukum yang diselesaikan secara non litigasi oleh Pemerintah Kota Surabaya dan Pihak Swasta ... 45

(8)
(9)

NPM : 0771010131

Tempat Tanggal Lahir : Kediri, 26 Maret 1989 Program Studi : Strata 1 (S1)

Judul Skripsi :

PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN MENGIKUTI UJIAN SKRIPSI

TINJAUAN YURIDIS PERJANJIAN SEWA MENYEWA BARANG MILIK

DAERAH ANTARA PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN

PERUSAHAAN ADVERTISING DIKAITKAN DENGAN PERATURAN

PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN

BARANG MILIK NEGARA ATAU DAERAH

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan mengenai perjanjian sewa menyewa barang milik daerah khususnya tentang reklame.

Upaya hukum yang akan dilakukan bila salah satu pihak melakukan wanprestasi.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum normatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data utama penelitian ini. Sedangkan data sekunder digunakan sebagai pendukung data primer. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dengan menggunakan dua jenis metode pengumpulan data, yaitu metode studi kepustakaan, metode wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan cara teknis analisis kualitatif dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perjanjian antara Pemerintah Kota Surabaya dan Pihak Swasta sudah tepat dengan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara atau Daerah.

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti serta dapat dipergunakan sebagai bahan masukan terhadap para pihak yang mengalami dan terlibat langsung dengan judul ini.

(10)

1.1 Latar Belakang Masalah

Optimalisasi pemanfaatan aset daerah merupakan optimalisasi terhadap penggunaan aset disamping meningkatkan nelayanan terhadap masyarakat juga menghasilkan pendapatan dalam bentuk uang. Pemanfaatan aset dalam struktur pendapatan daerah termasuk dalam rincian objek hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. Barang milik daerah berupa tanah dan/ataii bangunan dan selain tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan oleh pengguna kepada pengelola dapat didayagunakan secara optimal sehingga tidak membebani, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah khususnya biaya pemeliharaan (selanjutnya disingkat dengan APBD).

(11)

pengendalian. Pengelolaan barang milik daerah sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah yang dilaksanakan secara terpisah dari pengelolaan barang milik Negara.

Kepala Daerah sebagai pemegang kekuasaan pengelolaun barrng milik daerah berwenang dan bertanggungjawab atas pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 5 Ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri No 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah ( selanjutnya disingkat dengan PERMENDAGRI No 17 Tahun 2007 ) yang mengatur Kepala Daerah uebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah, mempunyai wewenang:

a. menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah;

b. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan;

c. menetapkan kebijakan pengamanan baraig milik daerah;

d. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah yang memerlukan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

e. menyetujui usul pemindahtanganan dan penghapusan barang milik Daerah sesuai batas kewenangannya; dan

f. menyetujui usul pemanfaalan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan.

(12)

berupa: Sewa; Pinjam Pakai; Kerjasama Pemanfaatan; Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna.

Pertimbangan untuk Menyewakan Barang Milik Negara Penyewaan Barang Milik Negara dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan Barang Milik Negara yang belum atau tidak dipergunakan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan pemerintahan, menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kementerian atau lembaga, atau mencegah penggunaan Barang Milik Negara oleh pihak lain secara tidak sah.

Cara untuk meningkatkan pendapatan daerah Pemerintah Kota Surabaya dapat menyewakan aset-aset atau fasilitas yang dikuasai oleh Pemerintah Kota Surabaya kepada pihak swasta, salah satunya adalah menyewakan Jembatan Penyeberangan. Menurut Pasal 1 angka 9 PP No.6 Tahun 2006 yang berbunyi sebagai berikut:

Sewa adalah pemanfaatan barang milik negara atau daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai. Sedangkan menurut PERMENDAGRI No 17 Tahun 2007 pasal 1 angka 19 :

Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dengan menerima imbalan uang tunai.

Menurut pasal 1548 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disingkat KUHPer) sewa menyewa adalah :

Suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya.

(13)

Reklame atau sekarang lebih dikenal dengan iklar, mempunyai sejarah panjang. Iklan mulai dikenal pada zaman yunani kuno. Sejak awal periklanan mempunyai kaitan yang kompleks dengan berbagai perkembangan bidang-bidang \am. Antara \am Vnding-bldang, industri, komunikasi, atau antara perdagangan dan informasi. Atau juga bisa berhubungan dengan hukum pcrjanjian mengenai sewa rr.enyewa reklame dan sebagainya. Contoh paling baik tentang perubahan dan perkembangan metode periklanan dimulai saat terjadi revolusi industri di inggris, yang segera pula membawa perubahan di bidang komunikasi. Kemunculan produk-produk manufaktur berskala besar menjadikan periklanan sebagai kebutuhan mutlak bagi perkembangan ekonomi negara. Perkembangan perikalanan saat itupun umumnya terkait langsung dengan pertumbuhan perdagangan. Namun unsur perpajakan dalam periklanan ternyata berperan pula dalam mendorong ataupun menghambat perkembangannya. Industri periklanan Indonesia sudah tumbuh sedemikian rupa, bahkan ikut andil dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

(14)

pengusaha di biro reklame, lemahnya pengawasan hingga keterbatasan dana dan masalah pembongkarannya. Selain, pemasangannya yang semrawut sehingga mengganggu estetika kota dan mengurangi ruang terbuka hijau, pemasangannya cenderung mengutamakan keuntungan pengusaha reklame. 1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat ditarik beberapa perumusan masalah untuk dipakai sebagai skripsi ini adalah :

a. Bagaimana Tinjauan Yuridis Sewa Menyewa Barang Milik Daerah khususnya yang berkaitan dengan reklame antara Pemerintaj Kota Surabaya dengan pihak swasta jika dikaitkan dengan Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006?

b. Upaya apa yang akan dilakukan bila salah satu pihak melakukan wanprestasi ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak di capai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Mengetahui tinjauan yuridis perjanjian sewa yang diberikan kepada

Pemerintah Kota Surabaya dengan pihak swasta

b. Upaya hukum pihak yang dirugikan akibat wanprestasi. 1.4 Manfaat Penelitian

(15)

Agar masyarakat dapat mengetahui bahwa dalam prakteknya fasilitas umum yang dimiliki oleh Pemkot Surabaya bisa dimanfaatkan untuk pribadi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Manfaat teoritis :

Sebagai sumbangan pemikiran bagi Fakultas Hukum dibidang ilmu hukum dan hukum perdata pada khususnya mengenai peraturan perundang-undaiigan tentang sewa menyewa yang selama ini objeknya adalah milik pribadi dan berkembang bahwa objeknya bisa merupakan milik umum atau suatu instansi pemerintahan.

1.5 Kajian Pustaka

1.5.1 Tinjauan Umum Tentang Perjanjian.

a. Pengertian perjanjian

(16)

"Perjanjian adalah suatu peristiwa, di mana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal".1

"Pejanjian adalah suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan".2

"Perjanjian adalah suatu hubungan Hukum kekayaan atau harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.3

b. Lahirnya Perjanjian

Menurut asas konsensualisme, suatu perjanjian lahir pada detik tercapainya kesepakatan atau persetujuan antara kedua belah pihak, mengenai hal-hal yang pokok dari apa yang menjad' objek perjanjian. Sepakat adalah suatu persesuaian paham dan kehendak antara dua pihak tersebut. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, adalah juga yang dikehendaki oleh pihak yang lain. Meskipun tidaksejurusan, tetapi secara timbal balik, kedua kehendak itu bertemu satu sama lain.4

c. Asas-Asas dalam Perjanjian

Hukum perjanjian mengenai beberapa asas penting, yang merupakan dasar kehendak pihak-pihak dalam mencapai tujuan. Beberapa asas tersebut antara lain :

a. Asas konsensual

Asas ini mengandung arti bahwa perjanjian itu terjadi sejak saat tercapainya kata sepakat (konsensus) antara

1

Subekti, “Hukum Perjanjian”, PT Intermasa, Jakarta,2005, hal.1 2

Abdulkadir Muhammad., “Hukum Perdata Indonesia”, PT Citra Aditya Bakti, Bandar Lampung, hal. 225

3

M. Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung : 1986, hal. 6 4

(17)

pihak mengenai pokok perjanjian. Sejak saat itu perjanjian mengikat dan mempunyai akibat hukum. Asas ini dapat disimpulkan dalam pasal 1320 ayat (1) KUH Per yang berbunyi : (salah satu syarat syahnya perjanjian adalah kesepakatan kedua belah pihak). Hal ini mengandung makna bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak.

b. Asas Kebebasan Berkontrak

Setiap orang bebas mengadakan perjanjian apa saja, baik yang sudah diatur atau belum diatur dalam undang-undang. Tetapi kebebasan tersebut dibatasi oleh tiga hal yaitu tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentahgan dengan ketertiban uraum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan. c. Asas Pelengkap

(18)

d. Asas Pacta Sun Servanda

Asas ini memiliki kekuatan yang mengikat. Hal ini dapat disimpulkan dalam pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi : (Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya).5 e. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian

Pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdcta (KUH Perdata), telah dinyatakan mengenai beberapa ketentuan tentang perjanjian. Adapun pasal-pasal yang berkaitan dengan perjanjian yaitu antara lain:

a. Pasal 1320 : untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan . empat syarat:

1) Sepakat bagi mereka yang mengikatkan dirinya; 2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; 3) Suatu hal tertentu;

4) Suatu sebab yang halal;

b. Pasal 1330 : tak cakap untuk membuat perjanjian-perjanjian adalah:

1) Orang-orang yang belum dewasa

2) Mereka yang ditaruh dibawah pengampunan

3) Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telab melarang membuat persetujuan-persetujuan tetentu.

c. Pasal 1338 ayat (1) : semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Suatu perjanjian hams dilaksanakan dengan itikad baik.

5

(19)

f. Berakhirnya Suatu Perjanjian Dan Hapusnya Perikatan

a. Berakhirnya Suatu Perjanjian

Berakhirnya suatu perjanjian dapat terjadi karena suatu tindakan atau peristjwa tertentu, baik yang dikehendaki atau tidak dikehendaki oleh para pihak. Hal tersebut antara lain :6 1) Telah ditentukan dalam perjanjian oleh para pihak.

2) Undang-undang telah menetapkan batas waktu berlakunya perjanjian.

3) Para pihak atau Undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus.

4) Adanya suatu pernyataan untuk menghentikan perjanjian. 5) Karena putusan hakim.

6) Tujuan perjanjian telah tercapai. b. Hapusnya Perikatan

Menurut ketentuan pasal 1381 KUHPerdata, terdapat sepuluh cara hapusnya perikatan, yaitu:

1) Pembayaran

2) Penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan, atau penitipan.

3) Pembaharuan utang

4) Perjuinpaan utang atau kompensasi 5) Percampuran utang

6) Pembebabasan utang

7) Musnahnva barane vane terutane 8) Pembatalan

9) Berlaku suatu syarat batal 10) Lewatnya waktu (daluarsa) 1.5.2 Sewa Menyewa

a. Pengertian Sewa

Menurut pasal 1548 KUHPer sewa menyewa adalah :

Suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya.

6

(20)

Sedangkan menurut PERMENDAGRI No 17 Tahun 2007 pasal 1 angka 19 :

Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dengan menerima imbalan uang tunai.

Menurut Pasal 1 angka 9 PP No.6 Tahun 2006 yang berbunyi sebagai berikut:

Sewa adalah pemanfaatan barang milik negara atau daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai.

Sewa menyewa adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran suatu harga yang oleh pihak yang tersebut terakhir itu disanggupi pembayarannya.7

Menurut kamus hukum, sewa menyewa adalah suatu persetujuan dalm mana pihak yang satu menyanggupi dirinya untuk menyerahkan suatu kebsndaan kepada pihak yang lain agar pihak ini dapat menikmatinya untuk suatu janka waktu tertentu dan atas penerimaan sejumlah uang tertentu pula, uang mana pihak yang beakangan ini sanggup membayamya. Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia sewa adalah pemakaian sesuatu dengan membayar uang.

Pihak yang terlibat dalam perjanjian sewa-menyewa adalah pihak yang menyewakan dan pihak penyewa. Pihak yang menyewakan adalah orang atau badan hukum yang menyewakan

7

(21)

barang atau benda kepada pihak penyewa, sedangkan pihak penyewa adalah orang atau badan hukum yang menyewa barang atau benda dari pihak yang menyewakan.8 Sewa menyewa sama halnya dengan jual beli dan perjanjian-perjanjian lain pada umumnya, adalah suatu perjanjian kensensual.9

b. Perjanjian Sewa-menyewa

"Perjanjian sewa menyewa adalah dimana pihak yang satu menyanggupi akan menyerahkan suatu benda untuk dipakai selama suatu jangka waktu tertentu, sedangkan pihak lainnya menyanggupiakan membayar harga yang telah ditetapkan untuk pemakaian itu pada waktu-waktu yang ditentukan".10

"Perjanjian sewa menyewa adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga yang oleh pihak tersebut belakangan ini pembayarannya".11

Menurut PP No.6 Tahun 2006 dinyatakan bahwa : Pasal 21

(1) Penyewaan barang milik negara/daerah dilaksanakan dengan bentuk:

a. Penyewaan barang milik negara atas tanah dan/atau bangunan yang sudah diserahkan oleh pengguna barang kepada pengelola barang;

8

Salim H.S.,SH., M.S Hukum Kontrak : Sinar Grafika, Jakarta : 2010, h 59 9

Subekti, S.H. Aneka Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung : 1995, h 39 10

Subekti, Pokok-pokok hokum perdata, Intermasa, Jakarta :2005 h. 164 11

(22)

b. Penyewaan barang milik daerah atas tanah dan/atau bangunan yang sudah diserahkan oleh pengguna barang kepada gubernur/bupati/walikota;

c. Penyewaan atas sebagian tanah dan/atau bangunan yang masih digunakan oleh pengguna barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3);

d. Penyewaan atas barang milik negara/daerah selain tanah dan/atau bangunan.

(2) Penyewaan atas barang milik negara sebagaimana dimaksud pada ayat(l) huruf a dilaksanakan oleh pengelola barang. (3) Penyewaan atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud

pada ayat (l) huruf b dilaksanakan oleh pengelola barang setelah mendapat persetujuan gubernur/bupati/walikota. (4) Penyewaan atas barang milik negara/daerah sebagaimana

dimaksud pada ayat(l) huruf c dan d, dilaksanakan oleh pengguna barang setelah mendapat persetujuan dari pengelola barang.

Pasal 22

(1) Barang milik negara/daerah dapat disewakan kepada pihak lain sepanjang menguntungkan negara/daerah.

(2) Jangka waktu penyewaan barang milik negara/daerah paling lama lima tahun dan dapat diperpanjang.

(3) Penetapan formula besaran tarif sewa dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. barang milik negara oleh pengelola barang;

b. barang milik daerah oleh gubernur/bupati/walikota.

(4) Penyewaan dilaksanakan berdasarkan surat perjanjian sewa-menyewa, yang sekurang-kurangnya memuat:

a. pihak-pihak yang terikat dalam perjanjian;

b. jenis, luas atau jumlah barang, besaran sewa, dan jangka waktu;

c. tanggung jawab penyewa atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu penyewaan;

d. persyaratan lain yang dianggap perlu.

(23)

c. Jenis Barang Milik Negara/Daerah yang dapat disewakan.

Tanah, Jembatan Pennyeberangan Umum, Gedung dan semua jenis Barang Milik Negara/Daerah kecuali yang bersifat khusus dan menjadi rahasia negara dapat disewakan.12

d. Pihak yang dapat menyewakan Barang Milik Negara/Daerah.

Yang dapat menyewakan Barang Milik Negara/Daerah adalah Pengelola dan Pengguna Barang.

1) Pengelola Barang dapat menyewakan tanah dan atau bangunan yang berada pada Pengelola Barang.

2) Pengguna Barang dengan persetujuan Pengelola Barang dapat menyewakan:

a. Sebagian tanah dan bangunan yang status penggunaannya ada pada Pengguna Barang;

b. Barang Milik Negara/Daerah selain tanah dan atau bangunan.

e. Pihak yang dapat menyewa Barang Milik Negara/Daerah.

Semua pihak, baik Badan Hukum maupun perorangan dapat menyewa Barang Milik Negara/Daerah.

f. Ketentuan dalam penyewaan Barang Milik Negara/Daerah.13

1) Yang disewakan adalah Barang Milik Negara/Daerah.

2) Jangka waktu penyewaan maksimum 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang. Perpanjangan waktu penyewaan oleh Pengelola Barang dapat dilakukan setelah dilakukan evaluasi oleh Pengelola Barang. Penyewaan oleh Pengguna Barang, perpanjargan waktu penyewaannya dilakukan setelah dievaluasi oleh Pengguna Barang dan disetujui oleh Pengelola Barang.

g. Menurut PP No.6 Tahun 2006 pasal 21 Penyewaan Barang

Milik Negara/Daerah dilaksanakan dengan bentuk:

12

Pedoman teknis pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah h. 47 13

(24)

a. Penyewaan barang milik negara atas tanah dan bangunan yang sudah diserahkan oleh pengguna barang kepada pengelola barang;

b. penyewaan barang milik daerah atas tanah dan bangunan yang sudah diserahkan oleh pengguna barang kepada gubernur/bupati/walikota;

c. penyewaan atas sebagian tanah dan bangunan yang masihdigunakan oleh pengguna barang;

d. penyewaan atas barang milik negara/daerah selain tanah dan bangunan.

1.5.3 Jembatan Penyeberangan

Jembatan adalah bangunan pelengkap jalan yang berfungsi melewatkan lalu lintas yang terputus pada kedua ujung jalan akibat adanya hambatan berupa sungai, saluran, kanal, selat, lembah serta jalan dan jalan kereta api yang menyilang. Sedangkan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) adalah jembatan yang letaknya bersilangan dengan jalan raya atau jalur kereta api, letaknya berada di atas kedua objek tersebut, dan hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki yang melintas (menyeberang) jalan raya atau jalur kereta api.14

Jembatan Penyeberangan Orang juga dapat diartikan sebagai fasilitas pejalan kaki untuk menyeberang jalan yang ramai dan lebar, menyeberang jalan tol, atau jalur kereta api dengan menggunakan jembatan tersebut, sehingga alur sirkulasi orang dan lalu lintas kendaraan dipisah secara fisik dan kemungkinan terjadi kecelakaan dapat dikurangi. Jembatan penyeberangan orang adalah fasilitas pejalan kaki untuk menyeberang jalan yang ramai dan lebar atau

14

(25)

menyeberang jalan to! dengan menggunakan jembatan, sehingga orang dan lalu lintas kendaraan dipisah secara fisik.15

1.5.4 Reklame

Menurut Pasal 1 angka 12 Peraturan Daerah No 8 Tahun 2006 tentang penyelenggaraan reklame dan pajak reklame ( selaojutnya disingkat dengan PERDA No.8 Tahun 2006 ) yang berbunyi sebagai berikut:

Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang menurut bentuk dan corak ragamnya untuk tujuan komersial, dipergunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memujikan suatu barang, jasa atau orang, ataupun untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang, jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapat dilihat, dibaca dan/atau didengar dari suatu tempat oleh umum, kecuali yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan/ atau Pemerintah Daerah.

Menurut kamus hukum, Reklame adalah benda, alat atau perbuatan yang menurut bentuk susunan dan atau corak ragamnya, dipergunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan atau memujikan sesuatu barang, jasa atau seseorang atau pun untuk menarik perhatian umum kepada sesuatu barang, jasa, atau seseorang, yang ditempatkan atau dapat dilihat, dibaca dan didengar, daripada sesuatu tempat oleh umum..

15

(26)

Reklame, advertenti, atau sekarang lebih dikenal dengan iklan, merapunyai sejarah panjang. Sejak awal periklanan mempunyai kaitan yang kompleks dengan berbagai perkembangan di bidang-bidang lain. Antara lain bidang-bidang industri dan komunikasi,atau antara perdagangan dan informasi. Hal ini perlu diketahui untuk memahami perubahan-perubahan tujuan, pengelolaan, dan metode periklanan pada konteks masing-masing zaman.16

1.5.5 Wanprestasi

Wanprestasi dapat diartikan sebagai suatu tindakan yaitu dengan tidak memenuhi suatu kewajiban seperti yang telah ditetapkan dalam perikatan. Tidak dipenuhinya kevajiban oleh debitur disebabkan oleh dua kemungkinan alasan, yaitu :17

1. Karena kesalahan debitur, baik dengan sengaja tidak dipenuhi kewajiban maupun karena kelalaian.

2. Karena keadaan memaksa {overmacht) jadi diluar kemampuan debitur, sehingga debitur dianggap tidak bersalah.

Berdasar pada penentuan apakah seorang debitur bersalah melakukan wanprestasi, perlu ditentukan dalam keadaan bagaimana debitur dikatakan sengaja atau lalai tidak memenuhi prestasi. Terdapat tiga keadaan, yaitu :18

1. Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.

2. Debitur memenuhi prestasi tetapi tidak baik atau keliru.

16

Budi Setiyono, Reka Reklame, Galang Pers, Yogyakarta : 2004, h 19 17

Subekti Op.cit, hal. 203 18

(27)

3. Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat waktunya atau terlambat.

Guna mengetahui sejak kapan debitur dalam keadaan wanprestasi, maka perlu diperhatikan apakah dalam perkataan itu ditentukan tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi "tidak ditentukan", perlu memperhatikan supaya ia memenuhi prestasi. Tetapi dalam hal telah ditentukan tenggang waktunya, menurut ketentuan pasal 1238 KUHPer debitur dianggap lalai dengan lewatnya tenggang waktu yang telah ditetapkan dalam perikatan. Akibat hukumnya jika terjadi wanprestasi, maka perjanjian tersebut tidak perlu dimintakan pembatalan kepada hakim, tetapi dengan serdirinya sudah batal demi hukum.19

Berdasarkan pas 1243 KUHPer yang bunyinya penggantian biaya, rugi, dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan,barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang,setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya. Pasal ini bermaksud untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat dibebari pembayaran ganti kerugian. Penentuan mulainya penghitungan pembayaran ganti kerugian itu tergantung dari ada tidaknya jangka waktu yang dijadikan patokan untuk kelalaian salah satu pihak.20

19

Suharnoko, Hukum Perjanjian, Kencana.2009, Jakarta : h 61 20

(28)

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang dilakukan berdasarkan norma dan kaidah dari peraturan perundangan.21

1.6.2 Pendekatan Masalah

Suatu penelitian normatif tentu harus menggunakan pendekatan undangan (statute approach). Pendekatan perundang-undangan melakukan pengkajian peraturan perundang-undanagn yang berhubungan dengan tema sentra/ penelitian. Untuk itu peneliti harus melihat hukum sebagai sistem tertutup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :22

1. Comprehensif artinya norma-norma hukum yang ada di dalamnya terkait antara satu dengan Iain secara logis

2. All inclusive bahwa kumpulan norma hukum tersebut cukup mampu menamping permasalahan hukum yang ada. Sehingga tidak akan ada kekurangan hukum.

3. Systematic bahwa disamping bertautan antara satu dengan yang lain, norma-norma hukum tersebut juga tersusun secara hierarkis.

Analisis hukum yang dihasilkan oleh suatu penelitian hukum normatif yang menggunakan pendekatan perundang-undangan (statute

approach), akan lebih akurat bila dibantu oleh pendekatan yang lain

dalam hal pendekatan tersebut adalah pendekatan kasus (case

approach), yang bertujuan untuk mempelajari penerapan-penerapan

21

H. Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal 30 22

(29)

norma-norma atau kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum. Terutama mengenai kasus-kasus yang telah diputus sebagaimana yang dapat dilihat dalam yurisprudensi terhadap perkara-perkara yang menjadi fokus penelitian. Jelas kasus-kasus yang telah terjadi bermakna empiris, namun dalam suatu penelitian normatif, kasus-kasus tersebut dipelajari untuk memperoleh gambaran terhadap dampak dimensi penormaan dalam suatu aturan hukum dalam praktik hukum, serta menggunakan hasil analisisnya untuk bahan masukan (input) dalam eksplanasi hukum.23

1.6.3 Sumber Data

Sumber data adalah tempat di mana ditemukannya data-data penelitian.24 Sumber data yang digunakan oleh peneliti adalah :

1.6.3.1 Sumber Data Primer yaitu data yang diperoleh melalui wawancara terstruktur yang diperoleh peneliti langsung dari objeknya.

1.6.3.2 Sumber Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan dengan objek penelitian, hasil penelitian dalam bentuk laporan, skripsi, tesis, disertasi, dan peraturan perundang-undangan.25 Data sekunder terdiri dari 3 (tiga) bahan hukum,

23

Ibid, h. 321 24

M. Syamsudin, Operasionalisasi Penelitan Hukum, PT RajaGrasindo Persada, Jakarta, 2007, h. 98

25

(30)

yaitu bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.6.3.3 Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang sifatnya mengikat berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ada kaitannya dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.

1.6.3.4 Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang terdiri atas buku-buku teks (textbooks) yang ditulis para ahli hukum yang berpengaruh (de herseende leer), jurnal-jurnal hukum, pendapat para sarjana, kasus-kasus hukum, yurisprudensi, dan hasil-hasil simposium mutakhir yang berkaitan dengan topik penelitian.26

1.6.3.5 Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelas terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus, encylopedia, dan Iain-lain.27

1.6.4 Metode Pengumpulan dan Pengelolahan data

Cara pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti, yaitu : a) Data primer dikumpulkan dengan cara studi lapangan, yaitu

secara wawancara kepada pihak terkait yang dalam hal ini yaitu kepala Perusahaan Periklanan Indonesia, dan staff bagian hukum Pemerintah Kota Surabaya, wawancara tersebut menggali

26

Ibrahim Jhonny, op.cit., h. 296 27

(31)

informasi mengenai perjanjian sewa barang milik daerah dan tentang pelaksanaan reklame di Surabaya.

b) Data sekunder dikumpulkan dengan cara studi dokumen atau pustaka yaitu dilakukan dengan mengumpulkan dan memeriksa dokumen-dokumen atau kepustakaan yang dapat memberikan informasi atau keterangan yang dibutuhkan oleh peneliti. Bahan hukum yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dipaparkan, disistematisasi, kemudian dianalisis untuk menginterpretasikan hukum yang berlaku.28 Dengan cara membaca, mempelajari dan menganalisis berbagai data sekunder yang berkaitan dengan obyek penelitian.

1.6.5 Metode Analisis Data

Pengolahan data menggunakan metode diskriptif analisis artinya data yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif terhadap data primer dan data sekunder. Deskriptif tersebut, meliputi isi dan stuktur hukum positif yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh penulis untuk menentukan isi atau makna aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi objek kajian.29

Pengkajian deskriptif analitis digunakan untuk rnenelaah konsep-konsep yang mencangkup pengertian-pengertian hukum, norma-norma hukum dan sistem hukum yang berkaitan dengan

28

Ibid, h. 296 29

(32)

penelitian ini. Hal ini sangat berkaitan dengan tugas ilmu hukum normatif (dogmatik) yaitu untuk menelaah, mensistemasi, menginterpretasikan dan mengevaluasikan hukum posistif yang berlaku bagi pengkajian tentang pokok masalah.30

1.6.6 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pemahaman skripsi ini, maka kerangka dibagi menjadi beberapa bab yang terdiri beberapa sub-sub :

Bab I pendahuluan. Bab ini memberikan gambaran secara umum dan menyeluruh tentang pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi, meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kajian pustaka, metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini serta sistematika penulisan. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan pengertian kepada pembaca agar dapat mengetahui secara garis besar pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini.

Bab II, menguraikan tentang bagaimana tinjauan yuridis sewa menyewa barang milik daerah khususnya yang berkaitan dengan reklame antara Pemerintah Kota Surabaya dengan pihuk swasta jika dikaitkan dengan Peraturan Pemerintah No 6 tahun 2006.

Bab III, menguraikan tentang upaya apa yang akan dilakukan bila salah satu pihak melakukan wanprestasi.

30

(33)

Bab IV, penutup merupakan bagian terakhir dan sebagai penutup dalam penulisan skripsi ini yang berisi kesimpulan dari pembahasan yang telah diuraikan dalam bab-bab sebeluninya dan juga berisikan saran-saran dari permasalahan tersebut. Dengan demikian bab penutup ini merupakan bagian akhir dari penulisan skripsi ini sekaligus merupakan rangkuman jawaban atas permasalahan yang diangkat dalam penulisan skripsi ini.

(34)

PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN PIHAK SWASTA JIKA DIKAITKAN

DENGAN PERATURAN PEMERINTAH NO. 6 TAHUN 2006

Barang-barang milik pemerintah publik domein terdiri dari barang/benda yang disediakan untuk dipakai oleh publik. Misal jalan, jembatan, pelabuhan dan Iain-lain, Barang privaat domein, yaitu barang/benda yang digunakan untuk pemakaian sendiri dan tidak ditujukan untuk peruntukkan umuni. Misalkan gedung kantor, rumah dinas, mobil dinas, perabotan kantor.

Menurut Hukum Belanda, penguasa selaku pemilik, dalam banyak hal mempunyai kewenangan penguasaan berdasarkan Hukum keperdataan, namun ia tidak dapat menggunakannya secara bertentangan dengan asas-asas pemerintahan yang layak. Status Pemilikan Publiek Domein Menurut Sistem Hukum Indonesia telah diatur di dalam PP No.6 Tuhun 2006. Adalah lebih tepat jika Negara, sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa. Perkataan "dikuasai" bukanlah berarti "dimiliki". Hal ini sama dengan pernyataan bahwa Indonesia secara hukum menolak asas domein yang pernah dianut oleh Pemerintah Hindia Belanda.

(35)

Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah. Barang milik negara/daerah meliputi barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN/D, barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah seperti barang yang diperoleh dari hibah/sumbangan atau yang sejenis, barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari peijanjian/kontrak, barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan undang-undang, atau barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Di dalam melakukan pengelolaan barang milik negara/daerah, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah, perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

Cara pemenntah memperoleh barang publik adalah melalui Cara Hukum Keperdataan, yakni berdasarkan cara-cara peralihan yang diatur dalam Hukum Perdata. Misalnya jual beli, tukar menukar, sewa menyewa. Cara lain juga dapat dilakukan melalui cara Hukum. Publik, yakni berdasarkan cara-cara peralihan yang diatur dalam Hukum Publik, misalnya pencabutan hak atas tanah, pelepasan atau penyerahan hak atas tanah, dan sebagainya.

(36)

Hukum Publik, maka kedudukan hukum antara pemerintah dengan pemilik benda bersifat top-down/vertikal. Pemerintah memiliki kedudukan yang lebih kuat dibandingkan dengan pemilik benda. Kehendak pemerintah bersifat lebih menentukan dari pada yang lain. Apabila terjadi sengketa, maka hal tersebut merupakan sengketa administrasi.31

1. Pengertian Pemanfaatan Barang Daerah

Pemanfaatan barang daerah oleh pihak ketiga pada hakekatnya kegiatan didalamnya merupakan kegiatan pengadaan barang/jasa publik sehingga penulis merasa perlu memberikan pengertian tentang pemanfaatan barang daerah. Sesuai Pasal 1 angka 8 PP Nomor 6 Tahun 2006 disebutkan Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi satuan kerja perangkat daerah, dalam bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, dan bangun serah guna/bahgun guna serah dengan tidak mengubah status kepemilikan. Sesuai Pasal 19 PP Nomor 6 Tahun 2006 maka kriteria pemanfaatan barang milik daerah meliputi:

a. Pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan, selain tanah dan/atau bangunan yang dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah ( selanjutnya disingkat dengan SKPD ), dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola;

31

(37)

b. Pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD, dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan kepala daerah;

c. Pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang tidak dipergunakan untuk menunjang penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD, dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola; d. Pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan pertimbangan

teknis dengan memperhatikan kepentingan negara/daerah dan kepentingan umum. Pengelola barang milik daerah yaitu pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab melakukan koordinasi pengelolaan barang milik daerah, sedangkan pengguna barang milik daerah adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah. Dari beberapa kriteria pemanfaatan barang daerah tersebut di atas dapat diketahui bahwa pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan kepala daerah, selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapat persetujuan pengelola.

2. Bentuk Pemanfaatan Barang Milik Daerah

(38)

sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan, bangun serah guna dan bangun guna serah.

Sewa.

Pengertian sewa sesuai Pasal 1 angka 9 PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara atau Daerah sebagai berikut:

Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai. Dalam lampiran Perrrtendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah fersebut dijelaskan bahwa penyewaan merupakan penyerahan hak penggunaan/pemanfaatan kepada Pihak Ketiga, dalam hubungan sewa menyewa tersebut harus memberikan imbalan berupa uang sewa bulanan atau tahunan untuk jangka waktu tertentu, baik sekaligus maupun secara berkala. Adapun ketentuan ataupun syarat-syarat penyewaan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 17 tahun 2007 adalah sebagai berikut:

1) Penyewaan barang milik daerah hanya dapat dilakukan dengan pertimbangan untuk mengoptimalkan daya guna dan hasil guna barang milik daerah;

2) Untuk sementara waktu barang milik daerah tersebut belum dimanfaatkan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah;

3) Jenis-jenis barang milik daerah yang disewakan ditetapkan oleh Kepala Daerah;

4) Besaran sewa ditetapkan oleh Kepala Daerah, berdasarkan hasil perhitungan Tim Penaksir;

5) Hasil penerimaan merupakan penerimaan daerah dan disetorkan ke kas daerah;

(39)

b) biaya operasi dan pemeliharaan selama penyewaan menjadi tanggung jawab penyewa;

c) persyaratan lain yang dianggap perlu Jenis barang milik daerah yang dapat disewakan, antara lain:

1). Mess/Wisma/Bioskop dan sejenisnya; 2). Gudang/gedung;

3). Toko/Kios; 4). Tanah;

5). Jembatan penyebrangan orang (jpo) 6). Kendaraan dan alat-alat besar

Dalam Pasal 1 angka 11 PP Nomor 6 Tahun 2006 bahwa :

Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan negara bukan pajak/pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya. Sesuai Pasal 26 PP Nomor 6 Tahun 2006 dan Pasal 38 Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tersebut dijelaskan ketentuan-ketentuan terkait dengan kerja sama pemanfaatan atas barang milik daerah, yaitu sebagai berikut:

1) Tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam Anggaran Pendapatan

dan Belanja Daerah untuk memenuhi biaya

operasional/pemeliharaan/perbaikan yang diperlukan terhadap barang milik daerah dimaksud;

(40)

binatang (Pengembangbiakan/pelestarian satwa langka), pelabuhan laut, pelabuhan udara, pengelolaan limbah, pendidikan dan sarana olah raga; 3) Biaya pengkajian, penelitian, penaksir dan pengumurran tender/lelang,

dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah;

4). Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian, konsultan pelaksana/pengawas, dibebankan pada pihak ketiga;

5) Mitra kerja sama pemanfaatan harus membayar kontribusi tetap ke rekeaing kas umum daerah setiap tahun selama jangka waktu pengoperasiari yang telah ditetapkan dan pembagian keuntungan hasil kerja sama pemanfaatan;

6). Besaran pembayaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan hasil kerja sama pemanfaatan harus mendapat persetujuan pengelola barang; 7). Selama jangka waktu pengoperasian, mitra kerja sama pemanfaatan

dilarang menjaminkan atau menggadaikan barang milik daerah yang menjadi obyek kerja sama pemanfaatan;

8). Jangka waktu kerja sama pemanfaatan paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani dan dapat diperpanjang;

(41)

Pada umumnya pemerintah kota Surabaya melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam bidang sewa menyewa. Mereka raenyewakan jembatan penyebarangan orang sebagai media perikalanan yaitu reklame. Pengertian reklame menurut pasal 1 angka 12 PERDA No.8 Tahun 2006 yang bunyinya: "Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang menurut bentukdan corak ragamnya untuk tujuan komersial, dipergunakan untuk memperkenalkan, merganjurkan, memujikan suatu barang, jasa atau orang, ataupun untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang, jasa atau orang yang ditempatkan atau yang dapat dilihat, dibaca / dan didengar dari suatu tempat oleh umum, kecuali yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan / pemerintah daerah."

Prosedur penyewaan jembatan penyeberangan orang sebagai media

periklanan.

(42)

memberikan imbalan berupa uang sewa bulanan atau tahunan untuk masa jangka waktu tertentu.

Dapat diketahui jika perjanjian sewa yang digunakan oleh pemerintah kota Surabaya dengan pihak Swasta sudah sesuai dengan KUHper, dan aturan khusus yang berlaku PP Nomor 6 Tahun 2006, Permendagri Nomor 17 Tahun 2007. Pengelolaan barang milik daerah dalam bentuk sswa dilakukan oleh dua pihak yaitu pemerintah kota surabaya dan Pihak swasta. dengan kontrak yang disetujui oleh kedua belah pihak.

2.1 Pelaksanaan perjanjian sewa menyewa barang milik pemerintah

dengan pihak swasta dikaji secara yuridis.

Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan pembangunan, khususnya pembangunan yang dilaksanakan di atas lahan "milik" Pemerintah Kota Surabaya, diperlukan kejelasan dan kepastian mengenai dasar-dasar perjanjiari sewa menyewa Barang milik Daerah oleh Pemerintah Kota Surabaya terhadap lahan tertentu tersebut terlebih dahulu, sebelum Pemerintah Kota Surabaya dapat memberikan suatu hak bagi pihak ketiga selaku pihak swasta. Berikut ini adalah alasan pemerintah kota Surabaya menyewakan barang milik daerah:32

1. Alasan menyewakan barang milik daerah

32

(43)

a. MengoptirAalkan pemanfaatan Barang Milik Daerah yang belum atau tidak dipergunakan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi penyelenggaraan pemerintah.

b. Menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kementrian atau lembaga. Barang Milik Daerah yang dibangun atau diperoleh kementrian atau lembaga yang disewakan kepada pihak lain dengan perjanjian agar tetap digunakan untuk menghasilkan barang atau jasa sesuai maksud pengadaannya dapat diharpkan berfungsi lebih optimal dan menunjang pelaksanaan tugas fungsi kementrian atau lembaga yang bersangkutan.

c. Untuk efisiensi biaya pemeliharaan dan pengamanan Barang Milik Daerah serta meningkatkan penerimaan negara. Barang Milik Daerah yang idle tetap memerlukan pemeliharaan dan bahkan berpotensi untuk menjadi tidak aman. Dengan diseakan, maka biaya pemeliharaan dan pengamanan ditanggung oleh penyewa dan ngara. 2. Jenis Barang Milik Daerah yang dapat disewakan.

Semua jenis Barang Milik Daerah kecuali yang bersifat khusus dan menjadi rahasia negara dapat .disewakan..

3. Pihak yang dapat menyewakan Barang Milik Daerah.

(44)

b. Perhitungan nilai selain tanah dan / atau bangunan dilakukan oleh Tim yang ditetapkan Pengguna Barang. Pengguna Barang dapat melibatkan penilai independen.

4. Penetapan besaran sewa.

Sewa minimum sesuai formula tarif sewa yang diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan.

5. Sewa tanah dan / bangunan yang berada Pengelola Barang ditetapkan olch Pengelola Barang berdasarkan hasil perhitungan Tim.

6. Sewa atas sebagian tanah dan / bangunan yang berada Pengguna Barang dan Barang Milik Daerah selain tanah dan / bangunan, ditetapkan oleh Pengguna Barang sesuai dengan perhitungan Tim.

7. Sewa-menyewa ditungkan dalam perjanjian.

8. Pembayaran uang sewa dapat dilakukan sekaligus atau dibayarkan secara bertahap setiap awal tahun.

9. Penyewa atas persetujuan Pengelola Barang diperkenankan mengubah bentuk Barang Milik Daerah atau menambah, dengan ketentan bagian-bagian yang ditambahkan pada bangunan tersebut merupakan Barang Milik Daerah.

10.Seluruh biaya yang timbul dalam rangka penilaian, termasuk biaya Tim atau penilai independen dibebankan pada APBD.

(45)

pihak pertama dan kedua yang tercantum di dalam kontrak perjanjian tersebut sudah sesuai dengan pasal 21 PP No.6 Tahun 2006 dimana penyewaan yakni penyerahan hak penggunaan atau pemakaian barang daerah kepada pihak ketiga dalam hubungan sewa menyewa dengan ketentuan pihak ketiga tersebut harus memberikan imbalan berupa uang sewa bulanan atau tahunan untuk masa jangka waktu tertentu baik sekaligus maupun secara berkala.

Pada pasal 2 dalam kontrak tersebut sudah sesuai dengan pasal 22 PP No.6 Tahun 2006, namun seharusnya dalam menentukan gambar desain dan ukuran reklame sesuai dengan bidang jembatan penyeberangan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di Pemerintah Kota Surabaya mengenai penyelenggaraan reklame, dengan tetap memperhatikan keindahan dan keserasian lingkungan serta mematuhi kode eik periklanan. Pihak kedua seharusnya diikutkan dalam pembicaraan mengenai gambar desain, ukuran reklame agar sesuai dengan keindahan dan keserasian lingkungan kota.

Dalam pasal 7 angka 4 jangka waktu perjanjian disebutkan apabila pada saat penandatanganan tersebut kondisi jembatan penyeberangan dimaksud tidak dalam kondisi baik terutama dari segi konstuksi bangunan, maka pihak pertama akan melakukan perbaikan dengan biaya ditanggung oleh pihak kedua, seharusnya ini menjadi tanggung jawab pihak pertama juga sebagai pihak yang menyewakan.

(46)

dilaksanakan proyek-proyek pembangunan baik milik Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang kemudian berakibat pada pembongkaran atau pemindahan bangunan jembatan penyeberangan dimaksud, pihak kedua wajib membersihkan bangunan jembatan penyeberangan dimaksud dari papan reklame dengan biaya pihak kedua, tanpa menuntut ganti rugi. Seharusnya pihak pertama yang harus membongkar dengan biaya sendiri dan tidak menuntut pihak kedua untuk membayarnya karena pihak kedua sudah menyewa dan membayar uang sewa itu sendiri dan pihak pertama selaku Pemerintah Kota sehausnya yang bertanggung jawab.

(47)

Demi keadilan dan kebenaran putusan hakim harus dapat diperbaiki atau dibatalkan jika dalam putusannya terdapat kekhilafan atau kekeliruan. Oleh karena itu hukum menyediakan sarana atau upaya perbaikan atau pembatalan putusan guna mencegah atau memperbaiki kekhilafan atau kekeliruan putusan. Upaya hukum merupakan hak dari pihak yang berkepentingan, karena itu pula pihak yang bersangkutan sendiri yang harus aktif dengan mengajukannya kepada pengadilan yang aiberi kekuasaan untuk itu jika ia menghendakinya. Hakim tidak dapat memaksa atau menghalanginya.33

Upaya hukum dibedakan menjadi dua upaya hukum litigasi dan non litigasi. Litigasi adalah proses dimana seorang individu atau badan membawa sengketa, kasus ke pengadilan atau pengaduan dan penyelesaian tuntutan atau penggantian atas kerusakan. Proses pengadilan juga dikenal sebagai tuntutan hukum dan istilah biasanya mengacu pada persidangan pengadilan sipil. Mereka digunakan terutama ketika sengketa atau keluhan tidak bisa diselesaikan dengan cara lain. Proses pengadilan tidak selalu terjadi dalam gugatan penggugat. Dalam beberapa kasus, tuduhan palsu dan kurangnya fakta-fakta dari orang-orang yang terkait, menyebabkan

33

(48)

akan cepat menyalahkan, dan ini menyebabkan litigasi atau tuntutnn hukum. Sayangnya, orang juga tidak mau bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, jadi bukannya menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka, mereka mencoba untuk menyalahkan orang lain dan yang hanya bisa memperburuk keadaan.34 Penyelesaian sengketa non litigasi merupakan penyelesai.in sengketa secara alternatif yaitu dimana dalam menyelesaian ini di pakai atau memakai hakim tunggal yang diambil dari ahli hukum, seperti hakim yang sudah pensiun, seolah-olah disini ia menjadi hakim sesungguhnya, dan tempat pengadilannya bukan dipengadilan khusus, tetapi terserah kesepakatan yang bersengketa, tempat mana yang akan dipakai, disini seolah-olah berada di ruang pengadilan dimana masing-masing yang bersengketa dihadapkan dan masing-masing membawa penasehat hukumnya ataau pengacara, keputusannya tidak mengikat kedua belah pihak, tergantung kesepakatan, keputusannya disini hanya sebagai pedoman untuk bahan negosiasi, jika sepakat akan dituangkan dalam akta perdamaian, kalau tidak sepakat bisa dipilih ke pengadilan atau arbitrase tergantung kedua belah pihak yang bersengketa.35

Sudah bertahun-tahun masalah reklame itu tak kunjung tuntas, salah satu masalah besar yang kini melanda adalah banyaknya reklame yang rawan roboh di saat musim penghujan tiba. Lagi-lagi warga jadi korbannya. Kondisi tersebut akan terus terulang, pemicunya tak lepas dari banyaknya permasalahan reklame di

34

http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/2094342-pengertian-litigasi-dalam-proses-hukum/html23/05/2011,20:25,hari senin

35

(49)

Surabaya.lemahnya pengawasan hingga keterbatasan dana dan masalah pembongkarannya.

Indikasi nakalnya biro reklame itu terlihat saat mereka memasang konstruksi di luar ketentuan Peraturan Daerah Kota Surabaya No 8 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Reklame Dan Pajak Reklame. Para biro memasang pondasi reklame kurang dari sepertiga tiang reklame yang dipasangnya. Padahal dalam Peraturan Walikota No.85 tahun 2006 tentang Penyelenggaraan Reklame sebagai penjabaran Peraturan Pemerintah, pondasi konstruksi tiang reklame harus sepertiga dari tiang reklame yang dipasang. Pelanggaran ini menjadikan kontruksi reklame rawan roboh. Karena beban di bagian atas reklame tidak bisa ditahan pondasi reklame tersebut. Biasanya, masalah ini baru diketahui setelah reklame itu roboh diterjang angin. Saat itulah yang dijadikan kambing hitam adalah alam yang tidak bersahabat.

Lemahnya pengawasan pemasangan reklame menambah deretan masalah atas kenakalan yang dilakukan para biro reklame tersebut. Tim reklame tidak mampu mengawasi secara detil saat konstruksi reklame dipasang. Bahkan, saat reklame sudah berdiri juga banyak yang lepas dari pengawasan. Selain, pemasangannya yang semrawut sehingga mengganggu estetikr: kota dan mengurangi ruang terbuka hijau, pemasangannya cenderung inengutamakan keuntungan pengusaha reklame.36

Menurut hasil wawancara dengan bapak Agus Winoto sebagai ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia ( selanjutnya disingkat dengan PPPI) salah satu reklame yang ada di jalan kedungdoro tidak sesuai dengan kontrak yang telah

36

(50)

disetujui oleh Pemerintah Kota Surabaya bahwa reklame yang ada di kedungdoro itu tidak sesuai dengan yang ada di dalam kontrak tersebut, karena pada prakteknya perusahaan reklame tersebut mendirikan reklame yang dapat Merugikan sarana umum karena pembangunannya melebihi jalan raya dan dengan video megatron yang besar dapat mengganggu pengguna jalan yang lainnya. Dan saat itu pemerintah kota mengetahui perusahaan tersebut telah melakukan pelanggaran reklame, sehingga Pemerintah Kota Surabaya memperlebar sekolan tersebut tetapi yang terjadi malah reklame tersebut roboh dan perusahaan reklame menuntut pihak Pemerintah Kota melalui PTUN.37

Sedangkan, menurut Pak Hotlan dari bagian hukum Pemerintah Kota Surabaya penyelesaiannya dapat diselesaikan melalui Pengadilan Negeri maupun Arbitrase. Tetapi jika melalui arbitrase memerlukan biaya yang sangat tinggi.38

3.1 Berikut ini adalah upaya hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Kota

Surabaya melalui Pengadilan Negeri :

Upaya hukum, adalah sarana yang disediakan bagi pihak yang merasa dirugikan oleh putusan hakim. Upaya hukum ini harus digunakan dalam batas waktu yang ditentukan dan jika batas waktu itu telah lewat, maka pihak yang seharusnya menggunakan upaya hukum itu dianggap telah melepaskan hak atau kepentingannya.

37

Hasil wawancara dengan Pak Agus Winoto selaku ketua Persatuan Periklanan Indonesia tanggal 19 Mei 2011, 11.00 WIB

38

(51)

Upaya hukum dibagi atas :

a) Upaya hukum biasa, yang terdiri dari :

1. Verzet terhadap Verstek, artinya suatu tindakan untuk melakukan

perlawanan terhadap putusan hakim yang dijatuhkan tanpa pernah dihadiri oleh tergugat sekalipun telah dipanggil secara patut. Patut yang dimaksud oleh Undang-Undang biasanya diserahkan kepada hakim yang mengadili perkara yang diputuskan dengan verstek. Artinya oleh hakim yang bersangkutan dapat saja memanggil pihak tergugat 2 kali atau lebih. Verzet sebagai upaya hukum biasa, pelaksanaannya diajukan ke Pengadilan Negeri yang memutus perkara tersebut dengan Verstek. 2. Banding, suatu upaya yang disediakan bagi pihak yang merasa dirugikan

atas adanya putusan Pengadilan Negeri yang meminta dilakukan pemeriksaan lewat pengadilan tinggi, adapun batas waktu yang tersedia bagi pihak yang berkepentingan adalah empat belas hari setelah Pengadilan Negeri membacakan putusannya, jika para pihak hadir dalam pembacaan putusan, akan tetapi jika pihak yang dirugikan oleh putusan Pengadilan Negeri atau setingkat dengan Pengadilan Negeri tidak hadir pada saat itu maka waktu yang tersedia adalah empat belas hari setelah pemberitahuan putusan padanya.

(52)

empat belas hari terhitung sejak hari diterimanya pemberitahuan putusan pengadilan. Dalam hal mengajukan atau menyatakan kasasi, harus disertai dengan memori kasasi, artinya memori kasasi merupakan salah satu syarat yang harus dipatuhi oleh pemohon kasasi, karena hakim agung sangat memerlukan tes hukum yang dilaksanakan oleh Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi yang sesungguhnya menjadi keberatan pemohon kasasi.

b) Upaya hukum luar biasa, yang terdiri dari :

1. Peninjauan kembali, yaitu suatu upaya dari pihak yang merasa dirugikan oleh putusan yang berkekuatan hukum pasti dengan alasan-alasan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang No. 19 tentang Mahkmah Agung.

2. Perlawanan pihak Ketiga = Derden Verzet

Adalah suatu upaya hukum yang berusaha untuk memerintahkan putusan hakim yang telah berkekuatan hukum pasti dengan menempatkan tergugat dan penggugat sebagai terlawan atau diposisikan sebagai tergugat.39

3.2 Berikut ini adalah upaya hukum yang dilakukan pihak swasta melalui

Pengadilan Tata Usaha Negara :

1. Upaya Administratif

Upaya administratif merupakan suatu prosedur yang dapat ditempuh oleh seseorang atau badan hukum perdata mana kala ia tidak puas terhadap

39

(53)

suatu Keputusan Tata Usaha Negara (selanjutnya disingkat dengan KTUN), hal mana prosedur tersebut dilaksanakan dilingkungan pemerintah sendiri.

Penyelesaian sengketa melalui jalur administratif ini menunjukkan ciri khas kultur bermusyawarah sebagaimana nilai Pancasila. Dengan adanya upay administratif ini diharapkan komunikasi langsung dan musyawarah antara orang yang merasa kepentingannya dirugikan oleh diterbitkannya KTUN dan Badan atau Pejabat yang mengeluarkan KTUN. Dari hal itu diharapkan dapat diketahui apa motivasi dikeluarkannya KTUN yang dianggap merugikn tersebut. Jika dengan dilakukannya upaya administratif telah berhasil memuaskan kedua belah pihak, maka tentu saja akan dapat dihindari penyelesaian sengketa yang paanjang dan berlarut-larut, menguras tenaga, menguras fikiran dan keuangan masing-masing pihak.

2. Upaya Peradilan

(54)

a. Yang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa adalah Hakim administrasi yang netral, memiliki independensi dan terpisah dari administrasi negara;

b. Aspek pengujian KTUN hanya terbatas pada segi legalitasnya saja; c. Hakim mempertimbangkan fakta-fakta dan keadaan pada saat dibuatnya

KTUN saja.40

3.3 Upaya hukum yang diselesaikan secara non litigasi atau diluar Pengdilan

Umum oleh Pemerintah Kota dan Pihak Swasta yang bersengketa :

Arbitrse adalah sebagai upaya hukum dengan perkembangan dunia usaha, baik nasional maupun internasional. Pemerintah telah mengadakan pembaharuan terhadap undang-undang arbitrase nasional dengan dikeluarkan Undang-Undang No. 19 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (selanjutnya disingkat dengan UU No. 30 Tahun 1999).

Dengan demikian, berdasarkan Pasal 1 butir 1 UU No. 30 Tahun 1999, arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Sedangkan berdasarkan Pasal 1 butir 10 UU No. 30 Tahun 1999, alternatif penyelesaian sengketa adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur yang disepakati oleh para pihak, yakni penyelesaian di luar pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli. Perjanjian arbitrase merupakan kesepatan

40

(55)

berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa atau suatu perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa. Sementera itu, sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanya sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.41

Adanya kelemahan yang terdapat dalam penyelesaian sengketa melalui pengadilan menyebabkan para pencari keadilan mencari alternatif lain dalam menyelesaikan sengketa. Dengan diundangkannya UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa merupakan alternatif yang dapat ditempuh untuk menyelesaikan sengketa di luar pengadilan. Pada umumnya arbitrase dan alternatif penyelesaian sengketa mempunyai kelebihan dibandingkan dengan lembaga peradilan. Kelebihan tersebut antara lain karena penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan cepat, murah, dijamin kerahasiaannya, para pihak yang bersengketa dapat memilih arbiter yang menurut keyakinan mereka mempunyai pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang cukup mengenai masalah yang disengketakan, para pihak dapat menentukan pilihan hukum, proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase dan keputusannya bersifat final. Di bawah ini akan diuraikan bentuk-bentuk penyelesaian sengketa melalui alternative dispute resolution, yaitu :

41

(56)

1. Negosiasi

Negosiasi merupakan upaya penyelesaian sengketa yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama atas dasar kerjasama. Dalam hal ini, para pihak berhadapan langsung, berunding dan bermusyawarah mendiskusikan persoalan yang mereka hadapi dengan cara kooperatif dan saling terbuka. Dalam negosiasi terjadi tawar menawar antar para pihak. Posisi tawar menawar ini akan mempengaruhi jalannya negosiasi sehingga kedua belah pihak harus mengetahui kemampuan masing-masing. Oleh karena itu, untuk melakukan negosiasi yang baik akan berhasil diperlukan strategi atau teknik negosiasi.

2. Mediasi

Mediasi adalah suatu proses penyelesaian sengketa alternatif dimana pihak ketiga yang dimintakan bantuannya untuk membantu proses penyelesaian sengketa bersifat pasif dan sama sekali tidak berhak atau berwenang untuk memberikan suatu masukan, terlebih lagi untuk memutuskan perselisihan yang terjadi. Jadi dalam mediasi, mediator hanya berfungsi sebagai penyambung lidah dari para pihak yang bersengketa. Hasil akhir dari pranata penyelesaian sengketa alternatif dalam bentuk mediasi adalah tunduk sepenuhnya pada kesepakatan para pihak.

3. Konsiliasi

(57)

menyelesaikan sengkta adalah pihak yang secara profesional sudah dapat dibuktikan kehandalannya. Konsiliator dalam proses konsiliasi mempunyai peran yang cukup berarti karena konsiliator berkewajiban untuk menyampaikan pendapat mengenai duduk persoalan dari sengketa yang dihadapi. Meskipun konsiliator mempunyai hak dan wewenang untuk menyampaikan pendapatnya secara terbuka dan tidak memihak kepada salah satu pihak, konsiliator tidak berhak membuat putusan dalam sengketa untuk dan atas nama para pihak. Oleh karena itu, hasil dalam proses konsiliasi akan diambil sepenuhnya oleh para pihak dalam sengketa yang dituangkan dalam bentuk kesepakatan di antara mereka.

4. Arbitrase

(58)

secara profesional, tanpa memihak menurut kesepakatan yang telah disepakati di antara para pihak yang bersengketa.

(59)

4.1 Kesimpulan

Sewa adalah pemanfaatan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai. Dalam lampiran Permendagri Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah tersebut dijelaskan bahwa penyewaan merupakan penyerahan hak penggunaan/pemanfaatan kepada Pihak Ketiga, dalam hubungan sewa menyewa tersebut harus memberikan imbalan berupa uang sewa bulanan atau tahunan untuk jangka waktu tertentu, baik sekaligus maupun secara berkala. Pada umumnya pemerintah kota Surabaya melakukan kerja sama dengan pihak swasta dalam bidang sewa menyewa. Mereka menyewakan jembatan penyebrangan orang sebagai media periklanan yaitu reklame. Jembatan penyebrangan orang adalah barang milik daerah.

(60)

menyelesaikan ini memakai hakim tunggal yang diambil dari ahli hukum, dan tempat pengadilannya bukan dipengadilan khusus, tetapi terserah kesepakatan yang bersengketa, masing-masing membawa penasehat hukumnya atau pengacara, keputusannya tidak mengikat kedua belah pihak, tergantung kesepakatan, keputusannya disini hanya sebagai pedoman untuk bahan negosiasi, jika sepakat akan dituangkan dalam akta perdamaian, kalau tidak sepakat bisa dipilih ke pengadilan atau arbitrase tergantung kedua belah pihak yang bersengketa.

4.2 Saran

Pemerintah Kota Surabaya sebagai pihak untuk menyewakan barang milik daerah yang berupa jembatan penyeberangan untuk media periklanan yaitu reklame harus memperhatikan kepentingan para pihak dengan tetap memperhatikan keindahan dan keserasian lingkungan serta mematuhi kode etik periklanan agar iklan tersebut tidak mengganggu masyarakat sebagai pengguna sarana umum.

(61)

Ali. Zainudin, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika , Jakarta : 2009 Harahap. M. Yahya, Segi-segi Hukum Perjanjian. Alumni, Bandung : 1986 Harnoko, Agus, Hukum Perjanjian Atas Proporsionalitas Dalam Kontrak

Komersial, Kencana, Jakarta : 2010

Jhonny. Ibrahim, Theori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, PT Bayu Media Publishing, Malang : 2010

Miru, Ahmadi, Hukum Perikatan, Rajawali Pers, Jakarta : 2009

Muhammad, Abdulkadir, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung : 2000

Salim, Hukum Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta :2010

Setiyono, Budi, Reka Reklame, Galang Pers, Yogyakarta : 2004 Subekti, Aneka Perjanjian, Alumni, Bandung : 1979

_______, Aneka Perjanjian, Citra Aditya Bakti, Bandung : 1995 _______, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta : 2005

_______, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta : 2003 Suharnoko, Hukum Perjanjian, Kencana, Jakarta : 2009

Syamsudin, A Qirom, Pokok-pokok Hukum Perjanjian, Liberty, Yogyakarta : 1985

Syamsudin, Operasionalisasi Penelitan Hukum, PT RajaGrasindo Persada, Jakarta : 2007

B. Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

(62)

Pajak Reklame C. Kamus

Kamus Besar Bahasa Indonesia Penerbit Agung Media Mulya Kamus Hukum Internasional dan Indonesia Penerbit Citra Umbara

D. Website

http://fariable.blogspot.com/2010/10/jembatan-penyebrangan-orang.html9/01/2011,08:00

http://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_penyebrangan_orang19/01/2011,08:24 http://id.shvoong.com/law-and-politics/1906561-upaya-hukum-di-dalam-proses-hukum/html23/05/2011,2030

http://mutiarakeadilan.blogspot.com,23/05/2011,20:30 http://rss.vivanews.com,23/05/2011,20:00

http://zonahukum.blogspot.com/feeds/posts/default,25/05/2011,20:15

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...