HUKUM DAN POLITIK AGRARIA
OLEH :
NAMA
: M.ALIS
NPM
:
20110101063
JURUSAN : PPKn
SEMSTER
: V (lima)
STRUKTUR HUKUM TANAH SEBELUM
BERLAKUNYA UUPA
Setelah proklamasih kemerdakaan RI harus dilakuka pergantian politik agraria lama
(kolonial) dengan politik agraria baru (nasional) dengan maksud dan tujuan untuk menuju
pada kejahteraan dan kemakmuran rakyat, namun dalam usaha tersebut membutuhkan
waktu yang cukup lama sehingga dualisme dan pluralisme
(Hukum Agraria Adat Yang
Bersumber Pada Hukum Adat Dan Hukum Barat Yang Bersumber Dari Hukum Perdata
Barat)
terus berlangsung sebelum berlakunya UUPA pada tanggal 29 oktober 1960
Hubungan-hubungan dan peristiwa -perstiwa hukum yang berlaku berbeda antara
golongan indonesia (asli) dengan golongan orang barat/eropa sehingga menimbulkan
“hukum antar golongan” (yang tidak tertulis) namun menjadi yurisprudensi tetap
Dan Dengan adanya “pasaran bebas” yang dimana orang-orang eropa yang ingin
memperoleh tanah adat (indonesia) maka diadakan pembatasan, yaitu “larangan
pengasingan tanah” yang dilegalitaskan dalam S.1875 No.179 dengan maksud :
a. Untuk melindungi bangsa indonesi yang lemah dalam bidang ekonomi dari pengusaha
luar
Hukum Agraria Nasional
Hukum Agraria Nasional Telah Memenuhi Dua Kriteria
UUPA dibuat oleh legislatif (DPR) bersama dengan presiden sebagai pembentuk
undang-undang kedua
A.
Isi UUPA merupakan penjelasan dari sila-sila pancasila yaitu : Sila Ketuhana Yang Maha Esa adalah ketentuan pasal 1 ayat 2
Sila kemanusiaan yang terdapat dalam pasal 2 dan pasal 6
Sila persatuan indonesia adalah pasal 9 ayat 1
Sila kerakyatan dan keadilan sosial yang tercantum dalam pasal 9 ayat 2
B. UUPA sangat sesuai dengan hukum adat sebagai dasar pembentukannya
C. UUPA sangat sesuai dengan tujuan bangsa INA yang ada dalam UUD 1945 denagn pencabutan landasan agraria lama, yaitu :
• Agrarisch wet peraturan yang memuat pernyataan domain (domain verklaring), Agrarisch
Eigendom yang dimuat dalam staatsblad. buku II KUHP perdata ( hukum benda) yang mengatur BARA + K
Secara formil
Secara materil
•
Mengenai larangan pengasingan tanah yang dimuat dalam (staatblad 1875) dan juga
ketentuan dalam buku III dan buku IV KUHP tentang aturan khusus yang berlaku bagi
sewah tanah.
Pencabutan dengan pertimbangan pencapaina masyarakat adil dan makmur
DASAR-DASAR KENASIONALAN HUKUM AGRARIA (UUPA
)
• Wilayah NKRI yang terdiri dari BARA+K merupakan kesatuan tanah air (pasal 1 ayat
1)
• Pengkuan bangsa INA atas BARA+K merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa
(pasal 1 ayat 2)
• Hubungan antara bangsa indonesi dengan BARA+K bersifat abadi (pasal 1 ayat 3 )
• Negara merupakan badan penguasa atas BARA+K (pasal 2 ayat 1)
• Hak ulayat diakui eksistensinya (masih ada, sesuai dengan kepentingan nasional ,
pelaksanaannya tidak bertentangan dengan UU dan peraturan) (pasal 3 UUPA)
KEDUDUKAN HUKUM ADAT DALAM PEMBANGUNAN HUKUM
AGRARIA NASIONAL
SEBAGAI DASAR UTAMA
Dapat dilihat dari konsideran undang-undang agraria yaitu :
A.
Dan juga asas-asas/konsepsi hukum adat yang diambil sebagai
dasar :
“Bahwa berhubungan dengan apa yang disebut pertimbangan-pertimbangan diatas perlu adanya hukum agraria nasional yang berdasarkan atas hukum adat tentang tanah yang sederhana dan menjamin kepastian hukum bagi seluruh rakyat indonesia dengan tidak megabaikan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.”
Hubungan manusia dengan kekayaan alam merupkan “religio-magis” yang artinya anugerah dari tuhan (pasal 1 ayat 2
Hak ulayat “ negara bukan hak untuk memiliki tetapi menguasai (pasal 3 UUPA)
Perseorangan(individe) dan bersama-sama(kelompok) mempunyai hak untuk memiliki pasal (4 dan 16)
B. Lembaga-lembaga hukum adat yang diambil : sebagai dasar :
c. Sistem hukum adat mengenai sistematika hubungan manusia
dengan
tanah
Asas gotong royong ( saling membantu baik kepentingan individu maupun kelompok)
Perbedaan warga asli dengan warga asing dalam kedudukan penguasaan dan penggunaan
Perbedaan warga asli dengan warga asing dalam kedudukan penguasaan dan penggunaan kekayaan alam
Susunan macam-masacam hak atas tanah yang dikenal dengan hak milik/hak yayasan, hak pakai, hak sewa hak menikmati/memungut hasil hutan dah hak membuka tanah (pasal 16) namun masih ada yang perlu disemprnakan sesuai dengan kebutuhan
masyarakat moderen
Dengan antara lain : hak guna usaha dan hak guna bangunan
pelimpahan
Wewenang
SEBAGAI PELENGKAP
Disimpulkan Dari pasal 5 UUP adalah hukum agraria yang berlaku adalah hukum
adat dengan syarat-syarat tertentu :
Hak ulayat
Hak menguasai dari kepala adat
Hak-hak atas tanah perseorangan
Ketentuan hukum ada itu tidaj boleh bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara
Tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang ada dalam UUPA itu sendiri
Tidak boleh bertentangan dengan perturan agraria lainnya
Kewajiban Yang Dibebankan Kepada Pemegang Hak Atas Tanah
Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial (pasal 6 UUPA)
Kewajiban untuk memelihara tanah (pasal 15 UUPA)
Mengerjakan/mengusahakan sendiri secara actif tanah pertanian (pasal
10 )
Pemilikan dan penguasaan tanah yang melamoaui batas tidak
diperkenankan (pasal 7 UUPA)
Mengenai subyek hak-hak atas tanah (pasal 9 UUPA)
usaha dalam agraria berbentuk koprasi atau usaha gotongroyong (pasal 12
UUPA)
Usaha agraria yang berbentuk monopoli tidak diperkenankan (pasal 13 ayat
2 UUPA)
Pembuatan rencana penggunaan BARA+K
Asas-asas dari hukum agraria nasional yang termuat dalam uupa
Obyek Hukum Agraria Nasinal Sebagai Mana Ditentukan Dalam (Pasal 1 Ayat 4,5,6 Dan Pasal 4 Ayat 1)
HAK HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA
Unsur BARA + K dalah Hak Negara untuk diberi wewenang :
Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, persediaan dan pemeliharaan BARA
Menentukan dan mengatur hubungan antara hukum antar orang-orang dengan BARA
Menentukan dan mengatur hubungan antara hukum antar orang-orang dan
HAK MILIK
Sifat dan ciri-ciri khas hak milik yaitu Turun temurun yang artinya hak tersebut dapat terus berlangsung ketika yang punya
meninggal maka dilanutkan oleh Ahli Waris.
Terkuat menunjukkan yana artinya jangja waktunya tak terbatas dan haknya kuat
Terpenuh yang artinya yang mem[punyai hak milik paling luas dibandingkan dengan yang
lain
Yang mempunyai hak milik hanya WNI kecuali perseorangan tau bersama-sama yang dimaksud sebagai berikut :
Bank-bank yang didirikan oleh negara
Perkumpulan-perkumpulan koperasi oertsnisn yang berdasarkan UU No.79 thn 1958n
Badan keagamaan yang ditunjuk oleh mentri negara
Badan Sosial yang ditunjuk MENDAGRI setelah mendangarkan Mentri Sosial
Menurut pasal 22 UUPA Hakmilik dapat terjadi karena karena :
Menurut ketentuan hukum
Karena ketentuan UU
Hak atas tanah yang dapat bertindak atau membenahi hak milik
iyalah :
Hak guna bangunan
Hak pakai
Hak sewa
Hak gadai
Hak menumpang
Hapusnya Hak Milik Bila
: ( pasa 27 UUPA)
jatuh kepada negara :
Tanah musnah (pasa 27 UUPA
Karena pencabutan hak (pasal 18 UUPA) Penyerahan sukah rela oleh pemiliknya
karena ketentuan pasal 21 ayat 3 dan 26 ayat 2
HAK GUNA USAHA DAN HAK GUNA BANGUNAN
HAK GUNA USAHA (HGU) pasal 28-34
hak atas tanah memberi yang punya hak untuk berwenang menggunakan tanah, yang
dalam lingkup terbatas hanya untuk perusahaan pertanian, perikanan dan peternakan. Ketentuan ini tidak bersumber dari hukum adat, mendirikan hak guna usaham paling lama 50 - 60 tahun
Yang dapat mempunyai (menjadi subyek) HGU ialah :
Subyek HGU yang tidak memenui syarat :
Hak atas tanah “lama” yang dapat dikonvrensi menjadi HGU :
a. Warga negara indonesia
b. Badan hukum yang didirikan menurut hukum dan kedudukan indonesia
a. WNI berganti menjadi warga negara asing
b. Badan hukum yang memindahkan kedudukannya di luar negeri
a. Hak erfecht untuk perusahaan kebun besar (24 september 1960) paling lama 20 tahun
b. Hak milik (adat) dan lain-lain (pasal 11) tidak memnuhi syarat yang di
tetepakan dalam (pasal 21) ketentuan negenai konversi hak egondom
Terhapusnya HGU (pasal 34 UUPA memberikan ketentuan senagai berikut :
HAK GUNA BANGUNAN (HGB)
Jangka waktunya berakhir
Dihentikan karena sesuatu yang tidak dipenuhi
Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum jangkawaktu berakhir
Dicabut untuk kepentingan umum
Diterlantarkan
Tanahnya musnah; dan
Ketentuan dalam pasal 30 ayat 2 UUPA a
b
c
d
e
f
g
Hak mendirirkan dan mempunyai bangunan dengan bukan hak milik sendiri dengan ketenruan paling lama 30 tahun (pasal 35 ayat 1
Ciri-ciri Khas
HGB
Memberi wewenang kepada yang punya hak untuk medirikan dan mempunyai
bangunan diatas tanah yang bersangkutan
HGB berasal dari tanah yang bukan milik sendiri
Hak-hak atas tanah “lama” yang dapat dikonvrensi menjadi HGB iyalah :
HGB jangka waktunya 30 tahun. HGB tersebut hapus dan tanahnya jatuh kepada
negara
Hak eigondom kepunyaan WNI yang tidak dapat dibuktikan kewarganegaraannya
Hak eigondom kepunyaan WNI yang tidak dapat dibuktikan kewarganegaraannya
Hak eigondom kepunyaan badan hukum keagamaan dan social yang telah ditunjuk sebagai badan yang boleh mempunyai hak milik
Termasuk hak atas hak eigondom kepunyaan pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagai subyek hak milik
Hak milik (adat)
Hak erfpacht untuk perumahan dan hak postal yang masih berlaku pada tanggal 24 september 1960
a
b
c
d
HAK PAKAI
Hak guna pakai, Hak guna usaha, hak guna bangunan,hak sewa, hak usaha bagi hasil , hak gadai dan hak menumpnag, menurut hukum agraria yang baru sebenarnya dapat diberikan dalam pengertian hak pakai,
konversi hak-hak atas tanah “lama” menjadi hak pakai ialah :
Hak eigondom
Hak vrchtgebrulk ( yang disebut dalam pasal IV ketentuan konversi }
Hak gogolan ( yang dimaksud dalam pasal VII ayat 2)
Hak erfpacht
Hak penguasaan ( peraturan pemerintah N, 8 thn 1953)
HAK SEWA
Disebutkan Dalam Pasal 44 UUPA
HAK PAKAI, HAK SEWA, DAN HAK PENGELOLAAN
Pembayaran uang sea dapat dilakukan : A. Satu kali pada tiap-tipa tertentu
B, sebelum atau sesudah tanahnya dipergunakan
Perjanjian sewah tanah yang dimaksud dalam pasal ini tidak boleh disertai syarat-syarat yang mangandung unsur pemerasan
Warganegara indonesia
orang asing yang berkedudukan indonesia
Badan hukum yang didirikan menurut hukum dan berkedudukan di indonesia
Badan hukum asing yang mempunyai perwakilan di indonesia
yang dapat mempunyai hak sewah ialah (pasal 45 UUPA
HAK PENGELOLAAN
A. PMDN no. 5 tahun 1974 disebutkan hak pengelolaan berisikan wewenang untuk :
Merencanakan peruntukan dan penggunaan tanah yang bersangkutan Menggunakan tanah tersebut untuk keperluan pelaksanaan usahanya
Menyerahkan bagian-bagian dari tanah termasuk pihak ketiga yang bersangkutan dilakukan oleh pejabat
yang berwenang (PMDN No. 6 thn 1972)
B. Subyek hukum pengelolaan menurut pasal PMDN No.5 thn 1973:
LANDREFORM
LANDREFORM
landreform berujuan
untu ktidak merugikan kepentingan umum
maka pemilikan dan penguasa tanah yang meliputi batas tidak
diperkenankan
Tujuan landreform
Program yang ditetapkan pemerintah untuk mencapai landreform
• Untuk mengadakan pembagian yang adil
• Melaksanakan prinsip untuk tidak dijadikan tanah sebagai obyek pemerasan
• untuk memperkuat dan memperluas hakmilik sebagai mahlik sosial tanpa membeda bedakan
• Untuk mengakhiri sistem tuan tanah
• Untuk mempertinggi produksi dan mendorong intensif gotongroyong
Larangan menguasai tanah pertanian yang melampaui batas Laranga pemilikan tanah secara absentee
Retribusi terhadap selebihnya batas dan larangan absentee Pengeturan pengembalian dan penebusan tanah pertanian
USAHA PEMERATAAN PEMILLIKAN TANAH PERTANIAN
Larangan Pemilikan/penguasaan Usaha Pertanian Yang Melampaui Batas (pasal 7 dan 17 UUPA) dengan masud supaya tidak merugikan kepentingan umum teruatam bagi penduduk yang padat juga persediaan tanah yang terbatas, menyebabkan bagian yang lain menjadi tanah nya sempit dan tidak punya samasekali
Larangan pemilikan tanah secara absentee (pasal 10 ayat 1 UUPA) sebab menyebabkan tanah tersebut tidak dapat dikerjakan secara actif kecuali : Pegawai negeri/ABRI, Yang Menjalankan Tugas Negara Dan Agama dan yang alasan khusus yang diterima MENDAGRI
batas minimu pemilikan tanah pertanian (pasal 17 ayat 1 UUPA) dengan maksud agar petani yang bersangkutan mendapatkan penghasilan yang layak dalam memenuhi kebutuhan sendiri dan mkeluarga.
Retribusi tanah pertanian dalam artian tanah yang melampaui batas maksimum akan diambil oleh pemerintah dengan ganti rugi kemudian dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan (peraturan pemerintantah) adapun tanah yang lain ialah :
- tanah yang terkena larangan absentee
- tanah atau bekas swapraja yang beralih kenegara
GADAI DAN PERJANJIAN BAGI HASIL TANAH PERTANIAN
GADAI DAN PERJANJIAN BAGI HASIL TANAH PERTANIAN
Ciri-ciri gadai tanah yang tunduk pada hukum adat
a. Hak menebus tidak mungkin kadaluarsa
b. Pemegang gadai selalu berhak untuk mengulang gadaikan tanahnya
c. Pemegang gadai tidak boleh menuntut supaya tanahnya segerah ditebusi
d. Tanah yang digadaikan tidak bisa secara otomatis menjadi milik pemegang gadai bila tidak ditebusi
Dalam sistem UUPA gadai menggadai merut hukum adat bersifat sementara dan akan segerah dihapuskan karena mengdung eksploitasi (lebih menguntungkan bagi pemegang gadai)
Dalam melindungi golongan ekonomis lemah (pemberi gadai) (pasal 7 UU No. 56 prp 1960) diatur hal-hal sebgai berikut :
1. Dimulai berlakunya peraturan, hak gadai selama berlangsung 7 tahun wajib mengembalikan tanah itu kepada pemilinya tanpa uang tebusan.
GADAI TANAH ialah suatu tran saksi dimana sesorang menyerahkan sebidang tanah kepada orang lain/penggarap dengan menerimah sejumlah uang tertentu, dengan ketentuan tanah tersebut kembali kepada pemilik dengan mengembalikan uang dari pihak kedua
BAGI HASIL ialah suatu perjanjian dintara pemilik tanah dengn penggarap untuk mengusahakan tanah tersebut dengen ketentuan bagi hasil secara natura . Yang disebut dengan dalam Bahasa Sulawesi Tesang
2 . Pemilik tanah berhak meminta sebelum brlakunya peraturan ini selama 7 tahun disetiap waktu selesai dipanen, dengan membayar uang tebusan menurut rumuas : dengan ketentun ada pada no. 1
3. Ketentuan dalam ayat 2 pasal ini berlaku juga terhadap hak gadai yang diadakan sesudah mulai berlakunya peraturan ini.
Tu
juan mengtur perjanjian bagi hasil
a. Agar pembagian hasil tanah antara pemilik dan penggarapnya dilakukan atasa dasar yang adil
b. Dengan menegaskan hak-hak dan kewajiban pelaku perjanjian bagi hasil agar terjamin dan layak kedudukan hukum bagi para penggarap karena tanah terbatas dan banyak penduduk yang ingin menggarap
c. Agar terselenggaranya cara pemeliharaan kesuburan dan mengusahakan tanahnya demi produktifitas tanah yang bersangkutan, yang berarti suatu langkah maju dalam melaksanaka program akan melengkapi “sandang pangan masyarakaat”
PENYEDIAAN TANAH DEMI KEPENTINGAN PEMBANGUNAN
Peraturan perundangan yang mengtur tindak lanjut dari pembebasan dan pencabutan hak atas tanah mempunyai dua arti yaitu:
a. Merupakan dasar hukum dari pemerintah atau penguasa untuk memperoleh tanah-tanah penduduk yang diperlukan bagi penyelenggara kepentingan umum dan pembangunan
b. Merupakan jaminan suatu perlindungan hukum bagi para individu atau warga masyarakat atas tanah yang dimilikinya atau dikuasainya dari tindakan sewenang dari penguasa/pemerintah
Pembebasan tanah ialah
menurut( pasal 1 ayat 2 permendagri no. 15 thn 1975)melepaskan hubungan hukum yang semula terdapat diantara pemegang hak/penguasa atas tanahnya dengan cara pemberian ganti rugi. Dengan prinsip musyawarah
Menetapkan Besarnya Ganti Rugi Harus Diperhatikan Pula Tentang :
a. Lokasi dan faktor-aktor strategi lainnya yang dapat memperngruhi harga tanah. Memetepkan ganti rugi atas banghunan/tanaman berpedoman pada ketentuaan dinas PU dan pertanian b. Bentuk ganti rugi dapat berupa uang, tanah dan fasilitas lain
Pembebasan tanah yang dapat meresahkan masyarakat
faktor penyebab timbulnya keresahan di masyarakat
Pencabutan hak atas tanah tan benda-benda yang diatasnya
Menurut pasal 18 UUPA untuk kepentinan umum/bersama,bangsa dan nearan serta kepentingan bersama rakyat hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dalam UU.
Pe
ncabutan hak menurut UUPA ialah pengambilan tanah terhadap kepunyaan sesuatu
pihak oleh negara secara paksa dan menjadi hapus tan pa melakukan pelanggaran dan
kewajiban hukum
• Penetapan ganti rugi tidak dimusyawarahkan antara panitia dan pemilik tanah
• Melakukan penggusuran sebelum ada gantirugi dan kesepakatan
• Tanah yang dibebsakan diterlantarkan terlalu lama dan penyimpangan tujuan
• Ganti rugi yang ditetapkan rendah sekali dan jauh dari memadai
• Panitia dalam mengadakan musywarah hanya kepala desa
• Terjadi pemotongan dan penyunatan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab
Syarat-syarat melakukan pencabutan hak menurut (pasal 18 UUPA)
1. Apabila kepentingan umum
2. Harus dengan ganti rugi yang layak
3. Menurut cara yang atur dalam undang-undang
Perlihan hak
ialah belum langka pembebasan dan pencabutan hak sebaiknya ditempuhPENDAFTARAN HAK ATAS TANAH MENURUT UUPA
A.
Dasar hukum pendaftaran hak atas tanah
1. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
2. Pendaftaran tanah meliputi:
a. Pengukuran, pemetaan dan pembukuan tanah
b. Pendafataran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut
c. Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. 3. Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat kedaan negara dan masyarakat, keperluan lalulintas sosial, ekonomi serta kemungkunan penyelenggaran menurut pertimbangan mentri agraria.
5. Dalam perarturan pemerintah diatur biaya-biaya yeng bersangkutan dengan pendaftaran termaksuk dalam ayat 1 di atas ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya-biaya tertentu.
B. a.
Tujuan pendaftaran tanah :
a) Kepastian hak atas tanah (status hak milik)
b) Kepastian subyek haknya ( sipa yang menjadi pemilik)
c) Kepastian obyek haknya (dimana letaknya)
b. Kegunaan Pendaftaran Tanah
a) bagi pemegang hak atas tana :
b) bagi pemerintah :
C.
Sistem pendaftaran tanah :
a) sistem positif (pembuktian yang mutlak)
b) sistem torrens ( alat bukti yang paling lengkap)
c) sistem negatif ( alat pembuktian yang kuat )
• Dapat memberkan rasa aman
• Apabila terjadi peralihan dapat mudah dilakukan
• Taksiran harga tanah relatif tinggi dibandingkan dengan yang tidak bersertifikat
• Dapat dipakai sebagai jaminan hutang di bank
• Penetapan Ipeda dan sebagainya tidak keliru.
• Tertibnya tministrasi dalam bidang pertanahan dan memperlancar kegiatan pemerintah yang menyengkut tanah dalam pembangunan
D.
Asas dalam pendaftaran tanah
• Asas PUBLISITAS Suatu asas yang memberikan suatu keterbukaan informasi terhadap siapapun (umum) yang ingin melakukan perbuatan hukum atas tanah tersebut. Dengan asas ini, setiap orang yang ingin melakukan suatu perbuatan hukum atas tanah (ex.jual beli), dapat melakukan pengecekan terlebih dahulu mengenai informasi terkait dengan tanah tersebut di Kantor Pertanahan
• Asas OPENBAARHEID/SPESIALITAS Asas yang berhubungan dengan segala sesuatu yang terkait dengan detil dari tanahnya, seperti letak/lokasi tanah, luas tanah dan
para pihak-pihak yang terkait dengan tanah tersebut. Intinya asas ini akan lebih mengarah pada data yuridis dari tanah tersebut. Asas ini terdapat ketika perbuatan hukum dilakukan dihadapan PPAT dalam hal pembuatan aktanya, yang mana sifatnya TERTUTUP UNTUK UMUM dan hanya diperuntukan kepada para pihak yang terkait langsung dengan tanah dan perbuatan hukum yang akan dilakukan pada tanah tersebut.
E
. Stelse pendaftaran tanah :
macam-macm daftar dikantor pendaftaran tanah
a) Daftar tanah seluruh tanah yang terdapat dalam suatu desa ( tanah negara, sesorang dan sebgainya
b) Daftar buku tanah peralihan dan pembenahannya dengan hak-hak lain
c) Daftar nama orang (badan-badan hukum )yang mempunyai hak tas tanah